Transcript
CJwZbvZu-BA • Ketika Agama Dipisahkan dari Akal, Bencana Mulai Menggulung Umat! Habib Ali Baqir Assegaf
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0653_CJwZbvZu-BA.txt
Kind: captions
Language: id
Semua sepakat bahwasanya ilmu Islam yang
paling mulia [musik] dan paling tinggi
derajatnya di antara ilmu-ilmu Islam
yang lain adalah ilmu kalam, bukan
tafsir. [musik]
Agar kamu tahu siapa sih Allah itu,
siapa sih pencipta itu. Ini adalah akar
daripada segala akar [musik] ilmu agama
yang banyak dilupakan. Dan saya ndak
setuju kita itu di Indonesia itu selalu
sering saya mau gandolan sarunge kiai,
saya mau gandolan surbane Habib. Itu
kata-kata ada baik dan ada buruknya.
Karena itu ketika ada orang menolak
logik secara otomatis dia menolak Islam.
Tanpa adanya akal Islam [musik] tidak
akan bisa dibuktikan kebenarannya.
Pegal ketika Indonesia ini ketika
disebutkan siapa ikon akal sehat, kita
semua akan selalu menjawab Rogi Gerung.
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi taala
wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu
wasalam ala rasulillah wa ala alihi
wasohbihi waman walah. Amma ba'd. Nama
saya itu banyak sebenarnya. [tertawa]
Kalau kita melihat daripada aspek KTP
memang nama saya itu Zainal Abidin. Akan
tetapi orang-orang banyak mengenal saya
sekarang dengan nama Ali Bagir Asgaf.
Dan itu sejarahnya panjang. Jadi ketika
saya mondok di Darut Tauhid Malang, saya
pernah mondok di Malang 6 tahun [musik]
di bawah asuhan Ustaz Syekh Abdullah
Awat Abdun. 6 tahun SMP, SMP saya di
situ. Pada saat itu ada yang namanya
absen salat. Absen salatnya itu salah
nulis Ali Zainal [musik] Abidin. Jadi
yang aslinya Zainal Abidin menjadi Ali
Zainal Abidin. Kemudian ada dalam kurung
kata-kata ta yang artinya itu Tulung
Agung. Dari situ orang-orang itu
memanggil saya Ali T Ali Tulungagung.
Kemudian nama itu Ali Zainal Abidin
dipakai sampai saya di sekolah-sekolah
berikutnya itu dipakai dipang itu
dipanggil Ali. Kemudian ketika saya S3,
saya banyak diundang untuk ceramah,
untuk seminar. Akhirnya perlu nama yang
untuk bagi orang itu mengenalnya.
Akhirnya kita sepakat dengan nama Ali
[musik] Bagir Asgaf. Dan sampai sekarang
kalau jenengan melihat nama-nama saya
yang ada di YouTube, Facebook, dan di
Google Search itu yang keluar Ali Bag
Aseggaf bukan Zainal Abidin. Itu karena
terbina atas Ali Zainal Abidin tadi itu
dipanggil Alinya. Saat ini saya full
time saya mengajar. Saya mengajar santri
yang ada di rumah saya sekitar berjumlah
alhamdulillah sudah 10 orang. Dan juga
saya sering seminar-seminar di
pondok-pondok berkaitan tentang ilmu
logika Islam dan ilmu logika secara
umum. critical thinking
alamatnya itu di Jalan Kampung Sidorejo,
di Desa Sidorejo di Tulungagung juga.
Itu di tengah sawah, Mas. Jadi dikatakan
itu mewah sekali, mepet sawah sekali
dekatnya kali gitu mepet saya sekali
dekatnya Kali. Saya sekarang 37 tahun
kira-kira saya memulai kelas 1 SMP.
Sebelumnya saya TPA tipis-tipis di
Tulungagung sini, yakni kayak madin sore
gitu untuk belajar membaca Al-Qur'an dan
menulis. Setelah itu mulai lulus SD
yakni 1 SMP. Saya sudah mulai mondok SMP
SMA di Pondok Pesantren Darut Tauhid
Malang. Sampai 6 tahun lulus SMA. Saya
belajar di Darul Mustofa kira-kira 1
tahun untuk jenjang pembekalan di situ.
Setelah itu saya meneruskan pengajian
saya di Al-Ahqov University Hadr
Muttarim Yaman. Kemudian saya juga kelas
di namanya Ribat Asyatiri. Di sana saya
belajar khusus tentang fikih Syafi'i
selama 5 tahun. Dan saya katakan ribat
syatiri ini tempat pembelajaran fikih
Syafi'i paling bagus satu dunia menurut
saya. Yakni saya di sana belajar selama
5 tahun dan alhamdulillah lulus. Jadi
saya lulus di Rubat Tarim dan juga lulus
di Alqofov. Saya mempunyai dua-dua
ijazah daripada tempat itu. Setelah itu
saya mendapat beasiswa alhamdulillah
dari tokoh terkenal di Yaman yang sering
ke Indonesia juga Habib Umar bin Hafid
yang datang beberapa minggu yang lalu
sempat dengan Did Cross Buer. Saya
mendapat beasiswa beliau untuk kuliah di
Wall Islamic Science Education di Jordan
Aman untuk master. Kemudian setelah di
situ saya berjumpa dengan guru kedua
saya Syekh Said Abdul Latifoda di dalam
bidang logika Islam dan ilmu logika pada
umumnya dan ilmu filsafat ya. Di situ
saya menekuni bidang-bidang itu mulai
awal sampai akhir ya. Setelah itu saya
mendapat beasiswa untuk kedua kalinya
daripada muridnya Habib Umar bin Hafid
namanya Habib Ali bin Abdurrahman Al
Jufri beberapa kali juga ke Indonesia
untuk menempuh PhD S3 di Malaysia di
universitas namanya International
Islamic University of Malaysia atau IAUM
di singkat UIA Universitas Islam
Antarbangsa Malaysia. Semua S1, S2, S3
fikih. fikih dan ushul fikih. Tapi tidak
tahu kenapa akhir-akhir ini karena
mungkin barokahnya guru saya, Syekh Said
Foda, 70% pengajian saya berkaitan
tentang filsafat Islam, logika dan
logika Islam. Ya, ini berkaitan tentang
itu dan ilmu ushul fikih. Tentang
ilmu-ilmu yang dikatakan ilmu-ilmu
aqliah, ilmu logik Islam. Ilmu Islam itu
banyak. Akan tetapi ilmu yang paling
kuat dan paling mulia itu tentang ilmu
kalam. Semua sepakat bahwasanya ilmu
Islam yang paling mulia dan paling
tinggi derajatnya di antara ilmu-ilmu
Islam yang lain adalah ilmu kalam. Bukan
tafsir, bukan hadis, bukan fikih, tapi
ilmu kalam. Kenapa? Karena dia berbicara
tentang Tuhan, Rasul dan hari kiamat.
Seseorang pasti ingin untuk mengetahui
siapa sih pencipta saya. Untuk apa saya
di dunia, kenapa Tuhan itu harus esa?
Kenapa kok Tuhan itu mengirim nabi untuk
memberitahu kita? Kenapa kok ada surga?
Kenapa kok kita disuruh untuk salat?
Saya rasa itu adalah pertanyaan yang
selalu terngiang di otak-otak kita
manusia di dunia ini. Dan tidak sedikit
ketika tidak mendapatkan jawaban mereka
itu mengakhiri hidupnya. Dan saya
terpanggil untuk mempelajari tentang itu
yakni pertanyaan-pertanyaan besar pada
dunia ini terkait manusia dan asalmuasal
dunia ini dan tentang ketuhanan teologi
dan itu adalah akar daripada segala ilmu
Islam. Dan ketika saya mempelajari ilmu
itu, rasa penasaran saya terjawab di ini
ilmu yang saya cari sebenarnya.
Bahkan di dalam Islam kita tidak boleh
hanya wis kowe yakino saja. Itu tidak
bisa diterima. Akan tetapi keyakinan
harus berdasarkan dalil dengan arti apa
yang Anda yakini itu harus benar. Tidak
cukup hanya meyakini saja. Islam
mempunyai satu ilmu yang berkaitan
tentang hal ini. Yakni membuktikan
bahwasanya apa yang kita yakini itu
benar. Tanpa adanya itu, teologi Islam
tidak beda dengan teologi-teologi
semacam selain Islam yang hanya
mengandalkan rasa cinta. Wis, kamu
yakini saja. Gak ada di dalam Islam
tidak mengenal keyakinan tanpa dalil.
[musik] Ketika Anda meyakini Tuhan tanpa
adanya dalil, Anda berdosa. Sebagian
ulama mengatakan lebih ekstrem, [musik]
iman Anda tidak diterima. Kenapa? Karena
perintah Allah untuk mengetahuinya
melewati dalil. Bukan hanya untuk
meyakininya, tapi ketahuilah aku. Allah
menginginkan kita untuk mengetahuinya,
untuk mencari tahu tentangnya.
Jika kamu tidak mencari tahu tentang
aku, sedangkan kamu aku beri akal, ini
ada semacam mubadir, makan gaji buta.
Aku akan menuntutmu di hari kiamat.
[musik]
Karena kamu aku beri instrumen, aku beri
modal, tapi tidak kamu gunakan secara
benar. Di sini ini yang sebenarnya harus
kita katakan kepada umat-umat Islam
bahwasanya kalian diwajibkan di awal
perbuatan kalian untuk taat kepada
Allah. Bukan salat, bukan zakat, bukan
berpikir cari tahu tentang Allah itu
siapa. Semua ulama sepakat bahwasanya
kewajiban pertama manusia mencari tahu
tentang Tuhannya, mengenal Tuhannya.
Karena sebelum Anda salat, kalau Anda
tidak tahu siapa yang Anda sembah,
[musik] salat Anda tidak akan diterima.
Karena itu para ulama Islam sepakat
semuanya bahwasanya kewajiban pertama
seseorang ketika dia ingin menjadi
seorang muslim cari tahu siapa Tuhanmu.
Agar kamu tahu siapa yang kamu sembah
agar kamu tahu siapa sih Allah itu,
siapa sih pencipta itu. Ini adalah akar
daripada segala akar ilmu agama yang
banyak dilupakan. Dan saya ndak setuju
kita itu di Indonesia itu selalu sering
saya mau gandolan sarunge kiai, saya mau
gandolan surbane Habib. Itu kata-kata
ada baik dan ada buruknya. Buruknya
ketika di dalam perkara-perkara yang
berkaitan tentang hal-hal yang
universal, hal-hal teologi, tidak boleh
ikut kepada gurunya. Taklid tidak boleh
taklid di dalam hal-hal yang berkaitan
tentang teologi. Boleh taklid di dalam
hal-hal yang berkaitan tentang amaliah
tahlil. Cara-cara salat silakan taklid.
Tapi tentang mengetahui Tuhan tidak
boleh taklid. Anda harus mengetahui dan
menggunakan akal Anda. Karena ini adalah
modal yang diberikan oleh Allah dan
harus ada rasa susah untuk mencarinya.
Imam Bukhari
di Imam Bukhari.
Banyak orang itu salah, Ustaz. Ketika
memahami ulama. Dikira ulama itu membuat
orang tenang. Saya tidak setuju dengan
stigma semacam itu. Ulama itu membuat
orang resah dengan arti, "Jangan-jangan
aku ini masuk neraka. Jangan-jangan aku
ini salah." Nabi Muhammad pada saat itu
membuat resah. Membuat resah Abu Jahal,
membuat resah Abu Lahab. Orang-orang
kufar Quraisy dibuat resah.
Jangan-jangan Lat dan Uzaqi salah.
Jangan-jangan Muhammad, Nabi Muhammad
ini yang benar. Jadi mereka pun ketika
tidur itu gak tenang. Kenapa? Ketika
Anda itu resah, otak Anda mulai
bereaksi. Tapi kalau Anda tenang, otak
Anda tidak akan bereaksi. Keresahan yang
memicu pergulatan batin. Keresahan yang
memicu pertikaian otak. Pada saat itu
secara otomatis akal otak Anda akan
menuntun Anda ke jalan yang benar. Dan
seorang nabi diutus bukan hanya
menjelaskan perkara agama, tapi juga
menjelaskan bagaimana cara berpikir yang
benar. Memicu Anda untuk berpikir.
Berpikirnya Nabi Muhammad dulu ketika
banyak orang-orang ketika ada expo
namanya Uqad, pasarnya tahunan gitu di
Arab. Semua orang Arab datang. Nabi
Muhammad sudah standby di Ukat itu
menunggu para kabilah-kabilah. Kamu dari
kabilah mana? Oh, saya Kotofan. Sik
sebelum kamu lihat-lihat di Ukat, aku
rungokno. Namaku Muhammad bin Abdillah.
Ana min Quraisy. Ana nabi wa rasul. Oh,
kowe nabi. Iya. Sik sik dengarkan saya
saja. Dengarkan. Nabi Muhammad berkata
sesuatu memicu orang itu untuk berpikir.
Wis 1/4 jam 20 menit selesai monggo
silakan. Akhirnya orang-orang itu ketika
ndelok-delok barang tidak bisa untuk
terlepas daripada pikirannya apa yang
dikatakan oleh Nabi Muhammad. Selalu
resah. Itu tugas daripada ulama. Hal-hal
semacam ini yang saya rasa membuat
logika itu dijauhi. Pertanyaan semacam
ini yang selalu menyudutkan atau
mengkerdilkan logika ini. Ketika kita
mengatakan logika, otak kita selalu oh
ini Barat. Logika, oh ini liberal.
Padahal logika ini adalah bagaimana cara
berpikir manusia. Tidak ada urusannya
dengan liberal, tidak ada urusannya
dengan dengan Barat. Semua manusia pasti
mempunyai yang namanya logika. Dan
logika adalah akar daripada Islam.
Dengan arti di dalam Islam ada dua akar
yang sangat penting. Namanya al-aqal
wqel. Akal itu adalah logika. Naqal itu
adalah kitab wasunah. Dua hal ini
menjadi landasan yang paling penting
daripada Islam dan dua hal ini adalah
akar daripada Islam. Apakah Anda tahu?
Tidak ada satuun di dalam Al-Qur'an yang
mengejek logika. Gak ada. Tidak ada
satuun ayat. Karena itu saya tuh pegal
ketika ada orang itu mengatakan Habib
Ali Bakir ini kok membuat logika terus
kok liberal. Jadi kayak Islam itu
seperti liberal. Padahal di dalam
Al-Qur'an tidak ada satu ayat pun yang
meremehkan akal. Setiap ada orang tidak
beriman Allah itu koy tanya, "Afala
takilun?" Loh, Kif kamu bagaimana kok
kamu tidak beriman? Bukankah kamu aku
beri akal? Afala takilun. Apakah kamu
tidak menggunakan akalmu untuk mencari
tahu tentang aku? Karena akalmu dan
dunia ini sudah aku susun. Kalau kamu
menggunakan akalmu dengan benar,
maka kamu akan sampai kepadaku. Itu
secara otomatis. Jadi tidak ada akal
bertentangan dengan Islam. Islam
berdasarkan di antara dasar Islam adalah
akal. Apakah jenengan tahu jika ada
dalil Al-Qur'an bertentangan dengan akal
dikatakan zir Al-Qur'an zahir daripada
ayat Al-Qur'an bertentangan dengan akal.
Kira-kira yang ditolak apa? Di dalam
Islam dalam ushul fikih yang ditolak,
yang ditakwilkan adalah ayatnya bukan
akalnya. Ini adalah alif ba ta-nya ilmu
ushul fikih. Karena itu ketika ada orang
menolak logik secara otomatis dia
menolak Islam. Tanpa adanya akal Islam
tidak akan bisa dibuktikan kebenarannya.
Ini yang ingin saya sampaikan kepada
para khalayak muslimin bahwasanya akal
ini sesuatu yang sangat agung. Dan saya
pegal ketika Indonesia ini ketika
disebutkan siapa ikon akal sehat kita
semua akan selalu menjawab rogi gerung.
Saya tuh pegal loh. Orang ini kan bukan
muslim. Kita ini akal sehat. Kita inilah
orang muslim yang lebih berhak dengan
akal sehat. Ulama-ulama aqliun,
manatiqoh, mutakalimun, mereka itu
adalah gunung daripada logika. Mereka
adalah ikon-ikon daripada logika. Nabi
datang bukan hanya untuk mengajarkan
ilmu agama. Nabi datang untuk
mengajarkan logik pikir sebagai manusia.
Aku datang untuk menjadikanmu manusia
dan untuk menjadikanmu saleh. Jadi
ketika ada orang itu meremehkan akal,
mengatakan akal ini adalah akal barat.
Oke. Maknanya orang Islam gak punya akal
ya. Ni orang Islam ada akal. Mereka jauh
lebih hebat daripada orang-orang Barat.
Apa namanya? E keyakinan saya yakni
bahkan guru saya. Sid Foda. Jangan kamu
bandingkan para filosuf Barat seperti
Albin Platingga, Emmanuel Khan dengan
ulama-ulama kita, Arrozi, Ghazali itu
semua itu jauh lebih hebat daripada
ulama-ulama barat. Ini yang ingin saya
bangkitkan lagi daripada para santri
bahwasanya kita mempunyai sandaran yang
lebih kuat dengan akal mereka, dengan
logik mereka.
Untuk urusan logistik mungkin ee
sekarang ini saya sedang ada pesantren,
pesantren untuk mengkader para
kader-kader di dalam ilmu logika Islam
ini. Karena sampai sekarang di Indonesia
kan sangat minim sekali. Jangankan di
Indonesia, di Nusantara. Ketika saya
mengatakan Nusantara, Indonesia,
Malaysia, Thailand, dan Singapura dan
Brunei juga ya. Ini [musik] sangat
sedikit orang yang mengetahui logika
Islam dan sangat sedikit orang yang
mengetahui mantik. Karena itu saya
sekarang membuat sebuah program di rumah
saya namanya program pengkaderan
mutakalimin. Pengkaderan orang-orang
untuk menjadi seorang mutakalim.
Mutakalim adalah ahli logika Islam,
[musik] ahli filsafat Islam. Dan
sekarang sudah ada sekitar 10 santri
yang mengikuti program ini secara
offline dan yang online ada beberapa
karena sekarang logistik santri semuanya
masih ditanggung oleh saya dan keluarga
saya murni belum ada sumbangan daripada
siapapun dan saya anggap ini sebagai
perjuangan [musik] karena semua pasti
ada perjuangannya tidak ada yang mudah
tidak ada kalau berjuang dalam Islam
kemudian mudah saya kira jalannya salah
itu [tertawa] jalannya apa namanya
jalannya salah karena Nabi saja saya
berjuang tidak mudah [musik] dan juga
daripada aspek untuk lebih mengenalkan
lagi dengan share, [musik] subscribe,
dan ee video-video berkaitan tentang
logika Islam agar kita tahu kita
mempunyai ilmu yang jauh lebih kuat
daripada filsafat. Agar ketika para
santri ingin menjadi seorang [musik]
ahli logika, tidak belajar filsafat
Barat, tapi belajar filsafat Islam.
Kenapa mereka belajar filsafat ini?
Karena filsafat Islam tidak disuguhkan
dengan baik. [musik] Ketika Anda di
dalam satu restoran, Anda akan memilih
apa yang di dalam menunya itu. Di dalam
menu tidak ada, Anda tidak akan
memilihnya. Karena itu saya ingin
[musik] memberikan ilmu filsafat Islam
sebagai alternatif menu bagi orang ingin
belajar akar daripada Islam, ingin
belajar filsafat daripada Islam, ilmu
yang jauh lebih kuat daripada filsafat
Barat. Cuma kita memerlukan branding
yang lebih bagus. Sekarang ini di
Indonesia [musik] kita bukan ada semacam
penyakit akidah. Saya rasa kita ada
pandemik akidah. Anda lihat beberapa
bulan belakangan ini yang viral apa?
Ustaz-ustaz yang bermasalah, aneh-aneh.
Lihat aja sebagai-sebagai contoh yang
tahu bahasa Suryani lah yang langsung
ngobrol dengan Allah. Beberapa tahun
yang lalu ada orang yang Ramadannya 5
hari sebelum waktunya pemerintah. Ketika
ditanya, "Kenapa?"
Saya langsung telepon Allah bahwasanya
hari ini sudah Ramadan. Lihat kata-kata
telepon Allah ini zahirnya [musik]
mungkin jenengan ketawa, akan tetapi itu
terbina atas akar akidah yang sangat
dalam sekali. [musik]
Apakah kita sebagai seorang manusia
langsung bisa berkomunikasi dengan Allah
tanpa perantara? Apakah bisa? Itu semua
dipelajari dalam akidah-akidah [musik]
ahli sunah. Terutama kita ini di negara
yang mayoritas itu ahli sunah semua.
[musik]
Tapi kita kekurangan pengajar yang
mengajarkan tentang teologi ahli sunah
itu apa. Ketika ditanyakan [musik]
ahli sunah itu apa? Yang maulidan, yang
tahlilan, yang istigha. Ini dibilang
tepat ya tepat, tidak tepat ya tidak
tepat. Karena saya mempunyai beberapa
teman yang notabene itu Syiah. Mereka
juga maulidan tapi ala Syiah. Tahlilan
ya tapi ala Syiah. Jadi [musik] tidak
mesti yang tahlilan itu ahli sunah. Akan
tetapi ahli sunah mempunyai [musik]
teologi Aswaja mempunyai teologi ini
yang mesti kita jelaskan dan masyarakat
sangat-sangat memerlukannya. Dan ketika
mereka memerlukannya [musik] mereka
pasti siap. Jangankan masyarakat pada
zaman dahulu yang mempelajari teologi
ini, orang-orang tua, anak-anak kecil
mempelajarinya, Ustaz. Jadi ini bukan
pertanyaannya bukan siap atau tidak.
Sampai mana mereka perlu akidah ahli
sunah pada zaman ini sebagai benteng?
Sangat perlu sekali. Sebuah keniscayaan
itu bukan pilihan.
Ee soal ee sudah terima ya. Bisa
mempelajari
yang ada di lembaran itu pasti ya. Oh.
Gimana supaya senang untuk belajar dan
kenal? Oh, ternyata
itu kalau sebagai saya sebagai seorang
ustaz dan pakar di dalam ilmu-ilmu ini
ya saya rasa itu dipupuk mulai kecil.
Tapi untuk orang awam harus diberitahu
bahwasanya ini kewajiban Anda sebagai
orang awam. Apa yang Anda hidup ini
bukan akhir tapi ini awal daripada
segalanya. Diberi paham itu ya. Dan
mudah kok mudah pelatihan akidah itu
sangat mudah sekali. Sed katakan saya
pernah mengajarkan akidah 1 hari saja
empat kali pertemuan selesai semua. Maka
Anda sudah menyelesaikan kewajiban yang
wajib Anda ketahui sebagai seorang
muslim tentang ilmu akidah, tentang
filsafat Islam. Selesai masalah. Sebelum
itu Anda akan terus berdosa. Istilahnya
ibarat dosa itu semakin besar besar
besar besar besar besar besar. Ya,
begitu kalau Anda tunda, tunda, tunda,
tunda, tunda, tunda. Dan seorang ustaz
harus suf ustaz tidak wajib loh ya untuk
memohon-mohon orang untuk ayo kita tak
ajar gak gak gak wajib. Seorang ustaz
hanya mendeklarasikan dirinya, saya
adalah ustaz dan saya bisa untuk
mengajar ilmu-ilmu ini. Setelah itu
kalian harus mencari ustaz karena itu
yang diperintahkan oleh Allah. Fas'alu
ahlik intuntum la tamun. Kalian yang
tidak tahu disuruh bertanya kepada orang
yang tahu. Bukan orang yang tahu mencari
tahu yang tidak tahu. Bukan itu. Kalau
yang tahu mencari tahu yang tidak tahu
kemudian dia tidak mencari berdosa.
Kalau ada orang yang tidak tahu ustaznya
itu berdosa, yo kasihan nanti ustaz
banyak masuk neraka. Ust. [tertawa]
Saya mempunyai guru yang namanya Habib
Abdurrahman bin Abdullah Asgaf. Sekarang
beliau menjadi dekan fikih dan usul
fikih di dalam atau kepala bagian fikih
dan usul fikih di Alakov University.
Beliau yang merekomendasikan saya kepada
Habib Umar. Jadi dengan rekomendasi
daripada beliau ini juga yang membuat
saya bisa mendapatkan beasiswa. Itu
sebab pertama. Sebab kedua,
alhamdulillah saya berprestasi ya. Saya
di Alqov saya lulusan terbaik pada masa
itu dengan IPK-nya itu pada saat itu
dari lima saya mendapat 4,71
dan saya mengalahkan hampir semua
mahasiswa Arab pada saat itu yakni dan
begitu pula di Rubah Tarim pun saya
selalu mendapat juara pada saat itu.
Jadi prestasi ini juga yang melatar
belakangi saya bisa mendapatkan beasiswa
itu. Nomor dua. Tapi nomor satu dukungan
daripada guru saya Ustaz Abdurrahman
Aseggaf untuk menyampaikan prestasi ini
kepada Habib PAR bahwasanya ada satu
pelajar yang berprestasi tapi pada saat
itu belum punya biaya untuk meneruskan
S2. Tolong dibantu. Dan Habib Umar
masyaallah perhatiannya dengan para
penuntut ilmu sangat besar sekali.
Ketika dulu saya awal-awal menuntut ilmu
tahun 2006,
pada saat itu dengan keterbatasan biaya
ibu saya itu menjual emas untuk saya apa
namanya? perhiasan untuk saya itu
berangkat ke Hadrumut pada saat itu.
Akan tetapi keterbatasan itu yang
membuat kita itu semakin semangat dan
saya kadang kala saya itu iri dengan
teman-teman saya yang tidak mempunyai
keterbatasan itu ya. Akan tetapi ya
memang pasti setiap nikmat ada yang
sedikit yang diambil ketika saya tidak
mempunyai biaya pada saat itu. Tapi
semangat saya membara. Teman saya yang
mempunyai biaya semangatnya kurang
membara. Akan tetapi ulama yang hakiki
yang bagi saya itu bisa untuk mencapai
level ulama yang sangat tinggi adalah
orang yang mempunyai keduanya biaya dan
upaya dan semangat. Bayangkan pada saat
itu ada orang yang mempunyai biaya yang
sangat hebat sekali dan semangat yang
sangat kuat sekali dan dia bisa menembus
para ulama-ulama besar dan belajar
dengan mereka dengan biayanya. Ya, nih.
Karena belajar dengan ulama itu juga
tidak murah biaya tinggalnya, biaya
taksinya. Dulu saya ketika sekali
belajar di Jordan itu dengan ulama, saya
masih ingat dengan mufti Jordan yang
sekarang, Syekh Ahmad Alhanat. Sekali
saya pergi untuk satu kelas Rp200.000
untuk biaya apa? Transportasi saja
sekali kelas. Dan itu akan terulang
dalam 1 minggu dua kali, [musik] dalam 1
bulan 8 kali dikali 200 sudah 1,6 juta
satu kelas ada sekitar dua atau tiga
kelas yang lain lagi semacam itu. Dan
sebenarnya masih banyak yang lagi cuma
saya tidak mampu karena memang
keterbatasan apa biaya. Saya pikir
bagaimana ketika ada orang diberi dana
unlimited di dalam menuntut ilmu dan
semangat yang membara dalam menuntut
ilmu pasti pada satu dekan menjadi
seorang ulama nasional yang tak
tertandingi dan ditulis dalam sejarah
Indonesia. Kalau memang mau nyantri
dengan hadir ya harus ke sini. Kalau dia
nyantri di tempat saya, dia bisa
mengikuti semua kelas saya secara
offline dan gratis. Hanya perlu membayar
makan dan listrik saja. Akan tetapi
belajar-belajar tinggal semuanya apa
namanya? semuanya free, hanya makan dan
listrik saja. Tinggal semuanya semuanya
free. Belajar juga semuanya free saja.
Dan kalau memang mau di sini saya harap
sudah lulus SMA untuk sementara ini.
Karena di tempat saya ini
santri-santrinya sudah bisa baca kitab
mayoritas dan banyak yang lulusan luar
negeri. Ada lulusan Alazar, lulusan
Alahqov, lulusan Sudar, lulusan Yordan.
Kalau yang online ada juga. Akan tetapi
ketika online karena mudah online itu
akan saya persusah daripada aspek yang
lain ini daripada aspek biaya. Karena
kalau yang online itu juga digratiskan,
ya semua kan apa namanya online tidak
ada yang mau tatap muka. Karena saya
merasa menuntut ilmu cara online itu
darurat. Harus ada yang namanya apa?
Mulazamah terus dengan guru. Itu yang
akan mendidik kejiwaan murid. Kalau dia
itu online biasanya itu kurang untuk
apa? perhatiannya kurang. Karena itu
saya tekankan, saya tekan di dalam aspek
yang lain agar dia perhatian. Saya minta
biaya sekedarnya sebagai dalil dan bukti
bahwasanya kamu akan komitmen dengan
ilmu saya. Bukan cuma kos-kosan
sakarepmu teko sak karepmu, enggak teko
sakarepmu. Saya tidak suka itu ketika
menuntut ilmu. Menuntut ilmu adalah
ibarat daripada konsistensi yang [musik]
berkelanjutan.
Terima kasih. Saya sebagai Ali Bagir
Asgaf. Anda boleh memanggil saya Habib
Ali Bagir Aseggaf atau Dr. Ali Bagir
Asgaf. Saya tinggal di Tulungagung, Desa
Sidojo, Sedayu, Kauman. Dan saya
mengucapkan terima kasih atas kesempatan
ini terutama daripada tim pecah telur.
Semoga hal ini dijadikan kebaikan di
timbangan kelak pada hari kiamat. Dan
semoga apa yang kita inginkan di sini
dikabulkan oleh Allah dijadikan hujatun
lana la alaina yaumalqiamah. Dan semoga
apa yang kita inginkan dikabulkan oleh
Allah dan dijadikan hal ini sebagai
dalil bahwasanya kita ini cinta kepada
Rasul sallallahu alaihi wasallam. Amin.
Amin ya rabbal alamin. Wallahul muwafi
thuaikum [musik]
warahmatullahi taala wabarakatuh.