Transcript
tC1oVov_sxg • Bisnis Lancar, Gaji Ribuan Dollar Perbulan Tapi....!!! Bisnis Jangan Salah Niat
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0598_tC1oVov_sxg.txt
Kind: captions Language: id Kalau dari awal kita bangun bisnis itu niatnya sudah salah, ya nanti ke depannya juga akan salah juga buat diri kita sendiri. Dan itu yang pernah saya rasakan dan sehingga saya sadar bahwa makin saya makin kerja makin workoholik sampai saya merasa 24 jam itu kurang dan kerjanya tuh bisa sampai pagi sampai sore terus malam sampai pagi lagi itu jadi kayak kecanduan gitu sehingga akhirnya makin lama makin lama makin lama makin jauh dari Allah. Hati-hati loh kalau misalkan kamu mikirnya kayak gitu, nanti kamu cuma dapat di dunia doang. Nanti setelah kamu di akhirat, kamu enggak dapat apa-apa. Karena apa? Sudah dibayar semuanya di dunia. Kalau kita ngomongin garis timeline, Mas ya, kehidupan kita sebelum kita lahir sampai sesudah kita mati itu kan panjang banget. Ribuan mungkin jutaan tahun ya emang cukup itu untuk menyelamatkan kita. Nah, itu loh, Mas. Pertanyaannya kayak gitu. Kita kan tetap harus butuh amal saleh orang lain, Mas, tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Ya, gitu loh ya. Kalau misalkan ya saya katakanlah gini, "Bisnis tak tinggalin, saya mau jadi hafiz Quran." Nah, gitu lah. Terus gimana nanti kan malah akhirnya pondok-pondok tahfiznya ini jadi terbengkal ya gitu loh. Nah, kenapa enggak kita fokus di bisnisnya tapi kita support akhirnya mencetak hafiz Quran Quran yang banyak sehingga kita akhirnya bisa spesialis di bisnisnya tadi. Kita kan enggak pernah tahu ya, Mas. Maksudnya gini, pahala itu kan hanya wasilah di mana Allah menurunkan rahmatnya untuk menyelamatkan kita dari neraka gitu. Kita masuk di kita bisa dimasukkan ke surganya Allah. Itu kan karena rahmatnya Allah, bukan karena pahala kita. Kalau kita ngomongin pahalanya sudah banyak, sudah cukup, terus merasa selamat, ah itu berarti malah jadi masalah itu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah, Mas. Agung. Eh, Maso ini adalah sosok yang opo yo, Mas? Menurutku itu boleh dibilang jadi idaman lah. Wah, astagfirullahalazim. Maksudku tuh gini, Mas. Dari dulu itu ee aku kenal Mas Aryo kan fokus banget ibaratnya kalau kita lihat cerita-cerita di pecah telur kan banyak orang berjuang untuk mereka bisa tuntas dari kehidupannya. Maksudnya ya entah nyicil hutang, kemudian juga entah mereka ingin jadi family man. Iya. Benar. Tapi ee ketika aku melihat Mas Ar itu kayak sekarang itu sudah berbeda gitu loh. Kayak levelnya itu berbeda gitu loh. Sudah sudah ada donasi yang ke Gaza terus dekat dengan para orang-orang saleh itu wamdulillah. Nah, menku apa sih, Mas? Jadi ee kalau aku ingin bertanya kepada Mas Aryo ini, apa sebenarnya perspektif apa yang Mas Aryo ini jalani gitu dari semuanya itu? Sebenarnya itu kembali ke perjalanan sih, Mas. Itu adalah sebuah perjalanan di mana biasanya itu setiap bebisnis itu tuh juga yang mungkin tanda kutip sudah selesai dengan dunianya atau kalau mungkin orang-orang MLM dulu bilang tuh ee apa namanya? Financial freedom ee kayak gitu. Itu pasti ada merasa kekosongan di situ kehampaan ya. Yang mana dia itu pengin apa nih next-nya itu jadi target selanjutnya tuh apa kayak gitu. Nah, kalau kita runut dari awal dulu, kalau misalkan kita flashback bentar ya, Mas. Iya. Jadi, dulu kan ee saya bangun bisnis itu awalnya untuk menuntaskan hutang ya kan? Iya. Dulu kan berawal dari seorang manajer dari gede digital yang banyak hutang kan. Iya. Iya gitu. Heeh. Itu kan dulu pernah terjerat riba dan lain sebagainya seperti yang kita tahulah ya di kisah-kisah entrepreneur yang motivasional dia jatuh kena riba. Tapi memang kayak gitu sih. Jadi ada kayak fase-fasenya ya di saat gitu. Terus kemudian dia pengin selesai supaya nutup hutangnya supaya lepas dari riba kayak gitu. Setelah kemudian selesai dengan riba kan dia sudah selesai tuh maksudnya dia sudah di titik itu apa tuh next-nya gitu. Nah terus saya mikir oh ya kemarin-kemarin saya belum bisa membahagiakan ee anak dan istri saya dengan lebih proper ibaratnya kayak gitu. He. Kalau hutang sudah selesai cicilannya, berarti fokusnya sudah bisa di ee geser untuk membahagiakan anak istri, ya kan? Dan juga ee ke depannya seperti apa. Karena dulu tuh si istri tuh sampai pernah ee khawatir itu loh ini besok bisa enggak ya bisa buat beli susu atau bisa buat beli baju sampai di titik itu gitu. Iya dulunya gitu. Setelah akhirnya di di titik di mana sudah bisa membahagiakan anak istri, bisa ngajakin kuliner ke mana mungkin ee wisata dan lain sebagainya. Terus apaagi nih selanjutnya gitu kan. Nah, akhirnya next-nya lagi, visinya lagi adalah ee kita ngomongin kebermanfaatan minimal untuk ee tim. Jadi membesarkan tim jalan rezeki buat orang lain gitu. Karena dari awal memang kalau saya sering tegaskan ke teman-teman ya, maksudnya kalau dari awal kita bangun bisnis itu niatnya sudah salah ya nanti ke depannya juga akan salah juga buat diri kita sendiri. Dan itu pernah saya rasakan dan saya pernah ceritakan juga bahwa dulu awalnya pengin lunas hutang ya kan. Tapi habis itu hutangnya setelah lunas itu jadi keterusan kebablasan. Sehingga saya sadar bahwa makin saya makin kerja makin workaholik sampai saya merasa 24 jam itu kurang dan kerjanya tuh bisa sampai ee pagi sampai sore terus malam sampai pagi lagi itu jadi kayak apa kecanduan gitu sehingga akhirnya makin lama makin lama makin lama makin jauh dari Allah. Nah gitu dan itu yang namanya istidraj. Heeh. He gitu. Jadi, tapi waktu itu memang bergelimang harta ya, Mas ya. Bisa dibilang gitu. Ribuan dolar per bulan Mas. Wus. Iya. Dengan posisi ya masih istilahnya nyambi atau freelance lah kayak gitulah kayak gitu. Dan itu saya merasakan tanda kutip sombong ya. Walaupun di situ saya sudah mulai kenal namanya sedekah kayak gitu tapi saya mikir ya sudah sedekah kok kayak gitu loh. Tapi nah itu itu dia. Makanya saya terus akhirnya kayak ee penginnya ngumpulin harta, numpuk harta. Padahal kan itu enggak boleh kan. Misalkan kita numpuk-numpuk harta dan menghitung-hitungnya itu kan ada di di Quran di ayat berapa itu saya lupa tapi itu enggak boleh gitu. Jadi akhirnya saya terjebak di situ dan kenanya istidra sampai suatu ketika di mana ada suatu kejadian ibu saya meninggal dan di situlah saya kemudian akhirnya ditegur jadi ber istilahnya apa yang dulu ibu sering ngingetin saya untuk salat dan lain sebagainya itu baru terngiang-ngianglah gitu. Akhirnya saya ee memperbaiki diri saya ya kan dan mulai membenarkan niat lagi gitu membenarkan niat. Oh iya, berarti kemarin sudah mulai salah niat nih, gitu. Penginnya memperkaya diri sendiri. Akhirnya tuh dihilangkan dikesampingkan bahwa kita ini bangun bisnis itu untuk bermanfaat untuk jalan rezeki buat orang lain menjadi keran rezeki sehingga keran itu enggak akan pernah kering kan. Kalau keran kan dilewatin air terus gitu loh. Perkara itu nanti dapat berapa income-nya ee istilahnya mungkin profitnya dan lain sebagainya itu bonus aja. Nah, jadi itu kayak efek samping sama kayak kita sedekah. Dulu tuh saya sedekah tuh penginnya balik. Jadi the miracle of giving, konsep yang dulu saya apa pahami itu salah. Itu dulu gimana konsepnya? Dulu kayak hitung-hitungan. Ee bahkan dulu kan kita mikirnya ini kan berdagang sama Allah kayak gitu kan. Iya. Iya. Benar kan ya? Kalau kita sedekah kan nanti akan kembali banyak berkali-kali kan gitu ya. Nah. Dulu kan pernah dikasih tahu hati-hati loh kalau misalkan kamu mikirnya kayak gitu nanti kamu cuma dapat di dunia doang. Nanti setelah kamu di akhirat, kamu enggak dapat apa-apa. Karena apa? Sudah dibayar semuanya di dunia. H. Sehingga ee jangan sampai salah niat gitu. Oh, aku sempat sempat ini apa ngeyel gitu, Mas. Lah kan sudah dijanjiin sama Allah dan kita kan hanya berharap sama Allah, enggak berharap sama makhluk. Emang enggak boleh kita berharap dibalas di dunia? Iya, tapi nanti dapatnya di dunia doang gitu loh. Padahal ayatnya ada juga, Mas. Itu setelah baca, woh iya juga ya. Kayak gitu. Terus ee akhirnya ya itu maksudnya saya akhirnya mulai ee mengubah mindset itu bahwa sedekah ya sedekah aja menjadi habit aja gitu loh. Masalah itu nanti dibalas di dunia atau di akhirat itu biar Allah aja nentuin gitu loh. Nah, kalau misalkan Allah balas di dunia dengan ee rezekinya makin lancar dan lain sebagainya ya alhamdulillah gitu loh. Tapi kalau enggak pun ya kita hitung-hitung nabung aja di akhirat gitu. Jadi jangan sampai akhirnya woh ini kurang nih, kurang sedekah nih. Haah. G kan kita juga enggak bisa me apa ya istilahnya mendefinisikan bahwa sedekah itulah yang membuat rezeki kita lancar. Emang tahu kan enggak kan? Kan bisa juga doa orang tua kita ya kan mungkin doa tim yang kemudian kita bisa bantu sehingga bisa dapat pekerjaan ya atau mungkin doa nenek-nenek yang kita temuin di jalan kita. Nah misalkan kayak gitu loh kita bantu ya. kita enggak bisa memastikan bahwa itu benar-benar jadi salah satu faktor ya itu hak prerogatif Allah yang kemudian menentukan itu. Jadi akhirnya itu dirubah mindsetnya dan akhirnya apa? Pondasinya lah yang dibenerin. Karena dulu tuh hanya sedekah sedekah sedekah aja tapi salatnya malah ambyar. Dulu istilahnya ee ada feedback klien tuh lebih mementingkan feedback klien gitu daripada azan gitu kan. Ah nanti ajaalah namanya desainer kan wis terlalu senang di depan komputer ya Mas ya. Engkongkok akhirnya mepetmepet bablas kayak gitu-gitu Mas gitu. Itulah terus dibenarkan. Nah, kita kembali ke milestone tadi ya, ke titik di mana target akhirnya sudah bisa menyenangkan anak istri. Terus habis itu lanjut ke kebermanfaatan, ya kan? Kebermanfaatan membesarkan tim. Kalau timnya sudah besar, sudah banyak yang kerja, terus apa lagi nih next-nya gitu loh kan. Nah, selama berjalan ee usaha kami itu kan ada namanya dana CSR-nya atau dana sosialnya yang mungkin sebelum-sebelumnya itu disalurkannya secara random kadang ke masjid ini, ke pantiasuan ini dan lain sebagainya itu. Nah, terus kemudian kita terpikir kenapa enggak itu tuh dananya kita yang kelola gitu loh. Dikelola untuk membuat ee pondok ee tahfiz atau rumah tahfiz. Jadi awalnya kita hanya saya cuman sewa apa rumah kontrak rumah gitu diisi lima santri. Alhamdulillah kenal dengan seorang ustaz dan kita bermitra dengan ustaz tersebut. Ustaz tersebut yang kemudian mengajar punya santri-santrinya kita yang support ee teknis dan operasionalnya kayak gitu. He. Berawal dari situ terus CS CSR-nya akhirnya ee larinya ke situ. Nah, dari situ memang dari awal ya intinya kita pengin support aja dan memang secara enggak langsung ya, Mas, kalau misalkan saya flashback itu growth-nya memang cukup signifikan sih, Mas. Gitu loh. Walaupun growth apa itu? Growth bisnisnya. Ee walaupun kembali lagi ya kita enggak tahu, kita enggak tahu itu apakah dari itu atau dari yang lain kan? Iya, dari yang lain kayak gitu. Semenjak ada itu jadi lancar. Heeh. Karena gini, Mas. Kalau misalkan di otak-atik gatuk itu tuh ini kan kita terlibat di projject Allah ya kan. Kalau kita membantu agamanya Allah, Allah kan juga akan menguatkan kedudukan kita, kan. Kayak gitu. Kita akan dibantu juga sehingga ee gimana caranya santri-santri ini bisa tetap makan, bisa tetap ada operasional buat rumah tahfiz, otomatis kan di-support, disuntik dari studio ya. Otomatis Allah juga akan mendatangkan rezeki yang tidak disangka-sangka. Kalau secara nalarnya kayak gitu. secara logikanya ya gitu. Tapi bukan berarti kemudian terus kita memakai tanda kutip alat ini sebagai alat untuk ngelarisi dagangan kita. Jadi salah niat dong. Jangan itu saya saya belajar di ini, Mas, di Ustaz Umar Mita di Tazkiyatun Nafs. Jadi jangan sampai kayak gitu tuh menjadi pengkotor niat kita. Iya. Karena begitu niat kita kotor nanti takutnya nanti ya di akhir nanti kita boncos. Iya. Enggak dapat apa-apa. Iya. mana ya Allah yang disedekahkan dulu segala macam tiba-tiba hilang kan sudah dibayar di dunia gitu kan sudah tak larisin gitu ya sesuai niat kamu nah gitu Mas makanya itu bahaya banget bahaya banget tapi siri sekali itu Mas pasti pergerakan hati yang sangat halus itu loh benar benar makanya tuh benar-benar harus kita jaga banget niatnya itu gitu berarti kalau apa ya CSR itu hitungannya gimana kalau Mas yang Mas Arya terapkan ee yang saya terapkan itu ya ee ee ada persentasenya. Jadi tergantung nanti kesepakatan studionya masing-masing. Oh, beda-beda ya? Beda-beda. Kalau tapi rata-rata mungkin 10%-an ya. Kalau di slab itu ada 5% buat pondok, e 5%-nya buat tabungan umrah tim. Oh, makanya itu ada yang diumrohkan banyak itu Mas dari timnya jenengan kan. Iya. Alhamdulillah, Mas. Itu kriterianya seperti apa? Minimal sudah 5 tahun kerja. Oh, jadi selama start dia kerja di tempat kami gitu, kita kayak punya tabungan pos CSR buat ditabungkan umrahnya 5% dari profit dari profit itu ya. Iya, 5% dari profit itu gitu. Sehingga nanti setelah 5 tahun selesai dia sudah ee berkesempatan untuk bisa berangkat umrah kayak gitu. Itu berlaku di dua-duanya sih, di Letter Hand sama di Slap kayak gitu. Nah, terus ya itu 5% lagi buat yang pondok. Tapi itu ya yang di yang dih itu 10% ya memang sudah itu untuk dakwah ya gitu. Jadi CSR-nya akhirnya berkembang Mas. Jadi enggak hanya bisnisnya berkembang tapi CSR-nya pun juga berkembang. Oh gitu. Maksudnya berkembang itu dikembangkan nominalnya atau pembagiannya dikembangkan? Ee berkembang projeknya. Oh. Jadi awalnya pondok tahfiz ee pertama almulk ya. Almul berarti almulk sudah berapa tahun Mas? 4 tahun ya kayaknya. 5 tahunanah gitu. itu ee Pondok Tahfiz Almulk yang alhamdulillahnya itu bisa terbangun juga atas izin Allah dengan wasilah pecah telur juga. Masyaallah. Di video yang sebelumnya kan fun racing juga tuh di deskripsi itu alhamdulillah juga banyak wasilah yang nyumbang di situ, Mas. Itu jadi jenengan amal jariahnya ngalir terus dari situ. Amin. Amin. Gitu. Terus habis itu ada juga ee apa namanya ee Indonesia Creators Academy ee yang di video sebelumnya itu juga sudah dibahas gitu. itu sifatnya sekolah skill tapi kayak berbasiskan pondok. Jadi dia juga dapat pelajaran agama. Kenapa kok dikasih pelajaran agama? Itu karena supaya dia selain bisa dapat ilmu skill yang bagus, tapi attitude-nya juga bagus. Attitude itu kan berarti ngomongin akhlak dan adab. Kalau kita ngomongin akhlak dan adab berarti kan pondasi agamanya yang harus dimasukin maklumatnya gitu loh. Jadi dia bisa mendapat oh ternyata harus kita harus punya adab seperti ini, akhlak seperti ini. Kalau di tempat kerja kayak apa dan lain sebagainya. Nah, kalau misalkan kayak gitu, insyaallah dapat dua-duanya. Karena kan yang menjadi permasalahan di di SDM saat ini tu kan skill-nya bagus, tapi attitud-nya nol lah kayak gitu loh. Bahkan gini, Mas, saya sempat ada apa namanya fenomena yang cukup menarik gitu loh. Jadi ada teman saya di Facebook itu buka lowongan kerja muslim ee salat lima waktu tidak merokok. Itu kalau kita ngomong kan ya itu kayak biasa aja kan gitu loh. Ya itu kan haknya dia juga bikin. Tapi yang komen-komen di situ itu tuh pada dihujat malahan. He ini mau bikin apa e lowongan kerja atau buat ee ustaz kayak gini. Wah wah ini lowongan kerja kok spek nabi kayak gitu. Padahal seorang muslim salat lima waktu kan wajar itu biasa aja gitu. Itu bukan spek nabi. Se apa separah itulah maksudnya Mas kondisi kita gitu ya kayak gitu netizen dan lain sebagainya ya. Kita enggak mau menggeneralisir ya tapi ya itulah fenomena yang terjadi gitu. Makanya ya ya kayak gitu tadi Mas. maksudnya kita pengin Indonesia Creators Academi ini bisa dapat dua-duanya kayak gitu. Dan alhamdulillah sekarang juga lagi buka kelas, Mas. Kelas ee online kita onlinekan. Jadi kemarin-kemarin kan memang selama 5 tahun angkatan kelima sekarang masuk anant keenam itu ee full offline ya. Terus kita pengin ya sudahlah kita coba buka hybrid. Jadi online pun juga ada. Nah nanti misalkan ee bisa diklik di situ terus nanti ada formnya dan bisa masuk ke grup. Nanti kita kirimkan kayak kelas-kelas ee apa namanya ee yang dia yang dia ikutin dan ada tugasnya. Jadi enggak hanya sekedar ini videonya terserah mau belajar atau enggak yang penting sudah e kayak gitu loh. Enggak gitu. Tapi memang ada tugasnya nanti kita bisa pantau dan itu berhasil enggak gitu. Dan itu ada materinya Mas terkurikulum ada silabusnya mulai dari ya itu tadi yang dasar-dasarnya basic fundamentalnya gambar manual dan lain sebagainya. Habis itu mulai masuk ke ee basic penggunaan software gitu kan. Penggunaan software-nya seperti apa, terus nanti masuk ke penggunaan hardware-nya kayak gitu. Tapi kalau online ya otomatis dia harus ada ee device sendiri kan kayak gitu-gitu sampai akhirnya bisa ee menjadi seorang yang bisa ee desain grafis, bisa ilustrasi, bisa fotografi, videografi eh video mapping sampai live streaming bahkan sampai motion grafik. Terus iya komplit, Mas. Jadi insyaallah kita bisa mencetak kayak gitu lewat Indonesia katos Akademi itu yang CS kedua. Wah, ada banyak nih. Ada banyak. Belum selesai, Mas. Sabar, sabar. Aku sudah pengin tanya loh, ada. Oh, ya sudah kita itu dulu ya. Tanya itu dulu ya. Nah, berarti kalau yang Indonesia minum dulu, Mas. Kalau yang Indonesia Creators Academy itu pendanaannya juga dari CSR Mas ya. Iya, Mas. Kayak gitu. CSR-nya perusahaannya Mas Aroyo. Iya. Salah satunya itu juga tapi kita enggak menutup ya. Jadi CSR itu si yang kami ngomong dari tadi itu enggak kita eksklusif harus dari kami. Oh, bisa juga dari yang lain ya. Jadi banyak juga teman-teman seprofesi yang mereka punya studio desain juga yang kemudian akhirnya nitip-nitip juga gitu untuk men-support kayak gitu ya. Di Pondok Almuk ada juga yang dari yang untuk Indonesia Creators Akademi atau namanya ICA itu juga kayak gitu jadi enggak eksklusif dari kami semua. Nah, kalau apa ya? Kalau tadi almulk itu kan ee fokusnya kan menciptakan tahfid ya. Iya. SKnya itu ya. Nah, kalau I itu tadi Indonesia Akademi kan ada skill yang diajarkan. He. Kemudian ada fundamental ee tadi etika dan juga akhlak tadi kan. Iya. Iya. Diniah lah ya. Tipis-tipis ya. Diniah tipis-tipis. Output dari itu apa sih yang diinginkan para founders ini? Para foundersnya ICA ini apa output dari ICA ini? Output-nya ya gini Mas. Jadi kan sekarang itu kan kita mau ngomongin media itu kan sangat berkembang pesat. He. Apalagi kalau kita ngomongin media dakwah ya kan itu skillnya tuh masih banyak banget yang kekurangan. Jadi bahkan lulusan dari IC itu sudah di apa tandain dikapling. Heeh. Ini nanti buat aku ya kayak gitu dari pondok-pondok, dari masjid segala macam sampai akhirnya kita sendiri kewalahan untuk bisa apa ya mem-provide itu tuh. Karena ya antara yang input dan output-nya enggak sebanding enggak sebanding kayak gitu. Jadi ya harapannya ee istilahnya kita juga bisa tanda kutip mengkader ya mengkader orang-orang di media yang dia sendiri nanti bisa men-support ee dakwah ee atau mungkin apa namanya ustaz-susat atau influencer untuk bisa bikin video-video konten-konten yang menarik di mana pertarungannya sekarang itu kan media gitu loh. Pertarungan konten jahat atau konten buruk dan konten positif kayak gitu. Tapi selain itu juga dia juga bisa e apa ya untuk dirinya sendiri berkiprah sebagai desainer grafis pada umumnya. Ada yang kerja di studio ya kan, ada yang juga ee bahkan punya klien apa luar negeri juga ada ya. Akhirnya punya istilahnya lagi bangun ngerintis studio juga ada kayak gitu. Jadi ya segala macam yang mereka inginkanlah kayak gitu. Kalau dari segi yang pengelola Mas Aryo dan timnya Iya. itu berarti kan tidak mendapatkan apa-apa ya dari adanya ICA ini secara income ya. Betul. Iya. Nonprofit memangit ya. Yayasan ini formatnya Mas. Jadi memang ee Yayasan Indonesia Creators Akademy nonprofit Organization gitu. Jadi memang untuk kayak ya kita menciptakan orang yang ahli di bidang media. Harapannya dia menjadi baik dan kita ya mendapatkan pahala dari situ gitu ya. Iya. saja sesimpel itu jadi legasy tadi Mas gitu dan harapannya nanti ini bisa makin membesar jadi menjadi bentuk sebuah sekolahan yang formal bahkan yang nanti di hari tua mungkin kita enggak tahu bisa jadi ribuan bahkan gitu yang setiap tahunnya bisa mencetak kader-kader yang bisa desain dan apa punya attitude yang baik kayak gitu sih. Berarti tadi berawal dari kalau kembali kita flashback tadi dari tujuan berbisnis dari Mas Ara yang awalnya ingin kemud ingin hutang melunasi hutang menyenangkan keluarga menyenangkan tim i sekarang sudah mulai ke ranah sosial iya e ada apaag yang apaagi ok tadi kan baru yang sampai kedua ya ketiga itu ada rumah tahfiz Bunda Hafsah itu yang pondok tahfiz juga tapi khusus yang akhwat itu ada lagi Sukoharjo. Oh ya kebetulan di situ ada rumah gitu yang kemudian ditempatilah. Jadi ada ustaz yang juga nyari kontrakan gitu langsung ya sudah ini aja T bisa dipakai gitu untuk apa rumah tahfiz gitu Bunda Hafsah. Iya gitu. Alhamdulillahnya tidak sekitar ee tahun ke masuk keempat kalau enggak salah kayak kayak gitu sudah udah sampai 20-an sekian juz mau apa khatam. Kalau yang almuluk sudah ada beberapa yang khatam dah. Bahkan ada yang sampai ke Yaman juga ada. H. He. Terus setelah itu ini lagi mau otw merintis Muslimah Creative School. Nah, gitu. Oh, ada lagi ya ini ya banyak nih ya. Apa itu Muslimah Creative School itu apa itu ya itu masih satu yayasan sama Rumah Tafiz Bunda Hafsah tadi. Jadi intinya kayak ICA tadi tapi untuk khusus yang muslimah. Oh iya. Karena kan banyak juga kajian-kajian akhwat butuh tim media Mas. Oh, dan itu sangat jarang juga malah makin jarang lagi. Karena rata-rata kan yang biasa senang itu kan laki-laki ya. Laki-laki kalau dikajian akhwat ya gimana gitu. Nah, kan gitu Masnya semuanya kajian ibu-ibu gitu kan dia nyempil di situ enggak bisa bebas ruang geraknya kan. Itu kita lagi merintis juga ini Mas kayak gitu. Terus kemudian ada lagi yang ee nasi ee barokallah. Ah, nasi barakallah itu gerakan berbagi nasi di masjid-masjid setiap Senin sampai Jumat gitu. Kalau misalkan Senin sama Kamis itu dibaginya sore gitu untuk menjelang berbuka gitulah. Itu sudah berjalan berapa tahun juga ini gitu. Ribuan apa nasi bok per bulannya kayak gitu. Itu masih berjalan sampai saat ini. Alhamdulillah gitu. Waktu saya pertama kali ketemu Mas kan sudah ada. Itu sudah ada ya sampai sekarang alhamdulillah barakallah. Itu di Kebumen namanya. Sekarang masih ada. Masih. Luar biasa. Alhamdulillah Allah bisa jaga ini bisa istikamah terus ya. Oh iya. Terus kemudian yang baru-baru ini jalan juga setahunan ini jalan itu Direct Donation for Gaza. Iya. Itu yang lagi sering Mas Aryo kempainkan itu ya. Iya itu Mas. Alhamdulillah sih gitu. Apa tadi? Direct direct donation for Gaza. Itu gimana sih awalnya kok masih ada kepikiran itu gimana? itu direct donation gas itu itu ee kebetulan kan saya apa diperkenalkan lah ya sama ee teman istri sih sebenarnya dia yang berkontak langsung sama jurnalis Gaza di sana terus ngasih tahu ngasih informasi ini loh bisa nitip donasi langsung ke sana gitu ya saya pikir oh ya memang sudah banyak sih kayak gitu kayak influencer atau jurnalis yang ee open donasi gitu kan tapi terus kemudian ya sudahlah tak nitip gitu lewat istri itu istri yang menginformasi kan ya sudah tak nitip. Begitu saya nitip terus dikirimi video h sama orang Gazanya itu video penyerahan bantuannya itu berupa roti kalau enggak salah. Iya roti sama air bersih dengan nama saya ada di situ. Ditulis di secari kertas itu langsung meleleh Mas satu. Masyaallah nama saya sudah sampai di Gaza gitu Mas. Saya aja belum sampai di sana tapi minimal nama saya sampai di sana gitu. Iya. Wah, ya Allah. Ini ini kalau misalkan ini saya aja yang dapat infonya eman-eman gitu loh, Mas. Sayang ini kalau misalkan hanya di saya aja harus banyak orang-orang yang lain yang peduli dengan Gaza yang tahu cara ini, gitu loh. Akhirnya saya kemudian ya sudahlah yuk kita bikin ini jadi kayak gerakan ee apa donasi bisa langsung transfer ke Gaza. Karena awalnya tuh kan bisa ditransfer lewat bank Bank of Palestine. Jadi ternyata tuh di sana pergerakan ekonomi itu masih berjalan Mas walaupun hancur lebur kayak gitu. Jadi masih ada penukaran-penukaran uang itu bisa kayak gitu. He. Tapi terus kemudian akhirnya kita coba pakai PayPal gitu kan. PayPal. Tapi terus setelah PayPal kemudian apa terlalu banyak ee potongannya dan kemudian ee apa namanya enggak berjalan dengan lancar, akhirnya kami berubah pakai USDT atau mata uang crypto. Tapi memang mata uang kriptonya ini yang paling stabil ya. Jadi stable coin dia yang diuivalen sama USD. Jadi dia apa nilai tukarnya naik turunnya sama kayak USD US dollar ya. Heeh. Jadi kalau misalkan ada yang menghubungi ini goror dan lain sebagainya kok fluktuatif dan lain sebagainya yang USDT ini insyaallah enggak gitu loh. Dan kami menggunakan itu hanya untuk kirim uang. Jadi tidak dikumpulkan, tidak diendapkan di situ. Tidak diendapkan sehingga mengambil selisihnya. Enggak. He. Jadi memang hanya sekedar itu benar-benar instan dan sangat murah cuma 0,5 USD. Ee adminnya adminnya biaya ad sangat murah ya. Walaupun nominalnya yang ditransfer banyak. Iya Mas. Bahkan ratusan juta pun segitu juga tetap 0,5 dolar. Iya kayak gitu. 0,5 kan hanya berapa itu Mas? Iya makanya sedikit sekali kan. Sedikit sekali. Tapi memang di platformnya itu ngambil selisih dari nilai tukarnya ya antara beli dan jualnya itu berbeda. Jadi waktu saya deposit itu harganya berbeda dengan saya pas ngambil sama ngirimnya itu loh. Nah gitu. Tapi selisihnya pun juga paling R200 kayak gitu. L. Nah, itulah yang kemudian kita coba kumpulkan di menjadi salah satu pergerakan namanya direct donation for Gaza. Terus ee caranya gimana? Kita ee pasang di Instagram ee menjadi sosial medianya. Terus kemudian orang-orang yang tertarik untuk gabung nanti tinggal ngeklik linknya terus bisa join ke grup WhatsApp. Nah, di grup WhatsApp itulah nanti kita kasih terus update-update setiap harinya donasinya, penyalurannya, rekap keuangannya. benar-benar 100% tersalurkan tanpa potongan, Mas. Tidak ada potongan sama sekali. Enggak ada. Karena kita takut apa? Fitnah harta ya, Mas. He. He. Kalau kita ngomongin ya mohon maaf lembaga-lembaga filantropi yang pernah terjadi kasus dan sebagainya itu kan membuat orang skeptis ya. gitu loh. Justru ee kalau yang lewat kami ini memang gerakan independen. Jadi memang ee nomor rekeningnya itu bukan nomor rekening yayasan karena memang kita butuh cepat setiap hari itu yang donasi yang masuk kita nolkan. Hm. Jadi enggak ada yang ditimbun di rekening istilahnya yanga dari jemaah dari member itu langsung kita salurkan tanpa ada potongan dan itu bisa langsung tersalur di Gaza dan setiap hari, Mas, ya. Setiap hari, Mas. Insyaallah kalaupun itu enggak paling kepending jadi satu apa du hari sekali. H dan itu adalah strategi paling tepat untuk mengirimkan bantuan di saat ini, di saat ada pemblokiran di perbatasan. Karena kalau kita ngomongin ngirim bantuan ke perbatasan pasti diblokir dong. Kalau sudah diblokir nanti barang bantuannya juga enggak bisa masuk. Kalaupun masuk nanti udah busuklah dan lain sebagainya gitu kan. Apalagi belum kita lihat juga di berita-berita bahwa dicegat-jegat sama ya orang-orang laknatullah itu ya itu terus kemudian akhirnya membuat jadi enggak bisa masuk ya. Akhirnya cara paling tepat adalah mengirimkan dana apa dana duit ke sana sehingga di sana bisa dicairkan dan bisa beli ee bahan-bahan makanan yang kemudian bisa dibagi-bagikan. Pertanyaannya loh memang ada transaksi jual beli di sana? Masih ada, Mas. Ternyata. He. Jadi kita enggak ee walaupun mungkin di sana hancur porak-poranda, tapi itu ada masih yang berjualan di pasar kayak gitu. Walaupun harganya enggak masuk akal, 3 kg tepung aja itu sudah bisa sampai R1 juta lebih. Mahal banget ya. Mahal banget, Mas. Dan benar-benar enggak masuk akal. Tapi orang-orang Gaza sana itu tuh berterima kasih sekali seakan-akan dengan adanya bantuan ini, harga yang tinggi-tinggi itu pun tidak menjadi masalah karena bantuan terus berdatangan kayak itu dari alhamdulillahnya sekarang sekitar ada ee 2000 hampir 3.000 member di tiga grup ya. H banyak ya Mas ya. Banyak Mas alhamdulillah. Direct donation eh Forga Gaza yang Mas Arya kelola ada 5 berapa? 3.000 orang ya. Iya kira-kira itu di member web apa WA-nya ya? WA-nya ya. Karena mereka senang satu grup sama jurnalisnya ini. Jadi dikasih info-info update tentang di sana seperti apa. Terus kalau mau tanya-tanya juga bisa kayak gitu. Bahkan banyak yang akhirnya senang itu loh karena kayak sedekat itu dengan saudara-saudara kita di Gaza dan itu videonya pun juga terus-terusan dikirim dan laporannya juga transparan, nama-namanya juga ada dan bisa langsung nyampai itu loh, Mas, dalam waktu hitungan 1 sampai 2 hari itu langsung ya, Mas. itu sehari langsung ee Jen Mas Arya juga sampaikan kan di grup itu ya. Jadi hari ini dapat sekian yang direkening ini tinggal nol sekarang diterima sana jadinya apa gitu ya Mas ya. Benar. Jadi semuanya itu benar-benar kayak udah apa transaksinya itu kita kita jabarkan karena nomor rekeningnya sudah enggak tercampur juga Mas. Sudah dedicated khusus buat Gaza gitu. Jadi ya alhamdulillahnya bisa mengumpulkan sekitar setahunan ini bisa tembus 5 M. Tapi masyaallah uang situ tuh masih sangat hijbagi mereka Mas. Hm. 5 miliar ya, Mas ya? Iya, 5 miliar kecil ya. Iya, memang di sana butuhnya banyak ya. Apanya? E kalau di sana butuhnya lebih banyak daripada itu. Iya. Itu Mas itu tuh baru bisa membiayai kebutuhan-kebutuhan dasar untuk hidup aja. Kebutuhan paling besar itu ya buat makan dan air bersih. Tapi alhamdulillahnya atas izin Allah juga dari pergerakan ini akhirnya bisa bangun sumur apa? Bangun sumur gitu. Jadi yang dulunya beli airnya akhirnya bisa ada seumurnya terus musola darurat WC umum juga kayak gitu Mas. Terus sama apa namanya ee selimut buat anak-anak yang pas musim dingin baju-baju muslimah juga kayak gitu. Terus yang terakhir ini yang lagi ini kita gencarkan adalah susu. Karena kemarin kan sempat mal nutrisi kan Mas. Jadi ee banyak bayi-bayi gaza yang akhirnya meninggal karena kelaparan, kurus, kering dan lain sebagainya. itu akhirnya di kita support susu dan popok dan masyaallahnya Mas maksudnya ini kan sudah hampir 3 tahun ya kan ee Gaza ini berjalan apa genosidenya e gencatan anu iya itu anak-anak gazanya tuh terus lahir-lahir terus loh Mas gitu saya juga ya wi masyaallah ya bisa loh Mas dengan kondisi seperti itu loh lahir-lahir terus ya iya kayak gitu loh itu kan ya berkah ya maksudnya memang di sana kan Baitul Maqdis kan memang tanah yang diberkahi gitu gitu Mas ee saya lebih ke ini Mas, apa yang saya rasakan, Mas? Jadi yang dulunya ini mungkin tidak meniatkan bakalan seramai ini dan sampai sekarang bisa mendonasikan mengumpulkan donasi bareng-bareng 5 miliar itu apa ya, Mas, yang saya merasakan, Mas? Iya, saya ini aja, Mas, ya. Terharu aja, merinding, ya. Maksudnya ini adalah amanah dari Allah, tapi juga termasuk apa bisa dibilang juga tanda kutip ee beban ya. Beban dalam arti saya jangan sampai tergelincir sedikit pun, Rp1 rupiah pun gitu, Mas. He. Dan selain itu ee ini adalah anugerah juga. Sisi lain ini adalah anugerah. Karena apa? Prinsipnya adalah kalau kita bisa mengajak ke kebaikan kan kita bisa mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakan. Nah, kayak gitu loh. Jadi kalau kita makin ngajak orang yang bersedah dan lain sebagainya ya otomatis alhamdulillah kita juga bisa menjadi ee motor kebaikan kan menjadi mesin pencetak amal saleh itu tadi. Akhirnya kembali ke tadi Mas milestone-nya tadi kalau kita ngomongin tadi sudah ee istilahnya di titik di mana kita bisa menjadi keran rezeki terus kemudian kita bisa membuat CSR-sasar tadi ya. Terus sejauh mana nih ya kan sejauh mana yang bisa kita support ee untuk apa kebermanfaatan umat misalkan gitu kita ngomong umat ya itu unlimited. Jadi akhirnya girah kita untuk berbisnis itu enggak akan padam. Kalau misalkan kita ngomongin bisnisnya di satu titik udah kita ngomongin ya apa sih yang kita inginin ee secara material di dunia ini. Misalkan katakanlah rumah, mobil gitu kan. Terus jalan-jalan ke luar negeri, umrah katakan terus apa haji furoda istil ya kan gitu. Terus apalah itu setinggi-tingginya keinginan kita di dunia itu pasti ada mentoknya ya kan. Kalau sudah mentok terus apalagi ya akhirnya biasanya orang-orang mungkin larinya ke hobi ya kan terus jor-joran lah di hobi kolektif apa koleksi barang-barang mewah ya kan ya kayak gitulah pokoknya tuh. Tapi kalau kita geser itu kemudian ke umat itu enggak akan hampa rasanya gitu loh. Kalau misal kita ngomongin ke yang kayak gitu, pencapaian-pencapaian duniawi itu pasti ada rasa hampa. Kayak misalkan saat kita senang sesuatu barang, kita ngelihat review-nya di YouTube peng bolak-bali berarti itu berkali-kali kita nonton sampai gitu. Tapi setelah dapat barangnya ya udah paling gitu aja gitu kan. Itu sama seperti yang kita dapatin kalau misalkan di duniawi itu ya kayak gitu setelah kita dapat ya sudah hampa aja rasanya. Tapi kalau kita ngomongin ee istilahnya kebermanfaatan ke umat itu tuh unlimited karena mereka juga butuhnya unlimited. Sehingga kita ini akhirnya mindset-nya bagaimana caranya kita terus bisa ngembangin bisnis kita makin besar lagi makin apa ya istilahnya dampaknya itu juga makin gede lagi. Karena kalau misalkan kita mau gerakin apa ya menjadi istilahnya tuh membuat mesin amal salehnya itu berjalan terus berputar, otomatis kan harus ada bensinnya nih Mas men-supportnya itu apa ya otomatis dana. Dananya itu dari mana ya? Dari bisnis kita mesin pencetak uangnya. Nah gitu loh. Jadi mesin pencetak uang men-support mesin pencetak amal saleh. Nah gitu. Sehingga apa tujuan akhirnya ya ke akhirat tadi kan gitu. Jadi duniawi ini jangan kemudian terus kemudian wah duniawiiah tinggalkanlah. kayak gitu loh. Justru kalau misalkan kita ngomongin kita sebagai pebisnis harusnya malah justru kita tuh makin expert, makin makin master lah di situ. Karena mungkin ya sebagi sebagian orang, tapi ini kembali lagi ee ini jalan hidup masing-masing ya. Ada yang kemudian ah ee saya sudah cukup dunia, saya tinggalkan semua. Saya pengin fokus saja di masjid setiap hari ee ngaji, zikir, salat, dan lain sebagainya kayak gitu. sehingga akhirnya bisnis-bisnisnya semua di ee delegasikan misalkan kayak gitu. Tapi yang apa yang terjadi apa? Akhirnya bisnisnya jadi stagnan, enggak bisa berkembang lagi dan lain sebagainya gitu. Sehingga akhirnya malah ee kebermanfaatan yang harusnya bisa dihasilkan di bisnis ini akhirnya mentok di situ. Nah, sedangkan kita ini adalah bebisnis. Allah amanahkan ee intuisi atau anugerahkan ee keahlian dalam berbisnis ya. Kenapa enggak ee istilahnya tuh spesialisnya itu yang kita kemudian kembangkan terus? He. Untuk apa? Ya untuk itu tadi men-support di amal salehnya itu gitu loh. Sehingga kalau di kita punya mindset kayak gitu enggak ada yang istilahnya tuh pensiun. Apalagi ngomongin pebisnis. Ya, saya tuh dulu gini Mas pernah berpikiran, ah di umur 40 tuh sudahlah pensiun pensiun lah gitu kan. Terus sambil nyanding apa e pondok tahfiz gitu kan nyantai minum kopi pakai sarungan sambil lihat orang ngaji. Kayak gitu-gitulah ya toh tu. Tapi ternyata enggak apa ya enggak menurut saya itu tuh kurang tepat gitu loh. Karena kalau misalkan kayak gitu kita nanti akhirnya jadi apa ya orang pensiun yang akhirnya malah stres sendiri. Karena orang pensiun itu kan adalah di mana kita tuh bisa mengerjakan apa yang kita sukai tanpa ada ee istilahnya keterpaksaan. Misal gini, apa namanya? Kita dari lulus apa sekolah, habis itu kita kerja kerja terus itu sampai akhirnya di titik di mana kita adah pensiun lah gitu. itu kan kerja itu sebenarnya adalah tanda kutip sebuah beban di mana kita harus melaksanakannya supaya dapat uang sehingga uang tersebutlah kemudian yang akhirnya bisa membiayai keinginan kita dan sebagainya. Tapi kalau enggak harus kerja kan penginnya dapat uang terus kan dan kita bisa melakukan segala sesuatu yang itu menjadi passion kita gitu loh. Nah, kalau pada pensiun terus habis itu kita ee meninggalkan itu semua dan berubah benar-benar berubah yang mana sebenarnya passion kita tuh adalah pebisnis lah kenapa harus kita tinggalkan? Nah, dan habis itu fokus ke apa namanya ee ke ngaji dan lain sebagainya. Memang memangnya ee yakin gitu loh, Mas. Pertanyaannya gini, memangnya yakin segala macam yang kita tinggalkan dunia itu terus kemudian kita fokus untuk diri kita sendiri, ngaji, salat, dan lain sebagainya itu akan menyelamatkan diri kita di akhirat nanti. Hanya berdasarkan amal saleh kita saja, gitu loh. Kita kan tetap harus butuh amal saleh orang lain, Mas. H caranya gimana? Cara ee apa namanya? Supaya kita dapat kiriman amal saleh dari orang lain yaitu tadi kita bikin CSR-CSR tadi ya. Jadi mesin amal, mesin pencetak amal saleh. Ee gitu loh, Mas. sehingga kita akhirnya berpikirnya itu secara strategis ya, efisien, efektif gitu kan. Karena kaidahnya adalah di mana saat kita mengajak satu orang ke kebaikan, kita akan mendapat pahala yang sama seperti orang mengerjakan ya kan tanpa mengurangi pahala orang tersebut ya gitu loh ya. Kalau misalkan ya saya katakanlah gini, bisnis tak tinggalin, saya mau jadi hafiz Quran. Nah, itu lah. Terus gimana nanti e kan malah akhirnya pondok-pondok tahfiznya ini jadi terbengkal lah gitu. Nah, kenapa enggak kita fokus di bisnisnya tapi kita support akhirnya mencetak hafiz Quran Quran yang banyak sehingga kita akhirnya bisa spesialis di ee bisnisnya tadi tetap gitu. Makin besar makin besar makin berdampak dan akhirnya dampak yang kita hasilkan itu juga atas izin Allah makin gede lagi. Nah, gitu Mas. Jadi kalau mungkin ee kalau pensiun itu kan orang kemudian berpindah yang tadi Mas Aryo bayangkan ketika umur 40 berpindah ke haluan menjadi nunggoni tahfid tapi sekarang mengerjakan sesuatu bukan berdasarkan keharusan gitu ya tapi mengerjakan sesuatu berdasarkan kesenangan kesenangan gitu kan benar jadi kalau kita ngomongin passion Mas dulu mungkin passion saya juga bisa berubah-ubah awalnya passionnya desain ya desain jadi desain grafis itu hobi yang dibayar. Setelah itu naik level lagi, sudah enggak desain lagi, tapi menjadi pebisnis di ee creative industri ya kan. Udah setelah itu apalagi passion-nya? Nah, passionnya sekarang gimana caranya bisa men-support dakwah sebesar-besarnya. Jadi passion, Mas. Benar loh. Iya. Karena kalau itu kita jadi passion itu tuh giroh kita tuh kayak enggak enggak mati-mati lah gitu. Enggak padam ya. Kayak gini, Mas. Itu kita ngomongin seperti kayak visi ya. Visi seseorang itu di mana dia tukang bangunan lah ya. Tukang bangunan yang dia bangun posis kamling sama tukang bangunan yang bangun gedung pencakar langit. Pasti kan semangatnya beda. Iyalah. Iya. Enggak. Nah itu loh si semangat kerjanya itu cuman bikin pos kamling di sebuah desa terpencil sama pencakar lang jauh berbeda. Karena apa? Visi tadi visi kita jauh ke depan lah. Gimana kalau visinya itu kemudian kita ubah ke akhirat. Nah, kalau kita ngomongin garis timeline, Mas ya, garis timeline kehidupan kita sebelum kita lahir sampai sesudah kita mati itu kan panjang banget ribuan mungkin jutaan tahun ya. Tapi di titik kita satu kecil ini, di mana umur kita tuh dari 0 sampai usia rata-rata umat Nabi 60-an itu kita dihisab itu kan mulai dari kita ee balik ya, enggak balik sampai umur 60-an itu belum dikurangi waktu tidur kita, waktu ngobrol kita, dolan-dolan dan lain sebagainya gitu loh. Ee salat paling berapa sih? Lima waktu ya kan cuma cuma berapa menit. Ngaji zikir-zikir ee berapa waktu emang cukup itu untuk menyelamatkan kita? Nah, itu loh, Mas. Pertanyaannya kayak gitu. Dan akhirnya kalau misalkan kita sudah mikir kayak gitu, akhirnya kita jadi berpikir kita nih di dunia untuk apa sih? Apa hanya memang buat bisnis doang? Nah, gitu loh. Kalau misalkan bisnis doang lah. Terus nanti di titik kita kecil ini, timeline kita ini antara kita saat ee apa hidup sampai meninggal ini ya kita waktu kecil ini yang sangat sedikit ini menentukan waktu selamanya ke depan. Kalau garis timeline-nya gitu. Nah, itu apa yang mau disia-siakan? Nah, akhirnya kita jadi berpikir bahwa sebelumnya itu kita itu ee dari mana? Terus misalkan kita di dunia ini untuk apa dan selanjutnya kembalinya ke mana. Nah, itu kan kalau misalkan kita tarik garis lurus semuanya adalah satu ee satu kata yaitu Allah ya kan. Nah, gitu loh. Kita dulu di apa? Berasal dari mana? Dari Allah yang menghidupkan kita ya kan? Misalkan kita sudah di dunia, dunia ini untuk apa ya? Misalkan kita misalkan salah niat jadinya ngomongin bisnis doang gitu. ngomong ngumpulin kekayaan doang. Tapi kalau di dunia ini kita untuk Allah ya akhirnya mikirnya ke akhirat tadi. Oh, setelahnya karena nanti kita juga untuk Allah juga kok. Ah, kayak gitu. Iya. Kok saya penasaran, Mas. Kok bisa memiliki passion, memiliki sebuah kesenangan ee menciptakan amal saleh gitu ya. Wah, ini kan juga ee apa ya ee passion yang mungkin tidak populer dimiliki oleh orang-orang pebisnis. Iya, Mas. Iya, Mas. Benar. Benar. Ini dari mana ini? dapat passion ini, Mas, apakah dari sering kumpul dengan orang-orang saleh, ulama atau dari mana? Kalau Mas Aryo ya, alhamdulillah, Mas. Jadi itu memang perjalanan hidup ya. Kalau misalkan kita ngomongin kayak projek-projek CSR itu kan kita mendekat ke satu orang apa orang-orang yang satu frekuensi. Iya, enggak? Jadi kayak pondok tahfiz itu kemudian didekatkan dengan ee istilahnya ustaz-ustaz yang juga ee berkepentingan di situ. Misalkan kayak apa namanya kemarin yang Sidak itu yang Ustaz ee Adi Pratama Laris Hindo. Terus kemudian ketemu Ustaz Lukman juga di Gerakan Infak Berasia terus kemudian akhirnya ee bisa ke mana ke mana juga. Ee itu kan akhirnya membuat pikiran kita terbuka. Terus kemudian ikut komunitas-kompunitas pengusaha muslim misalkan kayak di apa 3M itu ada muslim maju manfaat itu di Jogja ada gitu terus apa ada ee komunitas pengusaha muslim truly muslim prene nah itu di situ saya belajar banyak di situ yang akhirnya bahwa kita tahu bahwa di dunia itu kita seperti apa sih kita tugas-tugasnya dan lain sebagainya sehingga itu membentuk kerangka berpikir saya kayak gitu loh. Jadi banyak ilmu-ilmu yang sebelumnya saya sendiri enggak dapat gitu yang akhirnya terus jadi makin dapat makin melek lagi dan akhirnya bisa merumuskan, "Oh, ternyata ini yang tak cari selama ini ya gitu loh." Misalkan kalau kemarin-kemarin merasa hampa gitu apalagi ya, apalagi ya, apalagi ya itu. Nah, kalau kita ngomongin support dakwah, dakwah itu menjadi poros hidup kita, wah itu wis kayaknya energi itu enggak habis-habis itu, Mas. Masyaallah. Ya, itu tadi. Jadi, akhirnya menjadi passion itu tadi e kayak misalkan kita support dakwah itu menjadi passion gitu loh. Kayak ya kita terjun di pergerakan-pergerakan yang men-support dakwah itu akhirnya kita ber itu berkenalan dengan ustaz-ustaz t kembali ke pertanyaan Mas Agung di awal tadi ya kan bisa ketemu dengan ee Ustaz ee Buyul misalkan gitu terus Ustaz Irfan yang kita ke Wonosobo bareng dan lain sebagainya kayak gitu kan. Ustaz Fatih Karim, terus Ustaz Felix juga apa kita ada apa projek bareng bikin komik dan lain sebagainya. Ya itu gitu, Mas. Jadi kalau misalkan kita di projek itu nanti Allah datangkan itu orang-orang yang satu frekuensi yang punya semangat bareng untuk bisa ke depannya itu benar-benar punya apa ya tulus lah ya. Karena fokusnya itu tadi fokusnya ke akhirat tadi. Kalau sudah ngomongin akhirat itu kayak nothing tulus lah kayak gitu loh. J wis berapa aja bakar duit dan lain sebagainya. Karena itu nanti juga toh terkonversi menjadi pahala. Jadi enggak akan ada ruginya kayak gitu. Tapi gini sih, Mas, kadang-kadang kalau saya ngelihat ee tadi aku di awal kata kan juga melihat ee mengatakan Masar ini idaman gitu kan. Masku gini, Mas, ini ada alasannya. Oke. Oke. Gimana? Gimana? Alasannya gini. Jadi kadang-kadang kalau kita ngelihat sosok ustaz itu ya kadang-kadang kan kita kayak jauh banget ya, Mas ya. Jauh banget ya. Wah, hari-hari dakwah, hari-hari ngaji gitu ya. hari-hari ee pagi ngaji di sini, siang ngaji di sini, sore ngaji di situ, itu tiap hari gitu. He. Ee kalau kadang-kadang mungkin ketika melihat itu kan kita berat nih ya, W berat nih. Kita juga kayaknya enggak level lah gitu ya. Tapi kalau katakanlah aku melihat Mas Aryo gitu ya, kan ada juga ee main-mainnya. Iya. I ada main-main. Tak lihat setahun itu berapa kali ke luar negeri sama istrinya. I kan gitu kan. itu kan salah satu apa ee sumber rezeki juga Mas membahagiakan istri itu melancarkan juga maksudku itu idaman itu itu asik juga ya kayak maksudnya pola hidup seperti yang Mas Arya lakukan ini kayaknya kok asyik juga bisnisnya berjalan i kan alhamdulillah ee bisnisnya berjalan bisa mengumrahkan tim juga masyaallah kesenangan keluarga juga dapat nih main-main secara secara apa kepedulian kita terhadap akhirat yang insyaallah rumah yang akan kita tuju ke sana juga. He enggak enggak dispelekan maksudnya enggak enggak di kesampingan juga dibangun gitu. Wah asik nih. Tapi masalara ee apa ya kayak sudah memimpikan ini akan seperti ini atau ini berjalan naturally satu satu atau memang grand desain gitu, Mas? Iya. Kalau kita ngomongin kayak gitu sih sebenarnya kalau kita ngomongin grand desain ee enggak gitu-gitu juga. Cuman dulu pas waktu SMA itu pernah sih ada guru agama kan ngasih tahu kalau kita besok bangun masjid atau pondok kita akan dapat ee apa amal jariah sesimpel itu gitu loh. Nah, setelah semenjak itu terus jadi kayak punya cita-cita besok tua pengin punya pondok. Nah, gitu loh. Pengin bisa bangun pondok, bangun masjid sehingga enak ya kalau amal jarinya ngalir sendiri gitu loh. Tapi ee tentang bagaimana cara membuat itu tuh saya enggak ini, Mas. Enggak detail enggak enggak tahu bagaimana caranya untuk membangun itu. Karena loh saya ini siapa gitu kan. Saya juga penuh dosa, penuh aib segala macam. Kalau jenengan tahu aib-aib saya mungkin saya enggak bakal duk di sini gitu. Jenengan dengerin saya enggak gitu. Jadi apa namanya ee itu kayak berjalan seiring waktu aja, Mas. Kayak ibarat kata gini, kalau kita misalkan mau pakai Google Map itu kan kita nulis tujuannya dulu toh. Tujuannya ke mana itu kan enggak. Terus kemudian kita haalin satu-satu belok-beloknya ke mana kan enggak toh. Oh lewat masuk jalan ini belok kanan terusang itu habis itu ee kita nutup Google Map-nya terus kita hafalin jalan. Ingat enggak gitu? Tapi kita yang penting tahu tujuannya aja dulu. Nah nanti biar Allah yang akan nuntun kita ke mana-kemananya itu tuh gitu loh. Sama kayak Google Map kan kita juga enggak tahu toh mau diarahin ke manaut wae lah diblasuk lah gimana. Pokoknya e tujuannya ke sini. Iya, tujuannya ke situ. Walaupun mau lewat jalur yang muter apa yang apa segala macam, tapi tujuannya kan kita sudah tahu dulu tu. Iya. Nah, dengan berbekal seperti itu, itu nanti Allah yang akan kemudian apa istilahnya menuntun kita gitu loh. Nah, tinggal tujuannya itulah yang kemudian kita pindah-pindah dalam arti tujuan jangka apa menengahnya segini, pendeknya segini, menengahnya segini, jangka panjangnya segini gitu loh. Nah, setelah kita sudah bisa meplot-plotkan tujuan-tujuan kita itu nanti Allah lah yang akan nuntun kita kayak gitu loh. Sehingga kalau tadi kembali ke pertanyaan Mas Agung kok enak yo gini gini gini gini ya itu tadi Mas ee pola apa ya mindset pebisnisnya itu kan kita terapkan di sini sebenarnya kita kalau misalkan ngomongin pebisnis kita nih kan bukan self employee ya kalau self employee itu dia buka bisnis dia sendiri yang buka tokonya dia sendiri yang jual dia sendiri yang kirim-kirim terus dia yang nutup tokonya juga ya kan kalau misalkan dia sakit tokonya ikut tutup ya Kalau dia meninggal bisnisnya juga ikut mati kan gitu. Nah, sedangkan kalau mindset pebisnis kan enggak gitu. Kita bangun sistem, kita bikin tim, kita mendelegasikan, kita ee mulai apa mengurangi hal-hal yang teknis, kita fokus yang hal-hal yang strategis itu bisa kita terapkan untuk amal saleh, Mas. H. Nah, jadi amal salehnya gimana? Supaya tetap itu terus berjalan, terus bisa dapat pahala dan lain sebagainya. itu tadi bikin mesin-mesin mencetak amal saleh tadi sehingga kalau misalkan kita mau jalan-jalan, mau ke mana dan lain sebagainya itu tetap beroperasi, tetap berjalan terus gitu loh. Ee daripada kita sendiri yang mengurung diri ibaratnya gitu terus apa namanya memperbanyak amalan pahala yang hanya untuk di ditujukan ke diri kita sendiri untuk menyelamatkan tanda kutip diri kita sendiri kan gitu kan. Kenapa enggak kita kemudian bisa mesin pencetak uang tadi untuk bisa men-support projek-projek dakwah yang kemudian akhirnya itu bisa bareng-bareng ke surganya loh. Gitu loh, Mas. Termasuk yang tadi Gaza tadi ya bareng-barenglah itu ee orang-orang yang peduli dengan Gaza tadi. Ayo bareng-bareng yuk kita nanti insyaallah bisa kumpul bareng besok di jannahnya Allah gitu lah sama orang-orang Gaza. Yang penting sekarang kita kumpul di sini nulis nama dulu, namanya dulu sampai Gaza. Gitu Mas. Soal bareng-bareng ke Gaza atau bareng-bareng ke surga. Gaz. Tadi Mas juga pesan kan bahwa ketika teman-teman pendengar pecah telur bisa juga nih ikut di salah satu grup yang Mas Arya kelola gitu ya, Mas ya. Iya. Iya. Gitu Mas. Nanti ee teman-teman bisa cek aja link ya di deskripsi ya kayak gitu. Nanti insyaallah teman-teman juga akan bisa mendapatkan ee apa namanya? Update-update hariannya, video-videonya, terus ee bisa satu grup juga sama orang Gazanya. bisa tanya apapun yang pengin dipertanyakan kayak gitu tentang kehidupan di Gaza seperti apa. Terus juga bisa dapat rekapan ee update laporan keuangannya dan benar-benar 0% ee tanpa potongan ya kayak gitu. Terus apa namanya ya itu nanti experience yang teman-teman akan rasakin sendirilah kayak gitu dengan nama kita sudah ada di Gaza gitu. Jadi, insyaallah teman-teman akan mendapatkan ee pengalaman yang tidak dijumpai di ee mungkin di lembaga-lembaga lain ya mungkin ya gitu. Tapi tanpa mengecilkan yang lain ya kayak gitu kita Mas sama-sama berbagi peran. Nah, gitu loh. Berbagi peran. Ada yang metode seperti ini, ada yang metode seperti ini. Nah, kami metodenya seperti ini gitu yang insyaallah alhamdulillahnya banyak yang kemudian ee merasa senang. Merasa senang, merasa dekat dengan orang Gaza. Merasa apa ya? merasa menjadi satu keluarga. Jadi walaupun kayak orang jauh di sana ya, di belahan dunia lain, tapi itu rasanya dekat ya. Kayak tiap hari dapat kabar dari mereka. Iya itu Mas dan itu bukan video yang kita ulang-ulang itu memang baru dan itu diedit loh Mas. Jadi mereka sendiri sampai sampai ada edit videonya di terus habis itu dikirim kayak gitu sampai sesempat itulah mereka kayak gitu karena ya supaya untuk mengkoneksikan dengan kita di Indonesia ini gitu. Kalau hari ini kondisinya seperti apa, Mas? teman-teman kita yang ada di Gaza, saudara-saudara kita itu ee kondisinya itu sekarang memang ee mereka ya hidup seadanya, Mas. Maksudnya dengan apa ya? Dengan tenda-tenda ya. Jadi bayangin aja Mas, kayak kita tenda untuk kemah itu kan itu masih bagus ya. Mereka tuh ya benar-benar kayak apa ya kayak seadanya Mas. Maksudnya memang ada yang tenda-tenda yang masih bagus tapi ada juga tenda-tenda yang sudah kayak enggak layak pakai. Jadi mohon maaf jadi kayak kayak pemukiman kumuh gitu loh ya. Memang karena susah Mas untuk mandi pun kan susah gitu loh. Jadi kotor anak-anaknya gitu padahal cantik-cantik, ganteng-ganteng gitu loh. Jadi bikinbikin terenyu Mas kayak gitu. Tapi walaupun seperti itu ya alhamdulillahnya bantuan-bantuannya itu yang dari dikirimkan lewat direct donation itu alhamdulillah masih bisa terus berjalan sehingga paling tidak itu bisa memberikan mereka harapan hidup untuk bisa terus bertahan. Memang saya tahu donasi ini bukanlah solusi akhir. Solusi akhirnya apa? Ya, solusi akhirnya mungkin ee umat muslim sedunia bergabung ee join jadi satu terus kemudian ee melawan para penjajah ini kan kayak gitu. Tapi kan menunggu itu sampai terjadi itu mau kapan terjadinya ya kan. Mereka pun juga setiap harinya membutuhkan makan, minum ya kebutuhan-kebutuhan dasar manusia ya. Terus siapa yang mau memprovide itu gitu kan ya. Alhamdulillah dengan seperti ini ya mereka bisa terus bisa terus bertahan dan kondisinya di sana ya benar-benar apa ya Mas ee memprihatinkan memang kalau misal dia bilang memprihatinkan karena ya mau kerja juga dapat dari mana uangnya ya kan. Terus padahal uang-uang itu mereka butuhkan untuk beli bahan-bahan makanan pokok, bahan yang setiap hari mereka butuhkan kayak gitu. Dan bisa dibilang gini, Mas, donasi yang dikirimkan langsung ke sana, ditransfer di sana itu bisa dibilang kayak menggerakkan roda perekonomian mereka. Ee gitu. Itu salah satunya juga karena kan kita mengirimkan uang dari sana kemudian akhirnya roda perekomenan sana berputar berjalan lagi di tengah kehancuran seperti itu. Maksudnya yang jual tadi dikatakan kayak jual gandum, jual tepung itu juga orang gaza juga kan? Orang gaza juga. Tapi kan ya ini kurang ajarnya para penjajah itu ya. Mereka itu memasukkan barang bantuan itu memang di blokade. Tapi kalau barang dagangan tuh boleh masuk. Hm. He. Dan itu dengan harga yang sangat tinggi. Bahkan ada oknum-oknum yang memainkan logistik itu sehingga mereka menjualnya itu dengan harga tinggi di monopoli. Oh, dari yang memainkan juga anu ya, para penjajah itu ya. Para penjajah yang koordinasi juga dengan orang Gaza ada yang oknum juga, Mas. Oh. Yang mereka terus akhirnya memanfaatkan ini dan itu sudah dibahas di media-media itu bahwa itu ada oknum yang yang ee menjadi kaki tangannya penjajah. Hmm. Waduh. Selalu ada ya di mana? Selalu ada ya. Mau gimana, Mas? namanya dunia kan dunia itu pasti ada hitam dan putih. Nah, bahkan ee orang Gaza pun juga dengan keadaan yang seperti itu pun ya Mas itu tuh masih aja ada yang ngambil kesempatan dalam kesempitan gitu. Sedihnya itu. Iya. Iya. Itu belum kita ngomongin bayi-bayi yang baru lahir yang butuh susu, butuh popok yang kemudian kena penyakit-penyakit gatal, penyakit kulit dengan kondisi di bawah tenda yang kalau pas panas ya panas, pas dinginnya dingin banget gitu loh, Mas. Tapi kayak serangan udah enggak ada lagi kan? Masih, masih, Mas. Masih. Serangan itu random banget. Di mana aja itu kita enggak enggak bakalan tahu. Tapi di berita-berita sudah jarang sekali ya diangkat ya. Ee banyak, masih banyak. Kalau kalau kalau mungkin Mas Agung mungkin follow-follow apa ya istilahnya ee Instagram-Instagram yang ION, Palestine dan lain sebagainya itu tuh masih banyak. Banyak ya? Iya, masih banyak kayak gitu dan itu sangat random. Apalagi ee kayak pesawat-pesawat drone itu yang dari atas itu kan itu bisa nembak kapan aja dan di mana saja kayak gitu. Jadi ya setiap hari itu hidup dengan apa ya dengan teror yang mencekam dan mereka enggak tahu syahidnya kapan. Ini tadi dikasih tahu sama Brother Ahmed itu ee jurnalis yang saya kontak itu. Jurnalis itu bilang, "Saya akan terus membagikan makanan ini ke ee warga-warga Gaza di sini. sampai saya syahid kayak gitu. Masyaallah. Oh, saya nangis langsung baca itu. Ya Allah, maksudnya ee dalam hati ya kayak gitu ya Allah. Kayak gitu berarti menunggu syahid ya dengan berbuat amal kayak gitu. Karena ya bisa dibilang itulah apa ya hadiah terbaik yang Allah bisa kasih ke saudara-saudara kita di Gaza ini karena perjuangan mereka untuk mempertahankan tanah kelahiran mereka kan kayak gitu. Tanah yang diberkahi kan Baitul Maqdis. Masyaallah. Nah, ini terakhir, Mas. Ini tadi aku dibawain komik ini. Kita sudah di sesi-sesi akhir dari podcast ini. Ini komik apa ini, Mas? Komik Elang Hitam. Elang Hitam 1453. Ada tahunnya, Mas? Ee Elang Hitam 1453. Ini apa ini? Itu komik ee hasil kolaborasi Indonesia Creators Academy dengan Ustaz Felix Siao. Nah, gitu. Jadi alhamdulillahnya saya juga ee men-support ee pergerakan dakwah di Yuk Ngaji salah satunya juga sama Ustaz Felix SW untuk bikin komik ini gitu yang tim ilustrasinya itu dari ee Indonesia Creators Academy yang tadi ya, yang dari CSR tadi ya. Iya. Itu terus ee kalau cerita dan konsepnya dari Ustaz Felix. Beliau membuat ee ininya apa namanya? Ee naskahnya. Naskahnya ya. Bukan naskah sih, tapi konsep konsep naskah. Hm. Kemudian di apa namanya? Di breakdown sama tim yang di situ. Jadi akhirnya bikin storyboard. dari storyboard kemudian di inking ee terus kemudian di coloring di finishing dan alhamdulillah ini volume pertama Mas ini adalah menceritakan tentang prajurit-prajurit Janisari itu kan prajurit elit ee Turki dan ini masih ada prajurit yang lebih elit lagi di dalam Janisari itu. Itu namanya ee karakal atau di dalam bahasa Indonesia tuh alang hitam. Jadi dia kayak disposable ee armynya. Nah, jadi kalau misalkan dia itu ee sudah mati itu tidak diakui ibaratnya gitu. Kayak di Mission Impossible itu kan kayak gitu ya. Ee kayak gitu loh. Oh ada ya kayak gitu ya? Ada kayak gitu. Oh ini beneran itu beneran ceritanya beneran. Tapi kalau tokoh-tokoh di sini fiksi. Nah maksudnya yang kayak yang impossib mesin imposibil itu kan kalau mati tidak diakui. Iya kan? Nah kayak gitu itu beneran ada di elang hitam ini. Iya kayak gitu. Itu di Janisari apa ee pasukan elitnya Turki Utsman. Jangisari kan yang ee elit. Nah, di tengah-tengah elit itu ada elit lagi namanya Elangitan. Heeh. Terus ini dikemas ala Mangga e komik Jepang. Jadi dia nanti ada menceritakan sejak kecil ya kan. Terus habis itu ee mungkin terus dia mengalami ee pelatihan habis itu menjadi seorang prajurit terus menjadi ee peperangan akhirnya membebaskan ee Konstantinopel. Nah, gitu. Jadi timeline-nya itu di ee apa? Sultan Muhammad Alfatih. Oh, tapi ini kayak fiksi yang diambil dari sejarah. Diambil dari sejarah. Oh, berarti yang di fiksikan hanya nama-nama tokohnya. Iya, fictional historical. Jadi nama-nama tokoh dan ee ininya plotnya juga maksudnya cerita di naskahnya itu juga gitu gitu loh. I cuma ada beberapa kejadian yang apa ee kayak ini diambil dari kejadian nyata gitu ya. Iya, gitu. Terus kemudian ee kita bikin kayak jurus-jurus juga gitu. Jurus-jurus di mana itu kayak I jurus-jurus apa ya? Kalau misalkan kita ngomongin tokoh-tokoh Jepang itu komik-komik itu kan pasti punya jurus. Nah, di sini kita punya jurus juga. Jurusnya apa nih? Wah, itu bisa dicek situ, Mas. E, aku lihat belum ketemu ini jurus. Oh, ini ini ada. Nah, ini, Teman-teman. Masyaallah. Kelihatan gak ini ya jurusnya? Ya, benar ya. Iya. Sembilan pedang patah. Sembilan pedang patah. Khalid bin Walid. Apa ini? Jurus apa ini, Mas? Memang enggak ada jurus sembilan pedang patah itu diambil dari riwayat peperangan. Nah, jadi di suatu peperangan ee pedangnya Khalid bin Walid itu sampai patah il kali. Oh, tinggal tinggal pendek dong. Yo patah ganti. Patah ganti. Oh, patah ganti. Tapi patah-patah tinggal kater itu Mas itu patah ganti. Patah ganti. Nah, di sini dijadikan apa? Jurus. Oh, jurus sembilan patah. Heeh. Sembilan padang patah. Harapannya tu besok anak-anak itu yang baca ini itu jurus apa pedang patah dari Khalid bin Walid gitu-gituah Mas. Jadi kita menanamkan ee role model ee yang islami untuk anak-anak kita sehingga bisa apa ya bisa terbawa sampai besar seperti kayak kita Dragon Ball terus apa kungfu boy dan lain sebagainya gitu. Iya. Kalau kayak saya keingat jurus berarti kan anu itu Khah apa kamhah Khah ini diubah nih ya. Iya, kayak gitu. Tadi saya keingat itu. Ada ada jurus lain enggak, Mas, di sini? Banyak, Mas. Banyak, Mas. Heeh. Nanti kalau misalkan tertarik, nah bisa tuh, Mas. Oh, ini masih dijual? Masih dijual. Masih ya? Dan ini sudah mau launching volume duanya, Mas. Volume dua apa judulnya? Volume 2 itu ini kan berseri. Jadi kalau kita ngomong apa ee kayak mangga itu kan dia volumenya berseri juga kan. Ada kungfu boy itu kan atau Dragon Ball kan ada seri satu, seri 2, seri. Oh, ini ya satu ini ya. Iya. Nanti rencana harapannya ya, Mas insyaallah bisa sampai volume 30. Masyaallah. Itu itu kalau misalnya kita ngomongin ee jaraknya beberapa bulan untuk di launchingnya ya itu berarti bertahun-tahun nanti bakalan butuhnya. Dan ini untuk ee nonprofit juga Mas ya. Iya kayak gitu. Karena untuk yang di Indonesia kators Akadem ini kalau misalkan ada income yang masuk ya itu tuh nanti untuk menggerakkan dari timnya ini dan juga yayasannya yang tadi yayasan untuk sekolah tadi. Iya. Sebagiannya memang untuk nonprofit gitu. He. Berapa harganya, Mas? Ini di pasaran Rp10.000, ya. Nanti bisa diklik linknya di apa? Di marketplace ada. Ada di marketplace ada kayak gitu. Di Shopee ada. Oh, iya. Nanti saya cantumkan linknya di Shopee, Iya. Di fatha siap gitu, Mas. Alhamdulillah, Mas Aryo. Alhamdulillah sudah datang ke sini dan kita sudah bicara banyak hal. Alhamdulillah. Kalau next apa nih, Mas Aryo yang ingin Mas Aryo gapai lagi? kayaknya sudah dapat semua gitu. Astagfirullah. Apa yang ingin Mas Gapai lagi? Next ya, Mas ya. Next-nya tuh Allah istikamahkan aja Mas dan terus bisa membesarkan dampak kebermanfaatannya tuh makin luas dan meluas lagi gitu loh. Dan bisa dibilang sampai unlimited. Dan cita-cita terakhir ya, Mas. Cita-cita terakhir ya. Semoga ini Allah ijabah juga doanya gitu. Nanti bisa meninggal syahid di tanah suci. Masyaallah. Masyaallah. di Tanah Suci itu berarti di Mekah, Madinah. Mekah dan Madinah bukan di Gaza, Mas? Iya. Kalau Gaza bukan di Gazanya, tapi di ee Baitul Maqdis Baitul Maqdis ya. Di di Alaqsa Alaqsa. Jadi di antara tiga pilihan itu ya? Iya. Kan tiga tanah suci kan. Iya. Jadi meninggal di Makkah, di Madinah dan atau Aqsa. Atau Alaqsa. Masyaallah. Amin. Masyaallah. Kita doakan semoga. Tapi masih setelah panjang umur ya. Iya. Amin. Amin. Saya masih merasa sangat kurang, Mas, amal salehnya, pahalanya yang dikumpulkan. Jadi, harus terus ngumpulin terus untuk bekal kita nanti di akhirat, gitu. Kenapa Mas Aryo merasa kurang amal salehnya? Jadi, kan kadang-kadang kan ee satu amalan katakanlah ada juga yang pernah bilang satu amalan yang yang apa yang ikhlas atau yang baik itu mampu men adakalan adakan kalanya mampu menyelamatkan kita gitu. Iya. ya, kayak misalkan mending nguasain satu jurus tendangan daripada ee 100 jurus tapi enggak bisa nguasai secara master gitu kan. Itu ya memang Mas ee ada yang kayak gitu tapi kita kan enggak pernah tahu ya Mas. Maksudnya gini, pahala itu kan hanya wasilah di mana Allah menurunkan rahmatnya untuk menyelamatkan kita dari neraka gitu. Kita masuk di kita bisa dimasukkan ke surganya Allah itu kan karena rahmatnya Allah bukan karena pahala kita. Kalau kita ngomongin pahalanya sudah banyak, sudah cukup, terus merasa selamat, ah itu berarti malah jadi masalah itu. Iya kan? Kalau Ustaz Lukman kan bilang merasa saleh itu salah, merasa salah itu saleh, kan kayak gitu. Nah, kalau kita ngomongin amal saleh ya kita harus terus merasa kurang, Mas. Enggak akan pernah ada cukup, enggak akan pernah ada habisnya gitu. Karena ya itu tadi perjalanan nanti ke depan itu unlimited. Maksudnya ee kan selama-lamanya. Iya. Enggak. kita misal misalkan kata katakanlah mau ke Jakarta kita kan ngumpulin bekalnya kan pasti akan lebih banyak daripada kita ke ee Jogja misalkan atau kalau misalkan kita mau umrah ah gitu kita juga ngumpulin bekalnya lebih banyak daripada ke Jakarta lah. Kalau kita mau ke akhirat ee otomatis bekalnya unlimited dong e gitu loh Mas. Jadi ya kita enggak akan ngomong e sudah cukup pasti akan merasa kurang dan kurang dan kurang terus gitu loh Mas. Apalagi mengingat aib-aib kita di masa lalu dan sampai masa sekarang. Nah, gitu loh. Dan masa akan datang kita juga enggak tahu nanti aib-aibnya atau dosa-dosa kita seperti apa kayak gitu. Jadi, teruslah ini apa nasihat buat diri saya juga ya, Mas ya. Terusah terus merasa kurang gitu loh. Terutama kalau ngomongin amal saleh karena enggak akan pernah ada habisnya gitu. Karena nanti Allah akan pilih dari berbagai macam masalah yang kita lakukan itu bisa jadi Allah pilih yang mungkin kita enggak anggap itu tuh malah justru yang menyelamatkan kita di bisa masuk surga kan. Ee Mas Agung juga tahu kan e cerita yang apa yang populer di mana seorang pelajar itu memberikan minum seorang anjing i kan ter akhirnya dia diselamatkan dan mendapatkan rahmat dari Allah dan masuk ke surga ya kan. Iya. Eh gitu loh Mas kan karena kan itu kan katakanlah satu amal aja gitu. Itu makanya dan itu kan enggak kita enggak disangka-sangka oleh si pelajar itu kan kayak gitu loh. Nah bagaimana dengan kita juga gitu kan kita enggak bisa apa namanya menduga-duga mana yang menjadi amalan terbaik kita. Ngapain kita harus fokus ke satu kalau bisa kita bikin amalan banyak gitu loh. Apalagi pernah ada cerita di mana saat dia merasa sudah punya amalan atau pahala yang banyak terus kemudian sampai akhirat terus dia merasa bangga ini pahala saya ya Allah gitu loh. Ee saya bisa masuk ke apa surga kan kayak gitu misalkan gitu. Terus Allah tuh ya terus ee malah enggak bisa masuk dia. Karena apa? Karena dia membanggakan pahalanya. Itulah yang menjadi tiket masuk surganya. Padahal tiket masuk surga adalah rahmatnya Allah itu tadi. J merasa cukup justru malah salah ya. Merasa cukup itu merasa salah malah dengan banyak dengan cara memperbanyak amal kita memperbanyak opportunity gitu. Iya kayak gitu. Jadi istilahnya kalau kita ngomongin di mindset bisnis itu kan kita bisa buka pintu rezeki dari arah yang tidak sangka-sangka kan gitu loh. Kalau kita sudah menyangka-nyangka itu ternyata enggak lewat situ aman-eman toh gitu loh. Terima kasih Mas sudah datang ke sini. Semoga menjadi legesi Masaro dan juga legesi kita semua. Apa yang Mas Aryo lakukan amin semoga bisa menginspirasi penonton kita. Doa yang sama juga Mas Agung semoga video-video yang Mas Agung buat dari awal sampai sekarang itu mencetak orang-orang baik, orang-orang saleh yang terus kemudian terus bisa mendapat insight, motivasi dan lain sebagainya sehingga bisa jadi amal jariah buat Mas Agung juga dan tim ya. Insyaallah. Terima kasih teman-teman sudah nonton. Sampai jumpa di next episode. Terima kasih, Maso. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.