Transcript
h08fDX82YkU • Sepele Tapi Satu Kesalahan Ini Bisa Bikin Bisnismu Rugi Besar
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0600_h08fDX82YkU.txt
Kind: captions
Language: id
Kalau kita punya bisnis apapun itu,
service itu kan nomor satu.
Heeh. Heeh.
Handling complain juga dan bagaimana
kita recovery-nya setelah kejadian.
H.
Yang saya amati, saya menyayangkan hotel
tersebut recovery-nya lama, Mas.
H.
Harusnya kalau ee hotel tersebut membaca
recovery yang cepat, saya harusnya
diundang
atau saya dilibatkan untuk recovery.
Heeh. He
kan begitu. Ini bukan saya mengharapkan
bukan ya. Tapi ini konteks recovery ya.
Karena saya sudut pandang pebisnis dan
juga consulting ya. Heh.
Heeh. Heeh.
Gara-gara salah kata jadi malapetaka.
Malapetaka. Rilate. Ada yang tadi.
Relate
kayak yang hotel tadi.
Benar. Gara-gara salah kata sampai
dijarah.
Iya.
Sampai demo.
Ini kan kata-kata yang munculnya enggak
nyampai semenit tapi efeknya luar biasa.
Kenapa orang banyak salah kata? Biasanya
dia terlalu emosional,
tidak dipikir dulu, tidak diendapkan
dulu. Benar enggak sih kata-kata yang
saya munculkan? He. He.
Dan perkataan itu cerminan dari tindakan
sebenarnya. Nah, yang terjadi kemarin
beberapa P figure itu minta maafnya
kalau udah didedsak
atau sampai sekarang ada yang belum
minta maaf kan.
Heeh. Heeh. Heeh.
Minta maaf aja. Masalah dia ada sisi
benarnya minta maaf. Karena apa? Maaf
itu adalah bagian dari dia untuk meredam
emosi,
untuk dia benar-benar tawadu lagi,
merendahkan hatinya, mengontrol kondisi.
Ini saya mau tidur. Ada orang jenengan
siapa namanya? Saya merasa terancam ini.
Ini ya. Ada.
Silakan sampai polisi. Silakan.
Saya merasa terancam. Salah saya apa?
Jenengan merasa
Ibu. Salah saya apa?
Jenengan kan mematuhi peraturan yang ada
di sini.
Salah saya apa?
Salah apa? Jenengan peratuhi peraturan
saya baru mau tidur dipanggilin. Salah
saya apa?
Jenengan silakan cek out aja.
I uangnya dikembalikan dong.
Silakan ke travelok
loh. Udah silakan kalau uang saya balik
saya check out mana? Saya tak mau cek
out loh. Saya mau siap-siap. Jenengan
komplain sama travelok bukan di sini.
Jenengan pembayaran di sana kan kalau
kalau sudah check inin enggak bisa dong
bikin keluar.
Ya sudah mana? Sini sini balikin Pak.
Jenengan keluar aja sudah enggak mau
nyaman tamu-tamu
loh saya mau
saya usir. Iya dengan kasar saya saya
meny
ya sudah kembalikan KTP saya langsung
cabut. Serius saya cabut ya. Oke. Saya
cek out Pak
ya.
Siap.
Oke ya.
I
yes. E mudah-mudahan uang saya bisa
balik. Enggak ada barang saya. Saya
tidak mengambil barang satu pun. Tenang
aja.
Oke,
dengan dibuatnya kembali video ini, saya
selaku manajemen Hotel Indonesia Syariah
Kota Pekalongan meminta maaf yang
sebesar-besarnya atas kejadian pada
tanggal 13 Agustus 2025.
[Musik]
Mas Rama, kita berdoa dulu semoga nanti
diberikan kelancaran, keberkahan.
Amin. Amin ya Allah.
Kemanfaatan viewer yang banyak tapi
membawa manfaat untuk kita semua.
Bismillahirrahmanirrahim.
Berdoa dimulai.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Wah, ini saya minder ini.
Loh, kenapa Mas?
Berhadapan dengan penyiar radio
pada zamannya. Ya,
pada zamannya.
Jadi kalau ngelihat mic gini saya berasa
pengin siaran, Mas.
Jadi ini kalah apa ya? Kalah kayak ee
aura gitu.
Bisa aja.
Aura host-nya kuat banget.
Aduh. Tapi yang pasti saya happy lah nih
di sini ya.
Mas Rama, selamat datang di Pecah Telur.
Yes. Terima kasih Mas Agung. Akhirnya
kita bertemu lagi setelah mungkin
terakhir ketemu itu di Kediri ya kita
ya.
Iya. Kediri.
Masyaallah.
Hampir ya. Dan setelah ketemu di Kediri
itu ee kan jadi kenal, jadi
follow-followan lah di di Instagram.
Tapi saya enggak follow TikTok-nya.
Betul. Heeh.
Tahu-tahu ramai di TikTok. Wah lah ini
kan Mas Rama.
Oh gitu.
Iya. Saya itu anu, Mas. Jadi kayak
muncul itu loh ini kayak aku kayak tahu
kayak kenal ini Mas Rama ngapain ini kok
apa namanya ribut-ribut gitu loh. Jadi
kaget saya Mas waktu itu, Mas.
Jadi ee cukup viral kan itu kan
kalau saya bilang sangat viral sangat
viral karena sampai masuk ke berita
nasional sampai masuk TV juga Mas.
Sampahas itu
ee pemberitaan. Jadi ee video saya itu
di-capture. Kemudian ada yang izin, ada
yang tidak izin.
Kalau yang izin tuh kayak Kompas itu
izin. Saya pengin upload videonya untuk
pemberitaan. Terus
masuk ke CNN juga. CNN izin Trans TV itu
izin juga.
Ya Allah, masyaallah. Ya,
itu sebenarnya apa yang terjadi saat itu
di Mas Rama itu?
Asik. Ini saya bercerita bukan berarti
saya ee belum bisa move on ya,
tapi ini mungkin jadi pembelajaran ya.
Oke, oke,
oke. Dan ini ee kejadiannya tepatnya itu
14 Agustus. Ee
singkat cerita saya dari Tegal mau ke
Pekalongan besoknya mau ngisi training.
Ya, singkat cerita itu sudah saya upload
videonya banyak di TikTok dan sudah
dipost banyak orang itu. Saya masuk ke
sebuah hotel yang hotel itu dibilangnya
e terlabel syariah. Makanya saya pilih
hotel itu syariah. Kedua, karena hemat
promo saya sudah pesan lewat aplikasi
namanya Traveloka. Saya mention aja
karena Traveloka akhirnya juga sudah
klarifikasi gitu kan.
Kemudian ee singkat cerita kena biaya
tambahan. Kena biaya tambahan. Kemudian
saya enggak terima kekeh eh
ujung-ujungnya bla bla bla dia ngalah
tapi kayak enggak terima atau apa.
Ujung-ujungnya jam 11.00 malam saya
diusir. E
oh awalnya diterima Mas. Jadi
loh diterima saya sudah checkin KTP saya
itu udah dibawa dan saya udah masuk.
Oh
udah udah di dalam kamar sudah ganti
celana pendek.
Iya iya iya iya i.
Nah saya ngerekam itu kan awalnya buat
laporan ke PHRI karena biaya tambahan
itu kan dia menyebutkan si oknum hotel
itu ini adalah biaya tambahan kebijakan
PHRI.
PHR itu Mas
Iya. Perkumpulan Hotel restoran
Indonesia.
Oh.
Nah, kebetulan kan saya teman-teman
dekatnya kan orang PRI banyak ya.
Heeh. Heeh. Heh.
Nah, kemudian video itu untuk
mengklarifikasi benar enggak sih kalau
ada pungutan ini.
Nah, besoknya saya ditemuin sama ketua
PRI Pekalongan,
Mas Trias namanya. Akhirnya ngobrol.
Enggak, enggak ada.
Ternyata hanya agak apa ya, ghosting lah
ya. Hanya memanfaatkan nama PR.
Yes. Itu singkat cerita. Kemudian ya ee
saya nyampahnya tanda kutip di TikTok
karena saya nge-videoin yang diusir itu
buat aduan ke polisi tuh. Kalau saya ada
apa-apa kan saya satu lawan dua loh ya.
Iya. I
si baju kuning sama si bapak berkumis
itu kan
yang yang yang sampai ada netizen
mengkaitkan dengan film one for all gitu
ya kartun. Masyaallah.
Bentar Mas, bentar Mas.
Jadi ee kalau boleh tahu itu tambahnya
kisaran berapa sih Mas sebenarnya?
Kalau yang diberitakan kan sekitar
Rp10.000.
Iya. Sebenarnya itu enggak Rp10.000.
Enggak R.000.
Rp25.000.
Oh, dia kayak minta tambahan begitu ya.
Iya. Digenapan digenapkan menjadi
Rp150.000.
Saya kan bayarnya sekitar Rp15.000-an
karena
Oh, ada promo karena ya?
Iya, saya ada promo juga.
Tapi sekali lagi ini kan bukan masalah
nominal ya.
Iya, betul betul. Masalah prinsip gitu
ya.
Akad juga Mas.
Akad
di awal sudah clear, sudah lunas, kenapa
dikasih kena biaya tambahan? Eh, enggak
tahunya pasca kejadian itu banyak yang
speak up ng-DM saya. He
ee sampai ngomong ke saya, sampai
nge-screenshot banyak bukti-bukti. He
dia adalah korban-korban sebelum saya
yang seperti itu.
Sama persis.
Oh.
Dan sama juga di hotel-hotel lainnya.
Oh. Tidak hanya di satu hotel ya.
Iya. Dan ini pembelajarannya sebenarnya
pihak hotel harus clear juga dengan
pihak aplikator.
Karena dia mengatasnamakan ini aplikator
yang ngasih promo akhirnya komisi kita
kepotong.
Tapi kan kenapa yang dibubankan ke
customers kan he
itu kan jadi enggak fair ya. Jadi enggak
clear.
Iya ya. Oh alah gitu. Jadi
ee jadi apa maksudnya ketika dia minta
itu
karena PH tadi
I karena dia mengatasnakan ini ee apa
tambahan biaya untuk PHRI.
Tapi saya kan agak curiga makanya saya
videoin di part pertama saya videoin.
Oh pas part pertama sudah diideoin
sebenarnya.
Iya part pertama sudah saya videoin saat
saya ngobrol lewat telepon dengan si
orang yang mengatasnamakan atasan atau
siapa gitu kan
yang mungkin berkumis itu kali ya
yang ibu-ibu. Yang ibu-ibu ya. Nah,
kemudian ngobrol gitu di part pertama
sudah saya videoin. Nah, video itu
muncul saat dia sudah mengatasamakan ini
karena uang dari Pak RI. Nah, ini saya
spontan
buat bukti nih. Tapi saya masih kode
etik loh. Sampai itu pun ngomong, "Bu,
ini izin saya rekam ya." Oh, enggak
apa-apa silakan.
Kode etik jurnalistik
berani dia ya. Dia enggak takut viral.
Dia berani. Oke, silakan silakan. Udah
ketemu, sudah akhirnya berdebat,
berargumen. Saya dapat sudah boleh masuk
ya. Eh, apa udah boleh masuk diantar
sama Bellboy-nya. Udah. Aduh.
Oh, berarti udah lolos tuh. Udah lolos.
Sudah boleh masuk.
Udah. KTP saya sudah dibawa juga.
KTP dibawa. Tiba-tiba jam 11.00 malam
digedor dua orang. Blek blek ble dekg
dek dek. Ya, intinya saya sudah
mengganggu ketertiban. Ee saya tidak
sesuai dengan aturan perusahaan. He.
Dan itu GM-nya dan security-nya.
Oh,
yang baju kuning tuh GM.
GM-nya. Yang kumisan itu security. Yes.
Ee sebelumnya enggak menghadapi dua
orang itu.
Sebelumnya saya belum pernah bertemu dua
orang. Tetapi yang ibu baju kuning tuh
sebelum saya memvideokan dia sempat
datang dengan Bellboy. Intinya pengin
ngejelasin tetapi saya bilang, "Bu, saya
sudah istirahat pengin istirahat saya
capek." Itu yang tidak terekam. Heeh.
Heeh.
Yang ee apa namanya? Hidden story-nya
itu tidak terekam.
Tapi kan poinnya adalah Bu, saya
benar-benar mau isyarat. Saya enggak mau
ngomong sekarang. Kalau mau besok. Iya.
I
mungkin karena dia Heeh.
Ya, bayangkan loh, Mas.
Heeh. He.
Terus ada yang bilang, "Kenapa saya
milih hotel itu enggak hotel banyak yang
lebih mahal, lebih apa, lebih apa?"
Sekali lagi mungkin ini caranya Allah.
Saya lihat di Travela, kenapa saya pilih
hotel itu.
Bukan masalah saya pengin mahal atau
tidak. Karena jam .00 pun saya harus
check out kan. He.
Saya juga enggak mau ngambil breakfast.
Saya jam 11.00 sudah ee check in, jam
10.00 sudah check in 10. 10 malam. Jadi
menurut saya buat transit tidur aja lah
ya. He
gitu sih.
Iya. Ya, kalau setahu saya memang kan
yang ibaratnya lolos di aplikasi
Traveloka harusnya kan sudah kayak
enggak ada pungutan-pungutan tambahan.
Sepakat?
Iya. Jadi apapun hotel yang kita pilih
berarti kan sudah clear harusnya.
Benar. Benar. Benar. Dan kerennya lagi
pasca kejadian itu pihak Traveloka itu
email saya,
ng-DM saya juga klarifikasi minta maaf
dan dia akan memberikan semacam edukasi
buat pihak hotel. He.
Kemudian saya dikasih voucher.
Hm. Hm.
Enggak masalah nominal vou yang besar,
tetapi ini sebagai bentuk recovery atau
handling complain yang baik.
Hm.
Ini harusnya bisa ditiru nih.
Iya. I dari aplikasinya.
Iya. Ya, menarik ya, Mas ya.
Nah, jadi waktu malam itu akhirnya Mas
Rama beneran dikeluar, diusir begitu ya.
Iya, beneran diusir. Terus saya akhirnya
pindah hotel. Pindah hotel yang di video
ke berapa ya? Keempat kalau enggak
salah. banyak serinya ini
karena saya sengaja kan ee part part
part part part part part ya
iya iya di TikTok juga enggak bisa
panjang ya bisa panjang cuma memang
audiensnya suka yang
iya nah saya pindah ke hotel tersebut
sampai ada netizen namanya netizen kan
berak ngomong ya wah ini settingan ini
PR-nya hotel yang ini nih
saya dibilang marketingnya enggak tapi
itu hotel yang beneran syariah dan saya
random aja tiba-tiba ke hotel itu
berhenti di tempatnya
dan saya langsung ke depannya
resepsionis baru pesan Travelok
jadi fair Mas, saya boleh ya pesan lewat
Traveloka?
Heeh.
Oke, boleh saya pesan ya karena di
Traveloka lebih murah. Oke, silakan Pak.
Fair gitu kan.
Ya udah nginp di sana. I
dan hikmahnya hotel yang saya nginp yang
kedua itu jadi rame. Oh, hotel apa itu,
Mas,
yang jadi PR-nya? Jangan, jangan disebut
nanti jadi malah jadi
bukan, bukan ketahuan malah jadi beneran
diing dikira.
Iya. Tapi menariknya gini, Mas. Ini
gimana gimana tuh
ownernya hotel tersebut? Yang kedua,
K
itu juga punya hotel besar, jaringan
internasional.
Oke.
Ee dia punya hotel yang sama, yang lebih
besar lagi.
He.
Saya kemudian dihubungin sama manajernya
untuk dikasih voucher silakan mau
menginap kapanpun.
Oh,
heeh. Jadi ngajak keluarga boleh mungkin
sebagai bentuk terima kasih ya. Tapi
bukan menginap di hotel yang itu, di
hotel satunya
yang lebih bagus, yang lebih berpintah.
Di lokasi cam
di Pekalongan juga.
Masyaallah. Jadi banyak hikmahnya ya.
Banyak hikmah. Banyak banget. Hikmah tuh
banyak banget, Mas.
Oke, Mas. Kalau melihat jadi Mas Rama
ini kan juga seorang mentor, trainer
juga,
pebisnis juga begitu ya Mas ya.
Kalau melihat dari hikmah yang Mas Rama
ee apa alami waktu itu, apa Mas
yang bisa jenengan share ke teman-teman?
Oke, jadi ada dua poin ya, poin ee
spiritual dan poin secara psikologis.
Nah, kita bicara spiritual menarik.
Oh, asik. Oke.
Jadi, Allah itu pasti akan menguji
umatnya berdasarkan apa yang menjadi
kemampuannya. Karena sebelum saya ee
datang ke kasus diusir itu sebulan yang
lalu di kejadian itu, sebelum kejadian
itu saya menulis buku namanya Yuk Berani
Bicara,
ebook.
Oke.
Yang buku itu menceritakan bagaimana
kita berbicara, terstruktur, punya cara
hingga punya makna dan punya adab. Itu
poin pertama. He
ternyata saya diuji untuk mempraktikkan
isi buku itu mungkin
kan begitu ya. E hikmahnya yang check
out banyak setelah itu.
Ini sekali lagi hikmah ya
seperti yang di kaos itu yaani bicara.
Oke. Oke.
Iya. Iya. Terus yang kedua adalah secara
psikologis
saya diuji bagaimana kita bisa membuat
diri kita menjadi tenang di saat
menemukan atau menghadapi situasi
segenting apapun,
sekres apapun. Di situ saya sampai
dibilang netizen soft spoken.
Ini yang bilang netizen. I
dan entah kenapa saya bisa setenang itu
saya istigfar walaupun dalam batin saya
tuh sudah deg-degan gitu kan ya.
Tapi masyaallah Allah ngasih kekuatan ke
saya. Saya bisa tenang dalam menghadapi
ujian itu.
Nah, jadi sampai dibilang ini kalau aku
jadi bapaknya, jadi emnya aku bakal
marah-marah nih. Wah, jangankan gitu.
Istri saya aja mungkin marah-marah kan.
Iya, iya. Iya.
Jadi seperti itu. Ih, hikmahnya banyak
banget, Mas. Dan kita dibanting dulu
untuk melenting.
Oh, dibanting untuk melenting.
Itu hikmah spiritual. Jadi karena Mas
Rama seb se seb apa sebelum kejadian itu
pernah menulis sebuah keilmuan
yang dirangkum menjadi sebuah temayuk
berani bicara itu.
Maka Mas Ramah diuji.
Benar. Benar. Benar. Benar. Benar.
Perspektif yang menarik sebenarnya.
Iya. I.
Oke. Yang lain, Mas. Yang lain.
Oke. Kemudian ee hikmah yang kedua
adalah ternyata netizen Indonesia itu
solid. Oh, gitu ya.
Dan viral itu nyata, Mas.
Viral itu nyata.
Iya, viral itu nyata dan saya merasakan
efek viral ternyata.
Gimana? Apa itu efeknya?
Jadi follower saya di TikTok kan
sebelumnya itu 26.000,7
ya, 26.000an.
Per hari ini tadi saya cek udah
Rp15.000.
Oh, naiklah ya.
Naik
naik banget.
Jadi naiknya banget gitu ya. Dan di saat
saya ada orang yang ah itu cuma R.000
aja bla bla bla. netizen itu nyerang si
orang yang itu. Jadi saya itu malah
justru punya punya orang-orang yang
membela saya gitu.
Iya. Iya. Dibelain gitu.
Dibelain. Jadi yang mereka ribut
sendiri.
Iya. I dan saya ngerasain ternyata saya
bisa masuk lambetura. G
masuk Lambetura juga.
Lambetura City the Insider. Detik Kompas
sampai masuk TV. Dan masuk TV itu
tahunya malah dari teman saya
tu. Mas Pak Masuk TV.
Masuk TV.
Ya Allah. Ini masuk TV-nya kalau sebuah
prestasi saya apa ini diusir gitu loh
ya. Berawal dari diusir menjadi sebuah
prestasi yang nyata.
Masallah sampai ada yang bilang wah
salah ngusir orang dan sebagainya.
Masyaallah itu argumen dari teman-teman.
Termasuk Mas Agung ee tiba-tiba WA saya.
Masyaallah
Mas main yuk.
Kok ramei-rame Mas? Ini apa ini, Mas?
Itu
iya i ya. Jadi, jadi banyak sekali
hikmah dan sekali lagi
saya pun akhirnya membuka pintu tangan
terbuka untuk berdamai.
Hm.
Pihak hotel meminta maaf walaupun secara
langsung dia pihak hotel itu belum
nemuin saya sampai sekarang.
Minta maafnya gimana? Berarti
lewat tim saya WA dan mereka juga
membuat klarifikasi video sampai dua
kali
karena klarifikasi video pertama itu
masih denial didatangin orang PHRI.
Bukan gitu cara klarifikasinya.
Harus mengakui permintaan maaf secara
tulus. dan yang kedua didampingin oleh
pihak PR dan juga dinas terkait. Nah,
akhirnya klarifikasi minta maaf. Tapi
masalahnya begini, Mas. Ini pelajaran
buat semuanya ya. Termasuk saya sebagai
pemilik bisnis nasihat ya. Kalau kita
punya bisnis apapun itu, service itu kan
nomor satu.
Heeh. Heeh.
Handling complain juga dan bagaimana
kita recovery-nya setelah kejadian.
Hm.
Yang saya amati, saya menyayangkan hotel
tersebut recovery-nya lama, Mas.
H. Harusnya kalau ee hotel tersebut
membaca recovery yang cepat, saya
harusnya diundang
atau saya dilibatkan untuk recovery.
Heeh. He
kan begitu. Ini bukan saya mengharapkan
bukan ya. Tapi ini konteks recovery ya.
Karena saya sudut pandang pebisnis dan
juga consulting ya.
Heh. Heh. Heeh.
Ya. Ibaratnya kalau Mas Agung punya
usaha ada orang komplain kan penginnya
langsung handling complain kan. Betul.
Betul.
Recovery gimana caranya dikasih
komplimen kan.
Nah ini enggak.
Hmm. Dia recovery sendiri gitu. recovery
malah dia ee apa ya buat
postingan-posingan terus sampai di
TikTok itu harganya kemarin satu
malamnya sampai Rp45.000
ee
diobral gitu kan
diobral gitu ya. Oh
ini recovery-nya lama kalau kayak gini
gitu
harusnya mengundang katakanlah cara cara
recovery yang cepat mengundang orang
yang bersangkutan untuk datang lagi.
Apa namanya Mas?
Eh hotelnya
apa nama omban apa strategi
handling complaint. Handling complain.
Jadi handling complaintnya harus bagus.
recovery-nya harus cepat dan melibatkan
orang yang bersangkutan.
Oh, iya. I
harusnya seperti itu.
Apa yang terjadi setelah ee viral
kejadian viral itu di hotel tersebut,
Mas?
Ee saya ini membaca ya ee hotel tersebut
namanya sampai berubah
dirubah menjadi hotel gaib Indonesia
sampai diserang bintangnya sampai 1
koma. Sekali lagi saya enggak expect ya
maksudnya enggak nyangka se solid itu
netizen Indonesia
dan
hotel gaib ya sekarang namanya. Tapi
kayaknya udah berubah lagi. Udah berubah
lagi dan bintangnya udah 3 koma.
Enggak tahu strateginya seperti apa. Kok
cepat banget
ya loh yang satu itu bisa cepat 3 koma
kok. Ini permainan review bisa secepat
ini ya.
Dulu sampai 1 koma ya.
1 koma Mas dan sampai 17.000 kalau
enggak salah
yang review itu ya.
Iya.
Oh.
Dan sampai ada yang laporan TikTok saya.
Saya kenal aja enggak. Lapor dan bintang
sudah satu.
Ini fakta. Ya Allah. Saya kenal enggak?
Terus ada yang bilang, "Pak, ini saya
sudah ng-review." Lapor, lapor. Padahal
saya enggak kenal semuanya.
Masyaallah.
Kayak solid gitu ya.
Solid banget ya.
Ya, ini mungkin yang relate dengan
kondisi Indonesia sekarang.
Makanya sekarang juga ketika ada isu apa
maka sangat solid juga, Teman-teman.
Iya. Iya. Iya. Benar. Benar banget.
Benar banget.
Berarti dari kata yang salah bisa jadi
malapetaka ya, Mas ya.
Asik.
Begitu ya.
Kesalahan kata bisa menimbulkan
malapetaka.
Benar, benar, benar, benar. itu itu
memang kita k hati-hati banget karena si
security-nya pun mengatakan ini yang
saya kutip ya,
saya usir Anda dengan paksa, dengan
kasar apa dengan paksa ya saya lupa.
Itu kan sudah diclear yang sangat salah
kan.
Iya iya. Heeh.
Nah, terus si ibunya malah memvideo saya
balik.
Iya iya kan itu ada video. Iya.
Aduh sambil joget-joget. Masyaallah.
Aduh aduh. Iya iya iya i. Oke. Oke. Nah,
berarti juga apa ya kalau dalam kondisi
seperti itu bagaimana kita kayak
menguasai emosi, Mas. Jadi, kan
kadang-kadang seperti itu
ya,
emosi kita yang mengambil peran kita ya
untuk bagaimana kita katanya jadi enggak
terkontrol. Terus itu kalau di diajarin
juga di ebook yang Mas Rama bikin.
Iya, diajarin. Jadi, manusia itu kan
secara karakter berbeda-beda ya.
Dari pendekatan Stepin, DIS, C itu kan
beda-beda karakternya. Jadi semuanya
tidak bisa disamakan. ada yang
berapi-api ngomongnya, orang yang domin
yangu
itu beda-beda. Tetapi poinnya adalah
di saat kita dihadapkan segala situasi,
kalau pandang psikologi kita bisa makai
yang namanya teknik pernafasan,
mindfulness.
Oh,
makanya kalau ada orang emosi biasanya
apa? Duduk dulu, tarik nafas dulu.
Oh,
kan begitu kan?
Tarik nafas dari hidung, ngeluarkan
lewat mulut sampai ada trainingnya juga
kan seperti itu. Mindfulness. Kemudian
yang kedua, kalau dari segi agama, orang
kalau marah-marah berdiri suruh duduk.
Heeh. Heeh. Heeh.
Suruh wudu.
E betul. Suruh wudu. Iya.
Iya. Benar kan? Suruh minum dulu.
Iya. Iya.
Jangan orang nangis malah dibilang udah
enggak usah nangis. Salah kan?
Iya. I iya iya.
Orang lagi marah-marah jangan bilang
udah enggak usah marah.
Ditempeleng.
Jadi harus duduk dulu. Kayak gitu ya.
Jadi ee secara singkat itu bisa dilatih
dengan pernafasan. Kalau lagi kalau
enggak bisa duduk atau enggak bisa minum
itu
benar pernapasan.
Dengan mengatur nafas.
Saya ngatur nafas. Hm.
Emang degdegan, Mas, saat itu
taruh naas dan mindset saya dirubah.
Mindset saya begini. Sesimpel itu.
Saya mindsetnya dua orang ini bukan
tandingan saya. Di saat saya bilang dua
orang ini bukan tandingan saya, saya
menganggap kita ada gap di sini. Ya udah
saya enteng aja. Karena kalau saya
menganggap itu tandingan saya dan saya
meladeni, yang terjadi apa? Saya capek,
Mas.
Iya,
gitu.
Oh, jadi ada mindset juga dia bukan tand
bukan tandingan saya
tandingan saya. Yes. Ses it
bukan, bukan musuh gitu ya. Bukan musuh
yang harus adu argumen dan sebagainya.
Yes. Saya enggak mau ngelawan mereka.
Tapi setelah ini mungkin akan ada efek
atau balasannya. Itu efek balasannya itu
mungkin imbas dari kejadian itu. Dan
ternyata benar.
Hm.
Saya percaya kan semua apa yang kita
perbuat pasti ada impact-nya kan.
Ada. Heeh. Ada impactnya, ada
balasannya.
I ya. Ya. Ya. Begitu Mas.
Menarik ya, Mas ya?
Menarik.
Iya. Iya. I iya iya. Jadi kalau ngatur
nafas itu maksudnya nafasnya dipelanin
gitu ya, Mas ya. Jadi gini, kalau secara
nafas itu kan banyak teknik ya. Salah
satunya teknik. Makanya orang kalau
pengin tarik nafas tuh tarik lewat
hidung, tarik empat kali kemudian
hempaskan di mulut hempaskan empat kali
pakai pernafasan perut.
Kan saat saya dulu zaman siaran,
bagaimana suara menjadi bulat agar kita
enggak nervous, bagaimana saat di
panggung kita bisa menjadi rileks. Itu
kan ada teknik pernapasan.
Bagaimana mood booster dan sebagainya.
Ya, gua jadi training nih.
Sepil dikit lah
untuk penonton pecah telur.
Iya iya iya iya. Penonton pecah telur.
Kalau orang yang suka berkomunikasi
namanya komunikator. Kalau pecah telur
orang-orang yang terlibat di pecah telur
namanya petelur.
Karena dulu waktu saya bikin apa ee
branding di mobil ini, Mas, jualan telur
ya?
Benarbenar.
Iya iya iya. I
Oke, Mas ee kita kembali lagi yang lain
gitu ya. Jadi, Mas Rama ini kan apa
selalu berkeliling kalau saya lihat ya
di sosmet-nya
aktif juga di beberapa menjadi pembicara
dan sebagainya.
Ada juga bebisnis.
Kalau boleh Mas Rama ini mendefinisikan
sendiri apa kayak diri sendiri itu loh,
Mas.
Oke.
Ee suka yang mana atau disebut apa
sekarang, Mas?
Oke. Kalau saya mendefinisikan tiga kata
kunci saya, siapa Rah Sahid dan kalau
orang Google siapa Rama Sahid gitu ya.
Muncul seorang profesional trainer,
consultant, dan entrepreneur.
Hm. He.
Jadi kata kunci yang pertamaal trainer
dan juga consult baru entrepreneur di
nomor ketiga.
Yes. Karena entrepreneur ini kan saya
couple bisnis juga dengan istri kan.
H
karena ee jadi professional trainer,
consultant, entrepreneur.
Jadi ibarat apa ya dari tiga bidang yang
Mas Rama tekuni itu atau sekarang
dijalani itu
yang paling senang berarti yang dua
awal.
Yes. Dua di awal karena disebutkan di
awal ya. He.
Ee disebutkan di awal karena ini bagian
dari passion. Saya itu kan traveling ya.
Passion ya Mas ya.
Passion. Passion.
Hmm. Haleling.
Heeh. Padahal aslinya saya orang
introvert kan.
Oh
oke. Jadi traveling training. Jadi bagi
saya para trainer itu bilang training
itu bagian dari healing. Sebenarnya
training bagian dari healing gitu ya.
Iya kan kita ngomong ke orang sama aja
kan kita semi curhat.
Tapi agak agak bertolak belakang ya Mas
menurut saya ya saya pahami. Jadi
kadang-kadang orang introvert he
setelah training
itu energinya habis Mas. Sepakat saya
kalau habis training, saya diajak jalan
sama siapa klien atau apa, saya tuh
milih di kamar, di hotel, tidur atau
enggak saya buka laptop doang.
Oke.
Energinya, energinya cepat habis di
situ. Dan orang introvert itu cenderung
temannya enggak banyak, tetapi sekalinya
punya teman dia berkualitas.
Oke.
Menjaga hubungan pertemanan itu. He.
Nah, gitu.
Tapi dikatakan tadi kayak ngisi
training, tapi kok healing gitu. E
energinya kan banyak keluar. Jadi
artinya healing itu begini, karena salah
satu cara orang merilis emosi itu salah
satunya dengan bercerita.
Oh, jadi curcol gitu ya.
Iya. Makanya podcast pecah telur kalau
hostnya Mas Agung, Mas Agung lama-lama
awet muda nih
karena bercerita terus.
Oh,
gitu kan.
Laki-laki mengeluarkan 7.000 kata. Nah,
perempuan 21.000 kata.
Jadi kalau Iya. Jadi kalau istri pengin
cepat merilis ya diajakin podcast aja.
Cohost.
Id baik itu. Iya.
Saya belum podcast sama istri saya. Saya
ajak podcast kalau gitu.
Nanti namanya bukan pecah telur, retak
telur. Jangan nanti jadi pecah ranjang
nanti
salah ngomong.
Iya kan Mas Agung nih aslinya bocor ini
ya. Saya ketemu pertama nih kayak
pendiam gitu ya.
Oh dulu ya. Dulu capek kali Mas.
Oh capek. Introvert juga. Jangan-jangan
saya itu kalau tes STVIN strovert Mas.
Oke.
Cuma teman-teman saya introvert
terus sekarang ada yang mendefinisikan
saya sampai ini ambivot Mas gitu.
Oh ambivot. Kan karena mungkin dari
darahnya saya kan AB.
Oh iya ya ya.
Introvertnya dari darah. Terus habis itu
kemudian kalau dari stepin strovert.
Benar. Benar. Benar. Nah bisa jadi
berarti ee bisa jadi bocornya ini karena
ketemu orang-orang yang mungkin tertentu
ya.
Oh iya.
Ketemu Mas Rama.
Waduh.
Iya iya iya iya iya.
Oke Mas. Jadi tadi kan seorang
profesional trainer dan juga seorang
konsultan.
Konsultan. Nah apa yang Mas Rama ee
bidangi? Oke. Kalau bicara konsultannya,
He.
Konsultan saya itu fokusnya di bidang
komunikasi.
Oh, relate ya berarti.
Iya. Iya, relate.
Karena dulu perjalanan saya di radio,
kemudian di TV.
Saya pernah mimpin perusahaan juga
sekarang menjadi pengusaha.
Artinya komunikasi ini bukan bicara
basic public speaking. Iya, dulu basic
banget. Tapi komunikasi lebih bagaimana
membangun komunikasi dengan tim,
dengan atasan, dengan klien, bahkan
dengan konstituen. Kenapa saya bilang
bahkan dengan konstituen? Karena di
kemarin sebelum Pilkada di era Pilkada
kemarin,
saya alhamdulillah diberikan diberikan
kesempatan mendampingi beberapa calon
pejabat,
calon pemimpin daerah.
Ada yang jadi, ada yang tidak. Tapi
alhamdulillah kebanyakan jadi
itu ngebangun dari basic yang cara
berkomunikasi sehingga dia bisa diterima
muncul personal brand-nya, muncul
bagaimana dia bisa di
ee percaya orang. Itu kan berawal dari
komunikasi.
Betul. Betul.
Gitu. Kalau kita lihat hari ini lagi
ramai-ramai demo dan sebagainya kan juga
gara-gara gagal komunikasi Mas
public figure kita.
Iya betul.
Para pemangku kebijakan itu kan
ngomongnya aja yang
ngomongnya salah gitu.
Iya iya iya iya benarbenar. Jadi
sepakat sepakat banget
gara-gara salah kata jadi malapetaka.
Malapetaka relate ada yang tadi relate
kayak yang hotel tadi.
Benar. Gara-gara salah kata sampai
dijarah. Iya,
sampai demo.
Sampai demo.
Ini kan kata-kata yang munculnya enggak
nyampai semenit, tapi efeknya luar
biasa.
Kenapa orang banyak salah kata? Biasanya
dia terlalu emosional,
tidak dipikir dulu, tidak diendapkan
dulu. Benar enggak sih kata-kata yang
saya munculkan? He. He.
Dan perkataan itu cerminan dari tindakan
sebenarnya.
Perkataan. Oke.
Iya kan? Heeh. Heeh. Heeh.
Gitu.
Iya. Dulu kan ketika ada saya ee ingat
juga katakanlah ada perbincangan Nabi
kita Nabi Muhammad sallallahu alaihi
wasallam sama sahabat.
Iya.
Jadi waktu itu apa yang seharusnya Nabi
marah tapi dia justru enggak marah dan
yang ada di luar ee teko adalah cerminan
dari yang di dalam teko.
Sepakat?
Sepakat ya Mas ya?
Betul.
Saya lupa tadi nak kejadian detailnya
kira-kira seperti
itu. Benar. Benar. Benar. Benar. Benar.
Dan ternyata kalau kita mudah salah
kata, cara yang paling mudah sebenarnya
kita tuh langsung meminta maaf. Oh.
Nah, yang terjadi kemarin beberapa
figure itu minta maafnya kalau udah
didedsak.
Heeh.
Atau sampai sekarang ada yang belum
minta maaf kan.
Heeh. Heeh. Heeh.
Minta maaf aja. Masalah dia ada sisi
benarnya minta maaf. Karena apa? Maaf
itu adalah bagian dari dia untuk meredam
emosi,
untuk dia benar-benar tawadu lagi,
merendahkan hatinya, mengontrol kondisi.
Nah, seperti itu kan?
Iya. Iya. Nah, penting itu.
Oke. Oke.
Nah, ini masalahnya public figure ada
yang sampai sekarang minta maaf aja
belum.
Iya.
Klarifikasinya belum kan begitu
ya. Rata-rata memang ya itu tadi minta
maafnya setelah terdesak dan itu mungkin
kalau dari kita menilai kan ya terpaksa
gitu ya.
Walaupun juga mencoba untuk tidak
terpaksa secara mimik muka. I.
Oh iya. Jadi jadi seperti itu ya Mas.
Jadi e fokus di komunikasi ya konsultasi
ya. fokus komunikasi dan juga super tim
karena kan saya juga nulis buku sama
sahabat saya Ridwan Abadi dan juga e Mas
Joko, Coach Ridwan sama Koko. Buku Super
Team Super Productivity.
Oke.
Ini ngebangun tentang bagaimana kita
nge-develop tim.
Saya bicaranya dari sudut pandang
pendekatan komunikasi kan begitu.
Super team ya, Mas. Supertim dibangun
dari pendekatan komunikasi.
Iya. I. Jadi ada banyak pendekatan salah
satunya saya ngebangunnya dari
pendekatan komunikasi.
Gimana itu, Mas? Bisa dikasih simpel
enggak, Mas? Jadi artinya begini,
komunikasi itu kan sederhana ya. Kalau
kita filosofikan, definisikan secara
sederhana, komunikasi itu kan muncul
karena ada yang berbicara dan ada yang
mendengar.
Betul.
Nah, kayak kita ngobrol nih,
di saat satunya berbicara, satunya bukan
diam,
tapi mendengar. He he.
Kalau diam berarti dia pasif, kan?
Mendengarkan itu kan diam, kan, Mas?
Beda ya?
Iya. Artinya mendengarkan dengan diam
beda. Kalau mendengarkan dia berarti
harus menjadi orang yang active learning
eh active e listening. Active listening
artinya aktif listening kalau diam itu
kan begini. Saya ngajak ngobrol Mas
Agung nih.
Mas Agung cuma diam begini nge-freze.
Ini diam tapi belum tentu dia dengerin.
Dia lagi traveling pikirannya ke
mana-mana
i dia enggak enggak sedang di situ.
Yes.
He.
Fisiknya di situ tapi pikirannya ke
mana-mana. Nah, tapi kalau orang yang
listening dia memberikan respon,
memberikan feedback. Gimana responnya?
Ngangguk. He.
Terus dia bisa berempati. Karena level
of listening pun ada lima tahapan.
Oke. Menarik.
Wah, menarik kan? Ada lima tahapan
sampai yang tahapan terakhir adalah
empatic listening.
Empatic listening.
Yes. Orang kalau empatic listening, Mas,
saya menceritakan tentang masa lalu.
Misalkan saya dulu pernah dibully, orang
tua saya ada masalah atau apa, dia bisa
nangis, Mas.
Nah,
itu empatik banget. Oh,
itu bukan cengeng ya, tapi empatik.
Iya. Nah, ini mumpung bahas itu, ada
beberapa pertanyaan yang enggak bisa
saya jawab, Mas.
Jadi begini,
Mas. Kenapa
orang rata-rata diinterview sama pecah
telur rata-rata kok nangis?
Orang diinterview pecah telur kenapa dia
nangis?
Nah, yang rata-rata di dokumenter kan
kalau kalau podcast ini kan berbeda,
Mas. Kalau podcast kan kita aktif
berbicara, dengerin, nimpalin dan
kemudian berbicara. Nah, di dokumenter
yang kemudian rata-rata orang nangis,
"Kenapa ya?" Terus tak pikir kenapa ya
saya kok ee kok narasumber nangis?
Memang tak lihat rata-rata itu yang
nangis duluan saya, Mas.
Oh, gitu.
Iya.
Jadi ee tadi serilate juga dengan ilmu
yang Mas Rama mungkin saya empat
listening tadi kayaknya.
Benar, benar, benar. Jadi saya misalnya
misal Mas saya kejadian itu di Mas Sabtu
katlah yang temannya Mas Rama, Mas Sabtu
hari bercerita jadi ee dia dulu dulu
enggak bisa katakanlah susah ada jarak
dengan anak kemudian dia beli bisa
beliin sepeda. Wah senang Mas gitu
saya nangis Mas dengerin
gitu ya.
Nah gara-gara saya nangis berkaca-kaca
sambil lihatin Mas Sabtu berbicara dia
ikutan nangis. Salah satunya itu salah
sat itu empat listening.
Oh gitu ya.
Iya
jadi gitu. Itu bukan cengeng Mas
empatik. Oke, terima kasih sudah memilih
saya.
Iya, ya. Ini ee merendah untuk meninggi
ya.
Tapi benar, benar pokoknya begitu sampai
orang nangis dan dia teringat masa
lalunya, bagaimana perjuangannya.
Betul, betul, betul, betul.
Ya, ini bukan cengeng, tapi ini bagian
dari empatik dan dia mengingat bagaimana
dulu perjuangannya yang relate dengan
kondisi sekarang. Heeh. Heeh.
Jadi makanya Mas Agung tuh sudah
menggugah orang lain dan bisa jadi
nangisnya Mas Agung, pertanyaannya Mas
Agung itu ada makna di situ.
Kadang orang berbicara tapi enggak pakai
makna.
Hm.
Ya kan? He.
Nah, makna itu yang semua orang enggak
bisa. Wis asik nih.
Saya jadi anu ya dapat kuliah gratis ya.
Iya.
Oh, gitu ya, Mas. Jadi iya iya saya tadi
sudah ee ada perbedaan ternyata diam
sama mendengarkan berbeda. Mendengarkan
pun juga ada beberapa level ternyata.
Benar. Iya. Saya kalau training selalu
bilang gini, oke misalkan ada presentasi
baik ee kita ada grouping gitu. Saya
selalu bilang ke peserta, "Baik kalau
prinsip komunikasi satunya berbicara
satunya apa?" Rata-rata selalu bilang
diam. Terus saya bilang salah Bapak Ibu,
yang lainnya mendengarkan.
Oke.
Ya kan definisi diam kan beda kan sama
mendengarkan begitu.
Iya. Iya.
ilmu baru, ilmu yang sudah saya ee alami
saya tapi saya enggak enggak ngerti
definisinya.
Nah, karena pelajaran hidupnya Mas Agung
sangat lebih berharga, artinya sudah
mempraktikkan.
Mahal loh ini.
Ada ada juga ee Mas katakanlah situ ada
seorang sosok namanya Mas
He
siapa namanya yang berburu mobil impian?
Mas
Mas Mahid. Saya itu diinterview nangis
baru kali ini.
Oh, gitu.
Jadi sampai bikin story gitu setelah
setelah interview.
I iya.
Oh, gitu ya. Terus ada juga ada namanya
Mas ee Arli. Mas
Oh, Mas Arli Kurnia. I kan punya teman
namanya Mas.
Bung Afan.
He
Bung Afan itu kalau kata Mas Arli
hatinya keras gitu, jarang nangis.
Terus ee kan itu temannya Mas Arli.
Terus habis itu habis interview saya
ee mainlah ke tempatnya Mas Harle. Iya.
Ah, Bung Afan nangis kok. Apain, Mas?
Bung Afan nangis. Iya ya. Aku cuma
interview, tanya, dengerin, tak
timpalin, Mas, gimana seterusnya.
Dia sampai nangis.
Wih kok apa sampai waktu itu kan Mas
Harle juga anu sendiri, Mas pernah saya
interview juga kan.
Iya. Iya. Iya.
Terus dia mencoba menganalisa. Ah, ini
aku menganalisa kenapa kok apa ini
rumusnya, apa rahasianya.
Habis itu Oh, ya aku tahu, Mas. Aku
tahu.
Heeh.
Katanya Mas Harle ini ya.
Heeh.
Kayaknya n pas wak poin pentingnya itu
pas waktu doa.
Oh. Jadi, kan kayak tadi kita mau mulai
kan.
Iya. Heeh. Heeh. Ee
doa dulu ya. Iya. Yang benar nih. Ini
jadi saya baru kali ini diajak podcast
atau acara kayak gini doa dulu.
Ini ini langsung deep banget loh, Mas.
Oh, gitu ya.
Beda ya?
Beda.
Oh,
justru Mas kita berdoa dulu. Tiba-tiba
yang tadi kita ketawa-ketawa seketika
langsung set set gitu ya. Kayak beda
alam gitu ya.
Iya. I iya.
Oh,
ini yang jujur aja yang saya belum dapat
di tempat lain.
Oke. Oke.
Masyaallah.
Nah, kata Masli katanya doa. Wah,
kayaknya nanti, Mas. E karena saya waktu
setelah doa beda gitu yang seperti yang
Mas Rama katakan. I
nah gitu gitu.
Dan saya lagi menganalisa ini apa ya,
Mas Agung yang bikin saya banyak orang
terharu ya. Saya malah langsung
termainset saya ee kata menit ke berapa
nih bakal nangis.
Tapi kalau podcast enggak, Mas. Kalau
sudah kalau podcast enggak ya.
Kalau podcast enggak
saat dokumenter ya?
Iya, saat dokumenter. Karena dokumenter
itu kalau kita kan juga itu bagian dari
komunikasi ya.
Iya. Iya.
Tapi memang ee komunikasi yang saya
gunakan saat dokumenter itu adalah
mendengarkan.
Yes.
Jadi saya memberikan ee waktu
sebanyak-banyaknya kepada narasumber
untuk bercerita tanpa dijeda.
Karena dokumenter itu, Mas, itu memang
bisa diedit-edit kan, Mas. Jadi karena
bisa diedit-edit, ya sudah nanti editor
aja yang motongin ketika dia meleber ke
mana-mana.
I
tapi kita memberikan feel yang berbeda
biar dia keluar emosinya gitu.
Iya. I. Iya. Jadium
itu bisa 1 jam, 2 jam, bahkan ada yang 3
jam.
Masyaallah.
Itu nanti cuma di jadinya cuma 40 menit.
Cuma
Iya. I ya i dan fun fact-nya kekuatan
mendengar, kemampuan untuk mendengar itu
lebih susah daripada kemampuan untuk
berbicara. Mas,
di awal-awal saya tersiksa, Mas.
Saya tersiksa.
Wah, itu itu benar-benar mahal banget
loh, Mas. Kemampuan mendengar itu harus
diri, Mas.
Har ya.
Nah. Nah, kemudian kembalilah ee betul
kata Mas Rama sangat menahan diri. Nah,
waktu itu kan sudah era dokumenter sudah
berjalan nih, sudah 3 tahun zamannya
podcast.
Nah, saya harus mengembalikan yang dulu.
Jadi, saya enggak enggak boleh hanya
mendengarkan aja karena nanti jadi kayak
kurang hidup.
Benar, benar, benar.
Sampai saya sekolah komunikasi, Mas.
Tapi waktu itu karena belum kenal Mas
Rama, saya sekolah di Jakarta.
Tapi memang ini masih latihan. Jadi,
bagaimana biar podcastnya bisa asik,
bisa hidup. Iya.
Kalau saya ketemu Kak ini kayak ibarat
kita sekolah gratis ini
atau saya boleh nih ngelamar jadi cohost
deh.
Boleh nih. Cabang mana nanti pecah
telurnya?
Atau kita bikin anu aja pecah telur
cabang Jogja.
Oh boleh lu. Bener loh nih
kadang kadang kadang ide itu kan
munculnya dari diskusi gini kan gitu
gitu
karena dari dari diskusi lahirlah
menyamakan frekuensi tapi dari
menyamakan frekuensi muncullah inovasi
tapi segeralah untuk eksekusi. Kalau
kelamaan keburbasi
kata-katanya. Benar ya? Apa sudah diri
sebelumnya?
Enggak, enggak.
I ya boleh Mas nanti teman-teman kreatif
dipikirin ini.
Karena Mas Rama baru pindah di Jogja.
Benar benar dan saya kayak flashback
memori dulu saya dunia radio juga di
Jogja.
Mas Ram itu sebenarnya dari gimana sih
secara apa secara tempat tinggal kok.
Jadi
waktu kenalan kan masih di Tegal.
Yes benar. Jadi
sekarang sudah di Jogja.
Jadi saya itu kalau flashback saya lahir
besar di Jogja. Saya 15 saudara lahir
besar di Jogja. Tapi ibu saya orang
Samarinda, ayah saya orang Banjarmasin.
Tinggalnya di Jogja.
Tinggalnya sudah di Jogja. Lahirlah saya
dan kakak saya yang di Jogja.
Kalau kakak-kakak saya enggak di Jogja.
Yang tiga itu yang saya dan kakak persis
baru di Jogja. Kemudian sekolah di Jogja
saya bertemu istri yang senang jadi
istri saya juga di Jogja kuliah. Tapi
istri saya itu ibunya Bengkulu, ayahnya
orang Medan. Jadi marganya Lubis.
Oh.
Nah, menikah. Terus setelah dari Jogja
saya hijrah ke Jakarta. Dari Jakarta
saya hijrah ke Semarang kemudian ke
Tegal sampai Tegal resign kemudian ke
sini ya. Jadi artinya ya kerjaan saya
itu pindah-pindah karena dulu saya kan
bekerja di dunia otomotif sebagai leader
atau manager ya.
Nah jadi ee mungkin saya bisa seperti
ini ya karena saya sering terlalu
terlalu sering ketemu banyak orang itu
mungkin di situ.
Iya. Iya.
Berarti satu kata yang menggambarkan Mas
Rama adalah Nusantara.
Asik.
Karena pindah-pindah ke mana-mana itu
kan bukan hanya pindah tapi kan tinggal
kan di
benar tinggal tinggal dan anak saya yang
satu kedua lahirnya di Semarang yang
ketiga lahirnya di Tegal kan begitu. Oh
oke oke. Sekarang pindah ke Jogja.
Jogja
harus ada anak lagi Mas biar ada anak
yang lain.
Saya sempat ngomong gitu ke istri istri
saya enggak cc. Aduh ini usia sudah
tidak muda lagi.
Iya iya
i.
Tapi kalau bisnis gimana Mas?
Belum belum sempat ee singgung bisnisnya
tadi ya? Oke, bisnis saya Bakery Shop
dulu sempat punya sate juga ya, sate
Kambing Muda. Saya join sama teman saya
e orang Tegal tapi qadarullah habis
tutup tutup karena something gitu kan.
Kemudian bakery shop-nya masih ada di
Tegal.
Kemudian cafee shop-nya juga ada di
Tegal.
H.
Dulu saya pernah punya usaha 2012 punya
tambak udang, Mas, di Semarang.
Oh.
Alhamdulillah 1 tahun bangkrut, Mas.
Alhamdulillah, ya.
Alhamdulillah. Karena saya ternyata
enggak passionate di situ dan orang yang
saya amanahin enggak amanah. Oh,
gitu. Tapi yang sekarang jalan ada dua
itu bakery sama
coffee shop.
Coffee shop di Tegal.
Iya, di Tegal. Dan ini bakery shop-nya
di Jogja juga. Ini baru soft opening
tapi belum grand opening.
Oh, namanya apa, Mas?
Namanya Mimi Brownie.
Mimi Brownie. Ada
ee makanan-makanan seperti brownies,
bowen dan sebagainya gitu kan ya.
Terus saya juga kemarin diajakin teman
saya untuk ngebangun tour and travel di
Jawa Tengah, DIY. Oh
ya, saya sebagaiounder dan saya tidak
mengeluarkan modal sedikit pun karena
memang kita kolaborasi ya
itu. Dan sekarang saya
enggak tahu kenapa kok akhir ini saya
suka nulis, Mas.
Padahal saya nulis itu kan bukan sebuah
hobi dan saya enggak terlalu suka nulis.
Nah, ini kenapa kok sekarang jadi punya
suka nulis buat konten di medsos gitu?
Yang salah satu yang ditulis yang tadi.
Yuk, berani jara. Iya. I
keren, keren, keren.
Oke. Jadi kemungkinan di Jogja ini
bakalan terus di situ ya, Mas? Di Jogja
terus. Oke,
finallynya
eh karena saya kerjaannya di dunia
training dan consulting, saya ngisi ke
corporate itu suka di kota besar ya,
di beberapa kota bahkan di luar Jawa
saya muter
saya lebih nyaman dan lebih ngerasa
tenang kalau keluarga saya di Jogja aja
karena orang tua dan mertua saya di
Jogja semua.
Oh.
Jadi ibaratnya saya keliling-keliling
anak istri di Jogja deh. He he.
Nah, karena pendidikan di Jogja kan juga
berbeda ya. Nah, itu jadi
ee next-nya mungkin masa pensiun kami
juga di Jogja.
Tapi memang ee kalaupun toh saya
diizinkan untuk bikin rumah, saya kok
nyaman di Jogja, Mas. Di bikin rumah
lagi maksudnya.
Iya. I dan
saya enggak tahu kok kenapa.
Dan ini mungkin jawaban untuk podcast
cabang Jogja.
Bisa jadi.
Iya. Iya. Gimana?
Benar ya? Benar. Benar.
Iya. Ya. Saya jadi cohostnya bolehlah.
Benar. Menarik. Benar.
Iya. I ya.
Enggak ada kan? Enggak tahu kan ya? Ini
ini relate kan?
Iya. Gak bisa jadi. Karena kalau dulu
pernah ee podcast sebelum ini konsepnya
itu moving.
He.
Jadi alat-alat kita ini kita setting
alat yang bisa di kita bawa moving, Mas.
Yes. Yes.
Jadi kayak ee TV-nya eh bukan TV ya,
kayak alatnya
semuanya itu sudah case berupa case-case
gitu.
Itu tinggal dibawa dibawa ke kota yang
ingin kita tuju.
Dan yakinlah sesuatu yang sifatnya
moving suatu saat dia enggak mau moving
lagi.
Lelah, Mas.
Gitu ya.
Iya. Faktor usia.
Iya. faktor tenaga.
Nah, terus kemudian di sini, di sini.
Wah, kayaknya memang betul kayaknya udah
di sini aja, tapi nanti dipertimbangkan
untuk I ya. Karena harus mencari daerah
yang sifatnya tengah-tengah.
Betul. Ee ada juga sebuah ee podcast di
luar negeri yang dia itu bukan di daerah
kota, Mas, ya.
I.
Jadi, kalau kita lihat,
He.
Podcast itu paling banyak kan di dari
Jakarta memang dia kan pusatnya. Ya,
betul.
Pernah kita juga punya podcast di
Jakarta, Mas. Cuma ee kurang bertahanlah
saya sayanya yang kurang iya
ee pengin pulang
lingkungannya faktor lingkungan tuh
berbeda kali ya.
Iya karena keluarga enggak bisa dibawa
ke sana dan timnya di sini jadi
ee pengin pulanglah. Pengin kalau di
sana enggak enggak betah gitu loh.
I iya iya iya iya iya iya.
Nah habis itu di sini. Tapi yang di
podcast di luar negeri itu dia juga
berasal dari daerah yang terpencil bukan
daerah utama. He.
Nah, dia punya kayak perwakilan di
daerah-daerah yang ramai.
Iya. Iya. I.
Jadi, mungkin kalau kata Mas Rama yang
tengah tadi
tengah bisa di Jogja, bisa juga nanti di
Jakarta dan sebagainya. Itu juga bisa
menarik itu.
Iya. Ya, itulah yang itu yang dilakukan
kalau kita flashback ee saya sebut
TV-nya ya. SCTV dulu kan seperti itu.
STTV di Jakarta
dia punya biro di Surabaya
kan selalu begitu karena untuk
meng-cover ke daerah timur
justru malah yang hidup itu yang di
daerah timurnya
yang di daerah. Karena isu-isu di daerah
itu kan kadang enggak nyampai ke pusat
kan. Betul. Betul.
Kalau isu pusat kan aksesnya gampang. He
he.
Nah, ya mungkin itu perlu ekspansi, Mas.
Asik.
Terdekatnya Jogja.
Saya sangat mendukung ya, Teman-teman.
Di Jogja juga banyak kan.
Apalagi Jogja itu ee kayak pusatnya gitu
loh. Kalau kalau kita bicara kuliner
pusatnya banyaklah di Jogja. Terus
pengusaha juga apalagi banyak.
Kalau kita kan juga kalau pecah telur
saya amati ini bergerak dari komunitas
ke komunitas, Mas.
Nah, apalagi di Jogja komunitasnya
banyak banget.
Benar. Benar. Dan saya pindah Jogja
sekarang tuh alhamdulillah saya ikut
ngaji ee pengajian para pengusaha. He.
Itu lucunya saat saya ikut pengajian ini
loh ini kan teman waktu zaman jahiliah.
Dulu sempat di dunia entertain, dunia
unit sekarang ngaji bareng.
Jadi seru ketemu orang-orang lama
semuanya.
Iya. Orang lama yang dulu jahiliah
bareng sekarang sekarang tobat bareng
gitu ya.
Iya. Iya.
Tobat bareng. Masyaallah.
Kalau dulu Mas katanya dulu pernah
introvert.
Bagaimana seorang introvert bisa jadi
seperti ini gitu ya? Dulu introvert.
Oke. Yes. Iya. Introvert. Jadi kalau
karakteristik introvert tu tuh ya akan
selamanya menjadi introvert. Tapi
bagaimana yang namanya faktor lingkungan
itu mempengaruhi dia.
Secara genetis kan introvert tapi secara
empiris, secara lingkungannya dia kan
bisa berubah ya. Nah, yang membuat saya
berubah pertama adalah saya ini kerja
pindah-pindah kota. Oke, bertemu dengan
karakter yang berbeda, etnis yang
berbeda, ya. Pernah ee bekerja di
perusahaan yang notep ini dipimpin sama
orang Jepang, ya. Karena perusahaan ee
otomotif saya ini kan dari Jepang, ya.
Kemudian dipimpin orang Batak, malah
istri saya orang Batak. Kemudian
lingkungan yang Chinese, yang Arabik,
banyak sekali. Itu membuat saya menjadi
mendewasakan diri.
Oke.
Kemudian ketemu ee sekarang ini sebagai
pengusaha ketemu yang namanya karyawan
itu anak-anak Genzi.
teknologi yang sekarang serba cepat
semuanya jadi mau enggak memuntut kita
untuk beradaptasi. He.
Nah, selain itu tuntutan profesi, Mas.
Artinya tuntutan profesi ya sebagai
trainer, konsultan, ketemu banyak orang,
latar belakang berbeda. Saya harus bisa
menyesuaikan.
H.
Nah, kayak Mas Agung banyak podcast tamu
yang berbeda. Lama-lama Mas Agung itu
menjadi sosok yang tanda kutip estrovert
banget.
Karena itu jadi perjalanan jurni kan.
Iya.
Jadi jurn
ekstrovert banget ya.
Iya. Jadinya, kesannya kan begitu.
Iya. Iya. Begitu. Jadi semua itu bisa
dimunculkan karena faktor lingkungan.
Oh. Dari apa yang pernah dia lalui.
Yes. Betul banget. Dan siapa cennya? Kan
begitu.
Saya dulu e ketika ketika itu, Mas ee
awalnya strovert dulu. Dulu ketika
dipecah telur itu di bisnis sebelumnya
strovert. He he.
Habis itu dipecah telur ee bertemu
dengan partner saya yang introvert juga
ee agak sedikit terinfluence. He.
Terus ketika model komunikasi saya yang
sebanyak mendengarkan.
Heh. Heh.
Nah, itu semakin introvert kalau menurut
saya.
J semakin banyak jadi kayak saya
berpikir sendiri kok saya berubah ya
gitu berubah ya. Jadi
ee berbeda gitu. Kalau dulu ramai
sekarang
Iya. Kalau saya melihatnya berubahnya
ini kita mungkin enggak fair kalau
mendikotomi strovert introvert.
Nah, itu kan kayaknya terlalu
mendikotomi ya. I ya
mungkin kalau saya lihat ee sosok Mas
Agung bukan menjadi estrovert introvert
atau apa, tetapi Mas Agung menjadi lebih
matang.
Karena salah satu ciri-ciri orang
matang, dia akan menjadi lebih tenang.
Oh, gitu ya.
Dia lebih banyak mendengarkan.
Oh, gitu.
Tidak buru-buru berbicara,
lebih matang dalam eksekusi dan membuat
keputusan. Betul enggak, Teman-teman?
Terima kasih sudah saya lagi.
Ini saya enggak ada maksud apa-apa ya.
Kayaknya ini memuluskan untuk yang
cabang Jogja.
Ini bagian dari skill negosiasi, Mas.
Nah, sekarang Mas saya ingin
kembali lagi ke ekstrofetan karena
dengan kayak gini
karena waktu saya menjadi merasa merasa
agak menjadi pendiam itu
ketika obrolan obrolankruk itu kurang
hidup
apa ya obrolan jadi kayak bijijak dan
sebag tapi memang kurang hidup kurang
kurang hidup aja gitu. Nah, sekarang
ketika ada podcast ini saya pengin
mengembalikan strovert menjadi yang pas
Rama bilang ekstrovert banget nanti
suatu ketika.
Mungkin poinnya begini, bukan
ekstrovert-trangkan ya. Ibaratnya kalau
dalam komunikasi ini kan ada yang
namanya orang gap communication,
gap generation.
Oke. Oke.
Nah, bisa jadi orang yang diajak bicara
sama Mas Agung sekarang ini bukan
generasi Mas Agung, tapi generasi di
bawahnya bisa Genzi atau gen alpha yang
selalu bilang tung tungt tung sahur
gitu.
Iya. I
iya kan? Artinya apa? Mungkin bijaknya
ini ya karena pendewasaan diri.
Oke.
Jadi setelah pendewasaan di kalau
teorinya itu kan paling puncak
aktualisasi diri kan.
I
nah artinya orang-orang yang di bawahnya
ini secara generasi sudah terjadi gap
berbeda ya begap.
Nah kemudian gap communication
pembahasannya sudah ngomongin soal dunia
politik soal ini. Yang lainnya masih
ngomongin soal dunia arisan gitu kan.
Oke.
Ee atau apa mungkin itu bisa menjadi
sebuah pendewasan diri.
Menarik. Menarik.
Mas. Saya kembali lagi ke kaos yang Mas
Rama pakai ini.
I
asal dari kata yuk berani bicara itu
dari apa sih dulu kok mencetuskan yuk
berani bicara itu?
Yang pasti definisi yuk berani bicara
itu dari kata bicara. Artinya bicara ini
kan saya bicara kan melekat dengan
kata-kata komunikasi ya.
Bagaimana orang bisa berani speak up
ngomong tetapi harus bicaranya sesuai
dengan struktur
delivery-nya baik dan dia bisa menjadi
sosok yang menyenangkan, diterima, dan
punya
cara dan juga adab. Yang pasti. Nah.
Nah. Kemudian kata-kata berani. Kadang
kan banyak orang enggak berani, Mas.
Heeh. He.
Orang gagal berkolaborasi karena dia
enggak berani ngomong. Gagal menikah
karena enggak berani ngelamar.
Ya kan?
I ada yang kena nih, Mas.
Iya. Makanya senyum-senyum ya. Masalah
ditolak nomor dua.
Berani. Iya. Yang penting berani dulu.
Berani dulu.
Oke.
Justru bisa jadi karena orang ini berani
malah mendapatkan simpati bahkan empati.
Wah, gitu kan.
Dan empati
yuk. itu kata ajakan yuk berani bicara
dan saya terinspirasi Mas Jay juga kan
yuk bisnis gitu kan ya. Nah yuk berani
bicara yuk sesimpel itu aja
dan ini menjadi gerakan buku dan
insyaallah menjadi gerakan.
Oh gerakan ya.
Heeh. Gerakan bagaimana ingin mengajak
orang salah satunya live media sosial
dan nanti kita akan membuat acara-acara
training, acara-acara ke komunitas yang
sifatnya feel free.
Gimana ngajakin orang dan ini beberapa
orang sudah menyambut baik gerakan ini.
Gerakan berani bicara berarti ya.
Yes, betul banget. Hm.
Bisa jadi bapak-bapak berani bicara
karena bagaimana bicara ke istrinya
takut.
Oh,
berarti konteks bicara itu gimana ya,
Mas? Berarti konteks bicara itu
jadi konteks bicara itu bagaimana
berbicara berdasarkan fakta data, tidak
hanya berdasarkan asumsi. Karena banyak
orang ngomong cuma pakai asumsi persepsi
doang,
tapi enggak pakai data dan fakta.
Ya. Kedua, bicara yang penuh makna.
Jadi, bicara itu enggak yang
bertele-tele ngomong ngalor ngidul tapi
enggak ada meaningnya.
Heeh. Heeh. He.
Terus bagaimana berbicara tuh
terstruktur dari ngomongin why-nya,
whatnya, how toya, sehingga call to
action-nya kan begitu. Jadi ada
strukturnya ya kayak kita podcast ini
kan ada strukturnya.
Ini sebenarnya lagi berbicara secara
terstruktur.
Jadi kalau kalau saya amati dari yang
Mas Rahma jabarkan jadi bicara jadi
berat ya. Harus ada maknanya, harus dan
lain sebagainya.
Iya. Nah, biar enggak berat baca buku
saya
gitu ya,
kan begitu ya. Dan ngomongin soal kaos
nih, wah ini saya juga ada ini spesial
ini ya. Wuh.
Ini kaos ini spesial nyetak sebelum ke
sini. Ini khusus buat Mas Agem.
Terima kasih.
I ya ya.
Dapat bikisan teman-teman.
Yuk berani bicara
yuk berani bicara sama ini. Oh ini ada
lagi nih.
Ini size-nya pas Mas ini.
Benar ya. Saya sudah menebak ini. Ini
yang produk saya buat ngemil-ngemil ya.
Iya kan banyak produknya yang basah dan
yang kering.
Ini bisa dikirim-kirim? bisa dan ini
free gluten
ada juga di marketplace.
Marketplace ada. Kemudian bisa kirim dan
nitip beberapa tempat-tempat oleh-oleh
juga,
Teman-teman. Ini bisa nanti dicari di
nanti tak cantumin linknya.
Asik. Heeh.
Di Shopee ada?
Ada ada ada.
Oh iya. Nanti tak
dan ini cocok buat usia-usia sekita
karena gluten free, Mas.
Oh gluten free.
Iya seusia kita. Tua banget ya kesannya.
Kayaknya saya lebih mudah deh, Mas.
Walaupun secara rambut sama.
Kalau ini juga dijual juga ini.
Yes. Ee sekarang ini untuk kalangan
terbatas saya cuman ngasih-ngasih aja ke
teman-teman, kerabat, sahabat gitu kan
ya.
Oh, belum dijual umum.
Ee setelah ini kayaknya kepikiran untuk
dijual deh.
Dan ini menariknya gini, Mas. Saya itu
diajak kolaborasi dengan salah satu
pengusaha kaos di Jogja, orang kreatif
juga. Nah, Mas kita kolaborasi deh. Nah,
jadi ada apa namanya? Sedikit brandnya
di bagian belakang. Oh ini
iya
ini disebutin
yaak monggo silakan
brandnya yang pengusaha saati Elnos
Sablonas.
Waduh senang banget orangnya. Orangnya
senang banget. Iya karena dia punya
akademi sablon juga gitu ya. Ada juga ya
akadem.
Nah itu kan ada kata-katanya Mas.
Oh iya apa nih kata-katanya?
Heeh.
Bukan sekedar bersuara tapi menyampaikan
penuh makna dengan adab arah dan hati
yang bicara.
Masyaallah.
Bicara di sini berat ya.
Makanya biar enggak berat baca bukunya.
Baca bukunya. Ada bukunya, Mas. Nanti
ya. Ebook itu.
Dan apakah ada rencana untuk dijadikan
buku yang fisik begitu? Ee insyaallah
secepatnya kita juga akan cetak yang
versi hardbook-nya. Dan di hardbook-nya
ini nanti spesial karena saya akan
menambahkan cerita-cerita
tentang saya yang kasus di usir itu.
Tapi dari sudut pandang perspektif
komunikasi dan service.
W menarik. Nah, tapi kalau ebook-nya
bisa e klik di bio IG saya atau TikTok
saya itu bisa
ya. Nanti tak cantumin juga teman-teman
di
Thank you banget Mas.
Di sini ebooknya kalau mau beli.
Makasih banget loh Mas ya.
Sama-sama.
Oke Mas Rama
ee
bagaimana seorang pebisnis
bisa memanfaatkan hari ini
media yang serba viral
dengan
kaitannya dengan komunikasi atau bicara
itu, Mas. Oke. Kalau kita bicara
pebisnis itu kan pasti ada sosok siapa
orang di baliknya. He he.
Ada dua kategori. Pebisnis yang mau
tampil dan pebisnis yang tidak mau
tampil.
Oke.
Nah, masalahnya pebisnis yang tidak mau
tampil dia akan mengeluarkan biaya
marketing yang akan lebih besar.
H
karena sosok personal brandingnya enggak
muncul di situ, kan.
Nah, saya adalah sosok pebisnis yang
tampil.
Oke.
Ini akan lebih mudah mengeksekusi,
memviralkan sesuatu dan memarketingkan
bisnisnya. He.
Karena orang beli bisa jadi karena siapa
yang punya kan. He.
Nah, kan begitu. Jadi caranya adalah ya
kita buat hal-hal yang positif,
konten-konten yang edukatif, kemudian
yang organik.
He.
Dan kita bisa menyangkut isu-isu yang
lagi terkini, sosial begitu tapi tidak
menghujat.
Siap. Berarti ya kalau Mas Rama
menyarankan owner-owner, founder-founder
ini kalau mereka masih bisa tampil
dianjurkan untuk tampil begitu ya, Mas.
Benar. Benar banget. Kadang ada yang
bilang, "Ah, aku orangnya introvert, aku
orang yang tertutup." Sekarang eranya
kita harus tampil
karena bisa jadi tampilnya apa Nisnya
misalkan dia baik bey ya
sosok
orang yang dia bisa bagaimana sih
memberdayakan komunitas UMKM kalau buat
kue seperti ini
dia yang background-nya pendidikan tapi
punya usaha fashion bagaimana sih sudut
pandang ee pendidikan tapi kaitkannya
dengan fashion kayak Mas Agung kan juga
nih tampil sekarang
dulu pecah telur enggak tampil Mas Agung
iya
tampil ya kenapa ya enggak tampil dulu
saya malah mendeklarasikan enggak tampil
Mas nah sekarang menjadi tampil Bisa
jadi tampil karena ee ngerasa pengin
tampil atau tuntutan karena biaya
marketing makin mahal.
Ya, itu juga sih.
Dulu enggak boleh tampil sama tim
kreatif.
Dulu enggak layak enggak layak tampil.
Enggak layak tampil.
Ngomongin bakeri kita harus buka dulu
baker yang ini.
Masyaallah. I ini produknya Mas Rama.
Iya. Salah satu produk itu ya.
Ada banyak. Ada produk yang basah, yang
kering juga, yang dessert juga. H.
Wah, ini ini resep-resep memang dari
istri semuanya.
He. Tapi yang ngurusin ini lebih banyak
istri berarti, Mas, ya?
Ya. Ee
alhamdulillah ada tim. Kalau kalau
pembagian secara ee kuadrannya begini,
kalau istri itu lebih ke operasional dan
finance, saya lebih ke marketing dan
SDM,
otak kanan banget kan. Istri lebih ke
otak kiri.
Oke.
Nah, gitu. Oh, sampai dimakan langsung
nih ya. Masyaallah. Oh iya,
ini brownies kering.
Brownies kering. Brownie to go
yang gluten free
ya. Dan ini alhamdulillah kita
seperti ini, Guys, bentuknya, Guys.
Asik.
Tak ijip nanti kalau teman-teman ingin
bisa nanti langsung beli di link di
bawah.
Asik.
Atau bandling dengan produknya pecah
telur juga boleh.
I ya. Tanpa bahan pengawet, Mas. Fre
gluten
maksudnya free gluten itu adalah
He he.
Tapi manis juga kan?
Iya. Iya. Manis. Manis. Memang manis.
Artinya free gluten itu kan kadang
banyak orang yang alergi dengan ee apa
ya? Ee alergi dengan hal-hal yang
sifatnya tepung, kemudian bahan-bahan
yang sifatnya ini gitu kan ya.
Jadi ini cocok buat mungkin usia-usia
yang dia alergi dengan sesuatu.
Kayak tepungnya juga itu sudah dipilih
tepung yang enggak ada glutennya.
Iya. Iya. Terus ee
kalau manis berarti manisnya dari apa?
Kalau manis tetap ada dari dark
coklatnya.
Oh, dari cokelatnya.
Iya, dari dark coklat. Karena coklatnya
kan coklat asli ya, jadi brownies gitu
kan.
Menarik menarik.
Iya. Ya, Mas.
Teman-teman ini cemilan sehat. Harganya
berapa, Mas? Segini Mas
harganya ee harga user reseller atau
harga marketplace?
Harga user.
Yes. Harganya Rp20.000, Mas.
Oh, Rp20.000.
Rp20.000. Kemudian itu ada story-nya
kenapa kok ee ada beberapa kota-kota di
dunia kan. Mana, Mas?
Ini yang di depan.
Oh, gimana nih?
Ini ni gimana?
Tas mahal.
Hmm. Mana Tac Mahal?
I ini.
Oh, ini.
Iya, Tas Mahal bukan Masjid Agung ya itu
ya. Tac ya.
Tac karena ingin bangunin juga tashal
untuk istrinya.
Bisa aja ya, enggak kepikiran saya. Jadi
biar brownie to go, go internation lah.
Oh, oke.
Gitu. Enak dibawa ke mana aja, kapan
aja. Dan brownies kering anti boring. WS
mantap mantap mantap.
Iya. Iya iya iya. I thank you.
Ini kalau teman-teman ni juga ins nih
kalau bikin snack ada klippernya gini.
Jadi kalau setelah zipper ya
kalau setelah makan enggak habis tinggal
diginiin.
Ini udah proses packing desain berapa
kali Mas? Dulu malah masih stiker. Jadi
buat pelaku usaha kalau misalkan masih
susah ngedesain harus kemasan banyak
stiker dulu pun enggak apa-apa.
Siap siap
gitu.
Mas, kalau ada ee salah satu atau
beberapa penonton pecah telur yang ingin
mungkin didampingi oleh Mas Rama atau
mengundang Mas Rama sebagai speaker?
Yes.
Nah, seperti apa prosesnya?
Oke, bisa banget. Jadi ee bisa lihat di
Instagram saya atau di TikTok saya, di
Facebook saya ada linknya itu ada nomor
customer service,
nomor tim saya bisa di WA ke situ. Nanti
bisa ngobrol-ngobrol.
Kita biasanya ngomongin kebutuhannya. H
kadang orang tuh enggak sabar nanya yang
ditanya pertama apa, Mas?
Apa, Mas?
Harganya berapa?
Iya sih.
Iya iya
iya iya iya. Saya selalu nanya dulu.
Heeh. Kebutuhan
kebutuhannya apa? Ini apa, ini apa.
Biasanya kalau orang nanya harganya
berapa itu dia lagi cekak biasanya
duitnya.
Kalau kata teman saya kan orang yang
butuh apa? Dibimbing atau dimin. Pertama
yang dia ingin benar-benar ingin scale
up, inovasi
atau yang sedang di pinggir jurang.
Mungkin itu kategori yang ada yang
dipikir juga dipikir orang itu bukan
sedang benar-benar memikirkan untuk
scale apa? I iya iya. Benar benar benar
benar. Padahal kan dia naik kebutuhan
masalah uangnya berapa kalau bisnisnya
bertumbuh kan itu bisa sambil
dibicarakan. I
itu banyak cara kok.
Terima kasih Mas Rama sudah hadir di
sini.
Ee
closing statement dari Mas Rama untuk
penonton kita pecah telur.
Masyaallah saya happy banget Mas. Jadi
saya pernah baca itu kalau sesuatu e
kehidupan itu kita kan ada yang namanya
connecting dot ya.
Oke.
Kita itu suatu saat akan dipertemukan
dengan orang-orang yang satu frekuensi.
termasuk hari ini saya dipertemukan
kembali dengan Mas Agung karena mungkin
bisa jadi kita satu frekuensi atau kita
dikumpulkan dengan orang-orang yang
sama-sama baik insyaallah ya.
Dan poinnya adalah
hubungannya dengan bicara jangan takut
untuk berbicara
kalau Anda punya data,
punya fakta ya karena ketakutan itu
munculnya justru dari pikiran Anda.
Sebelum Anda ucapkan sudah takut duluan.
Tapi kalau Anda sudah ngomong itu kan
akan berbeda.
Tapi ingat, berbicaralah penuh makna,
penuh cara, dan pakai adab yang pasti.
Mantap.
Gitu.
Terima kasih Mas Rama. Ee sampai jumpa
di next episode, Teman-teman.
Ee kita tutup dulu. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Thank you, Mas Agung ya.
Sama-sama. Yeah.