Bangun Cafe NYENTRIK di Kaki Gunung Kelud, Tempat Pelarian Orang Kota Cari Tenang
7-tGnrN4qqk • 2025-09-05
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Pada saat sudah dapat uang, tapi Bapak
malah sakit terus meninggal. Menurutku
enggak adil. Jadi kayak apaan sih? Di
saat aku ingin membalikkan keadaan
kebaikan Bapak dulu ke aku, kok malah
bapak sing dijupuk. Aku itu orangnya
susah nangis ya. Aku ditinggal bapak
hanya mbes ya. Bingung enggak tahu harus
bas-basi seperti apa. Menyesal-menyesal
banget karena dulu seperti itu ya kan.
Terus apa yang dikatakan beliau-beliau
itu benar semua tapi enggak tak pernah
tak jalani.
[Musik]
E dulu pernah kan omsetnya sini labaku
sama gajinya anak-anak banyak gajinya
anak-anak loh bener itu, Mas. HP-nya
anak-anaknya iPhone semua HP-ku opo,
Mas? Itu dulu pada saat sepi-sepinya,
Mas. Sedangkan aku itu kalau sudah sama
karyawan sudah loyal tuh haram untuk
mengejat. Menurutku aja ya, Mas. Saya
pernah jual mobil, jual motor hanya
untuk bertahan, untuk ngisi operasional.
Motor, mobil habis pinjol. Aku harus
mengutamakan yang makan dulu lah. Nanti
lek urusanku belakangan. So tanggung
jawabku masih makan mereka. Mereka yang
sudah kerja sama aku harus tak kasih
makan duluan. Kan tuntas. Alhamdulillah.
Di awal ramai sampai waiting list dulu.
Itu satu hari waiting list numpuk 10
atau 15 itu biasa dulu Mas. Kalau per
hari bisa sampai 8 ke 10 Masjut. Iya di
weekend mungkin ya. Kalau di weekday
mungkin si 4 keen 6 pada saat rame ya.
Ngapain waktu itu perannya
owner Mas?
Aku dulu nganter-ngantar minuman malahan
Mas. Jadi aku dulu sepakat sama temanku
jangan pernah nge-share siapapun yang
punya ini nanti takutnya orang enggak
enak dan lain sebagainya. Bahkan orang
tuaku dulu enggak tahu aku bikin coffee
shop. Tahunya bikin warung.
[Tepuk tangan]
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya Rindra Prasetyo. Saya
pemilik kampen coffee and space di
Tulungrejo, Gandusari, Kabupaten Blitar.
Kepen itu terletak di Desa Tulungrejo,
jalan arah wisata hutan pinus loji. Jadi
nanti sebelum loket ada pertigaan belok
kiri aja. Itu gabung dengan shelter
pendakian Gunung Gelut. Jadi kita ada di
bawah parkirannya kedainya. Jadi enggak
begitu kelihatan dari jalan. Namanya
campen itu diambil dari salah satu
distrik di Belanda karena di atas itu
ada namanya hutan pinus loji kan identik
dengan Belanda. Aku coba cari ide-ide
apa yang identik dengan Belanda. Terus
ada kesinambungan dengan wisata yang di
atas. Akhirnya nyari-nyari
browsing-browing. Ketemulah Campen itu
distrik penghasil kopi di Belanda. Terus
suasananya hampir mirip dengan sinilah
dekat hutan terus asri nyaman gitu.
Penulisannya seperti itu. Terus spell
pengucapannya seperti itu. Jadi
tulisannya kmnh pengucapannya kampen.
Saya saat ini 31 tahun. Sebenarnya ini
sudah tak gambar dari 2017 ya, Mas ya.
Nah, dari 2017 itu sering nongkrong di
sini karena suka daki, akrab dengan
pengelola pendakian. Dulu akhir sering
nongkrong di sini, terus melihat-lihat
lokasi di sini, wah kayaknya seru ini
dibuka coffee shop untuk menyediakan
kopi yang proper. Terlaksana di 2021. Di
2021 setelah menikah itu aku dulu punya
toko odor di daerah Hulingi. Setelah
menikah ada Shopee enggak jalan.
Akhirnya berpikir, "Gimana cari uang
lagi ya kan." muncul ide yang dari 2017
itu coba bikin di sana. Akhirnya hubungi
temanku yang dulu berpartner denganku di
sini. Akhirnya ketemu jalannya akhirnya
bikin. Ini lokasinya miliknya Perhutani.
Kebetulan tidak susah karena ini lahan
kosong yang tidak produktif. Kalau lahan
produktif kan sebelah sana itu untuk
tumbuhan pinusnya sama yang atas untuk
wisata. Jadi kita belum masuk lokasi
wisata, kita masih di bawahnya. Jadi di
sini dulu kosong boleh digunakan asal
tidak menebang pohon yang sudah ada
gitu. Jadi cari sela-selanya yang ada. L
akhirnya konsep bangunnya seperti ini.
[Musik]
Menarik atau enggak itu? Kalau dari
sudut pandangku menarik, Mas. Soalnya
kalau dulu teman-teman yang berbisnis di
coffee shop mereka harus mengedukasi
pasar. Sekarang kan tidak pasar sudah
teredukasi semua. Bahkan anak SMA sudah
nong di coffee shop, Mas. Sekarang,
sekarang kan tinggal gimana ngemasmu aja
kan semenarik apa tempatmu, apa yang
kamu tawarkan. Pada saat aku down dulu
sebenarnya sudah pengin buyar kan, Mas?
Aku ah tutup aja lah. Mungkin tempatku
tidak mentak PD. Sampai ketemu ada
pembicara subah namanya. Beliau itu
orang dari Jomba kalau enggak salah
ngobrol-ngobrol ngobrol. Kalau faktor
kopi enak itu sebenarnya kan ada tiga
kan dari petani, rostery, sama
baristanya. Tapi ada faktor X yang
dilupakan biasanya. Di mana ngopimu dan
sama siapa kamu ngopi. Kopimu mau seenak
apa kalau tempatnya tidak nyaman? Ya
kopimu tidak enak. Kopimu seenak apa,
lek tempate nyaman tapi kamu sedang
tukaran karo pacarmu pada saat ngopi? Yo
enggak enak juga. Ahah. PD lagi itu aku.
Oke, berarti tempatku punya value lebih
nih yang bisa dijual. Ya sudah, tempat
aja yang aku jual. Menunya ngikutin
tempat sudah oke, menu harus oke. Kalau
tempat yang oke aja, menu biasa aja,
orang enggak balik lagi ke sini, Mas.
Situasinya sudah kebentuk sendiri
customernya di sini. Jadi, orang-orang
yang pengin mengasingkan diri datang ke
sini atau menikmati suasana yang beda
dari tempat di kota datang ke sini. Aku
menyediakan varian kopi kok. Jadi, aman
untuk semuanya mungkin ya. Jadi,
orang-orang yang pengin menikmati kopi
dengan suasana yang beda datang ke sini.
Jadi kalau biasanya itu siang itu
pegawai-pegawai yang diwilingi malah
lari ke sini untuk makan siang dan
ngobi. Jadi balik lagi sorenya. Kalau
sore biasanya anak-anak kuliah nugas
datang ke sini mungkin sudah stabil ya
Mas ya. Karena pasarnya sudah kebentuk
ya PR-nya kan sekarang tinggal cari
pasar yang baru lagi untuk datang ke
sini.
Orang di sekitar kafen Mas ngopine kan
ngopi gerasak Mas. Benar.
Dan ngopi sing ndak aneh-aneh.
Iya.
Gimana cara jenengan akhirnya
mengenalkan?
Aku enggak berusaha mengenalkan Mas.
Malah aku berada di sini lihatan aja
aku. Jadi lek jenengan selarane seperti
itu enggak apa-apa tapi aku membuat
sajian yang seperti ini. Aku enggak bisa
memaksakan noh Mas. Ibaratnya beliau
mereka-mereka yang biasa ngopi 3.000
dapat satu gelas lah nk sini Rp20.000 ya
enggak bisa memasakkan halku no Mas.
Mungkin lek ngoyoh-ngoyo ya susah mereka
tambahan. Tapi akhirnya kan orang lokal
yang sudah pernah di luar kota akhirnya
menemukan ini kan kayak wah kok ada ya
nk sini seperti ini. Akhirnya kan jadi
customer loyal yang sini juga. Akhirnya
repeat ke sini lagi ke sini lagi gitu.
Jadi aku malah enggak berusaha ngedukasi
wis biarin aja lah itu customernya sana
aku tak bikin pasar sendiri gitu.
[Musik]
Jadi dulu itu aku lulus sekolah itu
langsung kerja. Jadi sebelum nerima
ijazah kelulusan aku sudah langsung
kerja di perusahaan yang instalasi BTS
itu. Jadi anak baru gampang diterima
dengan gaji sedikit yang penting dapat
pengalaman. Kerja waktu itu R00.000 per
bulan di Surabaya itu jalan hampir 1
tahun terus ada lowongan jadi helper
alat berat. Okelah masuk. Kebetulan
temanku yang ngajak di situ cuma digaji
Rp50.000 per minggu. Yang penting dapat
pengalaman untuk yang lebih lagi ya. Aku
jadi helper 3 atau 4 bulan terus jadi
operator alat berat sampai 2014 kalau
enggak salah. Dari situ terus punya uang
sedikit ngumpulin barang buat sewa
tenda, perlengkapan mendaki terus
akhirnya buka toko sendiri. Sama sedikit
dimodelin dari orang tua sih. Almarhum
bapak saya itu hanya mandor perkebunan.
Ibu saya hanya pembantu rumah tangga di
Surabaya. mungkin sudah melihat
perputaran uangnya ya. Nah, punya
tabungan sedikitnya tambah gitu.
Akhirnya jadilah tokonya buat sewa toko
sama buat belanja barang sedikit gitu
loh. Enggak salah dulu. Akhirnya jalan
beberapa tahun gitu. Seiring berjaya
waktu semakin banyak persewaan, semakin
banyak toko online ya kan. Akhirnya
tokonya sepi. Akhirnya harus berpikir
harus buka bisnis apa lagi. Kira-kira
aku kerja sudah enggak passion, sudah
menikah. Paling enggak aku harus
berkumpul terus sama istriku. Kalau
kerja nanti kasihan tak tinggali gitu.
Toko order dari 2015 sampai 2021
tutupnya. Banyak orang yang pengin naik
gunung yang proper gitu kan pasti butuh
perlengkapan yang proper toh. Daripada
beli mending sewa kan dulu. Dulu masih
nakal juga. Kebetulan nakal karena nakal
punya banyak koneksi dan teman. Kalau
kata orang tua kan minum-minuman
beralkohol itu nakal ya kan. Dulu saya
suka motor kan nongkrong sama anak-anak
motor naik gunung sama ketemu orang baru
akhir kenalan minum untuk mengakrabkan
sebuah pertemuan itu adalah minuman kan
kalau sudah pernah minum bareng akhir
ketemu obrolannya akhir besok di saat
ketemu lagi sudah seperti teman lama
tapi alhamdulillah sekarang sudah tidak
minum
mbak pedes ya mbak
request dewe aku
untuk tidak minum-minuman beralkohol
karena ini sih kalau dulu di bisnis dulu
dulu mungkin kebawa waktu muda ya. Jadi
saya enggak begitu mementingkan
beranggapan bahwa besok-besok bisa
dipikir lagi. Kalau di sini kompleks.
Ibaratnya aku buka kampen ini jadi
sebuah kanvas bagiku yang baru lagi.
Kayak aku dinaikkan terus diturunkan,
dihancurkan, kamu gambar lagi yang baru
gitu. Jadi mulai masalah semua itu ada
nk sini harus selesai. Jadi kayak wah
masalah kayak gini kok gimana selesaimu?
Kalau enggak bisnismu tutup loh. Modalmu
banyak loh ini. Akhirnya kan kalau minum
kan aku tidak bisa berpikir kan bisa
berpikir untuk senang-senang aja. Aku
enggak bisa berpikir gimana besok aku
harus ngapain besok apa yang tak
rencanakan besok. Enggak bisa. Kalau
orang minum besok se mumet awang-awangan
kerjo dan lain sebagainya. Aku enggak
mau seperti itu lagi. Aku sesok kudu
harus fit lagi untuk next hari
berikutnya. Hari berikutnya harus tak
pikirkan lagi. Yaitu yang membuat
alasanku enggak minum lagi.
Bapak meninggal tuh di tahun 2014. Jadi
itu yang memutuskan saya untuk berhenti
jadi operator alat berat. Soalnya adik
masih kecil, ibu kerja di Surabaya. Yang
di rumah tinggal nenek sama adik. Cari
kerja yang dekat-dekat aja lah. Saya
memutuskan untuk berhenti bekerja dulu.
Jadi ditinggal Bapak itu malah
momen-momen kelamku sebenarnya, Mas.
Karena di waktu itu aku tidak pernah
dekat sama Bapak. Pada saat aku sudah
bisa bekerja, aku ingin sedikit
menyisihkan untuk Bapak pada saat sudah
dapat uang, tapi Bapak malah sakit terus
meninggal. Menurutku enggak adil. Jadi
kayak apaan sih? Di saat aku ingin
membalikkan keadaan kebaikan Bapak dulu
ke aku, kok malah bapak sing dijupuk.
Nyalah Gusti Allah juga
yo pernah, Mas. Tapi akhirnya kan bisa
berpikirlah setiap manusia kan pasti ada
akhirnya. setiap sesuatu hal yang hidup
pasti akan mati. Aku suka band metal
kan, tapi enggak suka black metal. Ada
suatu band metal itu yang ada sedikit
sentuhan satanis-satanisnya ya kan. Ah,
lebih baik aku memuja setan aja lah
daripada aku memuja Tuhan dulu waktu
itu. Ya menurutku tidak adil pada waktu
itu. Bikin sadar akhirnya ke sini ke
sini. Kalau dulu bapak itu menyuruhku
untuk salat untuk ngaji. Kan keras kan
bapak sama ibu dulu waktu kecil dipaksa
gak pernah masuk. Jadi ajaran agama apa
itu enggak pernah masuk. Begitu ke sini
dewasa ini dengan relate dengan
kehidupan akhirnya nyari sendiri aku,
Mas. Nyari sendiri ketemu ketemu
sendiri. Oh gini ya tiba akhirnya ya
membalik sendiri kan akhirnya jalan
dengan sendirinya. Ya itu mungkin
caranya Tuhan mengingatkan mungkin
akhirnya bisa berpikir gitu. Kayak dulu
kan gak
kalau menyesal ya pasti Mas.
Sangat-sangat menyesal. Cuma aku sudah
terbiasa orangnya itu flat gitu karena
tidak pernah diajarin. Karena dari dulu
tidak pernah hidup sama bapak sama ibu.
Tidak pernah diajarin. Emosimu harus
seperti ini loh untuk menerima hal ini.
Emosimu harus seperti ini untuk menerima
hal ini. Bahkan hal simpel aja ya. Ulang
tahun aja aku enggak pernah dirayakan
dahulu. Ingat aja alhamdulillah. Jadi
saat punya istri terus istri merayakan
Hallowe aku benci. Aku enggak bisa
berekspresi seperti yang kamu mau. Ya
kan? Saya kan sekarang punya anak.
anakku suka dirayakan. Akhirnya mau gak
mau aku harus mengikuti. Wah, seperti
ini dirayakan. Oke. Kalau menyesal
sangat-sangat menyesal sebenarnya, Mas.
Cuma dulu itu kan enggak bisa
berekspresi aku di saat ditinggal Bapak.
Aku itu orangnya susah nangis ya. Aku
ditinggal bapak hanya mbes ya. Bingung
enggak tahu harus beras-beras seperti
apa. Menyesal-menyesal banget karena
dulu seperti itu ya kan. Terus apa yang
dikatakan beliau-beliau itu benar semua
tapi enggak tak pernah tak jalan soalnya
kulino metani dewe. Jadi lek belum
nyemplung kan belum tahu aku. Jadi
jemplungi dulu rasanya seperti apa. Oh
ya benar tiba. Soalnya tidak pernah
diajari jadi gagal dulu. Kamu harus
seperti ini, kamu harus seperti ini kan
dulu. Tapi tidak ada pendekatan emosi
yang dalam kan hanya perintah menurutku.
Aku tuh orang egois sebenarnya tapi
sayang sama pasanganku. Ketemu istriku
tuh hanya pacaran 6 bulan langsung tak
lamar menikah. Istriku tuh tidak pernah
melarangku minum, tidak pernah
melarangku main sama teman-temanku. Aku
minum ditemenin, aku nongkrong
ditemenin, aku jalan-jalan dia jadi
terne. Sampai akhirnya aku sungkan
sendiri. Gu kan egois kan cowok itu
egois dia ngomong enggak pernah tak
dengerin tapi yang diomongin itu benar
akhirnya mau gak mau aku harus
mendengarkan kata dia. Aku itu manusia
yang enggak bisa bangun pagi dahulu
sedangkan aku itu masih ngerintis
usahanya berarti dulu ya kan harus
bangun pagi nanti kamu bisa kayak gini
bisa ngerjain ini, bisa ngerjain itu
daripada nanti siang bangunmu. Akhirnya
setelah berjaya waktu ya benar sih aku
harus bangun pagi. Aku dulu orang sing
selalu berpikir untuk lima step yang
atas. Aku step di posisi tiga, aku harus
berpikir ketujuh itu caranya gimana.
Tapi aku melupakan yang step 4 5 6
akhirnya moleng sendiri ya carane gap
yang tujuh gitu akhirnya brun out budrek
ya kan Mas. Lah istriku tuh menyarankan,
"Ayo ngerjain hal-hal kecil dulu nk
sekitarmu. Apa kek, apa kek lah
menurutku tidak menghasilkan itu." Tapi
setelah ke sini oh iya benar ya. Kalau
ini tak kerjakan nanti jalannya akan
kebuka sendiri sih. Bisnis kafe itu juga
dipertemukan dengan istriku ya. Karena
toko sepi setelah menikah kok kebetulan
istriku tuh pernah kerja di coffee shop.
Jadi aku tuh tidak pernah tahu bisnis
FnB sama sekali bukan bidangku. Tidak
tahu menahu tentang kopi sama sekali.
Jadi nul aku tuh hanya suka nongkrong
aja Mas. Jadi sehari itu kalau pacaran
sama istriku saya pindah ke shop lima
kali dulu. Suka ngopi, suka nongkrong.
Ya, akhirnya ketemu istriku sedikit tahu
tentang dalamnya bisnisnya kayak apa.
Jalan. Jadi ini
[Musik]
dulu itu ada sedikit tabungan sekitar R
juta paling Mas. Terus sama pantungan
dengan partnerku itu. Jadi di luar
estimasi sebenarnya bangun ini dulu
uangnya habis di bangunan isinya belum
ada. Sedangkan bangunannya pada waktu
itu estetik terus di jalur wisata jadi
banyak orang mampir kan. Pusing aku,
Mas. Tempatku buat foto-foto tapi aku
gak dapat income. Ini akhirnya sama
ibuku dikasih lagi itu ya buat belanja.
Tak bilang aku utang ya, Bu. Enggak
usahlah pakai air. Akhirnya buat belanja
itu. Jadi buka datang di sini itu mesin
kopi grinder, show isinya kosong, Mas.
Akhirnya belanja kopi, belanja
poder-poder frozenan itu untuk
snack-snack itu dan ke Malang dulu
karena belum tahu supplier yang di
dekat-dekat sini. Karena basicnya
istriku dulu kan kerja di Malang. Jadi
dia lebih familiar belanja di Malang.
Jadi jalanlah ke Malang belanja itu
semua yang keperluannya. Istriku nak
paham kopi, aku juga tidak paham kopi.
Temanku paham kopi sedikit. Akhirnya
gimana caranya buka?
Ada salah satu temanku yang diulingi
juga. Kebetulan dia kuliah di Solo. Pada
waktu aku buka toko itu dia pernah
nawarin binmit kopi gitu. Ke ingat? Coba
tak telepon. Kamu masih jadi barista
gak? Lur? Masih. Aku lagi buka gede ini.
Coba ayo buka bareng dulu. Kok kamu
enggak nyaman ya Cabuto enggak apa-apa
aku. Akhirnya beliau ke sini jalan
sambil ini buka aku cari barista lagi.
Jadi istriku pernah kerja di coffee shop
tapi ndak pesion tentang kopi. Dia
pesennya masakan. itu temanku datang
akhirnya jalan rame
kan ngapain waktu itu perannya
owner Mas
aku dulu nganter-ngantar minuman malahan
Mas jadi aku dulu sepakat sama temanku
jangan pernah nge-share siapapun yang
punya ini nanti takuti orang enggak enak
dan lain sebagainya bahkan orang tuaku
dulu enggak tahu aku bikin coffee shop
tahunya bikin warung sampai dirasani
disenen mas prasiko gawe warung ratusan
juta i warung sing koy opo bahkan ke
teman-teman juga sekarang dulu basicnya
suka nongkrong k temannya nya banyak.
Enggak pernah aku share ya aku bikin
coffee shop di sini. Aku sama istri tuh
takut dijelokne mental nanti kamu ning
kono sapa pasarmu, sapo sing arep tuku
gave-kafe ning kono sing tung demit.
Akhire mereka tanya bikin apa? Camping
ground. Sesuai karo backgroundku yang
lama kan camping ground. Jadi tak undang
ayo makan-makan nk sini ya
nongkrong-nongkrong di sini aku buka
coffee shop nk sini gitu. Jadi
sebenarnya marketing pertamaku ya
teman-temanku sendiri. Untungnya punya
banyak teman, akhirnya banyak yang
nge-share jadi ramai.
[Musik]
Pengalamanku seperti itu ya, Mas ya.
Enggak tahu kalau yang lainnya. Karena
kembali lagi bahwa budget untuk
marketingku pada saat itu tidak ada.
Mungkin kalau beliau-beliau owner yang
lain punya budget untuk marketing, ya
sah-sah aja. Kebetulan value lebihku di
teman-teman ya, akhirnya teman-teman
yang tak gerakkan. Tanpa aku
menggerakkan, mereka pun dengan senang
hati untuk bikin story dan dis-are di
sosial medianya mereka. Jadi aku heing
barista yang sudah bisa tadi pertama
sambil belajar aku untuk menentukan
menunya sesuai lidahku sama istriku.
Jadi rasanya seperti ini gimana? Oh iya
wis gini masuk gini gimana enggak masuk
jadi dol karena suka nongkrong tadi kan.
Alhamdulillah banyak suka tahun pertama
buka sangat untung sekali Mas. Iya
karena mungkin ini konsep baru di
Blitar. Jadi mungkin orang customer itu
melihatnya nyeleneh tapi disajikan
dengan brober atau mungkin selama ini
yang ada di hutan-hutan mungkin warung
aja ya selama ini lah. Itu aku
melihatkan sebenarnya suka nongkrong
karena akhirnya melihat-lihat mana di
mana di mana gitu. Terus aku berpikir
kok belum ada ya coffee shop sing nk
pinggir hutan sing viewnya menyenangkan
tapi disajikan dengan proper misnya di
kafe-kafe nk kota coba bikin ini dengan
asumsiku adalah bahwa nk atas ini kan
ada tempat wisata masa enggak ada sih
25% dari customernya wisata yang mau
mampir ke sini gitu ternyata enggak ada
tadi pertama buka itu kalau orang ke
sini ya pengin ke sini customernya sini
yang beli di sini itu yang pengin ke
sini jadi kalau customer yang dari atas
itu hanya mungkin 5%-nya aja lah di awal
ramai sampai waiting list dulu itu satu
hari waiting list numpuk 10 atau 15 itu
biasa dulu. Jadi itu kayak aku dinaikkan
tadi yang pertama tak bahas tadi bahwa
aku dinaikkan sama Tuhan langsung
diturunkan lagi. Tapi aku menyadari
bahwa ini viral ini. Nah ini enggak
bertahan lama pasti bertahan lama mah
sampai 6 bulan seperti itu. Heeh. Aku
harus jumawa dong. Wah santlah nyant lah
gitu aja. Enggak berpikir ke depannya
piye, maintenance-nya seperti apa nanti.
Akhirnya enggak berpikir seperti itu.
Ngepehne jalan ramai 6 bulan berikutnya
sepi mulai turun turun turun sepi. Kalau
per hari bisa sampai 8 ke 10 Mas.
Iya di weekend mungkin ya. Kalau di
weekday mungkin si 4 ke6 pada saat ramai
ya.
I berarti ratusan per bulan. Iya,
makanya saya bilang ramai, Mas. Makanya
saya jumwaah. Bahkan satu
[Musik]
sosial media sih, Mas, yang tak
manfaatkan. Jadi kebetulan dari
pertemanan tadi membuat Instagram dan
TikTok-nya sini ramei. Banyak yang
follow tanpa aku ngurusin itu. Bahkan
fotonya itu hanya coming dulu itu. Tapi
yang ngetag banyak sampai aku akhirnya
harus wah ini harus airing content
creator. Jadi yang tak tekankan adalah
yang aku jualkan suasananya. Aku enggak
mau orang itu dipaksa untuk datang ke
sini. Enggak mau. Tak tawarkan kamu
kalau ngopi di sini suasananya seperti
inilah. Cuacanya seperti ini. E
ambiansnya seperti ini. Ngopi di mana
lagi kamu dengan backsound burung-burung
dan jangkrik di sini? Bukan dari suara
sound system loh ya. Asli loh ya. Ini
pada saat itu malah bukan kami yang
bikin Mas. Jadi ada temannya adikku main
ke sini. Kebetulan pada saat itu kabut
di sini terus menikmati teh sama kopi.
Kelihatannya kan hangat ketemu FYP waktu
itu pada saat COVID kalau enggak salah
ya. Terus tak cari-cari siapa ya ini?
Ternyata temannya adikku tak suruh ke
sini. Ternyata dia masih kena COVID. Tak
suruh ke sini tak kasih menu mau apa dan
terima kasih sudah dipromosikan.
Pada saat saya buka tuh Juni 2021 saya
buka seminggu opening PPKM. Jadi
pembatasan nongkrong di kota-kota itu
kan jamnya dibatasi. Nongkrongnya
bolehnya pagi. Akhirnya ada yang baru di
pinggir hutan. Mungkin orang-orang
berpikir bahwa di situ jauh dari operasi
polisi ya. Akhirnya lari ke sini semua.
Wah, ramai. Tapi viap-nya di pagi sampai
sore. Kalau sore mereka sudah pada
pulang. Mungkin karena akses jauh ya.
Jauh dari kota. Jadi dari tempat
tinggalnya. Soalnya rata-rata yang ke
sini orang kota. Kalau enggak Blitar
Kota Tulungagung, Malang, Kediri gitu
sama Wingi gitu. Kalau yang sekitaran
sini ya jarang berada pada saat itu dulu
malah mungkin 2 bulan ya ramai banget
itu ya Mas ya. Makan ramai itu akhirnya
dioperasi juga di sini. Tapi operasinya
jam 8.00 malam di sini sudah kosong,
Mas. Ini bisa bangun atap sebelah sini,
atap sebelah sini. Dulu kan hanya
bangunan ini aja, lainnya order. Karena
menurutku keren aja di pinggir hutan
tempatnya order. Ternyata di sini kan
curah hujannya tinggi ya. Kalau di sini
penuh hujan, wah di sini enggak pasar,
Mas. Ngumpul di dalam semua kan enggak
nyaman. Sedangkan penginku tempatnya
nyaman, tetap bisa dinikmati.
Sekarang alhamdulillah berjalan lagi.
Sudah sedikit ada perkembangan membaik.
Yang penting stabil aja sih, Mas.
Sekarang ini bisa diputar uangnya untuk
belanja. Anak-anak yang kerja di sini
dapat gaji yang sepantasnya gitu. Dana
emergency, ya, Mas, menurutku yang harus
diamankan. Operasional 3 bulan
setelahnya itu harus aman sebenarnya.
Harusnya menurut pengalaman pribadi ini
bisa salah, bisa enggak lah ya. Jadi
kalau pada saat rami mungkin kita harus
mengamankan operasional cost operasional
3 bulan ke depan. Jadi harus aman itu
semua untuk tetap bisa beroperasional.
Kalau HPP kan fleksibel, tergantung
penjualan kan. Semakin ramai jualannya,
semakin banyak app-nya yang dibelanjakan
juga kan. Jadi kita tetap bisa promosi,
tetap ini bisa bersih untuk jalan
seperti ini. Ini tetap bisa
beroperasional seperti biasa. Yang
paling penting adalah bisa gaji
karyawan.
[Musik]
E dulu pernah kan omsetnya sinilah bagu
sama gajinya anak-anak banyak. Gajinya
anak-anak loh. Bener itu, Mas. HP-nya
anak-anaknya iPhone semua. HP-ku opo,
Mas? Itu dulu pada saat sepi-sepinya,
Mas. Sedangkan aku itu kalau sudah sama
karyawan sudah loyal tuh haram untuk
mengejar. Menurutku aja ya, Mas. Anak
sudah loyal sama aku, ya menurutku
apapun yang terjadi harus aku usahakan
untuk bisa ngaji kamu. W kamu sudah
mencerahkan waktu dan tenagamu di sini.
Sebenarnya bisnis FnB itu menyenangkan
kalau cabangnya banyak. Kalau satu itu
mengerikan untuk buka cabang lagi masih
belum ada, Mas. Ini rencananya
menjanjikan kalau cabangnya banyak
soalnya ada pasti ada backup. Kalau di
sana ramai, di sini bisa dibantu sama
yang ini yang lagi sepi. Begitu. Itu
yang tak pelajari, Mas. Aku harus buka
satu lagi atau dua di tempat yang beda.
Soalnya kalau hanya satu, kalau pada
saat berdarah-darah ya nangis, Mas. Bisa
jual mobil, jual motor. Saya pernah jual
mobil, jual motor hanya untuk bertahan,
untuk ngisi operasional. Motor mobil
habis pinjol. Aku harus mengutamakan
yang makan dulu lah. Nanti lek urusanku
belakangan. So tanggung jawabku ngasih
makan mereka. Mereka yang sudah kerja
sama aku harus tak kasih makan duluan
kan. Tuntas alhamdulillah. Kalau pinjol
sedikit sih, Mas. Paling ya antarane 4
ke ya. Pada saat bulan itu karena
cashfnya kosong aku harus ngaji
anak-anak harus tak bayar juga kan. Kira
ambil pinjol yang siap sedia untuk
diambil.
Jadi karena dananya sudah habis, aku
enggak bisa hiring influencer untuk
datang ke sini terus mempromosikan sini
kan. Aku bikin brosur tak sebar di loket
wisatawan yang ke atas tak kasih brosur
aku main diskon juga. Main diskon dulu
tuh aku pernah bikin diskon kopi pagi
sudah cappuccino sama free donat. Ini
yang masih berjalan sampai sekarang tuh
disukin hujan. Jadi di saat hujan
jenengan pesan pada saat hujan di sini
diskonnya 10%. sama bikin konten di
sosial media, bikin video lagi, tak
bikin sendiri dulu itu bikin pakai HP
gitu sama anak-anak yang kerja di sini
tak suruh up story, tak suruh bikin
video. Nanti kalau ramai tak kasih V aku
kalau kiat-kiatnya ada dua, Mas. Kamu
dari background-nya orang ada atau kamu
gila lah. Kalau enggak ada terus itu
bisnismu tidak masuk akal, ngapain kamu
pertahankan? Ya kan gitu logikanya.
Mungkin aku sebagian dari orang gila ya.
Aku tidak punya background keuangan yang
bagus. Keluargaku tidak dari keluarga
yang berada nekat aja. Mau mobil aja tak
jualannya untuk bertahan. Kalau
kiat-kiatnya aku beda dari tempat lain.
Aku punya produk beda, aku punya tempat
beda, aku punya suasana yang beda. Itu
aja sih, Mas. Yang aku jual
perbedaannya. Karena aku berpedoman
bahwa sedikit lebih beda lebih baik
daripada sedikit lebih baik. Jadi, aku
lebih beda sedikit enggak apa-apa. Yang
penting aku tetap dinotis.
Bukan pencucian uang ya, Mas ya.
Alhamdulillah bukan. Bahkan pada saat
don-downnya itu kadang berpikir enggak
enak ya wong sir nyuci uang rene gitu
ya. Paling enggak utangku lunas. Itu
[Musik]
untuk mengetahui jatuh itu sakit, kamu
enggak perlu jatuh. Sebenarnya dengar
cerita dari orang lain bahwa jatuh itu
sakit sudah cukup bisa membuatmu tahu
bahwa jatuh itu sakit.
Saya Arindra Prasutyo. Saya owner dari
Campen Coffee Shop yang beralamat di
Tulungrejo, Gandusari, Kabupaten Blitar.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Sudah. Terima kasih.
Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:59 UTC
Categories
Manage