Transcript
pYWY8eb2Am0 • 20 Tahun Jadi Karyawan Akhirnya Punya Bisnis Sendiri, Omzet 50 Juta Perbulan!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0671_pYWY8eb2Am0.txt
Kind: captions Language: id Kalau boleh dicompare waktu hasil dari usaha yang menghasilkan ini sama gaji dari di kantor itu gedean mana waktu resign satu klien bisa satu gaji saya ketika 1 bulan gitu loh Mas. Wih satu kalian aja sudah compare sama ini ya. Iya. Jadi kan memang kreatif itu gajinya enggak nentu Mbak. Iya. Kadang-kadang bulan ini bisa R juta, R00 juta, R00 juta. Bulan depan bisa jadi cuma sejuta. Kalau manajemen keuangannya Mbak Oci gimana? Berarti kan ke depan banyak gambar yang bisa dihasilkan oleh AI dan semakin pintar nih AI. Iya, betul. Bidang yang Mbak Oji gelutin apakah masih bisa survive atau dak? [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mas selamat datang Mbak Oji di pecah telur tetangga sebenarnya kita terima kasih. [tertawa] Oke, jadi kita mau belajar nih, Teman-teman. Jadi Mbak Oci ini adalah seorang yang kemudian ini yang juga di anu Mbak Oci. Jadi banyak juga penonton dari pecah telur itu orang yang sekarang masih kerja dan ingin berbisnis. Nah, ini kan relate dengan Pak Oji dulu seorang pekerja yang luar biasa panjang nih 20 tahun kurang lebih 20 tahun Mas 20 tahun bekerja kemudian bisa memulai bisnis sendiri. Iya. Ah, boleh dong diceritain dulu kenapa kok apa kok resign kemudian buka usaha sendiri, Mbak? Heeh. Iya. Oke, terima kasih, Mas Agung. Ee memang itu saya bekerja kurang lebih 20 tahun itu di ee lembaga keuangan, Mas. Itu ada dua perusahaan dan sebelumnya lulus kuliah itu saya langsung kerja tapi enggak langsung di situ. Ada di tempat adalah sebuah apa kayak lembaga negeri gitu loh, Mas. itu cuma ASN maksudnya ee boleh disebut nama enggak sih? Boleh boleh boleh boleh. Saya dulu pernah lulus itu langsung di honorer kejaksaan, Mas. Oke. Gitu 1 tahun kurang lebih 1 tahun. Kemudian karena saya jurusannya kan enggak di ee enggak bidang hukum ya, Mas ya. Kemudian saya melamar di tempat lain. Waktu itu sempat kerja sebelum di lembaga keuangan saya tuh sempat ee kerja jadi seacam marketing atau sales gitu, Mas. H di obat pernah kan di detailer itu loh, Mas. Gitu nanti kan ke dokter-dokter jadi ya memasarkan kayak gitu Mas ee biar apa dokter nulis nulis resepnya. Kemudian pernah juga di sales ee ini kayak seluler gitu, Mas. E cuma kan ya banyak ya lumayan sebelum ke [tertawa] ke lembaga keuangan tadi gitu. Walaupun waktu itu gajinya sih ya belum seberapa kalau yang di sales seluler itu ya, Mas. Kalau yang di ee obat atau detailer tuh lumayan sih sebenarnya di zamannya itu sudah lumayan karena tahu sendiri kan kalau marketing tuh kita nerimanya ya di atas yang back office kayak gitu ya, Mas. Kemudian waktu itu yang membuat saya akhirnya ke lembaga keuangan karena ada ee saya kan di luar kota, Mas. Itu kan saya di Jember waktu kerjanya. Kemudian ada lowongan yang buka di Kediri. Kemudian saya harus ee intinya balik lagi ke Kediri saya ee ngelamar ya di perusahaan lembaga keuangan tersebut mm punyanya Jepang kan. otomatis ya waktu itu banyak yang ngincer ya pengin masuk ke situ dan alhamdulillahnya saya keterima di lembaga keuangan itu gitu. Kemudian di situ bertanya lumayan lama Mas karena kan saya tuh sebenarnya ee orangnya apa ya lumayan loyal gitu Mas ee oh terhadap perusahaan itu kayak loyal gitu ya. itu saya kurang lebih hampir 9 tahun. Saya 9 tahun karena waktu itu saya mulai resign karena sebenarnya saya juga sudah ada us ee usaha, Mas. Selain bekerja tuh saya ada usaha waktu itu buka ee kayak toko baju gitu ya, Mas. Cuma masih kecil ada yang jagain waktu itu. Cuma saya kerja tiap harinya. Heeh. He he. Kemudian ee ternyata di perjalanan waktunya usaha saya itu enggak jalan. Mungkin karena jalan dua gitu ya. ya kurang mungkin kurang ee apa fokus atau gimana. Akhirnya saya memilih untuk resign tadi. Ee iya cuma saya akhirnya bekerja lagi di tempat lain yang saya mendapat tawaran yang lebih dibanding kantor lama. Cuma waktu itu saya di Surabaya. Bentar bentar bentar. Gigih. Jadi awalnya kan kerja di Kediri kemudian resain untuk memulai bisnis. Ee awalnya kan saya kerja di luar kota sebelum di Kediri. Luar kota di Jember. Oke. Kemudian saya sudah sebelum banget berarti ya. [tertawa] Iya, Mas. Perjalanannya lumayan lumayan lama karena 20 tahun lebih kan yang 9 tahun itu di Kediri kan? Di Kediri ya di se habis itu resign resign karena saya bisnis baju cuma enggak jalanis. Enggak jalan. Oh enggak jalan enggak jalan kan 1 tahun lebih lah hampir 2 tahun tapi enggak jalan. Akhirnya saya bekerja lagi. Oh. Dapat tawaran di Surabaya. Tapi sama kantornya di lembaga keuangan juga yang di Mandiri Finance, maaf ya saya sebut namanya itu di Surabaya, Mas. Tapi kurang lebih 1 tahun. Bagian apa, Mbak? Saya dulu waktu itu di regional saya administrasinya jadi kayak ada email masuk terus ada kayak saya nglobi eh lebih ke gitu. Oke. Oke. Admin regional. Jadi kalau cabang-cabang nanti ngemail saya yang Iya kayak gitu. mungkin agak penurunan dibanding tempat kerja saya yang lama yang dari punyanya Jepang yang oto itu ya. Ee tapi karena saya awalnya memang dari Oto itu mau usaha tapi ternyata usaha enggak jalan, otomatis saya ngembaliin buat ngembaliin modal lagi saya kerja lagi gitu loh Mas ceritanya gitu. Terus terus 1 tahun lebih kurang lebih 1 tahun sih di Surabaya itu mengharuskan saya itu pulang ke Kediri karena ibu sakit. Hm. H akhirnya ada tawaran mutasi ke Kediri. Saya kembali ke Kediri. Terus kurang lebih 10 tahun itu saya ada di Kediri terakhir resign yang 2 tahun kemarin itu, Mas. Itu sih ceritanya. Berarti 10 tahun terakhir itu ya di tetap di perusahaan mandiri itu tapi cabang Kediri. Ohya. Yang awalnya dari Surabaya mutasi karena ibu sakit. Tapi boleh kayak gitu mutasi itu bisa ya ada tawaran soalnya ee waktu itu ya enggak apa-apa ya Mas. Ini adik saya itu kenal sama kepala cabang saya, jadi nego gitu loh, Mas. Wah, ini pakai oral ini ya. [tertawa] Karena ee ibu kan sakit otomatis iya iya. Cari ini e tempat untuk balik Kediri. Kalau kalau nurutin saya, saya itu penginnya tetap di luar kota karena mungkin kalau di regional atau di Jakarta itu kan untuk naik jabatan atau karirnya tuh lebih cepat, Mas. Itu sebenarnya sudah ada beberapa tawaran ya kalau di sana. Cuma karena kondisi ibu yang mulai sakit, otomatis saya sudahudah memilih untuk balik ke Kediri. E sebenarnya waktu itu juga pilihan, Mas. Satu sisi saya pengin mengejar karir saya, satu sisi karena ibu mulai sakit-sakitan. Jadi saya kembali ke Kediri. Terus saya akhirnya 10 tahun ini di Mandiri itu terakhir saya resign yang 2 tahun kemarin itu. Oke. Berarti ketika ada waktu itu kan ada dua pilihan tuh. Jadi antara fokus di Surabaya Iya. Yang di mana karirnya bisa lebih cepat. Kemudian yang kedua adalah tawaran harus pulang ke Kediri merawat orang tua. Tapi karirnya bisa jadi agak lebih slow down. Kenapa memilih yang kedua, Mbak? Iya. Karena ee saya sebenarnya dari kecil kan enggak sama ibu. H saya sebenarnya kan dari kecil tuh sama nenek gitu ya. Di tinggnya di Caruban Mas gitu kan. Saya dari kecil sampai besar itu dibesarkan di sana sebenarnya saya ketemu dengan orang tua saya itu sudah besar. He. Waktu itu saya memilih akhirnya untuk pulang ke Kediri merawat ibu itu karena saya merasa ini waktunya saya berbakti. Iya. Karena mungkin dari kecil saya kan enggak dekat sama orang tua ya. Jadi itu saya berpikir udahlah ini kesempatan saya untuk dekat sama orang tua, ibu sama orang tua gitu sih. Itu akhirnya membuat saya pilihan ya udah walaupun mungkin sebenarnya karir saya mungkin masih single terus karir kan bisa lebih cepat Mas kalau di sana dibanding di Kedi apalagi kan corporate besar kan jadi ibarat atasnya masih banyak gitu. Nah, gitu sih. Dan otomatis kalau balik ke Kediri ee gaji saya juga penurunan nih. Benar. Benar. Banyak enggak selisihnya? Lumayan, Mas. Waktu itu 1 seteng ada loh selisihnya itu. Iya. Turunnya itu ya 1 seteng bagi warga kita, warga Kediri dan Tulungagung dan sekitarnya sangat besar selisihnya ya. Hm. Betul. [tertawa] Aku jadi penasaran kok waktu kecil tinggal sama nenek kenapa? Oh, ini Mas saya itu anak pertama, cucu pertama. Oh. Terus semua di lingkungan keluarga saya tuh saya pertama ponaan pertama. Jadi tuh nenek itu kayak ee enggak ngebolehin untuk Bapak Ibu tuh ngerawat saya di Kediri. Bapak kan dinesnya di Kediri ya. Oh. sempat waktu tuh jadi kayak rebutan kayak gitu sih. Terus saya banyak yang sayang ceritanya [tertawa] neneknya saking sayangnya akhirnya enggak boleh tinggal di Kediri gitu. Itu drama, Mas. Dulu waktu kecil itu drama banget beneran. Kalau saya misalnya liburan 1 minggu sekolah saya kan di sana liburan 1 minggu di Kediri itu nenek saya itu sudah nyuruh om saya untuk jemput saya untuk pulang ke Caruban. E sedangkan ibu saya kalau libur pulang ke sana lihat saya pertama itu nangis balik Kediri nangis itu setiap dulu setiap ee ketemu di masa kecil saya itu air melihat ibu menangis nenek saya juga enggak mengizinkan saya ke Kediri kayak gitu loh. Ee wih sampai segitunya ya. Iya. Cuma akhirnya anu, Mas mungkin karena ee itu juga ya, akhirnya waktu akhirnya benar-benar lepas itu ketika nenek meninggal. Oh, akhirnya mau enggak mau saya kan full pindah ke Kediri. Ke Kediri. Usia berapa itu waktu nenek m kuliah? Ee semester akhir skripsi. Oh, berarti jadi usia kecil kemudian sampai kuliah itu di Cicaruban ya? SMA, Mas. SMA saya sempat pindah ke sini. H itu pun juga ada drama karena emang maksudnya gini ee nenek saya itu enggak mengizinkan untuk saya pindah ke Kediri. Enggak enggak diperbolehin, enggak dilepasin gitu loh, Mas. Cuma kan waktu itu mungkin orang tua ya, Ibu itu ee senang kan kalau mungkin anaknya bisa berkumpul dengan kita kayak gitu ya. Terus akhirnya walaupun saya pindah ke Kediri, sekolah di Kediri cuma setiap minggu tuh saya pulangnya masih di Caruban. He. Cuma memang benar-benar lepas itu memang ketika nenek meninggal itu saya sudah full pindah Kediri. Ee kalau ee boleh ini kedekatan saya sama ibu sama nenek itu lebih lebih dekat sama nenek ya? Iya nenek. Dan itu sebelum meninggal 40 hari itu di rumah sakit yang ngerawat saya. Maksudnya ya mungkin ada ya ee Bu Dir atau tante atau Om cuma wajib saya yang nungguin. Untung waktu itu pas libur kuliah, Mas. Iya. Iya. itu dan yang nungguin waktu pas menghembuskan nafas itu juga saya di sebelahnya gitu. Tadi tuh saya kira oh karena nenek sudah enggak ada akhirnya bisa kembali ke Kediri gitu. Oh enggak. E saya mikirnya tadi gitu. Oh [tertawa] tapi ternyata malah sedih sekali ya di situ ya momennya sedih ya. Iya sedih sedih. Lanjut Pak. Iya. Jadi ee akhirnya ada kesempatan tuh untuk merawat Ibu kan di Dikri. Ibu masih ada sekarang 2019 sudah enggak ada, Mas. Iya. Oh, akhirnya juga ada kesempatan untuk merawat ya ibu juga ya. I saya diberi kesempatan akhirnya berbakti sama ibu. He. Saya dua orang yang akhirnya tahu ketika saya itu di sebelahnya menghembuskan nawas nenek saya dan ibu saya. Itu benar-benar pas momen yang mungkin tidak semua. Adik saya pun belum tentu yang di Jakarta itu enggak bisa gitu loh, Mas. Tapi saya akhirnya bisa ngerawat ibu gitu. Mohon maaf, apa ada sesuatu dengan Ibu? Kayaknya kok ada apa begitu. Enggak sih enggak aman-aman juga sebenarnya ya. Enggak, enggak, Mas. Cuma Ibu kan memang sakit ee lama ya, maksudnya kayak menahun gitu loh. H gitu sih kalau dari Ibu. Oke, lanjut. Tadi kenapa kok kemudian setelah 10 tahun Iya, enak tuh kerja, berkarir juga enak, kemudian resign dan memilih berbisnis awalnya ya, Mas ya. Itu kan ee kalau di tempat kerja saya dulu itu Sabtu Minggu tuh sering lembur awalnya gitu. Kemudian pada suatu ketika hari Minggu itu tidak diperbolehkan ngelembur. Jadi dulu tuh kehidupan saya itu walaupun weekend saya tuh di kantor Mas. Saya tuh senang kerja gitu loh dulu. Iya holik gitu. Jadi ee daripada saya sama mungkin sama teman ya saya menghabiskan waktu di kantor lembur tapi saya juga dapat duit gak caranya gitu ya. Cuma waktu itu ada pas efisiensi hari Minggu tuh enggak boleh enggak boleh lembur lembur. Otomatis saya ngisi kegiatan apa yang positif gitu. Akhirnya saya punya hobi di fotografi, Mas. Fotografi itu memang senang dari kecil. H juga saya ada kamera poket waktu itu kan. Jadi saya oh ternyata saya mungkin ini aja ee saatnya untuk ngembangin ini hobi saya cuma waktu itu cuma ngisi kegiatan longgar saya di hari Minggu itu. Akhirnya saya belajar foto fotografi itu terus gabung ke komunitas-komunitas Mas awalnya tuh ada komunitas ee mak-mak gitu loh Mas. Nah saya itu di situ ketuanya terus saya itu komunitas apa itu mak-mak. Eh tapi sekarang sudah udah enggak ada. [tertawa] Ada dulu Mas dulu apa namanya? Contoh dulu SO BC Kediri apa? Sobat Kediri dulu. Oh sobat Kediri. Nah itu di situ kan ee saya berbagi ilmu. Saya senang gitu loh, Mas ee sharing ilmu. Jadi dulu kalau saya ngantor misalnya pulangnya jam 5. Saya itu ngumpulkan member-member saya. Nanti siapa yang bisa gabung di kafe saya nanti ngajarin foto secara gratis. Iya. Waktu itu saya belum berbayar masih hobi. Sekarang berbayar ya kayaknya. [tertawa] dulu. Iya, Mas. Dan itu saya senang ngajarin ibu-ibu gitu. Oh, ngajarin apa? Foto berarti ya? Fotografi, Mas. Fotografi. Terus editnya ee simpel sih pakai HP. Cuma mereka kan senang kebanyakan kan member saya itu selain ibu-ibu rumah tangga biasa, dia juga punya usaha UMKM gitu loh, Mas. Jadi dengan foto pakai HP pun hasilnya bagus, bagus gitu waktu dulu. dan membernya kan enggak cuma Kediri kan, Kediri dan sekitar, Nganjuk, Blitar, Tulungagung, Trenggalek. Jadi setiap bulan tuh 3 bulan tuh ada Mid Mas. Kadang ke Tulungagung, kadang ke Trenggalek kayak gitu kadang ke kafe ke Kediri gitu. Berarti awalnya untuk mengisi hari Minggu itu yang enggak boleh lembur itu. Iya, awalnya itu. Terus masuk komunitas saya berbagi sharing sama ibu-ibu. Terus ee akhirnya ada undangan ngisi acara tapi masih seputar ibu-ibu juga untuk ibu-ibu waktu itu apa ya, Mas? Perkumpulan Ibu-ibu pegawai negeri gitu loh, Mas. I terus undangan dari ada dulu universitas yang di Kediri gitu pernah juga cuma itu masih sebatas karena orang melihatnya saya masih hobi di situ foto foto-foto gitu loh Mas sebatas hobi itu di tahun 2017 awal Januari ingat saya itu kalau enggak Februari kemudian sampai akhirnya terakhir itu 2019 akhir Mas itu saya sudah mulai yang ada berbayarnya. Tapi saya enggak enggak enggak niat untuk oh ini saya berbayar itu enggak, Mas. Awalnya itu memang permintaan dan saya diamplopin kayak caranya gitu loh, Mas. Oh, iya. Iya. Itu ceritanya gitu. Akhir 2019 waktu itu memang ee belum COVID ya, belum COVID, Mas itu. Oke. Siap. Gitu sih. Jadi kalau resignya tahun berapa? Berarti risnya 2023 Oktober, Mas. Oh, baru banget ya? Iya. 2 tahun ini. Oh, itu mengawali berarti artinya begini ya, ketika kita sudah mau resignya atau pas waktu mengawali itu enggak ada niatan resign atau gimana? Sudah, Mas. Sudah, ya. Oh, sudah. Awalnya tuh memang karena selain kantor jadwal saya tuh foto lumayan sering. Heeh. padat gitu loh, Mas. Otomatis kalau saya kerja, saya bisa ngambilnya itu jadwal di hari Minggu atau saya ambil cuti. Otomatis kalau saya misalnya kerja di kantoran ya otomatis kalau cuti itu 1 bulan paling enggak saya pakai 2 hari itu sudah sudah lumayanlah. Nanti belum belum omongan ee teman-teman sekantor ya. Kalau dua misalnya 1 bulan dua tapi totalnya 1 tahun kan 12 hari ya Mas. Cutinya? Cutinya. Jadi saya ngambilnya di situ. Hm. gitu sih, Mas. Cuma ee pada akhirnya dengan job saya yang semakin ramai, akhirnya saya memutuskan untuk berani mengundurkan diri. Iya, gitu sih, Mas. Berarti juga anu ya ini juga ee saya mau mengulang sebuah statement nanti kalau benar ya kan kalau salah bukan seperti itu bilang gitu ya. Jadi artinya ketika orang mau resign harus dipersiapkan ya, harus dipersiapkan panjang gitu loh. Enggak enggak kemudian ada niatan resign sekarang ada niat besok resign kan enggak gitu ya. Kalau saya yang resenter ini memang ada sudah ada persiapan 1 tahun sebelumnya saya sudah bikin tempat bikin tempat walaupun itu kecil terus sudah saya sudah lumayan punya klien Mas. Jadi ketika saya resign kemarin sudah jalan gitu loh Mas. Siapsap walaupun selesai resign tuh enggak enggak selalu mulus ya mesti ada naik turunnya ya pastinya. Apa yang membedakan? Jadi, Mbak Oji waktu itu ketika risin yang pertama yang dari Kediri kemudian buka usaha fashion. Iya. Iya. Di dua di kerja. Iya. Habis itu juga usaha kurang berhasil. Tapi yang ini kerja tapi juga babat bisnis berhasil. Apa yang membedakan? I kalau dulu mungkin kesiapan mental juga, Mas. Saya mungkin usianya otomatis kan waktu itu masih enggak enggak seperti 2 tahun kemarin ya, Mas. itu otomatis kan peristiwanya yang ee fashion fashion itu kan 10 atau 13 tahun yang lalu ya mungkin secara kematasan mungkin lagi kalau dulu ya lagi ada di bawah enggak enggak pas enggak ramai atau sepi tuh saya langsung down gitu loh Mas mungkin langsung gitu langsung maaf yo ee istilahnya udah mutung gitu loh Mas kalau sekarang ya patah gitu ya iya kalau sekarang namanya usaha kan pasti naik turun ya kadang gini ya pas ramai yo ramai kalau pas ee agak turun orderannya Ya. Ya. Cuma saya lebih mempersiapkan ke mentalnya aja sih. Jadi secara mental sudah berbeda ya Oji yang dulu sama Oji yang saat ini. Iya. Mungkin saya rasa itu sih kalau modal itu kan mungkin semua orang bisa mengusahakan ya misalkan ya Mas ya. Belum tentu sih. Oh belum tentu ya. [tertawa] Iya sih itu sih Mas saya rasa mental apa yang dimiliki Mbak Oci sekarang pada akhirnya ya. Iya. Yang kemudian bisa survive di industri yang mungkin juga bisa digolongkan juga industri yang langka ya, tidak common gitu. Kalau kuliner kan bilang ee itu umum g kalau fotografi kan apalagi sekarang ada AI dan sebagainya. Apa yang membuat seorang Pak Oji ini bisa survive di industri ini? Iya saya percaya bahwa ee semua proses itu ada hasilnya gitu loh, Mas. Oke, saya tetap konsisten. Maksudnya yang saya jalani itu mungkin orang lain melihatnya kan pelan kayak gitu ya. Oh, ee jalannya cuma gitu. Cuma saya percaya kalau yang saya lakukan dengan proses ini tuh ada ada apa ya tangga yang saya tapakin tuh suatu saat saya ada di tangga kesekian gitu loh, Mas. Soalnya dari awal itu kan saya memang hobi saya enggak enggak punya Mas namanya ee mungkin kamera kan saya pakai HP awalnya. Oh, katanya kamera poket tadi itu HP maksudnya itu bukan kamera poket itu enggak bisa saya pakai lagi waktu itu. Kalau dulu kan dulu punya kamera poket tapi pas waktu foto-foto enggak pakai poket enggak pakai HP, Mas. Awalnya pakai HP. HP apa dulu? Dulu Samsung sama iPhone 4S, Mas. Oh, iya. [tertawa] Tapi masih zaman 2013 ee punya saya awalnya. Terus akhirnya saya pakai di 2016 akhir tuh saya sudah mulai belajar. itu sudah berani di Instagram gitu loh, Mas ceritanya awalnya. Jadi saya rasa ee keterbatasan itu tidak menghambat untuk berkembang atau untuk maju. Oke. Karena saya merasa memang saya itu dulu foto pertama itu memang pakai HP, Mas. HP. Kemudian saya juga keterbatasan waktu saya kan motonya kapan kalau saya kerja. Heeh. Heeh. Pagi itu saya sempatkan istirahat itu kan karena di kantor sama rumah dekat ya. Saya usahakan waktu istirahat pulang saya itu moto Mas biar bisa posting itu dulu. Terus pulang kantor tuh saya usahakan Mas saya itu bisa foto gitu walaupun pakai HP. Maksudnya kalau diposting itu untuk apa ya? Kan saya kira tadi itu foto itu untuk klien ya bukan ya? Belum Mas. Saya kan masih hobi waktu itu awalnya. Oh jadi foto-foto makanan diposting gitu aja? Iya. Tujuannya untuk waktu itu awalnya karena hobi. Heeh. Senang aja berarti senang aja. Saya senang untuk mengisi Instagram saya lah. Dari situ orang mengenalnya, "Oh, fotone Mbak Oci itu loh, Mas." Awalnya tuh. Bentar, bentar, bentar. Tapi kalau hanya untuk hobi kok sampai dibela-belain gitu loh. Dibela-belain istirahat pulang pagi pagi foto. Makanya kalau untuk sekedar hobi kok sampai dibela-belain gitu. Anu, Mas, saya tuh kalau mestinya punya keinginan belajar itu tak iniin benar-benar. Oh, saya pengin bisa gitu loh, Mas. Kan saya senang fotografi itu dari kecil. Cuma saya enggak punya apa ya wadah waktu itu tuh ke situ. Karena kuliah saya kan jurusannya administrasi niaga ya, enggak di jurusan seni fotografi gitu. Otomatis ketika saya menemukan ada wadah Instagram itu iya saya itu kayak termotivasi untuk saya harus bisa, harus bisa walaupun saya dengan keterbatasan cuma pakai HP atau mungkin saya kerja kalau kerja gitu kan pagi Pak Mas sebelum berangkat kantor tuh saya moto seadanya moto apa gitu contoh moto apa moto dulu kan awalnya tuh saya enggak moto makanan Mas saya tuh paling benci moto makanan oh [tertawa] gitu ya saya hindari karena dia saya tahu kalau moto makanan tuh natanya tuh susah gitu gitu loh. Saya tuh yang tahu saya foto tuh apa? Bunga, Mas. Oh, bunga di depan. Kalau kayak gitu ya saya tu sampai hunting, Mas. Pagi itu cari bunga yang ada embunnya itu keliling, Mas. Sampai sampai kelut kayak gitu ya. Sampai kelut. Beneran, Mas. [tertawa] Ada teman saya itu yang saya ajak ke sana itu maksudnya prosesnya kayak gitu. Ke kantor jam berapa kok sampai kelut itu? Iya. Kalau kelut tuh saya ngambilnya di hari Minggu. Oh, hari libur. Tapi kalau yang ngantor itu paling di sekitar rumah hunting memang cari objek lah ini gitu ya. Iya. Pokoknya saya harus posting satu hari itu wajib saya posting satu yang wajib atas dasar saya sendiri. Karena saya di situ kan sebagai ketuanya, Mas. Kalau saya harus mencontohkan yang Oh, iya. I ya. Ketua komunitas emak-emak itu ya. Iya. saya harus mencontohkan gitu loh. Maksudnya saya bisa ngoyak-ngoyak member saya, tapi kalau saya sendiri postinganku enggak ada, terus saya fotoku jelek, kayak saya gimana gitu gitu kan. Nanti dibedah di grup. Nah, dibedah di grup member itu. Oh, ada grup itu ya yang menjadi kayak apa ya responsibility kita untuk bikin postingan. Berarti waktu ada grup itu di grup ee member itu Heeh. Mereka bukan murni seorang pebisnis ya. Ada ada yang berbisnis, ada yang juga hobi gitu ya. Betul betul, Mas. Oh, oke oke oke itu sih awalnya itu terus akhirnya keterusan Mas. Klien pertama. Klien pertama itu sebenarnya teman sendiri Mas. Heeh. Dari member saya. Oke. Member saya sendiri waktu itu ingat pas ee biasanya member itu mesti ketemu ya, Mas, 1 bulan sekali atau kita saya pulang kantor jam 5. Tuh ayo ngopi ke mana? Nanti kita moto objeknya makanan atau ee minumannya di kafe itu ya. Lah waktu itu ingat waktu itu pas ee ini loh pas saya traktiran ada ulang tahun gitu loh ceritanya itu. Terus salah satu member tuh bilang, "Mbak, aku tak bawa sekalian produk kopiku ya nanti minta tolong difotoin berapa, Mbak." Aduh saya kan enggak pernah nghargain berapa ya, Mas ya. Akhirnya wis terserah Mbak Oci berapa kayak gitu. He akhirnya ya kita hargai se ininya aja Mas ya. Murah waktu sekenanya berapa dulu itu? 250 tapi banyak [tertawa] banyak pakai banget Mas. Oh iya beneran itu akhirnya berkembang dari situ. Dari situ terus ada yang minta fotoin lagi. Cuma masih lingkup teman. Kemudian ada undangan-undangan itu, Mas. Awalnya sebenarnya bukan di foto itu sih, saya ngisi-ngisi materi, Mas. E kayak seminar-seminar itu. Iya. Undangan kayak gitu tuh, seminar-seminar gitu. Malah awalnya tu sebenarnya itu, Mas. Terus akhirnya oh selain ngisi ini ternyata akhirnya kan gitu ya. Iya. Akhirnya kan pesertanya itu kan ngelihat hasil foto saya terus akhirnya motoin gitu loh, Mas. Pada akhirnya. Oke. Oke. Siap. Siap. Gitu sih. Paham. Paham. Paham. [tertawa] Berarti waktu resign di tahun 2023 itu sudah sudah cukup berjalan ya? Sudah, Mas. Ada studio, ada klien begitu ya. Sudah. Kalau boleh dicompare waktu hasil dari usaha yang menghasilkan ini sama gaji dari di kantor itu gedean mana waktu resign? Satu klien bisa satu gaji saya ketika 1 bulan gitu loh, Mas. Wih, satu klien aja sudah compare sama ini ya. Iya. Hm. Cuma kan kadang kan enggak mesti sama ya tiap bulannya. Cuma saya waktu itu berani mengambil keputusan karena saya berpikirnya anu tuh Mas lebih selain masalah nominal ya lebih saya lebih bisa jadi diri sendiri. Kreativitas saya. Saya bisa ketemu banyak orang yang enggak homogen seperti di kantor. Banyak yang saya pelajari juga di luar ketemu banyak owner-owner bisnis di luar kan, Mas. H kadang cuma sekedar klien. Jadi kita bisa sharing juga, Mas. Saya kadang lumayan dekat sama owner-owner ee yang lain juga kayak gitu sih. Banyak hal. Jadi artinya ee selain juga kalau hasil kan hampir mirip-miriplah walaupun itu hanya dikerjakan satu hari. Nah, itu artinya ketika dikerjakan fokus bisa jadi kan hasilnya lebih tinggi kan. Iya. Dan selain itu juga dari segi apa ya kayak hobi itu terpenuhi. Jadi Iya. hawanya enjoy gitu loh. Iya, lebih enjoy saya ngejalannya sih, Mas. Karena memang dari hati sih. Jadi kalau kerja enggak dari hati kayaknya ya. Ee karena mungkin kelamaan di [tertawa] karena tuntutan kali ya. Tuntutan ya, Mas ya? Iya. Jadi 20 tahun. Wih. Mbak boleh waktu risin itu di usia berapa ya? Boleh enggak mau ngomong Indonesia? Enggak apa-apa ya? Enggak apa-apa. 43. Oh 43. Saya sekarang 45. Wah enggak kelihatan ya? Ya, seperti 50. [tertawa] Mungkin karena senang ya, jadi kelihatan lebih tua loh gitu ya, Mas. Bercana seperti umuran 30. [tertawa] Oke. Oke. Kalau sekarang tentu lebih banyak ketika ee tentu lebih banyak yang berbisnis kan daripada yang bekerja. Betul enggak? Iya. Boleh dibocorin enggak? Kira-kira dapat berapa dari hobi motret itu, Mbak? Ya mungkin belum sebanyak yang lainnya, Mas. Cuma e masih di sekitaran dua digit gitu sih, Mas. Itu aja. Dua digit kan banyak ya. [tertawa] Masih belum banyak sih, Mas. Karena saya kan ee masih timnya masih istilahnya masih UMKM ya. Jadi masih di bawah 50 sih, Mas. Sekitar 30 gitu di situ. Oke. Per bulan. Iya. Gitu. Itu kan enggak ada HP kan kalau motret kan ya semua milik kita kan. Iya. Cuma kan kadang naik turun Mas. Kalau pas ramai bisa segitu, kalau pas sedikit ya enggak sampai segitu juga gitu. [tertawa] Kadang harus nembel-nembel, Mas. Enggak sampai segitu. Pernah juga gitu loh. Jadi saya juga ngalamin maksudnya enggak selalu loh resign itu terus selalu dapat nominal e gede kan otomatis kan yang saya ee apa Mas? Saya gelutin ini masih di produk sama makanan ya. Enggak. Kalau wedding kan mungkin sekali ini kan langsung gede juga kan masih ada yang UMKM, ada yang kelas resto atau kafe. Jadi kan ee kalau pas lagi sepi ya enggak dapat, Mas. Segitu tuh. Timnya berapa, Mbak? Kalau yang freelance itu satu. Kalau yang ini yang bantu saya tadi yang satu masih dua. Artinya kan cukup efisien ya dengan penghasilan segitu banyak loh menurut saya. Segitu banyak loh ya. Iya. Dengan tim yang sangat efektif hanya satu orang dan satu orang itu menurut saya sangat Heeh. sangat worthed lah. Jadi sangat worth it. Jadi kalau untuk ukuran Kediri dan sekitarnya sangat wored menurut saya ya. Iya. Pas kayaknya enggak kayaknya enggak bersyukur tadi. Iya. Bersyukur. [tertawa] Alhamdulillah Mas. Bersyukur. Cuma tadi kan ee saya mengasumsinya kan pas ramai ya. Tapi kan kita pas lagi di bawah kan ada cerita juga saya harus jual lensa mungkin pernah pas lagi sepi saya harus bayar karyawan saya [tertawa] tapi pas waktu sepi masa masa pernah enggak bisa bayar karyawan bisa bis Mas mungkin tapi kan saya mungkin kalau 1 bulan pas sepi-sepinya cuma dapat pernah itu waktu sepi kemarin tuh cuma dapat tiga klien dan itu tiga klien itu enggak gede. Jadi ee bisa buat bayar karyawan cuma kan untuk mungkin biaya kayak lain-lain mungkin kayak wifi dan kan memang kreatif itu gajinya enggak nentu mbak. Iya. Kadang-kadang bulan ini bisa R juta, R00 juta, R00 juta. Bulan depan bisa jadi cuma sejuta. Ya, kurang lebih ke tadi kan asumsinya seperti itu. Nah, gitu kan. Nah, jadi kalau kita manajemennya di cash flow. Iya. Jadi cash-nya harus rapi, harus benar-benar ketata gitu. Kalau manajemen keuangannya Mbak Oci gimana berarti? Iya, mohon maaf jadi sharing saya. Iya, cuma saya memang ee kalau misalkan dapat segitu kan enggak enggak saya habiskan bulan itu juga sih ya. Enggak gitu sih, Mas. Ditata begitu kan. Injih. Soalnya kan untuk nutup ke kebocoran ketika saya lagi pas sepi gitu kan. Kadang kan ada bulan-bulan yang saya itu sepi Mas. enggak enggak ramai gitu kan gitu sih. Tapi ee saat ini gimana prospeknya? Kalau selama in sampai saat ini ya masih ini sih, Mas e apa ya masih jalan seperti biasanya. Cuma ada bulan-bulan yang saya tuh kemarin sempat ngerasa yang sempat isu-isu ekonomi yang lagi ini loh, Mas. Lemah turun itu. Iya. itu saya sempat ngalamin di bulan-bulan Agustus kemarin tuh sempat itu saya yang lagi sepi-sepinya gitu. Tapi kalau menurut Mbak Oji nih kan ke depan banyak gambar yang bisa dihasilkan oleh AI dan semakin pintar nih AI. Iya betul. Bidang yang Mbak Oji gelutin apakah masih bisa survive atau gak? Kalau masalah Ee ya, Mas ya. Ee kita kalau EE itu kan tidak boleh apa ya memerangi atau musuhin ya, Mas ya. Itu tergantung juga kita sebagai apa ya ee yang megang kan itu harus otaknya kan tetap kita ya Mas ya. He. Ee itu cuma buat melengkapi saja cuma jangan sampai menggantikan seperti itu ya. Cuma kalau untuk pangsa pasar yang saya biasanya apa? Saya saya kerja sama dengan saya itu ada salah satu klien itu contohnya enggak mau pakai ee foto dari Google atau dari AI. Dia memang benar benar-benar murni dari foto dia. Jadi dia masih bukan bukan masih ya, dia memang ee memegang untuk otentiknya gitu loh, Mas. karena dia mungkin ee perusahaan yang sudah lumayan punya nama brandnya ya, jadi dia enggak mau berisiko di jangka panjangnya dan selama ini sih masih aman-aman aja kalau untuk yang apa, Mas, untuk tingkat kesadarannya itu masih giih ngaten sih. Artinya ketika bisnis itu sudah mulai menengah ke atas gitu ya, itu pasti aware terhadap keuntentikan sebuah foto begitu ya. Iya, betul. Malah enggak mau, Mas. pakai AI berarti kan pernah waktu saya dapat klien itu saya enggak mau Mbak pakai diambilkan Google apa saya minta produk saya sendiri benar-benar ini gitu artinya kan enggak akan terganti berarti Mbak. Iya. Jadi artinya juga memang misal nih aku pemilik kafe atau restoran, aku kan pasti mendesain sebuah makanan yang memiliki diferensiasi kan. Iya. Yang di mana ini gambarnya mungkin belum ada di upload di internet sebelumnya kan gitu atau harus difoto dari makanan ini gitu. Iya. Soalnya kan kalau foto sebenarnya kan kalau diteliti banget itu memang Mas ada bedanya loh Mas. asli sama kalau kita ee gitu pasti dari gambarnya kan dari ketajamannya pun udah beda ya. Heeh. Heeh. Akan ee terlihat sih. Heeh. Heeh. Mungkin kalau saya saya kan pernah bikin ee juga kan ya. Mungkin sepintas bagus sih hasilnya bisa dibikin kayak gini-gini. Cuma kalau diteliti banget itu memang ada bedanya antara yang asli otentik itu sama yang buatan e sih. Bedanya apa? lebih teksturnya atau ketajamannya itu bakalan beda, Mas. Apa ya? Ee misalkan kayak kain. Kain tuh benang dari aslinya kalau difoto aslinya itu sama yang dari Iya. kayak model gambar kayak kartun gitu loh, Mas ya. Walaupun sebenarnya kan tetap tergantung promnya juga ya. H. Tapi ya kembali lagi ke klien yang kita ngambilnya klien di mana? Kalau mungkin aware atau peduli sama otentik atau keasliannya enggak enggak enggak bakalan berpengaruh kok, Mas. Kayak gitu sih. Heeh. Artinya tetap ada market yang membutuhkan jasanya. Berarti bisa long term ya, Mbak ya? Betul. Iya. Yang penting marketnya itu kan ada sendiri untuk yang asli. Kalau marketing, Mbak, bagaimana cara Mbak Oci selain juga tadi dari komunitas dan juga ngajar atau dari itu aja atau ada marketing-marketing lain? Oh, kalau dari saya dulu awalnya sebelum saya resign itu saya cuma posting-posting Mas di Instagram karena kenapa? Saya enggak berani ee apa ya terlalu banget untuk marketingnya karena saya kan waktunya belum bisa. Tapi setelah saya resign ada sedikit demi sedikit itu progres untuk marketingnya. Selain di Instagram saya di Google Maps itu Mas di Google itu. Kemudian di TikTok sekarang sudah ee mulai jalan. Kalau dulu kan cuma sekedar posting ya. Sekarang sudah mulai jalan di TikTok, Instagram. Itu kalau yang lama itu marketing saya dari Instagram, Mas. Banyak klien tuh saya dapat dari Instagram. Kemudian ada yang dari Google, kemudian ee ini barusan kan juga website terus ke TikTok. Cuma yang masih banyak masuk ke saya itu dari Instagram, Google, sama TikTok. TikTok ini lagi mulai mulai Iya. Dulu saya jarang Mas dapat dari TikTok dapat tapi mungkin UMKM akhirnya enggak ini bukan maksudnya gimana ya maksudnya kan budget ya lebih ke budget ya itu mungkin belum masuk kayak gitu cuma ee sudah beberapa waktu ini dari TikTok itu udah bisa masuk ke ini level-level paket saya yang gitu. Oke, sebelum bahas paket nih, kalau marketingnya di TikTok sama Instagram berarti dengan cara ngonten ya berarti ya? Iya, ngonten Mas. Jadi konten produksi konten buat di Instagram, TikTok kayak gitu sih. Apa kontennya? Kayak behind the scene gitu atau apa? Behind the scene. Terus kadang ya storyting, terus kadang kayak hiburan, motivasi kayak gitu-gitu, Mas. Kita kombinasi aja untuk kontennya. Oke, oke, oke. Kayak tadi di sini juga ada kamera datang ngontenin gitu. Iya, tim saya [tertawa] itu behind the scene berarti kan gitu ya. Kurang lebih seperti itu. Siap, Pak. Kalau paketnya berapa sih kalau orang mau ngambil paket foto di Mbak Oji itu berapa? Ada beberapa paket sih, Mas, yang mungkin dari versi lengkap kayak gitu ya. kita nyebutnya sih premium atau sesuai dengan request klien itu ada ee saya ngitungnya di ee satu foto sih kayak gitu. Nanti paketnya mungkin satu foto ee satu paket satu foto masih di kalau di saya masih di 130-an, Mas. Oke. Katakanlah ini ada parfum ya. Parfum ini berbahan dasar ee katakanlah mawar begitu ya. Berarti nanti kayak di konsep ada mawarnya, ada ornamen-ornamen pendukung begitu ya. I misal ini kan parfum untuk luxeri begitu ya, berarti ada sebuah elemen yang menunjukkan ini untuk lakeri begitu. Iya ya, kurang lebih seperti itu, Mas. Paham daun daun-daun. Jadi satu foto itu full paket harganya R30. Satu foto aja, Mas. Iya, makinya full dengan desainnya dan sebagainya. Nggih. Cuma nanti kalau desainnya itu nanti kan ee di luar Heeh. nanti ada kayak ring-rengannya gitu loh. Kurang lebih itu. He segitu. Berarti rata-rata kayak orang mau ngambil foto enggak hanya satu dong, Mbak. Bisa lebih dari itu ya? Bisa, Mas. Bisa lebih dua atau tiga. Ngambilnya saya minimal satu paket. Jadi enggak satuan berapa isinya? Nanti empat. Oh ya kurang lebih ketemunya satu paket di 500 sekian lah. 550 600 kayak gitu. Tergantung konsep juga kan nanti kayak gitu sih Mas. Ee dan menurut saya berarti jarang kalau UMKM pemula mengambil Iya. foto ini ya Mbak berarti ya. Iya Mas. Berarti ini foto untuk usaha yang sudah jalan begitu ya. Ada yang misalkan belum jalan pun tapi dia aware untuk I perfeksionis dari awal dia kayak gitu. Oh iya ada gitu dia mau buka terus mbak mau saya mau opening saya pengin difotoin menu saya oh full saya punya konsep seperti ini. Padahal dia belum jalan, Mas. He. Tapi sudah langsung ini ada yang mungkin kayak baru jalan tuh, Mbak. Saya ambil yang paket di bawahnya itu. Itu bisa juga sih. Ada paket di bawah itu kayak apa contohnya? Contohnya ee katalog, Mas. Jadi mungkin background putih aja. Oh, oke oke oke oke. Jadi tanpa ornamen atau tanpa konsep yang penting kan tajam di situnya aja. Itu ada, Mas. Ada juga ya beberapa itu kayak gitu. Oke. Siapa, Mbak? Iya. Dan menurut saya kayak foto itu investasi, Mbak. Iya. Kan kita kan jadi punya aset mentahnya kan yang di mana itu nanti bisa kita gunakan untuk berbagai keperluan di keperluan poster bisa dipakai nanti video juga bisa ditempel di depannya dan sebagainya. Betul. Jadi itu masuknya bukan kayak bukan biaya bulanan tapi investasi gitu. Iya begitu ya Mbak? Iya, kebanyakan sih gitu, Mas. Kayak klien-klien saya misalkan foto di saya kelihatan itu langsung banyak. Ada kan, Mas? Langsung banyak gitu ya. Cuma nanti untuk jangka waktu mungkin agak lama gitu enggak foto cuma itu bisa diolah. Nah, diolah-olah kan betul terus gitu ada seperti itu. Tapi ada ee salah satu enggak salah satu sih ada beberapa klien itu yang ee ngambilnya tiap momen Mas. Tiap bulan ada momen tuh selalu Iya. Oh, se jadi langganan. Jadi kayak itu yang sudah jalan berarti ya, sudah jalan. Setiap bulan ada momen tertentu pasti manggil Mbak Oji. Dan biasanya sudah paham kan karena sudah paham itu lebih enak ya. Iya, Mbak Oji, saya punya konsep kayak gini minta tolong dong ee minta tolong dicarikan. Jadi karena udah udah mungkin 2 tahunan sudah langganan tuh saya nyariin konsepnya kayak gini, Mbak. Gitu. Oh, iya. Iya, Mbak J. kayak gini gitu. Jadi, sudah klik. Jadi kita ke ke komunikasinya juga, Mas. He. Lebih enak. Lebih enak kayak gitu sih. Kalau wilayah layanan, Mbak di mana aja? Kalau yang saya visit itu masih wilayah Jawa Timur sini. Cuma kalau yang produk dikirim itu sudah beberapa yang dari luar Jawa Timur, Mas. Gitu sih. Kalau yang misalkan produk kering yang bisa dikirim itu ada yang dari ee Jakarta, Bekasi sama Bandung tuh ada. He. Jawa Timur, Kediri dan sekitarnya kayak mungkin Tulungagung itu minggu depan saya juga ke Tulungagung lagi. Tulungagung lagi. [tertawa] Siap. Terus Ponorogo, Mas. Ponorogo, Mojokerto. Jauh-jauh ya. Lumayan Blitar. Ee itu Bojonegoro. Bojonegoro jauh. Itu dapatnya rata-rata dari sosmet, Mas. Dari Instagram, dari TikTok. Berarti kalau di Bojonegoro itu plus transport berarti, Mbak ya? Iya, Mas. Oh, bisa sehari atau bisa du hari kayak gitu ya di Bojonegoro itu tergantung yang difoto itu banyak apa enggak. Oh, kalau dikit bisa sehari ya? Bisa sehari bisa. Mbak Oji boleh di-share enggak momen-momen di mana ee Mbak Oji mengalami masa-masa yang susah untuk dilalui untuk teman-teman kita yang juga mungkin melalui fase yang sama? Eh, mungkin kalau fase sedih itu kan banyak ya, Mas. Tapi saya kayak ee merasa benar-benar kehilangan atau di titik saya ngerasa banget bahwa saya harus berjuang sendiri itu ketika adik laki-laki saya meninggal. Hm. Di tahun 2021. Hm. Itu kejadiannya kan lumayan singkat ya, Mas. He. Mungkin ketika saya kehilangan nenek, saya juga saya kehilangan ya. Kehilangan ibu saya kehilangan. Cuma kan sakitnya itu sudah lumayan lama. Maksudnya kalau ee nenek saya kan satu 40 hari kan saya menungguin gitu loh, Pak. Ibu juga itu kan saya nungguin. Sedangkan adik saya itu ya benar ee punya punya komplikasi sakit. Cuma itu cepat banget ketika saya ketemu Rabu, Sabtu sudah enggak ada. Oh, itu rasanya selain adik kan dia sosok kakak buat saya karena ya karena saya masih sendiri ya, Mas ya. Otomatis saya dekat sama adik saya. Ee kalau masalah urusan yang bersangkutan dengan laki-laki itu saya selalu adik yang saya buat ngobrol gitu loh. Misalkan urusan rumah, misalkan urusan misalkan mau ngambil mobil itu adik saya libatkan. Tapi ketika enggak ada tuh saya benar-benar rasanya tuh dengan waktu yang singkat tuh seperti saya tuh kaget gitu loh, Mas. kaget tapi saya harus bangkit karena apa ya? Ini yang harus saya lalui gitu loh. He walaupun enggak ada, saya harus harus bisa survive. Iya. Saya harus bisa sendiri. Dari situ saya harus bangkit bahwa ee intinya saya enggak boleh merasa sendiri gitu loh. Walaupun ee pada akhirnya adik enggak bisa mendukung saya lagi karena sudah enggak ada ya Mas ya. Cuma saya harus nunjukin bahwa saya bisa, saya kuat kayak gitu. Mbak Oji berapa bersaudara? Tiga. Saya yang anak pertama. Oh, itu adik yang kedua. N yang kedua selisihnya agak enggak jauh ya secara umur ya? Enggak 2 tahun kurang sebenar. Oh jadi memang agak akrab gitu ya karena enggak banyak diajak ngobrol nyambung nyambung. Dan dari kecil tuh adik saya itu cowok cuma kalau ke saya tuh kayak ya ngayomi terus dia itu dekat banget apa-apa tuh kalau curhat ke saya walaupun mungkin secara ini kan cowok ya adik cuma apa-apa tuh selalu minta pendapat saya kayak gitu loh Mas. He. Terus kuliah pun tuh harus ngikutin saya apa-apa itu ya karena dekat. Jadi saya itu benar-benar kayak kaget gitu loh, Mas. He he. Itu sih yang saya ngerasa kehilangan banget gitu. Oke oke oke. Saya boleh tanya tapi kalau nanti merasa tidak boleh enggak dijawab ya. Iya [tertawa] boleh tisu ya Mas ya. Boleh boleh. kan masih udah usianya udah masih lah ya masih segitu tapi masih sendiri gitu loh. Oh iya kok masih sendiri gitu enggak sih ya karena bukan karena apa-apa ya Mas ya lagi fokus kerja aja enjoy, Mas kayak menikmati aja enjoy. kayak gitu. Mungkin karena sudah terlalu lama berkarir ya dari dulu lululus kuliah itu kan saya langsung kerja ya, Mas. Jadi, I istilahnya saya enggak ada kesempatan untuk enggak kerja. Heeh. Heeh. Heeh. Jadi mungkin saya sudah terbiasa terbentuk untuk apa ya fokus ke ya sudah ke pekerja sampai sekarang itu pun juga fokus keja. Iya seperti itu sih. Berarti enggak ada keinginan. Iya, normalnya ada lah, Mas. [tertawa] Ada, Mas. Ya, saya keinginan untuk apa namanya ee menemukan pasangan itu ada pastinya gitu. Tapi tidak untuk di tahun yang dekat gitu ya. Kalau diberikan yang cepat ya alhamdulillah kayak gitu. [tertawa] Soalnya dulu kan kayaknya doanya waktu di sana itu ada doa Mas. Sebenarnya doa saya itu di sana itu di mana? di waktu saya umrah. Umrah. Oke. Oke. Saya 2009 agak kelas balik ya, Mas ya. Siap. Siap. 2019 akhir bulan Oktober itu saya kan umrah gitu ya. Sebenarnya itu ada banyak doa ya. Salah satunya kan diketemukan jodoh sama rezeki selain di kantor. Waktu itu kan saya masih ngantor. Ee saya tuh tapi enggak tahu, Mas. Rezeki apa yang saya doakan tuh enggak tahu. Kan saya tuh sudah di dunia foto fotografi, tapi saya enggak ada oh saya harus jadi ini. Enggak, Mas. itu sebenarnya ngalir. Jadi ee waktu saya pulang umrah itu baru saya kayak ada tawaran ngisi acara moto produk itu mungkin doa saya yang dikabulkan dulu yang doa doaanti rezeki selain dari kantor kan saya memang sudah agak lama pengin anu tuh Mas pengin enggak di kantor itu gitu loh. Oh oke. Gitu sih. Berarti tinggal doa yang satu tadi segera ditunaikan segera dapat jawaban. Am. Amin. [tertawa] Mohon doanya ya, Mas ya. Nah, ini barangkali disiarkan dipecah telur ya. Berarti kan ada ni mungkin di antara mereka yang kemudian tiba-tiba [tertawa] follow IG-nya gitu. Siap. [tertawa] Nama IG-nya apa, Mbak? @oki_i. Nanti kita cantumkan di bawah. Jadi, orang-orang yang mau apa ee nge-follow dan juga mau jasanya atau belajar fotografi bisa di situ. Iya. Closing statement dari Mbak Oji I. Jangan lelah, tetap semangat. Terus yang pasti proses dan hargai proses untuk bertumbuh dan satu lagi konsisten. Itu sih, Mas. Oke, terima kasih Mbak Haji. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.