MYANMAR BOMB OFFICE SCAM & ONLINE GAMBLING ON THE BORDER WITH THAILAND!
Jg5jrEIxJno • 2025-12-26
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Ada kesaksian dari salah satu korban
yang datang dari Filipina, geng. Dia
terjebak selama 6 bulan di Kek Park.
Awalnya dia berangkat ke Thailand dengan
keyakinan kalau dia bakal mendapatkan
pekerjaan sebagai customer service. Nah,
tapi kenyataannya dia justru
diselundupkan ke Myanmar. Paspornya
diambil dan hidupnya berubah total. masa
depannya hancur.
Geng, hari ini kita bakal membahas
sebuah topik sebagai bentuk informasi
dan edukasi agar kita semua bisa lebih
kritis di dalam melihat fenomena
kejahatan lintas negara yang selama ini
mungkin kita anggap jauh dari kehidupan
kita sehari-hari. Padahal ya dampaknya
itu nyata banget dan korbannya datang
dari berbagai negara termasuk Asia
Tenggara yaitu negara kita. Topik ini
sebenarnya bukan cuma soal satu negara
aja, tapi ini sudah menyangkut jaringan
kejahatan terorganisir yang memanfaatkan
cela hukum, kondisi politik, dan
kerentanan manusia demi keuntungan
segelintir pihak. Di kawasan Asia
Tenggara nih ya kita tahu kalau ada
banyak negara yang berbatasan langsung
dan punya hubungan ekonomi serta sosial
yang erat. Tapi di sisi lain, Geng,
wilayah perbatasan juga sering menjadi
ruang abu-abu yang rawan untuk
disalahgunakan. Ya, namanya juga
perbatasan itu kan ya bagian paling
ujung dari sebuah negara. Biasanya ya
selalu luput dari pengawasan. Salah satu
yang bakal kita bahas adalah perbatasan
Myanmar dan Thailand yang mana di
kawasan ini muncul fenomena yang cukup
mengerikan yaitu maraknya pusat-pusat
penipuan online atau scam online yang
beroperasi secara masif. Bahkan banyak
laporan yang menyebutkan kalau para
pekerjanya itu direkrut secara paksa,
ditipu sampai diperlakukan tidak
manusiawi. Nah, baru baru ini Myanmar
menjadi sorotan karena mereka
menghancurkan ratusan bangunan yang
diduga itu dijadikan pusat operasi
penipuan online di wilayah perbatasan
mereka dengan Thailand. Wah, keren ya
Myanmar ya. Beda banget sama Kamboja ya.
Kalau Kamboja kayaknya dipelihara nih
yang kayak gini-gini. Aksi ini langsung
viral dan menimbulkan banyak pertanyaan.
Apakah ini benar-benar upaya serius
mereka untuk memberantas kejahatan atau
ada kepentingan lain di balik semua ini?
Dan sejauh mana dampaknya terhadap
jaringan scam yang selama ini merasakan
banyak negara? Nah, video ini gua buat
untuk memberikan gambaran kepada kalian
yang lebih utuh dan mengajak kalian
semua untuk berpikir lebih kritis soal
apa yang sebenarnya terjadi di balik
berita ini. Langsung aja kita bahas
secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back
to Kamar Jerry.
Geng, geng, geng. Sebelum kita lanjut ke
pembahasannya, seperti biasa gua bakal
menginformasikan kepada kalian
barang-barang yang sangat berguna untuk
kalian yang pastinya harganya ekonomis
tapi kualitasnya sadis. Bagus banget.
Buat yang mau berpenampilan premium
look, kalian harus banget punya celana
bahan dari Degoziio ini. Ini merupakan
celana bahan slim fit polos panjang yang
membuat penampilan kalian jadi lebih
eksklusif, berwibawa, otomatis kalian
terlihat sangat rapi. Cocok untuk kalian
gunakan harian atau di acara-acara
formal. Nah, itu dia, Geng. Jangan lupa
check out, ya, udah ada linknya di
bawah. Oke, sekarang kita lanjut ke
pembahasannya.
Jadi, geng 5 tahun yang lalu pada tahun
2021 mungkin enggak ada yang menyangka
kalau lahan kosong di pinggir Sungai Moi
ini bakal berubah menjadi sesuatu yang
super mencengangkan. Dulu tempat ini
cuma ladang biasa, tapi sekarang malah
berdiri KK Park. Ya, ini nama yang udah
enggak asing lagi di telinga kita.
Sebuah kompleks raksasa yang dijaga
ketat yang luasnya sampai 210 hektar
persis di perbatasan Myanmar dan
Thailand. Ya, kalau kalian dengar
podcast-podcast para korban yang berasal
dari Indonesia yang bekerja sebagai
scammer di e Kamboja, Myanmar, Thailand,
dan lain-lain, pasti nama Keky Park ini
sangat-sangat familiar. Jadi, lokasinya
itu ada di tengah-tengah pegunungan yang
terjal, enggak jauh dari kota Miawadi
namanya. Dari luar tampilannya itu
kelihatan rapi dan modern banget. Ada
rumah sakit, restoran, ada banknya juga
sampai deretan villa mewah dengan
halaman yang tertata. Nah, sekilas
tempat ini tuh mirip seperti kampus
perusahaan teknologi ala Silicon Valley.
Tapi ya kenyataannya ternyata semuanya
jauh dari kesan modern dan canggih kalau
kalian udah masuk ke dalam. Kek park ini
justru dikenal sebagai jantung industri
penipuan kriminal bernilai miliaran
dolar yang digerakkan oleh praktik
perdagangan manusia dan kekerasan yang
brutal. Dalam beberapa tahun terakhir,
negara-negara seperti Myanmar, Kamboja,
dan juga Laos ya menjadi tempat yang
subur bagi sindikat kejahatan
transnasional yang mengoperasikan
pusat-pusat penipuan online seperti ini.
Para pekerjanya bukan pegawai biasa,
tapi banyak yang direkrut dengan cara
ditipu, dipaksa bekerja, disiksa, dan
dikurung untuk menjalankan skema
penipuan digital yang kompleks demi
keuntungan besar para bosnya. Sebenarnya
udah ada beberapa upaya penindakan dan
penyelamatan korban, tapi geng faktanya
enggak seindah itu. Citra drone dan
riset terbaru yang dibagikan ke media
internasional menunjukkan kalau jumlah
pusat penipuan di sepanjang perbatasan
Thailand Myanmar justru meningkat tajam
sejak militer Myanmar mengambil alih
kekuasaan pada tahun 2021. Dari yang
awalnya cuma 11 lokasi, sekarang
melonjak menjadi 27 lokasi dan luasnya
terus bertambah rata-rata 5,5 hektar
setiap bulannya. Nah, makanya jangan
heran ya, Geng, walaupun udah banyak
korban kejadian kayak gini, tetap ada
aja kasus-kasus terbarunya ya, karena
bisnisnya terus berkembang yang mana
artinya industri ini bukan melemah, tapi
justru berkembang. Dan enggak cuma itu,
otoritas Thailand juga pernah
mengungkapkan bahwa Starling layanan
internet satelit milik Elon Max itu
diduga digunakan oleh kelompok penipu
untuk menjalankan operasinya. Beberapa
terminal bahkan dicegat karena
diselundupkan melintasi perbatasan dan
di dalam kompleks-kompleks ini
fasilitasnya dibuat timpang. Ada hunian
mewah khusus untuk tim manajemen yang
mengontrol para pekerja bahkan dipakai
untuk video call dengan calon korban.
Tujuannya cuma satu, yaitu menciptakan
ilusi kemewahan dan kekayaan supaya
korban percaya dan mau mengikuti
instruksi investasi palsu yang mereka
tawarkan. Beberapa terminal bahkan
dicegat karena diselundupkan melintasi
perbatasan. Di dalam kompleks-kompleks
ini, fasilitasnya dibuat timpang. Ada
hunian mewah khusus untuk tim manajemen
yang mengontrol para pekerja. Bahkan
dipakai untuk video call dengan calon
korban. Ya, tujuannya yaitu menciptakan
ilusi kemewahan dan kekayaan supaya
korbannya itu percaya dan mau untuk
mengikuti instruksi investasi palsu yang
mereka tawarkan. Nah, padahal itu cuma
kayak gimana ya, kayak ilusi studio
doang gitu, Geng. Nah, terus, Geng, awal
tahun ini ada sekitar 7.000 orang yang
berhasil dibebaskan di kompleks penipuan
ini lewat operasi penyelamatan yang
melibatkan banyak pihak. Enggak cuma
satu negara, tapi ada beberapa negara
termasuk Thailand, Tiongkok, dan
negara-negara lain yang warganya dijebak
di sana. Ditambah lagi peran militer
Myanmar serta kelompok-kelompok
bersenjata yang menguasai wilayah
perbatasan. Dari luar, aksi ini terlihat
seperti langkah besar dan kemenangan di
dalam upaya memberantas jaringan scam.
Tapi menurut para ahli, kenyataannya
jauh dari kata selesai. Pembebasan
ribuan orang itu diibaratkan cuma
setetes air di lautan. Soalnya, polisi
Thailand memperkirakan ada 100.000 orang
yang masih ditahan dan dipaksa bekerja
di pusat-pusat penipuan daring di
sepanjang perbatasan Myanmar, Thailand.
Ada cerita kemanusiaan yang sangat
memprihatinkan di sana. Jaringan
masyarakat sipil untuk bantuan korban
perdagangan manusia itu mencatat
setidaknya ada 90 orang yang masih
terjebak di dalam kompleks ini. Dan
mereka berasal dari minimal 11 negara di
Asia dan Afrika. Beberapa korban
dilaporkan mengalami kekerasan ekstrem
sampai kehilangan anggota tubuh dan
mengalami kebutaan atau cacat permanen
akibat perlakuan para bos-bos kriminal
penipuan ini. Ada kesaksian dari salah
satu korban yang datang dari Filipina,
Geng. Dia terjebak selama 6 bulan di Kek
Park. Awalnya dia berangkat ke Thailand
dengan keyakinan kalau dia bakal
mendapatkan pekerjaan sebagai customer
service. Nah, tapi kenyataannya dia
justru diselundupkan ke Myanmar.
Paspornya diambil dan hidupnya berubah
total. Masa depannya hancur. Setiap hari
dia dipaksa mengirimkan pesan ke ratusan
pria lanjut usia di Amerika Serikat
lewat media sosial. Tugasnya membangun
kepercayaan sampai si para korban ini
mau berpindah komunikasi ke WhatsApp.
Jadi misalkan nih mereka tuh nipunya
lewat Facebook. Nah, biasanya kan para
orang tua-orang tua tuh masih main
Facebook ya. Nah, setelah kecantol nanti
bakal diajak pindah ee komunikasinya ke
WhatsApp agar lebih intens. Nah, setelah
itu kontak-kontak tersebut diserahkan ke
tim penipu lain untuk memperdalam
jebakan dan melanjutkan aksi penipuan
ini. To first look at
meeters.
Mereka ini diberikan target harian untuk
mendapatkan korban. Dan kalau target
hariannya itu enggak tercapai,
hukumannya kejam, Geng. Mereka bisa-bisa
disetrum pakai alat kejut listrik atau
dipaksa berdiri lama di bawah terik
matahari sambil mendapatkan hukuman
fisik. Nah, pasti kalian akan berpikir
ya kayak kenapa enggak kabur aja gitu.
Nah, kabur itu hampir mustahil. Menurut
pengakuan si korban ini, kompleks itu
dijaga ketat oleh penjaga bersenjata di
mana-mana. Lebih parah lagi, situasi ini
gak bisa dilepaskan dari kondisi politik
di Myanmar. Yang mana junta militer
Myanmar dituding membiarkan pusat-pusat
penipuan ini tumbuh subur. Karena bisnis
ilegal ini sudah menjadi bagian dari
ekonomi konflik sejak kudeta. Jadi,
ibaratnya tuh para militer-militer ini
atau tentara-tentara Myanmar ini
mendapatkan keuntungan juga dapat jatah
dari para perusahaan scam ini. Dan uang
dari kejahatan ini bakal membantu
menopang kekuasaan mereka di
tengah-tengah perang dan instabilitas.
Jadi ya setoran-sotoran dari para penipu
ini atau para perusahaan scam ini yang
biasanya kebanyakan dari Cina, nah itu
akan mereka gunakan untuk beli senjata,
beli amunisi, atau beli
peralatan-peralatan dan perlengkapan
untuk bertahan selama perang. Dan
analisis dari lembaga riset pertahanan
ASPI itu menyebutkan militer Myanmar itu
enggak bisa sembarangan menindak
kompleks camp. Karena banyak di antara
mereka itu dilindungi atau dikuasai oleh
milisi bersenjata yang lain yang punya
hubungan rapuh tapi penting bagi junta
militer. Di sisi lain, militer Myanmar
juga pernah berdil bahwa penanganan
masalah ini harus menjadi tanggung jawab
bersama alias melibatkan ee
negara-negara asal si korben atau
negara-negara transitnya. Jadi mereka
itu kayak cuci tangan gitu loh, Geng.
Kayak misalkan ngomongnya tuh ya kalau
memang mau berantas sini ayo yang korban
dari Indonesia tentara Indonesia juga
ikut, korban dari Rusia tentara Rusia
juga ikut dan lain-lain. Nah, tapi di
tingkat global masalah ini ternyata
sering diremehkan geng. Amyer, direktur
Asia Tenggara dari organisasi X of Mercy
International itu menyebutkan banyak
pemerintah masih melihat pusat-pusat
penipuan ini seolah hanya kasus kecil
perdagangan manusia. Padahal dampaknya
jauh lebih besar dan sistematis. Dari
Indonesia sendiri aja ya, Geng. Ternyata
kita juga punya cerita yang enggak kalah
serius di dalam kasus ini ya. Ini
pemerintah Indonesia berhasil
memulangkan 554 warga negara Indonesia
yang selama ini terjebak di daerah
Miawadi, Myanmar.
Adapun ratusan WNI yang tiba di tanah
air disambut sejumlah perwakilan
pemerintah. Mereka akan lebih dahulu
ditampung di asrama Haji Pondok Gede
Jakarta Timur selama 3 hari.
Mereka bukan pekerja biasa, tapi pekerja
migran ilegal yang menjadi korban tindak
pidana perdagangan orang dan dipaksa
terlibat di dalam operasi penipuan
daring. Kepulangan mereka ini dilakukan
dalam dua tahap. Tahap pertama ada 400
orang yang dipulangkan pada Selasa
tanggal 18 Maret tahun 2025. Lalu
disusul tahap kedua sebanyak 154 orang
pada hari Rabu. Lalu pada tanggal 19
Maret 2025 kalau dilihat dari datanya
geng ya, mayoritas korban adalah
laki-laki sebanyak 449 orang. Sementara
perempuan ada 105 orang. Dan yang bikin
miris korban terbanyak ternyata berasal
dari Sumatera Utara. Jadi banyak orang
Medan, geng di sana. Mereka semua
dipulangkan lewat bandara Don Mueang,
Bangkok, Thailand sebelum akhirnya tiba
di Indonesia. Nah, itu kan buat yang
selamat ya. Tapi kalau yang enggak
selamat ya wallahualam ada yang
meninggal di sana. Kalau kita lihat dari
sisi Thailand sendiri yang merupakan
tempat bersarangnya scam online ya,
pemerintah juga tidak tinggal diam.
Letnan Jenderal Waratep Buya itu
komandan area angkatan darat ketika
Thailand. Dia menjelaskan kalau
negaranya terus menjalankan kebijakan
yang disebut dengan tiga pemutusan.
Kebijakan ini berarti memutus pasukan
listrik, memutus akses internet, dan
memutus bahan bakar ke wilayah-wilayah
yang mereka curigai menjadi basis
operasi penipuan online di sepanjang
perbatasan Thailand dan juga Myanmar.
Malah nih, Geng. Langkah ini sudah
diberlakukan sejak Februari dan
ditujukan untuk menekan ruang gerak dari
sindikat penipuan agar mereka kesulitan
beroperasi.
Jadi itu pembahasan kita tentang
kronologi bagaimana awalnya tempat itu
diketahui ya merupakan tempat scam
online terbesar. Sekarang kita bakal
masuk ke dalam pembahasan bagaimana
proses penangkapan yang dilakukan oleh
para militer di sana. Langsung aja kita
masuk ke dalam pembahasannya.
Jadi, Geng, pada tanggal 20 Oktober
kemarin, militer Myanmar akhirnya
melakukan penggerebekan besar-besaran
terhadap operasi penipuan daring atau
penipuan online ini di dekat perbatasan
dengan Thailand. Dari operasi ini ada
lebih dari 2.000 orang ditahan dan
puluhan perangkat internet satelit
Starling itu disita. Dan berdasarkan
laporan media pemerintah Myanmar dan
juga menurut surat kabar Myanmar,
penggerebekan ini menyasar ke Keke Park,
yaitu sebuah kompleks yang sudah lama
dikenal sebagai pusat kejahatan cyber.
Operasi ini merupakan bagian dari
langkah yang dimulai sejak awal
September dengan tujuan menekan praktik
penipuan online, perjudian ilegal, dan
kejahatan cyber lintas negara yang
selama ini beroperasi di kawasan
perbatasan. Militer juga merilis
foto-foto penggerebekan yang
memperlihatkan tentara dan peralatan
Starling yang disita. Meski begitu ya,
tidak dijelaskan secara pasti kapan
foto-foto tersebut diambil. Di dalam
laporan itu disebutkan kalau militer
menemukan lebih dari 260 bangunan yang
tidak terdaftar di dalam kompleks serta
menyita berbagai peralatan termasuk 30
set terminal Starling. Total ada 2.198
orang yang ditahan meski identitas dan
kewarganegaraan mereka tidak dirinci
gitu ya. Masih dari laporan yang sama
nih, Geng. Juru bicara pemerintah
militer yaitu Mayor Jenderal Zo Mintun
itu menuding kalau pimpinan tertinggi
Persatuan Nasional Karen, sebuah
kelompok etnis bersenjata yang menentang
junta militer Myanmar itu terlibat di
dalam proyek penipuan di Kek Park ini.
Dan tuduhan ini merujuk pada klaim bahwa
sebuah perusahaan yang didukung oleh
kelompok Karen pernah menyewakan lahan
tersebut. Namun pihak persatuan nasional
Karen dengan tegas membantah semua
tuduhan itu dan menyatakan mereka enggak
terlibat sama sekali di dalam aktivitas
penipuan. apapun. Nah, terminal Starling
sebenarnya itu enggak punya izin resmi
beroperasi di Myanmar, tapi ada ratusan
perangkat dilaporkan diselundupkan ke
negara tersebut dan dimanfaatkan oleh
jaringan kejahatan. Karena seperti yang
kita tahu ya, Geng, Starling ini kan
enggak pakai kabel, cukup pakai ee
sinyal satelit doang. Jadi, mau di mana
pun juga pasti bakal mendapatkan sinyal,
gitu ya. Saat dimintai komentar, pihak
perusahaan belum memberikan pernyataan
resmi. Namun dalam kebijakannya,
Starling secara tegas melarang
penggunaan layanannya untuk aktivitas
ilegal, termasuk penipuan dan kejahatan
daring. Terus, Geng, dampak dari operasi
militer di KK Park ini langsung terasa
sampai ke negara tetangga yang mana
hampir 700 warga negara asing itu
dilaporkan melarikan diri dari Myanmar
dan menyeberang ke Thailand setelah
militer menggempur habis-habisan
kompleks kejahatan cyber tersebut.
Kalian bisa lihat lah ya dari videonya
udah kayak perang gitu.
Otoritas Thailand kemudian menahan 677
orang yang masuk ke wilayah mereka
melalui Provinsi T. Dari jumlah itu ada
sekitar 618 orang yang merupakan pria
dan 59 lainnya perempuan. Mereka diduga
merupakan pekerja atau korban justru
yang sebelumnya berada di dalam kompleks
KK Park yang berhasil melarikan diri.
Nah, jadi geng militer Myanmar itu
mengklaim saat ini mereka sudah
menguasai penuh KK Park dan sedang
melakukan pemeriksaan menyeluruh di area
tersebut. Di dalam proses itu, sejumlah
besar orang itu diusir keluar dan
diarahkan menyeberang ke arah Thailand.
Dan saat ini para warga asing itu sedang
menjalani proses hukum dan pemeriksaan
lebih lanjut oleh otoritas Thailand.
Karena kan masuk ke negara orang enggak
bisa sembarangan nyebrang perbatasan itu
udah pasti yang melanggar hukum gitu ya.
Dan pihak militer Thailand juga
menyatakan sudah menyiapkan fasilitas
penahanan tambahan kalau-kalau tempat
yang tersedia itu enggak cukup untuk
menampung seluruh orang yang melarikan
diri akibat operasi besar-besaran ini.
Jadi, Geng, ada operasi terbaru yang
dilakukan oleh militer Myanmar. skalanya
juga engak main-main. Jadi kalau
sebelumnya di Kek Park sekarang justru
mereka melakukan operasi di kawasan
Suoko. Nah, ini kita udah sempat bahas
nih tentang Suoko ini. Kalian bisa cek
eh video yang ini nih. Pusat dari
kejahatan online dan perdagangan manusia
yang berada di pusat kota yang bernama
Kota Suoko. Yang sebenarnya perkembangan
kota Suoko ini termasuk baru banget tapi
bisa menjadi sarang bagi sindikat
kejahatan di Myanmar.
Operasi yang dimulai pada 18 November
2025 ini dilaporkan berhasil menangkap
warga negara asing hanya dalam waktu 6
hari. Dan informasi ini dimuat oleh
surat kabar pemerintah Myanmar yaitu
Elin dan media resmi lainnya pada Senin
tanggal 24 November 2025. Dan enggak
cuma itu, Geng. Di dalam laporan yang
sama disebutkan kalau sejak akhir
Januari 2025 totalnya ada 12.586
86 warga asing yang sudah ditahan dalam
berbagai operasi penindakan pusat
penipuan daring. Dari jumlah tersebut,
9.978 orang itu sudah dideportasi alias
dikembalikan ke negara asal mereka
melalui negara Thailand. Banyak dari
mereka ini yang berasal dari
negara-negara Afrika dan wilayah-wilayah
lain dan dilaporkan mereka ini ternyata
ditipu dengan janji pekerjaan legal,
gaji besar, pokoknya masa depan yang
cerah. Tahu-tahu pas nyampai-nyampai
malah disuruh jadi penipu dan mereka
dikurung tidak pernah bisa keluar dari
kompleks tersebut. Dari sisi barang
bukti ya skalanya juga luar biasa, Geng.
Pemerintah militer mengklaim mereka
sudah menyita 2.893
komputer, ada 21.750 1750 handphone, 101
perangkat internet satelit Starlink dan
21 router, serta berbagai peralatan lain
yang digunakan untuk menjalankan aksi
penipuan online ini dan juga aksi
perjudian ilegal di Suoko. Nah, meskipun
begitu, Geng, operasi penindakan ini
memang sudah berlangsung sejak awal
September dan para pengkritik menilai
kalau dalang utama dari jaringan
penipuan ini masih tetap bebas dan
operasi di lokasi lain masih berjalan.
Jadi kayak ngegerebek satu lubang,
mereka masih punya lubang yang lain
untuk beroperasi. Dan perlu diketahui
ya, Geng, wilayah Miawadi ini memang
dikenal sebagai daerah yang dipengaruhi
kuat oleh milisi etnis minoritas. Dan di
sana ternyata juga aktif kelompok etnis
Karen yang diduga juga ada kaitannya
dengan penggerebekan di KK Park
sebelumnya, termasuk pasukan penjaga
perbatasan atau BGF yang didukung oleh
militer serta persatuan nasional Karen
atau KNU. Nah, BGF mengklaim ikut
terlibat di dalam upaya penindakan ini.
Tapi di sisi lain, mereka juga secara
luas diyakini pernah memberikan
perlindungan kepada pelaku penipuan di
masa lalu. Jadi, dengan kata lain, BGF
ini dulu pernah ngebantu para
penipu-penipu ini, tapi justru sekarang
mereka yang ikut untuk memberantas semua
perusahaan penipuan tersebut. Nah,
sementara itu, pemerintah militer
menuduh kalau KNU terlibat di dalam
pusat-pusat penipuan berdasarkan dugaan
transaksi properti. Tapi geng, baik BGF
dan KNU ini sama-sama membantah kalau
mereka benar-benar enggak terlibat sama
sekali. Mereka enggak pernah m-backingi
ee operasi penipuan online tersebut.
Nah, lalu geng ternyata ada sekitar 48
orang WNI yang diduga menjadi tersangka
di dalam kasus ini. Selain itu, pada
tanggal 20 November kemarin, salah satu
warga negara Indonesia yang ditangkap
mengungkapkan kalau masih ada sekitar
200 orang WNI lagi yang terjaring di
dalam penggerbekan dan meminta bantuan
untuk dipulangkan ke Indonesia. Dan KBRI
Yangon saat ini masih terus bergerak
aktif untuk menindaklanjuti situasi ini
dan mereka sedang berupaya melakukan
konfirmasi langsung ke otoritas Myanmar
supaya posisi dan kondisi para WNI bisa
dipastikan secara jelas. Mulai dari
meminta akses ke konsuleran, terus
melakukan verifikasi langsung di
lapangan sampai mengecek informasi lewat
jejaring warga negara Indonesia yang ada
di Miawadi dan pihak-pihak lokal yang
selama ini bekerja sama dengan KBRI.
Nah, semua ini dilakukan untuk satu
tujuan, yaitu memastikan identitas warga
negara Indonesia yang ditangkap dan
menjamin keselamatan mereka semua. KBRI
Yangangon juga menegaskan komitmen
mereka untuk memberikan perlindungan
penuh bagi seluruh WNI yang terdampak.
Bentuk perlindungannya mencakup
fasilitas pemulangan mereka ke
Indonesia, pendampingan melalui akses
kek konsuleran, serta koordinasi
intensif dengan otoritas terkait baik di
Myanmar maupun di Indonesia, Geng. Dan
sebenarnya ya penindakan terhadap
pusat-pusat penipuan cyber di Myanmar
bukan baru kali ini aja dilakukan. Upaya
yang sama itu pernah digelar di awal
tahun ini, bahkan sebelumnya juga sudah
terjadi pada tahun 2023. Yang artinya
kasus ini tuh udah lama jadi perhatian,
tapi sampai sekarang itu belum
benar-benar tuntas. Tekanan kuat dari
Cina kemudian jadi pemicu langkah
lanjutan ya. Dan pada bulan Februari,
Thailand dan Myanmar akhirnya
melancarkan operasi bersama yang
berhasil membebaskan ribuan korban
perdagangan manusia dari berbagai
kompleks penipuan. Dan operasi ini
dilakukan dengan melibatkan dan bekerja
sama dengan kelompok-kelompok bersenjata
etnis yang selama ini menguasai wilayah
perbatasan Myanmar yang mana menunjukkan
betapa rumitnya dan berlapis-lapisnya
persoalan penipuan online di kawasan
tersebut. Karena yang melindunginya itu
enggak main-main, Geng.
Nah, Geng, itu dia pembahasan tentang
proses penggerebekan yang dilakukan oleh
militer Myanmar dan juga Thailand dalam
memberantas perusahaan-perusahaan scam
online. Nah, sekarang kita bakal masuk
ke dalam pembahasan tentang langkah dari
pemerintah untuk menumpa scam online
ini. Langsung aja.
Terus, Geng. Pemerintah Myanmar saat ini
itu sedang melakukan operasi
besar-besaran lewat gugus tugas gabungan
yang melibatkan aparat keamanan dan
badan administratif serta otoritas
lokal. Targetnya udah jelas, yaitu
membersihkan bangunan-bangunan ilegal di
kawasan Suekoko dan Keke Park. Dua
wilayah yang dikenal sebagai pusat
operasi penipuan online dan perjudian
online paling masif di perbatasan.
Operasi ini bukan cuma penggerebekan,
tapi juga pembongkaran bangunan secara
sistematis dan penghancuran barang
sitaan yang selama ini dipakai untuk
kejahatan online. Nah, sebagai bagian
dari operasi tersebut akhirnya kembali
dilakukan pembongkaran di seksi tiga
wilayah Miawadi dan Mautalai, yaitu eh
di dalam lingkup Keke Park. Bangunan
yang dirubuhkan terdiri dari lima gedung
tiga lantai dan dua gedung dua lantai
dan tiga gedung satu lantai. Totalnya
ada 10 bangunan lah. Bangunannya ilegal
ya. Itu semua dihancurkan. Dengan
begitu, jumlah bangunan ilegal yang
sudah dibongkar di Kek Park itu mencapai
bangunan dari total 635 bangunan. Selain
penindakan di wilayah Keke Park, wilayah
Swekoko juga terus berjalan. Sejak 18
November, aparat melakukan inspeksi
besar-besaran ke puluhan gedung yang
diduga berkaitan dengan aktivitas
penipuan online dan perjudian daring.
Dalam operasi terbaru, totalnya ada 59
bangunan digeledah dalam 1 hari.
Rinciannya ada bangunan satu lantai yang
difungsikan sebagai tempat tinggal,
gudang, toko, hotel, dan KTV. Lalu ada
11 bangunan 2 lantai, 42 bangunan 3
lantai, dan dua bangunan 9 lantai, dan
bahkan satu gedung setinggi 17 lantai.
Meskipun tidak ditemukan pelaku penipuan
atau perjudian daring di lokasi itu,
aparat tetap menyita 120 handphone serta
212 unit komputer beserta aksesorisnya.
Dan infeksi ini menyasar gedung-gedung
yang sebelumnya digunakan sebagai pusat
operasi penipuan tersebut. Sampai saat
gua syuting konten ini ya, Geng, udah
ada 119 bangunan ilegal loh, Geng, yang
berhasil diidentifikasi. Nah, sebagai
langkah pencegahan supaya enggak
digunakan kembali, aparat di sana mulai
melakukan penyegelan dan penyitaan. dan
21 bangunan itu sudah resmi disegel.
Enggak berhenti di situ. Sejak 8
Desember, tim gabungan juga udah
melakukan operasi penyisiran dan
pembersihan untuk mencegah warga negara
asing ilegal yang tinggal di
gedung-gedung di sekitar Miawadi, negara
bagian kain. Sekaligus memastikan
aktivitas penipuan dan perjudian daring
itu benar-benar udah bisa dibersihkan.
Kemarin aja itu udah dilakukan inspeksi
terhadap lima bangunan ilegal lain mulai
dari gedung empat lantai sampai satu
lantai. Dan selain pembongkaran,
barang-barang bukti juga dimusnahkan
secara langsung. Di kawasan Keke Park
dan Swoko, peralatan yang dipakai untuk
penipuan dan perjudian online itu
dibakar supaya enggak bisa digunakan
lagi. Di dalam konferensi pers yang
digelar pada hari Minggu di Yangon,
Wakil Menteri Dalam Negeri Myanmar,
Maijen Aung Kiao Kiao itu membeberkan
data terbaru soal penindakan ini, Geng.
Sejak operasi dimulai pada bulan
Januari, aparat di Myanmar sudah menahan
13.272
warga negara asing yang berasal dari 47
negara yang berbeda. Dan sebagian besar
dari mereka memang udah dideportasi ke
negara asal masing-masing, tapi sampai
sekarang masih ada 165 orang yang tetap
ditahan dan menjalani proses lebih
lanjut. Dan angka ini menunjukkan betapa
masifnya dan seberapa besarnya ya bahkan
sampai lintas negara jaringan penipuan
daring yang selama ini beroperasi di
Myanmar. Dan pemerintah Myanmar
menegaskan kalau pemberantasan penipuan
dan perjudian daring saat ini dijadikan
sebagai tugas nasional.
Ternyata, Geng, dari ribuan orang yang
masih menunggu proses deportasi, jumlah
terbanyak berasal dari Tiongkok dari
China sana yaitu lebih dari 500 orang.
Sementara sisanya datang dari berbagai
negara lain dengan jumlah yang cukup
besar. Ada ratusan warga negara
Indonesia lalu disusul oleh korban dari
Etiopia, Vietnam, Kenya, dan India yang
masing-masing berada di kisaran 100
sampai 300 orang per negara. Uh, gila
ya, banyak banget. Data ini kembali
menunjukkan kalau kasus penipuan online
di Myanmar bukan masalah dari satu
negara aja, tapi udah jadi masalah
kejahatan lintas negara yang menyeret
korban dari berbagai belahan dunia. Nah,
militer Myanmar berjanji untuk
memberantas aktivitas penipuan dari
akarnya dan mereka mengklaim bakal terus
bergerak bukan cuma dengan kekuatan di
dalam negeri, tapi juga lewat kerja sama
dengan negara-negara tetangga agar
praktik kejahatan seperti ini
benar-benar tidak punya ruang hidup lagi
di Myanmar. Nah, jadi itu dia, Geng,
pembahasan kita kali ini mengenai aksi
Myanmar yang melakukan penghancuran
pusat-pusat scam online di perbatasan
mereka dengan Thailand. Mulai dari awal
berdirinya kompleks CAM, proses
penggerebekan, dan penangkapan ribuan
orang lintas negara sampai langkah
pemerintah untuk menghancurkan ratusan
bangunan yang selama ini menjadi sarang
penipuan online. Gimana, Geng, menurut
pendapat kalian tentang kasus ini, ya?
Apakah ini bakal segera berakhir, ya
atau justru malah semakin mengakar? Coba
deh, tinggalkan komentar kalian di
bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:17:05 UTC
Categories
Manage