Kind: captions Language: id [musik] Bisa dikatakan per bulan gaji karyawan sama gaji saya tinggian gaji karyawan [tertawa] tekad saya bulat. Karena ketika saya wisuda ijazah saya langsung kasihkan ke mama saya ini ijazah tolong dipegang tolong disimpan karena saya merasa saya enggak akan menggunakan ijazah ini untuk daftar ke manaun. Oke [musik] ijazah saya terima. kamu tidak mau bekerja di perusahaan atau di kantor atau di manapun yang harus menggunakan ijazah untuk mendaftarnya, ya sudah saya support. [musik] Kebetulan salah satu owner kita yang sedikit senior kasih pecutan ke kita lah. Kalau kita pengusaha kita berhenti di sini ya kita enggak bisa memperbesar perusahaan kita di situ turning point-nya. Akhirnya tercutalah di Bal Garden. Yang pasti nomor satu ya karyawan saya dahulukan. [musik] Karyawan harus mampu dulu, karyawan harus terbayar dulu hak-haknya karena mohon maaf saya anti kalau untuk tidak menggaji mereka. tidak menggaji mereka dalam artian sesuai apa yang sudah mereka kerjakan, apapun yang terjadi. [musik] Mungkin saya sedikit titip pesanlah untuk anak-anak muda sekarang, terutama yang di umuran saya atau yang di bawah saya [musik] yang bisa membentuk kalian itu attitude. Yang pertama, tanpa attitude siapapun orangnya tidak akan bisa jadi apa-apa. Jadi, terutama jadi anak muda jangan takutlah untuk jadi pengusaha. Enggak usah takut. Enggak usah takut untuk jadi pengusaha. [musik] Jadi pengusaha itu [musik] perkenalkan saya Grac Arman Rivaldo. Saya salah satu owner Tibal Grup Indonesia atau yang sekarang berada di Tibal Garden 24/7 bisa dikatakan saya berada di Tibal Grup Indonesia ini. Saya memang yang fokus pada SDM misalnya karyawan karena kebetulan memang saya lulusan sarjana administrasi bisnis tapi yang fokusnya ke SDM. Jadi saya lebih sebenarnya sebagai owner di sini sebagai owner yang aktif aktif langsung ke karyawan. Tibal Group Indonesia ini ada tiga ownernya. Yang satu fokusnya ke keuangan dan yang satu sebagai investor pasif. Jadi dia lebih fokusnya ke peaching kalau misal ada kerja sama di luar tibal atau kerja sama-kerja sama dengan partner-partner bisnis yang di luar. Salah satu ownnya itu beliau. Tibal Garden ini berdiri tahun 2023. Kebetulan cabang kedua dari Tibal Grup Indonesia. Nah, cabang pertama kita itu ada di tahun 2020. Terus berlanjut bukan buka cabang lagi ya, kita tempatnya pindah. Pindah dari tempat yang lama ke tempat yang baru yang tibal kofe yang sekarang ini di zaman Sultan Agung itu 2021. Tanpa sengaja saya bersama dua owner tibal yang lainnya itu lagi jalan-jalan sore di salah satu tanah ownernya Tibal ini di seberang Tibal Garden ini tanahnya benar-benar di seberang sawah lah. Kita cuman lagi iseng aja. Maksudnya ada tanah yang nganggur mau diapain? Saya tertariklah. Misalnya kalau di sini karena ya kebetulan Jalan Tibal Garden ini kalau di Kota Blitar bisa dikatakan ini pinggir lah ya pinggir terus jalannya kecil bukan di pusat kota. Terus saya kepikirannya apa mau bikin FnB lagi cabangnya Tibal. Terus kita sempat survei tanahnya yang di depan Tibal Garden sekarang ini. Terus salah satu teman saya jalan nyebrang ke sini. Kebetulan waktu itu sore lahan Tibal Garden ini itu bekas sawah, Mas. Tapi enggak ada tanamannya sama sekali. Jadi luas gitu. Terus teman saya nyebrang view-nya kok bagus. Ada sunset, ada kereta lewat. Pas itu momennya jam .00 sore atau .30 sore. Coba kalau misal lahan ini untuk kafe menarik enggak? Saya mulainya dari situ dulu, habis itu stop. Sudah. Maksudnya enggak ada keberlanjutan nih tentang bikin cabang. Terus selang 1 bulan saya mulai kepikiran lagi sama tempat ini. Maksudnya oh tempatnya bagus, menarik, terus sedikit jauh dari hirup pikuk kota lah maksud saya. Kebetulan dua orang owner yang ada di Tibal ini juga tertarik gimana kalau kita buka cabang. Nah, mulainya dari situ tiba garden ini kebetulan yang punya itu teman sekolah orang tua saya. Makanya saya bilang semesta yang mendukung. Kebetulan itu saya tanya ternyata sebelumnya ini untuk sawah karena sawahnya sudah tidak digunakan lagi, kontraknya tidak berlanjut. Saya tawarilah gimana kalau tempat ini saya pakai untuk kafe. Jadi lahannya bukan lahan produktif lagi. Kebetulan beliaunya yang punya tanah ini ACC. Nah, mulai ini kita belum ada gambaran, Mas. Sebenarnya saya bikin konsep seperti liben ini kita belum ada gambaran sama sekali ya. Pokoknya kita sewa tempatnya aja dulu. Saya tertariknya ini karena view-nya, karena lokasinya. Ya udah, gimana kalau kita bikin konsep odor utamanya gitu dulu sih. Terus saya ada nyeletuk usul kan di Blitar belum ada nih yang punya konsep yang lebih arahnya ke Eropa-Europaan. Oh, sor sori sor bukan Eropa, Amerika. Kan kebanyakan klasiknya klasik Eropa nih. Kayak bangunan-bangunan lama yang dibikin klasik Eropa kayak sofanya atau apanya klasik Eropa. Saya tertariknya malah klasik yang Amerika. Makanya ini kan konsepnya bangunannya perkebunan pertanian yang ada di Amerika. Gayong bersambut salah satu teman saya juga kasih gambaran gimana kalau kita bikin seperti ini, seperti ini, seperti ini. Wah, akhirnya jadilah dial garden gitu. Kalau yang matar belakangi titik balik itu saya dan salah satuor tibal juga ketika kita lulus kuliah, kita sama-sama nih satu fakultas, satu universitas, satu kelas malah bingung habis lulus kita mau ngapain. Karena saya pribadi memang saya enggak pengin misalnya kerja di salah satu institusi atau ke pemerintahan. Saya enggak pengin. Saya memang pure c-cita saya memang jadi pengusaha. Cuman background keluarga besar saya semua pengusaha. Jadi saya tertarik jadi pengusaha karena yang pertama kali ada di benak saya jadi pengusaha itu fleksibel. Saya bingung nih sama teman saya namanya Dio. Apa yang harus kita lakukan? Kebetulan saya sama rekan saya ini suka nongkrong. Terus gimana ya kalau misal 2019 itu kan di Malang masih baru hype-nya coffee shop dan lain-lain masih baru. Gimana kalau kita bawa ke Blitar? Ya, sedikit nekat juga. Akhirnya kita tercetus ini mau bikin dulu masih kedai kopi belum coffee shop, masih kedai kopi bentuknya masih rumah gitu juga diselingi dengan kondisi saya buka pertama itu ketika COVID baru masuk ke Indonesia, COVID masuk lockdown. Jadi sempat terbenci sebentar akhirnya kita mikir apakah kita bikin kafe ini mau dilanjut enggak? Padahal sudah kontrak, sudah mulai membangun. Akhirnya di situ kita tercetuslah gimana kalau namanya titik balik. Dulu masih belum disingkati bal dulu namanya masih titik balik nama kafenya. Titik balik kedai kopinya titik balik lah. Itu filosofinya adalah titik balik dari kehidupan kita nih berdua sebagai owner. Titik baliknya itu ya di sini modal berapa ngawali pertama? Ngawali itu kebetulan modalnya R juta. Jadi kita bagi dua R juta. Rp50 juta karena cuma kedai kopi Mas. Kedai kopi yang kecil. Ternyata di situ bertumbuh bertumbuh setengah tahun. setengah tahun awal itu bertumbuh bertumbuh dalam artian kita sudah siap setiap bulannya kasarannya saya sudah bisa gaji karyawan lah yang penting gaji karyawan sama untuk hidup kita enggak enggak neko-neko enggak enggak punya barang yang apa-apa juga enggak punya ya seadanya lah maksudnya hidup seadanya yang penting bisa makan bisa mencukupi kebutuhan saya secara pribadi ya sudah gitu aja cukupnya selama 6 bulan terus setelah 6 bulan awal mulailah diberita bermunculan coffee shop-coffee shop yang besar-besar lah itu sedikit mengefek lah ke kita karena kita cuma cuman kedai kopi yang kecil, pasarnya cuman itu-itu aja, tempatnya kecil. Dari situ mulailah rasa ada penurunan. Bisa dikatakan per bulan gaji karyawan sama gaji saya tinggian gaji karyawan. [tertawa] Habis itu dari kita yang berdua ini salah satu partner kita yang masuk di tahun kedua kita itu benar-benar kenalan orang tua saya malah tanya-tanyalah ngobrol kita gimana sih usaha tentang FnB itu gimana bla bla bla bla bla. Terus kebetulan cabang tibal yang lama itu di seberangnya pas. Saya nyeletuklah. Saya iseng sebenarnya, Mas. Saya nyeletuk, "Mas, kalau depan itu kita kontrak buat bikin coffee shop boleh enggak?" Beliaunya langsung tertarik. Kebetulan di situ beliaunya juga langsung tertarik, "Oh, enggak apa-apa coba saya ngobrolkan, tapi saya ikut ya kerja sama karena beliau tertarik mungkin obrolan kita tentang coffee shop, tentang FnB. Beliaunya tertarik, gimana sih kalau misal coffee shop di Blitar dibikin lebih besar atau yang bisa dikatakan tidak pasaranlah karena kita sudah bermodal rumah yang klasik nih, rumah yang bawaannya tidak saya apa-apakan. Jadi benar-benar rumah yang cuman disapu halamannya, dibersihkan dalamnya, udah gitu aja tidak dipakai sama sekali. Kalau bicara privilege saya jujur aja ya, saya terbuka aja. Memang saya dapat privilege dari orang tua, tapi dalam artian privileg-nya bukan uang ya, dari channel, dari sedikit banyak diketahui oleh oranglah maksudnya karena orang tua saya dan lain-lain dari Nah, jadi saya manfaatkan privilege itu untuk coffee shop. Jadi gini, Mas. Coffee shop itu kalau di awal 4 tahun yang lalu ya, kalau dari awal buka enggak boom, enggak ramai, ada orang banyak, pasti orang jarang tertarik untuk datang. Nah, saya manfaatkan itu dari teman saya pribadi, dari teman rekanan saya, dari teman-teman orang tua saya. Promosinya lewat jalur itu. Ketika opening awal kita ngundang banyak orang untuk datang ramai. Nah, itu sedikit menarik mungkin customer-customer yang lain. Apa sih ada apa ini kok rameai-ramai? Sebenarnya di situ, Mas. Tapi tetap kuncinya tetap di pelayanan dan produk kita yang memang harus dijaga. Karena kalau kita hanya menggunakan privilege untuk awal aja, habis itu ya nyuwun sewu 3 bulan, 4 bulan ke depan pasti habis itu kalau produk kita enggak punya value yang baik ke customer pasti ya sudah selesai habis. Keinginan untuk menjadi mandiri itu dimulai sejak setelah lulus kuliah atau SMA? Pertengahan kuliah sih, Mas. Pertengahan kuliah saya mulai ngerasa nanti kalau saya usaha itu kalau bisa ketika itulah karena saya masih mahasiswa ya, saya masih dibiayai oleh orang tua. Jadi kalau bisa saya usaha itu harus bisa. sendiri tanpa merepotkan orang tua karena saya sendiri yang minta jadi pengusaha dan tekad saya bulat. Karena ketika saya wisuda, saya ingat sampai sekarang yang saya ingat itu ketika saya wisuda dapat ijazah nih, Mas. Ijazah saya langsung kasihkan ke mama saya, "Ini ijazah tolong dipegang, tolong disimpan karena saya merasa saya enggak akan menggunakan ijazah ini untuk daftar ke manapun." Dan kedua orang tua saya tidak ada kata-kata penolakan. "Oke, ijazah saya terima. kamu tidak mau bekerja di perusahaan atau di kantor atau di manaun yang harus menggunakan ijazah untuk mendaftarnya, ya sudah saya support, ya sudah jasa saya kasihkan sudah saya modal nekat. Memang betul Mas tadi bilang bisnis coffee stop itu memang susah kalau enggak punya komunitas ownernya lah misalnya enggak punya komunitas. Memang di awal saya banyak teman, kebetulan saya banyak teman di komunitas musik, olahraga kita punya teman. kita memang menggunakan awalnya itu menggunakan cara itu untuk ya di awal kafe kita biar ramai dulu nih gimana coffee shop kita lah biar ramai dulu kembali lagi value yang kita punyai itu yang harus jadi patokan jadi kita enggak bisa selamanya harus menggunakan cara seperti itu. Kita memang harus memberikan value. Ketika value kita yang berikan sudah sesuai dengan pasar dengan customer yang kita inginkan ya sudah akhirnya berjalan. Nah, ketika terkait pembukaan cabang turning point-nya, kebetulan salah satu owner kita yang sedikit senior, senior kita itu kasih pecutan ke kita lah. Ayo jangan berhenti di sini. Kita ini pengusaha. Kalau kita pengusaha kita berhenti di sini ya kita enggak bisa memperbesar perusahaan kita. Ayo apa lagi nih? Kita harus ngapain lagi? Nah, itu di situ turning point-nya. Akhirnya tercutalah di Bal Garden. Terus terjutalah salah satu cabang kita juga yang lainnya. Jadi turning poinnya sedikit disentil lah oleh senior kita. Ayo jangan gini-gini aja. Kamu masih muda. Jangan mudah puas. Kasarannyaalah jangan mudah puas. Ayo apalagi? Apalagi apalagi? Nah di situ juga tambah pikiran kita kalau enggak boleh kita harus berada di zona nyaman. Kita maunya tetap jalanlah kasarannya gitu. Kalau di Tibal Grup ini setiap cabang punya kepala toko sendiri-sendiri. Memang supervisornya sudah kita bentuk untuk fokus ke cabangnya. Kalau coffee shop yang tibal coffee ya memang supervisornya memang lebih fokus ke coffee makanya rostery kita sudah punya cabang rostery di tibal rostery kita kita taruh di tibal coffee biar apple to apple biar nyambung kalau tibal cofe memang fokusnya ke coffee jadi kepala tokonya memang e bisa dikatakan ertnya di lebih ke cofe. Kalau tiba gaden ini memang kepala tokonya dia fokus ke menyeluruh malah. Maksudnya tempatnya harus lebih diperhatikan karena pasar kita kan keluarga ya, family. Apalagi terbanyak anak-anak apalagi paling banyak anak-anak. Jadi di sini macam-macam kita punya hewan peliharaan, punya kandang kelinci, punya kandang kura-kura, silkata. Jadi kapal toko di sini memang lebih fokusnya ke manajemen itu semua. Jadi malah kasarannya kalau cofe di sini malah enggak terlalu. Pasar kita juga bukan fokus ke coffee malah kalau di sini. Kalau di Blitar kita fokusnya menjaga gimana hubungan kita dengan customer kita tetap baik. Karena di Blitar brand besar bisa dikatakan masih belum banyak yang masuk ya. brand besar di Blitar itu brand nasional lah. Brand nasional belum banyak yang masuk di Blitar karena sudah beberapa ada yang masuk di Blitar dulu malah brand nasional enggak jalan. Saya kurang tahu ya alasannya apa ya karena saya saya fokus ke saya sendiri ya ke tiba sendiri. Jadi dulu per sempat ada janji jiwa tutup lain hati itu nasional semua tutup. Nah jadi mungkin saya kurang tahu alasannya apa. Jadi kita fokusnya ke diri kita sendiri. Kita perbaiki kekurangan-kekurangan kita. Maksudnya jika ada kurang pelayanan karena saya pribadi saya fokusnya ke pelayanan. Saya enggak pengin customer kita sudah datang meluangkan waktu, meluangkan uang untuk nongkrong di tiba tapi kurang mendapatkan pelayanan yang baik. Makanya saya kalau ada kritik atau masukan dari customer pasti saya tangani secepatnya. Maksudnya karyawan sudah saya bikin SOP kalau ada terjadi hal namanya usaha enggak ada yang sempurnaah Mas ya. Masih adalah sedikit kita langsung pada waktu itu juga harus kita langsung minta maaf. Yang pertama kita lakukan minta maaf, yang kedua kita kasih komplimen itu wajib. Ke manapun rumahnya, di mana pun tempatnya dia, karyawan kita tibal pasti nyamperin. Customer kita berkenan untuk disamperin ke rumahnya, kita kasih komplimen, kita pasti langsung samperin. Dan itu ya puji Tuhannya berlakulah sudah 5 tahun ini kita masih survive, masih masih eksis. Jadi salah satu strategi jitunya seperti itu kan ini sudah 2 tahun ya saya jalan 2 tahun lebih hampir 3 tahun. Di tahun pertama memang hyp-nya sangat bagus, sangat bagus banget. Sangat bagus banget. Setelah 1 tahun kita ada penurunan dan penurunannya bisa dikatakan terjun karena tiba garden ini kan konsepnya sebenarnya kan kita banyak nih kayak tempat yang sekarang kita gunakan ini kan indoor kita besar juga bisa nampung orang juga tapi kan orang ketibal garden itu meseknya pengin nyore pengin nyantai lesehan diodor. Jadi kalau ketika musim hujan nah itu kalahnya kita. Nah, kebetulan ketika itu musim hujan ada penurunan sekalian. Wah, kacau, Mas. Kacau. Memang kacau. Jadi kalau dikatakan secara mental bisa dikatakan saya sudah siap. Ya, maksudnya kita sebagai tim owner itu sudah siap. Karena saya sudah pernah ngalaminya ketika awal dulu buka. Enggak mungkinlah kita usaha lancar-lancar aja terus enggak ada masalah. Kan kayaknya kok enggak mungkin toh masalahnya problemnya pasti ada ya. kita caranya ya yang pasti nomor satu ya karyawan saya dahulukan karyawan harus mampu dulu, karyawan harus terbayar dulu hak-haknya karena mohon maaf saya anti kalau terkait karyawan ya saya anti untuk tidak menggaji mereka tidak menggaji mereka dalam artian sesuai apa yang sudah mereka kerjakan apapun yang terjadi hak mereka harus terpenuhi karena salah satu motivasi saya juga sebenarnya saya tadi enggak pengin ngomong karena dikira nanti bullshit lah ya [tertawa] motivasi saya jadi pengusaha Karena saya pengin buka lapangan pekerjaan. Motivasi saya yang utama sebenarnya itu. Cuman semakin berkembangnya oh ternyata ada nih side-sideya saya jadi pengusaha itu seperti ini, seperti ini, seperti ini. Jadi yang nomor satu saya karyawan, Mas. Seperti apapun kondisinya saya tetap putar otak gimana karyawan saya ini tercukupi. Yang pertama itu terkait operasional masih bisa diakalin lah maksudnya operasionalnya kalau misal pas. Makanya saya bukanya sedikit siang. Dulu saya bukanya pagi, Mas. ini pagi sampai malam full dengan berjalannya waktu ada itu ada penurunan terus oh saya rubah jam buka supaya memotong operasional lah. [musik] Nah, di situ Mas saya berpikir apa yang harus kita lakukan kan karena enggak bisa kan kita diam aja akhirnya sebenarnya pasar garden ini tu apa? Oh, pasar kita ternyata itu keluarga. Ya udah, ayo kita apa yang bisa kita lakukan untuk menaikkan omset kita lagi? Nekat nih, Mas. Nekat. Dalam artian kita harus incas modal lagi untuk membangun wahana. Akhirnya muncullah saya bikin wahana Bukit Teletabis kecil-kecilan lah ya untuk kelinci itu. Nah, dari situ mulailah ada perkembangan. Oh, ketemu nih kita sudah pasar kita itu di sini gitu sih, Mas. Orang yang paling berjasa yang jelas keluarga, Mas ya. terutama ayah saya. Karena yang bentuk saya sampai saat ini seperti ini itu ayah saya. Meskipun ayah saya mampu, tapi saya dibentuk untuk menjadi orang yang tidak biasa merasakan apa-apa ada, apa-apa punya. Saya dibentuk seperti itu. Jadi kalau kamu pengin sesuatu dari kecil kalau kamu pengin sesuatu ya kamu harus usaha dulu dalam artian tunggu dulu. Enggak bisa kamu minta harus ada. Padahal kalau dikatakan orang tua saya mampu ya mampu. Tapi enggak. saya dibentuk tidak seperti itu. Kuliah pun ketika mahasiswa pun saya juga dikasih uang saku yang secukupnya karena saya diajari untuk survive. Jangan boros yang pertama itu. Nah, itu yang bikin bentuk saya. Jangan boros. Jangan jadi orang yang suka senang-senang dalam artian ya kamu pengin apa, ya kamu harus lakuin. Enggak. Saya itu sampai sekarang, Mas, saya liburan itu bisa dihitung jari lah. Maksudnya saya liburan untuk bersenang-senang itu saya bisa dihitung jari. Karena saya dibentuk oleh orang tua saya seperti itu. Kamu itu laki-laki. Kamu harus bisa mem-manage mana yang penting, mana yang enggak penting. Mungkin saya sedikit titip pesanlah untuk anak-anak muda sekarang, terutama yang di umuran saya atau yang di bawah saya yang bisa membentuk kalian itu attitude yang pertama. Tanpa attitude siapapun orangnya tidak akan bisa jadi apa-apa. Jadi terutama jadi anak muda, jangan takutlah untuk jadi pengusaha. Enggak usah takut. Enggak usah takut untuk jadi pengusaha. Jadi pengusaha itu kadang enak, kadang ya enggak enak banget. [tertawa] Jadi, marilah kita jadi pengusaha itu bercita-citalah sebagai orang yang bermanfaat. Bercita-citalah sebagai orang yang bisa memberikan manfaat untuk sekitar ya minimal. Karena kita jadi pengusaha bukan untuk kita sendiri. Kita jadi pengusaha untuk karyawan-karyawan kita, untuk orang-orang yang menggantungkan hidupnya bersama-sama dengan kita. Ayolah kita jadi pengusaha yang baik, jadi pengusaha yang tetap pada jalur yang baik dan benar. [musik] Saya Gresi Arman Rivaldo. Saya salah satu founder Tibal Grup Indonesia yang memiliki cabang ada Tibal Coffe, ada Tibal Coffee Rostery, ada Tibal Garden dan Depot Juara. Semuanya cabang kita beralamat di Kota Blitar, Jalan Sultan Agung yang tibal Cofi nomor 94, Kecamatan Swetang, Kota Blitar. Yang kedua, Tibal Garden, Jalan Suryat yang juga beralamat di Kecamatan San Wetan, Kota Blitar. Depot Juara yang juga beralamatan di Kecamatan Swetan, Jalan Kalimantan, dan yang terakhir tibal coffee rostery juga Jalan Sultan Agung. Terima kasih. [musik]