Hidup di Kota Serasa di Desa: Rumah Dengan Kebun & Kandang Ayam di Tengah Kota Tangerang!
POOcdTMWKg4 • 2025-12-24
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Maksudnya kayak sustainability itu kan
ada demand-nya. Istilah itu
emang ada demand. Baik itu kacau.
Terserah mau diartikan demand is a good
thing, it's a bad thing, demandnya buat
apa itu demand is there kan. Kebuya
kebun kemarang menjadi salah satu bisnis
yang menjawab demand itu dalam segala
bentuknya. Nah, tapi kita menawarkan
flavor dan nilai yang kita percaya dalam
mendefinisikan sustainability di budaya
sehari-hari dan di ruang di sebuah
landskap. Kita enggak tega aja sampah
makanan dimasukin dalam plastik terus
plastiknya dibuang ke TPA. Karena kita
udah belajar ya, Parma, kita sudah
belajar tentang kompos, kita belajar
tentang berkebun. Kayaknya itu absurd
gitu kok ini kan terurai dia bisa jadi
di tanah kalau enggak masuk di dalam
plastik kalau dikompos gitu. Akhirnya
kita mikir kita bikin aja ya kandang
ayam di BSD di rumah kita. Desain
kandang kami kan namanya deep litter,
deep litter method. Jadi kita
menggunakan alas kandang berupa daun
kering yang tebal. Kita tidak harus
membersihkan kotoran ayam. Kotoran ayam
tuh enggak pernah disiram, disapu,
dibuang. Enggak. Kotoran ayam tuh
termasuk bagian jadi input. Dia
ditangkap oleh alas si daun kering dan
dia pun akan berubah menjadi kompos
nanti yang kita panen. Nah, dengan
sistem itu harusnya tanpa bau. Kita
panen. Paling banyak telur dalam satu
waktu itu ada 3 + 6 telur sehari. 4
ayam. Satu jantan tiga betina. Mau empat
ya betina boleh. Kemarin kita juga
sempat lima betina. Enam betina dalam
kandang itu juga bisa.
Tiga ayam petelur setahun bisa paling
enggak 600 at 750 telur lah.
Tiga betina satu jantan.
Tiga betina satu jahan.
kamera.
Halo, nama saya Dira Narayana dari kebun
Kumar. Di sampingku istri tercinta
Sandra itu yang mimpin kebun Kumara.
Kebun Kumara lokasinya di Gading
Serpong. Jadi di Serpong itu di Kota
Tangerang.
Hmm. Kalau aktivitas berkebun kita
mulainya sebenarnya di Ciputat. Ada
Waduk Situ Gintung. Di sekitar Waduk itu
ada lahan lah yang kita sewa.
Tahun 2016
habis nikah kan ya?
Habis nikah setahun. Enggak. Enggak
persis.
Ngawalinnya malah di situ. Kita waktu
itu masih numpang di gudang orang. Dulu
saya kan di dunia aktivisme kantor saya
di situ waktu kita mau mulai usaha.
Karena di tempat saya itu halamannya
luas. Akhirnya kebun Kumara kita minjam
gudang kantor saya waktu itu ya kan kita
mulai dari gudang itu terus mulai
berkebun di situ sama keluarga sih
sebenarnya bukan cuma nama istri aja
sama adik kita dari situlah perjalanan
kita dimulai
jadi ide awal muncul itu karena beberapa
hal terjadi bersamaan ya paralel ya jadi
saling mempengaruhi hal pertama adalah
kami menikah tahun 2015 saya kerja
kantoran sebelum menikah tuh sudah kerja
kantoran tapi setelah menikah banyak
cerita sama Dira juga kayaknya enggak
kebayang nih ngerja kantoran untuk
jangka panjang. Akunya enggak enggak
nyaman lah. Kayaknya bukan ini deh jalan
hidup gue nih kerja kantoran ini. Enggak
suka l intanda tanya kan kita mau
ngapain kalau misalkan udah enggak
kantoran apa aku mau cari kerja di
kantor lain gitu atau kita mau ngapain
waktu kita putuskan kamu kalau enggak
suka kerja kantoran ya masalah kantoran
akan muncul di kantor manaun yang kamu
akan tekuni. Jadi kita memutuskan untuk
pindah kuadran nih. Kita jadi wirausaha
yuk bikin bisnis yuk kan gitu. Nah, di
saat yang bersamaan kita punya teman dia
itu berbisnis, bisnisnya namanya Agrada.
Ee bisnis ini ada di minggir di Sleman.
Dan intinya teman saya ini, sahabat saya
ini, dia orang kota pindah ke desa.
Terus mulai bisnis di bidang pertanian
juga lah ya ke desa. Jadi kita juga
banyak melihat ke dia kayak apa kita
banyak ngobrol sama dia, namanya Asri
dan suaminya Dika. Kita banyak ngobrol
sama Asri sama Dika aja yuk terkait
dunia bisnis. Karena aku sama Dira ini
orangnya cukup idealis ya dan pengalaman
bisnis kita tuh nil jadi nol. Jadi bukan
tipe yang kayak, "Ah, gua bisa jual
sendal gitu." Enggak bisa. Kayaknya kita
harus jual sesuatu yang sesuai juga sama
orang banyak bilangnya passion ya, tapi
kalau menurut saya lebih ke ada
idealisme di dalamnya yang kita juga
ingin sebarkan gitu dalam berbisnis.
Jadi, kita juga pengin punya bisnis yang
kita sendiri tuh percaya banget
nilai-nilai di dalamnya gitu kan. Jadi,
harus dicari kan. Jadi, kita dibawalah
ke Jogja banyak ngobrol sama Asri sama
Dika ini dari Agrada. Lalu sama Asri
sama Dika kami dibawa ke tempat namanya
bumi langit. Bumi Langit Institute.
Mungkin pernah dengar ya, Bumi Langit
Institute ada di Imogiri. Di situ kita
bertemu dengan Pak Iskandar yang punya
Bumi Langit Institute bersama
keluarganya. Di situlah terjadi siraman
ilahi kepada kami di bawah tur keliling
segala macam. Nah, di situ kalau aku
pribadi merasa cukup ketampar
bolak-balik melihat kenapa ya gaya hidup
seperti ini tuh tidak ada di kota gitu.
Benihnya itu adalah aku sama Dira
meemang cukup suka outdoor. Kita juga
cukup suka alam. Tapi kita enggak pernah
berkebun. Kita enggak tahu cara ngerawat
alam, ngekompos, ternak ayam. Itu enggak
ada ya. Tuh, enggak ada pengalaman itu
sama sekali. Cuma kita suka alam, kita
suka ke gunung, kita suka explore
gituah. Kita suka gitu outdoor. Terus
kayaknya itu tersiram kali ya pas kita
ke bumi langit bahwa bisa ya kayaknya
gaya hidup ini tuh sesuatu yang
tradisional, sesuatu yang lebih membumi
berporos gitu ya. Mungkin bisa kita bawa
ke kota. Nah, itulah muncul tuh
pikiran-pikiran itu semenjak pulang dari
bumi langit sebenarnya lahirlah
framework kali ya atau framework awal
terhadap kebun kumara nih mau jadi apa.
Waktu itu sih singkat cerita kalau kita
bisa satu kalimat ya kita pengin gimana
cara yang kita belajar di bumi langit
ada di kota gitu. Kita lihat di kota
enggak belum ada atau mungkin pun kalau
ada sikapnya lebih individual ya. Jadi
ibu mana bikin kebun di mana ibu ini
gitu kan individual bukan yang sifatnya
besar orang bisa ke sana belum banyak.
Kalaupun ada yang berhubungan dengan
menanam atau beternak itu mungkin lebih
ke tanda kutip lebih ke peting zoo ya
kayak ngih makan kelinci. Jadi belum
yang masuk ke kebiasaan, belum dikaitkan
dengan kehidupan sehari-hari itu belum.
Ya udah akhirnya kita banyak eksplorasi
itu gimana cara kita mengadaptasikan
wawasan ini, keterampilan ini. Dan
menurut kami nilai-nilai yang sangat
disayangkan tidak diajarkan di kota.
Begitu terputus dari kehidupan
perkotaan, gimana caranya kita mengambil
peran untuk mendekatkan itu kembali di
kota. Sebenarnya sih mungkin waktu
awal-awalnya kebun Kumara kalau dibilang
bisnis kita ya jelas belum bisa
menghidupi lah. Kalau awal ya
awal tapi gua rasa semua bisnis apapun
di awal enggak enggak enggak enggak bisa
gitu ya susah artinya kita jualan
workshop berkebun waktu itu ya.
Iya waktu kita lini bisnis kita cuma
edukasi
jadi kita cuma jualan program edukasi
saja ke sekolah, ke publik, ke companies
gitulah ya. Pokoknya program edukasi ya.
Itu sih kalau di awal, Mas, itu
ibaratnya kita kayak kita pakai tabungan
aja ya, Dir. Kita kita bakar tabungan
karena waktu itu emang kita tidak punya
investor. Jadi yang naruh modal di kebun
Kumara itu ya pendirinya. Jadi saya,
suami, adik saya dan suaminya empat
orang. Punya tabungan berapa Cebret?
Yuk, kita bikin. Kita bootstrap lah
istilahnya kan. Nah, jadi kalau sekarang
aku sama Dira memaknainya tuh kayak
orang lu ngeluarin uang untuk S2. Nah,
kita S2 juga tapi ya di kebun kemarin
langsung ya kayak bakar uang tapi dapat
ilmunya lah. Ada S2 juga di situ ya.
Learning by doingnya gitu. Tapi kalau
ditanya sekarang, apakah idealisme yang
kita pegang bisa menghidupi sekarang?
Jadinya bisa setelah perjalanan panjang.
Setelah perjalanan 10 tahun ya
searang sih mau masuk 10 ya.
Mau masuk ke 10 tahun
mulai kita panen ya.
Kita panen apa yang sudah kita semai pas
COVID.
Pas COVID ya.
Pas COVID itu surprising banget setelah
4 tahun 5 tahun lah.
45 tahun mungkin kalau kalau uang Sandra
lebih lebih hafal ya. Aku enggak terlalu
hafal keuangan di sini. Enggak mau tahu
engak mau pusing.
Aku paling banyak justru ngabisin duit
kalau di perusahaan. Aku penginnya bikin
ini. Pengin bikinin inovasi misalnya
inovasi apa? Bikin kandang ayam,
inovasi. Kita pengin ngebesarin tim buat
landscape. Kita ngebesarin tim. Jadi
lebih banyak aku mikir inovasi untuk
pengembangan. Yang belum tentu berhasil
nih ya. Ada yang berhasil ada yang
enggak gitu. Tapi aku lebih ke situ,
Mas.
Pas COVID itu sebenarnya cukup bergejola
karena 2 minggu sebelum COVID itu saya
baru lahiran. Jadi tadi di benak saya
dan Dira itu kita berdua ya kan cuti
melahirkan ya. Maksudnya aku 3 bulan off
sudah nitip ketim sudah ada strateginya
edukasi mau apa, landscape mau apa dan
lainnya tiba-tiba terjadi COVID semua.
Ya udahlah ya itu kan kalau di Jakarta
kan udah PSBB itulah ya gimana nih? kita
langsung rembuk. Aku di rumah anak masih
kecil banget. Kita juga masih ini baru
selesai operasi, baru di rumah teleponan
sama satu tim gimana pokoknya tim enggak
boleh ada yang dipecat ya. Kalau nanti
founder-foundernya aja yang enggak usah
gajian dulu. Mereka harus tetap jalan
sambil kita mikirin. Nah, tapi tiba-tiba
datang berkah di mana ternyata yang kita
jalani ini sebelum COVID kita workshop
berkebun walaupun yang penghasilannya
enggak bagus itu ya. Ternyata yang kita
jalani semua, semua workshop yang kita
jalani, semua storyting yang kita buat,
semua konten yang kita siapkan secara
online, pokoknya semua itu entah gimana
tuh bisa kita tuai gitu pas COVID. Jadi
kita dapat request banyak banget, Mas.
Request kegiatan edukasi itu banyak
banget dari big companies terutama yang
kayaknya dia udah punya mungkin dia
punya budget ya buat employee program,
buat apa yang enggak tahu mau dipakai ke
mana. Satu. Terus dua, dia butuh
kegiatan yang berhubungan dengan
wellness karena banyak orang anxious,
anxiety, stress, banyak orang lonely
juga enggak bisa keluar rumah buat orang
yang tinggal sendiri-sendiri di kota kan
banyak kan orang tinggal
sendiri-sendiri, enggak bisa keluar,
enggak bisa ke mana-mana, dia stres.
Terus kalau Mas ingat zaman-zaman di
COVID itu kalau di kota semua orang jadi
pelihara tanaman bisa dari monstera,
bisa ke terong, pokoknya semua dicari
gitu kan.
Nah, dengan tiga tren ini terjadi
bersamaan, ternyata yang kami lakukan
sebelumnya di kebun Kumara itu telah
membangun kali ya, membangun sebuah
trust ya, kepercayaan terhadap kebun
Kumara dan apa yang bisa kita tawarkan.
Jadi kita tuh ngelakuin semua workshop
berkebun tuh online masanya di kamar,
meja, handphone, dua, laptop, kita
presentasi ada teorinya. Habis saya
berkebun di meja itu. Jadi nanti
laptopnya mundur, handphone-nya ini.
Saya kayak ngaduk tanah, ini sekam, ini
sekam bakar, ini media tanam yang subur.
Saya nyemai di situ. Belakang saya tuh
ada bunga matahari, ada mint, ada segala
macam kita susun. Jadi akhirnya kita
enggak adain workshop online kayak gitu.
Bukan di sini, di rumah orang tua.
Karena emang rencananya 3 bulan, 3 bulan
pertama kan pasti butuh ibu ya. Emang
udah di rumah Bunda dulu, tinggal di
rumah Bunda ya ternyata gitu. Ya udah
aku rushop di rumah Bunda. Tiba-tiba di
saat yang bersamaan karena kita enggak
tahu kita mau ngapain, tapi kita
kayaknya harus nyari kegiatan deh. Kita
sulap atap rumah ibuku. Kap rumah ibuku
kecil banget. Berapa deh? Cuma 40 m²
total ya. Kita sulap jadi kebun. Sambil
kita sulap jadi kebun direkam. Udah
bikin aja deh rekam itu. Rekamrekam. Ya
Allah bikin YouTube. Kita enggak punya
YouTube. Tadi kita bikin YouTube asal
jelek lama kualitasnya jelek tapi cukup
gitu. Nah kita bikin konten itu. Konten
itu banyak dilihat orang jadi tambah
tahu lagi mesan lagi workshop ke kita
dan di saat yang bersamaan enggak banyak
penyedia jasa itu. Jadi emang kebun
kemara jadi kayak punya first mover
advantage ya. Jadi kita kayak mungkin
bukan satu-satunya. Jadi, tapi kesannya
kayak satu-satunya yang siap gitu untuk
ngadain workshop berkebun online. Kita
kirim media tanam ke klien-kliennya.
Kita udah hafal bibitnya. Jadi tim kita
yang tadi tim lapangan di kebun Kumara
yang di Ciputat itu masih bisa kerja di
sana nyiapin-nyiapin bibit semua kita
yang di rumah. Pokoknya kita butuh
seamentah gini kirim nanti kita siapin
workshop-nya. Semua paket workshop-nya
mediaar lain dikirim dari Ciputat ke
klien-klien gitu. Tapi jalan jalan dari
situ. Lumayan loh, Mas.
adaptif aja sih, adaptif terhadap
kondisi. Tapi di saat yang bersamaan
saya merasa apa yang kita lakukan ini
makanya pepatah kanan bilang pokoknya
jangan pernah nyerah gitu, lak akuin aja
terus konsisten. Nah, itu benar banget
karena kita konsisten aja walaupun kan
sedih ya Mas kayak ya enggak ada yang
ini itu kayak edukasi juga enggak ke
mana-mana dan lainnya kita kan sedih ya
kepikiran nih gimana nih tapi terus
pokoknya terus terus ini bikin ini
segala macam ternyata itu ya ternyata
berkahnya itu datang pas di saat di
momen itu karena kita membangun itu
tekun banget konsisten terus terus terus
ngejalanin walaupun enggak untung terus
terus terus ngejalanin ternyata nanti
ada aja tek tipping pointnya gitu
pertama aku kan tidak pernah tinggal di
desa kecuali 1 tahun lah mungkin bisa
disebut aku tinggal di desa dulu aku
pernah ikut Indonesia mengajar. Aku
tinggal 1 tahun di Kepulauan Tanimbar
itu di Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
Aku tinggal di sebuah desa namanya Desa
Lumasebu. Em di Kecamatan Kormomolin.
Ada deh desa itu enggak ada internet,
enggak ada listrik, pokoknya desa
pelosok. Karena memang kalau Indonesia
mengajar pas saya ikut tahun 2012 ee
memang kan dia bekerja sama dengan
kabupaten-kabupaten yang terluar dan
beberapa juga tertinggal gitu ya. Emang
sengaja dimasukkan ke situ untuk kita
belajar dari mereka. Sebenarnya saya
pernah tinggal memang di situ 1 tahun.
Saya tinggal bersama Mama Ola, beliau
petani, beliau janda suaminya sudah
meninggal, punya dua anak. Jadi saya
sempat tuh ngelihat perkebunan dia. Dia
panen singkong gitulah ya, pesisir. Jadi
ini benar-benar rumah saya depannya
langsung laut. Jadi emang dia spes bagus
banget. Arafura kan lepas jadi laut
lepas tuh ke Australia situ. Lah kali ya
pengalaman 1 tahun lah tinggal di desa.
Cuma enggak ada pemikiran yang kayak
sekarang timbul di sana enggak ada sama
sekali. Di sana mah saya senang-senang
aja main di pantai, main bola apalah
gitu-gitu ya. Jadi saya baru kepikiran
membawa tradisi yang mungkin buat orang
kota itu tradisi desa ya. Itu setelah
pulang dari bumi langit dan setelah saya
mungkin berkontemplasi, oh ternyata
emang ini kok yang dilakukan sama saya
juga yaimbar dulu gitu. Jadi dari situ
ya pengalamannya sebatas itu. Cuma yang
kita lakukan untuk mengadaptasikannya
kalau aku pribadi aku coba
mempraktikkannya dulu di rumah.
Saat aku belajar mendapat ilmu dari ke
bumi langit itu kan ilmu baru buatku. Di
saat yang sama kita bikin kebun kumara.
Tapi kan artinya aku adalah orang yang
baru dapat ilmu baru terus mempraktikkan
di kebun Kumara sebagai bisnis kan. Jadi
kebun kumara itu bertumbuh bersamaan
dengan aku secara pribadi juga
bertumbuh. Jadi semua yang aku dapat itu
kita praktekin lagi di rumah. Jadi kita
praktekin di kebun kemara, praktekin di
rumah. Jadi kita juga belajar, belajar,
belajar. Jadi kita kayak banyakbanyak
mungkin secara bisnis enggak enggak
terlalu ngelakuin apa-apa ya mungkin di
setahun pertama karena kita masih banyak
belajar kan kayak mengkompos kita
belajar lagi pelihara ayam kita belajar
lagi dari awal. Nanti kita nyoba
strategi yang ini buat bikin media tanam
enggak cocok media. Jadi kita kayak
banyak belajar. Jadi itu sebenarnya 1
tahun belajar dulu sih walaupun udah
launching lah ya. ada namanya, ada
logonya, semua storytelling-nya kita
masukin lah ke Instagram kita, gitu
tetap ada. Cuma kita juga sambil
belajar. Jadi kalau ditanya gimana sih
mengadaptasikan metode desa ke kota? Ya
saya praktikin dulu di rumah dan saya
lihat apa sih yang paling cocok untuk
terjadi paling enggak di ruang saya baru
kalau menurut teman-teman saya kan saya
agak ekstrem ya maksudnya kayak saya mau
ngelakuin banyak hal yang orang kota
lain tuh enggak mau ngelakuin kan jadi
agak ek jadi saya juga harus lagi-lagi
menyesuaikan oke ini mungkin nyaman buat
saya nih kayak saya nyeker gali-gali
terapi enggak setiap orang kota mau
ngelakuin itu. Nah itu harus
diadaptasikan lagi. Jangan dibuat
terlalu radikal gitu loh. Jadi harus
dibuat lebih mainstream gitu. lebih
lebih mudah dicapai, lebih tidak
intimidating gitu ya. Jadi ya kita
belajar lagi untuk membuat ini lebih
nyaman gitu buat orang. Tapi memang di
awalnya aku banyak praktik dan banyak
belajar salah dulu di rumah sendiri dan
di kebunku marah sih untuk tahu ini bisa
enggak sih sebenarnya otata enggak bisa
kayak gini. Ternyata ini it's good to
have tapi difficult. Itu tuh yang kita
pelajari juga kita adaptasikan baru
lahirlah desain-desain baru. Jadi
kebun-kemarin mak oke kalau orang kota
tuh penginnya tuh enggak apa-apa deh ada
yang repot tapi lebih low maintenance
tanamannya jadi pangan tapi low
maintenance. Jadi kita cari. Nah, dari
situ sih, Mas. Jadi emang saya
adaptasikan dengan mempraktikkannya
langsung. Jadi trial and error gitu di
rumah dan di kebun marah.
Mungkin kalau ngelihat cara garis besar
dulu secara keseluruhan tuh waktu
inisiatif kebun Kumara aku ikutan. Tapi
ketika kebun Kumara udah jalan aku lebih
banyak di e dunia aktivismek. Ya.
2016 ke 2018 Dira terlibat di Kebun
Kumara. Dari 2018 Dira off dibalik.
Tadinya dia paruh waktu di aktivisme, di
kita full time. Jadi dibalik dia full
time di aktivisme. Kamu di kita paling
cuma seminggu sekali ada. Ee saya kan
punya ini mendirikan gerakan ya namanya
Lingkar Ganja Nusantara LGN. Nah,
gerakan itu ee sebenarnya duluan tuh
sebelum kebun Kumara dari saya lulus
kuliah tahun 2010. Terus di tahun-tahun
2018 tadi yang sudah mulai banyak
sekitar tahun segitu kegiatan kita tuh
mulai
aktivisme ini mulai mulai rama lah
dibicarakan waktu itu soal ganja buat
kebutuhan medis kan. Nah, itu ramai jadi
saya fokus kerja.
Iya. Iya.
Fokus ngerjain itu. Waktu itu kami
digerakan kan ngejar buat bisa riset
ganja kan. Tapi ternyata perjalanan
terus mengajarkan saya bahwa wah dunia
politik ini wah gila-gilaan gitu ya kan.
Akhirnya saya punya anak. Nah, di situ
kalau buat saya pribadi ketika punya
anak, cara berpikir saya tuh langsung
enggak tahu kayak ada sesuatu yang
berubah. Saya pengin gimana bisa gedein
anak ini dengan baik. Di dunia
aktivismen saya enggak punya penghasilan
yang cukup. Makanya saya mikir, gimana
saya bisa ngegedein usaha kebun Kumara
yang jadi penopang ekonomi buat keluarga
kita. Terus saya bisa ikut mengembangkan
apa yang bisa saya kembangin yaitu e
landscape kebun kumara tuh udah mulai eh
apa udah jalan tapi belum belum terlalu
menghasilkan.
Ya, jadi 2016 kebung Kumara mulai
edukasi doang. 2018 mulai ada jasa
landscap. Lcup itu kita mendesain and
design and build ya. Jadi kita bantu
desain. Masih ikut ya. Sor kamu masih
ikut di awal tengah-tengah jalan bilang
2019 deh baru
ini semua terjadi. Jadi kamu kayak udah
gua izin pamit ya. Jadi, landscape
dijalanin sama tim lain. Dira udah
enggak jalanin lagi. Dira baru balik
lagi pas COVID antara 2020 atau 2021
awal. Aku lupa antara itulah
sekitar segitulah. Karena landscape
enggak terlalu menghasilkan gitu jalan
tapi bisnisnya enggak terlalu
menghasilkan.
Nah, kita beruntung ketemu kayak bumi
langitnya
dunia landscape. Tapi
dunia landscape namanya ARD Design. ARD
Design nih konsultan arsitektur dan
landscape. Nah, kami
banyak berguru dengan mereka belajar.
Jadi guru guru kami lah ARD. kami
belajar saham mereka. Mulai dari kenal
saham mereka, kita belajar. Nah, dari
situ kita bisa mengembangkan divisi
landscape Kebun Kumara. Divisi landscape
Kebun Kumara sekarang bisa dibilang
malah e yang menopang kebun Kumara.
Jadi dia sebenarnya main revenue stream
kita karena memang dia juga lebih mudah
diale. Edukasi ini agak lebih tricky.
Jasa edukasi agak lebih tricky, nich
banget dan personalized banget kok aku
ngerasanya. Jadi kita punya misalnya
direktur program itu namanya Ara, orang
maunya belajar sama Ara gitu ya kan.
Jadi kalau Aranya lagi enggak ada,
enggak ada Ara mau nunggu Ara itu kan
you cannot. Terus kita kan kita enggak
bisa mereplicate Ara jadi dua ara kan
enggak bisa ya kan. Jadi kalau jasa
edukasi menurutku ada personal touch-nya
dan karakteristik orang yang cocok di
edukasi dan di kebun Kumara kan juga
tidak gampang dicari ya kan. Jadi ya
kayak gitu. Jadi untuk itu diale lebih
sulit kita mencobanya sudah lebih dari 5
tahun kan sampai kita menerima bahwa
memang ini lebih sulit dan ternyata oh
ternyata memang lini bisnisnya
landscape, lini bisnis edukasi tidak
terpisahkan justru saling mendukung dan
edukasi tetap harus ada dan tetap harus
paling enggak bisa nutuplah operasional
edukasi gitu ya tapi tetap harus ada
karena edukasi juga menopang landscape.
Jadi landscape ini menopang kebun Kumara
tapi tanpa edukasi bisa jadi bisnis
landscape enggak bisa berkembang. Dulu
kan cerita awalnya karena banyak orang
belajar di kebunku cara berkebun. Aku
pengin dong punya di rumahku kan gitu.
Garapin dong gitu
garapin dong kita garap kita garap kita
garap. Lama-lama ini jadi profesional
gitu ya. Karena di Breweri itulah kami
diajak sama ARD design oleh mentor kami
cemplung ke project itu. Di situlah itu
titik balik menurut kami. Itu titik
balik.
Itu proyek terbesar kita ya, Dir?
Itu proyek terbesar dan di situ kita
belajar bagaimana berhubungan sama
klien, gimana kita ngerawat taman yang
cukup besar ya kan. Kita bersinggungan
sama banyak pihak. Di situ kita belajar
banyak. Nah, dari situ kita mulai
bisnisnya berkembang tuh yang landscape.
Nah, setelah landskap jalan, kami udah
punya tim. Saya mulai tuh keluar ide-ide
baru. Kan enggak bisa dibendung nih
kalau aku tuh iya suka muncul-muncul
inspirasi. Nah, dari situlah baru kita
kandang ayam kan kita tuh ngedesainin
kandang ayam di rumah-rumah orang juga
kita lakuin. Cuman kalau harus lewat
fase desain dulu, konstruksi, selain
waktunya panjang biayanya lebih mahal ya
kan. Akhirnya enggak banyak orang yang
bisa punya. Dari situlah justru kita
mikir, "Oh, apa kita bikinin aja
kandang-kandang yang ukurannya paling
minimal yang bisa ditaruh di rumah-rumah
yang ukurannya tidak besar, rumah-rumah
kecil. Akhirnya kita bikin lagu Maruyuk.
Jadi kita sekarang punya lini bisnis
lagi, pipa baru lagi itu jualan kandang
ayam dan ayamnya.
Itu baru baru mulai Agustus tahun ini.
Jadi 6 bulan 5 bulan yang lalu.
Kalau konsep hutan itu sebenarnya e
karena hutan bisa menjaga dirinya
sendiri artinya perawatan kita itu
sedikit. Berangkatnya dari situ. Selalu
komplain orang di kota taman peliharanya
susah,
ribet. Ya, kalau enggak mau ribet bikin
konsep hutan gitu. Tapi kalau I kan
seutan dan ini kan banyak makanannya
juga, tanaman obatnya juga ada.
Kalau ayam sebenarnya itu satu hal yang
paling berkesan di aku ya pas aku
belajar di bumi langit. Karena di bumi
langitlah aku lihat langsung, oh
ternyata ketika kita mengkompos sampah
makanan, kita bisa mengintegrasikan
proses pengkomposan dengan sebuah
kandang ayam. Dengan mengintegrasikan
proses itu, bahkan kita memperpanjang
manfaat dari sampah makanan kita. Jadi
sebelum sampah makanan kita berubah jadi
kompos, bahkan sampah makanan kita bisa
jadi makanannya ayam dulu, kan. Jadi di
saat yang bersamaan ayamnya pun akan
menghasilkan buat kita. Jadi tempat itu
menghasilkan telur, daging kalau
memotong ayamnya dan kompos gitu. Jadi
suatu sistem yang sama. Buat saya itu
sistem yang sangat luar biasa cerdas ya
untuk untuk dihadirkan dalam sebuah
landskap. Terutama apalagi kalau kita
ini kan punya concern yang sangat besar
terhadap sampah. Sampah makanan waktu
itu. Sampah makanan rumah kita pikirin,
sampah makanan rumah keluarga kita juga
kita pikirin. Karena banyak banget. Kita
enggak tega aja sampah makanan dimasukin
dalam plastik terus plastiknya dibuang
ke TP. A kayaknya buat karena kita sudah
belajar ya perma kita sudah belajar
tentang kompos, kita belajar tentang
berkebun kayaknya itu absurd gitu kok
ini kan terurai dia bisa jadi tanah
kalau enggak masuk di dalam plastik
kalau dikompos gitu. Akhirnya kita mikir
kita bikin aja ya kandang ayam di BSD di
rumah kita untuk mengolah sampah dapur
kita. Sampah dapur adik, ibuku, mertuaku
jadi Mama Yedira kita banyak sampah
masuk ke kandang ini. Itu kenapa kita
bikinnya cukup panjang karena sumber
pakannya banyak. 7 m lebar 1 m ya kan
jadi ya 7 m² kalau per me perisa 2
sampai 3 ayam ya kapasitas kandang itu
adalah 14 sampai 21 tapi kita cuma ya 12
sampai 15 lah biasanya biar enggak ya
tadi biar enggak terlalu ribut ya biar
kita juga bisa ngerawatnya lebih optimal
ya kalau enggak banyak kan
kalau komplain ada
kalau komplain ada pernah bukan pernah
tapi enggak sering cuma satu kali dia
pernah satu kali Mas karena bau Jadi
kita salah kan itu di tahun ke berapa
lah ya setelah beberapa tahun itu
tetangga komplain sama kandangnya bau.
Tetangga enggak langsung bilang dia
riset dulu. Karena kan di komplek ini
nih komplek ini nih ada TPA yang dekat
sinilah di Tangerang Selatan nih. Ada
TPA yang udah hancur banget baunya. Itu
hampir tiap hari kecium ke sini.
Iya.
Hampir setiap hari
terutama setelah hujan.
Jadi tetangga ini bau dari sampah sana
apa dari
kandang ayam.
Kandang ayam kita gitu kan. Dia takut
kali mau ngomong kan enggak enak. ya
kan? Setelah beberapa hari ternyata dari
kandang ayam kita di situ. Saya sama
Sandra belajar justru e sisa sampah
organik, sisa sampah makanan yang udah
ditimbun lama, sisa makanan yang sudah
ditumpuk seminggu di dalam ember, begitu
dibuka kan bau banget. Begitu kita kasih
ke ayam, belum sempat ayamnya ngabisin,
baunya udah keburu kecium. Itu kesalahan
kita tuh. kesalahannya. Kesalahannya
jadi sebelum-sebelumnya dia enggak
pernah komplain karena kan memang yang
kami praktikkan kan emang yang kami buat
adalah design bagaimana kandang ayam tuh
tidak boleh bau.
Betul.
Nah, tapi salah kita adalah kita membuka
sampah yang sudah menginap terlalu lama.
Jadi baunya sudah menyengat banget.
Harusnya sampah itu kalaupun mau dibuang
ke tempat kompos, harusnya kita sudah
gali dulu
timbun
terus timbun gitu. Jadi jangan digelar
jadi makanan ayam. Jadi udah terlalu
membusuklah. Makanya sekarang kita tahu
oke kalau sampah itu maksimal 2 hari
harus langsung dikasih. Kalau udah di
atas 2 hari dia menginap nih ya itu udah
terlalu bau apalagi kalau volumenya
banyak kalau itu kan satu ember kayak
ember bekas cat gitu loh
20 lit
iya 25 lit ya 20 25 lit itu jadi ya jadi
bau banget salah kita di situ. Tapi
habis itu enggak pernah terjadi lagi
karena kita enggak pernah ng
syukur sampai sekarang udah enggak ada
komplain lagi. Soal suara gitu juga
enggak ada komplain sih.
Sumber pakan mempengaruhi bau kotoran.
Kalau ayam dikasihnya sampah makanan,
dikasih pakan fermentasi, cenderung
kotorannya tidak sebau itu. Kalau ayam
dikasih pakan industri atau pakan jadi,
biasanya kotorannya sangat bau, ya. Tapi
intinya mau apapun pakannya, kalau
pakannya tidak terhabiskan oleh ayam,
jadi kita bicara juga volume kan. Kalau
kita buang sampah lebih banyak daripada
jumlah ayam yang bisa menghabiskan dan
sampah itu tersisa dan sampah itu tidak
tertimbun oleh daun kering, itu akan
jadi sumber bau. Tapi kalau sampahnya
habis dan ataupun ada tersisa dikit tapi
kan ayamnya kan ya, daunnya kan nutupin
dan itu tertutup secara optimal ya
enggak ada bau. Karena memang desain
kandang kami kan namanya deep litter
deep litter method. Jadi kita
menggunakan alas kandang berupa daun
kering yang tebal. Kita tidak harus
membersihkan kotoran ayam. Kotoran ayam
tuh enggak pernah disiram, disapu,
dibuang. Enggak. Kotoran ayam tuh
termasuk bagian jadi input. Dia
ditangkap oleh alas si daun kering dan
dia pun akan berubah menjadi kompos
nanti yang kita panen. Nah, dengan
sistem itu, itu harusnya tanpa bau. Buat
kami tuh kandang ayam komos tuh yang
luar biasa sekali karena dia pun menjadi
sarana untuk memenuhi kebutuhan ayam
gitu. Ayam kan punya perilaku dasar dan
kebutuhan untuk mengais-ngais dan untuk
mencakar-cakar. Itu kan kebutuhan dasar
ya. Enggak perlu disuruh tuh mereka
harus ngelakuin itu. Karena itu ayam
cakar-cakar cekernya jadi kuat. Cekernya
jadi kuat, postur tubuh jadi bagus.
Postur tubuh ayam jadi bagus, biasanya
ayamnya jadi lebih sehat kan gitu ya.
Jadi emang dia akan nyekar-nyakar kita
minta atau tidak. Jadi dengan dia
dikasih daun tebal, dimasukin dalam
kandang ayam kompos, kebutuhan dia untuk
mencakar-cakar ya terpenuhi gitu. Dia
juga jadi enggak bosan. Jadi ayamnya ya
nyakar-nyakar terus, nyakar-nyakar
terus. Jadi kita buang sampah makanan
dimakan sama ayam yang tersisa terkubur
daun kering. Proses pengkomposan terjadi
secara alami. Lama-lama dia akan
terurai. Ini jadi kompos. Kita panen
komposnya.
Enggak ada sekam apapun
boleh dipakai. Tapi kalau kita karena
daunnya udah banyak kita enggak perlu
beli. Tapi tidak harus daun. Makanya
bisa bahan organik kering jadi sekam,
jerami
itu semua bisa.
Yang ada lah.
Yang ada. Kalau kita kan ada daun banyak
kita masukin daun. Daun apapun potongan
rumput semua kita masukin.
Aku tahu kata itu. Kata itu kan cukup
ngetren ya di kota ya. slow living,
hidup lebih lamban seperti kita sih
jarang menggunakan istilah itu ya di
kebun Kumara ya. Em kalau di kebun
Kumara kita justru konteks orang kota
itu kan beda-beda, enggak bisa
disamaatakan, beda-beda banget
keribetannya, terus tuntutannya,
ekspektasi akan peran-peran dimainkan
orang di kota itu kan beragam dan
banyak. Jadi di kebun Kumara kita selalu
coba untuk mengajak orang untuk
mengkontekstualisasikan lagi yang yang
make sense buat dirimu tuh apa gitu.
Karena tidak bisa dipungur rata satu
solusi untuk semua. Jadi apakah oh semua
harus berkebun biar nanti dia bisa hidup
lebih lestari? Ya enggak kan bentuknya
bisa beda-beda gitu ya. Em jadi kalau di
kebun Kumara kita merasa bahwa kita
percaya bahwa kalau ada landskap di
rumah ditingkatkan fungsinya dihidupkan
mungkin sekedar balkon atau atep dikasih
beberapa pot isi tanaman pangan kita
jadi punya budaya untuk merawat itu
karena kita harus panen dari situ. Kita
kalau kita sudah panen cenderung kita
pasti akan masak dengan itu. Anak-anak
kan kalau di kebun kemarah anak-anak
yang nanam kangkung. Anak-anak pengin
nanam kangkung. Tadinya enggak suka
kangkung karena dia nanam terus dia
panen jadi suka kangkung gitu. Jadi itu
kan ada budaya yang lahir ya, budaya
sehat, budaya lestari. Jadi kalau kita
kan mengajaknya hadirkanlah ruang-ruang
fungsional di rumah dan bercermin
jugalah pada behavior atau
perilaku-perilaku yang merusak gitu.
Kayak kita semua produksi sampah. Kalau
sampah itu dikompos kan sampah kita
enggak merusak gitu. Jadi dicarilah cara
untuk mengkompos baik itu ember kompos,
tong kompos, lubang biopori terserah
atau ayam gitu kan. Salah satu solusi
bisa panen telur juga. Terus kita
kerjanya enggak seberat itu karena ayam
nyakar-nyakar. Kita masti enggak perlu
balik-balik kompos. Ayam sudah ngelakuin
buat kita dan lainnya. Jadi kita percaya
bahwa ada beberapa yang bisa dilakukan.
Em lalu kita mencari cara untuk beberapa
ini yang kita tahu bisa dilakukan, kita
permudah gitu untuk orang kota. Kita
panen paling banyak telur dalam satu
waktu itu ada 3 + 6 telur sehari ketika
semuanya produktif. Sekarang yang tiga
lagi ngerem dan enggak produksi lagi.
Yang tiga lagi istirahat juga karena dia
punya periode yang istirahat. Ya, ya
udah ya. Kita lagi enggak panen telur
beli.
Ada hari ini satu leh horn.
Oh, ada ya ada juga gitulah. Jadi gitu,
Mas. Terus lima yang tadi apa ya? Ada
kan ada kita lima lagi yang masih di
bawah umur masih 4 bulan ya belum
produktif cuma kompos jalan terus. Kita
punya tempat sampah yang jalan terus dan
produktif setiap hari ya. Kita tetap
buang sampah ke situ tetap jadi kompos.
Kompos masih balik ke kebun kita. Di
kebun kita, kita nanam sayur, kita nanam
obat, kita panen. Gitu.
Mungkin di sini. Jadi agak rancu karena
kehidupan kami itu sangat erat
hubungannya sama kebun kumara kali ya.
Padahal sebenarnya kebun Kumara ini satu
entitas sendiri. Kehidupan keluarga kami
kan juga satu entitas sendiri gitu. Kita
enggak menjual apa yang keluarga kami
lakukan sebenarnya. Kita ngelakuin ya
apa yang kita menurut kita yakini itu
benar gitu ya. Tapi kalau yang di kebun
Kumara emang dia lebih berkembang karena
mengikuti permintaan dari pasar. Maka
tadi contohnya kandang ayam itu kan
permintaan. Makanya kita kita kembangin
di kayak landscape itu kan permintaan
kita kembangin usaha di situ edukasi di
satu sisi ini juga permintaan CSR misal
dari perusahaan itu kan juga ada
permintaan-permintaan itu ya ya
permintaan-permintaan itu yang kita
akomodir mungkin kenapa ini jadi begitu
persoalan lingkungan ini jadi terlihat
industrialis karena sekarang ada SDGs
mungkin ya ada kepentingan di dunia
internasional semuanya harus ee
mengikuti pakem-pakem yang sudah dibuat
supaya menghasilkan kan limbah yang
minim dan lain-lain lah tidak merusak
bumi lebih lebih parah gitu ya. Ya mau
enggak mau apa yang kita lakukan jadi
sesuatu yang mereka bisa konsumsi.
Maksudnya kayak sustainability itu kan
ada demand-nya ya istilah itu
emang ada demandnya. Baik itu kacau sih
terserah mau diartikan demand is a good
thing a bad thing. Demandnya buat apa
itu demand is there kan. Nah kita kan
menjawab ya kebun kemarang menjadi salah
satu bisnis yang menjawab demand itu
dalam segala bentuknya. Nah, tapi kita
menawarkan flavor dan nilai yang kita
percaya dalam mendefinisikan
sustainability di budaya sehari-hari dan
di ruang di sebuah landskap. Jadi itu
kita mencoba untuk menjawab permintaan,
kebutuhan dan tren akan sustainability
yang okelah bagus juga ya. Ada orang
semakin peduli tentang lingkungan dan
lainnya, tapi kita menyelitkan
value-value yang kita percaya di
dalamnya.
kita jadi PD karena apa yang kita jual
itu sudah pernah kita lakukan dan kita
sudah pernah gagal melakukannya dan kita
sudah pernah salah melakukannya sehingga
yang kita bikin tuh versi yang
terbaiklah yang bisa menyiasati dan
tidak mengulang kegagalan-kegagalan ini
kan gitu harapannya ya Mas ya. Dan aku
juga merasa bersyukur tuh gini, banyak
sekali teman-teman kita yang keahliannya
adalah mengembangkan bibit, keahliannya
mengelola sampah jadi kompos, kotornya
jadi kompos, terus ada yang keahliannya
memang di bagaimana ee menata air, cap,
menyusun batu, teman-teman dari
daerah-daerah itu kita jadi bisa kerja
sama sama mereka-mereka ini gitu. Ketika
spesifik bicara batu, bicara air, bicara
tanah, bicara kita kan bukan ahli persis
di situ kan. Karena kita memang lebih ke
ekosistem, cara-cara bekerja
lingkarannya tuh kita ya sangat care,
sangat peduli sama lingkaran itu harus
terjadi. Nah, tapi untuk kita
menjalankan sebuah project membuat
ekosistem yang cantik, kita melibatkan
banyak sahabat-sahabat dari teman-teman
kita itu kita senang banget. Kita senang
banget bisa punya ekosistem orang-orang
yang sebenarnya care sama lingkungan.
Contohnya apa? Ayam tuh mereka
ngerawatnya bukan ayam industri gitu
secara natural. Kalau sakit kasih jamu,
kasih apa. Nah, kita bisa bekerja sama
sama mereka untuk ngejualin
barang-barang. Wah, kita senang banget.
Aku kalau ditanya gitu jujur enggak tahu
minimal harus punya lahan berapa ya.
Tapi kalau punya niat, rooftop aja bisa
jadi tempat kita buat nanam kok gitu
loh. Halaman rumah yang kecil, rumah Adi
kan sebelah lebih kecil halamannya. Tapi
beberapa beberapa klien kami rumahnya
lahannya juga lebih kecil-kecil tetap
bisa dimanfaatin. Seingatku di Sentul
tuh lahannya totalnya 30 m² kalau enggak
salah sekitar 20 sampai 30 m² itu
nanam-tanaman sayur udah bisa punya
penangkapan air hujan 3* 5 m
mungkin banget
ya mungkinlah
betul gede. Kalau kayak kandang ayam
yang kita bikin di kebun kemarin cuma
satu kali du
nanam satu pohon buah gede masih
bawahnya kasih tanaman-tanaman semak ya
semak atau rimpang rempah
udah enak
bisa didesain misalkan sayuran semuanya
gitu
bisa asal mau ngerawan kan jadi
landscape dia ada zonasi-zonasi ya ada
zona buat sayur ada zona buat hutan
hutan pangannya ada zona rumputnya ada
zona kolamnya zona-zona itu tuh tinggal
kita sesuaikan aja buat kandang Ayam.
Empat ayam. Satu jantan tiga betina. Mau
empat ya betina boleh. Kemarin kita juga
sempat lima betina. Enam betina dalam
kandang itu juga bisa.
Tiga ayam petelur setahun bisa paling
enggak 600 at 750 telur loh.
Tiga betina satu jantan.
Tiga betina satu jantan. Nah, mungkin
ide kandang ayam juga itu makanya
alamnya dulu ada baru isinya diciptain
kan gitu.
Udah punya kebun kasih kandang kasih
ayam udah ayamnya happy. Ayamnya di
enggak ada makanan kita buka kandang
suruh ke kebun cari makan.
Dia boleh ke sini dia kita umbar.
Kadang-kadang kalau kita lagi berkebun
ayamnya ikut keluar sama kita nanti
dinyakar-nyakar. Kalau ada area yang
kita lagi mau tanamin, kita justru taruh
mereka di sana nih. Makanin nih. Dia
makanin benih-benih gulumia. Dia makanin
hama-hama sampai habis bersih.
Rayap paling suka
rayap dihabisin baru kita tanam di
atasnya. Itu sudah belum? 3
belajar psikologi hewan juga.
Akhirnya,
akhirnya
akhirnya.
Seru loh. Psikologi hewan.
Psikologi ayo. Wah. Ayam.
Ayam itu terbaik. Saya ngerasa ayam itu
keren banget. Saya sering loh ngihatin
mereka. Saya kemarin bawa ayam saya
masuk satu. Saya main piano sama ayam
saya.
Jadi bahkan ayam itu kita lihat adauh
ada induk ayam betina yang tidak bisa
mengasuh anak, yang bisa mengasuh
sedikit anak dan bisa mengasuh banyak
anak. Karakternya beda itu, Ibu. Indukan
ayam itu yang kita pelihara sekarang
yang bisa mengasuh banyak anak,
menetaskan banyak telur. Bisa lima
yang hidup 5 sampai del. Itu banyak
kalau di lap
yang enggak jago ya punya anak mati
anaknya semua yang kalau dia makan cuma
peduli sama diri dia sendiri enggak
ngasih makan ke anaknya ada juga yang
kayak gitu ada jantan yang care sama
istri-istrinya kalau ayam kan
istri-istrinya bukan istri dia ayam ya
heeh
kare dia sama istri-istrinya jadi ada
makanan tuh bukan dia dulu yang makan
dia serokin makanannya dia cari dia
keluarin betina-betinanya yang makan
jantannya makan ter ada yang kayak gitu
ada yang enggak
enggak manusia tuh rumit ya
kita ajarin mereka berkebun. Nanti
psikolognya manusia itu si kebunnya.
Psikolog tuh alamnya aja. Kalau kita
bicara studi ya, kalau kita mau baca
ilmiah gitu ya, kan banyak banget alam
tuh membuat orang less lonely, less
anxious, lebih calm, lebih tenang. Yang
tadi dia pikiran negatif jadi lupa
ketika dia bersama alam. Makanya orang
kan sekarang sebutannya healing tuh ke
pantai, ke gunung, ke itu kan benar ya,
ke alam gitu kan. Kita mikir dulu kita
buat orang berkebun pelihara ayam, nanti
masalah-masalah dia hilang tuh dengan
dia pelihara ayam dan dia berkebun. Tapi
harus indah kebonnya.
Karena sebenarnya nature alam itu bikin
orang jadi jadi nyaman, jadi apa? Karena
alam tuh indah kan. Siapapun yang
melihat keindahan alam kan dia enggak
bisa membohongi dirinya sendiri. Iya
kan? Jadi menghadirkan alam yang indah
di rumah itu yang jadi penting ya buat
di kota ya. Tapi emang ketika kita
bicara soal ini ya waktu belajar
permacultur ya itu memang nomor satu
yang kita hadirkan kan tanaman baru
binatang. Karena binatang sudah mulai
kompleks tuh psikologisnya. tadi udah
sudahudah mulai harus dibaca
perawatannya sudah harus tiap hari
baru level selanjutnya manusia yang
terakhirnya
mati ya
tantangan punya bisnis kebunara kalau
dari segi bisnisnya bisa dikatakan kan
kebun kemara ini berkecimpung di ini
bisnis edukasi dan landscape ya sekarang
dan payung besar di atasnya kalau kita
mau menyederhanakan kata ini ya bisa
dibilang payung besarnya sustainability
kan sustainability ini memang bisa
dibilang ada trennya ada demand nya.
Tapi dia itu nich masih. Jadi di kota
pun di beberapa market kalau kita bicara
edukasi kadang gimana tinggi, kadang
good to have, kadang must have, kadang
good to have. Dan it's a bit tricky
ketika kita harus menginfluence mereka
saat mereka merasa ini lagi good to
have, ini lagi enggak penting gitu. Yang
lebih penting yang lain hal lain atau
kita pengin alokasiin uang kita ke hal
lain, enggak mau ke sustainability lagi
gitu. Jadi kalau dari segi itunya itu
sangat saat ini sih masih market driven
sekali ya. Jadi yang bisa kita lakukan
adalah ya tadi kayak kayak dulu emang
kita konsisten aja gitu selalu ready
ketika fluktuasinya itu lagi mendukung
ke arah kita sambil kita melahirkan
ide-ide inovasi baru untuk mengisi
kekosongan-kekosongan yang ada gitu kan
kayak gitu ya cara kita menjawabnya.
Lalu kedua kita sudah sangat menyadari
sekarang gitu bahwa edukasi itu tidak
bisa stand alone sebagai sebuah bisnis.
Jadi kayak ada edukasi, ada landscape,
sekarang kita mau ada jualan kandang. Ya
retail kali sebutannya ya. Tantangannya
adalah kalau dulu kita merasa tantangan
gimana kita ng-escale ayo edukasi segala
macam. Kalau sekarang kita sudah mulai
tahu gitu masing-masing tuh punya
porsinya dan punya perannya. Jadi kalau
edukasi ini tetap kita jualan, kita
punya produknya tapi dia punya peran
yang sangat amat kuat untuk
menginspirasi orang untuk mau punya
landscape yang lebih keren, lebih keren
gitu ya, ekosistem, landscape yang lebih
fungsional dan lainnya. Artinya
bagaimana edukasi ini memainkan peran
itu gitu untuk membelokkan orang ke
sana. Jadi enggak apa-apa dia enggak
beli produk yang ini, tapi gimana
caranya apa yang kita lakukan membuat
mereka ngelirik yang satu lagi misalnya
jasa ini. Jadi jadi edukasi tuh semi
marketing juga, semi branding, semi
sales. Agak keasan tuh edukasi
sebenarnya tapi bagus banget karena
paling enggak tetap ada revenue yang dia
generate kan tuh. Jadi bisa kayak
selfsicient marketing itu kan lumayan
juga ya. Jadi kayak gitu. Nah itu kan
tantangan yang kita ubah menjadi sesuatu
opportunity ya sekarang.
Kalau ke depannya mungkin kalau dilihat
tantangan apa yang dilihat adalah ini
sih jasa sudah ada dua masing-masing
sudah berputar dengan pola yang cukup
kuat maksudnya udah kita sudah tahu ya
oh ini ritmenya kebun kemara ini kebun
kemara sudah punya strategi untuk
ngembangin gimana nah tinggal yang
produk ini sebenarnya si kandang
kumariuk ini apa yang bisa kita
kembangkan lagi e gimana caranya biar
produknya lebih bagus
kita lagi banyak evaluasi itu juga sih.
Ada satu lagi sebenarnya.
Jadi sekarang ada beberapa tempat yang
pengin ada kebun kumara di situ, tapi
kita susah juga mecah diri gitu ya untuk
ngebuat kebun kumara di tempat-tempat
itu gitu. Kita ngelihat gitu di enggak
cuman di Jakarta maksudku di berbagai
kota gitu. Kita lagi berpikir tuh
i kita belum
kalau sapi itu tu gimana ya?
Kita belum menjadi amubah belum bisa.
kita harus
gimana ya? Ada ada kebun kumara di
tempat tempat-tempat itu model bisnisnya
seperti apa gitu. itu kalau
value-value-nya kita udah ada yang harus
kita keluarkan, tapi gimana itu supaya
bisa running ya itu yang lagi kita cari
itu
dari awal kita mulai dari keluarga,
kebun Kumara dan keluarga ini jadi satu
satu nilai yang kita pegang erat
sebenarnya di kebun Kumara. Bagaimana
cara kita menjalankan usaha ini sangat
kekeluargaan gitu. Kita makan siang
bareng, sharing, kadang-kadang ya kita
pergi sama-sama gitu ya. Pokoknya kita
kami di sini apa sama Sandra pengin
ngebuat suasana bekerja di kebun Kumara
ataupun orang yang berhubungan sama
kebun kebun Kemara itu serasa keluarga
itu yang yang kita ingin ciptakan
termasuk sebenarnya kita bikin kandang
ayam dan nanti ke depan apapun produk
yang akan kita buat niatnya itu pasti
satu gimana caranya membuat
keluarga-keluarga lain yang ada di kota
bisa hidup lebih sehat kita pasti
berangkatnya dari situ gitu
produk-produk kita pasti untuk keluarga
gitu
Karena dampaknya dahsyat loh, Mas. Kayak
punya kebun. Jangan bayangkan dulu
kebunnya begini, dulu kan enggak. Ini
kan ini dulu rumput ya, belum jadi kebun
ya. Tapi kalau ada kebun tuh kita punya
opsi kegiatan, opsi quality time yang
begitu beragam sama keluarga. Jadinya
kan saya sama Dira tuh ya mungkin ni
kadang-kad kita juga bukan anak yang
suka ke mall atau apa ya. Jadi kita tuh
sering banget weekend di sini. Nanti pas
kita sudah punya anak, pas kita berkebul
anaknya ikut main tanah. Saya udah ada
ayam biru jadi ngerti. Oh telur tuh udah
di sini ya gitu. Telur tuh bukan dibeli
di toko, enggak muncul di supermarket
begitu saja. Ada ada binatang yang harus
dirawat. Binatang ini juga punya hak.
Kita harus perhatikan dia baru dia bisa
menghasilkan telur yang sehat baik buat
kita. Makannya juga harus bagus. Baru
anak kita juga jadi ngerti. Oh, itu
kenapa ya kalau ada makanan di piring
tuh dibuangnya enggak ke sini tapi ke
tempat pemilahan. Itu kan itu kan ya
budaya dalam sebuah keluarga yang
dibangun yang harusnya mempererat tali
kasih antar keluarga itu baik dengan
sesama juga dengan alam gitu ya. Dan aku
merasa sangat terbantu sih punya kebun,
punya ayam gitu ya untuk punya quality
time sama suami, sama anak, sama
ponakan, sama saudara-saudara gitu. Jadi
kalau kita mau ngapa-ngapain nih ke
rumah aja deh.
Kita kita enggak ada persoalan anak kita
enggak mau makan sayur dong. Kita enggak
menghadapi persoalan itu. Maksudnya itu
persoalan yang banyak di Jakarta tuh
persoalan yang banyak ya dari
orang-orang yang saya kenal. proses
kayak gitu kan bukan hal kecil bahkan
kalau bisa dibilang itu kan kita memupuk
loh kita memupuk masa depan anak ini.
Kita juga memupuk kesehatan kita di masa
depan dengan segala sesuatu yang kita
lakukan. Rumah yang sehat, orangnya
sehat. Orang yang sehat kita bisa lebih
produktif, bisa berbagi kasih ke banyak
orang dan lainnya. Itu kan domino kita
kencang ya. Aku selalu bayangkan kayak
pengin deh kita bantu orang punya kebun
gini di rumah. Oh, dia pengin punya
ayam. Pengin deh tapi rumah dia kecil.
Yuk, kita bikin kandang ayam yang kecil
gitu. Jadi itu salah satu penggerak kita
yang terbesar juga ya menghadirkan itu
apalagi sebagi kita punya anak jadi real
banget ternya emang
jadi real betul
mana tantangan ini dahsyat dan di kota
kan godaan banyak ya distraksi banyak
masa anak mana enggak mau gula-gula dan
semua ultra prosess food itu gitu
anak kita boleh asal
yang semua tersedia ini. ini gimana cara
ini bersaing dengan kelor gitu. Gimana
cara boba bersaing dengan kunyit asem?
Harus dari rumah kan ki dia harus kenal
di rumah karena dia enggak mungkin kenal
di luar manadara di sekolah tiba
anak-anak bawa kunyit asem nih gitu kan
enggak jadi kayak rumah itu jadi
wadahnya. Nah, kita kan keren kalau
rumah-rumah tuh yuk kita berdayakan.
Jadi, pas anaknya keluar dia ngerti
gitu.
Idealis ya. Sebuah ideaal yang kita
perpegang teguh tuh penting sekali
karena ini aku baru bahas sama Dira
kemarin karena ibaratnya kan hidup tuh
kan roda ya Mas pasti berputar. Itu
sebuah keniscayaan. Jadi dia akan
berputar berputar kadang di atas samping
naik dia gitu terus jadi enggak akan
staknan juga berputar berputar berputar.
Idealisme kita, nilai-nilai value kita,
pegangan kita kan adalah senternya yang
membuat roda itu berputar tapi aman
gitu. Bayangkan kalau roda itu sudah
harus berputar sebuah kenis cain, dia
akan berputar tapi enggak ada senternya.
Kan dia berputar ke sana kemari ya,
kepental-kepental enggak ada arah gitu.
Justru menurut saya itu penting sekali
bagaimana idealisme itu diekspresikan.
Nah, itu yang disesuaikan. Cuma apakah
jangan punya idealisme? Ya enggak
bolehlah. Mau ke mana itu rodanya?
Rodanya berputar pada poros apa? kalau
dia enggak punya itu di tengah. Jadi,
bagi saya ya kita bersyukur sekali bahwa
idealisme kami punya bentuk ekspresi
yang bisa kita cari di kebun Kumara
gitu. Dia dapat nih bentuknya gitu. Tapi
aku rasa semua orang pasti punya kan
idealisme-idealisme dan ideals-ideals
yang dia pengin itu. Jadikanlah itu
poros gitu. Cari untuk dia berekspresi
yang bisa diterima oleh luar tapi tetap
dia di senternya gitu. Saya Sandra dan
ini Dira suami saya. Kami dari Kebun
Kumara. lokasi kami di Gading Serpong,
Tangerang. Terima kasih sudah menonton.
Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:32:35 UTC
Categories
Manage