CAPEK Jadi KARYAWAN, Nekat Bangun Brand SubCulture di Jogja
NlofdDOYW_I • 2025-09-23
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id ke ibu kota ini ngelamar kerja di ibu kota ke ibu kota rumornya kan fresh graduate itu Makkahnya kan di Jakarta Pak Mekah ya katanya ya makanya mungkin narasi Jakarta keras itu saya rasakan juga sih Pak e kan cari editor itu susah banget jadi paling susah itu cari editor cocok nih kayaknya di sini aku suka nih sama editmu bagus sama kerja yang bagus eh dia yang menolak saya aku sempat mata hati prihatin ya full prihatin lebih prihatin dari bekerja loh Loh, ini saya Pak beneran ini lebih prihatin daripada bekerja. Lebih prihatin dari bekerja. Waktu bekerja masih ngopi-ngopi santai, enjoy enak. Iya. Iya. Sekarang akhir bulan bayaran. Sekarang pusing loh. Ya udah, semisal ini gagal pun. Heeh. Heeh. Heeh. Uangku habis ibaratnya nol semua rekening. Kan saya masih hidup sama orang tua. Jadi orang tu ya sudah nanti hidupnya sama orang tua. Cuman kalau untuk modal usaha saya sebisa mungkin saya sendiri Pak. Oh iya itu Pak. Kalau alasan sebenarnya apa? Mbal cut dulu enggak ini. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kita kedatangan Mas Iqbal Palisade bukan ya? Aku dulu itu mesti tak itu Balamu Iqbal Palisade gitu ya. Siapa aslinya siapa? Eh Pasadena lah kan mirip kanalisade pasadena. Oke Mas Iqbal ini berarti apa nih? Berarti ee boleh dibilang sebagai apa sekarang? Iya sekarang apa? Sekarang jelas mantan editor pecah tuk tangan dulu. Respect, respectek, respect respect. Alumni editor Patelur yang sekarang mulai merintis bisnis. Kecil-kecilan aja sih. Mantap. Oke, Mas Iqbal ini termasuk juga ee editor yang jauh ya. Jadi kita kan ada di Tulungagung. Nah, Iqbal ini rumahnya Jogja. Yogyakarta. Heeh. Dulu kok ee biar juga teman-teman tahu dulu kok terdampar di Tulungagung, Bal. Itu gimana ceritanya, Bal? Ee dulu kan sebelum di Tulungagung saya di Jakarta. Oh, kerja di Jakarta ya? Kerja di Jakarta. Oh, sebagai editor juga? Sebagai editor. Oh. Nah, waktu itu H lihat pecah telur posting karena kan saya subscriber lumayan lama lah waktu itu di pecah telur. Iya, beneran? Iya, beneran Pak. Ini beneran ya? Ini beneran. Oke, lanjut. Terus ng pecah telur itu posting hiring editor. Heeh. Nah, saya ingat banget tuh posternya Jeep di Bromo. Nah, gitu sampai gambar posternya. Gambarnya masih ingat sebelah kiri itu Bromo. Jadi sebelah sebelah kiri gambar di Bromo, sebelah kanan poster editor. Poster edit. Sebelah kiri itu gambar Je Bromo. Yang sebelah kanan itu spesifikasi. Terus saya apply ee waktu itu saya apply ya terus interview ya toh kan kamu kerja toh kerjamu nk apa berarti editor apa editor juga sama YouTuber juga Oh cuman bukan di kalau di kalau dipecah telur itu kan lebih ke film dokumenter gitu kalau waktu di Jakarta personal. Oh, kayak vlogger gitu ya? Vlogger gitu. W itu boleh disebut apa? Boleh disebut enggak? Boleh enggak apa-apa. Youtubernya itu Mas Erlangs. Mas Erlangs. Erlangs. Erlangga. Mas Erlangga. Enggak, belum tahu kayaknya aku ya. Erlangs W itu yang kemarin ee main di Beyon sih, Pak. Oh, iya. I i. Siap. Berarti anu olahraga berarti olahraga combat sport. Oh oke oke oke oke oke. Nah berarti sudah di industri youtuber berarti ya sampean sebelum kerja di sini berarti sudah di YouTuber kan? Sudah. Sudah. Nah ini waktu di Mas Airlines itu editor pertama kali atau sudah gontah-ganti editor kamu? Kalau untuk secara profesional setelah lulus kuliah baru pertama itu, Pak. Oh. Oh, kalau yang benar-benar full karena 2022 itu saya kan lulus kuliah terus apply ke Jakarta. Kuliahmu di di akuntansi [Musik] ini yo enggak anu y harusnya ke kiri ini ke kanan ya. Iya, Pak. Akuntansi di mana? Di bertempat di Jogja atau di Jakarta? Di Jogja. Oh, tapi langsung ke ibukota ini ngelamar kerja di ibu kota. Ke ibu kota. Rumornya kan fresh graduate itu Makkahnya kan di Jakarta, Pak. Parah. Mekah ya katanya ya? Katanya Mekahnya pencari kerja itu di Jakarta. Jakarta. Oke. Ibu kota. Terus ketika di sana Makkah beneran enggak? Ternyata kok kayak gini ya Makkah. Enggak. Ini kayak gini itu gimana? Kayak gini nih gimana? Kayak gini tuh di sana tuh terlalu terburu-buru. Hah? Ras banget gitu loh. Ee ritmenya kencang. Ritmenya. ritmenya kencang terus kok keras banget gitu untuk yang baru mau buat pemain awal itu kok kayak mengikuti ritmenya agak susah kalau di Jakarta ya menurut saya ya. Iya. Oke. Oke. Ritme apa kalau editor ini berarti ritme apa Bar? Ee semisal kalau di Jakarta itu sehari satu I ya. I ya plus naskah gitu. Oh, jadi kayak ee tuntutan kerjanya lebih kencang gitu ya. Lebih kencang. Lebih lebih harus selesai selesai nih satu naskah sama editing harus selesai 1 hari gitu. Iya. H gitu, Pak. Kalau di Jakarta. Makanya mungkin narasi Jakarta keras itu saya rasakan juga sih, Pak. Hemang sekeras itu ya. Iya. Iya. Harus benar-benar berjuang banget sih kalau mau ke sana ya. Mau survive di sana harus benar-benar struggle banget. Tapi kan relate dengan apa yang didapat kan Bal? Jadi ketika kerjanya keras salarynya juga kencang kan ya. Lumayan sih Pak lumayan. Untuk fresh graduate mungkin masih oke. Oke. Cuman kalau untuk jangka panjang ee kurang tahu sih, Pak. Kayak enggak yakin ngono. Iya. Nah, ketika ada waktu itu ada gambar Bromo tuh. Ada gambar Bromo. Habis itu ada spesifikasi. Iya. Nah, berarti kan belum keluar dari YouTuber sebelumnya. Iya kan? Ngelamar gitu ya. Nah, itu transisinya belum keluar. Waktu dipanggil tim pecah telur untuk interview saya sudah keluar seminggu. Oh, berarti memang udah ada rencana untuk keluar gitu ya? Iya. udah ada ee isu mau pindah daerah aja mau ke timur ini. Oke. Oke. Berarti kenapa waktu itu alasan keluar dari YouTuber di Jakarta itu? Karena memang saya enggak bisa tertekan terlalu terlalu ditekan banget sih, Pak. Enggak bisa bekerja di bawah tekanan. Tapi Jakarta keras, Pak. Kayaknya enggak di YouTuber aja ya. kayaknya semuanya semua lini bisnis sepertinya Jakarta keras karena banyak orang yang mau ke sana i ingin meniti karir kompetitif ya jadi kompetisinya sangat tinggi ya sangat tinggi sekali untuk berapa lama bertahan di sana sekitar 4 bulan apa 3 bulan gitu Pak Bentar banget ya bentar sekali Pak di sana Oh memang sangat keras ya sangat tekan tertekan gitu ya sangat keras saya tidak bisa menciptakan ee ee kolam sendiri di sana kan harus rebutan kan, Pak? E rebutan kolam. Kolam apa ini berarti? Ee kalau misal banyak pesaing lah di sana, banyak yang lebih bagus, banyak yang lebih ini. Jadi saya harus ee lebih keren lagi untuk sulit, Pak. Oke. Terus kemudian ke timur nih ceritanya ke timur dapatlah di Tulungagung. Ini termasuk sesuai harapanmu enggak? Ini terlalu timur atau kurang ke timur menurutmu? Saya malah dulu belum tahu, Pak, Tulung Agung itu seperti apa kotanya. Oh, iya iya iya. Nah, gitu. Terus gas aja, gas sajalah. Gas aja. Toh juga masih muda ya. Masih muda. Benar. Oke. Singkat cerita keterima nih pecah telur. Kaget enggak setelah dari tinggal di Jogja, kerja pertama di Jakarta, kemudian ke Tulungagung? Agak kaget jurul, Pak. Memang ee kulturnya memang beda, Pak. Apa sing paling kamu kagetin di sini? W yang paling saya kagetin di sini itu dulu kan masih sering ngopi, Pak. Iya. Nah, waktu saya datang ke sini saya ngopi kan kalau di daerah Jawa Tengah ke barat itu ngopi pakai sepatu itu udah menjadi hal yang biasa. Oh, iya ya. Kerenlah gitu ya. Udah kayak Oh, ya biasa. Cuman di sini kok masih agak ngapain pakai sepatu ngopi. Waduh. Waduh. Lah pakai apa terusan? Sini kalau di sini ngopi kan nyeker ya. Saya enggak bilang ya untuk warga sini ya. Iya pasti karek sandal teplek lah. Oh iya benar. Teplek ya sandal yang swalo itu kan. Iya lebih ke apa adanya Pak. Iya iya iya. Nah itu agak perbedaan kulturnya di situ. Oh iya agak kaget malah diceng-cengin kan Pak saya. Ngapain ngopi pakai sepatu? Ngapain? Iya. Tapi memang aku sering nemuin sampean ngopinya pakai sepatu dulu. Iya, memang memang di sana itu sudah hal yang biasa, Pak. Ternyata di sini masih belum mungkin dulu ya, tapi ya sekarang mungkin sudah banyak. Belum juga sih. Tetap ya. Oh, belum ya? Masih belum ya? Tetap masih belum. Kalau ngopi sepatu ya dicengceng ini nyapo ii arep dinas ta? Kalau sini kan ee lebih ke warkop ya, warung kopi ya. Kalau mungkin di sana kan kafe itu yang mungkin berbeda. Kalau kafe kan cenderung ada AC-nya, bersih, agak sedikit pricey lah. Iya. Kalau di sini kan murah. Heeh. Ya mungkin tidak begitu kebersihannya. Kebersihan enggak begitu enggak ada AC kan ngono toh bel. Iya. Dan ee di sana ke coffee shop atau ke kafe itu malah jadi ajang fashion show, Pak. Oh, pamer baju. Iya. lebih ke memperlihatkan outfit keren mereka gitu. Makanya ada kayak konten cek outfit itu juga relate berarti ya. Iya. Outfit berapa harga outfitmu? Memang di sana itu udah budaya ngopi buat ajang fashion show itu udah di di Jogja juga gitu ya P ya. Di Jogja juga gitu. beberapa coffee shop itu dilabeli sebagai ee tempat adu outfit para pengopi gitu. Ini tujuannya mau ngopi apa mau adu outfit gitu, Pak. Oh, kalau di sini kan ngopi itu ngobrol gayeng kan. Nah, ngopi ngobrol lebih ke interaksi sama teman kan, Pak. Bukan yang ke wah hari ini aku pakai baju ini, celana ini g ini gini. Kan sudah enggak. Terkait studio Bal. Jadi kan itu kan terkait Tulung Agung ya, budaya ngopinya ternyata beda. Kalau studio gimana? Kan studio kita ya masih boleh dibilang ya rumah tua ala kadarnya juga. Itu enggak kaget kamu? Ya sempat kaget juga sih, Pak. Pecah telur waktu itu subscriber berapa ya? R500.000. Iya iya iya R500.000. Ee ekspektasi saya itu sudah benar-benar proper di studio benar gitu ya. ya di segala produksi postro gitu itu sudah proper gitu terus terus datang gak apa-apa santai aja datang ke sini ternyata gitu ya datang ke sini ternyata saya kira rumah enggak dihuni Pak waktu itu karena dari depan sepi sekali iya iya iya iya dari depan sepi sekali terus naik apa kamu datang ke sini berarti naik kereta naik kereta kan turun di stasiun toh turun di stasiun Terus ke sini naik ojek. Naik ojek waktu itu. Dikasih map kan? Dikasih map. Benar. Dikasih map. Halo sama siapa? Ee diskusinya waktu itu chatnya sama siapa waktu itu? Sama Mas Andi. Oh, Mas Andi. Andi iya. Manajer itu. H. Terus terus terus. Nah, saya itu datang ke sini pertama kali ee malam, Pak. Oh, malam. Malam. Kereta kereta malam kereta malam. Kereta malam jam . Jam . malam banget ya berarti ya? Iya. Atau malah pagi itu, Pak? Heeh. Pagi sebelum subuh lah ya. Sebelum subuh. Iya. Sebelum subuh itu enggak ada orang lah di sini. Ditungguin waktu itu. Iya. Ada ditungguin salah satu kameraman, Pak. Masilham. Oh, Masilham. Nungguin di parkiran. Iya. Kameraman itu nungguin. I ya. Ya. Terus karena kan baru pertama. Heeh. Terus enggak tahu waktu itu tidur di mana. Heeh. Disiapin semuah segala kebutuhan di sini tuh sama Mas Ilham waktu itu pertama kali. Kaget ya? Kaget banget sih, Pak. Jujur memang kaget. Ini kayak rumah kosong itu. Kayak rumah kosong terus. Tapi dari segi alat mengerikan loh, Pak. Lah dari segi alat mengerikan. Mengerikan loh, Pak. Kan enggak kan malam enggak tahu malam. Setelah tahu tah setelah tahu alatnya itu pagi berarti ya? Iya pagi. Terus waktu teman-teman mau syuting kan juga tanya kan alatnya apa, device-nya apa. Heeh. Heeh. Gitu. Memang proper di sisi ee alat device itu memang mengerikan. Mengerikan menurut saya. Sudah. Jadi menurut mungkin di atas rata-rata YouTuber pada umumnya di saat itu. Nah, di saat itu. Tapi kalau sekarang sudah mulai tertinggal ya. Oh iya. Harus segera upgrade lagi. Kan harus mengikuti terus. Benar. Benar. Tapi kalau dari segi bangunan sungguh tidak layak ya. Bangunan memang sangat. Jadi aku pernah Bal Iya. I aku ingat ya. Jadi ada kan cari editor itu susah banget Bal. Jadi paling susah itu cari editor. Karena kan ee rata-rata orang jauh. Oh orang-orang jauh kan. Kenapa, Pak? Enggak tahu ya. Jadi kalau ee cari lock kreditor orang lokal itu agak enggak nyantol gitu loh. Enggak enggak ada yangai akhirnya kita luaskan kan. Jadi ya sudah kita buka loker untuk area Jawa Timur, Jawa Tengah dulu sampai Jakarta juga akhirnya kita btisen akhir-akhir sampai ke Jawa Tengah. Akhirnya kan yang datang kan rata-rata orang Jawa Tengah. Enggak tahu ya kenapa ee yang Jawa Tengah, Jogja, Solo, mungkin sedikit Jawa Barat juga ada. Karena waktu itu ada ee di tengah ke apa iku jenenge iku kan putus asa yo. Jadi buka loker iya yang lamar buahnya enggak sesuai kriteria entah dia yang mahal atau yang kan ada oh i nyantumin dan sebagainya ya atau portofelonya kurang cocok dan sebagainya. Nah, waktu itu kan kalau di kita ada juga tuh magang di sini bukan magang ya, training. Ee bahasa kita adalah apa bahasa kita? Trial. Nah, trial. Trial satu project. Oh, ya kan Iqbal kan gitu juga kan. Iya. Jadi pas waktu datang ke sini kan trail satu project. Jadi kamu ngerjakan satu project di sini 3 hari biasanya. Ee dikasih fee juga walaupun trial dikasih juga transport kan. He transport. Nah, waktu itu aku senang nih ada satu orang he ee wah bagus nih. Alhamdulillah dapat nih kayaknya. Iya. Terus ee setelah trial di sini, Mas selamat ya sampean cocok nih kayaknya di sini. Aku suka nih sama editmu bagus, sama kerja yang bagus. Eh, dia yang menolak saya. Aku sempat patah hati. Oh, iya. Aku sempat patah hati. Itu orang mana, Pak? Jawa Tengah. Iya. Kebumen atau mana ya? Lupa aku. Pokok alasannya ee mungkin kurang proper ya. Eh, ingat aku banyak nyamuk, Pak. Gitu. Oh, dia tidur di sini juga. I tidur sini. Tidur sini. Kalau malam banyak nyamuk gitu. Tidur di tengah itu pasti tempat tidurmu. Tempat saya tidur itu, Bal. Oh, aku sempat aku rodok mangkel iku rada sakit baper aku. Karena mema, dia bilang alasannya seperti itu atau ee baparnya karena susah cari ya. Begitu aku ada yang suka, ternyata dia yang enggak suka gitu. Berat bertepuk sebelah tangan ya. Tapi buka lagi habis itu. Itu berarti sebelum saya ya kayaknya ya. Kayaknya ya. Oh. Atau setelahmu ya? Eh tapi sebelummu kan? Sebelum saya sebelum pas waktu Mas Iqbal masuk kan ada dua kan waktu itu barengan kalau enggak salah ya. Mas Iqbal sama Oman bareng enggak? Ee duluan. Duluan saya dulu kayak Oh zaman dulu. Iya cuman enggak enggak enggak berselang lama ya. Enggak berselang lama. I iya iya. Jadi memang itu banyak juga yang kecewa, Bal. Bukan kecewa ya, kayak ekspektasinya ketika datang ke sini itu tidak sesuai dengan ekspektasi dia. Yang dibayangkan kan 500.000 subscriber apalagi sekarang 1 juta subscriber ya proper lah cara studio. Terus ee ya kayak ala-ala kantor-kantor kekinian kan gitu Bang. Heeh. Banyak orang yang ke sini. Makanya aku memutuskan untuk bikin podcast di sini tuh mikirnya agak panjang Bal. Oh. Oh, karena agak malu juga mendatangkan tamu ke sini. Oh, tapi sekarang sudah mulai PD didandanin dikit-dikit. Iya. Perubahannya banyak sekali loh, Pak. Setelah kau tinggal? Setelah saya tinggal. Justru ketika kau tinggal aku berubah. Nah, itu apa? Jangan-jangan saya ini bebannya i enggak ya? Mulai berbenah aja dikit dikit-dikit gitu. Banyak loh perubahan. Banyak banget. Banyak. Oh, banyak ya. Dari di studio ini, studio editor, tempat podcast ini ya. IR juga ya. Terus ruang pertemuannya itu kan juga baru semua kan, Pak. Wajah barulah untuk pecah telur. Iya. Jadi kayak kalau ada tamu agak pantes lah ya. Iya. I agak tapi iya agak sudah pantes ya Pak saya Pak ya. Ya udah pantes ya. Tapi menurut ee saya juga apa tanya ke teman-teman kan teman-teman editor terus juga beberapa tamu tak survei gimana? Oh bagus kok ini vintage kok vintage terus nyaman. Iya. Terus kan ee menyatu kan jadi ada ruang pertemuan, ada studio. Iya. Ada ruang editor, teman-teman kerja yang admin itu ada ruang meeting bareng-bareng. Oh ya. Dapur dapur. Nah gitu. Jadi kayak menyatuh kayak humi gitu loh. Kayak rumah gitu. Iya memangitu ya. Saya aja waktu ke sini kan sudah menganggap ya udah ini memang rumah ya. Rumah si. Iya. Yang bikin poster rumah itu kan awak sampean kan. Oh iya. Paster apa tuh waktu itu? Ee Jogja adalah rumah tapi di sini di Tulungagung tempatku beribadah di kamar. Kamar sana. Iya iya ya. Masa to beribadah gitu, Ustaz? Aku lupa. Iya iya beribadah gitu ya. Nah juga ketika ee itu hal negatif mungkin ya yang kamu temui ketika ke sini. Kalau hal yang positif apa yang kamu temui di studio ini? Eh, ini ada beberapa sih, Pak, tapi yang pos yang positif ya. Iya, yang positif yang bikin pos yang positif. Tapi saya juga kaget itu setiap pagi ada briefing sama ngaji, Pak. Nah, briefing sama ngaji ini menurut saya nilai positif sih buat saya karena sayaoke. Ee selama bekerja ya, baru kemarin, baru kali ini loh, Pak. Baru kali ini ee berangkat pagi terus ada sesi mengaji. Nah, apalagi saya enggak bisa ngaji waktu itu, Pak. Jujur saja. Tingkat keimanan memang agak kurang ya. Nah, masuk sini yang basisnya teman-teman itu keislamannya oke, kuat menurut saya. Iya, iya iya. Jadi kayak ee setetes tinta hitam di kertas yang putih kata-kata aja kok setetes tinta hitam di kertas yang putih. Di kertas yang putih jelek berarti hitam dong ya. Saya yang hitam masuk sini. Sini kan putih saya hitam jadi kayak nyentrik banget pasti. Heeh. Iya. Jadi kalau dulu waktu zamanmu itu masih ngaji sendiri-sendiri ya kalau enggak salah ya. Bareng-bareng kayak bareng-bareng ya. Sekarang ada juga yang kayak ngaji di semah, Bal. Di semah? Iya. Kayak ee kamu ngaji gitu ya, nanti aku yang kayak benerin gitu. Oh, jadi ada juga yang sesi kayak gitu. Oh, ada yang bisa nanti dipasangkan sama yang kurang bisa. Habis itu dibenerin ada ada juga yang ngaji bareng. Oh, tapi tertentu aja, Pak. Atau setiap pagi juga, Mas? Iya. I setiap pagi atau tertentu toh? Setiap pagi. Setiap pagi ya? Setiap pagi kayak gitu ya. Taksin. Ee taksin. Tahsin. Oh, tahsin. Wah, istilah-istilah baru ini kayaknya buat saya. Tahsin. Kamu harus ke sini lagi berarti, Bal. Biar pintar ngaji. Weh, tapi sekarang jadi pengusaha e. Oh, belum masih pedagang, Pak. Gitu. Oke. Nah, ee hal yang kamu kangenin, Mbal di Tulung dari di Tulungagung. di Tulungagung. Hal yang paling aku kangenin itu kopi hijau susu. E nyebutnya sudah sadu banget. Kopi ijau susu. Iya benar. Itu waktu pertama kali saya ke sini diajak ngopi ya. Kopi itu emang benar-benar kopi asli Tulungagung katanya. Iya betul. Terus waktu saya minum ya emang wah ini ya memang enak banget. Iya culture banget. Enak. Oh orang-orang harus tahu Pak. Kopi hijau susu. Kopi hijau susu. Kalau belum tahu kopi hijau ijau susu masih belum ngulong Agung. Kurang masih kurang. Tapi itu strong loh Bal. Iya kan strong di kayak ee kopinya strong gitu. Iya betul ya. Ya. Kuat terus ee manis juga sih Pak. Saya juga ada susunya itu kan. Iya ada susunya. Aku aja enggak begitu. Maksudnya minum tapi enggak boleh sering-sering karena manisnya itu atau menurutku strong banget ya. Efeknya strong gitu. Oh iya sih, Pak. Memang kalau keseringan asam lambung bisa naik ya. Asam lambung. Pernah kok kamu ke aku ingat kan kantor kita sama tempat tidurmu kan satu tempat ya. Nah, kamu enggak masuk kantor habis itu tak tak lihat di kamarmu. Iya. Kalau enggak salah sakit asam lambung ya. Asam lambung, Pak. saya itu sampai berhari-hari, berhari-hari sampai 8 hari atau lebih ya kalau enggak salah seminggu, Pak. Di sini enggak ngapa-ngapain. Sakit asam lambung. Asam lambung. Oh, itu kebanyakan kopijau kayaknya. Kebanyakan kopijau sama ee waktu itu kenapa ya? Saya lupa juga sih, Pak. Telat makan atau apa gitu. Iya. Iya. Iya. Sampai ee masuk rumah sakit ISA. Oh, iya toh. Iya. I diantar teman-teman ya waktu diantar teman-teman. Baik-baik loh, Teman-teman. Di sini tuh kalau sama saya, Pak. Baik-baik. Benaran. Luar biasa. Pagi-pagi gitu ada yang masuk ee ngasih kayak makan sama teh hangat. Wah. Pas sampean loreku diantar gitu ya. Iya. Oh, memang benar-benar dirawat lah ya. Dirawat banget, Pak. Iya. Saya sampai heran, oh kayaknya saya enggak sebaik ini kok diperlakukan baik banget kayak gini. Iya. I gitu diantar. Ini sarapane Bal. Nah, gitu-gitu loh. Sopa sing ngantter, Bal. Waktu itu seingat saya Nuril. Oh, Nuril. Nuril. Nuril. Oh, Nuril masih tidur sini. Masih tidur sini, Pak. Masih tidur. Oh, sampean belum ketemu Nuril loh ini. Nuril. Iya. Aduh di rumah ya. Nanti mungkin tak main ke sana. Tapi Bal Bal makan Bal itu ya. Iya. Itu Nuril. Terus yang ngantar saya itu Mas Fuad. Oh, Fuad. He. Ke rumah sakit. Ke rumah sakit. sampai ke rumah saya benar-benar asam lambung tuh nyiksa banget sih. Iya betul. Sakit kan? Sakit sekali sampai punggung waktu itu. Nah, sampai di rumah sakitnya itu masih antri, Pak. H masih antri. Perut udah sakit. Ee waktu itu kayaknya masih COVID juga sih. Masih musimnya COVID. Iya. Iya. Iya. Sakit asam lambo malah diwap juga. Ini ini yang sakit sebenarnya yang mana? Tapi enggak positif kan hasilnya. Hasilnya negatif. Negatif tapi penanganannya juga waktu itu antri kan terus ya aman. Iya iya. Waktu itu kalau enggak salah keluarnya itu apa ya? Aku lupa karena apa ya Bal ya dulu resignnya? Wisuda, Pak. Wah. Iya. Wisudanya karena apa ya dulu ya? Wisuda. Tahun berapa tuh? 2014 ya tahun 2 wisuda dari du eh tahun 2004 2024 ya dari sini ya du t eh 23 kayaknya 23 ya 23 akhir. Oh bukan 2024 awal 2024 apa ya Pak? 202 I antara itulah ya. Heeh. Heeh. Heeh. He. Itu kerja juga habis itu kan di Jogja kan ya? Iya. Kerja juga di properti waktu itu. Oh iya. itu me kalau enggak salah seingatku entah ini alasanmu atau apa ya entah apa yang terjadi. Jadi kalau enggak salah sering sakit terus pengin dekat dengan rumah gitu ya. Heeh. Hm. Iya. Itu Pak kalau alasan sebenarnya apa? cut dulu enggak ini memang harus enggak harus sih enggak ingin menjaga menjaga saling menjaga aja sih Paknya gak terjadi huruara ya wis nanti-nanti aja ya Pak cinta damai sekarang Pak cinta damai y jangan digoreng-goreng terus sudah lama Nah waktu itu kan waktu itu habis itu kan kerja ya ni Jogja Iya. Di properti. Properti. Properti itu juga di editor, di content creator lebih ke? Oh, lebih ke umum ya. Jadi ngetik juga, editing juga gitu ya. Iya, gitu. Berapa lama? Hampir sama kayak pecah telur. Satu setengahan. Hampir. 1 seteng ya. Cukup lama ya. Cukup lama. Cukup kerasan berarti di sana ya. Cukup kerasan ya. Kulturnya itu mirip Pak. Hmm. Islam juga. Jadi kalau di sini pagi mengaji setiap pagi, kalau di tempat lama itu setiap bulan bakti sosial gitu. Oh, ada sosialnya. Iya, tapi tetap vibes-nya juga sama sih, Pak. Tidak terlalu tekanan juga ya. Tidak seperti yang di Jakarta itu. Eh, beda sekali. Nah, ini yang ee faktor menarik nih. Sering ditanyain juga sama teman-teman penonton pecah telur, Bel. Heeh. Artinya kan kamu sudah berpindah tuh berpindah dari pekerja pekerja kemudian pekerja sudah gantikan tiga tempat ya iya kemudian memutuskan menjadi pebisnis lah starting merintis jualan online. Nah ini juga gimana anumu ee step-stepnya Bal? Step-stepnya waktu itu kan memang ee waktu di Tulungagung ya. Heeh. Heeh. Saya itu memang udah apa kayak pengin, Pak, punya sampingan waktu di editor sini. He he. Nah, karena sering lihat itu kali ya. Ya, karena kan sering edit bisnis ceritanya seperti ini, seperti ini. Kok rasanya ingin juga seperti yang saya edit juga. Nah, iya. I waktu itu ee karena koneksi dan link saya di sini masih dikit, jadi kayaknya kayaknya di Jogja bisa kalau untuk Oh, usaha. Iya, karena linknya kan di sana semua kan, Pak? Heeh. Heeh. He. Secara koneksi link teman-teman He. Source-nya lebih enak di sana mainnya gitu. Iya. Iya. Nah, waktu itu Yoda sudah memutuskan pergi eh lulus dari sini ke kerja di sana. Ee saya itu sering sekali ikut bos saya, Pak. Hmm. Nyetir. Oh. Selain juga kontrator nyetir ya? Ya. Nemenin. He he. Menurut saya itu refreshing sih, Pak. Betul. Betul. Betul. Refreshing. Karena ee ngedit terus kan juga jenuh ya. Jenuh saya. saya ini muda jenuh kalau di depan PC terus diajak refreshing itu ketemu siapa? Ketemu ini, ketemu ini. Nah, saya itu juga belajar dari situ, Pak. Cara berkomunikasi dengan beliau-beliau. Heeh. He. Terus ya saya ingin jugalah semakin di sempitkan lagi lebih intens gitu loh, Pak. Kalau sama bos saya yang di Heeh. properti itu. Jadi hampir seminggu itu bisa 3 sampai empat kali keluar. Keluar keluar. Itu sebuah keuntungan sih, Bal. Jadi di sebuah usaha yang kita bisa dekat dengan owner itu sangat bagus banget itu. Jadi kita bisa diskusi, curi ilmu, dapat nambah relasi kan gitu. Heeh. Tapi saya enggak berani yang buka obrolan gitu, Pak. Saya cuma diam aja. Oh. dengerin saya itu nyurinya mungkin dengerin. Heeh. Oh, ternyata kayak gini bernegosiasi. Oh, ternyata komunikasi itu seperti ini dengan klien dengan apa gitu. Heeh. Heeh. Saya belajarnya malah mendengarkan, enggak yang bertanya secara langsung. Enggak aktif ya, Pak. Sungkan, Pak. Lanjut. Lanjut. Nah, setelah itu ee saya pamit sama yang di properti gitu. Saya pamit mau usaha usahanya gini gini gini. Ee waktu itu di-support juga sama Oh ee mantan Iya. Pak Nurul namanya. Di-support. Pernah juga T yang dipecah telur kan itu. Iya. Heeh. Heeh. Waktu itu pernah diliput dipecah telur juga terus di-support. Ya sudah kalau memang keputusanmu ingin berdikari H ee tak dukung tak dongake terus ya dikasih wejangan gitu Pak. Yang saya ingat wejangannya itu eling kowe iki wong Jaowo. Heeh. Apa ne wong Jogja kowe karo sopo wae kudu mangku. Eh, jadi memang lebih ke hatinya lebih dibesarkan untuk sama Iya. Siapapun itu harus merangkul. Mangku mangku itu merangkul. Iya. Lebih ke merangkul, mengayomi mungkin ya. Iya. Iya. Iya. Karena kan kalau di Jogja itu ee Sri Sultan kan gelarnya Hamengku Buono. Eh, apa kaitannya sama Mangku? tadi orang Jawa itu harusnya mangku, Pak. Oke. Nah, gitu. ST saya mangku itu mungkin kayak ini ya, Bal ya, ee orang duwuri gitu loh ya. Kayak kayak apa ya? Selalu menempatkan di bawahnya gitu ya. Iya, mungkin biar biar juga enggak terkesan kita merasa lebih pintar atau kayak gitu ya. Iya. He. Jadi terkesan lebih Anda pasor atau pasor, Pak. Andap asor sama semuanya. Oke. Siapapun itu entah sekarang ataupun nanti besok tetap harus mangku itu tadi. Iya. Iya. Menarik. Menarik gitu. Oke. Waktu itu ketika resign atau keluar dari properti itu. Iya. Punya tabungan enggak? Pasti, Pak. Pasti. Ya sudah nyiapin ya? Sudah saya siapin waktu di pecah telur. Sejak dari pecah telur. Sejak dari pecah telur saya sudah mempersiapkan tuh semua. Oh, nabung lama ya berarti ya? Nabung lama Pak. Agak prihatin. Memang. Memang ya? Iya iya iya. Oh. Jadi selalu saya sisihkan, Pak. Dalam bentuk apa biasanya? Jadi tabungan saya itu dua. Heeh. Untuk keseharian sama untuk tak saya simpan. H. rekeningnya itu ada dua. Heeh. He. Jadi gajian di misal di rekening A Heeh. Heeh. Setelah gajian saya langsung disiplin. Awal bulan itu langsung saya sisihkan. Hm. Gitu. Disiplin sampai berapa persen dari apa patokannya apa persenan atau apa? Waktu itu masih nominal, Pak. Oh. Kalau di sini kan biaya murah, Pak. Heeh. Heeh. Heeh. Dan menurut saya agak tinggi juga ya di sini salary. Salarynya agak tinggi. Tinggi sih menurut saya. Saya masih bisa setengah kok, Pak. Setengah hampir lebih saya bisa sisihin. Hm. Terus di sana juga saya selalu menyisihkan terus terus terus terusan. Terkumpul berapa waktu mau keluar itu? Wah cukup nih. Gitu. Kategori cukup itu berapa di Iqbal terakhir di sana? Iya di sana. Ee waktu itu saya pegang cash 12 loh. Enggak banyak ya itu cash. Oh cash. Cash yang saya dari sana. Oh yang di pesangon lah. Bukan. Oh bukan yang saya sisihkan dari sana. Sana. Iya iya iya. Tapi kan yang dari sini. Heeh. Saya kasih saya masuk di emas. Oh gitu. Iya. Jadi kurang lebih harta saya yang cash ya. Kekayaan kamu. Kekayaan yang menurut saya masih tidak kaya juga cuman aset total aset. Aset cash yang bisa saya tarik semua itu sekitar 20an 205 sekitar 2025. Oh itu untuk modal separuh aja Pak. Separuh. Nah aku juga makasih loh Bal. Jadi tim ini kan aku enggak ikut ngonten kan walaupun kamu juga sudah enggak aktif di pecah telur tapi menjadi kayak tempat jujukan ketika di Jogja. Apa sih jujukan itu? Tempat singgah. Iya. Wah, aku makasih banget. Ee malah nganu sih, Pak. Mending ee tim pecah telur kalau ke Jogja ya ke tempat saya gitu. Sekalian kan refreshing main gitu. Iya. Nah, kalau bagi kami sih menghemat kos sih. Enggak masalah penghemat kosel kan gitu. Tapi teman-teman juga senang katanya setiap katanya keluarganya baik terus dikasih sering dapat makanan gitu ya. Tetapnya bilang sering-sering aja gitu maksudnya baik gitu loh. Nah, artinya kan gini Bal. Aku mau korelasinya ke sini. Nah, ketika kamu berbisnis kan ee ada support dari keluarga enggak kan? He tak lihat juga bukan dari background keluarga kayaknya juga baik gitu menengah gitu bukan. Iya iya ya pasti Pak. He pasti ya pasti privilege itu pasti pasti Pak. Ee dari cuman kalau dari tabungan saya masih mempertahankan untuk punya saya dulu. Oh. He. Cuman kalau dari relasi koneksi itu orang tua sangat ee support banget kayak memperkenalkan anaknya berbisnis ini ke teman-temannya biar teman-temannya juga tahu. Iya. Cuman kalau dari segi ee finansial alhamdulillah masih terhandle sih, Pak. Pakai dari tabungan itu. Dari tabungan saya dulu. Cuman orang tua bilang gini. He ee seumpama memang dede tenan. Iya. Wis kepepet kepepet banget. Ee usah dipeksake ee dipinjami. Oh sama orang tua. Nah memang kan bisnis naik turun ya, Pak. Iya iya iya. Saya sempat yang benar-benar kritis banget. Kritis banget. Memang benar kritis. Iya benar-benar kritis. ee ada pesanan yang lumayan banyak, cash enggak pegang banyak waktu itu ya minjam orang tua, Pak. Oh, gitu. Jadi orang tua memang privilege ya memang privilege emang harus saya juga tidak berharap lahir di keluarga yang mana juga kan. Iya. Maksudku gini, Bal. Jadi ee aku malah salut gitu loh. Kan maksudku ee dengan keluarga yang ee ya sudah cukup gitu ya. H kok harus nabung gitu loh. Kok enggak minta bantuan orang tua itujadikan opsi utama gitu loh. Kan harus nabung gitu loh. Prihatin gitu. Oh kok prihatin kok mau maunya prihatin gitu loh. Maunya prihatin kesalahan saya maong prihatin Pak. Harusnya dari kecil saya udah kan los aja ya gitu. Iya ya minta doang dibantu kan anaknya mau usaha nih. Kok enggak opsi itu kok gunakan pertama Bal? Apa Bal? Karena mungkin ee pride aja, Pak. Hah? Pride. Pride ya? Iya. Kebanggaan ketiga. Ya. Saya gini, Pak. Saya masih punya uang ya sudah saya habiskan. Tapi kan saya masih punya backupan orang tua. Nah, jadi ya sudah semisal ini gagal pun. Heeh. Heeh. Heeh. Uangku habis ibaratnya nol semua rekening. Kan saya masih hidup sama orang tua. Jadi orang tu ya sudah nanti hidupnya sama orang tua. Cuman kalau untuk modal usaha saya sebisa mungkin saya sendiri, Pak. Oh gitu. Menarik sih, Pal. Dari kecil ee udah nganu, Pak. Saya itu ee menyisihkan terus. Oh, dari kecil ya? Iya. Dari uang jajan kali ya? Jajan gitu sudah nyisin. Tapi mungkin enggak percaya ya. Mungkin mungkin pada enggak percaya, Pak. Karena memang di keluarga saya ya lumayan cuman enggak yang kaya-kaya banget. Enggak yang menengah lah. Bal biasa aja sih, Pak. Iya. Heeh. Biasa biasa itu kan menengah cukuplah. Cukup ya tidak kekurangan juga tidak kaya banget. Tidak kaya banget gitu kayak gitu. Didikan mungkin juga didikan ya. Siapa yang paling mendidikmu, Bal? Dari kedua orang tua Bal. Kalau untuk disiplin Bapak h keras Bapak keras ya. Waktu kecil memang sudah dididik keras banget loh, Pak. Kalau untuk ee yang cara bersikap itu ibu pasti. He he. Keras, Pak. Siap. Kok memilih kaos, Bal? Kan bidangmu kan kaos ya, t-shirt ya? Apa sebutannya? Ya, t-shirt. Kaos brandnya apa? Subculture. Subculture itu ya di sakunya itu ya. Y we subculture kok memilih bidang ee fashion. Ee kenapa saya milih fashion? Karena sempat diajarin sama teman toh, Pak. Waktu di waktu di Jogja. Oh, pas waktu kerja itu ya di properti. Kerja di properti itu sempat main sama yang bergelut di bidang tekstil. Ee terus saya penasaran. Hm. Oh, mainnya kayak gini cara mainnya. He. Nah, terus ini juga bukan passion saya juga loh, Pak. Oh, iya toh. Fashion itu bukan passion. Bukan passion. Fashion bukan passion. Fashion itu bukan passion. Kok kok apa mendlare fashion bukan passion ya? Karena saya kan dari editor, Pak. Iya. Visual. Oke, berbeda sekali dengan fashion ini. Oke. Karena memang ee fashion itu apalagi di kain gitu memang agak kerasa sih, Pak, dari mungkin marginnya enggak begitu tebal gitu ya. Ee lumayan tebal. Lumayan tebal. Marginnya lumayan tebal. Lumayan tebal. Oh. di pertekstilan itu. Jadi ya berarti alasan yang pertama itu karena kamu bisa diajarin tadi berarti yang ngajarin temanmu berarti ya. Teman kuliah eh teman teman SMA. Oh teman SMA. Ada yang usaha fashion kaos juga. Kaos kamu diajarin berarti kamu bisa skill-nya ada. Iya. Kedua, ternyata labanya lumayan nih marginnya gitu ya. Lumayan. Tapi bukan di kaosnya Pak yang lumayan itu apa? di bahan-bahan lain sebenarnya. Oh, di kayak drill atau di mana itu harga jualnya kan udah drill apa sih drill itu ee kain-kain kayak twil gitu, Pak. PDA gitu-gitu. Jual kaos atau apa itu kayak kemeja. Oh loh, kamu bukan cuma kaos aja. Iya, enggak cuma kaos aja. Jadi Oh, kalau ini kan brand, Pak. Subculture itu brand. Subculture itu subculture brand. Brand yang produknya itu masih kaos. Cuman ke depannya bakal main di ee kemeja, di fes, di rompi. Di fashion-fashion itu bakal kok masukin semua. Iya. Main nyoba main gitu. Iya. Cuma startnya dari kaos dulu. Siap. Kaus dulu. Iya. Mungkin setelah kaos ini itu bakal ganti di bahan lain, Pak. Kayak di drill atau di ripstop atau di apa gitu. Mantap. Mantap gitu, Pak. Nah, subculture sendiri apa tuh maknanya? Subculture ya ee menurut saya aja ini, Pak. Saya takut dihakimi orang-orang lah. Kan kok pakai namanya? Iya. Iya. Menurut saya ini ee sebelum menjadi culture kan subculture dulu. Ee jadi sebelum menjadi tren harusnya subculture ini udah tahu, oh ini bakal trennya seperti ini. Oh, trennya bakal seperti ini. Jadi harus lewat subculture dulu biar jadi tren menjadi tren. Oh, menarik juga ya. Gitu. Itu niatnya seperti itu, visi- misinya. Jadi tapi itu akan tidak menjadi tren terus karena sebelum tren kan. Iya sebelum tren. Sebelum tren muncul berarti enggak enggak akan tren. Enggak akan sebelum tren. Oh iya. Oh iya baru baru sadar sekarang saya. Oh iya. Oh iya ya. Subculture. Tapi enggak apa-apa. Jadi mendahului tren. Jadi kan tren itu kan ee orang yang beruntung adalah orang yang mendahului tren. Pel. Oh malah gitu Pak. Iya. H. Jadi ketika orang masuk ketika tren datang biasanya telat. Oh. Ya. Jadi memang mendahului tren itu adalah sebuah hal yang susah ketika dia bisa masuk sebelum ada tren. Itu risetnya gimana, Pak? Itu enggak ada di riset itu. Itu murni kalau kita katakannya rezeki. Oh, rezeki. Iya, rezeki. Berarti enggak bisa di ada metode pendekatan tentang tren gitu enggak ada ya? Variabelnya terlalu banyak. He. Ee karena variabelnya banyak bisa juga di itu seperti kan gini kan bagaimana menciptakan video viral. Nah, video viral itu adalah video yang bertepatan dengan momentum. Iya. Ya kan gitu. Apalagi pas waktu momentum momentum-momentumnya awal pas culture-nya. Oh. Nah, gitu kan. Jadi kan kalau pasap culture bagus tuh karena bakalan lama bentuk dapat momentumnya kan gitu. Ada yang tanya, ada yang ngeyel gitu. Ini harusnya bisa diriset. Iya. Kalau ada ilmu ini dan orang yang biasa menguasai ilmu ini pasti orang kaya gitu. Akan jadi kaya maksud saya. Oh, akan jadi kaya kayak karena ya itu ya kunci viral itu viralitas kan sekarang luar biasa ya. Apapun kalau sudah viral laku banget ya kan. Nah itu memang banyak variabelnya. Banyak variabel. Jadi mungkin ee kalau saya lebih enaknya nyebutnya rezeki. Rezeki aja. Rezeki aja. Jadi pas pas waktu kita bikin Heeh. ee momentumnya momentumnya dapat atau subculture subculture gitu. Mendahului culture mendahului mendahului cultur-ya mendahului viral. Tapi, Pak, saya mau tanya media sangat berpengaruh enggak untuk tren tren segala tren ya, enggak cuma di fashion ya, segala bentuk ee budaya baru lah, culture baru, media itu pengaruh. Iya, sangatlah. Jadi kan orang bergerak hari ini role modelnya kan dari media. Ketika Drakor menjadi idola bagi orang-orang, maka yang terkait dengan drakor laris kan. Laris dari makanannya. Iya kan? Makanan apa dari Korea? Banyak kan? Banyak. Apa yang paling baru itu apa namanya? Banyaklah. Akuak penghobi juga itu ya fashion-nya, skinc-nya dan skinc ya gitu kan media kan. Cuma media ini juga kan besar banget ya, Pal ya. Bahkan kayak media-media kecil kita harus ngikuti media besar. Oh iya iya kan? Harus ngikutin arus. Oh jadi kita itu harus ngikutin arus tapi tidak boleh apa kita harus nge-flow tapi tidak boleh kayak terarus. Apa yo bahasanya? Ya berarti riding wave gitu Pak ya. Riding the wave. Oh riding the wave. Bukan tenggelam di wave tapi riding the wave. Iya. Nah, ee kiblat-kiblat media itu se maksudnya seperti apa, Pak? Banyak banyak. Tergantung kita, tergantung kita di sektor apa. Oh, berarti setiap sektor ada kiblatnya ya? ada kiblatnya, tapi secara umum ada kiblatnya gitu loh. Jadi secara general ada yang lagi yang lagi boom itu apa, terus kemudian ee cara mainnya gini mungkin eranya sudah ganti, tapi per sektor juga ada kiblatnya. ee pecah telur ee udah menjadi kiblat di sektornya kan pernah dulu dulu ketika Iqbal di sini di tahun 2023 ee start dari 2021 2002 2023 kita menjadi kiblatnya bagi dokumenter. Yes. Iya kan di saat itu kan. Iya. Cuma ternyata ee banyak juga dari kategori-kategori lain yang kemudian kuenya dokumenter ini ke makakan gitu loh, Pel. Oh, iya kan kegeruus sama pemain-pemain baru, media-media baru. Media-media baru yang bukan dokumenter, tapi dia itu attention. Oh, ee menggrab attention orang. Oh, ya. kayak podcast, ada TikTok dan sebagainya kan itu. Jadi walaupun di dokumenter bisnis mungkin tetap kiblatnya i tapi kuenya menjadi kecil karena orang terpecah tuh minatnya kan gitu. Makanya juga kalau di dunia podcast pecah telur termasuk baru kan ini mencoba baru. Iya di semua bidang gitu kayaknya Bal ya. Di kaos juga gitu kan. Iya ada kiblatnya. Ada kiblatnya masing-masing. Masing-masing. Media juga sama sama. Kalau kok mencetuskan kaos itu berarti kan punya ciri khas toh. Ciri khasmu apa? Berarti subculture itu subculture cirinya itu pakai cuton 16s. Cutton 16S. Iya. Heavyweight cuton. Heavy. Jadi apa itu kalau dikategorikan segmentasi orang berarti orang yang seperti apa yang memakai kaosmu? Orang yang memakai kaos saya ya. mungkin yang hampir mirip sama kayak saya. Mungkin rebel enjoy ya. Ya enggak rebel juga sih, Pak. Lebih ke ee saya enggak bisa nganu sih, Pak. Enggak bisa mematok ini untuk segmen ini bagi yang bisa menerima aja. Oh, iya gitu, Pak. Jadi kamu menyediakan sebuah kaos dengan ketebalan 16 16S. 16S ya, Mas ya. itu tebal berarti kan? Tebal. Tebal. Terus dengan style yang agak gede gitu. Apa bahasanya itu? Ee oversiz box. Oversize. Oversize apa? Oversize boxy. Boxy. Iya. Oh, boky itu ee panjang dari kaosnya itu agak dipendekin dari ukuran reguler. Oh, dia agak ngangkat. Agak ngangkat tapi gede gitu ya. Iya. katanya biar kelihatan tinggi aja sih. Karena memang secara psikologis gitu sih, Pak katanya ya. Orang yang pakai baju boksik itu kelihatan lebih tinggi. Ee tapi ya juga sebenarnya kan tinggi enggaknya kan udah kelihatan kan, Pak. Cuman ingin terlihat tinggi, terlihat lebih tinggi dari karena visual kan bisa menipu ya. Heeh. Kayak yang kamu pakai ini ya berarti ya. Iya, Pak. Ini ini agak tinggi ini apa namanya ya? RIP-nya. Rip-nya tinggi ya. RIP-nya memang tinggi. Trennya rip-nya memang 3 centtian, Pak. Kalau yang sekarangsekarang ini. Heeh. Yang saya pakai. Oke. Berarti ketika Iqbal mencetuskan mau bikin kaos dengan brand subculture tuh. Iya. Apa yang dia lakukan? Apa yang kamu lakukan? Waktu apa? Awal-awal berarti produksi langsung. Waktu awal-awal saya itu sudah riset lama, Pak. Lama ya? Sebelum saya keluar pun 4 bulan sebelumnya saya sudah riset. He he he. Tentang cuttingannya harus seperti apa. He he. Terus ee ukuran H ukuran lebar dada panjang, slift-nya berapa. He saya banding-bandingin. Saya beli brand A, brand B, brand C. Oh, ini cuttingannya brand A seperti ini, brand B seperti ini. Saya lihat yang paling pas sama diri saya sebenarnya. Saya suka baju eh kaos yang seperti apa sih? Kalau yang terus saya suka bahan yang seperti apa sih? Saya suka yang ya saya ngeriset-ngerriset dulu, Pak. Heeh. Gitu. Terus mungkin itu juga hal yang penting ketika sebelum resain ya, Bal ya. Iya. Sebelum res yang mungkin orang ketika resain belum punya ide itu juga enggak benar juga ya. Dia harus ada ide dia sudah riset ada dana. Jadi ketika resign tinggal eksekusi kan gitu kan. Eksekusi. Benar. Benar. Enggak dari starting scratch. Betul. Iya benar. Ah, memang sebelum resign dipersiapkan. Kalau mau saya si harus menurut saya, Pak, harus di harus tahu mau ngapain, caranya bagaimana, duitnya juga harus ada. Heeh. Heeh. He. Karena percuma juga, Wak. Riset terus tahu caranya tapi enggak ada uangnya. Uangnya itu juga menurut saya sama aja sih. Iya, kayak orang tahu tujuan tapi enggak bisa lari. Iya. Enggak dia dia tahu mau ke sana nih tapi enggak bisa gerak gitu kan. Enggak bisa gerak sama aja. Tapi juga nganu Pak punya duit tapi enggak tahu mau diapain itu juga sama aja. Sama aja. Iya sama aja. Dia bisa lari tapi enggak tahu arah. Enggak tahu arah. Enggak tahu caranya. Enggak tahu caranya. Jadi kan kadang banyak teman-teman yang ee punya duit bingung mau dikasih mana. Mau bisnis gitu. Nah, maksudku gini, Bal tadi. Jadi, ketika udah udah ada ide, udah udah tahu cuttingannya, udah resign juga, udah ada uang, berarti langkah pertama langsung produksi gitu, Bal. Langsung produksi, beli kain. Oh, beli kain. Beli kain, kasih vendor. Beli kain kasih ke penjahit. Penjahit ya? Ya, penjahit. Nanti ee setelah dipenjahit nanti geser sablon. Oh, ya. Berarti yang ngecer kamu sendiri ya. Masih ngecer sendiri. sendiri, Pak. Oh, maksudnya itu enggak di satu tempat gitu kan? Enggak langsung produksi banyak atau enggak? Kecil-kecil dulu gitu ya. Masih kecil-kecil dulu, tapi saya mainnya ready stock. Mmm. Enggak PO? Enggak PO langsung ready stock. Oke. Jadi desain itu enggak saya publish sebelum barang saya jadi. Oh, oke. Desainnya ya ini aja atau ada yang lain? Desainnya ini pocket. Ada yang lain juga series. Oh. Nah, di series ini saya ngangkat daerah-daerah di Jogja. Hm. Seperti itu saya kemas ee yang menurut saya oh ini lebih menariklah. Iya iya iya. Nanti tak tunjukin teman-teman ditunjukin teman-teman ya. Siap. Oh. Jadi contoh apa nih yang daerah apa yang paling yang menarik yang menarik untuk kamu angkati kaos yang kemarin itu series Babarsari daerah Babarsari. Babarsari ya. Babarsari saya belum pernah dengar daerah itu ya. Babarsari. Babarsari. Barsar itu menurut saya menarik banget karena kalau kata orang-orang itu ee Gotam City-nya weh. Gotam City. Nah, gitu. LV LV Las Vegas. Las Vegasnya Jogja ya. Ya, SCBD-nya Jogja. Kalau di Jakarta kan punya SCBD yang real kan. Di Jogja juga ada katanya SCBD-nya apa tadi namanya? Apanya? Kaosnya tadi apa namanya? Kotanya tadi Babarsari. Babarsari ya. Babarsari. Apa yang menarik dari Babarsari itu? Yang menarik di Babarsari itu memang ee ya mungkin kayak Batman, Pak. Harus ada Batman katanya. Hmm. Berarti dengan banyak bet ee enggak juga bad people di Gotam kan banyak penjahat. Tapi rumornya memang seperti itu sih, Pak. rumornya memang bukan penjahat sih, lebih ke apa ya ke mungkin gesekan-gesekan aja sih, Pak antar masyarakat atau antar apa itu di kota ya? Di Sleman, Pak. Oh, di Sleman. Di Sleman. Oh, di Sleman. Saya kan dulu sebenarnya saya bikin artikel Babarsari itu karena teman saya kan orang Babarsari, Pak. Teman dekat saya. Iya, iya, iya. Orang Babarsari. Cuman kan saya juga enggak mungkin bikin wajahnya dia di baju saya. Ah. Oh, yang ngajarin pertama kali kamu itu orang Babarsari. Oh, bukan bukan lagi. Itu teman kuliah saya. I kan enggak mungkin saya menulis wajahnya di wajahnya di baju saya ya harus benar-benar relate sama masyarakat umum kan. Iya. Iya. Iya. Karena kalau saya pakai wajahnya dia mungkin yang beli keluarganya malah bukan bisnis ini malah sodqah di sosial gitu menarik. Nah, jualanmu, Bal di mana? Jualannya lewat apa? Jualan di marketplace, Shopee, terus TikTok. Masih COD.COD kalau TikTok. Facebook juga. Oh, marketplace. Pertama kali kok pasarin dan ternyata laku di mana? di TikTok, Pak. TikTok ya? TikTok. Oh, TikTok itu menurut saya jangkauannya lebih luas sih, Pak. Oh, karena kan bentuknya konten. Heeh. Heeh. Heeh. Bentuknya konten terus ada momentum yang pas yang itu tadi viral itu tadi, Pak. Tadi ya. He. Itu memang sangat menolong sih, Pak. Berarti kamu ngonten ya, Bal? Ya, ngonten. Tapi cuma ringan-ringan aja, Pak. Oh, kayak sepil-sepil gitu-gitu ya. Sepilepil. foto digeser-geser. Nah, gitu-gitu aja, Pak. Kamu nampil enggak di konten itu? Akhir-akhir ini nampil ya? Iya. Mau enggak mau, Pak. Karena memang kayaknya harus dikomunikasikan juga kan, Pak? Heeh. Heeh. Heeh. Enggak cuma yang jualan, tapi harus berkomunikasi dengan audiens. Betul. Betul. Dia maunya seperti apa? Yang viral itu seperti apa kontennya? Apa? Yang kemarin viral yang di TikTok itu yang menunjang penjualan. Yang menunjang penjualan ya? Iya, di TikTok. yang menunjang penjualan itu waktu ada kasus ojol sama pelayaran di Jogja, Pak. Oh, ya. Ya, ya. Nah, itu kan baru-baru ini itu kan. Iya, baru-baru ini bulan-bulan beberapa bulan yang lalu kan. Beberapa bulan yang lalu, Pak. He. Nah, itu kan ada kasus itu. Heeh. Naik kan di TikTok ramai. He. Nah, sebelum kasus itu naik, He. Saya itu udah photosoot. photoshoot e konsepnya itu memang em saya pakai baju Heeh. ojol sama subculture-nya itu. Heeh. Jadi kayak berhadap-hadapan gitu, kayak face to face gitu. Konsep photoshooot saya. Oh iya i sama subculture. Ee jadi ada tiga orang ojol sama orang biasa face to face. Heh. Di tengahnya itu pakai baju subculture kayak menengah gitu ya. Iya. Kayak ee semacam face to face aja sih. He gitu. Saya photoshooot itu foto berarti itu ya? Foto. Heeh. Waktu itu saya foto, saya upload waktu beritanya naik itu. Car. Oh, berarti kamu bikin itu sebelum ada berita itu. Sebelum ada berita itu saya sudah photoshooot. Wah, ini subculture beneran itu ya? Nah. Oh, iya ya. Oh, baru tahu saya. Itu subculture? Oh, iya iya. Itu subculture itu. Oh, the meaning of subculture itu. Oh, malah baru tahu di sini loh saya. Iya, aku tak kamu tak kasih makna aja. Kasih makna ya malah. Oh, iya. Oh, iya ya. Itu itu subculture. Oh, malah seperti itu ya. Iya kan? Itu kan kamu mempersiapkan sesuatu ternyata momentumnya pas pas lewat itu kan enggak bisa apa coba variabelnya LK dipikir gitu rezeki kanak itu? lah. Iya kan lebih mudah rezeki. Pak kan kita enggak akan menduga bakalan ada momentum itu. Enggak akan menduga itu akan menjadi isu nasional. Iya iya kan? Iya loh Pak. Iya oh iya ya. Itu subculture itu. Iya ya. Iya rezeki sih Pak. Enggak enggak tahu sih Pak. Enggak tahu juga sih Pak. Oke. Oke. Nah. Nah. Waktu kamu berpikir ee photoshooot itu konsepnya apa? Berarti cuma hadap-hadaban gitu atau ada konsep lain? gitu ya. Konsepnya waktu itu saya di tahun 20 apa ya itu kan sempat ada ee crash kan antara Ojol sama DC waktu itu. DC depollektor di Babarsari juga. Oh berdasarkan kejadian itu kamu bikin itu ya? Iya. Saya kan hanya memotret apa yang terjadi di Jogja. Oh. Oh, konsepnya kan kedaerahan cuman ya memang faktanya seperti itu. Pernah ada kejadian itu, pernah ada kejadian seperti itu. Dep collektor sama ojol. Ojol. Iya. Terus kemudian sapalca di tengahnya. Iya. Oh, ya seperti itu kurang lebih. Foto modelnya kamu sendiri? Ee saya sendiri. Saya yang memakai bajolnya. Terus ada teman-teman sama ada teman saya sama adik saya. Oh. Oh, benar-benar keluarga sih yang membantu saya. Benar-benar talent yang murah begitu loh. Murah sekali karena murah sekali karena dibayar cukup pakai nasi pecel. Kalau sini ya waktu itu mie ayam sama rokok ya. Mi ayam rokok was happy. Happy dengan narasi membantu MKM gitu, Pak. Tapi waktu itu memang benar-benar boom yang Mbal ya. Ya gini, Pak. Saya juga mau tanya sih, waktu itu kalau isunya booming, cuman kalau konten ya agak lumayan booming, cuman ke-convert ke penjualan. Iya. I ya. Banyak penjualannya ya. Waktu itu dari TikTok sekitar masih empat empat gitu. Empat apa Om? 4P. EMP picis. Karena produksi masih sedikit waktu itu. Oh. Stok pun juga enggak banyak kan? Enggak banyak. Saya cuma 30 apa ya? Oh, stoknya iya 30 du desain itu. Iya iya iya iya iya. Tapi kan bagi saya yang beli dari orang luar orang luar itu kan senang banget. Pasti pasti COD gitu kan sama orang asing gitu kan kayak makasih banget gitu. Iya kayak pecah telur itu. Nah kok bisa. Oh iya pecah telur ya. Pecah telur kan. Benar, benar, benar, benar. Kalau orang-orang kita, orang kenal kita kan mungkin ya dia mungkin ada simpati dengan kita, ada dia kita jualan dia beli. Tapi kalau orang lain kan benarbenar dari produknya gitu loh. Itu wis rasanya kayak benar-benar pecah telur gitu loh. Iya. He. Dari produk, dari mungkin isunya juga atau dari nama daerahnya gitu. Dari nama berarti sekarang ee penjualan seberapa Bal? Harian atau mingguan bulanan? Harian. harian itu ee naik turun ya, Pak. Masih naik turun masih apa kayak kadang sehari juga masih belum, tapi sehari ada yang closing empat apa lima gitu cuman enggak enggak nentu aja sih sebulan berapa Bal target ora ee yang hari ini terjual ini belum sampai sebulan, Pak saya rilis. Oh, belum belum. Usahamu baru banget ya, Bal? Ya, baru banget Agustus apa ya itu start rilis launching ya, Pak? Heeh. Heeh. Launching produk Agustus sampai sekarang. Oh, kalau produk pertama. Oh, itu yang maksudnya rilis Agus itu yang apa itu? Yang Babarsari. [Musik] Maksud tadi semua produk maksud saya maksud Oh, semua produk dalam sebulan. Iya, dalam sebulan enggak nentu juga sih, Pak. Tergantung stok juga. Paling kecil wis paling sedikit. Paling sedikit. Paling sedikit lah. Kemarin itu yang pertama 2 minggu sudah habis, Pak. Stok berapa itu? 30. Hmm. Itu 2 minggu sudah habis. Heeh. Heeh. Heeh. Karena ya momentum tadi kan nolong juga di Facebook juga nolong banget. Berarti sebulan 100 rata-rata belum nyampai. Belum nyampai. Di bawah 100. Ya, 50 sudah bagus, Pak. 50 sudah bagus sebulan. Oh, sebulan menurut saya loh, Pak. Bagus ya. Bagus banget. 50 itu maksudnya sudah cukup untuk biaya hidup di Jogja, Pal. Secara profit, Pal. Secara profit masih n
Resume
Categories