Transcript
15sZVtK5J20 • Lulus Kuliah Bingung Cari Kerja, Nekat Ternak Ayam Berujung Rugi Ratusan Juta
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0665_15sZVtK5J20.txt
Kind: captions Language: id Target saya itu kurang lebih populasi ayam saya kalau sudah di Rp20.000 saya mulai menikmati hasil sedikit-sedikit. Karena saya merasa kalau menikmati sekarang nanti ayam saya enggak cepat bertambah dan saya kan butuh kalau saya e menikmati sekarang malah menikmatinya enggak enggak nyaman karena kan penghasilannya masih segini. Coba kalau ayam saya tambah banyak. Penghasilan saya kan juga tambah banyak. Menikmati sedikit-sedikit kan enggak kerasa. Saya mikirnya seperti itu. Sekarang kalau ayam petelurnya produksi saya di R.000. Kalau ayam puletnya untuk ayam remajanya di Rp3.000. Jadi kalau total ya berarti kan Rp10.000. Kalau sumber penghasilan saya itu yang utama pasti dari telur. Kemudian yang kedua saya juga jualan peralatan dan perlengkapan ternak di online saya jual. Kemudian saya juga ada trading telur juga. Saya memang selalu ngomong sama Tuhan di kamar mandi gitu. Pada saat saya titik terendah itu saya ngomong, "Hidup saya kok seperti ini sih Tuhan? Kenapa kok hidup saya seperti ini?" gitu. Tapi saya tetap beribadah seperti biasa. Saya tetap percaya pertolongannya. Mama saya selalu ngomong pada saat saya titik terendah itu loh. Mama saya itu ngomong sama saya, "Kamu pasti sukses. Percaya kamu pasti sukses. Mamamu juga banyak dihina orang juga. Kamu harus sukses, Nak. Bukti kalau kamu bisa. Memang saya bisa sampai sekarang ini ya. Yang di atas juga ikut serta pasti membantu saya. Halo, perkenalkan nama saya Alex Suselo. Saya berasal dari Pare Kediri, Jawa Timur. Saya usia 28 tahun. Saya sekarang pekerjaan saya adalah konten kreator dan juga peternak ayam petelur. Kalau saya kontennya itu edukasi tentang peternakan ayam petelur. Awalnya peternakan dulu. Saya mulai itu waktu 2021 awal. Jadi setelah saya lulus kuliah, saya kuliah di Ciputra Surabaya. Sebenarnya saya lulus 2020 akhir. Kemudian saya waktu itu juga bingung kan mau kerja apa juga kan. Terus kemudian ayah saya nawarin kamu mau coba ternak ayam tah? karena kebetulan ada lokasi yang bisa dipakai gitu. Nah, akhirnya karena saya juga bingung kan mau kerja apa kan waktu itu kan, jadi akhirnya ya sudah saya coba jalani aja gitu. Jadi saya coba jalani tenak ayam kemudian saya mulai di 2021. Keluarga enggak ada. Ayah saya itu ee basicnya adalah pebisnis kayu ya. Ayah saya bisnis kayu bikin palet kayu kalau tahu untuk alasnya gudang-gudang kayak seperti itu. Kalau saya jurusannya manajemen bisnis. Waktu itu mungkin papa lihat saya orangnya itu mungkin gampang kasihan ya. Jadi kayaknya katanya cocok kamu cocok belajar ayam aja deh. Kayaknya kamu kayu enggak cocok deh. Soalnya kalau di kayu ini papa saya bilang harus orang-orang yang benar-benar keras karena kan permainan di kayu itu banyak sekali gitu. Jadi, makanya ayah saya mungkin melihat saya, menilai saya orangnya itu gampang kasihan sama orang, terus mungkin ayah saya merasa gampang dibujuki mungkin anak ini gitu ya. Jadi ayah saya mungkin merasa kalau ayam kan musuhnya kan sama ayamnya, bukan sama orang-orang kan. Jadi makanya ayah saya, "Ya udah kamu coba belajarin ternak ayam aja deh." gitu. Saya waktu itu dimodalin ee total ya itu R200 juta sama lokasi ini gitu. Awal saya langsung ternak ayam petelur, tapi dari DOC. Dari DOC saya besarin kurang lebih 13 minggu kemudian saya jual. Nah, awal bisnis saya itu ya itu jualan ayam petelur remaja. Kalau gengsi kayaknya zaman sekarang enggak bisa kalau gengsi-gengsi ya. Karena cari uang kalau gengsi-gengsi kayaknya enggak dapat uang. maunya itu sebenarnya kan memang berawal dari bingung mau bisnis apa. Jadi, ya saya jalani ternyata waktu saya coba jalani bisnis ini kemudian waktu anak ayam datang itu kan kecil-kecil, lucu-lucu saya senang gitu. Jadi kayak saya merasa anak ayam datang itu kayak ya ampun lucu sekali gitu. Terus dari situ saya merasa enjoy menjalaninya gitu. Meskipun pada saat itu ya perjalanannya pun tidak semudah itu kan gitu. Kalau mental sebenarnya saya dapat itu dari ayah saya. Baru saya sadari juga sekarang mental yang dilatih sama ayah saya itu mental untuk bisa berdiri di atas kaki sendiri. Jadi meskipun saya dikasih lokasi, meskipun saya dimodalin R200 juta, itu semua enggak langsung R00 juta itu enggak langsung dikasih loh, Mas. itu diutangkan ke bank ambil KUR bank, Mas. Jadi pada saat itu kan COVID kan ya, usaha ayah saya kan juga lumayan terganggu juga, juga lumayan surut juga. Makanya ayah saya juga butuh untuk putaran bisnisnya juga gitu. Jadi utang bank itu ya dipegang ayah saya dulu kemudian dikasih sedikit butuh berapa R10 juta, R juta. Jadi enggak langsung dikasih R200 juta langsung enggak enggak langsung dikasih. Jadi dari awal ternak dari DOC itu memang perawatan dari DOC itu kan memang intens kan ya. Jadi memang harus benar-benar diperhatikan. Contohnya mulai dari pemanasnya kan kalau anak ayam itu kan butuh suhu itu kurang lebih kalau minggu pertama ya itu di 33 derajat sampai 35 derajat itu harus bertahan 1 minggu. Nah, kemudian minggu kedua kita bisa turunkan suhunya di kurang lebih di 32 33. Kemudian di minggu ketiga kita bisa turunkan lagi di 30 sampai 31 derajat. Kemudian minggu keempat ini sudah mulai enteng. Untuk perawatannya itu lebih mudah lah. Jadi kalau untuk perawatan dari DOC itu 3 minggu pertama itu sangat menentukan keberhasilan dari ternak dari DOC. Oke, jadi ceritanya lokasi ini itu kan ada itu 2005. Kandang ini sudah ada di tahun 2005 dan kemudian di 2015 ayah saya ada uang lebih akhirnya di belilah dari orang lain. Kemudian di kandang ini itu sudah ada tiga kandang. Tiga kandang ini itu kandangnya itu pembesaran postal memang diperuntukkan untuk dari doc sampai ke remaja seperti itu. Dulu memang ini kandangnya itu untuk pedaging juga. pernah dicoba untuk pedaging juga sama orang lain ya sebelumnya saya gitu. Orang-orang kan juga mikir gampang ternak ayam alah dikasih makan kasih minum selesai. Ternyata enggak semudah itu ternyata. Jadi ee kita juga harus memperhatikan jadwal vaksinnya, kemudian kita juga harus memperhatikan pemeliharaannya, belum pengobatan rutinnya, kemudian belum ngurus karyawannya. Itu yang agak cukup lumayan menguras pikiran juga. Jadi dari awal itu karena saya juga enggak ada basic, ayah saya juga bukan basicnya peternakan, jadinya kan saya mencari-cari sendiri. Saya belajar ternak itu juga dari Google. Saya lihat apa saja sih persiapan untuk memelihara DOC ini? Apa saja persiapannya? Saya cari tahu di Google, saya lihat-lihat di YouTube juga. Habis itu berjalan, saya coba isi ayam. Kemudian pada saat kerja itu kan saya waktu COVID. Nah, kemudian saya waktu COVID itu isi ayam. Kemudian di dalam pemeliharaan itu salah pengaplikasian vaksin. Kemudian ayamnya banyak yang terjangkit virusnya juga. Kemudian kematiannya juga tinggi. Kemudian ditambah lagi waktu COVID harga panen untuk pulet itu kan hancur juga. Harga telur kan pada saat itu kan murah bisa sampai bawah Rp15.000. Jadi jual ayamnya pun juga susah. Saya waktu sudah pelihara itu setengah mati ayam banyak yang mati. Mau dijual ini yang beli itu enggak mau ya. Terus mau dijual ke mana gitu. Saya kan juga bingung. Kemudian akhirnya untung ada bakul-bakul ada yang bantu saya untuk menjualkan. Tapi ya memang jualnya jual rugi jadinya. Dari situ awal melihara rugi kemudian pelihara lagi rugi lagi. Karena kan harga waktu itu belum mengangkat pas. Harga telur juga masih murah, Covid masih gencar-gencarnya kan pada saat itu kan. Terus kemudian saya udah kayaknya kurang lebih tiga kali pemeliharaan DOC tiga periode itu akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dulu untuk pelihara DOC ayam petelur. Kalau yang ayam petelurnya itu saya rugi kurang lebih Rp jutaan. Belum yang pedaging. Saya juga nyoba pedaging, Mas. Kalau di tootal kurang lebih hampir R00 juta. Kurang lebih sisa R30 juta. Tabungan saya saya masukkan juga. Saya kan waktu SMA kuliah kan juga ikut IO, kemudian ikut jualan jaz, jaz-jz pengantin gitu loh, Mas. Saya juga jual-jualan semua apa aja tak jual. Masukkan juga untuk nambahi putaran bisnis kan. Karena kan pada saat itu kan memang sama ayah saya kan enggak dikasih langsung uangnya. Jadi setelah 2021 itu gagal untuk ternak ayam pulet karena harga panen rugi, kemudian pemeliharaan juga banyak kematian. Kemudian saya lihat waktu itu harga pedaging lagi cukup lumayan tinggi. Harga ayam pejantan itu lakinya ayam telur itu harga panennya itu masih di kisaran Rp30.000 per kilo. Makanya saya wah kita coba ternak ayam pedaging aja deh. Siapa tahu dapat untung. Nah kemudian saya coba ternak ayam pejantan. Kan dia panennya kan 2 bulan dipanen. Saya sudah masukkan DOC-nya ayam pejantan kemudian saya pelihara 1 bulan. Kemudian bulan pertama ini mau masuk ke bulan kedua, harga panennya ikut hancur. Harganya di bawah kurang lebih di bawah Rp20.000 pada saat itu. Rp1.000 seingat saya. Di situ juga ayam pejantan itu pemeliharaannya juga saya ada yang salah juga akhirnya banyak kematian juga. Udah banyak kematian panen harga murah. Kalau harga murah kan oversupply waktu itu juga akhirnya susah juga ngeluarin ayamnya itu. Jadi harga panennya anjlok, pemeliharaannya gagal. Dobel-dobel ini ruginya saya. Saya start pertama itu 2 tahun pertama itu tidak ada hasilnya sama sekali. Saya juga pernah coba puyos. Jadi macam-macam di sini kayak ya kayak kebun binatang lah. Jadi gini, setelah saya pedaging itu rugi hampir kurang lebih R jutaan, kemudian pegawai saya kan kasihan juga dia kan harus perlu pekerjaan kan karena untuk kehidupannya kan. Terus saya diskusi sama mandor saya, coba kita ternak puyu aja tah karena modalnya kan lebih murah. aku bisa masukin kurang lebih 3.000 ekor. Jadi, coba kita coba aja lah siapa tahu bisa gitu. Terus saya coba beli kandangnya puyuh juga. Saya coba masukkan puyuhnya. 2 bulan tiba-tiba puyuh saya terserang virus. Akhirnya saya konsultasi ke orang-orang, "Ya, itu beneran virus aratan namanya. Kalau kamu enggak afkir langsung jual semua itu pelan-pelan habis puyuhnya." Akhirnya saya afkir juga itu puyuhnya. Jadi memang benar-benar pada saat itu 2022 itu hoples sudah saya mau berhenti ternak waktu itu. Saya sudah coba waktu setelah pusing itu ya, saya coba jadi agen asuransi. Saya coba keliling ke perumahan dekat-dekat sini. Saya datangin masuk ke rumahnya orang gitu, ngajak ngobrol saya prospek. Saya coba prospek orangnya bisa ditanyakan perumahan di sini namanya perumahan Gajah Mada. Karena saking hopless-nya terus saya juga ada kepikiran, jadi saya pernah daftar agen properti, kemudian saya juga mau hampir daftar polisi karena saya merasa wah kalau kerja di pemerintahan ini kayaknya santai ya, enak ya, aman ya hidupnya. Saya sempat beli bukunya itu, buku Akpol karena kan saya S1. Saya bisa daftar Akpol kan seingat saya jadi masuk ke Akpol tapi jurusan yang sudah S1 gitu. Saya sudah beli bipnya tebal segini waktu itu. Karena saya saking hoplessnya ini saya ternak enggak pernah berhasil. Ee 2023 itu titik balik saya. Tapi setelah saya hopless pada saat itu saya ngeluh ke papa saya. Saya ngeluh ke papa saya. Saya bantu Mbah. Aku enggak berhasil loh iki. Saya bantu karena aku merasa hidup temanku, hidup saudara-saudaraku kok nyaman. Sudah disiapin usaha, sudah disiapin sistemnya, semuanya tinggal jalan, tinggal ngawasin. Nah, sedangkan aku belajar dari awal loh, Papa kan enggak bisa ngajarin aku ternak. Intinya saya pada saat itu e membandingkan keadaan hidup saya lah. Saya merasa hidup saya kok seperti ini. Itulah jadi saya itu repotnya saya ini terbranding sebagai anak yang keluarga yang mampu. Banyak juga yang ngomong, "Aah, tinggal minta papanya kan wis dikasih toh gini-gini." Tapi mereka kan enggak tahu dalamnya seperti apa. Pada saat itu kan memang COVID, ayah saya juga enggak bisa support saya segimananya gitu. Kemudian saya bertengkar sama papa saya, terus papa saya balik marah sama saya. Ya udah, kamu gak mau kerja ayam. Saya gaji kamu R juta per bulan cukup. Nah, di situ saya cuma diam aja karena kan saya enggak mau kayak gitu kan. Saya kan pengin berkembang. Ayah saya marah sama saya pada saat itu. Terus saya tambah nelongsot to Mas. Pada saat itu terus saya sambil mandi saya nangis sejadinya. Kemudian saya setelah mandi saya ke di kamar ya kan itu mama saya nyamperin saya. Nak papamu itu sebenarnya sayang sama kamu. Papamu enggak gitu kok. Kamu percayalah bapakmu enggak seperti itu. Bahkan pada saat itu ya, Mas, saya pengin kabur dari rumah itu karena ya saya merasa enggak dibantu. Saya merasa enggak dibantu sama sekali sama bapak saya. Saya merasa sendirian lah pada saat itu. Selain itu, pada saat itu saya kan punya pacar juga. Saya sudah pacaran kurang lebih 5 tahun. Dia juga meragukan saya. Tahun depannya saya harusnya tunangan itu. Cuman dia ragu sama saya. Dia ngomong, "Nanti hidup kita bisa enak enggak? Nanti ee ke depannya gimana?" kamu kan belum ada penghasilan. Terus saya bilang, "Loh, saya kan juga berusaha terus ini memang saya belum belum berhasil. Saya kan enggak diam aja di rumah. Saya setiap hari kerja loh. Saya setiap hari berusaha. Kecuali kalau diam aja di rumah kamu baru takut boleh. Karena kan saya juga berusaha meskipun saya masih belum berpenghasilan, belum bisa menghasilkan lah gitu." Kemudian pada saat itu akhirnya saya juga selesai hubungannya karena saya ngomong ke dia, "Mungkin kalau kamu butuh yang sudah mapan, kayaknya orangnya bukan aku. Kalau kamu butuh yang masa depannya cerah, yang terlihat hidupnya aman, tentram, kayaknya orangnya bukan aku. Jadi kamu enggak apa-apa kamu cari orang lain aja yang kamu butuhkan." Saya bilang gitu. bersamaan kejadiannya pada saat itu. Makanya saya merasa 2022 itu adalah e titik tertandah saya pada saat itu. Kemudian 2023 saya sempat enggak bisa bayar pakan juga ke saudara saya. Toko pakannya itu saudara saya yang support pakan ke saya. Karena itu pas rugi itu ayah saya kan enggak langsung kasih uangnya kan. Tapi kan modalnya kan berkurang terus ini karena kan rugi kan. Nah, saya ditage-tage pakan juga saya sampai sungkan banget sama saudara saya waktu itu. Saya datang, saya jelasin, saya minta kelonggaran, saya butuh kelonggaran, pembayaran, saya pasti akan bayar. Saya bilang gitu. Nah, kemudian titik baliknya pada saat itu adalah 2023 COVID sudah mulai redah. Kemudian ayam petelur juga mulai naik. Kemudian saya coba beranikan diri masukkan lagi ayam DOC ayam petelur. Saya beranikan lagi DOC ayam telur saya masukkan. Pada satu itu uang yang saya pegang itu kurang lebih Rp30 juta. Itu cukup untuk beli DOC-nya. Itu uang sisa. Uang sisa yang modal yang sudah dikasih sisa kurang lebih R30 juta di rekening saya untuk pelihara 3.000 ekor dari usia 1 hari sampai 13 minggu itu kan kurang lebih butuhnya ratusan itu. Tapi saya cuma punya uang Rp30 juta. Terus kemudian saya beranikan lagi ngomong sama saudara saya yang jual pakan ini saya mau coba ternak lagi. Saya butuh kelonggaran pembayaran. saya bayar setelah panen ternyata tiba-tiba dia mauembantu saya. Nah, di situlah titik baliknya. Pada saat itu saya bilang 3 bulan panen saya selesaikan pembayaran pakannya gitu. Jadi dari situ mulai ada keuntungan, isi ayam lagi ada keuntungan lagi, isi ayam lagi ada keuntungan lagi. Sampai ketiga periode itu untung terus. Puji Tuhannya untung terus pada saat itu. Di samping itu pegawai saya kan ada tiga ini tetap bertahan sama saya meskipun keadaan saya terpontang-panting. Mereka tetap ikut saya. Padahal kalau mau cari kerja di tempat lain yang gajinya lebih tinggi mungkin bisa, tapi mereka tetap bertahan di sini. Nah, kemudian enggak sampai situ aja, panen keempat saya ditipu orang. Saya jualan pulet. Kemudian dia bilang, "Ini pembelinya minta tempo 1 bulan." Itu orang Blitar. Pembelinya dia minta tempo. Oke, ya sudah. Kebetulan saya juga butuh ayamnya segera keluar biar saya bisa ngisi ayam lagi. Kemudian setelah 1 bulan saya coba tagih enggak dibayar. Alasannya dia belum dibayar sama pembelinya. Saya nagih sampai lima kali ke Blitar. Saya ke Blitar lima kali nagih ke rumahnya waktu itu. Iya diikhlaskan sudah R juta itu sudah diikhlaskan sudah. Karena kalau saya fokus sama nagi hutang, saya enggak bisa fokus kerjaan saya. Jadi memang pada saat itu R juta pada saat itu besar bagi saya besar sekali itu. Kemudian saya sudah lima kali aduh capek sekali. Nag dari pagi sampai malam orangnya enggak pulang-pulang ya. Cuma ada istrinya. Istrinya nyetel musik di TV kencang-kencang gitu kayak enggak terjadi apa-apa. Ya sudah, akhirnya saya berhenti untuk nagih utangnya itu. Jadi saya ikhlaskan, saya fokus sama pekerjaan saya dan puji Tuhan ee setelah saya ketipu itu malah saya bisa bangun kandang pertama saya petelur. Dari keuntungan yang berputar tadi saya bisa membangun kandang pertama saya. Itu pun enggak semudah itu, Mas. Karena kandang saya yang pertama itu kandangnya pakai barang-barang bekas semua. kelihatan kok baterainya itu e karatan. Jadi terlihat kalau barang-barang ini barang-barang bekas semua. Saya harusnya kalau bangun satu kandang itu habisnya peralatan itu bisa di R5 R80 juta ini saya cuma dapat harga itu Rp20 juta. Itu sudah dikirim ke sini juga kandang baterainya, tempat pakannya, tempat minumnya. Dapat kayu-kayunya juga penyangganya itu, Mas. Jadi kayak ada orang yang sudah berhenti ternak kemudian dia pengin jual peralatannya. Enggak tahu kebetulan semuanya kayak serba kebetulan gitu. Kalau saya sebenarnya belum menikmati hasil saya, Mas, sampai sekarang. Karena saya berpikir untuk saya gulung terus untuk bisnis gitu. Jadi saya pengin segera tambah populasi lagi, saya buka bisnis baru lagi. Saya kan juga jualan online. Saya jualan online peralatan ternak itu kan juga butuh nyetok barang juga. Nah, akhirnya saya putterin uangnya keuntungannya ke situ. Terus saya juga mau pengembangan ke produksi baterai kandang ayam. Jadi, uangnya itu saya enggak pernah menikmati sampai sekarang belum pernah menikmati gitu. Kalau saya itu pengin karena kan target saya kan banyak. Kemudian makanya saya menunda kesenangan dulu karena saya kalau ditanya secara manusiawi pengin beli mobil pengin. Pengin beli baju bagus bagus pengin. Tapi apakah itu bisa menyokong bisnis saya untuk penghasilan saya lebih lagi? Jadi saya memang benar-benar menunda kesenangan untuk sekarang karena banyak target yang harus dicapai. Target saya itu kurang lebih populasi ayam saya kalau sudah di Rp20.000 saya mulai menikmati hasil sedikit-sedikit. Karena saya merasa kalau menikmati sekarang nanti ayam saya enggak cepat bertambah. Dan saya kan butuh kalau saya menikmati sekarang malah menikmatinya enggak enggak nyaman karena kan penghasilannya masih segini. Coba kalau ayam saya tambah banyak. Penghasilan saya kan juga tambah banyak. Menikmati sedikit-sedikit kan enggak kerasa. Saya mikirnya seperti itu. Sekarang kalau ayam petelurnya produksi saya di Rp7.000. Kalau ayam puletnya untuk ayam remajanya di Rp3.000. Jadi kalau total ya berarti kan Rp10.000. Kalau sumber penghasilan saya itu yang utama pasti dari telur. Kemudian yang kedua saya juga jualan peralatan dan perlengkapan ternak di online saya jual. Kemudian saya juga ada trading telur juga. Jadi kalau ada orang yang cari telur, saya carikan. Telur saya kan terbatas belum banyak saya belanjakan di tempat lain gitu ya. Betul. Jadi kalau orang mikir saya kok berkembangnya cepat sekali memang karena kan saya cari ceperan banyak. Terakhir ada yang dari Gorontalo dia minta kandang ayam petelur e galvanis. itu 600 set dia DP setengahnya kemudian setengahnya sebelum berangkat dari situ kan keuntungan saya lumayan tuh ya itu dari ngonten dia tahu konten saya terus kemudian dia DM saya terus dia langsung masukkan uang ke saya carikan barangnya pokoknya barang enggak ada tak ada-adain pokoknya apa aja tak jual pada waktu itu sebenarnya awal ngonten itu gara-gara putus sama pacar itu. Jadinya saya itu kayak waktunya kan banyak, jadi saya mengisi waktu luang lah kenapa saya enggak nyoba ngonten aja ya gitu. Akhirnya saya coba ngonten. Pertama kali ngonten itu sudah langsung videonya sudah langsung up gitu lumayan. Terus dari situ saya jadi semangat. Jadi berawal dari putus cinta terus gabut. yang dulunya malamnya itu teleponan sama pacar, sekarang ngedit video. Kalau menurut saya itu perawatan ayam itu semua aspek itu penting. Jadi enggak cuma pakannya aja bagus, DOC-nya aja yang bagus, nanti ayamnya telurnya bagus, enggak. Jadi semua aspek di ternak ayam bertelur ini menurut saya penting sekali gitu. Jadi mulai dari kandangnya harus proper, kemudian pakannya juga harus oke, perawatannya juga harus oke, kemudian jadwal vaksinnya juga harus sesuai. Jadi kalau menurut saya enggak ada yang nomor satu, enggak ada yang nomor dua, harus seimbang semuanya gitu. Karena memang saling berkaitan asek satu dengan yang lain. Betul. Jadi kalau di peternakan ayam bertelur ya semua aspek penting sekali. Kalau enggak ya ayamnya enggak bisa produktif gitu. Lewat kandang pengaruh juga ketinggian ayam ke tanah itu juga pengaruh juga. Jadi kalau misalkan terlalu rendah amonia kan jadi dekat sama ayam kan. Nah itu juga menyebabkan penyakit pernafasan juga ke ayam. Nah, maka dari itu memang e ketinggian dari tanah ke ayam itu minimal yang bagus ya itu di 2 m sampai 2,5 m. Kalau pakan kualitasnya memang beda ya. Tiap merek memang beda. Cuman pakan itu bukan yang utama. Tetap ke perawatan kalau saya. Jadi meskipun ayam kamu dikasih makan yang paling mahal tapi kalau ayam kamu sakit gimana caranya bertelur? Gimana ayamnya bisa produktif? Jadi memang kalau pakan itu nomor kesekian lah, tapi memang kita tetap harus coba pakan yang cocok di kita gitu. Kalau layout khusus sebenarnya sih butuh ketinggian itu yang penting. Pertama, kemudian jaga sirkulasinya juga biar ayam itu karena kan kalau ayam petelur ini kan butuhnya sebenarnya sejuk hawa yang sejuk di suhu 21 derajat kalau ayam produksi ya. Jadi gimana caranya kita bikin kondisi kandang itu sesejuk mungkin. Jadi penambahan kipas, kemudian juga e penyemprotan juga kita juga bisa penyemprotan desinfektan membantu suhu kandang itu turun kan kelembaban kandang. Jadi kotoran itu jangan sampai basah. Nah, kalau basah pegawai saya saya suruh taburin kapur atau taburin pakai serbuk kayu. Nah, saya sudah sediakan. Jadi kalau misalkan ada yang basah harus segera ditaburin kapur atau serbuk kayu itu. Kalau saya pernah hitung-hitung ya, tapi tanpa kandang ya. Ini ayamnya aja kandang sudah siap ya. Karena kan saya kandang juga enggak bangun dari awal full kan gitu. Jadi saya renovasi kalau modal dari awal itu setahun itu untuk mengembalikan dalnya dulu. Jadi sama tergantung kita lihat harga telurnya. Kalau harga telurnya dalam setahun itu mahal terus, ya otomatis kembalinya kan BP-nya ayamnya kan lebih cepat lagi. Kemudian setelah setahun kita mengembalikan modal ayam, baru setahunnya itu keuntungannya. Belum lagi kita afkir ayamnya kan dapat uang lagi. Itu kalau ayamnya sudah enggak produktif kita jual kan ayamnya kan dapat tambahan modal lagi. Meskipun enggak penuh kan ya. Ee dalam jangka waktu 2 tahun tapi belum peralatan dan kandangnya ya. Itu untuk modal ayamnya aja. Kalau kandang kan saya menganggap itu investasi aja. Jadi investasi jangka panjang kan karena kan bisa dipakai sampai 5 sampai 10 tahun kan untuk kandangnya. Kalau 1000 ekor itu kurang lebih ya bisa di saya enggak mau ngasih ekspektasi tinggi kurang lebih di Rp250.000 bersih per hari. Jadi kalau misalkan punya ayam berapa ya tinggal dikalikan aja. Tapi itu saya ambil harga paling rendah ya. Harga paling rendah karena saya enggak mau memberi ekspektasi tinggi gitu. Jadi dari 1000 ekor itu kan kita bisa produksi kurang lebih telurnya itu 50 kilo per hari minimal. Tapi kalau di bawah itu sudah pasti ayammu ada bermasalah antara kesehatannya atau mungkin ada aspek-aspek lain yang bermasalah. Jadi aku ada yang mempertanyakan itu di Instagram saya. Kemudian saya coba bantu jawab. Kalau ee menurut saya yang itu kan danantara 20T bangun ternak daging dan telur ya itu kalau menurut saya itu adalah kabar baik sekaligus bisa jadi kabar buruk juga bagi para peternak. Kabar buruknya adalah kalau misalkan itu beneran terealisasi. Jadinya kan populasi ayam kan banyak sekali tuh 20T itu enggak cukup ini tempatku. Makanya itu banyak sekali kan dan itu akan ada kecenderungan ke over supply di telur dan daging. Kalau over supply otomatis kan cenderung harga itu tidak stabil dan atau bahkan murah. Tapi kabar baiknya kalau pemerintah memang beneran terjun di peternakan ini, otomatis mereka akan memperhatikan harga telur, harga daging, dan juga harga bahan baku pakan. Jadi harapan saya, harapan para peternak semua sih kayaknya itu pemerintah bisa membantu kita untuk menstabilkan harga telur, harga daging, dan harga bahan baku pakan. Jadi memang ada dua sisi ini. Memang di sisi lain saya merasa wah ini bisa nih kayaknya dibantu untuk menstabilkan harga. Tapi di sisi lain juga saya mikir, waduh lah, Lek. Ayamnya tambah banyak ini, Lak. Telurnya tambah banyak, dagingnya juga tambah banyak lah. Harganya apa enggak lanjlok nanti. Nah, gitu sih. Jadi ada sisi positif dan negatifnya kalau menurut saya gitu. Tapi kalau saya tetap optimis, semoga yang terbaiklah buat para peternak. Ee enggak sih, dia sudah tunangan sekarang. Jadi saya juga senang sih dia sudah tunangan. Dia sudah happy kan dengan jalannya dia sendiri. Saya kan juga juga happy dengan jalan saya sendiri kan. Jadi setelah 2023 akhir saya bisa bangun kandang pertama saya. Kemudian 6 bulan pertama itu kan saya juga ee masih baru kan di produksi telur kan ya. Itu juga banyak kendala juga ayam ada yang mati juga tapi ya enggak sebanyak dulu karena kalau ayam produksi itu kan lebih kuat daripada ayam DOC. Kalau ayam DOC kan masih belum ada kekebalan tubuhnya juga kan. Kemudian 6 bulan saya pelajari produksi. Ada masalah ini kita harus seperti ini. Ada masalah begitu kita harus seperti ini. Kemudian sudah sustain. Saya hitung-hitung kok ini keuangan saya kok makin bertambah terus. Karena kandang pertama saya kan sudah produktif, sudah ada profit lah. Akhirnya saya mikir, kenapa kandang saya yang tengah ini enggak saya bangun produksi juga aja ya. Nah, terus saya hitung-hitung lagi ini kayaknya kalau bangun kandang butuh sekitar R50 sampai R00 juta ini enggak cukup uang saya. Tapi saya tetap maksa kan saya kan pengin ayam saya segera tambah kan. Jadi saya mikir gimana caranya ya kalau gitu saya datangin lagi saudara saya. Namanya saudara saya itu Cik Cik Tong namanya. Kalau saya nyebut itu Cik Tong. Jadi karena itu kan adiknya kakek saya, saya ngomong ke Cek Tong, "Cekong, saya butuh kelonggaran pembayaran lagi karena saya mau bangun kandang kedua, mau tambah populasi lagi. Aku minta tolong dibantu support pakannya sama kelonggaran pembayarannya." Nah, akhirnya dia bilang, "Oke, tak support enggak apa-apa." Saya itu dikasih kelonggaran itu bayar pakan sampai 3 bulan loh, Mas. Siapa yang mau bantu saya lagi? Kalau enggak siapa namanya saudara saya itu? Kalau ayah saya kan memang fokus sama bisnisnya sendiri. Karena saya datang ke saudara saya ini enggak cukup kan buat saya bangun kandang ini. Akhirnya saya beranikan diri untuk ngobrol sama supplier jagung. Saya datang ke supplier jagung. Saya ngomong ee terus terang saya ngomong, "Pak, ini kan saya ayam saya sudah yang kandang pertama sudah jalan. Saya mau bangun lagi kandang kedua saya. Tapi ini saya minta tolong bantuan kelonggaran pembayaran lagi. Saya mungkin minta dua sampai 3 nota apa bisa dibantu?" Ternyata dibantu lagi sama supplier jagung ini. Dibantu juga. Ya udah, Mas. Enggak apa-apa. Makanya putaran saya kan makin banyak nih e amunisi saya untuk bisa bangun kandang. Terus enggak sampai di situ saya hitung-hitung lagi masih kurang. Karena kan saya rubah total. Kandang yang tengah ini saya rubah total dari atapnya. Ketinggiannya saya rubah total. Tapi peralatannya saya pakai bekas lagi karena saya dapat bekas lagi. Kandang baterai, tempat pakan, tempat minumnya saya dapat bekas. Kemudian kan saya masih butuh materialnya kan untuk semennya ee dan lain-lainnya. Dan atapnya kan baru juga. Saya datang ke teman saya ee sebenarnya belum seberapa dekat. Saya datang ke tokonya, saya bilang, "Kandre, saya mau bangun kandang lagi. Saya baru bisa bayar itu ayam saya saat sudah produktif. Kurang lebih saya butuh waktu 5 sampai 6 bulan. Bisa enggak saya nyicil per bulan?" Terus kok andrinya bilang, "Ya leh, enggak apa-apa tak bantu, tak support wis, ayo tak bantu." Enggak apa-apa. Dia bilang gitu. Jadi, ya itu perjalanan saya minta tolong sama tiga orang itu sampai saya bisa e seperti sekarang. Jadi perjuangannya ya enggak segampang itu. Saya harus dapat kepercayaan, saya harus datang, saya harus meyakinkan mereka kalau saya bisa menempati omongan saya. Saya memang selalu ngomong sama Tuhan di kamar mandi gitu. Pada saat saya titik terendah itu saya ngomong, "Hidup saya kok seperti ini sih, Tuhan? Kenapa kok hidup saya seperti ini?" gitu. Tapi saya tetap beribadah seperti biasa. Saya tetap percaya pertolongannya. Mama saya selalu ngomong pada saat saya titik terendah itu loh. Mama saya itu ngomong sama saya, "Kamu pasti sukses. Percaya kamu pasti sukses. Mamamu juga banyak dihina orang juga. Kamu harus sukses, Nak. Bukti no kalau kamu bisa." Memang saya bisa sampai sekarang ini ya yang di atas juga ikut serta pasti membantu saya. Jadi banyak aspek untuk mencapai saya sekarang ini. Banyak sekali. Dan saya juga belum sukses. Saya masih berproses untuk terus maju juga dan bisa menjadi berkat juga bagi orang-orang juga sekitar saya, pegawai pegawai saya dan juga saya planning saya kan juga saya kan juga gagal nikah, Mas. Harusnya saya 2025 Oktober kemarin ini saya harusnya menikah tapi enggak jadi karena ada beberapa masalah internal. Kemudian 2025 saya gagal nikah kan, Mas. Kalau ditanya sedih pasti sedih. orang mau membangun rumah tangga bahagia ya kan tangganya roboh duluan tapi. Jadi 2023 akhir itu saya ketemu sama seorang wanita terus saya pacaran setahun kita sudah tuangan kemudian lanjut ke pernikahan batal orang Surabaya karena ada masalah akhirnya kita enggak bisa bersama lagi. Kemudian pada saat itu 2025 ini juga cukup lumayan menantang bagi saya karena saya kan content kreator. Kemudian setelah saya gagal nikah itu saya ngonten. Akhirnya saya juga kepikiran jualan peralatan ternak. Kemudian ya kok puji tuhannya ramai juga peralatan ternaknya. Kemudian di DM-DM juga banyak yang ngomong minta diajarin ternak. Terus saya juga kepikiran, kenapa enggak saya buka kelas ternak ayam petelur? Ya, akhirnya saya beranikan bikin website, saya bikin materinya coba saya pasarkan gitu. Ternyata responnya juga bagus gitu. Terus konten saya naik, kelas saya juga lumayan ramai. penjualan e peralatan ternak saya juga cukup lumayan. Tiba-tiba ayah saya juga sakit pada saat itu. Ayah saya sakit jantung pada saat itu. Kemudian ada juga pada saat yang bersamaan saya itu disomasi sama orang loh, Mas. Itu alasannya ee internal itu. Enggak intinya ee masalahnya itu kan kita juga ada tanya-tanya pengacara kenalan kan. Ini masalahnya bisa tak dipermasalahkan? Ini enggak ada hukumnya. Ini enggak bisa dipermasalahkan. Bukan urusan bisnis ini, ini urusan pribadi. Saya diomasi, dikirim suratnya ke rumah saya. Jadi intinya orang ini enggak suka sama saya gitu. Tiba-tiba pada saat saya lagi naik-naiknya ini ada yang enggak suka sama saya. Isi suomasinya intinya kayak saya difitnah lah. Intinya saya difitnah melakukan sesuatu padahal dia yang melakukan malah saya yang difitnah. Play victim. Betul. Dari somasi pertama kita sudah abaikan karena kita merasa tidak bersalah kan. Memang memang kita tidak melakukan apa-apa tiba-tiba disomasi. Orang tua saya juga bingung, ngapain ini orang kok tiba-tiba ngirim somasi. Sampai somasi satu dikirim, kita biarkan. Somasi dua dikirim, akhirnya kita biarkan juga. Somasi ketiga dikirim juga ke rumah saya. Kita juga abaikan karena kita enggak melakukan apa-apa. Kemudian kita kira kan oke kita abaikan ternyata mungkin selesailah, enggak dilanjutlah dimasukkan ke pengadilan Kediri. Jadi tiba-tiba datang lagi surat dari pengadilan. Saya harus datang ke pengadilan untuk memusyawarahkan ini kan gitu. Bukan maksudnya saya dianggap saya bersalah, enggak. Ini memang untuk koperatif aja gitu ya. Jadi saya sama keluarga coba runding. Ternyata memang pengalaman juga buat saya karena kan pertama kali saya enggak ngapa-ngapain masuk pengadilan. Eh waduh waduh ayah saya, mama saya, semua kerabat juga gedek-gedek semua karena apa yang dipermasalahkan ini enggak enggak enggak bisa sebenarnya. Kemudian oke kita jadi pengacara saya ya. Jadi harus keluar uang juga bayar pengacara. saya enggak salah harus keluar uang ya buat pengacara ya buat nampingi saya. Kemudian proses berjalan dengan adil. Kemudian gugatannya enggak bisa diterima karena memang hukumnya katanya prematur. Kalau di tulisannya itu hukum prematur. Jadi di pengadilan saya menang gitu. Itu memang sangat berpengaruh sekali karena kan saya loh masih umur berapa sudah dapat masalah seperti ini kan pengadilan loh Mas ya. Terus sama saya juga ayah saya kan penyakitnya kan juga cukup lumayan itu. Jadi sangat mengganggu pikiran saya juga apalagi yang pengadilan juga itu karena saya merasa kayak saya stuck jadinya pada saat saya sudah pelan-pelan naik stuck pada saat itu konten saya berhenti, jualan juga berhenti. Maksudnya intinya kayak enggak bisa berpikir saya enggak bisa mikir kreatif gitu. Jadi karena kayak pusing pada saat itu udah bingung juga. Kalau omset sih enggak juga sih, enggak terlalu lah, enggak terlalu. Intinya saya lebih ke enggak bisa kreatif lagi gitu. Enggak bisa cari peluang apa peluang apa. Saya stuck pada saat itu. Kemudian saya jalani, ayah saya juga e saya obatkan juga, saya ajak berobat juga sampai ke Penang juga. Jadi ya biayanya kan juga cukup lumayan. Itu kan juga harus saya segera tangani ayah saya karena kan memang e urgen kan gitu. Jadi memang cukup penguras putaran saya juga pada saat itu. Tapi saya enggak eman kalau untuk orang tua saya. Saya enggak eman mereka gimana-gimana saya tetap sayang mereka karena kan mereka orang tua saya. Jadi seenggak cocoknya saya sama orang tua mungkin kita ada pernah cekcok atau gimana. Hati saya ini tetap sayang sama orang tua saya. Jadi saya enggak mungkin benci sama orang tua saya. Meskipun orang tua saya misal anggap aja jahat sama saya atau mau seperti apa, saya tetap menyayangi orang tua saya. Jadi saya tetap menerima apa adanya orang tua saya. Jadi memang dengan berat hati juga menjalani itu. Tapi untungnya ada mama saya, ada mandor saya yang selalu support saya, kasih masukan, bisa bertukar pikiran. Akhirnya saya bisa ee menjalani itu sampai sekarang. Akhirnya selesai semua gitu. Ayah saya sekarang sudah sembuh. Puji Tuhan sudah sembuh, sudah sangat-sangat sehat sekarang. Puji Tuhan pengadilan juga saya juga tidak bersalah. Setelah semuanya selesai, tiba-tiba karir saya juga lumayan naik lagi. Ini sekarang setelah saya keluar cukup lumayan untuk orang tua saya, untuk bayar pendamping pengacara, tiba-tiba ada aja yang, "Mas, aku butuh peralatan ternak, Mas. Aku butuh telur." Jadi penghasilan saya itu balik lagi, diganti lagi sama yang di atas itu. Nah, itu itu memang repot sih sebenarnya. Saya pun juga di sekitaran sini orang menganggap saya itu anaknya orang kaya. Tapi kalau dibilang anaknya orang kaya kayaknya enggak tepat. Saya anaknya orang cukup. Nah, tapi kan proses saya ini kan belum tentu cukup di dalamnya. Orang kan enggak tahu proses saya sampai saya sekarang bisa seperti ini. Ini kan enggak enggak tahu. Dulu awal-awal saya kerja saya rugi-rugi orang sekitar itu ada loh yang bilang ada yang ngomongin saya itu loh anaknya itu loh enggak bisa kerja. Rugi kerja rugi terus. Enggak bisa kerja anak itu. Bisanya ngabisin uang tok itu enggak bisa kerja dia. Kemudian setelah saya sekarang-sekarang ini naik, orang ngomong, "Anaknya orang kaya kok." Ya jelaslah bisa. Saya kan serba salah. Jadinya saya ini di posisi yang bingung. Saya dibilang anak keanakannya orang kaya juga menurut saya juga bukan. Saya dibilang anaknya dari bawah juga bukan juga kan. Saya kan di tengah-tengah. Saya berarti ee merasa saya ini terlahir di keluarga yang cukuplah. Puji Tuhan kita sudah ada lokasi baru untuk pengembangan populasi ayam petelur. Jadi minta bantuannya, doanya juga semoga lancar. Itu projjectnya tahun depan saya bakal bangun ternak ayam petelur saya lagi untuk penambahan populasi baru. Saya Alexo dari Brosf. Lokasi kita di Pare Kediri, Jawa Timur di Desa Kedang Sewu Pare. Terima kasih.