Transcript
dldU7H3wk6c • Modal 200 ribu, Bikin Usaha Niat Bantu Ekonomi Suami, Tak Disangka Banjir Orderan
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0602_dldU7H3wk6c.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Ternyata kenapa usaha ini besar? Ada
rezeki mereka di sini, Mas. Ketika saya
memutuskan nambah karyawan baru, berarti
ada rezeki baru di sini.
Per harinya kalau musim hajatan lebih
dari 1000 kotak, Mas. bahkan lebih 1.200
atau kalau isi di bawahnya itu bisa
lebih. Istilahnya kita nerima uang
bersih itu lebih dari R jutaan, Mas.
Waktu itu kadang bisa lebih.
[Musik]
Kok enggak tahunya itu saya itu loh kok
sangat kesulitan bayar bank yang waktu
itu R juta lebih sedikit. Itu merasa
kesulitan. Suami saya kerja, saya yo
istilahnya tetap kerja di rumah ini ya.
saya itu bayar tanggungan yang 1 juta
itu tidak bisa padahal
[Musik]
asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Eh, saya Leni Diana Putri,
pemilik dari usaha Pia Putri Blitar,
Mas. Ibu rumah tangga dari dua anak.
Lokasin sumber sanan kulon, Mas.
Kabupaten Blitar. Berawal dari the power
of kepepet ya yang kata bekennya seperti
itu. Jadi 2010 saya menikah, setelah itu
saya kecelakaan hebat, Mas. Ee tangan
saya ini sempat cedera ya. Terus dalam
waktu itu keadaan saya masih hamil anak
saya yang pertama. Kemudian saya itu ee
merasa kayak bahasanya anak sekarang itu
gabut ya. Kulino dulunya kerja terus ee
di rumah aja enggak ngapa-ngapain. Terus
saya kebetulan ada keterampilan.
Akhirnya waktu itu belum memikirkan buka
usaha. Ya pokoknya bikin jajan aja
dijual entah siapa nanti yang beli.
Bahkan saya belum ada gambaran sampai ke
sana. Kan memang patah ya sebelah sini.
Ini enggak bisa ngapa-ngapain. Waktu itu
dikuati dengan tangan kiri saya. Tapi
berlanjut di anak saya umur sekitar 6
bulan. Alhamdulillah intine penginlah
pengin bisa ngapa-ngapain lagi. Saya
belajar naik sepedah motor lagi. Intinya
saya enggak pengin ketergantungan kepada
orang lain. Meskipun ada suami yang siap
melayani saya. Cuman saya kan ya kasihan
ya. Wis suami itu harus kerja. Ya. Terus
nanti nek misal saya butuh apa-apa harus
ngeladeni terus. Jadi akhirnya secara
diam-diam saya itu belajar naik sepeda
motor lagi. Awalnya di situ
pakai.
Iya nak tapi e nak tetap tangan kanan ee
soalnya sudah lumayanlah dari 1 tahun
kecelakaan itu sudah lumayan bisa
dipakai kan ada platinannya berarti
sudah mulai bisa sehatlah. Saya
diam-diam belajar sepedah motor lagi.
Kenapa saya ya itu saya pengin bangkit
neh, Mas
dari keterpurukan.
Kebetulan saya itu kan dulu sekolahnya
jurusan tataboga, Mas. Jadi dari dulu
itu impian untuk membuka lapangan
pekerjaan sendiri itu sudah ada. Karena
di SMK itu kan ada semacam pelajaran
kewirausahaan. Tapi zaman dulu kan belum
ada gambaran ya kita mau jualan apa,
memulai dari mana. Karena apa? Daerah
sini itu masih istilahnya minus. Minus
dalam arti orang yang enggak suka jajan,
belum jalan aspal. Gambaran jalan aspal
belum ada.
Saya belum ada kepikiran untuk memulai
jualan apa. Enggu sopo itu kan istilahe
urung pernah tak bayangkan waktu itu.
Pasca kecelakaan.
Heeh.
Usaha pertama yang jenengan bikin apa?
Usaha pertama saya bikin anu, Mas. Roti.
Roti kayak bakeri yang dititipkan ke
warung-warung. Sampean ada gambaran yang
di warung kopi waktu itu eceran Rp1.000
kalau enggak salah.
Lampu produksi berapa?
Sehari itu 100. 100 bidiada sudah dari
pagi sampai jam 12.00 malam. Iya.
Ditandangi sendiri dan masih
nyambi-nyambi ada anak kecil seperti
itu. Soalnya sebelumnya saya sudah
pernah nyoba kerja terus anak saya sakit
akhirnya suamiku wis sabar dulu aja.
Saya itu bukan enggak terimo dengan
nafkah tapi saya ini gak bisa diam
karena saya ada keterampilan. Ya,
penginnya ini untuk memperbaiki taraf
hidup kita nantinya. Harapannya waktu
itu hidup enggak cuma butuh makan, Mas.
Penginnya anaknya sekolah lebih baik
dari orang tuanya. Kita bisa memberi
tanpa mikir, tanpa mikir berapapun. Itu
yang saya inginkan. Karena apa? Sejarah
saya istilahnya orang-orang itu selalu
memberi bantuan ke saya,
saudara-saudara.
Selalu saya itu seringnya menerima
bantuan. Jadi saya pengin bisa memberi
ke mereka tanpa mikir nilai lagi gitu
loh, Mas. tanpa ngitung nilainya.
[Musik]
Ee
memang
saya sudah yatim dari kelas 6 SD. Jadi
saya itu hidup sama ibu saja. Jadi kalau
untuk biaya-biaya sekolah itu seringnya
saya dapat bantuan dari saudara atau
dari beasiswa dari sekolah itu kan
membantu. Kalau sudah SMA itu saya masih
sering ikut kerja partai, Mas.
Jadi guru-guru saya itu mesti nawari
saya mau kerja nanti pulang sekolah
seperti itu. Jadi saya ingat jasa-jasa
mereka itu saya makanya pengin ingin
gantian nolong siapapun tanpa harus
memikirkan nilai gitu loh. Tapi saya
waktu itu ndak ada gambaran maksudnya
aku ki dadi bakul opo? Yang membawa saya
sampai ke sana itu yang mana? Itu saya
belum ada pikiran sama sekali. Ee kenapa
jadi bakul roti? Awalnya saya merasa ada
keterampilan ke sana. Jadi saya pupuk
aja. Saya itu nabung istilahnya ada
tabungan yang saya waktu itu kerja saya
belikan mixer waktu itu harganya R,5
juta. Saya ingat betul membeli R,5 juta
itu wis pengpengan kocor kakarane ya.
Saya pikir karena tangan saya ini cacat,
kalau saya nak punya mixer ini saya akan
repot nanti tangan saya sakit malah
butuh biaya lebih. Jadi saya nekat
membeli mixer saya pokoknya
ngobrol-ngobrol sama suami, aku pengin
kayak gini nanti tolong dibantu.
Kebetulan suami basicnya sama. Jadi kita
itu ngomong ngobrol itu nyambunglah dia
yo bantu. Selain di waktu kerjanya dia
ee ya bungkusi roti, bantu bikin adonan
terus nanti kita nya itu ya bersamaan.
Kadang saya sendiri kalau pas suami saya
kerja kadang ya bareng-bareng kayak
gitu. Jadi itu bertahan sampai 2 tahun.
2 tahun itu oleh opo, Mas? Oleh
pengalaman.
Sampai saya nekat buka kolam lele. Untuk
apa? Sisa-sisa roti yang enggak habis
tadi biar enggak kita tangisin, kita
kasihkan ke lele. Jadi kan ada manfaat
lain ya. Itu bertahan selama sekitar 2
tahun. Terus di 2 tahun itu kita
nyoba-nyoba bikin kue kering, Mas.
Kebetulan ada satu agen yang tertarik
dengan produk kita roti kering itu.
Sampean bisa bikinkan aku sekian ratus
pisis. Saya langsung terkejut, Mas. Lah
itu kebetulan kue kering itu buatkan
adik saya mantan kalau enggak salah
waktu itu dicari ke sini. Loh, Bu, saya
ini bukan perusahaan loh, belum punya
karyawan. Kayak gitu. Nah, ibunya
bilang, "Enggak apa-apa, Mbak, kalau
sampean bisa bikin, monggo. Gini aja,
Mbak. Kalau memang sampean mau
benar-benar bikin istilahnya saya DP
dulu itu bisa sampean manfaatkan untuk
pokoknya apa yang sampean butuhkan.
Akhirnya saya nekat, Mas. Terus ee gini,
"Mbak, nanti sampean enggak usah mikir
istilahnya jualnya. Saya yang ngambilin
daganganmu, saya yang jual karena pasar
saya jauh. Sampean nanti tetap bisa
jualan. Cuman istilahnya saya ambil
dagangannya jenengan, saya bayar, saya
enggak menyulitkan masalah permodalan
saya. Intinya seperti itu, Mas.
Dari situ alhamdulillah kita langsung
istilahnya koy pengusaha karbitan Mas.
Saya berani ambil tantangan dia gawe
roti sekian banyak padahal aku ungek
tenaga opo-opo. Akhirnya kita langsung
ambil-ambil wong mbak sampean gelem
kerjo ning mahku seperti itu. Sampai
waktu itu kita ngerekrut 20 orang Mas
bertahap tapi dalam cuman event lebaran
gitu. kita ambil 20 orang itu langsung
kerja sama kita. Padahal kita urung iso
mengelola uongi piye itu kan belum.
Cuman kita target kita memenuhi
kebutuhan ibu tadi. Dari situ kita mikir
kita itu kerjo sing model 3 atau 4 bulan
saja karena kue-ku itu kan hanya
momentum. nyapo kok awake dewe i enggak
ada kepikiran untuk membuat usaha lain
yang tetap iso memberdayakan mbakmak ini
setiap hari enggak hanya musiman. Karena
kita kalau hanya musiman kan nyari
tenaganya sulit, Mas. nanti ngambali
lagi istilahnya seperti itu. Akhirnya
kita yo nyoba-nyoba bikin keripik, bikin
keripik singkong, bikin apalah wis
pokoke sembuh kalir dilakoni. Nah,
ternyata di tahun ketiga kayaknya
mungkin ibu ini sudah ganti usaha lain
ya. Jadi kue saya itu sudah tidak
dipasarkan oleh beliau. kita tahun 2016
itu sudah mulai ada ide bikin pia. Jadi
ini tadi sudah nyoba-nyoba usaha selama
lebih dari beberapa usaha selama 4
tahun. Di 2016 itu suami saya kan
kerjanya di Kediri waktu itu. Kalau
dapat hajatan itu oleh-olehnya pia. Nah,
jadi aku nerjemahne dewe di sini belum
ada. Terus saya kebetulan suka makan pia
itu dari kecil. Jadi wis akhirnya kita
nyopo yo kok awake dewe ii enggak bikin
seperti ini aja yang bisa ekonomis yang
bisa kita produkkan setiap hari kalau
kayak kue kering kan nanti jatuhnya cuma
momentum pas lebaran aja. Akhirnya di
tahun 2016 itu,
nah istilahnya kita nerima uang bersih
itu lebih dari R jutaan, Mas. Waktu itu
par momentum lebaran itu ya kadang bisa
lebih. Akhirnya kita berani ambil bank
itu untuk membeli peralatan, upgrade
peralatan-peralatan dan ternyata
tidak sesuai dengan gambaran kita.
Apa yang terjadi?
Itu itu tadi, Mas. Kok enggak tahunya
itu saya itu loh kok sangat kesulitan
bayar bank yang waktu itu R juta lebih
sedikit itu merasa kesulitan?
Iya. Itu Mas suami saya kerja saya yo
istilahnya tetap kerja di rumah ini ya.
Saya itu bayar tanggungan yang 1 juta
itu tidak bisa. Padahal setiap saat itu
kan tetap ada pemasukan. Suami saya
kerja, ini kerja, ada aja, anak saya
sakit, ini pokoknya ada aja di
tahun-tahun itu ada aja. Sampai saya
langsung, "Kenapa ya? Apa ya yang salah
dari kita? Kita harus nandani moco kita
metani awak kita. Kenapa? Apakah awake
dewe ii dengan kepongahan duwe duit
semene bertindak yang grusa-grusu terus
akhirnya uang ini ndak berkah kita punya
uang sekian itu bahkan kendaraan pun
terbel mobil ini cuma terbeli itu loh
Mas rumah yo belum punya padahal kita
homeset itu tak hitung wis punjul-punjul
dari itu. Waktu di tahun yang saya
benar-benar merasa lelah itu ya itu saya
kesulitan bayar bank. kita ngerasa apa
yang kita jalankan selama ini opo kurang
mkai apa terlalu pongah seperti itu.
Jadi kita akhirnya meraba
[Musik]
terus saya bilang gini ya saya minta
uang Rp200.000 R ini beneran, Mas.
Rp200.000 beneran. Karena sudah saya
ngerasa kasihan suami nanti kalau harus
bayar cicilan waktu itu 1 juta lebih
sedikit. Tapi rasane wis serendak umum,
Mas. Tiap mau gajian, tiap mau jatuh
tempo itu mesti aku nangis. A ya Allah
ya opo aku kudu lungo ning luar negeri
yo untuk ngelunasi utang-utang. Nanti
kita bisa bangun rumah memulai usaha
lagi. Terus suamiku bilang, "Ora usah
nek sampeyan lungo, aku pulang neng
omahe wong tuaku. Maksud ndak di sini
kan suami di sini kan rumah orang tua
saya, Mas itu." Terus saya mikir lihat
loyang, lihat peralatan kok sayang yo
tak jarni selama kurang lebih 1 tahun
saya hamil sampai anak saya usia 6
bulan. Akhire yo wis muga-mugo ini uang
keringate sampiki insyaallah barokah.
iki mau duit halal kulo kan ngoten.
Terus nanti tolong dibantu ini kita dari
dulu usaha ini Bapak dikerjakan bersama.
Nanti suatu saat kalau usaha ini sudah
settle, sudah bisa saya kira sudah bisa
menghidupi keluarga kita, sampean
pulang. Usaha ini dikelola
bareng-bareng, kita besarkan bersama.
Orang tua yo diopeni bareng-bareng
insyaallah cukup.
waktu itu bikin pihak itu pokoknya
setiap hari itu 20 kotak. Ada yang beli
atau tidak, saya tetap bikin pia kacang
hijau ini 20 kotak. Jadi uang Rp200.000
Ibu itu pokoknya saya ndak mau ditambahi
saya iki sampean enggak usah nambahi aku
bun sebelum ini berhasil jadi apa-apa
pokoknya saya nak mau uang ini
ditambahi. Alhamdulillah ke ketika kita
memulai memberanikan diri masuk ke
grup-grup Facebook Mas waktu itu kita
mulai melek media sosial tahun 2016 itu
kita masuk ke grup-grup grup jual beli
di Blitar lah. Wis kita enggak usah
jauh-jauh dulu wis neng Blitar ae nanti
kita nganu ya ngantar-ngantar ke
rumah-rumah. Lah alhamdulillah dengan
itu, Mas kita sadar ke situ. Dulu kita
enggak nganggap, Mas Facebook enggak
pernah ke situ. Ya nanti kalau sampean
libur kerja, kebetulan suami itu Senin,
Selasa, Rabu itu di rumah. Di 3 hari itu
kita malamnya bikin, paginya wither.
Kita sistem waktu itu kerennya jenenge
COD. COD, Mas. Kita bawa meskipun 20
kotak anggaplah satu orang kita ongkir
7.000*
20 orang kok oleh kita sudah dapat ijol
bensin lah Rp10.000
kotak itu dijual berapa waktu itu?
Waktu itu masih Rp8.000 Mas. Kita
pokoknya belum berani membuat dari lebih
dari 20 kotak. Kita meredak itu sisanya
kan ada bahan. Intine kalau hari ini
setelah jualan belanja lagi. Nah, kita
batin di bahan itu bahan nambah terus.
Nah, kayak gitu.
Setelah meli
dari 20 dapat pesanan berapa?
Dari 20 satu kali saya langsung dapat
pesanan 1000 kotak, Mas.
Nah, itu saya seperti ngimpi juga 1000
kotak itu. Jadi, kita akhirnya mikir
branding kemasan dari itu. Saya mau
nolak ngibuk itu ya seperti wis toh mbak
sampean aman naik sampean bisa cetak
kemasan nanti saya DP. akhirnya sama ibu
di DP. Itu yang buat saya nyetak brand
Pia Putri sampai sekarang, Mas. Jadi,
saya cetak pertama itu 2.000 kotak.
Karena tadi di awal usaha ini saya sudah
berjanji kepada diri saya sendiri untuk
tidak hutang-hutang besar dulu untuk
dikecilkan, tapi uang kecil ini
insyaallah akan saya besarkan.
Jadi untuk pinjam modal untuk cetak
kadus pun itu saya ndak berani. Terus
sama ibu tadi di Ya Allah Bu
alhamdulillah jenengan nolungi kulo saya
pun masih ingat sama ibu sampai
sekarang. Akhirnya kita nyetak kemasan
itu dalam pikiran kita. Nanti kalau kita
sudah brand, punya brand Pia Putri,
otomatis kita sudah promosi ke 1000
kotak tadi. Jadi kita nekat aja, Mas.
Takut itu
belum, Mas. Belum lunas. Jadi kan saya
berangkatnya benar-benar dari minus
tadi. Tapi dalam hati saya juga sudah
ngomong sama suami, sudah petung intine
saya enggak mau seperti dulu. Duit gede
dicilikne kita enggak hati-hati. Tapi
saya penginnya duit cilik ini digedekne.
Dalam arti kalau kita pengin sesuatu
harus nabung pia ini biar beli
peralatannya sendiri. Kalau dia butuh
peralatan dia nanti biar bisa beli
peralatannya sendiri. Dan alhamdulillah
itu semua sudah terwujud. Masak ini
sudah bisa beli peralatannya sendiri
dan bahkan bisa melunasi.
Alhamdulillah di tahun pertama di tahun
pertama target saya pokoknya lunas.
utang iki saya ndak mau menikmati
hasilnya selain lunasi utang sama nambah
modal bahan. Jadi dulu belanja kita
awalnya Rp200.000, alhamdulillah
sekarang di tahun ke-8 ini belanjaan
saya sudah di Rp25 juta, Mas, per
minggu. Itu kan untuk biaya yang
diproduksi
aja belum kardusnya. Jadi kan dulu kita
per hari Rp200.000 Ibu katakanlah
seminggu sekitar R1 juta. Sekarang
seminggu alhamdulillah belanjaan kami
sudah Iya 25 itu dan itu pun murni dari
uang hasil ngumpulkan keuntungan kami
yang sedikit-sedikit. Jadi enggak
langsung kita bisa mendatangkan
belanjaan dengan harga sekian dulu ya R
juta R juta terus kita nambahi terus
ampre istilahe pokok intinya bun sampai
katut. Satu hal yang pertama dulu
mindset kami kalau enggak utang enggak
duwe sekarang harus nabung dulu kalau
untuk mau beli sesuatu insyaallah nanti
tetap dimudahkan kalau kita punya
keinginan misal dulu masih produksi
ngublek pakai mixer rakitan oven gas
ketika kita mikir sekarang gasnya langka
gasnya sulit saya mikir aku yo pengin ya
oven yang pakai oven deck yang gasnya
lebih irit. Kita enggak pernah bayangkan
1 unit R5 jutaan, Mas. Tapi
alhamdulillah pelan-pelan kebeli. Kita
enggak langsung langsung dua tekan beli
gak. Pokoknya sesuai kebutuhan. Butuh
kita beli. Kalau kita punya uang beli.
Kalau enggak yo wis ditahan dulu. Nabung
dulu.
Beli tanah, beli mobil nabung dulu.
Iya insyaallah ngoten Mas. Dan
alhamdulillah tercapai ngoten, Mas.
Alhamdulillah.
Dari usaha pi
eng mas. Kita bikin rumah pun ya sampean
bayangkan saya punya modal uang R10 juta
dulu. Uang saya dipinjam teman saya R10
juta. Terus saya bilang sama suami, "Ya,
jadi saya bikin piak ini kan belum punya
rumah. Ini tolong dibelikan bahan
bangunan, entah itu batu atau apa,
enggak usah diwih-wih uang ini.
Insyaallah nanti dia akan dapat
teman-temannya." Alhamdulillah itu yo
diijabahi, Mas. Kalau kita
sungguh-sungguh kita sabar diijabahi,
enggak nyangka saya bisa bikin rumah
dari R10 juta itu tadi. Dan saya itu
orangnya sama suami enggak ngoyo. Misal
nanti belum bisa ngeramik, yo wis pokoke
omah ngadek di tempat. Alhamdulillah
kita bilang begitu itu malah loh
ternyata kok ada aja loh. Kok cukup buat
ngeramik loh kok cukup buat lah. Kita
enggak pernah bayangkan yang sebelumnya.
Jadi entah itu kebetulan atau karena
kita nerimo yo enggak tahu ya Mas ya.
[Musik]
per harinya kalau musim hajatan lebih
dari 1000 kotak, Mas. Bahkan lebih 1.200
atau kalau isi di bawahnya itu bisa
lebih. Kalau untuk hari-hari minimal 300
sampai 500 masih mampu. Kadang ya ada
yang bilang gini, "Sampean opo untung
toh, Mbak jualan sekian kacang hijau
harganya sekian nganu sekian kayak gitu.
Saya itu ndak mau main-main, Mas. Kalau
misalnya gula ya gula asli. Karena apa?
Anak saya makan, saudara-saudara makan.
Kalau ini nak aman kan yo kita malah
rugi sendiri. Kacang hijau pun mesti
saya pakai yang bagus untuk tepung.
Insyaallah kualitas juga bagus.
Jenengan sade pinten toh, Bu?
Rp3.000, Mas. Isinya 10 biji. Jadi
kepotong kemasan kayaknya R.200 ya per
bijinya ng isi 8 Rp1.000. Selama ini
selama kita bikin pia ini sudah
mengalami beberapa kenaikan bahan.
Awalnya terigu. Terigu dulu awal jualan
itu masih sekilonya kalau enggak salah
Rp6.000 sudah pernah melonjak ke harga
Rp20.000.
minyak. Kita pernah mengalami kesulitan
minyak dua atau 3 tahun yang lalu ya.
Dengan bahannya sulit didapat, harganya
dua kali lipat, gula pernah Rp20.000
juga. Itu kan padahal ini semua bahan
pokok kita bagaimana kita padahal
seminggu kita nomboknya itu kadang lebih
dari Rp3 juta, Mas. Kita menyikapinya
kayak gini, Mas.
Ndak bisa ya kayak konsumen itu langsung
kita ngel titik-titik naik, titik-tditik
naik. Kita pelajari aja dulu. kita
bertahan sampai di bulan ke berapa.
Kalau memang kita benar-benar enggak
kuat, kita harus naik. Kita enggak mau
istilahnya grusa-grusu kok gula langsung
Rp20.000 kita naikkan. Padahal gula
Rp20.000 per kilo ini kan gak terus.
Mungkin pas event mau menjelang lebaran.
Kalau kita masih bisa mentoleransi
sampai di dua atau 3 bulan ke depan kita
wis main aman aja lah istilahnya subsidi
silang. Karena kita kan ngambilnya bahan
kan enggak sedikit, jadi dapatnya harga
mungkin lebih murah. Kita enggak
langsung serta-merta naikkan. Dan kalau
misalnya ada kenaikan bahan, kita pun
juga enggak nurunkan kualitas. Nanti
kalau memang benar-benar enggak bisa
bertahan dengan harga itu, kita nombok
terus, otomatis kita naikkan harga jual.
Terus alhamdulillah kayak untuk pesanan
itu setiap hari datang, Mas. Lah itu pun
sejak dari awal jualan seperti enggak
pernah terpikirkan dalam doa saya. Ya
Allah mugi-mugi tetap panggah enten
pesenan rezeki lumintu semua tetap bisa
kerja pas COVID malah enggak ada
bayangan besok mau kerja mau saya
liburkan, Mbak-mbak jam 11.00 Malam ada
telepon, "Mbak, sesok saya pesan pi 250
kotak." Itu saya nangis, "Mas, aku arepe
wa cahcahe enggak tego kok arepe tak
liburne kok seperti aku butuhku tok."
Yo, intine saya terus kita enggak boleh
mengkhawatirkan rezeki kita sesok-sesok.
Asal kita berusaha entah jolo sing endi
toh sing awake tebar awake dewe tebar
mah sing nyangkut sing endi kita enggak
akan pernah tahu ketika kita menerima
pesanan 1000 kotak 1200 entah jala kita
yang mana, entah doa-doa yang mana, doa
orang tua kita, kita enggak usah
khawatirkan rezeki ternyata wis ono sing
ngatur meskipun ada pesaing, ada usaha
sejenis itu sebenarnya enggak usah
mengkhawatirkan kita selama kita mutu
dipertahan. kan kalau bisa diperbaiki
semua diperbaiki kita jalan sesuai
rilnya ee hubungan dengan keluarga orang
tua kita perbaiki kita semua diperbaiki
istilahnya hak-haknya orang-orang yang
ada di bagian dari kita kita tunaikan.
Wis saya percaya gitu aja, Mas. Dulu
risau 2 hari lagi ndak ada jadwal itu
saya wis behok cah-cah mosok pray ya
saya beri wis toh insyaallah sesok mas
kadang ini jadwal saya bulan Oktober
September kayaknya kosong melompong gak
ada dulu saya merisaukan Mas seperti
itu. Wis pasrah ae wis penting kita
berusaha yo dongo tebar jala tebar jala
dalam arti kita promo ke mana itu sing
endi sing nyantol kita enggak tahu toh
Mas enggak usah merisaukan lah
[Musik]
ternyata kenapa usaha ini besar
Ada rezeki mereka di sini, Mas. Ketika
saya memutuskan nambah karyawan baru,
berarti ada rezeki baru di sini. Itu
dulu yang saya takutkan. Aku khawatir
enggak iso bayari, Mas. Terus terang mau
nambah karyawan itu mesti saya mikir,
iso enggak aku eng bayari karyawan yang
support suami saya. Wis toh iso-iso
setiap orang itu bawa rezekinya
masing-masing. Sampean tambah karyawan
berarti ada tambah rezeki di sini. nya
sekarang
ada 15 hampir 20 orang ee yang 15 ini
tetap yang lima orang ini kalau pas
istilahnya di big season-nya ya kalau
pas kita musim hajatan kan kita butuh
tenaga tambahan seperti itu kita
memutuskan untuk ambil karyawan intine
kalau kita mau besar berarti kita harus
mendelegasikan tugas tugas yang kita itu
bisa delegasikan kalau masalah konsumen
biasanya masih saya yang pegang Mas
kerja atau sudah resign?
Nopo sampun resign Mas. Saya yang minta
ini kan dari awal kan tadi saya sudah
cerita jenengan ya kalau ini sudah
settle
sampean pulang. Waktu itu umur terakhir
kerja sampean kudu umur 35 tahun.
Kenapa? Semakin sampeyan habis pikiranmu
di orang, waktune awake dewe, mikir
awake dewe wis entek sudah capek, kesel
anak sudahs sudah makin besar. Saya
butuh bapake sing ngejak ning langgar
ning masjid. Saya kalau harus ngandel ke
sana kemari enggak bisa toh, Mas. Misal
Jumat ayahe kerjo terus enggak ada anak
saya enggak ada yang ngajak jumatan
wayahe magrib ora enek sing ngejak ning
langgar lah itu saya jadi terbebani.
Kamu di sana cari uang, saya di sini
cari uang. Lah terus anake eng
keteteran. Pulang saja insyaallah
keranmu yang di sana sama Gusti Allah
diparak ni ke sini. Itu alhamdulillah
kenyataan, Mas. Kalau mau jadi wirausaha
mesti ada banyak waktu yang dikorbankan
juga sebenarnya. Meskipun kita di rumah
ini mesti banyak juga waktu anak-anak
yang kesita. Cuman saya juga manusia,
Mas. Enggak iso sempurna. Nek pengine
dulu jadi ibu rumah tangga sing
diladeni, sing kita mau apapun
terpenuhi. Tapi kenyataannya saya
berpikir, "Oh, memang saya ditakdirkan
seperti ini." Kita hidup itu juga harus
saling tolong-menolong. Bagaimana
mengajak ibu-ibu produktif di sekitar
saya membantu perputaran ekonomi di
rumah. Enggak hanya diam di rumah,
nyekrol-nyekrol HP neng kene istilahe
ngobrol karo tonggone, tapi
menghasilkan. Nah, gitu, Mas. Kalau
disuruh memilih penginnya kok jadi ibu
rumah tangga. Tapi ndak seperti itu
juga. Karena ini kan dulu juga kemauan
saya. Saya enggak bisa diam karena saya
merasa aku enek keterampilan nyapo kok
mek meneng ae. Tapi di samping itu
sebenarnya waktu anak-anak itu juga
sebenarnya ada banyak yang berkurang.
Fokus saya otomatis kan fokus ke sini,
fokus ke sana. Tapi sekarang
alhamdulillah kalau sudah autopilot
kayak gini saya sudah enggak ngurusi
oven. sudah enggak ngurusiwelu
adonan sendiri. Cuman pikiran saya kan
sekarang tinggal promosi aja, Mas.
Alhamdulillah sudah di kalau mau disuruh
milih yo milih ibu rumah tangga sing
diladeni Mas
[Musik]
pernah takut untuk memulai. Ternyata
tidak banyak rupiah yang kita butuhkan,
tapi banyak keberanian Mas, yang kita
butuhkan. Kalau kita mau keluar dari
zona nyaman seperti yang saya bilangkan
tadi, tidak banyak rupiah yang kita
butuhkan dari R00.000 saya yang saya
bilangkan tadi, akhirnya bisa menutup
semua utang, bisa membeli semua
keinginan saya. Jadi yang dibesarkan itu
berarti kemauannya, keberaniannya.
Lek rupiahe masih bisa ditoleransi lah.
Kita masih bisa bersikap ndak melulu.
Butuh modal gede. Aku pengin memulai
usaha dengan justru kalau kita sudah
punya modal banyak akhirnya kita enggak
hati-hati. Menurut saya sih ya seperti
itu. Jangan pernah takut memulai.
Apalagi untuk anak-anak muda sekarang
yang ada banyak kemudahan komputerisasi
sembarang lebih dari saya. Seharusnya
semangatnya luwih-luwih itu, Mas.
Terakhir saya Leni Diana Putri owner
dari Pia Putri Blitar alamat Desa Sumber
Sanan Kulon Kabupaten Blitar. Terima
kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[Musik]