Transcript
9YVtZ_XGq1k • WHY IS PALM OIL HATED BY EUROPE BUT LOVED BY INDONESIA? THIS IS HISTORY...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1636_9YVtZ_XGq1k.txt
Kind: captions
Language: id
Nah, jadi geng pertama kali ya sawit
masuk ke Indonesia itu pada tahun 1848
di masa pemerintahan kolonial Belanda.
Mereka yang bawa di saat itu. Penanaman
sawit ini pertama kali dilakukan di
Kebun Raya Bogor, Geng.
Geng, mungkin pembahasan kita kali ini
akan terasa agak sedikit kontroversial.
Tapi jujur aja gua di sini tidak ingin
menyudutkan pihak manaun, tidak ingin
menjelek-jelekkan siapapun apalagi
sampai melanggar peraturan YouTube dan
juga melanggar hukum di negara kita
Indonesia. Tapi tujuan gua membahas ini
adalah sebuah bentuk informasi yang
semoga bisa menjadi edukasi untuk kita
semua. Pembahasan kita kali ini mengenai
kelapa sawit ya. yang mana kita tahu ya
kelapa sawit adalah salah satu bahan
paling banyak digunakan di dunia dan
Indonesia adalah salah satu penghasil
terbesarnya. Bahan ini ya ada di makanan
seperti coklat, biskuit, mie instan,
margarin, sampai produk makanan
sehari-hari. Bahkan di shampo ada, sabun
ada, kosmetik ada. Makanya ketika banyak
orang yang meneriakan anti kelapa sawit
ya ikut serta ada pula yang mengkritik
narasi itu. Sebab ya hampir semua produk
yang kita gunakan setiap hari pasti di
antara bahan-bahannya mengandung kelapa
sawit, Geng. Sehingga hampir tidak
mungkin benda-benda di saat ini atau
produk-produk di saat ini ya itu tidak
menggunakan kelapa sawit sama sekali.
Memang agak apa ya agak miris juga ya.
kayak aduh ironi banget gitu. Kelapa
sawit ini sekarang menjadi momok
tersendiri gitu ya. Apalagi setelah
kejadian banjir kemarin di Sumatera.
Tapi yang menariknya di banyak negara
barat ya, kelapa sawit ini justru sering
dihindari oleh orang-orang bule. Ya,
sesuai dengan judul dari video ini dan
thumbnail-nya
secara terang-terangan ya, para bule ini
tidak mau membeli produk-produk yang
mengandung kelapa sawit. Dan secara
terang-terangan produk yang mereka
gunakan itu mencantumkan label palm oil
free alias bebas dari minyak kelapa
sawit pada kemasan produk di negara
mereka. Nah, hal ini jadi menimbulkan
tanda tanya besar terutama bagi negara
kita. Seperti yang gua katakan
sebelumnya, Indonesia ini adalah
produsen kelapa sawit nomor satu di
dunia dengan jutaan hektar perkebunan
dan jutaan orang yang bergantung pada
industri ini. Jika negara-negara barat
menghindari penggunaan kelapa sawit
dalam produk-produk yang dijual di
negara tersebut, di negara mereka gitu
ya, dengan menyertakan label palm oil
free, tentunya ini bakal berdampak buruk
bagi keberlangsungan komoditas kelapa
sawit di negara penghasilnya yaitu
negara kita. Terlebih lagi karena
Indonesia adalah produsen kelapa sawit
nomor satu di dunia, tapi kita enggak
akan membahas mengenai regulasi dari
pemerintah kita atau segala macamnya.
Tapi justru di video kali ini gua bakal
berfokus untuk mengajak kalian bagaimana
negara kita bisa memiliki komoditas
sawit terbesar di dunia. Terus apakah
sawit ini adalah tanaman yang tumbuh
asli di Indonesia atau bagaimana? Terus
juga kita bakal membahas mengapa di
negara barat atau negara parle gitu ya,
justru mereka ini menjauhi dan benci
sekali dengan keberadaan kelapa sawit.
Nah, untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut langsung
aja kita bahas nih, Geng, secara lengkap
seputar tentang pengetahuan soal kelapa
sawit ini. Halo, Geng. Welcome back to
Kamar Jerry. [musik]
[musik]
Genggeng
geng. Sebelum kita lanjut ke
pembahasannya, seperti biasa gua bakal
menginformasikan kepada kalian
barang-barang yang sangat berguna untuk
kalian yang pastinya harganya ekonomis
tapi kualitasnya sadis. Bagus banget.
Buat yang mau berpenampilan premium
look, kalian harus banget punya celana
bahan dari Dego ini. Ini merupakan
celana bahan slim fit polos panjang yang
membuat penampilan kalian jadi lebih
eksklusif, berwibawa. Otomatis kalian
terlihat sangat rapi. Cocok untuk kalian
gunakan harian atau di acara-acara
formal. Nah, itu dia, Geng. Jangan lupa
check out, ya. Udah ada linknya di
bawah. Oke, sekarang kita lanjut ke
pembahasannya.
Untuk pembahasan yang pertama, kita
langsung mulai dengan pembahasan awal
mula kelapa sawit menjadi komoditas di
[musik] Indonesia. Kapan awal mulanya?
Kita bahas.
Jadi, geng, kelapa sawit ini sudah sejak
lama menjadi bahan makanan utama di
wilayah Afrika Barat mulai dari Senin
hingga Angola. Nah, awalnya tuh dari
Afrika Barat dulu. Minyak sawit ini
mulai masuk ke perekonomian global itu
tepat pada abad ke-16 dibawa oleh
kapal-kapal yang terlibat di dalam
perdagangan budak lintas Atlantik, Geng.
Di saat itu, selama perjalanan laut
melintasi samudra Atlantik yang dikenal
sebagai middle passage itu, minyak sawit
dianggap sebagai makanan penting karena
membantu para tawanan ya, para apa?
budak-budak yang dibawa di saat itu
tetap hidup selama perjalanan tersebut.
Para pedagang budak ini mengoleskan
minyak sawit ke kulit para tawanan
supaya mereka terlihat lebih halus,
sehat, dan kelihatan lebih muda sebelum
bisa dijual ke tempat pelelangan. Pada
pertengahan abad ke-17, orang-orang
Eropa juga mulai menggunakan minyak
kelapa sawit ini untuk kulit mereka
sendiri, ya. Karena berkaca dari para
budak tadi yang dijaga terawat kulitnya
sehat karena dioleskan minyak kelapa
sawit. Nah, terus ada seorang penulis
Eropa yang belajar praktik pengobatan
tradisional di Afrika. Dia mengklaim
bahwa minyak kelapa sawit itu bisa
menyembuhkan memar dan cedera pada
tubuh. Nah, singkat cerita menjelang
akhir abad ke-18, para pengusaha Inggris
itu mulai menambahkan minyak sawit ke
dalam sabun karena warnanya yang
kemerahan agak orange serta aromanya
yang dianggap mirip seperti bunga
violet. Setelah Inggris menghapus
perdagangan budak pada tahun 1807,
ya, para pedagang yang tadinya
memperdagangkan budak ini yang pada saat
itu memperdagangkan manusia alias budak
ini adalah sebuah tindakan legal ya.
Mulailah setelah dihapusnya perdagangan
budak, mereka itu beralih ke produk lain
untuk bisa diperdagangkan. Di beberapa
dekade berikutnya, Inggris itu
menurunkan pajak impor minyak sawit dan
mendorong negara-negara Afrika untuk
fokus memproduksi minyak sawit. Karena
kan mereka ini udah enggak diperbudak
lagi nih, udah enggak diperjual belikan
sebagai manusia. Nah, mereka itu
difokuskanlah tanam sawit
sebanyak-banyaknya, fokus di sana. Untuk
apa? Ya, untuk kesejahteraan orang
Inggris. Nah, memang perbudakan udah
enggak berlanjut. Tapi secara tidak
langsung orang-orang di Afrika sana
diminta untuk memproduksi sawit
sebanyak-banyaknya untuk Inggris. Ya
tetap ajaalah ya lingkarannya masih
perbudakan tapi beda konteks saja gitu.
Terus pada tahun 1840 minyak sawit ini
udah cukup murah geng sehingga bisa
sepenuhnya menggantikan lemak hewan atau
minyak ikan paus di dalam produk seperti
sabun dan lilin. Nah, jadi makanya kalau
kalian pernah dengar nih, Geng, ya. E
beberapa sabun itu dibuat pakai lemak
babi ya kan atau minyak ikan. Nah zaman
dulu memang benar pakai lemak hewan dan
minyak ikan paus. Tapi semenjak mengenal
sawit mereka mengganti semua lemaknya
dengan lemak dari buah sawit. Dikatakan
juga ya kenapa orang-orang Eropa mulai
memperdagangkan kelapa sawit di saat itu
dikarenakan revolusi industri yang
terjadi pada tahun 1750 sampai 1850
yang mana ini mendorong terjadinya
lonjakan permintaan terhadap minyak.
Awalnya orang-orang Eropa tidak begitu
tertarik dengan kelapa sawit, Geng.
Karena mereka lebih mengenal minyak
kelapa, minyak kopra ya, kelapa biasa
terus disuling jadi minyak. Tapi karena
lonjakan permintaan minyak tadi,
akhirnya mereka mencari alternatif
selain minyak kelapa. karena ya
kebutuhannya enggak tercukupi. Kemudian
mereka mendapatkan minyak versi lain
dari kelapa sawit. Di waktu itu karena
penggunaan minyak kelapa sawit masih
jarang digunakan apalagi karena proses
distribusinya karena harus mengambil
dari Afrika dulu. Karena dulu enggak ada
yang tanam sawit kecuali Afrika. Tapi
karena semakin umum digunakan anggapan
sawit sebagai barang mewah pun mulai
hilang. Jadi yang tadinya cuma ada di
Afrika, udah gitu bijinya mulai dibawa
ke banyak negara, ditanam di beberapa
negara ya bisa dianggap tuh sawit itu
udah enggak spesial. Ini ibaratnya tahu
enggak, Geng? Ya, kayak andaikan, ya
minyak bumi di Arab sana bisa
dipindahkan atau ditanam untuk
dihasilkan di banyak negara, kayaknya ya
minyak bumi juga enggak akan semahal
sekarang. Nah, sawit ya dulu mahal
banget, barang mewah. hanya ada di
Afrika. Tapi karena bisa ditanam,
berkembang biak dia tumbuh dia di daerah
lain, akhirnya hilang kesan mewahnya.
Karena banyak negara di saat itu sudah
mulai memproduksi sawit. Para eksportir
membuat minyak sawit jadi lebih murah
dengan cara-cara seperti membiarkan buah
sawit terfermentasi dan melembek,
melempem, tapi hasilnya membuat sawit
jadi tengik alias bau. Hal tersebut
membuat orang-orang Eropa menggunakan
proses kimia baru untuk menghilangkan
bau serta warna yang tidak sedap.
hasilnya bisa membuat minyak sawit yang
rasanya hambar, enggak ada rasa apapun,
akhirnya bisa menggantikan lemak dan
minyak lain yang berasal dari hewan tadi
atau ya berasal dari kelapa yang
harganya lebih mahal tapi dengan sawit
itu bisa jadi lebih murah.
Menjelang tahun 1900-an ya, dunia mulai
punya industri makanan modern yang mana
industri ini membutuhkan banyak minyak
dan lemak sebagai bahan baku. Salah satu
produk terbarunya adalah margarin. Alias
apa ya? Kalau orang-orang yang e udah
terbiasa bilangnya BlueBand, BlueBand.
Padahal BlueBand itu merek ya. Gua
enggak di-endorse di sini tapi gua
sebutin aja gitu ya. Ya, sama halnya
dengan produk-produk lain di saat mereka
yang menjadi pionir atau pertama kali
muncul. Contoh air mineral, semua orang
pasti familiarnya Aqua gitu. Bahkan
brand-brand lain pun disebut, "Kak, ada
Aqua ya kan? Nah, begitulah dengan
margarin ini. Nah, margarin diciptakan
sebagai mentega versi murah tuh biar
kalian tahu tuh. Buat yang belum tahu,
mentega itu dibuat dari lemak hewani
seperti susu sapi yang harganya lebih
mahal. Nah, itu awalnya mentega tuh,
Geng, ya. Nah, sementara margarin itu
berasal dari minyak sawit yang lebih
murah. Tujuannya agar bisa dikonsumsi
oleh kelas-kelas bawah alias kelas
pekerja di saat itu. Dan karena margarin
ini diproduksi massal sehingga
membutuhkan banyak minyak sawit dan
lemak sawit tadi. Dan margarin sendiri
sebenarnya diciptakan pada tahun 1869
oleh seorang ahli kimia Prancis.
Henry Bradley, [musik] seorang ahli
kimia asal Binghampton, New York.
mencatat sejarah dengan mematenkan
margarin yang [musik] ia sebut sebagai
campuran untuk urusan dapur.
Awalnya minyak sawit ini hanya digunakan
untuk memberikan warna kuning pada
margarin. Namun kemudian diketahui kalau
minyak sawit sangat cocok sebagai bahan
utamanya karena bisa tetap padat pada
suhu ruangan dan meleleh ketika
dimasukkan ke mulut sehingga mirip
seperti mentega. Nah, ini beda nih ya.
Mentega, margarin tuh beda. Terkadang
ada yang salah kaprah nih nyebut
margarin mentega, nyebut mentega
margarin gitu. Nah, itu berbeda. Mentega
ini yang dari hewan margarin itu dari
minyak ee nabati, minyak sawit. Di saat
itu para pengusaha besar margarin serta
sabun ya sabun mandi itu kemudian
mencari pasokan minyak sawit yang lebih
besar dan lebih segar dari koloni-koloni
Eropa di Afrika. Tapi geng, banyak
komunitas di Afrika yang menolak
memberikan lahan mereka kepada
perusahaan asing. Karena produksi minyak
sawit secara tradisional masih
menguntungkan buat mereka. Jadi mereka
itu dulu menguasai ya lahan mereka
sendiri, kayak memproduksi minyak sawit
mereka sendiri perorangan gitu. Nah,
mereka enggak mau ngasih lahan mereka
kepada perusahaan asing yang mungkin mau
ngeborong, mau beli tanah mereka dengan
mahal, mau membeli hasil produk sawit
mereka dengan mahal, ya mereka enggak
mau. Nah, akibatnya produsen minyak
sawit milik pemerintah kolonial di saat
itu mulai menggunakan paksaan dan
kekerasan langsung untuk mendapatkan
tenaga kerja. Ya biasalah ya pemerintah
ya kalau udah ditolak sama rakyatnya
pakainya kekerasan. Akibat karena
membutuhkan banyak effort untuk
mengelola sawit di Afrika, jadilah
orang-orang Eropa mulai mencari lahan
baru, yaitu ke bagian Asia Tenggara
termasuk salah satunya ke Indonesia.
Jadi, karena orang Eropa ini ngelihat
sawit di Afrika itu ya udah sulit nih,
kurang ya. Maksudnya bukan berarti di
Afrika itu sawitnya itu enggak bagus,
tapi melainkan kurang banyak. Barulah
mereka ekspansi ke luar negara mereka,
ke luar Afrika yaitu ke Asia Tenggara
termasuk negara kita.
Nah, gua rasa gua enggak perlu
menceritakan mm negara Asia Tenggara
lain. Kayaknya ada baiknya kita langsung
masuk ke dalam pembahasan ketika sawit
ini masuk ke Indonesia gitu, Geng, ya.
Nah, jadi, Geng, pertama kali ya sawit
masuk ke Indonesia itu pada tahun 1848
di masa pemerintahan kolonial Belanda.
Mereka yang bawa di saat itu. Penanaman
sawit ini pertama kali dilakukan di
Kebun Raya Bogor, Geng. Dan di tahun
tersebut pemerintah kolonial Belanda
sempat membawa empat batang bibit kelapa
sawit ke Indonesia. Dua bibit berasal
dari Borbon asal Mauritius. Dua lainnya
itu dari Hortus Botanicus asal
Amsterdam. Sampai saat sekarang ini, dua
dari empat pohon tersebut masih hidup
loh, Geng. Dan diyakini sebagai nenek
moyang kelapa sawit di Asia Tenggara.
Bukan cuma Indonesia, tapi Asia Tenggara
itu berasal dari negara kita yang dibawa
oleh Belanda. Pada fase ini, kelapa
sawit itu belum ditujukan untuk kegiatan
ekonomi. Cuma dibudidayakan sebagai
tanaman hias di saat itu dan koleksi
ilmiah aja seiring status kebun raya
Bogor sebagai pusat penelitian botani
tropis. Jadi belum ada orientasi
produksi atau ekspor pada periode
tersebut. Tapi geng ya pada tahun 1904
kelapa sawit mulai ditanam di daerah
daily Sumatera Timur. Nah mungkin kalian
agak bingung ya, Deli Sumatera Timur
bukannya itu Sumatera Utara gitu kan.
Nah, jadi ini adalah timurnya dari
Sumatera Utara alias timurnya dari Kota
Medan. Di saat itulah ya semenjak
pertama kali dikenalkan di Indonesia di
daerah daily tadi ya, sawit berkembang
menjadi komoditas skala komersial. Di
informasi lain dikatakan kelapa sawit
mulai dibudidayakan secara komersial
pada tahun 1911. Tokoh penting dalam
fase komersialisasi ini adalah Edrin
Hellet, yaitu seorang pria berkebangsaan
Belgia yang menjadi pelopor perkebunan
kelapa sawit modern di Indonesia. Kalau
kalian lihat cara menanam sawit kayak
sekarang itu ya bisa pohonnya
jarang-jarang, rapi gitu ya dan
berhektar-hektar. Nah, itu gara-gara si
Edrin Het tadi. Budidaya kelapa sawit
itu kemudian dikembangkan lebih lanjut,
Geng, oleh orang yang bernama K Skat.
Sehingga ini menandai lahirnya industri
perkebunan kelapa sawit untuk pertama
kali di Indonesia. Dan selain daily tadi
dikatakan lokasi awal pengembangan
kelapa sawit itu juga dilakukan di
sebagian besar daerah Aceh dengan total
luas perkebunan di Deli dan Aceh
mencapai 5.123 hektar. Jadi dari sini
sudah paham ya, enggak usah bingung
kenapa yang dilanda banjir yang sangat
besar ya daerah itu tadi Aceh dan
Sumatera Utara. Indonesia di saat itu
mulai mengekspor kelapa sawit dari hasil
perkebunan sawit di Indonesia itu pada
tahun 1919.
Awalnya itu sebanyak 576 ton. Disusul
ekspor minyak inti sawit atau PKO pada
tahun 1923 sebesar 850 ton. Gimana
enggak menggiurkan tuh? Menjelang Perang
Dunia Kedua, Indonesia bahkan dinobatkan
menjadi salah satu eksportir utama
minyak sawit dunia yang mampu menyaingi
negara-negara Afrika Barat sebagai
daerah asal atau awal mula di mana sawit
itu tumbuh. Afrika jadi kalah sama
Indonesia. Nah, pada masa pendudukan
Jepang itu terjadi kemunduran ya. Kalau
yang sebelumnya itu kayak sawitnya maju
banget ya karena kita masih dijajah
Belanda. Orang Eropa di saat itu masih
senang gitu menggunakan sawit. Ketika
pendudukan atas Indonesia sudah mulai
dikuasai Jepang, terjadi kemunduran yang
membawa dampak besar terhadap perkebunan
kelapa sawit. Di masa itu, luas
perkebunan sawit menyusut, Geng, sampai
16% dan produksinya turun drastis. Kalau
pada tahun 1940, Indonesia bisa
mengekspor sekitar 250.000 ton minyak
sawit pada periode 1948 sampai 1949,
produknya cuma mencapai 56.000 ton. Dan
setelah Jepang serta Belanda
meninggalkan Indonesia pada tahun 1957,
pemerintah Indonesia mulai mengambil
alih semua perkebunan sawit yang tadinya
tuh di bawah penjajahan dengan alasan
politik dan keamanan untuk menjaga
operasional. Ya, pemerintah kemudian
menempatkan perwira militer di berbagai
jenjang manajemen dan membentuk yang
namanya bumil, yaitu sebuah singkatan
dari buruh militer. Cuma di saat itu
perubahan manajemen yang mendadak
ditambah dengan kondisi sosial serta
politik yang belum stabil itu
menyebabkan produktivitas sawit di
Indonesia menjadi lebih menurun geng.
Pada masa ini posisi Indonesia sebagai
pemasuk utama kelapa sawit itu ya
menjadi tergeser oleh negara tetangga
kita, Malaysia.
Singkat cerita, berlanjut kepada masa
Orde Baru ya, di bawah kepemimpinan Pak
Harto. Di masa itu arah pembangunan
perkebunan berubah menjadi signifikan.
Pemerintah itu menempatkan kelapa sawit
sebagai instrumen pembangunan ekonomi
dengan tujuan menciptakan lapangan
kerja, meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, serta menghasilkan devisa
negara. Nah, pembukaan lahan baru juga
didorong secara masif hingga tahun 1980
dan luas perkebunan sawit itu mencapai
294.560
hektar dengan produksi 721.172
ton CPO. Nah, program perusahaan Inti
Rakyat perkebunan atau PIRBUN menjadikan
kebijakan penting yang mendorong
keterlibatan petani kecil atau
perkebunan rakyat. Dan sejak tahun 1979
nih, Geng, perkebunan rakyat mulai
berkembang. Ya, berbeda dengan periode
sebelumnya yang cuma didominasi oleh
perkebunan pasar. Dan hingga tahun 1993
luas perkebunan sawit nasional itu
meningkat pesat hingga 1,62
juta hektar yang tersebar di berbagai
provinsi di Sumatera, Kalimantan, dan
wilayah lain. Sesuai dengan model
pembangunan pada masa Orde Baru,
pemerintah mendorong ekspor untuk
meningkatkan ekonomi nasional dengan
mengandalkan sektor perkebunan. Dan
untuk mendukung hal itu, pemerintah
memberikan berbagai kemudahan kepada
perusahaan seperti akses kredit untuk
membuka lahan yang baru dan membangun
perkebunan. Jadi jangan heran ya, Geng,
kenapa kebun sawit di Indonesia makin
luas. Karena ya
modal usahanya dipermudah gitu. Di bawah
pemerintahan Orde Baru, perkebunan
negara terus memperluas operasi dan
disediakan secara terorganisir oleh
negara melalui skema transmigrasi. Jadi
kalau kalian bertanya kok di Lampung
banyak orang Jawa, di Aceh juga ada yang
disebut dengan Jawa Trans. Ya, di
daerah-daerah lain, di kota lain itu
banyak juga orang Jawa yang tersebar.
Nah, itulah skema transmigrasi yang
dicanangkan oleh Pak Soeharto di saat
itu. Yang mana di Pulau Jawa penduduknya
semakin padat, lapangan pekerjaan
semakin minim, nah disebarkanlah para
transmigran ini ke banyak kota sehingga
mereka bisa beradaptasi dan mereka bisa
bercocok tanam. Ya, kalian lihat aja
sawah-sawah orang Jawa yang ada di
Lampung bagus-bagus banget. Di saat itu
ya, Geng, pemerintah memberikan konsesi
yang sangat luas kepada konglomerat
domestik yang terlibat di dalam industri
pembelakan, Geng.
Keberadaan industri minyak sawit di
Indonesia itu enggak terlepas dari
keberadaan industri sawit di Malaysia.
Sebab industri sawit itu berkembang dan
menjadi bagian terpenting dari strategi
pembangunan nasional Malaysia pada
dekade 1970-an dan 1980-an. Nah,
industri perkebunan sawit di Malaysia
itu memainkan peran utama dalam
kebijakan ekonomi yang dikoordinasikan
oleh negara lewat pengambil alihan
perusahaan perkebunan swasta Inggris
yaitu Grup Sim Derby pada tahun 1976,
terus ada Gutri pada tahun 1981 dan ada
Harrisons and Crossfield pada tahun
1982. Di era tahun 1990-an, Agribisnis
dianggap sebagai keajaiban ekonomi di
masa mendatang. sektor tersebut ya
menyumbang sekitar 38% per tahun untuk
PDB negara, Geng. Nah, anggapan awal
yang menganggap kalau bertani untuk
memenuhi kebutuhan hidup berubah menjadi
bertani untuk bisnis. Hal itulah yang
mendorong pemerintah Indonesia,
Malaysia, dan Singapura untuk
berinvestasi secara masif di perkebunan
sawit aja. Dan pada pertengahan tahun
1990-an, perusahaan-perusahaan
tradisional di industri sawit masuk
dengan menanamkan modal tiga kali lebih
besar rantai produksi global, serta
melakukan perluasan geografis perkebunan
sawit dari Malaysia ke Indonesia. Geng,
industri sawit itu dipilih sebagai
bagian dari implementasi liberasi ee
ekonomi di Indonesia di saat itu karena
beberapa alasan juga. Pertama, industri
ini memberikan sumbangan sekitar 5%
pendapatan e per kapita Indonesia per
tahunnya. Terus yang kedua, minyak sawit
menjadi sumber penting pertukaran valuta
asing. Di mana pendapatan dari ekspor
minyak sawit Indonesia di pasar
internasional itu lebih tinggi 77%
dibandingkan harga domestik. Terus yang
ketiga, pemerintah Indonesia menganggap
minyak sawit sebagai wadah bagi
pembangunan sosial dan ekonomi di
pedesaan yang digadang-gadang akan mampu
menyerap 20 juta tenaga kerja. Gila,
lebih tinggi dari Wapres Gibran ya.
Kalau dia kan 19 juta yang dia janjikan.
Ekspansi perkebunan sawit tradisional
semakin cepat jadinya sejalan dengan
krisis keuangan di Asia pada akhir tahun
1990-an,
organisasi seperti IMF dan Leader of
Inten atau disingkat dengan LOY itu
sampai memberikan paket bagi Indonesia
untuk melakukan liberalisasi investasi
asing di sektor minyak sawit. Nah,
karena itulah banyak datang perusahaan
asal Malaysia saat itu untuk membeli
perusahaan-perusahaan perkebunan sawit.
nasional yang terancam bangkrut dan
masuk ke dalam Daftar Badan Penyehatan
Perbankan Nasional atau BPPN. [musik]
Sejak tahun 1998 itu tercatat sebanyak
45 investor sawit Malaysia yang masuk
bermitra dengan pebisnis Indonesia untuk
membuka 1,3 juta hektar lahan melalui
usaha join venture dan merger. Nah,
periode modern dari tahun 2000-an sampai
2023 dari data BPSRI terkait statistik
kelapa sawit di Indonesia, luas
perkebunan sawit terus berkembang, Geng,
sampai memasuki era modern. Pada tahun
2018, luas perkebunannya cuma 14,33 juta
hektar. Pada tahun 2023 itu meningkat
menjadi 15,93
juta hektar. Perkebunan kelapa sawit
saat ini tersebar di 26 provinsi
meliputi seluruh Sumatera dan Kalimantan
serta sebagian Pulau Jawa. Sulawesi,
Maluku, dan Papua, Geng. Nah, Provinsi
Riau menjadi produsen terbesar dengan
luas 3,40 juta hektar dan produksi 9,22
juta ton CPO pada tahun 2023. Struktur
pengelolaan perkebunan sawit modern
didominasi oleh perkebunan besar swasta
yaitu ada sebanyak 54,08%.
Kemudian baru disusul oleh perkebunan
rakyat biasa sebesar 42,29%
dan perkebunan besar negara. Nah, jadi
gitu, Geng. Kurang lebih. Tapi Geng,
walaupun dari tadi penjelasan gua itu
sebenarnya ya kita tahu ya kalau minyak
sawit itu bukanlah tanaman yang berasal
dari negara kita ya. ya, asalnya dari
Afrika dan industri sawit Indonesia juga
diinisiasikan oleh orang-orang Barat di
masa kolonial. Namun sekarang justru di
negara-negara barat sudah mulai
mengkampanyekan anti sawit yang mana itu
bisa dilihat dari label di produk-produk
yang dijual di negara mereka. Sekarang
gua bakal ajak kalian masuk ke dalam
pembahasan mengenai negara barat yang
saat ini menghindari penggunaan minyak
sawit dan mereka benci banget sama
minyak sawit. kita bahas.
Kalau kalian pernah berkunjung atau
liburan ke negara-negara barat seperti
Amerika atau Eropa nih, Geng, ya. Ketika
kalian belanja di supermarketnya, bakal
banyak tuh produk-produk yang
mencantumkan label palm oil free atau no
palm oil dalam produk makanan sampai
produk kebutuhan sehari-hari kayak
shampo dan juga sabun. Nah, salah satu
contohnya ya ketika C. Golden Royal
selaku Menteri Ekologi Prancis yang mana
pada tanggal 17 Juni 2015 dia sempat
mengajak masyarakat untuk tidak
mengkonsumsi produk coklat Nutella.
Alasannya Nutella ternyata mengandung
minyak sawit.
Nutella par exemple parce que ça c'est
l'huile de palme.
Ben oui mais il faut pas. Voilà parce
que c'est l'huile de palme qui a
remplacé les arbres et donc il y a eu
des dégâts considér faire couler toute
une boîte en disant faut pas manger de
nut.
Nah, kenapa sekarang kondisinya malah
berbalik? Bukannya negara-negara barat
nih yang dulunya justru memperkenalkan
sawit menjadi suatu komoditas dibawa
sampai ke negara kita Indonesia. Nah,
ternyata seiring dengan majunya
pengetahuan manusia tentang kelestarian
alam, negara barat saat ini sudah paham
kalau menanam sawit justru merusak
lingkungan. Kurang lebih ada lima alasan
mengapa saat ini justru negara barat
yang menghindari dan menjauh dari sawit.
Penggunaan sawit sudah sama sekali
mereka tinggalkan di dalam produk-produk
mereka. Pertama nih, minyak kelapa sawit
memberikan kontribusi besar terhadap
deforestasi.
Mereka sudah sadar dari lama. Sementara
di negara kita ya sawit masih sangat
manis. Sebuah bisnis yang benar-benar ee
menggiurkan. Di tahun 2009 hampir 30%
emisi karbon yang dilaporkan di
Indonesia ternyata diakibatkan oleh
deforestasi.
Diklaim jika setiap jamnya area seluas
300 lapangan sepak bola di Indonesia dan
juga Malaysia tetangga kita dijadikan
perkebunan kelapa sawit. Terus yang
kedua, minyak sawit mendorong kepunahan
orang hutan di negara kita. Para ilmuwan
memperkirakan bahwa populasi orang utan
bisa punah kalau industri sawit di
negara ini terus menghancurkan rumah dan
habitat alami mereka. Di dalam 10 tahun
terakhir, populasi orang utan di
Sumatera dan Kalimantan sudah menurun
lebih dari 20.000 ekor. Penurunan ini
bertepatan dengan meningkatnya
permintaan minyak sawit di Amerika. Jadi
Amerika itu ada yang masih mengkonsumsi
minyak sawit. Nah, asal muasalnya tuh di
negara kita. Lalu yang ketiga, minyak
sawit juga mendorong spesies e langka
yang lain menuju ke purahan. Spesies
lainnya itu adalah harimau yang hanya
tersisa 400 ekor di Pulau Sumatera.
Badak Sumatera juga semakin berkurang
dengan jumlah populasi yang kurang dari
200 ekor. Keempat, ya industri minyak
sawit diwarnai dengan pelanggaran HAM
karena di antara 3,7 juta orang yang
bekerja di industri minyak kelapa sawit,
ribuan di antaranya adalah pekerja anak
yang dipaksa bekerja alias di bawah
umur. Dan yang terakhir ya, kenapa
mereka tidak lagi menggunakan sawit?
Karena minyak sawit tidak baik untuk
kesehatan sebab sangat tinggi lemak
jenuhnya. Nah, mulai dari sinilah banyak
pihak yang mulai mengkampanyekan
antiawit. Kampanye anti sawit ini
sendiri sudah ada sejak tahun 1980
ketika Indonesia sedang mengembangkan
perkebunan kelapa sawit dengan pola
perkebunan inti rakyat. Namun, kampanye
anti sawit global semakin intensif sejak
tahun 2006 ketika Indonesia berhasil
menjadi produsen terbesar minyak sawit
dunia. Dan pada saat yang sama minyak
sawit juga akhirnya menggeser dominasi
minyak kedelai dalam pasar minyak nabati
dunia. Tema kampanye anti sawit yang
diusung oleh LSM juga bergeser dari isu
gizi atau kesehatan sebelum tahun 2006
ke isu lingkungan setelah tahun 2006
karena dianggap pembabatan hutan untuk
membuka lahan sawit itu memberikan emisi
gas rumah kaca yang sangat besar bagi
bumi. Namun geng, informasi yang gua
ambil dari website GAPKI itu menyebutkan
kalau dalam jurnal monitor paspi justru
membuktikan bahwa hubungan emisi gas
rumah kaca dengan minyak sawit justru
tidak memiliki dasar. Karena industri
minyak sawit bahkan di Indonesia
bukanlah penghasil emisi gas rumah kaca
terbesar di dunia. Dari website ini
dikatakan pengemisi gas rumah kaca
terbesar di dunia justru adalah
negara-negara barat yaitu Eropa dan
Amerika. yang mana itu artinya ada
dugaan jika kampanye anti sawit ini
adalah sebuah narasi karena terjadinya
persaingan global antara minyak sawit
dengan minyak nabati khususnya minyak
kedelai yang menggunakan isu lingkungan
agar memperoleh dukungan dari masyarakat
global dengan memberikan isu kalau
kelapa sawit merusak lingkungan, Geng.
Tekanan dari LSM inilah yang pada
akhirnya membuat negara-negara barat
terkhususnya di Eropa itu menerapkan
regulasi untuk menyertakan produk-produk
mereka dengan label yang menunjukkan
kalau produk tersebut tidak mengandung
minyak sawit. Regulasi ini diberlakukan
sejak bulan Desember 2014. Tekanan
terhadap produsen pangan dan non pangan
semakin intensif dengan memaksa
pencantuman label palem oil free atau
POF pada setiap produk yang dihasilkan
yang mana dianggap ini sebagai bagian
dari labelisasi Uni Eropa dan
produk-produk yang diharuskan
mencantumkan label tersebut sangat
banyak dan meluas serta melibatkan
industri multinasional yang beroperasi
hampir di seluruh negara. Setidaknya
nih, Geng, ya, udah ada kurang lebih 224
perusahaan multinasional dengan ribuan
produk pangan dan non pangan global yang
sedang disasar oleh gerakan Palem oil
Free. Dan meskipun terjadi pertentangan
apakah gerakan anti sawit ini murni
dikarenakan isu lingkungan atau adanya
persaingan dengan minyak nabati, ya
sampai saat ini minyak sawit masih
dianggap sebagai suatu bahan yang harus
dihindari oleh orang-orang Barat. Dan
karena itulah penerapan label palm oil
free masih bisa kita temukan di banyak
produk jika kita berkunjung ke
negara-negara barat. Dan sejauh ini
belum ada tindakan dari Indonesia dan
Malaysia sebagai produsen terbesar
minyak sawit di dunia untuk melakukan
langkah-langkah mengatasi hal ini, Geng.
Tapi secara dampak tentu gerakan palm
oil free ini bisa sangat serius bagi
masa depan industri minyak sawit di
Indonesia dan Malaysia. Jadi kalau
sekarang mungkin pemerintah kita merasa
cukup banyak untung dari membuka lahan
sawit. Suatu hari nanti ya enggak ada
lagi yang beli alias customernya udah
mulai sadar bahwa minyak sawit itu
enggak sehat ya kan. Membabat hutan
alias deforestasi. Nah, terus juga
membunuh hewan-hewan yang mana rumah
mereka diganti dengan lahan sawit. Nah,
pelan-pelan nanti pengusaha-pengusaha
sawit ya akan berpikir dua kali untuk
membuka lahan seluas-luasnya kalau sudah
tidak ada yang membeli. Karena kan kalau
kita lihat ya di video-video TikTok atau
di video-video viral gitu, orang-orang
sering menggunakan istilah orang berduit
itu dengan kata tok sawit. Wah,
joget-joget naik mobil Fortuner atau
mobil Pajero. Ya, itu karena di saat
panen harga sawitnya tinggi, mahal. Tapi
ketika harga sawit murah, jarang sekali
mereka membuat video joget-joget. Nah,
bayangkan kalau suatu hari kebutuhan
untuk sawit tidak sebesar saat ini.
Alias bukan cuma murah harganya, tapi
juga customernya semakin lama semakin
menghilang. Apakah masih bisa berjoget?
Ya tentu tidak, tapi ya deforestasi
sudah terjadi, hutan sudah dibabat,
habitat alami, hewan-hewan sudah hancur,
apa boleh buat? Mau dikembalikan? Ya,
itu enggak mudah, bisa berpuluh-puluh
tahun lamanya. Nah, jadi itu dia, Geng
ya pembahasan kita kali ini mengenai
bagaimana awal mula sawit menjadi
komoditas di Indonesia dan kenapa ada
kampanye anti sawit di negara-negara
barat yang mana mereka tuh anti banget
dengan sawit saat ini. Nah, dan dari
faktanya ternyata sawit tiba di
Indonesia itu dibawa oleh para bule-bule
dari masa kolonial dulu. Jadi, bukan
komoditi yang memang berasal dari negara
kita, tapi merupakan komoditi yang
dibawa dari Afrika sana. Gimana, Geng,
menurut kalian tentang pembahasan kali
ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.