Hidup di Kota Serasa di Desa: Rumah Dengan Kebun & Kandang Ayam di Tengah Kota Tangerang!
POOcdTMWKg4 • 2025-12-24
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Maksudnya kayak sustainability itu kan ada demand-nya. Istilah itu emang ada demand. Baik itu kacau. Terserah mau diartikan demand is a good thing, it's a bad thing, demandnya buat apa itu demand is there kan. Kebuya kebun kemarang menjadi salah satu bisnis yang menjawab demand itu dalam segala bentuknya. Nah, tapi kita menawarkan flavor dan nilai yang kita percaya dalam mendefinisikan sustainability di budaya sehari-hari dan di ruang di sebuah landskap. Kita enggak tega aja sampah makanan dimasukin dalam plastik terus plastiknya dibuang ke TPA. Karena kita udah belajar ya, Parma, kita sudah belajar tentang kompos, kita belajar tentang berkebun. Kayaknya itu absurd gitu kok ini kan terurai dia bisa jadi di tanah kalau enggak masuk di dalam plastik kalau dikompos gitu. Akhirnya kita mikir kita bikin aja ya kandang ayam di BSD di rumah kita. Desain kandang kami kan namanya deep litter, deep litter method. Jadi kita menggunakan alas kandang berupa daun kering yang tebal. Kita tidak harus membersihkan kotoran ayam. Kotoran ayam tuh enggak pernah disiram, disapu, dibuang. Enggak. Kotoran ayam tuh termasuk bagian jadi input. Dia ditangkap oleh alas si daun kering dan dia pun akan berubah menjadi kompos nanti yang kita panen. Nah, dengan sistem itu harusnya tanpa bau. Kita panen. Paling banyak telur dalam satu waktu itu ada 3 + 6 telur sehari. 4 ayam. Satu jantan tiga betina. Mau empat ya betina boleh. Kemarin kita juga sempat lima betina. Enam betina dalam kandang itu juga bisa. Tiga ayam petelur setahun bisa paling enggak 600 at 750 telur lah. Tiga betina satu jantan. Tiga betina satu jahan. kamera. Halo, nama saya Dira Narayana dari kebun Kumar. Di sampingku istri tercinta Sandra itu yang mimpin kebun Kumara. Kebun Kumara lokasinya di Gading Serpong. Jadi di Serpong itu di Kota Tangerang. Hmm. Kalau aktivitas berkebun kita mulainya sebenarnya di Ciputat. Ada Waduk Situ Gintung. Di sekitar Waduk itu ada lahan lah yang kita sewa. Tahun 2016 habis nikah kan ya? Habis nikah setahun. Enggak. Enggak persis. Ngawalinnya malah di situ. Kita waktu itu masih numpang di gudang orang. Dulu saya kan di dunia aktivisme kantor saya di situ waktu kita mau mulai usaha. Karena di tempat saya itu halamannya luas. Akhirnya kebun Kumara kita minjam gudang kantor saya waktu itu ya kan kita mulai dari gudang itu terus mulai berkebun di situ sama keluarga sih sebenarnya bukan cuma nama istri aja sama adik kita dari situlah perjalanan kita dimulai jadi ide awal muncul itu karena beberapa hal terjadi bersamaan ya paralel ya jadi saling mempengaruhi hal pertama adalah kami menikah tahun 2015 saya kerja kantoran sebelum menikah tuh sudah kerja kantoran tapi setelah menikah banyak cerita sama Dira juga kayaknya enggak kebayang nih ngerja kantoran untuk jangka panjang. Akunya enggak enggak nyaman lah. Kayaknya bukan ini deh jalan hidup gue nih kerja kantoran ini. Enggak suka l intanda tanya kan kita mau ngapain kalau misalkan udah enggak kantoran apa aku mau cari kerja di kantor lain gitu atau kita mau ngapain waktu kita putuskan kamu kalau enggak suka kerja kantoran ya masalah kantoran akan muncul di kantor manaun yang kamu akan tekuni. Jadi kita memutuskan untuk pindah kuadran nih. Kita jadi wirausaha yuk bikin bisnis yuk kan gitu. Nah, di saat yang bersamaan kita punya teman dia itu berbisnis, bisnisnya namanya Agrada. Ee bisnis ini ada di minggir di Sleman. Dan intinya teman saya ini, sahabat saya ini, dia orang kota pindah ke desa. Terus mulai bisnis di bidang pertanian juga lah ya ke desa. Jadi kita juga banyak melihat ke dia kayak apa kita banyak ngobrol sama dia, namanya Asri dan suaminya Dika. Kita banyak ngobrol sama Asri sama Dika aja yuk terkait dunia bisnis. Karena aku sama Dira ini orangnya cukup idealis ya dan pengalaman bisnis kita tuh nil jadi nol. Jadi bukan tipe yang kayak, "Ah, gua bisa jual sendal gitu." Enggak bisa. Kayaknya kita harus jual sesuatu yang sesuai juga sama orang banyak bilangnya passion ya, tapi kalau menurut saya lebih ke ada idealisme di dalamnya yang kita juga ingin sebarkan gitu dalam berbisnis. Jadi, kita juga pengin punya bisnis yang kita sendiri tuh percaya banget nilai-nilai di dalamnya gitu kan. Jadi, harus dicari kan. Jadi, kita dibawalah ke Jogja banyak ngobrol sama Asri sama Dika ini dari Agrada. Lalu sama Asri sama Dika kami dibawa ke tempat namanya bumi langit. Bumi Langit Institute. Mungkin pernah dengar ya, Bumi Langit Institute ada di Imogiri. Di situ kita bertemu dengan Pak Iskandar yang punya Bumi Langit Institute bersama keluarganya. Di situlah terjadi siraman ilahi kepada kami di bawah tur keliling segala macam. Nah, di situ kalau aku pribadi merasa cukup ketampar bolak-balik melihat kenapa ya gaya hidup seperti ini tuh tidak ada di kota gitu. Benihnya itu adalah aku sama Dira meemang cukup suka outdoor. Kita juga cukup suka alam. Tapi kita enggak pernah berkebun. Kita enggak tahu cara ngerawat alam, ngekompos, ternak ayam. Itu enggak ada ya. Tuh, enggak ada pengalaman itu sama sekali. Cuma kita suka alam, kita suka ke gunung, kita suka explore gituah. Kita suka gitu outdoor. Terus kayaknya itu tersiram kali ya pas kita ke bumi langit bahwa bisa ya kayaknya gaya hidup ini tuh sesuatu yang tradisional, sesuatu yang lebih membumi berporos gitu ya. Mungkin bisa kita bawa ke kota. Nah, itulah muncul tuh pikiran-pikiran itu semenjak pulang dari bumi langit sebenarnya lahirlah framework kali ya atau framework awal terhadap kebun kumara nih mau jadi apa. Waktu itu sih singkat cerita kalau kita bisa satu kalimat ya kita pengin gimana cara yang kita belajar di bumi langit ada di kota gitu. Kita lihat di kota enggak belum ada atau mungkin pun kalau ada sikapnya lebih individual ya. Jadi ibu mana bikin kebun di mana ibu ini gitu kan individual bukan yang sifatnya besar orang bisa ke sana belum banyak. Kalaupun ada yang berhubungan dengan menanam atau beternak itu mungkin lebih ke tanda kutip lebih ke peting zoo ya kayak ngih makan kelinci. Jadi belum yang masuk ke kebiasaan, belum dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari itu belum. Ya udah akhirnya kita banyak eksplorasi itu gimana cara kita mengadaptasikan wawasan ini, keterampilan ini. Dan menurut kami nilai-nilai yang sangat disayangkan tidak diajarkan di kota. Begitu terputus dari kehidupan perkotaan, gimana caranya kita mengambil peran untuk mendekatkan itu kembali di kota. Sebenarnya sih mungkin waktu awal-awalnya kebun Kumara kalau dibilang bisnis kita ya jelas belum bisa menghidupi lah. Kalau awal ya awal tapi gua rasa semua bisnis apapun di awal enggak enggak enggak enggak bisa gitu ya susah artinya kita jualan workshop berkebun waktu itu ya. Iya waktu kita lini bisnis kita cuma edukasi jadi kita cuma jualan program edukasi saja ke sekolah, ke publik, ke companies gitulah ya. Pokoknya program edukasi ya. Itu sih kalau di awal, Mas, itu ibaratnya kita kayak kita pakai tabungan aja ya, Dir. Kita kita bakar tabungan karena waktu itu emang kita tidak punya investor. Jadi yang naruh modal di kebun Kumara itu ya pendirinya. Jadi saya, suami, adik saya dan suaminya empat orang. Punya tabungan berapa Cebret? Yuk, kita bikin. Kita bootstrap lah istilahnya kan. Nah, jadi kalau sekarang aku sama Dira memaknainya tuh kayak orang lu ngeluarin uang untuk S2. Nah, kita S2 juga tapi ya di kebun kemarin langsung ya kayak bakar uang tapi dapat ilmunya lah. Ada S2 juga di situ ya. Learning by doingnya gitu. Tapi kalau ditanya sekarang, apakah idealisme yang kita pegang bisa menghidupi sekarang? Jadinya bisa setelah perjalanan panjang. Setelah perjalanan 10 tahun ya searang sih mau masuk 10 ya. Mau masuk ke 10 tahun mulai kita panen ya. Kita panen apa yang sudah kita semai pas COVID. Pas COVID ya. Pas COVID itu surprising banget setelah 4 tahun 5 tahun lah. 45 tahun mungkin kalau kalau uang Sandra lebih lebih hafal ya. Aku enggak terlalu hafal keuangan di sini. Enggak mau tahu engak mau pusing. Aku paling banyak justru ngabisin duit kalau di perusahaan. Aku penginnya bikin ini. Pengin bikinin inovasi misalnya inovasi apa? Bikin kandang ayam, inovasi. Kita pengin ngebesarin tim buat landscape. Kita ngebesarin tim. Jadi lebih banyak aku mikir inovasi untuk pengembangan. Yang belum tentu berhasil nih ya. Ada yang berhasil ada yang enggak gitu. Tapi aku lebih ke situ, Mas. Pas COVID itu sebenarnya cukup bergejola karena 2 minggu sebelum COVID itu saya baru lahiran. Jadi tadi di benak saya dan Dira itu kita berdua ya kan cuti melahirkan ya. Maksudnya aku 3 bulan off sudah nitip ketim sudah ada strateginya edukasi mau apa, landscape mau apa dan lainnya tiba-tiba terjadi COVID semua. Ya udahlah ya itu kan kalau di Jakarta kan udah PSBB itulah ya gimana nih? kita langsung rembuk. Aku di rumah anak masih kecil banget. Kita juga masih ini baru selesai operasi, baru di rumah teleponan sama satu tim gimana pokoknya tim enggak boleh ada yang dipecat ya. Kalau nanti founder-foundernya aja yang enggak usah gajian dulu. Mereka harus tetap jalan sambil kita mikirin. Nah, tapi tiba-tiba datang berkah di mana ternyata yang kita jalani ini sebelum COVID kita workshop berkebun walaupun yang penghasilannya enggak bagus itu ya. Ternyata yang kita jalani semua, semua workshop yang kita jalani, semua storyting yang kita buat, semua konten yang kita siapkan secara online, pokoknya semua itu entah gimana tuh bisa kita tuai gitu pas COVID. Jadi kita dapat request banyak banget, Mas. Request kegiatan edukasi itu banyak banget dari big companies terutama yang kayaknya dia udah punya mungkin dia punya budget ya buat employee program, buat apa yang enggak tahu mau dipakai ke mana. Satu. Terus dua, dia butuh kegiatan yang berhubungan dengan wellness karena banyak orang anxious, anxiety, stress, banyak orang lonely juga enggak bisa keluar rumah buat orang yang tinggal sendiri-sendiri di kota kan banyak kan orang tinggal sendiri-sendiri, enggak bisa keluar, enggak bisa ke mana-mana, dia stres. Terus kalau Mas ingat zaman-zaman di COVID itu kalau di kota semua orang jadi pelihara tanaman bisa dari monstera, bisa ke terong, pokoknya semua dicari gitu kan. Nah, dengan tiga tren ini terjadi bersamaan, ternyata yang kami lakukan sebelumnya di kebun Kumara itu telah membangun kali ya, membangun sebuah trust ya, kepercayaan terhadap kebun Kumara dan apa yang bisa kita tawarkan. Jadi kita tuh ngelakuin semua workshop berkebun tuh online masanya di kamar, meja, handphone, dua, laptop, kita presentasi ada teorinya. Habis saya berkebun di meja itu. Jadi nanti laptopnya mundur, handphone-nya ini. Saya kayak ngaduk tanah, ini sekam, ini sekam bakar, ini media tanam yang subur. Saya nyemai di situ. Belakang saya tuh ada bunga matahari, ada mint, ada segala macam kita susun. Jadi akhirnya kita enggak adain workshop online kayak gitu. Bukan di sini, di rumah orang tua. Karena emang rencananya 3 bulan, 3 bulan pertama kan pasti butuh ibu ya. Emang udah di rumah Bunda dulu, tinggal di rumah Bunda ya ternyata gitu. Ya udah aku rushop di rumah Bunda. Tiba-tiba di saat yang bersamaan karena kita enggak tahu kita mau ngapain, tapi kita kayaknya harus nyari kegiatan deh. Kita sulap atap rumah ibuku. Kap rumah ibuku kecil banget. Berapa deh? Cuma 40 m² total ya. Kita sulap jadi kebun. Sambil kita sulap jadi kebun direkam. Udah bikin aja deh rekam itu. Rekamrekam. Ya Allah bikin YouTube. Kita enggak punya YouTube. Tadi kita bikin YouTube asal jelek lama kualitasnya jelek tapi cukup gitu. Nah kita bikin konten itu. Konten itu banyak dilihat orang jadi tambah tahu lagi mesan lagi workshop ke kita dan di saat yang bersamaan enggak banyak penyedia jasa itu. Jadi emang kebun kemara jadi kayak punya first mover advantage ya. Jadi kita kayak mungkin bukan satu-satunya. Jadi, tapi kesannya kayak satu-satunya yang siap gitu untuk ngadain workshop berkebun online. Kita kirim media tanam ke klien-kliennya. Kita udah hafal bibitnya. Jadi tim kita yang tadi tim lapangan di kebun Kumara yang di Ciputat itu masih bisa kerja di sana nyiapin-nyiapin bibit semua kita yang di rumah. Pokoknya kita butuh seamentah gini kirim nanti kita siapin workshop-nya. Semua paket workshop-nya mediaar lain dikirim dari Ciputat ke klien-klien gitu. Tapi jalan jalan dari situ. Lumayan loh, Mas. adaptif aja sih, adaptif terhadap kondisi. Tapi di saat yang bersamaan saya merasa apa yang kita lakukan ini makanya pepatah kanan bilang pokoknya jangan pernah nyerah gitu, lak akuin aja terus konsisten. Nah, itu benar banget karena kita konsisten aja walaupun kan sedih ya Mas kayak ya enggak ada yang ini itu kayak edukasi juga enggak ke mana-mana dan lainnya kita kan sedih ya kepikiran nih gimana nih tapi terus pokoknya terus terus ini bikin ini segala macam ternyata itu ya ternyata berkahnya itu datang pas di saat di momen itu karena kita membangun itu tekun banget konsisten terus terus terus ngejalanin walaupun enggak untung terus terus terus ngejalanin ternyata nanti ada aja tek tipping pointnya gitu pertama aku kan tidak pernah tinggal di desa kecuali 1 tahun lah mungkin bisa disebut aku tinggal di desa dulu aku pernah ikut Indonesia mengajar. Aku tinggal 1 tahun di Kepulauan Tanimbar itu di Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Aku tinggal di sebuah desa namanya Desa Lumasebu. Em di Kecamatan Kormomolin. Ada deh desa itu enggak ada internet, enggak ada listrik, pokoknya desa pelosok. Karena memang kalau Indonesia mengajar pas saya ikut tahun 2012 ee memang kan dia bekerja sama dengan kabupaten-kabupaten yang terluar dan beberapa juga tertinggal gitu ya. Emang sengaja dimasukkan ke situ untuk kita belajar dari mereka. Sebenarnya saya pernah tinggal memang di situ 1 tahun. Saya tinggal bersama Mama Ola, beliau petani, beliau janda suaminya sudah meninggal, punya dua anak. Jadi saya sempat tuh ngelihat perkebunan dia. Dia panen singkong gitulah ya, pesisir. Jadi ini benar-benar rumah saya depannya langsung laut. Jadi emang dia spes bagus banget. Arafura kan lepas jadi laut lepas tuh ke Australia situ. Lah kali ya pengalaman 1 tahun lah tinggal di desa. Cuma enggak ada pemikiran yang kayak sekarang timbul di sana enggak ada sama sekali. Di sana mah saya senang-senang aja main di pantai, main bola apalah gitu-gitu ya. Jadi saya baru kepikiran membawa tradisi yang mungkin buat orang kota itu tradisi desa ya. Itu setelah pulang dari bumi langit dan setelah saya mungkin berkontemplasi, oh ternyata emang ini kok yang dilakukan sama saya juga yaimbar dulu gitu. Jadi dari situ ya pengalamannya sebatas itu. Cuma yang kita lakukan untuk mengadaptasikannya kalau aku pribadi aku coba mempraktikkannya dulu di rumah. Saat aku belajar mendapat ilmu dari ke bumi langit itu kan ilmu baru buatku. Di saat yang sama kita bikin kebun kumara. Tapi kan artinya aku adalah orang yang baru dapat ilmu baru terus mempraktikkan di kebun Kumara sebagai bisnis kan. Jadi kebun kumara itu bertumbuh bersamaan dengan aku secara pribadi juga bertumbuh. Jadi semua yang aku dapat itu kita praktekin lagi di rumah. Jadi kita praktekin di kebun kemara, praktekin di rumah. Jadi kita juga belajar, belajar, belajar. Jadi kita kayak banyakbanyak mungkin secara bisnis enggak enggak terlalu ngelakuin apa-apa ya mungkin di setahun pertama karena kita masih banyak belajar kan kayak mengkompos kita belajar lagi pelihara ayam kita belajar lagi dari awal. Nanti kita nyoba strategi yang ini buat bikin media tanam enggak cocok media. Jadi kita kayak banyak belajar. Jadi itu sebenarnya 1 tahun belajar dulu sih walaupun udah launching lah ya. ada namanya, ada logonya, semua storytelling-nya kita masukin lah ke Instagram kita, gitu tetap ada. Cuma kita juga sambil belajar. Jadi kalau ditanya gimana sih mengadaptasikan metode desa ke kota? Ya saya praktikin dulu di rumah dan saya lihat apa sih yang paling cocok untuk terjadi paling enggak di ruang saya baru kalau menurut teman-teman saya kan saya agak ekstrem ya maksudnya kayak saya mau ngelakuin banyak hal yang orang kota lain tuh enggak mau ngelakuin kan jadi agak ek jadi saya juga harus lagi-lagi menyesuaikan oke ini mungkin nyaman buat saya nih kayak saya nyeker gali-gali terapi enggak setiap orang kota mau ngelakuin itu. Nah itu harus diadaptasikan lagi. Jangan dibuat terlalu radikal gitu loh. Jadi harus dibuat lebih mainstream gitu. lebih lebih mudah dicapai, lebih tidak intimidating gitu ya. Jadi ya kita belajar lagi untuk membuat ini lebih nyaman gitu buat orang. Tapi memang di awalnya aku banyak praktik dan banyak belajar salah dulu di rumah sendiri dan di kebunku marah sih untuk tahu ini bisa enggak sih sebenarnya otata enggak bisa kayak gini. Ternyata ini it's good to have tapi difficult. Itu tuh yang kita pelajari juga kita adaptasikan baru lahirlah desain-desain baru. Jadi kebun-kemarin mak oke kalau orang kota tuh penginnya tuh enggak apa-apa deh ada yang repot tapi lebih low maintenance tanamannya jadi pangan tapi low maintenance. Jadi kita cari. Nah, dari situ sih, Mas. Jadi emang saya adaptasikan dengan mempraktikkannya langsung. Jadi trial and error gitu di rumah dan di kebun marah. Mungkin kalau ngelihat cara garis besar dulu secara keseluruhan tuh waktu inisiatif kebun Kumara aku ikutan. Tapi ketika kebun Kumara udah jalan aku lebih banyak di e dunia aktivismek. Ya. 2016 ke 2018 Dira terlibat di Kebun Kumara. Dari 2018 Dira off dibalik. Tadinya dia paruh waktu di aktivisme, di kita full time. Jadi dibalik dia full time di aktivisme. Kamu di kita paling cuma seminggu sekali ada. Ee saya kan punya ini mendirikan gerakan ya namanya Lingkar Ganja Nusantara LGN. Nah, gerakan itu ee sebenarnya duluan tuh sebelum kebun Kumara dari saya lulus kuliah tahun 2010. Terus di tahun-tahun 2018 tadi yang sudah mulai banyak sekitar tahun segitu kegiatan kita tuh mulai aktivisme ini mulai mulai rama lah dibicarakan waktu itu soal ganja buat kebutuhan medis kan. Nah, itu ramai jadi saya fokus kerja. Iya. Iya. Fokus ngerjain itu. Waktu itu kami digerakan kan ngejar buat bisa riset ganja kan. Tapi ternyata perjalanan terus mengajarkan saya bahwa wah dunia politik ini wah gila-gilaan gitu ya kan. Akhirnya saya punya anak. Nah, di situ kalau buat saya pribadi ketika punya anak, cara berpikir saya tuh langsung enggak tahu kayak ada sesuatu yang berubah. Saya pengin gimana bisa gedein anak ini dengan baik. Di dunia aktivismen saya enggak punya penghasilan yang cukup. Makanya saya mikir, gimana saya bisa ngegedein usaha kebun Kumara yang jadi penopang ekonomi buat keluarga kita. Terus saya bisa ikut mengembangkan apa yang bisa saya kembangin yaitu e landscape kebun kumara tuh udah mulai eh apa udah jalan tapi belum belum terlalu menghasilkan. Ya, jadi 2016 kebung Kumara mulai edukasi doang. 2018 mulai ada jasa landscap. Lcup itu kita mendesain and design and build ya. Jadi kita bantu desain. Masih ikut ya. Sor kamu masih ikut di awal tengah-tengah jalan bilang 2019 deh baru ini semua terjadi. Jadi kamu kayak udah gua izin pamit ya. Jadi, landscape dijalanin sama tim lain. Dira udah enggak jalanin lagi. Dira baru balik lagi pas COVID antara 2020 atau 2021 awal. Aku lupa antara itulah sekitar segitulah. Karena landscape enggak terlalu menghasilkan gitu jalan tapi bisnisnya enggak terlalu menghasilkan. Nah, kita beruntung ketemu kayak bumi langitnya dunia landscape. Tapi dunia landscape namanya ARD Design. ARD Design nih konsultan arsitektur dan landscape. Nah, kami banyak berguru dengan mereka belajar. Jadi guru guru kami lah ARD. kami belajar saham mereka. Mulai dari kenal saham mereka, kita belajar. Nah, dari situ kita bisa mengembangkan divisi landscape Kebun Kumara. Divisi landscape Kebun Kumara sekarang bisa dibilang malah e yang menopang kebun Kumara. Jadi dia sebenarnya main revenue stream kita karena memang dia juga lebih mudah diale. Edukasi ini agak lebih tricky. Jasa edukasi agak lebih tricky, nich banget dan personalized banget kok aku ngerasanya. Jadi kita punya misalnya direktur program itu namanya Ara, orang maunya belajar sama Ara gitu ya kan. Jadi kalau Aranya lagi enggak ada, enggak ada Ara mau nunggu Ara itu kan you cannot. Terus kita kan kita enggak bisa mereplicate Ara jadi dua ara kan enggak bisa ya kan. Jadi kalau jasa edukasi menurutku ada personal touch-nya dan karakteristik orang yang cocok di edukasi dan di kebun Kumara kan juga tidak gampang dicari ya kan. Jadi ya kayak gitu. Jadi untuk itu diale lebih sulit kita mencobanya sudah lebih dari 5 tahun kan sampai kita menerima bahwa memang ini lebih sulit dan ternyata oh ternyata memang lini bisnisnya landscape, lini bisnis edukasi tidak terpisahkan justru saling mendukung dan edukasi tetap harus ada dan tetap harus paling enggak bisa nutuplah operasional edukasi gitu ya tapi tetap harus ada karena edukasi juga menopang landscape. Jadi landscape ini menopang kebun Kumara tapi tanpa edukasi bisa jadi bisnis landscape enggak bisa berkembang. Dulu kan cerita awalnya karena banyak orang belajar di kebunku cara berkebun. Aku pengin dong punya di rumahku kan gitu. Garapin dong gitu garapin dong kita garap kita garap kita garap. Lama-lama ini jadi profesional gitu ya. Karena di Breweri itulah kami diajak sama ARD design oleh mentor kami cemplung ke project itu. Di situlah itu titik balik menurut kami. Itu titik balik. Itu proyek terbesar kita ya, Dir? Itu proyek terbesar dan di situ kita belajar bagaimana berhubungan sama klien, gimana kita ngerawat taman yang cukup besar ya kan. Kita bersinggungan sama banyak pihak. Di situ kita belajar banyak. Nah, dari situ kita mulai bisnisnya berkembang tuh yang landscape. Nah, setelah landskap jalan, kami udah punya tim. Saya mulai tuh keluar ide-ide baru. Kan enggak bisa dibendung nih kalau aku tuh iya suka muncul-muncul inspirasi. Nah, dari situlah baru kita kandang ayam kan kita tuh ngedesainin kandang ayam di rumah-rumah orang juga kita lakuin. Cuman kalau harus lewat fase desain dulu, konstruksi, selain waktunya panjang biayanya lebih mahal ya kan. Akhirnya enggak banyak orang yang bisa punya. Dari situlah justru kita mikir, "Oh, apa kita bikinin aja kandang-kandang yang ukurannya paling minimal yang bisa ditaruh di rumah-rumah yang ukurannya tidak besar, rumah-rumah kecil. Akhirnya kita bikin lagu Maruyuk. Jadi kita sekarang punya lini bisnis lagi, pipa baru lagi itu jualan kandang ayam dan ayamnya. Itu baru baru mulai Agustus tahun ini. Jadi 6 bulan 5 bulan yang lalu. Kalau konsep hutan itu sebenarnya e karena hutan bisa menjaga dirinya sendiri artinya perawatan kita itu sedikit. Berangkatnya dari situ. Selalu komplain orang di kota taman peliharanya susah, ribet. Ya, kalau enggak mau ribet bikin konsep hutan gitu. Tapi kalau I kan seutan dan ini kan banyak makanannya juga, tanaman obatnya juga ada. Kalau ayam sebenarnya itu satu hal yang paling berkesan di aku ya pas aku belajar di bumi langit. Karena di bumi langitlah aku lihat langsung, oh ternyata ketika kita mengkompos sampah makanan, kita bisa mengintegrasikan proses pengkomposan dengan sebuah kandang ayam. Dengan mengintegrasikan proses itu, bahkan kita memperpanjang manfaat dari sampah makanan kita. Jadi sebelum sampah makanan kita berubah jadi kompos, bahkan sampah makanan kita bisa jadi makanannya ayam dulu, kan. Jadi di saat yang bersamaan ayamnya pun akan menghasilkan buat kita. Jadi tempat itu menghasilkan telur, daging kalau memotong ayamnya dan kompos gitu. Jadi suatu sistem yang sama. Buat saya itu sistem yang sangat luar biasa cerdas ya untuk untuk dihadirkan dalam sebuah landskap. Terutama apalagi kalau kita ini kan punya concern yang sangat besar terhadap sampah. Sampah makanan waktu itu. Sampah makanan rumah kita pikirin, sampah makanan rumah keluarga kita juga kita pikirin. Karena banyak banget. Kita enggak tega aja sampah makanan dimasukin dalam plastik terus plastiknya dibuang ke TP. A kayaknya buat karena kita sudah belajar ya perma kita sudah belajar tentang kompos, kita belajar tentang berkebun kayaknya itu absurd gitu kok ini kan terurai dia bisa jadi tanah kalau enggak masuk di dalam plastik kalau dikompos gitu. Akhirnya kita mikir kita bikin aja ya kandang ayam di BSD di rumah kita untuk mengolah sampah dapur kita. Sampah dapur adik, ibuku, mertuaku jadi Mama Yedira kita banyak sampah masuk ke kandang ini. Itu kenapa kita bikinnya cukup panjang karena sumber pakannya banyak. 7 m lebar 1 m ya kan jadi ya 7 m² kalau per me perisa 2 sampai 3 ayam ya kapasitas kandang itu adalah 14 sampai 21 tapi kita cuma ya 12 sampai 15 lah biasanya biar enggak ya tadi biar enggak terlalu ribut ya biar kita juga bisa ngerawatnya lebih optimal ya kalau enggak banyak kan kalau komplain ada kalau komplain ada pernah bukan pernah tapi enggak sering cuma satu kali dia pernah satu kali Mas karena bau Jadi kita salah kan itu di tahun ke berapa lah ya setelah beberapa tahun itu tetangga komplain sama kandangnya bau. Tetangga enggak langsung bilang dia riset dulu. Karena kan di komplek ini nih komplek ini nih ada TPA yang dekat sinilah di Tangerang Selatan nih. Ada TPA yang udah hancur banget baunya. Itu hampir tiap hari kecium ke sini. Iya. Hampir setiap hari terutama setelah hujan. Jadi tetangga ini bau dari sampah sana apa dari kandang ayam. Kandang ayam kita gitu kan. Dia takut kali mau ngomong kan enggak enak. ya kan? Setelah beberapa hari ternyata dari kandang ayam kita di situ. Saya sama Sandra belajar justru e sisa sampah organik, sisa sampah makanan yang udah ditimbun lama, sisa makanan yang sudah ditumpuk seminggu di dalam ember, begitu dibuka kan bau banget. Begitu kita kasih ke ayam, belum sempat ayamnya ngabisin, baunya udah keburu kecium. Itu kesalahan kita tuh. kesalahannya. Kesalahannya jadi sebelum-sebelumnya dia enggak pernah komplain karena kan memang yang kami praktikkan kan emang yang kami buat adalah design bagaimana kandang ayam tuh tidak boleh bau. Betul. Nah, tapi salah kita adalah kita membuka sampah yang sudah menginap terlalu lama. Jadi baunya sudah menyengat banget. Harusnya sampah itu kalaupun mau dibuang ke tempat kompos, harusnya kita sudah gali dulu timbun terus timbun gitu. Jadi jangan digelar jadi makanan ayam. Jadi udah terlalu membusuklah. Makanya sekarang kita tahu oke kalau sampah itu maksimal 2 hari harus langsung dikasih. Kalau udah di atas 2 hari dia menginap nih ya itu udah terlalu bau apalagi kalau volumenya banyak kalau itu kan satu ember kayak ember bekas cat gitu loh 20 lit iya 25 lit ya 20 25 lit itu jadi ya jadi bau banget salah kita di situ. Tapi habis itu enggak pernah terjadi lagi karena kita enggak pernah ng syukur sampai sekarang udah enggak ada komplain lagi. Soal suara gitu juga enggak ada komplain sih. Sumber pakan mempengaruhi bau kotoran. Kalau ayam dikasihnya sampah makanan, dikasih pakan fermentasi, cenderung kotorannya tidak sebau itu. Kalau ayam dikasih pakan industri atau pakan jadi, biasanya kotorannya sangat bau, ya. Tapi intinya mau apapun pakannya, kalau pakannya tidak terhabiskan oleh ayam, jadi kita bicara juga volume kan. Kalau kita buang sampah lebih banyak daripada jumlah ayam yang bisa menghabiskan dan sampah itu tersisa dan sampah itu tidak tertimbun oleh daun kering, itu akan jadi sumber bau. Tapi kalau sampahnya habis dan ataupun ada tersisa dikit tapi kan ayamnya kan ya, daunnya kan nutupin dan itu tertutup secara optimal ya enggak ada bau. Karena memang desain kandang kami kan namanya deep litter deep litter method. Jadi kita menggunakan alas kandang berupa daun kering yang tebal. Kita tidak harus membersihkan kotoran ayam. Kotoran ayam tuh enggak pernah disiram, disapu, dibuang. Enggak. Kotoran ayam tuh termasuk bagian jadi input. Dia ditangkap oleh alas si daun kering dan dia pun akan berubah menjadi kompos nanti yang kita panen. Nah, dengan sistem itu, itu harusnya tanpa bau. Buat kami tuh kandang ayam komos tuh yang luar biasa sekali karena dia pun menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan ayam gitu. Ayam kan punya perilaku dasar dan kebutuhan untuk mengais-ngais dan untuk mencakar-cakar. Itu kan kebutuhan dasar ya. Enggak perlu disuruh tuh mereka harus ngelakuin itu. Karena itu ayam cakar-cakar cekernya jadi kuat. Cekernya jadi kuat, postur tubuh jadi bagus. Postur tubuh ayam jadi bagus, biasanya ayamnya jadi lebih sehat kan gitu ya. Jadi emang dia akan nyekar-nyakar kita minta atau tidak. Jadi dengan dia dikasih daun tebal, dimasukin dalam kandang ayam kompos, kebutuhan dia untuk mencakar-cakar ya terpenuhi gitu. Dia juga jadi enggak bosan. Jadi ayamnya ya nyakar-nyakar terus, nyakar-nyakar terus. Jadi kita buang sampah makanan dimakan sama ayam yang tersisa terkubur daun kering. Proses pengkomposan terjadi secara alami. Lama-lama dia akan terurai. Ini jadi kompos. Kita panen komposnya. Enggak ada sekam apapun boleh dipakai. Tapi kalau kita karena daunnya udah banyak kita enggak perlu beli. Tapi tidak harus daun. Makanya bisa bahan organik kering jadi sekam, jerami itu semua bisa. Yang ada lah. Yang ada. Kalau kita kan ada daun banyak kita masukin daun. Daun apapun potongan rumput semua kita masukin. Aku tahu kata itu. Kata itu kan cukup ngetren ya di kota ya. slow living, hidup lebih lamban seperti kita sih jarang menggunakan istilah itu ya di kebun Kumara ya. Em kalau di kebun Kumara kita justru konteks orang kota itu kan beda-beda, enggak bisa disamaatakan, beda-beda banget keribetannya, terus tuntutannya, ekspektasi akan peran-peran dimainkan orang di kota itu kan beragam dan banyak. Jadi di kebun Kumara kita selalu coba untuk mengajak orang untuk mengkontekstualisasikan lagi yang yang make sense buat dirimu tuh apa gitu. Karena tidak bisa dipungur rata satu solusi untuk semua. Jadi apakah oh semua harus berkebun biar nanti dia bisa hidup lebih lestari? Ya enggak kan bentuknya bisa beda-beda gitu ya. Em jadi kalau di kebun Kumara kita merasa bahwa kita percaya bahwa kalau ada landskap di rumah ditingkatkan fungsinya dihidupkan mungkin sekedar balkon atau atep dikasih beberapa pot isi tanaman pangan kita jadi punya budaya untuk merawat itu karena kita harus panen dari situ. Kita kalau kita sudah panen cenderung kita pasti akan masak dengan itu. Anak-anak kan kalau di kebun kemarah anak-anak yang nanam kangkung. Anak-anak pengin nanam kangkung. Tadinya enggak suka kangkung karena dia nanam terus dia panen jadi suka kangkung gitu. Jadi itu kan ada budaya yang lahir ya, budaya sehat, budaya lestari. Jadi kalau kita kan mengajaknya hadirkanlah ruang-ruang fungsional di rumah dan bercermin jugalah pada behavior atau perilaku-perilaku yang merusak gitu. Kayak kita semua produksi sampah. Kalau sampah itu dikompos kan sampah kita enggak merusak gitu. Jadi dicarilah cara untuk mengkompos baik itu ember kompos, tong kompos, lubang biopori terserah atau ayam gitu kan. Salah satu solusi bisa panen telur juga. Terus kita kerjanya enggak seberat itu karena ayam nyakar-nyakar. Kita masti enggak perlu balik-balik kompos. Ayam sudah ngelakuin buat kita dan lainnya. Jadi kita percaya bahwa ada beberapa yang bisa dilakukan. Em lalu kita mencari cara untuk beberapa ini yang kita tahu bisa dilakukan, kita permudah gitu untuk orang kota. Kita panen paling banyak telur dalam satu waktu itu ada 3 + 6 telur sehari ketika semuanya produktif. Sekarang yang tiga lagi ngerem dan enggak produksi lagi. Yang tiga lagi istirahat juga karena dia punya periode yang istirahat. Ya, ya udah ya. Kita lagi enggak panen telur beli. Ada hari ini satu leh horn. Oh, ada ya ada juga gitulah. Jadi gitu, Mas. Terus lima yang tadi apa ya? Ada kan ada kita lima lagi yang masih di bawah umur masih 4 bulan ya belum produktif cuma kompos jalan terus. Kita punya tempat sampah yang jalan terus dan produktif setiap hari ya. Kita tetap buang sampah ke situ tetap jadi kompos. Kompos masih balik ke kebun kita. Di kebun kita, kita nanam sayur, kita nanam obat, kita panen. Gitu. Mungkin di sini. Jadi agak rancu karena kehidupan kami itu sangat erat hubungannya sama kebun kumara kali ya. Padahal sebenarnya kebun Kumara ini satu entitas sendiri. Kehidupan keluarga kami kan juga satu entitas sendiri gitu. Kita enggak menjual apa yang keluarga kami lakukan sebenarnya. Kita ngelakuin ya apa yang kita menurut kita yakini itu benar gitu ya. Tapi kalau yang di kebun Kumara emang dia lebih berkembang karena mengikuti permintaan dari pasar. Maka tadi contohnya kandang ayam itu kan permintaan. Makanya kita kita kembangin di kayak landscape itu kan permintaan kita kembangin usaha di situ edukasi di satu sisi ini juga permintaan CSR misal dari perusahaan itu kan juga ada permintaan-permintaan itu ya ya permintaan-permintaan itu yang kita akomodir mungkin kenapa ini jadi begitu persoalan lingkungan ini jadi terlihat industrialis karena sekarang ada SDGs mungkin ya ada kepentingan di dunia internasional semuanya harus ee mengikuti pakem-pakem yang sudah dibuat supaya menghasilkan kan limbah yang minim dan lain-lain lah tidak merusak bumi lebih lebih parah gitu ya. Ya mau enggak mau apa yang kita lakukan jadi sesuatu yang mereka bisa konsumsi. Maksudnya kayak sustainability itu kan ada demand-nya ya istilah itu emang ada demandnya. Baik itu kacau sih terserah mau diartikan demand is a good thing a bad thing. Demandnya buat apa itu demand is there kan. Nah kita kan menjawab ya kebun kemarang menjadi salah satu bisnis yang menjawab demand itu dalam segala bentuknya. Nah, tapi kita menawarkan flavor dan nilai yang kita percaya dalam mendefinisikan sustainability di budaya sehari-hari dan di ruang di sebuah landskap. Jadi itu kita mencoba untuk menjawab permintaan, kebutuhan dan tren akan sustainability yang okelah bagus juga ya. Ada orang semakin peduli tentang lingkungan dan lainnya, tapi kita menyelitkan value-value yang kita percaya di dalamnya. kita jadi PD karena apa yang kita jual itu sudah pernah kita lakukan dan kita sudah pernah gagal melakukannya dan kita sudah pernah salah melakukannya sehingga yang kita bikin tuh versi yang terbaiklah yang bisa menyiasati dan tidak mengulang kegagalan-kegagalan ini kan gitu harapannya ya Mas ya. Dan aku juga merasa bersyukur tuh gini, banyak sekali teman-teman kita yang keahliannya adalah mengembangkan bibit, keahliannya mengelola sampah jadi kompos, kotornya jadi kompos, terus ada yang keahliannya memang di bagaimana ee menata air, cap, menyusun batu, teman-teman dari daerah-daerah itu kita jadi bisa kerja sama sama mereka-mereka ini gitu. Ketika spesifik bicara batu, bicara air, bicara tanah, bicara kita kan bukan ahli persis di situ kan. Karena kita memang lebih ke ekosistem, cara-cara bekerja lingkarannya tuh kita ya sangat care, sangat peduli sama lingkaran itu harus terjadi. Nah, tapi untuk kita menjalankan sebuah project membuat ekosistem yang cantik, kita melibatkan banyak sahabat-sahabat dari teman-teman kita itu kita senang banget. Kita senang banget bisa punya ekosistem orang-orang yang sebenarnya care sama lingkungan. Contohnya apa? Ayam tuh mereka ngerawatnya bukan ayam industri gitu secara natural. Kalau sakit kasih jamu, kasih apa. Nah, kita bisa bekerja sama sama mereka untuk ngejualin barang-barang. Wah, kita senang banget. Aku kalau ditanya gitu jujur enggak tahu minimal harus punya lahan berapa ya. Tapi kalau punya niat, rooftop aja bisa jadi tempat kita buat nanam kok gitu loh. Halaman rumah yang kecil, rumah Adi kan sebelah lebih kecil halamannya. Tapi beberapa beberapa klien kami rumahnya lahannya juga lebih kecil-kecil tetap bisa dimanfaatin. Seingatku di Sentul tuh lahannya totalnya 30 m² kalau enggak salah sekitar 20 sampai 30 m² itu nanam-tanaman sayur udah bisa punya penangkapan air hujan 3* 5 m mungkin banget ya mungkinlah betul gede. Kalau kayak kandang ayam yang kita bikin di kebun kemarin cuma satu kali du nanam satu pohon buah gede masih bawahnya kasih tanaman-tanaman semak ya semak atau rimpang rempah udah enak bisa didesain misalkan sayuran semuanya gitu bisa asal mau ngerawan kan jadi landscape dia ada zonasi-zonasi ya ada zona buat sayur ada zona buat hutan hutan pangannya ada zona rumputnya ada zona kolamnya zona-zona itu tuh tinggal kita sesuaikan aja buat kandang Ayam. Empat ayam. Satu jantan tiga betina. Mau empat ya betina boleh. Kemarin kita juga sempat lima betina. Enam betina dalam kandang itu juga bisa. Tiga ayam petelur setahun bisa paling enggak 600 at 750 telur loh. Tiga betina satu jantan. Tiga betina satu jantan. Nah, mungkin ide kandang ayam juga itu makanya alamnya dulu ada baru isinya diciptain kan gitu. Udah punya kebun kasih kandang kasih ayam udah ayamnya happy. Ayamnya di enggak ada makanan kita buka kandang suruh ke kebun cari makan. Dia boleh ke sini dia kita umbar. Kadang-kadang kalau kita lagi berkebun ayamnya ikut keluar sama kita nanti dinyakar-nyakar. Kalau ada area yang kita lagi mau tanamin, kita justru taruh mereka di sana nih. Makanin nih. Dia makanin benih-benih gulumia. Dia makanin hama-hama sampai habis bersih. Rayap paling suka rayap dihabisin baru kita tanam di atasnya. Itu sudah belum? 3 belajar psikologi hewan juga. Akhirnya, akhirnya akhirnya. Seru loh. Psikologi hewan. Psikologi ayo. Wah. Ayam. Ayam itu terbaik. Saya ngerasa ayam itu keren banget. Saya sering loh ngihatin mereka. Saya kemarin bawa ayam saya masuk satu. Saya main piano sama ayam saya. Jadi bahkan ayam itu kita lihat adauh ada induk ayam betina yang tidak bisa mengasuh anak, yang bisa mengasuh sedikit anak dan bisa mengasuh banyak anak. Karakternya beda itu, Ibu. Indukan ayam itu yang kita pelihara sekarang yang bisa mengasuh banyak anak, menetaskan banyak telur. Bisa lima yang hidup 5 sampai del. Itu banyak kalau di lap yang enggak jago ya punya anak mati anaknya semua yang kalau dia makan cuma peduli sama diri dia sendiri enggak ngasih makan ke anaknya ada juga yang kayak gitu ada jantan yang care sama istri-istrinya kalau ayam kan istri-istrinya bukan istri dia ayam ya heeh kare dia sama istri-istrinya jadi ada makanan tuh bukan dia dulu yang makan dia serokin makanannya dia cari dia keluarin betina-betinanya yang makan jantannya makan ter ada yang kayak gitu ada yang enggak enggak manusia tuh rumit ya kita ajarin mereka berkebun. Nanti psikolognya manusia itu si kebunnya. Psikolog tuh alamnya aja. Kalau kita bicara studi ya, kalau kita mau baca ilmiah gitu ya, kan banyak banget alam tuh membuat orang less lonely, less anxious, lebih calm, lebih tenang. Yang tadi dia pikiran negatif jadi lupa ketika dia bersama alam. Makanya orang kan sekarang sebutannya healing tuh ke pantai, ke gunung, ke itu kan benar ya, ke alam gitu kan. Kita mikir dulu kita buat orang berkebun pelihara ayam, nanti masalah-masalah dia hilang tuh dengan dia pelihara ayam dan dia berkebun. Tapi harus indah kebonnya. Karena sebenarnya nature alam itu bikin orang jadi jadi nyaman, jadi apa? Karena alam tuh indah kan. Siapapun yang melihat keindahan alam kan dia enggak bisa membohongi dirinya sendiri. Iya kan? Jadi menghadirkan alam yang indah di rumah itu yang jadi penting ya buat di kota ya. Tapi emang ketika kita bicara soal ini ya waktu belajar permacultur ya itu memang nomor satu yang kita hadirkan kan tanaman baru binatang. Karena binatang sudah mulai kompleks tuh psikologisnya. tadi udah sudahudah mulai harus dibaca perawatannya sudah harus tiap hari baru level selanjutnya manusia yang terakhirnya mati ya tantangan punya bisnis kebunara kalau dari segi bisnisnya bisa dikatakan kan kebun kemara ini berkecimpung di ini bisnis edukasi dan landscape ya sekarang dan payung besar di atasnya kalau kita mau menyederhanakan kata ini ya bisa dibilang payung besarnya sustainability kan sustainability ini memang bisa dibilang ada trennya ada demand nya. Tapi dia itu nich masih. Jadi di kota pun di beberapa market kalau kita bicara edukasi kadang gimana tinggi, kadang good to have, kadang must have, kadang good to have. Dan it's a bit tricky ketika kita harus menginfluence mereka saat mereka merasa ini lagi good to have, ini lagi enggak penting gitu. Yang lebih penting yang lain hal lain atau kita pengin alokasiin uang kita ke hal lain, enggak mau ke sustainability lagi gitu. Jadi kalau dari segi itunya itu sangat saat ini sih masih market driven sekali ya. Jadi yang bisa kita lakukan adalah ya tadi kayak kayak dulu emang kita konsisten aja gitu selalu ready ketika fluktuasinya itu lagi mendukung ke arah kita sambil kita melahirkan ide-ide inovasi baru untuk mengisi kekosongan-kekosongan yang ada gitu kan kayak gitu ya cara kita menjawabnya. Lalu kedua kita sudah sangat menyadari sekarang gitu bahwa edukasi itu tidak bisa stand alone sebagai sebuah bisnis. Jadi kayak ada edukasi, ada landscape, sekarang kita mau ada jualan kandang. Ya retail kali sebutannya ya. Tantangannya adalah kalau dulu kita merasa tantangan gimana kita ng-escale ayo edukasi segala macam. Kalau sekarang kita sudah mulai tahu gitu masing-masing tuh punya porsinya dan punya perannya. Jadi kalau edukasi ini tetap kita jualan, kita punya produknya tapi dia punya peran yang sangat amat kuat untuk menginspirasi orang untuk mau punya landscape yang lebih keren, lebih keren gitu ya, ekosistem, landscape yang lebih fungsional dan lainnya. Artinya bagaimana edukasi ini memainkan peran itu gitu untuk membelokkan orang ke sana. Jadi enggak apa-apa dia enggak beli produk yang ini, tapi gimana caranya apa yang kita lakukan membuat mereka ngelirik yang satu lagi misalnya jasa ini. Jadi jadi edukasi tuh semi marketing juga, semi branding, semi sales. Agak keasan tuh edukasi sebenarnya tapi bagus banget karena paling enggak tetap ada revenue yang dia generate kan tuh. Jadi bisa kayak selfsicient marketing itu kan lumayan juga ya. Jadi kayak gitu. Nah itu kan tantangan yang kita ubah menjadi sesuatu opportunity ya sekarang. Kalau ke depannya mungkin kalau dilihat tantangan apa yang dilihat adalah ini sih jasa sudah ada dua masing-masing sudah berputar dengan pola yang cukup kuat maksudnya udah kita sudah tahu ya oh ini ritmenya kebun kemara ini kebun kemara sudah punya strategi untuk ngembangin gimana nah tinggal yang produk ini sebenarnya si kandang kumariuk ini apa yang bisa kita kembangkan lagi e gimana caranya biar produknya lebih bagus kita lagi banyak evaluasi itu juga sih. Ada satu lagi sebenarnya. Jadi sekarang ada beberapa tempat yang pengin ada kebun kumara di situ, tapi kita susah juga mecah diri gitu ya untuk ngebuat kebun kumara di tempat-tempat itu gitu. Kita ngelihat gitu di enggak cuman di Jakarta maksudku di berbagai kota gitu. Kita lagi berpikir tuh i kita belum kalau sapi itu tu gimana ya? Kita belum menjadi amubah belum bisa. kita harus gimana ya? Ada ada kebun kumara di tempat tempat-tempat itu model bisnisnya seperti apa gitu. itu kalau value-value-nya kita udah ada yang harus kita keluarkan, tapi gimana itu supaya bisa running ya itu yang lagi kita cari itu dari awal kita mulai dari keluarga, kebun Kumara dan keluarga ini jadi satu satu nilai yang kita pegang erat sebenarnya di kebun Kumara. Bagaimana cara kita menjalankan usaha ini sangat kekeluargaan gitu. Kita makan siang bareng, sharing, kadang-kadang ya kita pergi sama-sama gitu ya. Pokoknya kita kami di sini apa sama Sandra pengin ngebuat suasana bekerja di kebun Kumara ataupun orang yang berhubungan sama kebun kebun Kemara itu serasa keluarga itu yang yang kita ingin ciptakan termasuk sebenarnya kita bikin kandang ayam dan nanti ke depan apapun produk yang akan kita buat niatnya itu pasti satu gimana caranya membuat keluarga-keluarga lain yang ada di kota bisa hidup lebih sehat kita pasti berangkatnya dari situ gitu produk-produk kita pasti untuk keluarga gitu Karena dampaknya dahsyat loh, Mas. Kayak punya kebun. Jangan bayangkan dulu kebunnya begini, dulu kan enggak. Ini kan ini dulu rumput ya, belum jadi kebun ya. Tapi kalau ada kebun tuh kita punya opsi kegiatan, opsi quality time yang begitu beragam sama keluarga. Jadinya kan saya sama Dira tuh ya mungkin ni kadang-kad kita juga bukan anak yang suka ke mall atau apa ya. Jadi kita tuh sering banget weekend di sini. Nanti pas kita sudah punya anak, pas kita berkebul anaknya ikut main tanah. Saya udah ada ayam biru jadi ngerti. Oh telur tuh udah di sini ya gitu. Telur tuh bukan dibeli di toko, enggak muncul di supermarket begitu saja. Ada ada binatang yang harus dirawat. Binatang ini juga punya hak. Kita harus perhatikan dia baru dia bisa menghasilkan telur yang sehat baik buat kita. Makannya juga harus bagus. Baru anak kita juga jadi ngerti. Oh, itu kenapa ya kalau ada makanan di piring tuh dibuangnya enggak ke sini tapi ke tempat pemilahan. Itu kan itu kan ya budaya dalam sebuah keluarga yang dibangun yang harusnya mempererat tali kasih antar keluarga itu baik dengan sesama juga dengan alam gitu ya. Dan aku merasa sangat terbantu sih punya kebun, punya ayam gitu ya untuk punya quality time sama suami, sama anak, sama ponakan, sama saudara-saudara gitu. Jadi kalau kita mau ngapa-ngapain nih ke rumah aja deh. Kita kita enggak ada persoalan anak kita enggak mau makan sayur dong. Kita enggak menghadapi persoalan itu. Maksudnya itu persoalan yang banyak di Jakarta tuh persoalan yang banyak ya dari orang-orang yang saya kenal. proses kayak gitu kan bukan hal kecil bahkan kalau bisa dibilang itu kan kita memupuk loh kita memupuk masa depan anak ini. Kita juga memupuk kesehatan kita di masa depan dengan segala sesuatu yang kita lakukan. Rumah yang sehat, orangnya sehat. Orang yang sehat kita bisa lebih produktif, bisa berbagi kasih ke banyak orang dan lainnya. Itu kan domino kita kencang ya. Aku selalu bayangkan kayak pengin deh kita bantu orang punya kebun gini di rumah. Oh, dia pengin punya ayam. Pengin deh tapi rumah dia kecil. Yuk, kita bikin kandang ayam yang kecil gitu. Jadi itu salah satu penggerak kita yang terbesar juga ya menghadirkan itu apalagi sebagi kita punya anak jadi real banget ternya emang jadi real betul mana tantangan ini dahsyat dan di kota kan godaan banyak ya distraksi banyak masa anak mana enggak mau gula-gula dan semua ultra prosess food itu gitu anak kita boleh asal yang semua tersedia ini. ini gimana cara ini bersaing dengan kelor gitu. Gimana cara boba bersaing dengan kunyit asem? Harus dari rumah kan ki dia harus kenal di rumah karena dia enggak mungkin kenal di luar manadara di sekolah tiba anak-anak bawa kunyit asem nih gitu kan enggak jadi kayak rumah itu jadi wadahnya. Nah, kita kan keren kalau rumah-rumah tuh yuk kita berdayakan. Jadi, pas anaknya keluar dia ngerti gitu. Idealis ya. Sebuah ideaal yang kita perpegang teguh tuh penting sekali karena ini aku baru bahas sama Dira kemarin karena ibaratnya kan hidup tuh kan roda ya Mas pasti berputar. Itu sebuah keniscayaan. Jadi dia akan berputar berputar kadang di atas samping naik dia gitu terus jadi enggak akan staknan juga berputar berputar berputar. Idealisme kita, nilai-nilai value kita, pegangan kita kan adalah senternya yang membuat roda itu berputar tapi aman gitu. Bayangkan kalau roda itu sudah harus berputar sebuah kenis cain, dia akan berputar tapi enggak ada senternya. Kan dia berputar ke sana kemari ya, kepental-kepental enggak ada arah gitu. Justru menurut saya itu penting sekali bagaimana idealisme itu diekspresikan. Nah, itu yang disesuaikan. Cuma apakah jangan punya idealisme? Ya enggak bolehlah. Mau ke mana itu rodanya? Rodanya berputar pada poros apa? kalau dia enggak punya itu di tengah. Jadi, bagi saya ya kita bersyukur sekali bahwa idealisme kami punya bentuk ekspresi yang bisa kita cari di kebun Kumara gitu. Dia dapat nih bentuknya gitu. Tapi aku rasa semua orang pasti punya kan idealisme-idealisme dan ideals-ideals yang dia pengin itu. Jadikanlah itu poros gitu. Cari untuk dia berekspresi yang bisa diterima oleh luar tapi tetap dia di senternya gitu. Saya Sandra dan ini Dira suami saya. Kami dari Kebun Kumara. lokasi kami di Gading Serpong, Tangerang. Terima kasih sudah menonton. Yeah.
Resume
Categories