Sukses Ternak Sapi Dari 5 Ekor Jadi Ratusan Ekor Tanpa Ngarit! Produksi 1.200 Liter Susu per Hari
VOvga4PvE7E • 2025-10-29
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Dibilang nekat sih memang agak nekat,
tapi bagi saya kita kalau
katanya-katanya kan enggak tahu sendiri.
Jadi orang itu Mas kalau sudah berani
berbuat akhirnya otak ini secara naluria
ini mikir gimana caranya ini bisa
bertahan.
Kalau menurut saya di tempat udara
panas, menurut saya itu wajib. Jadi
tempat kita ini kan panas. Kalau enggak
kita close, bagi saya mending enggak
usah pelihara sapi perah daripada nanti
kita di situ malah terbantai dengan
angka kematian sapi. Jadi balik modalnya
belum cuma nambah populasi sapinya yang
lumayan banyak. Jadi keuntangannya nanti
jangka panjang kita. tadi berangkatnya
misalkan di angka 80 ekor, sekarang
tiba-tiba sudah jadi 125 ekor ya 40
ekornya itu yang jadi keuntungan nanti
pada waktu besar kita jual.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan dulu nama saya
Andri. Nama usaha ini sementara saya
pakai Avender Farm untuk sekedar
identitas biar namanya biar ada namanya
untuk dipanggil. Eender Farm lokasinya
di daerah Mojokerto tepatnya Gondang,
Kecamatan Mojokerto, Jawa Timur. Saya
mulai
sekitar
2021 kalau enggak 2022. Covid kan kita
banyak di rumah, Mas. Jadi ee enggak
tahu kok tiba-tiba timbul apa yang
dikerjakan yang aman.
Jadi awalnya kan hiburan aja. E kita kan
keluarnya juga terbatas akhirnya ya
udahlah ke kandang aja aman enggak ke
mall kayak kayak gitu. Akhirnya kita
beli beli beberapa ekor tapi waktu itu
kita coba sapi pengemukan. Cuma setelah
ada teman yang ngasih tahu coba sapi
perah barangkali cocok. Nah, akhirnya
kita coba dari perbandingan antara sapi
penggemukan sama sapi perah. Akhirnya
kita ambil keputusan, ya udah kita coba
perah. Jadi, waktu itu dua-duanya sama
jalan. Dalam evaluasi ternyata yang
menguntungkan malah sapi perah. Jadi
hiburan dapat, income juga dapat.
Dua-duanya akhirnya jalan. Ya bukan
mahal murah karena hobi saya kan
menghasilkan uang. Kalau dulu hobi saya
mahal karena main mobil, motor. Nah, itu
yang mahal. Mobil keluar dari dealer
enggak pernah ada yang ngutuh, Mas.
Kalau saya pegang itu selalu enggak ada
kepuasan. Jadi saya uprek. Ngupreknya
mobil itu enggak enggak sedikit biayanya
sampai ratusan juta. Itu sayang sekali
gitu loh. Akhirnya coba kita alihkan ke
hobi yang lain. Makanya ya inilah
akhirnya ketemu di sapi nih. Hiburan
dapat, uang dapat akhirnya kan ya enak.
Akhirnya hobi kan murah. Hobi enggak
ngeluarkan uang tapi menghasilkan uang.
itu kayaknya nanti banyak yang mungkin
akan meniru cara kita nanti. Hobi tapi
enggak ngeluarkan uang begitu, Mas. Dulu
sih saya pernah domba nyoba sekitar 15
ekor. Sapinya juga jalan. Jadi sebagian
lahan saya pakai domba, sebagian lahan
saya pakai sapi. Saya evaluasi domba 15
ekor dalam waktu persis 1 tahun. Itu
jumlahnya tetap 15 tapi malah
kecil-kecil. Jadi indukan mati, anaknya
yang hidup. Ee anaknya mati indukannya
yang hidup. Terus kayak gitu secara
profit enggak ada sama sekali. Malah
kita cenderung minus. N itu yang hobi
mahal akhirnya. Akhirnya saya sekalian
ya udah salah satu biar kita fokus kan
memang domba kan waktu itu coba-coba
anak kandang memang cenderung fokusnya
ke sapi gitu ceritanya. Akhirnya ya udah
sapinya yang kita teruskan sampai
sekarang ini sapi yang malah saya
evaluasi.
ee agak sedikit menguntungkan.
Kadang-kadang juga banyak menguntungkan
tergantung apa ya mungkin faktor rezeki
dan lain sebagainya saya enggak tahu.
Tapi yang namanya usaha ya seperti itu.
Ee sebelumnya potong sebelumnya
rata-rata limusin tapi limusin dipotong.
Kita pernah sampai punya 50 ekor waktu
itu. Kebetulan e yang menjadi masalah
itu pasar kita. Eh kita kan orientasinya
ke jualan ke ini, Mas. Hari raya kurban.
bukan kejagal. Nah, dari sekian banyak
sapi pasar kita yang masih belum tahu
ini caranya habis gimana. Jadi, setiap
lebaran haji atau besaran itu lakunya
paling sekitar 30% gak lebih dari itu.
Jadi, akhirnya nunda lagi jualnya tahun
depan. Akhirnya kan kosnya semakin lama
semakin membengkak gak tepat waktu.
Alasannya di situ.
Awal-awal
cuma lima ekor saya. 5 ekor saya beli
sapi betina. Kan di sini dulu kan ada
apa ini tempat yang belum ada bangunan
sama sekali yang timbul rumput-rumput.
Rencananya saya kasih sapi 5 ekor tanpa
dipelihara dilepas liar gitu aja awalnya
gitu. Tapi ternyata sapi begitu saya
liarkan ini gak mau makan. Ternyata gak
mau makan. Jadi akhirnya mau enggak mau
ya kita benar-benar tanganin. Kita kasih
makan ambil anak kandang. Waktu itu kan
cuma sekedar kita liarkan gitu aja tanpa
anak kandang. Akhirnya kita ambil dari
lemak ekor akhirnya wah anak kandangnya
kok ya sayang gitu loh. Akhirnya kita
tambah sapi jantan. Setelah sapi jantan
ya itu tadi alasannya kelemahan kita
waktu di pemasarannya kurang kurang luas
channel kita. Jadi, penghabiskan stok
itu selalu enggak bisa karena pasar di
daerah kita apa karena yang saya memang
kurang paham pasar nilai jualnya itu
ndak ndak cocok sama yang diinginkan
konsumen-konsumen sekitar daerah kita
itu. Jadi, yang dicari orang-orang itu
ee harga sekitar 20 sampai 23. Sementara
yang kita punya harga 30 sampai Rp100
juta akhirnya enggak ketemu. Nah,
tiba-tiba ada teman nyaranin coba perah.
Akhirnya kita coba perah sampai sekarang
ini dominan perannya gitu. Dibilang
nekad sih memang agak nekad tapi bagi
saya kita kalau katanya-katanya kan
enggak tahu sendiri. Jadi orang itu Mas
kalau sudah berani berbuat akhirnya otak
ini secara naluria ini mikir gimana
caranya ini bisa bertahan. Jadi kita
pikir sambil jalan ndak ndak angen-angen
kita mikir diam gak akhirnya gak berani.
Begitu kita jalan masalah timbul. Nah
itulah otak kita yang akan kita gunakan.
Sejauh mana kita bisa memikir, sejauh
mana kita bisa meminit, sejauh mana kita
bisa bertahan dengan kondisi yang kita
alami, masalah yang kita alami. Ya,
alhamdulillah kita dikasih pikiran untuk
memikir. Akhirnya sampai hari ini
anggaplah 80% kita sudah bisa menangani
secara keseluruhan. Baik tentang
kesehatan maupun kelahiran ataupun
pendapatan susunya sesuai dengan target
kita. Malah lebih dari harapan kita
malah lebih.
Kalau sapi perak kan gampang, Mas, kita
ngitungnya tiap hari. Jadi begitu ada
kerugian itu segera ketahuan. Katakan 1
hari target kita susu 18 lit. Kita tahu
sapi ini satu harinya 18 L atau secara
keseluruhan? Selaku keseruan kita 1 hari
dapat 1000 liter misalkan besok turun
jadi 950 atau 900. Kita tahu penyebabnya
segera kita cari. Nah, kalau di sapi
penggemukan saya evaluasinya kan tiap 2
minggu sekali. Di saat 2 minggu ini kita
enggak tahu trennya dia naik apa turun.
Begitu kita timbang 2 minggu sekali
tiba-tiba bobotnya ini turun. Nah, itu
yang masalah besarnya di situ. Tahunya
setelah 2 minggu. Padahal katakan kalau
satu sapi 1 bulan sapi besar-besar itu
uang makannya, Mas ya, itu Rp50.000 per
hari sama anak kandang dan lain-lain. Ee
Rp50.000* 50 ekor ya waktu itu ya.
Berarti kan Rp25uta dikali 14 hari.
Ruginya tahunya setelah 2 minggu berarti
R25uta * 14 hari sekitar R0 juta atau R5
juta baru ketahuan. Beda Swiipera. Kalau
serah tiap hari langsung kelihatan dan
secepatnya besok udah pasti ketahuan, oh
ternyata ini penyebabnya. Anak kandang
kadang kasih makannya kurang dari berat
yang kita anjurkan, baik rumput maupun
konsentrat. Akhirnya segera kita penuhi.
Lusanya lagi sudah balik normal sapinya
itu. Kalaupun masih turun berarti ada
sapi yang sakit yang anak kandang enggak
tahu. Kita cek setelah keseluruhan. Nah,
ternyata ketemu langsung. Jadi enggak
butuh waktu lama untuk mencari susu yang
sempat turun dalam waktu 3 hari akhirnya
segera ketemu. Jadi pendapatan susu kan
kita diambil setiap sore jadi langsung
ketahuan susu turun apa dak.
Untuk totalnya
ekor kalau enggak salah ya totalnya.
Cuma yang sementara di pera itu ada
sekitar 70 ekor. Jadi sisanya itu
macam-macam. Ada yang pedet, ada yang
darah bunting, ada yang posisi
dikeringkan kayak kayak gitu. 70 ekor
kurang lebih total 1.200
1200 lit per hari. Harga susu kita
sementarakan diambil pengepul, Mas. Jadi
kita masih belum ke IPS sendiri karena
kuotanya masih belum target, belum satu
tangki. Akhirnya diambil pengepul dulu
ee diambil R.700 gitu kurang lebih R
jutaan 1 hari.
Saya sempat merasakan transisi. Jadi di
tempat kita ini kan udaranya panas cuma
di ketinggian 100 mdpl. Pertama saya
pakai kandang biasa konvensional. Jadi
masalahnya ternyata banyak. Jadi intinya
sapi pera itu enggak mau tinggal di
daerah panas. Akhirnya beberapa sapi
tumbang sakit tumbang sakit. Nah,
akhirnya kita coba sesuai
habitatnya. Katanya Sipera itu butuh
udara dingin. Makanya kita pakai close
hose. Dari kandang konvensional ke close
hos ini saya rasakan banyak perubahan
dan manfaatnya. Yang pertama susu ada
peningkatan satu ekor kurang lebih 2
sampai 3 liter mungkin bisa lebih. Terus
keuntungan lainnya yang biasanya tenaga
medis waktu panas itu musim
panas-panasnya itu hampir tiap hari itu
datang ke sini sili berganti sapi yang
butuh penanganan medis karena sakit.
Begitu dengan close sesuai dengan
karakter sapinya. Alhamdulillah sekarang
cenderung aman. Jadi angka pengeluaran
untuk medis sekarang jauh berkurang tiap
bulannya. Close jos itu kita dulu itu
gimana ya, kita sedikit lihat ke ayam
potong. Jadi ayam potong itu kan banyak
yang closes. Kurang lebihnya ya seperti
itu kita pakai blower. Blower ini kan
cara kerjanya untuk menyedot amonia.
Selain menyedot amonia di ujung sana
kita kasih cell deck atau calling pad.
itu yang kita salurin air. Jadi selain
nyedot amonia, blower ini nyedot air
yang tadi semacam pengkabutan. Jadi cara
kerjanya seperti AC. Akhirnya di dalam
dingin sesuai dengan harapan sapinya
mungkin kalau dia bisa ngomong. Jadi
kita setel di angka 25 derajat di waktu
siang. Tapi kalau malam bisa sampai 23
atau 22. Nah, itu kita pasang otomatis
begitu di 22 derajat. Salah satu blower
itu mati dengan sendirinya. Jadi bisa
stabil diangka dua-dua maksimal paling
dingin. Ini ilmunya dari mana ya? Ya
karena banyak teman mungkin dari YouTube
teman akhirnya ya kita praktikkan tanpa
melihat kurang lebihnya apa. Ya,
pokoknya kita begitu yakin bahwa
hasilnya akan seperti ini. Ya udah
langsung kita coba sambil jarang
belajarnya. Enggak perlu belajarnya
terlalu lama. Jadi belajar sebentar
langsung jalan. Nah, di situnya masalah
muncul bisa cepat-cepat tertangkap.
Kalau enggak masalah muncul kan kita
enggak akan tahu kelebihan dan
kekurangannya di mana. Kalau hanya kata
orang kan kadang orang enggak mesti
ceritanya bisa dilebih-lebihkan, bisa
dikurang-kurangin. Kalau kita tahu
sendiri kan baru kita yakin, "Oh,
ternyata gini ya. Coba gini akhirnya
ya." Alhamdulillah sekarang sudah sesuai
dengan harapan kita. Sapi-sapi pada
nyaman semua sekarang.
persisnya sih saya saya enggak ngitung
persisnya cuma beli beli gitu aja tenaga
kita juga harian tapi waktu itu saya
pernah ditawarin teman untuk kapasitas
20 ekor kalau enggak salah sekitar Rp40
juta itu sudah all in. Jadi kita hanya
nyiapin tempat, tempat dan bangunan ya.
selebihnya yang berkaitan dengan terpal,
calling pad, blower itu pemborong semua
yang nanganin. Tapi saya kan ndak senang
dari sistem kayak gitu. Akhirnya kita
cari orang yang bisa yang nantinya
jadinya sesuai dengan keinginan kita.
Jadi kita maunya kuat, tahan lama,
enggak pakai dirubah lagi, bisa jadi
seterusnya.
Kalau 100 ekor kurang lebih ya 200-an
mungkin. 200an
kurang lebih segitu. Custom? Iya,
custom. Jadi enggak ada standar dari
tempat sapi. Enggak ada. Kita banyak
ininya malah dari ayam potong. Cuma kita
custom sesuai peruntukan. Balik modalnya
ya ini balik modal di aset sapi mungkin.
Sapinya kan terus berkembang sapinya.
Jadi anakannya ini enggak pernah saya
jual, Mas. Jarang. Kecuali tempat
kandang saya penuh baru saya jual
sebagian. Jadi selama kandang cukup
anak-anak sapi ini akan saya besarkan
semua. Kalau yang betina saya pakai
regenerasi. Kalau yang jantan kita
besarkan sekalian. Nanti kira-kira berat
500 atau pas hari besaran ya, hari raya
apa itu kurban kita lepas biasanya kalau
ada yang minat. Jadi balik modalnya
belum cuma nambah populasi sapinya yang
lumayan banyak. Jadi keuntangannya nanti
jangka panjang kita. tadi berangkatnya
misalkan di angka 80 ekor, sekarang
tiba-tiba sudah jadi 125 ekor ya 40
ekornya itu yang jadi keuntungan nanti
pada waktu besar kita jual.
Itu yang saya rasakan memang benar-benar
enggak bisa ditinggal.
Akhirnya hobi yang lain malah saya
tinggalkan. Jadi sekarang antara hobi
dan kebutuhan enggak tahu ini yang
mananya benar. Soalnya kadang anak
kandang kita kasih SOP masih belum bisa
menjalankan 100%.
Jadi minimal kita setiap hari itu ada
kontrol. Enggak tahu setengah jam atau 1
jam atau 2 jam itu mesti ada kontrol.
Yang paling kita kontrol sapi ini kalau
bisa jangan sakit keberlanjutan. Jadi
begitu ada gejala langsung kita
tanganin. Gampang kok, Mas.
Itu cara paling sederhana pakan yang
biasanya habis. dia enggak akan habis.
Hari pertama mungkin sisa 25%, hari
kedua mungkin sisa 50. Ya udah positif
itu. Itu sapi akan sakit. Kalau kita
tanganin saat itu juga insyaallah 2 3
hari dia akan normal lagi. Begitu. Saya
selama ini sih pakai SMG S20. Saya semua
pakai itu tanpa ada campuran apapun.
kecuali mineral saya tambahkan untuk
ketahanan kaki-kaki. Selain itu rumput
kita kasih tebon jagung yang matal. Jadi
tebon jagung matal itu tebon sama
jagungnya kita giling jagungnya sekalian
yang tongkolnya itu kita giling. Jadi
jagung matal itu di usia kira-kira 85
hari sampai 90 hari. Itu kita coper,
kita khaskan sapi. Dari situ juga
susunya lumayan bagus. Rasanya juga beda
katanya sama pakan-pakan yang biasa odot
atau Pak Cong atau rumput lapangan kayak
gitu. Beda rasa susunya beda. Katanya
sih banyak yang peminat susu ya itu
lebih gurih rasanya lebih lemaknya lebih
dapat katanya. Jadi masuk di speknya.
Speknya Sus itu kan ada dari PS kita
dituntut biasanya TS-nya kan harus
bagus, harus tinggi total solid-nya itu
sama TPC sama apa. Nah, kita ini selalu
berada di atas 12,8,
12,9 bahkan hampir hampir 13an setiap
ditas itu. Jadi agen-agen yang mengambil
atau pengepul kalau ambil di sini itu
senang. kualitas kita lumayan bagus
daripada pakan-pakan yang biasa.
Jadi kalau sapi kita afkir ya larinya
memang ke pemotongan, ke jagal kita
jual.
Ee gak mesti. Terkadang itu kalau ini
kan kebetulan saya juga baru 3 4 tahun
ya ee 3 tahun 4 tahun sudah ada yang
jual. Kalau dari pro itu kan yang
diharapkan kan kebuntingan, Mas. Jadi
setelah laktasi 1 itu menurut e teori
kita kalau bisa 6 bulan setelah
melahirkan pertama itu harus bisa
bunting lagi. Ee toleransi mungkin
sampai 1 tahun itu harus bunting. Nah,
kalau lebih dari 1 tahun sapine enggak
bunting, kita akan evaluasi susunya
kira-kira turunnya sampai berapa, terus
kegebungannya mereka sampai berapa. Nah,
di situ kita hitung kalau susunya dalam
waktu 1 tahun kira-kira masih 15 L itu
akan masih kita tahan. Nah, kalau sudah
di bawa 10 akhirnya kan costnya enggak
nututin sama biaya pakannya. Akhirnya
kalau sapinya sudah gemuk, kita jual
dengan harga yang cukup tinggi. Akhirnya
kita lepas, kita ganti bibitan yang baru
biar enggak enggak berdampak panjang,
enggak enggak terlalu membebani ke
produksi sapi yang lain. Rata-ratanya
stresnya selain anak kandang,
kadang-kadang sapi pas mau lahiran. Jadi
saya itu kasihan sama anak-anak kerjanya
kan pagi jam .00 harus bangun. Sementara
mereka itu tidurnya juga malam-malam.
Akhirnya pada waktu sapi mau melahirkan
ini cenderung saya tanginin sendiri.
Saya pantau lewat CCTV. Jadi saya tiap
malam kalau ada sapi mau lahir itu
sering melekan. Kadang stresnya ya pas
capek mau tidur enggak bisa karena ada
sapi yang mau melahirkan. Soalnya kalau
sampai enggak ketolongan resikonya
besar, Mas. Sapi mau melahirkan enggak
sampai ketolongan. Rata-rata sapi perah
itu lahirnya harus ditarik. Enggak
enggak bisa lahir secara alami setelah
normal gitu. Jadi saya pantau sendiri
malam. Kalau memang benar-benar sapi ini
positif sudah melahirkan, kelihatan
kakinya, anak-anak saya telepon, "Ini
sapinya melahirkan, mereka tinggal
nolongin." Senangnya ya apa ya? Dapat
hiburan. Pas habis melahirkan itu kan
ada pedet kecil-kecil itu kadang apa ini
yang bisa lahirnya bagus. Kita kasih
bibitan yang Belgian Blue yang sekarang
jadi incaran orang-orang itu. Ya, itu
aja senangnya. Sama tiap hari dapat uang
tentunya yang paling senang. Jadi tiap
hari sumbernya kelihatan. Oh, satu hari
dapat sekian, oh hari ini dapat sekian.
Ya udah itu aja nikmatnya.
Secara keseluruhan. Kalau pakan sih
untuk sentrat rata-rata sehari saya
kasih 10 kilo. Kalau sentrat 10 kilo
sekarang di angka 4.150
tinggal ngalikan aja. Terus untuk jagung
matal kita beli Rp800 sampai Rp1.000 per
kilo. Rata-rata sapi habisnya tiap hari
38 kilo. Tinggal dikalikan itu aja.
Kurang lebih kalau prapuktif Rp75.000
sampai Rp85.000 per sapi Rp75.000 sampai
Rp80.000 per hari. Kalau keluarnya 17
kan berarti tambah Rp50.000 ya. Ada
keuntungan satu ekor 1 hari Rp30.000
sampai Rp50.000 lah satu ekornya. Plus
untung pedetan nanti kalau besar
dijualnya lumayan mahal. Sederhana yang
repot itu kan yang tukangnya bukan kita.
Kita ada uang ya udah tinggal bayar aja.
Ngapain repot Pak? Mentanya seperti ini.
Nanti di waktu pengerjaan ada yang
kurang cocok. Udah, Pak. Kayak gini aja,
Pak. Sesuai selara kita. Itu aja.
Repotnya di mana coba? Repotnya yang
cari uangnya tadi yang repot. Kalau
sudah ada, ya berarti enggak repot.
Total enam orang. Harusnya tujuh. Yang
satu ini baru resain. Akhirnya tinggal
enam orang. Tiga orang kita khususkan
untuk merah. Yang tiga orang untuk kasih
sentrat, kasih rumput, kasih
bersih-bersih kandang. Itu aja. Karena
kan di tempat kita enggak tanpa ngarit.
Jadi tebonnya kita kadang kita beli
kadang dari sawah sendiri tapi orangnya
beda. Bukan anak kandang yang ngerjain.
Beda orang. Sebelum di sapi ini saya
kerja ini pakai angkutan. Angkutan truk.
Jadi apa ya? Ya, pemilik. Pemiliknya
saya sebelumnya itu saya jadi salesnya
sebelumnya itu Bapak saya dulu petani
atau pengusaha tebu ya waktu itu ya.
Tapi saya sempat menyimpang. Jadi saya
kerja pertama itu begitu saya lulus
sekolah, saya kerja jadi sales. Ya kan
orang tua di pertanian saya kan jadi
sales. Berarti kan enggak nerusin usaha
gitu loh. Setelah kuliah dulu itu
sekolah di Gondang sini juga kan 2 tahun
kelas 1 sampai kelas 2 akhirnya enggak
naik ee terus pindah ke kampung halaman
di daerah Krian sana. Kir saya pindah.
Nah, setelah itu maksa kuliah ya.
Akhirnya sampai lulus meskipun dengan
keterpaksaan. Saya ambil ekonomi di UPN
Veteran Surabaya. Terlalu sempit
lapangan pekerjaan. Jadi waktu itu
setelah lulus saya enggak bisa nyari
kerja. Akhirnya kerja seadanya. Waktu
itu sales-nya apa ya? Kerja di tempo
jualan
ee kayak Mitton Bodre ke pasar-pasar
gitu, Mas. Dulu pertama awal-awal menit
karir itu ke pasar. Habis itu saya coba
kerja 9 bulan. Akhirnya saya resign
pengin cari tantangan baru karena kan
masih bujang. Pindahlah saya ke
Indomobil ke dealer truk tepatnya Hino.
Saya pindah ke situ jualan truk sampai
13 tahunan mungkin. Jadi saya jadi sales
9 bulan plus 13 tahun kurang lebih 14 14
tahun ya. Tapi di waktu saya jadi sales,
e mungkin karena daara wirausaha dari
keluarga ada saya gak puas cuma selesai
enggak puas. Jadi istilahnya orang
menyelam sambah minum minum air. Selain
nyeles saya sudah punya sampingan. Saya
beli truk jelek-jelek gitu untuk kerja.
Yang penting bisa kerja aja yang penting
untuk melatih mental. Nah, dari situ
ternyata yang justru larinya kencang
malah yang wirausaha saya. Nah, di saat
dua-duanya ini kencang, saya bingung
juga waktu itu. Sehingga saya harus
milih salah satu antara berkarir di
wilasta atau jadi selamanya jadi sales.
Karena waktu jadi sales itu saya paling
susah naik jabatan dan memang gak mau.
Gak mau orangnya ini kan susah diatur,
Mas. Paling susah diatur. Saya paling
susah diatur tapi sales itu kan yang
penting kita ini target targetnya
tercapai atau malah berlebihan. Nah,
itulah tujuan utama saya.
Jadi, kita sebagian kita makan, sebagian
kita buat nambahin modal terus. Akhirnya
di saat bersamaan dua-duanya ini
berjalan pesat sehingga saya harus
memilih mana yang harus saya tekuni.
Kalau dua-duanya saya enggak mampu
karena terlalu banyak yang dikerjakan.
Akhirnya milih wiraswasta. Jadi dulunya
saya jadi sales jual mobil, sekarang
saya bisa beli mobilnya sendiri. saya
beli sendiri akhirnya. Dan itu waktu
jadi sales juga sudah beli mobil. Jadi
jualnya enggak enggak ke orang lain,
jual ke diri sendiri, saya pakai
sendiri. Nah, akhirnya ya ini sampai ke
dunia sapi ceritanya kayak gitu.
Coba-coba asalnya berhasil.
Alhamdulillah. Jadi menurut saya
untungnya closes ini sapi cenderung
aman, cenderung nyaman. Jadi maunya sapi
ini kan menghindari stres, Mas. terutama
karena masalah cuaca itu yang
menyebabkan sapi ini gampang sekali
terserang penyakit karena stres. Habis
dingin panas, habis dingin panas. Itu
sering sapi tumbang. Nah, dengan adanya
kelosos ini sapi cenderung dapat suhu
yang stabil tanpa ada perubahan. Habis
dari panas ke dingin, tapi di posisi
kandang ini posisinya tap stabil, dingin
terus. Nah, mungkin berat di biaya awal
mungkin. Tapi kalau memang sapi mau
dijadikan alat bisnis, ya kalau saya
mending sekalian modal besar, tapi usaha
ini tetap berjalan dengan lancar. Bagi
saya begitu. E ya kembali lagi ke rezeki
ya. Kalau kita secara teori sih
untungnya lumayan. Cuma terkadang kalau
kontrol kita kurang atau ABK kita yang
kurang kontrol, ruginya hanya di sapi
sampai jual jual paksa. Jadi sapi sakit,
sulit disembuhkan mau gak mau akhirnya
kita jual dengan rugi 50%. Itu aja
resikonya. Yang lain gak ada yang lain.
Kalau bisa mengatasi angka jual paksa
udah 100% orang masih tertarik dengan
sawi perah.
Kalau menurut saya di tempat udara panas
menurut saya itu wajib. Jadi tempat kita
ini kan panas. Kalau enggak kita close,
bagi saya mending enggak usah pelihara
sapi perah daripada nanti kita di situ
malah terbantai dengan angka kematian
sapi. Kalau udara dingin mungkin close
enggak wajib ya. Kalau di tempat kita
ini suhunya di atas 30 derajat itu
menurut saya wajib. Kalau memang mau
eksis di dunia sapi pera ya. Kalau di
daerah yang diingin mungkin ndak ndak
harus. Intinya sapi ini kan harus
nyaman, gak boleh stres. Kalau stres itu
sapi beres sama orang. Kalau orang kan
bisa dibuat pelampiasan ke mana, sapi
kan enggak bisa. Sabi, monggo. Yang
penting
kita sesama berternak kan harus saling
berbagi ilmu. Jadi apa kelebihan dan
kekurangan close mungkin bisa dilihat
secara fisik, jangan hanya cerita. Jadi
kalau ada teman-teman yang mau datang,
monggo kita sharing-sharing,
kita bagi ilmu. Kita sendiri kan juga
baru belajar, Mas. belum bisa dikatakan
senior, baru 34 tahun masih banyak
belajar dari teman-teman kita juga. Saya
Andri dari Avender Farm yang bertempat
di Desa Telase, Kecamatan Gonang,
Kabupaten Mojokerto mengucapkan terima
kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:43 UTC
Categories
Manage