Transcript
MEgdIY6gom0 • Chaos among mass organizations in Surabaya! Residents intervene over parking rights.
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1621_MEgdIY6gom0.txt
Kind: captions
Language: id
ke DPRD Surabaya pada tanggal 26 Agustus
2025. Mereka di saat itu sambil membawa
narasi kekhawatiran tentang hilangnya
mata pencaharian mereka sebagai tukang
parkir
di apa namanya tidak dihargai.
Artinya jenengan ini menghendaki kisruh
digitalisasi. kami siap untuk itu.
Ada enggak di antara kalian yang berasal
dari Surabaya? Karena hari ini kita akan
bercerita tentang Surabaya. Jadi
sebelumnya salam dulu buat are-are
Suroboyo, saudara-saudara yang ada di
Jawa Timur. Oke, biasanya kalau kita
berbicara tentang Jawa Timur pasti ee
hal-hal kontroversialnya tidak terlepas
dari hor ya, sound horek. Terus ada satu
lagi tuh persoalan ee Gusnya ya kan
habib-habibnya, persoalan ee pengajian
di sana yang sering sekali menjadi momok
bagi netizen. Banyak banget netizen yang
mengkritik perihal acara-acara tersebut.
Nah, tapi kali ini tiba-tiba muncul
sebuah kontroversi lain yang terjadi di
Surabaya lagi. Ini yang berhubungan
dengan sebuah ormas yang berasal dari
pulau tetangga. Pulau tetangga dari
orang-orang Surabaya yaitu dari Madura
yang bernama Madas.
Orang ini itu macet semua.
Kenapa? Kenapa Polranya lumpuh?
Karena salah tangkap.
Oh, siap siap siap siap
Mad saudara.
Nah, kalian udah lihat ya e video dari
madas tersebut? Jujur nih, Geng, di
kasus yang akan kita bahas ini bakal
membuat kalian sampai geleng-geleng
kepala sekaligus waspada. Jadi ini bukan
sekedar isu soal keramaian di jalan raya
atau cuma acara kumpul-kumpul biasa,
tapi ini sudah menyangkut soal maraknya
pergerakan dan mobilisasi sebuah ee
ormas atau organ di masyarakat yang
belakangan namanya terus menjadi
pemberitaan, terkhususnya di Surabaya.
Nah, fenomena ini penting nih buat kita
bahas ya, Geng. karena dinamika ormas
yang semakin sering turun ke jalan ya
melakukan unjuk rasa sampai mengklaim
legalitas organisasi yang semuanya
berpotensi mempengaruhi rasa aman
publik. Ruang sosial semakin terhimpit
bahkan hubungan masyarakat dengan
institusi hukum juga ya menjadi agak
carut-marut. Nah, kalian pasti pahamlah
ya di banyak kota-kota besar apalagi
kayak Jakarta, Medan, Surabaya memang
dikenal tegas dengan urusan ketertiban.
Nah, hadirnya ormas atau organi
masyarakat dengan mobilisasi besar
selalu menimbulkan tanda tanya. Mereka
ini berkumpul atau membentuk sebuah
organisasi apakah murni sebagai aspirasi
atau bentuk solidaritas atau justru ada
agenda yang lebih jauh. Ya, salah satu
contohnya yang dituduhkan oleh netizen
atau masyarakat yang mengatakan kalau
ormas ini justru mencari keuntungan.
Fenomena maraknya ormas akhirnya di
setiap daerah itu membentuk ormasnya
masing-masing. Tidak terkecuali ormas
yang berasal dari Madura yang bernama
Madas. Nah, fenomena terbentuknya
organisasi masyarakat yang bernama Madas
ini jadi mengingatkan kita bahwa di
dalam masyarakat itu sendiri identitas
sebuah komunitas itu bisa menjadi energi
yang produktif tapi juga bisa melebar
kalau tidak dikelola dengan baik atau ya
akuntable. transparan saat ini ya. Ormas
yang satu ini sedang menjadi perhatian
publik karena ada beberapa kejadian yang
menyebabkan keributan di Surabaya. Nah,
di beberapa kejadian ini berhubungan
dengan persoalan pengelolaan parkir.
Timbul berbagai opini di antara kedua
belah pihak dari masyarakat Surabayanya
sendiri dan dari pihak ormas madas ini.
Nah, di beberapa video yang viral itu
saling serang terjadi, Geng, antara
netizen yang terpecah belah. Nah, di
sini gua mau ngajak kalian nih untuk
membahas perihal ini dan juga nanti kita
juga bakal membahas nih ya persoalan
benarkah organisasi masyarakat yang
bernama Madas ini ternyata ada yang
versi palsunya sehingga ditenggarai oleh
orang-orang yang tidak bertanggung
jawab. Kabarnya kayak gitu. Nanti kita
bakal bahas nih soal kebenaran tersebut,
Geng. Nah, namun sebelum kita bahas
secara lengkap di sini gua mau
disklaimer dulu. Video ini bukan
dimaksudkan untuk menjatuhkan satu pihak
atau menjelek-jelekkan siapapun, tapi
pembahasan ini adalah sebuah bentuk
informasi dan semoga bisa menjadi
edukasi untuk kita semua, terutama untuk
kita yang ingin mengerti sebenarnya apa
sih yang sedang terjadi bentrokan antar
warga atau antar masyarakat ini dan
kenapa saat sekarang ini ormas madas ini
ramai banget dalam beberapa minggu
terakhir dan konsekuensi apa bagi warga,
aparat dan kehidupan sosial al di
Surabaya semenjak munculnya isu tentang
Madas ini. Langsung aja kita bahas nih,
Geng, secara lengkap. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jerry,
Geng. Geng. Jadi, geng, nanti kita bakal
membahas nih ya tentang sejarah
terbentuknya organisasi yang bernama
Madas asal Madura ini. Tapi sebelum kita
bahas soal sejarahnya, kita bahas dulu
nih soal konflik yang sedang terjadi
sehingga nama organisasi masyarakat
Madura yang bernama Madas ini timbul,
naik ke permukaan dan viral. Kasus yang
pertama kita bakal bahas dulu soal kasus
yang disebut dengan keadilan untuk
Muhammad Rifai.
Geng, sebelum kita lanjutkan ke
beritanya, gua minta waktu kalian
sebentar. Nah, biasanya kan gua
menyampaikan berita-berita penting nih
ke kalian ya, berita-berita yang kalian
suka. Sesekali boleh dong gua
mempromosikan barang-barang yang gua
sendiri pakai dan gua sendiri suka
karena memang sebagus itu dan seberguna
itu, Geng. Jadi, ini namanya Wean WSX80.
Kegunaannya adalah untuk layar monitor
handphone kalian. Nah, ini adalah
monitor yang dirancang buat membantu
kalian agar bisa selfie atau bikin
konten dengan kamera belakang. Cara
menggunakan barang ini tuh gampang
banget dan gua udah beberapa kali pakai
layar ini. Wah, hasil foto-foto selfie
gua keren-keren semua. Sumpah deh dia
bisa ditempel. Nah, di belakangnya itu
udah ada magnetnya, Geng. Kita bisa
tempel kayak gini. Nah, jadi layar HP
kalian langsung bisa dua tuh kayak gini.
Dan yang keren dari layar ini, dia itu
gak delay, benar-benar real time. Apa
yang ada di layar depan terjadi di layar
dari Wean WSX80 ini, Geng. Biasanya kan
kalau kalian mau nge-vlog, kalian gini,
ya, wajah kalian kan enggak kelihatan
nih, kita enggak tahu, "Aduh, wajah gua
cakep atau enggak ya? Kenapa kok enggak
pakai kamera depan aja?" Seperti yang
kita tahu ya, kamera depan itu
kualitasnya kurang. Kalau kamera
belakang selain lebih tajam, kalian udah
bisa pakai kamera 0,5 yang jauh lebih
lebar. Apalagi untuk nge-vlog kalian
udah gak butuh lagi kamera yang
gede-gede. Cukup pakai handphone. Mau
itu iPhone ataupun Android semuanya
bisa. Ini tuh ringan banget. Enggak akan
membebani tangan kalian. Jadi mudah
dibawa ke mana-mana. Daya tahan
baterainya itu sampai 3 jam dan isi
ulangnya bisa pakai charger handphone
tipe type C. Udah gitu kalian juga dapat
remote control jarak jauh. Nah, buat
kalian yang mau punya Wean WSX80 kayak
gua, nah, kalian udah bisa klik ada di
bawah sini, kiri, apa kanan, ya?
Pokoknya udah ada di bawah keranjangnya.
Kalian langsung klik aja, langsung beli
di sana. Harganya enggak terlalu mahal
kok, masih kisaran ratusan rib tapi
kalian udah bisa punya layar secanggih
ini buat membantu konten-konten kalian.
Jadi, Geng yang pertama ada kasus
tentang Muhammad Rifai nih. Jadi, eh
Muhammad Rifai ini adalah seorang tukang
las yang tinggal di Lamongan, Jawa Timur
yang mana dia ditangkap karena dia
diduga mencuri sebuah semangka. Nah,
tapi geng ternyata Rifai ini adalah
korban salah tangkap yang dilakukan oleh
pihak Forest Tuban dan kabarnya seperti
itu ya. Dia juga dikatakan dipaksa untuk
mengakui kalau dia adalah tersangkanya
lewat ee penyiksaan yang dilakukan oleh
oknum polisi setempat. Nah, walaupun
Muhammad Rifa ini tidak ada sangkut
paudnya ke Madas, nah tapi Madas
melakukan aksi solidaritas tuh untuk
menuntut kejelasan kasus ini. Jadi,
geng, sejak tanggal 5 sampai 12 Desember
2025, halaman Polda Jawa Timur berubah
menjadi lautan manusia dan ribuan massa
dari organisasi Madura asli sedarah
turun ee langsung dan setiap hari hampir
1000 orang memenuhi halaman Polda. Dan
ketua DPP Mada Sedarah yang bernama Bung
Taufik itu menyerukan agar seluruh
peserta aksi menjaga ketertiban dan
tetap mengedepankan cara-cara damai. Dia
bilang kalau gerakan yang mereka bawa
ini adalah bentuk perjuangan tanpa
kekerasan dan di dalam himbauannya dia
meminta masa tetap kondusif, tidak
terprovokasi, dan tertib di dalam
berkegiatan di ruang publik. Dukungan
terhadap aksi ini datang dari seluruh
struktur madas sedarah mulai dari DPAC,
DPC, DPD hingga DPP yang menyatakan
solidaritas terhadap korban dan menuntut
penegakan hukum yang transparan. Nah,
ketua dari Presidium PwDPI, Gus Aulia
turut menyampaikan apresiasi atas
kedisiplinan massa serta jalannya aksi
yang berlangsung tanpa insiden awalnya
nih. Dan di dalam aksi itu peserta
menyampaikan tujuh tuntutan utama yaitu
pemecatan terhadap Kapolres Tuban, Kasat
R krim Kanit Jatan Ras, serta seluruh
oknum Jatan Ras yang terlibat.
Wah gila ya, Ormas minta pecat Kapolres
loh. Gila banget tuntutannya. Mereka
juga minta untuk proses pidana terhadap
para pelaku penganiayaan dan percobaan
penghilangan nyawa terhadap korban salah
tangkap ini dan juga pemberian sanksi
etik nih berupa PTDH dan lakukan audit
menyeluruh terhadap Polest Tuban. Itu
permintaan mereka. Nah, mereka juga
minta untuk melibatkan tim reformasi
kepolisian dan keterlibatan Prof. Jimle
Assidiki dan Prof. Mahfud MD dalam
mengawal proses hukum terhadap kasus
ini. Nah, desahankan agar Kapolda Jawa
Timur mundur jika gagal menyelesaikan
kasus ini secara transparan juga. Nah,
jadi itu adalah tuntutan mereka, Geng.
Dan sepanjang aksi ya massa tetap berada
dalam koridor hukum sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998
tentang kemerdekaan menyampaikan
pendapat di muka umum. Peserta itu di
saat itu menjaga kebersihan, menghindari
tindakan provokatif, serta mereka juga
bersikap kooperatif terhadap aparat yang
berjaga. Nah, di dalam aksi tersebut
beberapa video sempat viral, Geng.
Karena ada beberapa teriakan-teriakan
yang cukup provokatif dari beberapa
oknum anggota dari Mades. Nih, kalian
bisa cek beberapa videonya.
Mata saudara. Huh.
Huh.
Banjir. Banjir.
Geng. Mau tahu enggak akibatnya ramainya
masa demo yang menuntut aksi keadilan
atas dugaan salah tangkap tadi dan juga
penganiayaan terhadap si Muhammad Rifai
tadi dari video yang viral di media
sosial khususnya di TikTok gitu ya.
Mereka itu sampai mengatakan mereka
berhasil melumpuhkan jalan Ahmad Yani
Surabaya, lebih tepatnya di depan Polda
Jatim. Nah, ini kalimat yang justru
membuat warga Surabaya agak kesal, agak
marah gitu. Karena kenapa? Ucapan
melumpuhkan Surabaya itu ya terdengar
agak mengintimidasi dan sedikit rasis
gitu karena kan yang ngomong bukan orang
Surabaya.
Siap
Surabaya.
Lumpuh.
Lumpu total. Lumpu total lagi.
Nah, bahkan di dalam kalimat yang ada di
video itu si oknum anggota Madas ini
mengungkapkan dengan kalimat kayak gini
kan jangan pernah mencari masalah dengan
Madas kalau tidak mau terjadi masalah di
Surabaya. Nah, dan dia juga bilang Madas
tidak pernah mencari masalah tapi ketika
Madas dipermasalahkan maka Madas akan
membuat masalah.
Jangan mencari masalah. Madas tidak
pernah mencari masalah. Tapi ketika
Madas dipermasalahkan, maka di situlah
Madas akan membuat masalah.
Wah, gila sih ini benar-benar udah
mancing keributan ya dari
kalimat-kalimatnya.
Itu adalah kasus pertama yang membuat
ormas madas ini jadi viral di media
sosial. Sekarang kita bakal masuk ke
kasus yang selanjutnya. Kasus yang satu
ini justru bikin mereka jauh lebih viral
lagi, yaitu kasus mengenai lahan parkir
m gacoan. kita bahas.
Nah, jadi geng selain kasusnya Muhammad
Rifai tadi, ternyata ada kasus lain yang
membuat ya Madas ini jadi viral. Ini
kasusnya terbilang absurd ya. Dan inilah
yang membuat para oknum-oknum Madas ini
tidak mendapatkan respectek dari
masyarakat nih, yaitu ormas madas ini ya
melakukan protes terhadap usaha bisnis
migoan yang akan mendigitalisasikan
parkir mereka. Sehingga bagi para
anggota Madas ini yang mana lahan-lahan
parkir di Surabaya termasuk lahan parkir
migoan itu e biasanya dikelola oleh
tukang parkir mereka. Mereka merasa
dirugikan dan melayangkan protes kepada
manajemen migacoan. Nah, ini agak aneh
memang ya. Yang punya usaha orang lain,
yang punya gedung, punya tempat, punya
tanah orang lain, tapi mereka yang
protes. Dan bahkan kalau kata netizen
nih ya, untuk mengatakan itu tanah
mereka pun agak enggak masuk akal karena
kan kejadiannya di Surabaya. Sementara
Madas ini base-nya adalah Madura. Nah,
itulah yang menjadi protes dari
masyarakat dan netizen. Jadi, ada sebuah
video di Instagram, Geng, yang
memperlihatkan protes yang dilayangkan
oleh anggota Madas terhadap pihak
migacan tentang masalah digitalisasi
parkiran ini. Yang mana menurut beberapa
orang ya ini mengenai menghilangkan
sumber cuan atau sumber pendapatan
mereka. Hingga pihak Migaco diduga
mendapatkan intimidasi dari beberapa
oknum ormas ini. Bahkan ada video yang
beredar kalau PJS atau paguyuban Juru
Parkir Surabaya melakukan aksi protes
ini sampai ke DPRD Surabaya, Geng. Nah,
jadi orang-orang tuh merasa aneh kayak
loh kok bisa gitu? Migaco kan yang punya
tanahnya, yang punya usahanya. Terserah
mereka dong seharusnya. Mau bikin sistem
parkir digital, mau bikin sistem parkir
manual, itu kan hak mereka. Nah, kenapa
ada jadi ormas yang merasa dirugikan
atas usaha orang lain yang mana mereka
merasa enggak kebagian untungnya di
sana? Akhirnya banyak juga masyarakat
yang protes dengan kejadian ini. Nah,
terus geng di dalam konflik antara mcoan
dengan para organisasi Madas ini
sebenarnya mulai kelihatan sejak
manajemen restoran tersebut
memperkenalkan upaya digitalisasi parkir
tadi yang seharusnya ini menjadi langkah
modern. Malah ini bakal mempermudah
masyarakat atau yang merupakan pelanggan
dari Migacohoan ya. Mereka bisa membayar
parkir sesuai dengan seberapa lama
mereka nongkrong di MAC. Seberapa lama
mereka berada atau memarkirkan kendaraan
mereka di dalam lingkungan migacan. Jadi
kan lebih rapi, lebih aman, lebih
teratur. Nah, tapi justru ini menjadi
pemicu panasnya hubungan antara
paguyuban juru parkir Surabaya atau PJS
dan Ormas Mada tadi terhadap pihak
Migacohoan. Dan dua kelompok ini merasa
kalau perubahan yang datang tiba-tiba
ini gak cuma soal sistem baru, tapi juga
soal posisi mereka yang selama ini sudah
mengelola wilayah tersebut, wilayah
parkir di sana ya, di sekitar
gerai-gerai tersebut. Dan mereka itu
udah terbiasa dengan setoran-setoran
dari hasil menjaga parkir ini. Awal mula
keributannya justru muncul sekitar
pertengahan Agustus 2025 ketika
manajemen Gacokan mulai memperkenalkan
vendor parkir baru tanpa berdialog yang
cukup dengan pihak Madas Stud dan juga
pihak PJS tadi. Nah, di situlah mereka
merasa kayak, "Wah, gila lu enggak
nganggap kita ada nih. Parah nih migan."
Nah, dari pihak PJS-nya langkah itu ya
dipandang sebagai pemutusan kerja sama
sepihak. Dan apalagi mereka mengklaim
kalau mereka punya MOU lama yang masih
berjalan.
Ini agak aneh memang. Menurut pihak
Migaco enggak ada tuh MOU, enggak ada
perjanjian apa-apa. Sedari awal mereka
cuma mengizinkan para ormas itu untuk
mencari keuntungan di lahan parkir
mereka. Namun seiring berjalannya waktu
mereka merubah aturan tersebut yaitu
ingin membuat digitalisasi terhadap
parkiran mereka tapi malah mereka yang
disalahkan. Nah, keresahan ini langsung
dibawa ke ruang publik oleh ratusan masa
PJS yang turun aksi ke DPRD Surabaya
pada tanggal 26 Agustus 2025. Mereka di
saat itu sambil membawa narasi
kekhawatiran tentang hilangnya mata
pencaharian mereka sebagai tukang parkir
di apa namanya tidak dihargai.
Artinya jenengan ini menghendaki kisruh
digitalisasi. kami siap untuk itu.
Nah, kalau sampai di sini kira-kira
menurut kalian gimana, Geng? Kalian
lebih support siapa? Kalau kita melihat
dari kacamata pebisnis ya terserah yang
punya lahan sih, ya, mcoan. Nah, tapi
kan di sini ada narasi menghilangkan
mata pencaharian orang lain, yaitu mata
pencaharian tukang parkir. Kira-kira
menurut kalian benar enggak narasi
tersebut? Apakah ya para pebisnis juga
harus legowo, juga harus berbagi dengan
para tukang parkir ini dengan memberikan
mereka lahan secara cuma-cuma agar
mereka bisa dapat setoran dari uang
parkir para konsumen dari bisnis
tersebut atau gimana menurut kalian?
Coba deh tinggalkan komentar di bawah
nih, Geng. Di saat itu, Geng, karena
sudah diprotes sampai ke DPRD Surabaya,
akhirnya Komisi B DRD Surabaya kemudian
turun tangan dan mengejar mediasi pada
tanggal 2 September 2025. Di dalam hasil
mediasinya ternyata buntu karena
perwakilan Migacohoan yang datang itu
dinilai enggak punya kewenangan untuk
memutuskan apapun. Pemanggilan ulang
pada 16 September akhirnya malah tidak
dihadiri oleh pihak manajemen dan ini
semakin membuat situasi memanas. Setelah
dua mediasi ini mentok, enggak ada jalan
keluarnya, Mi Gacoan mencoba memulai
pertemuan baru di Hotel Majapahit. Nah,
harapannya bisa meredakan ketegangan.
Tapi pada nyatanya pihak PJS, Paguyuban
Juru Parkir Surabaya, dan juga Madas
dari Madura malah balik dengan narasi
kekecewaan. Mereka merasa tetap enggak
dihargai karena sistem digitalisasi yang
ingin mereka tawarkan justru diabaikan
atau ditolak. Nah, karena ada beberapa
narasi yang menurut gua sih agak agak
sukar atau agak sulit untuk dimengerti
ya. Jadi ada sebuah video di video
tersebut kalian bisa lihat sendiri nih
kenapa kami tidak
di apa namanya tidak dihargai.
Artinya jenengan ini menghendaki casro
itu digitalisasi. kami siap untuk itu.
Jadi eh beberapa perwakilan dari MADAS
ini menjelaskan kalau pihak Migacoach
membutuhkan sistem parkir digital,
mereka bisa menyediakan itu. Tapi yang
penting dikomunikasikan dulu dengan
mereka. Kurang lebih kayak gitulah
kalimatnya. Tapi terus-terusan diulang
nih. Kalian lihat nih videonya.
Diinginkan oleh koordinator gacoan,
koordinator parkir mco yang bermitra
dengan di bawah paguyuban juru pararkir
Surabaya.
di bawah organisasi ee Madas ya itu kan
belum ditanyakan seperti apa. Tapi ada
kalimat yang lucu ya di dalam e video
tersebut. Pihak perwakilan dari Madas
ini menilai sistem lokal yang mereka
kembangkan itu lebih maju daripada
sistem vendor baru yang dibawa oleh
manajemen gacoan. Mereka yakin sistemnya
Madas lebih canggih. Kalian percaya
enggak dengan klaim tersebut? Terus
geng, bagi para koordinator parkir yang
banyak berasal dari unsur RT RW dan
Karang Taruna, keputusan manajemen ini
dianggap menyingkirkan peran mereka
dalam menjaga ketertiban di lingkungan
mereka sendiri. Karena mereka menganggap
walaupun migacokan yang punya tanah,
yang punya lahan, yang punya usaha, tapi
itu adalah ee lingkungan mereka. Usaha
migacoan berada di lingkungan mereka.
Jadi mereka yang berkewajiban dan punya
hak untuk menjaga ketertiban di sana,
gitu. Jadi bukan cuma soal aplikasi
parkir digital, tapi udah soal hilangnya
peran sosial yang sudah lama mereka
pegang, sudah lama mereka kelola.
Begitulah anggapan mereka. Nah, sampai
sekarang tuntutan dari PJS dan Madas
tetap sama. Mereka tidak menolak
modernisasi, tapi mereka menolak cara
main yang dianggap sepihak. Mereka
enggak mau kehilangan mata pencaharian.
Kalaupun harus dimodernisasikan, maka
harus pakai sistem dari mereka. Mereka
minta dialog setara dan minta sistem
digitalisasi lokal ya ikut
dipertimbangkan. Nah, di sisi lain
manajemen gacoan tetap dengan
komitmennya. Mereka ingin membangun
ekosistem parkir yang lebih manusiawi
dan terstruktur menurut mereka. Mereka
juga mengatakan menjanjikan pelatihan
dan stabilitas penghasilan bagi juru
parkir mereka sendiri yang sudah mereka
atur nanti. Jadi, lumayan keras juga
pertahanan dari Migacoach ini. Pihak
manajemen Migaoan sendiri akhirnya
muncul dengan konfirmasi soal pertemuan
yang sempat membuat heboh tersebut.
dikatakan corporate communication
manager PT Pestapora Abadi Purnama
Adityya ya itu membenarkan kalau
pertemuan itu memang berlangsung persis
seperti yang terekam di dalam video yang
beredar luas yang viral lewat pesan
WhatsApp pada hari Senin tanggal 24
September kemarin dia itu menyampaikan
kalau apa yang terlihat di media sosial
memang kejadian yang sebenarnya tanpa
rekayasa dan sampai saat sekarang ini,
baik dari pihak Migaco maupun kelompok
Madas belum menjelaskan secara rinci apa
aja yang dibahas dalam pertemuan
tersebut atau bagaimana langkah lanjutan
yang akan diambil. Tapi sementara itu,
video yang sudah terlanjur menyebar
terus memicu perbincangan hangat atau ya
menarik perhatian masyarakat, terutama
soal dugaan intimidasi dan polemik
seputar digitalisasi parkir yang menjadi
akar persoalan sejak awal. Jadi akhirnya
nih geng ya, polemik ini sekarang
tinggal menunggu siapa yang mau ambil
langkah paling bijak. Apakah pihak yang
punya bisnis yaitu Migaco mau lebih peka
terhadap struktur sosial lokal? atau ya
komunitas lokalnya yang siap menerima
modernisasi selama diperlakukan adil.
Dan sampai sekarang ya ini muncul nih
perdebatan di media sosial yang saling
serang antara netizen yang mengaku
sebagai masyarakat Surabaya dan netizen
yang mengaku sebagai bagian dari Madas.
Mereka saling serang soal hak
masing-masing. Yang dari Surabaya
mengatakan yaitu haknya migacan dan
mereka merasa terganggu dengan adanya
madas di tanah mereka Surabaya.
Sementara dari pihak Madas merasa apa
yang sudah mereka lakukan ini benar.
Mereka menganggap pengelolaan parkir di
Surabaya biarlah mereka yang tangani.
Nah, jujur aja gua enggak tahu sih
patokannya apa ya mereka bisa berkata
demikian, tapi itulah yang mereka klaim.
Nah, semoga nih, Geng ya, dari
penjelasan ini kalian jadi paham
gambaran yang lebih utuh soal kenapa
nama Madas asal Madura yang base-nya di
Surabaya ini tiba-tiba jadi ramai viral
ke permukaan dan apa aja dinamika yang
melibatkan mereka saat ini. Sampai saat
sekarang ini ya, Geng, permasalahan dari
Mes ini belum selesai. Masih ramai
banget di pemberitaan dan masih menjadi
polemik lah di tengah-tengah masyarakat
Surabaya sana. Nah, sekarang gua mau
ngajak kalian nih ya, mau ngajak kalian
sebenarnya Madas ini apa sih ya?
Bagaimana sejarahnya, terbentuknya
seperti apa? Benarkah tujuan dari
organisasi ini sebenarnya baik untuk
mengelola parkir mungkin atau menyatukan
masyarakat Madura yang ada di luar kota
mungkin atau gimana? Sekarang kita bahas
sejarah dan visi-visi Madas ini. Tapi
sebelumnya gua disclaimer dulu ya,
karena gua mendapatkan informasi ini
dari media. Mungkin teman-teman yang
merasa dirinya lebih paham, lebih tahu,
atau mungkin bagian dari anggota Madas
bisa meluruskan nih kalau ada
kesalahpahaman atau salah-salah kata di
dalam video ini supaya apa? Supaya ya
semua masyarakat bisa terinformasi
dengan benar dan teredukasi dengan
benar. Oke, sekarang kita bahas.
Jujur ya, Geng, mungkin buat kalian
semua sempat mendengar nama Madas ini,
ya. Semenjak adanya kejadian yang
mencuat soal konflik panas antara K. Ha.
Muhammad Imam Muslimin atau yang dikenal
sebagai Ya Mim. Ingat enggak? Yang mana
dia itu ribut sama tetangganya yang
bernama Sahara di kawasan Joyo Grand,
Kota Malang. ya. Kejadiannya bukan di
Surabaya, tapi Malang ya, kota tetangga.
Nih kalian bisa lihat di beberapa konten
gua.
Nah, jadi geng di tengah-tengah ramainya
pemberitaan itu, nama Madas ini ikut
naik ke permukaan kan di saat itu
diketahui kalau ternyata suami dari
Sahara ini merupakan salah satu tokoh ya
yang ee mengetuai ormas madas ini di
kawasan Karang Ploso. Banyak yang
bingung, banyak yang bertanya-tanya, dan
tidak sedikit juga yang salah paham. Ada
yang mengira madas itu cuma istilah
bahasa Jawa yang artinya setengah
matang. Ada juga yang yakin kalau ini
adalah singkatan dari sebuah organisasi
yang berasal dari Madura. Ada yang
bilang kalau ini kepanjangannya adalah
Madura darah asli katanya gitu atau
Madura asli gitu-gitulah. Jadi geng ya
nih gua bakal jelaskan. Semoga ini
enggak salah ya informasi gua. Kalau
memang salah tolong dikoreksi. Nah,
Madas ini sendiri merupakan singkatan
dari Madura asli yang gua tahu. Nah, ini
gua ambil dari Google ya, dari AI juga
ketika gua cek. Oh, Madas adalah
singkatan dari Madura asli. Dikatakan di
sana ini adalah sebuah organisasi
masyarakat yang mewadahi komunitas
Madura, khususnya mereka yang merantau
di berbagai daerah. Ormas ini berdiri
dari semangat solidaritas orang-orang
Madura untuk saling bantu, terutama di
perantauan. Mereka menjaga kebudayaan
mereka serta membangun jaringan sosial
yang kuat di perantauan. Nah, jadi geng
kalau kita ngomongin tentang bagaimana
Madas ini bisa terbentuk dan berkembang
sampai punya banyak cabang di berbagai
daerah, kita harus mundur dulu ke latar
belakang sosial para perantau Madura
ini. Nah, jadi geng komunitas Madura itu
kan terkenal banget dengan solidaritas
dan ikatan kekeluargaan yang kuat,
terutama kalau mereka tinggal di kota
orang lain. Nah, dari situ muncul
kebutuhan untuk punya wadah bersama di
perantauan, tempat mereka bisa saling
ngasih dukungan, menjaga identitas
mereka, dan tetap terhubung meskipun
jauh dari kampung halaman. Nah, karena
jumlah perantau Madura makin lama makin
besar di kota-kota seperti Surabaya,
Malang, Gresik sampai dengan Jakarta,
akhirnya terbentuklah organisasi yang
kemudian dikenal sebagai Madasi. Ini
geng kalau kita berbicara tentang orang
Madura, ya mereka itu memang gigih
banget sih mencari nafkah ya. Orang
Madura ini kalau ngerantau enggak
tanggung-tanggung. Kalau kalian datang
ke Arab sana, ke Makkah dan Madinah sana
itu kebanyakan yang bekerja sebagai
turgetnya bukan orang Arab, bukan orang
lokal, tapi justru orang Madura.
Mau dari negara mana pun orang Madura
yang nampung. Jadi saking banyaknya
orang Madura yang merantau ke sana.
Terus geng seiring berjalannya waktu ya
MAS ini tuh enggak cuma berhenti sebagai
komunitas kumpul-kumpul aja tapi mulai
membangun struktur organisasi yang lebih
rapi. Di banyak wilayah mereka
mendirikan cabang resmi yang disebut
dengan Dewan Pimpinan Cabang atau DPC.
Dari pembentukan DPC inilah aktivitas
madas mulai terlihat nyata di lapangan.
Di beberapa kota mereka aktif mengadakan
kegiatan sosial seperti santunan untuk
anak yatim. pengajian rutin sampai
program pemberdayaan ekonomi untuk
anggota yang membutuhkan bantuan.
Kegiatan-kegiatan seperti ini bukan cuma
memperkuat solidaritas para anggotanya,
tapi juga membuat hubungan mereka dengan
masyarakat sekitar tetap harmonis. Yang
paling menariknya adalah keberadaan dari
DPC yang tersebar di berbagai kota itu
juga yang menjadi tanda kalau Madas
semakin ingin diakui sebagai organisasi
masyarakat yang formal dan punya
pengaruh di tingkat lokal. Nah, jadi
bukan cuma komunitas berbasis etnis yang
sifatnya informal, Geng. Tapi ormas yang
punya struktur, punya agenda, dan posisi
sosial yang lebih jelas di tengah
masyarakat. Itulah tujuan mereka.
Organisasi ini memiliki susunan
kepengurusan yang tertata rapi. Mulai
dari ketua umumnya, ada, wakil ketua,
ada sekretaris jenderal, ada bendahara
juga, hingga sejumlah bidang operasional
seperti koperasi, UMKM, pendidikan, dan
advokasi hukum. Salah satu figur sentral
dalam organisasi ini adalah Kanjeng
Raden Harya H. Muhammad Yusuf Rizal yang
menjabat sebagai Presiden Ormas untuk
periode 2024 sampai 2029. Forum ini juga
memiliki jaringan luas di berbagai
daerah termasuk Kabupaten Malang serta
dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan
program pemberdayaan masyarakat.
Organisasi ini juga menjalankan tiga
program utama yang dirumuskan dalam
konsep bina, lindung, sejahtera. Nah,
bina merupakan fokus pada pendidikan dan
pelatihan guna meningkatkan kualitas
sumber daya manusia warga Madura,
termasuk pendidikan keagamaan serta
keterampilan praktis. Lindung itu
merupakan memberikan perlindungan dan
pendampingan hukum, terutama terkait
persoalan sosial, konflik lahan atau
kasus hukum lain yang melibatkan
masyarakat Madura. dan sejahtera.
Sejahtera ini merupakan mendorong
peningkatan kesejahteraan ekonomi
melalui penguatan UMKM, pengembangan
koperasi, dan kerja sama strategis
dengan pihak pemerintah maupun swasta,
Geng. Nah, jadi itu adalah tiga program
utamanya dari pembentukan MADAS ini.
Terus tujuan MAD ini apa? Jadi mereka
ini ingin komunitas Madura yang tersebar
di berbagai kota tetap punya tempat
untuk berkumpul dan saling bantu agar
identitas serta martabat budaya mereka
tetap terjaga. Dan selain itu, Madas
juga bergerak di bidang sosial mulai
dari bakti sosial, santunan, sampai
pengajian rutin. Ada juga program
pemberdayaan ekonomi dan pendidikan yang
disesuaikan dengan kebutuhan anggota di
tiap daerah. Dan satu hal lagi, mereka
sering ikut berkontribusi di dalam
menjaga keamanan serta ketertiban
lingkungan, terutama di wilayah yang
komunitas Maduranya cukup besar. Jadi,
peran madas ini enggak cuma soal budaya,
tapi juga sudah masuk ya ke dalam ee
ranah sosial kemasyarakatan yang lebih
luas, Geng. Nah, lalu geng MAS sebagai
salah satu dari organisasi masyarakat
Madura ini ya, ada satu hal penting yang
sering luput dari perhatian. Jadi semua
ormas di Indonesia itu enggak bisa jalan
seenaknya. Mereka berada di bawah payung
aturan yang cukup ketat, yaitu
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013
tentang Organisasi Kemasyarakatan.
Aturan ini menegaskan kalau semua ormas
termasuk Madas ini cuma boleh berdiri
dan beraktivitas kalau berpegang pada
Pancasila, Undang-Undang 1945 dan jelas
tidak melakukan tindakan yang melanggar
hukum. Jadi bukan sekedar kumpul-kumpul
masyarakat Madura aja ya, membentuk
organisasi masyarakat dengan tujuan
sendiri-sendiri. Enggak harus memenuhi
standar yang sudah ditentukan oleh
undang-undang. Nah, oleh karena itu
geng, ormas seperti Madas ini wajib
terdaftar secara resmi. Mekanismenya ya
bisa lewat pemerintah daerah atau
pemerintah pusat tergantung seberapa
luas kegiatan mereka. Kalau jangkauan
kegiatannya cuma lokal ya daftarnya di
tingkat daerah. Tapi kalau sudah punya
cabang di banyak kota atau programnya
lintas wilayah, prosesnya harus lewat
pusat. Nah, ini penting untuk memastikan
aktivitas mereka bisa dipantau dan
terkoordinasi dengan baik. Jadi, bisa
dikatakan kalau Madas ini terdaftar
sebagai organisasi masyarakat yang resmi
di administrasi hukum umum atau AHU
Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Meskipun sudah terdaftar secara resmi,
negara punya wewenang memberikan sanksi
atau hukuman kalau ada ormas atau
siapapun yang bertindak di luar batas
kewenangannya. Nah, bentuk sansinya pun
berjenjang, Geng. Mulai dari peringatan,
pembekuan, kegiatan, sampai pembubaran
atau pelanggaran yang dianggap berat.
Jadi, keberadaan sebuah ormas bukan cuma
soal punya massa atau struktur
organisasi, tapi juga soal kepatuhan
pada ee aturan yang mengikat semua warga
negaranya. Makanya nih, Geng, legalitas
dan tata kelola yang rapi ini jadi kunci
penting untuk ormas seperti Madas ini.
Dengan mengikuti aturan main, mereka
bisa memastikan perannya tetap
bermanfaat bagi masyarakat, bukan justru
menimbulkan keresahan. Ini juga yang
membuat keberadaan sebuah ormas bisa
dipertanggungjawabkan secara hukum
maupun sosial. Sehingga setiap
aktivitasnya itu jelas tujuannya dan
batasannya. Fenomena maraknya penyebutan
kata madas ini mengingatkan kita, Geng,
kalau setiap kali ada gesekan sosial
yang melibatkan tokoh atau komunitas
tertentu, publik sering sekali langsung
menarik ormas-ormas ke dalam narasinya,
ya kan? Padahal realita di lapangan
belum tentu ya sehitam putih itu. Bisa
jadi cuma anggota individunya nih yang
berbuat nakal ya kan atau oknumnya lah.
Nah, namun karena mungkin si individu
tersebut memakai seragam atau atribut
dari organisasinya, akhirnya nama
organisasinya terseret-seret seperti
yang terjadi pada Madas ini. Yang
awalnya dikenal sebagai ormas budaya dan
sosial, kini malah dianggap seolah
berada dalam pusaran konflik. Nah,
seperti beberapa konflik yang udah
sempat gua bahas tadi. Persoalan
parkirlah, ngebela orang salah tangkap
lah. Jadi, yang dibahas di dalam
tongkrongan mereka atau di dalam
kumpul-kumpul mereka sudah bukan lagi
budaya, sudah bukan lagi mempertahankan
adat istiadat yang mereka bawa dari
kampung ke kota orang lain, tapi sudah
mulai merambah ke hal-hal lain. Nah,
makanya banyak masyarakat yang
menganggap kalau terbentuknya ormas ini
ya mungkin pada awalnya untuk menjaga
kesatuan dan e budaya mereka sesama suku
gitu. Tapi lama-kelamaan ya masyarakat
menganggap mereka jadi punya tujuan
untuk mencari cuan atas kekuatan yang
mereka punya karena mereka saling
bersatu sehingga menciptakan sebuah
kekuatan yang besar. Ada sebuah
klarifikasi dari pihak Mades nih, Geng.
Jadi pada tanggal 8 Desember kemarin,
rombongan pengurus Madas DPD Jawa Timur
itu mendatangi Sekretariat Aliansi
Wartawan Surabaya atau AWS di Jalan
Jaksa Agung Suprapto pada Senin siang.
Rombongan ini dipimpin oleh sekretaris
DPD yang bernama IGD Ardika bersama
dengan Biro Hukum Dodik Firmansyah dan
Sukardi serta ketua DPC Mada Surabaya
yang bernama Rahmatullah. Mereka
disambut langsung oleh ketua AWS yang
bernama Kiki Kurniawan. Dan kunjungan
ini dilakukan untuk memenuhi undangan
AWS sekaligus meluruskan berbagai
kegaduhan yang muncul belakangan,
terutama soal maraknya pihak yang
mencatut nama Madas sebagai organisasi
resmi terdaftar di AHU, Kementerian
Hukum dan HAM. Salah satu pemicu
panasnya situasi ini adalah aksi unjuk
rasa di Polda Jatim pada 5 Desember
kemarin. Dan ketika seorang pendemo ya
sempat mengucapkan kalimat kontroversial
yang sudah sempat gua sebutkan tadi
yaitu melumpuhkan Surabaya. Nah, di
dalam kesempatan itu ya ketua AWS yang
bernama Kiki Kurniawan itu mengingatkan
pentingnya menjaga asas kekeluargaan
antar organisasi di Surabaya sesuai
dengan nilai Pancasila dan bineka
tunggal ika. Nah, dia juga bilang kalau
keberagaman tidak seharusnya menjadi
alasan munculnya pertentangan dan
perbedaan antar organisasi yang mana ini
harus dijelaskan secara terbuka termasuk
melalui atribut dan perlindungan HAKI.
Terutama karena nama Madas ini sekarang
justru dipakai oleh beberapa kelompok
berbeda kabarnya mulai dari madas
nusantara, madas anak serumpun dan madas
sedarah. Menanggapi hal ini, Sekretaris
DPD Madas Jawa Timur yaitu IGD Ardika
itu menegaskan kalau Madas Anak Serumpun
adalah satu-satunya entitas yang sudah
mendaftarkan perlindungan haki ya di
Ditjen Haki Kemenkumham. Dia juga
menekankan bahwa Madas yang dipimpin
oleh dia itu merupakan organisasi asli
yang didirikan oleh almarhum Berlian dan
sekarang berketua umum Haji Thaha
namanya. Nah, karena itu dia meminta
agar publik dan instansi tidak keliru
menyamakan mereka semua dengan kelompok
lain yang membawa-bawa nama Madas juga.
Dan IGD Ardika ini juga menegaskan bahwa
aksi-aksi masa belakangan yang
mengatasnamakan Madas termasuk dengan
demo di Polda Jatim tidak ada kaitannya
dengan madas anak serumpun. Itu beda
madas.
Asal jenengan-jenengan tahu bahwa yang
kemarin melakukan aksi di Mapolda yang
mengganggu
alur lalu lintas, yang mengganggu
ketertiban itu bukan Madas. Madas itu
adalah Madura asli daerah anak Serumpun.
Dan yang melakukan aksi kemarin itu
adalah Madura asli sedara.
Dan secara legalitas AHU ya ee kabarnya
kelompok tersebut adalah entitas yang
berbeda dan DPD Madas Jawa Timur ingin
menjaga agar Surabaya tetap kondusif dan
tidak terganggu oleh konflik yang dipicu
oleh penggunaan nama organisasi secara
serampangan. Nah, sementara ya Pak
Sukardi dari Biro Hukum DPD MADES itu
juga menyampaikan kalau dia cukup
prihatin. Dia menilai ulah sebagian
pihak yang menggunakan nama Mades tanpa
legitimasi membuat citra organisasi
tercoreng dan dihujat oleh masyarakat
lewat AWS. Mereka ya berharap masyarakat
Surabaya bisa teredukasi dan bisa
diinformasikan kalau Madas versi resmi
itu cuma ada satu dan memiliki visi
serta misi yang jelas. Sementara
madas-madas yang lain yang dianggap ya
premanisme lah, pungli lah, atau bisa
dikatakan banyak yang menyerobot lahan
orang lain untuk dijadikan mata
pencarian mereka. Salah satunya adalah
dijadikan lahan parkir. Nah, gimana tuh,
Geng, menurut kalian, Geng? Nah, jadi
itu, Geng, ya, sejarah dari Madas dan di
awal tadi kita sudah membahas soal
konflik yang melibatkan Madas ini,
terutama di Kota Surabaya. Nah, gimana,
Geng? Menurut kalian tentang pembahasan
ini? Ini belum selesai loh, Geng. Bisa
jadi nanti konfliknya kalau enggak
selesai ya berlanjut. Kalau kalian mau
gua bahas ini lagi, coba tinggalkan
komentar di bawah.