Transcript
ktjXeoPPVgU • Hidup Tenang di Usia Senja, Bisnis Mawar Jadi Sumber Rezeki
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0606_ktjXeoPPVgU.txt
Kind: captions
Language: id
Kalau saya rasa tidak perlu luas, Mas.
Artinya kalau kita misalnya punya lahan
kira-kira
20 m² itu saja sudah bisa, Mas, untuk
dirasakan sudah bisa.
Bagaimana mawar ini ya? Kita tinggal
tidur aja kan harganya semakin
meningkat.
Kalau pertanyaannya panjenengan, apa
yang jenengan cari? Ya tidak ada kata
lain kecuali kesejahteraan, Mas.
Utamanya kesejahteraan ya dalam arti
luas, Mas. Yo duit, yo sembarange,
kesehatan dan sebagainya. Jadi saya
bermain bunga ini ya termasuk ya untuk
menunda penuaan, menunda kepikunan.
Karena yang datang seperti
panjenengan-pjenengan ini banyak teman
lah. Kalau saya dulu ya orangnya lincah
ulet lincah lek golek utangan ulet lek
wayah nyaur.
[Musik]
Pekerjaan atau apapun Mas melakukan apa
saja yang penting hatinya senang seperti
itu.
Makanya saya menciptakan sesuatu itu
bagaimana seseorang itu ditipu senang.
Kan sulit toh, Mas ya. Totnya ibunya ini
kan saya tipu. Tiap pagi setelah salat
subuh ibu ini sudah ngocori tapi senang.
Dihapusi. Tapi senang. Itu kan sulit.
Pjenengan coba ini jenengan tirukan
nanti di keluarga.
[Musik]
eikum
[Musik]
warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan
saya nama Mudhaif alama Desa Slemanan,
Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.
Saya binti Wasinga.
Jadi awalnya kami terinspirasi dari
teman katanya ada informasi bunga mawar.
Nah, dengan ada informasi maka akhirnya
saya memulai menanam, mencari bibit
kemudian kita kembangkan. yang dalam hal
ini yang keseharian yang full time
adalah ibunya anak-anak. Kami di sini
hanya selaku apa ya tenaga kasar atau
buruh atau bahasa bahasa lainnya saya
sebagai sar pras sarana prasarana gitu.
Jadi kalau yang mengganti
ibunya anak-anak
Iya. Jadi, pertama-tama gini, pada waktu
itu di bulan Mei itu bapaknya memberikan
hadiah satu buah bunga mawar gitu,
satu pot. Hanya itu. Terus, oh berarti
berarti Bapak ini mendukung kalau saya
menanam bunga mawar begitu.
Terus saya kan juga aktif arisan
keluarga ya. Oleh karena saya juga
senang sekali diberikan bunga mawar
seperti itu, akhirnya saya waktu mutus
arisan itu saya belikan bunga mawar lagi
sampai 12 ya. Sekarang masih karena
memang yang 12 itu memang sengaja tidak
saya jual gitu. Tahun 2024 belum lama
ini masih 1 seteng tahun ya banyak gini.
Iya karena kita terus mengembangkan
dengan cara mencangkok. Jadi mencangkok
pertama itu juga saya sampai saat ini
pun Bapak juga belum pernah nyangkok
gitu. E enggak enggak langsung berhasil.
Banyak kendala karena gini, waktu
nyangkok pertama itu kita belum tahu
betul media yang tepat. Dulu itu
medianya sampai yang milih yang terbaik
seperti sekamar, kemudian kompos yang
terbaik tapi kenyataannya enggak
berhasil. dulu itu pakai kompos kambing.
Kompos kambing. Tapi menemukan apa
kendalanya itu juga lama sekali. Bahkan
saya hampir putus asa karena beberapa
kali itu mati-mati terus ya. Yang hidup
enggak ada 50%. Akhirnya kita terus
mencari-mencari apa sebabnya. Akhirnya
ketemu yang paling cocok untuk kompos
bunga mawar itu kompos sapi yang sudah
luama sekali yang sudah jadi tanah itu
sebenarnya bukan manja ya tapi Heeh heeh
bukan manja tapi belum tepat saja
karena hanya sederhana saja hanya suka
mentah kemudian kompos sapi dan cocopit
saja ini tidak dari siapa-siap tapi kita
hanya mencoba mencoba dan mencoba jadi
otodidak gitu ya. Jadi sekam mentahnya
itu belinya itu e di sini mudah sekali.
Kemudian kalau kompos sapi juga mudah
karena sini banyak pembibitan lombok
akhirnya Bapak ini pesan aja ke
orang-orang yang biasanya pesan ke
pembibitan lombo itu. Terus kokopnya
juga sudah terbiasa kita beli sebelum
kita menanam bunga mawar ya. Dulu kan
agronima ya. Dulu pernah gelombang cinta
waktu ngeter-ngeternya itu? Ya, sudah
lama sekali kita bergelut di
perkembangan.
Ya kalau dikatakan rugi ya tidak, Mas.
Tapi menurut kami kurang untung. Cuma
itu saja. Karena apa ya? Kalau tanaman
Mas bahasa saya itu kan ditinggal turu a
kan mundak gede. Bagaimana mawar ini ya
kita tinggal tidur aja kan harganya
semakin meningkat. Cuma ya kalau
dikatakan rugi ya gak, tapi ya kurang
beruntung menurut kami begitu waktu
tanam agronima ya. Ternyata kalau kita
kembali ke mawar setelah kita menggeluti
mawar ini, ternyata mawar ini bisa untuk
komoditas dan ya sedikit bisa menumpang
kehidupan kita adanya keluarga ya kalau
dikatakan besar ya belum wong sak gini
kok besar. Kalau ini plus minus 0,5
hektar, Mas, kalau yang sudah kita
tanami karena ya belum pernah saya ukur,
Mas. Karena pekarangan kita, lahan kita
itu sampai depan itu kan di SPPT itu kan
1 hektar lah. Kita ambil aja separuhnya
kan 0,5. Jadi kalau saya berbicara plus
minus itu mesti benar, Mas. Jadi cuma
kurangnya banyak atau lebihnya banyak
gak tahu. Itu yang ditanam. Kalau
sekarang sudah ada sekitar 3.000 pot.
3.000 pot.
Iya.
Iya, kurang lebih.
Jadi itu hanya istilah, Mas. Jadi saya
itu pekerja kasar. Kalau kita memakai
bahasa saru terlalu elit. Saya pekerja
kasar. Cuma saya istilahnya jadi
mandornya anak-anak itu. Lah saya cuma
tugasnya judang-juding gitu. Tuh bawa
sana itu ya. tugasnya itu
kan anu toh, Mas. Ini kalau mawar yang
saya tanam ini kan menurut istilahnya
itu mawar Kalimantan, tapi yang benar
tidaknya saya enggak tahu. Tapi kalau di
Google itu kok Rose Valentin begitu ya.
Tapi kenyataannya orang Kalimantan itu
kok malah cari ke sini gitu loh. Jadi
yang benar itu yang bagaimana saya
enggak tahu. Terus mawar ini suka
matahari. Matahari langsung los, tapi
bawahnya itu suka air. Jadi e seluas ini
sanyonya ada lima. Kalau kurang, Pak,
ini sanyunya kurang gitu.
Iya.
Ya, sayang langsung gitu. Saya suka
sambat dengan bapaknya kalau masalah ini
sarana.
Pertama itu saya yang memulai begitu ya.
Kemudian saya juga istilahnya sebagai
apa bisa dikatakan sebagai manajer ya
Mas ya. Belum. di malam hari itu otak
saya itu pikirannya ke hanya ke mawar
saja. Besok itu saya ngerjain apa? Apa
yang saya perintahkan kepada karyawan
saya seperti itu loh, Pak. Anu, Mas I
banyak karyawannya. Sebenarnya ada 13
tapi tidak setiap hari. Maksud saya
kalau saya butuh aja sewaktu-waktu saya
panggil seperti itu.
Kami merekrut tenaga kerja ini yang
banyak anak-anak pondok pesantren terus
kemudian ya kemari ee ingin ikut monggo.
E bahasanya apa ada pekerjaan Pak nopo
wonten pendamelan? Lek pendamelan enek
Kang lek duit ndak enek. Saya gitu itu
memang saya gitu. Tapi ya gak mungkin
saya diam, Mas. Karena memang anak
pondok kelak setelah pulang dari pondok,
kamu jangan hanya bisa ngaji saja, kerja
juga harus bisa saya gitu kan.
Alhamdulillah mereka rajin, Mas. He
rajin mereka itu kerja ke sini itu
rajin. Di arah sana itu ada pondok
pesantren.
Kira-kira ada 2 kilo
punya Gus Atok.
Heeh. Dulu pondok saya eh pondoknya
ibunya lah. Gus Atok itu dengan saya. Ya
juga baik. Tolong Mbah itu anak-anak
dikasih pekerjaan. Oh iya Gus ya gitu.
Dulu pondok saya dan saya juga rumahnya
Jaleman sama dengan Bapak ini dulu itu
waktu Bapak menjadi kepala desa saya
jadi rakyatnya. Jadi istilahnya wargod
di kromo, Mas. Wargo dikromo dan Pekgo
jadi wargane dirabi wargo dikromo.
Eh, oleh karena ini yang pertama
sebenarnya saya hobi Mas ya. Sejak
remaja itu saya memang suka suka sekali
dengan bunga. Terus untuk mengembangkan
ini salah satunya saya dengan cara
mencangkok karena dari 12 indo itu
semuanya saya sangkok. satu pohon itu
minimal itu 30 cangkokan, Mas. Ya, 30
cangkokan dari tinggal ngalikan saja
berapa gitu. Oleh karena saya sudah
menemukan formula yang cocok, akhirnya
saya semangatnya luar biasa dan bahkan
sekarang saya itu enggak pernah nyangkok
sendiri, sudah saya ajarkan ke karyawan
begitu. Oh, giih.
Terus tadi bapaknya kan bilang kalau
karyawan itu dari sebagian dari pondok,
tapi sebagian juga dari famili saya yang
mungkin masih belum punya pekerjaan
seperti itu. Dan ada tetangga sekitar
yang masih membutuhkan lowongan
pekerjaan gitu. Kalau menurut saya itu
gampang-gampang susah juga sebenarnya.
Kalau menurut saya itu kalau kendalanya
sudah teratasi enggak susah juga. ee ya
itu tadi karena media tanam yang belum
cocok itu. Terus sekarang kan sudah
menemukan jadi saya kira sudah tak ada
kendala lagi karena prinsipnya hanya
mawarnya itu diletakkan di tempat yang
panas kemudian pagi sore kita aktif
menyiram kemudian 10 hari sekali kita ee
aktif pupuk. Kalau itu sudah diterapkan,
saya kira hama itu sedikit sekali ee
menghinggapi mawar saya. Ada hama juga
sebenarnya, tapi oleh karena perawatan
yang baik ini hamanya yang kalah, Mas.
Ada hamanya itu kumbang
belalang.
Iya, kumbang belalang, kemudian ulat,
ada ampal kecil yang juga putih-putih
juga ada. Kalau ada putih-putih itu saya
langsung saya hilangkan saya
gini-ginikan atau dengan serbet aja
sudah cukup karena enggak terlambat
gitu. Kalau terlambat ya kita malah
susah. Jadi setiap hari itu aktif
melihat-lihat mawar kita. keadaannya
bagaimana begitu. Jadi untuk segera di
ee carikan solusi kalau memang ada
kalau yang beli bersifat insidental,
Mas, itu rata-rata untuk ziarah kubur.
Ziarah kubur.
Itu kalau yang beli yang bersipan.
Tetapi kalau yang ini jenis ini, ini
memang ada tengkulakya, Mas. Kita
ngambilnya kan setiap pagi, setiap pagi
kita petik. Jadi kalau keperluannya yang
saya tahu ya untuk itu tadi ziarah kubur
itu yang saya tahu. Tapi pemikiran saya
sepanjang masih ada manusia niscaya
masih ada orang mati.
Sepanjang ada orang mati, niscaya pasti
ada keluarga yang ingin nabur bunga. Lah
di situlah kami kami bidik itu. Nah,
sekarang ini yang pernah saya ceritakan
pernah ada yang ingin nyuling diambil
aromanya atau untuk parfum gitu. Kalau
pertanyaannya sepanjang ini untuk apa?
Sekilas itu. Nah, kemudian karena mawar
ini belum berkembang banyak, maka kami
mencoba bahasa saya mencoba mendahului
ternyata ya alhamdulillah jalan. Terus
kemudian yang berkaitan dengan sedikit
saya tambahkan yang diceritakan ibunya
tadi kan untuk nyangkok kami punya
pemikiran siapapun teman-teman
saudara-saudara kita yang beli mari kita
ajari. Kita ajari untuk nyangkok bukan
malah tidak kita ajari karena apa? Kalau
ilmu itu diberikan kan gak akan habis.
Tapi kalau uang kan bisa habis gitu.
Apalagi kalau ilmu kita lupa. Kita tanya
panjenengan, "Mas, caranya kok gimana?"
"Loh, Pak dulu yang ngajari lah. Saya
lupa kan bahasanya bisa unduh kembali
toh. Itu bedanya ilmu dengan finansial
ya." Di situ. Heeh.
Kita terbuka, Mas. Banyak sekali dari
ibu-ibu PKK yang datang kemari kemudian
untuk diajari nyangkok ya. Ibunya ini
yang ngajari.
[Musik]
Sebenarnya kalau kita bicara di
kaitannya dengan bisnis itu kan yang
menguntungkan itu sebenarnya bukan
bunganya. Bunganya juga menguntungkan
tapi ada yang lebih menguntungkan.
Maksud saya seperti itu. Itu kan
cangkokannya itu kan dijual ee turun
dari cangkokan belum ditan tanam itu
sudah bisa dijual. Ada yang Rp50.000 Ibu
ada yang 75, ada yang 103 seperti itu.
Itu kan indukan saya tadi kan 12.
Setelah itu kan dicangkok jadi beruapa
itu cangkokannya itu bisa dicangkok
lagi. Jadi sekarang itu sudah
buyut-buyutnya gitu yang kecil-kecil
seperti ini
bisa
ya? Bisa
bisa dijual
baik bunga maupun induknya bahasa.
Utamanya kalau yang turun dari cangkokan
belum ditanam itu online-nya itu karena
kan tidak berat Mas ya. Karena kalau
online itu kan ditimbang ya, tapi banyak
juga yang maunya langsung segar. Terus
spotnya juga dikirim kargo JNT itu juga
banyak juga ya. Tapi yang banyak itu
yang cangkokan belum ditanam itu anaknya
yang tahu, Mas. Iya. Tapi saya e pernah
dengar juga seperti yang Kalimantan
Selatan itu harga mawarnya 600, biaya
kirimnya 400. Oh, katanya kok enggak ada
gitu loh. Makanya saya heran katanya
dari Kalimantan, tapi yang Kalimantan
kok beli di sini gitu.
Iya. Iya, Mas. Sudah dikirim.
Padahal itu belum tentu masalahnya sudah
5 hari juga belum sampai loh, Mas.
5 hari belum sampai nanti kita ya juga
khawatir, Mas. Kalau sampai nak hidup
gimana ya istilahnya ya kita ganti aja
lah enggak apa-apa.
Kalau seperti yang indukan awal yang 12
pohon tadi ini kita tambahkan itu sudah
ditawar 1,5 jutaan, Mas. Di sini
itu
yang orang Jakarta itu bersekiras untuk
minta dikirim.
Minta dikirim
R,5 juta itu yang indukan pertama itu
indukannya.
Padahal itu ngirimnya juga susah.
masalah potnya pucar sekali tapi tetap
minta dikirim kalau mungkin kalau dari
sini banyak karyawan yang sudah
profesional ya untuk menaikkan ke pikup
atau ke JNT misalnya tapi kalau di sana
menurunkan itu saya mikirnya gimana ya
padahal mesti itu butuh 5 en orang
per kilogram Mas
per kilo. Per kil
per kilo. Kalau hari-hari biasa memang
enggak mahal. Ya, tapi kita mementingkan
pengnya ya. Memperbanyak peng gitu aja.
Kali
kalinya 1 kilo 25 sampai R.000. Kalau
hari-hari biasa
ada hari-hari tersentu yang biasanya itu
naik. Istilah orang Jawa itu kalau malam
Jumat lagi itu bisa mencapai 75 sampai
lah. Kalau kita hitung-hitung bunganya
ini ya apapun kita wajib bersyukur ya,
Mas. Jadi ee untuk ini istilahnya HR-nya
anak-anak itu cukup cuma dari hasil
bunganya.
Iya. Kalau bunganya untuk HR karyawan,
tapi untuk kita bib induk-induknya yang
anaknya yang 12 itu.
Kalau setiap harinya rata-rata 10 kilo
ya, Mas. Sampai 20 kilo.
Sampai 20 kilo per hari.
Iya, per hari.
Jadi kalau 1 bulan ya kali 30
lah. Tapi ya untuk anak-anak sekian loh,
Mas. Ya, yang penting kita cukup aja
lah.
Ya, sebenarnya kita anu ya selebih leo
lebih puas itu kalau bisa kita bisa
istilahnya merekord karyawan seperti
itu. Itu lebih kita lebih puas gitu.
Kalau memang dulu begitu, Mas. Tapi
sekarang dengan mungkin saya cerita
kepada teman-teman saudara, akhirnya
sudah mulai banyak yang berbudidaya
bunga mawar ini.
Iya. Apalagi tempat atau lokasinya itu
seperti kan di pedesaan hampir setiap
orang itu kan punya lahan walaupun
bahasanya gak luas sekarang sudah mulai
ya itu yang kita harapkan itu ajakan
kita itu ke mana ayo kita berbudi daya
mawar
mari kita berbisnis bunga mawar begitu
saya kalau di TikTok-nya itu loh Mas ya
kalau saya rasa tidak perlu luas Mas
artinya kalau kita misalnya punya lahan
bahan Hasadi kita ini kan bukan meter,
bukan hektar ru Mas di sini. Tetapi
kalau kita bikin hektar atau ru itu
kira-kira
20 m² itu saja sudah bisa, Mas, untuk
dirasakan sudah bisa. Yang penting
jaringan kita itu luas. Kemudian sering
sharing dengan teman-teman yang sudah
memulai lebih dulu. Barangkali kita
belum punya pasar, belum bisa, sudah
saya tak nunut. Kan bahasanya begitu d
ya bahasanya ya untuk tambahan belakang
itu Mas berambang bawang gak repot gitu
orang kampung begitu Mas.
Iya
lah. Tapi kalau sak ini dibelikan
berambang bawang itu lah untuk apa
nanti?
Oke saya sedikit cerita ini saya tidak
riak jujur tidak riak. Saya mensyukuri
nikmat ketika ada permintaan dari
wilayah kita artinya dekat-dekat itu
kami siap mengirimi karena saya punya
gerubak itu bahasa saya gerubak yang
secara kebetulan ya
hasil dari bunga mawar juga akhirnya nah
itu yang mau grandm itu dari hasil bunga
mawar juga akhirnya hasil bunga mawar
seperti yang sebelah ini kan indukan itu
kalau ibunya dihitung kurang lebih plus
minus 300 indukan yang sudah keluar
dalam kurun waktu 1 tahun tadi ya
itu sudah 300 indukan per indukan itu
rata-rata 300 400 kali 300 kan sudah 100
sekian lah dengan 100 sekian ini ya
kalau untuk beli gerobak ya sudah dapat
kalau mobil belum Mas
jadi ee kalau banyak yang diperoleh
kaitannya dengan bunga bunga mawar ini
banyak yang buka lahan, Mas, ternyata.
Iya.
Jadi kalau ibu-ibu atau bapak-bapak yang
buka lahan itu kita juga apa produk
potsemen itu misalnya Bu saya pesan
potemen 50 ya beserta bibitnya seperti
itu. Enggh.
Terus berkunjung lagi di Mahari, Bu
potnya kurang nambah lagi 30 misalnya
seperti itu. Itu ternyata banyak yang
buka lahan juga. Terus gini, Mas. Untuk
kalau saya kan cangkok, tapi orang-orang
yang sudah menggeluti bunga tapi belum
punya bunga mawar itu juga tertarik
juga. misalnya dari daerah jemean,
kemudian dari Wates itu buka lahan juga,
tapi ya seperti tadi pesan sekian-sekian
seperti itu. Kemudian ada lagi yang
jualan bunga tapi juga ingin jualan
mawar juga itu ngambil indukan di sini
misalnya 15 indukan gitu ya. Itu
istilahnya didandakne ke batu. Kemudian
di sana itu okulasi, Mas. Kemudian oleh
si penjualnya itu dijual dengan bibit
yang agak murah juga. Itu banyak yang
menanti, Mas. Masalahnya untuk menjadi
bibit yang bisa ditanam itu ee dengan
cara okulasi itu 3 bulan. Itu banyak
yang seperti itu. Jadi katanya kalau
mawar di sini itu daunnya lebar-lebar
terus rimbun katanya seperti itu. Jadi
banyak malah bakul ke sini.
Jadi gini, Mas. Kalau pertanyaannya
panjenengan, apa yang jenengan cari? Ya,
tidak ada kata lain kecuali
kesejahteraan, Mas. Utamanya
kesejahteraan, ya dalam arti luas, Mas.
Yo duit, yo sembarang, kesehatan, dan
sebagainya. Jadi, saya bermain bunga ini
ya termasuk ya untuk menunda penuaan,
menunda kepikunan. Karena yang datang
seperti panjenengan-penjenengan ini
banyak teman. Orang kalau ndak banyak
teman kan sendirian lah. Kalau saya dulu
ya orangnya lincah ulet. Lincah lek
golek utangan ulet lek wayah nyaur
itu dulu lah. Sekarang kita sudah tua
aja. Tapi yang jelas mas ya karena kita
juga punya anak cucu ya kelak biar
ditirukan yang positif-positif tentunya
itu harapannya. Apa yang yang kita
harapkan? Wong sampai umur segini
nyatanya yo masih tetap gini aja. Kita
bersyukur, Mas. Sekarang saya 72.
72. Kalau menurut saya itu usia bukan
batasan Mas ya. Karena saya juga
mengajak kepada ibu-ibu, mak-mak di luar
sana untuk tetap aktif, produktif
begitu. Jadi usia bukan batasan karena
itu adalah juga merupakan kunci
kebahagiaan begitu. Karena sebenarnya
kita itu punya potensi dan kemampuan
gitu. Jadi saya juga mengharapkan kepada
ibu-ibu ini oleh karena usia sudah tua
itu jangan sampai berhenti untuk
berkreatif seperti itu. Jadi kita tetap
semangat karena dengan semangat dan kita
punya aktivitas seperti ini, kita itu
insyaallah tetap awet muda gitu ya.
Iya betul.
Benar. Benar, Mas. Iya.
Iya. Itu yang bisa untuk dipegang kunci
untuk yang di luar sana memang kalau
ingin menirukannya tidak banyak dan
bertahap juga.
Kalau 12 indukan itu saya kira enggak
ada R5 juta, Mas. Tapi kebetulan Bapak
punya lahan seperti itu. Jadi dulu di
sini itu memang ya benar-benar tegalan
yang banyak nyamuknya, kurang produktif.
Iya. Kalau gambaran ya begini, Mas.
Awalnya kita kan sebagai orang desa atau
orang kampung sebagaimana lazimnya kita
ya melihara ternak sapi kambing itu kita
tanami bahasa kita rumput gajah itu Mas.
Setelah itu ternyata tenaganya yang
istirahat ya. Saya sudah ndak kuat.
Akhirnya sapi kambing kita jual terus
kemudian suketnya ya dibeli tengkula.
Terus kemudian ada mawar ini ibunya saya
suruh mencoba akhirnya ya semangat. Ya
sudah dihabiskan aja belakang itu
rumputnya gitu. Jadi begitu. Kalau
kembali ke modal, Mas, saya cerita
awalnya itu hanya satu pohon itu hanya
Rp650.000
satu indukan. Kemudian setelah itu
ibunya
saya pada saat itu uang Rp650.000
kok dibelikan bunga toh, Bu. Dibelikan
beras sudah 2 bulan itu dimakan keluarga
tak gitukan. Akhirnya malah ibunya
kebetulan betok arisan dibelikan ee 12
indukan di cangkok. Nah, terus akhirnya
jadi sekarang ya ini adanya yang penting
ada kemauan bagi saya yang penting.
Makanya setiap ada teman-teman atau
saudara-saudara yang kemari sudahlah
kalau Anda ingin memulai saya siap ya
jangan dikatakan pembina saya siap
mendampingi. Saya gitu kan kalau saya
dikatakan pembina belum saya belum punya
predikat pembina kadang-kadang saya yang
guyon. Kalau Anda gak saya gak bisa
dibina ya tak binasakan gitu aja.
Iya. Jadi gitu yang penting ada kemauan.
Saya kebetulan anu ini
ASN
apa ya? ASN ee sudah mau pensiun
lah. Ini termasuk.
Jadi ini motivasi saya karena kalau ASN
itu yang banyak kan tunjangannya Mas ya.
Tapi kalau sudah pensiun itu tinggal
gaji pokok saja. Terus akhirnya saya
juga mikir-mikir begitu. Gimana yo? Ampr
setiap bulan itu enggak berkurang dari
kalau masih e menjadi AS kan seperti
itu.
Pelajaran apa ya, Mas? Ya, kalau saya
ternyata hidup itu ndak ada kata lain
kecuali iya. Iya dulu dalam arti ya.
Sekalipun saya kalau berbincang ya
nuturi anak-anak ya gitu. Iya dulu
dengan teman ya sekalipun itu loh hal
yang buruk ternyata itu menjadi
motivasi. Iya. Makmud diif itu orangnya
enak sembarang yo arepe maling yo
dihiani. Itu kan ya mestinya kan enggak
begitu. Tapi setelah iya mereka itu
lego. Setelah lego kita motivasi nurut.
Tetapi kalau dengan bahasa kusik atau
nanti dulu saya dikira orang yang sulit.
Akhirnya teman-teman jawab saya itu
hampir setiap komunitas apapun yang ada
kita ikuti. Masalahnya apa? Saya Pak Yo
Maling. Io.
Heeh.
Tapi kita belum berangkatkan setelah
kita Iya. Awakmu sudah niat sudah,
nyonyamu belum, mor tuamu belum? Loh, i
kalau Anda itu sudah niat kecekel masa
digepuki itu wis ma niati tapi nyonyamu,
mor tuamu, bapakmu kan belum. Akhirnya
mereka gak jadi. Makanya di sana
dikatakan sesuatu yang buruk itu kalau
sudah dilakukan baru kita kena dosa.
Tapi sesuatu yang baik kan sebaliknya.
Itu yang saya tinggalkan kepada
teman-teman. Motivasi saya begitu. Kalau
kaitannya dengan ee pekerjaan atau
apapun, Mas gini ya, kalau bapaknya itu,
"Bu, sampean itu melakukan apa saja yang
penting hatinya senang seperti itu."
Jadi menurut orang lain itu kurang
menarik atau mungkin rendah seperti itu.
Tapi bapaknya memotivasinya seperti itu.
Yang penting hatimu senang seperti itu.
Bapak itu sosok yang tanggung jawab
seperti itu kalau menurut saya ya, Mak.
Kemudian perhatian juga setia seperti
itu.
Makanya saya menciptakan sesuatu itu
bagaimana seseorang itu ditipu senang.
Kan sulit toh Mas
ya. Toknya ibunya ini kan saya tipu.
Tiap pagi setelah salat subuh ibu ini
sudah ngocori tapi senang.
Dihapusi. Tapi senang. Itu kan sulit.
Pjenengan coba ini jenengan tirukan
nanti di keluarga. Jadi saya noh, Mas
walaupun punya karyawan itu saya enggak
enggak hanya diam seperti itu ya tetap
menyiram. Kemudian saya juga setiap hari
mengecek bunga-bunga saya ya seperti
itu.
Jadi kami berharap sekali kepada
masyarakat khususnya masyarakat desa
kami untuk ikut berbudidaya bunga mawar
ini. Karena setelah kami menggeluti atau
kita mencoba merawat bunga mawar
ternyata juga sedikit bisa kita rasakan
lah. umumnya ya bangsa Mas kita ajak
untuk budidaya ini karena ternyata juga
menjanjikan walaupun mungkin bagi mereka
atau bagi beliau-beliau yang berada kan
apa itu oleh kami sudah wau lah kan
begitu Mas makanya untuk penutup kami
mengajak kepada masyarakat untuk ikut
berbudidaya bersama kami. Saya juga
mengajak kepada
ee masyarakat terutama emak-emak,
ibu-ibu yang mau purna ini jangan ee
kecil hati. Mari kita sambut dengan
tetap aktif, produktif, dan sebenarnya
kita punya potensi dan kemampuan yang
harus kita salurkan dan kita kalau sudah
purna itu fokusnya kepada diri sendiri
dan keluarga seperti itu. Dan saya siap
ngajari kalau masyarakat atau Bapak Ibu
yang ingin belajar budidaya bunga
mawaris gratis.
Gratis. Saya sangat terima kasih atas
kehadirannya, kerawannya. Jadi apabila
di dalam kami menyampaikan ada kata-kata
yang keliru, salah, ee saya bersama
istri saya binti Wasiah banyak
kekhilafan, mohon maaf. Billahi taufik
walhidayah. Wasalamualaikum
warahmatullah wabarakatuh.
[Musik]