Transcript
dldU7H3wk6c • Modal 200 ribu, Bikin Usaha Niat Bantu Ekonomi Suami, Tak Disangka Banjir Orderan
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0602_dldU7H3wk6c.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Ternyata kenapa usaha ini besar? Ada rezeki mereka di sini, Mas. Ketika saya memutuskan nambah karyawan baru, berarti ada rezeki baru di sini. Per harinya kalau musim hajatan lebih dari 1000 kotak, Mas. bahkan lebih 1.200 atau kalau isi di bawahnya itu bisa lebih. Istilahnya kita nerima uang bersih itu lebih dari R jutaan, Mas. Waktu itu kadang bisa lebih. [Musik] Kok enggak tahunya itu saya itu loh kok sangat kesulitan bayar bank yang waktu itu R juta lebih sedikit. Itu merasa kesulitan. Suami saya kerja, saya yo istilahnya tetap kerja di rumah ini ya. saya itu bayar tanggungan yang 1 juta itu tidak bisa padahal [Musik] asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Eh, saya Leni Diana Putri, pemilik dari usaha Pia Putri Blitar, Mas. Ibu rumah tangga dari dua anak. Lokasin sumber sanan kulon, Mas. Kabupaten Blitar. Berawal dari the power of kepepet ya yang kata bekennya seperti itu. Jadi 2010 saya menikah, setelah itu saya kecelakaan hebat, Mas. Ee tangan saya ini sempat cedera ya. Terus dalam waktu itu keadaan saya masih hamil anak saya yang pertama. Kemudian saya itu ee merasa kayak bahasanya anak sekarang itu gabut ya. Kulino dulunya kerja terus ee di rumah aja enggak ngapa-ngapain. Terus saya kebetulan ada keterampilan. Akhirnya waktu itu belum memikirkan buka usaha. Ya pokoknya bikin jajan aja dijual entah siapa nanti yang beli. Bahkan saya belum ada gambaran sampai ke sana. Kan memang patah ya sebelah sini. Ini enggak bisa ngapa-ngapain. Waktu itu dikuati dengan tangan kiri saya. Tapi berlanjut di anak saya umur sekitar 6 bulan. Alhamdulillah intine penginlah pengin bisa ngapa-ngapain lagi. Saya belajar naik sepedah motor lagi. Intinya saya enggak pengin ketergantungan kepada orang lain. Meskipun ada suami yang siap melayani saya. Cuman saya kan ya kasihan ya. Wis suami itu harus kerja. Ya. Terus nanti nek misal saya butuh apa-apa harus ngeladeni terus. Jadi akhirnya secara diam-diam saya itu belajar naik sepeda motor lagi. Awalnya di situ pakai. Iya nak tapi e nak tetap tangan kanan ee soalnya sudah lumayanlah dari 1 tahun kecelakaan itu sudah lumayan bisa dipakai kan ada platinannya berarti sudah mulai bisa sehatlah. Saya diam-diam belajar sepedah motor lagi. Kenapa saya ya itu saya pengin bangkit neh, Mas dari keterpurukan. Kebetulan saya itu kan dulu sekolahnya jurusan tataboga, Mas. Jadi dari dulu itu impian untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri itu sudah ada. Karena di SMK itu kan ada semacam pelajaran kewirausahaan. Tapi zaman dulu kan belum ada gambaran ya kita mau jualan apa, memulai dari mana. Karena apa? Daerah sini itu masih istilahnya minus. Minus dalam arti orang yang enggak suka jajan, belum jalan aspal. Gambaran jalan aspal belum ada. Saya belum ada kepikiran untuk memulai jualan apa. Enggu sopo itu kan istilahe urung pernah tak bayangkan waktu itu. Pasca kecelakaan. Heeh. Usaha pertama yang jenengan bikin apa? Usaha pertama saya bikin anu, Mas. Roti. Roti kayak bakeri yang dititipkan ke warung-warung. Sampean ada gambaran yang di warung kopi waktu itu eceran Rp1.000 kalau enggak salah. Lampu produksi berapa? Sehari itu 100. 100 bidiada sudah dari pagi sampai jam 12.00 malam. Iya. Ditandangi sendiri dan masih nyambi-nyambi ada anak kecil seperti itu. Soalnya sebelumnya saya sudah pernah nyoba kerja terus anak saya sakit akhirnya suamiku wis sabar dulu aja. Saya itu bukan enggak terimo dengan nafkah tapi saya ini gak bisa diam karena saya ada keterampilan. Ya, penginnya ini untuk memperbaiki taraf hidup kita nantinya. Harapannya waktu itu hidup enggak cuma butuh makan, Mas. Penginnya anaknya sekolah lebih baik dari orang tuanya. Kita bisa memberi tanpa mikir, tanpa mikir berapapun. Itu yang saya inginkan. Karena apa? Sejarah saya istilahnya orang-orang itu selalu memberi bantuan ke saya, saudara-saudara. Selalu saya itu seringnya menerima bantuan. Jadi saya pengin bisa memberi ke mereka tanpa mikir nilai lagi gitu loh, Mas. tanpa ngitung nilainya. [Musik] Ee memang saya sudah yatim dari kelas 6 SD. Jadi saya itu hidup sama ibu saja. Jadi kalau untuk biaya-biaya sekolah itu seringnya saya dapat bantuan dari saudara atau dari beasiswa dari sekolah itu kan membantu. Kalau sudah SMA itu saya masih sering ikut kerja partai, Mas. Jadi guru-guru saya itu mesti nawari saya mau kerja nanti pulang sekolah seperti itu. Jadi saya ingat jasa-jasa mereka itu saya makanya pengin ingin gantian nolong siapapun tanpa harus memikirkan nilai gitu loh. Tapi saya waktu itu ndak ada gambaran maksudnya aku ki dadi bakul opo? Yang membawa saya sampai ke sana itu yang mana? Itu saya belum ada pikiran sama sekali. Ee kenapa jadi bakul roti? Awalnya saya merasa ada keterampilan ke sana. Jadi saya pupuk aja. Saya itu nabung istilahnya ada tabungan yang saya waktu itu kerja saya belikan mixer waktu itu harganya R,5 juta. Saya ingat betul membeli R,5 juta itu wis pengpengan kocor kakarane ya. Saya pikir karena tangan saya ini cacat, kalau saya nak punya mixer ini saya akan repot nanti tangan saya sakit malah butuh biaya lebih. Jadi saya nekat membeli mixer saya pokoknya ngobrol-ngobrol sama suami, aku pengin kayak gini nanti tolong dibantu. Kebetulan suami basicnya sama. Jadi kita itu ngomong ngobrol itu nyambunglah dia yo bantu. Selain di waktu kerjanya dia ee ya bungkusi roti, bantu bikin adonan terus nanti kita nya itu ya bersamaan. Kadang saya sendiri kalau pas suami saya kerja kadang ya bareng-bareng kayak gitu. Jadi itu bertahan sampai 2 tahun. 2 tahun itu oleh opo, Mas? Oleh pengalaman. Sampai saya nekat buka kolam lele. Untuk apa? Sisa-sisa roti yang enggak habis tadi biar enggak kita tangisin, kita kasihkan ke lele. Jadi kan ada manfaat lain ya. Itu bertahan selama sekitar 2 tahun. Terus di 2 tahun itu kita nyoba-nyoba bikin kue kering, Mas. Kebetulan ada satu agen yang tertarik dengan produk kita roti kering itu. Sampean bisa bikinkan aku sekian ratus pisis. Saya langsung terkejut, Mas. Lah itu kebetulan kue kering itu buatkan adik saya mantan kalau enggak salah waktu itu dicari ke sini. Loh, Bu, saya ini bukan perusahaan loh, belum punya karyawan. Kayak gitu. Nah, ibunya bilang, "Enggak apa-apa, Mbak, kalau sampean bisa bikin, monggo. Gini aja, Mbak. Kalau memang sampean mau benar-benar bikin istilahnya saya DP dulu itu bisa sampean manfaatkan untuk pokoknya apa yang sampean butuhkan. Akhirnya saya nekat, Mas. Terus ee gini, "Mbak, nanti sampean enggak usah mikir istilahnya jualnya. Saya yang ngambilin daganganmu, saya yang jual karena pasar saya jauh. Sampean nanti tetap bisa jualan. Cuman istilahnya saya ambil dagangannya jenengan, saya bayar, saya enggak menyulitkan masalah permodalan saya. Intinya seperti itu, Mas. Dari situ alhamdulillah kita langsung istilahnya koy pengusaha karbitan Mas. Saya berani ambil tantangan dia gawe roti sekian banyak padahal aku ungek tenaga opo-opo. Akhirnya kita langsung ambil-ambil wong mbak sampean gelem kerjo ning mahku seperti itu. Sampai waktu itu kita ngerekrut 20 orang Mas bertahap tapi dalam cuman event lebaran gitu. kita ambil 20 orang itu langsung kerja sama kita. Padahal kita urung iso mengelola uongi piye itu kan belum. Cuman kita target kita memenuhi kebutuhan ibu tadi. Dari situ kita mikir kita itu kerjo sing model 3 atau 4 bulan saja karena kue-ku itu kan hanya momentum. nyapo kok awake dewe i enggak ada kepikiran untuk membuat usaha lain yang tetap iso memberdayakan mbakmak ini setiap hari enggak hanya musiman. Karena kita kalau hanya musiman kan nyari tenaganya sulit, Mas. nanti ngambali lagi istilahnya seperti itu. Akhirnya kita yo nyoba-nyoba bikin keripik, bikin keripik singkong, bikin apalah wis pokoke sembuh kalir dilakoni. Nah, ternyata di tahun ketiga kayaknya mungkin ibu ini sudah ganti usaha lain ya. Jadi kue saya itu sudah tidak dipasarkan oleh beliau. kita tahun 2016 itu sudah mulai ada ide bikin pia. Jadi ini tadi sudah nyoba-nyoba usaha selama lebih dari beberapa usaha selama 4 tahun. Di 2016 itu suami saya kan kerjanya di Kediri waktu itu. Kalau dapat hajatan itu oleh-olehnya pia. Nah, jadi aku nerjemahne dewe di sini belum ada. Terus saya kebetulan suka makan pia itu dari kecil. Jadi wis akhirnya kita nyopo yo kok awake dewe ii enggak bikin seperti ini aja yang bisa ekonomis yang bisa kita produkkan setiap hari kalau kayak kue kering kan nanti jatuhnya cuma momentum pas lebaran aja. Akhirnya di tahun 2016 itu, nah istilahnya kita nerima uang bersih itu lebih dari R jutaan, Mas. Waktu itu par momentum lebaran itu ya kadang bisa lebih. Akhirnya kita berani ambil bank itu untuk membeli peralatan, upgrade peralatan-peralatan dan ternyata tidak sesuai dengan gambaran kita. Apa yang terjadi? Itu itu tadi, Mas. Kok enggak tahunya itu saya itu loh kok sangat kesulitan bayar bank yang waktu itu R juta lebih sedikit itu merasa kesulitan? Iya. Itu Mas suami saya kerja saya yo istilahnya tetap kerja di rumah ini ya. Saya itu bayar tanggungan yang 1 juta itu tidak bisa. Padahal setiap saat itu kan tetap ada pemasukan. Suami saya kerja, ini kerja, ada aja, anak saya sakit, ini pokoknya ada aja di tahun-tahun itu ada aja. Sampai saya langsung, "Kenapa ya? Apa ya yang salah dari kita? Kita harus nandani moco kita metani awak kita. Kenapa? Apakah awake dewe ii dengan kepongahan duwe duit semene bertindak yang grusa-grusu terus akhirnya uang ini ndak berkah kita punya uang sekian itu bahkan kendaraan pun terbel mobil ini cuma terbeli itu loh Mas rumah yo belum punya padahal kita homeset itu tak hitung wis punjul-punjul dari itu. Waktu di tahun yang saya benar-benar merasa lelah itu ya itu saya kesulitan bayar bank. kita ngerasa apa yang kita jalankan selama ini opo kurang mkai apa terlalu pongah seperti itu. Jadi kita akhirnya meraba [Musik] terus saya bilang gini ya saya minta uang Rp200.000 R ini beneran, Mas. Rp200.000 beneran. Karena sudah saya ngerasa kasihan suami nanti kalau harus bayar cicilan waktu itu 1 juta lebih sedikit. Tapi rasane wis serendak umum, Mas. Tiap mau gajian, tiap mau jatuh tempo itu mesti aku nangis. A ya Allah ya opo aku kudu lungo ning luar negeri yo untuk ngelunasi utang-utang. Nanti kita bisa bangun rumah memulai usaha lagi. Terus suamiku bilang, "Ora usah nek sampeyan lungo, aku pulang neng omahe wong tuaku. Maksud ndak di sini kan suami di sini kan rumah orang tua saya, Mas itu." Terus saya mikir lihat loyang, lihat peralatan kok sayang yo tak jarni selama kurang lebih 1 tahun saya hamil sampai anak saya usia 6 bulan. Akhire yo wis muga-mugo ini uang keringate sampiki insyaallah barokah. iki mau duit halal kulo kan ngoten. Terus nanti tolong dibantu ini kita dari dulu usaha ini Bapak dikerjakan bersama. Nanti suatu saat kalau usaha ini sudah settle, sudah bisa saya kira sudah bisa menghidupi keluarga kita, sampean pulang. Usaha ini dikelola bareng-bareng, kita besarkan bersama. Orang tua yo diopeni bareng-bareng insyaallah cukup. waktu itu bikin pihak itu pokoknya setiap hari itu 20 kotak. Ada yang beli atau tidak, saya tetap bikin pia kacang hijau ini 20 kotak. Jadi uang Rp200.000 Ibu itu pokoknya saya ndak mau ditambahi saya iki sampean enggak usah nambahi aku bun sebelum ini berhasil jadi apa-apa pokoknya saya nak mau uang ini ditambahi. Alhamdulillah ke ketika kita memulai memberanikan diri masuk ke grup-grup Facebook Mas waktu itu kita mulai melek media sosial tahun 2016 itu kita masuk ke grup-grup grup jual beli di Blitar lah. Wis kita enggak usah jauh-jauh dulu wis neng Blitar ae nanti kita nganu ya ngantar-ngantar ke rumah-rumah. Lah alhamdulillah dengan itu, Mas kita sadar ke situ. Dulu kita enggak nganggap, Mas Facebook enggak pernah ke situ. Ya nanti kalau sampean libur kerja, kebetulan suami itu Senin, Selasa, Rabu itu di rumah. Di 3 hari itu kita malamnya bikin, paginya wither. Kita sistem waktu itu kerennya jenenge COD. COD, Mas. Kita bawa meskipun 20 kotak anggaplah satu orang kita ongkir 7.000* 20 orang kok oleh kita sudah dapat ijol bensin lah Rp10.000 kotak itu dijual berapa waktu itu? Waktu itu masih Rp8.000 Mas. Kita pokoknya belum berani membuat dari lebih dari 20 kotak. Kita meredak itu sisanya kan ada bahan. Intine kalau hari ini setelah jualan belanja lagi. Nah, kita batin di bahan itu bahan nambah terus. Nah, kayak gitu. Setelah meli dari 20 dapat pesanan berapa? Dari 20 satu kali saya langsung dapat pesanan 1000 kotak, Mas. Nah, itu saya seperti ngimpi juga 1000 kotak itu. Jadi, kita akhirnya mikir branding kemasan dari itu. Saya mau nolak ngibuk itu ya seperti wis toh mbak sampean aman naik sampean bisa cetak kemasan nanti saya DP. akhirnya sama ibu di DP. Itu yang buat saya nyetak brand Pia Putri sampai sekarang, Mas. Jadi, saya cetak pertama itu 2.000 kotak. Karena tadi di awal usaha ini saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri untuk tidak hutang-hutang besar dulu untuk dikecilkan, tapi uang kecil ini insyaallah akan saya besarkan. Jadi untuk pinjam modal untuk cetak kadus pun itu saya ndak berani. Terus sama ibu tadi di Ya Allah Bu alhamdulillah jenengan nolungi kulo saya pun masih ingat sama ibu sampai sekarang. Akhirnya kita nyetak kemasan itu dalam pikiran kita. Nanti kalau kita sudah brand, punya brand Pia Putri, otomatis kita sudah promosi ke 1000 kotak tadi. Jadi kita nekat aja, Mas. Takut itu belum, Mas. Belum lunas. Jadi kan saya berangkatnya benar-benar dari minus tadi. Tapi dalam hati saya juga sudah ngomong sama suami, sudah petung intine saya enggak mau seperti dulu. Duit gede dicilikne kita enggak hati-hati. Tapi saya penginnya duit cilik ini digedekne. Dalam arti kalau kita pengin sesuatu harus nabung pia ini biar beli peralatannya sendiri. Kalau dia butuh peralatan dia nanti biar bisa beli peralatannya sendiri. Dan alhamdulillah itu semua sudah terwujud. Masak ini sudah bisa beli peralatannya sendiri dan bahkan bisa melunasi. Alhamdulillah di tahun pertama di tahun pertama target saya pokoknya lunas. utang iki saya ndak mau menikmati hasilnya selain lunasi utang sama nambah modal bahan. Jadi dulu belanja kita awalnya Rp200.000, alhamdulillah sekarang di tahun ke-8 ini belanjaan saya sudah di Rp25 juta, Mas, per minggu. Itu kan untuk biaya yang diproduksi aja belum kardusnya. Jadi kan dulu kita per hari Rp200.000 Ibu katakanlah seminggu sekitar R1 juta. Sekarang seminggu alhamdulillah belanjaan kami sudah Iya 25 itu dan itu pun murni dari uang hasil ngumpulkan keuntungan kami yang sedikit-sedikit. Jadi enggak langsung kita bisa mendatangkan belanjaan dengan harga sekian dulu ya R juta R juta terus kita nambahi terus ampre istilahe pokok intinya bun sampai katut. Satu hal yang pertama dulu mindset kami kalau enggak utang enggak duwe sekarang harus nabung dulu kalau untuk mau beli sesuatu insyaallah nanti tetap dimudahkan kalau kita punya keinginan misal dulu masih produksi ngublek pakai mixer rakitan oven gas ketika kita mikir sekarang gasnya langka gasnya sulit saya mikir aku yo pengin ya oven yang pakai oven deck yang gasnya lebih irit. Kita enggak pernah bayangkan 1 unit R5 jutaan, Mas. Tapi alhamdulillah pelan-pelan kebeli. Kita enggak langsung langsung dua tekan beli gak. Pokoknya sesuai kebutuhan. Butuh kita beli. Kalau kita punya uang beli. Kalau enggak yo wis ditahan dulu. Nabung dulu. Beli tanah, beli mobil nabung dulu. Iya insyaallah ngoten Mas. Dan alhamdulillah tercapai ngoten, Mas. Alhamdulillah. Dari usaha pi eng mas. Kita bikin rumah pun ya sampean bayangkan saya punya modal uang R10 juta dulu. Uang saya dipinjam teman saya R10 juta. Terus saya bilang sama suami, "Ya, jadi saya bikin piak ini kan belum punya rumah. Ini tolong dibelikan bahan bangunan, entah itu batu atau apa, enggak usah diwih-wih uang ini. Insyaallah nanti dia akan dapat teman-temannya." Alhamdulillah itu yo diijabahi, Mas. Kalau kita sungguh-sungguh kita sabar diijabahi, enggak nyangka saya bisa bikin rumah dari R10 juta itu tadi. Dan saya itu orangnya sama suami enggak ngoyo. Misal nanti belum bisa ngeramik, yo wis pokoke omah ngadek di tempat. Alhamdulillah kita bilang begitu itu malah loh ternyata kok ada aja loh. Kok cukup buat ngeramik loh kok cukup buat lah. Kita enggak pernah bayangkan yang sebelumnya. Jadi entah itu kebetulan atau karena kita nerimo yo enggak tahu ya Mas ya. [Musik] per harinya kalau musim hajatan lebih dari 1000 kotak, Mas. Bahkan lebih 1.200 atau kalau isi di bawahnya itu bisa lebih. Kalau untuk hari-hari minimal 300 sampai 500 masih mampu. Kadang ya ada yang bilang gini, "Sampean opo untung toh, Mbak jualan sekian kacang hijau harganya sekian nganu sekian kayak gitu. Saya itu ndak mau main-main, Mas. Kalau misalnya gula ya gula asli. Karena apa? Anak saya makan, saudara-saudara makan. Kalau ini nak aman kan yo kita malah rugi sendiri. Kacang hijau pun mesti saya pakai yang bagus untuk tepung. Insyaallah kualitas juga bagus. Jenengan sade pinten toh, Bu? Rp3.000, Mas. Isinya 10 biji. Jadi kepotong kemasan kayaknya R.200 ya per bijinya ng isi 8 Rp1.000. Selama ini selama kita bikin pia ini sudah mengalami beberapa kenaikan bahan. Awalnya terigu. Terigu dulu awal jualan itu masih sekilonya kalau enggak salah Rp6.000 sudah pernah melonjak ke harga Rp20.000. minyak. Kita pernah mengalami kesulitan minyak dua atau 3 tahun yang lalu ya. Dengan bahannya sulit didapat, harganya dua kali lipat, gula pernah Rp20.000 juga. Itu kan padahal ini semua bahan pokok kita bagaimana kita padahal seminggu kita nomboknya itu kadang lebih dari Rp3 juta, Mas. Kita menyikapinya kayak gini, Mas. Ndak bisa ya kayak konsumen itu langsung kita ngel titik-titik naik, titik-tditik naik. Kita pelajari aja dulu. kita bertahan sampai di bulan ke berapa. Kalau memang kita benar-benar enggak kuat, kita harus naik. Kita enggak mau istilahnya grusa-grusu kok gula langsung Rp20.000 kita naikkan. Padahal gula Rp20.000 per kilo ini kan gak terus. Mungkin pas event mau menjelang lebaran. Kalau kita masih bisa mentoleransi sampai di dua atau 3 bulan ke depan kita wis main aman aja lah istilahnya subsidi silang. Karena kita kan ngambilnya bahan kan enggak sedikit, jadi dapatnya harga mungkin lebih murah. Kita enggak langsung serta-merta naikkan. Dan kalau misalnya ada kenaikan bahan, kita pun juga enggak nurunkan kualitas. Nanti kalau memang benar-benar enggak bisa bertahan dengan harga itu, kita nombok terus, otomatis kita naikkan harga jual. Terus alhamdulillah kayak untuk pesanan itu setiap hari datang, Mas. Lah itu pun sejak dari awal jualan seperti enggak pernah terpikirkan dalam doa saya. Ya Allah mugi-mugi tetap panggah enten pesenan rezeki lumintu semua tetap bisa kerja pas COVID malah enggak ada bayangan besok mau kerja mau saya liburkan, Mbak-mbak jam 11.00 Malam ada telepon, "Mbak, sesok saya pesan pi 250 kotak." Itu saya nangis, "Mas, aku arepe wa cahcahe enggak tego kok arepe tak liburne kok seperti aku butuhku tok." Yo, intine saya terus kita enggak boleh mengkhawatirkan rezeki kita sesok-sesok. Asal kita berusaha entah jolo sing endi toh sing awake tebar awake dewe tebar mah sing nyangkut sing endi kita enggak akan pernah tahu ketika kita menerima pesanan 1000 kotak 1200 entah jala kita yang mana, entah doa-doa yang mana, doa orang tua kita, kita enggak usah khawatirkan rezeki ternyata wis ono sing ngatur meskipun ada pesaing, ada usaha sejenis itu sebenarnya enggak usah mengkhawatirkan kita selama kita mutu dipertahan. kan kalau bisa diperbaiki semua diperbaiki kita jalan sesuai rilnya ee hubungan dengan keluarga orang tua kita perbaiki kita semua diperbaiki istilahnya hak-haknya orang-orang yang ada di bagian dari kita kita tunaikan. Wis saya percaya gitu aja, Mas. Dulu risau 2 hari lagi ndak ada jadwal itu saya wis behok cah-cah mosok pray ya saya beri wis toh insyaallah sesok mas kadang ini jadwal saya bulan Oktober September kayaknya kosong melompong gak ada dulu saya merisaukan Mas seperti itu. Wis pasrah ae wis penting kita berusaha yo dongo tebar jala tebar jala dalam arti kita promo ke mana itu sing endi sing nyantol kita enggak tahu toh Mas enggak usah merisaukan lah [Musik] ternyata kenapa usaha ini besar Ada rezeki mereka di sini, Mas. Ketika saya memutuskan nambah karyawan baru, berarti ada rezeki baru di sini. Itu dulu yang saya takutkan. Aku khawatir enggak iso bayari, Mas. Terus terang mau nambah karyawan itu mesti saya mikir, iso enggak aku eng bayari karyawan yang support suami saya. Wis toh iso-iso setiap orang itu bawa rezekinya masing-masing. Sampean tambah karyawan berarti ada tambah rezeki di sini. nya sekarang ada 15 hampir 20 orang ee yang 15 ini tetap yang lima orang ini kalau pas istilahnya di big season-nya ya kalau pas kita musim hajatan kan kita butuh tenaga tambahan seperti itu kita memutuskan untuk ambil karyawan intine kalau kita mau besar berarti kita harus mendelegasikan tugas tugas yang kita itu bisa delegasikan kalau masalah konsumen biasanya masih saya yang pegang Mas kerja atau sudah resign? Nopo sampun resign Mas. Saya yang minta ini kan dari awal kan tadi saya sudah cerita jenengan ya kalau ini sudah settle sampean pulang. Waktu itu umur terakhir kerja sampean kudu umur 35 tahun. Kenapa? Semakin sampeyan habis pikiranmu di orang, waktune awake dewe, mikir awake dewe wis entek sudah capek, kesel anak sudahs sudah makin besar. Saya butuh bapake sing ngejak ning langgar ning masjid. Saya kalau harus ngandel ke sana kemari enggak bisa toh, Mas. Misal Jumat ayahe kerjo terus enggak ada anak saya enggak ada yang ngajak jumatan wayahe magrib ora enek sing ngejak ning langgar lah itu saya jadi terbebani. Kamu di sana cari uang, saya di sini cari uang. Lah terus anake eng keteteran. Pulang saja insyaallah keranmu yang di sana sama Gusti Allah diparak ni ke sini. Itu alhamdulillah kenyataan, Mas. Kalau mau jadi wirausaha mesti ada banyak waktu yang dikorbankan juga sebenarnya. Meskipun kita di rumah ini mesti banyak juga waktu anak-anak yang kesita. Cuman saya juga manusia, Mas. Enggak iso sempurna. Nek pengine dulu jadi ibu rumah tangga sing diladeni, sing kita mau apapun terpenuhi. Tapi kenyataannya saya berpikir, "Oh, memang saya ditakdirkan seperti ini." Kita hidup itu juga harus saling tolong-menolong. Bagaimana mengajak ibu-ibu produktif di sekitar saya membantu perputaran ekonomi di rumah. Enggak hanya diam di rumah, nyekrol-nyekrol HP neng kene istilahe ngobrol karo tonggone, tapi menghasilkan. Nah, gitu, Mas. Kalau disuruh memilih penginnya kok jadi ibu rumah tangga. Tapi ndak seperti itu juga. Karena ini kan dulu juga kemauan saya. Saya enggak bisa diam karena saya merasa aku enek keterampilan nyapo kok mek meneng ae. Tapi di samping itu sebenarnya waktu anak-anak itu juga sebenarnya ada banyak yang berkurang. Fokus saya otomatis kan fokus ke sini, fokus ke sana. Tapi sekarang alhamdulillah kalau sudah autopilot kayak gini saya sudah enggak ngurusi oven. sudah enggak ngurusiwelu adonan sendiri. Cuman pikiran saya kan sekarang tinggal promosi aja, Mas. Alhamdulillah sudah di kalau mau disuruh milih yo milih ibu rumah tangga sing diladeni Mas [Musik] pernah takut untuk memulai. Ternyata tidak banyak rupiah yang kita butuhkan, tapi banyak keberanian Mas, yang kita butuhkan. Kalau kita mau keluar dari zona nyaman seperti yang saya bilangkan tadi, tidak banyak rupiah yang kita butuhkan dari R00.000 saya yang saya bilangkan tadi, akhirnya bisa menutup semua utang, bisa membeli semua keinginan saya. Jadi yang dibesarkan itu berarti kemauannya, keberaniannya. Lek rupiahe masih bisa ditoleransi lah. Kita masih bisa bersikap ndak melulu. Butuh modal gede. Aku pengin memulai usaha dengan justru kalau kita sudah punya modal banyak akhirnya kita enggak hati-hati. Menurut saya sih ya seperti itu. Jangan pernah takut memulai. Apalagi untuk anak-anak muda sekarang yang ada banyak kemudahan komputerisasi sembarang lebih dari saya. Seharusnya semangatnya luwih-luwih itu, Mas. Terakhir saya Leni Diana Putri owner dari Pia Putri Blitar alamat Desa Sumber Sanan Kulon Kabupaten Blitar. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik]