Bisnis Itu Nggak Bisa Dijalani Sendirian
yVWa5u2uT4k • 2026-01-20
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Kadang orang mau sukses mau berkembang
itu enggak punya tempat untuk
berkembang.
Heeh.
Kalau sukses sendiri ruangnya cuma
segini. Kalau masuk ke ekosistem bisa
ruangnya segini. Akhirnya pergerakannya
bisa lebih. Saya yakin tidak ada orang
yang benar-benar ahli
dalam bisnisnya 100%. Maksudnya gini.
Heeh.
bisnis itu permasalahannya kan come and
go. He.
Kadang itu mungkin dia sekolah S2
[musik] wirausaha, tapi bisa jadi
masalah yang dihadapi enggak ada dalam
perkuliahan. Kita itu punya energi
sampai terbuang sia-sia apalagi untuk
hal-hal yang tidak bermanfaat.
Iya.
Jadi selain itu masalah tanggung jawab,
komitmen, prioritas juga. Jadi
organisasi itu ekosistem itu sudah masuk
prioritasku, Mas.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Mbak Lutfi lagi
semoga tidak bosan ya. [tertawa]
Ee setelah kemarin cukup sukses
mengadakan sebuah event perdana di
Tulungagung pasar tumbuh, maka kita akan
mengulik-ngulik
apa sih sebenarnya misi dari pasar
tumbuh.
Tapi cukup sukses loh, Mbak. Itu event
perdanaan di Tulungagung. sebuah
organisasi baru juga di Telagung dan
luar biasa dampaknya.
Insyaallah. Alhamdulillah. [tertawa]
Semua karena doanya Mas Agung, perannya
Mas Agung di sini juga luar biasa.
Terima kasih. Pecah telur,
Mbak Lutfi. Ee tak lihat kita mau
mengawali diskusi ini dari sebuah
komunitas. Jadi hari ini juga ngetren
juga di beberapa diskusi-diskusi
Heeh. di apa ee di media-media juga
bahwasanya pengusaha itu harus
berkomunitas. Nah, bagaimana kalau
pendapat Mbak Luthfi yang tak lihat ini
sangat sibuk berkomunitas juga nih?
Pendapat Mbak Lutfi bagaimana?
Heeh. Kalau ee tergantung mindset ya,
pengusaha itu
dia mau suksesnya berawal dari mana?
Oke.
Dan cara suksesnya seperti apa?
Heeh. He.
Kalau saya itu mindset sukses itu
bareng-bareng, gotong-royong
disengkuyung. Il apalagi ilmu ilmu
berwirausaha.
Ketika kami enggak bisa mendapatkan ilmu
di bangku kuliah. He he.
Ketika learning by doing di bisnis kita
juga minim. Mungkin
kita membutuhkan orang lain yang
utamanya di ekosistem, di komunity yang
akhirnya nanti sense of belonging-nya
beda.
He.
Bagaimana membawa mindset ke organisasi
atau ekosistem beda. Cara jawane
ditekoki tips trik. Kalau secara pribadi
mungkin saya tanya Mas Agung ngajak
ngopi sama ketika Mas Agung kita
bergabung dalam ekosistem ketika kita
sharing pasti sudah beda pembawaannya.
Itu yang saya maksud. He
sukses dan sugih bareng-bareng itu
mindset saya kayak gitu sih.
Berarti ke ekosistemnya, ekosistem untuk
maju bareng-bareng begitu.
Betul. Jadi kalau saya niatnya kayak
gitu.
Kenapa saya sampai banyak ekosistem yang
saya masuki? Heeh. Heeh. He.
Terus semangat banget di situ.
Totalitas. Selain saya itu segala
sesuatu harus totalitas
he
juga ee mindset itu yang saya bawa value
itu.
He.
Biar akhirnya kalau orang berorganisasi
seperti yang sudah dilakukan Mas Agung
dulu di Kopdar 2 Sumo.
Heeh. He.
Sharing tentang bagaimana permodalan dan
sebagainya. Ketika itu dibawa secara
personal
pasti abot.
Heeh. H.
Tapi karena dalam ekosistem ketika Mas
Agung sudah memutuskan untuk masuk
organisasi, jadi otomatis
ngalai mau berbagi sama teman-teman yang
lain dan tidak subjektif. Objektif
akhirnya manfaatnya semua merasakan.
Jadi kayak gitu contohnya.
Siap. Berarti kalau boleh di kita
poin-poin ini Mbak, jadi manfaat
organisasi itu pertama untuk apa? E
katakanlah tiga hal lah. Tiga hal yang
paling utama. Manfaat berkomunitas bagi
pengusaha itu apa sih, Mbak?
Heeh. Nomor satu adalah ruang.
Ruang.
Heeh. Kadang orang mau sukses, mau
berkembang itu enggak punya tempat untuk
berkembang.
Heeh.
Kalau sukses sendiri ruangnya cuma
segini. Kalau masuk ke ekosistem bisa
ruangnya segini. Akhirnya pergerakannya
bisa lebih luas. Itulah kenapa ekosistem
itu ruang untuk berkembang, ruang untuk
tumbuh.
Heeh.
Gitu.
Contoh konkritnya seperti apa, Mbak?
Contoh konkretnya
kayak yang saya alami misal di sumo.
Heeh.
Ketika saya masuk sumo, saya bisa tambah
kenalan, tambah ruang. Ketika saya belum
di sumal ee mikir saya bisnis saya ya
wis di sini-sini aja. Tapi ternyata
ketika sudah masuk ke sumu ternyata
orangnya banyak.
Heeh.
Dan tersebar di mana-mana. Akhirnya
ruang saya untuk bertumbuh, untuk bisa
dikenal, untuk bisa belajar
mengembangkan diri ternyata luas dan
benar.
Akhirnya dilihat
oleh Muhammadiyah.
Heeh.
Kemudian bisa buka cabang. Itu kan
berarti kan ruang.
Heeh. Heeh. Heeh. Heeh.
Harapan saya di semua teman-teman yang
bergabung di ekosistem juga gitu.
He.
Nah, ruang apa aja berarti masuk ke poin
kedua.
Oke. Yang kedua.
Heeh. Ruang apa? pertama bisa ruang
untuk belajar.
Hmm.
Saya yakin tidak ada orang yang
benar-benar ahli. He
dalam bisnisnya 100%. Maksudnya gini.
Heeh.
Bisnis itu permasalahannya kan come and
go.
He.
Kadang itu mungkin dia sekolah S2
wirausaha tapi bisa jadi masalah yang
dihadapi enggak ada dalam perkuliahan.
He.
Tapi itu mungkin bisa jadi sarana untuk
belajar di ekosistem. Mungkin ada
bisnisnya yang sama
atau dari ngobrol gini akhirnya ketemu
sebuah pemikiran bagus. Oh, dari A
masalah SDM ternyata ketemu seperti ini,
seperti ini.
Dibelajar cari ilmu.
Heeh. Heeh.
Ketiga adalah otomatis adalah
konektivitas.
He.
Ekosistem pasti anggotanya banyak. He
heeh.
Jadi pasti kumpul sama orang. Jadi
otomatis bisnisnya pelan-pelan
networking-nya nambah.
Heeh. He he.
Keempat, awareness dan marketing bisnis
ini cocok banget. Apalagi kalau sudah
sepakat dalam sebuah ekosistem itu kita
untuk mengembangkan dan bermanfaat untuk
anggota.
Heeh.
Makanya saya itu di semua ekosistem saya
konsep bahwa ekosistem ini harus
bermanfaat untuk anggota nomor satu itu.
Hm. ojo sampai anggota itu mek dijai
kasarane mek dijaki urunan tapi enggak
dapat manfaatnya
makanya nah ini peran kita bersama nih
pi carane biar bermanfaat dipikir
bareng-bareng
siap
kayak gitu
aku mintanya tiga dikasih empat we bonus
[tertawa]
bonus terima kasih tapi ya nah di antara
itu tadi ya untuk mendapatkan manfaat
yang empat itu tadi atau dan mungkin
banyak poin-poin yang tidak disebutkan
Heeh
komunitas semacam apa yang harus kita
ikutin. Nah, gitu.
Heeh. Yang pertama, komunitas yang
sesuai bidang ya. J misal kita
wirausaha.
Heeh. Heeh.
Ya, kita di komunity wirausaha gitu.
Kalau kita mungkin di ee komunity suka
membaca misal
ya, kita di komunity yang
sama passion-nya sama. He he.
Itu dari segi label dulu.
Kedua, kita lihat dulu juga apa visi
misi visi misi organisasinya itu apa,
ekosistemnya itu apa, mau dibawa ke
mana?
Heeh.
Nah, ketiga adalah bagaimana kita
memandang masuk ke ekosistem. Jadi, dari
diri kita, selain kita melihat ekosistem
itu kayak gimana, kita balik juga lihat
diri kita. Apakah kita langsung melebu
ekosistem itu maunya aku terus bisnisku
langsung gede? Nah, itu enggak mungkin.
Itu namanya menggantungkan ekspektasi ke
orang lain. Padahal kita aja berjalan
sendiri enggak bisa kok menggantungkan
ke orang. Nah, itu konsep yang salah.
Kadang ada orang masuk ke ekosistem
maunya aku masuk ke situ bisnisku tos
ramai. Nah, itu konyol sih.
He, heeh. Heeh. Terus piye sih bener?
Berarti
sing benar ya ekosistem itu dibangun
bareng-bareng kan gak mungkin kayak
membangun bisnis buka dasar rombong di
depan gak mungkin langsung payuh kalau
enggak kita promosi, kalau enggak kita
bikin tester, kalau enggak kita
ee awareness-nya juga dapat jadi sama.
Heeh. Heeh. Siap, Mbak Lutfi. Katakanlah
Mbak Lutfi ini kan sudah banyak menau ee
join banyak komunitas lah ya.
yang paling menurut Mbak Lutfi yang
paling apa ya berdampak gitu.
Heeh.
Atau mungkin bangun ekosim yang paling
berhasil
yang pernah Mbak Lutfi bangun dan juga
berdampak bagi Mbak Lutfi apa itu?
Heeh. Oke. Secara mindset.
Heeh. Heeh.
Ini yang paling ini gak apa-apa ya sebut
sebut nama ini ya.
Gak apa-apa
kalau secara mindset membangun itu dimi.
Hm.
Karena saya di HIPMI itu sejak 2017. Oh,
lama ya.
Heeh. Sejak awal awal HIBMnya ada di
Tulungagung itu dan konsep saya adalah
ketika masuk ke organisasi itu saya
harus aktif.
He.
Orang itu tidak akan merasakan manfaat
berorganisasi kalau enggak aktif.
Oh, pasif itu enggak dapat manfaat ya?
Enggak dapat ya apa?
Hmm.
Misal masuk organisasi me menang tok
nyimak di grup. Tapi kalau ada kopdar
atau ada acara seminar, workshop
kumpul-kumpul gak datang ya enggak
dapat.
Heeh. Heeh.
Empat itu enggak dapat.
Heeh. He
gitu. Jadi harus dimanfaatkan kalau
secara karena sudah 2017 sebenarnya saya
di TDA juga sudah sejak 2016 tapi ya itu
tadi karena gak aktif
hmm
akhirnya
enggak begitu berdampak juga di
betul itu. Jadi semua saya rasakan
gitu. Kedua adalah sumu.
Hm. sumu ini memang masih baru kalau di
Tulungagung masih 6 bulan ini. Tapi ee
ketika berkenalan dengan sum pertama
kali saya langsung ee kayak modele
satset ambil peluang aja kayak gitu. Dan
ternyata
ee impact Muhammadiyah tinggi sekali di
luar ekspektasi saya baru membuka sumu
di Tulungagung 3 bulan. 2 bulan sampai 3
bulan itu sudah 50. He.
Padahal kalau ngomongin target dari
pusat cuma 60 setahun, tapi ini sudah
melebihi
target gitu kalau ngomongin target dan
target member.
Iya.
Hm.
Dan ketika
bikin
gerakan
Heeh. Heeh.
Kaget saya gitu. di usia organisasi 5
bulan bikin pasar tumbuh
jadi dan
berhasil gitu loh.
Event-nya ada, sori pergerakannya ada
terus ternyata ya ada hasilnya gitu.
Itu bagi saya luar biasa.
Wow banget ya.
Heeh. Heeh. Heeh.
Kalau mungkin HIPMI kita sudah sering
banyak tahu dan mungkin karena sudah
lama jadi banyak orang juga sudah tahu.
Saya lebih penasaran ke sumu.
Heeh.
Sebenarnya ee sumu ini organisasi baru
kan, Pak ya, di kancah apa banyak
organisasi yang sudah ada. Betul ya?
Heeh. Masih 3 tahun di pusat. 3 sampai 4
tahun lah.
He. Serikat Usaha Muhammadiyah.
Betul.
Oke.
Tadi dibilang target member memang
apakah ada target member kayak gitu
juga, Mbak di
begitu ya.
Iya. Jadi kalau di Zoom itu
ee ketua dipilih sama pusat.
Heeh. Heeh.
Dengan yang memenuhi kualifikasi, ada
beberapa kualifikasi. Terus kemudian
untuk menjaga sustainability
itu harus ada pencapaian ee
iya KPI-nya salah satunya member
terus harus ada kegiatan bersama anggota
setiap bulan.
Itulah kenapa kita ada kopdar-kobdar
terus kemudian ada sinau bareng dan
sebagainya. itu KPI juga.
Hm.
Ketika nanti dalam 1 tahun tidak
ee tidak berjalan baik KP-nya ya, pusat
bisa
kayak mengganti begitu ya.
Betul. Jadi kalau mungkin di HIPM itu
muscap dipilih oleh rakyat, dipilih oleh
anggota. Kalau sumar masih
penunjukan.
Iya. Dengan GPI-KPI tertentu.
Baik. Terus aku juga kan terlibat diajak
Mbak Lucu ini ceritanya.
Iya. sudah untuk jadi salah satu
pengurus begitu ya.
Gimana aku ganti tanya dong gimana
[tertawa]
kesannya masih ee mungkin 5 bulan ya
bergabung ya 6 bulan. Heeh. He
jujur aku kayak ee anu, Mbak melihat
Mbak Lutfi yang sangat aktif kemudian
sangat totalitas itu saya kayak menjadi
nyaliku itu mengecil gitu loh.
Hah? Malah gitu
maksud maksudku itu aku kok enggak iso
seperti Mbak Ludwi gitu loh. Oh tak
pikir malih pah aku kok anu ndak ndak
melu sumu gitu nak ya.
Hah?
Malih wedi melu sumur gitu. juga lebih
pengin seperti karena tadi saya juga
sebenarnya mindsetnya itu ingin
totalitas di segala hal yang saya
lakukan.
He.
Tapi karena ternyata kan totalitas itu
ketika mungkin waktu kita terbatas dan
banyak juga kewajiban-kewajiban kita
yang sudah kita emban. Kewajiban
berbisnis, mengelola banyak tim,
kemudian juga ada keluarga yang harus
kita kasih waktu, ruang dan sebagainya.
Kadang-kadang itu kan menjadi ee mana ya
yang harus kita prioritaskan dan
kemudian mana yang belum kita bisa
ambil. Nah, aku nelok Mbak Lutfi itu
minder gitu loh. Wah, Mbak Lutfi luar
biasa ya. Saya sendiri misal kayak kayak
di event yang ini nanti kita bahas nih
pasar tumbuh
kan kontribusi saya kan sangat sangat
minim gitu. Memang aku dari awal juga
enggak begitu ikut karena memang wah
kayaknya aku belum sanggup belum siap
gitu. Dan untungnya menurut menurut saya
teman-teman di komunitas Sumu itu kayak
memberikan kebebasan juga ketika belum
bisa aktif di satu event atau sebuah
gerak. Tertentu juga enggak begitu di
enggak gitu apa ya diceng iki enggak
melu dan ee kayak gitu. Jadi yo aku
untuk ini anu tapi yo salut sih sama
Mbak Lutfi keaktifan. Jadi pengin
seperti itu
ya.
adalah energi
ee kita itu punya energi sampai terbuang
sia-sia apalagi untuk hal-hal yang tidak
bermanfaat.
Iya.
Jadi selain itu masalah tanggung jawab,
komitmen, prioritas juga. Jadi
organisasi itu ekosistem itu sudah masuk
prioritasku, Mas.
Hm.
Bahkan setiap hari itu saya setting
priority itu jamnya wis
settle ya.
Heeh. Eh, distraction-nya adalah saya
itu jam tidur 2 hari sekali. Saya tuh
enggak bisa tidur setiap hari, Mas.
Gak bisa tidur setiap hari?
Iya. Makanya kemarin saya telepon
jenengan itu
belum tidur itu.
Heeh. 2 hari
itu karena kemampuan otakku itu mikirnya
enggak bisa di rem
[tertawa]
ini. Masih aku masih kaget aja.
Iya, gitu.
Tidur dua kali dua hari sekali itu kaget
aku.
Heeh. Jadi kayak tadi pagi saya tidur
jam 09.00 pagi
itu saya terakhir tidur kemarin malam
kemarin usaha
[tertawa]
gitu.
Kok kok bisa gitu? Kok bisa gitu? Uh,
pikiran itu kadang lek wis berpikir gitu
ya, Mas. Aja gitu ndak bisa dirim.
Jadi itu lek ndak tak losnya aku malah
enggak bisa tidur dan scrolling enggak
jelas.
Enggak jelas.
Scrolling enggak jelas habis waktu. Jadi
saya mending nongkrong di warung
bekerja.
Heeh. Heeh.
Terus lek ndak gitu di masjid sing 24
jam
malam-malam berarti ya.
Heeh. Jadi jam malam itu koy apa ya?
Kadang otakku enggak bisa direm. Bentar,
bentar coba kita kronologinya gitu ya.
[tertawa]
Misal nih kalau saya
kronologinya ada di ee podcast sesi
sebelumnya. [tertawa]
Contoh nih ya, contoh nih ya. Misalnya
kan kalau saya ya, kalau saya kan
ya aku office hour banget ya. Kalau J
kan jam . jam 5. Maksimal magrib pulang
pulang keluarga makan malam sama
keluarga habis itu juga scroll-scroll
bentar nemenin anak belajar.
Habis itu di jam 09.00
Kadang-kadang lihat Netflix sebentar.
Heeh.
Jam 10. Jam 09.10 int mulai tidur lah
gitu.
Berarti kalau Mbak Lutfi jam 09.10
seperti apa?
Kalau saya berarti pagi itu ngurusi
anak-anak sekolah terus kadang lek bisa
tidur jam 10. Pagi bangunnya zuhur.
Oh malah pagi ya?
Iya. Jadi makan nokturlah banget. Tapi
ya gitu polanya tetap. Saya malam juga
sama anak-anak.
Anak-anak siapa? Anak-anaknya Mbak
Lutfi.
Iya. Jadi
apa, Mbak mereka gak tidur juga? Oh,
masti malam sebelum
malam ya habis magrib itu masih sempat
ngantar mereka les, ngantar mereka
ngaji, makan malam, guyon-guyon
kayak gitu. Masih masih ada waktu. Tapi
kadang malam gitu jam 09.00 otakku wis.
Iya. Muncul banyak
ide.
Heeh.
Banyak ide. Dan lek cewek itu
overthinking, Mas.
Overthinking.
Nah, overthinking itu kadang tak putar
daripada over thinking tentang
kehidupanku pribadi misal itu tak putar
ke
kerjaan atau hal-hal opo ekosistem atau
nulis ngetik start pos ke mana gitu.
Berarti itu di tempat kerja berarti nak
merebahkan diri di kasur
gak? Gak.
Berarti ketika overt malah bangun aja.
Iya.
Di tempat kerja.
Heeh. Seringnya di tempat kerja atau
keluar?
Keluar.
Oh, keluar.
Heeh. Jadi aku itu selalu kerja di
warung kopi
malam hari itu.
Heeh. Makanya biasa di warung kopi 24
jam. Saya pulangnya jam .30 jam . Kalau
anak-anak waktunya puasa berarti aku kan
ngajak mereka sahur.
Heeh. Sampai subuhan dan sekolah. Nah,
baru setelah selesai itu
saya sempat masak-masak, Mas, di rumah
itu.
Pokoknya sebenarnya kehidupannya
berjalan cuma waktunya enggak ideal
gitu.
Dan itu dua terjadi tidurnya itu 2 hari
sekali.
Heeh. Kadang
kadang-kadang berarti pagi enggak tidur
sampai
kalaupun sehari sekali ya gitu jam 10.
Bangun jam 12.00 zuhur, azan zuhur gitu.
Heeh. Makanya itu dari energi-energi itu
salah satunya aku mikir yang sekarang
tak fokuskan kan dua organisasi
HIPMI sama Sumu. Oke oke oke.
Itu aku jadi keepeper semua.
Iya iya.
Kalau di HIPMI kan
sekum.
Iya iya.
Kalau di sumu Korda di HIPMI aku
timeekeper. Jadi eh timeline teman-teman
program aku yang ngentongi. Ayo bulan
ini kita waktya ini ya.
W ini ya di semua ya gitu. Aku
teman-teman pengurus harian gitu ya
masak ya.
Aku di HIPMI kan juga anggota silent.
Aku masih jadi
tahun pertama aku di HIPMI. Jadi aku
diam.
Heeh.
Di sumu juga kan masuk di dua grup
anggota dan pengurus.
Heeh.
Jadi notifikasi itu di dua organisasi
yang berbeda. Di dua semesta yang
berbeda. Mbak Luti semua [tertawa]
loh. Barusan kayaknya Mbak Luti barusan
ngomongin kegiatan ini, ini, ini untuk
sumu.
Heeh.
Berapa menit kemudian
Heeh. Ngoprak-ngoprak kegiatan di IPMI.
Hah? Gitu loh. [tertawa]
Ah, wong iki mikir bisnis kapan gitu
loh.
Itu sebelumnya ngoprak-ngoprak di Zendo.
Jadi,
jadi wis enek liste gitu loh. Oh, Zendo.
Aku wis ngoprak-omprak apa ya hari ini
di Zendo. Udah berisik apa ya ini
[tertawa]
gitu.
Gila aku orang ini. Gila gitu gila orang
ini gitu loh. Heeh. Nah, oke. Kita bahas
di pasar tumbuh.
Heeh.
Yang menurutku wow.
Heeh. Saya kira waktu mohon maaf ya,
Mbak. Mohon maaf, Bu Ketua. Santai,
santai.
Saya enggak ikut dari awal karena memang
saya lagi hektik banget di urusan
pekerjaan.
Gak apa-apa santai.
Jadi waktu perencanaan saya enggak ikut,
waktu kemudian diskusi-diskusi juga
enggak ikut.
Saya hadir hanya pas waktu pembukaan.
Eh, gak apa-apa. [tertawa]
Gede banget menurutku. Loh, kok gede
gede gitu loh. Kok gede gitu dan aku
enggak ngapa-ngapain gitu loh. Nah, itu
gimana sih? Coba diceritakan gitu.
[tertawa]
Jadi sebenarnya ini rodok cerita rodok
tumbuh
I iya
ee pasar tumbuh itu sebenarnya idenya
berasal dari Zendo. Pengin tak
realisasikan di Zendo.
Oke.
Karena keresahanku tentang selama ini
orang itu bikin event ya wis sekali
selesai sekali selesai. Nah harapanku
sebenarnya bisa enggak sih kita bikin
sesuatu yang jadikan gerakan gitu?
Hm.
Jadi ya ada sesuatu sing ditunggu nanti
ketika kita bikin satu orang nunggu
kapan nih yang kedua. Nah aku pengin
kayak gitu. Terus kemudian aku bikin
namanya pasar tumbuh. Nah, kalau aku
menjalankan itu di Zendo, jujur aja itu
nanti rohnya rohnya akan zendo tok.
Orang akan melihat oh iki yang
mengeluarkan brand ini.
Heeh. Heeh.
Jadi kayak subjektif. Oh aku apalagi
misal aku ada yang gak suka sama Zendo.
Oh k acarane Zendo. Aku enggak mau
hadir. Nah aku gak mau kayak gitu.
Oke oke oke.
Itu yang pertama. Aku nyari rohnya.
Kalau masuk ke ekosistem rohnya beda.
Semua orang yang merasa punya sense
belonging atau punya kepedulian atau
punya apa di situ akan ikut mensukseskan
bareng-bareng.
He he.
Kedua adalah kalau secara materi
Heeh. Heeh.
finansial kalau nanti di Zendo, aku
sendiri yang akan
cara jawane ngati.
Heeh.
Kalau orang sponsor masuk bisa jadi
melihat Zendo. Aku gak mau sponsor di
Zendo. Tapi siapa tahu kalau melihatnya
sebagai organisasi sponsor bisa masuk
dengan lebih welcome maksudku kayak
gitu. Nah, yang ketiga adalah aku pengin
gerakan ini dilihat dari anu itu tadi
menggerakkan sens bilongin menggerakkan
anggota-anggota yang awalnya kayak Mas
misal kayak Mas Agung iki piye toh
organisasi ini? Jadi karena awareness
sum itu belum
matang ya cor Jawa belum semua orang
tahu bahkan anggota yo banyak sing
silent. Aku pengin akhirnya anggota
melihat loh ternyata anggota iki eh apa
organisasi
organisasi tenanan ya kayak gitu. Jadi
visi misinya ada tiga ini sing tak bawa.
Itulah kenapa akhirnya tak lemparkan ke
sumu. Makanya akhirnya aku langsung
ngobrol kan sama ketika ke Mas Agung.
Aku sudah pernah ngobrol ini enggak sih
ketika ngajak masuk sumu.
Iya dulu pernah sekilas gitu di apa di
diskusi gitu ya mau bikin ini ini ini.
Cuma aku enggak expect. Aku juga enggak
ngerti konsep yang belum detail lah
intinya. Mbak Mbak LI memang e
sharingnya belum detail. He.
Nah, tadi kan bilang gagasan bukan event
aja. Sebenarnya gagasan apa sih
sebenarnya yang dibawa pasar tumbuh itu?
Heeh. Gagasan karena ee saya sering
melihat beberapa dan mengikuti ee e
mulai dari kompetisi bisnis, seminar,
campaign tentang SDGs.
Oke.
Terus kemudian sustainability. He.
Kemudian ekonomi hijau. H. Kemudian saya
melihat beberapa perusahaan-perusahaan
CSR itu bergerak di bidang ee ekonomi
hijau dan semuanya. Makanya saya
akhirnya pengin ini gimana ya kalau
dilihat dari segi ee ekosistem. Jadi
ee kalau orang ngomongne bisnis hijau
oke semua orang bisa. Tapi kalau gerakan
biar orang itu awareness akhirnya peduli
lingkungan itu gimana? Akhirnya aku
mikir itu dan aku sendiri itu orang sing
enggak bisa open-open. Jadi enggak bisa
ngopeni tanaman, enggak bisa ngopeni
hewan. Karena apa? Takut hisab, takut
opo yo. [tertawa]
Sesimpel tetanggaku itu, Mas enggak
pulang-pulang kan rumahnya kosong, ada
tanaman-tanaman itu aku sedih.
Oh,
itu kan harus dipedulikan. Berarti aku
sebagai tetangga harus peduli. Jadi tak
siram nyiramin gitu.
sesimpel itu. Makanya sama lingkungan
juga harus dipikirkan seperti itu juga.
Nah, apalagi terus akhirnya saya suka
Pandawara grup itu juga kan. He
yang bersih-bersih kali itu ke sungai
itu kan.
Heeh. Aku sebenarnya dulu pengin bikin
gerakan ATM itu juga ATM Pandawara. Tapi
itu
enggak mudah gitu loh. Ketika
menerjunkan timku aja untuk
bersih-bersih masjid, perjuangan mereka
itu sudah
sebegitu. Apalagi mereka misal tak ajak
turun ke
sungai itu
kasihan deh.
Ee kok itu untuk gerakan sosial pandoro
itu wis gong banget itu susah ditiru.
Siap. Berarti memang idenya itu kayak
gerakan peduli lingkungan.
Betul.
Kemudian karena ini di komunitas
pengusaha kemudian dibuat event
pengusaha.
Betul. Ecogreen festival. Sebenarnya
awalnya Eco Green bahasaku adalah Iya e
Green. Kemudian
ee karena kemarin aku kan setiap
teman-teman yang tak ajak masuk sumu
yang 10 orang itu
semua tak kasih aku nanti mau bikin
kayak gini.
H
termasuk ke Mas Agil. Oh ya nanti bisa
ke Alba gitu. Oh iya, cocok ini. Terus
habis itu ya gitu aku langsung ke Adimas
Hasnan
yang punya skecok
sama Rendy tak ajak ketemu.
Ternyata mereka langsung mau padahal
mereka belum pernah handle event, belum
pernah pokoknya belum pernah ngerja
bareng. Karena dari visi misiku yang tak
sampaikan secara lisan pada saat itu
mereka
mau yo wis dikonsep terus mereka
bilangnya harapanku sebenarnya cuma
eventnya sehari toh Mas. Heeh. Heeh.
Terus kalau event ya, kalau ngomongin
event-nya aku sehari tapi gerakannya itu
harus sustain,
harus ada terus.
Ternyata mereka bilang, "Lek nanti ada
bazarnya, ada marketnya sehari kui
kesal."
Hm.
Karena mereka adalah pebisnis FNB.
Mereka yang merasakan
preparation
bazar sehari sama 3 hari itu sama.
Dibikin 3 hari aja langsung gitu.
Akhirnya konsep kita fokus ini di
gerakan ini adalah fokusnya adalah di
kegiatan
bukan bazarnya. Itulah kenapa di pasar
tumbuh itu hanya ada 20 tenan.
Heeh. Heeh.
Tapi activity-nya full dari pagi sampai
malam karena kita pengin banget ada
gerakan di situ. Kemudian fokus di
activity dan fokus camping ground. Orang
bisa lesean, tiduran, ngobrol, keluarga,
anaknya main-main
kayak gitu loh. Heeh. Heeh. He
di di event itu.
Heeh.
Eventnya ada berapa? 20 20-an kalau
enggak salah. He.
20-an.
W. Dan itu semua di saya semua ada. Jadi
mulai dari ekonomik, green, kemudian
sosial.
Heeh.
Gongnya kan di sosial ya.
H.
Di hari ketiga itu hari sosial yang
ditunggu-tunggu orang banget.
Tiga event yang paling menurut Mbak
Lutfi paling yang Mbak Lutfi bangetlah.
Apa dari pasar tumbuh itu?
Kalau aku yang paling ndak bisa move on
ya
bahasanya ya.
Itu namanya pentas istimewa.
Pentas istimewa. Oke.
Pentas istimewa itu adalah ruang yang
kita bentuk untuk adik-adik disabilitas.
Hm.
Dan ee inklusif
untuk tampil. Heeh. ee menunjukkan
mereka bisa apa gitu.
Jadi kita kerja sama dengan SLB,
sekolah inklusif dan juga ee orang tua
yang punya
anak dengan kebutuhan khusus.
Heeh.
Alhamdulillah itu luar biasa. Saya
sampai
melihat orang-orang nangis melihat
adik-adik tampil itu
susah move on.
Enggak bisa move on.
Semakin enggak bisa tidur kayaknya.
[tertawa]
Heeh. Apalagi orang tuanya yang
penampil, adik-adik, orang tuanya
adik-adik bilang, "Ini pertama kali kita
ada pentas untuk kita."
Heeh. Heeh. Heeh.
Dan itu insyaallah nanti pengin banget
tak spesialkan. Jadi benar-benar tak
istimewakan mungkin di series pasar
tumbuh ke berapa mereka harus secara
spesial.
Kalau kemarin kan
bagian aja gitu ya. Heh. Nanti pengin
banget itu kita istimewakan beneran.
Jadi pentas istimewa yang benar-benar
istimewa karena kemarin penontonnya
bagiku kurang banyak.
Orang yang di camping ground kurang
banyak. Itu kalau sebenarnya kalau
dilihat bagus banget. Jadi kita melihat
anak nyun sewu tuna rungu wicara
mereka menari izin mereka enggak bisa
mendengar. He he he.
Jadi mereka menari itu dengan dipandu
gurunya yang
di depan itu.
Heeh.
Tapi mereka bisa bagus, bisa kompak. itu
wis ngiris-ngiris hati wis he
kayak gitu. Dan di luar ekspektasi saya,
Mas, ternyata ketika saya komunikasi
dengan semuanya, semua stakeholder, saya
bilangnya e pentasnya tidak usah make up
karena izin dari kami tidak ada budget
untuk
make up.
Heeh. Jadi budget kami adalah rasaran
nyun sewu ee ya amplop ee semampu kita
dan sembako dan sebagainya.
Kalau untuk make up
izin kita belum ada gitu. Ternyata
mereka malah datang itu semangat banget
make upan malah ada SLB yang pakai baju
kresek koran memang dibentuk untuk acara
itu.
Gimana saya ndak
ndak emis gitu ya.
Heeh. [tertawa] Jadi benar-benar daur
ulang sesuai tema kita Eog Green Mas
itu. Ya Allah aku sampai nu nangis di
tendanya Mami Dimsam itu
nangis ya. Iya. Jadi wis itu kan mak
sama Rendy kan difoto itu aku nangis di
camping ground itu karena ya Allah aku
gak expect mereka sebahagia ini ketika
dikasih ruang. Itulah kenapa aku bikin
ee pasar sembuh ini ruang untuk semuanya
gitu.
Iya. Iya. Oke. Yang kedua itu kegiatan
yang paling enggak bisa move on. Yang
kedua ada enggak?
Yang kedua aku lebih
ininya. Jadi sebelumnya nyuwun sewu izin
ada event yang di Tulungagung yang
katanya kurang sesuai tema. H
ternyata ketika aku bikin ini esensinya
masuk. Jadi orang yang pertama tenan itu
tidak pakai resek.
Hm.
Kemudian meminimalisir sampah.
Oh.
Orang budaya membuang sampah.
He.
Itu benar-benar ada di situ. Kita
menyiapkan tempat sampah di beberapa
spot.
Heeh. kita itu hanya mungut hal-hal
kecil lah. Semua aware. Heeh. He.
Kemudian jelantah orang bawa jelantah.
H. Diapain?
Di ditukar pakai uang.
Oh jual. Jadi ada tempat barter
jelantah dengan uang begitu ya.
Betul. Heeh. Gitu. Terus jadi esensinya
semua dapat. Terus ee lokasinya bisa
kita sulap. Jadi sangat ee nyaman untuk
orang camping. Heeh. Heeh.
Jadi esensi
pergerakannya itu nyampai. Heeh. Heeh.
He
itu sih. Dan yang ketiga, karena banyak
banget agenda itu saya hanya syukur
alhamdulillah tok.
Ternyata tim sumu yang anggotanya luar
biasa
ee organisasi yang masih bayi tapi
luar biasa gitu loh.
Ini kan enggak bisa jalan karena saya
aja atau Dimas aja.
Tapi karena semua orang yang punya sense
belonging, punya tanggung jawab komitmen
untuk mensukseskan ini. Dan ini kita
enggak pakai IO, Mas.
He. Oh, anak-anak aja ya.
Jadi, Heeh. Jadi di IO nih teman-teman
sendiri gitu. Makanya susah move on
banget.
Iya. Iya. Tapi begini, Mbak Lutfi, aku
punya pandangan lain ya.
Heeh. Gimana?
Jadi di komunitas itu tergantung
ketuanya.
Hm. Gitu ya.
Ya. Aktif enggaknya komunitas itu dalam
tahun itu loh ya. Kan kayak ketua itu
kan punya apa ya? Punya masa jabatan lah
ya.
Heeh. Heeh.
Pertama ditulagu kan Mbak Lutfi sebagai
Heeh.
Apa bahasanya ya? Pemimpinnya ya.
Heeh. Kemudian saya juga aktif di bukan
aktif ya mengikuti beberapa komunitas
juga ya.
Heeh.
Tergantung ketuanya. Kalau ketuanya
aktif kemudian energinya itu kelihatan
kok Mbak itu aktif gitu. Kalau enggak
juga
di tahun itu, di tahun kepengurus itu
juga
enggak begitu aktif.
I. Nah, ini menurutku karena energinya
Mbak Lutfi yang luar biasa yang kemudian
nyampai ke teman-teman
alhamdulillah
sehingga kemudian teman-temannya ini
juga ikut aktif gitu loh, Pak. Nah, itu
sudut pandangku loh itu. Aku sudut
pandang. Wih, luar biasa ini Mbak Lutfi.
Jadi karena Mbak Lutfi sangat kan sangat
mengayomi teman-teman menurutku opo ya
kayak ayo masuk kayak enggak punya anu
gitu loh, enggak punya ego dan
sebagainya ayo masuk. Kemudian
diparani, ditelepon, di WA, di
benar-benar di pedulikan gitu. Sehingga
mereka itu juga punya
ofonging juga akhirnya tinggi gitu. Dan
itu kemudian menjadi sebuah gerakan self
belonging bareng
yang terbukti event-eventnya sukses.
Ya, semogalah nanti ada event-event yang
luar biasa setelah ini.
Heeh. Harapanku kan itu berjalan terus.
Heeh. Heeh. He.
Dan nanti tergantung mau dibikin seperti
apa, Teman-teman. Teman-teman sudah
punya banyak ide-ide. Akhirnya
alhamdulillah dari Pasar Tumbuh itu
akhirnya kemarin panitia kumpul terus
mereka punya evaluasi, punya ide-ide
cemerlang. Masyaallah, ternyata mancing
teman-teman gitu loh. Mancing
kreativitas. J belum terpancing bidangku
aja. [tertawa]
Jadi
tenang habis ini kita pikirkan.
Siap. Terima kasih. Sudah memikirkan.
[tertawa]
Oke. Nah ee saya ada sudut pandang lain
Mbak Lutfi. Ini saya kira untuk
pembahasan sumu sudah dan pasar tumbuh
sudah luar biasa.
Saya mau membahas tentang ada seseorang
yang di mana itu
ee saya kalau Mbak melihat Mbak Luti
beda. Di mana kegiatan bisnisnya juga
bertumbuh,
organisasi yang dibawa juga bertumbuh.
Tapi ada sebagian orang yang dia itu
malah sangat sibuk di organisasi tapi
bisnisnya enggak keur. Nah, bagaimana
komentar Mbak LI tentang hal itu?
Itu wajar.
Karena
enggak semua orang bisa ideal dengan
keputusannya.
Memutuskan untuk
ee masuk ke organisasi dan berbisnis.
Itu kan sebuah keputusan pribadi ya
sebenarnya yang ternyata mungkin pas
dijalani ternyata ada itu tadi
kemampuan tubuh, kemampuan otak, he
kemampuan energi itu tadi itu
berbeda-beda. Nah, ternyata itu tadi
kalau ee saya mungkin juga
merasanya malah belum maksimal di semua.
Heeh. Heeh.
Jadi apa yang disampaikan Mas Agung ee
ada pendekatan personal itu memang
pendekatan itu juga saya pakai di bisnis
saya juga. He.
Jadi di organisasi itu saya juga ee
mempraktikkan apa yang saya pakai di
bisnis. Makanya saya kenal semua tim
saya di Tulungagung utamanya.
Sama di anggota sumo juga saya harus
kenal semua. Tapi selanjutnya nanti
ketua bidang yang harus pendekatan
secara personal.
Heeh.
Makanya saya tegaskan ke teman-teman
kita itu kalau mau menggerakkan orang
kalau secara personal kita enggak kenal
mereka.
Mereka Heeh.
Mereka mau masuk itu yo piye? bingung
isin aku engkok ning jero ketemu sopo yo
sama ketuanya aku aja belum tahu atau
belum tahu namanya itu kayak gitu jadi
memang itu kudu ditoto manajemen ya
manajemen dan setting priority kayak
yang disampaikan Mas Agung maaf Mbak
Luffi saya belum itu gak apa-apa karena
priority-nya memang ini saya saya itu
selalu bersyukur orang mau bergabung
Heeh he
dan tidak menuntut mereka harus seperti
ini. Tapi saya memberikan contoh
kasarane bahwa setiap keputusan kita itu
harus dipertanggungjawabkan
dalam action.
Heeh. Heeh.
Gitu. Jadi kalau ketika kita sudah
memutuskan
oke aku mau masuk sumo berarti ya
seyogyanya atau masuk hipmi yaogjananya
ya aktif. Kalau enggak aktif itu tadi
enggak dapat manfaatnya.
Siap. Siap
gitu.
Dua pertanyaan menuju akhir.
Siap. Eh,
pertanyaan pertama adalah saya mau meng
mulai masuk sebenarnya ini bukan apa ya,
Mbak Lutfi juga bukan pengurus saya kira
pengurus Muhammadiyah tapi Mbak Luthfi
kan sudah lama di Muhammadiyah sudah ber
Iya bukan struktural ya
bukan struktural tapi juga aktif di
dalamnya itu sudah lama menurut saya
sudah lebih dari 10 tahun kan belasan
mungkin ya
naturalisasi lagi
gimana
naturalisasi
naturalisasi itu gimana? [tertawa]
Bukan bukan lahir Muhammadiyah gitu.
Lahir itu bukan langsung Muhammadiyah
gitu.
Oh iya. Tapi saya tuh akhir-akhir ini
itu mulai amazing dengan Muhammadiyah.
Heeh. Gimana?
Terutama terkait manajemennya.
Heeh. Jadi seringkiali kon man
Muhammadiyah satu-satunya organisasi
yang memiliki kekayaan sekian
yang asetnya sekian
dan kemudian banyak prestasi-prestasi
yang kemudian dia ada di situ. Nah, itu
menurut sudut pandang Mbak Luthfi yang
naturisasi itu [tertawa] seperti apa kok
bisa begitu gitu loh.
Heeh. Dan itulah yang membuat saya
akhirnya anu berpindah organisasi.
Ah,
jadi karena kayak ee saya dulu melihat
izin saya pindahnya karena saya pernah
mengabdi di sebuah amal usaha
Muhammadiyah.
Heeh. He.
Saya melihat sosok pemimpin,
beliau adalah almarhum Bapak Yahdin.
Beliau ketua STA Muhammadiyah
Tulungagung.
Heeh. Heeh. Heeh.
Kasarane rektor, Mas.
Rektor. Oke.
Iya. Tapi beliau kehidupannya sangat
sederhana. Beliau pernah sepertinya jadi
kepala Kemenek pada saat itu, tapi
mobilnya biasa. He he.
Kemudian memimpin dengan sabar, enggak
pernah marah.
Heeh. Heeh.
Terus ketika saya ngelembur, saya selalu
harus beli makan karena beliau tahu gaji
yang untuk saya hanya Rp250.000.
Jangan sampai lembur kok enggak makan.
Jangan sampai gajimu itu buat beli
makan. Kasarannya gitu loh. Heeh. Heeh.
Heeh.
Terus sampai beliau itu ee menceritakan
bagaimana
ikhlas bermuhammadiyah.
Heeh.
Menghidupi perguruan tinggi yang kecil.
Di antara gempuran banyak perguruan
tinggi besar. Dari situ saya belajar
ternyata dan itu dari beberapa orang
juga istilahnya
Heeh.
Muhammadiyah ini harus tetap hidup.
Menghidupi Muhammadiyah itu saya lihat
pertama di beliau. Heeh.
Sampai nyuwun sewu ee nyekolahne BPKB
untuk gaji kita.
Hm.
Karena ini ee perguruan tinggi swasta
itu kan asalnya dari SPP. He he.
Mahasiswa yang sedikit beliau tuh sampai
setawadu itu. Dan itu ternyata tidak
hanya beliau gitu.
Oh, banyak orang seperti beliau di
Muhammadiyah
ternyata gitu. Bahkan izin sekarang
Heeh. PDM Pimpinan Daerah Muhammadiyah
itu namanya Pak Arif Sujono dan PDA-nya
Bu Imro Atin.
Saya melihat beliau itu sangat sederhana
sebagai sekelas pimpinan organisasi
besar di kabupaten.
Mobilnya masih panter, Mas.
Sampai kemarin kita teman-teman sumusan
itu saya saya Adimas sama Rendy itu
mereka ternyata kaget loh ee rumahnya
sederhana.
Hm.
Terus mobilnya sederhana malah bagusan
mobilku katanya gitu. [tertawa] Padahal
ya gitu. Terus ketika ngobrol yang
disampaikan itu serba kesederhanaan dan
apa ya piye ya dibilang agamis kok
agamis? Religius ya. Saya lebih ke
melihat sebuah religius dan
menghidupi Muhammadiyah biar umatnya
kopen sugih bareng. He.
Jadi sebenarnya kata-kata jangan mencari
kehidupan di Muhammadiyah, tapi
hidupilah Muhammadiyah itu kalau untuk
orang
anu yo dicakne tenan.
Beneran ada gitu loh. Beneran mendarah
daging di
orang-orang di dalam Muhammadiyah.
Betul. Jadi kayak ego-ego pribadi itu
disisihno.
He.
Ada hal yang egois yang bisa kita
lakukan tapi
itu lebih baik ke organisasi. Makanya
aset-aset itu kebanyakan ke Muhammadia.
Bahkan ada orang Muhammadiyah, sosok
orang Muhammadiyah yang saya kenal ee
punya kekayaan luar biasa,
tapi memilih mewakafkan sekian puluh M.
Heeh. Heeh. He.
Untuk
Muhammadiyah. Jadi orangnya memang
militan semua, Mas.
Orangnya setotalitas. Dan yang saya
kagumi juga dari Muhammadiyah itu ee
enggak semua disaring. Makanya kayak
ngomongin politik misal enggak pernah
ada Muhammadiyah bilang pilih nomor
sekian gitu gak ada. Karena
ke masyarakatnya pun ke orang
Muhammadiyah pun akan disortir dipikir
ini kata
misal pimpinan begini ini masuk enggak
tetap dipikir sama orang Muhammadiyah.
Terima kasih Mbak Lutfi sudah hadir di
Sendo. Semoga makin sukses ke depannya.
Iya, terima kasih sudah membantu
mengolas pasar tumbuh. [tertawa] Doakan
gerakan ini sustain bermanfaat. Ditunggu
juga Mas Agung untuk ke lapangan.
[tertawa]
Siap. Sindiran keras. See you,
Teman-teman. Asalamualaikum
warahmatullahi
wabarakatuhikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:35 UTC
Categories
Manage