Transcript
GON0lZiZosg • Panduan Budidaya Jamur Tiram Skala Rumahan: Formula Kompos & Panen Lebat Setiap Hari!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0556_GON0lZiZosg.txt
Kind: captions Language: id [Musik] balik modalnya berapa tahun? Kalau jamur itu sebenarnya enggak tahunan ya kalau kita bisa main nyemplung blung itu kan k 6 bulan cukup satu kali main itu ya mungkin bisa dihitung lah. Zaman itu masih ada warnet itu kan di situ saya sering ke warnet lihat di Google gitu kan. Saya belajar dari situ, saya print, saya bawa pulang, lalu saya praktikkan. Monggo langsung. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Ani Cahya Purnomo. Saya berasal dari Gang Swasembada, Kalidawir, Tulungagung. Saya menggeluti dunia penjamuran ini sejak tahun 2010. Dulu saya itu bekerja sebagai tukang graji itu loh. Ada serbuk graji yang tidak digunakan. Otomatis saya punya pemikiran ini kayaknya bisa ya dibuat jamur itu kayaknya bisa. Setiap pulang kerja saya bawa karung itu saya masuk-masukkan ke karung dari rumah nanti saya praktikkan bagaimana caranya buat jamur gitu. Saya tahu jamur pertama itu 2008 ya masih tahu itu teman saya ada yang budidaya juga cuma kan beli waktu itu masih beli lok itu sekitar 500 lah saya lihat oh ya itu kayaknya kok menarik juga kan gitu akhirnya ya saya masih kerja di grajian itu dan saya berpikir kayaknya ini asik juga ini kerja di apa itu jamur itu lah lalu saya punya inisiatif untuk membikin sendiri lah saya tanya teman saya lalu diarahkan ke temannya juga yang tahu tempat sekolahnya itu juga. Setelah saya datang ke sana ternyata saya suruh belajar. Belajar waktu itu kena biaya juga mahal. Kalau mau belajar kan gitu daripada nanti buang-buang uang ya tahu ditarik sekitar R10 juta kalau mau belajar budidaya jamur itu untuk belajar. Untuk belajar saja itu belajar buat long mungkin belajar buat bibit dana R10 juta lebih baik kita gunakan modal untuk usaha yang lain atau gimana? Saya belajar lalu waktu itu belum ada YouTube itu masih konten-kontennya kan belum ada waktu tahun 2008 2009 10 itu belum ada. zaman itu masih ada warnet itu kan di situ saya sering ke warnet lihat di Google gitu kan saya belajar dari situ saya print saya bawa pulang lalu saya praktikkan apa sih komposisinya bagaimana sih pembuatannya akan dari situ saya belajar awal itu di situ yo enggak enggak semudah itak semudah ya kalau tulisan saja kita praktikkan ternyata juga hasilnya juga sangat ekstrem itus saya olah itu sekitaran hampir 3 tahun itu mal praktik otodidak saya belajar itu mal praktik itu selama 3 tahun lebih itu sekitaran 2013 baru nemu formula yang tepat. Untuk komposisi yang tepat itu 10 karung ke serbuk gergaji, 10 kg untuk bekatulnya, 5 kg untuk tepung jagungnya untuk sekitar 5 kilo lah untuk apa kapurnya. Lalu tetesnya itu sekitar kurang lebih setengah botol. Itu sudah komposisi yang tepat. Cuma kalau kita baca kan kita bingung juga nanti di lapangan bagaimana sistem pengaplikasiannya. Kita enggak tahu seberapa basahnya umpa, kadar airnya berapa, ini umpana kan. Nanti di situ kita mempertaruhkan di lapangan itu di situ. Ternyata itu kesulitannya di situ. Waktu bikin pertama itu kan kadang ada apa serbuk gregaji yang terkena hujan itu kan sudah mengandung kadar air yang tinggi. Kita musim kemarau gitu kan satu sak itu kan ringan banget itu di situ kita harus pandai-pandai mengatur kadar air yang terkandung dalam cerbuk gergaji itu. Itu dulu saya kesulitan di situ. Ternyata setelah saya coba, setelah saya coba saya aduk aplikasinya jadi satu itu saya timbang di situ baru ketemu. Nanti kalau bobotnya kan sekitar 1 kilo 3 ons, kapasitas yang lebih itu basah banget itu sekitar 1 kil 1 itu sudah maksimal menurut saya. [Musik] Ya, itu kan dari serbuk gergaji ya. Kita kumpulkan berapa nanti kita aduk. Sebenarnya aturan-aturan atau timbangan itu ada ketentuannya sudah ada sebenarnya. Cuma kan kalau saya, saya pribadi itu kan karena pekerjaan saya sehari-hari jadi sudah kulino lah. Ibaratnya orang Jawa sudah kulino sudah jadi tahu segini itu sudah untuk kapasitas 500 itu berapa? Kalau di ler dier itu sudah berapa banyak itu kan kita sudah tahu sendiri nanti segitu itu seberapa. Nah, di situ kan kita aduk lalu kita kumpulkan. Kita kumpulkan satu hari baru kita kita fragmentasi satu malam baru besok. kita buat lock. Kalau langsung kadar air di dalam serbuk gergaji belum menyatu dengan antara tetes tebu sama kapur. Dan itu untuk mengatur pH-nya penguapan apa tuh anget panas gitu. Setelah panas itu kan sudah merata untuk kadar airnya baru besok kita mulai atau mungkin lusanya atau 3 hari lah paling baik 3 hari ya sudah itu dibuat lock langsung dibungkus. Setelah itu diproses untuk penyetiman. Waktu pertama kali nyetim juga pakai itu drom kecil Pertamina itu perjalanan panjang itu saya sering berubah-ubah tentang alat untuk menyetim itu berubah-ubah. Dulu kapasitas 125 terus naik lagi kapasitas 500, kapasitas 700 lok terus kapasitas 850. Untuk saat ini untuk proses penyetiman itu sebenarnya tergantung alat sebenarnya tergantung alatnya juga. Kalau kita pakai Dream Pertamina itu satu dikeruk pakai plastik itu sekitar 6 jam. Soalnya kan tipis atasnya plastik. Jadi untuk suhunya sekitaran mungkin kalau itu 90-an derajat enggak nyampai 100 itu gak mampu kalau untuk 100 derajat. Jadi butuh waktu lama untuk proses apa ya untuk mengatur suhu itu belajarnya cukup lama juga. Soalnya setiap kali kita pakai alat yang baru berarti kita malah praktik. Soalnya alat yang baru ini bagaimana ya untuk kualitasnya gimana nanti hasilnya akhirnya gimana kasih bibit bagaimana lah dari situ kita tahu ketebalan seporanya itu terlihat spora itu kalau tebal banget berarti kan otomatis alat kita itu mampu untuk menyetim lok itu kalau seporannya masih kelihatan buram gitu berarti waktunya kita penyetiman itu kurang lama atau alat kita masih kurang mampu untuk mencapai tekanan 100 derajat atau mungkin untuk membunuh bakteri yang ada di lock itu sendiri ya cukup rumit untuk belajar itu soalnya ya itu kita kalau cuma 1 tahun 2 tahun itu masih mencari-cari untuk ilmu di penjamuran itu masih cari-cari nanti kalau sudah tahap 3 tahun ke atas insyaallah mungkin sudah mulai benar ya mulai benar insyaallah ya kalau orang sekolah itu konsisten dengan apa yang mereka pelajari konsisten soalnya apa dia tahu dari sekolah itu ada rumus-rumusnya dari situ dipraktikkan rumus itu tersebut tapi kalau saya praktik dulu baru ada catatan. Kan bedanya di situ lah. Kalau dia dari catatan itu dipraktikkan hasilnya mungkin ya benar atau salah ya ini sesuai dengan apa yang mereka pelajari. Setiap kali praktik masih proses percobaan saya foto satu hasilnya gimana. Ini percobaan kedua saya foto hasilnya gimana. Lalu kan saya kumpul baru kita mengambil kesimpulan yang benar yang mana, yang baik yang mana. Di situ kalau kita senengi kan kita otomatis ringan juga kan kalau kalau kita senang dengan pekerjaan itu. Tapi kalau di kayu itu berat kan menurut saya berat itu soalnya kita mengangkat kayu setiap hari itu rasanya capek itu di badan. Oh sik enom kok nyambut gae mabot. Yaah itu kata-kata orang tua kan gitu. Otomatis saya mungkin harus mengalihkan pekerjaan untuk bekerja dengan yang ringan gitu. Setiap hari kan masih kerja graji itu. Nah, pulang graji saya bawa umput. Ada uang sedikit untuk modal buat eksperimen. Nanti hasilnya gimana? Besok graji lagi, bawa umpi, eksperimen lagi. Nah, nanti kita kumpulkan riset-riset saya itu bagaimana yang ini berhasil atau enggak, yang kedua lagi bagaimana nanti saya kumpulkan. Lah setelah woh yang ini percobaan sudah mencap berhasilah saya katakan berhasil. lah baru saya kembangkan lebih banyak lagi. Saya tinggalkan pekerjaan yang lama. Otomatis kan kalau kita kerja satu hari kerja katakanlah Rp100.000 saja lah. Kalau jamur saya sudah mencapai Rp100.000 berarti kan sudah imbang. Nah ini sudah Rp100.000, ini sudah Rp100.000 otomatis saya harus meninggalkan yang satu. Saya fokus di sini otomatis bagaimana sekarang tinggal kita membuat bagaimana yang Rp100.000 ini bisa Rp200.000. sekarang sehari itu ya apa ya tergantung kapasitas lok saya juga kan juga kalau di jamur itu enggak tentu ya untuk setiap harinya mungkin dirata-rata sekitar 20 kiloan kalau 1 kilo Rp15.000-an tinggal kalikan aja 20 kilo kali Rp15.000. Penjualannya masih sangat sulit di tahun itu. Di tahun 2010 itu penjualan jamur itu belum familiar soalnya jamur itu kalau kita jual ke pasar itu sama emak-emak itu ini jamur opo iki? mendemi ya kan gitu masih awam yang tahu itu cuma orang-orang yang berpendidikan tinggi seperti guru-guru itu baru tahu ini oh ini jamur enak lah baru dia yang beli-beli itu yang otomatis orang yang berpendidikan saja menurut saya itu sekarang 1 hari itu sekitar ya itu 850 itu untuk 1 hari sebenarnya 1 hari pembuatan baru melakukan penyetiman besoknya bongkar baru besok lusa baru pembubitan itu terus berulang-ulang terus mungkin 1 minggu itu bisa tiga kali penyetiman jadi 850* 3 kali 1 minggu iya soalnya tenaga kerja juga sendirian bukan punya karyawan enggak saya enggak punya karyawan saya mengel kelola dua kumbung. Satu kumbung kapasitas Rp10.000. Jadi dua kumbung Rp20.000 untuk kumbung saya. Ya, lumayan. Tapi kendalanya kan hari ini pada itu serbuk gergajinya itu sulit enggak seperti dulu. Dulu itu kita luru lah ibaratnya luru itu banyak itu tiap ada orang graji atau mungkin di gergaji itu dulu saya itu dikasih suruh ambil aja dulu. Tapi sekarang mahal. Sekarang PLTO juga gunakan itu orang apa itu untuk ternak ayam itu juga gunakan serbuk itu. Jadi kita saingan kita itu bukan jamur saja orang yang menggunakan serbuk gergaji itu ada kalanya kan overload banyak sekali. Katakanlah kita punya kapasitas 10.000 Ibu itu panen rata-rata per harinya itu sekitar 20 kilo, 30 kilo ada kalanya dikalah suhu sangat bagus untuk pertumbuhan jamurnya itu bisa 50 kilo juga bisa itu untuk 1 hari itu mungkin naik naik naik naik naik 1 minggu itu 50 40 mungkin turun lagi gitu lah. Jadi enggak bisa cuma kita ambil rata-rata saja untuk rata-rata dapat uangnya ya sekitar itu 20 kilo untuk jamurnya. lah nanti sisa-sisanya kadang ada pesanan untuk keripik lalu kita bisa kita buatkan untuk keripiknya. Pendapatan Rp300.000 sehari itu cukup ya? Ya sebenarnya bukan dikatakan cukup ya juga cukup-cukup enggak cukup mungkin kan sebagian untuk hari-hari juga nanti sebagian juga untuk modal lagi untuk pengembangan lagi ya bukan berarti harus Rp300.000 I gak saya kan juga ada untuk penjualan lok lah. Kalau lok saya jual laku otomatis kan bukan jual jamur mungkin jual lok beda lagi nanti ada penjualan bibit juga mungkin ada yang beli bibit F1 F2 lah itu juga mungkin dari situ juga ada hasil lain tapi satu rangkaian tetap dijamur. Kalau F0 itu kan vegetatif awal. Jadi F0 itu kita buat dari jamurnya itu sendiri. kita tanam dengan menggunakan PDA, PDA potato dekctrosa agar-agar itu dengan menggunakan yaitu pakai godir itu kan. Nah, pakai potato pakai kentang itu dan di situ juga ada rumusnya mungkin 1 lit untuk airnya, 200 grentangnya lah. Mungkin sekitar untuk ager-agernya itu sekitar 5 gram sekitar gitu lah. Nanti kita rebus untuk kentangnya kita ambil sarinya. Setelah itu kita kukus. Sama seperti pembuatan lok juga selama 6 jam baru dibiarkan dingin. Tunggu sampai penggumpalan godirnya itu lah. Setelah itu selesai steril baru kita masukkan bibit jamurnya. [Musik] Kalau F0 kan dari bahannya itu F0 itu bahannya dari godir itu. Kalau F1 itu kan turunan dari F0 itu. F1 turunan pertama, F2 itu turunan kedua. Jadi kita ambil sedikit jamur itu untuk F0-nya kita taruh di godir itu. Setelah itu merambat sudah misilum penuh baru kita turunkan ke F1 dengan media banyak. Menggunakan jagung juga bisa, biji-bijian pokoknya pakai corgum itu juga bisa, pakai gabah juga bisa, serbuk kayu juga bisa. Yang penting pembuatan F1 itu nutrisinya lebih tinggi daripada pembuatan lock. Kita baliklah. Kita balik. Kalau kita membuat lok itu 10 karung untuk serbuknya, 10 kilo untuk bekatulnya lah kita balik 10 kilo untuk serbuknya baru 10 karung untuk bekatulnya. Jadi seperti itu sebenarnya untuk proses pembuatan. Jadi untuk F1 itu nutrisinya lebih ditinggikan. Untuk F0-nya itu di harga sekitaran ratusan ribu. Rusan ri.000 per botol. Kalau F1 itu sekarang sekitar 50 25 30.000 gak sama itu per tempat itu beda itu per orang juga beda. Mungkin dari sini berapa, dari tempat sana berapa itu beda-beda. Satu botol F0 itu bisa jadi sekitaran 10 atau mungkin 15 botol F1. 1 botol F1 itu bisa jadi 90 botol F2. F2 nanti kita turunkan kan ke lock. Jadi secuil jamur itu mampu untuk dua kumbung saya itu sudah mampu untuk membibiti dua kumbung saya itu sudah mampu secuil jamur bibit awal itu. Cuma pembuatan bibit itu kan enggak semua orang itu bisa untuk membuat itu soalnya takut. Takut kalau ini benar jamur yang saya tanam atau bukan. Kadang di situ ketakutan mereka itu lah kita buat belajarlah buat F0. Dulu saya belajarnya juga sulit di sini tuh F0 kita bikin sendiri berhasil atau enggak kita coba uji. Nah, nanti tumbuh jamur atau dak? Kadang juga enggak. Enggak tumbuh. Itu seperti apa tuh? Kalau dikatakan orang jamuran itu mandul. Tumbuh putih merambat putih saja tapi gak tumbuh jamur. Ya, kalau misalnya kita kegagalan di F01 saja itu berarti kita fatal satu kumbung lebih satu kumbung itu kalau kita coba-coba enggak ini berhasil atau enggak enggak tahu. Makanya belajar itu buat 1 F0 dulu. Turunkan mana yang berkualitas. Menurut saya sendiri. Menurut kita mana yang paling bagus? Baru diturunkan lagi F2. Lihat nanti di hasilnya gimana lalu bikin lagi. Itu butuh bertahun-tahun untuk belajar pembuatan itu. Kalau secara otodidak mungkin kalau ada gurunya itu lebih singkat sebenarnya 1 hari sudah bisa kalau ada gurunya. Kalau enggak ada kita kan eksperimen sendiri ini berhasil atau enggak ini kalau tanah bagaimana itu kita cari-cari sendiri treatment ya tentang jamur itu yang penting menurut saya sekarang ini di perawatan perawatan paling utama perawatan itu mengatur suhu kandang saja itu kelembaban suhu sebenarnya itu beda tempat menurut saya itu juga beda-beda. Saya itu pernah uji coba itu tempat teman saya itu kan di pinggiran sawah itu kan untuk kelembaban udaranya cukup tinggi kurang kadar airnya itu kurang. Kalau di sini insyaallah kelembaban udara itu cukup bagus. Jadi pengabutan dalam kumbung atau mungkin penyemprotan itu perawatannya lebih mudah di tempat saya. Kalau suhu suhu yang dibutuhkan sebenarnya adalah suhu kamar 28 derajat Celcius untuk pertumbuhan. Lebih bawah lagi sampai 26 itu lebih baik. Nanti kalau katakanlah waktu musim berdiding itu bagus-bagusnya untuk pertumbuhan jamur di wilayah Jawa Timur ya. Cara menjaga kelembaban di dalam kumbung saya itu ada spayer-spayer kecil itu. Nah, nanti setiap kali terik matahari panas banget atau bagaimana nanti kita hidupkan untuk spirnya. Di atapnya juga saya kasih untuk bikin hujan buatan lah. Demikian jadi agar terjaga untuk kelembaban suhunya. untuk dalam dan luarnya itu tetap terjaga agar tetap eksis dingin gitu aja. Cuma harus pandai-pandai juga menjaga kelembaban airnya. Soalnya ketika terlalu banyak air jamur itu juga akan basah. Basah itu harga jualnya juga enggak sama. Mungkin kalau kita buat hari ini zuhnya enggak ada hujan lah katakanlah itu. Itu jamur sedikit agak kering. Kelembaban cukup bagus untuk dijual. Mungkin tahan untuk 2 hari 3 hari tahan. Kalau basahnya terlalu tinggi, kebasahan tingkat kebasaannya terlalu tinggi itu nanti sore itu sudah layu, enggak kuat, sudah ngelempruk atau gimana itu sudah enggak bisa pretel gampang pretel gitu. Untuk pengolahan jamun a saya gunakan untuk keripek itu. Keripik itu saya kenapa saya dulu juga eksperimen juga buat keripek itu juga eksperimen dulu. Soalnya kan gini, dulu itu di tahun-tahun dulu itu cukup sulit saingan di pasar itu kita harus menyesuaikan juga kita buat banyak itu kalau kita enggak bisa jual kan juga otomatis kita harus tahu pasar. Tahu pasar dulu. Waktu dulu itu saya juga di pasar lokal sini untuk mengisi pasar lokal. Kapasitas pasar lokal itu sudah di maksimal 30 kilo. Ketika panenan saya itu lebih dari 30 kilo, otomatis buang. Mau jual ke mana lagi? Saya otomatis saya pindah pasar, tambah pasar lagi, tambah pasar lagi. Otomatis dia di situ saya kok banyak yang sisa ya. Saya panen sampai 50 kilo, setiap hari sisa 20 kilo, 30 kilo. Diapain lagi ini? Nah, otomatis di situ saya berpikir untuk nah buat keripik aja lah. Itu prosesnya juga lama. Itu proses lagi bagaimana cara bikinnya, bagaimana itu bumbunya apa, bagaimana pembuatannya baru belajar, belajar belajar. Ya, awalnya juga enggak bisa awet. Satu kali goreng nanti sore sudah ngelempruk gak bisa. Ini bagaimana ya biar kriuk itu gimana nanti pengaplikasiannya tepungnya apa, bagaimana ya itu penggorengannya gimana itu rumit banget juga di situ. Akhirnya sampai berapa tahun itu saya baru nemu resep yang ya mungkin pas untuk hari ini saya patenkan sedemikian sekianlah sudah cukup ini sudah bagus untuk dipasarkan. Rp10.000 itu bisa anu nggih kita kerasa ya hasilnya ya bisa kerasa cuma kan kita harus tahu dulu gimana nanti sistem penjualannya. Kalau saya untuk petani-petani saya itu saya punya klub atau kelompok sendiri. Nah nanti di situ kita sering main WA-an bagaimana kalau ada sana ada sisa otomatis seperti itu. Pasar kapasitas 30 lah nanti sisa 20 otomatis saya ada sisa segini gimana? Nah bawa ke sini biar saya jualkan. Otomatis kita harus kerja sama dengan petani yang lain. Kalau kita diam aja di rumah ya enggak tahu nanti eh ini mau diapain gimana enggak dijual atau gimana kan enggak tahu. Otomatis kalau kita main sering kumpul kita sering nanti saya punya kelebihan jamur ini gimana baru teman bawan sini tak jualin gitu. Oh iya pengepul saya kurang lah otomatis ya itu bisa jalan. Kalau petani awal saya rasa itu banyak yang kendalanya di situ. Kita produksi, kita beli lok, lalu kita rawat sendiri di rumah. Nah, otomatis ketika panen cukup 10 kilo, 15 kilo lah ini nanti untuk sekitaran rumah saja kan sudah cukup lah. Ketika nanti ada kalanya panen besar sampai 3050 kilo mereka akan bingung. kadang menjual dengan harga yang murah daripada enggak laku. Itu yang mungkin membuat mereka itu takut dijamur itu di situ. Dengan lok.000 itu paitannya ya? sekitar 2030 juta balik modalnya berapa tahun? Kalau jamur itu sebenarnya enggak tahunan ya kalau kita bisa main nyemplung blung itu knya enggak sampai itu bukan tahunan itu pakai bulan sebenarnya 6 bulan cukup satu kali main itu ya mungkin bisa dihitunglah katakanlah kita beli lock sekitaran ya Rp10.000 itu dengan harga R30 juta. R juta kita rawat dengan baik. Jangan asal-asalan rawatnya nanti juga akan tumbuh dengan baik. Kita catat aja. 1 hari ini berapa keluar berapa jamur? Berapa kilo kita jual? Katakanlah 1 hari kan bertahap. Mungkin hari ini 5 kilo, besok naik lagi 8 kilo, 10 kilo. Nah, baru 15 kilo, 20 kilo, 30 kilo, 40, 50, 50, 50, 50. Berapa? 4 hari. Kadang nanti baru merosot lagi, nanti kita lakukan perawatan ekstra lagi baru nanti naik lagi. Seperti itu dari kita hari ini memasukkan bibit dalam lok. Setelah itu merambat penuh miselumnya itu sekitaran 30 hari. 10 hari untuk proses penuh miselium, pemadatan sekitar 10 hari baru tumbuh jamur. Tumbuh jamur kira-kira sekitar 40 hari baru tumbuh. Kadang juga kalau musimnya bagus 20 hari juga bisa sudah tumbuh. Enggak, enggak tentu. Tergantung waktunya juga. Bulan-bulan itu juga berpengaruh terhadap cuaca sekitar pokoknya itu berpengaruh penuh terhadap tumbuhnya jamur. Dapat apa aja dari aktivitas usaha jamur itu? Kalau dihitung dapat apa saja ya banyak ya, Mas ya. Beli mobil sudah itu dulu. Modal buat beli sapi juga sudah. Itu untuk usaha yang lain kan juga sudah. Penambahan kumbung itu juga otomatis sudah alhamdulillah juga ada perkembanganlah sedikit-sedikit ada untuk untuk hari-hari juga terpenuhi. Alhamdulillah waktu itu saya sebelum ada corona itu saya kandang saya itu sebenarnya sudah full penuh semua. Nah, ketika waktu panen tumbuh jamur itu, nah itu di situ baru penjualannya sulit banget. Soalnya apa? Saya sudah ketergantungan untuk ke pengepul. saya setor ke Surabaya itu waktu itu. Waktu itu juga enggak bisa keluar jamur. Bagaimana lagi nanti untuk saya kan titip ke bus itu, bus untuk bongkar di terminal Surabaya itu lah. Itu dijatah harusnya setiap hari saya panen kan setiap hari jamur ada lah. Otomatis 1 minggu dijatah dua kali ya. Yang hari-hari yang lain tuh ke mana? Ke lokal aja sudah enggak mampu ngatasi. Waktu itu panenan saya sekitar 70 60 segitu. Ya, otomatis kalau 1 minggu kirim cuma dua kali lain-lain itu ke mana? Mau saya bikin keripik dijualnya ke mana? Enggak bisa lockdown, enggak bisa keluar ke mana-mana, mana-mana portal. Nah, otomatis di situ saya biarkan saja jamur otomatis ya tumbuh kena hama gurem atau yang lain itu otomatis mungkin jatuhnya lebih drastis. Itu sangat ekstrem. Itu berapa waktu itu ya? sekitaran 60 ada 60 juta lebih dua kandang projek ke depan untuk membangun tigang suada ini ya mungkin pengembangan untuk pembuatan lok ya mungkin nanti saya punyain pemikiran tuh apa itu pembuatan itu mesin untuk serbuk gergaji mungkin kita beli kayu sotiran itu nanti kita buat cerbuk danah nanti mungkin tetangga-tetangga yang nganggur istilahnya begitu dan nanti bisa dipekerjakan untuk orang lain juga. [Tertawa] [Musik] Soal pekerjaan. Kalau kita sudah senang di pekerjaan itu menurut kita hobi. Iya. Apa itu menurut jenengan capek? Kan mboten. Ah iya. Lah di situ kalau kita senang terhadap pekerjaan itu lah. Kalau kita niatnya ini sudah waktunya berangkat kerja, otomatis pemikiran kita kan kerja bukan hobi lah. Kalau kita menganggap pekerjaan itu hobi, wah waktunya ini main-main dengan jamur. Nah, gitu kita buat eksperimen, kita penasaran dengan hasilnya ini nanti bagaimana ya kita di situ ada kesenang. Jadi otomatis hari enggak terasa mungkin tidak merasa bekerja karena kita hanya bermain hobi itu saja. Lihat tumbuh jamur banyak itu kita kan senang di situ. Wah jamurnya bagus banyak otomatis sening buatnya gimana. Nanti kita lihat dirak-rakan itu kita foto, kita lihat sendiri itu senangnya minta ampun itu di situ sudah senang banget. Jadi itu suatu kebanggaan tersendiri juga hobi di situ. Jadi kita enggak ada yang namanya wah kerja capek itu nak senang kita di situ. Kata-kata untuk petani jamur ya hidup ini kan banyak pilihan dan Anda juga bebas untuk memilih. Tapi di mana itu Anda harus bertanggung jawab terhadap pilihan Anda itu sendiri. Ada kemauan juga pasti ada jalan. Saya Ani Cahyo Purnomo, owner dari Mekar Purnama berada di Gang Swajembada Kalidawir Tulungagung, Jawa Timur. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik]