Tutup Usaha Bergengsi Ratusan Juta, Pilih Jualan Nasi Uduk Gerobakan di Pinggir Jalan
PvQxuwcxwpI • 2025-12-09
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Saya sempat punya coffee shop yang [musik] waktu itu alhamdulillah atas izin Allah itu 3 bulan pertama omsetnya masyaallah luar biasa sekali dan waktu itu harus tutup gitu karena memang waktu itu pandemi terus kita ada PPKM segala macam yang mengharuskan kita harus tutup dan akhirnya kehilangan gitu. Untuk itu kalau sama sewa tempat ya waktu itu sekitar R50 juta, Mas. aku. Masyaallah. [musik] Karena mesin kopinya sendiri mungkin ya cukup mahal. Mungkin ee bisa dikisaran kurang lebih R0 juta sama Grinder waktu itu. Itu pun yang enggak bagus-bagus banget. Maksudnya udah yang menengah ke atas. Insyaallah. Heeh. Itu kalau saya pribadi sih ee kesuksesan kita itu kan bukan dari [musik] banyaknya harta. Jadi, kalau saya itu lebih ke kebermanfaatan kita untuk banyak orang [musik] sih. Terkadang suatu hal yang paling ingin kita genggam justru adalah hal yang harus kita lepaskan agar tidak ada harapan melebihi harapan kepada selainnya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang kembali saudara saya. Masyaallah. Masyaallah. bahasanya sudah [tertawa] kecipratan panjenengan, Pak. Masyaallah. Akhina fillah. Masyaallah. Saudara saya dalam apa ya, Pak? Berbisnis dan juga dalam berkeseharian. Pak Sikit selamat datang di Pecah Telur. Terima kasih Mas Agung atas undangannya pagi ini. Karena mumpung pas libur, Pak ya, hari Senin ya, Pak? Iya. Setiap Senin kita libur. Alhamdulillah. [tertawa] Ada satu ee satu kutipan yang saya itu sering senang gitu ya dengan postingan Pak Sikit akhir-akhir ini. Mungkin postingan ini juga dilandasi sebuah kejadian nyata dan saya menarik tentang postingan ini. Saya tulis ini tadi, Pak. Jadi kutipannya adalah terkadang sesuatu yang paling kita harapkan justru menjadi sesuatu yang kita lepaskan. Wah, ini dalam ini, Pak. Menurut saya, Pak. Masyaallah. Ah, itu gimana, Pak? Jadi memang gini, Mas Agung ee ee pada dasarnya kan kita apa namanya mengimani kalimat istirja innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Bahwasanya sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kita akan kembali kepadanya. Jadi, he ee kutipan itu sih sebenarnya dari hasil saya ikut kajian ee ee waktu itu Ustaz Abdurrahman Zahir hafizahullahu taala ee beliau ee mengatakan ee yang kurang lebih seperti tadi itu agar apa? Agar kita ee berharap itu tidak terlalu berharap kepada selain kepada Allah gitu, Mas. Aku e kurang lebih seperti itu sih itu eatnya gitu. Heeh. Nah, ini atas keja berarti kan KU ini kan sudah lama dan mungkin sudah sudah apa ya sudah mengkristal di di kehidupan kita dan terlebih juga umat muslim. Tapi kok akhir-akhir ini di sering diposting gitu ada kejadian apa gitu. Iya kurang lebih sebenarnya sudah lama juga itu apa namanya kata-kata yang sengaja saya simpan. Jadi ee kebetulan di kehidupan saya itu sudah sering kehilangan Mas Agung. Jadi mungkin kalau boleh saya flashback dulu ee saya harus meninggalkan pekerjaan saya yang lama waktu itu di Surabaya dan harus juga meninggalkan teman-teman saya yang lama juga di sana gitu kan. Terus kemudian ee di bidang usaha pun waktu saya pindah ke Tulung Agung itu saya sempat punya coffee shop yang waktu itu alhamdulillah atas izin Allah itu 3 bulan pertama omsetnya masyaallah luar biasa sekali dan waktu itu harus tutup gitu karena memang waktu itu pandemi terus kita ada PPKM segala macam yang mengharuskan kita harus tutup dan akhirnya kehilangan gitu. Padahal menurut saya itu adalah suatu apa namanya? Hal yang pengin saya genggam karena ee saya berpikir itu ee selain ee coffee shop itu mendatangkan apa? Rezeki buat saya khususnya dan teman-teman apa barista itu juga saya ada acara di sana. Itu yang bertujuan untuk dakwah sebenarnya untuk apa namanya orang-orang yang awam untuk lebih mengenal Islam gitu. itu waktu itu namanya cofe story. Nah, itu jadi merasa kehilangan sekali sih waktu itu. Gitu, Pak Ziget. Waktu kalau teman-teman mungkin belum paham konteksnya, jadi Pak Zigit dulu adalah seorang boleh dibilang bangkir ya, seseorang yang kemudian kerja di perbankan kemudian kata-katanya hijrah begitu, Pak. Ya, insyaallah, Mas. [tertawa] Hijrah dari Surabaya meninggalkan profesi lama kemudian berpindah ke Tulungagung dan membuka usaha. Usaha pertama berarti ya koncoi kopi itu, Pak? Ee kalau usaha pertama itu malah di Surabaya dulu di bidang minuman juga cuman waktu itu masih pakai gerobak-gerobak gitu. Terus sempat jualan di di apa namanya? Pinggir jalan juga. H ee sempat ee usaha juga ditiketing waktu itu dimodalin sama teman. Heeh. Heeh. Terus ya saya pulang karena memang ee kayaknya kita enggak enggak akan apa namanya bisa bertahan dengan biaya hidup di Surabaya dengan apa pendapatan kita yang ee jauh sudah berkurang dari sebelumnya gitu. Jadi kita realistis waktu itu saya ngajak istri, ngajak anak-anak dan alhamdulillah istri ngikut dan ya konco mungkin bisa dibilang usaha yang kesekian ya ee bukan usaha pertama juga gitu. usaha yang kesekian dan itu saya rasa itu ee ya cukup berhasil sih sebenarnya cuman ya karena lain dan apa lain hal gitu kita harus tutup dan berganti ke usaha yang lainnya yang insyaallah sampai sekarang Mas Agung usaha tersebut gitu yang anu itu ya nasi uduk Bang Jenggot. Betul sekali. [tertawa] Ee sebenarnya kan dari apa ya menurutku dari segi dari segi tujuan juga baik ya. Jadi Pak Sigit ketika pulang dari Surabaya kemudian hijrah ke Tulungagung membuka usaha kopi yang di situ ada ngajinya kan ada kajiannya kopi story itu kan artinya dari segi dari segi tujuan sudah baik ya ada ngajak barista ada ngajinya insyaallah juga halalan thayiban lah dibanding usaha sebelumnya yang di Surabaya. Tapi kalau kita bilang konteks ini kita coba dari sudut pandang spiritual gitu ya, semua yang terjadi itu kan atas kehendak Allah ngih. Betul sekali. Ee segala hal yang baik ataupun yang buruk kalau Allah tidak berkehendak maka tidak akan terjadi. Terjadi gitu ya. Tentu juga kita harus ikhtiar merubah dan sebagainya ya. Betul. Tapi kalau dari sudut pandang yang itu kemudian Pak ee Sigit ini sudah memiliki tujuan yang baik, usaha yang baik. Lantas kok apa ya kira-kira ya message Allah dari dari tutupnya usaha konci kopi itu apa? Kan sudah baik nih ee sudah mencoba yang lebih baik juga gitu. Apa kira-kira apa sikit kalau jenengan? Kalau saya ini kan apa ya ee kita sebagai seorang muslim ee harus mengimani yang namanya takdir. H. Jadi mungkin ee saya sudah pernah apa dengar juga bahwa apa yang terjadi di sini itu apa namanya? Sudah tercatat takdir kita ee nanti akan seperti apa gitu. Jadi ee kalau kita beriman sama takdir Allah, insyaallah semua akan nyaman gitu, enggak akan apa namanya? Ngundel gitu. Tidak akan kecewa. Iya, betul sekali Mas Agung. Itu sih saya lebih ke mungkin ini ee takdir Allah qadarullah saya harus ee meninggalkan usaha yang lama. Kalau tinggal melihat apa namanya ini kenapa sih gitu kan saya sudah melakukan yang terbaik ee usaha-usaha saya juga ee insyaallah ini untuk kebaikan gitu kok malah saya harus tinggalkan itu gitu ya. saya mengimani takdir dan insyaallah itu ee jauh akan lebih baik untuk saya dan orang-orang sekitar gitu, Mas Agung. Jadi, ya sesimpel itu. Oh, ini takdir gitu aja atau gimana? Ada apakah enggak ada evaluasi atau apa gitu ada enggak atau gimana? Eh, kalau muhasabah pasti ada Mas Agung. Ya, mungkin ini mungkin salah satu mungkin cara Allah untuk mencuci harta saya mungkin bisa jadi seperti itu gitu. mungkin apa namanya cara-cara saya dalam mengelola ini kurang benar sesuai dengan apa yang apa namanya Allah ee syariatkan gitu. Bisa jadi seperti itu sih. Ee baikbaik. Nah, ini kadang-kadang kan kita ini ee mencoba menyatukan dua elemen yang kadang-kadang kita melihat itu berbeda tapi sebenarnya enggak berbeda. Jadi sudut pandang spiritual dan sudut pandang ilmu bisnis kan gitu tuh, Pak. Betul sekali. Nah, kalau diilai dari dipenang dari sudut bisnis, apa pelajaran yang Pak Zigit waktu itu bisa share kepada kita ketika awal-awal ramai, 3 bulan ramai kemudian harus tutup di bulan keempat gitu kan berarti ya. Nah, itu apa Pak Sikit? Betul. Ee kalau waktu itu juga sebenarnya sudah planning matang ya. Kita waktu itu undang yang namanya konsultan karena memang saya enggak punya ilmu di bidang kopi sebelumnya. He kita bayar kultan, kita training untuk baristanya gitu dan untuk apa namanya ee di bidang itu pun akhirnya kan kita tahu ilmunya gitu kan. Oke. Kan kita harus tahu ee apa namanya sebelum beramal kan kita harus berilmu terlebih dahulu gitu kan. He. Nah, sebenarnya secara teori itu insyaallah sudah lakukan, kita sudah lakukan dan kita enggak ada yang tahu takdir Allah bahwa tahun itu adalah tahun pandemi. Jadi, ya kita berbaik sangka aja gitu. Berbaik sangka kepada Allah. Karena hal-hal yang bersifat teknis itu semuanya sudah kita lakukan kan. Ee jika kalian tidak mengetahui maka bertanyalah pada ahlinya kan gitu. He, makanya saya sempat undang konsultan itu waktu itu Indonesia Coffee Master 2019. Jadi kita enggak main-main. Udah serius banget loh itu ya. Indonesian Cafe Master diundang ke sini. Betul. Itu ada Mas Dadeng Darmawan, ada yang ada Mas Ovi Kurniawan sama Mbak Irma Roseta itu sampai sekarang beliau masih di Kopi Nasional masih punya nama gu. Jadi kita memang serius gitu untuk apa namanya belajar kopi waktu itu gitu Mas Agung. ee belajarnya itu dari segi rasa atau dari segi manajemen atau dari apa, Pak? Sikit ee waktu itu kita semuanya jadi ee dari mulai ee manajemen mulai dari handle customer sama menu itu semua di training gitu semuanya. Pak, kalau boleh dibilang modal awal dalam pendirian koncoi kopi kemudian mendatangkan konsultan dan lain sebagainya itu di kisaran berapa dulu waktu itu bukanya? Waktu itu kalau sama sewa tempat ya waktu itu sekitar R50 juta, Mas Agung. Masyaallah. Karena mesin kopinya sendiri mungkin ya cukup mahal. Mungkin e bisa dikisaran kurang lebih R0 juta sama Grinder waktu itu. Itu pun yang enggak bagus-bagus banget. Maksudnya udah yang menengah ke atas. Insyaallah. Heeh. Gitu. Kalau di dari 3 bulan itu ee dari 250 juta yang kita keluarkan untuk model koncoi kopi kemudian berjalan 3 bulan omsetnya berapa, Pak, bulanan? Omset waktu itu sih e diangka R5 juta waktu itu. Kalau dibilang balik modal ya enggak balik modal. Omsetnya R5 juta per bulan. Per bulan gitu. R 35 juta. Dan kita waktu itu harus sewa lokasi. Sewa lokasi. Dan ya alhamdulillah alatnya itu masih ada dan kalau dinominalkan ee ya cukup masih cukup baguslah harganya. Cuman ee sebenarnya semua enggak harus dinilai dengan materi ya modal mungkin bisa ket yang lebih saya dapat mungkin di pengalaman Mas Agung karena pengalaman kan memang harus dilalui gitu kan. Jadi kalau mungkin saya enggak melangkah waktu itu, saya enggak akan tahu apa namanya dunia usaha, dunia bisnis gitu mungkin gitu. lebih ke pengalaman aja yang saya dapat mungkin saat ini gitu. Baik, baik. Siap. Saya masih penasaran harga kalau kita mau sewa konsultan begitu kalau mungkin kan ee mungkin ini berbeda bidang beda harga. Cuma kalau untuk di bidang kopi kisaran berapa, Pak? kayak menghadirkan kalau Kang waktu itu kita harga teman karena memang saya sebelum cerita sama beliau-beliau itu bahwa ee background saya seperti ini, salgi merintis, mau usaha gitu dan ee itu harga spesial saya enggak enggak bisa sebutkan karena memang enggak mungkin saya dapat harga segitu. Heeh. gitu. Karena ee saya tahu beliau sempat kirim ke Milan, ke luar negeri itu ikut barista Championship waktu itu dan kalau saya bayar seper segitu itu enggak mungkin saya rasa itu enggak enggak cukup mungkin murah banget karena pertolongan Allah juga waktu itu beliau mau ke jadi juri ke Jogja juga jadi mampir ke sini dulu ke Tulungagung lalu lanjut ke Jogja gitu. H mungkin kalau enggak enggak karena Allah yang gerakkan mereka ke Tulungagung. He ya enggak akan enggak akan dapat harga segitu gitu waktu itu. Oke. Itu kan harga teman. Kalau harga umumnya berapa berarti? Kalau harga umum kan boleh disebut berarti harga umum kalau kita franchise saja contoh brand A itu sudah di R0 juta, Mas Aku. Oh untuk franchise ya R0 juta, ada yang Rp15 juta gitu. Oke. Kalau franchise tentunya lebih mahal kan, Pak kalau dari kalau konsertan mungkin agak di bawah ya. mungkin di bawah itulah itu karena cuma setup aja kan bukan cuma sih ee set up set up [tertawa] jadi nata semua begitu ya bantuin set up lah ya betul sekali oke pernah enggak berpikir seperti ini Pak Sikit ah ya Allah kenapa sih pandeminya tahun ini gitu kenapa enggak tahun depan gitu [tertawa] kalau tahun depan kan sudah agak lumayan minimal sudah 3 bulan plus 1 tahun gitu sudah balik modal gitu pernah enggak terbik seperti itu kalau waktu itu enggak sih karena memang apa ya semua mengalami misi Masung. Jadi enggak cuman saya sendiri yang waktu itu apa namanya mengalami kesusahan. Jadi itu sudah jadi bencana nasional juga waktu itu kan. Betul. Dan makanya saya mungkin dari situ juga ee hikmahnya saya jadi kreatif nih kira-kira apa yang bisa di kerjakan di masa pandemi seperti yang lalu itu gitu. Maka I apa namanya? muncullah ee kayaknya kalau buat ngopi orang waktu itu ee lebih ke kebutuhan pokoknya daripada untuk sekedar ngopi gitu. Karena makanya tercetuslah nasi uduk itu. Mungkin kalau saya enggak mulai koncoi kopi dulu ya enggak akan ada nasi uduk Bang Jenggot sampai sekarang. [tertawa] Nah gini Pak Sikit. Eh jadi kejadian itu juga mengenai di saya. Jadi ee waktu izin memberikan informasi tambahan. Masyaallah. [tertawa] Jadi waktu itu juga mengenai di saya. Jadi waktu tahun 2019 juga saya lagi gencar-gencaran scale up. Jadi semua tak pertaruhkan untuk scale up bisnis fashion saya gitu ya. Dan di tahun itu kita enggak tahu kok tiba-tiba pandemi. Nah, kadang-kadang guyonan saya sama teman-teman kayaknya kalau pandeminya itu diundur 1 tahun saya sudah saya sudah kaya raya. Ini [tertawa] itu guyonan ya. bukan untuk tidak menerima takdir gitu ya, tapi karena ada pandemi itu kemudian fashion saya menjadi tidak berkembang. Adanya ada pecah telur juga. Masyaallah. Lebih besar lagi ya Allah ganti. Masyaallah. Masyaallah. [tertawa] Kalau lebih besar dari segi nominal tidak. Lebih besar dari segi nominal gitu tidak. Karena waktu itu fnya luar biasa gede. Tapi kalau lebih besar dari hal ketenangan iya. Lebih besar dari hal kemudahan iya. Dan mungkin dari segi kebermanfaatan, Mas. Insyaallah dari segi kebermanfaat. Masyaallah ya lebih bermanfaat ya karena ee ini luar biasa menggerakkan banyak orang pecah telur itu. Begitu. Masyaallah. Berarti Pak Sikit juga gitu ya. Jadi kalau dilihat dari kalau dicompare nih antara oncoi kopi dan juga nasi uduk Bang Jenggot ini berarti lebih mantapan nasi uduk Bang Jenggot begitu ya. Kalau secara apa namanya orang lihat prestige gitu kan pasti wah ini owner coffee shop kayaknya lebih keren ya. Lebih keren keren gitu. Cuman dari dibilang kalau ee Bang Jenggot itu kan ee kayak apa ya breakfast stol gitu. Jadi kayak gerobak gitu Mas awalnya gitu sebelum punya tempat yang apa namanya lebih proper dari yang sebelum-sebelumnya itu kan kita pakai gerobak dulu gitu. Jadi ya tapi sih sebenarnya nyaman-nyaman aja di mau dibilang owner coffee shop atau dibilang bakul sego itu saya aman-aman aja yang penting saat ini halal dan lebih tenang insyaallah gitu. He berarti kalau dari kalau tadi kan saya dipecah ter lebih tenang, lebih nyantai, lebih insyaallah lebih manfaat. Kalau dari nasi uduk Bang Jot ini lebihnya apa dibandingkan koncoi kopi? ya lebih apa ya kan waktu itu tutup kan waktu itu tutup dan saya belum menikmati hasilnya boleh dibilang ee belum menikmati hasilnya dan ini alhamdulillah ee cukuplah untuk apa hidup sehari-hari untuk sekolah anak-anak gitu insyaallah lebih itu dan lebih banyak karyawan juga kan untuk sebelumnya. Pak, itu secara mekanisme seperti apa ya? Katakanlah ee buka 3 bulan kemudian pandemi datang langsung ditutup gitukah atau seperti apa? Ee kita sempat bertahan waktu itu karena kan ada kayak apa namanya anjuran untuk PPKM untuk buka di malam hari gitu atau malam hari dibatasin gitu kan. Cuman ee kayaknya jadi enggak lebih enggak efektif. Jadi mau enggak mau kita juga harus berhenti gitu karena ya itu apa namanya semua kan harus tutup di jam sekian gitu kan waktu itu. Enggak boleh apa kumpul-kumpul gitu. Pertahannya berapa lama? Itu kita mulai Oktober Mas Agung akhir Desember itu kita harus sudah close dan baru mulai lagi setahun kemudian dan itu sudah mendekati habisnya sewa tempat. Hm. Makanya saya muncullah apa ide itu tadi. Oh, kira-kira apa ya ini ee agar saya enggak kalau mau ngelanjutin untuk sewa kontraknya juga lumayan gede waktu itu gitu yang kira-kira bisa buat apa namanya usaha lainnya gitu. Siap. Siap. Kalau tercetus nasi uduk Bang Jenggot itu setelah berapa lama dari kejadian itu? itu. Jadi waktu kita sudah mulai tutup itu kan 9 ee 9 bulan itu kan kita operasional, sempat operasional dan apa ya harus buka tutup, buka tutup yang akhirnya enggak efektif. Nah, ini kayaknya kita harus saya harus inilah punya apa ya, punya set ee set usaha yang lain gitu. Terus akhirnya ada salah salah seorang customer kita juga ee mungkin saya sebutkan namanya Mas Anggar itu, Mas. kira-kira ee apa ya ini diskusi karena beliau juga ee ada background usaha franchise waktu itu. Franchise minuman terus ya sama-sama dalam posisi apa namanya kurang lagi turun lagi ini akhirnya turun ada ide itu gitu dengan modal yang sangat minim waktu itu. Ya sudah kita ini pas coba nge-grade kita test food dan ya alhamdulillah diterima Mas Agung waktu itu karena memang waktu itu ee apa ya konsumsi sarapan di pagi hari itu masih jarang. Hm. Waktu itu tuh masih jarang banget di Tulungagung nasi uduk apalagi nasi uduk gitu kan. Heeh. Heeh. Kok memilih nasi uduk itu idenya dari nasi uduk karena nasi uduk belum ada atau seperti apa? Kalau nasi uduk sendiri di Tulungagung waktu itu sudah ada. Sudah yang lama sudah ada. Cuman sepertinya bukanya di malam hari. Heeh. Heeh. Nah, kalau di waktu saya di Jakarta sempat di Surabaya juga itu nasi uduk itu salah satu menu sarafan favorit gitu dan itu kayaknya belum ada di kota saya gitu waktu itu. Jadi ya sudahah kita apa namanya kita research gitu kan. He. Akhirnya ketemu sampai pas diterima lidahnya orang Tulungagung. Heeh. He he. Akhirnya pernah sampai berapa cabang G? Kalau banyak Kak ya kalau Pak ya. Kalau cabangnya kalau yang di Tulungagung sendiri sempat ada enam masaku. Sempat ada enam. Terus sekarang tinggal empat. Cuman kalau yang apa namanya mitra itu banyak. Ada yang di Malang, di Batu. Kalau itu sudah kita sempat 14 kota. Hm. Kalau di luar kota berarti apa? Franchise atau apa? Iya. Kemitraan. Mitra lepas. Gimana tuh? Mitra lepas tuh. Jadi nanti kita ajarin ee mitra itu sampai apa namanya? Sampai bisa sampai jualan. Nah, kemudian hasilnya 100% untuk untuk mitra. Jadi kita sudah enggak dapat ini ini aja gitu. Bantuin set up gitu ya judulnya ya kayak ya kayak yang konsultan kopi tadi ya. Betul sekali Mas Agung. Cuman masih pakai nama nasi suduk Bang Jenggot gitu. Oh. enggak takut. Kemudian misal ternyata dia melakukan sebuah SOP yang kurang baik kemudian jadi e ke sini karena dampaknya enggak enggak enggak ada kekhawatiran seperti itu. Insyaallah sih ini sih asal apa namanya masih sesuai dengan resep 111 lah Mas. Oh itu masih sesuai dengan selama ini baik-baik aja begitu ya. Insyaallah seperti itu. Nah, mungkin di antara penonton pecah telur juga kalau ingin di kotanya ingin memiliki usaha nasi uduk Bang Jenggot itu di kisaran berapa, Pak? Kalau mitra lepas di kisaran R22 juta, Masku. Hm. Dapatnya? Dapatnya nanti SOP resep kita ajarin sampai bisa. Sampai bisa masak, sampai bisa. Terus SOP kru lapak itu nanti sampai jualannya seperti apa. Terus mungkin desain bootnya, desain apa namanya menunya tampilan. Misalkan kalau pakai ruko, tampilan rukoon yang seperti apa [musik] itu kita bantu sampai sampai jualan mas. Heeh. Berarti memang secara fisik tidak dapat apapun, tapi akan mendapatkan pembinaan dan pendampingan. Bahkan ada tim yang dikirim ke sana berarti ya? Ada. Kebetulan ini ke Jakarta. Oh, ada tim yang ke Jakarta juga. ee 4 hari, sudah 4 hari jalan. Hm. Dan alhamdulillah infonya tadi jualannya juga lumayan. Oh, ini kesempatan nih bagi teman-teman penonton pecah telur barangkali yang pengin memiliki usaha sarapan ya, Pak ya. Sarapan dengan menu nasi uduk. Nasi uduk. Betul sekali. Nah, brandnya nasi uduk Bang Jenggot bisa nanti menghubungi Pak Sigit ini ya. Oke. Ada juga sebuah kabar yang menurut saya juga relate dengan kata-kata yang kita opening tadi, Pak. Sesuatu yang paling kita genggam harapkan justru menjadi sesuatu yang kita lepaskan. Masyaallah. Yaitu di kejadian akhir-akhir ini kayaknya ini tak lihat Pak Sit sibuk sekali pindah ini. [tertawa] Kenapa itu Pak? Ya khadarallah sih sebenarnya kembali ke takdir ya Mas Agung ya. Mungkin Mas Agung tahu sendiri sempat nanya. [tertawa] Nah. Kita nanya lokasi sebelahnya sebelahnya untuk usaha bersama. Untuk usaha bersama. Insyaallah semoga Allah mudahkan. Amin. Nah, itu karena itu jadinya yang lapak saya yang lama yang sudah jalan kurang lebih hampir 2 seteng tahun Mas Agung itu lapak utama kan itu lapak utama pusat kota yang sebelumnya enggak ada masalah sama sekali sih sebenarnya. Adem ayam penjualan juga masyaallah tiap harinya sudah mulai apa naik terus gitu kan. Nah, tiba-tiba harus [tertawa] kita harus pindah yang itu menurut saya nak sekali gitu karena ee satu dan lain hal itu ya. Alhamdulillah tetap ada solusi sih kita harus geser ke sedikit ke lebih ke timur gitu tapi tetap insyaallah di pusat kota Tulungagung walaupun tempatnya lebih kecil gitu lebih kecil dan kita kemarin sempat launching bebek dan itu jalan Mas Agung bebek. He. Eh, untuk sementara bebeknya ee stop dulu nanti sambil kita nata lagi tempat yang apa yang lebih siaplah ini gitu. Berarti yang di baru ini enggak ada bebek sementara ini belum ada bebek lagi. Oh, iya iya iya i gitu. Nah, saya juga dapat bocoran. Selalu Allah menguji kita atau itu di saat yang kita sedang butuh-butuhnya. Masyaallah. [tertawa] lagi waktunya bayar SPP lagi. Iya gitu kan ya. Betul Mas ya. Jadi kebetulan banget itu kan apa namanya ee anak saya yang pertama Mas Agung ini kalau boleh cerita jadi ee minta mondoknya di luar di luar Tulungagung dan kemarin sempat tes sempat tes dia. Alhamdulillah anaknya apa namanya? Semangat sekali alhamdulillah. Dan saya sebagai seorang ayah kan ee intinya mendukung ya ee anak laki-laki nomor satu punya keinginan untuk melanjutkan pendidikannya di luar kota kemarin mau minta di Jogja dan dua-dua pondoknya itu alhamdulillah lulus h dan harus daftar ulang. [tertawa] Daftar ulang yang ya nominalnya lumayan Mas dua digit lumayanlah buat saya itu harus harus apa ya namanya? Harus puasa. Iya. Iya. I harus puasa untuk apa namanya keinginan-keinginan yang enggak urit termasuk keinginan untuk memulai usaha yang lain mungkin ya. Jadi ya Allah itu kadang gitu. Jadi ee kebetulan juga anak saya yang keempat ini sakit hari ini. [tertawa] Masyaallah. Jadi memang apa ya kayaknya kok bareng gitu ya. Cuman saya tetap yakin bahwa Allah itu enggak menguji ya la yukalifulahu nafsan wah gitu kan. He ee tidak kita tidak akan diuji melebihi batas kemampuan kita gitu. Jadi kita ee selalu ber ee apa berbaik sangka kepada Allah bahwa ini semua akan dilalui gitu. Saya ada khat yang masyaallah menurut saya itu ini waktu khat itu memulai nasi uduk itu pakai khot ini. Ee yang kurang lebih bunyinya ee tepat di saat hari buruk menyerang ada banyak hari baik menunggu giliran. Masyaallah [tertawa] itu ya kalau buruknya kan cuman sehari Mas Agung ya. Insyaallah hari-hari baiknya nunggu giliran menunggu giliran dan menunggu giliran kita untuk menghampiri. Masyaallah. [tertawa] Itu sih kalau saya Iya. Iya. selalu yakin akan kebesaran Allah itu. Insyaallah. Siap Pak. Saya ingin saya jadi penasaran ini seorang mantan bank banker bahasanya. Bengkir atau banker ya? Bank bangker. K bangker. bingkir kok konvensional. Ee kalau bangker itu kan itu tempat persembunyian, Pak. Iya. [tertawa] Bengkir ya? Bengkir. Seorang bengkir yang kemudian hijrah, kemudian pindah-pindah usaha diterpa banyak ujian dalam kehidupan juga bangkit lagi, diuji lagi, bangkit lagi sampai dip ini. Apa pandangan Pak Sigit tentang bisnis yang ingin Pak Sigit jalankan? Gitu. Maksudnya gini ee apakah ingin ee terus menggede atau ya gini-gini aja atau seperti apa? Kalau saya pribadi sih ee kesuksesan kita itu kan bukan dari banyaknya harta. Jadi, kalau saya tuh lebih ke kebermanfaatan kita untuk banyak orang sih. Jadi kalau ditanya lebih ini ya penginnya sih lebih banyak, lebih besar gitu maksud lebih mungkin bisa sampai ke apa namanya nasional bahkan ke luar negeri kalau bisa kan siapa tahu gitu kan. Ya itu sih lebih ee pengin terus apa bermanfaat sih gitu. Jadi kata kuncinya manfaat ya. I insyaallah. Walaupun sebenarnya ketika kita lebih besar, lebih nasional, bahkan lebih internasional secara psikolog ee secara konsekuensi pasti akan mengganggu kesibukan kita, Pak. Betul sekali, Mas. [tertawa] Nah, itu gimana? Iya, karena kan apa namanya segala sesuatu kan pasti kita ada konsekuensi yang harus kita ambil. Kalau mau begini-begini aja ya manfaatmu cuman segitu gitu. Kalau mau kamu lebih besar ee pasti ee hal-hal yang kamu apa namanya? korbankan juga akan lebih banyak gitu. Oke. Oke. Oke. Kira-kira nih yang sudah kan sudah 4 tahun ya di Tulungagung. Artinya ketika usaha sudah berjalan 4 tahun dan juga ya walaupun belum 5 tahun ya tapi secara kurva masih stabil artinya juga orang menyukai produk itu kalau bahasa kita produknya sudah ngangenin. Sudah ngangenin, sudah diterima, sudah menjadi ee menjadi rutinitas mereka. Itu seberapa, Pak? Kalau boleh di dari segi kuantitas itu berapa anunya penjualannya atau apa gitu? Kalau ee kita di lapak pusat kota itu kan ee memang yang pertama di situ gitu. Itu daripada lapak-lapak yang apa pakai gerobak yang kecil itu itu di kisaran 70 sampai 80 pek per hari, Mas. Jadi kalau yang pakai gerobak itu kita kisaran 35 pack sampai 50 pek sehari gitu. Heeh. Cuman ya masing-masing daerah itu juga enggak sama gitu. Jadi kita ee apa ya kadang juga salat pagi gitu kita tambahin pun kadang juga ya enggak habis jatuhnya malah kadang. Jadi ee kalau saya pribadi itu untuk yang di lapak lapak kota itu cenderung ke lebih ke konsisten kita kalau misalkan hari Selasa sampai hari Kamis itu kita jualannya misalkan 10 kilo gitu. Itu dibagi untuk empat outlet gitu. Nah, kemudian kalau hari-hari misalkan weekend atau Jumat, Sabtu, Minggu biasanya kan di sana itu banyak pesanan. Bahkan kita ada yang satu hari itu sempat ngayani sampai 300 pek, Mas, pesenan di biasanya kalau ada Jumat berkah gitu. Terus kalau yang weekend itu memang orang-orang mungkin malas masak kali ya. Jadi kita stoknya lebih tambahin biasanya sampai 13 bahkan sampai kita pernah 18 kilo per hari itu pernah. He. Jadi ya itu kita menyesuaikan gitu sebisa mungkin kita habis. He. Jangan sampai karena kan kalau nasi uduk itu beda sama minuman ya kan. Jadi kalau misalkan enggak habis itu ya mau enggak mau itu apa namanya kerugian gitu karena kita enggak jual yang enggak fresh. Kita akan masak hari itu, kita jual hari itu gitu. Heeh. Siap. Siap. Kalau dari mitra, Pak, yang dari berapa kota itu tadi yang penjualannya paling baik di angka berapa? Kalau info ya kemarin itu kalau contoh di Batu dulu itu sempat sehari 60 pek sempat, Mas. Jadi kita bukanya pagi kebetulan jam 0.00 pagi sampai jam 11.30 paling siang. He he. Itu jadi sampai 60 pack gitu. Jadi kalau misalkan dirata-rata dari harga Rp10.000 sampai Rp18.000 ya mungkin teman-teman bisa hitung di sana. Masaku gitu. Biasanya umumnya Pak dari buka jam .00 pagi sampai umumnya jam berapa? Tutupnya tutupnya kalau pas weekend itu jam 09.00 itu biasanya kita sudah sold out. Bahkan kadang pagi kalau pas kadang kan ada pesanan yang enggak confirm sebelumnya jadi memang kita enggak siapin stoknya gitu. Jadi tiba-tiba jam . habis juga pernah gitu. Jadi ya enggak enggak pasti sih gitu. Cuman kita batasin memang pangsa kita pangsa pasar kita itu untuk sarapan itu maksimal 10.30 gitu. Kalau enggak habis gimana Pak? Berarti kalau enggak habis ee biasanya nasi itu kita selametin itu kita jemur Mas Agung. He. Tetap kita olah untuk kita jemur. Kalau orang Jawa jadi karak. H. Dan jadi karak pun itu kita masih bisa jual juga. Jual karak berarti ya. Jual karak. Jadi enggak benar-benar yang mubazir gitu enggak karena masih bisa kita manfaatkan gitu. Baik. Kalau yang paling repot berarti persiapan ya, Pak ya? Persiapan. Persiapan. H-1 biasanya itu kita inikan lauknya. Jadi meskipun kayak misteri hari ini Senin gitu ee kita tetap ee yang di dapur itu tetap aktivitas karena persiapan untuk besok pagi untuk lauk-lauk besok gitu. Tapi untuk ee nasi terus yang harus fresh di pagi itu ya kita masaknya pagi gitu. Hm. Berarti kalau lauk gitu masaknya di jam kerja kayak gini jam 0.00 sampai jam 12.00 juga. Betul gitu. Masak lauk ayam-ayam ataupun serondeng-serondeng atau apa gitu ya. Lebih ke kering kentang, kering tempe gitu. Karena harus ngupas kemudian goreng segala macam. Kalau kalau nasi masaknya di pagi harinya. Betul sekali. Jam berapa, Pak? Teman-teman start jam .00. Oh jam 3.00 pagi. Jam .00 masak. Habis itu ada kan dari gudang itu. Habis itu didistribusikan ke outlet-otlet gitu. Betul sekali. Ke outlet-otlet. Ee berarti misalnya nanti teman-teman mau ngambil di luaran sana teman-teman penonton pecat telur ini banyak sekali Pak penonton pecah telur itu yang chat ke nomornya admin bank atau Mas bagi peluang dong. Nah gini-gini ini juga opportunity juga bagi teman-teman barangkali mau ee nasi uduk Bang Jenggot tapi konsekuensinya ya itu harus bisa masak jam .00 iya nanti open lapaknya jam .00 sampai jam 09 atau 11.30 lah .30 11. Terus kemudian juga penjualannya pun di kisaran antara 50 sampai 90 ya hariannya ya. Betul. Harganya sekitar segitu Rp10.000 sampai Rp1.000. Kalau marginnya itu berapa persen, Pak? Margin kurang lebih 35, Mas. 35% ya. Di luar karyawan sudah. Oh, sudah termasuk karyawan. Sudah termasuk karyawan. Berarti kalau ditungguin sendiri untuk kegiatan lebih untung lagi dong. Betul sekali. Kebetulan ada yang mitra kayak di Jakarta ini istri beliau yang nah untuk kegiatan istri gitu ya itu lebih untung kan karena tidak mengeluarkan biaya karyawan kos untuk karyawan tapi lebih capek sih tentunya sekali tapi daripada capek enggak ada kegiat mending capek ada kegiatan Pak dan menghasilkan dan menghasilkan masyaallah [tertawa] dan kita ini kebutuhan pokok sih sebenarnya Mas Agung karena kan ah itu yang beda ya yang beda dari apa namanya dari kopi tadi ya kita katakanlah kompare dari kopi itu beda ya karena kan tiap hari kita butuh sarapan Kadang orang buru-buru gitu. Makanya kita ada TL solusi sarapan praktis dan higienis. Ada kata-kata enaknya enggak? Praktis higienis dan enak. Itu Mas Agung yang tahu kalau itu. [tertawa] Mungkin dari packagingnya juga kan. Packaging-nya juga. Wah, keren packaging-nya. Betul itu. Iya. I iya iya. Baik, Pak Sigit terima kasih sudah datang. Closing statement dari Pak Sigit. Closing statement apa ya, Mas Agung ya? [tertawa] Ee jadi mungkin mungkin tadi kan ee judul di awalnya itu kan apa namanya? Terkadang suatu hal yang paling ingin kita genggam justru adalah hal yang harus kita lepaskan agar tidak ada harapan melebihi harapan kepada selainnya. Insyaallah. [tertawa] Terima kasih Syukran sudah datang. Selamat semoga usahanya makin sukses, keluarganya makin sehat, lancar, bahagia, berkah. Amin. Di dunia sampai akhirat. Amin. Terima kasih. Doa yang sama juga untuk penonton pecah telur. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.
Resume
Categories