Transcript
_v4JRcw3Rhg • Gaji Suami Kalah Jauh, Tapi Justru Rumah Tangganya Harmonis… Kok Bisa?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0650__v4JRcw3Rhg.txt
Kind: captions
Language: id
Profitnya berapa, Mbak?
Berapa? [tertawa]
Gak mesti yo, Mas.
Naik turun.
Rata-rata berapa?
Rata-rata di sebulannya
1 jam 100, 1,5 [musik] jam 140, 2 jam
180.
Kurang keren gitu.
Kurang keren gitu loh. [tertawa] Heeh.
Opo loh, Mek tukang londri
kayak gitu gek. Opo pekerjaane mek me
antar jemput anake ndak punya skill
gitu. ketika mendapatkan penghasilan
sendiri rasa lebih superior dari suami.
Mbak Fitriah,
asalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Grogi terus terang karena dihadapkan
oleh dua orang ibu rumah tangga yang
independen banget.
Mungkin penghasilan saya lebih lebih
sedikit daripada sampean berdua ini,
[tertawa]
Mbak. Kita boleh kenalan dulu. Kita kan
mungkin belum kenal ee
Mbak Vinda ya. Betul ya, Mbak Vinda sama
Mbak Fitria.
Iya, betul.
Siap, Mbak. Dulu ceritanya gimana kok
bisa sampai menjadi seorang independent
woman? Saya bilangnya independent woman
aja ya, supaya lebih universal ya.
Iya.
Oke. Gimana dari Mbak Vinda dulu deh?
Iya, Mbak Vinda. Oke. Ee awalnya ketika
pandemi Mas,
itu kan sudah lumayan lama di rumah aja.
Oke.
Eh, terus tiap hari itu berpikir aku tuh
harus ngapain ya kan bosan.
He.
Selain bosan kalau ee dari lulus sekolah
kan kita udah
udah terbiasa punya penghasilan ya, Mas.
Habis gitu ketika pandemi tiba-tiba ee
tidak ada penghasilan dan tidak ada
kegiatan, akhirnya ee suatu ketika tuh
ee di rumah itu kan biasanya ada
pelanggan pijit, ada langganan saya
pijit.
Iya.
Terus beliaunya itu sudah sepuh, sudah
purna tugas. Jadi kan terus tiba-tiba
kok saya berpikir ee nyapo kok enggak
aku aja jadi tukang pijet gitu.
Heeh. Nah, dari situ mulainya.
Oke.
Heeh.
Ini besty juga sama Mbak Fitri ya?
Iya. Lumayan lama kenal. [tertawa]
Oh, kenal di mana?
Dulu kerja di tempat yang sama, Mas.
Di mana, Mbak?
Di ada produsen gamis.
Oh, yang yang bangkrut itu ya? [tertawa]
Bangkrut diperjelas.
Tapi bukan bangkrut sebenarnya
colabs ya. [tertawa] Aduh.
Iya. Kenal lama berarti.
Iya.
Ee sejak bekerja di situ atau sebelumnya
sudah kenal?
Sejak bekerja di situ.
Oh. Dulu sebagai apa sih?
Saya di sana sebagai finance.
Mbak Vinda
admin.
Iya, admin produksi.
Oh. Lek di sini kok kayak asing gitu ya?
kayak berjarak gitu wong biasane
biasanya tuh gosip bareng [tertawa]
ng
jaim
profesional
jaim nihim [tertawa]
aduh ya ampun dan
dari apa ya lebih sopannya memang
dibilang pijet atau terapis
oh ya biasanya sebutan kerennya terapis
Mas
tapi saya juga gak masalah lek disebut
tukang pijat
Oh, gitu. [tertawa]
Karena ya memang itu profesi saya
memang basicnya atau ningat jadi tukang
pijet?
Oh, ndak. Kepikiran aja ndak ada Mas.
[tertawa] Ajake nom-noman jadi tukang
pijit kan ndak keren ya sebenarnya.
Heeh.
Banget [tertawa]
banget malahan gunah. Tapi ternyata eh
enjoy sih sampai saat ini. Enjoy.
Oke. Berapa lama Sudan profesinya?
Ini jalan 5 tahun.
Oh. Yalah betah berarti.
Iya karena ternyata menyenangkan
[tertawa]
gara-gara apa? Cuan ya.
Iya. Ee selain itu juga anu, Mas
waktunya sangat fleksibel sekali.
Oh oke oke oke oke oke.
Sama juga Mbak Fitri cukang pijit juga
bukan.
Oh iya. Oke. [tertawa]
Iya. Kalau saya buka usaha laundri, Mas,
di rumah.
Di rumah?
Iya.
Oke.
Awalnya itu ya cuma iseng yo. Enggak
iseng sih. Coba coba-coba gitu loh. Kan
ada suami saya kan tukang servis mesin
cuci AC gitu kan. Terus kok
dimanfaatkan bisa mesin cucinya coba.
Oh dimanfaatkan. [tertawa]
diberdayakan
daripada nganggur. Terus kan biasa di
apa biasa kerja toh terus itu pas sama
ya Mbak kita pas pandemi itu terus
kita keluar terus kok di rumah kok
biasane ada kegiatan enggak ada.
Heeh. Akhirnya ya itu punya inisiatif
juga laundri itu.
Oke. Oke. Oke. Artinya sebelum
sudah bekerja setelah keluar kerja dari
salah satu produk fashion itu
Iya.
Baru mendirikan usaha.
Iya.
Oke.
Siap-siap. Laondri langsung ya?
Iya langsung laundri.
Itu aja usahanya.
Kalau dulu awalnya ya. Tapi sekarang
sama supplier MBG. Mas
weh. Berapa dapur Mbak? Masih empat.
Oh, masih bahasan
masih empat.
Apa distrip ngasih apa?
Ayam. Ayam sama soya. Susu soya itu loh.
Oh.
Berapa? Berapa banyak
kalau soya itu? Satu dapur. Sebulan dua
kali satu dapur itu. Kalau
kalau ayam itu semine. Kadang ya 3 hari
sekali, kadang 2 hari semin dapure.
He. Loh soya sebulan
dua kali. kali.
Iya. Satu dapur itu.
Oh. Oh, berartinya anu ya ee variasinya
menu ya. Variasinya menu. Oke oke oke
oke oke.
Banyak juga nih. Cuma pakai empat dapur
loh. Mbak
empat dapur.
Iya ya.
Peng
kali. Iya kan? [tertawa]
Kan minder aku. Mbah.
Alah masj minder.
Iya. [tertawa] Gajinya host host podcast
gini ndak ndak seberapa.
[tertawa]
Oke. Senang menjalani aktivitas itu,
Mbak?
Iya, senang soalnya bisa nyambi sama
antar jemput anak saya.
Oh, i
sekolah ya kan bisa fleksibel, Mas.
Oke, oke, oke, oke.
Bisa sama nyambi di rumah, pekerjaan di
rumah gitu.
Heeh. Heeh. Anak berapa, Mbak?
Anak satu. Alhamdulillah, Mas.
Alhamdulillah. Ya ampun.
Usia
usia 9 tahun.
9 tahun. Oh,
mau mau ya?
Udah gede, Mbak, ya?
Siap-siap. Ah. Enggak
ada
resisten, Mbak, ya, dari suami ketika
menjalani usaha kira-kira?
Ya, pokoknya selama masih bisa membagi
waktu gak apa-apa gitu. Suami saya
bilang
begitu.
Iya. Masih bisa.
Oh, ya, Mbak ya, masih bisa
membagi waktu gak apa-apa lek kamu mampu
gitu.
Hm. Peran istri tidak tertinggalkan?
Insyaallah tidak. [tertawa]
Siap. Inspiratif. Mbak Vinda juga
begituah?
Iya, Mas. Malah saya
sangat sangat fleksibel. Lebih lebih
fleksibel lagi. Maksudnya kan saya
sehari itu
cuma ambil satu pelanggan.
Oh.
Kadang-kadang kalau agak dipaksa bisa
dua.
Heeh.
Jadi misal pagi jam 09.00 sampai 11.00
selebihnya ya sudah di rumah.
Oh. fleksibel makanya saya enjoy.
Oke oke oke. Berapa sekali treatmen,
Kak? Per jamnya 100, Mas.
Oh
1 jam 100, 1,5 jam 140 2 jam 180.
Oh ya lumayan gantian apa gimana?
[tertawa]
Oh jadi tukang pijat.
Iya alih profesi jadi tukang pijat
[tertawa]
segitu per jamnya. Kalau di kota kecil
lumayan besar itu, Mbak. Cukup.
Iya, lumayan besar. Iya.
Iya. Udah bisa ngapain aja, Mbak?
H
dari profesi itu sudah dapat apa aja
juga?
Oh, kebetulan saya ndak terlalu suka
beli beli, Mas. Jadi, saya lebih senang
lihat duit sih. [tertawa]
Lebih ke nyiapin tabungan kalau nanti
suatu saat perlu apa gitu. ada gitu.
Hm.
Perlu
bisa jajan terutama suka jajan.
[tertawa]
Perlu rumah
ada,
perlu mobil ada,
ada. Amin. [tertawa]
Perlu tanah ada gitu. Ada harapannya
gitu. [tertawa]
Ya Allah, kok bisa bahkan saya bisa
sampai ngumrohin keluarga?
Ee semoga
belum sih, sementara belum.
Oh. Oh, oke oke oke oke oke. Dipakai
apa, Mbak? Biasanya uangnya sebagai ibu
rumah tangga kan juga dinafkahi nih.
Iya.
Dibuat apa uangnya biasanya? Atau uang
istri ya uang istri, uang suami juga
uang suami,
uang istri juga uang suami atau
bagaimana?
Lebih ke dipakai jajan loh, Mas.
Jajan.
Suka jajan
kuliner gitu. Beli makan, beli jajan
gitu aja sih.
Oke.
Kalau belanja lainnya gak gak terlalu.
Belanja-belanja
gamis, hijab, pakaian.
Oh, alhamdulillah sekarang ee misal
pengin apa gitu kan jadi bisa beli
sendiri.
Hm.
Kalau dulu kan harus nabung dulu gitu.
Iya. Karena
tapi suami masih tetap menafkahi?
Masih dong [tertawa]
kan tugasnya.
Saya kira wis udah kamu [tertawa] cari
uang sendiri.
Wah,
masih masih alhamdulillah.
Wah, dua double nih pendapatannya.
Amin. Amin. Amin.
Iya. Iya. Ee minder enggak, Mbak, suami,
Mbak? Katanya ke
kok gak pernah tanya toh, Mas? [tertawa]
Oh, gitu. Enggak pernah tanya. Nanti
coba tak tanyain
ya. Boleh ya tanyain ya. [tertawa]
Yang saya tahu profile-nya suami Mbak
Vinda ini kan pengajar.
Iya.
Yang dulu juga masih honorer.
Terus tiba-tiba
ee Mbak Vinda inisiatif untuk menjadi
terapis yang ternyata penghasilannya
lebih banyak. Honorer kan gak banyak
Mbak ya.
Iya.
Mengenaskan, Mbak.
Iya. Anu Mas Lek aku bilang sambatan.
[tertawa]
Eh, tapi mungkin lebih ke berkahnya kali
ya.
Apa yang dirasakan, Mbak?
Ee tentang
keberkahan yang dirasakan dari ee
meskipun secara pendapatan tidak banyak
dari suami, tapi
bentuk tanggung jawabnya tetap menafkahi
dengan segala kekurangannya.
Iya. apa yang Mbak Vinda rasakan dari
mungkin pasca merasakan itu atau
keberkahan apa yang
secara material dirasakan
ee tentang keberkahan ini anu, Mas,
kalau orang lihat saya tuh katanya
alhamdulillah hidupnya penak. [tertawa]
Alhamdulillah.
Iya.
Heeh.
Gitu ya. Alhamdulillah semuanya sehat.
Oh.
Suami sehat, saya sehat, rukun gitu.
Mungkin bagian dari berkahnya kali ya.
Heeh. Heeh. Heeh.
Iya. Seperti itu.
Mbak Fitria juga.
Iya, Mas.
Gimana? Gimana? Gimana?
Ya, orang itu lihat penak yo kamu nk
rumah wis bisa dapat uang gitu paling.
Heeh.
Terus, terus,
terus. Ya, alhamdulillah ya rukun sama
suami, sama keluarga, anaknya sehat
sehat itu wis alhamdulillah.
Iya. suami tetap menafkahi juga.
Iya, [tertawa] tetap masuk itu.
Ee pernah enggak berpikiran perspektif
bahwasanya ketika mendapatkan
penghasilan sendiri
ee merasa lebih superior dari suami,
Mbak Fitria?
I kalau dak sih, Mas.
Gak ya?
Gak. Iya. Yo tetap kodrate kan tetap
wanita kan yo tetap
harus dibawahi suami ya Mas.
Ah gitu ya.
Iya.
Gak pernah gara-gara cekcok rumah tangga
gara-gara
nafkah gitu keuangan.
Mm gak sih. Alhamdulillah sejauh ini.
[tertawa]
Jangan sampai
jangan sampai jangan sampai.
Iya.
Kalau Mbak Vinda, pandangan Mbak Vinda
sebagai istri yang bisa menafkahi atau
punya penghasilan sendiri?
Pandangannya Mbak Vinda bagaimana di
tengah keluarga yang mungkin juga
perannya masih ada suami yang bisa
menafkahi?
Saya ini, Mas, berusaha menempatkan diri
saya tuh tetap di bawah suami gitu loh.
Maksudnya
ee walaupun saya istilahnya apa-apa bisa
beli sendiri ya, tapi itu saya kalau mau
beli sesuatu tuh izin dulu, Mas.
Oh, iya.
Aku boleh beli ini enggak gitu?
H
aku beli ini gimana boleh enggak gitu.
Terus juga kalau mau ke mana-mana juga
tetap bilang, "Oh,
aku ke sini, aku ikut ibu ke sini boleh
gak?" gitu. Tetap gitu.
Oh,
biar suami tuh apa ya, Mas, istilahnya?
Tetap dia merasa sebagai
kepala di rumah itu. Heeh. Tetap
dihargai gitu.
Aku tetap seperti itu.
Oh, oke oke oke.
Wih. Berat enggak sih, Mbak, menjalani
itu? Pernah enggak tiba-tiba setan
bisiki, "Wong gue lu, L kamu itu loh
penghasilanmu lebih banyak, superior lah
gitu."
Gak pernah sama sekali tiba-tiba setan
bisi gitu. [tertawa]
Ee kadang tuh kepikiran lebih ke anu
Mas, nanti kalau tua gimana? Kan ndak
ndak ndak ada dana pensiun gitu kan. Kan
ndak dapat pensiun gitu. Makanya saya
sekarang lebih senang kenabung sih.
Oh.
Heeh. Karena diriku menyadari kita
berdua gak bukan pegawai,
gak dapat pensiun. Jadi ya harus rajin
nabung.
Oh.
Itu aja sih.
Nabungnya dalam bentuk apa?
Sementara masih dalam bentuk uang.
[tertawa]
Soalnya Mas masih tinggi mau beli.
Nunggu turunnya ternyata gak turun-turun
[tertawa]
malah naik
naik turun. daerah itu biasanya
nabungnya kan
tanah, sawah gitu.
Belum sebanyak itu. [tertawa]
Nominalnya belum bisa untuk dibelikan
itu.
Oh, oke oke oke oke. Mbak Fitria
ee pernah merasa capek juga enggak?
Mungkin dari sisi istri udah apalagi
anak juga masih kecil disuruh ngantar
gitu.
Adakah rasa capek tiba-tiba terus?
Karena gini, Mbak. Saya tuh meyakini
bahwasanya setan itu ketika tidak bisa
menggoda suami, tidak bisa goda
laki-laki,
godanya itu biasanya dari istri gitu.
[tertawa]
Pernah enggak minimal bisiki awak kamu
itu sudah superior, harusnya bisa lebih
superior gitu.
Iya. Yo pernah, Mas. [tertawa]
Heeh.
Mestine yo pernah. Nggih. Pernah. Tapi
ya wis tetap dididukne, diunggahne,
tetap mikir, oh iya lek ndak apa ndak
begini kok apa jenenge [tertawa]
nanti pokok intine jalane begini ya wis
dijalani aja gitu tetep di anu nopo
legowo lah diunggah udukne ngoten tetep
ngunggah-nguduk maksudde piye mbak apa
mbak bahas [tertawa]
mikel dur mendung
kadang mikir kadang yo slow
oke tapi pernah Pernah capek juga ya?
Iya pernah Mas.
Biasanya ngapain Mbak Lek kalau udah
kalau capek ya wis dolan Mas
ke mana gitu sesederhana itu ya bareng
suami.
Iya kalau sami repot ya sendiri Mas tapi
izin tetapan aku mau ke sana.
Gak rewel ya. [tertawa]
Gak rewel.
Enak banget. Masyaallah.
Subhanallah.
Mbak ee Mbak Fitri, saya tuh sebenarnya
pengin punya gambaran aktivitas usaha
laundri yang Mbak Fitria jalankan
sekaligus
supplier ya disebut
di dapur MBG itu
aktivitas usahanya tuh ngapain sih dari
hulu hilirnya tuh kayak apa? Kalau saya
pagi itu kan ke laundri dulu, Mas. Buka
buka laundri. Nanti kalau yang jaga
sudah datang kadang tak tinggal itu
antar
anter ke supplier itu. Nanti pokok kalau
laundri wis ada yang jaga kenek di
pasaran gitu saya keluar
ngurusi yang MBG itu.
Oke oke oke oke.
Profitnya berapa, Mbak?
Berapa? Enggak mesti ya, Mas.
Naik turun
rata-rata berapa?
Rata-rata di sebulannya delan.
Wih. kebersih
kalau laundri itu belum masih kotor.
Oh
laundri saja itu. Keren.
Kalau MBG-nya?
Kalau MBG-nya ini masih jalan baru kok
belum
kok berani Mbak support MBG?
Anu Mas suami [tertawa] yang support.
Oh iya.
Suami saya kan ikut itu kayak bangun
instalasi kompornya di MBG itu. Terus
dia tanya-tanya sudah dapat supplier apa
belum? Terus dimasukin akhirnya sama
suami saya.
Oh. Oh, kan bayarnya lancar
anu apa di tempo kalau soya itu langsung
kalau ayam di tempo minggu.
Hmm. Tapi pasti dibayar ya.
Masih lancar ini, Mas.
Di tengah isu-isu berkeliaran gitu
enggak takut tuh, Mak? Tiba-tiba.
Iya. Iya. Takut sebenarnya. [tertawa]
Mbak, model bisnis yang Mbak Fitria
jalankan tuh sebenarnya bagaimana? Atau
hanya mengalir aja?
Kalau saya ya Heeh. Cuma mengalir
[tertawa] gitu aja.
Gitu aja ya.
Iya. Heeh.
Tapi memang orang daerah tuh gitu semua
ya, Mbak?
Enggak tahu tanpa ilmu, tanpa anu ngalir
aja bikin bisnis ya jalan gitu.
Heeh. [tertawa]
Enggak perlu dihitung-hitung. Enggak
perlu dihitung-hitung pakai finance,
enggak perlu dihitung-hitung pakai trik
marketing yang kayak apa, digitalisasi,
meta ads,
ROA dan lain sebagainya, CRM dan
sebagainya. Kayaknya juga enggak pernah
dengar ya kata-kata itu.
Itu anu, Mas. Lebih ke Nak bisa.
[tertawa]
Gak dong.
Gak pernah ikut ya, Mbak seminar-seminar
gitu gak pernah.
Oh, dan dak dong,
ndak dong,
dak [tertawa] dong.
Enggak dijalani
nak.
Oh, [tertawa]
gitu ya.
Ya wis mengalir gitu aja
lah. Gimana Mbak kalau mungkin dari Mbak
Vinda cara kenal orang supaya order ke
Mbak Vinda gimana untuk
awalnya dulu anu Mas apa endorse di
kacamata Tulungagung.
Oh influencer mikro.
Iya. Oke,
gitu awalnya itu. Tapi lebih ke ini
ternyata yang lebih jalan itu anu dari
mulut ke mulut gitu.
Oh, pijet di Mbak Yu enak gitu.
Hm.
Gitu. Atau enggak biasanya pelanggan itu
bikin story di sosmet itu juga lumayan
jalan.
Oh, oke. Artinya juga pakai media sosial
ya?
Iya, tetap tetap pakai kalau di usaha
saya. Tapi yang penting posting aja,
enggak dipikirkan ini posting harus
konten yang kayak apa gitu.
Iya, tapi untuk sekarang saya sudah ndak
pernah posting. [tertawa] Kalau dulu
masih rajin.
Kalau istilahnya kan karena masih babat
ya, jadi harus
harus pegang sosmat. Kalau sekarang
juarang banget, Mas.
Oke,
alhamdulillah sudah jalan.
Berarti pelanggannya sudah tetap nih.
Iya.
Oh,
sudah tetap. Pelanggan baru juga masih
ada sih,
Mbak. Kenapa enggak ambil anu, Mbak ee
pelanggan satu hari lima gitu?
Penginnya cuannya gitu, Mas. Lek cuane
pengin, lek tenagane [tertawa] ndak
pengin
capek, Mas.
Satu itu capek banget.
Dua yang capek. Kalau satu enggak.
Kalau dibagi misal pagi satu, siang
satu, sore satu kan sudah dapat tiga
tuh. Kenapa enggak begitu? Masih ada
spare waktu untuk istirahat
itu anu, Mas. Lebih ke besok bangun
tidur itu cuaek kalau saya ya. Kalau
saya loh. Heeh. Heeh.
Heeh.
Artinya dibatasin tetepan ya.
Iya.
Walah
karena saya ada prioritas lain sih. Jadi
gak boleh capek terlalu capek gitu.
Tapi capeknya tuh berbanding terus sama
cuannya gitu ya.
Iya benar.
Secapek itu, Mbak ya. Maksudnya kok
enggak sampai tiga kan
mungkin perspektif laki-laki Mbak ya.
Heeh.
Oh, sik seik sik masih kuatlah tiga tiga
klien dalam satu hari
gitu. Ee ndak kepikiran untuk diambil
gitu. 3 * 3 sudah 600.000 kali
wih 600
30 Rp juta.
Kalkulator netizen. [tertawa]
Kalkulator netizen bekerja.
Iya, Mas. Capek yang yuk. Beneran capek?
Capek.
Hm.
Mungkin apa karena saya ini ya ndak
terlalu rajin olahraga jadi
Oke.
Jadi ya capek.
Jangan olahraga, Mbak.
Nanti di digiring oh olahraga
ujung-ujunge tukang pijet ko nesu kabeh
sing olahraga. [tertawa]
Apalagi yang fitness-fitness kayak gitu
kan. Kasihan
sing kasihan reka yo [tertawa]
janowo.
Tapi pernah melayani me anu ngasih
treatment tiga orang dalam satu hari?
M dulu awal-awal iya Mas lumayan rajin
dulu awal-awal.
Hm.
Iya gitu. Terus semakin ke sini ya
memutuskan untuk ambil satu atau dua
saja
mentok
sementara gitu. Gak tahu nanti lek rajin
lagi. [tertawa]
Ya ampun.
Ada aja.
Mbak Mbak Fitria.
Dukanya jadi ibu rumah tangga dan
menjadi pelaku usaha itu apa, Mbak?
Kadang dianggap kurang apa ya?
Kurang keren gitu loh. [tertawa] Heeh.
Opo loh mek tukang londri
kayak gitu gek. opo pekerjaane mek antar
jemput anake ndak punya skill gitu.
Oh pernah gitu juga?
Ya pernah Mas
tetangga-tetangga
oh
hidup di daerah Mas. [tertawa]
Oh iya iya iya
memang sangat perhatian ya
tetangga-tetangga [tertawa]
kita itu
isnya banyak lek di desa Mas. Perhatian
perhatian
[tertawa]
gosip tukang sayur di RT RW sebelah itu
ketahuan di RW sebelahnya tu sebelah
cukup tuh Mas CCTV-nya [tertawa]
kecepatan
sampai pernah dengar itu tukang londri
cuma tukang londri gitu tapi ya itu kan
buat motivasi Mas Mal
emang basicnya apa Mbak
saya tuh
Heeh sekolah pernah sekolah juga
iya sekolah
oh
pernah tuh masuk kuliah Maksudnya
maksudnya bukan sekolah itu pernah
[tertawa]
Heeh. Pelatihan itu, Mas. Pelatihan
laundri itu toh maksudnya
bukan yang sekolah kuliah gitu.
Oh enggak enggak saya cuma SMA kok, Mas.
Oh
cuma SMK.
Mbak Vinda juga kayaknya [tertawa]
masih SMA. Tunggu dulu. Saya penasaran
kok diam tiba [tertawa]
ke Mbak Vinda dulu de
masih ee SMA gak punya skill digitu kan.
Pernah dengar sampai ke telinga?
Iya iya pernah.
Oh, sama
gimana ya itu ya karena kayaknya sudah
jadi culture dan budayanya ya.
Iya. Heeh.
Mau dibagaimanakan juga bingung kita ya.
Iya. Heeh.
Pernah gak ngontor gitu tiba-tiba
terus nyapo gitu terus kenapa gitu? Saya
[tertawa]
diam ya Mas. Tapi kan buat motivasi toh
balas dendam terbaik itu menjadi yang
lebih baik gitu. [tertawa]
Bisa aja. Amin. Amin.
Dibuktikan dengan aktivitas usaha lah
ya. Iya.
He he he. Oke. Ada lagi yang kira yang
menjadi dukanya. Saya dukanya ya. Duk
biar enggak di delok biar enggak dilihat
suka-sukanya aja gitu.
Apa ya? Itu sih Masing
menyayat hati. Iya.
menyayat
lek laine ya wis ndak ndak terlalu
dipikir [tertawa]
ee iya ya gitu. Kalau Mbak Vinda dukanya
apa?
Dukanya apa ya? Dukanya anu Mas kalau
kan saya tukang pijet ya Mas. He.
Dukanya itu kalau ndak diumet kipas
[tertawa] angin, Mas atau AC gitu, aduh
sumuk banget itu saya kurang ini kurang
nyaman sama diri saya kalau sumuk gitu.
Sumuk itu gerah lah.
Gerah. Iya gerah. [tertawa]
Ini yang banyak yang lihat kok podcasnya
B [tertawa] bahasa Jawa gitu.
Maafmaaf
gak apa-apa. Gak apa-apa bisa dianslate
lah nanti.
Ya Allah, sumuk [tertawa]
pernah anu pernah ngelayani laki-laki?
Tidak, Mas. Hanya
perempuan dewasa dan anak-anak.
Perempuan dewasa dan anak-anak.
Iya.
Hm. Semuanya pelanggannya perempuan
semua ya, Mbak ya?
Iya. Kalau anak-anak bisa cowok juga,
tapi kalau sudah SMP saya enggak sih
anak-anak.
H tetap menjaga itu, Mbak ya.
Insyaallah.
[tertawa]
Dukanya sebenarnya cuman AC aja.
Iya sih itu sejauh ini gak ada ini. Saya
saya sangat enjoy, Mas dengan usaha saya
ini.
Gitu. Enggak gitu loh. Saya melihatnya
gak ada dukanya
di info sama teman itu katanya Bu
termasuk sarjana sampean, Mbak.
Kok tua? Eh, kok tahu. [tertawa]
Iya, Mas. Dan jurusannya ndak nyambung
sama sekali.
Jurusan mana? Turung Agung Trenggal.
Trayek. [tertawa]
Trayek itu jurusannya apa?
Hukum. Jurusannya [tertawa]
gak nyambung.
Subhanallah. Sama.
[tertawa]
Pernah sekolah pernah kuliah di Fakultas
Hukum juga.
Iya.
Di Malang. Di mana?
Iya ada di Malang. Eh, Malang tuh pasti
template lah. Kalau Brawijaya, UM, UMM
gak tahu pasti kampusnya ya.
Merdeka.
Iya. [tertawa] Bukan
mana tuh?
Widama di Blimbing.
Iya. Tahulah kamagama [tertawa]
tahu.
Ya ampun pernah.
Iya. Jadi anak hukum yang nyasar jadi
terapis, [tertawa] jadi tukang pijet.
Aduh, perjalanannya ada aja. Kenapa,
Mbak? Kok kepikiran gitu loh
bagi
ee mungkin beda beda sama orangor kota
Mbak ya. Di mana
orang desa, orang daerah itu kalau ada
satu orang yang sekolah gitu, apalagi
sekolah hukum tuh pasti kan di dilihat
banget kayak dibanggakan apalagi apalagi
sama orang tua sekolah fakultas hukum.
Iya. bayangane weh jadi pengacara, jadi
hakim,
notaris,
notaris gitu. Ini tukang pi gitu, Mbak.
Gak nyambung
banget.
Dulu ini Mas, awal-awal
saya mulai itu
orang tua, suami gitu kayak
gak percaya gitu saya. Terus kok
ujug-ujug ya langsung terjun di ini.
Mikirnya tuh gak lama, Mas. Makanya gak
kayak ee usaha-usaha yang sebelumnya
dipikir dipikir aja ya ini tuh ndak ndak
terlalu lama.
Heeh.
Langsung ini kok pengin terus beberapa
hari setelahnya langsung posting gitu.
Udah secepat itu.
Keputusannya berapa hari itu?
Langsung.
Oh i satu hari
langsung. Iya langsung itu. Terus
menyiapkan itu kurang lebih 1 minggu
langsung terjun. Cepat Mas.
Memang sudah basicnya sudah ada. Oh,
sebelumnya ini cuman otodidak aja
sebelumnya ya.
Setelah itu 1 bulan atau berapa minggu
berjalan itu saya ini cari surat izin di
dinas kesehatan
namanya STPT. Itu harus diperbarui
setiap 2 tahun sekali itu saya sudah
punya itu. H.
Terus kemudian izin berusaha saya sudah
punya.
Wih,
itu lengkap [tertawa]
ya karena Fakultas Hukum ya. Semua
legalitas harus [tertawa] dipenuhi dulu
ya.
Iya. Ibaratnya kalau kita berkendara
sudah punya SIM-nya gitu. Jadi
insyaallah aman. [tertawa]
Ya ampun. Ee
dua berapa berarti? Satu satu hari
langsung diputusin jadi terapis.
Heeh.
Pernah punya pengalaman yang gak
menyenangkan enggak, Mbak?
Apa ya, Mas? ee bukan tidak
menyenangkan, tapi lebih ke sedikit ini
sedikit ada takutnya itu ketika ada
orang baru yang WA,
kita kan gak tahu itu laki-laki atau
perempuan niatnya baik atau tidak itu
ketika lokasinya di
hotel atau kos-kosan
pernah gitu
saya cross cek namanya di sosial media
kok ndak nemu gitu misalkan. Nah, itu
baru ada rasa takut ada. Itu biasanya
saya share log ke WA suami.
Share log ke WA suami. Saya berangkat
jam segini sampai jam segini. Nanti
kalau jam segini saya gak WA itu sudah
jaga-jaga.
Tapi alhamdulillah sejauh ini
alhamdulillah aman.
Oh, tapi pernah mendapatkan yang begitu
yang yang gak aman gitu? Gak pernah ya?
Oh, alhamdulillah gak pernah. Cuman itu
aja firasa di awal kok ada sedikit
takutnya itu. Itu ada buat jaga-jaga.
Ee berarti pengalaman pengalaman
terapisnya sebagai tukang pijet itu anu
berangkatnya dari mijitin suami terus
tiba-tiba jadi profesi gitu.
Mm lebih ke Iya mungkin ya. [tertawa]
Sebenarnya waktu mijitin suami itu 5
menit aja sudah capek Mas.
Oh gitu. Kalau kita bukan tukang pijit
ya,
itu 5 menit aja rasanya udah
udah capek. Coba jenengan [tertawa]
istrinya nanti lek capek
soalnya gak dapat.
Iya [tertawa]
apa ya itu ya
gara-gara enggak dibayar ya
mungkin ya. [tertawa]
Ya ampun ini.
Aduh
itu sih dukanya sejauh ini.
Usia berapa T sekarang? Maaf.
91 itu berapa? Gak saya santai kok ya,
Mas. Gak baper.
91 itu berapa? 34.
34 Mas.
Gak pengin mau 34 tuh kan masih bisa tuh
daftar ASN.
Oh iya. Kadang-kadang ada sekeliling itu
menyuruh daftar. Tapi ini Mas ya kemarin
pernah daftar.
Heeh.
Tapi dapat ini dapat peringkat dua yang
diambil cuma satu. [tertawa]
Alhamdulillah.
Oke.
Masih banyak bisikan untuk pengin
daftar. Ini kan tahun terakhir nih. 3
34.
Iya. Oh, terakhir ini ya 34 ya?
35.
Oh, 35. Iya.
Gak pengin
sementara kok belum yo, Mas.
Oh,
seenak itu, Mbak ya? Jadi tukang pijat.
Iya, enak banget. [tertawa]
Enjoy.
Oke.
Waktunya fleksibel. Ibaratnya kerja
kalau bisa pagi aja ya bisa.
Heeh.
Dan yo dapatnya lumayan gitu.
Iya. Iya.
Dan walaupun ada tempat sepa atau home
care lain gitu, alhamdulillah ya saya
tetap ada pelanggannya tetap ada.
Oh, kayak brand-brand besar yang baru
masuk di Tulungagung gitu
masih ada juga pelanggannya.
Iya, alhamdulillah gak mempengaruhi
omset saya, Mas.
Weh, [tertawa]
gitu. Alhamdulillah ya. Karena mungkin
ini ya Mas ee
kalau kita lihat sensus ya, jumlah
penduduk yang wanita di Tulungagung ini
dengan ibaratnya target saya sebulan
yang cuman 25 orang itu kan sangat jauh.
Jadi alhamdulillah ya masih jalan aja.
Hm.
Nak terpengaruh, ndak terganggu omsetnya
ya gak menurun. Alhamdulillah tetap data
juga ya.
Iya.
1 bulan 25 tahun.
Iya. Engak, saya lihat ini saya lihat ee
wanita dewasa di Tulungagung tuh ada
berapa gitu. Saya lihat, Mas, [tertawa]
pasong paling.
Dan saya butuhnya cuman 25 sampai gak
sampai 30 itu rasanya sangat masih
sangat ini masih sangat okah usaha ini.
Heeh. Heeh. Heeh. Heeh.
Kita pindah jadi tukang pijet aja ya.
[tertawa] Itu Mas Saik tuh pantes itu
Mas. Masa itu
kenapa? Karena roso
iya karena secara [tertawa]
secara fisik kuat besar terus satu
pijetan gini itu udah uh
udah.
Heeh. Saya soalnya pernah [tertawa]
saya dibantu sama Saik tuh.
Masyaallah.
Ih Mas banyak anu loh Mas banyak suami
pelanggan itu yang tanya
mbak ndak punya kenalan terapis apa
pijet cowok toh? Gitu.
Cocok cocok berarti. [tertawa]
Jadi timnya jenengan Mbak Ni, Mas nanti.
Oh, kalau laki-laki ke Mas ini gitu ya.
Mau gak, Mas? [tertawa]
Sing penting cu [tertawa]
nggih.
Oke, Mbak. Kalau kalau Mbak Mbak Fitri
ee
dari aktivitas usaha laundri
terus
sama supplier MBG, dapur MBG Mbak ya.
Cuannya lebih banyak mana sama suami
Mbak?
Kalau yang supplier itu kan join sama
suami, Mas. Soalnya kalau saya pure di
laundry saja.
Oh, sebenarnya gitu ya.
Oalah. Oh, ada peran suami ternyata ya.
Iya. Di MBG
uangnya berbarengan berarti ya?
Iya. [tertawa]
Uang bersama.
Bukan bersama, Mas. Punya dia aja.
[tertawa] Eh, statusnya bersama.
Iya,
Mbak. Ee saya melihat jenengan berdoa
itu juga luar biasa ketika stereotip
orang perempuan apalagi yang ketika
punya penghasilan itu pasti minimal
menganggap sedikit
rendah oleh suami dan ternyata memang
pendapatan suami lebih lebih rendah
daripada berpap aktivitas usaha
jenengan.
Eh, selama ini sebenarnya apa yang Mbak
Fitria bangun sih sebenarnya dari sisi
value, dari sisi nilai-nilai yang
mungkin melekat di Mbak Fitria.
Kalau saya itu awalnya dulu karena ingin
membantu suami, Mas. Ingin bantu cari
uang gitu loh buat kebutuhan keluarga
gitu. Tapi
iya kurang. Tapi semakin ke sini kok
senang sama kegiatan cari uang kok
[tertawa] senang. Iya
gitu
lah. Kalau tahu kurang kok berani nikah
waktu itu
lah iya ndak tahu [tertawa]
bucin
ampun
sing mau yo mek kuwi. Sing mau yo mek
kuwi timbangane [tertawa] ko ndak nikah
sebelum usaha dinafkahi berapa kalau
boleh tahu mungkin sensitif boleh
dijawab boleh gak?
Mm ya paling dulu itu masih OMR Mas. Woh
ya tinggi, Mbak. Kenapa?
Tapi tanggungannya banyak, Mas. Kan
masih menanggung
apa aja?
Nanggung orang tua toh, Mas. Masih.
Oh,
masih ngasih orang tua. Adiknya kan
masih kuliah juga. Heh,
gitu.
Itu ngedom. Akhir
akhirnya saya ya memutuskan untuk ya wis
tak bantu. Heeh. Buat kebutuhan kita
nanti dipikir bareng-bareng gitu.
Wih baik banget ya. [tertawa]
Kebutuhannya apa selain selain rumah
tangga? Apa Mbak? Kebutuhannya selain
rumah tangga apa? Orang tua.
Iya, orang tua. Terus sama anu apa?
Adiknya kuliah itu. Adiknya mase bukan,
adiknya suami saya itu kan kuliah juga.
Di fasilitasi pendanaan kuliahnya.
Iya.
Untuk bayar apa UKT itu loh, Mas. Itu
yang bayari nanti suami saya. Oh, oke.
Kuliah di mana, Mbak?
Di UIN.
Oh, UIN di sini. UKT kan nak gak murah
tuh.
Iya. 2 T berapa?
Oh, masih murah. Saya kira kalau di
angka di 8 sampai 10 itu ber 6 bulan 2 3
gitu. Tapi
merasa berat enggak sih, Mbak?
Ya awalnya awalnya ya gitu, Mas. Tapi
sekarang wis biasa. [tertawa]
Oh
wis sudah ya
sumber cuannya lebih banyak gitu ya.
Iya.
Heeh.
Oke. Oke. Oke. Oke.
Quality time-nya bareng suami ketika
punya usaha terganggu enggak bareng
keluarga?
Heeh. Kadang hari Minggu itu yo tetap
ditinggal kerja loh, Mas. [tertawa]
Jadi ya jarang jarang quality time.
Ee enak usaha ya karena ada cuannya ya.
[tertawa]
Iya. Heeh.
Mbak jenengan berdua ini kan juga
teman yaitu
giih.
Kalau di kalau di oncam gini ndak sama
sekali ndak ada [tertawa]
ndak ada greget ya
gregetnya gitu. Ee biasanya kalau di
offcam tuh gosipnya apa?
Yang diobrolin apa biasanya Mbak Fitri?
Apa ya Mbak? Skinc, [tertawa]
Mas.
Heeh. Diakan skinc-nya [tertawa]
enggak ada yang cocok ya, Mbak ya?
Oh, gitu.
Piye to, Mbak? Opo toh iki cocok
gitu temanya.
Kok ndak nemplek? [tertawa]
E
muka kok ndak nemplek
yang sering diber justru screen care
bukan lika-liku
ibu lika-liku istri yang aduh kok
abotmen gitu kok beratmen
soalnya Mbak Fitri ndak punya lika-liku
masak
punya makan [tertawa]
punya
punya apa kalau punya coba [tertawa]
rahasia
waduh
ampun ampun [tertawa]
Mbak Mbak Fitri itu memang susah banget
untuk dipancing ya. Harus off cam dulu
baru [tertawa]
aja. Citu.
Aduh. Aduh.
Eh, Mbak Mbak Vinda.
Iya.
Pengin jadi terapis sampai kapan, Mbak?
Nah, itu dia, Mas. Yang juga saya kadang
ini mikir gitu ya.
Ada galaunya ada. Soalnya kan ini
ibaratnya aktivitas fisik ya, sedangkan
kita manusia kan semakin tua fisiknya
semakin menurun
gitu. Jadi ini
ee saya sedang berpikir ikut pelatihan
apaagi gitu kan. Saya alhamdulillah
lumayan rajin ikut pelatihan itu.
Oh.
Jadi ini juga sedang mencari sih saya
ikut pelatihan apaagi ya enaknya gitu.
Hmm. Apa, Mbak, pelatihan yang seru
banyak banget diikuti? Bukan mendalami
ilmu terapisnya mungkin
ya. Ada hubungannya dengan terapis, Mas.
Yan tetap. Heeh. [tertawa]
Tapi kayak ada ilmu baru apa nih saya
ikut,
ada saya pengin tahu ilmu apa gitu saya
ikut gitu.
Berarti pijet bayi body massage
segitu-gitu ya seputar itu se itu. Iya.
pengin nyanyi band-band besar kayak Kayu
putih sama Nakamura. [tertawa]
Amin.
Penginnya punya gitu atau oke mentok di
usia 40 aku sudah punya punya tabungan.
Aku pengin beralih ke usaha yang secara
fisik tidak terlalu
effort banget gitu. H sementara ini sih,
Mas, masih tetap di lingkungan terapis
gini sih.
Cuma nanti mungkin ee ada
apa ada tambahan apa gitu.
Oh, ber hair orang gitu ya. Mulai hari
orang gitu
penginnya gitu insyaallah.
Itu gimana kalau kalau ternyata
pelanggannya lari karena yang pengin
yang dipijit tuh yang pengin Mbak Mbak
Vinda gitu pelanggannya bukan orang
lain. [tertawa]
Iya. sempat mikir gitu, Mas. Tapi ini
apa saya lebih ke mikir aku tuh bisa
enggak ya bekerja sama dengan orang lain
gitu loh maksudnya.
Heeh.
Soalnya ini anu Mas jiwa-jiwa karyawan
ini masih jiwa karyawan belum bisa ini
nanti kalau hire orang gitu.
Heeh.
Diriku ini bisa menjadi leader yang baik
enggak gitu mikirnya malahan.
Oh.
Oke oke oke oke oke.
Tapi yakin ya.
Yakin apa
kalau ke depan bertumbuh usahanya? Tetap
diterapis ya?
Iya tetap diterapis. Semoga aja masih
sampai bisa sampai panjang.
Amin.
Amin. Itu dari tadi duyem terus
[tertawa] gak mau komentar apa-apa gitu.
Pendengar yang baik.
Iya pendengar yang baik. Mbak itu memang
kan
ke sini tuh cuma modal ketawa [tertawa]
nek nemani Mbak Vinda
ya kan modal ketawa sama [tertawa]
nemenin.
Aduh padahal banyak banget yang perlu
dikorek dari mbak-mbak Fitria ini. Cuman
jawabannya pasti rahasia. [tertawa]
Terus gimana coba bagi orang yang pengin
tahu usaha laundri itu
gimana? Nah, terus
sebagai peng dukanya juga sebagai
supplier MBG di tengah ISO yang
tiba-tiba banyak yang keracunan ini
jangan-jangan juga bersumber dari
suppliernya kita dari ikan ayam
[tertawa]
ya takut to Mas sebenere tapi yo dari
situ pendapatane
ee selama
sebenarnya ya ada was-was juga kayak
nanti bayarnya juga gimana kan saya
belum tahu toh prospeknya ke depan
gimana itu sebenarnya yo
takut tapi Yo pi dari situ kok
pendapatan
di tengah isu-isu tiba-tiba dapur tuh
beralih ke sekolah
Heeh. Tiba-tiba terus tutup nak ada
anggaran yang masuk itu katanya ada toh
itu. Aku juga takut sebenarnya.
[tertawa]
Heeh. Banyak yang tutup ya beritanya.
Heeh. Tapi gak pernah sampai kena
kejadian yang belum
keracunan gitu. Belum pernah ya?
Belum sementara belum. Jangan sampai
Mas.
Jangan sampai [tertawa]
jangan sampai. Nah, yang dituntut siapa
ya kira-kira Mbah ya? Dari supplier kah
atau dari penanggung jawabnya dapur ya
gitu-gitu gitu.
Kalau awalnya kan nanti penanggung jawab
dapur terus dapur kan nanti mesti ke
supplier-nya.
Oh tracking gitu ya.
Heeh. Tetap dicari anu.
Iya iya iya. Lebih enak mana, Mbak
ngurusi bisnis supplier MBG atau
launder?
H
kalau misal minta misalkan diminta
memilih satu gitu usaha yang harus
bertahan
yang harus [tertawa]
loh kalau semuanya dapat uang yo gak
apa-apa Mas [tertawa]
uang
kita setuju itu Mbak ya
tapi tiba-tiba kiamat gitu terus
[tertawa] milih salah satu gitu
itu
mil saya yang mana
kalau sing sekirane bisa dilihat itu kok
laundri toh Mas soalnya kan enggak di di
masa ke masa itu tetap tetap jalan.
Kalau laundri itu kayaknya orang kan
tetap
yo repot anu bekerja terus ndak ndak
bisa nyuci ndak kan tetap kayaknya tetap
sampai besok itu tetap jalan kayaknya.
Profit marginnya berapa sih, Mbak? Kan
tipis banget tuh sekilo. Kalau di sini
R.000 di kota besar tuh hampir Rp8.000
sampai Rp9.000 Rp10.000.
Iya. Itu anu Mas yang banyak itu dari
ekpres bisa ngambil untung banyak itu
dari ekpres.
Oh.
Kalau yang reguler memang nipis. Tapi
kalau reguler itu kan setiap e banyak
toh, Mas.
Heeh.
Anu apa kayak ini aku ngantar terus
dibawain lagi gitu terus kayak continue
gitu. Kalau press itu bisa ngambil laba
besar.
Hm. Dari deli 8 juta omset itu
persentase profitnya berapa, Mbak? Yang
didapat
profitnya mungkin sekitar
berapa, ya?
30-an, Mas.
Woh, ya. Ben
30%. He, lumayanlah. Iya. Heeh. Soalnya
kan yang nyuci saya sendiri.
Wow.
Saya sing anu di
Oke, oke oke oke. Siap siap siap.
Di situ bisnis yang jenengan berdua ini
salah satu bisnis yang memanfaatkan
orang males. [tertawa] Iya.
Heeh.
I kan laundri orang males.
Kalau Mbak Vinda mungkin orang capek ya.
Orang capek capek.
Bukan orang malas ya berarti ya.
[tertawa]
Anu Mas yang malas sayanya cuma ambil
satu. Oh iya. [tertawa]
gitu.
Ee ternyata masih secuan itu ya kan
persainnya tuh banyak.
Banyak sebenarnya.
Iya.
Cuma kita yo pintar-pintre anu Mas
ngatur kayak dikasih promo gitu. Lek di
saya kan lima kali laundri nanti
potongan Rp10.000 pokok buat buat promo
gitu loh. Ini yang lagi jalan itu. Terus
layanan antar jemput
juga kan ada sing enggak enggak ada
layanan antar jemput.
Saya ada. Ya. Terus itu tak kasih promo
yang rajin anu masukin laundri itu.
Heeh. Sekilonya berapa, Mbak? Cuci
kering setrika
l.000?
Oh, R.000.
Iya. Di tempat saya R5.000.
Berapa hari? Berapa hari? Anu
tiga.
Ee 3 hari
selesainya 3 hari ya.
Oke. Oke.
Kalau yang ekpres itu 11.000 selesai
sore. Pagi diantar, sore selesai.
Yang 2 jam gitu enggak ada?
Belum ada. [tertawa]
Belum. Belum anu. Belum bisa.
Padahal itu cuannya lebih ke lebih gede,
Mbak kalau bikin
bikin 2 jam.
Soalnya mesinnya yo masih terbatas loh,
Mas.
Oh,
mesin cucinya belum banyak. Itu kan sing
banyak mestine
yang bisa 2 jam itu.
Wih
cuci sendiri ternyata, Mas.
Heeh. Heeh.
Saya kira kalau ada timnya
berapa kilo sehari nyuci?
Sehari bisa sampai wong setelika aja
bisa 50 kok ya, Mas. Berarti lebih
yang nyetelika di tempat saya itu setiap
hari itu segitu
4050-an.
Wow.
Picis kain
anu kilo. Kilo. Kilo. I
kilo.
40 kilo. Wah. Enggak capek [tertawa]
tangannya.
Iya.
Siap siap siap. Hm.
Aduh.
Apa si? Saya kalau laundri mikir, Mbak.
Karena lebih kayaknya lebih capek
setrika,
nyuci. Iya. gitu ya.
Heeh.
Pernah pernah anu enggak sih, Mbak?
Tiba-tiba
bosan [tertawa]
kalau
lelah gitu ya.
Lelah gitu ya pasti itu ya. Iya. Heeh.
Ya itu Mas. Lek lelah gitu ya wis dolan
ke mana gitu. Wis ngeluyur.
Heeh. [tertawa]
Wis berkeliaran ngoten.
Salah satu resiko pebisnis laundri itu
kan biasanya anu, Mbak kalau kalau capek
itu kan pasti Mas ya.
Iya. Tiba-tiba ee kalau bahasa
Indonesianya apa? Katutan tuh.
Katutan celana dalam gitu. [tertawa]
Oh,
Risi enggak tiba-tiba
ya? Iya, Mas. Tapi yo piye [tertawa] ya?
Tetap dicuci, Mas. Tapi kalau
tapi ada harganya.
Ada harganya sendiri saya kasih biar
biak dibaleni neh ngoten. Heeh. Lebih
hati-hati ndak di
memang netizen tuh senangnya memang
bahas seputar omset.
Iya.
Saya itu sebagai interviewer juga
bingung. Nanti kalau dipill omsetnya
tiba-tiba khawatirnya pasti gini. Ah,
tukang pajak.
Iya kan kita belum belum
seanu itu. [tertawa]
Banyak banget yang yang khawatir seputar
itu.
Iya. saya jadi host dan jadi nar jadi di
konten gitu yang kontennya harus mecari
narasumber yang bisa jadi pembicara di
konten kita itu selalu tantangannya itu
pernah juga enggak enggak pernah
disamperin gitu
enggak pernah ya transaksi
kita kan ini ibaratnya masih
butiran ecek-ecek [tertawa]
butiran debu Bu.
Ee tapi kalau di Jakarta itu mungkin
worthed banget ya, Pak ya, dengan
treatment yang kayak gitu. Ee hanya
panggilan menerima panggilan ya.
Iya. Homecare.
Homecare aja bukan yang orang
yang nyamperin Mbak Vinda gitu.
Sementara belum, Mas. Kalau homecare itu
anu, Mas, kelebihannya kalau misal kita
janjian jam 09.00 dan pagi gitu ya. Itu
kita ee otomasi kan berangkatnya 0.30
gitu. Jadi
kita bisa mulainya jam 09.00 pagi gitu
jam 09.00 tet udah udah sampai sana udah
ready.
Kalau kita
nunggu pelanggan datang misal dulu
pernah kan Mas awal-awal gitu saya
nerima di rumah
He.
Misalnya janjian jam 09.00 itu datangnya
sampai jam 10.30
gitu. Dan dulu saya masih rajin. Jadi
untuk jadwal yang kedua tuh saya kan
jadi enggak enak. Iya. Jadi molor.
Jadi sekarang lebih enjoy sementara ini
home care saja gitu.
Sak karepe dewe. Kalau kata-kata orang
Jawa seenaknya sendiri.
Mungkin ini ya Mas ee gawan bayinya itu.
Jadi kalau misal ada yang tepat waktu,
ada yang molor gitu mungkin ya
dianggap habit soalnya Mbak di Indonesia
itu molor ya. Tuhet [tertawa]
ngaret itu kayak mak dianggap biasa.
Heeh.
Di R juta itu, Mbak.
Heeh.
Pembagiannya kayak apa? Udah punya
pegawai, sudah punya mesin yang harus
dirawat.
Iya.
Terus omset segitu operasional dan lain
sebagainya.
Itu cukup untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
Soalnya saya kalau servis enggak bayar
loh, Mas. [tertawa]
Kan suami saya bisa.
Wah,
kelebihannya itu.
Iya.
G.
Heeh. Heeh. Padahal biaya servis lumayan
ya. Biaya servis kan mahal tapi
enggak ngeluarin buat servis itu. Terus
kalau gaji itu saya hitungane borongan.
Maksudnya gimana? Itu borongan
oleh-olehan
bahasane apa?
Contohnya itu
tukang setelika itu dapat hari ini dapat
berapa kilo? He.
Terus saya saya kalikan
itu sehari itu sehari berapa dapat
berapa itu dari pendapatannya dianya
telika itu satu hari berapa kilo?
Oh. Oh. Berarti ee pegawainya itu digaji
by dia dapat berapa kilo untuk?
Iya. Iya. Gitu.
Sekilonya berapa?
Sekilonya 1.000. 1.200 sekarang.
1200.
[tertawa] kalkulator
Mbak. Saya khawatir kalau 12 menggaji
orang 12.200 200 itu dihujat aja.
Oh iya.
Tapi kan kali faktor kali. Heeh.
1200* 10 aja mah sudah 12.000.
Iya. Itu tadi bilangnya 45 sampai 50
kilo kan sehari.
Iya. Harus 100 kilo untuk dapat
untuk dapat penghasilannya Mbak Vinda
sehari. [tertawa]
Amin ya Allah.
Bukan sehari sejam.
Masyaallah. Iya benar. Iya benar.
Heeh. Heeh. [tertawa]
Loh, saya dapatnya yo dikit toh, Mas.
Nyedom ya, Mbak?
Heeh. Ngedom.
Saya terus terang enggak tega sebenarnya
apa [tertawa]
tapi untuk menggaji segitu.
Tapi ya mau gimana lagi orangnya mau
mungkin ya?
Mau di Tulungagung loh, Mas. Di
Tulungagung. Heeh.
Heeh. Itu nanti dia kalau misal repot
gitu datangnya siang kok, Mas. Nak nak
pagi misal ada keperluan ngantar anaknya
apa rapat di sekolahan anake nanti
datangnya siang.
Oh, fleksibel berarti. Heeh.
Iya. Iya. Enak. [tertawa]
Iya soalnya borongan ya. Jadi dia mau
datang jam berapa terserah.
Iya. Iya. Oke. Mmm. Terakhir Mbak ya.
Closing statement. sebagai istri yang
punya penghasilan lebih daripada suami.
Apa yang pengin pesan mungkin yang
pengin Mbak Fitria, Mbak Vinda sampaikan
kepada orang yang mungkin
di Jakarta itu banyak banget, Mbak istri
itu yang penghasilannya lebih banyak
dari suami.
Oh, iya.
Jatuhnya pun juga akhirnya divorce dan
lain sebagainya. Tapi Mbak Fitria, Mbak
Vinda ini memposisikan
tetap bisa menjalankan perannya sebagai
istri yang baik sesuai tuntunan Kanjeng
Nabi yang tentunya pastinya. Apa yang
pengin jenengan pesankan, Mbak?
Untuk istri-istri yang bekerja seperti
saya ee kalau menurut saya hendaknya
harus menempatkan suami itu tetap
sebagai kepala keluarga.
Heeh. kita sebagai pendamping istilahnya
di sampingnya atau di belakangnya saja
gitu. Tetap hormatlah gitu.
Sesederhana itu pesannya ya.
Iya, sederhana tapi mungkin tidak semua
bisa [tertawa]
dan situasi itu hormat terhadap suami
sudah Mbak Vinda jalankan
bertahun-tahun.
Kalau menurut saya di PUV saya harusnya
sudah sih, Mas.
Kalau kayak contohnya dalam kehidupan
sehari-hari ya kita itu tadi
saya beli apa izin saya ke mana izin
makannya disiapin tetap.
Oh
iya. Memuji suami itu juga penting tetap
gitu. Oh,
yang dilihat tuh contohnya mencontoh
siapa sih Mbak Vinda ini sebagai
kok bisa punya
greget menj tetap menjadi istri yang
baik gitu?
Insyaallah ibu sih.
Oh, ibu gitu.
Iya, ibu gitu tiap hari bikinin kopi
gitu tetap tetap menyiapkan makannya
terus walaupun di rumah tetap ya paling
gak tetap pakai lipstik gitu-gitulah
yang hal simpel tapi menurut saya
penting sih.
Heeh. He
gitu. Kok ada contohnya ya? Masyaallah.
Yang gak ujug-ujug begitu karena
takut kekerasan [tertawa]
enggak? Kudu mal harus nurut gitu enggak
ya?
Alhamdulillah gak sih. [tertawa]
Baik dia. Baik suaminya.
Masyaallah. Amin.
Siap Mbak Fitria. Gitu juga.
Iya. Tetap pokoknya semangat kita, Mas.
pendapatan kita lebih banyak tapi kita
tetap harus hormat
sama suami. Kodratnya kita kan tetap di
bawahnya suami gitu.
Enggak boleh kau kualat, Mas. [tertawa]
Apa jangan-jangan pernah kualat?
[tertawa]
Palingak
sampai
I ya. Mbak Vinda,
Mbak Fitria, terima kasih sharingnya
sebagai ibu rumah tangga dan istri.
Eh, next kita ngobrol lagi di luar ini.
Semoga apa yang menjadi pesan berdua
Mbak Fitria, Mbak Vinda sampai ke para
views dan netizen.
Terima kasih rekan-rekan.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Ah.