File TXT tidak ditemukan.
Transcript
iMu7L9M9No0 • Anak Singkong Yang Sukses Punya 34 Usaha di Lereng Gunung Lawu!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0654_iMu7L9M9No0.txt
Kind: captions
Language: id
Dan kalau orang-orang itu bersuci dari
najis mughaladah itu hanya teori saya
praktik setiap membersihkan kandang babi
saya harus mandi, harus membersihkan,
membasuhnya dengan tujuh kali pasir
dengan tanah itu saya praktikkan begitu.
Nah, kemudian nanti saya sekolah jalan
kaki sekitar 3 kilo 3 kilo set gitu.
Setiap saya pergi ke sekolah, saya harus
membawa hasil panennya. Tiap hari
nyunggi gitu ya. Sambil nyangklong tas
jalan 3 kilo nyunggi hasil pertanian itu
tiap hari kan begitu.
Dimarah sama orang tua, kuliah biaya
dari mana? Adikmu banyak enggak ada yang
sekolah untuk makan aja susah gitu.
Akhirnya insyaallah saya kuliah sambil
bekerja. Insyaallah biayanya cukup dari
saya bekerja. Kerja apa? Emang cari
pekerjaan itu gampang kan begitu. Sampun
insyaallah ini saya malah punya uang
dari hasil kerja saya R00-an rib sekian.
Orang tua nangis kan gitu. Jadi orang
tua akhirnya yang tadinya tidak itu
nangis.
Ketika saya sudah sampai ke puncak karir
gitu, baru saya sadar gitu, oh ternyata
walaupun saya sudah sampai ke puncak
karir gitu kan di perusahaan besar gitu,
saya enggak bisa membantu saudara saya.
Apa gunanya saya ya bekerja di puncak
prestasi tapi tidak bisa membantu
saudara-saudara saya gitu. Jadi salah
kalau orang mengatakan kok kerja
mati-matian wong harta tidak dibawa mati
itu salah. Bagi saya harta itu harus
dibawa mati. Nah untuk menjadi bawa mati
apa?
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Saya pamin
Abu Aziz atau dikenal dengan Abah Aziz.
Ya, saya tinggal di Belumbang,
Karanganyar atau tepatnya di Lereng Lawu
ya, Tawang Mango. Saat ini saya
mengelola bisnis dalam manajemen
kolaborasi yaitu The Lawu Group. Nah,
The Laau Group itu perusahaan yang
bergerak di bidang 3 RO. 3 itu rekreasi,
restoran, ee resort dan oleh-oleh gitu
ya yang semuanya saling mendukung usaha
satu dan usaha yang lain itu orang
wisata pasti butuh penginan, orang
wisata pasti butuh makan, orang wisata
juga butuh urah-oleh gitu. Maka ini
sebenarnya semuanya adalah usaha dalam
industri wisata atau pariwisata.
background saya ya. Ya, orang kampung
yang tinggal di daerah pegunungan ya, di
desa yang masa kecilnya sebagaimana
anak-anak petani pada umumnya gitu ya,
ya menggembala ya, membantu orang tua ke
ladang, membantu orang tua mencari
rumput, mencari kayu dan sebagainya
seperti itu. Artinya saya berasal dari
desa, dari keluarga yang tidak
berkecukupan gitu. Nah, sehingga setelah
saya selesai sekolah gitu, nah, saya
bekerja di sebuah perusahaan asuransi.
Jadi, sebenarnya cita-cita saya dulu
sebenarnya guru agama gitu. Jadi, karena
saya mengidolakan guru agama waktu SD,
maka saya sekolah di Madrasah
Tsanawiyah, saya sekolah di Madrasah
Aliah gitu. Nah, harapannya nanti bisa
menjadi guru agama. Kemudian saya kuliah
di Fakultas Tarbiyah atau kalau sekarang
adalah jurusan kependidikan ya ee agama
gitu. Tapi karena saya harus mencari
biaya sendiri untuk sambil sekolah atau
kuliah, karena karirnya lebih cepat
dibanding dengan kuliahnya, semester 3
saya putus kuliah dan saya fokus bekerja
dan hingga akhirnya saya pada puncak
karir yang tertinggiah gitu. Jadi di
perusahaan ee keuangan ya, di industri
keuangan itu di asuransi itu saya mulai
dari agen kemudian supervisor, distrik
manager sampai dengan ke brank manager,
kemudian area manager sampai ke division
head sampai ke direktur sampai ke
direktur utama gitu. Artinya sudah
sampai ke puncak karir gitu kan dalam
bekerja itu sampai ke presiden direktur
atau ke CEO.
Ketika saya sudah sampai ke puncak karir
gitu, baru saya sadar gitu, oh ternyata
walaupun saya sudah sampai ke puncak
karir gitu kan di perusahaan besar gitu,
saya enggak bisa membantu saudara saya
karena saudara-saudara saya enggak ada
yang sekolah. Sekolahnya hanya ada yang
SD paling tinggi SMP. Sedangkan standar
operasional prosedur di perusahaan saya
kualifikasi untuk bekerja itu minimal
SMA. Nah, saya berpikir terus apa
gunanya saya ya bekerja di puncak
prestasi tapi tidak bisa membantu
saudara-saudara saya gitu. Nah, akhir
saya tersadarkan. Kemudian ketika saya
menunaikan ibadah haji pada tahun 2009,
ya doa saya, "Ya Allah, berikan hamba
petunjuk, bimbing hamba untuk bisa
merintis bisnis yang bisa membantu
saudara-saudara saya dan masyarakat
sekitar gitu." Nah, akhirnya tidak lama
kemudian saya masih bekerja itu di
perusahaan aslansi tersebut mulai ada
keinginan untuk belajar bisnis. Yang
pertama bisnis yang saya jani adalah
beternak kambing perah gitu. Jadi saya
mulai berminat searching di internet
bagaimana beternak kambing itu. Kemudian
saya mengirim adik-adik saya belajar ke
e peternak-peternak yang sudah sukses
gitu. Sampai dengan beberapa kali
belajar di beberapa peternak hingga
akhirnya adik-adik saya sudah mulai
menguasai ilmunya. baru saya buat ternak
kambing prah namanya pertama itu
etawafam tawang mango gitu ya fokusnya
adalah kambing prah karena kita mulai
beraksi
dengan peternak-peternak kambing dan
saya masuk di komunitas peternak kambing
mulailah kita banyak mengenal
teman-teman sefrekuensi gitu ya
sama-sama peternak yang juga sama-sama
pecinta daging kambing gitu
Akhirnya ada sahabat saya namanya Habib
Abdullah Hanis itu juga pecinta kambing.
Beliau juga peternak kemudian pintar
membuat masakan kambing. Nah, kita
sepakat untuk membuat usaha yang kedua
adalah sate Lawu Tawang Mangu. Itu usaha
kuliner pertama kita itu adalah sate
Lawu Tawang Mangu pada tahun 2017. Nah,
2017 itu kita buat warung sate, tapi
konsepnya adalah resto keluarga. Saya
mengamati banyak warung-warung sate itu
rata-rata kecil, sempit ya, maaf-maaf
gitu ya. Agak tidak bersih misalkan
kalau tidak dikatakan kamu tidak bersih.
Kemudian asap di mana-mana sehingga
pergi dari atau pulang dari makan itu ya
bajunya semuanya bau asap. Padahal saya
mengamati menu kambing ya kita di
resepsi misalkan di sana banyak menu.
Kalau di situ ada menu kambing apakah
sate atau itu tengkleng apa itu kambing
guling pasti yang habis duluan yang
diserbu menu-menu berbahan kambing domba
itu gitu. Artinya sebenarnya warung sate
itu kan konsumennya, pelanggannya itu
kalangan menengah atas gitu dan semua
kalangan juga suka dengan sakit kampung
tapi tidak ada resto yang nyaman.
Akhirnya saya buatlah sate lau resto itu
konsepnya adalah resto keluarga dengan
parkir yang luas sehingga bis juga bisa
masuk, rombongan juga bisa masuk dengan
kapasitas 300-an orang lebih dan
alhamdulillah langsung disambut baik
oleh masyarakat, oleh wisatawan yang ke
Tawang Mangu ya menjadi ikonnya wisata
baru di Tawang Mangu pada tahun 2017 itu
seperti
Delau
Grup itu tourism manajemen ya. Jadi ada
unit-unit bisnis yang kita inisiasi
sendiri, artinya kita bangun sendiri.
Ada yang kita itu menjadi operator gitu
ya. Kerja sama dengan beberapa objek
yang sudah ada sebelumnya. kemudian kita
take over pengelolaannya gitu. Jadi
tidak semuanya dari nol gitu. Jadi ada
beberapa objek wisata yang waktu pandemi
kemarin itu tidak bisa bangkit sehingga
mereka serahkan pengelolaannya ke kita
itu kita take cover. Nah, sekarang
seluruh unit-unit itu kita baik lokasi
maupun brand gitu ya. Ada satu lokasi
yang dua brand. Sekarang 34 unit lah.
Mulai dari destinasi wisata itu ada 16
atau 17 unit. Kemudian ada Cafe Resto,
kemudian ada resort dan ada oleh-oleh.
Nah, itu yang di-manage oleh kolaborasi
tadi. Ada lahannya itu lahan perumhutani
ya. Kita ada yang membangun dari awal,
ada yang kita tinggal maintenance aja
kita perbaiki. Ada lahannya dari
pemerintah daerah kabupaten. Ada juga
asetnya dari perus provinsi misalkan.
Ada juga dari Odam. Odam itu kan juga
punya aset. Yang terakhir misalkan
benteng pendem gitu. itu kan asetnya
Kodam gitu. Nah, dikerja samamakan
dengan Puskupat dengan kita seperti itu.
Nah, intinya adalah bahwa bisnis yang
dikelola oleh Delawu Group ya itu
konsepnya adalah rekreasi, resort, resto
dan oleh-oleh. Dan kita terbuka untuk
bersinergi, berkolaborasi, bekerja sama
dengan teman-teman pelaku wisata. Baik
kita konsepnya adalah take over
pengelolaan atau kerja sama sebagai
vendor seperti itu ya. Kita menyepakati
dulu skema kerja samamanya seperti apa.
Apakah sewa murni berarti kita nyewa
nyewa aset itu gitu kan. Kemudian
kombinasi ada fix share sebagai sewa dan
ada variabel share berarti bagi hasil.
Nah bagi hasilnya tinggal kita sepakati
tergantung gitu kan tergantung
investasinya. ada yang 20 80, ada yang
40, 60, ada yang 70, 30 itu tergantung
dengan nilai asetnya dan potensinya
gitu. Nah, ada kita yang murni sebagai
pengembang gitu. Artinya semua yang
bangun kita. Tapi ada juga kita yang
murni sebagai manajemen, pengelola.
Berarti semua investasi adalah mitra
kita. Kita hanya sebagai pengelola. Ya,
kalau itu ya kita bagiannya lebih kecil
lah dibanding dengan mitra kita gitu.
Dalam bisnis kan kita itu hanya punya
kewajiban ikhtiar secara teknis, tapi
semua hasilnya kan tetap Allah. Yang
maha menentukan kan Allah Subhanahu wa
taala kan gitu. Jadi ya kebanyakan
bisnis-bisnis yang tadinya tidak jalan
ketika kita take over ya alhamdulillah
jalan. Tapi ada juga yang berat karena
untuk rebranding itu kan perlu waktu
gitu. Kita lebih mudah itu misalkan
mengelola baru dibanding dengan
memperbaiki yang sudah lama terpuruk
gitu. Karena image yang ada kalau sudah
tempat itu misalkan tidak baik di Google
review misalkan sudah tidak baik itu
untuk mengangkat kembali kan berat gitu.
Maka itu juga menjadi sunatullah bahwa
bisnis itu ada yang sukses, ada yang
tidak. Nah, kita itu sebenarnya adalah
konsepnya saling menutupi, saling
menguatkan satu dengan yang lain. Jadi
bisnis kita ya ada yang besar, ada yang
sukses, tapi ada juga yang minus ya.
Kalau kita lihat itu ada yang mestinya
itu ditutup gitu. Tapi karena kita
saling berkontribusi menutupi maka satu
dua saja yang kitaat. Contohnya misalkan
gini kita dari 30-an 3 itu masih ada
tujuh yang kita subsidi gitu. Yang
subsidi siapa? Ya tempat-tempat lain
yang surplus gitu. Jadi konsep taawunnya
antara satu unit dengan unit yang lain
itu ada. Nah itu juga menunjukkan agar
kita itu menyadari bahwa kita hanya
manusia. Kalau semua yang kita handle
itu sukses semua, nanti kita lupa diri
gitu kan. Bahwa seakan-akan yang
menentukan kita kan, yang menentukan
bukan kita gitu. Maka saya juga
bersyukur kalau ada yang sukses, ada
yang besar tapi ada yang gagal juga
gitu. Itu menandakan oh saya itu hanya
manusia gitu sehingga ya lumrah saja
kalau ada bisnis yang tidak sukses gitu.
Tapi secara umum karena dalam bisnis itu
saya juga menganut konsep dalam
manajemen risiko itu jangan meletakkan
telur dalam satu keranjang gitu kan
gitu. Karena kalau satu keranjang itu
jatuh, maka telur itu akan pecah akan
berat tangan semua. Yang kita maksud
misalkan ya bisnis itu hanya dalam
jangan satu bidang, jangan hanya satu
tempat aja yang besar gitu. J
diecer-ecer gitu bahasa jawanya itu
displit resikonya dibagi di mana-mana.
lebih baik kecil-kecil tapi
banyak-banyak banyak tempat sehingga
kalau misalkan ada satu dua yang tidak
sukses ya itu bisa di-backup dari yang
lain yang sukses
ya. Kita dalam merintis bisnis ini juga
belajar gitu ya. Artinya sebelum bisnis
itu kita juga harus pahamlah tentang
bisnis itu. Maka pentingnya knowledge
pengetahuan kita tentang bisnis itu.
Kita mengasah pengetahuan kita,
knowledge kita. Kemudian kita juga terus
berlatih agar kita juga menguasai bisnis
itu, gitu ya. Nah, sehingga bisnis yang
kita jalankan ini konsepnya itu tidak
ada yang bertabrakan gitu ya. Contohnya
misalkan Laupark itu konsepnya adalah
wisata keluarga yang ikonnya adalah
Taman Salju ya. Taman Salju. Nah, maka
yang kita upgrade itu taman saljunya.
Kalau dulu salju itu hanya dari dakron,
dari snow liquid misalkan gitu, kita
upgrade jadi kampung salju, kita kabus
jadi snow yang es-nya menjadi beneran
saljunya itu menjadi itu contoh begitu.
Nah, kemudian di Sakurail ya konsep kita
Japan of Java gitu. Jadi kita ee buat
konsep ya taman e Jepang gitu. Karena
itu berdekatan konsepnya berbeda
sehingga orang memungkinkan ke Laupark
dan ke Sakura. Kemudian di Wonder Park
itu ya konsepnya kita adalah konsep
tempat untuk camping, tempat untuk
karena resort gitu ya. Orang outbond,
orang bermalam di resort itu tempatnya
adalah di Tawang Mangu Wonderpark. Nah,
Kafe Resto juga konsepnya beda-beda.
Sate lawu ya kita e fokusnya adalah ke
menu-menu sate tengkleng, tungseng,
kambing guling dan sebagainya. Kemudian
kafe kita ada Kalenja dengan jargonnya
the best view. Kemudian kita ada 2020
dengan jargonnya adalah High Cafe Cafe
tertinggi. Kemudian MHV ini dengan 360
derajat view begitu. Jadi semuanya
konsepnya kita unggulkan sesuai dengan
potensinya masing-masing gitu
ya. terbesar pada pandemik lah. Karena
bisnis kita adalah wisata dan wisata
waktu itu kan harus close mulai di
resto, kafe, tempat wisata, resort
penginapan itu kan semua akan close kan
gitu ya. Tapi karena itu adalah yang
harus kita lewati ya dengan segala
keterbatasan kita, kita tetap harus
berhusnudon kepada Allah ya. Pasti
semuanya ada hikmahnya. Maka solusinya
apa? Kita mengadili masalah itu ya kita
komunikasikan. Pertama, kalau kita
sedang ada masalah sebetulnya kita
komunikasikan keluarga ya. Ini
kondisinya perusahaan kita sedang tidak
baik-baik saja. Kita punya kewajiban
gaji karyawan dan sebagainya. Kita
enggak punya tabungan dan sebagainya.
Tolong dipahami support ayah kita hadapi
bersama-sama. Nah, kepada karyawan juga
kita komunikasikan. He karyawan ini kita
sedang diuji. Nah, hendaknya kita tetap
bersabar, tetap semangat. Nah, bagaimana
kita akan tutup Anda dirumahkan atau
termasuk kita hadapi bersama-sama tapi
kita tidak mampu untuk membayar penuh?
Ya, mungkin 1 hari masuk 1 hari tidak.
Sehingga paling tidak kita masih bisa
memberikan 50 sampai 60% gaji gitu.
Akhirnya memilih seperti itu. Akhirnya
ya kita hadapi bersama-sama itu
bagaimana selama pandemik agar kita
tetap ada inflow. Kita juallah paket
isolasi mandiri.
Jadi resort-resot kita dijual untuk
isolasi mandiri. Kemudian kafe, resto
karena enggak bisa buka maka kita buat
tekway. Waktu puasa misalkan kita jual
ke Agnia-Ahnia, orang-orang kaya
dermawan ya. Paket buka dan sahur, Pak.
kita sedang ada paket buka dan sahur ini
ini. Nah, mungkin Bapak akan meng paket
akan disedagahkan ke mana, ke panti
asuhan mana, ke anak yatim mana, ke
masjid mana gitu. Alhamdulillah dengan
itu kita 1 bulan penuh selama Ramadan
itu ya tidak kurang dari setiap hari itu
600800 porsi lebih gitu sehingga ya
dapur tetap ngebul dalam masa pandemik.
Masih enggak cukup juga kita jual Bino
Stater dengan diskon 50%. Yang penting
sekarang uang masuk dulu. Kalau beli
sekarang ya kita diskon 50% bermalamnya
di glamping kita kapan-kapan nanti kalau
sudah mungkinkan ya akhirnya ada masuk
gitu
ya. SDM di mana-mana itu kan salah satu
penentu ya karena terkait dengan etos
kerja, culture, budaya dan sebagainya
seperti itu. Nah, awal-awal dalam grup
itu berdiri itu yang penting kita bisa
mengakomodir saudara-saudara kita dan
masyarakat-masyarakat terdekat sehingga
kalau kita sesuai dengan standar SDM ya
memang mereka enggak memenuhi
kualifikasi kan gitu. Karena yang
tadinya mencangkul jadi karyawan, yang
tadinya mencari kayu jadi karyawan, yang
tadinya bengkel, bekerja di bengkel jadi
karyawan. Itu kan t sendiri. Kita rekrut
waktu itu ya keluarga-keluarga terdekat
dulu kemudian kita latih, kita didik
mereka sampai dengan setidaknya itu
pantaslah gitu kan. Walaupun usianya
sudah tua, tapi juga mereka masih pantas
melayani, diajari bagaimana melayani
orang dan sebagainya gitu. Itu tantangan
dan kendalanya di awal-awal ya SDM kita
ya SDM yang background-nya itu sangat
tidak mengenai kualifikasi gitu kan.
Tapi kita update terus.
orang desa, orang kampung yang tidak
memiliki lahan pertanian yang luas itu
ya hasil taninya itu pasti tidak cukup
untuk keluarga. Ee sehingga karena tidak
punya lahan yang cukup, Bapak saya itu
juga jualan bibit obis gitu ya yang
jualannya adalah di daerah Magelang.
untuk menggambarkan betapa kondisi masa
kecil saya itu penuh dengan perjuangan.
Saya dari SD ke SMP saja itu jeda, tidak
langsung dari SD masuk ke SMP. Karena
orang tua khususnya ibu saya itu tidak
mengizinkan saya untuk sekolah lagi.
Jadi SD ya sudah sekolah SD membantu
orang tua karena faktor biaya, faktor
ekonomi dan tradisi yang ada di kampung
pada waktu itu ya orang-orang yang biasa
itu tidak perlu sekolahlah gitu loh.
Cukuplah dengan membantu orang tua ke
ladang ya ee menggembala kambing,
mencari rumput dan sebagainya. Tapi
karena saya punya keinginan yang kuat,
waktu SD saya sudah mengidolakan seorang
guru agama yang saya pengin jadi seperti
dia, maka saya berontak gitu ya dengan
terus menerus merengek-rengek kepada
orang tua, nangis gitu. Sehingga
teman-teman saya mendaftar akhirnya saya
juga ikut mendaftar ke SMP juga. Saya di
SD itu kan ranking 3 gitu, tapi begitu
pengumuman nama saya tidak ada tidak
lulus. Setelah saya protes, Pak, nilai
saya kan bagus, kenapa saya enggak
diterima? Saya sudah berani protes waktu
lulusan itu. Nah, ternyata itu begitu
dicari ada beberapa peserta tes masuk
SMP itu di SMP Negeri Tapangu itu yang
tidak mencantumkan nomor ujian gitu.
Nah, sehingga saya tidak dinyatakan itu
karena memang tidak mencantumkan nomor
ujian. Nah, itu mungkin karena Ibu tidak
rida gitu ya. Karena ibu saya itu tidak
rida saya sekolah lagi gitu ya. ada aja
caranya pas saya gagal untuk masuk di
sekolah negeri itu.
Nah, akhirnya pada waktu itu gitu ya
saya masih tidak putus asa terus menerus
ingin sekolah ke swasta gitu tapi tetap
tidak bolehkan. Nah, mungkin karena ayah
saya itu lebih mesaki gitu ya atau
kasihan gitu kan melihat saya
terus-menerus merengeh terus-menerus
sakit gitu sampai dengan saya sakit
sampai dengan saya nangis-nangis gitu.
Nah, kebetulan ayah saya itu jualan ben
kopis di Ngablak itu satu baris atau
berdekatan dengan salah seorang ee murid
Madrasah Tsanawiyah Negeri Ngabla yang
kelas 3 sambil jualan rokok gitu, lapak
rokok gitu. Nah, berceritalah sama
namanya Mas Harto, saya masih ingat gitu
kan. Allah yaram katanya sudah meninggal
dunia. Nah, itu sekolah itu baru gitu
ya, baru 3 tahun masih mudahlah gitu
orang masuk. Nah, akhirnya saya
didaftarkan oleh orang tua saya itu
ketika sudah berjalan entah ee 3 bulan
atau bahkan 3 bulan lebih gitu ya, saya
baru masuk ke madrasah Tsanawiyah itu.
Nah, untuk saya bisa tidak membayar uang
kos, saya tidak membayar untuk makan.
Nah, saya dititipkan kepada salah satu
pelanggannya ayah saya itu namanya Mbah
Bekel Aliastro gitu kan. bekel itu kalau
di sini ya seperti kepala dusun lah
begitu yang saya bahasa jawanya
ngengerlah gitu ngikut membantu bekerja
ya mulai dari subuh saya harus sudah
mengambil air dari sendang ya dari
sumber itu untuk ngisi bak sumur sebelum
berangkat sekolah saya harus sudah
mencari rumput dulu sebelum berangkat
sekolah saya harus membersihkan kandang
sapi, kandang ayam bahkan kandang babi.
Padahal saya di madrasah tsanawiyah
gitu. Dan kalau orang-orang itu bersuci
dari najis mughaladah itu hanya teori
saya praktik setiap membersihkan kandang
babi saya harus mandi, harus
membersihkan membasuhnya dengan tujuh
kali pasir dengan tanah itu saya
praktikkan begitu. Nah, kemudian nanti
saya sekolah jalan kaki sekitar 3 kilo 3
kilo set gitu. Karena Mbah Hali Sastro
yang saya ngenger itu ladangnya banyak,
tiap hari panen dan itu setiap saya
pergi ke sekolah saya harus membawa
hasil panennya. Tiap hari nyunggi gitu
ya. Sambil nyangklong tas jalan 3 kilo
nyunggi hasil pertanian itu tiap hari
kan begitu.
Nah, sehingga cerita itu sampai dengan
saya lulus Madrasah Tsanawiyah dan saya
selalu ranking itu ring 2, ranking T.
Nah, itu ketika lulus saya minta izin
kepada orang tua ingin mendaftar PGA.
Karena untuk menjadi guru agama kan
harus PGA gitu. Lagi-lagi ibu saya wis
mulih wae, pulang saja enggak usah
sekolah. Saya nekat tetap daftar ke PGA.
Ya walaupun saya ranking di MTs saya
akhirnya itu mengambil kesimpulan ya
karena ibu saya tidak ridaka
ya saya harus ikhlas tidak diterima di
PGA. Masih enggak menyerah saya ke SPG
bukan sama saja saya enggak diterima
gitu. Akhirnya ya sudahlah saya menyerah
saya pulang. Saya pulang ke kampung ini,
ke Kampung Belumbang ini ketika hari
Jumat pertama gitu kan saya e salat
Jumat di dulu belum ada masjid. Satu pun
belumbang ini tidak ada masjid. Adanya
langgar ya musola lah gitu ya. Musala
yang ukurannya 30 3* 3 itu pun tidak
dipakai untuk salat jemah 5 waktu hanya
untuk salat Jumat. Ketika saya pas salat
Jumat itu sampai dengan jam .30 itu
belum dimulai gitu. Saya tanya, ini kok
salat Jumatnya belum dimulai ya, Pak
Masjid enggak datang guru agamanya. Nah,
kalau enggak enggak datang gimana? Ya,
kita salat zuhur gitu. Kemudian karena
jemahnya juga masih anak-anak gitu ya,
yang remaja juga hanya sebagian.
Akhirnya waktu itu saya memberanikan
diri untuk saya bisa gitu karena MTS itu
diajari dasar-dasar menjadi khatib kan
gitu. Akhirnya saya berdakan diri aku
iso Mas gitu khatib gitu. Akhirnya saya
naik mimbar khatib. Nah, setelah itu
baru anak-anak yang ikut salat e
remaja-remaja gitu jemahnya ya enggak
seberapa gitu lah kowe iso no dek kan
gitu kamu bisa no dek gitu kowe wae nek
kan gitu dengan itu akhirnya saya
membuat seperti majelis diniah lah atau
kalau sekarang TPA di rumah saya di
rumah orang tua saya
ya belajar ngaji ya Kak Kalau dulu masih
alif ba ta lah gitu ya, belum ada iqra
gitu. Jadi masih belajarnya belajar
turutan itu di rumah. Akhirnya salat
lima waktu di rumah, ngaji di rumah
salat Jumat itu di rumah orang tua saya
itu salat takwih itu juga di rumah orang
tua saya itu. Begitu akhirnya semakin
enggak muat, semakin enggak muat, enggak
muat, enggak muat, saya minta izin
pindah ke kantor kelurahan. Nah, kantor
kelurahan juga tidak muat lagi. Akhirnya
pindah ke e rumah sekarang jadi Masjid
Istiqamah itu e rumahnya Pak Desri
namanya ya. Ee orang tuanya Abu Noval
yang sekarang punya pondok Minajul ya.
Itu itu ada rumah empat yang gandeng
gitu. Nah, di situlah mulai dari anak
usia SD, anak SMP sampai ada yang kuliah
1 DU itu berkegiatan sehari-hari di situ
gitu. Jadi saya lulus SMP itu sudah
belajar memimpin jemaah gitu. Saya tidak
tahu mungkin Allah yang menggerakkan
itu. Yang akhirnya terdengarlah oleh Pak
Santoso alyarham itu ownernya Danar
Hadi, batik Danar Hadi mendengar di Desa
Belumbang ya ada anak-anak remaja yang
bersemangat untuk ngaji dan sebagainya
tidak temu masjid ya akhirnya bawa
bantuan tuh bawa bantuan sarung,
mukenah, ada kain dan sebagainya itu
dibantukan sambil saya bilang kalau ada
tanah akan membantu untuk buat masjid
gitu. Akhirnya saya dengan anak-anak itu
yang masih remaja-remaja itu ke Pak
Lurah minta Pak Lurah ada yang mau
bangun bantu masjid dan kita minta tanah
desa yang enggak kepakai yang kita minta
waktu itu kalilo. Kalilo itu punden gitu
ya. Ada pohon lon-ya begitu sing disebut
kalilo. Kita minta kita dimarahi gitu
kan. Itu anak masih kladuk wani kurang
dugo begitu ya. Wong punden kok dijaluk
arep masjid gitu. Nah, akhirnya naik
naik gelem itu bekas kuburan ya di pojok
desa itu ada bekas kuburan silakan kalau
mau dipakai. Nah, akhirnya kita pakai
yang bekas kuburan itu. Setiap hari
anak-anak itu kerja bakti mindahin
kerangka-kerangka bekas kuburan ee kuno
itu yang sudah dipakai itu sampai dengan
kita membangun masjid. Bantuan dari Dar
hati dan akhirnya masyarakat juga
digerakkan oleh Pak Lurah untuk ikut e
urunan gitu ya. urunan setiap KK yang
mampulah gitu itu ikut bantu. Jadilah
masjid yang pertama namanya Masjid
At-Taqwa.
Setelah itu mulailah saya membuat
kegiatan-kegiatan pengajian ngundang ee
dai-dai mubalik-mubalik dari kota gitu.
Nah, suatu saat ketika saya ngundang
namanya Pak Sutono Abdul Karim, dai dari
kecamatan dengan Bu Siti Aminah,
istrinya ya itu bertanya, "Dik,
sekolahnya di mana?" gitu. "Enggak
sekolah." "Kenapa enggak sekolah? Kok
sayang banget masih muda enggak
sekolah?" Mboten pareng kalih tiang
sepuh. Tidak boleh sama orang tua.
Beliau tidak bilang apa-apa. Tahu-tahu
subuh besok pagi itu Pak Sutono Abdul
Karim dan Siti Aminah Allah yarham itu
ke rumah saya ke orang tua saya minta
saya sekolah lagi akan dibiayai oleh
beliau gitu. Saya sudah libur 1 tahun
itu dari SMP ke SMA itu libur enggak
sekolah saya yang ngurusi itu sampai
dengan jadi masjid itu akhirnya saya
sekolah lagi gitu kan nyusul saya nyusul
di Madrasah Aliah Negeri Karanganyar.
Nah, di situ saya juga ngenger lagi
ngikut orang agar gratis biaya k
makannya bantu orang gitu. Kemudian
kelas 2, kelas 3 saya mulai menempati
masjid yang sekarang menjadi Masjid
Al-Huda. Saya tidur di masjid,
membersihkan masjid sehingga saya sampai
dengan selesai. Ya, selesai saya kembali
lagi pulang ya. Karena Karang Anyar
tamang itu waktu itu dekat dijanggur
dengan bis ya setiap minggu saya tetap
pulang tetap masih. Jadi walaupun saya
sudah sekolah, saya masih ketua masjid
kan gitu. Nah, kemudian ketika saya
pulang kembali ya lulus SMA mulai saya
wiat bakti waktu itu di sekolah SD.
Berarti apa? Saya tercapai cita-citanya
jadi guru agama walaupun wiata bakti
yang tidak dibayar. Dibayarnya kalau pas
ya ada uang 3 bulan waktu itu R5 juta eh
R5.000 lah begitu kan.
Nah, kemudian dengan harapan nanti saya
bisa diangkat menjadi PNS kalau saya
ikut persamaan gitu kan. Maka saya
ngajar dapat 3 bulan ngajar saya mau
ikut persamaan ternyata dihapus itu
kebijakan persamaan PGA SPG itu dihapus.
Jadi guru itu harus S1. Akhirnya
pupuslah harapan saya untuk bisa jadi
PNS, jadi guru. Sempat saya ngambek gitu
ya, enggak masuk lagi ngajar gitu. ee
kepala sekolah waktu itu ada Pak Warno,
ada Pak Sudono guru agama itu ke rumah
ayo anu lagi gitu. E ini ada Universitas
Muhammadiyah buka program baru, program
sore gitu kan, khusus orang-orang yang
sudah bekerja, kelasnya sore ya, murah
gitu ya. Waktu itu satu semester baru
R0.000 gitu kan murah gitu. Akhirnya
saya semangat lagi. Saya semangat lagi.
Kemudian saya tidak minta izin orang tua
langsung saya daftar. Dari mana saya
mendaftarnya? Karena saya ketua masjid
waktu itu. Saya pinjam ke bendahara
masjid Rp150.000. Itu wallahuam hukumnya
apa gitu ya waktu itu. Karena ini saya
pinjam ke bendara masjid Mas Setu gitu
ya. Masu Mas Aki bendarnya itu ya uang
kas masjidnya tak pinjam dulu 150 gitu.
Nggih. Opo wis pokoke en perlu gitu.
Akhirnya saya daftar kuliah di
Universitas Muhammadiyah Surakarta,
jurusan Tarbiyah gitu.
Nah, ketika Offspek dulu kan ada
penataran P4 gitu ya, tahun-tahun 8 itu
ada kelas itu kelas besar kelasnya
sampai dengan 70 saya ingat gitu kan 70
orang itu ada 12 orang yang belum
bekerja yang belum bekerja itu 12 orang
termasuk saya kan gitu. Nah, itu ada
orang tiba-tiba berdiri di depan kelas
mengumumkan ya. Teman-teman yang belum
bekerja silakan besok datang di saya
perkenalkan saya Sarwanto Abdul Basir
gitu kan. Allah yarkam. Nah, akhirnya 12
orang itu datang ke kantor Pak Sarwanto
Abdul Basir itu. Nah, ternyata di sana
nama perusahaan adalah Mahkota Sahid
Asuransi Jiwa gitu. Itu sebuah
perusahaan asuransi miliknya Pak
Sukamdani Sahid Gitosarjono. Tapi kita
enggak tahu apa itu perusahaan asuransi
jiwa. Enggak tahu, kita ikut aja
training training kan gitu. Nah, begitu
di training hari pertama itu company
knowledge kita dikenalkan perusahaannya.
Hari kedua itu dikenalkan dengan produk
knowledge. Produknya adalah ada tabungan
beasiswa, ada hari tua dan sebagainya
gitu. Nah, kemudian hari kedua itu sudah
langsung loh ini berarti tugasnya adalah
membantu orang-orang untuk menyiapkan
hari tuanya, untuk membantu orang-orang
menyiapkan biaya sekolahnya, program
biaya siswa gitu. Nah, itu malamnya itu
saya langsung langsung ke beberapa
saudara saya tetangga gitu. Dan hari
ketiga training belum selesai itu saya
sudah dapat nasabah tujuh orang gitu ya.
Saya masih ingat waktu itu saya membawa
uang itu dari orang mendaftar itu
Rp1.A50
atau berapa saya saya lupa gitu. Tapi
saya masih ingat saya itu mendapatkan
komisi dan insentif itu sampai dengan
750.000
lebih gitu. Kalau di asuransi syariah
itu namanya ujrah gitu. Komisinya sampai
dengan 50% ditambah dengan insentifnya
25% dari komisi. Itu saya masih ingat
hitungannya seperti itu. Saya kaget loh
saya belum bekerja Pak. Enggak. Ini hak
kamu. Kamu dapat 50% kalau kontraknya
sampai dengan 20 tahun ditambah dengan
insentif. Insentifnya itu 25% dari
komisi. Berarti dapat 75% kan? Maka saya
dapat 700.000 lebih begitu.
Baru saya hari keempatnya itu sudah
mengembalikan kas masjid tadi. Iki, Mas.
Kemarin yang saya pinjam saya kembalikan
gitu. Nah, ketika sudah selesai ospek,
saya masih punya uang itu 500-an lebih
kan begitu. Saya baru bilang kepada
orang tua saya, "Pak, Bu, nyuwun
dongonipun saya izin kuliah." gitu.
Dimarah sama orang tua, "Kuliah biaya
dari mana? Adikmu banyak enggak ada yang
sekolah untuk makan aja susah gitu."
Akhirnya insyaallah saya kuliah sambil
bekerja, insyaallah biayanya cukup dari
saya bekerja. Kerja opo? Golek gawang
iman gampang kerja apa? Emang cari
pekerjaan itu gampang kan begitu. Sampun
insyaallah ini saya malah punya uang
dari hasil kerja saya R00-an.000 ee
sekian karena sebagian sudah saya pakai
untuk operasional untuk beli apa-apa dan
sebagainya gitu. Orang tua nangis kan
gitu. Jadi orang tua akhirnya yang
tadinya tidak itu nangis. Ya sudah kalau
gitu tak dongake mudah-mugalah
orang tua mereteli benik. Nada ben itu
ngelepas orang tua itu kan punya
simpanan kalau dulu itu kancing emas
gitu kan gitu. Nah, itu digade gitu kan.
Kemudian diberikan ke saya lupa
jumlahnya R juta sekian. Ini gawen tuku
motor gen iso kuliahe lancar karo
nyambet gae. Nah, akhirnya saya waktu
itu beli motor R juta berapa, 500 atau
berapa begitu pembilian orang tua. Dan
hasil saya tadi pertama saya masih ingat
saya bisa beli motor PX gitu ya, Vespa
PX gitu. Padahal di kampung ini
daerahnya daerah nanjak. Enggak ada satu
orang pun yang punya pespa kan gitu.
Hanya karena kan saya melihat pimpinan
saya waktu itu, Pak Abdul Basir itu PXE
itu gagah banget begitu kan. Jadi elegan
ketemu dengan orang itu kayak ee elegan
gitu. Nah, saya belikan itu. Nah, itulah
saya mulai berkarir sambil kuliah.
Nah, dalam perjalanannya ternyata karir
saya sangat cepat sekali. 3 bulan saya
bekerja itu saya langsung dipromosi
nyalip pimpinan saya gitu. Karena apa?
Saya setiap ceramah presentasi ee
misalkan di Belumbang itu dulu ada 14
RT. RT 1 saya ke pertemuan RT 1 tanggal
2 misalkan saya pertemuan di RT2 dan
sebagainya gitu. Dan itu ketika saya
presentasi gitu kan banyak orang yang
pada datang ke rumah, "Dik, carane ikut
gimana? Cara daftar seperti apa?" gitu.
sehingga target saya itu melampaui dari
teman-teman yang lain dan saya langsung
e dipromosi menjadi unit manager gitu. 6
bulan kemudian saya langsung juga e
setiap presentasi saya diperhutani gitu
100 orang yang masuk 100 orang juga 70
orang juga begitu. Nah, sehingga pada 6
bulan kemudian ee saya dipromosikan lagi
waktu itu pala unit ya. Nah, kemudian
pada masuk ke semester kedua saya
dipromosikan ke Pekalongan. Akhirnya
saya meninggalkan kuliah tapi saya belum
keluarkan gitu. Belum siapa tahu nanti
masih bisa kuliah mundar-mandir gitu.
Nah, ternyata ya di Pekalongan 6 bulan
prestasinya bagus lagi langsung saya
dipromosikan lagi ke Lampung. Saya masih
ingat waktu itu usia saya baru sekitar
20-an 3 lah. Langsung promosi ke Band
Lampung menjadi kepala cabang membawai
Sumatera bagian selatan, Lampung,
Palembang, Bengkulu Jami dan sebagainya.
kuliahnya sudah wasalam gitu karena
sudah bekerja dengan harapan tadinya
pengin kuliah lagi tapi ternyata ya
belum kita diberikan jalan untuk bisa
kuliah lagi. Itulah mulai merintis
bisnis mulai dari agen supervisor, unit
manager, district manager, brank
manager, area manager, ya regional
manager sampai dengan division head
sampai dengan direktur sampai dengan
direktur utama. tersadarkanlah akhirnya
saya ya untuk apa saya sekarang sudah
mentok di top manajemen saya sudah
berada di puncak karir tapi saya tidak
bisa membantu saudara-saudara saya
mulailah saya merintis bisnis yang
pertama tadi peternakan kambing kemudian
sate lawu baru setelah itu ya Allah
mudahkan untuk ke bisnis wisat bisnis
resort dan sebagainya Ya,
dari awal kita bekerja ini niatnya
adalah khairunas anfauhum linnas.
Sebaik-baik manusia itu yang memberi
manfaat kepada orang lain gitu. Maka
tujuan kita membangun bisnis ini adalah
bagaimana kita bisa memberikan manfaat
yang seluas-luasnya. Karena kita sadari
harta kita sesungguhnya itu adalah hanya
yang kita makan dan itu sangat terbatas
kan. Kita mau punya uang berapa miliar
pun yang kita makan juga hanya seberapa
karena ada batasnya. Semahamahalnya
makanan berapa sebanyak-banyaknya ya
kita itu pun akan menjadi kotoran. Yang
kedua, harta kita sesungguhnya adalah
yang kita pakai. Mau baju, mau
aksesoris, mau mobil, mau rumah, itu kan
juga akan usang. Tapi itu rezeki yang
kita nikmati kan gitu selama hidup.
rezeki yang sebenarnya yang kita bawa
mati. Jadi salah kalau orang mengatakan
kok kerja mati-matian wong harta tidak
dibawa mati itu salah. Bagi saya harta
itu harus dibawa mati. Nah, untuk
menjadi dibawa mati apa? Harta yang
dibelanjakan, yang diinfakkan di jalan
Allah untuk membantu orang yang tidak
mampu untuk membangun masjid, untuk
membangun pondok pesantren. Intinya
adalah yang bernilai pahala di sisi
Allah. Itulah harta yang akan kita bawa.
Maka belakangan kita mulai merintis
pesantren. Saya diamanati misalkan ada
pondok tahfid putri namanya Muslimah
Quranic Center Alaziz. Itu programnya
fokus hanya kepada kaderisasi muslimah,
kaderisasi Quran untuk muslimah.
Programnya adalah tahfid, kemudian itqon
dan sanad gitu. itu 50% santrinya
beasiswa gratis, 50%-nya berbayar,
berbayar pun murah gitu kan. 1 bulannya
hanya R500.000 sudah asrama, sudah
makan, sudah seluruh kegiatan gitu
karena memang kita dakwah. Nah, kita ada
Muslimah Quran Center Alaziz.
Kemudian kita juga diamanati untuk
peminat di Pondok Pesantren Aljawi
Alilmi yang fokusnya adalah kaderisasi
ulama ya yang diasuh oleh Syekh Labib,
Dr. Labib, oleh Ustaz Sanif Ali Sahbana,
Ustaz Wahyu gitu ya gitu. Kemudian kita
bersama-sama dengan Kiai Siabuddin untuk
menginisiasi Elite IBS. Elite IBS itu
Entrepreneur Leadership Islamic Boarding
School. Jadi orang anak-anak yang
sekolah tahfiznya sudah selesai kita
ajarin untuk berbisnis gitu. Dan tentu
tujuan dari kita berbisnis itu
mendapatkan rida Allah dan memberikan
manfaat yang seluas-luasnya bagi
masyarakat, bagi bangsa, negara, bagi
agama dan tentu saja keluarga.
Terima kasih. Saya Parmin Sastro Abu
Aziz dari Delau Grup. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.