WHY ARE BALINESE WOMEN'S LIFE CONSIDERED HARDER THAN MEN'S? DON'T HAVE TIME TO BE A COOLIE?
pqUqvV8e2Ic • 2026-01-03
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Sebelum Made bekerja, dia itu harus menyiapkan makan dulu untuk suami serta anak-anaknya. Ya, peran dia sebagai seorang ibu di dalam rumah tangganya tetap harus dia penuhi. Made bekerja seminggu full, geng, tanpa libur. Made ini dikatakan sudah bekerja di sana selama 3 bulan. Setiap harinya dia bangun jam .30 pagi agar bisa membuatkan makanan untuk suaminya yang juga bekerja sebagai kuli bangunan serta anak-anak mereka. Nah, Made di saat itu bukan satu-satunya kuli bangunan perempuan. Ada kuli bangunan perempuan lainnya yang mana mereka sama-sama tiba di lokasi konstruksi tepat di jam .00 pagi. Oke, Geng. Pembahasan kali ini adalah sebuah pembahasan yang banyak sekali diminta oleh penonton kamar Jerry melalui DM Instagram pribadi gua yang ini. Oke, buat kalian yang mau minta pembahasan tertentu boleh langsung DM aja. Jangan lupa follow juga. Oke. Nah, jadi geng pembahasan kali ini mungkin berkenaan dengan salah satu suku yang ada di Indonesia. Dan sebelumnya gua disclaimer dulu pembahasan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan pihak manapun atau menjelek-jelekkan pihak tertentu. Nah, ini murni sebuah informasi yang semoga bisa menjadi edukasi untuk kita semua. Karena pembahasan ini berhubungan dengan suku Bali, orang-orang Bali, maka gua harap buat kalian yang mungkin lebih paham tentang pembahasan ini, kalau ada kesalahan atau kekhilafan di dalam pembahasan ini, gua harap buat kalian yang lebih mengerti bisa mengkoreksi di kolom komentar. Jadi, geng, berbicara tentang Bali, ya, ini adalah sebuah provinsi yang begitu terkenal hingga mancanegara, salah satu daerah kebanggaan Indonesia. Orang-orang bule mungkin lebih tahu Bali daripada Indonesia. Mereka banyak yang gak tahu kalau Bali ini adalah part dari Indonesia. Nah, kenapa bisa begitu? Ya, karena Bali dengan budayanya itu begitu menarik wisatawan, daerahnya juga bagus, indah, dan ini mungkin tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Dan karena saat ini Bali sudah menjadi destinasi bagi turis mancanegara, hal ini juga menjadi ee sebuah daya tarik tersendiri bagi Bali di mana tradisi dan budaya lokal bisa berbaur dengan modernisasi di sana. Tapi geng, di balik gambaran tersebut ada sesuatu yang mungkin jarang sekali disorot oleh masyarakat, oleh kita semua yang merupakan orang dari luar Bali. yaitu kehidupan dari para wanita Bali, ibu-ibu Bali, perempuan Bali yang pada faktanya dipandang oleh orang-orang mereka menjalani kehidupan yang cukup keras, harus bekerja keras sampai ya beberapa video yang viral di media sosial itu mem-framing bagaimana sekumpulan ibu-ibu bahkan menjadi kuli bangunan. yang mana sebenarnya pekerjaan seperti ini kan identik dengan pekerjaan laki-laki. Nah, tapi tidak dengan yang akan kita bahas ini. Fenomena ini sempat viral dan beberapa kali dibahas oleh para kreator-kreator ya. Kalau kalian lihat ya bukan hal yang aneh ketika kalian menemukan perempuan bekerja sebagai kuli bangunan kalau di Bali. Ketika video-video ini viral, banyak orang yang memberikan opini dan komentar kalau mereka merasa miris dengan nasib para perempuan Bali yang dituntut untuk bekerja lebih keras dan ya rumornya lebih keras daripada kaum laki-laki. Seorang ibu di Denpasar, Bali yang bekerja menjadi juru parkir demi bertahan hidup. Pekerjaan ini rela dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan dan biaya sekolah kedua buah hati. Salah satunya aktivitas buruh junjung atau pengangkut barang di pasar tradisional di Bali atau lebih dikenal dengan tukang sun. Meski terlihat muda, tapi pekerjaan yang umumnya dilakoni kaum perempuan Bali ini membutuhkan tenaga yang kuat demi meningkatkan status ekonomi. Nah, jujur aja ya, Geng. Ini bukan statement gua pribadi, tapi ini merupakan komentar-komentar netizen yang seperti itu. Di dalam pembahasan kali ini, gua itu pengin ngajak kalian untuk mengupas tuntas apakah benar anggapan netizen tersebut sesuai dengan kenyataannya. Benarkah di Bali? Ya, seperti itu kehidupannya. Bahkan ada juga narasi ya yang mengatakan kalau perempuan Bali seolah-olah tidak punya waktu untuk bersantai. Mereka harus bekerja untuk cari nafkah, bekerja untuk membina keluarga, sampai bekerja untuk tradisi, adat dan ibadah. Jadi benar-benar enggak punya space katanya kayak gitu. Nah, ini menarik banget untuk kita bahas karena dari opini-opini yang beredar itu ya kita bisa mencari tahu kebenaran sebenarnya dan di sini juga kita bisa berdiskusi mungkin dengan teman-teman yang berasal dari Bali yang bisa menjelaskan jauh lebih lengkap, jauh lebih tepat mungkin ya di kolom komentar nanti. Oke. Nah, langsung aja nih kita bahas fenomena ini. Halo geng. Welcome back to Kamar Jerry. [musik] [musik] Genggeng geng. Sebelum kita lanjut ke pembahasannya, seperti biasa gua bakal menginformasikan kepada kalian barang-barang yang sangat berguna untuk kalian yang pastinya harganya ekonomis tapi kualitasnya sadis. Bagus banget. Nah, ini merupakan slingbag sandal bernuansa monochrom untuk urban convy look. Warnanya hitam terbuat dari kulit di atasnya dan juga kulit di ins-nya serta rubber di outs-nya. Sendal ini keren banget. Harganya juga afroadable. Enggak mahal tapi berkualitas dan mewah. Mereknya adalah Obermain diperuntukkan untuk pria dengan model Eugin Jovin Black. Buat kalian yang mau beli sandal ini, langsung aja klik link yang ada di bawah. Untuk pembahasan yang pertama, kita bahas dulu tentang rumor yang mengatakan kalau perempuan Bali itu rata-rata bekerja lebih keras daripada perempuan-perempuan dari suku lain di Indonesia. Benarkah demikian? Kita bahas. Di zaman modern seperti ini, tentu kita udah enggak aneh lagi ya ketika melihat perempuan ikut bekerja. Mungkin di zaman dulu perempuan dituntut untuk mengurus pekerjaan rumah tangga. Namun semakin majunya pemikiran manusia mulai muncul. pemikiran tentang kesetaraan di mana perempuan bisa mengenyam pendidikan yang sama dengan laki-laki, bekerja seperti halnya laki-laki. Namun pastinya di bayangan kita tetap aja ada pekerjaan-pekerjaan yang bukan ranahnya perempuan. Yang mana pekerjaan tersebut adalah bagian untuk aktivitas fisik yang berat seperti ya nyupirin mobil, truk misalnya, kuli bangunan misalnya, atau memikul benda-benda yang berat. Nah, tapi fenomena perempuan yang melakukan pekerjaan berat ternyata bukanlah hal yang aneh kalau kalian ke Bali. Dari rumornya beberapa video memperlihatkan ya ini gua tampilkan video-videonya. Nah, dari video itu kalian udah lihat ya, Geng? Ibu-ibu di Bali menjadi kuli bangunan. Bahkan sampai ada yang membawa anak mereka dengan menggendongnya di belakang sembari bekerja. Nah, gua menemukan salah satu artikel dari Vice yang mewawancarai langsung salah satu pekerja perempuan asal Bali tersebut. Namanya disamarkan menjadi Made ya, nama pada umumnya orang Bali gitu ya. Nah, jadi Made ini adalah salah satu kuli bangunan di bangunan konstruksi milik investor asal Singapura. Di saat itu Made bekerja di sebuah camp yang terbuat dari bambu bersama dengan suaminya yang namanya juga disamarkan menjadi Wayan. dan ada anak-anaknya juga di sana. Sebelum Made bekerja, dia itu harus menyiapkan makan dulu untuk suami serta anak-anaknya. Ya, peran dia sebagai seorang ibu di dalam rumah tangganya tetap harus dia penuhi. Made bekerja seminggu full, geng, tanpa libur. Pada saat artikel Vice ini dirilis, Made ini dikatakan sudah bekerja di sana selama 3 bulan. Setiap harinya dia bangun jam .30 pagi agar bisa membuatkan makanan untuk suaminya yang juga bekerja sebagai kuli bangunan serta anak-anak mereka. Nah, Made di saat itu bukan satu-satunya kuli bangunan perempuan. Ada kuli bangunan perempuan lainnya yang mana mereka sama-sama tiba di lokasi konstruksi tepat di jam . pagi. Dan keseharian mereka itu adalah mengaduk semen, menyeret balok baja, dan memalu batang hingga menjadi beton. Mereka melakukan itu semua di tengah terik matahari yang begitu panas. Kalau kalian sudah pernah ke Bali, kalian pahamlah ya gimana panasnya Bali. E karena Bali itu kan termasuk pulau yang dikelilingi oleh laut, oleh pantai. Otomatis itu panas banget di sana. Beban kerja di konstruksi bangunan tersebut dipukul rata. Yang membedakannya hanyalah upah. Kuli bangunan laki-laki bisa membawa pulang sebesar Rp120.000 per hari. Sementara kuli bangunan perempuan dibayar rendah yaitu sebesar Rp80.000. Padahal pekerjaan mereka kalau dilihat sepertinya sama-sama berat dan sama-sama beresiko. Hanya sedikit peraturan yang mencakup keselamatan bagi kuli bangunan. Kasus kecelakaan kerja di lokasi konstruksi pun bukanlah hal yang jarang terjadi. Udah banyak kejadian kecelakaan kerja. Wayan sendiri sebagai sang suami pernah menyaksikan satu temannya meninggal dunia akibat kabel lift yang putus yang membuat temannya tertimpa beton-beton. Wah, seram juga ya. Terus, geng, Made dan Wayan sebagai sepasang suami istri, mereka ini berasal dari daerah Singaraja, daerah yang terletak di pinggiran Bali. Yang menurut artikel Vice di saat itu, ini adalah sebuah wilayah yang dihuni oleh masyarakat Bali yang ekonominya menengah ke bawah. Nah, ini koreksi kalau salah ya, Geng. Karena di sini mohon maaf informasi ini gua dapatkan dari Vice, bukan pernyataan gua pribadi gitu. Gua takutnya nanti ada yang tersinggung gitu ya. Nah, boleh dikoreksi di kolom komentar. Nah, terus dikatakan awalnya Made dan Wayan ini bekerja sebagai buruh tani. Dan namun ya pekerjaan ini bersifat musiman, Geng. Hanya ada saat musim panen yang biasanya berlangsung hanya sekitar 3 sampai 5 bulan. Setelah musim panen selesai, mereka sering menganggur, enggak punya pekerjaan. Nah, karena pekerjaan sebagai buru tani tidak terus-menerus ada dan penghasilannya juga tidak pasti, Madi dan Wayan akhirnya mulai mencari pekerjaan tambahan. Salah satu pilihan yang tersedia adalah bekerja sebagai kuli bangunan untuk mengisi waktu kosong dan agar mereka bisa tetap bertahan mendapatkan upah penghasilan. Seperti yang aku katakan sebelumnya, perempuan-perempuan di Indonesia biasanya jarang bekerja sebagai kuli bangunan ya, Geng. Ya, itu kan pekerjaan yang berat tuh cukup berat. Nah, tapi di Bali nih, Geng, ya. Dikarenakan Bali yang di saat ini sudah menjadi destinasi wisata, kuli bangunan perempuan sudah menjadi hal yang umum ditemui. Menurut Made, jasa konstruksi bangunan memberikan penghasilan yang lebih stabil dan bisa diandalkan dibandingkan bertani. Karena kalau dia kerja sebagai kuli bangunan, dia tahu bakal bawa pulang uangnya berapa. Jadi, nilainya menggiurkan. Nah, sementara menjadi buru tani, uangnya bergantung pada hasil panen beras setiap tahunnya. Kalau banyak ya banyak, kalau sedikit ya sedikit. Jadi bisa dikatakan mengapa banyak perempuan Bali yang akhirnya bekerja sebagai kuli bangunan karena banyaknya investor di sektor properti seperti resort dan juga villa yang semakin menjamur di Bali seiring dengan bertambahnya orang asing yang datang ke sana. Hal inilah yang menjadi ladang pekerjaan baru bagi para perempuan Bali agar bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Terus, Geng, selain menjadi kuli bangunan, para perempuan Bali juga banyak yang berdagang. Dari informasi yang gua dapatkan di artikle The Conversation, ada seorang pedagang perempuan yang bercerita sebelum matahari terbit dia sudah menyiapkan yang namanya Banten atau Sesajen ya dengan sebutan ee masyarakat umum gitu. Nah, ini gunanya adalah untuk ibadah alias sembahyang. Dia enggak cukup mempersiapkan itu aja. Dia lalu memasak sarapan untuk keluarganya juga. Dari pagi hingga sore dia kemudian menjaga kios melayani pembeli dari turis mancanegara. Dan saat sore hari tiba, dia bergegas ke Balai Banjar untuk Ngayah namanya atau kerja baki sosial dan keagamaan. Sebelum malam tiba, dia kembali ke perannya lagi sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu. Nah, jadi ada dua cerita ya. Satu yang jadi kuli bangunan, satu lagi ya mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga. Tapi dia juga bekerja menjaga kios harus terlibat di dalam acara tradisi lokal sekaligus juga ya sembari melayani suami dan anaknya. Nah, dari dua cerita tadi mungkin bisa mewakili seperti apa kehidupan para perempuan di Bali, geng di mana mereka tetap harus bekerja, namun tetap menjalankan perannya di dalam rumah tangga sebagai seorang istri dan ibu. Bahkan menyiapkan ee peralatan atau sesajen untuk sembahyang sebagai rangkaian ibadah keagamaan. Dengan mengandalkan tenaga dan kepiawaian menawarkan jasa, keberadaan para perempuan-perempuan Bali [musik] tangguh ini terus ada. Dan mungkin ini bukanlah hal yang aneh melihat adanya perempuan yang bekerja sebagai kuli bangunan di Bali. Tapi tentunya bagi kita yang dari luar Bali melihat adanya perempuan yang bekerja sekeras itu mungkin agak sedikit syok ya. Bahkan ada yang mengaku miris melihat perempuan dari Bali yang mana di antaranya ya usia yang sudah tidak lagi muda harus bekerja sebagai kuli bangunan, harus juga mengabdi dan ya berperan sebagai ibu rumah tangga di rumah. Nah, tapi kalau kita dengar cerita Made tadi, dia bekerja sebagai kuli bangunan bukan karena suaminya enggak bekerja, bukan karena suaminya pengangguran, tapi ya dikarenakan agar keluarganya bisa tetap makan yang dalam artian dia bekerja itu juga bukan dalam kondisi terpaksa loh, Geng. Jika hanya mengandalkan uang dari suaminya Wayan ya, nah uangnya itu enggak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga besar mereka. Oleh karena itu, Made sebagai seorang istri harus ikut bekerja membantu suaminya demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kelangsungan hidup keluarga. Dan fenomena seperti ini di mana perempuan ya dianggap terpaksa. Ini dianggap ya dianggap terpaksa padahal orangnya belum tentu terpaksa loh. Tapi dianggap terpaksa oleh netizen, oleh masyarakat yang di luar Bali harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi sebenarnya ini bukan sesuatu yang jarang terjadi. Kalau kita berbicara misalkan di luar Bali, di Jakarta misalnya, udah banyak kok perempuan yang pada akhirnya harus bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi ya tetap aja enggak akan ada yang mengambil pekerjaan kuli bangunan seperti perempuan di Bali kalau di Jakarta. Nah, karena itulah banyak konten-konten yang berseleweran di media sosial yang menyebutkan kalau mereka ya sedih, miris ketika melihat perempuan Bali. Mereka menganggap menjadi perempuan Bali itu capek banget. Sudah harus jadi seorang istri, harus jadi ibu. Perempuan Bali juga dituntut untuk tetap mencari nafkah. Yang sebenarnya kalau di daerah lain itu notabandnya adalah pekerjaan laki-laki atau tanggung jawab laki-laki. Nah, jadi dianggap nih kayak pekerjaan berat kayak gitu tuh bukan fitrah seorang perempuan gitu bagi mereka. Sampai ada anggapan kalau laki-laki di Bali itu tidak bekerja sekeras perempuan. Emang benar kayak gitu? Ni mungkin teman-teman dari Bali nih sebagai laki-laki ya khususnya ya. Benar enggak kalian kerjanya itu enggak lebih berat dari perempuan atau sebenarnya sama-sama berat tapi karena kalian laki-laki ya terasa tidak terlalu berat ya kan? Atau gimana nih? Nah jadi geng anggapan ini datang dari netizen yang memberikan rumor kalau laki-laki Bali dianggap lebih santai daripada perempuan. Dan apakah ini dikarenakan masalah ekonomi doang seperti yang dialami oleh Made tadi atau ini memang sudah berakar dari tradisi serta adat yang ada di Bali? Nah, sekarang ya kita coba kupas nih ya kita masuk ke dalam pembahasan mengenai posisi perempuan dalam tradisi Hindu Bali. Kita bahas nih bagaimana posisinya, bagaimana taraf mereka, bagaimana pandangan ee masyarakat terhadap perempuan di Bali. kita bahas. Oke, setelah kalian dengar cerita dari Made dan pedagang perempuan tadi, pasti kalian berpikir, "Capek banget ya jadi perempuan di Bali sepanjang hari mereka sibuk ya, sibuk ngurus keluarga, sibuk kerja sampai sibuk menyiapkan ya bahan-bahan atau benda-benda untuk ritual keagamaan." Rangkaian aktivitas tanpa henti ini bukan sekedar kesibukan, Geng. ini melainkan cerminan tiga peran utama yang melekat dalam kehidupan perempuan e di Bali yaitu domestik, produktif, dan sosial. Di Bali peran tersebut masih ditambah lagi dengan peran spiritual. Perempuanlah yang menjadi penjaga utama sesajen harian di pasar dan di upacara adat yang berlangsung hampir setiap minggu. Ketangguhan perempuan Bali dalam menjalankan semua peran itu berasal dari filosofi yang bernama Trihita Karana yang terdiri dari harmoni dengan Parah Yangan. atau Tuhan, pawongan atau sesama dan palemahan atau alam. Di dalam tradisi umat Hindu Bali ini ya, perempuan dipercaya membawa sakti, Geng. Yaitu energi feminin kosmik yang memberikan kehidupan. Tanpa sakti aspek maskulin atau ee purusa itu tidak akan ada bersama dengan pradana atau aspek materi sakti menjaga keseimbangan alam semesta yang mana itu semua tertanam di dalam diri perempuan dalam kepercayaan Hindu Bali. Ada dua metafora di dalam tradisi Hindu yang sering digunakan untuk menjelaskan peran sakti ini. Yang pertama tuh ya kebangkitan atau jagrat karna yaitu membangkitkan kehadiran ilahi dalam arca dewa atau tubuh manusia. Di Bali perempuan itu melakukan hal tersebut setiap hari dengan menyiapkan Banten namanya ya atau sesajen menyalakan dupa hingga memimpin ritual kecil di rumah maupun pasar yang membangkitkan energi spiritual. Terus kedua, suhu atau panas tubuh sakti. ya, sering sekali dipahami sebagai suhu yang meningkat seperti panas. Itu artinya semakin besar sakti, semakin hangat suhu ruang atau komunitas itu sendiri. Nah, melalui kerja domestik ekonomi dan ritual, perempuan Bali menjaga suhu spiritual komunitas agar tetap hangat. Hal inilah, Geng, yang dirasakan oleh wisatawan sebagai aura khas Bali, yaitu harmoni, ketulusan, dan daya hidup. Perempuan juga bekerja untuk meredam konflik rumah tangga. Di dalam keluarga besar yang tinggal di satu perkerangan atau rumah, gesekan rentan terjadi. Bekerja pada akhirnya menjadi strategi sosial bagi perempuan untuk lepas dari potensi konflik domestik atau konflik internal di keluarga. Terus kemudian ya ada penelitian yang dibuat oleh Niketut Purawati yang berjudul Peran Ganda dan Status Sosial Perempuan Bali. Nah, ini yang bikinnya orang Bali sendiri loh, Geng. yang artinya berarti sudah banyak nih perempuan-perempuan Bali yang melag atau sadar juga bahwa eh banyak hal yang mereka kerjakan itu cukup berat sebenarnya untuk mereka. Nah, ini penelitian yang dibuat oleh Niketut Purawati ya. Nah, dia mengatakan di mana saja kita bertemu dengan orang-orang Bali, baik di rumah, di sawah, ataupun ladang, di pasar, maupun di tempat-tempat lain secara mencolok perempuan selalu sibuk melakukan pekerjaan. Perempuan Bali menjalankan peran ganda sebagai seorang ibu rumah tangga dan mencari nafkah itu disebabkan karena adanya pemahaman yang dianut yaitu bekerja merupakan dharma dan dharma ini adalah susila agama dan kewajiban. Nah, dengan begitu perempuan harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka supaya mereka bisa hidup secara lebih layak ya dalam dharma tadi. Dan peran yang dijalankan oleh perempuan Bali juga diungkapkan geng di dalam sebuah Alkitab yang bernama kitab Manuerti. Secara garis besar dinyatakan bahwa peran perempuan antara lain yang pertama perempuan adalah pelanjut keturunan keluarga dan bangsa serta sebagai benang sutra penyambung peredaran. Nah, terus yang kedua nih geng ya. Perempuan berperan sebagai pendidik, pembina, serta pembentuk kepribadian dasar seorang anak. Terus yang ketiga, perempuan sebagai pelaksana agama dalam kehidupan rumah tangga maupun di masyarakat. Terus yang keempat, perempuan dianggap sebagai sumber kebahagiaan dan kesejahteraan. Dari sini, Geng, kita bisa tahu ya, bahwa peranan perempuan sangat penting dan sangat menentukan tegaknya hukum dan kebenaran atau dharma suatu masyarakat dan bangsa. Dan masih dalam penelitian yang sama disebutkan juga bahwa pada dasarnya kaum perempuan dalam agama Hindu menempati kedudukan yang mulia yang tidak kalah sentral dengan laki-laki. Malah lebih dari itu, dalam menentukan maju mundurnya suatu masyarakat, perempuan dijadikan standarnya. Laki-laki dan perempuan dalam agama Hindu ternyata tidak dapat dipisahkan layaknya tangan kanan dengan tangan kiri. Enggak ada level yang paling tinggi, enggak ada level paling rendah. Masing-masing gender memiliki kedudukan yang sama, namun fungsi serta tugas dan kewajibannya yang berbeda sesuai dengan guna karma atau kodrat atau swadarmanya masing-masing. Nah, kurang lebih kayak gitu. Dalam konteks budaya Bali berlaku ideologi patriarki yang mengkodratkan bahwa laki-laki lebih tinggi kedudukannya dibanding perempuan dan bahwa perempuan harus dikuasai oleh laki-laki dan perempuan bagian dari harta milik laki-laki. Ideologi tersebut diberintikan pada penempatan laki-laki sebagai titik pusat dalam sistem sosial. Sedangkan perempuan pada posisi subordinat. Nah, di dalam hukum adat kedudukan perempuan Bali memang subordinasi dibandingkan kaum laki-laki. Hal ini sangat dipengaruhi oleh sistem kekeluargaan yang berlaku dalam masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih lemah dibandingkan dengan kaum laki-laki, Geng. Di sisi lain, hal ini dianggap sebagai patriarki dan patriarki ini dianggap memberikan dorongan yang positif bagi perempuan untuk bekerja lebih keras. Nah, mereka memiliki apa yang disebut dengan jengah pangelah je sekaya yang artinya semangat juang agar memiliki kekayaan sendiri atau bersama suami. Untuk mencapainya itu diperlukan kerja keras. Sebab hanya dengan cara itu mereka bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka dan juga bisa menaikkan status sosial mereka di mata suami dan lingkungan keluarganya. Bagi perempuan Bali, bekerja adalah sebuah kewajiban untuk menjalankan dharma tadi. Dan pemahaman ini kemudian menjadi dasar perempuan Bali terkenal memiliki etos kerja yang sangat kuat. Dan dikatakan dalam penelitian ini perempuan Bali dalam memainkan peran dan statusnya di masyarakat sebenarnya sudah menyadari apa yang menjadi hak dan kewajiban mereka baik di lingkungan keluarga, banjar, dan juga desa serta di komunitas yang lebih luas gitu, Geng. Kurang lebih. Tapi geng, dari sumber lain yang gua dapatkan itu dikatakan perempuan Bali sebenarnya menjalankan lima peran sekaligus loh, Geng. Enggak main-main. Yang pertama itu ya perempuan Bali itu sebagai ibu rumah tangga. Udah pasti sebagai ibu rumah tangga tentu kewajibannya adalah mengerjakan semua pekerjaan dan tanggung jawab dalam keluarga. Ya, antara lain tuh ya melayani suami, melahirkan anak, merawat, mendidik anak di rumah. Perempuan Bali bertugas untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang luhur kepada anak-anak mereka dalam kehidupan keluarga bersama suaminya. Perempuan Bali juga harus mengurus segala macam keperluan rumah tangga mulai dari mencuci, menyapu, memasak, dan lain-lain. Nah, itu yang pertama. Yang kedua, perempuan Bali sebagai istri ataupun pendamping suami itu wajib hukumnya untuk selalu setia kepada suaminya. Mereka akan selalu berusaha mendukung dan menjadi pendamping suaminya dengan baik dan tidak akan mengkhianati suaminya. Dan itu semua adalah bentuk dari penghormatan terhadap ikatan perkawinan. Mereka bakal selalu berusaha menjaga kesetiaan sebagai seorang istri. Terus yang ketiga nih, perempuan Bali adalah penggerak ekonomi keluarga. Ini bisa terlihat dari banyaknya perempuan Bali yang terjun langsung mencari nafkah. Beda ya. Beberapa suku menilai pencari nafkah itu yang wajib adalah laki-laki. Nah, kalau di Bali enggak. Perempuan Bali penggerak ekonomi. Dan pekerjaan mereka itu ada di berbagai bidang. mau itu pertanian, wisata, pasar tradisional, bahkan seperti si Made tadi yang jadi kuli bangunan. Nah, enggak sulit untuk kita bisa menemukan ibu-ibu di Bali yang sangat ulet kerjanya mengais rezeki dengan pekerjaan yang keras-keras banget. Dan jika di sektor pertanian, mereka bertugas membersihkan ladang, menyiapkan dan menanam benih, menyayangi tanaman di sawah, memotong padi, dan lain-lain. Hal ini biasanya dilakukan bersama-sama dengan suami mereka. Di pasar ada di antara mereka yang menjual kain atau pakaian, menjual berbagai jenis makanan dan minuman, menjual alat-alat upacara, menjual ikan, sayur-sayuran, buah-buahan, dan masih banyak lagi. Nah, begitu juga dengan sektor pariwisata. Ada yang bekerja menjadi manajer hotel, pelayan restoran, dan lain sebagainya. Intinya, Geng, perempuan Bali benar-benar bekerja keras. Nah, itu yang ketiga, ya. Terus yang keempat, perempuan Bali dianggap sangat aktif terlibat di bidang adat dan budaya. Enggak hanya laki-laki, perempuan Bali ini enggak kalah perannya di bidang adat budaya tadi. Di dalam bidang adat dan hubungan sosial kemasyarakatan pada umumnya, peran wanita Bali sangatlah penting. Kita bisa saksikan mereka mendelokan atau melayat orang meninggal, mejajahitan atau membuat bahan-bahan upacara yang dikerjakan bersama di tingkat dusun atau Banjar terus dan lain sebagainya. Itu mereka juga yang handle. Itu baru empat poin. Poin yang terakhir, perempuan Bali diketahui aktif di dalam sisi kerohanian. Kalau urusan kepura atau urusan yang berkaitan dengan sembahyang, dengan segala perlengkapan yang diperlukan, perempuan Bali selalu paling bisa diandalkan. Mereka selalu hadir untuk mengambil inisiatif terkait urusan keharmonian dan perempuan Bali yang bakal membuat canang atau Banten yang merupakan kelengkapan untuk sembahyang. Dan mereka yang paling cepat menuju ke pura sekaligus membimbing anak-anak mereka agar rajin sembahyang. Dan perempuan Bali juga aktif menari, mengamel, atau bermain musik gamelan di pura dengan konsep ngayah sebagai bentuk bukti kepada yang maha kuasa. Tuh, Geng, banyak banget perannya. Nah, jadi geng meskipun begitu ya, ternyata ada juga perempuan Bali yang sudah mulai merasa keberatan dengan banyaknya peran yang harus mereka jalani ini. Apalagi jika peran tersebut berakar pada adat istiadat dari Hindu Bali itu sendiri. Nah, dari salah satu postingan di Instagram yang gua dapatkan, ada yang menyebutkan kalau banyak orang Hindu Bali yang mulai pindah agama, baik melalui proses pernikahan maupun secara individual. Emang benar kayak gitu ya, Teman-teman di Bali mungkin bisa jelaskan juga ya kenapa fenomena ini dianggap banyak. Ya mungkin kalau yang namanya orang pindah agama ya wajar aja ya, dari agama lain pun banyak juga, enggak cuma dari agama Hindu Bali doang. Nah, tapi di sini ya gua menemukan sumber artikel yang mengatakan banyak ee masyarakat Hindu Bali yang pindah agama terutama dari kaum [musik] perempuan. Hal ini dikarenakan ya orang-orang Hindu Bali yang mulai merasa berat dengan beban biaya, waktu, dan tenaga untuk melaksanakan tanggung jawab adat keagamaan di daerah mereka. Karena hanya dengan berpindah agama inilah mereka bisa terlepas dari kewajiban-kewajiban terkait tradisi yang harus dipenuhi. Namun di sisi lain ya terasa memberatkan bagi mereka. Nah, contohnya jika ingin menjalankan tradisi ngaben ya ngaben ketika orang sudah meninggal atau sanak saudara meninggal gitu itu biayanya enggak sedikit geng. mereka harus mengeluarkan uang yang banyak dan masih banyak lagi tradisi-tradisi lain yang dianggap cukup berat bagi mereka. Enggak cuma berat di waktu ataupun berat di ee tenaga, tapi juga berat di biaya. Walaupun enggak cuma perempuan Bali aja yang pindah agama, tapi ada juga laki-lakinya gitu ya. Cuma karena perempuan yang harus serba bisa di dalam tradisi Hindu Bali inilah yang membuat perempuan Bali ya lebih banyak yang pindah agama karena merasa terbebani atas adat dan tradisi dalam Hindu Bali sendiri. sehingga mereka menganggap kalau pindah agama adalah jalan keluar. Kalau dari penjelasan gua sebelumnya, perempuan Bali bekerja bukan karena diperintahkan oleh suaminya, melainkan itu adalah sebuah tradisi atau adat dari masyarakat Hindu Bali itu sendiri. Di mana perempuan memiliki begitu banyak peran di dalam keluarganya. Nah, tapi masih banyak yang belum tahu, Geng, terkait hal ini, ya. Dan beranggapan kalau nasib perempuan Bali itu seolah-olah miris banget. Padahal kan enggak gitu ya. setiap kita tuh ya pasti punya pemahaman masing-masing lah. Bukan berarti dia bekerja lebih keras dari laki-lakinya. Dia terkesan sial atau malang, enggak juga gitu. Nah, jujur aja gua secara pribadi itu netral ya melihatnya. Enggak mau ngejust juga budaya orang gitu. Karena itu sudah mereka lakukan secara turun-temurun dan banyak perempuan Balinya sendiri yang tidak merasa keberatan. mereka happy-happy aja menjalankan peran itu. Dan gua pun ketika membahas fenomena perempuan Bali yang bekerja ini tidak bermaksud untuk menyudutkan ya tradisi itu sendiri. Nah, cuma banyak sekali orang yang berasal dari luar Bali merasa kaget dengan apa yang dialami oleh perempuan-perempuan di Bali. Nah, kalau kita berbicara tentang patriarki ya patriarki itu kan kayak ibaratnya seorang suami itu yang suka merintah, yang berkuasa sekali dan tidak menghargai istrinya gitu kan. Nah, patriarki sendiri ini adalah konstruksi sosial yang diciptakan oleh manusia yang menganggap kalau laki-laki lebih harus dominan, lebih harus merintah, lebih keras dibandingkan dengan perempuan. Tu patriarki. Tapi dari penjelasan gua sebelumnya tentang perempuan di Bali, justru karena patriarki inilah yang menjadi dorongan positif bagi perempuan Bali untuk bekerja keras. Dan segala sistem kebiasaan dan budaya itu sendiri diciptakan oleh manusia dan masing-masing komunitas atau suku memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri. perempuan yang bekerja keras mau itu di sektor domestik maupun ekonomi ya itu bukan hanya terjadi di Bali geng tapi di Sumatera Barat pun ya juga seperti itu ya asal kalian tahu nih perempuan Minang ketika mereka menikah perempuan itu harus membayar mahar ke laki-laki. Bukan sebaliknya laki-laki yang membayar mahar ke perempuan yang mana kalau status sosial laki-lakinya lebih tinggi misal kayak dia dokter atau misalkan kayak dia Akpol gitu akademi militer Akmil gitu ya. Nah, perempuan Minang ini yang mau menikah dengan laki-laki itu harus membayar maharnya lebih mahal lagi sesuai dengan profesinya. Keluarga perempuan Minang pun harus merayakan pesta pernikahan yang mewah. Nah, hal ini bukan berarti anggapan kalau perempuan Minang itu dianggap lebih rendah dari laki-laki. Enggak. Tapi justru perempuan Minang dianggap sebagai penjaga rumah dan tanah. Dan karena setiap kali mereka menikah harus memberikan ee mahar kepada laki-laki. Inilah perempuan Minang harus bekerja keras, Geng. Jadi yang seperti ini bukan hanya di Bali, di Sumatera Barat pun juga ada. Nah, tapi gua memahami ya kalau banyak yang kaget atau culture shock dengan e kehidupan perempuan Bali ya mungkin karena kita tidak tinggal di sana, kita tidak tahu bagaimana perasaan mereka. Jangan-jangan mereka happy-happy aja menjalani kehidupan kayak gitu dan kita tidak pernah tahu nilai-nilai atau tradisi apa yang mereka anut. Oleh karena itu, semoga dari pembahasan gua ini kita lebih membuka mata ya terkait fenomena perempuan Bali yang bekerja keras ini bisa kita anggap atau kita contoh sebagai bagian dari adat dan tradisi yang mereka jalani. Dan tidak selamanya seseorang walaupun dia seorang perempuan bekerja keras dianggap tidak pada tempatnya gitu ya. Ya, itu bukan berarti negatif juga gitu loh, Geng. Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini mengenai fenomena banyaknya orang yang kaget terkait kehidupan perempuan Bali yang mereka anggap begitu keras bekerja seumur hidup tanpa libur. Nah, gimana, Geng, menurut kalian tentang pembahasan ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories