Transcript
tC1oVov_sxg • Bisnis Lancar, Gaji Ribuan Dollar Perbulan Tapi....!!! Bisnis Jangan Salah Niat
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0598_tC1oVov_sxg.txt
Kind: captions
Language: id
Kalau dari awal kita bangun bisnis itu
niatnya sudah salah,
ya nanti ke depannya juga akan salah
juga buat diri kita sendiri. Dan itu
yang pernah saya rasakan dan sehingga
saya sadar bahwa makin saya makin kerja
makin workoholik sampai saya merasa 24
jam itu kurang dan kerjanya tuh bisa
sampai pagi sampai sore terus malam
sampai pagi lagi
itu jadi kayak kecanduan gitu sehingga
akhirnya makin lama makin lama makin
lama makin jauh dari Allah. Hati-hati
loh kalau misalkan kamu mikirnya kayak
gitu, nanti kamu cuma dapat di dunia
doang.
Nanti setelah kamu di akhirat, kamu
enggak dapat apa-apa. Karena apa? Sudah
dibayar semuanya di dunia.
Kalau kita ngomongin garis timeline, Mas
ya, kehidupan kita sebelum kita lahir
sampai sesudah kita mati itu kan panjang
banget. Ribuan mungkin jutaan tahun ya
emang cukup itu untuk menyelamatkan
kita. Nah, itu loh, Mas. Pertanyaannya
kayak gitu. Kita kan tetap harus butuh
amal saleh orang lain, Mas, tanpa
mengurangi pahala orang tersebut. Ya,
gitu loh ya. Kalau misalkan ya saya
katakanlah gini, "Bisnis tak tinggalin,
saya mau jadi hafiz Quran." Nah, gitu
lah. Terus gimana nanti kan malah
akhirnya pondok-pondok tahfiznya ini
jadi terbengkal ya gitu loh. Nah, kenapa
enggak kita fokus di bisnisnya tapi kita
support akhirnya mencetak hafiz Quran
Quran yang banyak sehingga kita akhirnya
bisa spesialis di bisnisnya tadi. Kita
kan enggak pernah tahu ya, Mas.
Maksudnya gini, pahala itu kan hanya
wasilah di mana Allah menurunkan
rahmatnya untuk menyelamatkan kita dari
neraka gitu. Kita masuk di kita bisa
dimasukkan ke surganya Allah. Itu kan
karena rahmatnya Allah, bukan karena
pahala kita. Kalau kita ngomongin
pahalanya sudah banyak, sudah cukup,
terus merasa selamat, ah itu berarti
malah jadi masalah itu.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah, Mas.
Agung. Eh, Maso ini adalah sosok yang
opo yo, Mas? Menurutku itu boleh
dibilang jadi idaman lah.
Wah,
astagfirullahalazim.
Maksudku tuh gini, Mas. Dari dulu itu ee
aku kenal Mas Aryo kan fokus banget
ibaratnya kalau kita lihat cerita-cerita
di pecah telur kan banyak orang berjuang
untuk mereka bisa tuntas dari
kehidupannya. Maksudnya ya entah nyicil
hutang,
kemudian juga entah mereka ingin jadi
family man. Iya.
Benar.
Tapi ee ketika aku melihat Mas Ar itu
kayak sekarang itu sudah berbeda gitu
loh. Kayak levelnya itu berbeda gitu
loh.
Sudah sudah ada donasi yang ke Gaza
terus dekat dengan para orang-orang
saleh itu wamdulillah.
Nah, menku apa sih, Mas? Jadi
ee kalau aku ingin bertanya kepada Mas
Aryo ini, apa sebenarnya perspektif apa
yang Mas Aryo ini jalani gitu
dari semuanya itu?
Sebenarnya itu kembali ke perjalanan
sih, Mas. Itu adalah sebuah perjalanan
di mana
biasanya itu setiap bebisnis itu tuh
juga yang mungkin tanda kutip sudah
selesai dengan dunianya atau kalau
mungkin orang-orang MLM dulu bilang tuh
ee apa namanya? Financial freedom ee
kayak gitu.
Itu pasti ada merasa kekosongan di situ
kehampaan ya. Yang mana dia itu pengin
apa nih next-nya itu
jadi target selanjutnya tuh apa kayak
gitu. Nah, kalau kita runut dari awal
dulu, kalau misalkan kita flashback
bentar ya, Mas.
Iya.
Jadi, dulu kan ee saya bangun bisnis itu
awalnya untuk menuntaskan hutang ya kan?
Iya. Dulu kan berawal dari seorang
manajer dari gede digital yang banyak
hutang kan.
Iya. Iya gitu. Heeh.
Itu kan dulu pernah terjerat riba dan
lain sebagainya seperti yang kita
tahulah ya di kisah-kisah entrepreneur
yang motivasional
dia jatuh kena riba. Tapi memang kayak
gitu sih. Jadi ada kayak fase-fasenya ya
di saat gitu. Terus kemudian dia pengin
selesai supaya nutup hutangnya supaya
lepas dari riba kayak gitu. Setelah
kemudian selesai dengan riba kan dia
sudah selesai tuh maksudnya dia sudah di
titik itu apa tuh next-nya gitu. Nah
terus saya mikir oh ya kemarin-kemarin
saya belum bisa membahagiakan ee anak
dan istri saya dengan lebih proper
ibaratnya kayak gitu. He.
Kalau hutang sudah selesai cicilannya,
berarti fokusnya sudah bisa di ee geser
untuk membahagiakan anak istri, ya kan?
Dan juga ee ke depannya seperti apa.
Karena dulu tuh si istri tuh sampai
pernah ee khawatir itu loh ini besok
bisa enggak ya bisa buat beli susu atau
bisa buat beli baju sampai di titik itu
gitu. Iya dulunya gitu. Setelah akhirnya
di di titik di mana sudah bisa
membahagiakan anak istri, bisa ngajakin
kuliner ke mana mungkin ee wisata dan
lain sebagainya. Terus apaagi nih
selanjutnya gitu kan. Nah, akhirnya
next-nya lagi, visinya lagi adalah ee
kita ngomongin kebermanfaatan minimal
untuk ee tim. Jadi membesarkan tim jalan
rezeki buat orang lain gitu. Karena dari
awal memang kalau saya sering tegaskan
ke teman-teman ya, maksudnya kalau dari
awal kita bangun bisnis itu niatnya
sudah salah
ya nanti ke depannya juga akan
salah juga buat diri kita sendiri. Dan
itu pernah saya rasakan dan saya pernah
ceritakan juga bahwa dulu awalnya
pengin lunas hutang ya kan. Tapi habis
itu hutangnya setelah lunas itu jadi
keterusan kebablasan. Sehingga saya
sadar bahwa makin saya makin kerja makin
workaholik sampai saya merasa 24 jam itu
kurang dan kerjanya tuh bisa sampai ee
pagi sampai sore terus malam sampai pagi
lagi
itu jadi kayak apa kecanduan gitu
sehingga akhirnya makin lama makin lama
makin lama makin jauh dari Allah. Nah
gitu dan itu yang namanya istidraj.
Heeh. He
gitu. Jadi,
tapi waktu itu memang bergelimang harta
ya, Mas ya.
Bisa dibilang gitu. Ribuan dolar per
bulan Mas.
Wus.
Iya. Dengan posisi ya masih istilahnya
nyambi atau freelance lah kayak gitulah
kayak gitu. Dan itu
saya merasakan tanda kutip sombong ya.
Walaupun di situ saya sudah mulai kenal
namanya sedekah kayak gitu tapi saya
mikir ya sudah sedekah kok kayak gitu
loh. Tapi
nah itu itu dia. Makanya saya terus
akhirnya kayak
ee penginnya ngumpulin harta, numpuk
harta. Padahal kan itu enggak boleh kan.
Misalkan kita numpuk-numpuk harta dan
menghitung-hitungnya itu kan ada di di
Quran di ayat berapa itu saya lupa tapi
itu enggak boleh gitu. Jadi
akhirnya saya terjebak di situ dan
kenanya istidra sampai suatu ketika di
mana ada suatu kejadian ibu saya
meninggal
dan di situlah saya kemudian akhirnya
ditegur jadi ber istilahnya apa yang
dulu ibu sering ngingetin saya untuk
salat dan lain sebagainya itu baru
terngiang-ngianglah gitu. Akhirnya saya
ee memperbaiki diri saya ya kan dan
mulai membenarkan niat lagi gitu
membenarkan niat. Oh iya, berarti
kemarin sudah mulai salah niat nih,
gitu. Penginnya memperkaya diri sendiri.
Akhirnya tuh dihilangkan dikesampingkan
bahwa kita ini bangun bisnis itu untuk
bermanfaat untuk jalan rezeki buat orang
lain menjadi keran rezeki sehingga keran
itu enggak akan pernah kering kan. Kalau
keran kan dilewatin air terus gitu loh.
Perkara itu nanti dapat berapa
income-nya ee istilahnya mungkin
profitnya dan lain sebagainya itu bonus
aja. Nah, jadi itu kayak efek samping
sama kayak kita sedekah. Dulu tuh saya
sedekah tuh penginnya balik. Jadi the
miracle of giving, konsep yang dulu saya
apa pahami itu salah. Itu
dulu gimana konsepnya?
Dulu kayak hitung-hitungan. Ee bahkan
dulu kan kita mikirnya ini kan berdagang
sama Allah kayak gitu kan.
Iya. Iya.
Benar kan ya?
Kalau kita sedekah kan nanti akan
kembali banyak berkali-kali kan gitu ya.
Nah. Dulu kan pernah dikasih tahu
hati-hati loh kalau misalkan kamu
mikirnya kayak gitu nanti kamu cuma
dapat di dunia doang. Nanti setelah kamu
di akhirat, kamu enggak dapat apa-apa.
Karena apa? Sudah dibayar semuanya di
dunia. H.
Sehingga ee jangan sampai salah niat
gitu. Oh, aku sempat sempat ini apa
ngeyel gitu, Mas. Lah kan sudah
dijanjiin sama Allah dan kita kan hanya
berharap sama Allah, enggak berharap
sama makhluk. Emang enggak boleh kita
berharap dibalas di dunia? Iya, tapi
nanti dapatnya di dunia doang gitu loh.
Padahal ayatnya ada juga, Mas. Itu
setelah baca, woh iya juga ya. Kayak
gitu. Terus ee akhirnya ya itu maksudnya
saya akhirnya mulai ee mengubah mindset
itu bahwa sedekah ya sedekah aja menjadi
habit aja gitu loh. Masalah itu nanti
dibalas di dunia atau di akhirat itu
biar Allah aja nentuin gitu loh.
Nah, kalau misalkan Allah balas di dunia
dengan ee rezekinya makin lancar dan
lain sebagainya ya alhamdulillah gitu
loh. Tapi kalau enggak pun ya kita
hitung-hitung nabung aja di akhirat
gitu. Jadi jangan sampai akhirnya woh
ini kurang nih, kurang sedekah nih.
Haah. G kan kita juga enggak bisa me apa
ya istilahnya mendefinisikan bahwa
sedekah itulah yang membuat rezeki kita
lancar. Emang tahu kan enggak kan?
Kan bisa juga doa orang tua kita ya kan
mungkin doa tim yang kemudian kita bisa
bantu sehingga bisa dapat pekerjaan ya
atau mungkin doa nenek-nenek yang kita
temuin di jalan kita. Nah misalkan kayak
gitu loh kita bantu ya. kita enggak bisa
memastikan bahwa itu benar-benar jadi
salah satu faktor ya itu hak prerogatif
Allah yang kemudian menentukan itu. Jadi
akhirnya itu dirubah mindsetnya dan
akhirnya apa? Pondasinya lah yang
dibenerin. Karena dulu tuh hanya sedekah
sedekah sedekah aja tapi salatnya malah
ambyar. Dulu istilahnya ee ada feedback
klien tuh lebih mementingkan feedback
klien gitu daripada azan gitu kan. Ah
nanti ajaalah namanya desainer kan wis
terlalu senang di depan komputer ya Mas
ya. Engkongkok akhirnya mepetmepet
bablas kayak gitu-gitu Mas gitu. Itulah
terus dibenarkan. Nah, kita kembali ke
milestone tadi ya, ke titik di mana
target akhirnya sudah bisa menyenangkan
anak istri. Terus habis itu lanjut ke
kebermanfaatan, ya kan? Kebermanfaatan
membesarkan tim.
Kalau timnya sudah besar, sudah banyak
yang kerja, terus apa lagi nih next-nya
gitu loh kan. Nah, selama berjalan ee
usaha kami itu kan ada namanya dana
CSR-nya atau dana sosialnya yang mungkin
sebelum-sebelumnya itu disalurkannya
secara random kadang ke masjid ini, ke
pantiasuan ini dan lain sebagainya itu.
Nah, terus kemudian kita terpikir kenapa
enggak itu tuh dananya kita yang kelola
gitu loh. Dikelola untuk membuat ee
pondok ee tahfiz atau rumah tahfiz.
Jadi awalnya kita hanya saya cuman sewa
apa rumah kontrak rumah gitu diisi lima
santri. Alhamdulillah kenal dengan
seorang ustaz dan kita bermitra dengan
ustaz tersebut.
Ustaz tersebut yang kemudian mengajar
punya santri-santrinya kita yang support
ee teknis dan operasionalnya kayak gitu.
He.
Berawal dari situ terus CS CSR-nya
akhirnya ee larinya ke situ. Nah, dari
situ memang dari awal ya intinya kita
pengin support aja dan memang secara
enggak langsung ya, Mas, kalau misalkan
saya flashback itu growth-nya memang
cukup signifikan sih, Mas. Gitu loh.
Walaupun
growth apa itu?
Growth bisnisnya.
Ee walaupun kembali lagi ya
kita enggak tahu,
kita enggak tahu itu apakah
dari itu
atau dari yang lain kan?
Iya, dari yang lain kayak gitu. Semenjak
ada itu jadi lancar.
Heeh. Karena gini, Mas. Kalau misalkan
di otak-atik gatuk itu tuh ini kan kita
terlibat di projject Allah ya kan. Kalau
kita membantu agamanya Allah, Allah kan
juga akan menguatkan kedudukan kita,
kan. Kayak gitu. Kita akan dibantu juga
sehingga ee gimana caranya santri-santri
ini bisa tetap makan, bisa tetap ada
operasional buat rumah tahfiz, otomatis
kan di-support, disuntik dari studio ya.
Otomatis Allah juga akan mendatangkan
rezeki yang tidak disangka-sangka. Kalau
secara nalarnya kayak gitu. secara
logikanya ya gitu. Tapi bukan berarti
kemudian terus kita memakai tanda kutip
alat ini sebagai alat untuk ngelarisi
dagangan kita. Jadi salah niat dong.
Jangan
itu saya saya belajar di ini, Mas, di
Ustaz Umar Mita di Tazkiyatun Nafs. Jadi
jangan sampai kayak gitu tuh menjadi
pengkotor niat kita.
Iya.
Karena begitu niat kita kotor nanti
takutnya nanti ya di akhir nanti kita
boncos.
Iya. Enggak dapat apa-apa.
Iya. mana ya Allah yang disedekahkan
dulu segala macam tiba-tiba hilang kan
sudah dibayar di dunia
gitu
kan sudah tak larisin gitu ya sesuai
niat kamu
nah gitu Mas makanya itu bahaya banget
bahaya banget
tapi siri sekali itu Mas pasti
pergerakan hati yang sangat halus itu
loh
benar benar makanya tuh benar-benar
harus kita jaga banget niatnya itu gitu
berarti kalau apa ya CSR itu hitungannya
gimana kalau Mas yang Mas Arya terapkan
ee yang saya terapkan itu ya ee ee ada
persentasenya.
Jadi tergantung nanti kesepakatan
studionya masing-masing.
Oh, beda-beda ya?
Beda-beda. Kalau tapi rata-rata mungkin
10%-an ya. Kalau di slab itu ada 5% buat
pondok, e 5%-nya buat
tabungan umrah tim.
Oh, makanya itu ada yang diumrohkan
banyak itu Mas dari timnya jenengan kan.
Iya. Alhamdulillah, Mas.
Itu kriterianya seperti apa?
Minimal sudah 5 tahun kerja. Oh,
jadi selama start dia kerja di tempat
kami gitu, kita kayak punya tabungan pos
CSR buat ditabungkan umrahnya
5% dari profit dari profit itu ya.
Iya, 5% dari profit itu gitu. Sehingga
nanti setelah 5 tahun selesai dia sudah
ee berkesempatan untuk bisa berangkat
umrah kayak gitu.
Itu berlaku di dua-duanya sih, di Letter
Hand sama di Slap kayak gitu. Nah, terus
ya itu 5% lagi buat yang pondok. Tapi
itu ya yang di yang dih itu 10% ya
memang sudah itu untuk dakwah ya gitu.
Jadi
CSR-nya akhirnya berkembang Mas. Jadi
enggak hanya bisnisnya berkembang tapi
CSR-nya pun juga berkembang.
Oh gitu. Maksudnya berkembang itu
dikembangkan nominalnya atau
pembagiannya dikembangkan?
Ee berkembang projeknya.
Oh.
Jadi awalnya pondok tahfiz ee pertama
almulk ya.
Almul berarti almulk sudah berapa tahun
Mas? 4 tahun ya
kayaknya. 5 tahunanah gitu.
itu ee Pondok Tahfiz Almulk yang
alhamdulillahnya itu bisa terbangun juga
atas izin Allah dengan wasilah pecah
telur juga.
Masyaallah.
Di video yang sebelumnya kan fun racing
juga tuh di deskripsi itu alhamdulillah
juga banyak wasilah yang nyumbang di
situ, Mas. Itu jadi jenengan amal
jariahnya ngalir terus dari situ.
Amin. Amin.
Gitu. Terus habis itu ada juga ee apa
namanya ee Indonesia Creators Academy ee
yang di video sebelumnya itu juga sudah
dibahas gitu. itu sifatnya sekolah skill
tapi kayak berbasiskan pondok. Jadi dia
juga dapat pelajaran agama. Kenapa kok
dikasih pelajaran agama? Itu karena
supaya dia selain bisa dapat ilmu skill
yang bagus, tapi attitude-nya juga
bagus.
Attitude itu kan berarti ngomongin
akhlak dan adab.
Kalau kita ngomongin akhlak dan adab
berarti kan pondasi agamanya yang harus
dimasukin maklumatnya gitu loh. Jadi dia
bisa mendapat oh ternyata harus kita
harus punya adab seperti ini, akhlak
seperti ini. Kalau di tempat kerja kayak
apa dan lain sebagainya. Nah, kalau
misalkan kayak gitu, insyaallah dapat
dua-duanya. Karena kan yang menjadi
permasalahan di di SDM saat ini tu kan
skill-nya bagus, tapi attitud-nya nol
lah kayak gitu loh. Bahkan gini, Mas,
saya sempat ada apa namanya fenomena
yang cukup menarik gitu loh. Jadi ada
teman saya di Facebook itu buka lowongan
kerja muslim ee salat lima waktu tidak
merokok. Itu kalau kita ngomong kan ya
itu kayak biasa aja kan gitu loh. Ya itu
kan haknya dia juga bikin. Tapi yang
komen-komen di situ itu tuh pada dihujat
malahan. He
ini mau bikin apa e lowongan kerja atau
buat ee ustaz kayak gini. Wah wah ini
lowongan kerja kok spek nabi kayak gitu.
Padahal seorang muslim salat lima waktu
kan wajar itu biasa aja gitu. Itu bukan
spek nabi.
Se apa separah itulah maksudnya Mas
kondisi kita gitu ya kayak gitu netizen
dan lain sebagainya ya. Kita enggak mau
menggeneralisir ya tapi ya itulah
fenomena yang terjadi gitu.
Makanya ya ya kayak gitu tadi Mas.
maksudnya kita pengin Indonesia Creators
Academi ini bisa dapat dua-duanya kayak
gitu. Dan alhamdulillah sekarang juga
lagi buka kelas, Mas. Kelas ee online
kita onlinekan. Jadi kemarin-kemarin kan
memang selama 5 tahun angkatan kelima
sekarang masuk anant keenam itu ee full
offline ya.
Terus kita pengin ya sudahlah kita coba
buka hybrid. Jadi online pun juga ada.
Nah nanti misalkan ee bisa diklik di
situ terus nanti ada formnya dan bisa
masuk ke grup. Nanti kita kirimkan kayak
kelas-kelas ee apa namanya ee yang dia
yang dia ikutin dan ada tugasnya. Jadi
enggak hanya sekedar ini videonya
terserah mau belajar atau enggak yang
penting sudah e kayak gitu loh. Enggak
gitu. Tapi memang ada tugasnya nanti
kita bisa pantau
dan itu berhasil enggak gitu. Dan itu
ada materinya Mas terkurikulum ada
silabusnya mulai dari ya itu tadi yang
dasar-dasarnya basic fundamentalnya
gambar manual dan lain sebagainya. Habis
itu mulai masuk ke ee basic penggunaan
software gitu kan. Penggunaan
software-nya seperti apa, terus nanti
masuk ke penggunaan hardware-nya kayak
gitu. Tapi kalau online ya otomatis dia
harus ada ee device sendiri kan kayak
gitu-gitu sampai akhirnya bisa ee
menjadi seorang yang bisa ee desain
grafis, bisa ilustrasi, bisa fotografi,
videografi eh video mapping sampai live
streaming bahkan sampai motion grafik.
Terus iya komplit, Mas. Jadi insyaallah
kita bisa mencetak kayak gitu lewat
Indonesia katos Akademi itu yang CS
kedua.
Wah, ada banyak nih.
Ada banyak. Belum selesai, Mas. Sabar,
sabar. Aku sudah pengin tanya loh, ada.
Oh, ya sudah kita itu dulu ya. Tanya itu
dulu ya.
Nah, berarti kalau yang Indonesia minum
dulu, Mas.
Kalau yang Indonesia Creators Academy
itu pendanaannya juga dari CSR Mas ya.
Iya, Mas. Kayak gitu.
CSR-nya perusahaannya Mas Aroyo.
Iya. Salah satunya itu juga tapi kita
enggak menutup ya. Jadi CSR itu si yang
kami ngomong dari tadi itu enggak kita
eksklusif harus dari kami.
Oh, bisa juga dari yang lain
ya. Jadi banyak juga teman-teman
seprofesi yang mereka punya studio
desain juga yang kemudian akhirnya
nitip-nitip juga gitu untuk men-support
kayak gitu ya. Di Pondok Almuk ada juga
yang dari yang untuk Indonesia Creators
Akademi atau namanya ICA itu juga kayak
gitu jadi enggak eksklusif dari kami
semua.
Nah, kalau apa ya? Kalau tadi almulk itu
kan ee fokusnya kan menciptakan tahfid
ya. Iya.
SKnya itu ya.
Nah, kalau I itu tadi Indonesia Akademi
kan ada skill yang diajarkan.
He. Kemudian ada fundamental ee tadi
etika dan juga akhlak tadi kan.
Iya. Iya. Diniah lah ya. Tipis-tipis ya.
Diniah tipis-tipis.
Output dari itu apa sih yang diinginkan
para founders ini? Para foundersnya ICA
ini apa output dari ICA ini?
Output-nya ya gini Mas. Jadi kan
sekarang itu kan kita mau ngomongin
media itu kan sangat berkembang pesat.
He.
Apalagi kalau kita ngomongin media
dakwah ya kan
itu skillnya tuh masih banyak banget
yang kekurangan.
Jadi bahkan lulusan dari IC itu sudah di
apa tandain
dikapling.
Heeh. Ini nanti buat aku ya kayak gitu
dari pondok-pondok, dari masjid segala
macam sampai akhirnya kita sendiri
kewalahan
untuk bisa apa ya mem-provide itu tuh.
Karena ya antara yang input dan
output-nya
enggak sebanding
enggak sebanding kayak gitu. Jadi ya
harapannya ee istilahnya kita juga bisa
tanda kutip mengkader ya
mengkader orang-orang di media yang dia
sendiri nanti bisa men-support ee dakwah
ee atau mungkin apa namanya ustaz-susat
atau influencer untuk bisa bikin
video-video konten-konten yang menarik
di mana pertarungannya sekarang itu kan
media gitu loh. Pertarungan konten jahat
atau konten buruk dan konten positif
kayak gitu. Tapi selain itu juga dia
juga bisa e apa ya untuk dirinya sendiri
berkiprah sebagai desainer grafis pada
umumnya.
Ada yang kerja di studio ya kan, ada
yang juga ee bahkan punya klien apa luar
negeri juga ada ya. Akhirnya punya
istilahnya lagi bangun ngerintis studio
juga ada kayak gitu. Jadi ya segala
macam yang mereka inginkanlah kayak
gitu.
Kalau dari segi yang pengelola Mas Aryo
dan
timnya
Iya. itu berarti kan tidak mendapatkan
apa-apa ya dari adanya ICA ini secara
income ya. Betul.
Iya. Nonprofit memangit ya. Yayasan ini
formatnya Mas. Jadi memang ee Yayasan
Indonesia Creators Akademy nonprofit
Organization gitu.
Jadi memang untuk kayak ya kita
menciptakan orang yang ahli di bidang
media. Harapannya dia menjadi baik dan
kita ya
mendapatkan pahala dari situ gitu ya.
Iya. saja sesimpel itu
jadi legasy tadi Mas gitu
dan harapannya nanti ini bisa makin
membesar jadi menjadi bentuk sebuah
sekolahan yang formal bahkan
yang nanti di hari tua mungkin kita
enggak tahu bisa jadi ribuan bahkan gitu
yang setiap tahunnya bisa mencetak
kader-kader yang bisa
desain dan apa punya attitude yang baik
kayak gitu sih. Berarti tadi berawal
dari kalau kembali kita flashback tadi
dari tujuan berbisnis dari Mas Ara yang
awalnya ingin kemud ingin hutang
melunasi hutang menyenangkan keluarga
menyenangkan tim i
sekarang sudah mulai ke ranah sosial
iya
e ada apaag yang apaagi
ok tadi kan baru yang sampai kedua ya
ketiga itu ada rumah tahfiz Bunda Hafsah
itu yang pondok tahfiz juga tapi khusus
yang akhwat itu ada lagi
Sukoharjo.
Oh
ya kebetulan di situ ada rumah gitu yang
kemudian ditempatilah. Jadi ada ustaz
yang juga nyari kontrakan gitu
langsung ya sudah ini aja T bisa dipakai
gitu untuk apa rumah tahfiz gitu
Bunda Hafsah.
Iya gitu. Alhamdulillahnya tidak sekitar
ee tahun ke masuk keempat kalau enggak
salah kayak kayak gitu sudah
udah sampai 20-an sekian juz mau apa
khatam. Kalau yang almuluk sudah ada
beberapa yang khatam dah. Bahkan ada
yang sampai ke Yaman juga ada. H. He.
Terus setelah itu ini lagi mau otw
merintis Muslimah Creative School. Nah,
gitu.
Oh, ada lagi ya ini ya
banyak nih ya. Apa itu Muslimah Creative
School itu apa itu ya itu masih satu
yayasan sama Rumah Tafiz Bunda Hafsah
tadi. Jadi intinya kayak ICA tadi tapi
untuk khusus yang muslimah. Oh iya.
Karena kan banyak juga kajian-kajian
akhwat butuh tim media Mas. Oh,
dan itu sangat jarang juga malah makin
jarang lagi.
Karena rata-rata kan yang biasa senang
itu kan laki-laki ya.
Laki-laki kalau dikajian akhwat ya
gimana gitu.
Nah, kan gitu Masnya semuanya kajian
ibu-ibu gitu kan dia nyempil di situ
enggak bisa
bebas ruang geraknya kan. Itu kita lagi
merintis juga ini Mas kayak gitu.
Terus kemudian ada lagi yang ee nasi ee
barokallah. Ah, nasi barakallah itu
gerakan berbagi nasi di masjid-masjid
setiap
Senin sampai Jumat gitu. Kalau misalkan
Senin sama Kamis itu dibaginya sore gitu
untuk menjelang berbuka gitulah.
Itu sudah berjalan berapa tahun juga ini
gitu. Ribuan apa nasi bok per bulannya
kayak gitu.
Itu masih berjalan sampai saat ini.
Alhamdulillah gitu.
Waktu saya pertama kali ketemu Mas kan
sudah ada. Itu
sudah ada ya sampai sekarang
alhamdulillah barakallah.
Itu di Kebumen namanya.
Sekarang masih ada.
Masih.
Luar biasa.
Alhamdulillah Allah bisa jaga ini bisa
istikamah terus ya.
Oh
iya. Terus kemudian yang baru-baru ini
jalan juga setahunan ini jalan itu
Direct Donation for Gaza.
Iya. Itu yang lagi sering Mas Aryo
kempainkan itu ya.
Iya itu Mas. Alhamdulillah sih gitu.
Apa tadi? Direct
direct donation for Gaza.
Itu gimana sih awalnya kok masih ada
kepikiran itu gimana? itu direct
donation gas itu
itu ee kebetulan kan saya apa
diperkenalkan lah ya sama ee teman istri
sih sebenarnya dia yang berkontak
langsung sama jurnalis Gaza di sana
terus ngasih tahu ngasih informasi ini
loh bisa nitip donasi langsung ke sana
gitu
ya saya pikir oh ya memang sudah banyak
sih kayak gitu kayak influencer atau
jurnalis yang ee open donasi gitu kan
tapi terus kemudian ya sudahlah tak
nitip gitu lewat istri itu istri yang
menginformasi kan ya sudah tak nitip.
Begitu saya nitip terus dikirimi video
h
sama orang Gazanya itu
video penyerahan bantuannya itu berupa
roti kalau enggak salah. Iya roti sama
air bersih
dengan nama saya ada di situ.
Ditulis di secari kertas itu
langsung meleleh Mas satu. Masyaallah
nama saya sudah sampai di Gaza gitu Mas.
Saya aja belum sampai di sana tapi
minimal nama saya sampai di sana gitu.
Iya.
Wah, ya Allah. Ini ini kalau misalkan
ini saya aja yang dapat infonya
eman-eman gitu loh, Mas. Sayang ini
kalau misalkan hanya di saya aja harus
banyak orang-orang yang lain yang peduli
dengan Gaza yang tahu cara ini, gitu
loh.
Akhirnya saya kemudian ya sudahlah yuk
kita bikin ini jadi kayak gerakan ee apa
donasi bisa langsung transfer ke Gaza.
Karena awalnya tuh kan bisa ditransfer
lewat bank Bank of Palestine. Jadi
ternyata tuh di sana pergerakan ekonomi
itu masih berjalan Mas walaupun hancur
lebur kayak gitu. Jadi masih ada
penukaran-penukaran uang itu bisa kayak
gitu. He.
Tapi terus kemudian akhirnya kita coba
pakai PayPal gitu kan. PayPal. Tapi
terus setelah PayPal kemudian apa
terlalu banyak ee potongannya dan
kemudian ee apa namanya enggak berjalan
dengan lancar, akhirnya kami berubah
pakai USDT atau mata uang crypto.
Tapi memang mata uang kriptonya ini yang
paling stabil ya. Jadi stable coin dia
yang diuivalen sama USD. Jadi dia apa
nilai tukarnya naik turunnya sama kayak
USD US dollar ya.
Heeh. Jadi kalau misalkan ada yang
menghubungi ini goror dan lain
sebagainya kok fluktuatif dan lain
sebagainya yang USDT ini insyaallah
enggak gitu loh. Dan kami menggunakan
itu hanya untuk kirim uang. Jadi tidak
dikumpulkan,
tidak diendapkan di situ.
Tidak diendapkan sehingga mengambil
selisihnya. Enggak. He.
Jadi memang hanya sekedar itu
benar-benar instan dan sangat murah cuma
0,5 USD.
Ee adminnya
adminnya biaya ad
sangat murah ya.
Walaupun nominalnya yang ditransfer
banyak.
Iya Mas. Bahkan ratusan juta pun segitu
juga tetap
0,5 dolar.
Iya kayak gitu.
0,5 kan hanya berapa itu Mas?
Iya makanya
sedikit sekali kan.
Sedikit sekali. Tapi memang di
platformnya itu ngambil selisih dari
nilai tukarnya ya antara beli dan
jualnya itu berbeda. Jadi waktu saya
deposit itu harganya berbeda dengan saya
pas ngambil sama ngirimnya itu loh. Nah
gitu. Tapi selisihnya pun juga paling
R200 kayak gitu. L. Nah, itulah yang
kemudian kita coba kumpulkan di menjadi
salah satu pergerakan namanya direct
donation for Gaza. Terus ee caranya
gimana? Kita ee pasang di Instagram ee
menjadi sosial medianya. Terus kemudian
orang-orang yang tertarik untuk gabung
nanti tinggal ngeklik linknya terus bisa
join ke grup WhatsApp.
Nah, di grup WhatsApp itulah nanti kita
kasih terus update-update setiap harinya
donasinya, penyalurannya, rekap
keuangannya. benar-benar 100%
tersalurkan tanpa potongan, Mas.
Tidak ada potongan sama sekali.
Enggak ada. Karena kita takut apa?
Fitnah harta ya, Mas.
He. He.
Kalau kita ngomongin ya mohon maaf
lembaga-lembaga filantropi yang pernah
terjadi kasus dan sebagainya itu kan
membuat orang skeptis ya. gitu loh.
Justru ee kalau yang lewat kami ini
memang gerakan independen. Jadi memang
ee nomor rekeningnya itu bukan nomor
rekening yayasan karena memang kita
butuh cepat setiap hari itu yang donasi
yang masuk kita nolkan. Hm.
Jadi enggak ada yang ditimbun di
rekening istilahnya yanga dari jemaah
dari member itu langsung kita salurkan
tanpa ada potongan dan itu bisa langsung
tersalur di Gaza dan
setiap hari, Mas, ya.
Setiap hari, Mas. Insyaallah kalaupun
itu enggak paling kepending jadi satu
apa du hari sekali. H
dan itu adalah strategi paling tepat
untuk mengirimkan bantuan di saat ini,
di saat ada pemblokiran di perbatasan.
Karena kalau kita ngomongin ngirim
bantuan ke perbatasan pasti diblokir
dong. Kalau sudah diblokir nanti barang
bantuannya juga enggak bisa masuk.
Kalaupun masuk nanti udah busuklah dan
lain sebagainya gitu kan. Apalagi belum
kita lihat juga di berita-berita bahwa
dicegat-jegat sama ya orang-orang
laknatullah itu ya itu terus kemudian
akhirnya membuat jadi enggak bisa masuk
ya. Akhirnya cara paling tepat adalah
mengirimkan dana apa dana duit ke sana
sehingga di sana bisa dicairkan dan bisa
beli ee bahan-bahan makanan yang
kemudian bisa dibagi-bagikan.
Pertanyaannya loh memang ada transaksi
jual beli di sana? Masih ada, Mas.
Ternyata. He.
Jadi kita enggak ee walaupun mungkin di
sana hancur porak-poranda, tapi itu ada
masih yang berjualan di pasar kayak
gitu. Walaupun harganya enggak masuk
akal, 3 kg tepung aja itu sudah bisa
sampai R1 juta lebih.
Mahal banget ya.
Mahal banget, Mas.
Dan benar-benar enggak masuk akal. Tapi
orang-orang Gaza sana itu tuh berterima
kasih sekali seakan-akan dengan adanya
bantuan ini, harga yang tinggi-tinggi
itu pun tidak menjadi masalah karena
bantuan terus berdatangan kayak itu dari
alhamdulillahnya sekarang sekitar ada
ee 2000 hampir 3.000 member di tiga grup
ya.
H banyak ya Mas ya.
Banyak Mas alhamdulillah.
Direct donation eh Forga Gaza yang Mas
Arya kelola ada 5 berapa? 3.000 orang
ya.
Iya kira-kira itu di member web apa
WA-nya ya?
WA-nya ya. Karena mereka senang satu
grup sama jurnalisnya ini.
Jadi dikasih info-info update tentang di
sana seperti apa. Terus kalau mau
tanya-tanya juga bisa kayak gitu. Bahkan
banyak yang akhirnya senang itu loh
karena kayak sedekat itu dengan
saudara-saudara kita di Gaza dan itu
videonya pun juga terus-terusan dikirim
dan laporannya juga transparan,
nama-namanya juga ada dan
bisa langsung nyampai itu loh, Mas,
dalam waktu hitungan 1 sampai 2 hari itu
langsung ya, Mas. itu sehari langsung
ee Jen Mas Arya juga sampaikan kan di
grup itu ya. Jadi hari ini dapat sekian
yang direkening ini tinggal nol sekarang
diterima sana jadinya apa gitu ya Mas
ya.
Benar. Jadi semuanya itu benar-benar
kayak udah apa transaksinya itu kita
kita jabarkan karena nomor rekeningnya
sudah enggak tercampur juga Mas. Sudah
dedicated khusus buat Gaza gitu.
Jadi ya alhamdulillahnya bisa
mengumpulkan sekitar setahunan ini bisa
tembus 5 M. Tapi
masyaallah
uang situ tuh masih sangat hijbagi
mereka Mas. Hm. 5 miliar ya, Mas ya?
Iya,
5 miliar kecil ya. Iya, memang di sana
butuhnya banyak ya.
Apanya? E kalau di sana butuhnya lebih
banyak daripada itu.
Iya. Itu Mas itu tuh baru bisa membiayai
kebutuhan-kebutuhan dasar untuk hidup
aja.
Kebutuhan paling besar itu ya buat makan
dan air bersih.
Tapi alhamdulillahnya atas izin Allah
juga dari pergerakan ini akhirnya bisa
bangun sumur apa? Bangun sumur gitu.
Jadi yang dulunya beli airnya akhirnya
bisa ada seumurnya terus musola darurat
WC umum juga kayak gitu Mas. Terus sama
apa namanya ee selimut buat anak-anak
yang pas musim dingin baju-baju muslimah
juga kayak gitu. Terus yang terakhir ini
yang lagi ini kita gencarkan adalah
susu.
Karena kemarin kan sempat mal nutrisi
kan Mas. Jadi ee banyak bayi-bayi gaza
yang akhirnya meninggal karena
kelaparan, kurus, kering dan lain
sebagainya. itu akhirnya di kita support
susu dan popok
dan masyaallahnya Mas maksudnya ini kan
sudah hampir 3 tahun ya kan ee Gaza ini
berjalan apa genosidenya
e gencatan anu
iya itu anak-anak gazanya tuh terus
lahir-lahir terus loh Mas
gitu saya juga ya wi masyaallah ya bisa
loh Mas dengan kondisi seperti itu loh
lahir-lahir terus ya
iya kayak gitu loh itu kan ya berkah ya
maksudnya memang di sana kan Baitul
Maqdis kan memang tanah yang diberkahi
gitu gitu Mas
ee saya lebih ke ini Mas, apa yang saya
rasakan, Mas? Jadi yang dulunya ini
mungkin tidak meniatkan bakalan seramai
ini dan sampai sekarang bisa
mendonasikan mengumpulkan donasi
bareng-bareng 5 miliar itu apa ya, Mas,
yang saya merasakan, Mas?
Iya, saya ini aja, Mas, ya. Terharu aja,
merinding, ya. Maksudnya ini adalah
amanah dari Allah, tapi juga termasuk
apa bisa dibilang juga tanda kutip ee
beban ya. Beban dalam arti saya jangan
sampai tergelincir sedikit pun, Rp1
rupiah pun gitu, Mas. He.
Dan selain itu ee ini adalah anugerah
juga. Sisi lain ini adalah anugerah.
Karena apa? Prinsipnya adalah kalau kita
bisa mengajak ke kebaikan kan kita bisa
mendapatkan pahala seperti orang yang
mengerjakan. Nah, kayak gitu loh. Jadi
kalau kita makin ngajak orang yang
bersedah dan lain sebagainya ya otomatis
alhamdulillah kita juga bisa menjadi ee
motor kebaikan kan
menjadi mesin pencetak amal saleh itu
tadi.
Akhirnya kembali ke tadi Mas
milestone-nya tadi kalau kita ngomongin
tadi sudah
ee istilahnya di titik di mana kita bisa
menjadi keran rezeki terus kemudian kita
bisa membuat CSR-sasar tadi ya. Terus
sejauh mana nih ya kan sejauh mana yang
bisa kita support ee untuk apa
kebermanfaatan umat misalkan gitu kita
ngomong umat ya itu unlimited. Jadi
akhirnya girah kita untuk berbisnis itu
enggak akan padam.
Kalau misalkan kita ngomongin bisnisnya
di satu titik udah kita ngomongin ya apa
sih yang kita inginin ee secara material
di dunia ini. Misalkan katakanlah rumah,
mobil gitu kan. Terus jalan-jalan ke
luar negeri, umrah
katakan terus apa haji furoda istil ya
kan gitu. Terus apalah itu
setinggi-tingginya keinginan kita di
dunia itu pasti ada mentoknya ya kan.
Kalau sudah mentok terus apalagi ya
akhirnya biasanya orang-orang mungkin
larinya ke hobi ya kan terus jor-joran
lah di hobi kolektif apa koleksi
barang-barang mewah ya kan ya kayak
gitulah pokoknya tuh. Tapi kalau kita
geser itu kemudian ke umat itu enggak
akan hampa rasanya gitu loh.
Kalau misal kita ngomongin ke yang kayak
gitu, pencapaian-pencapaian duniawi itu
pasti ada rasa hampa. Kayak
misalkan saat kita senang sesuatu
barang, kita ngelihat review-nya di
YouTube peng bolak-bali berarti itu
berkali-kali kita nonton sampai gitu.
Tapi setelah dapat barangnya ya udah
paling gitu aja gitu kan. Itu sama
seperti yang kita dapatin kalau misalkan
di duniawi itu ya kayak gitu setelah
kita dapat ya sudah hampa aja rasanya.
Tapi kalau kita ngomongin ee istilahnya
kebermanfaatan ke umat itu tuh unlimited
karena mereka juga butuhnya unlimited.
Sehingga kita ini akhirnya mindset-nya
bagaimana caranya kita terus bisa
ngembangin bisnis kita makin besar lagi
makin apa ya istilahnya dampaknya itu
juga makin gede lagi. Karena kalau
misalkan kita mau gerakin apa ya menjadi
istilahnya tuh membuat mesin amal
salehnya itu berjalan terus berputar,
otomatis kan harus ada bensinnya nih Mas
men-supportnya itu apa ya otomatis dana.
Dananya itu dari mana ya? Dari bisnis
kita mesin pencetak uangnya. Nah gitu
loh. Jadi mesin pencetak uang
men-support mesin pencetak amal saleh.
Nah gitu. Sehingga apa tujuan akhirnya
ya ke
akhirat tadi kan gitu. Jadi
duniawi ini jangan kemudian terus
kemudian wah duniawiiah tinggalkanlah.
kayak gitu loh. Justru kalau misalkan
kita ngomongin kita sebagai pebisnis
harusnya malah justru kita tuh makin
expert, makin makin master lah di situ.
Karena mungkin ya sebagi sebagian orang,
tapi ini kembali lagi ee ini jalan hidup
masing-masing ya. Ada yang kemudian ah
ee saya sudah cukup dunia, saya
tinggalkan semua. Saya pengin fokus saja
di masjid setiap hari ee ngaji, zikir,
salat, dan lain sebagainya kayak gitu.
sehingga akhirnya bisnis-bisnisnya semua
di ee delegasikan misalkan kayak gitu.
Tapi yang apa yang terjadi apa? Akhirnya
bisnisnya jadi stagnan, enggak bisa
berkembang lagi dan lain sebagainya
gitu. Sehingga akhirnya malah
ee kebermanfaatan yang harusnya bisa
dihasilkan di bisnis ini akhirnya mentok
di situ. Nah, sedangkan kita ini adalah
bebisnis. Allah amanahkan ee intuisi
atau anugerahkan ee keahlian dalam
berbisnis ya. Kenapa enggak ee
istilahnya tuh spesialisnya itu yang
kita kemudian kembangkan terus? He.
Untuk apa? Ya untuk itu tadi men-support
di amal salehnya itu gitu loh. Sehingga
kalau di kita punya mindset kayak gitu
enggak ada yang istilahnya tuh pensiun.
Apalagi ngomongin pebisnis. Ya, saya tuh
dulu gini Mas pernah berpikiran, ah di
umur 40 tuh sudahlah
pensiun
pensiun lah gitu kan. Terus sambil
nyanding apa e pondok tahfiz gitu kan
nyantai minum kopi pakai sarungan
sambil lihat orang ngaji.
Kayak gitu-gitulah ya toh
tu. Tapi ternyata enggak apa ya enggak
menurut saya itu tuh kurang tepat gitu
loh.
Karena kalau misalkan kayak gitu kita
nanti akhirnya jadi apa ya orang pensiun
yang akhirnya malah stres sendiri.
Karena orang pensiun itu kan adalah di
mana kita tuh bisa mengerjakan apa yang
kita sukai tanpa ada ee istilahnya
keterpaksaan.
Misal gini, apa namanya? Kita dari lulus
apa sekolah, habis itu kita kerja kerja
terus itu sampai akhirnya di titik di
mana kita adah pensiun lah gitu. itu kan
kerja itu sebenarnya adalah tanda kutip
sebuah beban di mana kita harus
melaksanakannya supaya dapat uang
sehingga uang tersebutlah kemudian yang
akhirnya bisa membiayai keinginan kita
dan sebagainya. Tapi kalau enggak harus
kerja kan penginnya dapat uang terus kan
dan kita bisa melakukan segala sesuatu
yang itu menjadi passion kita gitu loh.
Nah, kalau pada pensiun terus habis itu
kita ee meninggalkan itu semua dan
berubah benar-benar berubah yang mana
sebenarnya passion kita tuh adalah
pebisnis lah kenapa harus kita
tinggalkan? Nah, dan habis itu fokus ke
apa namanya ee ke ngaji dan lain
sebagainya. Memang memangnya ee yakin
gitu loh, Mas. Pertanyaannya gini,
memangnya yakin segala macam yang kita
tinggalkan dunia itu terus kemudian kita
fokus untuk diri kita sendiri, ngaji,
salat, dan lain sebagainya itu akan
menyelamatkan diri kita di akhirat
nanti.
Hanya berdasarkan amal saleh kita saja,
gitu loh. Kita kan tetap harus butuh
amal saleh orang lain, Mas.
H
caranya gimana? Cara ee apa namanya?
Supaya kita dapat kiriman amal saleh
dari orang lain yaitu tadi kita bikin
CSR-CSR tadi ya. Jadi mesin amal, mesin
pencetak amal saleh. Ee gitu loh, Mas.
sehingga kita akhirnya berpikirnya itu
secara strategis ya, efisien, efektif
gitu kan. Karena kaidahnya adalah di
mana saat kita mengajak satu orang ke
kebaikan, kita akan mendapat pahala yang
sama seperti orang mengerjakan ya kan
tanpa mengurangi pahala orang tersebut
ya gitu loh
ya. Kalau misalkan ya saya katakanlah
gini, bisnis tak tinggalin, saya mau
jadi hafiz Quran. Nah, itu
lah. Terus gimana nanti e kan malah
akhirnya pondok-pondok tahfiznya ini
jadi terbengkal lah gitu. Nah, kenapa
enggak kita fokus di bisnisnya tapi kita
support akhirnya mencetak hafiz Quran
Quran yang banyak sehingga kita akhirnya
bisa spesialis di ee bisnisnya tadi
tetap gitu. Makin besar makin besar
makin berdampak dan akhirnya dampak yang
kita hasilkan itu juga atas izin Allah
makin gede lagi. Nah, gitu Mas.
Jadi kalau mungkin ee kalau pensiun itu
kan orang kemudian berpindah yang tadi
Mas Aryo bayangkan ketika umur 40
berpindah ke haluan menjadi nunggoni
tahfid
tapi sekarang
mengerjakan sesuatu bukan berdasarkan
keharusan gitu ya tapi mengerjakan
sesuatu berdasarkan kesenangan
kesenangan gitu kan
benar jadi kalau kita ngomongin passion
Mas
dulu mungkin passion saya juga bisa
berubah-ubah awalnya passionnya desain
ya desain jadi desain grafis itu hobi
yang dibayar. Setelah itu naik level
lagi, sudah enggak desain lagi, tapi
menjadi pebisnis
di ee creative industri ya kan.
Udah setelah itu apalagi passion-nya?
Nah, passionnya sekarang gimana caranya
bisa men-support dakwah
sebesar-besarnya.
Jadi passion, Mas. Benar loh. Iya.
Karena kalau itu kita jadi passion itu
tuh giroh kita tuh kayak enggak enggak
mati-mati lah gitu.
Enggak padam ya.
Kayak gini, Mas. Itu kita ngomongin
seperti kayak visi ya. Visi seseorang
itu
di mana dia tukang bangunan lah ya.
Tukang bangunan yang dia bangun posis
kamling sama tukang bangunan yang bangun
gedung pencakar langit.
Pasti kan semangatnya beda.
Iyalah. Iya. Enggak. Nah itu loh si
semangat kerjanya itu
cuman bikin pos kamling di sebuah desa
terpencil sama pencakar lang jauh
berbeda. Karena apa? Visi tadi visi kita
jauh ke depan lah. Gimana kalau visinya
itu kemudian kita ubah ke akhirat. Nah,
kalau kita ngomongin garis timeline, Mas
ya, garis timeline kehidupan kita
sebelum kita lahir sampai sesudah kita
mati itu kan panjang banget ribuan
mungkin jutaan tahun ya. Tapi di titik
kita satu kecil ini, di mana umur kita
tuh dari 0 sampai usia rata-rata umat
Nabi 60-an itu kita dihisab itu kan
mulai dari kita ee balik ya, enggak
balik sampai umur 60-an itu belum
dikurangi waktu tidur kita, waktu
ngobrol kita, dolan-dolan dan lain
sebagainya gitu loh. Ee salat paling
berapa sih? Lima waktu ya kan cuma cuma
berapa menit. Ngaji zikir-zikir ee
berapa waktu emang cukup itu untuk
menyelamatkan kita? Nah, itu loh, Mas.
Pertanyaannya kayak gitu. Dan akhirnya
kalau misalkan kita sudah mikir kayak
gitu, akhirnya kita jadi berpikir kita
nih di dunia untuk apa sih? Apa hanya
memang buat bisnis doang? Nah, gitu loh.
Kalau misalkan bisnis doang lah. Terus
nanti di titik kita kecil ini, timeline
kita ini antara kita saat ee apa hidup
sampai meninggal ini
ya kita waktu kecil ini yang sangat
sedikit ini menentukan waktu selamanya
ke depan. Kalau garis timeline-nya gitu.
Nah, itu apa yang mau disia-siakan? Nah,
akhirnya kita jadi berpikir bahwa
sebelumnya itu kita itu ee dari mana?
Terus misalkan kita di dunia ini untuk
apa dan selanjutnya kembalinya ke mana.
Nah, itu kan kalau misalkan kita tarik
garis lurus semuanya adalah satu ee satu
kata yaitu Allah ya kan. Nah, gitu loh.
Kita dulu di apa? Berasal dari mana?
Dari Allah yang menghidupkan kita ya
kan? Misalkan kita sudah di dunia, dunia
ini untuk apa ya? Misalkan kita misalkan
salah niat jadinya ngomongin bisnis
doang gitu. ngomong ngumpulin kekayaan
doang. Tapi kalau di dunia ini kita
untuk Allah ya akhirnya mikirnya ke
akhirat tadi.
Oh, setelahnya karena nanti kita juga
untuk Allah juga kok. Ah, kayak gitu.
Iya. Kok saya penasaran, Mas. Kok bisa
memiliki passion, memiliki sebuah
kesenangan
ee menciptakan amal saleh gitu ya. Wah,
ini kan juga ee apa ya ee passion yang
mungkin tidak populer dimiliki oleh
orang-orang pebisnis.
Iya, Mas. Iya, Mas. Benar. Benar.
Ini dari mana ini? dapat passion ini,
Mas, apakah dari sering kumpul dengan
orang-orang
saleh, ulama atau dari mana?
Kalau Mas Aryo
ya, alhamdulillah, Mas. Jadi itu memang
perjalanan hidup ya. Kalau misalkan kita
ngomongin kayak projek-projek CSR itu
kan kita mendekat ke satu orang apa
orang-orang yang satu frekuensi. Iya,
enggak? Jadi kayak pondok tahfiz itu
kemudian didekatkan dengan ee istilahnya
ustaz-ustaz yang juga ee berkepentingan
di situ. Misalkan kayak apa namanya
kemarin yang Sidak itu yang Ustaz ee Adi
Pratama Laris Hindo. Terus kemudian
ketemu Ustaz Lukman juga di Gerakan
Infak Berasia terus kemudian akhirnya ee
bisa ke mana ke mana juga.
Ee itu kan akhirnya membuat pikiran kita
terbuka. Terus kemudian ikut
komunitas-kompunitas pengusaha muslim
misalkan kayak di apa 3M itu ada muslim
maju manfaat itu di Jogja ada gitu terus
apa ada ee komunitas pengusaha muslim
truly muslim prene
nah itu di situ saya belajar banyak di
situ yang akhirnya
bahwa kita tahu bahwa di dunia itu kita
seperti apa sih kita tugas-tugasnya dan
lain sebagainya sehingga itu membentuk
kerangka berpikir saya kayak gitu loh.
Jadi banyak ilmu-ilmu yang sebelumnya
saya sendiri enggak dapat gitu yang
akhirnya terus jadi makin dapat makin
melek lagi dan akhirnya bisa merumuskan,
"Oh, ternyata ini yang tak cari selama
ini ya gitu loh." Misalkan kalau
kemarin-kemarin merasa hampa gitu
apalagi ya, apalagi ya, apalagi ya itu.
Nah, kalau kita ngomongin support
dakwah, dakwah itu menjadi poros hidup
kita, wah itu wis kayaknya energi itu
enggak habis-habis itu, Mas. Masyaallah.
Ya, itu tadi. Jadi, akhirnya menjadi
passion itu tadi e kayak misalkan kita
support dakwah itu menjadi passion gitu
loh. Kayak ya kita terjun di
pergerakan-pergerakan yang men-support
dakwah itu akhirnya kita ber itu
berkenalan dengan ustaz-ustaz t kembali
ke pertanyaan Mas Agung di awal tadi ya
kan bisa ketemu dengan ee Ustaz ee Buyul
misalkan gitu terus Ustaz Irfan yang
kita ke Wonosobo bareng dan lain
sebagainya kayak gitu kan. Ustaz Fatih
Karim, terus Ustaz Felix juga apa kita
ada apa projek bareng bikin komik dan
lain sebagainya. Ya itu gitu, Mas. Jadi
kalau misalkan kita di projek itu nanti
Allah datangkan itu orang-orang yang
satu frekuensi yang punya semangat
bareng untuk bisa ke depannya itu
benar-benar punya apa ya tulus lah ya.
Karena fokusnya itu tadi fokusnya ke
akhirat tadi. Kalau sudah ngomongin
akhirat itu kayak nothing tulus lah
kayak gitu loh. J wis berapa aja bakar
duit dan lain sebagainya. Karena itu
nanti juga toh terkonversi menjadi
pahala. Jadi enggak akan ada ruginya
kayak gitu.
Tapi gini sih, Mas, kadang-kadang kalau
saya ngelihat ee tadi aku di awal kata
kan juga melihat ee mengatakan Masar ini
idaman gitu kan. Masku gini, Mas, ini
ada alasannya.
Oke. Oke. Gimana? Gimana?
Alasannya gini.
Jadi kadang-kadang kalau kita ngelihat
sosok ustaz itu ya kadang-kadang kan
kita
kayak jauh banget ya, Mas ya.
Jauh banget ya.
Wah, hari-hari dakwah, hari-hari ngaji
gitu ya. hari-hari ee pagi ngaji di
sini, siang ngaji di sini, sore ngaji di
situ, itu tiap hari gitu. He.
Ee kalau kadang-kadang mungkin ketika
melihat itu kan kita berat nih ya, W
berat nih. Kita juga kayaknya
enggak level lah gitu ya.
Tapi kalau katakanlah aku melihat Mas
Aryo gitu ya, kan ada juga ee
main-mainnya. Iya. I
ada main-main. Tak lihat setahun itu
berapa kali ke luar negeri sama
istrinya. I kan gitu kan. itu kan salah
satu apa ee sumber rezeki juga Mas
membahagiakan istri itu melancarkan juga
maksudku itu idaman itu itu
asik juga ya kayak maksudnya pola hidup
seperti yang Mas Arya lakukan ini
kayaknya kok asyik juga
bisnisnya berjalan i kan
alhamdulillah
ee bisnisnya berjalan bisa mengumrahkan
tim juga
masyaallah
kesenangan keluarga juga dapat nih
main-main
secara secara
apa kepedulian kita terhadap akhirat
yang insyaallah rumah yang akan kita
tuju ke sana juga. He
enggak enggak dispelekan maksudnya
enggak enggak di kesampingan juga
dibangun gitu.
Wah asik nih.
Tapi
masalara ee apa ya kayak sudah
memimpikan ini akan seperti ini atau ini
berjalan naturally satu satu atau memang
grand desain gitu, Mas?
Iya. Kalau kita ngomongin kayak gitu sih
sebenarnya kalau kita ngomongin grand
desain ee enggak gitu-gitu juga. Cuman
dulu pas waktu SMA itu pernah sih ada
guru agama kan ngasih tahu kalau kita
besok bangun masjid atau pondok kita
akan dapat ee apa amal jariah sesimpel
itu gitu loh. Nah, setelah semenjak itu
terus jadi kayak punya cita-cita besok
tua pengin punya pondok. Nah, gitu loh.
Pengin bisa bangun pondok, bangun masjid
sehingga enak ya kalau amal jarinya
ngalir sendiri gitu loh.
Tapi ee tentang bagaimana cara membuat
itu tuh saya enggak ini, Mas. Enggak
detail enggak enggak tahu bagaimana
caranya untuk membangun itu. Karena loh
saya ini siapa gitu kan. Saya juga penuh
dosa, penuh aib segala macam. Kalau
jenengan tahu aib-aib saya mungkin saya
enggak bakal duk di sini gitu. Jenengan
dengerin saya enggak gitu. Jadi apa
namanya ee itu kayak berjalan seiring
waktu aja, Mas. Kayak ibarat kata gini,
kalau kita misalkan mau pakai Google Map
itu kan kita nulis tujuannya dulu toh.
Tujuannya ke mana itu
kan enggak. Terus kemudian kita haalin
satu-satu belok-beloknya ke mana kan
enggak toh. Oh lewat masuk jalan ini
belok kanan terusang itu habis itu ee
kita nutup Google Map-nya terus kita
hafalin jalan. Ingat enggak gitu? Tapi
kita yang penting tahu tujuannya aja
dulu. Nah nanti biar Allah yang akan
nuntun kita ke mana-kemananya itu tuh
gitu loh. Sama kayak Google Map kan kita
juga enggak tahu toh mau diarahin ke
manaut wae lah diblasuk lah gimana.
Pokoknya e tujuannya ke sini. Iya,
tujuannya ke situ. Walaupun mau lewat
jalur yang muter apa yang apa segala
macam, tapi tujuannya kan kita sudah
tahu dulu tu. Iya.
Nah, dengan berbekal seperti itu, itu
nanti Allah yang akan kemudian apa
istilahnya menuntun kita gitu loh. Nah,
tinggal tujuannya itulah yang kemudian
kita pindah-pindah dalam arti tujuan
jangka apa menengahnya segini, pendeknya
segini, menengahnya segini, jangka
panjangnya segini gitu loh. Nah, setelah
kita sudah bisa meplot-plotkan
tujuan-tujuan kita itu nanti Allah lah
yang akan nuntun kita kayak gitu loh.
Sehingga kalau tadi kembali ke
pertanyaan Mas Agung kok enak yo gini
gini gini gini ya itu tadi Mas
ee pola apa ya mindset pebisnisnya itu
kan kita terapkan di sini sebenarnya
kita kalau misalkan ngomongin pebisnis
kita nih kan bukan self employee ya
kalau self employee itu dia buka bisnis
dia sendiri yang buka tokonya dia
sendiri yang jual dia sendiri yang
kirim-kirim
terus dia yang nutup tokonya juga ya kan
kalau misalkan dia sakit tokonya ikut
tutup ya
Kalau dia meninggal bisnisnya juga ikut
mati kan gitu.
Nah, sedangkan kalau mindset pebisnis
kan enggak gitu. Kita bangun sistem,
kita bikin tim, kita mendelegasikan,
kita ee mulai apa mengurangi hal-hal
yang teknis, kita fokus yang hal-hal
yang strategis
itu bisa kita terapkan untuk amal saleh,
Mas. H.
Nah, jadi amal salehnya gimana? Supaya
tetap itu terus berjalan, terus bisa
dapat pahala dan lain sebagainya. itu
tadi bikin mesin-mesin mencetak amal
saleh tadi sehingga kalau misalkan kita
mau jalan-jalan, mau ke mana dan lain
sebagainya itu tetap beroperasi, tetap
berjalan terus gitu loh.
Ee daripada kita sendiri yang mengurung
diri ibaratnya gitu terus apa namanya
memperbanyak amalan pahala yang hanya
untuk di ditujukan ke diri kita sendiri
untuk menyelamatkan tanda kutip diri
kita sendiri
kan gitu kan. Kenapa enggak kita
kemudian bisa mesin pencetak uang tadi
untuk bisa men-support projek-projek
dakwah yang kemudian akhirnya itu bisa
bareng-bareng ke surganya loh. Gitu loh,
Mas. Termasuk yang tadi Gaza tadi ya
bareng-barenglah itu ee orang-orang yang
peduli dengan Gaza tadi. Ayo
bareng-bareng yuk kita nanti insyaallah
bisa kumpul bareng besok di jannahnya
Allah gitu lah sama orang-orang Gaza.
Yang penting sekarang kita kumpul di
sini nulis nama dulu, namanya dulu
sampai Gaza. Gitu Mas.
Soal bareng-bareng ke Gaza atau
bareng-bareng ke surga.
Gaz.
Tadi Mas juga pesan kan bahwa
ketika teman-teman pendengar pecah telur
bisa juga nih ikut di salah satu grup
yang Mas Arya kelola gitu ya, Mas ya.
Iya. Iya. Gitu Mas.
Nanti ee teman-teman bisa cek aja link
ya di deskripsi ya kayak gitu.
Nanti insyaallah teman-teman juga akan
bisa mendapatkan ee apa namanya?
Update-update hariannya, video-videonya,
terus ee bisa satu grup juga sama orang
Gazanya. bisa tanya apapun yang pengin
dipertanyakan kayak gitu tentang
kehidupan di Gaza seperti apa. Terus
juga bisa dapat rekapan ee update
laporan keuangannya dan benar-benar 0%
ee tanpa potongan ya kayak gitu. Terus
apa namanya ya itu nanti experience yang
teman-teman akan rasakin sendirilah
kayak gitu dengan nama kita sudah ada di
Gaza gitu. Jadi, insyaallah teman-teman
akan mendapatkan ee pengalaman yang
tidak dijumpai di ee mungkin di
lembaga-lembaga lain ya mungkin ya gitu.
Tapi tanpa mengecilkan yang lain ya
kayak gitu kita Mas sama-sama berbagi
peran. Nah, gitu loh.
Berbagi peran. Ada yang metode seperti
ini, ada yang metode seperti ini. Nah,
kami metodenya seperti ini gitu yang
insyaallah alhamdulillahnya banyak yang
kemudian ee merasa senang. Merasa
senang, merasa dekat dengan orang Gaza.
Merasa apa ya? merasa menjadi satu
keluarga. Jadi walaupun kayak orang jauh
di sana ya, di belahan dunia lain, tapi
itu rasanya dekat
ya. Kayak tiap hari dapat kabar dari
mereka.
Iya itu Mas dan itu bukan video yang
kita ulang-ulang itu memang baru dan itu
diedit loh Mas. Jadi mereka sendiri
sampai
sampai ada edit videonya di terus habis
itu dikirim kayak gitu sampai sesempat
itulah mereka kayak gitu karena ya
supaya untuk mengkoneksikan dengan kita
di Indonesia ini gitu. Kalau hari ini
kondisinya seperti apa, Mas? teman-teman
kita yang ada di Gaza, saudara-saudara
kita itu ee kondisinya itu sekarang
memang ee mereka ya hidup seadanya, Mas.
Maksudnya dengan apa ya? Dengan
tenda-tenda ya. Jadi bayangin aja Mas,
kayak kita tenda untuk kemah itu kan itu
masih bagus ya. Mereka tuh ya
benar-benar kayak apa ya kayak seadanya
Mas. Maksudnya memang ada yang
tenda-tenda yang masih bagus tapi ada
juga tenda-tenda yang sudah kayak enggak
layak pakai. Jadi mohon maaf jadi kayak
kayak pemukiman kumuh gitu loh ya.
Memang karena susah Mas untuk mandi pun
kan susah gitu loh. Jadi kotor
anak-anaknya gitu padahal cantik-cantik,
ganteng-ganteng gitu loh. Jadi
bikinbikin terenyu Mas kayak gitu.
Tapi walaupun seperti itu ya
alhamdulillahnya bantuan-bantuannya itu
yang dari dikirimkan lewat direct
donation itu alhamdulillah masih bisa
terus berjalan sehingga paling tidak itu
bisa memberikan mereka harapan hidup
untuk bisa terus bertahan. Memang saya
tahu donasi ini bukanlah solusi akhir.
Solusi akhirnya apa? Ya, solusi akhirnya
mungkin ee umat muslim sedunia bergabung
ee join jadi satu terus kemudian ee
melawan para penjajah ini kan kayak
gitu. Tapi kan menunggu itu sampai
terjadi itu mau kapan terjadinya ya kan.
Mereka pun juga setiap harinya
membutuhkan makan, minum ya
kebutuhan-kebutuhan dasar manusia ya.
Terus siapa yang mau memprovide itu gitu
kan ya. Alhamdulillah dengan seperti ini
ya mereka bisa terus bisa terus bertahan
dan kondisinya di sana ya benar-benar
apa ya Mas ee memprihatinkan memang
kalau misal dia bilang memprihatinkan
karena ya mau kerja juga dapat dari mana
uangnya ya kan. Terus padahal uang-uang
itu mereka butuhkan untuk beli
bahan-bahan makanan pokok, bahan yang
setiap hari mereka butuhkan kayak gitu.
Dan bisa dibilang gini, Mas, donasi yang
dikirimkan langsung ke sana, ditransfer
di sana itu bisa dibilang kayak
menggerakkan roda perekonomian mereka.
Ee gitu. Itu salah satunya juga karena
kan kita mengirimkan uang dari sana
kemudian akhirnya roda perekomenan sana
berputar berjalan lagi di tengah
kehancuran seperti itu. Maksudnya yang
jual tadi dikatakan kayak jual gandum,
jual tepung itu juga orang gaza juga
kan?
Orang gaza juga. Tapi kan ya ini kurang
ajarnya para penjajah itu ya. Mereka itu
memasukkan barang bantuan itu memang di
blokade. Tapi kalau barang dagangan tuh
boleh masuk.
Hm. He.
Dan itu dengan harga yang sangat tinggi.
Bahkan ada oknum-oknum yang memainkan
logistik itu sehingga mereka menjualnya
itu dengan harga tinggi di monopoli.
Oh, dari yang memainkan juga anu ya,
para penjajah itu ya.
Para penjajah yang koordinasi juga
dengan orang Gaza ada yang oknum juga,
Mas.
Oh.
Yang mereka terus akhirnya memanfaatkan
ini dan itu sudah dibahas di media-media
itu bahwa itu ada oknum yang yang ee
menjadi kaki tangannya penjajah.
Hmm. Waduh. Selalu ada ya di mana?
Selalu ada ya. Mau gimana, Mas? namanya
dunia kan dunia itu pasti ada hitam dan
putih. Nah, bahkan ee orang Gaza pun
juga
dengan keadaan yang seperti itu pun ya
Mas itu tuh masih aja ada yang ngambil
kesempatan dalam kesempitan gitu.
Sedihnya itu.
Iya. Iya.
Itu belum kita ngomongin bayi-bayi yang
baru lahir yang butuh susu, butuh popok
yang kemudian kena penyakit-penyakit
gatal, penyakit kulit dengan kondisi di
bawah tenda yang kalau pas panas ya
panas, pas dinginnya dingin banget gitu
loh, Mas.
Tapi kayak serangan udah enggak ada lagi
kan?
Masih, masih, Mas. Masih. Serangan itu
random banget. Di mana aja itu kita
enggak enggak bakalan tahu.
Tapi di berita-berita sudah jarang
sekali ya diangkat ya.
Ee banyak, masih banyak. Kalau kalau
kalau mungkin Mas Agung mungkin
follow-follow apa ya istilahnya
ee Instagram-Instagram yang ION,
Palestine dan lain sebagainya itu tuh
masih banyak. Banyak ya? Iya, masih
banyak kayak gitu dan itu sangat random.
Apalagi
ee kayak pesawat-pesawat drone itu yang
dari atas itu kan itu bisa
nembak kapan aja dan di mana saja kayak
gitu.
Jadi ya setiap hari itu hidup dengan apa
ya dengan teror yang mencekam dan mereka
enggak tahu syahidnya kapan. Ini tadi
dikasih tahu sama Brother Ahmed itu ee
jurnalis yang saya kontak itu. Jurnalis
itu bilang, "Saya akan terus membagikan
makanan ini ke ee warga-warga Gaza di
sini. sampai saya syahid kayak gitu.
Masyaallah.
Oh, saya nangis langsung baca itu. Ya
Allah, maksudnya ee dalam hati ya kayak
gitu ya Allah. Kayak gitu berarti
menunggu syahid ya dengan berbuat amal
kayak gitu. Karena ya bisa dibilang
itulah apa ya hadiah terbaik yang Allah
bisa kasih ke saudara-saudara kita di
Gaza ini karena perjuangan mereka untuk
mempertahankan tanah kelahiran mereka
kan kayak gitu. Tanah yang diberkahi kan
Baitul Maqdis.
Masyaallah. Nah, ini terakhir, Mas. Ini
tadi aku dibawain komik
ini. Kita sudah di sesi-sesi akhir dari
podcast ini. Ini komik apa ini, Mas?
Komik Elang Hitam.
Elang Hitam
1453.
Ada tahunnya, Mas?
Ee Elang Hitam 1453.
Ini apa ini?
Itu komik ee hasil kolaborasi Indonesia
Creators Academy
dengan Ustaz Felix Siao. Nah, gitu. Jadi
alhamdulillahnya saya juga ee
men-support ee pergerakan dakwah di Yuk
Ngaji salah satunya juga sama Ustaz
Felix SW
untuk bikin komik ini gitu yang
tim ilustrasinya itu dari
ee Indonesia Creators Academy
yang tadi ya, yang dari CSR tadi ya.
Iya. Itu terus
ee kalau cerita dan konsepnya dari Ustaz
Felix.
Beliau membuat
ee ininya apa namanya?
Ee
naskahnya.
Naskahnya ya. Bukan naskah sih, tapi
konsep konsep naskah. Hm.
Kemudian di apa namanya?
Di breakdown sama tim yang di situ.
Jadi akhirnya bikin storyboard. dari
storyboard kemudian di inking ee terus
kemudian di coloring di finishing dan
alhamdulillah ini volume pertama Mas
ini adalah menceritakan tentang
prajurit-prajurit
Janisari itu kan prajurit elit ee Turki
dan ini masih ada prajurit yang lebih
elit lagi di dalam Janisari itu.
Itu namanya ee karakal atau di dalam
bahasa Indonesia tuh alang hitam.
Jadi dia kayak disposable
ee armynya. Nah, jadi kalau misalkan dia
itu ee sudah mati itu tidak diakui
ibaratnya gitu. Kayak di Mission
Impossible itu kan kayak gitu ya.
Ee kayak gitu loh.
Oh ada ya kayak gitu ya?
Ada kayak gitu.
Oh ini beneran
itu beneran ceritanya beneran. Tapi
kalau tokoh-tokoh di sini fiksi.
Nah maksudnya yang kayak yang impossib
mesin imposibil itu kan kalau mati tidak
diakui.
Iya kan? Nah kayak gitu
itu beneran ada di elang hitam ini.
Iya kayak gitu. Itu di Janisari apa ee
pasukan elitnya Turki Utsman.
Jangisari kan yang ee elit. Nah, di
tengah-tengah elit itu ada elit lagi
namanya Elangitan.
Heeh. Terus ini
dikemas ala Mangga e komik Jepang. Jadi
dia nanti ada menceritakan sejak kecil
ya kan. Terus habis itu ee mungkin terus
dia mengalami ee pelatihan habis itu
menjadi seorang prajurit terus menjadi
ee peperangan akhirnya membebaskan ee
Konstantinopel. Nah, gitu.
Jadi timeline-nya itu di ee
apa? Sultan Muhammad Alfatih.
Oh, tapi ini kayak fiksi
yang diambil dari sejarah.
Diambil dari sejarah. Oh, berarti yang
di fiksikan hanya nama-nama tokohnya.
Iya, fictional historical. Jadi
nama-nama tokoh dan ee ininya plotnya
juga maksudnya cerita di naskahnya itu
juga gitu gitu loh.
I cuma ada beberapa kejadian yang apa ee
kayak ini diambil dari kejadian nyata
gitu ya.
Iya, gitu. Terus kemudian ee kita bikin
kayak jurus-jurus juga gitu.
Jurus-jurus di mana itu kayak I
jurus-jurus
apa ya? Kalau misalkan kita ngomongin
tokoh-tokoh Jepang itu komik-komik itu
kan pasti punya jurus. Nah, di sini kita
punya jurus juga.
Jurusnya apa nih?
Wah, itu bisa dicek situ, Mas. E,
aku lihat belum ketemu ini jurus. Oh,
ini ini ada.
Nah, ini, Teman-teman.
Masyaallah.
Kelihatan gak ini ya jurusnya? Ya, benar
ya.
Iya. Sembilan pedang patah.
Sembilan pedang patah. Khalid bin Walid.
Apa ini? Jurus apa ini, Mas? Memang
enggak ada jurus sembilan pedang patah
itu diambil dari riwayat peperangan.
Nah, jadi di suatu peperangan
ee pedangnya Khalid bin Walid itu sampai
patah il kali.
Oh, tinggal tinggal pendek dong.
Yo patah ganti. Patah ganti.
Oh, patah ganti. Tapi patah-patah
tinggal kater itu Mas
itu patah ganti. Patah ganti. Nah, di
sini dijadikan
apa? Jurus.
Oh, jurus sembilan patah.
Heeh. Sembilan padang patah.
Harapannya tu besok anak-anak itu yang
baca ini itu
jurus apa pedang patah dari Khalid bin
Walid gitu-gituah Mas. Jadi kita
menanamkan
ee role model ee yang islami untuk
anak-anak kita sehingga bisa apa ya bisa
terbawa sampai besar seperti kayak kita
Dragon Ball terus apa kungfu boy dan
lain sebagainya gitu.
Iya. Kalau kayak saya keingat jurus
berarti kan anu itu Khah apa kamhah
Khah ini diubah nih ya. Iya, kayak gitu.
Tadi saya keingat itu. Ada ada jurus
lain enggak, Mas, di sini?
Banyak, Mas. Banyak, Mas. Heeh. Nanti
kalau misalkan tertarik, nah bisa tuh,
Mas.
Oh, ini masih dijual?
Masih dijual. Masih ya? Dan ini sudah
mau launching volume duanya, Mas.
Volume dua apa judulnya?
Volume 2 itu ini kan berseri.
Jadi kalau kita ngomong apa ee kayak
mangga itu kan dia volumenya berseri
juga kan.
Ada kungfu boy itu kan atau Dragon Ball
kan ada seri satu, seri 2, seri.
Oh, ini ya satu ini ya.
Iya. Nanti rencana harapannya ya, Mas
insyaallah bisa sampai volume 30.
Masyaallah. Itu itu kalau misalnya kita
ngomongin
ee jaraknya beberapa bulan untuk di
launchingnya ya itu berarti
bertahun-tahun nanti bakalan butuhnya.
Dan ini untuk ee nonprofit juga Mas ya.
Iya kayak gitu. Karena untuk yang di
Indonesia kators Akadem ini kalau
misalkan ada income yang masuk ya itu
tuh nanti untuk menggerakkan dari timnya
ini dan juga yayasannya
yang tadi yayasan untuk sekolah tadi.
Iya. Sebagiannya memang untuk nonprofit
gitu. He. Berapa harganya, Mas?
Ini di pasaran Rp10.000, ya. Nanti bisa
diklik linknya di apa? Di marketplace
ada.
Ada di marketplace ada kayak gitu.
Di Shopee ada.
Oh, iya. Nanti saya cantumkan linknya di
Shopee,
Iya. Di fatha siap
gitu, Mas. Alhamdulillah,
Mas Aryo. Alhamdulillah sudah datang ke
sini dan kita sudah bicara banyak hal.
Alhamdulillah.
Kalau next apa nih, Mas Aryo yang ingin
Mas Aryo gapai lagi? kayaknya sudah
dapat semua gitu. Astagfirullah.
Apa yang ingin Mas Gapai lagi?
Next ya, Mas ya. Next-nya tuh Allah
istikamahkan aja Mas dan terus bisa
membesarkan dampak kebermanfaatannya tuh
makin luas dan meluas lagi gitu loh. Dan
bisa dibilang sampai unlimited.
Dan cita-cita terakhir ya, Mas.
Cita-cita terakhir
ya. Semoga ini Allah ijabah juga doanya
gitu. Nanti bisa meninggal syahid di
tanah suci. Masyaallah.
Masyaallah. di Tanah Suci itu berarti di
Mekah, Madinah.
Mekah dan Madinah bukan di Gaza, Mas?
Iya. Kalau Gaza bukan di Gazanya, tapi
di ee
Baitul Maqdis
Baitul Maqdis ya. Di di
Alaqsa
Alaqsa. Jadi di antara tiga pilihan itu
ya?
Iya. Kan tiga tanah suci kan.
Iya. Jadi meninggal di Makkah,
di Madinah dan atau Aqsa.
Atau Alaqsa. Masyaallah.
Amin. Masyaallah. Kita doakan semoga.
Tapi masih setelah panjang umur ya.
Iya.
Amin. Amin. Saya masih merasa sangat
kurang, Mas, amal salehnya, pahalanya
yang dikumpulkan. Jadi, harus terus
ngumpulin terus untuk bekal kita nanti
di akhirat, gitu. Kenapa Mas Aryo merasa
kurang amal salehnya? Jadi, kan
kadang-kadang kan ee
satu amalan katakanlah ada juga yang
pernah bilang satu amalan yang yang apa
yang ikhlas atau yang baik itu mampu men
adakalan adakan kalanya mampu
menyelamatkan kita gitu.
Iya. ya, kayak misalkan mending nguasain
satu jurus tendangan daripada ee 100
jurus tapi enggak bisa nguasai secara
master gitu kan. Itu ya memang Mas ee
ada yang kayak gitu tapi kita kan enggak
pernah tahu ya Mas. Maksudnya gini,
pahala itu kan hanya wasilah di mana
Allah menurunkan rahmatnya untuk
menyelamatkan kita dari neraka gitu.
Kita masuk di kita bisa dimasukkan ke
surganya Allah itu kan karena rahmatnya
Allah bukan karena pahala kita. Kalau
kita ngomongin pahalanya sudah banyak,
sudah cukup, terus merasa selamat, ah
itu berarti malah jadi masalah itu.
Iya kan? Kalau Ustaz Lukman kan bilang
merasa saleh itu salah, merasa salah itu
saleh, kan kayak gitu.
Nah, kalau kita ngomongin amal saleh ya
kita harus terus merasa kurang, Mas.
Enggak akan pernah ada cukup, enggak
akan pernah ada habisnya gitu. Karena ya
itu tadi perjalanan nanti ke depan itu
unlimited. Maksudnya ee kan
selama-lamanya. Iya. Enggak. kita misal
misalkan kata katakanlah mau ke Jakarta
kita kan ngumpulin bekalnya kan pasti
akan lebih banyak daripada kita ke ee
Jogja misalkan atau kalau misalkan kita
mau umrah ah gitu kita juga ngumpulin
bekalnya lebih banyak daripada ke
Jakarta lah. Kalau kita mau ke akhirat
ee otomatis bekalnya unlimited dong e
gitu loh Mas. Jadi ya kita enggak akan
ngomong e sudah cukup pasti akan merasa
kurang dan kurang dan kurang terus gitu
loh Mas. Apalagi mengingat aib-aib kita
di masa lalu dan sampai masa sekarang.
Nah, gitu loh. Dan masa akan datang kita
juga enggak tahu nanti aib-aibnya atau
dosa-dosa kita seperti apa kayak gitu.
Jadi, teruslah ini apa nasihat buat diri
saya juga ya, Mas ya.
Terusah terus merasa kurang gitu loh.
Terutama kalau ngomongin amal saleh
karena enggak akan pernah ada habisnya
gitu. Karena nanti Allah akan pilih dari
berbagai macam masalah yang kita lakukan
itu bisa jadi Allah pilih yang mungkin
kita enggak anggap itu tuh malah justru
yang menyelamatkan kita
di bisa masuk surga kan. Ee Mas Agung
juga tahu kan e cerita yang apa yang
populer di mana seorang pelajar itu
memberikan minum seorang anjing i kan
ter akhirnya dia diselamatkan dan
mendapatkan rahmat dari Allah dan masuk
ke surga ya kan.
Iya.
Eh gitu loh Mas
kan karena kan itu kan katakanlah satu
amal aja gitu.
Itu makanya
dan itu kan enggak kita enggak
disangka-sangka oleh si pelajar itu kan
kayak gitu loh. Nah bagaimana dengan
kita juga gitu kan kita enggak bisa
apa namanya menduga-duga mana yang
menjadi amalan terbaik kita. Ngapain
kita harus fokus ke satu kalau bisa kita
bikin amalan banyak gitu loh. Apalagi
pernah ada cerita di mana saat dia
merasa sudah punya amalan atau pahala
yang banyak terus kemudian sampai
akhirat terus dia merasa bangga ini
pahala saya ya Allah gitu loh. Ee saya
bisa masuk ke apa surga kan kayak gitu
misalkan gitu. Terus Allah tuh ya terus
ee malah enggak bisa masuk dia. Karena
apa? Karena dia membanggakan pahalanya.
Itulah yang menjadi tiket masuk
surganya. Padahal tiket masuk surga
adalah rahmatnya Allah itu tadi.
J merasa cukup justru malah salah ya.
Merasa cukup itu merasa salah malah
dengan banyak dengan cara memperbanyak
amal kita memperbanyak opportunity gitu.
Iya kayak gitu. Jadi istilahnya kalau
kita ngomongin di mindset bisnis itu kan
kita bisa buka pintu rezeki dari arah
yang tidak sangka-sangka kan gitu loh.
Kalau kita sudah menyangka-nyangka itu
ternyata enggak lewat situ aman-eman toh
gitu loh.
Terima kasih Mas sudah datang ke sini.
Semoga menjadi legesi Masaro dan juga
legesi kita semua. Apa yang Mas Aryo
lakukan
amin
semoga bisa menginspirasi penonton kita.
Doa yang sama juga Mas Agung semoga
video-video yang Mas Agung buat dari
awal sampai sekarang itu mencetak
orang-orang baik, orang-orang saleh yang
terus kemudian terus bisa mendapat
insight, motivasi dan lain sebagainya
sehingga bisa jadi amal jariah buat Mas
Agung juga dan tim ya. Insyaallah.
Terima kasih teman-teman sudah nonton.
Sampai jumpa di next episode. Terima
kasih, Maso. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.