Transcript
p0p-68tMUWs • SALT BAE ENDS UP HATED BY THE WORLD AND HIS CAREER DESTROYED
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1626_p0p-68tMUWs.txt
Kind: captions
Language: id
Dari sebuah media lain, ada lagi nih
Pete Wells yang merupakan seorang
kritikus restoran dari The New York
Times. Dia memberikan penilaian yang
lebih berimbang ya. Dia memang memuji
kualitas stake yang disajikan. Namun
kritik tajamnya dia diarahkan pada menu
pendampingnya.
Geng, hari ini kita bakal membahas
sebuah topik sebagai bentuk informasi
dan edukasi biar kita semua bisa menjadi
lebih kritis dalam melihat figur publik
atau public figure terutama yang
dibungkus dengan popularitas, kemewahan,
citra sukses di media sosial dan ya
hal-hal yang membuat kita tuh
seolah-olah ingin menjadi seperti dia ya
kan. Atau dengan istilah lain tuh living
the dream ya, hidup di dalam mimpi semua
orang ya kan. Nah, karena sering banget
apa yang kita lihat di layar itu gak
selalu mencerminkan realitas di
baliknya. Ya, kadang kita dibuat percaya
kalau seseorang itu sukses berkelas dan
layak dikagumi. Padahal pondasi yang
menopang ketenarannya itu rapuh dan
penuh masalah. Nah, di era digital
seperti sekarang, ketenaran bisa datang
bukan karena kualitas atau kontribusi
nyata, tapi mungkin ya karena keviralan
atau mungkin karena drama-drama palsu,
hal-hal yang didramatisir sehingga
menggugah hati gitu kan. Nah, tapi ada
sebuah pertanyaan ya yang muncul nih,
Geng. Apakah ketenaran instan itu cukup
kuat untuk menopang bisnis, reputasi,
keberlanjutan atas popularitas ee dalam
jangka panjang? Nah, mungkin jawabannya
bisa kalian dapatkan dari kasus yang
bakal kita bahas ini, yaitu tentang
popularitas bay. Kalian tahu dia enggak?
Nih videonya.
Yoi. Kalian pasti tahulah ya di era-era
itu ada yang kayak gini-gini tuh. Nah,
itu dia tuh dia yang punya ini
signature-nya dia nih. Dan dia ini
adalah sosok chef atau koki yang dulu
dielu-elukan, dipuja-puja. Keren banget.
Padahal apa ya? Kalau gua lihat sih
bukan yang kayak bikin bumbu ala-ala
masakan Padang yang benar-benar riweh
banget gitu. Enggak. Cukup daging
dipotong pakai gaya terus di garemin
pakai gaya udah mahal. Udah gitu
garamnya kecampur sama keringat dan daki
dari sikunya gitu ya. Dan itu jadi
mahal. Dia ini dulu dijadikan simbol
kesuksesan, gaya hidup mewah, dan dream
life di media sosial. Kalau orang udah
super kaya harus makan di restoran dia
ya kan. Nah, dari tukang daging
sederhana dulunya dia naik jadi
selebritas ternama internasional.
restorannya tiba-tiba tersebar di
berbagai negara, cabangnya gitu ya. Dan
makan di tempat dia dianggap sebagai
simbol status sosial yang tinggi. Tapi
belakangan semua itu mulai hancur dan
runtuh. Gue yakin banget kalian udah
jarang banget ngelihat dia. Hampir
enggak pernah ngelihat dia lagi. Dan
satu persatu kontroversinya muncul ke
permukaan. Bisnisnya goyah dan citranya
berubah dari icon yang keren menjadi
bahan kritik dan ejekan publik. Yang
menarik nih, Geng, keruntuhan ini bukan
terjadi secara tiba-tiba. ada pola
tertentu dari viralitas yang berlebihan,
sikap yang dianggap arogan, harga yang
tidak masuk akal, sampai perilaku publik
yang melewati batas. Semua itu akhirnya
membuat banyak orang jadi mulai
mempertanyakan, apakah Salt Bay ini
memang seorang chef hebat, koki hebat,
atau cuma produk media sosial yang
terlalu dibesar-besarkan atau overrated
gitu. Nah, di video kali ini kita bukan
sekedar ingin membahas kejatuhan
seseorang, tapi ini menjadi refleksi
bareng-bareng bahwa posisi apapun yang
kalian dapatkan, jabatan apapun ee dan
juga seberapa sukses kalian saat ini itu
semua bersifat sementara. Dan apabila
pondasi kalian rapuh, ya semuanya bisa
dengan gampang akan runtuh. Dan di sini
kita belajar juga seharusnya bagaimana
menyikapi seorang public figure budaya
viral dan glorifikasi kesuksesan yang
instan supaya kita enggak gampang
terpesona oleh gimik-gimik di media
sosial dan bisa lebih jernih lagi
menilai antara kualitas, integritas,
serta pencitraan ya. Nah, langsung aja
kita bahas nih, Geng, secara lengkap.
Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry.
Genggeng, sebelum kita bahas
kontroversinya yang membuat karirnya
runtuh, mungkin ada baiknya kita bahas
dulu profile-nya nih. Gua yakin banget
enggak semua dari kalian tahu siapa dia.
Dan gua sendiri sebenarnya enggak begitu
tahu awalnya ya, siapa dia gitu ya.
Setelah membaca tentang profile latar
belakangnya dia, di sini gua baru paham.
Kita bahas profile dari Salt Bay.
Oke, jadi geng nama aslinya adalah
Nusret Gokch. Dia ini pria kelahiran
Turki yang dikenal di dunia sebagai
seorang chef, terus butcher juga
sekaligus pendiri restoran mewah, Nusred
Stick House. Nah, sebelum nama Salt Bay
ini dikenal dunia, Nusred Goche ini
dibesarkan di dalam keluarga sederhana
di Desa Pasali, sebuah wilayah kecil di
Distrik Sengkaya, Provinsi Erzurum,
Turki. Nah, dia ini lahir pada tanggal 9
Agustus 1983 dan tumbuh di lingkungan
keluarga besar yang hidup dengan segala
keterbatasan.
wasn't born with a silver spoon. He grew
up in a small village in Eastern Turkey
in 1983 where life was tough. While
other kids his age were sitting in
classrooms dreaming about the future,
Nusret had already dropped out of school
and picked up a knife. Nusred memiliki
tiga saudara laki-laki dan dia juga
memiliki seorang saudara perempuan.
Ayahnya bernama Fig Gok bekerja sebagai
penambang. Sementara ibunya itu bernama
Fatma Gok itu berperan sebagai ibu rumah
tangga yang mengurus keluarga
sepenuhnya. Dan sejak kecil ketertarikan
Nusret ini pada dunia memasak itu enggak
datang dari dapur restoran mewah, tapi
dari dapur rumahnya sendiri yang
sederhana. Dia sering mengamati ibu dan
neneknya, Geng, saat menyiapkan hidangan
tradisional alat Turki. Nah, ini
pelajaran juga buat kita, ya. ketika
kita berada di rumah ee melihat ibu kita
bekerja, nenek kita memasak gitu, itu
bisa menjadi ilmu juga ternyata dan bisa
ya untuk masa depan gitu kan. Nah, terus
geng dari proses sederhana itulah rasa
hormatnya dia terhadap makanan dan
teknik memasaknya dia itu mulai tumbuh.
Dan perjalanan Nusret Gokche ini menuju
panggung dunia sebenarnya dimulai jauh
sebelum namanya dikenal sebagai Salt
Bay. Pada usia 11 hingga 12 tahun,
Nusret ini meninggalkan kampung
halamannya dia dan pindah ke Distrik
Kadikoy Istanbul, Turki ya untuk
menjalani pelatihan magang di sebuah
toko daging lokal. Dan selama
bertahun-tahun, Nusret ini
mendedikasikan hidupnya untuk mengasah
keterampilan kuliner dan teknik
pemotongan daging. Setiap hari dia
menghabiskan sekitar 8 jam di rumah
Jagal. Rumah Jagal itu rumah pemotongan
dan bukan cuma untuk kerja, tapi juga
untuk belajar. Dia memperhatikan setiap
detail di rumah pemotongan itu. Cara
motong daging, teknik yang rapi, presisi
pisaunya, sampai bagaimana menghormati
bahan makanan yang dia olah. Dan semua
dia pelajari secara otodidak dengan
disiplin dan ketukunan tinggi. Makanya
yang dinilai dari si salt B ini adalah
attitude ketika dia menyajikan makanan.
Jadi kalau dibilang makanannya enak atau
enggak ya belum tentu enak gitu. Nah,
tapi attitude dia dalam menyajikan
makanan itu yang dipuji-puji oleh
orang-orang. Jadi dia ini enggak cuma
bekerja di satu tempat ketika itu, tapi
terus memperluas pengalamannya dia
dengan bekerja di berbagai macam
restoran bahkan hingga ke luar negeri.
Antara tahun 2007 sampai 2010 dia sempat
menimba pengalaman di negara-negara
seperti Argentina, Amerika Serikat yang
mana dikenal memiliki budaya stake yang
kuat. Dari sanalah perspektif global
Nursuas
gitu terhadap daging dan penyajiannya
yang terbentuk. Dan pada tahun 2010,
Nusret ini mengambil langkah besar dalam
hidupnya dia dengan mendirikan restoran
pertama yaitu Nourse Strip di Istanbul,
Turki. Keputusan ini menjadi sebuah
pondasi dari kerajaan kuliner yang
nantinya bakal dia bangun. Nah, di awal
berdiri restorannya itu sederhana banget
ya. Restoran ini cuma punya delan kursi
dan dijalankan oleh 10 orang pekerja
aja. Tapi dari sini, Geng. Perjalanan
Nusret ini mengalami sebuah pertemuan
penting. Tiba-tiba dia bertemu dengan
seseorang yang bernama Ferit Saheng,
seorang pebisnis besar sekaligus salah
satu orang terkaya di Turki. Ferit ini
tertarik bukan hanya pada kualitas
daging yang disajikan oleh si e si
Salutb ini atau Nusret ini, tapi dia
juga takjub gitu ya, tertarik dengan
cara Nusret ini menjalankan usaha.
Bahkan dia menyaksikan langsung momen
ketika Nusret ini menaburkan garam
dengan gaya khasnya. Itu
gaya kobra ya kan. Sebuah gaya yang
menurut Ferit sangat memukau dan
menghibur. Dan dari kesan itulah Ferit
ini mencoba menjalin kerja sama dengan
Nusret ya. Dan Ferit kemudian tertarik
untuk berinvestasi membuka jalan bagi
Nusret untuk memperluas bisnis
restorannya ke berbagai wilayah. Nah, 4
tahun berselang tepatnya tahun 2014,
Nusredai memperluas bisnisnya ke tingkat
internasional dengan membuka cabang
Nusret di Dubai.
Enggak main-main tuh ya, tempat bukanya
langsung di daerah yang merupakan
perkumpulan orang-orang kaya berada
gitu. Restoran Nuster ini dengan cepat
dikenal dengan kualitas potongan daging
yang premium dan teknik bumbu yang khas.
Terutama gaya menaburkan garam di lengan
bawah ke atas daging. Dan gaya ini bukan
hanya menjadi teknik pemasak, tapi juga
bagian dari pertunjukan yang membuat dia
berbeda dari restoran stak yang lain.
Nah, pelanggannya pun mulai berdatangan
membentuk basis penggemar yang apa ya
cukup royal dan loyal gitu. Mau
mengeluarkan uang dan setia gitu.
Titik balik terbesar di dalam karir
Nusret Gok ini terjadi pada tahun 2017
yang mana pada saat itu dia mengunggah
sebuah video di Instagram yang
menampilkan keahliannya memotong daging
dengan presisi dengan cara yang dramatis
ya sup gitu dan tanpa diduga video
tersebut viral geng ke seluruh dunia
termasuk negara kita Indonesia yang mana
ini mengubah Nusrat dari seorang
pengusaha restoran menjadi sensasi
internet global dan sejak saat itulah
julukan Salt Bay itu melekat ke dia. Dan
sejak viralitas tersebut, Nusret ini
terus memperluas kerajaan kulinernya
dengan membuka banyak restoran baru di
berbagai negara. Dan gaya khasnya dia
dalam menaburkan bumbu makanan itu
ditiru oleh banyak orang di seluruh
dunia. Yang mana ini memperkuat
posisinya dia sebagai ee fenomena budaya
global, bukan sekedar chef biasa. Dan
gak cuma itu, restoran Nursed ini ya
juga menjadi magnet bagi tokoh-tokoh
terkenal dunia. Mulai dari atlet sampai
aktor papan atas seperti dari Hollywood
semua datang. Nama-nama besar seperti
Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, David
Beckham, Leonardo DiCaprio, sampai
selebriti Asia pun kayak Tigerrof, terus
ada Sanjid, terus ada Parmis Ferma, itu
semuanya pernah datang ke sana dan
menjadikan Nusret sebagai simbol antara
kuliner, selebritas dan gaya hidup
mewah. Jadi, Geng dia udah kerja keras
dan walaupun penuh keterbatasan. Dari
situlah salt B ini membentuk diri alias
Nusret tadi dari anak buruh tambang yang
putus sekolah menjadi tukang jagal lalu
berkembang menjadi chef dan pengusaha
restoran kelas dunia.
Nah, jadi itu ya bagaimana sejarah awal
pertama kali namanya menjadi besar dan
profile-nya dia menjadi sosok salt bay.
Nah, sekarang ya kita bakal ngebahas
tentang awal mula kejatuhan dari si
Nusret alias Salt Bay ini hingga ya apa
yang terjadi ke dia ini bisa menjadi
pelajaran ya buat kita. Kita bahas.
Jadi geng di awal mula runtuhnya South
Baya itu udah terlihat ya dari tahun
2018 pada saat dia baru saja mendirikan
sebuah cabang baru untuk restorannya di
New York. Alih-ali mendapatkan sambutan
hangat dari para warga New York,
restoran barunya justru menuai kritik
keras dari para reviewer kuliner yang
ternama di dunia. Salah satunya datang
dari Robert Siatsema. Aduh, benar enggak
ya ucapan namanya? Kalau salah tolong
diperbaiki ya di kolom komentar. Gua
takut e gua malah menyesatkan karena
membaca nama orang dengan salah gitu ya.
Jadi dia ini ya salah satu kritikus
senior Eer New York di saat itu. Dia
menggambarkan hidangan steak yang
disajikan oleh Nur ini ya itu keras dan
rasanya kurang. Nah, kritik ini yang
langsung menampar citra restoran yang
menjual pengalaman premium dengan harga
tinggi. Dari sebuah media lain ada lagi
nih Pit Wells yang merupakan seorang
kritikus restoran dari The New York
Times. Dia memberikan penilaian yang
lebih berimbang ya. Dia memang memuji
kualitas stake yang disajikan. Namun
kritik tajamnya dia diarahkan pada menu
pendampingnya. Dia menyebutkan kalau
kentang yang disajikan itu mengerikan.
Sementara saladnya itu dinilai biasa aja
dan enggak istimewa. Nah, penilaian ini
memperkuat kesan bahwa kualitas Nose
Rate ini enggak merata alias overrated,
terlalu dilebih-lebihkan. Nah, secara
umum nih, Geng, ya. Banyak reviewer itu
menyimpulkan satu hal, pertunjukan Salt
Bay memang menghibur dan stak-nya cukup
baik, tetapi harga yang dipatok itu
terlalu mahal dibandingkan dengan
pengalaman yang didapatkan. Kritik ini
bahkan mencapai titik ekstrem ketika
Steve Kuzo, kritikus dari New York Post
itu menyebutkan cabang dari Nurset
tersebut secara belak-belakan disebut
sebagai penipuan. Selain soal rasa dan
harga, ada satu kritik mendasar lagi
yang terus disampaikan berulang-ulang.
Banyak pengamat yang mencatat bahwa
meskipun Nursed ini ya dipasarkan
sebagai restoran steak dari Turki,
pengaruh kuliner Turki itu hampir enggak
terasa dalam menu yang disajikan.
Identitas yang dijual di dalam branding
itu dinilai tidak sejalan dengan
realitas yang ada di atas meja makan.
Dan dari sinilah, Geng, mulai terlihat
retakan awal dalam citra Salt B ini
ketika viralitas dan pertunjukan tidak
lagi cukup untuk menutupi ekspektasi
kualitas dan juga harga serta identitas
kulinernya. Meskipun restoran pertamanya
di New York dibanjiri ulasan yang kurang
memuaskan, tapi South Bay ini enggak
langsung mundur. Dia enggak berkecil
hati. Nah, ini juajua petarung nih
biasanya ya. Kita enggak bisa meragukan
juga ya. Dia ini kan dari orang susah
bisa jadi sebesar itu. Jadi kritikan
pedas apapun dia hadapi, dia telan.
Sebaliknya justru ya pada awal tahun
2020, tepatnya sebelum dunia dihantam
oleh lockdown akibat pandemi Covid-19,
dia ini tiba-tiba kembali mencoba
peruntungan dengan membuka tempat baru
di kota yang sama. Kali ini Nusred ini
tidak mendirikan stick house melainkan
sebuah restoran burger yang bernama Salt
Bay Burger. Namun ahli-ali memperbaiki
reputasi, langkah ini justru kembali
menuai kritik pedas dari para reviewer
kuliner. Seperti sebelumnya, persoalan
harga menjadi sorotan. Salah satu menu
yang paling banyak dibicarakan itu
adalah milkshake-nya dengan harga yang
hampir 100$00 Amerika Serikat yang mana
angka tersebut dianggap enggak masuk
akal untuk konsep sebuah restoran
burger. Robert Sietema yang sebelumnya
juga mengkritik restoran Saltb ini
kembali mengkritik restoran burger ini.
Dia mengatakan dia sangat kecewa
terhadap kualitas makanannya. Nah, ini
gua enggak tahu nih ya si Robert ini
emang ada dendam pribadi apa emang
makanan di situ enggak enak. Tapi yang
jelas menurut dia burger yang dibuat
dari daging wagi stick dan burger
lainnya itu terasa sama. Nah, maksudnya
terasa sama tuh gini, Geng. Harusnya
Wagiu steak itu kan jauh lebih apa ya? e
jauh lebih premium, mahal harganya. Nah,
tapi kok rasanya sama aja sama yang
lain? Gak ada bedanya. Terus buat apa
orang bayar mahal? Nah, gitulah kurang
lebih. Nah, jadi dia mengatakan harusnya
ada beda yang membuat kenapa nilai
jualnya itu berbeda juga. Nah, terus,
Geng. Enggak cuma dari si Robert tadi,
ada lagi kritik yang mirip datang dari
Ryan Suton. Ryan Suton apa Ryan Satton?
Eh, Ryan Saten kali ya. Pokoknya itulah
ya tulisannya Suton ya. Sultan kan apa
setan intinya gitu deh. Nah, dia ini
adalah kritikus dari Eer. Dia bahkan
menyebutkan bahwa satu-satunya hal yang
enak dari burger tersebut hanyalah
bawangnya. Nih si Abang Ryan ini
kayaknya emang suka bawang aja kayaknya
ya. Masa iya sih? Dari segi begitu
banyak ada rotinya, ada dagingnya, yang
enak bawangnya. Nah, ini adalah sebuah
pernyataan kekecewaan terhadap
keseluruhan hidangan dari Salt Bay
Burger ini. Dan Eer itu bukan
satu-satunya media yang bersuara.
Kritikus-kritikus lain juga ikut
melontarkan penilaian negatif yang
menyebutkan makanan di Salt Bay Burger
ini adalah makanan yang hambar tanpa
karakter rasa. Puncaknya terjadi pada
awal Maret 2020 ketika Scott Lynch ya
menulis kuliner dari Gotamis yaitu
secara terang-terangan dia menyebutkan
SB burger sebagai restoran terburuk di
New York saat itu.
Jadi geng pada tahun 2021 keadaan justru
semakin memburuk buat Sat Bay ya. Dia
udah diserang kiri kanan. Cabang-cabang
restorannya juga diserang kiri kanan.
Setelah melalui penundaan panjang karena
pandemi Covid-19, akhirnya dia balik
lagi buka restoran stick Nurset di
distrik Knight Bridge namanya di daerah
London kawasan elit yang identik dengan
orang-orang kaya yang hidup mewah. Tapi
alih-alih menuai pujian dibukanya
ee restorannya dia ini balik ya disambut
oleh gelombang kritik tajam. Walaupun di
sana merupakan kawasan orang kaya,
mereka tetap melayangkan kritik yang
sama seperti sebelum-sebelumnya, yaitu
harga menu yang dianggap mahal banget.
Jadi kayak orang-orang mikir, "Lu jual
daging apa jual emas, lu jual daging apa
jual
air celup pintu surga." Mahal banget.
Nah, ada seorang netizen yang mengunggah
foto tagihan, ya, foto tagihan makan di
restorannya dia di-upload ke Twitter
atau X yang menunjukkan total
pembayarannya mencapai 1576
pound. Berapa tuh kira-kira 1576 pound?
Mungkin editor gua bisa translatein di
sini nih ke rupiah berapa. Nah, segitu
tuh. Walaupun di meja tersebut memang
ada 8 orang, tapi rincian tagihannya
memicu kemarahan publik. Dua porsi sushi
dihargai 46 pound. Sementara satu stack
Toma Hawk raksasa mencapai 630 pound dan
bahkan dua gelas Coca-Cola ya dipatok 18
pound. Jujur gua penasaran nih 18 pound
itu berapa sih? 18
pound
IDR.
Oi, yang bener aja lu nusret. Gila lu.
Hah, gelas Coca-Cola seberapa besar sih?
Hah?
kayak tangki RX King gedenya R00.000 du
gelas doang. Astagfirullah. Coca-Cola
cok. Sini datang ke tempat gua gua suruh
berenang. Kalau duit segini nih
Rp400.000. Gila loh. Terus enggak
berhenti sampai di situ. Pelanggan lain
kembali memposting tagihan dari restoran
yang sama ya dengan total lebih dari
37.000 pound yang setara dengan.
50.000 000 itu kan masyaallah 600 juta.
Hah gua salah enggak sih?
Astagfirullahalazim. Benar enggak
sih.000
makan apa? Beraknya tabungan apa gimana?
Rp800 juta. Ya Allah R34 juta. Tagihan
apaan itu? Lu makan apa?
Wah gila. Nah, terus unggahan tersebut
langsung viral dan memperkuat anggapan
bahwa Nursed
mahal, tapi melainkan dilebih-lebihkan
dan enggak masuk akal. Nah, jadi itulah
bagaimana awalnya si Nursted ini menjadi
omongan atau cemooohan publik karena ya
itu tadi overrated, terlalu mahal,
terlalu dilebih-lebihkan. Akhirnya ya
itu semua menjadi awal runtuhnya dia.
Tapi geng ternyata ya enggak cuma karena
harga makanan dan minumannya yang mahal
banget, tapi para karyawannya juga
mendapatkan perlakuan yang enggak adil
dari dia. Nah, jadi sekarang kita bakal
masuk ke dalam pembahasan tentang
konflik Salt Bay dengan para
karyawannya. Ya, udah mana restorannya
mahal tapi ternyata karyawannya tidak
sejahtera. Langsung kita masuk ke dalam
pembahasannya.
Jadi, Geng, walaupun restoran yang
terletak di London ini mendapatkan
banyak kritik, di bulan pertama restoran
ini muncul sudah banyak mendapatkan
keuntungan yang enggak main-main. Di
dalam 4 bulan pertama sejak dibukanya
restoran ini, ya, mereka itu sudah
dilaporkan mampu mera pendapatan sekitar
7 juta pound atau setara dengan 8,5 juta
dolar Amerika Serikat. Nah, angkanya
fantastis banget dan memang enggak lepas
dari harga menu yang memang mahal
banget. Hampir semua pelanggan di sana
punya tagihan lebih dari 1000 pound yang
dengan cepat terakumulasi menjadi
pemasukan terbesar bagi restoran. Tapi,
Geng, pendapatan yang tinggi ini
ternyata enggak sejalan dengan reputasi
restorannya. Nah, jadi ya ada sebuah
sorotan publik mengenai para pekerja
yang ada di sana. Di tengah harga menu
yang fantastis, ternyata terungkap bahwa
Koki di cabang Knights Bridge itu cuma
dibayar sekitar 12 sampai 13 per jam.
Selisih upah per jam tersebut hanya 3
hingga 4 pound lebih mahal dari harga
segelas Coca-Cola di restoran itu. Jadi
dengan kata lain ya nih dengan kata lain
nih satu Coca-Cola laku udah bisa
ngebayar kokinya. Selebihnya keuntungan
buat si Salf Bay kan itu enggak adil ya
jahat gitu. Fakta tersebut muncul ya dan
memicu kemarahan warga net dengan banyak
pihak yang menilai kalau upah tersebut
hampir setara dengan gaji di restoran
cepat saji alias fast food atau setara
dengan gaji orang-orang di KFC, di McD.
Nah, terus apa bedanya? Dan ini sesuatu
yang dianggap enggak sebanding dengan
citra kemewahan dan keuntungan yang
dipamerkan oleh Nusred. dan ulasan
negatif tetap mengalir. Dan pada tahun
2022, ada seorang mantan karyawan dari
Nusret London itu mengungkapkan kepada
media bahwa sistem kerja internal
restoran tersebut lebih mirip restoran
cepat saji alias ya kayak McDonald atau
KFC jauh dari citra eksklusif yang
selama ini dipasarkan. Mereka
menyebutkan kalau kentang goreng yang
disajikan ternyata beku dan cuma
disertai saus tomatins. Sesuatu yang
dianggap tidak sepadan dengan harga yang
premium. Lebih jauh lagi mantan
karyawannya tersebut juga menyoroti
harga anggur tertentu yang dipatok
sampai 2.000 pound yang dia sebut itu
enggak bermoral padahal itu kalau dibeli
di luar ya murah-murah aja gitu. Dan
selain tentang bayaran yang rendah pada
tahun 2021 ada dua karyawan dari
restoran steak Salt Bay di New York itu
mengajukan gugatan hukum terhadap
pemilik restoran tersebut dengan tuduhan
diskriminasi. Mereka mengklaim
diperlakukan berbeda karena bukan warga
Turki. Jadi ada rasis-rasisnya nih.
Salah satu penggugat itu adalah seorang
bartender asal Republik Dominika yang
mengungkapkan kalau dia diminta untuk
mengganti seragam kerja dengan pakaian
yang lebih terbuka dan sepatu berhak
tinggi. Dan permintaan tersebut tidak
pernah diberikan kepada karyawan Turki.
Jadi hal-hal yang nyeleneh, nakal-nakal
gitu diperuntukkan untuk karyawan yang
bukan orang Turki. Setelah dia mengikuti
instruksi tersebut, dia mengaku justru
menjadi sasaran pelecehan dari
rekan-rekan pria di tempat kerja karena
terlalu seksi, kan. Dan ketika itu
kemudian dia meminta izin menggunakan
pakaian yang lebih tertutup, lebih sopan
demi kenyamanan dia sendiri dan
keselamatannya dia karena udah mulai
digoda-godain nih. Nah, tapi malah dia
dipecat dari restoran itu. Wah, gila
sih. Enggak habis pikir gua. Terus geng,
gugatan tersebut juga menyebutkan e
beberapa karyawan non Turki sengaja
ditempatkan di meja-meja yang kurang
menguntungkan atau kurang nyaman yang
secara langsung berdampak pada
pendapatan mereka dari tip atau dari apa
ya saweran lah gitu ya. Jadi mereka itu
enggak dapat uang lebih gitu. Mereka
cuma dapat pahitnya doang. Dan enggak
cuma itu, pada tahun yang sama lima
mantan juru masak dari restoran Salut
Bay di New York juga mengajukan gugatan.
Di dalam gugatan tersebut mereka menuduh
Salt Bay ini bersikap agresif dan kasar
terhadap karyawannya. Mereka juga
mengklaim kalau dia kerap menyalahkan
orang yang enggak bersalah atas
kesalahan yang terjadi di dapur yang
menciptakan lingkungan kerja yang penuh
tekanan dan ketakutan. Jadi kayak hobi
marah-marah gitu, Geng. Geng,
kontroversi di jaringan restoran South B
ini juga menyentuh masalah pengelolaan
tip karyawan. Pada tahun 2022, ada
sebanyak 24 pekerja Nursami,
ya. menggugat restoran tersebut karena
biaya layanan 18% yang otomatis
ditambahkan ketagihan pelanggan. Para
pekerja menilai biaya itu seharusnya kan
dibagi ya kan sebagai tip di luar gaji
mereka karena sudah tertuliskan tuh
biaya layanan 18% yang artinya itu
adalah hak para pekerja. Tapi enggak,
justru itu adalah sebuah persenan
akal-akalan untuk bisa mendapatkan
keuntungan lebih. Nah, tapi sayangnya
gugatan dari para karyawannya ini kandas
di pengadilan banding sirkuit ke-11 yang
memutuskan kalau biaya tersebut
merupakan service charge bukan tip
karyawan. Nah, ternyata geng ini bukan
satu-satunya kasus pengelolaan tip
karyawan yang pernah terjadi. Pada tahun
2019 juga pernah menyelesaikan gugatan
tentang tip ini, Geng. Tapi dia membayar
230.000 000 Amerika Serikat kepada empat
mantan pekerja di New York yang menuduh
uang tip mereka diambil dan mereka
dipecat setelah memprotes hal itu. Dan
setahun kemudian pada tahun 2020,
gugatan serupa juga kembali diselesaikan
dengan pembayaran 300.000 Amerika
Serikat setelah seorang mantan pelayan
mengklaim kalau uang tip miliknya dia
diambil dan dibagikan kepada karyawan
lain. Menurut gua ini adalah sebuah
kebodohan atas ego seorang pemilik
usaha. Kenapa gua bilang demikian, Geng?
Karena ya ketika dia berusaha ingin
curang, ngambil hak karyawan,
habis itu dia kena tuntut,
ujung-ujungnya itu uang yang dia ambil
dia kasih juga ke karyawan lagi. Karena
itu namanya ngeribetin diri sendiri.
Padahal kalau dari awal dia kasih aja
itu hak karyawannya, reputasi dia tetap
bagus, toh uangnya juga tetap ke
karyawannya. Ini enggak diambil dulu,
bermasalah dulu, baru dikasih
ujung-ujungnya nama jelek. Nah, ini nih.
Ini namanya adalah ego ya. Ini pelajaran
penting buat kita nih supaya ya hidup
itu win-win solution aja. Orang lain
senang, kita senang. Kita senang, orang
lain senang. Lu olang untung, Oe juga
untung. Oe untung, lu olang untung. Gitu
aja udah. Terus, Geng, enggak cuma dari
masalah restoran hingga karyawan, tapi
dia juga punya masalah yang sama di
dunia sepak bola. Nah, ini yang paling
viral dan membuat dia benar-benar
hancur, berantakan, dan runtuh. Ya, lu
tahu sendiri ya. popularitas di dalam
sepak bola itu berpengaruh banget.
Bahkan lebih berpengaruh daripada
perpolitikan, daripada dunia keartisan
selebriti, Hollywood, Bollywood, dan
apapun. Sepak bola itu kayak tarafnya
tuh di atas di atas apa ya? Di atas di
atas bumi, di bawah langit dikit gitu.
Jadi kalau lu bermasalah dengan eh
selebritas sepak bola seperti Lionel
Messi, seperti Cristiano Ronaldo sama
Persip Bandung dan Viking seperti sibob
ya. Nah, udah lu selesai. Nah, jadi
jangan main-main sama yang namanya sepak
bola. Sekali lu dibenci oleh para
pengagumnya atau pemainnya atau siapapun
unsur-unsur penting di dalamnya, lu
selesai. Ya. Nah, jadi ini cerita salt
ya yang berhubungan dengan dibencinya
dia di dunia sepak bola. Jadi pada final
Piala Dunia tahun 2022 di Qatar kemarin,
Salt Bay itu kembali menuai kontroversi
setelah masuk ke dalam lapangan lapangan
sepak bola tanpa izin. Dia bahkan sampai
pegang-pegang dan mencium trofi Piala
Dunia. Itu kan sakral. Enggak semua
orang bisa dengan mudah mendapatkan itu.
Enggak boleh sembarangan disentuh. Itu
bisa didapatkan dengan keringat dan
darah dari para pemain yang sudah
bertarung bertahun-tahun. Dia dengan
enak ngambil cium-cium. Lu capek. Tukang
daging kan? Tukang daging viral
bisa-bisanya. Dan dia juga berpura-pura
menaburkan garam di atas si trofi Piala
Dunia demi viral. Dan aksi itu jelas
melanggar aturan FIFA. Nah, karena trofi
itu cuma boleh disentuh oleh pemain dan
pejabat resmi. Dan akibat dari insiden
itu, Salt B dilarang untuk menghadiri
final Piala AS terbuka. Dan memasuki
tahun 2023, tekanan terhadap bisnisnya
makin terasa. Sat Burger resmi ditutup
yang hanya 3 tahun setelah restoran
tersebut dibuka. Dan pada tahun yang
sama lokasi Norton juga berhenti
beroperasi dan tidak pernah dibuka
kembali sampai tahun 2025. Investigasi
bisnis insider turut memperburuk citra
Salt Bay dengan laporan dari mantan
karyawannya yang menuding adanya budaya
ketakutan, kepemimpinan yang otoriter,
serta lingkungan kerja yang enggak ramah
bagi karyawan perempuan. Dan tuduhan ini
dibantah oleh kuasa hukumnya Salt Bay
yang menyebutkan kalau itu enggak
mendasar atau sebuah fitnah. Nah, tapi
apa boleh buat gelombang tuduhan udah
mengarah ke dia semua.
Nah, terus geng penutupan dari
restoran-restorannya berlanjut di awal
2025 ini. Ketika Nusret di daerah Dallas
dan juga Las Vegas itu resmi ditutup,
saat ini Nusredai
aja, tiga restoran aja yang lokasinya
aktif di Amerika Serikat, yaitu New
York, Miami, Beverly Hills. Di luar
Amerika Serikat jaringannya ini masih
bertahan dengan delan lokasi di Turki,
beberapa di Timur Tengah dan satu di
Maikonos dan London. meskipun dengan
harga yang sudah diturunkan,
didiskon-diskonin
enggak bertahan ya. Meski dikelilingi
kontroversi, South Bay belum sepenuhnya
tumbang sebenarnya. Dia masih yakin dia
bisa naik lagi. Dia masih beroperasi dan
bahkan bersiap berekspansi ke Amerika
Latin katanya dengan berencana ingin
membuka restoran baru di Mexico City
pada akhir 2025. Nah, tapi ya siapa lagi
yang mau dengerin? Siapa lagi yang tahu
tentang dia? Kayaknya udah enggak ada.
Nah, jadi geng itu dia pembahasan kita
hari ini mengenai keruntuhan Salt Bay.
Mulai dari perjalanan hidupnya dia yang
inspiratif, viralitas yang mengangkat
nama dia ke puncak sampai rangkaian
kontroversi yang perlahan-lahan
menggerus reputasi dan bisnisnya dia.
Mulai dari kritik, kualitas makanan,
harga yang dianggap enggak masuk akal,
konflik dengan karyawan sampai perilaku
publik yang melewati batas. Semua itu
jadi pelajaran penting tentang bagaimana
ketenaran instan tidak selalu sejalan
dengan integritas dan keberlanjutan.
Nah, gimana nih, Geng? Menurut pendapat
kalian soal kasusnya Salt Bay ini?
Apakah dia memang korban ekspektasi
berlebihan atau justru contoh figur yang
terlalu mengandalkan gimik dan citra?
Coba deh tuliskan komentar kalian di
bawah.