Transcript
p0p-68tMUWs • SALT BAE ENDS UP HATED BY THE WORLD AND HIS CAREER DESTROYED
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1626_p0p-68tMUWs.txt
Kind: captions Language: id Dari sebuah media lain, ada lagi nih Pete Wells yang merupakan seorang kritikus restoran dari The New York Times. Dia memberikan penilaian yang lebih berimbang ya. Dia memang memuji kualitas stake yang disajikan. Namun kritik tajamnya dia diarahkan pada menu pendampingnya. Geng, hari ini kita bakal membahas sebuah topik sebagai bentuk informasi dan edukasi biar kita semua bisa menjadi lebih kritis dalam melihat figur publik atau public figure terutama yang dibungkus dengan popularitas, kemewahan, citra sukses di media sosial dan ya hal-hal yang membuat kita tuh seolah-olah ingin menjadi seperti dia ya kan. Atau dengan istilah lain tuh living the dream ya, hidup di dalam mimpi semua orang ya kan. Nah, karena sering banget apa yang kita lihat di layar itu gak selalu mencerminkan realitas di baliknya. Ya, kadang kita dibuat percaya kalau seseorang itu sukses berkelas dan layak dikagumi. Padahal pondasi yang menopang ketenarannya itu rapuh dan penuh masalah. Nah, di era digital seperti sekarang, ketenaran bisa datang bukan karena kualitas atau kontribusi nyata, tapi mungkin ya karena keviralan atau mungkin karena drama-drama palsu, hal-hal yang didramatisir sehingga menggugah hati gitu kan. Nah, tapi ada sebuah pertanyaan ya yang muncul nih, Geng. Apakah ketenaran instan itu cukup kuat untuk menopang bisnis, reputasi, keberlanjutan atas popularitas ee dalam jangka panjang? Nah, mungkin jawabannya bisa kalian dapatkan dari kasus yang bakal kita bahas ini, yaitu tentang popularitas bay. Kalian tahu dia enggak? Nih videonya. Yoi. Kalian pasti tahulah ya di era-era itu ada yang kayak gini-gini tuh. Nah, itu dia tuh dia yang punya ini signature-nya dia nih. Dan dia ini adalah sosok chef atau koki yang dulu dielu-elukan, dipuja-puja. Keren banget. Padahal apa ya? Kalau gua lihat sih bukan yang kayak bikin bumbu ala-ala masakan Padang yang benar-benar riweh banget gitu. Enggak. Cukup daging dipotong pakai gaya terus di garemin pakai gaya udah mahal. Udah gitu garamnya kecampur sama keringat dan daki dari sikunya gitu ya. Dan itu jadi mahal. Dia ini dulu dijadikan simbol kesuksesan, gaya hidup mewah, dan dream life di media sosial. Kalau orang udah super kaya harus makan di restoran dia ya kan. Nah, dari tukang daging sederhana dulunya dia naik jadi selebritas ternama internasional. restorannya tiba-tiba tersebar di berbagai negara, cabangnya gitu ya. Dan makan di tempat dia dianggap sebagai simbol status sosial yang tinggi. Tapi belakangan semua itu mulai hancur dan runtuh. Gue yakin banget kalian udah jarang banget ngelihat dia. Hampir enggak pernah ngelihat dia lagi. Dan satu persatu kontroversinya muncul ke permukaan. Bisnisnya goyah dan citranya berubah dari icon yang keren menjadi bahan kritik dan ejekan publik. Yang menarik nih, Geng, keruntuhan ini bukan terjadi secara tiba-tiba. ada pola tertentu dari viralitas yang berlebihan, sikap yang dianggap arogan, harga yang tidak masuk akal, sampai perilaku publik yang melewati batas. Semua itu akhirnya membuat banyak orang jadi mulai mempertanyakan, apakah Salt Bay ini memang seorang chef hebat, koki hebat, atau cuma produk media sosial yang terlalu dibesar-besarkan atau overrated gitu. Nah, di video kali ini kita bukan sekedar ingin membahas kejatuhan seseorang, tapi ini menjadi refleksi bareng-bareng bahwa posisi apapun yang kalian dapatkan, jabatan apapun ee dan juga seberapa sukses kalian saat ini itu semua bersifat sementara. Dan apabila pondasi kalian rapuh, ya semuanya bisa dengan gampang akan runtuh. Dan di sini kita belajar juga seharusnya bagaimana menyikapi seorang public figure budaya viral dan glorifikasi kesuksesan yang instan supaya kita enggak gampang terpesona oleh gimik-gimik di media sosial dan bisa lebih jernih lagi menilai antara kualitas, integritas, serta pencitraan ya. Nah, langsung aja kita bahas nih, Geng, secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry. Genggeng, sebelum kita bahas kontroversinya yang membuat karirnya runtuh, mungkin ada baiknya kita bahas dulu profile-nya nih. Gua yakin banget enggak semua dari kalian tahu siapa dia. Dan gua sendiri sebenarnya enggak begitu tahu awalnya ya, siapa dia gitu ya. Setelah membaca tentang profile latar belakangnya dia, di sini gua baru paham. Kita bahas profile dari Salt Bay. Oke, jadi geng nama aslinya adalah Nusret Gokch. Dia ini pria kelahiran Turki yang dikenal di dunia sebagai seorang chef, terus butcher juga sekaligus pendiri restoran mewah, Nusred Stick House. Nah, sebelum nama Salt Bay ini dikenal dunia, Nusred Goche ini dibesarkan di dalam keluarga sederhana di Desa Pasali, sebuah wilayah kecil di Distrik Sengkaya, Provinsi Erzurum, Turki. Nah, dia ini lahir pada tanggal 9 Agustus 1983 dan tumbuh di lingkungan keluarga besar yang hidup dengan segala keterbatasan. wasn't born with a silver spoon. He grew up in a small village in Eastern Turkey in 1983 where life was tough. While other kids his age were sitting in classrooms dreaming about the future, Nusret had already dropped out of school and picked up a knife. Nusred memiliki tiga saudara laki-laki dan dia juga memiliki seorang saudara perempuan. Ayahnya bernama Fig Gok bekerja sebagai penambang. Sementara ibunya itu bernama Fatma Gok itu berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keluarga sepenuhnya. Dan sejak kecil ketertarikan Nusret ini pada dunia memasak itu enggak datang dari dapur restoran mewah, tapi dari dapur rumahnya sendiri yang sederhana. Dia sering mengamati ibu dan neneknya, Geng, saat menyiapkan hidangan tradisional alat Turki. Nah, ini pelajaran juga buat kita, ya. ketika kita berada di rumah ee melihat ibu kita bekerja, nenek kita memasak gitu, itu bisa menjadi ilmu juga ternyata dan bisa ya untuk masa depan gitu kan. Nah, terus geng dari proses sederhana itulah rasa hormatnya dia terhadap makanan dan teknik memasaknya dia itu mulai tumbuh. Dan perjalanan Nusret Gokche ini menuju panggung dunia sebenarnya dimulai jauh sebelum namanya dikenal sebagai Salt Bay. Pada usia 11 hingga 12 tahun, Nusret ini meninggalkan kampung halamannya dia dan pindah ke Distrik Kadikoy Istanbul, Turki ya untuk menjalani pelatihan magang di sebuah toko daging lokal. Dan selama bertahun-tahun, Nusret ini mendedikasikan hidupnya untuk mengasah keterampilan kuliner dan teknik pemotongan daging. Setiap hari dia menghabiskan sekitar 8 jam di rumah Jagal. Rumah Jagal itu rumah pemotongan dan bukan cuma untuk kerja, tapi juga untuk belajar. Dia memperhatikan setiap detail di rumah pemotongan itu. Cara motong daging, teknik yang rapi, presisi pisaunya, sampai bagaimana menghormati bahan makanan yang dia olah. Dan semua dia pelajari secara otodidak dengan disiplin dan ketukunan tinggi. Makanya yang dinilai dari si salt B ini adalah attitude ketika dia menyajikan makanan. Jadi kalau dibilang makanannya enak atau enggak ya belum tentu enak gitu. Nah, tapi attitude dia dalam menyajikan makanan itu yang dipuji-puji oleh orang-orang. Jadi dia ini enggak cuma bekerja di satu tempat ketika itu, tapi terus memperluas pengalamannya dia dengan bekerja di berbagai macam restoran bahkan hingga ke luar negeri. Antara tahun 2007 sampai 2010 dia sempat menimba pengalaman di negara-negara seperti Argentina, Amerika Serikat yang mana dikenal memiliki budaya stake yang kuat. Dari sanalah perspektif global Nursuas gitu terhadap daging dan penyajiannya yang terbentuk. Dan pada tahun 2010, Nusret ini mengambil langkah besar dalam hidupnya dia dengan mendirikan restoran pertama yaitu Nourse Strip di Istanbul, Turki. Keputusan ini menjadi sebuah pondasi dari kerajaan kuliner yang nantinya bakal dia bangun. Nah, di awal berdiri restorannya itu sederhana banget ya. Restoran ini cuma punya delan kursi dan dijalankan oleh 10 orang pekerja aja. Tapi dari sini, Geng. Perjalanan Nusret ini mengalami sebuah pertemuan penting. Tiba-tiba dia bertemu dengan seseorang yang bernama Ferit Saheng, seorang pebisnis besar sekaligus salah satu orang terkaya di Turki. Ferit ini tertarik bukan hanya pada kualitas daging yang disajikan oleh si e si Salutb ini atau Nusret ini, tapi dia juga takjub gitu ya, tertarik dengan cara Nusret ini menjalankan usaha. Bahkan dia menyaksikan langsung momen ketika Nusret ini menaburkan garam dengan gaya khasnya. Itu gaya kobra ya kan. Sebuah gaya yang menurut Ferit sangat memukau dan menghibur. Dan dari kesan itulah Ferit ini mencoba menjalin kerja sama dengan Nusret ya. Dan Ferit kemudian tertarik untuk berinvestasi membuka jalan bagi Nusret untuk memperluas bisnis restorannya ke berbagai wilayah. Nah, 4 tahun berselang tepatnya tahun 2014, Nusredai memperluas bisnisnya ke tingkat internasional dengan membuka cabang Nusret di Dubai. Enggak main-main tuh ya, tempat bukanya langsung di daerah yang merupakan perkumpulan orang-orang kaya berada gitu. Restoran Nuster ini dengan cepat dikenal dengan kualitas potongan daging yang premium dan teknik bumbu yang khas. Terutama gaya menaburkan garam di lengan bawah ke atas daging. Dan gaya ini bukan hanya menjadi teknik pemasak, tapi juga bagian dari pertunjukan yang membuat dia berbeda dari restoran stak yang lain. Nah, pelanggannya pun mulai berdatangan membentuk basis penggemar yang apa ya cukup royal dan loyal gitu. Mau mengeluarkan uang dan setia gitu. Titik balik terbesar di dalam karir Nusret Gok ini terjadi pada tahun 2017 yang mana pada saat itu dia mengunggah sebuah video di Instagram yang menampilkan keahliannya memotong daging dengan presisi dengan cara yang dramatis ya sup gitu dan tanpa diduga video tersebut viral geng ke seluruh dunia termasuk negara kita Indonesia yang mana ini mengubah Nusrat dari seorang pengusaha restoran menjadi sensasi internet global dan sejak saat itulah julukan Salt Bay itu melekat ke dia. Dan sejak viralitas tersebut, Nusret ini terus memperluas kerajaan kulinernya dengan membuka banyak restoran baru di berbagai negara. Dan gaya khasnya dia dalam menaburkan bumbu makanan itu ditiru oleh banyak orang di seluruh dunia. Yang mana ini memperkuat posisinya dia sebagai ee fenomena budaya global, bukan sekedar chef biasa. Dan gak cuma itu, restoran Nursed ini ya juga menjadi magnet bagi tokoh-tokoh terkenal dunia. Mulai dari atlet sampai aktor papan atas seperti dari Hollywood semua datang. Nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, David Beckham, Leonardo DiCaprio, sampai selebriti Asia pun kayak Tigerrof, terus ada Sanjid, terus ada Parmis Ferma, itu semuanya pernah datang ke sana dan menjadikan Nusret sebagai simbol antara kuliner, selebritas dan gaya hidup mewah. Jadi, Geng dia udah kerja keras dan walaupun penuh keterbatasan. Dari situlah salt B ini membentuk diri alias Nusret tadi dari anak buruh tambang yang putus sekolah menjadi tukang jagal lalu berkembang menjadi chef dan pengusaha restoran kelas dunia. Nah, jadi itu ya bagaimana sejarah awal pertama kali namanya menjadi besar dan profile-nya dia menjadi sosok salt bay. Nah, sekarang ya kita bakal ngebahas tentang awal mula kejatuhan dari si Nusret alias Salt Bay ini hingga ya apa yang terjadi ke dia ini bisa menjadi pelajaran ya buat kita. Kita bahas. Jadi geng di awal mula runtuhnya South Baya itu udah terlihat ya dari tahun 2018 pada saat dia baru saja mendirikan sebuah cabang baru untuk restorannya di New York. Alih-ali mendapatkan sambutan hangat dari para warga New York, restoran barunya justru menuai kritik keras dari para reviewer kuliner yang ternama di dunia. Salah satunya datang dari Robert Siatsema. Aduh, benar enggak ya ucapan namanya? Kalau salah tolong diperbaiki ya di kolom komentar. Gua takut e gua malah menyesatkan karena membaca nama orang dengan salah gitu ya. Jadi dia ini ya salah satu kritikus senior Eer New York di saat itu. Dia menggambarkan hidangan steak yang disajikan oleh Nur ini ya itu keras dan rasanya kurang. Nah, kritik ini yang langsung menampar citra restoran yang menjual pengalaman premium dengan harga tinggi. Dari sebuah media lain ada lagi nih Pit Wells yang merupakan seorang kritikus restoran dari The New York Times. Dia memberikan penilaian yang lebih berimbang ya. Dia memang memuji kualitas stake yang disajikan. Namun kritik tajamnya dia diarahkan pada menu pendampingnya. Dia menyebutkan kalau kentang yang disajikan itu mengerikan. Sementara saladnya itu dinilai biasa aja dan enggak istimewa. Nah, penilaian ini memperkuat kesan bahwa kualitas Nose Rate ini enggak merata alias overrated, terlalu dilebih-lebihkan. Nah, secara umum nih, Geng, ya. Banyak reviewer itu menyimpulkan satu hal, pertunjukan Salt Bay memang menghibur dan stak-nya cukup baik, tetapi harga yang dipatok itu terlalu mahal dibandingkan dengan pengalaman yang didapatkan. Kritik ini bahkan mencapai titik ekstrem ketika Steve Kuzo, kritikus dari New York Post itu menyebutkan cabang dari Nurset tersebut secara belak-belakan disebut sebagai penipuan. Selain soal rasa dan harga, ada satu kritik mendasar lagi yang terus disampaikan berulang-ulang. Banyak pengamat yang mencatat bahwa meskipun Nursed ini ya dipasarkan sebagai restoran steak dari Turki, pengaruh kuliner Turki itu hampir enggak terasa dalam menu yang disajikan. Identitas yang dijual di dalam branding itu dinilai tidak sejalan dengan realitas yang ada di atas meja makan. Dan dari sinilah, Geng, mulai terlihat retakan awal dalam citra Salt B ini ketika viralitas dan pertunjukan tidak lagi cukup untuk menutupi ekspektasi kualitas dan juga harga serta identitas kulinernya. Meskipun restoran pertamanya di New York dibanjiri ulasan yang kurang memuaskan, tapi South Bay ini enggak langsung mundur. Dia enggak berkecil hati. Nah, ini juajua petarung nih biasanya ya. Kita enggak bisa meragukan juga ya. Dia ini kan dari orang susah bisa jadi sebesar itu. Jadi kritikan pedas apapun dia hadapi, dia telan. Sebaliknya justru ya pada awal tahun 2020, tepatnya sebelum dunia dihantam oleh lockdown akibat pandemi Covid-19, dia ini tiba-tiba kembali mencoba peruntungan dengan membuka tempat baru di kota yang sama. Kali ini Nusred ini tidak mendirikan stick house melainkan sebuah restoran burger yang bernama Salt Bay Burger. Namun ahli-ali memperbaiki reputasi, langkah ini justru kembali menuai kritik pedas dari para reviewer kuliner. Seperti sebelumnya, persoalan harga menjadi sorotan. Salah satu menu yang paling banyak dibicarakan itu adalah milkshake-nya dengan harga yang hampir 100$00 Amerika Serikat yang mana angka tersebut dianggap enggak masuk akal untuk konsep sebuah restoran burger. Robert Sietema yang sebelumnya juga mengkritik restoran Saltb ini kembali mengkritik restoran burger ini. Dia mengatakan dia sangat kecewa terhadap kualitas makanannya. Nah, ini gua enggak tahu nih ya si Robert ini emang ada dendam pribadi apa emang makanan di situ enggak enak. Tapi yang jelas menurut dia burger yang dibuat dari daging wagi stick dan burger lainnya itu terasa sama. Nah, maksudnya terasa sama tuh gini, Geng. Harusnya Wagiu steak itu kan jauh lebih apa ya? e jauh lebih premium, mahal harganya. Nah, tapi kok rasanya sama aja sama yang lain? Gak ada bedanya. Terus buat apa orang bayar mahal? Nah, gitulah kurang lebih. Nah, jadi dia mengatakan harusnya ada beda yang membuat kenapa nilai jualnya itu berbeda juga. Nah, terus, Geng. Enggak cuma dari si Robert tadi, ada lagi kritik yang mirip datang dari Ryan Suton. Ryan Suton apa Ryan Satton? Eh, Ryan Saten kali ya. Pokoknya itulah ya tulisannya Suton ya. Sultan kan apa setan intinya gitu deh. Nah, dia ini adalah kritikus dari Eer. Dia bahkan menyebutkan bahwa satu-satunya hal yang enak dari burger tersebut hanyalah bawangnya. Nih si Abang Ryan ini kayaknya emang suka bawang aja kayaknya ya. Masa iya sih? Dari segi begitu banyak ada rotinya, ada dagingnya, yang enak bawangnya. Nah, ini adalah sebuah pernyataan kekecewaan terhadap keseluruhan hidangan dari Salt Bay Burger ini. Dan Eer itu bukan satu-satunya media yang bersuara. Kritikus-kritikus lain juga ikut melontarkan penilaian negatif yang menyebutkan makanan di Salt Bay Burger ini adalah makanan yang hambar tanpa karakter rasa. Puncaknya terjadi pada awal Maret 2020 ketika Scott Lynch ya menulis kuliner dari Gotamis yaitu secara terang-terangan dia menyebutkan SB burger sebagai restoran terburuk di New York saat itu. Jadi geng pada tahun 2021 keadaan justru semakin memburuk buat Sat Bay ya. Dia udah diserang kiri kanan. Cabang-cabang restorannya juga diserang kiri kanan. Setelah melalui penundaan panjang karena pandemi Covid-19, akhirnya dia balik lagi buka restoran stick Nurset di distrik Knight Bridge namanya di daerah London kawasan elit yang identik dengan orang-orang kaya yang hidup mewah. Tapi alih-alih menuai pujian dibukanya ee restorannya dia ini balik ya disambut oleh gelombang kritik tajam. Walaupun di sana merupakan kawasan orang kaya, mereka tetap melayangkan kritik yang sama seperti sebelum-sebelumnya, yaitu harga menu yang dianggap mahal banget. Jadi kayak orang-orang mikir, "Lu jual daging apa jual emas, lu jual daging apa jual air celup pintu surga." Mahal banget. Nah, ada seorang netizen yang mengunggah foto tagihan, ya, foto tagihan makan di restorannya dia di-upload ke Twitter atau X yang menunjukkan total pembayarannya mencapai 1576 pound. Berapa tuh kira-kira 1576 pound? Mungkin editor gua bisa translatein di sini nih ke rupiah berapa. Nah, segitu tuh. Walaupun di meja tersebut memang ada 8 orang, tapi rincian tagihannya memicu kemarahan publik. Dua porsi sushi dihargai 46 pound. Sementara satu stack Toma Hawk raksasa mencapai 630 pound dan bahkan dua gelas Coca-Cola ya dipatok 18 pound. Jujur gua penasaran nih 18 pound itu berapa sih? 18 pound IDR. Oi, yang bener aja lu nusret. Gila lu. Hah, gelas Coca-Cola seberapa besar sih? Hah? kayak tangki RX King gedenya R00.000 du gelas doang. Astagfirullah. Coca-Cola cok. Sini datang ke tempat gua gua suruh berenang. Kalau duit segini nih Rp400.000. Gila loh. Terus enggak berhenti sampai di situ. Pelanggan lain kembali memposting tagihan dari restoran yang sama ya dengan total lebih dari 37.000 pound yang setara dengan. 50.000 000 itu kan masyaallah 600 juta. Hah gua salah enggak sih? Astagfirullahalazim. Benar enggak sih.000 makan apa? Beraknya tabungan apa gimana? Rp800 juta. Ya Allah R34 juta. Tagihan apaan itu? Lu makan apa? Wah gila. Nah, terus unggahan tersebut langsung viral dan memperkuat anggapan bahwa Nursed mahal, tapi melainkan dilebih-lebihkan dan enggak masuk akal. Nah, jadi itulah bagaimana awalnya si Nursted ini menjadi omongan atau cemooohan publik karena ya itu tadi overrated, terlalu mahal, terlalu dilebih-lebihkan. Akhirnya ya itu semua menjadi awal runtuhnya dia. Tapi geng ternyata ya enggak cuma karena harga makanan dan minumannya yang mahal banget, tapi para karyawannya juga mendapatkan perlakuan yang enggak adil dari dia. Nah, jadi sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan tentang konflik Salt Bay dengan para karyawannya. Ya, udah mana restorannya mahal tapi ternyata karyawannya tidak sejahtera. Langsung kita masuk ke dalam pembahasannya. Jadi, Geng, walaupun restoran yang terletak di London ini mendapatkan banyak kritik, di bulan pertama restoran ini muncul sudah banyak mendapatkan keuntungan yang enggak main-main. Di dalam 4 bulan pertama sejak dibukanya restoran ini, ya, mereka itu sudah dilaporkan mampu mera pendapatan sekitar 7 juta pound atau setara dengan 8,5 juta dolar Amerika Serikat. Nah, angkanya fantastis banget dan memang enggak lepas dari harga menu yang memang mahal banget. Hampir semua pelanggan di sana punya tagihan lebih dari 1000 pound yang dengan cepat terakumulasi menjadi pemasukan terbesar bagi restoran. Tapi, Geng, pendapatan yang tinggi ini ternyata enggak sejalan dengan reputasi restorannya. Nah, jadi ya ada sebuah sorotan publik mengenai para pekerja yang ada di sana. Di tengah harga menu yang fantastis, ternyata terungkap bahwa Koki di cabang Knights Bridge itu cuma dibayar sekitar 12 sampai 13 per jam. Selisih upah per jam tersebut hanya 3 hingga 4 pound lebih mahal dari harga segelas Coca-Cola di restoran itu. Jadi dengan kata lain ya nih dengan kata lain nih satu Coca-Cola laku udah bisa ngebayar kokinya. Selebihnya keuntungan buat si Salf Bay kan itu enggak adil ya jahat gitu. Fakta tersebut muncul ya dan memicu kemarahan warga net dengan banyak pihak yang menilai kalau upah tersebut hampir setara dengan gaji di restoran cepat saji alias fast food atau setara dengan gaji orang-orang di KFC, di McD. Nah, terus apa bedanya? Dan ini sesuatu yang dianggap enggak sebanding dengan citra kemewahan dan keuntungan yang dipamerkan oleh Nusred. dan ulasan negatif tetap mengalir. Dan pada tahun 2022, ada seorang mantan karyawan dari Nusret London itu mengungkapkan kepada media bahwa sistem kerja internal restoran tersebut lebih mirip restoran cepat saji alias ya kayak McDonald atau KFC jauh dari citra eksklusif yang selama ini dipasarkan. Mereka menyebutkan kalau kentang goreng yang disajikan ternyata beku dan cuma disertai saus tomatins. Sesuatu yang dianggap tidak sepadan dengan harga yang premium. Lebih jauh lagi mantan karyawannya tersebut juga menyoroti harga anggur tertentu yang dipatok sampai 2.000 pound yang dia sebut itu enggak bermoral padahal itu kalau dibeli di luar ya murah-murah aja gitu. Dan selain tentang bayaran yang rendah pada tahun 2021 ada dua karyawan dari restoran steak Salt Bay di New York itu mengajukan gugatan hukum terhadap pemilik restoran tersebut dengan tuduhan diskriminasi. Mereka mengklaim diperlakukan berbeda karena bukan warga Turki. Jadi ada rasis-rasisnya nih. Salah satu penggugat itu adalah seorang bartender asal Republik Dominika yang mengungkapkan kalau dia diminta untuk mengganti seragam kerja dengan pakaian yang lebih terbuka dan sepatu berhak tinggi. Dan permintaan tersebut tidak pernah diberikan kepada karyawan Turki. Jadi hal-hal yang nyeleneh, nakal-nakal gitu diperuntukkan untuk karyawan yang bukan orang Turki. Setelah dia mengikuti instruksi tersebut, dia mengaku justru menjadi sasaran pelecehan dari rekan-rekan pria di tempat kerja karena terlalu seksi, kan. Dan ketika itu kemudian dia meminta izin menggunakan pakaian yang lebih tertutup, lebih sopan demi kenyamanan dia sendiri dan keselamatannya dia karena udah mulai digoda-godain nih. Nah, tapi malah dia dipecat dari restoran itu. Wah, gila sih. Enggak habis pikir gua. Terus geng, gugatan tersebut juga menyebutkan e beberapa karyawan non Turki sengaja ditempatkan di meja-meja yang kurang menguntungkan atau kurang nyaman yang secara langsung berdampak pada pendapatan mereka dari tip atau dari apa ya saweran lah gitu ya. Jadi mereka itu enggak dapat uang lebih gitu. Mereka cuma dapat pahitnya doang. Dan enggak cuma itu, pada tahun yang sama lima mantan juru masak dari restoran Salut Bay di New York juga mengajukan gugatan. Di dalam gugatan tersebut mereka menuduh Salt Bay ini bersikap agresif dan kasar terhadap karyawannya. Mereka juga mengklaim kalau dia kerap menyalahkan orang yang enggak bersalah atas kesalahan yang terjadi di dapur yang menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan dan ketakutan. Jadi kayak hobi marah-marah gitu, Geng. Geng, kontroversi di jaringan restoran South B ini juga menyentuh masalah pengelolaan tip karyawan. Pada tahun 2022, ada sebanyak 24 pekerja Nursami, ya. menggugat restoran tersebut karena biaya layanan 18% yang otomatis ditambahkan ketagihan pelanggan. Para pekerja menilai biaya itu seharusnya kan dibagi ya kan sebagai tip di luar gaji mereka karena sudah tertuliskan tuh biaya layanan 18% yang artinya itu adalah hak para pekerja. Tapi enggak, justru itu adalah sebuah persenan akal-akalan untuk bisa mendapatkan keuntungan lebih. Nah, tapi sayangnya gugatan dari para karyawannya ini kandas di pengadilan banding sirkuit ke-11 yang memutuskan kalau biaya tersebut merupakan service charge bukan tip karyawan. Nah, ternyata geng ini bukan satu-satunya kasus pengelolaan tip karyawan yang pernah terjadi. Pada tahun 2019 juga pernah menyelesaikan gugatan tentang tip ini, Geng. Tapi dia membayar 230.000 000 Amerika Serikat kepada empat mantan pekerja di New York yang menuduh uang tip mereka diambil dan mereka dipecat setelah memprotes hal itu. Dan setahun kemudian pada tahun 2020, gugatan serupa juga kembali diselesaikan dengan pembayaran 300.000 Amerika Serikat setelah seorang mantan pelayan mengklaim kalau uang tip miliknya dia diambil dan dibagikan kepada karyawan lain. Menurut gua ini adalah sebuah kebodohan atas ego seorang pemilik usaha. Kenapa gua bilang demikian, Geng? Karena ya ketika dia berusaha ingin curang, ngambil hak karyawan, habis itu dia kena tuntut, ujung-ujungnya itu uang yang dia ambil dia kasih juga ke karyawan lagi. Karena itu namanya ngeribetin diri sendiri. Padahal kalau dari awal dia kasih aja itu hak karyawannya, reputasi dia tetap bagus, toh uangnya juga tetap ke karyawannya. Ini enggak diambil dulu, bermasalah dulu, baru dikasih ujung-ujungnya nama jelek. Nah, ini nih. Ini namanya adalah ego ya. Ini pelajaran penting buat kita nih supaya ya hidup itu win-win solution aja. Orang lain senang, kita senang. Kita senang, orang lain senang. Lu olang untung, Oe juga untung. Oe untung, lu olang untung. Gitu aja udah. Terus, Geng, enggak cuma dari masalah restoran hingga karyawan, tapi dia juga punya masalah yang sama di dunia sepak bola. Nah, ini yang paling viral dan membuat dia benar-benar hancur, berantakan, dan runtuh. Ya, lu tahu sendiri ya. popularitas di dalam sepak bola itu berpengaruh banget. Bahkan lebih berpengaruh daripada perpolitikan, daripada dunia keartisan selebriti, Hollywood, Bollywood, dan apapun. Sepak bola itu kayak tarafnya tuh di atas di atas apa ya? Di atas di atas bumi, di bawah langit dikit gitu. Jadi kalau lu bermasalah dengan eh selebritas sepak bola seperti Lionel Messi, seperti Cristiano Ronaldo sama Persip Bandung dan Viking seperti sibob ya. Nah, udah lu selesai. Nah, jadi jangan main-main sama yang namanya sepak bola. Sekali lu dibenci oleh para pengagumnya atau pemainnya atau siapapun unsur-unsur penting di dalamnya, lu selesai. Ya. Nah, jadi ini cerita salt ya yang berhubungan dengan dibencinya dia di dunia sepak bola. Jadi pada final Piala Dunia tahun 2022 di Qatar kemarin, Salt Bay itu kembali menuai kontroversi setelah masuk ke dalam lapangan lapangan sepak bola tanpa izin. Dia bahkan sampai pegang-pegang dan mencium trofi Piala Dunia. Itu kan sakral. Enggak semua orang bisa dengan mudah mendapatkan itu. Enggak boleh sembarangan disentuh. Itu bisa didapatkan dengan keringat dan darah dari para pemain yang sudah bertarung bertahun-tahun. Dia dengan enak ngambil cium-cium. Lu capek. Tukang daging kan? Tukang daging viral bisa-bisanya. Dan dia juga berpura-pura menaburkan garam di atas si trofi Piala Dunia demi viral. Dan aksi itu jelas melanggar aturan FIFA. Nah, karena trofi itu cuma boleh disentuh oleh pemain dan pejabat resmi. Dan akibat dari insiden itu, Salt B dilarang untuk menghadiri final Piala AS terbuka. Dan memasuki tahun 2023, tekanan terhadap bisnisnya makin terasa. Sat Burger resmi ditutup yang hanya 3 tahun setelah restoran tersebut dibuka. Dan pada tahun yang sama lokasi Norton juga berhenti beroperasi dan tidak pernah dibuka kembali sampai tahun 2025. Investigasi bisnis insider turut memperburuk citra Salt Bay dengan laporan dari mantan karyawannya yang menuding adanya budaya ketakutan, kepemimpinan yang otoriter, serta lingkungan kerja yang enggak ramah bagi karyawan perempuan. Dan tuduhan ini dibantah oleh kuasa hukumnya Salt Bay yang menyebutkan kalau itu enggak mendasar atau sebuah fitnah. Nah, tapi apa boleh buat gelombang tuduhan udah mengarah ke dia semua. Nah, terus geng penutupan dari restoran-restorannya berlanjut di awal 2025 ini. Ketika Nusret di daerah Dallas dan juga Las Vegas itu resmi ditutup, saat ini Nusredai aja, tiga restoran aja yang lokasinya aktif di Amerika Serikat, yaitu New York, Miami, Beverly Hills. Di luar Amerika Serikat jaringannya ini masih bertahan dengan delan lokasi di Turki, beberapa di Timur Tengah dan satu di Maikonos dan London. meskipun dengan harga yang sudah diturunkan, didiskon-diskonin enggak bertahan ya. Meski dikelilingi kontroversi, South Bay belum sepenuhnya tumbang sebenarnya. Dia masih yakin dia bisa naik lagi. Dia masih beroperasi dan bahkan bersiap berekspansi ke Amerika Latin katanya dengan berencana ingin membuka restoran baru di Mexico City pada akhir 2025. Nah, tapi ya siapa lagi yang mau dengerin? Siapa lagi yang tahu tentang dia? Kayaknya udah enggak ada. Nah, jadi geng itu dia pembahasan kita hari ini mengenai keruntuhan Salt Bay. Mulai dari perjalanan hidupnya dia yang inspiratif, viralitas yang mengangkat nama dia ke puncak sampai rangkaian kontroversi yang perlahan-lahan menggerus reputasi dan bisnisnya dia. Mulai dari kritik, kualitas makanan, harga yang dianggap enggak masuk akal, konflik dengan karyawan sampai perilaku publik yang melewati batas. Semua itu jadi pelajaran penting tentang bagaimana ketenaran instan tidak selalu sejalan dengan integritas dan keberlanjutan. Nah, gimana nih, Geng? Menurut pendapat kalian soal kasusnya Salt Bay ini? Apakah dia memang korban ekspektasi berlebihan atau justru contoh figur yang terlalu mengandalkan gimik dan citra? Coba deh tuliskan komentar kalian di bawah.