Transcript
9YVtZ_XGq1k • WHY IS PALM OIL HATED BY EUROPE BUT LOVED BY INDONESIA? THIS IS HISTORY...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1636_9YVtZ_XGq1k.txt
Kind: captions Language: id Nah, jadi geng pertama kali ya sawit masuk ke Indonesia itu pada tahun 1848 di masa pemerintahan kolonial Belanda. Mereka yang bawa di saat itu. Penanaman sawit ini pertama kali dilakukan di Kebun Raya Bogor, Geng. Geng, mungkin pembahasan kita kali ini akan terasa agak sedikit kontroversial. Tapi jujur aja gua di sini tidak ingin menyudutkan pihak manaun, tidak ingin menjelek-jelekkan siapapun apalagi sampai melanggar peraturan YouTube dan juga melanggar hukum di negara kita Indonesia. Tapi tujuan gua membahas ini adalah sebuah bentuk informasi yang semoga bisa menjadi edukasi untuk kita semua. Pembahasan kita kali ini mengenai kelapa sawit ya. yang mana kita tahu ya kelapa sawit adalah salah satu bahan paling banyak digunakan di dunia dan Indonesia adalah salah satu penghasil terbesarnya. Bahan ini ya ada di makanan seperti coklat, biskuit, mie instan, margarin, sampai produk makanan sehari-hari. Bahkan di shampo ada, sabun ada, kosmetik ada. Makanya ketika banyak orang yang meneriakan anti kelapa sawit ya ikut serta ada pula yang mengkritik narasi itu. Sebab ya hampir semua produk yang kita gunakan setiap hari pasti di antara bahan-bahannya mengandung kelapa sawit, Geng. Sehingga hampir tidak mungkin benda-benda di saat ini atau produk-produk di saat ini ya itu tidak menggunakan kelapa sawit sama sekali. Memang agak apa ya agak miris juga ya. kayak aduh ironi banget gitu. Kelapa sawit ini sekarang menjadi momok tersendiri gitu ya. Apalagi setelah kejadian banjir kemarin di Sumatera. Tapi yang menariknya di banyak negara barat ya, kelapa sawit ini justru sering dihindari oleh orang-orang bule. Ya, sesuai dengan judul dari video ini dan thumbnail-nya secara terang-terangan ya, para bule ini tidak mau membeli produk-produk yang mengandung kelapa sawit. Dan secara terang-terangan produk yang mereka gunakan itu mencantumkan label palm oil free alias bebas dari minyak kelapa sawit pada kemasan produk di negara mereka. Nah, hal ini jadi menimbulkan tanda tanya besar terutama bagi negara kita. Seperti yang gua katakan sebelumnya, Indonesia ini adalah produsen kelapa sawit nomor satu di dunia dengan jutaan hektar perkebunan dan jutaan orang yang bergantung pada industri ini. Jika negara-negara barat menghindari penggunaan kelapa sawit dalam produk-produk yang dijual di negara tersebut, di negara mereka gitu ya, dengan menyertakan label palm oil free, tentunya ini bakal berdampak buruk bagi keberlangsungan komoditas kelapa sawit di negara penghasilnya yaitu negara kita. Terlebih lagi karena Indonesia adalah produsen kelapa sawit nomor satu di dunia, tapi kita enggak akan membahas mengenai regulasi dari pemerintah kita atau segala macamnya. Tapi justru di video kali ini gua bakal berfokus untuk mengajak kalian bagaimana negara kita bisa memiliki komoditas sawit terbesar di dunia. Terus apakah sawit ini adalah tanaman yang tumbuh asli di Indonesia atau bagaimana? Terus juga kita bakal membahas mengapa di negara barat atau negara parle gitu ya, justru mereka ini menjauhi dan benci sekali dengan keberadaan kelapa sawit. Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut langsung aja kita bahas nih, Geng, secara lengkap seputar tentang pengetahuan soal kelapa sawit ini. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry. [musik] [musik] Genggeng geng. Sebelum kita lanjut ke pembahasannya, seperti biasa gua bakal menginformasikan kepada kalian barang-barang yang sangat berguna untuk kalian yang pastinya harganya ekonomis tapi kualitasnya sadis. Bagus banget. Buat yang mau berpenampilan premium look, kalian harus banget punya celana bahan dari Dego ini. Ini merupakan celana bahan slim fit polos panjang yang membuat penampilan kalian jadi lebih eksklusif, berwibawa. Otomatis kalian terlihat sangat rapi. Cocok untuk kalian gunakan harian atau di acara-acara formal. Nah, itu dia, Geng. Jangan lupa check out, ya. Udah ada linknya di bawah. Oke, sekarang kita lanjut ke pembahasannya. Untuk pembahasan yang pertama, kita langsung mulai dengan pembahasan awal mula kelapa sawit menjadi komoditas di [musik] Indonesia. Kapan awal mulanya? Kita bahas. Jadi, geng, kelapa sawit ini sudah sejak lama menjadi bahan makanan utama di wilayah Afrika Barat mulai dari Senin hingga Angola. Nah, awalnya tuh dari Afrika Barat dulu. Minyak sawit ini mulai masuk ke perekonomian global itu tepat pada abad ke-16 dibawa oleh kapal-kapal yang terlibat di dalam perdagangan budak lintas Atlantik, Geng. Di saat itu, selama perjalanan laut melintasi samudra Atlantik yang dikenal sebagai middle passage itu, minyak sawit dianggap sebagai makanan penting karena membantu para tawanan ya, para apa? budak-budak yang dibawa di saat itu tetap hidup selama perjalanan tersebut. Para pedagang budak ini mengoleskan minyak sawit ke kulit para tawanan supaya mereka terlihat lebih halus, sehat, dan kelihatan lebih muda sebelum bisa dijual ke tempat pelelangan. Pada pertengahan abad ke-17, orang-orang Eropa juga mulai menggunakan minyak kelapa sawit ini untuk kulit mereka sendiri, ya. Karena berkaca dari para budak tadi yang dijaga terawat kulitnya sehat karena dioleskan minyak kelapa sawit. Nah, terus ada seorang penulis Eropa yang belajar praktik pengobatan tradisional di Afrika. Dia mengklaim bahwa minyak kelapa sawit itu bisa menyembuhkan memar dan cedera pada tubuh. Nah, singkat cerita menjelang akhir abad ke-18, para pengusaha Inggris itu mulai menambahkan minyak sawit ke dalam sabun karena warnanya yang kemerahan agak orange serta aromanya yang dianggap mirip seperti bunga violet. Setelah Inggris menghapus perdagangan budak pada tahun 1807, ya, para pedagang yang tadinya memperdagangkan budak ini yang pada saat itu memperdagangkan manusia alias budak ini adalah sebuah tindakan legal ya. Mulailah setelah dihapusnya perdagangan budak, mereka itu beralih ke produk lain untuk bisa diperdagangkan. Di beberapa dekade berikutnya, Inggris itu menurunkan pajak impor minyak sawit dan mendorong negara-negara Afrika untuk fokus memproduksi minyak sawit. Karena kan mereka ini udah enggak diperbudak lagi nih, udah enggak diperjual belikan sebagai manusia. Nah, mereka itu difokuskanlah tanam sawit sebanyak-banyaknya, fokus di sana. Untuk apa? Ya, untuk kesejahteraan orang Inggris. Nah, memang perbudakan udah enggak berlanjut. Tapi secara tidak langsung orang-orang di Afrika sana diminta untuk memproduksi sawit sebanyak-banyaknya untuk Inggris. Ya tetap ajaalah ya lingkarannya masih perbudakan tapi beda konteks saja gitu. Terus pada tahun 1840 minyak sawit ini udah cukup murah geng sehingga bisa sepenuhnya menggantikan lemak hewan atau minyak ikan paus di dalam produk seperti sabun dan lilin. Nah, jadi makanya kalau kalian pernah dengar nih, Geng, ya. E beberapa sabun itu dibuat pakai lemak babi ya kan atau minyak ikan. Nah zaman dulu memang benar pakai lemak hewan dan minyak ikan paus. Tapi semenjak mengenal sawit mereka mengganti semua lemaknya dengan lemak dari buah sawit. Dikatakan juga ya kenapa orang-orang Eropa mulai memperdagangkan kelapa sawit di saat itu dikarenakan revolusi industri yang terjadi pada tahun 1750 sampai 1850 yang mana ini mendorong terjadinya lonjakan permintaan terhadap minyak. Awalnya orang-orang Eropa tidak begitu tertarik dengan kelapa sawit, Geng. Karena mereka lebih mengenal minyak kelapa, minyak kopra ya, kelapa biasa terus disuling jadi minyak. Tapi karena lonjakan permintaan minyak tadi, akhirnya mereka mencari alternatif selain minyak kelapa. karena ya kebutuhannya enggak tercukupi. Kemudian mereka mendapatkan minyak versi lain dari kelapa sawit. Di waktu itu karena penggunaan minyak kelapa sawit masih jarang digunakan apalagi karena proses distribusinya karena harus mengambil dari Afrika dulu. Karena dulu enggak ada yang tanam sawit kecuali Afrika. Tapi karena semakin umum digunakan anggapan sawit sebagai barang mewah pun mulai hilang. Jadi yang tadinya cuma ada di Afrika, udah gitu bijinya mulai dibawa ke banyak negara, ditanam di beberapa negara ya bisa dianggap tuh sawit itu udah enggak spesial. Ini ibaratnya tahu enggak, Geng? Ya, kayak andaikan, ya minyak bumi di Arab sana bisa dipindahkan atau ditanam untuk dihasilkan di banyak negara, kayaknya ya minyak bumi juga enggak akan semahal sekarang. Nah, sawit ya dulu mahal banget, barang mewah. hanya ada di Afrika. Tapi karena bisa ditanam, berkembang biak dia tumbuh dia di daerah lain, akhirnya hilang kesan mewahnya. Karena banyak negara di saat itu sudah mulai memproduksi sawit. Para eksportir membuat minyak sawit jadi lebih murah dengan cara-cara seperti membiarkan buah sawit terfermentasi dan melembek, melempem, tapi hasilnya membuat sawit jadi tengik alias bau. Hal tersebut membuat orang-orang Eropa menggunakan proses kimia baru untuk menghilangkan bau serta warna yang tidak sedap. hasilnya bisa membuat minyak sawit yang rasanya hambar, enggak ada rasa apapun, akhirnya bisa menggantikan lemak dan minyak lain yang berasal dari hewan tadi atau ya berasal dari kelapa yang harganya lebih mahal tapi dengan sawit itu bisa jadi lebih murah. Menjelang tahun 1900-an ya, dunia mulai punya industri makanan modern yang mana industri ini membutuhkan banyak minyak dan lemak sebagai bahan baku. Salah satu produk terbarunya adalah margarin. Alias apa ya? Kalau orang-orang yang e udah terbiasa bilangnya BlueBand, BlueBand. Padahal BlueBand itu merek ya. Gua enggak di-endorse di sini tapi gua sebutin aja gitu ya. Ya, sama halnya dengan produk-produk lain di saat mereka yang menjadi pionir atau pertama kali muncul. Contoh air mineral, semua orang pasti familiarnya Aqua gitu. Bahkan brand-brand lain pun disebut, "Kak, ada Aqua ya kan? Nah, begitulah dengan margarin ini. Nah, margarin diciptakan sebagai mentega versi murah tuh biar kalian tahu tuh. Buat yang belum tahu, mentega itu dibuat dari lemak hewani seperti susu sapi yang harganya lebih mahal. Nah, itu awalnya mentega tuh, Geng, ya. Nah, sementara margarin itu berasal dari minyak sawit yang lebih murah. Tujuannya agar bisa dikonsumsi oleh kelas-kelas bawah alias kelas pekerja di saat itu. Dan karena margarin ini diproduksi massal sehingga membutuhkan banyak minyak sawit dan lemak sawit tadi. Dan margarin sendiri sebenarnya diciptakan pada tahun 1869 oleh seorang ahli kimia Prancis. Henry Bradley, [musik] seorang ahli kimia asal Binghampton, New York. mencatat sejarah dengan mematenkan margarin yang [musik] ia sebut sebagai campuran untuk urusan dapur. Awalnya minyak sawit ini hanya digunakan untuk memberikan warna kuning pada margarin. Namun kemudian diketahui kalau minyak sawit sangat cocok sebagai bahan utamanya karena bisa tetap padat pada suhu ruangan dan meleleh ketika dimasukkan ke mulut sehingga mirip seperti mentega. Nah, ini beda nih ya. Mentega, margarin tuh beda. Terkadang ada yang salah kaprah nih nyebut margarin mentega, nyebut mentega margarin gitu. Nah, itu berbeda. Mentega ini yang dari hewan margarin itu dari minyak ee nabati, minyak sawit. Di saat itu para pengusaha besar margarin serta sabun ya sabun mandi itu kemudian mencari pasokan minyak sawit yang lebih besar dan lebih segar dari koloni-koloni Eropa di Afrika. Tapi geng, banyak komunitas di Afrika yang menolak memberikan lahan mereka kepada perusahaan asing. Karena produksi minyak sawit secara tradisional masih menguntungkan buat mereka. Jadi mereka itu dulu menguasai ya lahan mereka sendiri, kayak memproduksi minyak sawit mereka sendiri perorangan gitu. Nah, mereka enggak mau ngasih lahan mereka kepada perusahaan asing yang mungkin mau ngeborong, mau beli tanah mereka dengan mahal, mau membeli hasil produk sawit mereka dengan mahal, ya mereka enggak mau. Nah, akibatnya produsen minyak sawit milik pemerintah kolonial di saat itu mulai menggunakan paksaan dan kekerasan langsung untuk mendapatkan tenaga kerja. Ya biasalah ya pemerintah ya kalau udah ditolak sama rakyatnya pakainya kekerasan. Akibat karena membutuhkan banyak effort untuk mengelola sawit di Afrika, jadilah orang-orang Eropa mulai mencari lahan baru, yaitu ke bagian Asia Tenggara termasuk salah satunya ke Indonesia. Jadi, karena orang Eropa ini ngelihat sawit di Afrika itu ya udah sulit nih, kurang ya. Maksudnya bukan berarti di Afrika itu sawitnya itu enggak bagus, tapi melainkan kurang banyak. Barulah mereka ekspansi ke luar negara mereka, ke luar Afrika yaitu ke Asia Tenggara termasuk negara kita. Nah, gua rasa gua enggak perlu menceritakan mm negara Asia Tenggara lain. Kayaknya ada baiknya kita langsung masuk ke dalam pembahasan ketika sawit ini masuk ke Indonesia gitu, Geng, ya. Nah, jadi, Geng, pertama kali ya sawit masuk ke Indonesia itu pada tahun 1848 di masa pemerintahan kolonial Belanda. Mereka yang bawa di saat itu. Penanaman sawit ini pertama kali dilakukan di Kebun Raya Bogor, Geng. Dan di tahun tersebut pemerintah kolonial Belanda sempat membawa empat batang bibit kelapa sawit ke Indonesia. Dua bibit berasal dari Borbon asal Mauritius. Dua lainnya itu dari Hortus Botanicus asal Amsterdam. Sampai saat sekarang ini, dua dari empat pohon tersebut masih hidup loh, Geng. Dan diyakini sebagai nenek moyang kelapa sawit di Asia Tenggara. Bukan cuma Indonesia, tapi Asia Tenggara itu berasal dari negara kita yang dibawa oleh Belanda. Pada fase ini, kelapa sawit itu belum ditujukan untuk kegiatan ekonomi. Cuma dibudidayakan sebagai tanaman hias di saat itu dan koleksi ilmiah aja seiring status kebun raya Bogor sebagai pusat penelitian botani tropis. Jadi belum ada orientasi produksi atau ekspor pada periode tersebut. Tapi geng ya pada tahun 1904 kelapa sawit mulai ditanam di daerah daily Sumatera Timur. Nah mungkin kalian agak bingung ya, Deli Sumatera Timur bukannya itu Sumatera Utara gitu kan. Nah, jadi ini adalah timurnya dari Sumatera Utara alias timurnya dari Kota Medan. Di saat itulah ya semenjak pertama kali dikenalkan di Indonesia di daerah daily tadi ya, sawit berkembang menjadi komoditas skala komersial. Di informasi lain dikatakan kelapa sawit mulai dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911. Tokoh penting dalam fase komersialisasi ini adalah Edrin Hellet, yaitu seorang pria berkebangsaan Belgia yang menjadi pelopor perkebunan kelapa sawit modern di Indonesia. Kalau kalian lihat cara menanam sawit kayak sekarang itu ya bisa pohonnya jarang-jarang, rapi gitu ya dan berhektar-hektar. Nah, itu gara-gara si Edrin Het tadi. Budidaya kelapa sawit itu kemudian dikembangkan lebih lanjut, Geng, oleh orang yang bernama K Skat. Sehingga ini menandai lahirnya industri perkebunan kelapa sawit untuk pertama kali di Indonesia. Dan selain daily tadi dikatakan lokasi awal pengembangan kelapa sawit itu juga dilakukan di sebagian besar daerah Aceh dengan total luas perkebunan di Deli dan Aceh mencapai 5.123 hektar. Jadi dari sini sudah paham ya, enggak usah bingung kenapa yang dilanda banjir yang sangat besar ya daerah itu tadi Aceh dan Sumatera Utara. Indonesia di saat itu mulai mengekspor kelapa sawit dari hasil perkebunan sawit di Indonesia itu pada tahun 1919. Awalnya itu sebanyak 576 ton. Disusul ekspor minyak inti sawit atau PKO pada tahun 1923 sebesar 850 ton. Gimana enggak menggiurkan tuh? Menjelang Perang Dunia Kedua, Indonesia bahkan dinobatkan menjadi salah satu eksportir utama minyak sawit dunia yang mampu menyaingi negara-negara Afrika Barat sebagai daerah asal atau awal mula di mana sawit itu tumbuh. Afrika jadi kalah sama Indonesia. Nah, pada masa pendudukan Jepang itu terjadi kemunduran ya. Kalau yang sebelumnya itu kayak sawitnya maju banget ya karena kita masih dijajah Belanda. Orang Eropa di saat itu masih senang gitu menggunakan sawit. Ketika pendudukan atas Indonesia sudah mulai dikuasai Jepang, terjadi kemunduran yang membawa dampak besar terhadap perkebunan kelapa sawit. Di masa itu, luas perkebunan sawit menyusut, Geng, sampai 16% dan produksinya turun drastis. Kalau pada tahun 1940, Indonesia bisa mengekspor sekitar 250.000 ton minyak sawit pada periode 1948 sampai 1949, produknya cuma mencapai 56.000 ton. Dan setelah Jepang serta Belanda meninggalkan Indonesia pada tahun 1957, pemerintah Indonesia mulai mengambil alih semua perkebunan sawit yang tadinya tuh di bawah penjajahan dengan alasan politik dan keamanan untuk menjaga operasional. Ya, pemerintah kemudian menempatkan perwira militer di berbagai jenjang manajemen dan membentuk yang namanya bumil, yaitu sebuah singkatan dari buruh militer. Cuma di saat itu perubahan manajemen yang mendadak ditambah dengan kondisi sosial serta politik yang belum stabil itu menyebabkan produktivitas sawit di Indonesia menjadi lebih menurun geng. Pada masa ini posisi Indonesia sebagai pemasuk utama kelapa sawit itu ya menjadi tergeser oleh negara tetangga kita, Malaysia. Singkat cerita, berlanjut kepada masa Orde Baru ya, di bawah kepemimpinan Pak Harto. Di masa itu arah pembangunan perkebunan berubah menjadi signifikan. Pemerintah itu menempatkan kelapa sawit sebagai instrumen pembangunan ekonomi dengan tujuan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menghasilkan devisa negara. Nah, pembukaan lahan baru juga didorong secara masif hingga tahun 1980 dan luas perkebunan sawit itu mencapai 294.560 hektar dengan produksi 721.172 ton CPO. Nah, program perusahaan Inti Rakyat perkebunan atau PIRBUN menjadikan kebijakan penting yang mendorong keterlibatan petani kecil atau perkebunan rakyat. Dan sejak tahun 1979 nih, Geng, perkebunan rakyat mulai berkembang. Ya, berbeda dengan periode sebelumnya yang cuma didominasi oleh perkebunan pasar. Dan hingga tahun 1993 luas perkebunan sawit nasional itu meningkat pesat hingga 1,62 juta hektar yang tersebar di berbagai provinsi di Sumatera, Kalimantan, dan wilayah lain. Sesuai dengan model pembangunan pada masa Orde Baru, pemerintah mendorong ekspor untuk meningkatkan ekonomi nasional dengan mengandalkan sektor perkebunan. Dan untuk mendukung hal itu, pemerintah memberikan berbagai kemudahan kepada perusahaan seperti akses kredit untuk membuka lahan yang baru dan membangun perkebunan. Jadi jangan heran ya, Geng, kenapa kebun sawit di Indonesia makin luas. Karena ya modal usahanya dipermudah gitu. Di bawah pemerintahan Orde Baru, perkebunan negara terus memperluas operasi dan disediakan secara terorganisir oleh negara melalui skema transmigrasi. Jadi kalau kalian bertanya kok di Lampung banyak orang Jawa, di Aceh juga ada yang disebut dengan Jawa Trans. Ya, di daerah-daerah lain, di kota lain itu banyak juga orang Jawa yang tersebar. Nah, itulah skema transmigrasi yang dicanangkan oleh Pak Soeharto di saat itu. Yang mana di Pulau Jawa penduduknya semakin padat, lapangan pekerjaan semakin minim, nah disebarkanlah para transmigran ini ke banyak kota sehingga mereka bisa beradaptasi dan mereka bisa bercocok tanam. Ya, kalian lihat aja sawah-sawah orang Jawa yang ada di Lampung bagus-bagus banget. Di saat itu ya, Geng, pemerintah memberikan konsesi yang sangat luas kepada konglomerat domestik yang terlibat di dalam industri pembelakan, Geng. Keberadaan industri minyak sawit di Indonesia itu enggak terlepas dari keberadaan industri sawit di Malaysia. Sebab industri sawit itu berkembang dan menjadi bagian terpenting dari strategi pembangunan nasional Malaysia pada dekade 1970-an dan 1980-an. Nah, industri perkebunan sawit di Malaysia itu memainkan peran utama dalam kebijakan ekonomi yang dikoordinasikan oleh negara lewat pengambil alihan perusahaan perkebunan swasta Inggris yaitu Grup Sim Derby pada tahun 1976, terus ada Gutri pada tahun 1981 dan ada Harrisons and Crossfield pada tahun 1982. Di era tahun 1990-an, Agribisnis dianggap sebagai keajaiban ekonomi di masa mendatang. sektor tersebut ya menyumbang sekitar 38% per tahun untuk PDB negara, Geng. Nah, anggapan awal yang menganggap kalau bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup berubah menjadi bertani untuk bisnis. Hal itulah yang mendorong pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Singapura untuk berinvestasi secara masif di perkebunan sawit aja. Dan pada pertengahan tahun 1990-an, perusahaan-perusahaan tradisional di industri sawit masuk dengan menanamkan modal tiga kali lebih besar rantai produksi global, serta melakukan perluasan geografis perkebunan sawit dari Malaysia ke Indonesia. Geng, industri sawit itu dipilih sebagai bagian dari implementasi liberasi ee ekonomi di Indonesia di saat itu karena beberapa alasan juga. Pertama, industri ini memberikan sumbangan sekitar 5% pendapatan e per kapita Indonesia per tahunnya. Terus yang kedua, minyak sawit menjadi sumber penting pertukaran valuta asing. Di mana pendapatan dari ekspor minyak sawit Indonesia di pasar internasional itu lebih tinggi 77% dibandingkan harga domestik. Terus yang ketiga, pemerintah Indonesia menganggap minyak sawit sebagai wadah bagi pembangunan sosial dan ekonomi di pedesaan yang digadang-gadang akan mampu menyerap 20 juta tenaga kerja. Gila, lebih tinggi dari Wapres Gibran ya. Kalau dia kan 19 juta yang dia janjikan. Ekspansi perkebunan sawit tradisional semakin cepat jadinya sejalan dengan krisis keuangan di Asia pada akhir tahun 1990-an, organisasi seperti IMF dan Leader of Inten atau disingkat dengan LOY itu sampai memberikan paket bagi Indonesia untuk melakukan liberalisasi investasi asing di sektor minyak sawit. Nah, karena itulah banyak datang perusahaan asal Malaysia saat itu untuk membeli perusahaan-perusahaan perkebunan sawit. nasional yang terancam bangkrut dan masuk ke dalam Daftar Badan Penyehatan Perbankan Nasional atau BPPN. [musik] Sejak tahun 1998 itu tercatat sebanyak 45 investor sawit Malaysia yang masuk bermitra dengan pebisnis Indonesia untuk membuka 1,3 juta hektar lahan melalui usaha join venture dan merger. Nah, periode modern dari tahun 2000-an sampai 2023 dari data BPSRI terkait statistik kelapa sawit di Indonesia, luas perkebunan sawit terus berkembang, Geng, sampai memasuki era modern. Pada tahun 2018, luas perkebunannya cuma 14,33 juta hektar. Pada tahun 2023 itu meningkat menjadi 15,93 juta hektar. Perkebunan kelapa sawit saat ini tersebar di 26 provinsi meliputi seluruh Sumatera dan Kalimantan serta sebagian Pulau Jawa. Sulawesi, Maluku, dan Papua, Geng. Nah, Provinsi Riau menjadi produsen terbesar dengan luas 3,40 juta hektar dan produksi 9,22 juta ton CPO pada tahun 2023. Struktur pengelolaan perkebunan sawit modern didominasi oleh perkebunan besar swasta yaitu ada sebanyak 54,08%. Kemudian baru disusul oleh perkebunan rakyat biasa sebesar 42,29% dan perkebunan besar negara. Nah, jadi gitu, Geng. Kurang lebih. Tapi Geng, walaupun dari tadi penjelasan gua itu sebenarnya ya kita tahu ya kalau minyak sawit itu bukanlah tanaman yang berasal dari negara kita ya. ya, asalnya dari Afrika dan industri sawit Indonesia juga diinisiasikan oleh orang-orang Barat di masa kolonial. Namun sekarang justru di negara-negara barat sudah mulai mengkampanyekan anti sawit yang mana itu bisa dilihat dari label di produk-produk yang dijual di negara mereka. Sekarang gua bakal ajak kalian masuk ke dalam pembahasan mengenai negara barat yang saat ini menghindari penggunaan minyak sawit dan mereka benci banget sama minyak sawit. kita bahas. Kalau kalian pernah berkunjung atau liburan ke negara-negara barat seperti Amerika atau Eropa nih, Geng, ya. Ketika kalian belanja di supermarketnya, bakal banyak tuh produk-produk yang mencantumkan label palm oil free atau no palm oil dalam produk makanan sampai produk kebutuhan sehari-hari kayak shampo dan juga sabun. Nah, salah satu contohnya ya ketika C. Golden Royal selaku Menteri Ekologi Prancis yang mana pada tanggal 17 Juni 2015 dia sempat mengajak masyarakat untuk tidak mengkonsumsi produk coklat Nutella. Alasannya Nutella ternyata mengandung minyak sawit. Nutella par exemple parce que ça c'est l'huile de palme. Ben oui mais il faut pas. Voilà parce que c'est l'huile de palme qui a remplacé les arbres et donc il y a eu des dégâts considér faire couler toute une boîte en disant faut pas manger de nut. Nah, kenapa sekarang kondisinya malah berbalik? Bukannya negara-negara barat nih yang dulunya justru memperkenalkan sawit menjadi suatu komoditas dibawa sampai ke negara kita Indonesia. Nah, ternyata seiring dengan majunya pengetahuan manusia tentang kelestarian alam, negara barat saat ini sudah paham kalau menanam sawit justru merusak lingkungan. Kurang lebih ada lima alasan mengapa saat ini justru negara barat yang menghindari dan menjauh dari sawit. Penggunaan sawit sudah sama sekali mereka tinggalkan di dalam produk-produk mereka. Pertama nih, minyak kelapa sawit memberikan kontribusi besar terhadap deforestasi. Mereka sudah sadar dari lama. Sementara di negara kita ya sawit masih sangat manis. Sebuah bisnis yang benar-benar ee menggiurkan. Di tahun 2009 hampir 30% emisi karbon yang dilaporkan di Indonesia ternyata diakibatkan oleh deforestasi. Diklaim jika setiap jamnya area seluas 300 lapangan sepak bola di Indonesia dan juga Malaysia tetangga kita dijadikan perkebunan kelapa sawit. Terus yang kedua, minyak sawit mendorong kepunahan orang hutan di negara kita. Para ilmuwan memperkirakan bahwa populasi orang utan bisa punah kalau industri sawit di negara ini terus menghancurkan rumah dan habitat alami mereka. Di dalam 10 tahun terakhir, populasi orang utan di Sumatera dan Kalimantan sudah menurun lebih dari 20.000 ekor. Penurunan ini bertepatan dengan meningkatnya permintaan minyak sawit di Amerika. Jadi Amerika itu ada yang masih mengkonsumsi minyak sawit. Nah, asal muasalnya tuh di negara kita. Lalu yang ketiga, minyak sawit juga mendorong spesies e langka yang lain menuju ke purahan. Spesies lainnya itu adalah harimau yang hanya tersisa 400 ekor di Pulau Sumatera. Badak Sumatera juga semakin berkurang dengan jumlah populasi yang kurang dari 200 ekor. Keempat, ya industri minyak sawit diwarnai dengan pelanggaran HAM karena di antara 3,7 juta orang yang bekerja di industri minyak kelapa sawit, ribuan di antaranya adalah pekerja anak yang dipaksa bekerja alias di bawah umur. Dan yang terakhir ya, kenapa mereka tidak lagi menggunakan sawit? Karena minyak sawit tidak baik untuk kesehatan sebab sangat tinggi lemak jenuhnya. Nah, mulai dari sinilah banyak pihak yang mulai mengkampanyekan antiawit. Kampanye anti sawit ini sendiri sudah ada sejak tahun 1980 ketika Indonesia sedang mengembangkan perkebunan kelapa sawit dengan pola perkebunan inti rakyat. Namun, kampanye anti sawit global semakin intensif sejak tahun 2006 ketika Indonesia berhasil menjadi produsen terbesar minyak sawit dunia. Dan pada saat yang sama minyak sawit juga akhirnya menggeser dominasi minyak kedelai dalam pasar minyak nabati dunia. Tema kampanye anti sawit yang diusung oleh LSM juga bergeser dari isu gizi atau kesehatan sebelum tahun 2006 ke isu lingkungan setelah tahun 2006 karena dianggap pembabatan hutan untuk membuka lahan sawit itu memberikan emisi gas rumah kaca yang sangat besar bagi bumi. Namun geng, informasi yang gua ambil dari website GAPKI itu menyebutkan kalau dalam jurnal monitor paspi justru membuktikan bahwa hubungan emisi gas rumah kaca dengan minyak sawit justru tidak memiliki dasar. Karena industri minyak sawit bahkan di Indonesia bukanlah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Dari website ini dikatakan pengemisi gas rumah kaca terbesar di dunia justru adalah negara-negara barat yaitu Eropa dan Amerika. yang mana itu artinya ada dugaan jika kampanye anti sawit ini adalah sebuah narasi karena terjadinya persaingan global antara minyak sawit dengan minyak nabati khususnya minyak kedelai yang menggunakan isu lingkungan agar memperoleh dukungan dari masyarakat global dengan memberikan isu kalau kelapa sawit merusak lingkungan, Geng. Tekanan dari LSM inilah yang pada akhirnya membuat negara-negara barat terkhususnya di Eropa itu menerapkan regulasi untuk menyertakan produk-produk mereka dengan label yang menunjukkan kalau produk tersebut tidak mengandung minyak sawit. Regulasi ini diberlakukan sejak bulan Desember 2014. Tekanan terhadap produsen pangan dan non pangan semakin intensif dengan memaksa pencantuman label palem oil free atau POF pada setiap produk yang dihasilkan yang mana dianggap ini sebagai bagian dari labelisasi Uni Eropa dan produk-produk yang diharuskan mencantumkan label tersebut sangat banyak dan meluas serta melibatkan industri multinasional yang beroperasi hampir di seluruh negara. Setidaknya nih, Geng, ya, udah ada kurang lebih 224 perusahaan multinasional dengan ribuan produk pangan dan non pangan global yang sedang disasar oleh gerakan Palem oil Free. Dan meskipun terjadi pertentangan apakah gerakan anti sawit ini murni dikarenakan isu lingkungan atau adanya persaingan dengan minyak nabati, ya sampai saat ini minyak sawit masih dianggap sebagai suatu bahan yang harus dihindari oleh orang-orang Barat. Dan karena itulah penerapan label palm oil free masih bisa kita temukan di banyak produk jika kita berkunjung ke negara-negara barat. Dan sejauh ini belum ada tindakan dari Indonesia dan Malaysia sebagai produsen terbesar minyak sawit di dunia untuk melakukan langkah-langkah mengatasi hal ini, Geng. Tapi secara dampak tentu gerakan palm oil free ini bisa sangat serius bagi masa depan industri minyak sawit di Indonesia dan Malaysia. Jadi kalau sekarang mungkin pemerintah kita merasa cukup banyak untung dari membuka lahan sawit. Suatu hari nanti ya enggak ada lagi yang beli alias customernya udah mulai sadar bahwa minyak sawit itu enggak sehat ya kan. Membabat hutan alias deforestasi. Nah, terus juga membunuh hewan-hewan yang mana rumah mereka diganti dengan lahan sawit. Nah, pelan-pelan nanti pengusaha-pengusaha sawit ya akan berpikir dua kali untuk membuka lahan seluas-luasnya kalau sudah tidak ada yang membeli. Karena kan kalau kita lihat ya di video-video TikTok atau di video-video viral gitu, orang-orang sering menggunakan istilah orang berduit itu dengan kata tok sawit. Wah, joget-joget naik mobil Fortuner atau mobil Pajero. Ya, itu karena di saat panen harga sawitnya tinggi, mahal. Tapi ketika harga sawit murah, jarang sekali mereka membuat video joget-joget. Nah, bayangkan kalau suatu hari kebutuhan untuk sawit tidak sebesar saat ini. Alias bukan cuma murah harganya, tapi juga customernya semakin lama semakin menghilang. Apakah masih bisa berjoget? Ya tentu tidak, tapi ya deforestasi sudah terjadi, hutan sudah dibabat, habitat alami, hewan-hewan sudah hancur, apa boleh buat? Mau dikembalikan? Ya, itu enggak mudah, bisa berpuluh-puluh tahun lamanya. Nah, jadi itu dia, Geng ya pembahasan kita kali ini mengenai bagaimana awal mula sawit menjadi komoditas di Indonesia dan kenapa ada kampanye anti sawit di negara-negara barat yang mana mereka tuh anti banget dengan sawit saat ini. Nah, dan dari faktanya ternyata sawit tiba di Indonesia itu dibawa oleh para bule-bule dari masa kolonial dulu. Jadi, bukan komoditi yang memang berasal dari negara kita, tapi merupakan komoditi yang dibawa dari Afrika sana. Gimana, Geng, menurut kalian tentang pembahasan kali ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.