Transcript
g2m-G9dOC6I • Mindset Pengusaha China! Sukses Itu Bukan Hoki, Tapi Soal Mental & Konsistensi!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0631_g2m-G9dOC6I.txt
Kind: captions
Language: id
Dari awal mungkin memang istri saya itu
kepengin untuk mempunyai suatu usaha
sendiri. Jadi ketika di bantu usaha
orang tua merasa I can do something more
lah. Ya,
bagi saya istilahnya aku lebih senang
jadi orang bodoh. Karena dengan orang
bodoh saya merasa bodoh itu belajar
terus untuk bisa lebih baik lagi gitu
loh.
Mendidik itu enggak cuman memerintah.
Jadi saya mencoba untuk melakukan
pendekatannya Ki Hajar Dewantoro. Jadi
ketika di atas kita masih orang tua
ketika di atas si ndak me ngongkon tok.
Semua itu kita ada prosesnya. Proses itu
ndak gampang. Dan kalau kamu bisa
mengatasin itu ya kamu akan mendapatkan
hasil yang lebih baik. Jadi nikmatono
prosesnya. Jadi kita mendorong untuk
enggak patah semangat. Challenge-nya
seperti itu dari yang kami lakukan dan
tetap yang utama adalah selalu berserah
kepada yang kuasa. agama akan membawa
kita apakah e seorang yang beragama pun
akan membuat kita akan pasti enak.
Enggak. Tetapi paling gak kita mempunyai
iman yang menjaga hal yang baik dan
menjadi berkat bagi orang lain.
[Musik]
Perkenalkan saya Henri Gunawan. Saya
lahir di Tulungagung dan semua usahanya
di Tulungagung semua dan berusaha
menjadi putra Tulung Agung yang baik.
Ya,
nama saya Jeni Tandiono. Saya asli
Tulungagung dan untuk saat ini saya
merupakan owner dari bebek Teman Ayam,
spesialis ayam dan bebek goreng. Awalnya
saya di sini ingin memberikan hidangan
yang temanya comforting gitu loh. Jadi
kayak orang yang sudah kangen rumah gitu
ya. Nah, seperti itu lah. Terinspirasi
dari menu yang setiap hari yang hampir
ada di meja makan yaitu ayam goreng dari
mama dulu. Akhirnya itu pun juga melalui
proses yang panjang ya. Mos dari trial
dan error pun sampai akhirnya kami bisa
menemukan resep yang betul-betul pas
yang bisa disajikan di TA pusat.
[Musik]
Sementara harus ketuad dulu ya kan. Jadi
beberapa kali ditawarin kami enggak buka
cabang. Tapi kami belum berani ya untuk
karena mempunyai tanggung jawab moral
ketika kita mau membuka cabang atau
franchise atau apa kan sebisanya itu
kita mau memberikan yang terbaik lah.
Enggak cuman digeletakne tok. Oke saya
terima uangnya selesai itu milimu. Tapi
ya sebuah brand ini yang harus kita jaga
dengan standar kualitas yang harapannya
kan tetap ya. Makanya kami masih takut
terus terang. Apakah next-nya ada yang
mau mengajak kami ya meyakinkan kami
untuk yuk berkembang bareng? Mungkin
saya sih tetap terbuka sih dengan semua
opsi-opsi seperti itu
dari 2021 ya. Jadi e hampir 4 tahun
seperti itu tadi Mas. Saya ingin
menghadirkan comfort food ya. Jadi kayak
feel like home gitu. Jadi kayak
betul-betul kita tuh ya namanya rumah
kan tempat kita selalu pulang ya toh.
Nah jadi ya sesuatu yang nyaman itu tadi
yang saya yang saya sajikan. Jadi ya
diterima dengan baik oleh masyarakat
Tulungagung dan ya syukurlah kita bisa
bertahan sampai sekarang ini. Trial
error sampai PD itu kurang lebih 6 bulan
cukup lama karena mungkin dulu awalnya
saya enggak ada basic FnB ya. Maksudnya
saya bukan lulusan jurusan restoran.
Heeh. bukan lulusan chef gitu-gitu toh.
Jadi ya betul-betul dari rumah gitu loh.
Terus akhirnya kan gimana sih cara
ngolah ayam ini ungkapnya harus berapa
lama supaya bisa keluar tekstur yang
betul-betul empuk tapi bumbunya ngeresep
juga. Nah, terus untuk rasanya oh ini
kurang mungkin kurang asin, kurang
manis, kurang apa apa tumbare kurang
atau berambangnya kurang kan gitu.
terakhir error terus sampai akhirnya ya
itu sampai 6 bulan itu
sama sekali kita cuman bondo nek ya
waktu itu karena mungkin ketika COVID
kan sepi ya jadi banyak nganggurnya
mungkin istri yo ngapain yo mungkin gitu
ya dari awal mungkin memang istri saya
itu kepengin untuk mempunyai suatu usaha
sendiri jadi ketika di e bantu usaha
orang tua merasa I can do something more
lah ya jadi di situ mencoba untuk apa
sih sih yang bisa menjadi kebanggaan
atau prestasi saya. Jadi, e selama ini
memang ketika itu saya merasa, "Oh, saya
tidak pernah men-support. Selalu
ngomong, "Wes to iki aja bantunan." Tapi
di momen itu okelah ya kita coba untuk
ya wis aku support kamu lah dengan kamu
mau buka ini. Ya sudahlah kita
kerjakanlah. Modalnya dari resep mertua
buat ayam goreng tok ya kan. Udah itu
aja. kita waktu itu bukanya itu ketika
sudah ada kelonggaran ya, jadi sudah
boleh makan di tempat. Jadi ya di momen
itulah maksudnya bukan ketika ketat
sekali semua rumah makan ditutup tuh
enggak. Kita sudah ya sudah hampir
normal sih menurut saya waktu itu tapi
masih dalam situasi pandemi. Terus
strugglingnya ya waktu itu tidur ya
sampai jam 12. Jam . malam kadang kita
kirim-ngirim ya sendiri. Saya bagian
ngangkat-angkat
ngepres terus saya pun buat kopi om. Di
sini kan ada kopi om Gun. Saya ngeracik
awalnya ngeracik. Saya eduhkan sendiri,
botolin sendiri. Jadi
Oh iya itu betul. Jadi jam 11. Bukain
sini yuk dimasukkan freezer di sinilah.
Jadi kita bukain otong-otong sendiri.
Itu yang kami lakukan waktu itu. Karena
kita harus bisa melakukan sendiri
duluah. Intinya untuk sesuatu menjadi
besar itu kan kita berproses biasanya
mungkin proses itu yang yang harus
dilewatin sorosi atau apa yang kemudian
untuk menjadi lebih berkembang gitu.
Selain mampir pemodal berarti ya.
Ya, saya sangat bersyukur sekali suami
saya betul-betul mendukung. Jadi, ya
dukungannya enggak cuman 100% tapi 120%
gitu.
Wih.
Ya, jadi ya memang seperti yang Pak Gun
ceritakan tadi dari awal dari produksi
ayam siang itu buka resto kan waktu itu
awal-awal kan ramai kan karena banyak
orang pengin nyoba kan apa sih bebek
teman ayam itu gitu kan. Jadi, siang itu
buka resto, terus malam itu produksinya
malam. Jadi, dari ayam yang awalnya
produksi 10 ekor sampai sekarang sekali
produksi 100 sampai 150 gitu ya. Lah
waktu si awal-awal itu dulu ya mulai
dari bersihkan, motong itu juga saya
belajar gitu loh. Betul-betul belajar
dari awal terus sampai ya itu malam jadi
jam 12.00 malam tuh masih freezer di
rumah kan enggak ada jadi freezer di
cuman ada di BTA. Itu pun yang freezer
box yang 300 mili itu cuman satu itu
tok. Itu jadi kita bawa produksian ayam
yang masih panas-panas itu dibawa ke
sini terus disimpan di sini gitu
malam-malam dan ya berdua gitu. Selain
itu Pak Gun juga banyak dukungan moral
lah kasih semangat terus ide-ide
sama kadang suruh mijeti ya toh ya capek
kan mijeti sopir pemuda tukang pijet ya
kan.
Iya, seperti itu ya. Ide-ide promosi
apa. Soalnya saya ini basic-nya memang
orang produksi basicnya. Walaupun saya
sekolahnya marketing ya, tapi saya lebih
suka di belakang layar sebenarnya. Jadi
saya dari resep-resep itu kalau Pak Gun
kan lebih ke ini loh kamu promosio ini
loh kayak gini-gini ya gitu sih.
Jadi ini kan perempatan BTA. Nah Batik
Tulungagung itu memang kan lokasinya kan
di sini ya kan. Tapi kan nama batik
Tulungagung itu hanya dikenal ketika
saya kecil. Saya masih SD atau apa
mungkin untuk anak-anak saya paling kita
perempatan BTA mungkin enggak tahu.
Makanya saya mau menumpangin legend-nya
BTA itu kita harus tetap melestarikan
BTA tapi tak plesetkan menjadi bebek
teman ayam. Ya kan? Bagaimana saya harus
mencari singkatan BTA itu untuk tetap
legend itu apa ya? Akhirnya muncul ide
bebek teman ayam ya. Waktu itu kita
sempat kolaborasilah untuk memikirkan
apa namanya ide-ide seperti itu ya.
Waktu itu terus terang karena istri saya
itu lebih menguasain ayam, jadi kami
mengajak satu partner yang waktu itu
memang spesialis di bebek. Jadi makanya
kita namakan kolaborasi bebek teman
ayam. Dan di situ setelah seiring waktu
si bebek juga mungkin ada waktu itu
ngomong, "Kami harus pisah. Jadi di
momen sebelum pisah pun istilahnya apa
yang kami sajikan ini harus selalu dari
kemampuan kami. Jadi andaikan si bebek
harus keluar kolaborasi ini menjadi
tidak jadi satu, berarti kami harus
tetap bisa menyajikan bebek yang seperti
sebelumnya. Jadi akhirnya ya dikerjakan
si ayam ini juga bisa berubah menjadi
bebek ya kan. Jadi enggak bebek teman
ayam, tapi sekarang mungkin bebek
tenanan ayam ya toh. Duduk temenan ya
tenanan ayam paling.
Jadi tetap apa yang idenya adalah kita
harus menguasai dengan apa yang harus
yang kita bisniskan. Intinya kita harus
menjadi ahlinya. Karena banyak
petuah-petua dari orang tua, eh kamu
kalau tidak menguasain kalau kokimu
keluar kamu seperti apa? Jadi kalau di
sini kamu mau keluar besok, mau keluar
apa? Saya sudah pernah lakuin sampai jam
12.00, jam .00 malam. Enggak apa-apa
kamu keluar. Andaikan ekstremnya seperti
itu, kami kan masih mempunyai pengalaman
di bidang itu.
Prosesnya juga sama kayak ayam. Jadi
tetap ada trial dan error sampai
betul-betul menemukan resep untuk bebek
sekarang. Seperti itu
hikmah ya. Seperti yang Pak Gun
sampaikan, kita tetap harus bisa
mandiri. Berarti tetap harus bisa. Jadi
walaupun ya walaupun ada pegawa lah atau
ada teman kita tadi yang istilahnya
sudah enggak kerja sama lagi sama kita,
bisnis ini tetap harus running gitu loh.
Ya seperti itu sih.
Dan kita kan selalu ada moto always find
a way. Jadi apapun ya semuanya itu kan
proses ya kan.
Jadi tinggal bagaimana kita mau mencari
jalannya itu seperti apa ya di situ
apakah pasti berhasil? Oh tidak. tetapi
kan berproses untuk terus always find a
way ya. Awalnya ya hanya dulu kita
mencari konsep sempat pelanggan untuk
membayar dulu dengan pesanan. Terus
kadang saya selalu mencoba pendekatan
bila saya menjadi customer mana yang
paling oke, mana yang paling nyaman.
Akhirnya kita rubah ke oke bayarnya di
belakang. Lalu seiring waktu kita mulai
menyajikan memperlebar area perluasan di
samping itu karena juga oh ini butuh
revenue streaming yang lain lagi. Apa
kalau kita hanya mengandalkan orang
datang pun akan menjadi terbatas? Kita
kan harus terus mau ngembangkan mencari
omset itu apa. Lalu Bu Jeni mempunyai
ide buka catering sekarang ee ke
kantor-kantor dengan saat ini 16.000
untuk dalam kota dan menunya mulai Senin
sampai dengan Jumat itu bervariasi dan
biasanya oleh kalangan para staf
bank-bank gitu ya umumnya yang menjadi
customer BTA Corner. Jadi konsepnya
adalah makanan rumah yang kangen masakan
rumah itu ya itu konsep yang kami
berikan di sini
ya agak keponalan sih memang kan untuk
marketing. Makanya untuk beberapa saat
yang lalu itu sempat sosial media dan
sebagainya memang enggak terlalu aktif
ya seperti itu. Terus akhirnya ya saya
coba konakct pihak luar tempat kerja
sama dengan pihak ketiga untuk handle di
sisi marketing juga seperti itu. Terus
tempo hari juga sempat pakai influencer
seperti itu untuk promosi dan juga kalau
untuk supply change tetap berusaha cari
bahan-bahan yang terbaiklah seperti itu
ya. Memang enggak enggak gampang sih ya.
Sering kan ditawari ini saya coba dulu
cocok enggak baru oh cocok pakai. Kalau
enggak saya ya tetap cari lagi, ganti
seperti itu sih. Terus ikut pameran di
Jakarta ya, pameran food itu. Jadi ya
untuk menambah wawasan saya dan juga
lihat kompetitor-kompetitor sekarang kan
banyak sekali ya maksudnya anak-anak
muda sekarang kan inovatif banget gitu
loh. Jadi ya sering-sering memperkaya
dirilah maksud saya sering lihat
tetangga ada apa, terus apa yang bisa
diaplikasikan mungkin sambil
dimodifikasi sedikit ya. Mungkin lebih
kayak gitu sih. Bagi saya istilahnya aku
lebih senang jadi orang bodoh. Karena
dengan orang bodoh saya merasa bodoh itu
belajar terus untuk bisa lebih baik lagi
gitu loh. Total tim saya ada 25 orang.
Emang agak gendut sih karena ya memang
yang di resto ini ada dua siif ya.
Karena ada dua SIF jadi saya butuh orang
yang lebih banyak di sini. Dan yang
diproduksi kan ada sendiri. Jadi
totalnya tuh ada 25 termasuk admin ya
kayaknya. So far kita, puji Tuhan masih
selalu tidak merasakan itu. Jadi
bertumbuhnya itu hanya ngikutin flow-nya
aja. Kita merasa oh butuh nambah
kayaknya. Oh butuh nambah. Jadi tidak
ada suatu momentum yang der saya
langsung nambah. Jadi
iya
go with the flow lah kita ya. Saya
merasa di sini itu kan pasti kalau
sesuatu buka baru itu kan pasti akan
banyak dicoba karena orang akan terus
mencoba. Oh gimana? Jadi saya ngomong
sama istri saya, bisnis kuliner ini
kalau kita bisa bertahan 6 bulan berarti
akan seterusnya. Saya merasa seperti
itu. Karena pernah saya melihat ada satu
tempat 3 bulan wow wah 4 bulan masih
oke. Begitu masuk bulan kelima keenam
dia udah hansong ambjok. Jadi kalau saya
merasa tes kita itu di 6 bulan pertama.
Ketika oke berarti it should be fine.
Tapi ya kita kan enggak berilengah. Jadi
selalu melihat, mencari kompetitor atau
mencari benchmark. Siapa sih yang
menjadi kompetitor kami itu? Siapa? Jadi
kita tidak pernah merasa sayat,
tapi kita mencoba memposisikan saya itu
adalah sebagai selalu bukan nomor satu
gitu. Apakah itu nomor berapa terserah.
Tapi memposisikan bukan nomor satu
supaya kami selalu bisa melihat yang
nomor satu melakukan apa. Supaya kita
terus untuk keep moving ya untuk e
mencoba untuk mencari suatu inovasi lah,
challenge lah seperti itu. Karena bagi
kami nomor satu itu kan menjadi suatu
beban. Kita enggak tahu benchmark-nya
siapa, kita mau ngapain. Tapi kalau
dengan kita bukan nomor satu, kita
selalu eh bagaimana sih mau menjadi
nomor satu? Kan kita terus keep on
trying. Ya kalau ngomong yakin ya hanya
percaya wis kalao yo paling gak terukur
lah. Kan tidak sampai membuat saya
bangkrut istilnya gitu. Jadi, andaikan
ketika memulai sesuatu atau melakukan
sesuatu pun ya ee andaikan kalah pun
paling gak kita harus terukur loh. Ya
intinya andaikan ini kukut tak tutup
saya masih bisa running bisnis yang lain
ya. Karena puji Tuhan kami masih punya
bisnis yang lain. Jadi intinya ini kan
sebagai apakah ini suatu mainan? Enggak
juga. Tapi intinya kalau mainan ya sudah
enggak jalan ya. Tapi kan mainan yang
harus dibuat sukses. Intinya kan kita
mau mengembankan kita kan selalu mencari
masalah kan. Ketika saya belajar di
bisnis coaching di Surabaya itu kan
selalu entrepreneur itu kan selalu orang
yang mencari masalah ya kan. Jadi ya ini
kita selalu seperti ini ya kan. Jadi
andaikan kalah ya kita harus terukurlah.
Ee kebetulan di sini itu kan milik
mertua yang tidak terpakai. Jadi lahan
ini nganggur selama bertahun-tahun.
Jadi, oh daripada nganggur ya udah tak
pakai aja. Kami pakai kami sewa ke
mertua untuk yuk kita berdayakan lah.
Jadi kenapa kami karena bagi saya yang
menjadi tangan-tangan terberat adalah
lokasi. Tapi kami punya lokasi berarti
oh aku punya competitive advantage ini.
Jadi ya saya gunakan aja toh. Tapi kalau
saya enggak punya mungkin saya tidak
akan gambling di sini. Jadi karena ada
lokasi yang memungkinkan kami untuk
mencari masalah,
ee orang tua kami itu mirip semuanya.
Jadi saya sama Bu Jeni itu mempunyai
tradisi atau bentuk
didikan
didikan yang mirip. Jadi sejak kecil itu
kami memang harus bisa membagi waktu
antara bermain dan membantu orang tua.
Waktu senggang kami pun harus selalu ada
waktu untuk bekerja membantu orang tua.
Jadi di situ kan secara tidak langsung
mentalitas untuk bekerja itu kan ada
dorongan untuk heh ojo nganggur. Ngapain
gak enak nganggur ya. Jadi itu yang
mungkin membuat kami untuk menjadi
pencari masalah itu seperti itu. Mungkin
asal muasalnya mungkin seperti itu.
Kalau dari orang tua sih ya itu tadi ada
satu yang selalu belajarlah. Anggap
dirimu bodoh. Itu yang pertama sehingga
kamu mau belajar. Lalu jangan mudah
menyerah tidak usah bergaya hidup mewah.
Jangan beli weh istilahnya jangan beli
pujian. E stay sederhana lah
ya. Pak Gun ini sebenarnya dia hatinya
lembutlah istilahnya. Jadi dia anak
bungsu sebenarnya dia itu dekatlah sama
mamah. Ya, itu sebenarnya ya sayang
sayang saya sama orang tua. Tapi kadang
tuh enggak bisa kan ada orang yang bisa
mengungkapkan kadang ada orang yang
enggak lah. Pak Gun ini termasuk orang
yang enggak bisa mengungkapkan perasaan
sayangnya dia ke orang tua gitu loh.
Terus apalagi dulu kalau ingat-ingat
papa mama kita dulu kan masih awal-awal
merintis ya. Jadi kita masih kecil dulu
awal-awal merintis bisnis itu
betul-betul bukan dari keluarga yang
maksudnya papa mama kita bukan dari
keluarga yang mampu gitu loh. Jadi
memang betul-betul harus kerja dari
bawah seperti itu. Jadi melihat kerja
keras dari mama terutama ya kalau Pak
Gun J dia ya merasa itu sih jadi ya
enggak semua Cindo apa pasti punya uang
gitu enggak
mentalitasnya itu karena kemungkinan
mereka dulu kan perantau ya jadi kakek
nenek saya itu asli dari China jadi
datang ke sini dengan tidak mempunyai
apapun jadi kan semangat untuk harus
hidup ya orang tua saya pun juga bukan
dari langsung kaya, merintis dari minus
juga ya. Jadi mungkin kalau kita lihat
siklus ya kemungkinan orang itu ketika
datang dengan minus dia akan terus
struggling untuk naik ya. Dia akan punya
semangat untuk terus yuk keep on trying
ya nyoba nyoba nyoba nyoba nyoba
sehingga di momen seperti ini. Nah itu
kan makanya ada yang ngong generasi
pertama kan merintis generasi keduanya
meneruskan. Nah, sekarang yang ketiga
itu nanti seperti apa? Kan siklus itu
kan pasti akan segini kan. Nah, kita
apakah di saya kan akan oke tak teruskan
dengan kita masih mewarisi semangat
orang tua kan akan tahu eh biyen iki
papa mama ngini loh jangan kamu
berfoya-foya. Tetapi ketika sudah masuk
ke anak nanti mereka akan menganggap,
"Oh, papa mamaku wis enak kok engkong
ama dia enggak tahu anak kakek neneknya
itu bagaimana dulu." Nah, itu kan yang
bahaya. Jadi, privilege itu kalau tadi
statement apakah ada privilege? Oh, bisa
jadi privil itu didapat bukan karena
suatu ordal, tetapi karena suatu usaha
yang kamu berjuang yo juga dapat rezeki.
Itu aja sih. Sekarang kan memang sudah
banyak. Bahkan kami pun sudah ngomong
sekarang itu adalah sama. Semuanya pun
mempunyai kemampuan yang sama. Malah
kalau kamu tidak berusaha banyak orang
yang akan kompetisi akan sangat terbuka.
mendidik itu enggak cuman memerintah.
Jadi, saya mencoba untuk melakukan
pendekatannya Ki Hajar Dewantoro. Jadi,
ketika di atas kita masih orang tua,
ketika di atas si nak me ngongkon tok.
Misalkan, "Boy, kamu tumpakno sepeda
iku." Terus ketika enggak bisa kan
mendui ojo numpak io ngono loh. Kita kan
dari atas ngomong enggak hanya nyuruh,
tapi ketika tumpak ono kan kamu naik tok
toh. Ketika dia hanya naik enggak
digowes itu kan enggak salah sebenarnya.
Tapi kan kita maong tumpak ono iku loh
kok menang. Bukan seperti itu, tapi kan
kita harus mendampingi tumpak ono ada
pedal pancal pancal ke depan yo. Nah,
kita mendampingi. Jadi di sisi
pendekatan pertama kalau di depan kita
memberi teladan, eh saya sebagai orang
tua harus misalkan hemat. Aku enggak mau
kelihatan, "Hei, kamu papa sugih yo atau
oh papa iku yang dikenal banyak orang ya
atau apa." Tidak. Tapi kita harus bisa
menghormati. Oh, siapapun kamu harus
menghormati. Tantangannya adalah kalau
teman-temanmu orang mampu semua kamu
bisa bergaul itu umumlah. Tapi bagaimana
kamu bisa menghormati yang di bawah kamu
itu yang harus kamu bisa lakukan gitu
kan sebagai memberikan teladan ya. Yang
kedua mendampingi kan mendampingi yaitu
eh kamu naik sepeda itu naik di atas
sadel berikutnya kamu ada pedal itu
pancalan. Nah, naik e lalu pancal kita
itu terus kita bisa lepaskan itu kan
mendampingi. Lalu di belakang ketika dia
enggak perform kah, dia sedihkah kita
memberikan support dia mungkin jatuh,
"Pah, aku enggak mau naik sepeda lagi."
Ngapain gak apa-apa. Semua itu kita ada
prosesnya. Proses itu ndak gampang. Dan
kalau kamu bisa mengatasin itu ya kamu
akan mendapatkan hasil yang lebih baik.
Jadi nikmatono prosesnya. Jadi kita
mendorong untuk enggak patah semangat.
Challenge-nya seperti itu dari yang kami
lakukan. Dan tetap yang utama adalah
selalu berserah kepada yang kuasa. Ya,
agama akan membawa kita apakah ee
seorang yang beragama pun akan membuat
kita akan pasti enak. Enggak. Tetapi
paling gak kita mempunyai iman yang
menjaga ngeril istilahnya. darilnya
supaya kita iki enggak ngan ngiri tapi
ada fokus di hal yang baik dan menjadi
berkat bagi orang lain.
Memang untuk saat ini istilahnya apa?
One man show ya. Jadi hampir semuanya
memang saya yang pegang. Nah, untuk saat
ini pun seperti tadi kembali saya terus
belajarlah gimana BTA ini bisa terus
eksis dan yang pastinya berkembang
seperti itu. Untuk ke depannya pengin
buka cabang yang pasti langkah awalnya
beberapa ini saya banyak rekrut orang ya
untuk ee istilahnya membantu saya. Jadi
beberapa job-job itu saya serahkan ke
mereka biar bisa di-handle mereka.
Kemudian saya bisa ya istilahnya fokus
di pengembangan GTA ini yang berikutnya
itu kayak apa? seperti itu sih dan yang
pasti ya enggak lepas dari dari amanat
Pak Gun. Saya selalu tanya ya apa gini
saya selalu tanya pendapatnya Pak Gun
seperti itu sih ya itu langkah awal lah
ya kemarin itu ee ya makane kalau bisa
tuh jangan tutup gitu loh 365 hari ini
kita bisa buka terus seperti itu ya
makanya teman-teman ini ya syukurlah
mereka bisa bekerja sama dengan baik
kalau cabang paling kita enggak mikirin
ya karena kami selalu ya go with the
flow lah kalau ada peluang ya kita
pengin di mana kita enggak mau terlalu
ambisius yang seperti apalah pokoke yo
yakin dengan rezeki pasti ada yang
ngatur lah. Jadi intinya bagaimana kita
tetap bisa menjadi berkat lah untuk
semuanya
ya. Buat ee teman-teman semua bisnis
enggak segampang membalik telapak
tangan. Pasti ada up-nya, pasti ada
down-nya. Tapi yang penting kita harus
konsisten dengan apa yang kita kerjakan.
terus punya semangat untuk terus
belajar, tidak gampang menyerah, enggak
gampang putus asa, dan terus belajar
gimana caranya supaya bisa jadi lebih
baik.
Kalau dari saya, kita wajib untuk
menguasai hal-hal yang akan kita mau
kerjakan dan jangan terlalu
overthinking. Go with the flow. Lakukan
yang terbaik. Kalau ada kendala ya
jangan pernah menyerah. Dan terutama
selalu minta perkenanan Tuhan. Bawa
Tuhan dalam setiap langkahmu karena ya
Dia yang akan memberikan kekuatan. Tapi
ya itu tadi tetap kita berjuang jangan
pernah menyerah. Karena kalau menyerah
ya Tuhan enggak iso opo. Kalau kita
enggak mau melangkah doa jengkingo yo
sampai salat to 7 kali 10 kali sehari
pun tidak akan terjadi. Tapi kan
lakukan. Apakah yang kamu lakukan besok
itu lebih bagus? Oh, belum tentu. Tetapi
kan yo kita selalu membawa harapannya
kan semuanya tetap menjadi baik. Always
find a way. Selalu itu.
Saya Henri Gunawan beserta istri saya.
Bila sewaktu-waktu ingin mampir di BTA
Corner, Bebek Teman Ayam dan kita mau
ngobrol-ngobrol, silakan mampir di bebek
Teman Ayam Pangerlima Sudirman nomor 83
Tulungagung. Kami selalu hadir untuk
Anda.
[Musik]