Transcript
_bXxoyP0M9M • Single Mom Lunasi Hutang Ratusan Juta dari Jualan Roti, Kini Pimpin 300 Karyawan!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0599__bXxoyP0M9M.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Rokes itu ternyata sudah menjadi top of mind di masyarakat Bandar Lampung hampir 99%. Itu riset itu di Lampung malahan. Alhamdulillah [Musik] saya bilang semua ke supplier-suplier Rockes itu, "Beri saya satu kesempatan. Boleh enggak saya disuplly bahan baku? Saya akan bayar dalam waktu 3 bulan. saya tidak punya uang. Kondisi kami kena froud. Nama baik saya saya pertaruhkan. Saya bilang, "Kalau saya pergi dari sini, masukkan saya ke penjara." Saya bilang gitu. Beliau tuh enggak jahat, Mas. Beliau tuh enggak jahat. Mungkin ujian aja. Karena beliau meninggal itu akhirnya malam jam 3.00 subuh saya datang ke rumah sakit. Terus akhirnya saya antar beliau ke pemakaman, ke kampung. Yang lebih sedih itu yang datang itu bukan malah orang-orang yang sayang sama dia, Mas. Tapi dep kolektor enggak ada yang sayang. Ya. [Musik] Untuk kita bisa menggapai Allah itu salah satunya adalah menggapai orang tua. Kan tangannya Allah itu kan tangannya orang tua. Orang tua saya bilang gini, "Yan, makasih banyak sudah mengangkat harkat derajat orang tua." Mimpi saya akhirnya, Mas tercapai. Mama yang dulu enggak dianggap apa-apa tinggal di atas saung ikan, sekarang ke mana-mana dicium tangan Mamah. Kata dia, "Mama dianggap orang terpandang kata dia." Masyaallah. [Musik] Halo, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan saya Dian Dwi Agustin. Saya founder sekaligus direktur PT Rokes Keren Abis, PT yang membawahi roti Rokes di Bandar Lampung. Terima kasih buat teman-teman yang hari ini sudah menyimak video pertama saya tentang sambal alu. Nah, yang sekarang kita akan simak tentang perjalanan yang kedua karena yang pertama panjang banget jadi dipisah menjadi dua video. Nah, yang sekarang perjalanan yang kedua gitu ya. Roti ini dulu awalnya namanya bukan rokes, tapi roti keset anget karena terinfluence dengan roti keset yang berada di Jakarta. Kita mau coba pakai positioning pengganti roti bakar fresh, hangat langsung diake away. Di kemudian hari kita rancang, terus kita buat penjualannya pakai reseller, kita fo atau kita boomkan hari itu juga dan ternyata viral. Konsep roti keset itu memang di Bandar Lampung baru kami yang buat. Padahal di Jawa roti keset itu udah banyak banget. Roti keset itu sebenarnya mirip kayak roti sisir, Mas. Roti sisir, roti sobek. Cuman karena orang Bandar Lampung enggak familiar dengan sebutan roti keset. Roti keset itu roti yang disobek. Karena pionir mungkin orang-orang jadi penasaran dan ternyata boom ramai. awalnya jadi 50 pisis target kami dan ternyata realitanya itu berkali-kali lipat. Masyaallah, Mas. Itu saya benar-benar di luar ekspektasi. 6 bulan kemudian penjualan mulai banyak berdatangan orang-orang beli sampai memenuhi tempat produksi kami. [Musik] Kenapa roti keset waktu itu viral? Di awal waktu mau opening saya undang waktu itu saya ingat betul 10 reseller. Yuk kita 10 orang ini kita promosikan dalam satu waktu semuanya saya kasih harga reseller tapi kita ini ya posting berbarengan di satu hari itu. Jadi 10 orang itu langsung posting berbarengan jreng. Terus yang kedua influencer saya undang tapi kami kirim produk. Jadi satu waktu itu bom beritanya langsung mencuat gitu loh Mas. sehingga orang itu jadi penasaran, udah lagi produknya langsung mencuat. Yang kedua namanya agak aneh kan, roti keset anget gitu. Jadi orang tuh kayak ini apaan gitu. Dan ternyata begitu dicicip rotinya memang enak, valid. Permasalahannya begitu berjalan sebenarnya roti itu anget, Mas. Karena kita memang begitu orang order kita fresh from the oven. Yang saya salah adalah krem yang ada di roti itu kan itu fresh from the freezer angetnya hilang. Jadi happy problem. Pesanannya banyak, komplainannya juga banyak. Kata siapa anget yang ada malah dingin dingin dingin dingin. Di situ saya mulai muter otak. Nah, dari situ akhirnya dirubah lagi, positioningnya beda lagi. Selain itu juga ketika kita daftarkan nama roti keset anget ditolak sama haki. Akhirnya ini tidak bisa diterima lagi karena roti keset sudah ada yang makai. Akhirnya putar otak lagi tuh roti kesetnya digabung, S-nya diganti Z. Jadi rokes. Karena sudah tidak ada kata-kata anget, aman sudah. Jadi alhamdulillah sampai hari ini malah justru sekarang positioningnya rokes itu orang-orang kadang-kadang kalau ngomong menikmati rokes tuh seperti memakan es krim. Kalau semakin ditaruh di kulkas semakin enak. seolah-olah kayak makan es krim. Jadi aman. Udah. Beberapa minggu kemarin kami riset brand health tracking gitu, BHT terkait dengan bagaimana sih sebenarnya rokes itu di mata masyarakat. Ya, ternyata rokes itu kenapa diterima sama masyarakat di Bandar Lampung? Itu satu, Rokes itu diterima karena itu kualitas produk memang. Jadi rasanya lembut terus topping melimpah itu ternyata direset itu dinyatakan seperti itu. Terus kualitas pelayanannya itu juga disampaikan top of mind ternyata Rokes itu ternyata sudah menjadi top of mind di masyarakat Bandar Lampung hampir 99%. Itu riset itu di Lampung malahan. Alhamdulillah. Terus sudah jadi rekomendasi banyak banget masyarakat di Bandara Lampung itu merekomendasikan prokes. Jadi tiga hal itulah Mas yang akhirnya membuat prokes itu diterima di Lampung. Mudah-mudahan hal itulah nanti yang membawa rokok juga diterima di Indonesia. Mudah-mudahan kami pakai konsultan. Jadi kami pakai pihak ketiga untuk mengambil beberapa sampel responden dari masyarakat di Lampung di beberapa daerah gitu. dia kumpulkan ada beberapa pertanyaan, sampel dan segala macam. Dari situ dapat hasil itu dari customer, noncustomer, dari beberapa daerah. Datanya ada satu bandel gitu. Apa yang kemudian membuat rok sebel alu, Ibu ini selalu kayak maju gitu? Up to date terhadap perkembangan zaman. Hari ini dunia mau apa kita ikuti apapun mau dari mindset, keinginan customer, media sosial, bahkan perkembangan teknologi kita ikuti terus melihat tren. Jadi kita itu sebagai founder, bisnis owner itu enggak bisa berdiam diri terus nyaman dengan kondisi yang sudah kita terima. Kita terus harus menerus belajar bertumbuh, berkoneksi dengan lingkungan, berkoneksi dengan banyak orang. itu harus sih. Terus diinformasikan ke tim. Tim pun juga harus diajarkan, dipaksa juga untuk ikut berlari. Karena kalau enggak kita ke disrupt, kita jadi punah kayak dinosaurus. Kita setiap 1 tahun dua kali kita selalu ada menu baru dan menu baru itu harus sesuai dengan customer. Kita uji cobakan ke customer. Suka suka kita keluarkan. Yang enggak suka atau yang penjualan sedikit kita eliminasi keluarkan lagi gitu. Pelayanan yang paling bagus di RCKES itu kita berusaha untuk mendekat dengan customer personal. Jadi kita bisa via WA. Jadi customer itu bisa pesan lewat jalur mana saja. WA kita bisa, mereka bisa pakai lewat merchan gitu. Terus kita juga lagi belajar untuk mereka lebih dekatlah, lebih intimate dengan customer gitu. Jadi sebut nama kalau ulang tahun ada berd trade gitu-gitu. Jadi lebih enggak kayak SOP lah ya. Memperlakukan customer tuh seperti keluarga. Jadi semua serba di luar ekspektasi. Tahun 2020 ada pandemi, Mas. Waktu itu pandemi kan semua lockdown. Otomatis rumah makanku yang sambal alu itu harus berhenti beroperasi sekitar kurang lebih 60% kegiatan d in ditutup tersisa 40% tinggal penjualan online. otomatis kita bisa apa dengan regulasi dari luar kan mau enggak mau banyak hal yang perlu diperbaiki karena banyak nganggurnya dan kebetulan saat itu sahabat saya mungkin masih ingat dengan teman saya ngasih saya rendang dan yang menampar saya saat saya dalam kondisi down yang menampar saya beliau itu dalam kondisi ekonominya jatuh persis kondisinya sama seperti saya waktu saya lagi jatuh jadi beliau ekonominya jatuh rumah tangganya nya juga jatuh persis sama ceritanya. Tapi beliau jauh lebih tidak beruntung ditinggalkan dengan posisi hutang 3 miliar. Ee kalau saya masih miliar, Mas. Beliau dengan posisi 3 miliar. Beruntungnya beliau tidak dengan membawa anak. Nah, dalam kondisi seperti itu saya bilang ke beliau, "Ya sudahlah." Waktu itu beliau berada di Lampung Timur. Saya bilang, "Ayo, Mak, balik aja ke karang, ke kota. Yuk, kita bikin bisnis. Toh juga lockdown kayak gini mau apa gitu." Terus dari situ karena beliau balik lagi ke karang, kita bikinlah roti karena beliau basicnya bikin toko roti. Memang punya toko roti gitu. Nah, saya juga punya basic pizza tadi itu kan Mas yang 350 cabang itu kita combine lah resep kita satu sama lain. Beliau punya basic roti, saya punya basic pizza. Jadi terciptalah rokes sampai pada hari ini. Nah, awalnya saya buat rokes itu saya atur sedemikian rupa. Itu niatnya cuman laku satu dua biji untuk delivery online aja. Kita buka di rumah, di rumah saya waktu itu beliau tak suruh tinggal di rumah saya. Udahlah, Mak. Yang penting kamu bisa makan, kamu bisa survive hidup gitu ya. Nanti hutangnya kita bayar pelan-pelan gitu. Yang penting kamu jangan sampai jauh dari kota gitu. Jangan sampai jauh dari saya. Bagaimanapun juga saya tuh ada rasa berterima kasih, Mas. Ketika saya jatuh, beliau hadir di dalam hidup saya. Nah, ketika beliau jatuh, saya merasa perlu untuk berterima kasih dan membalas budi. Akhirnya terciptalah roti ini. [Musik] Jadi, sebelum saya sudah mulai launching, saya dengan sahabat saya itu 6 bulan bikin produk trial, saya serahkan ke 200 responden, nilainya 6. Balik lagi bikin produk lagi. 200 responden lagi nilainya 7. balik lagi diperbaiki sampai mereka benar-benar menilai 9 baru kita oke layak jual. Jadi kalau enggak salah 6 bulan kami benar-benar menterial, menguji dan akhirnya mendapatkan produk yang benar-benar valid. Tapi beda halnya kalau di Sambal alu waktu itu kan dimulai dengan minus ya, Mas. Di rokes ini masih ada lah enggak minus-minus amat ya, minimal satu masih ada modalnya sedikit gitu. Berarti kalau enggak punya modal itu gimana, Bu? Caranya ya? Jadi enggak harus satu waktu. dicicil aja satu hari satu yang digratisin sampai kira-kira 200 responden gitu. Itu cara saya ya, Mas. Mungkin kalau ada teman-teman yang jauh lebih punya ilmu bisa pakai cara yang lain gitu sih. Buat saya uji ngangenin itu adalah cara tercepat untuk kita memotong kerugian daripada bisnis yang begitu buka tutup. Kan banyak ya teman-teman itu kadang-kadang belum diuji ngangenin sudah percaya diri dengan lidahnya. Begitu buka ternyata tutup. Kenapa? Karena produk itu belum valid di lidahnya customer. Jadi ketika kita jualan produk terutama FnB itu jangan pernah percaya dengan lidah kita. Follow your customer. Percaya lidahnya customer. Mau kayak apa kalau customermu bilang enggak enak ya pasti enggak enak. Kalau customer bilang enak mau kamu bilang enggak enak ya pasti itu enak gitu. Jadi cuman satu sih FNB itu follow your customer. Jadi sesuai penilaian customer. Nah, masih di rumah di mana bekas pabriknya Sambal alu yang saya tempati di situ. Saya satu kamar berempat kita ya berendeng-rendeng kayak ikan pindang tidurnya bareng-bareng gitu. Itu merintis sambal alu sudah cabang kedua apa ketiga gitu. Kita itu kadang-kadang mengundang orang-orang yang sefrekuensi sama kita kayaknya ya. Saya juga enggak tahu kenapa ya kok jadi mirip ya ceritanya. Tapi saya termasuk lebih beruntung ya. Saya lebih beruntung karena saya bertemu dengan orang-orang yang bisa men-support saya. Sementara beliau itu hanya bertemu dengan saya. Sementara kalau saya ketemu dengan kakak, ketemu dengan partner, ada anak gitu ya. Beliau tidak ada anak, tidak ada kakak, orang tua jauh gitu, jauh lebih tidak beruntung, hutangnya jauh lebih banyak. Saya enggak tahu kalau tentang kenapa ya kok sama itu. Saya juga enggak tahu. Qadarullah kayaknya ya, Mas. mungkin cara Allah supaya kita saling menguatkan ya mungkin ya gitu. Saya flashback lagi ya sebelum menuju outlet pertamanya Rokes ini juga agak sedih sih ceritanya. Jadi setelah 6 bulan Rokes berdiri di rumah itu Mas rame sampai pada akhirnya saya itu diusir sama tetangga karena apa? Parkiran rumah tetangga itu ditutup sama mobil-mobil orang yang mau beli. Akhirnya digeruduk satu RT kami itu untuk disuruh langsung harus pergi dari situ. Terus saya hanya meminta untuk kasih kami waktu supaya kami bisa pindah. Qadarullahnya, Mas. Berhubungan dengan itu juga ketemulah permasalahan di perusahaan itu kan saya bilang kan kalau ini perusahaan saya buat untuk membantu beliau. Beliau di operasional membuat roti, saya di bagian finance, SDM, sama marketing. Beliau fokus di operasional. Saya di modal dan semuanya. Intinya adalah pokoknya, "Mak, kamu fokus di situ. Bikin roti, hutang kita bayar nanti setelah kita bagi dividen." Beliau dapat gaji, Mas. Aku sama sekali enggak. Karena aku niatnya memang bantu. Kayaknya ini memang cara Allah menguji kami. Setelah itu ketahuan saya tuh merasa gini, saya bangun Sambal alu itu bukan dari nol, tapi dari minus. Tapi kenapa sambil alu justru lebih banyak duitnya dibanding rokes? Ada apa ini? Ada yang salah. Saya mulai cek pembukuan dari awal sampai akhir. Saya mulai cek gudang dan segala macam. Qadarullahnya ternyata kejadian ketahuan bahwa ada fraud yang bikin saya syok. Fraud itu disebabkan oleh sahabat saya. Beliau akhirnya mengaku bahwa memang beliau yang melakukan gitu. kurang lebih 250 juta fraud itu terjadi. [Musik] Saya di dua sisi waktu itu jadi pimpinan atau jadi teman. Tapi semua karyawan saya tahu itu. Jadi hanya saya yang enggak tahu. Ini mempertaruhkan saya sebagai seorang pimpinan kan. Walaupun saya di situ tidak digaji, tapi kan saya di situ ada kuasa juga gitu. ini kalau saya teruskan kredibilitas saya dipertaruhkan. Tapi kalau tidak saya teruskan ini bagaimana nanti gitu. Pada akhirnya saya sudah berunding dengan semuanya. Saya minta untuk beliau mengembalikan duit itu. Tapi ternyata beliau tidak bisa mengembalikan. Saya pikir duitnya entah bisa berupa tanah atau berupa apa gitu kan. Duitnya sebanyak itu ya, Mas. Tapi ternyata tidak berupa apa-apa dan enggak ada duitnya. Dengan berat hati saya bilang, "Ya sudahlah kalau gitu uang itu buy back sahamnya perusahaan. Mau enggak mau kamu harus keluar dari perusahaan karena kamu enggak bisa mengembalikan gitu. Dia harus kembali ke perusahaan juga sudah enggak bisa kan. Sudah fraud itu sudah enggak bisa jadi contoh yang baik kan untuk perusahaan gitu, Mas. Mau enggak mau itu keputusan terberat dalam hidup saya. Woh, saya sempat syok itu, Mas. saya sampai harus diinfus di rumah gitu karena saya merasa saya seperti terlukai lagi, terkhianati lagi gitu. Tapi bedanya kalau dulu dengan pasangan yang hari ini dengan sahabat gitu. Down itu Mas semua kehidupan saya juga mulai redup lagi itu. Tapi saya sadari bahwa kayaknya tetap bagaimanapun juga hidup harus berjalan. Saya bilang sama tim saya mau tutup rokes. Saya bilang, "Ngapain saya pertahankan?" "Toh rokes ini saya buat bukan buat saya sebenarnya kan memang buat beliau. Tapi ternyata toh beliau juga enggak bisa amanah gitu. Tapi semua tim yang ada di Rokes waktu itu meminta untuk saya memperjuangkan. Ayolah Bu, teruskan gitu. Kami akan berjuang karena anak-anak itulah Mas akhirnya benar ya. Yuk kita berjuang karena duit enggak ada. Sudah diusir itu kan Mas. Jadi apa yang harus kul lakukan gitu. Mau enggak mau ya sudah aku perjuangkan. Akhirnya aku perjuangkan, Mas, berpindahlah rokes dari tempat yang diusir itu ke ruko yang pertama itu. Itu pun tanpa duit sama sekali, hanya satu hal, nama baik. Saya bilang semua ke supplier-suplier Rckes itu, "Beri saya satu kesempatan. Boleh enggak saya disuplly bahan baku? Saya akan bayar dalam waktu 3 bulan. Saya tidak punya uang, kondisi kami kena frout, nama baik saya saya pertaruhkan." Saya bilang, "Kalau saya pergi dari sini, masukkan saya ke penjara." Saya bilang gitu, "Oke, siap. Alhamdulillah mereka mau minjamin bahan bakunya dulu gitu, Mas." Dan 3 bulan setelah kami dipinjamin bahan baku, alhamdulillah kami bisa mengembalikan keadaan. Enggak hanya bisa mengembalikan bahan baku yang mereka pinjamin, kami juga 1 tahun setelah itu kita buka cabang yang kedua. Alhamdulillah. Yang jelas efisiensi di semua lini ya, Mas. Bahan baku di efisiensi. Waktu itu aku puasa. Sebagai seorang founder, kita punya hak untuk dapat dividen. Tapi selama 1 tahun itu ngempet untuk tidak minta bagi hasil atau dividen. Terus yang ketiga, profit dimaksimalkan, semua biaya ditekan. Untuk apa? Maksimal cash-nya. Nah, karena maksimal cash-nya profitnya bisa digulung sehingga itu bisa untuk mengembalikan hutang-hutang supplier dan punya sisa untuk bisa buka cabang. Lebih ke pengaturan cash flow. kita benar-benar jeli terhadap laporan keuangan serta paham efisiensinya di mana-mana. sama ini, Mas. Yang teman-teman kadang enggak pahami bahwa menjaga cash itu kadang-kadang teman-teman tuh hanya melihat dari depan revenue atau dari kasir dari segi penjualan. Tapi mereka enggak sadar bahwa ada yang juga lebih penting yaitu di belakang alias bahan baku. Mereka hanya menjaga depan nih penjualan, tapi mereka enggak menjaga stok atau bahan bakunya. Yang biasanya banyak jebol itu justru di bahan baku. Duitnya kencang masuknya bahan bakunya jebol sama aja. Nah, di situ mungkin yang aku bisa ngomong, jaga penjualanmu banyak, tapi bahan baku belakang juga harus kamu jaga. Itulah kenapa rockes tuh punya pilar di masing-masing outlet tuh bahkan gudang sendiri itu untuk menjaga bahan baku supaya apa? Masuknya kencang, keluarnya bagus gitu. Jadi enggak ada yang bocor. Jadi kami di setiap outlet tuh punya pondasi. Satu, kepala outletnya ya sudah jelas memimpin outlet. Yang kedua, admin. admin itu membantu menjaga revenue, menjaga omset. Yang terakhir menjaga gawang belakang, yaitu bagian gudang. Gudang itu yang menjaga stok, menjaga bahan baku gitu ya. Cross check, ngitungin stok, lihat penggunaan anak-anak sekedar mohon maaf plastik aja kita hitung, penggunaan bahan baku kemasan aja kita cek, keju aja kita lihat ya kayak gitu. [Musik] Tetapi 6 bulan setelah kami buka cabang yang pertama, pindah dari lokasi yang dari rumah itu, Mas, ke ruko yang pertama, sahabat saya meninggal. Itu kehilangan terbesar juga dalam hidup saya. Saya merasa kayak kalau saya tahu Allah mau ambil nyawanya, tahu gitu ngapain aku harus berantem gitu, Mas. tahu gitu dari dia udah di situ aja gitu beliau meninggal tapi beruntungnya pas beliau meninggal kami tidak dalam kondisi berantem gitu maksudnya masih sudah baik gitu walau aku sudah sudah memaafkan cuman belum bertemu bertatap muka gitu Mas pertama kali bertatap muka setelah kami berantem 6 bulan beliau terbujur kaku Gua di rumah sakit. [Musik] Beliau tuh enggak jahat, Mas. Beliau tuh enggak jahat. Mungkin ujian aja. Karena beliau meninggal itu akhirnya malam jam 3.00 subuh saya datang ke rumah sakit. Terus akhirnya saya antar beliau ke pemakaman ke kampung. Yang lebih sedih itu yang datang itu bukan malah orang-orang yang sayang sama dia, Mas. Tapi depollektor enggak ada yang sayang. Ya, semuanya nagih duit. Mau nagih siapa? Bapaknya juga enggak punya duit. Bapaknya tuh tukang dorong roti, Mas. Akhirnya mau enggak mau saya hadapin semua yang nagih itu. Saya bilang, "Saya yang akan bayar hutang-hutangnya beliau." Saya bilang, "Total berapa lagi hutang yang harus dibayar?" saya gitu R00 juta. Alhamdulillah hutang-hutang itu lunas setengah tahun terakhir kemarin. Buat aku rasa terima kasihku sampai pada hari ini hanya itu yang bisa kulakukan untuk sahabat saya. Ngurusin bapaknya sampai hari ini, ngurusin adiknya sampai hari ini. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk almarhum. Jadi kalau lihat rokokes itu kenangannya banyak, Mas. Beliau juga yang bantu saya nemenin saya kok. Tapi Allah kasih cerita hidup kayak gini. Terus tapi kenapa Allah juga kasih beliau meninggal gitu? Kadang tuh mikir kenapa sih kenapa saya terus yang ditinggalin gitu. Mau sambel lalu mau rokok Mas. Ya kalau kayak kata Allah mungkin hanya aku yang bisa Allah kasih pundakku yang lebih kuat. Kan harusnya ibu sayanglah sama dia. Disuruh pergi sayang ya. Biar contoh yang benar. Enggak mungkin perusahaan itu membiarkan kesalahan terus-menerus ada di situ. Saya pimpinan Mas harus menjalankan yang benar. Juga mengorbankan perasaan ya sebenarnya. Jadi yang bikin beliau fraud itu Mas karena beliau terjebak dengan asmara yang kurang baik sih itu penyebabnya. Akhirnya dia enggak sadar akhirnya menggunakan uang dengan tidak bijak gitu loh. Dan dia enggak sadar bahwa yang dia pakai itu di true usahaan. Dan itu secara hukum, secara perusahaan enggak boleh kan, kecuali itu duit perusahaan dia sendiri gitu loh, Mas. Itu aman dia mau ngapa-ngapain aja kan. Nah, sementara saya sebagai pimpinan dan itu sudah terbuka di semua tim tahu semua bisa apa kalau enggak harus melakukan sesuatu yang tegas. Kan Mas itu kemarin itu pilihannya cuman dua, kamu yang pergi atau aku yang pergi. Karena kalau dia enggak pergi, aku yang harus pergi. Karena itu kredibilitasku sebagai pimpinan. Aku enggak bisa, Mas. Tapi kasus itu sudah selesai. kami sudah berbaikan, terus beliau sudah bikin usaha sendiri. Beliau akhirnya menikah, alhamdulillah gitu. Pas beliau menikah juga saya apa support gitu. Memang pas sakit itu sepertinya gula darahnya tinggi. Berarti akhirnya rokkos menjadi pemilikan ibu sebelumnya. Mau enggak mau akhirnya jadi kepemilikan saya 100% gitu. Waktu itu pas mau tak tutup kondisi emosi kan, Mas, duit enggak punya. Ngapain gua mesti memperjuangkan perusahaan yang enggak ada duitnya? gitu. Tapi waktu itu anak-anak rokes nangis semua. Jangan sih, Bu. Jangan Bu, ayo Bu berjuang. Mau ngapain aku perjuangkan? Aku sudah tersakiti gitu. Waktu itu sudah ada berapa tim yang terlibat di? 30 lah. Satu cabang lah. Itulah ya mau dipaksa kayak apa tuh perempuan tu sebenarnya enggak bisa mimpin Mas. Perempuan kan tetap punya fitrah bengkok ya. Dilurusin kayak apa itu tetap akan bengkok. Dipaksa patahkan. Tapi di balik kelemahannya dia yang selalu pakai perasaan bengkoknya itu, itu kalau aku justru dijadikan kekuatan. Maka kenapa? Kalau sloganku atau prinsipku itu mimpinnya itu bukan lagi dengan logika tapi pakai hati gitu. Justru sumber kekuatan terbesar seorang pemimpin perempuan itu mimpinnya itu pakai hati. Sesekali kita belajar dengan laki-laki enggak ada pilihan. Kalau kayak saya ini sudah enggak ada pilihan, Mas. belum ada nih kader yang bisa menggantikan saya. Enggak mungkin dong aku fokus dengan kendala. Kan enggak mungkin saya tinggalkan nih posisi dan jabatan ini. Jadi mau enggak mau ya saya harus belajar menerima kondisi berdamai. Ya udah adanya ini jabatan saya harus belajar. Oke apa yang harus k lakukan? Belajarlah melogika seperti seorang laki-laki memimpin. Walaupun mungkin enggak maksimal, minimal kamu belajar. Terus kedua, jadikan kelemahanmu itu jadi kekuatan. Kamu kan selalu dikit-dikit pakai hati. Justru ketika pakai hati, jadikanlah itu kekuatanmu. Merangkul, mengayomi. Nah, itu kekuatan yang bisa dipakai untuk jadi leader di sebuah perusahaan kalau kita jadi perempuan. Tapi tetap kita harus punya kanan kiri adalah seorang laki-laki yang punya rasional lebih tinggi. Terus yang ketiga, sistem dan angka, Mas. Jadi, enggak bisa mimpin perusahaan terutama perempuan enggak dibantu oleh number. enggak dibantu oleh angka. Angka di sini apa? Data. Kita itu enggak mungkin memutuskan pengambilan sesuatu di perusahaan pakai like or dislike. Terutama perasaan. Harus pakai data. Contoh mau ngekut karyawan gitu ya, Mas. Kita sudah enggak bisa lagi pakai perasaan. Gua enggak suka sama dia. Kenapa? Enggak tahu. Enggak suka aja. Karena dia gondrong, karena dia tatoan, enggak bisa lagi kayak gitu. Tapi karena pakai data. Oh, QPI-nya kurang, oh, absensinya dia kurang, oh, attitude-nya kurang. Jadi menurut aku ketika perempuan mimpin boleh enggak apa-apa tapi kamu harus tahu kamu punya kekurangan. Bantu kekuranganmu dengan kekuatan berupa hati yang kamu bisa kuatkan. Kedua, dengan data. [Musik] Contohnya adalah aku itu tidak fokus sama hasil, tapi sama proses. Saya tidak peduli mereka hasilnya 10, 11, 12, tapi aku tuh peduli dengan bagaimana kamu berproses. L kayaknya kita ke anak-anak kita aja. Mama enggak peduli, Nak. kamu nilaimu 10, 20, 30, 100 sekalipun, tapi mama tahu kamu berproses. Nah, itu yang selalu sampai hari ini saya terapkan ke mereka. Enggak tahu gitu enggak? Jadi mungkin dari situlah akhirnya mereka merasa dimanusiakan, mereka merasa dihargai. Walaupun kadang ya gedek, Mas gini, tidak melihat sebuah kesalahan itu menjadi satu-satunya final bahwa kamu buruk gitu. Tapi balik lagi walaupun aku ini perempuan baliknya ke data tiga kali kamu terus-menerus gitu ya udah pasti kriminal kalau di mereka sudah kriminal apalagi guys attitude udah enggak bisa skill performance itu aku lebih oke. Etika, kriminal, itu udah sudah enggak bisa di ini sih. Telat itu etika tapi kami ada batas. Kami selama 3 bulan kalau masih begitu kita SP3. Ada potongan sih memang, tapi habis itu SP3. Itu kalau aku tidak pakai data, pakai perasaan aja berantakan perusahaanku. Jadi memang terus terang memulai ini aku investasi leher ke atasnya memang lumayan sih, Mas. Tipikalku tuh healingnya memang belajar. Kalau udah agak mumet gitu pasti aku minta workshop. Nah, pulang workshop itu udah kempi-kempiar gitu. Nanti kalau sudah kempiar-kempiar gitu kepalanya terus kita ngobrol tuh sama tim, nah mulai dieksekusi gitu. Atas dasar apa buka cabang yang kedua? Jadi sebenarnya gini, Mas. Prinsipnya kalau aku secara pribadi ya, buka cabang itu tuh bukan atas dasar aku secara pribadi. Kalau aku secara pribadi buka cabang kalau pengin untuk kepentinganku pribadi itu sebenarnya aku sudah malas buka cabang. Karena prinsip buka cabang itu buka masalah kan. Enggak ada yang namanya buka cabang itu jadinya banyak duit itu enggak. Yang selalu 100% terjadi. Buka cabang pasti buka masalah. Belum tentu buka cabang itu dapat tambahan duit tu belum tentu. Malah yang ada buka cabang dapat masalah belum tentu untung kan. Tapi kenapa itu K lakukan? Karena kalau untuk aku pribadi satu cabang aja sudah cukup. Kita itu makan satu piring ikan asin aja sudah kenyang ya Mas. Tapi balik lagi anak-anak ini perlu jenjang karir. Jenjang karir ini hanya terjadi kalau ada pengembangan perusahaan. Pengembangan perusahaan mau enggak mau hanya terjadi ketika ada pengembangan horizontal dan vertikal. Vertikal okelah. perusahaan bertumbuh dalamnya omsetnya bertambah satu cabang. Kalau horizontal harus ada dua cabang, tiga cabang, empat cabang, lima cabang. Mau enggak mau ya? Karena anak-anak harus bertumbuh, mereka harus punya jenjang karir seperti itu. Bahwa hari ini rokes, sambal alu itu hanya sebagai kendaraan untuk kita nanti di akhirat. Penginku jadi kendaraan untuk pahala nih, kebermanfaatan. Dari situ akhirnya harus diluaskan supaya apa? Bekalnya banyak. ketika nanti di akhirat mudah-mudahan aku naiknya Pajero bukan jalan kaki. Karena apa? Karena setiap perjalanannya ternyata ada ibadahnya. Niatnya besar, niatnya luas. Saya itu sampai hari ini tuh sedang berikhtiar membuat perusahaan saya itu ke spiritual company. Jadi mulai dari salat mereka kita masukkan ke dalam QPI. Jadi salat aja di absen, Mas. Di perusahaan kami itu ada absennya, terus mereka diajarin ngaji, tahsin ada, ada kajiannya. Dalam masa kerja tertentu mereka diajak umrah. Banyak sih ikhtiar kami, kami lakukan. Terus juga biasanya di beberapa training kami kasih mereka spiritual training. Kita ajak mereka itu untuk back kembali. kamu itu bekerja niatnya itu apa? Peranmu di dunia ini itu bukan hanya untuk makan, tidur, kerja, terus habis itu makan, tidur lagi. Tapi kamu tuh punya peran di dunia ini walaupun kamu sebagai pekerja. Peranmu apa? Hari ini yang terbaik. Jadi balik lagi diniatkan bahwa peranmu hari ini adalah ibadahmu yang hari ini. Sehingga mereka itu lahir sebagai pribadi yang utuh menjadi karyawan yang bahagia, berkarir surga. seperti itu niatnya sehingga nanti di akhirat nanti minimal aku sudah bisa ngomonglah sama Allah mau diterima sama Allah gimana nanti terserah Allah lah gitu. di Susilo ada di angka 4,28. Kar saya itu ada ya nih bekas mohon maaf narkoba juga pernah bekas tukang tawur juga ada. Itu sangat membahagiakan saya ketika mereka ngomong, "Saya baru di Sambal alu di Rokes saya ini bisa ngaji. Saya di Sambal alu di Rokes inilah yang saya bisa salat." Itu enggak terhitung bahagianya, Mas. Yang bikin lebih bahagia lagi tuh, "Bu, makasih ya saya bisa punya rumah." Apalagi kalau kemarin Mas pas saya temenin umrah ya Mas. Mereka enggak pernah membayangkan bisa hadir di depan Ka'bah. Itu enggak semua orang, Mas. Itu kebahagiaan yang enggak bisa dinilai dengan omset berapapun. Jadi buat saya itu nagih. Saya akan kejar itu terus-menerus gitu. Mau teman-teman karyawan itu suka atau enggak, tapi mimpi itu akan terus saya kejar gitu karena kebahagiaan itu nagih banget. Bu, terima kasih ya. Aku udah bisa bikin rumah, Bu. Terima kasih. Bisa beli motor, Bu. Terima kasih. Itu priceless, Mas. Apalagi, Bu. Makasih ya. Aku udah bisa ngaji. Ah, jadi sederhana, kesederhanaan dan merasa cukup itu sudah jadi kehidupan saya gitu. Mau kayak apa Allah kasih karunia dalam hidup saya itu, saya tuh selalu punya tombol cukup gitu. selalu punya batas untuk oke oke come down come down udah cukup gitu. Enggak ada dalam kehidupan saya itu mudah-mudahan ya itu untuk terus-menerus ingin menikmati itu sampai berlebihan. Karena buat saya tuh kayak rasanya itu sama aja. Mau level A B C D itu sama. Enggak mendatangkan arti kebahagiaan yang saya punya. Ini cerita waktu saya kemarin umrah Mas. pertama kali umrah saya pakai semua fasilitas first class dan Allah itu justru kasih saya renungan di depan Ka'bah itu tiba-tiba saya pengin makan pop harusnya saya dapat fasilitas first class. Makanannya itu di lantai 29 views Ka'bah. W enak-enak semuanya ketemu artis-artis. 1 hari 2 hari 3 hari oke saya makan di situ. Tiba-tiba di hari keempat saya pengin makan pop. Nafsu makan saya untuk makan yang enak-enak itu hilang. Terus saya makan pokm di depan kamar dan saya menangis. Mas, tahu enggak apa yang Allah kasihkan dalam hidup hati saya tuh? Ya Allah, ternyata untuk membuat saya bahagia itu tuh bukan karena depan Ka'bah, bukan karena fasilitas pesawat mewah, bukan karena kamar yang mewah. Makan Pop Mie aja itu sudah enak. Kenapa? Hatinya tenang. Lalu buat apa kita perlu brand merek yang mewah? fasilitas fas kalau kita enggak dalam kondisi tenang. Dari situ saya merasa ternyata kekayaan itu enggak membawa kebahagiaan kalau kita tidak dalam kondisi tenang dan connection sama yang di atas. [Musik] Jadi, uang itu pada akhirnya tidak mengendalikan saya ketika kita tahu tombol cukupnya ada di mana. Ya sudah, makanya sekarang mobil saya cukup Brio, rumah saya biasa saja. gitu walaupun ya kita bisa kok beli yang lebih gitu. Jadi sederhana itu bukan keadaan. Sederhana itu pilihan. Itu juga akhirnya Mas membawa ke dalam lifestyle keuangan perusahaan karena mungkin bisnis ownernya tidak nafsu kalau ngelihat duit sehingga ya adem aja perusahaannya. menggulung profitnya itu lebih baik gitu loh. Buat kayak saya ini kan tidak ada jalur surga saya karena tidak ada pasangan. Mau enggak mau kan ke orang tua ya. Jadi satu-satunya cara untuk kita bisa menggapai Allah itu salah satunya adalah menggapai orang tua. Kan tangannya Allah itu kan tangannya orang tua. Sami nawatna dengan orang tua. Apapun yang orang tua minta siap gitu. Kadang-kadang Yan mau A ya sudah enggak ada bayangan bisa aja disiapkan dulu gitu. Terakhir kemarin orang tua saya bilang yang di sini enggak ada masjid kata dia gitu kode maksudnya suruh dibuatkan masjid Allah kasih izin bisa buat masjid di kampung. Terakhir kemarin kami berempat berangkat haji. Kan itu juga pricis buat saya Mas. Orang tua saya bilang gini Yan makasih banyak sudah mengangkat harkat derajat orang tua. Mimpi saya akhirnya Mas tercapai. Mama yang dulu enggak dianggap apa-apa tinggal di atas saung ikan, sekarang ke mana-mana dicium tangan mama. Kata dia. Mama dianggap orang terpandang kata dia. Masyaallah. Nah, Rock saat ini ada berapa cabang dan berapa people di sini? Empat menuju lima. Karyawannya ya 150-an. Dua perusahaan ya 300-an. Itu tadi yang jelas. Rokes kan kita ingin nasional, kita akan menuju kota-kota penyangga. Jadi mungkin nanti kita akan penuhi Sumatera ke atas, buka cabang di situ sih, Mas. Bismillah sih, karena memang rokes itu positioning-nya kan bukan di oleh-oleh ya, tapi di buah tangan. Kalau oleh-oleh kan identik dengan daerah khasnya kan, tapi kalau buah tangan itu kan lebih umum gitu. Jadi kami pengin rokes itu jadi buah tangan walaupun di mana pun rokes berada. Hanya memang nanti kita pengin ada signature-nya, signature menu di daerah tersebut. Contoh kalau di Lampung misalkan ada banana gitu ya. Jadi signature menunya ada banana. Nanti mungkin di Medan atau mungkin di Palembang apa gitu. Buah tangan itu kan seperti kayak bebawaan konteksnya. Kadang-kadang orang-orang tuh mikir sebenarnya oleh-oleh pun sama tapi orang-orang tuh konteks oleh-oleh itu lebih ke mengerucut ke ciri khas daerah. Oleh-oleh khas mana gitu kan. Tapi kalau buah tangan tuh lebih general. Saya bilang, "Kenapa rokes itu buah tangan istimewa? Rokes itu bisa dibawa dari mertua untuk menantu, menantu untuk mertua, anaknya, ibu untuk anaknya gitu, calon menantu untuk calon mertua gitu. Jadi lebih general. Jadi ketika rokes di mana saja dia tanpa dikotakkan dengan ciri khas daerah itu. Yang jelas pasti mimpi saya ya, Mas. Saya pengin punya holding sih. Jadi mau sambal lalu Moroke saya jadikan satu sebagai satu kesatuan di satu holding. Jadi nantinya membesarnya itu satu holding ini jadi punya satu ekosistem. Holding di Jakarta membentuk hal yang sama, bikin ekosistem yang sama. punya sambal alu, punya rokes, mini pesantrennya sama, umrohnya sama, kita juga punya komunitas yang sama, kebermanfaatannya sama sehingga yang dirasakan masyarakat Lampung pun dirasakan masyarakat di Jakarta, di Palembang, di Medan. Insyaallah wasilah dua brand ini. Penginnya sih begitu. Saya pengin semua masyarakat di Indonesia merasakan manfaatnya sambal lalu dan rokes. Tidak hanya tentang produk, tapi lebih daripada itu. Ada nilai dan kebermanfaatannya. Oke, terima kasih banyak sudah menyimak perjalanan dua brand saya gitu. Terima kasih banyak atas waktunya. Semoga memberikan insight, memberikan hikmah dan kebermanfaatan untuk semua yang melihat dan mendengar. Mudah-mudahan jadi kebaikan untuk semuanya. Terima kasih. Wabillahi taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. [Musik]