TANGERANG SELATAN JADI KOTA SAMPAH ! BAU BANGKAI HANYA DITUTUP TERPAL
fART-YmKAOo • 2025-12-27
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Kalau kita tarik ke belakang, tanda-tanda kalau daya tampung TPA ini mulai bermasalah itu sudah terlihat sejak tahun 2020. Ketika itu, tepatnya 22 Mei 2020, turap penahan di TPA Cipecang sempat jebol yang akibatnya tumpukan sampah sampai tumpah ke Sungai Cisadani yang jaraknya ya sekitar ee 50 m dari lokasi pengelolaan sampah. Kejadian ini menjadi sinyal kuat kalau TPA Cipecang sebenarnya sudah kewalahan ya menampung sampah harian warga Tangsel yang jumlahnya mencapai ratusan ton per hari. Geng, sebelumnya di sini gua mau minta kalian semua ya, baik yang berasal dari Jakarta maupun dari luar Jakarta untuk mendengarkan pemberitaan ini secara lengkap. Oke. Nah, mungkin di antara kalian masih ada yang belum familiar dengan nama daerah Tangerang Selatan karena ya kemungkinan banyak yang tahunya itu Tangerang gitu ya. Nah, sementara Tangerang Selatan itu agak abu-abu. Ini apakah bagian dari Jakarta atau bagian dari Tangerang atau bagian dari Banten? Nah, jawabannya adalah bagian dari Banten dan berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan. Nah, jadi geng Tangerang Selatan alias Tangsel ini sebenarnya cukup unik ya. Kenapa gua bilang unik? Karena tangsel ini itu beberapa daerahnya sangat bisa bersaing dengan Jakarta Selatan yang terkenal dengan wilayah mentereng mewah, tempat parti-parti, tempat gaul. Nah, kenapa Tangerang Selatan bisa bersaing dengan Jakarta Selatan? Ya, karena daerah Tangerang Selatan itu beberapa kotanya itu indah banget. Kalau kalian ke Jakarta, e gua yakin banget kalian bakal sangat betah berada di daerah Tangerang Selatan ya. Terutama di daerah BSD dan di daerah Bintaro karena memang sebersih itu kotanya. Nah, itu kalian udah lihat sendiri ya dari videonya udah kayak di Singapura gitu, rapi, bersih, jauh bed sama Jakarta yang ya mohon maaf nih ya udah mulai padat, macet, sumpek ya. Walaupun gedung-gedung tingginya banyak, tapi gua yakin kalian akan sangat betah berada di sebuah kota yang masih asri seperti BSD dan Bintaro yang merupakan bagian dari Tangerang Selatan. Kebetulan studio Kamar Jeri juga berada di Tangerang Selatan ya. Tapi kita bukan di Bintaro, bukan di BSD-nya. Kita di pamulangnya, daerah yang super duper macet ya kan. Tapi enggak apa-apa. I love Pamulang. Kita semua cinta Pamulang. Nah, tapi ada sebuah fenomena yang benar-benar membuat Tangerang Selatan sekarang menjadi cemoohan banyak orang. Jadi malu ya. Mungkin buat teman-teman di luar Jakarta enggak tahu ya tentang pemberitaan ini. Tapi jujur aja, Geng, ini benar-benar membuat Tangerang Selatan menjadi seperti perindapan. Ya, maaf nih, bukannya maksudnya gua mau menstereotipkan hal-hal kotor, jorok, buruk gitu dengan daerah perindapan sana. Tapi kan kita tahu sendiri ya di media sosial beberapa video yang berasal dari Prindavan ya ee daerah India sana itu banyak yang diblow up soal kumuhnya dan hal tersebut sekarang sedang dialami oleh Tangerang Selatan. Kalian enggak percaya? Lihat video ini. Kalian udah lihat sendiri ya, Geng, bagaimana kondisi yang awalnya gua kasih lihat ya, Tangerang Selatan yang indah banget, asri, kotanya modern, tapi tiba-tiba ada bagian yang mirip kayak daerah kumuh Prindavan. Dan ini benar-benar terjadi dan ini benar-benar konyol. Seumur hidup gua baru kali ini gua melihat halonyol ini. Tumpukan sampah yang sudah menggunung bukannya diangkut tapi malah ditutup pakai terpal. Ini adalah sebuah fenomena yang sedang menjadi momok bagi Tangerang Selatan yang diakibatkan oleh korupsi. Tumpukan sampah dalam sepekan terakhir mengganggu pemandangan di beberapa titik di Tangerang Selatan. Penubukan yang didominasi sampah pasar dan rumah tangga diduga dipicu penghentian sementara operasi angkutan ke tempat pembuangan akhir Cipecang. Nah, pembahasan ini tujuannya adalah untuk informasi dan edukasi untuk kita semua sebagai warga yang tinggal di kota terkhususnya Tangerang Selatan supaya lebih peka dan kritis terhadap kondisi lingkungan. Karena sering sekali ya masalah yang dianggap spele justru akhirnya berdampak kayak gini. Dan ini enggak cuma soal sampah yang bau, tapi juga berkaitan dengan kesehatan, kenyamanan, bahkan kualitas hidup. Dan kalian bisa lihat di video tersebut ya, kejadian ini tidak hanya terjadi di satu dua tempat tapi hampir di banyak sudut kota Tangerang Selatan. Mulai dari pinggir jalan, pasar sampai pemukiman warga. Tumpukan sampah. Lihat nih, tumpukan sampah banyak banget nih, belum diangkat-angkat. Dan sampah yang menumpuk bukan hanya membuat pemandangan jadi enggak enak, tapi juga wah gila, Geng. Sumpah dah, gua gak tahu bau neraka tuh kayak apa. Tapi mungkin ini udah mirip kali ya. Ya, sampah basah yang udah membusuk jadi bau bangkai cuma ditutup pakai terpal terus disemprot-semprotin. Masyarakat banyak yang protes. [musik] Bukan berarti masyarakat diam-diam aja. Karena masyarakat di Tangerang Selatan ini sudah merasa ya mereka membayar retribusi dan berharap sampah rumah tangga tersebut itu dikelola dengan baik. Tapi di sisi lain ternyata pemerintah menyebut ada kendala teknis mulai dari keterbatasan TPA, armada pengangkutnya sampai sistem pengelolaan yang belum optimal. Nah, tapi itu alasan aja dari pemerintah kita dan ternyata ya di balik itu semua ya ada sebuah kasus korupsi yang berhubungan dengan fenomena ini. Nah, seperti apa kasusnya? Kita bahas nih secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [musik] Genggeng. Oke, kita jeda sejenak nih, Geng. Seperti biasa, gua mau ingatin ke kalian. Kalau kalian mau belanja barang-barang yang bagus kualitasnya, tapi dengan harga terjangkau, nah ini saatnya. Buat kalian yang mau check out atau belanja melalui YouTube ya, udah pasti harganya murah dan kualitasnya bagus, kalian bisa langsung klik link yang sudah ada di bawah video ini tuh langsung klik aja. Nah, ini merupakan slingbag sandal bernuansa monochrom untuk urban confi look. Warnanya hitam terbuat dari kulit di atasnya dan juga kulit di ins-nya serta rubber di outs-nya. Sendal ini keren banget. Harganya juga afroadable. Enggak mahal tapi berkualitas dan mewah. Mereknya adalah Obermain diperuntukkan untuk pria dengan model Eugin Jovin Black. Buat kalian yang mau beli sandal ini, langsung aja klik link yang ada di bawah. Oke, untuk pembahasan yang pertama kita langsung aja masuk ke dalam intinya nih. Enggak usah bertele-tele ya kan penyebab banyaknya sampah, menumpuknya sampah di Tangerang Selatan yang enggak bisa dikelola dan enggak bisa diangkut. Jadi, geng belakangan ini ya, warga Tangerang Selatan itu dihadapkan dengan pemandangan yang membuat kita terheran-heran. Apakah kita sedang berada di Indonesia atau justru sedang berada di daerah kumuh di India sana. Jadi tumpukan sampah terlihat menggunung di sepanjang jalan Dewi Sartika sampai dengan Kolong Flyover Ciputat. Kondisi ini bukan cuma terjadi sehari du hari, tapi sudah berlangsung hampir 1 minggu lamanya. Gua enggak tahu deh sekarang masih ada apa enggak. Terakhir sih tadi sore ya kalau enggak salah ya itu di beberapa titik tuh masih ada. Apakah masih sebanyak kemarin? Gua enggak tahu. Sampah ini sudah tidak diambil seperti tadi saya bilang 6 hari yang lalu. Terus geng sampahnya pun didominasi oleh sampah pasar. sampah rumah tangga yang menumpuk di beberapa titik berbeda. Kalian bisa bayangkan sampah rumah tangga dan sampah pasar itu basah dan membusuk. Ya, dengan kondisi paling parah itu berada di bawah flyover Ciputat. Bahkan sampahnya sampai meluber ke badan jalan yang mengeluarkan bau yang luar biasa menyengatnya. Apalagi kalau lagi hujan turun itu waduh cairannya itu meleleh. Dan gak cuma di area Ciputat aja, kondisi kayak gini juga terjadi di pasar Jombang dan Pasar Serpong. Jadi intinya di daerah Tangerang Selatan. Di kawasan yang aktivitas warganya padat ini, sampah yang enggak terangkut jelas membuat masalah. Mulai dari ya lalernya banyak, kenyamanan sudah terganggu sampai ya estetika lingkungan itu terganggu. Tapi yang paling parah kan kesehatan masyarakatnya udah pasti terganggu. Menanggapi kondisi ini, Walikota Tangerang Selatan yaitu Pak Benyamin Dafne mengakui kalau penumpukan sampah ini terjadi karena tempat pembuangan sampah atau TPS itu sedang dalam proses rehabilitasi katanya, khususnya di area Landfield 3. Nah, beliau menyebutkan kalau pengerjaan diperkirakan baru akan selesai sampai akhir Desember 2025. Tapi, Geng, penjelasan ini justru memunculkan tanda tanya. Soalnya rehabilitasi TPS ini kan bukan sesuatu yang seharusnya tiba-tiba. Harusnya udah sejak awal sudah dicanangkan, sudah dimapping, sudah direncanakan dengan matang, dan pastinya ada skema antisipasi atau mitigasi supaya pengangkutan sampah tetap berjalan normal. Bukannya malah nyangkut di pinggir jalan lalu ditutup pakai terpal kayak gini. Ini ide-ide apa ya? Kayak orang bego gitu. Kayak lagi ngibulin bocah. Tahu enggak loh. Dan ini benar-benar mengganggu masyarakat. Jelas saja masyarakat itu protes. Banyak dari mereka menilai pemerintah daerah kurang siap menghadapi dampak dari yang namanya rehabilitasi tersebut. Warga mempertanyakan kenapa enggak disiapkan TPS sementara atau pengalihan lokasi pembuangan selama proyek berlangsung. Nah, di saat itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tangerang Selatan yaitu Pak Bani Qosyatullah menjelaskan kalau penumpukan sampah ini memang merupakan dampak langsung dari penataan infrastruktur di TPA Cipecang. katanya. Dia menyebutkan sebelum dilakukannya penataan, tinggi tumpukan sampah di TPA itu bisa mencapai 7 m. Nah, sekarang setelah dilakukan sistem terraing, ketinggiannya berhasil diturunkan menjadi sekitar 3 sampai 4 m, katanya. Penataan ini dilakukan untuk mencegah pencemaran bau menyengat dan hingga resiko longsor yang bisa membahayakan masyarakat. Namun konsekuensinya selama proses penataan berlangsung, mobil pengangkut sampah sementara waktu tidak bisa masuk ke area TPA. Alhasil, sampah pun menumpuk di TPS-TPS sementara dan di pinggir jalan. Inilah yang akhirnya membuat krisis sampah di Tangsel semakin terasa dan menjadi sorotan banyak pihak. Jadi, geng, sebenarnya masalah TPA di Cipecang ini bukan berita baru. Kalau kita tarik ke belakang, tanda-tanda kalau daya tampung TPA ini mulai bermasalah itu sudah terlihat sejak tahun 2020. Ketika itu, tepatnya 22 Mei 2020, turap penahan di TPA Cipecang sempat jebol yang akibatnya tumpukan sampah sampai tumpah ke sungai Cisadani yang jaraknya ya sekitar e 50 m dari lokasi pengelolaan sampah. Kejadian ini menjadi sinyal kuat kalau TPA Cipecang sebenarnya sudah kewalahan ya menampung sampah harian warga Tangsel yang jumlahnya mencapai ratusan ton per hari. Dan semenjak kejadian itu, pemerintah Kota Tangerang Selatan berusaha keras supaya TPA Cipecang tetap bisa dipakai. Salah satu langkah yang diambil adalah bekerja sama dengan daerah lain untuk mengalihkan sebagian sampah ke TPA Bangkonol di Kabupaten Pandeglang, Banten. Dan selain itu, Pemkot juga mulai membatasi jumlah sampah yang boleh masuk ke TPA Cipecang supaya kondisinya tidak semakin parah. Tidak berhenti sampai di situ aja, Geng. Pemerintah juga menyiapkan rencana jangka panjang dengan ee menggagas pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah yang harapannya sampah tidak cuma akan menjadi beban lingkungan, tapi bisa diolah menjadi sumber energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada tempat [musik] pembuangan air. Nah, perbaikan yang sekarang dilakukan di TPA Cipecang itu sebenarnya langkah penting dan memang dibutuhkan gitu ya supaya kejadian seperti tahun 2020 silam tidak terulang lagi. Tapi masalahnya perbaikan ini kan enggak dibarengi dengan sistem cadangan yang kuat. Jadi setiap kali TPA Cipecang ini butuh penataan dan perawatan, pengelolaan sampah di Tangerang langsung berantakan. Dan dampaknya terasa sekali warga lagi-lagi terkena imbas dan sampah menumpuk di jalan dan TPS serta lalu lintas menjadi semakin macet, bau enggak sedap ke mana-mana dan lingkungan sekitar jadi enggak nyaman untuk beraktivitas. Yang jelas penyakit ya itu bersumber dari sana. Dan kondisi ini menunjukkan kalau persoalan sampah di Tangerang Selatan ini bukan cuma soal teknis di TPA, tapi juga udah soal kesiapan sistem dan perencanaan yang benar-benar belum matang. Ya, kalau misalkan mau nyalahin pemerintah ya wajar wajar banget enggak sih nyalahin pemerintah ya? kan udah kita bayar iurannya ee lancar, tapi kok bisa-bisanya kayak gini seberantakan ini? Apa enggak dipikirin selama bekerja ngapain aja gitu? Kalau kita lihat secara hukum pemerintah daerah punya kewajiban penuh dalam menjamin pengelolaan sampah berjalan dengan baik. Ya kan? di Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 aja tentang pengelolaan sampah itu sudah disebutkan, Geng, kalau pemerintah daerah wajib menyusun kebijakan, strategi, dan memastikan layanan persampahan ini tetap berjalan tanpa mengganggu masyarakat. Nah, tapi kalau udah kayak gini gimana? Ya, pemerintahnya juga enggak mau dituntut. Pasti ya ujungnya masyarakat lagi aja yang salah. Tapi kalau masyarakat yang membuat ulah yang bikin masalah kayak gini, udah tuh dipenjara langsung. Kalau pejabatnya yang bikin masalah, kita disuruh sabar. Nah, artinya urusan sampah kayak gini ini bukan pilihan, tapi memang udah wajib tanggung jawab yang melekat, enggak bisa ditoleransi. Dan selain itu ada juga nih Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Di situ sudah dijelasin kalau pemerintah, kabupaten atau kota itu punya kewenangan sekaligus kewajiban untuk mencegah pencemaran lingkungan. Kalau sampah sampai numpuk di ruang publik kayak gini, baunya nyengat dan mengganggu kesehatan warga, kondisi itu udah jelas berpotensi melanggar prinsip perlindungan lingkungan dan keselamatan masyarakat. Di dalam konteks pelayanan publik, ya, pemerintah daerah juga dituntut untuk menjaga standar kebersihan dan kenyamanan ruang publik. Hal ini ya biasanya diatur lebih lanjut dalam peraturan daerah soal kebersihan dan pengelolaan sampah. Jadi jalan raya, pasar, fasilitas umum seharusnya tuh ya dipastikan bersih gitu, layak digunakan. Apapun kondisi teknis yang sedang terjadi di balik layar itu enggak bisa dijadikan alasan. Ya, pemerintah harus putar otak. Kalau kita lihat fakta di lapangan, tumpukan sampah yang menggunung, bau menyengat, dan jalan utama yang kotor ini menunjukkan satu hal penting. Adanya kegagalan dari pemerintah kita dalam mengantisipasi risiko saat transisi operasional. Ketika TPA Cipecang diperbaiki, harusnya udah ada rencana cadangan. Entah itu ya lapangan luas yang kosong untuk tempat naruh itu sampah sementara atau dialihkan ke lokasi pembuangan ke daerah lain numpang gitu tapi bayar. Pokoknya segala macamlah. Absennya langkah antisipasi inilah yang akhirnya memunculkan pertanyaan besar. Ada apa sebenarnya? Apakah di balik ini semua jangan-jangan ada yang sedang bermain, ada yang sedang mengalihkan uang atau biaya untuk pengelolaan sampah ini ke kantong pribadi? Nah, nanti kita bakal bahas persoalan itu. Sekarang kita bahas dulu nih ya, bagaimana respon dari masyarakat setempat tentang tumpukan sampah di Tangerang Selatan ini. Langsung aja. Jadi, Geng, pada tanggal 18 Desember atau lebih tepatnya pada hari Kamis kemarin, sekitar 150 warga Tangerang Selatan itu turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi di kantor DPRD Kota Tangsel. Aksi ini dipicu oleh persoalan sampah yang makin menggunung ini, Geng. Khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan TPA Cipecang. Nah, masa aksi yang tergabung di dalam forum masyarakat Serpong Peduli itu menyuarakan keresahan mereka dan kondisi lingkungan yang dinilai udah benar-benar enggak masuk akal. Selama kurang lebih 2 jam, massa melakukan orasi di depan gedung DPRD, mereka menyampaikan berbagai keluhan mulai dari bau menyengat dan kawasan pemukiman mereka yang udah makin kayak Prinda Fan ini dan dampaknya ya langsung terhadap kenyamanan dan kesehatan warga. Aksi ini kita meng buat mengungkapkan karena kebauan yang sering kita alami alami. Setelah berorasi, perwakilan massa kemudian diundang untuk melakukan audiensi dengan pimpinan DPRD Kota Tangerang Selatan. Nah, ini menurut gua tuh kayak audiensi. Apa sih fungsinya audiensi yang diharapkan oleh masyarakat itu? Masalah kelar ya diangkut aja gitu kan. Ngapain pakai audiensi diskusi-diskusi lagi ya kan? harusnya langsung ditindaklanjuti angkut semua sampahnya, Pak. Di saat itu ya lewat pengeras suara alias mikrofon suara dari mobil komando, warga mendesak pemerintah kota Tangsel agar lebih serius dalam menangani persoalan ini. Menurut mereka, selama ini sampah hanya ditumpuk tanpa pengelolaan yang benar-benar menyelesaikan masalah. Sebagai bentuk protes simbolis, massa bahkan membawa tumpukan sampah serta keranda mati sebagai bentuk protes dan akhirnya baru bisa bertemu langsung dengan anggota DPRD Tangsel yang memenuhi permintaan pertemuan dengan para demonstran di lokasi. Sekitar 15 perwakilan warga kemudian dipersilakan masuk ke dalam gedung DPRD untuk mengikuti mediasi itu. Ketua Forum Masyarakat Serpong Peduli yaitu Pak Abdul Mamad menegaskan kalau persoalan sampah ini enggak bisa ditangani setengah-setengah. Menurut dia, pengelolaan sampah harus dilakukan secara menyeluruh dan secepat mungkin gitu karena udah kebawaan nih. Nah, beliau juga menyoroti tempat pengolahan sampah terpadu atau TPS3R ini bukan satu-satunya solusi. Pasalnya TPS3R cuma mengolah sampah tingkat bawah sementara residunya tetap akan dibuang ke TPA Cipecang yang saat ini sudah bermasalah. Nah, menanggapi aksi ini, Wakil Walikota Tangerang Selatan yaitu Pilar Saga Iksan langsung mendatangi gedung DPRD Kota Tangsel di Kecamatan Setu untuk menemui para demonstran. Dalam keterangannya, Pak Pilar ini menyebutkan kalau seluruh aspirasi masyarakat sudah dicatat. Kayak biasa catat dulu ya kan biar senang gitu. Nah, dia juga menyampaikan bahwa sebagian besar tuntutan tersebut sebenarnya sudah masuk ke dalam program pemerintah daerah, baik yang sedang berjalan di akhir tahun 2025 maupun yang direncanakan untuk tahun 2026. Dan selain itu dalam pertemuan tersebut Forum Masyarakat Serpong Peduli juga menyampaikan bahwa mereka mau segera meminta pertemuan dengan Walikota Tangerang Selatan dan untungnya permintaan tersebut langsung diagendakan dan akan difasilitasi oleh DPRD setempat. Di dalam aksi demonstrasi kemarin, Geng, warga Serpong itu sebenarnya mengajukan totalnya 12 tuntutan kepada pemerintah daerah. Ada beberapa poin krusial yang paling disorot dan jadi inti dari kegelisahan warga. Yang pertama tuh ya, warga menuntut bantuan BLT sebesar Rp250.000 per bulan bagi warga yang terdampak langsung oleh persoalan sampah ini. Jadi, minta bantuan langsung tunai, minta duit gitu. Nah, tapi ya wajar aja enggak sih orang ini kan sudah merugikan warga sekitar Rp250.000 R000 kan kecil banget buat pemerintah ya. Hitung-hitung buat biaya pengobatan ya kan atau biaya ee buat gotong-royong warga. Ya benar banget itu sih. Dan bantuan ini diminta supaya diberikan secara transparan sebagai bentuk tanggung jawab atas dampak lingkungan dan kesehatan yang mereka rasakan sehari-hari. Terus yang kedua, warga mendesak agar TPS3R di seluruh Tangsel tuh benar-benar diaktifkan secara serius, bukan cuma ada di atas kertas. Dan menurut mereka pengelolaan sampah harus dimulai dari tingkat paling dasar supaya beban TPA Cipecang itu enggak terus menumpuk. Yang ketiga, warga menuntut perbaikan sistem pengelolaan TPA Cipecang dengan mengembalikan fungsinya sebagai tempat pemprosesan akhir sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang persampahan lengkap dengan dukungan infrastruktur yang memadai. Nah, jadi geng itu ketiga tuntutan utama yang paling disorot di dalam aksi kemarin. Sisanya ya gua bakal masukin listnya di sini. Kalian bisa baca sendiri nih. Nah, jadi itu dia, Geng, ya pembahasan kita tentang respon masyarakat. Bagaimana mereka menanggapi soal ee sampah yang menumpuk ini. Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan penanganan dari pemerintah ataupun pihak terkait tentang hal ini. Langsung aja, Geng. Kita masuk ke dalam pembahasannya. Jadi, Geng, kalau kita lihat dari sisi pemerintah, Kota Tangerang Selatan menyampaikan kalau mereka saat ini sedang melakukan penanganan di lapangan. Salah satu langkah yang diambil itu adalah merapikan tumpukan sampah, melakukan penyomprotan cairan, penekan bau. Nah, tapi perlu dicatat nih, Geng, ya, langkah ini masih bersifat sementara buat meredam dampak paling terasa yang dirasakan warga. Jadi, belum diangkut sampahnya masih di sana, cuman disiram aja biar enggak bau-bau banget. terus ditutup pakai terpal biar agak indah gitu. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel, Bani Kosyatullah itu menjelaskan kalau penanganan sementara ini dilakukan sembari memastikan proses pengangkutan dan pengelolaan sampah tetap berjalan. Dan dia mengaku kalau dia memahami kekhawatiran masyarakat dan menyebutkan pemerintah terus memperkuat langkah teknis di lapangan mulai dari pengangkutan sampah, pengendalian bau sampai dengan penataan lokasi agar lebih tertib dan aman, katanya. Dan Pak Bani ini juga meminta dukungan dari masyarakat di dalam proses penataan TPA Cipecang yang saat ini pemerintah sedang melakukan penataan area landfield 3 dengan metode terasering di anak Kali Cirompang untuk mencegah longsor. Nah, sekaligus membangun bronjong di area tersebut gitu ya. Dan selain itu pemerintah kota juga membuka ee akses jalan menuju area Landfield 4 serta melakukan pembebasan lahan yang nantinya akan digunakan untuk material recovery facility atau MRF. Terus geng, hal yang sama juga disampaikan oleh Walikota Tangerang Selatan, Pak Benyamin Dafni. Dia menjelaskan kalau Pemkot Tangsel berkomitmen untuk terus meningkatkan pengelolaan sampah tadi. Bukan cuma lewat penanganan jangka pendek, tapi juga lewat pembenahan sistem dan penguatan kesadaran lingkungan di masyarakat. Menurut Pak Benyamin, perbaikan Landfield 3 di TPA Cipecang saat ini masih berlangsung dan ditargetkan selesai bulan ini serta masih memungkinkan untuk menampung sampah. dan dia juga menambahkan bahwa ada program pengolahan sampah yang akan dijadikan sebagai energi listrik atau PS dan itu sudah diajukan oleh pemerintah kota Tangsel. Namun saat ini masih menunggu tahapan lanjutan dari Kementerian Lingkungan Hidup katanya gitu, Geng. Dan akhirnya nih Geng, pemerintah Kota Tangerang Selatan menyampaikan kalau mereka sudah mulai melakukan pengangkutan sampah secara bertahap di sejumlah titik yang sempat mengalami penumpukan. Langkah ini diklaim sebagai bagian dari upaya penanganan berkelanjutan untuk mengurai persoalan sampah yang belakangan ramai dikeluhkan oleh warga Tangsel. Untuk mempercepat prosesnya nih, Geng, pemerintah Kota Tangsel memaksimalkan penggunaan 27 armada baru pengangkut sampah dan 54 amroll dan truk pengangkut sampah untuk disebar di tujuh kecamatan. Dan armada-armada ini difokuskan untuk menarik sampah dari titik-titik yang sebelumnya mengalami penumpukan cukup parah. Dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangsel yaitu Pak TB Asep Nurdin menjelaskan juga kalau penanganan ini memang dilakukan secara bertahap. Setiap harinya pengangkutan difokuskan ke simpul-simpul penumpukan sampah agar dampaknya bisa segera dirasakan oleh masyarakat. Nah, dengan skema pengangkutan bertahap yang terus berjalan ini, pemerintah kota Tangsel itu menyatakan optimis kondisi kebersihan di kotanya akan segera kembali normal. Pemerintah juga menyebutkan langkah ini ya sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pengolahan sampah agar ke depannya lebih ee tertata dan tidak kembali memicu krisis kayak gini. Selain dari pemerintah setempat ya, Geng. Kementerian Lingkungan Hidup atau KLH juga membantu mengurangi tumpukan sampah yang menumpuk dengan melakukan pengangkatan menggunakan alat berat hingga 116 ton sampah yang tergeletak di Pasar Cimanggis Tangsel. Selain itu ya KLH ini juga meminta pembentukan satuan tugas atau satgas di lokasi-lokasi yang paling sering digunakan untuk membuang sampah sembarangan ya untuk menjaga kebersihan pasar secara konsisten. Terus di sisi lain, Geng, masyarakat tentu berharap persoalan ini benar-benar menemukan solusi yang secepat-cepatnya. Nah, jangan sampai penanganannya hanya bersifat tambal sulam dan akhirnya menjadi siklus masalah yang terus berulang dari waktu ke waktu. Meskipun tanggung jawab utama pengelolaan sampah itu jelas ada di tangan pemerintah daerah dan instansi terkait, tapi sebagai warga kota Tangsel sekarang yang bisa kita lakukan ya juga bukan cuma marah dan mengeluh ya. kita tetap punya peran untuk menjaga lingkungan sekitar kita masing-masing. Mulai dari hal yang sederhana seperti tidak sembarangan membuang sampah atau memila sampah rumah tangga lalu dipisahkan gitu ya. Ee sampai aktif mengingatkan kalau ada TPS yang sudah overload dan pengangkutan yang bermasalah. Nah, minimal kita enggak ikut nambah beban dari sistem yang memang rapuh ini. Nah, semoga apa yang kita bahas di video ini bisa menambah insight baru dan membuat kita semua lebih peka. Bukan cuma soal sampah yang menumpuk di jalan aja, tapi juga soal bagaimana sebuah kota seharusnya dikelola dengan tanggung jawab dan perencanaan. Itu dia, Geng, pembahasan kita hari ini mengenai menumpuknya sampah di Tangerang Selatan. mulai dari penyebabnya, respon masyarakat sampai langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah. Bagaimana menurut kalian, Geng? Apakah kalian punya solusi untuk permasalahan ini? Boleh tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories