CAPEK Jadi KARYAWAN, Nekat Bangun Brand SubCulture di Jogja
NlofdDOYW_I • 2025-09-23
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
ke ibu kota ini ngelamar kerja di ibu
kota
ke ibu kota rumornya kan fresh graduate
itu Makkahnya kan di Jakarta Pak
Mekah ya
katanya ya makanya mungkin narasi
Jakarta keras itu saya rasakan juga sih
Pak
e kan cari editor itu susah banget jadi
paling susah itu cari editor
cocok nih kayaknya di sini aku suka nih
sama editmu bagus sama kerja yang bagus
eh dia yang menolak saya aku sempat mata
hati prihatin ya
full prihatin lebih prihatin dari
bekerja loh Loh, ini saya Pak beneran
ini lebih prihatin daripada bekerja.
Lebih prihatin dari bekerja. Waktu
bekerja masih ngopi-ngopi santai, enjoy
enak.
Iya. Iya. Sekarang
akhir bulan bayaran. Sekarang pusing
loh.
Ya udah, semisal ini gagal pun.
Heeh. Heeh. Heeh.
Uangku habis
ibaratnya nol semua rekening.
Kan saya masih hidup sama orang tua.
Jadi
orang tu
ya sudah nanti hidupnya sama orang tua.
Cuman kalau untuk modal usaha saya
sebisa mungkin saya sendiri Pak.
Oh
iya itu Pak. Kalau alasan sebenarnya
apa? Mbal
cut dulu enggak ini.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Kita kedatangan Mas Iqbal
Palisade
bukan ya?
Aku dulu itu mesti tak itu Balamu Iqbal
Palisade gitu ya. Siapa aslinya siapa?
Eh Pasadena lah kan mirip kanalisade
pasadena.
Oke Mas Iqbal ini berarti apa nih?
Berarti ee boleh dibilang sebagai apa
sekarang?
Iya sekarang apa?
Sekarang jelas mantan editor pecah tuk
tangan dulu.
Respect, respectek, respect
respect.
Alumni editor Patelur
yang sekarang mulai merintis bisnis.
Kecil-kecilan aja sih.
Mantap.
Oke, Mas Iqbal ini termasuk juga ee
editor yang jauh ya. Jadi kita kan ada
di Tulungagung. Nah,
Iqbal ini rumahnya Jogja.
Yogyakarta.
Heeh. Dulu kok ee biar juga teman-teman
tahu dulu kok terdampar di Tulungagung,
Bal. Itu gimana ceritanya, Bal? Ee dulu
kan sebelum di Tulungagung saya di
Jakarta.
Oh, kerja di Jakarta ya?
Kerja di Jakarta.
Oh, sebagai editor juga?
Sebagai editor.
Oh.
Nah, waktu itu
H
lihat pecah telur posting karena kan
saya
subscriber lumayan
lama lah waktu itu di pecah telur.
Iya, beneran?
Iya, beneran Pak. Ini beneran ya? Ini
beneran.
Oke, lanjut. Terus ng pecah telur itu
posting
hiring editor.
Heeh.
Nah, saya ingat banget tuh posternya
Jeep di Bromo. Nah,
gitu
sampai gambar posternya.
Gambarnya masih ingat sebelah kiri itu
Bromo.
Jadi sebelah sebelah kiri gambar di
Bromo, sebelah kanan poster editor.
Poster edit.
Sebelah kiri itu gambar Je Bromo. Yang
sebelah kanan itu spesifikasi.
Terus saya apply
ee waktu itu saya apply
ya
terus interview
ya toh kan kamu kerja toh kerjamu nk apa
berarti editor apa
editor
juga
sama YouTuber juga Oh
cuman bukan di kalau di kalau dipecah
telur itu kan lebih ke film dokumenter
gitu
kalau waktu di Jakarta personal.
Oh, kayak vlogger gitu ya?
Vlogger gitu. W
itu boleh disebut apa? Boleh disebut
enggak?
Boleh
enggak apa-apa.
Youtubernya itu Mas Erlangs.
Mas Erlangs.
Erlangs. Erlangga.
Mas Erlangga. Enggak, belum tahu
kayaknya aku ya.
Erlangs W itu yang kemarin
ee main di Beyon sih, Pak.
Oh, iya. I i. Siap. Berarti anu olahraga
berarti
olahraga combat sport. Oh
oke oke oke oke oke.
Nah berarti sudah di industri youtuber
berarti ya sampean sebelum kerja di sini
berarti sudah di YouTuber kan?
Sudah. Sudah.
Nah ini waktu di Mas Airlines itu editor
pertama kali atau sudah gontah-ganti
editor kamu?
Kalau untuk secara profesional setelah
lulus kuliah baru pertama itu, Pak.
Oh. Oh,
kalau yang benar-benar full karena
2022 itu saya kan lulus kuliah terus
apply ke Jakarta.
Kuliahmu di
di akuntansi
[Musik]
ini yo enggak anu y harusnya ke kiri ini
ke kanan ya.
Iya, Pak.
Akuntansi di mana? Di bertempat di Jogja
atau di Jakarta?
Di Jogja.
Oh, tapi langsung ke ibukota ini
ngelamar kerja di ibu kota.
Ke ibu kota. Rumornya kan fresh graduate
itu Makkahnya kan di Jakarta, Pak.
Parah.
Mekah ya
katanya ya?
Katanya Mekahnya pencari kerja itu di
Jakarta.
Jakarta. Oke.
Ibu kota.
Terus ketika di sana Makkah beneran
enggak?
Ternyata kok kayak gini ya Makkah.
Enggak. Ini
kayak gini itu gimana? Kayak gini nih
gimana?
Kayak gini tuh di sana tuh terlalu
terburu-buru.
Hah?
Ras banget gitu loh.
Ee ritmenya kencang.
Ritmenya. ritmenya kencang terus kok
keras banget gitu untuk yang baru mau
buat pemain awal itu kok kayak mengikuti
ritmenya agak susah kalau di Jakarta ya
menurut saya ya.
Iya. Oke. Oke. Ritme apa kalau editor
ini berarti ritme apa Bar?
Ee semisal kalau di Jakarta itu sehari
satu
I ya. I ya
plus naskah gitu. Oh, jadi kayak ee
tuntutan kerjanya lebih kencang gitu ya.
Lebih kencang. Lebih
lebih harus selesai selesai nih satu
naskah sama editing harus selesai 1 hari
gitu.
Iya. H
gitu, Pak. Kalau di Jakarta. Makanya
mungkin narasi Jakarta keras itu saya
rasakan juga sih, Pak.
Hemang
sekeras itu ya.
Iya. Iya.
Harus benar-benar berjuang banget sih
kalau mau ke sana ya. Mau survive di
sana harus benar-benar struggle banget.
Tapi kan relate dengan apa yang didapat
kan Bal? Jadi ketika kerjanya keras
salarynya juga kencang kan
ya. Lumayan sih Pak lumayan. Untuk fresh
graduate mungkin masih oke.
Oke.
Cuman kalau untuk
jangka panjang
ee kurang tahu sih, Pak.
Kayak enggak yakin ngono.
Iya.
Nah, ketika ada waktu itu ada gambar
Bromo tuh.
Ada gambar Bromo. Habis itu ada
spesifikasi.
Iya. Nah, berarti kan belum keluar dari
YouTuber sebelumnya. Iya kan? Ngelamar
gitu ya.
Nah, itu transisinya
belum keluar. Waktu dipanggil tim pecah
telur untuk interview
saya sudah keluar seminggu.
Oh, berarti memang udah ada rencana
untuk keluar gitu ya?
Iya. udah ada
ee
isu mau pindah daerah aja mau ke timur
ini.
Oke. Oke. Berarti
kenapa waktu itu alasan keluar dari
YouTuber di Jakarta itu?
Karena memang
saya enggak bisa tertekan terlalu
terlalu ditekan banget sih, Pak.
Enggak bisa bekerja di bawah tekanan.
Tapi Jakarta keras, Pak. Kayaknya enggak
di YouTuber aja ya. kayaknya semuanya
semua lini bisnis sepertinya Jakarta
keras karena
banyak orang yang mau ke sana
i
ingin meniti karir
kompetitif ya jadi kompetisinya sangat
tinggi ya
sangat tinggi sekali untuk
berapa lama bertahan di sana
sekitar
4 bulan apa 3 bulan gitu Pak
Bentar banget ya
bentar sekali Pak di sana
Oh memang sangat keras ya sangat tekan
tertekan gitu ya
sangat keras saya tidak bisa menciptakan
ee ee kolam sendiri di sana kan harus
rebutan kan, Pak?
E rebutan kolam. Kolam apa ini berarti?
Ee kalau misal banyak pesaing lah di
sana,
banyak yang lebih bagus, banyak yang
lebih ini. Jadi saya harus
ee lebih keren lagi untuk
sulit, Pak.
Oke. Terus kemudian ke timur nih
ceritanya
ke timur dapatlah di Tulungagung. Ini
termasuk sesuai harapanmu enggak? Ini
terlalu timur atau kurang ke timur
menurutmu?
Saya malah dulu belum tahu, Pak, Tulung
Agung itu seperti apa kotanya. Oh, iya
iya iya.
Nah, gitu. Terus
gas aja,
gas sajalah.
Gas aja.
Toh juga masih muda ya.
Masih muda. Benar.
Oke. Singkat cerita keterima nih pecah
telur. Kaget enggak setelah dari tinggal
di Jogja, kerja pertama di Jakarta,
kemudian ke Tulungagung?
Agak kaget jurul, Pak. Memang ee
kulturnya memang beda, Pak.
Apa sing paling kamu kagetin di sini? W
yang paling saya kagetin di sini itu
dulu kan masih sering ngopi, Pak.
Iya.
Nah, waktu saya datang ke sini saya
ngopi kan kalau di daerah Jawa Tengah ke
barat itu ngopi pakai sepatu itu udah
menjadi hal yang biasa.
Oh, iya ya. Kerenlah gitu ya.
Udah kayak Oh, ya biasa. Cuman di sini
kok masih agak
ngapain pakai sepatu ngopi. Waduh.
Waduh. Lah pakai apa terusan? Sini kalau
di sini ngopi kan nyeker ya.
Saya enggak bilang ya untuk warga sini
ya.
Iya pasti karek sandal teplek lah.
Oh iya benar.
Teplek ya sandal yang swalo itu kan.
Iya lebih ke apa adanya Pak.
Iya iya iya.
Nah itu agak perbedaan kulturnya di
situ.
Oh iya
agak kaget malah diceng-cengin kan Pak
saya. Ngapain ngopi pakai sepatu?
Ngapain?
Iya. Tapi memang aku sering nemuin
sampean ngopinya pakai sepatu dulu. Iya,
memang memang di sana itu sudah hal yang
biasa, Pak.
Ternyata di sini masih belum mungkin
dulu ya, tapi ya sekarang mungkin sudah
banyak.
Belum juga sih.
Tetap ya.
Oh, belum ya? Masih belum ya?
Tetap masih belum.
Kalau ngopi sepatu ya dicengceng ini
nyapo ii arep dinas ta?
Kalau sini kan ee lebih ke warkop ya,
warung kopi ya. Kalau mungkin di sana
kan kafe itu yang mungkin berbeda. Kalau
kafe kan cenderung ada AC-nya, bersih,
agak sedikit pricey lah.
Iya.
Kalau di sini kan murah.
Heeh.
Ya mungkin tidak begitu kebersihannya.
Kebersihan enggak begitu enggak ada AC
kan ngono toh bel.
Iya.
Dan ee di sana ke coffee shop atau ke
kafe itu malah jadi ajang fashion show,
Pak.
Oh, pamer baju.
Iya. lebih ke memperlihatkan outfit
keren mereka gitu.
Makanya ada kayak konten cek outfit itu
juga relate berarti ya.
Iya. Outfit berapa harga outfitmu?
Memang
di sana itu udah
budaya ngopi buat ajang fashion show itu
udah
di di Jogja juga gitu ya P ya.
Di Jogja juga gitu. beberapa coffee shop
itu dilabeli sebagai ee tempat adu
outfit para pengopi gitu.
Ini tujuannya mau ngopi apa mau adu
outfit gitu, Pak.
Oh, kalau di sini kan ngopi itu ngobrol
gayeng kan.
Nah,
ngopi ngobrol
lebih ke interaksi sama teman kan, Pak.
Bukan yang ke wah hari ini aku pakai
baju ini, celana ini g ini gini. Kan
sudah enggak.
Terkait studio Bal. Jadi kan itu kan
terkait Tulung Agung ya, budaya ngopinya
ternyata beda.
Kalau studio gimana? Kan studio kita ya
masih
boleh dibilang ya rumah tua ala kadarnya
juga.
Itu enggak kaget kamu?
Ya sempat kaget juga sih, Pak. Pecah
telur waktu itu subscriber berapa ya?
R500.000.
Iya iya iya
R500.000.
Ee ekspektasi saya itu sudah benar-benar
proper di
studio benar gitu ya. ya di segala
produksi postro gitu itu sudah proper
gitu terus terus
datang gak apa-apa santai aja datang ke
sini ternyata gitu ya
datang ke sini ternyata
saya kira rumah enggak dihuni Pak waktu
itu karena dari depan sepi sekali
iya iya iya iya
dari depan sepi sekali terus
naik apa kamu datang ke sini berarti
naik kereta
naik kereta kan turun di stasiun toh
turun di stasiun Terus ke sini naik
ojek.
Naik ojek waktu itu. Dikasih map kan?
Dikasih map. Benar. Dikasih map.
Halo sama siapa? Ee diskusinya waktu itu
chatnya sama siapa
waktu itu? Sama Mas Andi.
Oh, Mas Andi. Andi iya.
Manajer itu.
H. Terus terus terus.
Nah, saya itu datang ke sini pertama
kali
ee malam, Pak.
Oh, malam.
Malam. Kereta
kereta malam kereta malam. Kereta malam
jam
. Jam .
malam banget ya berarti ya?
Iya.
Atau malah pagi itu, Pak?
Heeh. Pagi sebelum subuh lah ya.
Sebelum subuh. Iya. Sebelum subuh itu
enggak ada orang lah di sini.
Ditungguin waktu itu. Iya. Ada
ditungguin
salah satu kameraman, Pak. Masilham.
Oh, Masilham.
Nungguin di parkiran. Iya. Kameraman itu
nungguin. I ya. Ya. Terus
karena kan baru pertama. Heeh. Terus
enggak tahu waktu itu tidur di mana.
Heeh.
Disiapin semuah segala kebutuhan di sini
tuh sama Mas Ilham waktu itu
pertama kali.
Kaget ya?
Kaget banget sih, Pak. Jujur memang
kaget.
Ini kayak rumah kosong itu.
Kayak rumah kosong terus.
Tapi dari segi alat mengerikan loh, Pak.
Lah dari segi alat mengerikan.
Mengerikan loh, Pak.
Kan enggak kan malam enggak tahu malam.
Setelah tahu tah
setelah tahu alatnya itu
pagi berarti ya?
Iya pagi. Terus
waktu teman-teman mau syuting kan juga
tanya kan alatnya apa, device-nya apa.
Heeh. Heeh.
Gitu. Memang proper di sisi ee alat
device itu memang
mengerikan.
Mengerikan menurut saya. Sudah. Jadi
menurut mungkin di atas rata-rata
YouTuber pada umumnya di saat itu. Nah,
di saat itu. Tapi kalau sekarang sudah
mulai tertinggal ya.
Oh iya.
Harus segera upgrade lagi.
Kan harus mengikuti terus.
Benar. Benar.
Tapi kalau dari segi bangunan sungguh
tidak layak ya.
Bangunan memang sangat.
Jadi aku pernah Bal
Iya. I
aku ingat ya. Jadi ada kan cari editor
itu susah banget Bal. Jadi paling susah
itu cari editor.
Karena kan ee rata-rata orang jauh.
Oh
orang-orang jauh kan.
Kenapa, Pak?
Enggak tahu ya. Jadi kalau ee cari lock
kreditor orang lokal itu agak enggak
nyantol gitu loh. Enggak enggak ada
yangai akhirnya kita luaskan kan. Jadi
ya sudah kita buka loker untuk area Jawa
Timur, Jawa Tengah
dulu sampai Jakarta juga akhirnya kita
btisen akhir-akhir sampai ke Jawa
Tengah.
Akhirnya kan yang datang kan rata-rata
orang Jawa Tengah.
Enggak tahu ya kenapa ee yang Jawa
Tengah, Jogja, Solo,
mungkin sedikit Jawa Barat juga ada.
Karena waktu itu ada
ee di tengah ke apa iku jenenge iku kan
putus asa yo. Jadi buka loker
iya
yang lamar buahnya enggak sesuai
kriteria entah dia yang mahal atau yang
kan ada
oh i
nyantumin dan sebagainya ya atau
portofelonya kurang cocok dan
sebagainya. Nah, waktu itu kan kalau di
kita ada juga tuh magang di sini bukan
magang ya,
training.
Ee bahasa kita adalah apa bahasa kita?
Trial.
Nah, trial. Trial satu project. Oh,
ya kan Iqbal kan gitu juga kan.
Iya. Jadi pas waktu datang ke sini kan
trail satu project.
Jadi kamu ngerjakan satu project di sini
3 hari biasanya.
Ee dikasih fee juga walaupun trial
dikasih juga transport kan.
He transport. Nah, waktu itu aku senang
nih ada satu orang he
ee wah bagus nih. Alhamdulillah dapat
nih kayaknya.
Iya.
Terus ee setelah trial di sini, Mas
selamat ya sampean cocok nih kayaknya di
sini. Aku suka nih sama editmu bagus,
sama kerja yang bagus.
Eh, dia yang menolak saya. Aku sempat
patah hati.
Oh, iya.
Aku sempat patah hati. Itu orang mana,
Pak? Jawa Tengah.
Iya. Kebumen atau mana ya? Lupa aku.
Pokok alasannya ee mungkin kurang proper
ya. Eh, ingat aku banyak nyamuk, Pak.
Gitu.
Oh, dia tidur di sini juga. I
tidur sini. Tidur sini. Kalau malam
banyak nyamuk gitu.
Tidur di tengah itu pasti
tempat tidurmu.
Tempat saya tidur
itu, Bal. Oh, aku sempat aku rodok
mangkel iku rada sakit baper aku.
Karena mema,
dia bilang alasannya seperti itu atau
ee baparnya karena susah cari ya. Begitu
aku ada yang suka,
ternyata dia yang enggak suka gitu.
Berat bertepuk sebelah tangan ya.
Tapi buka lagi habis itu.
Itu berarti sebelum saya ya
kayaknya ya. Kayaknya ya.
Oh.
Atau setelahmu ya? Eh tapi sebelummu
kan?
Sebelum saya
sebelum pas waktu Mas Iqbal masuk kan
ada dua kan waktu itu barengan kalau
enggak salah ya. Mas Iqbal sama Oman
bareng enggak?
Ee
duluan. Duluan
saya dulu kayak
Oh zaman dulu.
Iya cuman enggak enggak
enggak berselang lama ya.
Enggak berselang lama.
I iya iya.
Jadi memang itu banyak juga yang kecewa,
Bal. Bukan kecewa ya, kayak
ekspektasinya ketika datang ke sini itu
tidak sesuai dengan ekspektasi dia. Yang
dibayangkan kan 500.000 subscriber
apalagi sekarang 1 juta subscriber
ya proper lah cara studio. Terus
ee ya kayak ala-ala kantor-kantor
kekinian kan gitu Bang. Heeh.
Banyak orang yang ke sini. Makanya aku
memutuskan untuk bikin podcast di sini
tuh mikirnya agak panjang Bal.
Oh. Oh,
karena agak malu juga mendatangkan tamu
ke sini.
Oh,
tapi sekarang sudah mulai PD didandanin
dikit-dikit.
Iya. Perubahannya banyak sekali loh,
Pak.
Setelah kau tinggal?
Setelah saya tinggal.
Justru ketika kau tinggal aku berubah.
Nah, itu apa? Jangan-jangan saya ini
bebannya i
enggak ya? Mulai berbenah aja dikit
dikit-dikit gitu.
Banyak loh perubahan. Banyak banget.
Banyak. Oh, banyak ya.
Dari di studio ini, studio editor,
tempat podcast ini ya. IR juga ya.
Terus ruang pertemuannya itu kan juga
baru semua kan, Pak. Wajah barulah untuk
pecah telur.
Iya. Jadi kayak kalau ada tamu agak
pantes lah ya.
Iya. I
agak tapi iya agak
sudah pantes ya Pak saya Pak ya. Ya udah
pantes ya. Tapi menurut ee saya juga apa
tanya ke teman-teman kan teman-teman
editor terus juga beberapa tamu tak
survei gimana?
Oh bagus kok ini vintage kok vintage
terus nyaman. Iya.
Terus kan ee menyatu kan jadi ada ruang
pertemuan, ada studio.
Iya.
Ada ruang editor, teman-teman kerja yang
admin itu ada ruang meeting
bareng-bareng.
Oh ya.
Dapur
dapur.
Nah gitu. Jadi kayak menyatuh kayak humi
gitu loh. Kayak rumah gitu.
Iya memangitu ya.
Saya aja waktu ke sini kan sudah
menganggap ya udah ini memang
rumah ya. Rumah si.
Iya. Yang bikin poster rumah itu kan
awak sampean kan.
Oh iya.
Paster apa tuh waktu itu?
Ee Jogja adalah rumah tapi di sini di
Tulungagung tempatku beribadah
di kamar. Kamar sana.
Iya iya ya. Masa to beribadah gitu,
Ustaz? Aku lupa.
Iya iya beribadah gitu ya.
Nah juga ketika ee itu hal negatif
mungkin ya yang kamu temui ketika ke
sini. Kalau hal yang positif apa yang
kamu temui di studio ini? Eh, ini ada
beberapa sih, Pak, tapi yang pos
yang positif ya.
Iya, yang positif
yang bikin pos yang positif. Tapi saya
juga kaget itu setiap pagi ada briefing
sama ngaji, Pak. Nah,
briefing sama ngaji
ini menurut saya nilai positif sih buat
saya karena sayaoke.
Ee selama bekerja ya, baru kemarin, baru
kali ini loh, Pak. Baru kali ini
ee berangkat pagi terus ada sesi
mengaji. Nah, apalagi saya enggak bisa
ngaji waktu itu, Pak. Jujur saja.
Tingkat keimanan memang agak kurang ya.
Nah, masuk sini
yang basisnya teman-teman itu
keislamannya
oke, kuat menurut saya.
Iya, iya iya. Jadi kayak ee setetes
tinta hitam di kertas yang putih
kata-kata aja kok
setetes tinta hitam di kertas yang
putih.
Di kertas yang putih
jelek berarti hitam dong
ya. Saya yang hitam masuk sini. Sini kan
putih saya hitam jadi kayak
nyentrik banget pasti.
Heeh.
Iya. Jadi kalau dulu waktu zamanmu itu
masih ngaji sendiri-sendiri ya kalau
enggak salah ya.
Bareng-bareng kayak
bareng-bareng ya. Sekarang ada juga yang
kayak ngaji di semah, Bal.
Di semah?
Iya. Kayak ee kamu ngaji gitu ya, nanti
aku yang kayak benerin gitu.
Oh,
jadi ada juga yang sesi kayak gitu.
Oh,
ada yang bisa nanti dipasangkan sama
yang kurang bisa.
Habis itu dibenerin ada ada juga yang
ngaji bareng.
Oh, tapi tertentu aja, Pak. Atau setiap
pagi juga, Mas?
Iya. I setiap pagi atau tertentu toh?
Setiap pagi.
Setiap pagi ya? Setiap pagi kayak gitu
ya. Taksin.
Ee taksin. Tahsin.
Oh, tahsin. Wah, istilah-istilah baru
ini kayaknya buat saya. Tahsin.
Kamu harus ke sini lagi berarti, Bal.
Biar pintar ngaji.
Weh, tapi sekarang jadi pengusaha e.
Oh, belum masih pedagang, Pak. Gitu.
Oke. Nah, ee hal yang kamu kangenin,
Mbal di Tulung
dari di Tulungagung.
di Tulungagung. Hal yang paling aku
kangenin itu kopi hijau susu.
E nyebutnya sudah sadu banget. Kopi ijau
susu.
Iya benar. Itu waktu pertama kali saya
ke sini diajak ngopi ya. Kopi itu emang
benar-benar kopi asli Tulungagung
katanya.
Iya betul.
Terus waktu saya minum ya emang wah ini
ya memang
enak banget. Iya culture banget.
Enak. Oh
orang-orang harus tahu Pak. Kopi hijau
susu.
Kopi hijau susu. Kalau belum tahu kopi
hijau ijau susu
masih
belum ngulong Agung.
Kurang
masih kurang.
Tapi itu strong loh Bal. Iya kan strong
di kayak ee kopinya strong gitu.
Iya
betul ya.
Ya. Kuat terus ee manis juga sih Pak.
Saya juga
ada susunya itu kan.
Iya ada susunya. Aku aja enggak begitu.
Maksudnya minum tapi enggak boleh
sering-sering
karena manisnya itu atau menurutku
strong banget ya.
Efeknya strong gitu.
Oh iya sih, Pak. Memang kalau keseringan
asam lambung bisa naik ya. Asam lambung.
Pernah kok kamu ke aku ingat
kan kantor kita sama tempat tidurmu kan
satu tempat ya.
Nah, kamu enggak masuk kantor habis itu
tak tak lihat di kamarmu.
Iya.
Kalau enggak salah sakit asam lambung
ya.
Asam lambung, Pak. saya
itu sampai berhari-hari,
berhari-hari
sampai 8 hari atau lebih ya kalau enggak
salah
seminggu, Pak. Di sini enggak
ngapa-ngapain.
Sakit asam lambung.
Asam lambung.
Oh, itu kebanyakan kopijau kayaknya.
Kebanyakan
kopijau sama ee waktu itu kenapa ya?
Saya lupa juga sih, Pak. Telat makan
atau apa gitu.
Iya. Iya. Iya.
Sampai ee masuk rumah sakit ISA.
Oh, iya toh.
Iya.
I diantar teman-teman ya waktu
diantar teman-teman. Baik-baik loh,
Teman-teman. Di sini tuh kalau sama
saya, Pak.
Baik-baik. Benaran.
Luar biasa.
Pagi-pagi
gitu ada yang masuk ee ngasih kayak
makan sama teh hangat.
Wah.
Pas sampean loreku diantar gitu ya.
Iya.
Oh,
memang benar-benar dirawat lah ya.
Dirawat banget, Pak.
Iya.
Saya sampai heran, oh kayaknya saya
enggak sebaik ini kok diperlakukan baik
banget kayak gini.
Iya. I
gitu
diantar. Ini sarapane Bal.
Nah, gitu-gitu loh.
Sopa sing ngantter, Bal.
Waktu itu seingat saya Nuril.
Oh, Nuril.
Nuril. Nuril.
Oh, Nuril masih tidur sini.
Masih tidur sini, Pak. Masih tidur.
Oh, sampean belum ketemu Nuril loh ini.
Nuril.
Iya.
Aduh di rumah
ya. Nanti mungkin tak main ke sana.
Tapi Bal
Bal makan Bal itu ya.
Iya. Itu Nuril. Terus yang ngantar saya
itu Mas Fuad.
Oh, Fuad. He.
Ke rumah sakit.
Ke rumah sakit. sampai ke rumah saya
benar-benar asam lambung tuh nyiksa
banget sih.
Iya betul. Sakit kan?
Sakit sekali sampai punggung waktu itu.
Nah, sampai di rumah sakitnya itu masih
antri, Pak.
H
masih antri. Perut udah sakit.
Ee waktu itu kayaknya masih COVID juga
sih. Masih musimnya COVID.
Iya. Iya. Iya.
Sakit asam lambo malah diwap juga. Ini
ini yang sakit sebenarnya yang mana?
Tapi enggak positif kan hasilnya.
Hasilnya negatif. Negatif
tapi penanganannya juga
waktu itu antri kan terus ya aman.
Iya iya.
Waktu itu kalau enggak salah keluarnya
itu apa ya? Aku lupa karena apa ya Bal
ya dulu resignnya?
Wisuda, Pak.
Wah. Iya. Wisudanya karena apa ya dulu
ya?
Wisuda.
Tahun berapa tuh?
2014 ya
tahun 2 wisuda dari
du eh tahun 2004 2024 ya dari sini ya
du
t eh 23 kayaknya
23 ya
23 akhir.
Oh bukan 2024 awal
2024 apa ya Pak?
202 I antara itulah ya.
Heeh. Heeh. Heeh.
He.
Itu kerja juga habis itu kan di Jogja
kan ya?
Iya. Kerja juga di properti waktu itu.
Oh iya. itu me kalau enggak salah
seingatku
entah ini alasanmu atau apa ya entah apa
yang terjadi. Jadi kalau enggak salah
sering sakit terus pengin dekat dengan
rumah gitu ya.
Heeh.
Hm.
Iya. Itu Pak
kalau alasan sebenarnya apa?
cut dulu enggak ini
memang harus
enggak harus sih
enggak ingin menjaga
menjaga
saling menjaga aja sih Paknya gak
terjadi
huruara
ya wis
nanti-nanti aja ya Pak
cinta damai sekarang Pak
cinta damai
y
jangan digoreng-goreng terus sudah lama
Nah waktu itu kan waktu itu habis itu
kan kerja ya ni Jogja Iya.
Di properti.
Properti.
Properti itu juga di editor,
di content creator lebih ke?
Oh, lebih ke umum ya. Jadi ngetik juga,
editing juga gitu ya.
Iya, gitu. Berapa lama?
Hampir sama kayak pecah telur. Satu
setengahan. Hampir.
1 seteng ya. Cukup lama ya.
Cukup lama.
Cukup kerasan berarti di sana ya.
Cukup kerasan ya. Kulturnya itu mirip
Pak.
Hmm.
Islam juga. Jadi kalau di sini pagi
mengaji
setiap pagi, kalau di tempat lama itu
setiap bulan bakti sosial gitu.
Oh, ada sosialnya.
Iya, tapi tetap
vibes-nya juga sama sih, Pak.
Tidak terlalu tekanan juga ya. Tidak
seperti yang di Jakarta itu.
Eh, beda sekali.
Nah, ini yang ee faktor menarik nih.
Sering ditanyain juga sama teman-teman
penonton pecah telur, Bel.
Heeh. Artinya kan kamu sudah berpindah
tuh
berpindah dari
pekerja pekerja kemudian pekerja sudah
gantikan tiga tempat ya
iya
kemudian memutuskan menjadi pebisnis lah
starting merintis jualan online.
Nah ini juga gimana anumu ee
step-stepnya Bal?
Step-stepnya waktu itu kan memang ee
waktu di Tulungagung ya. Heeh. Heeh.
Saya itu memang udah apa kayak pengin,
Pak, punya sampingan waktu di editor
sini. He he.
Nah,
karena sering lihat itu kali ya.
Ya, karena kan sering edit
bisnis ceritanya seperti ini, seperti
ini. Kok rasanya ingin juga seperti yang
saya edit juga. Nah, iya. I
waktu itu ee karena koneksi dan link
saya di sini masih dikit, jadi kayaknya
kayaknya di Jogja bisa kalau untuk
Oh, usaha.
Iya, karena linknya kan di sana semua
kan, Pak?
Heeh. Heeh. He.
Secara koneksi link teman-teman
He.
Source-nya lebih enak di sana mainnya
gitu.
Iya. Iya. Nah, waktu itu Yoda sudah
memutuskan pergi eh lulus dari sini ke
kerja di sana.
Ee saya itu sering sekali ikut bos saya,
Pak.
Hmm.
Nyetir.
Oh. Selain juga kontrator nyetir ya?
Ya. Nemenin. He he.
Menurut saya itu refreshing sih, Pak.
Betul. Betul. Betul.
Refreshing. Karena
ee ngedit terus kan juga
jenuh ya.
Jenuh saya. saya ini muda jenuh kalau di
depan PC
terus diajak
refreshing itu ketemu siapa? Ketemu ini,
ketemu ini. Nah, saya itu juga belajar
dari situ, Pak. Cara berkomunikasi
dengan beliau-beliau.
Heeh. He.
Terus ya saya
ingin jugalah
semakin di
sempitkan lagi lebih intens gitu loh,
Pak. Kalau sama bos saya yang di
Heeh.
properti itu. Jadi hampir seminggu itu
bisa 3 sampai empat kali keluar.
Keluar
keluar.
Itu sebuah keuntungan sih, Bal. Jadi di
sebuah usaha yang kita bisa dekat dengan
owner itu sangat
bagus banget itu.
Jadi kita bisa diskusi, curi ilmu,
dapat nambah relasi kan gitu. Heeh.
Tapi saya enggak berani yang buka
obrolan gitu, Pak. Saya cuma diam aja.
Oh. dengerin saya itu nyurinya mungkin
dengerin.
Heeh.
Oh, ternyata kayak gini bernegosiasi.
Oh, ternyata
komunikasi itu seperti ini dengan klien
dengan apa gitu.
Heeh. Heeh.
Saya belajarnya malah mendengarkan,
enggak yang bertanya secara langsung.
Enggak aktif ya,
Pak. Sungkan, Pak.
Lanjut. Lanjut. Nah, setelah itu ee saya
pamit sama yang di properti gitu. Saya
pamit mau usaha usahanya gini gini gini.
Ee waktu itu di-support juga sama
Oh
ee
mantan
Iya. Pak Nurul namanya.
Di-support.
Pernah juga T yang dipecah telur kan
itu.
Iya. Heeh. Heeh.
Waktu itu pernah diliput dipecah telur
juga terus di-support. Ya sudah kalau
memang keputusanmu ingin berdikari
H
ee tak dukung tak dongake
terus ya dikasih wejangan gitu Pak. Yang
saya ingat wejangannya itu
eling kowe iki wong Jaowo. Heeh.
Apa ne wong Jogja
kowe karo sopo wae kudu mangku.
Eh, jadi memang lebih ke hatinya lebih
dibesarkan
untuk sama Iya.
Siapapun itu harus merangkul.
Mangku mangku itu merangkul.
Iya. Lebih ke merangkul, mengayomi
mungkin ya.
Iya. Iya. Iya.
Karena kan kalau di Jogja itu ee Sri
Sultan kan gelarnya Hamengku Buono.
Eh, apa kaitannya sama Mangku? tadi
orang Jawa itu harusnya mangku, Pak.
Oke.
Nah, gitu.
ST saya
mangku itu mungkin kayak ini ya, Bal ya,
ee orang duwuri gitu loh ya. Kayak
kayak apa ya?
Selalu menempatkan
di bawahnya gitu ya.
Iya, mungkin
biar biar juga enggak terkesan kita
merasa
lebih pintar atau kayak gitu ya.
Iya. He.
Jadi terkesan lebih Anda pasor atau
pasor, Pak. Andap asor sama semuanya.
Oke.
Siapapun itu entah sekarang ataupun
nanti besok tetap harus mangku itu tadi.
Iya. Iya. Menarik. Menarik
gitu. Oke. Waktu
itu ketika resign atau keluar dari
properti itu.
Iya.
Punya tabungan enggak?
Pasti, Pak.
Pasti. Ya sudah nyiapin ya?
Sudah saya siapin waktu di pecah telur.
Sejak dari pecah telur.
Sejak dari pecah telur saya sudah
mempersiapkan tuh semua.
Oh, nabung lama ya berarti ya?
Nabung lama Pak. Agak prihatin.
Memang. Memang ya?
Iya iya iya. Oh.
Jadi selalu saya sisihkan, Pak.
Dalam bentuk apa biasanya?
Jadi tabungan saya itu dua.
Heeh.
Untuk keseharian sama untuk tak saya
simpan.
H. rekeningnya itu ada dua.
Heeh. He.
Jadi gajian di
misal di rekening A
Heeh. Heeh.
Setelah gajian saya langsung disiplin.
Awal bulan itu langsung saya sisihkan.
Hm.
Gitu. Disiplin
sampai berapa persen dari apa patokannya
apa persenan atau apa?
Waktu itu masih nominal, Pak.
Oh.
Kalau di sini kan biaya murah, Pak.
Heeh. Heeh. Heeh. Dan menurut saya agak
tinggi juga ya di sini salary.
Salarynya agak tinggi. Tinggi sih
menurut saya.
Saya masih bisa setengah kok, Pak.
Setengah hampir lebih saya bisa sisihin.
Hm.
Terus di sana juga saya selalu
menyisihkan terus
terus terus
terusan.
Terkumpul berapa waktu mau keluar itu?
Wah cukup nih. Gitu. Kategori cukup itu
berapa di Iqbal
terakhir di sana?
Iya di sana.
Ee waktu itu saya pegang cash
12 loh. Enggak banyak ya
itu cash.
Oh cash.
Cash yang saya dari sana.
Oh yang di pesangon lah.
Bukan.
Oh bukan
yang saya sisihkan dari sana.
Sana. Iya iya iya.
Tapi kan yang dari sini.
Heeh.
Saya kasih saya masuk di emas.
Oh gitu.
Iya.
Jadi kurang lebih harta saya yang cash
ya.
Kekayaan kamu.
Kekayaan yang menurut saya masih tidak
kaya juga cuman aset total aset.
Aset cash yang bisa saya tarik semua itu
sekitar
20an
205 sekitar 2025.
Oh itu untuk modal
separuh aja Pak.
Separuh. Nah aku juga makasih loh Bal.
Jadi tim ini kan aku enggak ikut ngonten
kan walaupun kamu juga sudah enggak
aktif di pecah telur
tapi menjadi kayak tempat jujukan ketika
di Jogja. Apa sih jujukan itu?
Tempat singgah.
Iya.
Wah, aku makasih banget.
Ee
malah nganu sih, Pak.
Mending ee tim pecah telur kalau ke
Jogja ya ke tempat saya gitu. Sekalian
kan refreshing main gitu.
Iya. Nah,
kalau bagi kami sih menghemat kos sih.
Enggak masalah
penghemat kosel kan gitu. Tapi
teman-teman juga senang katanya setiap
katanya keluarganya baik terus dikasih
sering dapat makanan gitu ya. Tetapnya
bilang sering-sering aja gitu
maksudnya baik gitu loh. Nah, artinya
kan gini Bal. Aku mau korelasinya ke
sini. Nah, ketika kamu berbisnis kan ee
ada support dari keluarga enggak kan? He
tak lihat juga bukan dari
background keluarga kayaknya juga baik
gitu menengah gitu bukan.
Iya iya ya pasti Pak.
He pasti ya
pasti privilege itu pasti
pasti Pak.
Ee dari cuman kalau dari tabungan saya
masih mempertahankan untuk punya saya
dulu.
Oh. He.
Cuman kalau dari relasi koneksi itu
orang tua sangat ee support banget kayak
memperkenalkan
anaknya berbisnis ini ke teman-temannya
biar
teman-temannya juga tahu.
Iya.
Cuman kalau dari segi ee finansial
alhamdulillah masih terhandle sih, Pak.
Pakai
dari tabungan itu.
Dari tabungan saya dulu. Cuman orang tua
bilang gini. He
ee seumpama memang dede tenan.
Iya. Wis kepepet
kepepet banget. Ee usah dipeksake ee
dipinjami.
Oh
sama orang tua. Nah
memang kan bisnis naik turun ya, Pak.
Iya iya iya.
Saya sempat yang benar-benar kritis
banget.
Kritis banget.
Memang benar kritis.
Iya
benar-benar kritis.
ee ada pesanan yang lumayan banyak, cash
enggak pegang banyak waktu itu ya minjam
orang tua, Pak.
Oh,
gitu. Jadi orang tua memang privilege ya
memang privilege emang harus
saya juga tidak berharap lahir di
keluarga yang mana juga kan.
Iya. Maksudku gini, Bal. Jadi ee aku
malah salut gitu loh. Kan maksudku ee
dengan keluarga yang ee ya sudah cukup
gitu ya. H
kok harus nabung gitu loh. Kok enggak
minta bantuan orang tua itujadikan opsi
utama gitu loh.
Kan harus nabung gitu loh.
Prihatin gitu.
Oh kok prihatin kok mau maunya prihatin
gitu loh.
Maunya prihatin kesalahan saya maong
prihatin Pak.
Harusnya dari kecil saya udah
kan los aja ya gitu.
Iya ya minta doang dibantu kan anaknya
mau usaha nih. Kok enggak opsi itu kok
gunakan pertama Bal? Apa Bal? Karena
mungkin ee
pride aja, Pak.
Hah?
Pride.
Pride ya?
Iya. Kebanggaan ketiga.
Ya. Saya gini, Pak. Saya masih punya
uang ya sudah saya habiskan. Tapi kan
saya masih punya backupan orang tua.
Nah, jadi ya sudah semisal ini gagal
pun.
Heeh. Heeh. Heeh.
Uangku habis
ibaratnya nol semua rekening.
Kan saya masih hidup sama orang tua.
Jadi
orang tu
ya sudah nanti hidupnya sama orang tua.
Cuman kalau untuk modal usaha saya
sebisa mungkin saya sendiri, Pak.
Oh
gitu.
Menarik sih, Pal.
Dari kecil
ee udah nganu, Pak. Saya itu ee
menyisihkan terus.
Oh, dari kecil ya?
Iya. Dari
uang jajan kali ya? Jajan gitu sudah
nyisin.
Tapi mungkin enggak percaya ya. Mungkin
mungkin pada enggak percaya, Pak. Karena
memang di keluarga saya ya lumayan cuman
enggak yang kaya-kaya banget. Enggak
yang
menengah lah. Bal
biasa aja sih, Pak.
Iya. Heeh. Biasa biasa itu kan menengah
cukuplah. Cukup ya
tidak kekurangan juga tidak kaya banget.
Tidak kaya banget gitu
kayak gitu. Didikan mungkin juga
didikan ya. Siapa yang paling
mendidikmu, Bal? Dari kedua orang tua
Bal.
Kalau untuk disiplin Bapak
h
keras Bapak
keras ya.
Waktu kecil memang sudah dididik keras
banget loh, Pak.
Kalau untuk ee yang cara bersikap itu
ibu pasti.
He he. Keras, Pak.
Siap.
Kok memilih kaos, Bal? Kan bidangmu kan
kaos ya, t-shirt ya? Apa sebutannya?
Ya, t-shirt. Kaos
brandnya apa? Subculture.
Subculture itu ya di sakunya itu ya.
Y
we subculture
kok memilih bidang ee fashion.
Ee
kenapa saya milih fashion? Karena sempat
diajarin sama teman toh, Pak.
Waktu di
waktu di Jogja.
Oh, pas waktu kerja itu ya di properti.
Kerja di properti
itu sempat main sama yang bergelut di
bidang tekstil.
Ee terus saya
penasaran.
Hm.
Oh, mainnya kayak gini cara mainnya. He.
Nah, terus ini juga bukan passion saya
juga loh, Pak.
Oh, iya toh.
Fashion itu bukan passion.
Bukan passion.
Fashion bukan passion.
Fashion itu bukan passion.
Kok kok apa mendlare fashion bukan
passion
ya? Karena saya kan dari editor, Pak.
Iya.
Visual. Oke,
berbeda sekali dengan fashion ini.
Oke.
Karena memang ee
fashion itu apalagi di kain gitu memang
agak kerasa sih, Pak, dari
mungkin marginnya
enggak begitu tebal gitu ya.
Ee lumayan tebal.
Lumayan tebal.
Marginnya lumayan tebal.
Lumayan tebal.
Oh. di pertekstilan itu. Jadi ya
berarti alasan yang pertama itu karena
kamu bisa diajarin tadi berarti yang
ngajarin temanmu berarti ya.
Teman kuliah eh teman
teman SMA.
Oh teman SMA. Ada yang usaha fashion
kaos juga.
Kaos
kamu diajarin berarti kamu bisa
skill-nya ada.
Iya.
Kedua, ternyata labanya lumayan nih
marginnya gitu ya.
Lumayan.
Tapi bukan di kaosnya Pak yang lumayan
itu
apa? di bahan-bahan lain sebenarnya.
Oh,
di kayak drill atau di mana itu harga
jualnya kan udah
drill apa sih
drill itu
ee kain-kain kayak twil gitu, Pak. PDA
gitu-gitu.
Jual kaos atau apa itu
kayak kemeja.
Oh loh, kamu bukan cuma kaos aja.
Iya, enggak cuma kaos aja. Jadi
Oh,
kalau ini kan brand, Pak. Subculture itu
brand.
Subculture itu
subculture brand.
Brand yang
produknya itu masih kaos.
Cuman ke depannya bakal main di
ee kemeja, di fes, di rompi. Di
fashion-fashion itu bakal
kok masukin semua.
Iya. Main nyoba main gitu.
Iya. Cuma startnya dari kaos dulu. Siap.
Kaus dulu. Iya. Mungkin setelah kaos ini
itu bakal ganti di bahan lain, Pak.
Kayak di
drill atau di ripstop atau di apa gitu.
Mantap. Mantap
gitu, Pak.
Nah, subculture sendiri apa tuh
maknanya?
Subculture ya ee menurut saya aja ini,
Pak. Saya takut dihakimi orang-orang
lah. Kan kok pakai namanya?
Iya. Iya. Menurut saya ini ee sebelum
menjadi culture kan subculture dulu.
Ee
jadi sebelum menjadi tren harusnya
subculture ini udah tahu, oh ini bakal
trennya seperti ini. Oh, trennya bakal
seperti ini. Jadi harus lewat subculture
dulu biar
jadi tren menjadi tren. Oh, menarik juga
ya. Gitu.
Itu niatnya seperti itu, visi- misinya.
Jadi tapi itu akan tidak menjadi tren
terus karena sebelum tren kan.
Iya sebelum tren. Sebelum tren muncul
berarti enggak enggak akan tren.
Enggak akan sebelum tren. Oh iya. Oh iya
baru baru sadar sekarang saya. Oh iya.
Oh iya ya.
Subculture. Tapi enggak apa-apa. Jadi
mendahului tren. Jadi kan tren itu kan
ee
orang yang beruntung adalah orang yang
mendahului tren. Pel.
Oh malah gitu Pak.
Iya. H.
Jadi ketika orang masuk ketika tren
datang biasanya telat.
Oh.
Ya. Jadi memang mendahului tren itu
adalah sebuah hal yang susah ketika dia
bisa masuk sebelum ada tren.
Itu risetnya gimana, Pak?
Itu enggak ada di riset itu.
Itu murni kalau kita katakannya rezeki.
Oh, rezeki.
Iya, rezeki.
Berarti enggak bisa di ada metode
pendekatan
tentang tren gitu enggak ada ya?
Variabelnya terlalu banyak. He.
Ee karena variabelnya banyak bisa juga
di itu seperti kan gini kan bagaimana
menciptakan video viral. Nah, video
viral itu adalah video yang bertepatan
dengan momentum.
Iya.
Ya kan gitu. Apalagi pas waktu momentum
momentum-momentumnya awal pas
culture-nya.
Oh.
Nah, gitu kan. Jadi kan kalau pasap
culture bagus tuh karena bakalan lama
bentuk dapat momentumnya kan gitu.
Ada yang tanya, ada yang ngeyel gitu.
Ini harusnya bisa diriset.
Iya. Kalau ada ilmu ini dan orang yang
biasa menguasai ilmu ini pasti orang
kaya gitu. Akan jadi kaya maksud saya.
Oh, akan jadi kaya
kayak karena ya itu ya kunci viral itu
viralitas kan sekarang luar biasa ya.
Apapun kalau sudah viral
laku banget ya kan.
Nah itu memang banyak variabelnya.
Banyak variabel. Jadi mungkin ee kalau
saya lebih enaknya nyebutnya rezeki.
Rezeki aja.
Rezeki aja. Jadi pas pas waktu kita
bikin
Heeh.
ee
momentumnya
momentumnya dapat atau subculture
subculture gitu. Mendahului culture
mendahului
mendahului cultur-ya
mendahului viral.
Tapi, Pak, saya mau tanya media
sangat berpengaruh enggak untuk tren
tren segala tren ya, enggak cuma di
fashion ya, segala bentuk ee budaya baru
lah, culture baru, media itu pengaruh.
Iya, sangatlah. Jadi kan orang bergerak
hari ini role modelnya kan dari media.
Ketika Drakor menjadi idola bagi
orang-orang,
maka yang terkait dengan drakor laris
kan.
Laris
dari makanannya.
Iya kan?
Makanan apa dari Korea? Banyak kan?
Banyak.
Apa yang paling baru itu apa namanya?
Banyaklah. Akuak penghobi juga itu ya
fashion-nya, skinc-nya dan skinc
ya gitu kan media kan. Cuma media ini
juga kan besar banget ya, Pal ya. Bahkan
kayak media-media kecil kita harus
ngikuti media besar.
Oh iya
iya kan? Harus ngikutin
arus.
Oh
jadi kita itu harus ngikutin arus tapi
tidak boleh
apa kita harus nge-flow tapi tidak boleh
kayak terarus.
Apa yo bahasanya? Ya
berarti riding wave gitu Pak
ya. Riding the wave.
Oh
riding the wave.
Bukan tenggelam di wave tapi riding the
wave. Iya.
Nah, ee kiblat-kiblat media itu
se maksudnya seperti apa, Pak?
Banyak banyak. Tergantung kita,
tergantung kita di sektor apa.
Oh, berarti setiap sektor ada kiblatnya
ya? ada kiblatnya, tapi secara umum ada
kiblatnya gitu loh. Jadi secara general
ada yang lagi
yang lagi boom itu apa, terus kemudian
ee cara mainnya gini mungkin eranya
sudah ganti,
tapi per sektor juga ada kiblatnya. ee
pecah telur
ee udah menjadi kiblat di sektornya kan
pernah dulu dulu ketika Iqbal di sini di
tahun 2023
ee start dari 2021 2002 2023 kita
menjadi kiblatnya bagi dokumenter.
Yes.
Iya kan di saat itu kan.
Iya. Cuma ternyata
ee banyak juga dari kategori-kategori
lain yang kemudian
kuenya dokumenter ini ke makakan gitu
loh, Pel.
Oh,
iya kan kegeruus sama
pemain-pemain baru, media-media baru.
Media-media baru yang bukan dokumenter,
tapi dia itu
attention.
Oh,
ee menggrab attention orang.
Oh,
ya. kayak podcast,
ada TikTok dan sebagainya kan itu. Jadi
walaupun di dokumenter bisnis mungkin
tetap kiblatnya
i
tapi kuenya menjadi kecil karena orang
terpecah tuh minatnya kan gitu. Makanya
juga
kalau di dunia podcast pecah telur
termasuk baru kan ini mencoba baru.
Iya
di semua bidang gitu kayaknya Bal ya. Di
kaos juga gitu kan.
Iya ada kiblatnya. Ada kiblatnya
masing-masing.
Masing-masing. Media juga
sama
sama.
Kalau kok mencetuskan kaos itu berarti
kan punya ciri khas toh. Ciri khasmu
apa? Berarti subculture itu
subculture cirinya itu pakai cuton 16s.
Cutton 16S.
Iya. Heavyweight cuton.
Heavy. Jadi apa itu kalau dikategorikan
segmentasi orang berarti orang yang
seperti apa
yang memakai kaosmu?
Orang yang memakai kaos saya ya. mungkin
yang hampir mirip sama kayak saya.
Mungkin rebel
enjoy ya. Ya enggak rebel juga sih, Pak.
Lebih ke
ee saya enggak bisa nganu sih, Pak.
Enggak bisa
mematok ini untuk segmen ini bagi yang
bisa menerima aja.
Oh, iya
gitu, Pak.
Jadi kamu menyediakan sebuah kaos dengan
ketebalan 16
16S.
16S ya, Mas ya. itu tebal berarti kan?
Tebal.
Tebal. Terus dengan style yang agak gede
gitu. Apa bahasanya itu?
Ee oversiz box.
Oversize. Oversize apa?
Oversize boxy.
Boxy.
Iya.
Oh,
boky itu ee panjang dari kaosnya itu
agak dipendekin dari ukuran reguler.
Oh,
dia agak ngangkat.
Agak ngangkat tapi gede gitu ya.
Iya. katanya biar kelihatan tinggi aja
sih.
Karena memang secara psikologis
gitu sih, Pak katanya ya.
Orang yang pakai
baju boksik itu kelihatan lebih tinggi.
Ee
tapi ya juga sebenarnya kan tinggi
enggaknya kan udah kelihatan kan, Pak.
Cuman ingin terlihat tinggi,
terlihat lebih tinggi dari karena visual
kan bisa menipu ya.
Heeh.
Kayak yang kamu pakai ini ya berarti ya.
Iya, Pak. Ini
ini agak tinggi ini apa namanya
ya? RIP-nya.
Rip-nya tinggi ya.
RIP-nya memang tinggi.
Trennya rip-nya memang 3 centtian, Pak.
Kalau
yang sekarangsekarang ini. Heeh.
Yang saya pakai.
Oke. Berarti ketika Iqbal mencetuskan
mau bikin kaos dengan brand subculture
tuh.
Iya.
Apa yang dia lakukan? Apa yang kamu
lakukan?
Waktu apa?
Awal-awal berarti produksi langsung.
Waktu awal-awal saya itu sudah riset
lama, Pak.
Lama ya?
Sebelum saya keluar pun 4 bulan
sebelumnya saya sudah riset.
He he he.
Tentang cuttingannya harus seperti apa.
He he.
Terus ee ukuran H
ukuran lebar dada panjang, slift-nya
berapa. He
saya banding-bandingin. Saya beli brand
A, brand B, brand C.
Oh, ini cuttingannya brand A seperti
ini, brand B seperti ini. Saya lihat
yang paling pas sama diri saya
sebenarnya. Saya suka
baju eh kaos yang seperti apa sih? Kalau
yang
terus saya suka bahan yang seperti apa
sih? Saya suka yang ya saya
ngeriset-ngerriset dulu, Pak. Heeh.
Gitu. Terus
mungkin itu juga hal yang penting ketika
sebelum resain ya, Bal ya.
Iya. Sebelum res
yang mungkin orang ketika resain belum
punya ide itu juga enggak benar juga ya.
Dia harus
ada ide dia sudah riset
ada dana. Jadi ketika resign tinggal
eksekusi kan gitu kan. Eksekusi. Benar.
Benar.
Enggak dari starting scratch. Betul.
Iya benar. Ah,
memang sebelum resign dipersiapkan.
Kalau mau saya si harus menurut saya,
Pak, harus di harus tahu mau ngapain,
caranya bagaimana, duitnya juga harus
ada. Heeh. Heeh. He.
Karena percuma juga, Wak.
Riset terus tahu caranya tapi enggak ada
uangnya.
Uangnya itu juga menurut saya
sama aja sih.
Iya, kayak orang tahu tujuan tapi enggak
bisa lari.
Iya. Enggak
dia dia tahu mau ke sana nih tapi enggak
bisa gerak gitu kan.
Enggak bisa gerak sama aja. Tapi
juga nganu Pak
punya duit tapi enggak tahu mau diapain
itu juga sama aja.
Sama aja. Iya
sama aja.
Dia bisa lari tapi enggak tahu arah.
Enggak tahu arah. Enggak tahu caranya.
Enggak tahu caranya.
Jadi
kan kadang banyak teman-teman yang ee
punya duit bingung mau dikasih mana. Mau
bisnis gitu.
Nah, maksudku gini, Bal tadi. Jadi,
ketika udah udah ada ide, udah udah tahu
cuttingannya, udah resign juga, udah ada
uang, berarti langkah pertama langsung
produksi gitu, Bal.
Langsung produksi, beli kain.
Oh, beli kain.
Beli kain, kasih vendor.
Beli kain kasih ke penjahit.
Penjahit ya?
Ya, penjahit. Nanti
ee setelah dipenjahit nanti geser
sablon.
Oh, ya. Berarti yang ngecer kamu sendiri
ya. Masih
ngecer sendiri. sendiri, Pak.
Oh, maksudnya itu enggak di satu tempat
gitu kan?
Enggak
langsung produksi banyak atau
enggak?
Kecil-kecil dulu gitu ya.
Masih kecil-kecil dulu, tapi saya
mainnya ready stock.
Mmm. Enggak PO?
Enggak PO langsung ready stock.
Oke.
Jadi desain itu enggak saya publish
sebelum barang saya jadi.
Oh,
oke.
Desainnya ya ini aja atau ada yang lain?
Desainnya ini pocket. Ada yang lain juga
series. Oh.
Nah, di series ini saya ngangkat
daerah-daerah di Jogja.
Hm.
Seperti itu saya kemas ee
yang menurut saya oh ini lebih
menariklah.
Iya iya iya. Nanti tak tunjukin
teman-teman ditunjukin teman-teman ya.
Siap.
Oh.
Jadi contoh apa nih yang daerah apa yang
paling
yang menarik
yang menarik untuk kamu angkati kaos
yang kemarin itu series Babarsari daerah
Babarsari.
Babarsari ya.
Babarsari
saya belum pernah dengar daerah itu ya.
Babarsari.
Babarsari. Barsar itu menurut saya
menarik banget karena
kalau kata orang-orang itu
ee Gotam City-nya
weh. Gotam City.
Nah, gitu. LV LV Las Vegas.
Las Vegasnya Jogja ya.
Ya, SCBD-nya
Jogja. Kalau di Jakarta kan punya SCBD
yang real kan.
Di Jogja juga
ada katanya SCBD-nya
apa tadi namanya?
Apanya?
Kaosnya tadi apa namanya? Kotanya tadi
Babarsari.
Babarsari ya.
Babarsari.
Apa yang menarik dari Babarsari itu?
Yang menarik di Babarsari itu memang ee
ya mungkin kayak Batman, Pak. Harus ada
Batman katanya.
Hmm. Berarti dengan banyak bet
ee enggak juga
bad people
di Gotam kan banyak penjahat.
Tapi rumornya memang seperti itu sih,
Pak. rumornya memang bukan penjahat sih,
lebih ke apa ya
ke mungkin gesekan-gesekan aja sih, Pak
antar masyarakat atau antar apa
itu di kota ya?
Di Sleman, Pak.
Oh, di Sleman.
Di Sleman.
Oh,
di Sleman. Saya kan dulu sebenarnya saya
bikin artikel Babarsari itu karena teman
saya kan orang Babarsari, Pak. Teman
dekat saya.
Iya, iya, iya.
Orang Babarsari. Cuman kan saya juga
enggak mungkin bikin wajahnya dia di
baju saya. Ah.
Oh, yang ngajarin pertama kali kamu itu
orang Babarsari.
Oh, bukan bukan lagi. Itu teman kuliah
saya. I
kan enggak mungkin saya
menulis wajahnya di
wajahnya di baju saya ya harus
benar-benar
relate sama masyarakat umum kan.
Iya. Iya. Iya. Karena kalau saya pakai
wajahnya dia mungkin yang beli
keluarganya
malah bukan bisnis ini malah sodqah di
sosial
gitu
menarik. Nah, jualanmu, Bal di mana?
Jualannya lewat apa?
Jualan di
marketplace, Shopee, terus
TikTok. Masih COD.COD kalau TikTok.
Facebook juga.
Oh,
marketplace.
Pertama kali kok pasarin dan ternyata
laku di mana?
di TikTok, Pak.
TikTok ya?
TikTok.
Oh,
TikTok itu menurut saya jangkauannya
lebih luas sih, Pak.
Oh,
karena kan bentuknya konten.
Heeh. Heeh. Heeh.
Bentuknya konten terus ada momentum yang
pas yang itu tadi viral itu tadi, Pak.
Tadi ya. He.
Itu memang sangat menolong sih, Pak.
Berarti kamu ngonten ya, Bal? Ya,
ngonten. Tapi cuma ringan-ringan aja,
Pak.
Oh, kayak sepil-sepil gitu-gitu ya.
Sepilepil. foto digeser-geser. Nah,
gitu-gitu aja, Pak.
Kamu nampil enggak di konten itu?
Akhir-akhir ini nampil ya? Iya. Mau
enggak mau, Pak. Karena memang kayaknya
harus dikomunikasikan juga kan, Pak?
Heeh. Heeh. Heeh.
Enggak cuma yang jualan, tapi harus
berkomunikasi dengan audiens.
Betul. Betul.
Dia maunya seperti apa?
Yang viral itu seperti apa kontennya?
Apa?
Yang kemarin viral
yang di TikTok itu yang menunjang
penjualan.
Yang menunjang penjualan ya?
Iya, di TikTok. yang menunjang penjualan
itu waktu ada kasus
ojol sama pelayaran di Jogja, Pak.
Oh, ya. Ya, ya.
Nah, itu
kan baru-baru ini itu kan.
Iya, baru-baru ini bulan-bulan
beberapa bulan yang lalu kan.
Beberapa bulan yang lalu, Pak. He.
Nah, itu kan ada kasus itu.
Heeh.
Naik kan di TikTok ramai.
He.
Nah, sebelum kasus itu naik,
He.
Saya itu udah photosoot.
photoshoot
e konsepnya itu memang em saya pakai
baju
Heeh.
ojol
sama
subculture-nya itu.
Heeh.
Jadi kayak berhadap-hadapan gitu, kayak
face to face gitu. Konsep photoshooot
saya.
Oh iya i sama
subculture.
Ee
jadi ada tiga orang
ojol sama orang biasa face to face. Heh.
Di tengahnya itu pakai baju subculture
kayak menengah gitu ya.
Iya. Kayak ee semacam
face to face aja sih. He
gitu. Saya photoshooot itu
foto berarti itu ya?
Foto.
Heeh.
Waktu itu saya foto, saya upload waktu
beritanya
naik itu. Car.
Oh, berarti kamu bikin itu sebelum ada
berita itu.
Sebelum ada berita itu saya sudah
photoshooot.
Wah, ini subculture beneran itu ya?
Nah. Oh, iya ya. Oh, baru tahu saya.
Itu subculture?
Oh, iya iya.
Itu subculture itu.
Oh,
the meaning of subculture itu.
Oh, malah baru tahu di sini loh saya.
Iya, aku tak kamu tak
kasih makna aja.
Kasih makna ya malah. Oh, iya. Oh, iya
ya.
Itu itu subculture.
Oh, malah seperti itu ya.
Iya kan? Itu kan kamu mempersiapkan
sesuatu ternyata momentumnya
pas
pas lewat itu kan enggak bisa apa coba
variabelnya
LK dipikir gitu rezeki kanak itu? lah.
Iya kan lebih mudah rezeki. Pak
kan kita enggak akan menduga bakalan ada
momentum itu. Enggak akan menduga itu
akan menjadi isu nasional.
Iya
iya kan?
Iya loh Pak.
Iya
oh iya ya.
Itu subculture itu.
Iya ya. Iya rezeki sih Pak. Enggak
enggak tahu sih Pak.
Enggak tahu juga sih Pak. Oke. Oke. Nah.
Nah. Waktu kamu berpikir ee photoshooot
itu konsepnya apa? Berarti cuma
hadap-hadaban gitu atau ada konsep lain?
gitu
ya. Konsepnya waktu itu saya
di tahun
20 apa ya itu kan sempat ada ee crash
kan antara Ojol sama DC waktu itu.
DC
depollektor
di Babarsari juga.
Oh berdasarkan kejadian itu kamu bikin
itu ya?
Iya. Saya kan hanya
memotret apa yang terjadi di Jogja.
Oh. Oh,
konsepnya kan kedaerahan cuman ya memang
faktanya seperti itu.
Pernah ada kejadian itu,
pernah ada kejadian seperti itu.
Dep collektor sama
ojol.
Ojol.
Iya.
Terus kemudian sapalca di tengahnya.
Iya.
Oh,
ya seperti itu kurang lebih.
Foto modelnya kamu sendiri?
Ee saya sendiri. Saya yang memakai
bajolnya. Terus ada teman-teman sama
ada teman saya sama adik saya.
Oh. Oh,
benar-benar
keluarga sih yang membantu saya.
Benar-benar talent yang murah begitu
loh.
Murah sekali karena murah sekali
karena dibayar cukup pakai nasi pecel.
Kalau sini ya
waktu itu mie ayam sama rokok ya.
Mi ayam rokok was happy. Happy
dengan narasi membantu MKM
gitu, Pak.
Tapi waktu itu memang benar-benar boom
yang Mbal ya.
Ya gini, Pak. Saya juga mau tanya sih,
waktu itu kalau isunya booming, cuman
kalau konten ya agak lumayan booming,
cuman ke-convert ke penjualan.
Iya. I ya. Banyak penjualannya
ya. Waktu itu dari TikTok sekitar masih
empat empat gitu.
Empat apa Om?
4P.
EMP picis.
Karena produksi masih
sedikit waktu itu.
Oh. Stok pun juga enggak banyak kan?
Enggak banyak. Saya cuma 30 apa ya? Oh,
stoknya
iya 30 du desain itu.
Iya iya iya iya iya.
Tapi kan bagi saya yang beli dari orang
luar
orang luar itu kan senang banget.
Pasti pasti
COD gitu kan sama orang asing gitu kan
kayak
makasih banget gitu.
Iya kayak pecah telur itu.
Nah kok bisa.
Oh iya pecah telur ya.
Pecah telur kan. Benar, benar, benar,
benar.
Kalau orang-orang kita, orang kenal kita
kan mungkin ya dia mungkin ada simpati
dengan kita, ada dia kita jualan dia
beli. Tapi kalau orang lain kan
benarbenar
dari produknya gitu loh. Itu wis rasanya
kayak benar-benar pecah telur gitu loh.
Iya.
He.
Dari produk, dari mungkin isunya juga
atau dari nama daerahnya gitu.
Dari nama berarti sekarang ee penjualan
seberapa Bal? Harian atau
mingguan bulanan?
Harian. harian itu ee naik turun ya,
Pak. Masih naik turun
masih apa kayak kadang sehari juga masih
belum, tapi sehari ada yang closing
empat apa lima gitu cuman enggak enggak
nentu aja sih
sebulan berapa Bal
target
ora ee yang hari ini terjual
ini belum sampai sebulan, Pak saya
rilis.
Oh, belum
belum.
Usahamu baru banget ya, Bal? Ya, baru
banget
Agustus apa ya itu start rilis launching
ya, Pak? Heeh. Heeh.
Launching produk
Agustus sampai sekarang.
Oh, kalau produk pertama.
Oh, itu yang maksudnya rilis Agus itu
yang apa itu?
Yang Babarsari.
[Musik]
Maksud tadi semua produk maksud saya
maksud Oh, semua produk dalam sebulan.
Iya, dalam sebulan
enggak nentu juga sih, Pak. Tergantung
stok juga. Paling kecil wis paling
sedikit.
Paling sedikit.
Paling sedikit
lah. Kemarin itu yang pertama 2 minggu
sudah habis, Pak.
Stok berapa itu?
30.
Hmm.
Itu 2 minggu sudah habis.
Heeh. Heeh. Heeh.
Karena
ya momentum tadi kan
nolong juga di Facebook juga nolong
banget.
Berarti sebulan 100 rata-rata
belum nyampai.
Belum nyampai.
Di bawah 100.
Ya, 50 sudah bagus, Pak.
50 sudah bagus sebulan.
Oh, sebulan
menurut saya loh, Pak.
Bagus ya.
Bagus banget.
50 itu maksudnya sudah cukup untuk biaya
hidup di Jogja, Pal. Secara profit, Pal.
Secara profit masih n
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:35 UTC
Categories
Manage