Modal 45 ribu Jualan di Sosial Media, Kini Sukses Raup Omzet Ratusan Juta
J39UdWzLQ7c • 2025-09-26
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Bahkan ketika SMP saya bayar itu hasil dari buat batu bata di tempat tetangga gitu. Nanti ketika mau bayar setor catatan Pak mau ambil gaji ya istilahnya seperti itu kan buat bayar sekolah gitu ya. Sempat putus sekolah enggak SMA. Jadi gak SMA saya tahunya gak SMA itu ya sudah lama nikah Mas. Ketika saya menikah dengan sama-sama sekolah itu memang pesimis. Orang tua itu pesimis. Nanti dikasih makan apa kayak gitu. Kita ada filosofi lain usaha kecil atau orang yang kecil tapi dampaknya bisa besar. Itu aja keyword-nya. Kalau dalam hidup saya itu bukan jadi anak siapa-siapa, tapi dari orang yang enggak dianggap tapi bisa menjadi dampak yang luas. Tapi dari awal usaha kita enggak pernah pakai banner, Mas. Dan selalu digang. kontrakan saya kan di gang masuk gitu. Jadi gak per emang optimasinya di sosmet. Salah satu model kita adalah kepercayaan. [Musik] Itu juga pertamanya dapat ini Mas haters juga kok bawa-bawa S2 terus kan gitu kan. Padahal saya tuh cuman pengin ya kayak orang misalnya bapak-bapak daily live bapak-bapak 30 tahun gitu ya. Terus saya ngambil hook-nya kan penginnya daily life, pasangan yang ngambil S2 tapi gak kerja kantoran. Karena kan kebanyakan biasanya itu kan kalau kuliah tinggi itu pasti kerjanya kantoran. Kalau enggak gitu jadi ASN dan lain sebagainya. Sebenarnya cuman itu nama saya Anwar Fuadi dan istri saya Fitria Nuriani. Lokasi tinggal di Desa Mujarum, Kecamatan Gundang, Kabupaten Tulungagung. usaha jasa borderir komputer dan konveksi. Kalau saya produksi, kalau istri manajemen dan marketing. Saya sm marketing aja, Mas. Sama manajemen yang lain sama bisik-bisikin nanti ini seharusnya gini, Mas. Ini seharusnya gini gitu. Sama manage keuangan. Karena kita itu kan ini kalau keluar gitu ngobrol gitu kayak gali potensi sendiri-sendiri. Mas, sampean tuh kan introvert ya. Bagusnya sampean itu di depan ketemu orang lah. Lah saya kan introvert ya, Mas ya. Kalau ketemu orang itu apalagi orang baru itu kan susah untuk apa namanya cepat dekat atau akrab gitu ya grapek gitu kan gak jadi frontlinernya Mas terus nanti yang mungkin balas chat itu saya jadi kita bagi tugas menggali kelebihan masing-masing sadarlah atas kemampuan terus kemudian kelemahan masing-masing bagi tugas gitu ceritanya itu agak flashback jauh saya dulu lepas SMP itu keluar pulau ikut Mbak kakak saya yang ada di Puar Pulau di situ Saya belajar bekerja. Namun sebelum saya itu menemukan tempat dulu itu pabrik pabrik konveksi masih besar itu garmen lah. Pengalaman untuk bordir itu di situ lepas SMP saya ke sana ya sempat putus sekolah enggak SMA. Jadi gak SMA saya tahunya gak SMA itu ya sudah lama nikah Mas pakai C. T dulu kan mau dikontrak tetap gitu kan setelah mempunyai kualifikasi yang okelah menurut perusahaan gitu kan. Saya menolak otak saya itu di rumah enggak di sana sudah saya enggak mau gitu. pulang target saya itu untuk mengembangkan ee skill dan kemudian menyambung pendidikan. Nah, setelah pulang dari sana saya mencari pekerjaan yang ada di Tulungagung. Terus dapat akhirnya saya mencari lembaga untuk saya melanjutkan ee tingkat SMA lah. Setelah mendapatkan ijazah, saya daftar di perguruan tinggi yang ada di Tulungagung. Awalnya Mas Anwar kan kerja di border juga, terus saya juga ngidim, kenapa kita enggak linierkan, Mas? Istilah pendidikannya kan gitu. Kita bikin usaha yang linier yang sampai itu sudah punya skill-nya gitu. Jadi enggak mencari-cari lagi. Terus akhirnya saya bikin sosem-nya. Jadi awalnya gak ada mesin sama sekali. Sosm-nya yang ada. Setelah sosm kita bikin ke maps-nya 2016-an. Selain bordir kita dihijab waktu 2016 itu hijabnya bikin sendiri. Jadi kalau hijab itu kita tuh modalnya cuma Rp45.000. Kita beli kain Rp45.000 dapat satu 1 kilo. Terus karena Mbak bisa jahit itu kita jahitkan ke Mbak. Kita bikin pola, kita jahitkan. Yang bikin pola, Mas enggak bisa bikin itu belajar bikin pola weh sebisane sampean lah, Mas gitu. Terus akhirnya dijahitkan ke Mbak terus saya tawarkan ya tawarkan ke biasa manual gitu, Mas. Enggak ke sosm enggak. Terus alhamdulillah ada yang pesan langsung buat seragaman 45 picis. Dari uang 45 itu muter sampai sekarang, Mas. Kalau saya itu diasuh dari keluarga memang serba terbataslah istilahnya teman-teman saya itu sudah merasakan apa saya itu masih jauh dari ada ee merasakan kayak gitu. Sehingga saya itu harus berpikir kreatif. Setelah saya sadar bahwasanya pendidikan atau ee taruhlah kalau di SD atau SMP itu harus juara. itu ternyata menurut saya itu tidak menjamin kesuksesan seseorang di masa depan. Saya dulu mohon maaf mis cerita terkait sama peringkatlah atau juara. SD itu sering juara satu tapi ketika juara satu itu gak ada apresiasi dari orang tua. Sementara teman-teman saya misalnya peringkat 2 3 4 itu dirayakan ke mana-mana tapi saya enggak ada perbedaan ya tetap aktivitas bantu dulu itu bantu ibu bikin batu bata kayak gitu. aktivitas seperti itu. Kalau dulu berhubung di sini kan juga banyak mencetak membuat batu bata bahkan ketika SMP saya membayar itu hasil dari buat batu bata di tempat tetangga gitu. Nanti ketika mau bayar stor catatan Pak mau ambil gaji ya istilahnya seperti itu kan buat bayar sekolah gitu. Menurut saya itu memang pendidikan itu ee sesuatu yang bisa membuka cakrawala kita di masa depan. Soalnya kita enggak tahu nanti jalan seperti apa di masa depan. Dan ternyata ketika istilahnya teman-teman itu waktu itu leha-leha, saya alhamdulillah disibukkan untuk terus menambah terkait wawasan, keterampilan hidup dan lain sebagainya. Dan ternyata ketika mengajak dewasa saya merasakan itu dari uang yang kita punya, Mas. tentunya orang yang tidak mempunyai privilege apapun itu kan memang susah dan sangat-sangat susah kita merasakan di situ dan akhirnya kita mendapatkan kepercayaan Mas kepercayaan ada teman gitu kan yang mempunyai akses akses pendanaan yang ee enaklah gitu kan menurut kita itu juga masuk akal untuk dipertimbangkan akhirnya kita mengambil kesempatan itu. Kalau dibilang memang enggak punya apa-apa. Ibaratnya ketika kita itu biasa bekerja di tempat lain terus kemudian konsentrasi melakukan usaha itu kan butuh perhitungan pertimbangan yang sangat-sangat matang. Dan itu istilahnya kita itu ketika dihadapkan posisi itu kan kita galau juga. Ternyata alhamdulillah ada jawaban ada teman istilahnya jaringan lah yang bisa membantu terus kemudian kita membeli alat produksi pertama itu yang kita gunakan. Dulunya kan kita enggak punya mesin produksi sendiri, kita masih nebeng. Seperti yang dikatakan istri tadi, kita mempunyai ujung tombak saja, sosm itu aja. Orang-orang itu datang hubungi melalui sosur mat. Tetapi kan kita enggak punya, cuma nebeng ee teman ke orang gitu kan belum bisa optimal. Terus kemudian kita juga harus berpikir soalnya demand semakin tinggi kayak gitu kan. Masa terus seperti ini gitu kan. itu yang membuat kita itu bergerak yakin harus mengambil kesempatan itu, mengambil mesin. Jadi kita sosmetnya saya itu sendiri-sendiri, pribadi sendiri untuk usaha sendiri jadi gak dicampur gitu Mas ya. Kekuatan dari sosial media seperti itu, Mas. Dan ternyata ketika kita itu membangun atau memasukkan data di sosial media, maps dan lain sebagainya membantu orang-orang khususnya yang memang membutuhkan jasa kita mencari. kita mungkin enggak pakai misalnya Anwar Border, enggak komputer Tulung Agung seperti itu. Menurut kami setelah kita itu juga pernah belajar terkait sama sosial media, kata kunci itu ternyata penting. Apa yang dipikirkan orang terus kemudian diketik di HP orang tersebut, nah kita hadir dan menjadi solusi seperti itu. [Musik] Sebenarnya awalnya dulu tuh kan saya tuh kan sering nulis. Awalnya itu brandingnya penulis. Brandingnya penulis buku biasa. Terus setelah itu saya ke self development. Setelah ke self development terus ini apa ya? Safe development itu kayaknya saya berhasil dapat 10K kalau enggak 12K organik. Terus akhirnya ini buat apa ya Mas? Terus Mas bilang buat usaha aja. Akhirnya saya bikin nyerampet-nyampet dulu ke usaha. Terus boomingnya itu ketika saya bahas pendidikan. Jadi pendidikan tinggi tapi milihnya enggak kerja kantoran. Akhirnya itu booming dapat lagi sampai akhirnya 25 K itu secara organik. Dan ada beberapa juga views-nya sampai 2 juta, R juta cuman nak saya taruh di pin karena memang kan saya enggak fokus untuk ngajarin orang jadi content creator kan. Saya cuman sharing daily life aja. Itu juga pertamanya dapat ini Mas haters juga kok bawa-bawa S2 terus kan gitu kan. Padahal saya tuh cuman pengin ya kayak orang misalnya bapak-bapak daily live bapak-bapak 30 tahun gitu ya. Terus saya ngambil hook-nya kan penginnya daily life pasangan yang ngambil S2 tapi gak kerja kantoran. Karena kan kebanyakan biasanya itu kan kalau kuliah tinggi itu pasti kerjanya kantoran. Kalau enggak gitu jadi ASN dan lain sebagainya. Sebenarnya cuman itu. Tapi ternyata banyak yang berterima kasih, Mbak terima kasih sudah bikin kayak gini. Saya jadi enggak insecure lagi loh. Punya pendidikan tapi gak kerja sesuai pendidikannya gitu. Iya. Sedang menempuh 100 enggak? Enggak. Saya sudah selesai dari 2017. 2017 selesai dulu membiayai, Mas. Makanya kita enggak bareng. Enggak bareng e saya memang memutuskan untuk bikin pondasi usaha. Istilah kita jedah dulu untuk mengembangkan usaha biar biar mantap. Biar ini istri duluan terus setelah landing saya berangkat kayak gitu. Dulu biayain Mbak Fitri dari mana? Dari usaha. Belum. Hijab Mas. Hijab. Terus ee selain itu saya masih bekerja di tempat orang. Mungkin kalau saya itu enggak sadar bahwasanya pentingnya usaha untuk masa depan itu mungkin saya pilih jalan nyaman jadi karyawan kayak gitu aja sudah selesai gitu kan enggak mikir apa-apa. Dan ternyata semakin sadar bahwasanya nanti harus dulu ada perjanjian ketika nikah harus hidup orang tua atau mertua gitu kan. Kalau cuma dari ee kerja di tempat karyawan kita mohon maaf nanti yang lain dari mana kayak gitu kan. ketika sadar ya sudah kita 100% yakin untuk mengembangkan usaha sendiri. Menurut saya terkait sama pendidikan itu bukan linear dengan pekerjaan sebenarnya. Kalau menurut saya pekerjaan itu skill yang kita gunakan, skill yang kita punyai, terus kemudian istilahnya dijalankan setiap hari itu sudah namanya pekerjaan. Keahlianlah istilahnya. Dan keahlian itu bisa untuk kita hidup berbeda lagi pendekatan pendidikan. Menurut saya pendidikan itu ya untuk basic kita, basic kita untuk memandang sesuatu kayak gitu kan. Tentunya memang berbeda teman-teman yang latar belakang pendidikan misalnya strata apa sama strata apa kan memang berbeda di situ. Mungkin kalau di di dilihat orang wong pendidikan ee ilmu pendidikan atau sarjana pendidikan kok enggak jadi apa-apa. banyak yang seperti itu dan bahkan kita itu membikin konten yang istilahnya mengusung tema menjadi lulusan tapi enggak enggak di dunia kerja atau di dunia pendidikan seperti itu. Dan ternyata tujuannya enggak enggak itu juga kalau dibilang persentase dunia pendidikan atau lembaga pendidikan itu kan sangat-sangat terbatas. Sementara yang dibutuhkan orang itu lapangan pekerjaan kayak gitu kan. Nah, kita terinspirasi dari situ loh. Ngapain gak grade pekerjaan untuk orang lain? Sementara seperti lembaga atau tempat-tempat pekerjaan itu kan juga terbatas. Jadi karena saya bertanggung jawab di manajemen termasuk manajemen produksi, manajemen kualitas, manajemen psikologi karyawan dan customer. Jadi saya menganggaplah pendidikan itu emang penting. Kalau mungkin orang mikirnya itu usaha kok dadak kuliah tinggi-tinggi ngapain gitu. Tapi bagi saya justru dari kuliah yang tinggi atau pendidikan yang tinggi itu tadi bisa meng-handle yang kita punya dan tetap langgeng gitu, Mas. Mau meminimalisir masalah terutama karyawan. Biasanya kan kalau karyawan kan ini ya banyak gap atau apa atau kemampuan yang lainnya gitu. Kita memang menghalir dalam artiu kita ada filosofi bisnis tersendiri. Ada target tapi kita enggak cepat-cepat gitu, enggak mau prematur. Kita itu usaha enggak mau prematur. Ada kan orang jepet bom terus habis itu enggak ada. Kita kan hidup insyaallah kan ada waktu yang di dijangkau gitu kan. Berapa lama enggak tahu juga kan. Ibaratnya kita usaha itu napasnya itu harus stabil gitu. Nah, filosofi kita seperti itu enggak mau langsung apa meledak terus itu habis itu nanti enggak ada. Ya nauzubillah seperti itu. Makanya filosofi itu kami gunakan. kita usaha menghidupi teman-teman dan juga teman yang lain. Ibaratnya kita penuh, yang lain tetap bisa hidup. Misalnya bulan ini masih close order, bisa ke tempat lain dulu. Mungkin bagi orang itu syirikan iblilahnya orang Jawa seperti itu. Tapi t enggak kita pengin kan teman-teman yang lain yang bekerja atau usaha yang sama kan ya pengin hidup juga kayak gitu kan. Kita pegang prinsip itu. Bahkan ada yang dulu ngerjakan di sini sekarang sudah mesin punya mesin sendiri. belajar dari kita juga ada beberapa, Mas ya. Biasa seperti itu. Ada tiga atau empat yang sudah beli mesin sendiri juga. Pertama klien klien dan sekarang mereka buka sendiri terus buka. Usahanya Mas pendapatannya berapa Mas kalau di tootal semua? Total. Iya. Alhamdulillah 3 digit sudah dari R5.000 itu. Iya omset. Heeh. 3 digit. Aman. Mau cari laptop yang cocok buat kamu para pekerja keras, pelaku usaha, dan UMKM? Sini aku tunjukin laptop yang tahan banting dan anti drama. Hari ini aku sedang berada di acara launching Asus Expert Series. Suasananya penuh antusiasme. Deretan Boot sudah siap menampilkan beragam keunggulan dan durability dari lini Asus Expert Series. Angel Ergolif pada Asus Expert series bisa dibuka hingga 180 derajat. Portnya pun dirancang kuat dengan rangka logam yang diperkuat. Bahkan bisa menahan beban hingga 8 kilo. Jadi kalau kalian mau angkat t pakai laptop bisa juga itu 8 kilo keangkat itu. Keyboard laptop ini tahan tumpahan hingga 405 cc air. Cukup dilap, laptop tetap berfungsi normal. Layar Asus Expert series juga istimewa. mampu bertahan dari tekanan hingga 28 kilo. [Musik] Bagian bodinya diuji mampu menahan tekanan sampai 50 kilo lebih. Semua keunggulan ini makin lengkap dengan sertifikasi military grade. Dari suhu ekstrem, kelembaban, getaran hingga debu, laptop ini lolos semua uji ketahanan. [Musik] Asus series cocok buat kamu yang lagi nyari laptop yang tahan banting dan anti drama. Pengen? Langsung aja kunjungi Asus Online Store atau Asus Store yang ada di kotamu. Untuk pro menariknya cek akun Instagram @asusid. Asus Expert series trusted by expert bu for worry free business. [Musik] kita jenglok maksudnya ee di kampus salah satu kampus Tunggu satu kelas malah satu kelas tapi beda geng enggak kenal sebenarnya kan satu kelas itu kan banyak ada 50 orang ya pas itu ya iya terus geng saya sama dia itu bed semester 4 Heeh tiba-tiba ngomong kalau SMS gitu dulu SMS ya mod WhatsApp SMS ngomong kalau mau dekat tak kira itu mau pacaran terus tak bilang gini, "Mas ngapunten lak pacaran kulo mboten saget ngoten lak jenengan mau serius ke rumah saja nanti ngomong ke orang tua ternyata memang serius dan datang ke Ponorogo awal-awal gitu kan kita itu pengin kenal gitu kan ee mungkin enggak lama sih ada niatan ee niatan pengin nikah terus target sudah terkunci gitu kan terus dibilangin seperti itu selang beberapa minggu minggu atau 1 bulan lah. Eah, terus saya waktu itu jam kuliah berhubung dikasih info ada jam saya langsung ke sana ke Ponorogo berbekal map gitu. Nyasar juga nyasar juga saya enggak tahu entah nanti diterima atau enggak yang penting sana gitu. Terus saya tanya, "Bu, kira-kira Fitri boleh saya nikahi?" Kayak gitu boleh. Asal nanti tinggal di sana terus kemudian orang tua diopeni lah gitu. Terus akhirnya boleh jelang berapa bulan kita nikah. Dan waktu khitbah waktu itu Bapak sama Ibu kan di luar pulau sama kakak itu kan terus Mbak yang ada di rumah itu kan waktu itu kita UTS ujian tengah semester ya enggak ada kita enggak enggak enggak ikut ikut khitbah enggak ikut lamaran wis pokoknya mbak-mbak lah yang ke sana itu. Berhubung saya itu empat bersaudara, saya cowok sendiri terakhir mungkin kalau ditanya duwe opo atau punya apa anak sekolah punya apa itu kan ya enggak punya apa-apa gitu. Cuman kita sudah kerja. Heeh. Sudah kerja. Ya, sudah kerja dulu itu kita kerja sama dengan sekolah, kita bekerja bisa sekolah atau bisa kuliah seperti itu. Kalau dulu itu dobble sih sebenarnya kita juga produksi konveksi ikut orang dan memegang di salah satu media radio di Tulungagung juga saya salah satu orang yang pertama kali apa istilahnya babat lah radio tersebut. Mulai semester 1 kita start untuk perizinan dan sampai tembus ke perizinan nasional, radio nasional. Belajar dari mulai teknis elektronik, kemudian produksi, siaran dan juga biasanya itu live live ada acara live. Sebenarnya untuk di Tulung Agung itu ada alasannya. Dulu selepas lulus di pondok itu ada pengabdian wajib ke luar kota. Istri dapatnya di Tulungagung. Terus habis itu lanjut kuliah. Nah, satu kampus kebetulan. Heeh. Sebenarnya pertama ngelihat Mas itu cuman oh ini orangnya baik gitu aja. Setelah itu kan ada syarat. Saya punya dua syarat karena saya kan anak tunggal. Saya punya syarat salah satunya itu mau enggak Mas ngopeni orang tuaku gitu. Entah nanti mau di sana apa enggak mau enggak ngepeni terus mau akhirnya kalau sampean serius ke rumah aja gitu. Enggak ada yang spesifik khusus gimana karena memang enggak kenal. kayaknya dulu pertama kali PDKT tuh nanyain gimana caranya nulis font Arab ya di komputer di Word itu terus ini ngapain nanyain gitu lama-lama ternyata oh saya pengin sama sampean gitu ini konsepnya pacaran apa gimana terus kersane ngalah ya kalau bahasanya orang Jawa itu kok dibolehin padahal masih sekolah masih kuliah sama Bapak sama Ibu dibolehin terus bapak sama Ibu kan mendukung kita juga Mas makanya boleh di sini Nih yang penting ngopeni di sana. Kemarin juga sakit pas beliau operasi barengan berdua 1 bulan dua orang itu kita di sana kita full di sana. Engih. Pas saya nikah akhirnya start dari nol seperti kita ngisi bensin di pom gitu kan kita memang enggak punya apa-apa gitu kan. Mungkin kalau kerjaan dibilang dapatnya berapa ya ya tahu sendiri kan kalau pengabdian itu kan. Dari situ kita memulai belajar memanage apa yang kita miliki itu disatukan terus nanti dibagi untuk kehidupan. Nah, waktu itu kita masih nge-cos seminggu selepas kita nikah itu langsung enggak di rumah orang tua, langsung cari kos-kosan. Ee tujuannya ya kita biar merdeka dalam arti kita bisa belajar untuk memanage keluarga kita dari nol tanpa ada intervensi dari manapun. [Musik] Ketika saya menikah dengan sama-sama sekolah itu memang pesimis. Orang tua itu pesimis. Nanti dikasih makan apa kayak gitu. Sementara alhamdulillah berbekal dengan pengalaman e pernah keluar pulau kayak gitu kan kita kan tahu yang namanya survive. Harus hidup itu dengan berbagai cara seperti apa saja dengan kita menambah relasi dan lain sebagainya. Kesempatan datang enggak tahu pokoknya gak datang. ada kesempatan datang diambil gitu aja bisa berjalan dan ee istri bisa merasakan apa yang kita perjuangkan bareng-bareng. Alhamdulillah kita rasakan tentunya juga melalui proses-proses yang bisa dikatakan ya berdarah-darah juga dalam arti kita itu kita harus ee memanage pendidikan juga. Kita kan masih sekolah iya harus kerja. Terus kemudian ada kegiatan-kegiatan lain juga yang harus kita jalankan. E tentunya itu kan membutuhkan operasional juga yang tidak sedikit dari pendapatan dari kerja kita yang dulu itu kan belum istilahnya belumlah untuk dikatakan cukup untuk tinggal tidak di rumah. Berapa kalau digabungin? R juta R juta ada apa enggak kayak gitu? Iya cukup Pak. Karena itu kita belajar usaha. Heeh. Mulai dari situ. Mulai dari situ. Heeh. Usaha apa pertama? Nugget homemade. Jadi buat nugget itu awalnya juga enggak ada blender. Jadi dicacah manual. Kita cacah manual. Kita cacah manual. Terus ya kayak selayaknya bikin nugget homemade itu yang ayam sama sayur. Tapi kita keunggulannya itu ada sayurnya gitu waktu itu. Terus habis itu postingnya di Facebook ya. Di Facebook sama di WhatsApp sudah ada. Sudah ada. Terus akhirnya ada yang pesan. Dari situ kita punya pendapatan lebih untuk bisa kuliah berdua buat KKN, buat PPL sama buat hidup. Dari gajinya Mas yang R.000an tuh kontrakan itu 400 Mas karena di emang kan pengnya dekat sama tempat kerja saya jadi agak kuota otomatis mahal dan itu kita minta diskon ke pemilik ke pemilik jadi hasilnya R50 terus dapat diskon Rp50.000 Ibu tahun berapa? 2014-an ya mungkin 2 tahunan Mas yang ngerjain kan saya sendiri orderan banyak kayaknya sampai Kediri ya Mas kita ngantter itu sampai Kediri juga do itu. Terus karena yang ngerjain saya sendiri kan keuntungannya untuk kuliah gak mungkin untuk nge-hire orang kan. Akhirnya saya panas seminggu panas seminggu sembuh seminggu panas seminggu sembuh. Akhirnya sama Mas wis leren, Dek gitu cari yang lain gitu. Apa aja untuk bertahan hidup usahanya? Banyak juga ya, Mas ya? Iya, banyak. Ada nugget, terus yogurt itu. He. Terus camilan yang repack itu, Mas. Kiloan. Heeh. Jadi kita beli kiloan, kita repack. Terus nugget mie juga. Kalau nugget mie ini khusus untuk disetorkan ke sekolah gitu. Jadi kita tuh kalau bisa dapat pendapatan harian, mingguan, sama bulanan. Jadi kalau bulanan kan dari gaji, terus mingguan itu dari yang dititipkan. itu tadi kalau harian itu ya nugget yang saya jual ke orang umum itu tadi. Jadi dari situlah kita bisa memenuhi kebutuhan, bisa survive di situ. Bisa survive di situ. Situasi yang menurut jenengan paling berat tuh di situasi apa, Mbak waktu itu? Kalau menurut saya tidak ada sih, Mas. Soalnya kita emang benar mungkin ini ya cobaannya berat kayak kayak Mas berdarah-darah tadi ya. Tapi saya ngerasa ini jujur ya, enggak maksudnya enggak enggak apa enggak dibuat bet. Saya ngerasa happy karena kita berkembang gitu jadi bertumbuh. Jadi meski kadang ada mungkin finansial yang kurang atau apa gitu, kita gak mikir kok bisa gini tapi gimana biar ini terpenuhi gitu. Jadi kita itu kayak ada challenge gitu dan saya sendiri suka sama hal-hal yang seperti itu. Jadi selama menikah sama beliau ini jujurnya ya happy-happy aja. kita mikirnya ndak kok cuman segini gitu, tapi gimana biar ini bisa jadi banyak, kita harus ngapain gitu. Apa yang harus kita lakukan? Fokusnya ke situ. [Musik] Selain jasa, kita juga memproduksi produk-produk konveksi untuk seraga anak kayak gitu kan. dan juga ada selimpang wisuda. Itu sebagai trademark yang mungkin kali ini kita sedang hit-hitnya. Kita bekerja sama dengan teman-teman atau anak-anak yang ada di perkuliahan kayak gitu kan. Mereka menjadi ujung tombak warga tengg ada mog kalau kita enggak gak ada satu juga. Iya boder juga 1 2 3. Kita berawal dulu dari bijian Mas. Jadi pas COVID kita malah mulainya pas COVID. Jadi ketika mungkin usaha orang lain lagi down-downnya, kita malah justru datangin mesin dan berawalnya dari itu yang eceran yang cuman enam kan minimal en ya Mas ya en kemudian 12 lama-lama jadi rusan bahkan ribuan bahkan ribuan kalau serang wisuda kan namanya satu custom iya custom memang seperti itu kan custom kalau custom itu kan harganya berbeda Mas dan target untuk usaha ini memang bukan untuk menengah ke atas tapi Kita membantu teman-teman yang mau rintis itu kita gandeng. Misalnya teman-teman yang lulus sekolah, lulus kuliah, pengin usaha, "Mas, saya mempunyai produk ini." Kira-kira bisa enggak membantu membuatkan contoh? ke sinilah saya bantu. Dan alhamdulillah dari kecil-kecil yang kita istilahnya openeni kita rawat dan ternyata mereka membuahkan hasil dan dampak yang menurut saya memang signifikan untuk pertumbuhan usaha kami selama ini. Kita enggak muluk-muluk harus ratusan bahkan apa ratusan ribu dan mungkin ribuan. Enggak. Dari kecil-kecil itu kita rawat mereka itu senang dan mereka bertumbuh dan mereka juga e mempunyai rezeki jalan sendiri-sendiri dan kita merasakan dampaknya. Untuk konveksi kita juga cuman enam juga melayani, Mas. Baju enam misal kita melayani baju seragam enam gitu. Kalau yang lain kan mungkin 50, 100 gitu. Ada pernah teman itu ee yang mengatakan dari kecil itu akan membawa dampak besar dan dari kecil itu sebagai umpan. Dan ternyata mereka ketika teras percaya mereka itu ke sini bawa order yang lebih banyak. Dan ternyata itu dampaknya kita itu ibaratnya enggak enggak mau serakalah. Kita usaha pengin hidup dan yang lain tetap tetap biar hidup. Kita itu pakai misalnya istilah slot istilahnya kita 1 bulan itu mampu taruhlah jilbab atau hijab itu mampu 500 ya sudah 500 habis itu close order di situ. Mungkin kalau mindset orang lain pakai kita ambil semua nanti yang ngerjakan mungkin ada orang lain gitu. Kita enggak enggak berani soalnya kita ada standarnya tersendiri. Standarnya sendiri. Jadi pendidikan yang kita dapat, kenapa kita ngajar pendidikan tuh, Mas? Karena di situ kan ada kayak manajemen, kemudian psikologi untuk karyawan, kemudian untuk customer. Itu kita dapatnya kan dari situ. Dan kalau enggak nerusin ke jenjang perguruan tinggi itu kan enggak bisa diakses. Kayak manajemen itu kan kalau kita enggak ke perguruan tinggi sangat sulit diakses kan. [Musik] Kalau total untuk misalnya kan kita produknya itu varian. Kalau dari jasa itu ada B sekolah dan sebagainya itu kalau per hari kan ribuan bisis bisa. Bisa. Terus kemudian kalau custom kita kan memang terbatas mesti ee harus satu-satu misalnya kan ada selempang itu kan cuma satu-satu apa kan dua yang enak nanti satu gerombolan. Nah, itu lebih enak seperti itu. Kalau bet itu ribuan per hari untuk mesin produksi awal pertama gitu kan ada akses dari teman itu kan. Terus kemudian kita mendapatkan hasil dan kesempatan ee terus kemudian ngambil mesin yang selanjutnya dan itu 100% bukan uang dari kita murni. Nah, dengan adanya jaringan baru terus kemudian kita tahu terkait permesinan, produksi mesin, kita tambah jaringan orang-orang yang biasa mainten mendapatkan manfaat dan kita dikasih kesempatan kenal orang yang membuat atau pabrik mesin. Untuk mesin yang kedua itu enggak 100% dari uang kita, tapi kita jualan mesin. Dari kita jualan mesin ee hasil jualan mesin kita ambil mesin. Heeh. Kayak gitu. mungkin dikatakan, "Uh, berapa lama loh kok bisa ambil mesin lagi?" Pola kita seperti itu. Mesin itu cara mendapatkan istilahnya kita main ke pabrik itu kan kapan bisa enggak ini bawa pulang dan ternyata ada cara lain untuk mendapatkan mesin tanpa kita mengeluarkan uang 100% dari kita. Itu sistemnya untuk optimasi kita ya ada pesanan-pesanan lain. Jasa kan sudah kita bisalah perhitungkan jasa 1 hari, 1 bulan, 1 tahun kan sudah tahu ibaratnya kalau kita ambil rata-rata. Nah, tambahannya kita harus membuat produk turunan dari border. Masih berkaitan dengan border. Membuat baju, membuat jilbab, membuat itu kebutuhan anak-anak kuliah itu. Dari situ kita mendapatkan ee tambahanlah tambahan dari penghasilan jasa kita gitu. Semangat dari 45.000 loh. Makan kalau kita enggak enggak semangat kan R5.000 cuma histori saja kan ya. Karena itu ketika kalau R5.000 di semangatnya dipakai itu kan wah dari start R5.000 itu sampai kita mendapatkan kesempatan ini ya kita harus harus bersyukur gitu. Kalau secara psikologis tentu ada, tetapi secara ibaratnya e zahirnya, nampaknya kita memang gak ada lifestyle-nya sama gitu, Mas. Dari dulu yang ngontrak sampai sekarang sama. Ibaratnya kita beli jajan apa ibaratnya kan sempul gitu kan sekarang masih aktif dan istikamah tetap sempul gitu aja. Dan ternyata tingkat kebagian orang itu bukan mendapatkan berapanya, fantasinya berapa dan ternyata ketenangan yang gitu. He. Tenang terus teman-teman itu bisa bekerja, Bapak Ibu istilahnya sehat dan sebagainya itu ee prestasi luar biasa. [Musik] Berarti part-partnya langkah kecil dikit-dikit. He, betul. Karena kita sadar kita enggak ada privileks. Nanti kalau ambruk misalnya ya, kita mau bangun lagi pakai apa gitu. Jadi dinikmati sabarnya. Mungkin kalau saya itu anaknya seorang jutawan miliarder mungkin ya enggak ngati-ngati. Ibaratnya itu ah langsung beli beli beli. Tapi kita sadar Bapak Ibu cuma bekali doa dan semangat kita itu ngati leh. Itu yang membuat kita itu tetap ee harus stay humble terus kemudian harus tetap tetap e waspada, hati-hati. Paitan kita ibaratnya ee modal kita itu kehati-hatian. Soalnya kehati-hatian kita yang tidak mempunyai up siapapun ibaratnya seperti itu. Itu menjadi ee sesuatu yang luar biasa gitu. kita ada filosofi lain, usaha kecil atau orang yang kecil tapi dampaknya bisa besar. Itu aja keyword-nya. Kalau dalam hidup saya itu bukan jadi anak siapa-siapa, tapi dari orang yang enggak dianggap, tapi bisa menjadi dampak yang luas. Seperti klien-klien saya itu ibaratnya itu senang mendapatkan partner seperti kita kayak gitu kan. Sudah itu prestasi yang luar biasa yang harus kita jaga selamanya. Tapi dari awal usaha kita enggak pernah pakai banner, Mas. Dan selalu digang kontrakan saya kan di gang masuk gitu. Jadi gak per emang optimasinya di sosmet. Salah satu model kita adalah kepercayaan. Ada tindakan preventif yang kita lakukan kepada setiap pelanggan kita dengan berbekal sedikit dari ee ilmu dunia pendidikan adalah psikologi mereka. Istarnya mereka itu mempunyai order. Taruhlah order per baju itu Rp100.000. Mereka itu harus ee mengeluarkan dana untuk membuat ee ambil kain dan sebagainya. Terus bordernya, Mas. Kalau misalnya taruhlah bordir itu ada anggaran Rp10.000 itu bisa enggak? Saya harus merumuskan itu. Target saya, klien saya harus dapat order agar dia itu deal. Pendekatan yang saya gunakan seperti itu. Enggak usah muluk-muluk. Mungkin kalau saya itu pengin menang sendiri, cari untung sendiri, saya patok aja. Heeh. Mas, ini berapa? Rp20.000. Enggak bisa kurang tohong. Enggak bisa. Kalau enggak ya silakan caranya. Enggak seperti itu, Mbak. atau Mas kira-kira sampean ada anggaran berapa untuk bordir istilahnya seperti itu. Ini Mas sampean bisa mengusahakan ya ini manajemen yang saya gunakan atau pendekatan yang saya gunakan selama ini fleksibel lah ibaratnya kualitas harga segini nanti jadinya kan sebelum anu kan ada sampel sebelum produksi kan harga Rp10.000 seperti ini kira-kira klien masuk enggak? Oh, bisa. Ya udah, running gitu. Terus kemudian ada lagi ada pembayaran yang mungkin enggak kontan ambil kayak gitu kan. Ada jeda 2 3 hari atau Stu Minggu itu yang membuat mereka itu lebih-lebih nyaman bersama kita gitu. Kalau saya itu karena saya bukan tipe orang yang muluk-muluk atau mungkin suka kemewahan atau mungkin pengin dipandang orang gitu ya, Mas. Jadi selama misal saya kan sukanya jajan. Selama jajan saya terpenuhi ya udah selesai. Sesimpel itu saya dan itu bahagia dan tenang ya. Udah. Heeh. Jadi di keluarga saya sama Mas Anwar itu ada namanya filosofi jajan. Jadi setiap hari itu harus jajan walaupun cuman 5K 5.000 pokoknya setiap hari harus jajan. Karena saya juga sadar oh ternyata bahagia secara psikologis itu lebih lebih penting. Lebih penting. Jadi mau masalah seabrek tapi kalau psikologis kita itu happy ya enggak keras Mas. Beratnya itu gak kerasa. Tapi kalau psikologis kita enggak happy ya misal masalah dikit aja jadi besar. Heeh. Bahagianya ya sewu hobi saya tersalurkan. Iya. Kalau Mas salah satunya memang kalau jajan ngikut ini. Kalau hobi saya yang menguntungkan itu saya suka memang membaca terus kemudian belajar. Nah dalam arti ituu seperti halnya sehari itu kan harus baca artikel misalnya tentang pengembangan atau informasi dan lain sebagainya. itu sama ketika jeda produksi kan sebelum masuk ke produksi mesin itu kan ada di didesain dulu salah-salah desain baca atau ada dengerin podcast misalnya pecah telur untuk inspirasi dan lain sebag itu salah satu hobinya seperti itu. Untuk ke depan tentunya penambahan alat produksi berhubung list klien kita itu semakin banyak tidak hanya di dalam kota tetapi luar kota bahkan luar pulau dan ternyata sudah mengendus kita itu PR kita untuk jangka pendek. Untuk jangka yang panjang tentunya semakin banyak yang kita punya misalkan produksi bisa dimanfaatkan untuk ee ke manfaat masyarakat secara luas kayak gitu kan. Terus kemudian ekosistem kita terus dibangun dan tentunya dari hasil apa yang kita dapatkan biar bisa bermanfaat mungkin bisa mendirikan sesuatu yang bisa menyalurkan kita lagi ke depan ini kan sebenarnya kita kan di dunia pendidikan ya penginlah mempunyai apa sih pendidikan misalnya pendidikan bisnis yang bisa disalurkan terkait pengalaman kita selama ini mungkin untuk jangka panjang seperti itu menular menularkan e mindset bisnis kepada orang lain meskipun itu bisnis S misalnya nya itu kalau dikelola dengan baik itu kan bisa menjadi luar biasa. Saya Anwar dan bersama istri saya yang memiliki usaha bodir komputer Tulungagung yang beralamat di Desa Mujarum Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung. Kalau teman-teman pengin bekerja sama dengan kita ini bisa menghubungi deskripsi di bawah ini. Terima kasih dan asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. sama
Resume
Categories