File TXT tidak ditemukan.
Dulu Hidup Susah, Kini Jadi Presiden Direktur dengan Aset Hampir 1 Triliun
Zpj2nhbZ3nc • 2026-01-28
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
dulu itu berangkat ke Ngasem itu sebagai
seorang penjual di pasar.
Betul.
Yang sekarang mendirikan BMT.
BMT Ngazem yang saat ini tadi saya baca
asetnya sudah seteng triliun.
Betul. Saya sudah biasakan itu. Jadi
saya makan di dapur sisa-sisa intip itu
sama cabe sama garam. Sudahlah itu
nikmat. Sambil berdoa, "Ya Allah rubah
kehidupan saya, masa depan saya." Hanya
itu saja. Sabar, sabar, sabar. Dan ada
teman-teman jarang yang tahu gitu bahwa
saya itu sangat-sangat tidak punya uang
pada saat itu. Di mana pun kamu berada,
lakukan yang terbaik.
Hm.
Kamu akan jadi yang lebih baik. Karena
Allah akan selalu memberikan yang
terbaik untuk hambanya. Bagi mereka yang
punya niat baik. Kalau mereka butuh,
mereka punya modal tapi kurang modal.
Kita akad dengan akad musyarakah. He
ya kita tambah modalnya untuk
pengembangan bisnis.
Akad anti riba atau akad ee syariah itu
hanya diakad. Tapi ternyata Pak Wahyudi
menggambarkan bahwasanya
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Masyaallah senang sekali kehadiran Pak
Presiden Direktur dari BMT Ngasem.
Terima kasih, Pak Agung. Semoga Pak
Agung
keluarganya dan pecah telur semakin maju
semakin sukses. Amin ya Allah. Semoga
jenengan semanten ugi.
Terima kasih. Makasih.
Jadi saya cukup kaget-kaget Pak ketika
baca bukunya Pak Wahyudi, Pak Presiden
Direktur BMT Ngasem ini yang
terima kasih
dulu itu berangkat ke Ngasem itu sebagai
seorang penjual di pasar.
Betul.
Yang sekarang mendirikan BMT. Betul. BMT
yang saat ini tadi saya baca asetnya
sudah seteng triliun.
Betul. Heeh.
Masyaallah. Ini sangat signifikan
sekali, Pak.
Iya. Iya. Iya. Jadi dulu sebenarnya kami
itu di Bandung dan di Jakarta ya. Saya
punya aktivitas sebagai editor di
beberapa penerbit ya sebenarnya karena
kami background-nya memang penulis. Hm.
Tapi oleh mertua suruh pulang kemudian
suruh bantu orang tua jualan dan kami
memahami hadis Nabi. Sudahlah terima
takdir dengan ikhlas.
Wah.
Nah, itu saja mungkin modal kami
keyakinan kepada Allah bahwa di mana pun
kita berada kita akan bisa bertumbuh
berkembang sesuai dengan rida dari Allah
Subhanahu wa taala. Itu kata-kata yang
singkat tapi sangat susah untuk
dijalankan. Menerima takdir dengan
ikhlas. Ketika Pak Wahyudi pulang ke
diminta pulang kemudian ke Ngasem itu
kan belum tahu mau jadi apa di sana.
Iya betul.
Saya enggak pernah berpikir. Yang
penting saya memberikan yang terbaik,
berbuat yang terbaik. Allah itu maha
baik akan memberikan yang jauh lebih
baik insyaallah.
Oke, kita runut dari dari awal dulu.
Lantas ketika pulang ke Ngasem apa yang
dilakukan
Pak Wahyu? membantu orang tua karena
memang disuruh pulang itu suruh
meneruskan usaha orang tua, mertua
maksud saya karena saya asli Pasuruan,
istri saya orangem Bojonegoro dan saat
itu mertua pengin saya pulang sajalah
bekerja meneruskan usaha orang tua
mertua
yang di pasar itu.
Yang di pasar itu.
Jualan apa itu, Pak?
Itu jualan macam-macam. ada obat-obatan,
kemudian ada palen. Kalau palen itu
segala sesuatu kebutuhan pokok itu. Wis
pokoknya ada tas, ada
apa itu sepatu dan lain-lain ya. Apa
yang bisa kita jual, kita jual. Kita
neruskan saja neruskan mertua sambil
kami juga membuka usaha yang lain gitu.
Di apa itu katanya itu jauh, Pak ya.
Jadi waktu berangkat dari rumah ke pasar
itu cukup melelahkan itu ya. Ada dua
pasar yang agak jauh. Yang pertama itu
di Sekarsekar itu kecamatan lain di atas
gunung. Jalannya tidak seperti yang
sekarang.
Dulu itu harus muter. Jadi kami
berangkat itu pon ya sore hari nanti
nginp di sana dan
waginya kita jualan.
Nanti pulang magrib bahkan sampai isya
baru nyampai di rumah.
Ah.
Jadi nginp di tempat lokasi di mana kita
mau berjualan. Ahad wagi apa setiap
wagihnya pasaran wagih. Kalau dulu kan
pasarannya setiap pasaran Pak ya ada
kliwon, paing dan lain-lain
lah. Kebetulan satu pasar yang jauh ini
pasar Wagi dan itu ramai dulu karena
memang akses untuk keluar jauh sekali
sehingga jualan di sana pasti ramai
gitu.
Jadi dibelan-belani kayak gitu ya, Pak.
Betul. Harus berangkat satu hari
sebelumnya.
Baikbaik.
Iya iya.
Ee jadi menjadi seorang pedagang di
pasar kemudian menjadi pengelola BMT ini
kan agak jauh Pak kalau kita
lihat dari apa kacamata ilmu background
sebagainya kan jauh ini bagaimana kok
bisa dari pedagang bisa mendirikan PMT
betul saya di manaun pedad saya selalu
pegang kata-kata guru saya di mana pun
kamu berada lakukan yang terbaik
h
kamu akan jadi yang lebih baik karena
Allah akan selalu memberikan yang
terbaik baik untuk hambanya, bagi mereka
yang punya niat baik. Itu saja prinsip
yang selalu saya pegang. Dan kemudian
saya sadar ternyata dulu saya ketika
sanawiyah
itu pernah pegang koperasinya Aliah dan
ketika Aliah saya pegang koperasi
dan saya enggak tahu oh ternyata Allah
takdirkan begitu indahnya sampai
kemudian kami sekarang ngelola holding
koperasi gitu
ya. Ternyata ketika flashback pun ada
juga gitu ya bekalnya gitu ya. sadarnya
baru ketika sudah holding ini.
Jadi apapun yang kemudian kita jalani
sebenarnya nanti akan ada sebuah
peristiwa di masa depan ya itu akan
relate gitu Pak ya.
Betul.
Cuman makanya kata ulama sufi kan
mengatakan lau alimal insan alal aqdar
la baqa.
Wah apa itu Pak?
Artinya apa? Kalau orang itu ngerti di
balik hikmah takdir Allah
mereka akan nangis. Begitu baiknya
Allah, begitu indahnya Allah
merencanakan kehidupan buat kita.
Masyaallah.
Itu hanya apa? Pemahaman kamilah gitu
ya.
Iya. Iya. Jadi tadi juga disebutkan
intinya di setiap apa yang dikasih
kesempatan dilakukan yang terbaik.
Betul.
Oh.
Termasuk kepada santri-santri saya, kamu
di mana pun berada terima takdir itu
dengan cara berbuat yang terbaik. Apa
yang kamu sekarang jalani? Jalani dengan
cara yang terbaik. Insyaallah kamu punya
masa depan yang lebih baik.
Ah, masyaallah. Lanjut lagi, Pak. I dari
seorang pedagang di pasar kok kemudian
punya BMT, Pak. Itu bagaimana, Pak?
Betul. Iya. Dulu sejarahnya kami ketika
di Ngasem
itu di samping berdagang, kami juga
berjuang.
Jadi kami mendirikan PGTP itu guru-guru
di pelosok-pelosok desa kan banyak yang
mereka itu tidak pernah mondok tapi
ngajar-ngaji dan jiwa perjuangannya itu
lebih tinggi daripada anak pesantren.
Sehingga mereka enggak punya kemampuan.
akhir kami dirikan kuliah gratis 1 tahun
kita datangkan kita ajari metodologi
pengajaran, pembelajaran, kita ajari
kurikulum kemudian kita ajari manajemen
keuangan dan seterusnya sehingga
guru-guru itu lebih baik lagi dengan
adanya ini. Kemudian kami diajak masuk
ke kepengurusan MWCNU Kecamatan Ngasem
pada saat itu. Tapi saya memberikan
syarat, saya mau kalau nanti NU ini
punya sumber dana sehingga NU itu tidak
lagi narik urunan tapi betul-betul
dikelola dengan profesional. Nah,
sehingga dari situlah awalnya kami
mengusulkan agar berdiri koperasi.
banyak yang menentang dan banyak yang
enggak setuju
ya dengan modal awal 67 juta yang
kemudian kita kembangkan dan sekarang
alhamdulillah sudah menjadi holding.
Jadi beberapa koperasi terhimpun dalam
koperasi sekunder yang kami beri nama
dengan holding koperasi BM Ngasem Grup.
Siap. Dari cerita Pak Wahyudi, ada dua
hal yang ingin saya tanyakan. I
pertama memang kayaknya Pak Wayud ini
jiwa sosialnya tinggi
tadi di di
tadi kan dikatakan ketika ada seorang
banyak di Ngasem sana banyak para
orang-orang yang mengajar tapi mereka
itu
guru ngaji. Guru ngaji kampung kan
pelosok-plosok itu yang mereka
semangatnya tinggi cuma dari keilmuan
minim.
Kemudian Pak Widi mendirikan sekolah
untuk mereka.
Betul.
Nah itu kan
kuliah gratis.
Kuliah gratis itu kan kepekaan sosial
Pak. Itu kalau Pak Widi itu dari mana
kok memiliki kepekaan itu?
Saya enggak pernah berpikir. Yang saya
pikirkan di mana pun berada kami harus
bermanfaat.
Oh
ya. Kirunas anfauhum linnas. Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat
untuk manusia yang lain.
Sudah prinsip itu saya enggak pernah
bayangkan, oh ternyata mereka itu butuh
bantuan tapi enggak ada yang mikir.
Negara enggak mikir, kemudian apa itu
pemerintah enggak mikir,
ya komunitas-komunitas keagamaan juga
enggak mikir. Karena mereka mikir
sendiri juga susah.
Ya, bagaimana sudahlah kami akan
berjalan menawarkan mereka, mengajak
mereka ya berbenah untuk generasi Islam
ke depan gitu.
Iya. Iya. Masyaallah. Nah, yang kedua,
Pak. Jadi, ketika mau masuk ditawarin
menjadi anggota MWCNO tadi dikatakan ya,
penguruspengurus
pengurus ya. Pengurus NU di Kecamatan
berarti ini ya,
di Kecamatan Ngasem kok ada syarat
biasanya kalau kita saya rumah saya nih
ya,
Mas Agung ayo masuk di pengurusan. Siap
kan gitu kan ya. Ah,
jadi bagus nih untuk portofolio saya
jadi pengurus begitu kok. ada syarat
kalau saya jadi pengurus saya harus
memiliki program yang di mana nanti
programnya itu bisa apa membantu ee
kepengurusan ini gitu.
Iya. Jadi kembali kembali kepada asas
manfaatnya.
Wah.
Kalau kita hanya kan kebanyakan orang
itu masuk tapi mereka hanya sebagai
simbol atau nama yang cantum di situ.
Saya bukan orang seperti itu, gitu ya.
Kami hadir harus membawa perubahan. Kami
hadir harus membawa kemanfaatan. kami
hadir harus membawa gerbong masyarakat
untuk sukses bersama, sejahtera bersama
gitu ya.
Memang memang dari kayak seperti itu ya
dari dulunya gitu ya.
Memang sejak di pesantren saya punya
ditanamkan oleh kiai saya sudahlah punya
jiwa seperti itu. Nanti di mana pun kamu
berada kamu pasti akan menjadi pembeda.
Di mana pun kamu berada kamu akan terasa
manfaatnya. H.
Jadi itu yang menjadikan kami sudah saya
pegang teguh sampai hari ini.
Asas manfaat.
Asas manfaat. Karena memang itu kan kata
Nabi.
Sebaik-baik manusia yang paling
bermanfaat untuk manusia yang lain.
Masyaallah. Dan itu benar-benar diyakini
dan dipegang. Betul, Pak. Ya,
kami berjuanglah untuk itu.
Nah, katanya dulu pas waktu bikin BMT
banyak tantangan kan? Banyak tantangan
ya. Betul ya, Pak? Ya,
betul. Betul. Sangat-sangat banyak ya.
Jadi bagi kami perjuangan pasti ada
ujian. Oh
ya. Semakin besar perjuangan semakin
besar ujian dan tantangan. Itu sudah
menjadi sunatullah bagi kami ya.
Bagaimana Nabi diuji bertubi-tubi
tapi kemudian dampaknya di akhir luar
biasa sampai yang sekarang kita rasakan
yaitu Islam. He he.
Saya pikir itu Pak Agung ya.
Nah. Jadi tantangannya itu tidak hanya
dari eksternal, dari internal pun sangat
banyak ya.
Siap.
Jadi kami ee dituduh, difitnah,
macam-macam. Tapi bagi kami sudahlah
saya enggak berbuat apa-apa. Saya punya
niat
yang mulia, saya punya niat yang baik
untuk kontribusi, manfaat yang lebih
terhadap perjuangan.
Heeh.
Pak, kenapa koperasi, Pak?
Karena satu
tidak seribet ketika kita mendirikan
bank. He
dua modalnya juga tidak sebesar bank.
Artinya koperasi adalah sebuah wadah
yang sangat realistis untuk kita dirikan
pada saat itu. Walaupun pada saat itu
banyak orang menentang takut gagal
nanti takut uang enggak kembali.
Tapi saya yakinkan dengan saya ajak ke
Pekalongan melihat koperasi yang sudah
sukses, saya ajak ke Sidogiri melihat
koperasi besar yang berkontribusi besar
kepada pesantren untuk meyakinkan
mereka.
Heeh. Heeh. Begitu saya ajak, ternyata
mereka pun masih pesimis. Sudahlah untuk
meyakinkan susah juga. Akhirnya saya
umumkan, "Sudahlah siapa yang mau
gabung, yakin gabung dengan kita, monggo
kita urunan 1 jutaan sebanyak 67 juta
dan itu pun di luar struktur yang paling
banyak untuk kontribusi
apa itu modal awal kita di koperasi ini.
Berarti hanya 67 juta ter
67 juta dari 67 orang jutaan
sangat minim itu menurut saya
sangat minim 14 tahun sudah hampir ee
setengah triliun. Masyaallah.
Ya, itu semua fadol dari Allah,
karunia dari Allah.
Ya Allah. Enggih
mungkin ya yang saya bayangkan ya waktu
memulai kan berarti masih muda, Pak. Ya
berarti di usia sekitar
saya karena nikahnya terlambat ya sudah
di atas 30 berapa ya? 3435 kayaknya
untuk mulai ya.
Waktu itu 3435.
Iya mungkin sekitar itu.
Waktu itu ekonomi keluarga kan juga
masih
berjuang Pak ya.
Masih masih berjuang. Saya juga harus
membagi waktu antara jualan perjuangan
ngajar TPQ, kemudian ngajar guru-guru
TPQ, kemudian berdakwah keliling dari
satu daerah ke daerah yang lain walaupun
jalannya becek. Bahkan saya pernah
nangis gara-gara apa itu sepeda enggak
bisa dijalankan padahal itu sudah di
tengah hutan. Mau balik itu sudah di
tengah, mau terus enggak bisa jalan ya
sudah minta sama Allah, "Ya Allah agar
kami dibalas dengan sesuatu yang lebih
lagi."
Itu apa? Berjuang ke mana itu? Kok naik
di tengah hutan itu?
Ke anu ke pembinaan. Jadi pembinaan kami
itu tidak hanya kita kumpulkan di satu
tempat, tapi saya juga datang untuk
mengedukasi guru-guru ngaji. Begini loh
cara mengajar begini loh. Apa manajemen
yang profesional itu seperti ini.
Yang dulu mungkin enggak pernah punya
target anak saya ngaji di sini itu
berapa tahun harus selesai jilid, 8
tahun harus khatam Quran, berapa tahun
saya harus anak saya bisa hafal juz 30,
hafal 100 hadis dan seterusnya. itu kita
harus datang ke sana lah. Perjalanan itu
kan
butuh perjuangan. Sehingga saya
merasakan juga mereka datang ke tempat
kami juga butuh perjuangan.
Saya pun merasakan oh iya begini. Dari
situlah
kita harus banyak bantu.
Ya kasihan kalau mereka
butuh bantuan tapi mau ke mana dia mau
bilang itu enggak pernah tahu.
Berarti ini yang kaitannya sama guru
kampung tadi ya.
Iya. Jadi setelah ituus koperasi juga. H
setelah koperasi ini agak mulai
bertumbuh, berkembang, akhirnya yang
jualan ini saya sudah alihkan,
tapi tetap setoran ke saya. Jadi, saya
sudah berpikir bagaimana memanage waktu
ya, memanage apa perusahaan agar
kemudian usaha kami tetap jalan,
perjuangan kami, serta koperasi ini pun
juga bisa tetap jalan.
Oh, iya. I
saya penasaran, Pak. He
sebenarnya yang paling mendominasi
mendominasi spirit atau semangatnya Pak
Wahyudi ini, apakah Azaz menjadi seorang
pengajar tadi yang luar biasa tadi?
Apakah ada mentality seorang pebisnis
juga atau seperti apa?
Saya pikir kedua-duanya kan gitu.
Rasulullah kan yo pebisnis sekaligus
pejuang kan gitu lah. Dua-duanya bisa
kok kita
sinergikan, kolaborasikan. Yang penting
niatnya ditatah ya. Niatnya tentu untuk
perjuangan. Heeh.
Jadi kalaupun bisnis tentu bisnis yang
bermanfaat, bisnis yang berdampak untuk
kemajuan umat. Ya, saya pikir
ee kedua-duanya itu penting. Bagi saya
dua-duanya jalan. Sampai hari ini pun
saya enggak pernah meninggalkan. Saya
pernah dipesani guru bahwa kalau kamu
pengin ketika meninggal kuburmu enggak
pernah sepi,
Mas,
ya, maka kamu jangan pernah berhenti
jadi guru Al-Qur'an. Makanya sampai hari
ini saya tetap ngajar guru-guru
Al-Qur'an. Saya di pesantren setiap
malam saya pasti sampai jam 10. Enggak
pernah telat kecuali saya harus keluar
kota. Saya ajarkan. Karena
katanya ketika kamu mengajar Quran dan
kemudian kamu meninggal dunia
dalam posisi kamu menjadi guru
Al-Qur'an,
maka nanti kuburmu tidak akan pernah
sepi diziarahi oleh malaikat Allah
seperti orang berziarah ke Makkah dan
Madinah. Artinya ramai terus kuburan
kita. Hanya itu saja mimpi-mimpi. Semoga
itu diijabah. Amin ya Allah.
Oke, oke, oke.
Saya menjadi penasaran background-nya
Pak Wahyudi ini dari keluarga seperti
apa sih?
Saya dari keluarga yang bukan sekedar
biasa tapi di bawah biasa, miskin ya.
Iya.
Jadi saya dulu di mondok pun orang tua
saya kadang terlambat
h
untuk ngirimkan saya setiap bulan
ya saking miskinnya. He.
Tapi saya enggak pernah marah sama orang
tua.
Saya memahami dan saya biasanya makan
itu malam cari di dapur.
Di dapur. Ketika santri-santri yang lain
sedang tidur, saya kasih intip, saya
bahkan
itu berjalan sampai 6 tahun lebih karena
saya mondok kelas 4 ya.
Saya sudah biasakan itu. Jadi saya makan
di dapur sisa-sisa intip itu sama cabe
sama garam. Sudahlah itu nikmat sambil
berdoa, "Ya Allah, rubah kehidupan saya,
masa depan saya." Hanya itu saja. Sabar,
sabar, sabar. Dan gak ada teman-teman
jarang yang tahu gitu bahwa saya itu
sangat-sangat tidak punya uang pada saat
itu. Tapi bantu tetangga untuk
mencucikan baju, dikasih makan, kadang
sesekali dikasih uang sambil nunggu
koperasi. Itu gajinya enggak mahal,
enggak ada gaji bagi saya. He.
Tapi minimal tidak minta orang tua. Jadi
saya sejak sanawiyah aliah sudah tidak
terlalu merepoti orang tua. Bahkan saya
kuliah itu juga begitu.
Saya 3 tahun itu bawa lontong.
Saya datang ke kampus, yang lain ke
kafe. Saya ke kamar mandi untuk makan
lontong karena malu.
Iya. Iya. I
tapi semua saya yakin akan diakumulasi
oleh Allah balasannya.
berarti juga ee kan tadi kan dari segi
ekonomi termasuk yang di kalangan agak
di bawah.
Oh, agak di bawah memang paling bawah.
Sudah saya halusin ini, Pak.
Sudah saya halusin.
Maksudnya bukan dari kalangan kayak
seorang ustaz begitu, bukan pondok
pesantren, pemilik begitu. Bukan, Pak,
ya?
Bukan. Bukan, ya. Saya hanya ee seorang
yang memang dari bawah, dari keluarga
yang sangat bawah, tapi punya cita-cita
yang mulia.
Ya. Dan enggak tahu saya pun di punya
pesantren pun sudahlah saya menjalani
takdir Allah ketika ada orang titip
sampai sekarang sampai ratusan sampai
santrinya bisa ke luar negeri sampai
santrinya setiap tahun itu pasti rutin
ke luar negeri. Ada tasmik 30 juz di
Makkah Madinah.
Itu semua saya jalani dan memotivasi
anak-anak. Sudahlah saya bukan dari
keluarga kiai, bukan anaknya kiai besar
atau kiai desa sekalipun. Tidak. Saya
orang biasa, tapi kemudian dengan kerja
keras Allah memberikan hal yang sangat
luar biasa yang tidak pernah saya kira
gitu.
Cita-cita tinggi tadi tadi dikatakan
saya anak dari orang biasa yang memiliki
cita-cita tinggi. Nah, cita-cita tinggi
itu dari Pak Wahyudi sendiri atau dari
orang tua Pak Wahyudi?
Saya sendiri. Karena orang tua enggak
pernah punya mimpi. Pernah punya mimpi.
Yang penting dia mondok ya.
Kemudian dia cari ilmu dan enggak
berharap apa-apa. hanya berharap anaknya
punya ilmu itu saja. Cuman mimpi pun
saya enggak pernah jadi apa jadi apa.
Mengalir saja tapi aliran saya harus
tidak boleh turun tapi arisnya harus
deras ke atas ituallah.
Jadi cor air itu nyemprot lah. Oh
iya nyembur Pak sekarang
wis sekarang semburan banyak sekarang
ya.
Iya masyaallah. Nah kembali lagi ke
koperasi. Iya.
Dari kemudian kan banyak juga koperasi,
Pak. Kalau kita bicara koperasi ada yang
koperasi biasa, ada yang koperasi
syariah. Betul.
Kalau yang di ini kan koperasi syariah.
Koperasi syariah
namanya BMT kan, Pak? Ya. BMT Baitul
Malambil gitu ya.
Ngasem. Ngasem itu melambangkan sebuah
kecamatan ya.
Kecamatan
dulu kecamatan termiskin
dulu. Kecamatan termiskin.
Iya. Nomor empat se Jawa Timur.
Nomor empat. Oh iya dah.
Betul.
Durun sekarang jadi nomor paling kaya.
Yo gaklah maksudnya sudah naiklah.
Sekarang naik jadi nomor berapa, Pak?
Kurang tahu. Kemarin saya tanya, "Pak
Camat, sudahlah itu enggak usah ditanya.
Minimal berubah gitu."
Artinya dari kawasan yang kecamatan
miskin jadi lebih baik gitu ya.
Iya, betul. Ekonominya sudah tumbuh
besar, sungguh pesat insyaallah ya. yang
kami bisa melihat dari UMKM yang kita
dampingi.
Jadi kita punya BMTM Institute yang
memang fokusnya adalah pendampingan
kepada anggota-anggota untuk naik kelas.
H.
Jadi dari mereka yang mungkin dulu
jualan biasa-biasa saja, sekarang tidak
lagi
toko-toko biasa, tapi sudah masuk ke
market-market besar.
Hm. Jadi kita bantu bagaimana
izin-izinnya lengkap, BRIT, kemudian
sertifikasi halalnya, BPOM-nya, dan
lain-lain. Kita bantu gratis dan kita
datangkan mentor-mentor bisnis
untuk mereka berpikir bagaimana sih
menaikkan usaha mereka. Tidak hanya
skala kecil, tapi menjadi skala besar
sehingga ada yang sampai impor apa
ekspor dan lain-lain gitu. sebelum ke
situ, Pak.
Iya.
Darip juta
betul
pecah telur pertama kayak sudah mulai
ada wah kelihatan bagus nih. Itu momen
apa, Pak?
Tahun ketiga kayaknya kalau tidak kedua
ya.
Jadi dulu kantor kita itu di sebuah
teras rumah dekat pasar
ya miliknya warga yang kemudian kita
sewa. He.
Dan setiap pagi anak-anak kita ajak
untuk duha.
H. Jadi sebelum kerja anak-anak duha
kemudian baca waqiah
dan karena teras itu kita tutup dengan
banner banner bekas itu
lah orang-orang ketika ke pasar ini ada
apa ya kok tiap pagi ngaji tiap habis
tiap pagi salat salat duha at 4 rakaat
kemudian waqiah kita tiga doa doa
pertama buat para anggota agar anggota
kita itu bisnisnya bertumbuh berkembang,
lancar kemudian mereka sehat walafiat
keluarganya barokah
keturunannya juga barokah.
Doa kedua mendoakan para pengelola yang
menjalankan usaha ini agar diberi
kejujuran, kemampuan, kesabaran,
keuletan, sehingga bisa mengembangkan
usaha.
Doa ketiga kepada para pengurusnya agar
kemudian mereka tetap dalam bingkai
kejujuran, transparansi, dan kemudian
akuntabilitas sehingga usaha-usaha ini
betul-betul dijaga dan diridai oleh
Allah. Itu saja harapan kita ya. Setiap
hari anak-anak dha, waqiah dan doa. Dan
setiap malam anak-anak tahajud. Bahkan
yang mulai agak seret membayarnya,
angsurannya itu kita doakan fatihai
khusus kita. Fatihah khusus ya. Bahkan
kita setiap nagih dengan cara
kekeluargaan. Kalau mereka sulit, kita
datang ke rumahnya, "Ibu, mohon izin
saya mau ngaji di rumah jenengan untuk
mendoakan jenengan." Masyaallah. Itu
cara-cara yang senantiasa kita jalan
kita doakan ya mungkin mereka lagi ada
masalah keuangan sehingga terlambat
bayarnya gak mampu mengangsurnya. Nah,
kita diskusikan lah. Kemudian tilawah
itu juga menjadi bagian wajib. Makanya
di tempat kami mereka yang ketika tanya,
"Kamu mau ngapain kok masuk sini?"
Heeh.
"Karena saya pengin jadi orang baik."
gitu ya.
Jadi masuk situ kinerja sama ibadah itu
di disinkronkan.
Ya harapan kami memang barokah itu dan
keikut serta Allah dalam mendampingi
usaha itu betul-betul maksimal.
Masyaallah. Tadi di tahun ketiga ada
apa, Pak? Tadi
tahun ketiga ketika kita pindah kantor
ya, kantor kita itu adalah pertama sewa
di kantor MBC.
Itu dulu kantor belum fungsi. Akhirnya
kita permak seperti gedung bank.
He
ya. Karena dua lantai bagus. Setiap
orang masuk apa resepsionis kita sudah
memberikan layanan, ada security-nya
dan bersih, nyaman sehingga kemudian
kepercayaan orang semakin tumbuh.
H.
Wah, semakin tumbuh. Di situlah kemudian
kita mulai berani untuk ekspansi,
membuka cabang sehingga sampai hari ini
sudah sekitar 40 cabang di empat
kabupaten.
Masyaallah. Jadi mulai dengan apa ya
berganti kantor yang lebih baik ya, Pak
ya.
Betul. Iya. Untuk membangun tras memang
untuk membangun kepercayaan akhirnya
juga sangat berdampak ya, Pak.
Iya, betul. Itu yang kemudian
mendongkrak karena memang saya berpikir
ini kalau kita tetap di sini
ya mungkin banyak orang enggak tahu.
Akhirnya kita permak kantor MBC kita
sewa profesional ya.
Ya, kita sewa setiap bulan dan setiap
tahun kita juga kontribusi ke sana
ya. Kemudian kita permak bagaimana
seperti standar perbankan. H.
Nah, di situlah kemudian orang
berbondong-bondong
semakin percaya lagi.
Karena kan orang kan meletakkan uangnya
di situ kan, Pak. Ya,
betul. Betul. Di samping memang ee
manajemen likuiditas kita juga bagus.
Kemudian
apa itu ee sistem pengendalian internal
kita juga bagus sehingga mereka ngambil
berapa pun
ada
ada mereka ngambil berapapun mereka akan
sangat mudah.
Makanya kita punya ATM itu sebagai
fasilitas. Jadi BMT yang punya ATM
kami jadi ATM di cabang-cabang kita
sehingga anggota kita yang jualan jam
.00 malam kan kantor belum buka, mereka
bisa ambil di ATM kita. Nah, benar-benar
ATM kayak perbankan umum gitu, Pak.
Betul. Betul. Jadi mereka
nyamannya di kita apa? Karena kita bisa
diambil sewaktu-waktu.
Oh.
Karena kita punya ATM dan juga kita
punya posmtungasem lim link. Kalau BRI
punya Brilink, kita punya pos BMT NU
Ngasemlindang. Ini sudah ratusan
sehingga orang kalau memang jauh dari
ATM mereka bisa ngambil di pos PM itu
ngasem.
Oh, itu kayak anu gitu ya, kayak apa?
ges atau betul jadi mereka bisa
transaksi di situ, nabung di situ, ambil
di situ dan itu sudah ratusan kita. He
dan kita memberdayakan anggota kita.
Masyaallah ada ratusan yang tadi link
tadi BMT Ngasem link.
Iya. Terus tambah ATM 24 jam.
Ada ATM-nya juga di masing-masing
cabang. Berarti ada 40 ATM.
Iya. Belum. Belum semua tapi sudah
banyak.
Oh
40 cabang, Pak. Ya,
insyaallah.
40 cabang itu di berapa kabupaten?
Kabupaten
kabupaten di mana aja, Pak?
Lamongan, Tuban, Bojonegoro, sama Ngawi.
Oh,
ya. Karena izin kita izin provinsi
sehingga bisa membuka
di semua kabupaten di Provinsi Jawa
Timur.
Di Jawa Timur. Wah, semoga di
Tulungagung, Pak, nanti.
I, semoga.
Baik, baik.
Pak ee kan sekarang juga banyak gerakan
tuh, Pak, di terutama juga di kalangan
kita seorang pebisnis ada gerakan yang
anti riba.
Iya. Berarti termasuk di BMT ini juga
sudah anti riba, Pak? Ya,
kita memang brandingnya itu
syariah, ya.
Syariah itu secara budaya kerja seperti
tadi saya sampaikan, mereka menjaga
ibadahnya, tilawahnya, tahajudnya,
dhanya, doanya.
Ya, itu bagian dari syariah yang kita
harus jaga.
Kejujuran, amanah ya siddiq, amanah,
tabligh, fatonah itu harus menjadi
bagian budaya yang harus dijalankan oleh
pengelola. itu bagian dari syariah yang
kita terapkan.
Yang kedua adalah akad-akadnya. Sudah
pakai akad syariah. Jadi di tempat kami
enggak hanya sekedar administrasi, tapi
betul-betul di akad. H.
Jadi misalkan ada orang mau beli sepeda
motor atau beli mobil, maka kita akad
dengan akad murabahah.
Ibu, jenengan mau beli mobil dengan
merek apa? Di toko mana? Nah, nanti kita
akan belikan sesuai dengan request
mereka. Setelah kita beli,
kemudian kita jual. Ibu, jenengan sudah
saya belikan mobil dengan merek ini
harga R200 juta. Kulo akad dengan akad
murabahah.
Dan saya minta margin sekian.
Hm.
Ya gimana, Ibu? Ikhlas. Ikhlas
itu akad seperti akad nikah begitu.
Iya. Iya. Iya. Benar-benar hadap-hadapan
terus kayak gitu ya, Pak ya.
Iya. hadap-hadapan kita serah terima di
situ dan kemudian perjanjiannya kita
tandatangani, jatuhlah akad. Di situlah
harapan kami ada berkah, tidak sampai
ribah. Masyaallah.
Nah, kalau mereka butuh mereka punya
modal tapi kurang modal kita akad dengan
akad musyarakah.
Ya, kita tambah modalnya untuk
pengembangan bisnis. tetap kita akad
sesuai dengan akad-akad yang diterbitkan
oleh DSNUI, Dewan Syariah Nasional
Majelis Ulama Indonesia.
Iya. Saya melihat malah ada ini, Pak.
Kalau dulu saya memahami ya,
akad anti riba atau akad ee syariah itu
hanya diakad. Tapi ternyata Pak Wahyudi
menggambarkan bahwasanya dalam
kepengurusan itu juga menjaga beberapa
ee amalan-amalan yang syariah. W.
Betul. budaya syariah harus
budaya syariah. Jadi bukan hanya akad
ternyata,
tapi budayanya juga syariah gitu ya.
Betul. Bahkan teman-teman yang study
banding ke tempat kami melihat di tempat
kami belum bisa meniru. Terutama dalam
hal budaya.
Ah
bagaimana menjaga tahajudnya?
Iya. Susah Pak tahajud kan di rumah Pak.
Gimana cara jaganya Pak?
Ya pakai aplikasi kan gitu.
Oh iya pakai aplikasi.
Iya. Jadi kalau mereka izinnya sebelum
subuh ya berarti enggak tahajud kan
gitu.
Oh izin apa itu? Izin
izin bahwa dia sudah tahajud. Oh.
Karena ini nanti berdampak kepada
tunjangan-tunjangannya.
Oh.
Ya. Walaupun memang ada pendapat
janganlah nak kita pengin membangun
budaya kan gitu. Niat kita niat bukan
untuk apa-apa. Ini memang sunah ya. Tapi
bagaimana ketika mereka menjaga
ibadahnya
maka semua perilakunya, kejujurannya,
pikirannya, hatinya senantiasa dalam
apa? Bingkai yang ditetapkan oleh Allah.
Tidak sampai keluar dari rambu-rambu
yang telah ditetapkan Allah dan
Rasulullah. harapan kita ya ketika
pengelolanya seperti itu, pengurusnya
seperti itu, maka saya yakin perusahaan,
koperasi dan apapun itu akan dijaga oleh
Allah. Tidak hanya dijaga, diridai,
diberkahi. Itu yang kita harapkan gitu
loh ya. Budaya ini. Jadi tidak hanya
sekedar akad-akad, tapi budaya termasuk
dari yang kita kasih pembiayaan mereka
juga harus syari.
Oh, gitu.
Iya. Kita kawal kan gitu. Makanya kita
juga ada namanya K Institute
H
yang kita kasih gratis supaya kita bisa
mengawal bagaimana bisnis mereka.
Jangan sampai ada transaksi-transaksi
yang ribawi yang kemudian masuk. Jangan
sampai ada transaksi-transaksi yang
haram yang kemudian masuk sehingga masuk
kepada koperasi kita.
Maksudnya berarti yang nonmuslim enggak
enggak bisa dibiayai ya atau seperti
apa? Ya bisa. Cuman kan barang-barang
yang haram kan kita enggak boleh.
Oh barang-barangnya
kan kita mesti tanya ini untuk apa kan
gitu. Kalaupun toh untuk usaha. Kalau
misalkan untuk yang dilarang oleh Islam
ya tentu tidak kita biar
saya mau buka miras gitu enggak bisa,
Pak. Ya
saya mau buka miras saya pengajuan gitu
enggak bisa ya.
Iya sudah pasti orang melihat pasti wis
enggak mau ya enggak akan diacak
boleh ya Pak ya. Kalau yang menurut
agama Islam itu tidak diperkenankan itu
tidak tidak bisa dicairkan.
Iya. Iya. Jadi batas-batas syariah itu
kita betul-betul jaga dan DPS kita itu
memang aktif. Jadi dewan pengawas kita
itu selalu melihat termasuk
transaksi-transaksi di akad itu selalu
dilihat
ini sudah sesuai syariah tidak
sesuai dengan DASN MUI atau tidak.
Ya. Sehingga harapan kita dalam apa
transaksi akad pun juga jangan sampai
kemudian ee tidak syariah. Tidak syari
ya.
Baik. tadi kan ee ada kemudian juga
banyak BM banyak koperasi-koperasi lain.
Nah, itu maksudnya gimana, Pak? Ini
berarti kalau yang ini satu koperasi.
Jadi awalnya kita itu simpan pinjam.
Oke.
KSPPS namanya koperasi simpan pinjam
pembiayaan syariah. Heeh.
Setelah bertumbuh berkembang kok kita
enggak bisa hanya bisnis ini.
Hm.
Ya, karena likuiditas kita itu sangat
banyak. Oh,
maka kita harus melihat celah untuk
mengembangkan usaha. Dan ternyata di
Undang-Undang perkoperasian itu kita
bisa mendirikan koperasi konsumen,
koperasi produsen, koperasi jasa.
Nah, dari situlah kemudian kita
mendirikan koperasi konsumen yang
kemudian ada swalaian. Kita sudah
beberapa swalaian ya dan insyaallah kita
lebih murah harganya dan lebih ramai.
Wah,
kalau di toko-toko modern lain itu
biasanya transaksi hariannya antara 300
400, kita sudah 800 sampai 900 itu per
hari.
Oh,
artinya apa? Swalayan kita itu sudah
lebih ramai daripada apa toko-toko
modern yang sudah menasional itu.
900 tapi apaak tadi?
900 transaksi harian.
Iya. dibandingkan dengan toko
modern yang lain umumnya di bawah itu di
bawah itu antara 400
ya sampai ee 300400 ya
artinya ramai
lebih ramai dibanding dan suara kita
seperti itu. Kemudian juga ada apa
online. Jadi konsumen itu mengelola dua
bisnis. bisnis toko offline, toko
swalayan tadi. Yang kedua, bisnis
online. He. Heeh.
Yang kedua ada ee koperasi produsen.
Kita punya air dalam kemasan. Nah, kita
sudah punya pabrik dan kita sudah
distribusi ke 20 kabupaten di Jawa
Tengah dan Jawa Timur.
Kemudian ada juga food ya, karena gedung
kita itu empat lantai dan ada food di
situ. Kemudian ada koperasi jasa. Nah,
koperasi jasa ini ada banyak bisnis.
Mulai dari barbershop, mulai dari
refleksi ajib dan ajaib,
terus itu syariah. Jadi yang majet ya
laki-laki sudah bagus ajib dan ajaib g.
Oh iya. Jadi refleksi ajib dan ajaib itu
laki-laki yang mijet ya. Laki-laki
perempuan ya perempuan dipisah
tempatnya.
Kemudian ada juga bekam. Kemudian ada
apa? Eh, kalau tadi barbershop kan untuk
laki-laki, ada rumah cantik untuk
perempuan ya. Kemudian sekaligus potong
rambut untuk perempuan muslimah itu.
Karena kadang-kadang banyak orang
kesulitan cari salon. Rata-rata salon ya
mereka-mereka yang tidak berjilbab. Nah,
ini kita sediakan
salon muslimah ya. Kemudian ada juga
case host atau hotel. kita punya hotel
syariah dan alhamdulillah tidak kita
sudah kerja sama dengan Traveloka
ee God dan lain-lain sehingga
alhamdulillah sudah banyak termasuk dari
luar negeri yang punya bisnis di
Indonesia atau di Bojonegoro juga banyak
yang
apa itu nginep di situ. Terus ada
ballroom
ya kapasitas 1000 orang. Kemudian ada
kolam renang, ada kafe. Ya, kafe juga
begitu kita batasi. Enggak boleh
miras-miras ya.
Kalau kalaupun takaroke ya kalau bisa
muslim ya. Lagu-lagu ya enggak harus
nasib kan ya. Pokoknya enggak sampai
dilaranglah gitu ya. Misalkan lagu-lagu
nostalgia enggak apa-apalah gitu ya.
Kemudian ada playground, ada percetakan,
ada tour and travel. ini di koperasi
jasa lah. Empat koperasi ini KSPS,
Koperasi produsen, koperasi konsumen,
koperasi jasa terhimpun membentuk sebuah
koperasi sekunder. Lah inilah yang
dinamakan holding koperasi.
Nah, kebanyakan holding itu kan holding
company. Nah, ini holding koperasi.
Jadi, semuanya
lewat izin koperasi.
Koperasi koperasi. Jadi, holding
koperasi punya anak turunan
koperasi-koperasi
koperasi primer empat gitu. yang itu
kemudian kemarin di apa diresmikan ada
bangunan megah itu Pak ya.
Iya betul ada lima lantai dan itu semua
bisnis ada di situ.
Masyaallah
ya. Jadi kita memang kepengin makanya
kemarin Sesmenkop Pak Zabadi mengatakan
ini holding pertama di Indonesia.
Holding koperasi maksudnya.
Holding koperasi pertama.
Iya. Artinya apa? Banyak mereka koperasi
punya tapi lewat PT bukan koperasi lah.
Ini kan enggak. Oh.
I I
jadi holdingnya sekundernya itu
koperasi-koperasi.
Heeh. macam-macam tadi lah. Kebanyakan
teman-teman yang koperasi-koperasi besar
itu punya tapi PTPT PT kan gitu lah.
Makanya mereka company kan gitu bukan
bukan koperasi lah ini holding koperasi.
Makanya beliau mengatakan
apa itu ini holding pertama di
Indonesia. Makanya kemarin Pak Menteri
pingan saya pengin datang. Oh.
Nah, untuk lihat apa holding koperasi
mungkin bagi yang belum paham, Pak. Saya
sendiri juga agak apa ramu-ramu gitu,
abu-abu gitu loh.
Apa sih e kalau holdingnya koperasi
seperti apa, kalau holdingnya PT
bagaimana? Begitu
ya sebenarnya sama cuman manajemennya
kalau sudah koperasi kan anggota. Kalau
PT itu kan bisa dimiliki perseorangan.
Milik bisa jadi perseorangan atau
keluarga begitu ya.
Iya. bisa keluarga atau bisa beberapa
orang sharing di saham kan gitu. Iya.
Tapi kalau koperasi itu kan
milih anggota
kemudian untuk anggota
dan dari anggota kan gitu. Nah, mereka
sejahtera bersama kan gitu lah. Itu
harapan kita sehingga enggak ada yang
dominasi.
Mereka punya hak yang sama karena
simpanan pokoknya sama. Tapi kalau PT
bisa jadi mayoritas kan gitu. Nah,
pengendali utama. Nah, harapan kita
memang itu kan dalam Undang-Undang Pasal
33 ayat 1 kan begitu
ya. Perekonomian itu memang
koperasi itu sebenarnya. Nah, itu kan
digaungkan mulai zaman Nabung Hatta.
Heeh.
Bahwa koperasi itu menjadi soko guru
perekonomian Indonesia. Harusnya begitu.
Tapi sampai sekarang kan tidak. Karena
memang belum masif pergerakannya. Yang
didengar di berita-berita itu yang
jelek-jelek. Padahal banyak koperasi
bagus loh ya. Koperasi-koperasi kayak
Sidogiri UGT ada maslahah itu kontribusi
zakatnya saja itu puluhan miliarah
kepada pesantren
ya sehingga tiap tahun dari hasil usaha
zakatnya diserahkan ke pesantren
ya pengelolanya yang gajinya besar juga
ditaruh di pesantren sehingga pesantren
cari anak-anak yang enggak mampu di
Kalimantan, di Papua, di Sumatera untuk
mereka mondok dan mereka dibiayai dari
dana itu.
Dari dana yang tadi itu tadi.
Iya. dari infak, dari zakat ya, dari
manfaat wakaf dan seterusnya ya.
Masyaallah. Berarti saat ini ada berapa
orang yang terlibat, Pak, dari BMT
Ngasem itu, Pak?
Ada sekitar
hampir berapa ya? 400 atau mungkin ya.
400 orang.
Iya. Kalau kami kan pengelola.
Oh.
Lah, kalau anggota banyak. Kalau anggota
kan sudah.
Oke. Oke. Anggota.
Kalau pengelola. Nah, pengelola yang
kerja itu kita namakan bukan karyawan
tapi santri.
Oh. Walaupun mereka bekerja tapi kita
namakan santri. Tujuannya apa? Satu,
mereka menjaga ibadahnya.
Mereka tetap mau belajar.
Yang ketiga, mereka harus menjaga
kejujurannya. Mereka harus takzim juga
kepada yang di atas.
Jadi, prinsip-prinsip itu yang kita
jaga. Makanya walaupun mereka sudah
enggak mondok, tapi kita namakan dengan
santri-santri karya lah gitu.
He. Santrinya nyantri di BMT Ngas.
Nah, begitu. Karena harus ngaji juga
kan. Harus Iya. Harus tahajud juga.
Tahajud. Harus
berarti ada yang sampai-sampai tua
begitu, Pak, santrinya ya senior
sementara anak-anak seusia berapa ya? 38
belum kayaknya yang 40
dan kita dorong memang mereka harus ee
apa itu kuliah
yang sudah S1 kita dorong S2 dan ini
alhamdulillah sudah mau wisuda S2 dan
kita dorong juga untuk masuk S3 ke
depannya kita berpikir dan bercita-cita
koperasi ini menjadi koperasi besar
seperti koperasi-koperasi besar di dunia
di di di luar negeri He
perusahaan besar, bank-bank besar,
klub-klub besar itu dimiliki oleh
koperasi. sih.
Oh, gitu, Pak, ya.
Iya.
Dan banyak ya. Cuma
contohnya apa, Pak? Contohnya
ya kayak apa ya ee
klub-klub besar apa Barcelona atau apa
ee Oh, klub sepak bola.
Iya. Sepak bola besar termasuk klub
basket di apa di Amerika itu kan juga
ada yang miliknya koperasi
termasuk bank-bank besar.
Cuman banyak orang enggak tahu.
Nah, lah kita berpikir ke sana. Makanya
kemudian santri-santri karya ini setiap
Sabtu kita wajibkan belajar bahasa
Inggris.
Harapan kita ke depan bisa kerja sama
dengan koperasi-koperasi besar di dunia
di luar sana ya. Masyaallah.
Baik, sekarang kita ngomongin dampak
Pak.
Dampak. Jadi kan berawalnya dari MW NU
lah gitu ya. N Kecamatan Ngasem ini
sudah berkontribusi apa di dengan
Ngasemnya itu?
Ya. Jadi karena sejak awal sudah
kontribusi ya, cuman bertahap ya, tapi
sekarang rata-rata per tahun R miliar.
Oh, mas.
Jadi ketika NU bahkan PWNO bahkan PBNU
pun itu bingung cari dana untuk
operasional. Tapi di MBC Ngasem
setingkat kecamatan he
1 tahun sudah dapat R miliar lebih. He.
Sehingga ketika NU NU yang lain mau
mengadakan acara, bingung nanti
anggarannya dari mana. Kalau rapat
bingung ketuanya karena harus tekor
terus, harus keliling-keliling cari dana
atau tekor sendiri gitu, Pak. Ya.
Akhirnya kadang-kadang enggak mau rapat
walaupun 5 tahun karena bingung
mengeluarkan uang. Kalau ketuanya kaya
enggak apa-apa gitu ya. Tapi kalau
enggak akhirnya di tempat kami tidak.
Setiap akhir tahun uang ini kita
serahkan
ya. Monggo dipakai untuk 1 tahun ke
depan
ya. menyusun program sekaligus anggaran
monggo dihabiskan karena tahun depan
akan ada dapat bagi hasil. Jadi
anggota-anggota BMTNU Ngasem Grup ini
kemudian sepakat sekian persen kita
kontribusikan kepada MWCNU Kecamatan
Ngasem sehingga MWCU Ngasem yo sekarang
wis enggak mikir anggaran tapi fokus
menyusun program, mensukseskan program
sehingga mereka bisa membantu banyak
orang. termasuk ada ambulans dua
yang setiap bulan itu 200 ee 200 lebih
pasien itu R0.
Hmm.
Ketika ada orang-orang tetangga kita
jangankan untuk berobat, untuk ngangkut
pasien saja itu harus nyarter 500 lebih
per antaran. Nah, ini dengan ada ambulan
2 ini kita mampu mengantarkan sekitar
pasien. kemarin data akhir 2025 itu
sekitar 200 eh 2.000
dalam setahun.
Dalam setahun
itu gratis R0. Itu dampak ketika MBC
sudah punya
anggaran kemudian beli ambulans. Yang
satu ambulans kita kasih.
Nah, mereka tinggal memikir operasional.
Operasional dari mana?
Ya, dari kemandirian tadi. Itu salah
satunya. Nah, yang kedua banyak
anggota-anggota kita yang kemudian
mereka dulu jualan kerupuk satu kresek
merah itu 200 ee Rp20.000 dengan kita
dampingi mereka bisa packaging yang
bagus, kemudian mereka punya jaringan
kita bantu
sehingga sekarang jadi 200 kresek besar
itu jadi Rp200.000 kan sudah lumayan
meningkatkan pendapatan anggota. Nah,
jadi dampak-dampak itu yang mungkin bisa
kita berikan. Termasuk ada benah guru
ngaji ya
yang rutin kita
adakan setiap bulan sekali. Termasuk
ADMI Akademi Takmir Masjid Indonesia.
Kita membuat organisasi kita kumpulkan
monggo takmir-takmir masjid yang
kepingin memakmurkan masjidnya.
Oh, dibantu begitu, Pak.
Dibantu manajemen. Bagaimana sih biar
memakmurkan masjid? He.
Jadi ada satu masjid di Sekar yang dulu
pernah saya jualan di situ
yang jadi tadi pas ke gunung itu tadi
kan
itu kan ikut program ADMI Akademi Takmir
Masjid Indonesia yang dibuat oleh
BMUasem.
Nah, dia kok jemaahnya subuh sampai
ratusan ya. Saya enggak percaya. Saya
datang enggak ngomong-ngomong bahwa saya
pengin membuktikan. Betul enggak? Saya
datang jam .00 sebelum subuh dan
ternyata takmirnya sudah bersih-bersih,
menata dan kan mau ada sesuatu yang
dikasihkan gitu.
Jadi anak-anak itu banyak juga satu
keluarga datang salat jemah.
Oh, ternyata di pelosok desa yang dulu
ini sangat tertinggal agamanya, sekarang
sudah ramai. Itu kan dampak yang sudah
kita berikan ya.
Maksudnya ada yang ngasih itu tadi di
situ ada program untuk pemerintah apa
begitu?
Ada orang iya. Dikasih apa gitu ya.
Oh.
Heeh. Akhirnya masjid-masjid yang lain
niru. Ada yang program sudahlah lek kamu
satu keluarga datang bapak ibu sama
anaknya nanti anaknya enggak usah sangu
sekolah tak sangoni dari sini lah.
Akhirnya orang-orang tua juga banyak
yang ikut itu
kayak gitu berarti dari angg
dari warga dari Agnia yang punya
kepedulian ya. Kita membangun saja
program dan kita tawarkan yang baik.
Saya yakin adalah banyak orang punya
kepedulian.
Iya. Iya. Nah, itu nanti pengelolaannya
dibantu tadi di Ajmi tadi
iya kita bina bagaimana sih meramurkan
masjid
ya meramaikan masjid ada kafe anak
muslim kita ajari digitalisasi di situ.
Kita ajari bisnis di situ. Anak-anak
muda daripada kamu nongkrong di warung
enggak ada gunanya, enggak ada ide-ide
yang kreatif mending di masjid. Satu
bisa ada pahala iktikaf. Yang kedua,
kemudian kita bisa menjaga ibadah kita.
Nah, yang ketiga,
kita dapat pengalaman karena ada
materi-materi yang kita berikan ya
sesuai dengan kebutuhan masa depan
anak-anak.
Ada juga, Kak, kalau enggak saya ingat
itu program bedah rumah, Pak.
Benah rumah.
Benah rumah ya.
Ya, kadang ada yang bedah, ada yang
rumah, tapi kebanyakan benah.
Benah rumah berarti mereparasi begitu.
Betul. Tapi ada juga yang memang di
benar-benar dari setup dari awal gitu.
Iya. Jadi, guru-guru ngaji itu kan mau
upah karena gajinya enggak ada kan gitu
ya. Tapi mereka punya kepedulian kepada
anak-anak tetangganya, anak-anak satu
warga.
Itu kan kalau kita enggak mikirkan siapa
lagi? Enggak ada anggaran dari
pemerintah juga. Maka kita masuk di
situ, minimal kita bangunkan apa itu
rumah. Bahkan kemarin yang barusan kita
launching itu
sampai kaget itu sudah mau roboh itu.
Dan ternyata dia dobel dapat benah
rumah, dapat umrah juga.
Oh.
Tapi dari orang lain gitu loh maksudnya.
Oh, berarti kan doble berkahnya itu ya.
Jadi pas bangun
pulang itu dari rumahnya sudah ganti. W
masyaallah. Saya membayangkan kayaknya
indah gitu, Pak ya di sana, Pak. Ayo
saya mau pindah Ngasem aja, Pak.
Katanya kalau pengin bahagia selamanya,
bantu banyak orang sebanyak-banyaknya
katanya gitu ya. I
ee itu hanya disampaikan orang. Saya
hanya menjalankan sajalah. Ee
kadang-kadang kita berpikir membantu
orang kan artinya harta kita berkurang.
Oh tidak juga
justru bertambah.
Itu janji Allah kok. Iya. Iya.
Hanya orang yang enggak yakin saja
yang merasa bahwa ketika kita memberi he
kurang. Tapi sejatinya tidak. Allah akan
melipat gandakan kok. Justru ketika kita
memberi kita akan mendapatkan lebih, kan
gitu.
Ee cuman keyakinan saja sejauh mana itu
akan terjadi pada diri kita.
Memupuk keyakinan itu bagaimana Pak?
bagi orang-orang yang belum yakin
ya. Satu edukasi saja.
Edukasi yang kedua stimulus agar mereka
punya pengalaman. Kalau enggak punya
pengalaman enggak akan bisa. Tidak dari
hal yang besar, dari hal kecil dulu. H
ya. Dari mana juga ya tadi dari
komunitas ADMI harapan kita kalau mereka
sering ke masjid otomatis kan ada banyak
petuah-petuah baik, nasihat-nasihat baik
yang harapannya akan menyentuh hati
mereka, meluluhkan hati mereka. dan
kemudian membuka mata hati mereka untuk
bisa ikut apa aksi-aksi kebaikan yang
kita tawarkan gitu.
Ah, ini kayaknya sudah panjang juga,
Pak, kita berdiskusi.
Makasih. Makasih, Mas Agung.
Kalau bahasa orang umum itu, kalau
bahasa bisnis itu ada end game, Pak.
Endgame itu adalah sebuah akhir dari ini
atau sebenarnya Pak Wahyud itu apa yang
akan dicari? Endgame-nya apa?
kayaknya saya ada saya enggak ada N-nya
ya.
Enggak ada N-nya, Pak ya. Gimana itu,
Pak?
Maksud saya, saya enggak pernah sudahlah
saya jalankan saja apa yang kemudian
Allah takdirkan
memberikan yang terbaik apun yang Allah
telah beri kesempatan buat kami.
Saya enggak tahu nanti akhirnya seperti
apa. Saya hanya husnudan ke Allah karena
Allah itu sesuai prasangka hambanya. Ana
indadonni abdi katanya
gitu. Saya punya keyakinan itu saja.
Sudah. Saya mengalir tapi memberikan
yang terbaik sampai Allah mengatakan,
"Sudah waktunya kamu selesai." Itu saja
biar
apa?
Enkim-nya itu dari Allah saja.
Oh. Jadi enggak pernah membayangkan
nanti bakalan seperti apa. Yang penting
lakukan sekarang yang terbaik begitu,
Pak.
Bagi saya itu Allah itu sangat baik.
Allah tahu yang terbaik. Masa depan kita
seperti apa, akhir kita seperti apa. Ya,
husnudan ke Allah. Itu saja yang mungkin
saya
selalu sanamkan. Jadi kita tidak
menghabiskan waktu untuk berpikir yang
negatif, berpikir yang tidak produktif,
kontraproduktif. Sudah berpikir yang
positif saja.
Allah itu sangat perencana yang terbaik.
Waru wakarallah. Kita punya rencana tapi
Allah kan punya rencana. Wallahu khairul
makirin.
Tapi rencana Allah adalah rencana
terbaik.
Makanya saya enggak berencana sudah biar
Allah yang merencana.
Oh yang penting setiap kita hadapi yang
terbaik. yang terbaik itu saja. Allah
akan menata dan saya merasakan banyak
hal, keajaiban-keajaiban itu dari situ.
Hmm. Contoh, Pak
ya. Pada saat kami pengin
apa itu umrah asyurul awakhir pada saat
itu ekonomi belum anu kan gitu.
Heeh. He he.
Saya pengin, "Ya Allah, saya pengin
umrah pertama saya adalah umrah Asyrul
Awakhir."
Umrah apa, Pak?
Umrah Asyrul Awakhir akhir 10 hari akhir
Ramadan. Oh.
apa iktikaf di
Iya di Masjidil Haram
sambil mengharap lailatul qadar ya.
Iya. Saya itu mimpi pertama. Heeh. Heeh.
Dan saya sampai lupa. He
he.
Karena saking mintanya itu lupa itu
ketika saya sudah lupa, ternyata Allah
takdirkan
orang banyak datang menawarkan umrah.
Tapi enggak umrah asrwakhir. Heeh. Heeh.
Tapi ada teman saya satunya itu ngomong,
"Pak Ustaz, kirimkan paspor. Untuk apa?"
"Sudahlah kirimkan." saya kirimkan. Oh,
saya sudah buat ospor sebelumnya.
Kemudian
saya datang, Ustaz, besok tanggal sekian
datang ke Malang. Saya datang ke Malang,
saya nurut saja.
He.
Ternyata suntik miningitis dan kemudian
manasik.
Ustaz, besok tanggal ketemu di Juanda ya
berangkat Asrul Awakhir. Sudah itu
bagian dari ketika kita sudah terbaik,
Allah jauh memberikan yang lebih baik.
ketika kita minta sampai yang kita minta
itu sudah lupa
bahwa kita sudah pernah minta itu.
Nah, itu bagian dari balasan Allah yang
masyaallah ya. Termasuk saya ngurusi
guru ngaji, saya enggak pernah bayangkan
punya pesantren.
Dan ternyata ketika ada santri saya
didik.
Jadi kamu ke kelas 3 SMP harus punya
paspor. Dan alhamdulillah setiap tahun
anak-anak berangkat ke luar negeri. Saya
motivasi dan rata-rata santri saya
adalah kelas menengah ke bawah. H
mereka yang rumahnya ya Allah
kadang-kadang satu keluarga hanya satu
kamar padahal keluarganya ada lima.
Hm.
Ayo kamu harus sukses. Ayo kamu harus
bisa bahagiakan orang tua. Kamu harus
bisa ngumrohkan orang tua.
Syukur kamu bisa haji dan umrah bareng
orang tua. Sudahlah enggak ada yang
enggak mungkin di dunia ini ketika kamu
yakin kepada Allah. Dan alhamdulillah
ada yang merealisasikan itu.
H.
Jadi sampai orang tuanya nangis. Loh,
uang dari mana? Ternyata dia karena jadi
musyrifah ya kan dapat mukafaah
disimpan, disimpan dapat kiriman
kadang-kadang dia simpan dan ketika
orang tuanya pengin umrah dia
realisasikan.
Yaah itu sudah bagi kami kepuasan. Nah
kamu enggak usah memberi saya. Kamu
memberikan orang tua, bahagiakan orang
tua, bermanfaat buat sesama, itu sudah
kepuasan yang luar biasa bagi saya.
Masyaallah. Jadi ada juga pondok
ternyata ya. Ada pondok
ee di rumah. Yahk namanya ya.
Yahki.
Yayasan Hafiz Quran Indonesia.
Jadi setiap hari ngomong empat bahasa.
Pagi bahasa Arab, siang Mandarin, sore
Jepang, malam bahasa Inggris. Wajib
setiap hari. Kecuali hari Jumat wajib
bahasa Jawa halus.
Karena jangan sampai ngerti
jawanya jawanya jangan tertinggal, Pak.
Ya.
Nah, dia pintar bahasa asing, tapi
bahasa jawanya enggak bisa halus. sama
orang tua, sama orang-orang yang lebih
di tetangganya kan harus juga halus dan
liburannya berdasarkan perubahan
karakter.
Jadi ketika dia di pondok bagus
karakternya, dia bisa dapat jatah
sambangan lebih lama, dapat pulang lebih
awal
dan ketika di rumah dia enggak
menyucahkan orang tua, bahkan 30 50%
pekerjaan orang tua bisa dia bantu, dia
akan dapat tambahan libur lebih.
Oh, gitu ya. sehingga karakter di pondok
sama di rumah sama.
Ah,
bisa menjaga ibadahnya, bisa menjaga
murajaahnya. Kita apresiasi.
Saya baru dengar yang kayak gitu, Pak.
Ya, itu berdasarkan pengalaman kami. Oh,
ternyata ini kebutuhan membentuk
karakter itu penting.
Nanti ketika di dunia kerja, dalam
kehidupan nyata, dalam perjuangan,
karakter ini sangat dibutuhkan.
Betul. Betul.
Untuk membawa perubahan, untuk membawa
kemajuan dan kesuksesan.
Betul. Karena memang saya juga melihat
itu beda karakternya, Pak. Anak
pesantren ketika di rumah kayak ibarat
bebas gitu loh. Bukan bebas, balas
dendam.
Balas dendam
lah. Ini saya enggak mau.
Oke.
Maka saya buat konsep liburan kami
enggak ikut peraturan apapun.
Kamu bisa libur
bahkan setiap 3 bulan asal kamu di
pondok produktif.
Hmm.
Kamu dapat jatah sambangan. Kalau kamu
enggak produktif, kamu hanya bisa
setengah jam.
Hm.
Tapi kalau kamu produktif bisa sehari,
bisa setengah hari dan lain sebagainya.
Dan itu yang membangun mental.
Yang kedua, leadership kami ajarkan.
Jadi, bagaimana mereka memimpin karena
kami melihat terutama saya ngalami di
perusahaan,
betapa butuhnya kita leader-leader yang
bagus bisa menggerakkan dirinya dan
menggerakkan bawahannya. Itu penting
untuk bisa maju semua perusahaan.
Kalau ada kader seperti ini akan sangat
bagus. Yang ketiga adalah
entrepreneurship. saya ajari
bagaimana sih mereka berpikir tidak
menjadi karyawan, tapi bagaimana mereka
entrepreneur?
Yang keempat adalah bahasa tadi. Yang
kelima adalah mereka harus punya
karakter. Dan terakhir mereka harus
tasmik 30 juz di Makkah dan Madinah.
Masyaallah.
E dorong mereka untuk dan alhamdulillah
sudah ada empat yang sudah
tasbih 30 juz di Mekah Madinah. Oh enam
kayaknya
sudah enam.
Saya aja jadi keinginan anak saya
sekelah di situ, Pak. Ya, semoga
semoga
lagi mungkin ada juga mungkin Pak
tapi bukan cewek. Oh, bukan cowok
sementara masih cewek.
Waduh, ini
masih memang banyak yang
kepingin tapi saya yes doa saja saya
masih belum belum bisa merelasi
masih cewek mungkin anaknya apa penonton
pecah telur yang ingin yang memiliki
anak cewek dan ingin semoga
sekolah di sana bisa Pak ya
semoga saja ya tarik Allahlah yang
menggerak
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:12 UTC
Categories
Manage