File TXT tidak ditemukan.
Dulu Hidup Susah, Kini Jadi Presiden Direktur dengan Aset Hampir 1 Triliun
Zpj2nhbZ3nc • 2026-01-28
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id dulu itu berangkat ke Ngasem itu sebagai seorang penjual di pasar. Betul. Yang sekarang mendirikan BMT. BMT Ngazem yang saat ini tadi saya baca asetnya sudah seteng triliun. Betul. Saya sudah biasakan itu. Jadi saya makan di dapur sisa-sisa intip itu sama cabe sama garam. Sudahlah itu nikmat. Sambil berdoa, "Ya Allah rubah kehidupan saya, masa depan saya." Hanya itu saja. Sabar, sabar, sabar. Dan ada teman-teman jarang yang tahu gitu bahwa saya itu sangat-sangat tidak punya uang pada saat itu. Di mana pun kamu berada, lakukan yang terbaik. Hm. Kamu akan jadi yang lebih baik. Karena Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya. Bagi mereka yang punya niat baik. Kalau mereka butuh, mereka punya modal tapi kurang modal. Kita akad dengan akad musyarakah. He ya kita tambah modalnya untuk pengembangan bisnis. Akad anti riba atau akad ee syariah itu hanya diakad. Tapi ternyata Pak Wahyudi menggambarkan bahwasanya Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Masyaallah senang sekali kehadiran Pak Presiden Direktur dari BMT Ngasem. Terima kasih, Pak Agung. Semoga Pak Agung keluarganya dan pecah telur semakin maju semakin sukses. Amin ya Allah. Semoga jenengan semanten ugi. Terima kasih. Makasih. Jadi saya cukup kaget-kaget Pak ketika baca bukunya Pak Wahyudi, Pak Presiden Direktur BMT Ngasem ini yang terima kasih dulu itu berangkat ke Ngasem itu sebagai seorang penjual di pasar. Betul. Yang sekarang mendirikan BMT. Betul. BMT yang saat ini tadi saya baca asetnya sudah seteng triliun. Betul. Heeh. Masyaallah. Ini sangat signifikan sekali, Pak. Iya. Iya. Iya. Jadi dulu sebenarnya kami itu di Bandung dan di Jakarta ya. Saya punya aktivitas sebagai editor di beberapa penerbit ya sebenarnya karena kami background-nya memang penulis. Hm. Tapi oleh mertua suruh pulang kemudian suruh bantu orang tua jualan dan kami memahami hadis Nabi. Sudahlah terima takdir dengan ikhlas. Wah. Nah, itu saja mungkin modal kami keyakinan kepada Allah bahwa di mana pun kita berada kita akan bisa bertumbuh berkembang sesuai dengan rida dari Allah Subhanahu wa taala. Itu kata-kata yang singkat tapi sangat susah untuk dijalankan. Menerima takdir dengan ikhlas. Ketika Pak Wahyudi pulang ke diminta pulang kemudian ke Ngasem itu kan belum tahu mau jadi apa di sana. Iya betul. Saya enggak pernah berpikir. Yang penting saya memberikan yang terbaik, berbuat yang terbaik. Allah itu maha baik akan memberikan yang jauh lebih baik insyaallah. Oke, kita runut dari dari awal dulu. Lantas ketika pulang ke Ngasem apa yang dilakukan Pak Wahyu? membantu orang tua karena memang disuruh pulang itu suruh meneruskan usaha orang tua, mertua maksud saya karena saya asli Pasuruan, istri saya orangem Bojonegoro dan saat itu mertua pengin saya pulang sajalah bekerja meneruskan usaha orang tua mertua yang di pasar itu. Yang di pasar itu. Jualan apa itu, Pak? Itu jualan macam-macam. ada obat-obatan, kemudian ada palen. Kalau palen itu segala sesuatu kebutuhan pokok itu. Wis pokoknya ada tas, ada apa itu sepatu dan lain-lain ya. Apa yang bisa kita jual, kita jual. Kita neruskan saja neruskan mertua sambil kami juga membuka usaha yang lain gitu. Di apa itu katanya itu jauh, Pak ya. Jadi waktu berangkat dari rumah ke pasar itu cukup melelahkan itu ya. Ada dua pasar yang agak jauh. Yang pertama itu di Sekarsekar itu kecamatan lain di atas gunung. Jalannya tidak seperti yang sekarang. Dulu itu harus muter. Jadi kami berangkat itu pon ya sore hari nanti nginp di sana dan waginya kita jualan. Nanti pulang magrib bahkan sampai isya baru nyampai di rumah. Ah. Jadi nginp di tempat lokasi di mana kita mau berjualan. Ahad wagi apa setiap wagihnya pasaran wagih. Kalau dulu kan pasarannya setiap pasaran Pak ya ada kliwon, paing dan lain-lain lah. Kebetulan satu pasar yang jauh ini pasar Wagi dan itu ramai dulu karena memang akses untuk keluar jauh sekali sehingga jualan di sana pasti ramai gitu. Jadi dibelan-belani kayak gitu ya, Pak. Betul. Harus berangkat satu hari sebelumnya. Baikbaik. Iya iya. Ee jadi menjadi seorang pedagang di pasar kemudian menjadi pengelola BMT ini kan agak jauh Pak kalau kita lihat dari apa kacamata ilmu background sebagainya kan jauh ini bagaimana kok bisa dari pedagang bisa mendirikan PMT betul saya di manaun pedad saya selalu pegang kata-kata guru saya di mana pun kamu berada lakukan yang terbaik h kamu akan jadi yang lebih baik karena Allah akan selalu memberikan yang terbaik baik untuk hambanya, bagi mereka yang punya niat baik. Itu saja prinsip yang selalu saya pegang. Dan kemudian saya sadar ternyata dulu saya ketika sanawiyah itu pernah pegang koperasinya Aliah dan ketika Aliah saya pegang koperasi dan saya enggak tahu oh ternyata Allah takdirkan begitu indahnya sampai kemudian kami sekarang ngelola holding koperasi gitu ya. Ternyata ketika flashback pun ada juga gitu ya bekalnya gitu ya. sadarnya baru ketika sudah holding ini. Jadi apapun yang kemudian kita jalani sebenarnya nanti akan ada sebuah peristiwa di masa depan ya itu akan relate gitu Pak ya. Betul. Cuman makanya kata ulama sufi kan mengatakan lau alimal insan alal aqdar la baqa. Wah apa itu Pak? Artinya apa? Kalau orang itu ngerti di balik hikmah takdir Allah mereka akan nangis. Begitu baiknya Allah, begitu indahnya Allah merencanakan kehidupan buat kita. Masyaallah. Itu hanya apa? Pemahaman kamilah gitu ya. Iya. Iya. Jadi tadi juga disebutkan intinya di setiap apa yang dikasih kesempatan dilakukan yang terbaik. Betul. Oh. Termasuk kepada santri-santri saya, kamu di mana pun berada terima takdir itu dengan cara berbuat yang terbaik. Apa yang kamu sekarang jalani? Jalani dengan cara yang terbaik. Insyaallah kamu punya masa depan yang lebih baik. Ah, masyaallah. Lanjut lagi, Pak. I dari seorang pedagang di pasar kok kemudian punya BMT, Pak. Itu bagaimana, Pak? Betul. Iya. Dulu sejarahnya kami ketika di Ngasem itu di samping berdagang, kami juga berjuang. Jadi kami mendirikan PGTP itu guru-guru di pelosok-pelosok desa kan banyak yang mereka itu tidak pernah mondok tapi ngajar-ngaji dan jiwa perjuangannya itu lebih tinggi daripada anak pesantren. Sehingga mereka enggak punya kemampuan. akhir kami dirikan kuliah gratis 1 tahun kita datangkan kita ajari metodologi pengajaran, pembelajaran, kita ajari kurikulum kemudian kita ajari manajemen keuangan dan seterusnya sehingga guru-guru itu lebih baik lagi dengan adanya ini. Kemudian kami diajak masuk ke kepengurusan MWCNU Kecamatan Ngasem pada saat itu. Tapi saya memberikan syarat, saya mau kalau nanti NU ini punya sumber dana sehingga NU itu tidak lagi narik urunan tapi betul-betul dikelola dengan profesional. Nah, sehingga dari situlah awalnya kami mengusulkan agar berdiri koperasi. banyak yang menentang dan banyak yang enggak setuju ya dengan modal awal 67 juta yang kemudian kita kembangkan dan sekarang alhamdulillah sudah menjadi holding. Jadi beberapa koperasi terhimpun dalam koperasi sekunder yang kami beri nama dengan holding koperasi BM Ngasem Grup. Siap. Dari cerita Pak Wahyudi, ada dua hal yang ingin saya tanyakan. I pertama memang kayaknya Pak Wayud ini jiwa sosialnya tinggi tadi di di tadi kan dikatakan ketika ada seorang banyak di Ngasem sana banyak para orang-orang yang mengajar tapi mereka itu guru ngaji. Guru ngaji kampung kan pelosok-plosok itu yang mereka semangatnya tinggi cuma dari keilmuan minim. Kemudian Pak Widi mendirikan sekolah untuk mereka. Betul. Nah itu kan kuliah gratis. Kuliah gratis itu kan kepekaan sosial Pak. Itu kalau Pak Widi itu dari mana kok memiliki kepekaan itu? Saya enggak pernah berpikir. Yang saya pikirkan di mana pun berada kami harus bermanfaat. Oh ya. Kirunas anfauhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia yang lain. Sudah prinsip itu saya enggak pernah bayangkan, oh ternyata mereka itu butuh bantuan tapi enggak ada yang mikir. Negara enggak mikir, kemudian apa itu pemerintah enggak mikir, ya komunitas-komunitas keagamaan juga enggak mikir. Karena mereka mikir sendiri juga susah. Ya, bagaimana sudahlah kami akan berjalan menawarkan mereka, mengajak mereka ya berbenah untuk generasi Islam ke depan gitu. Iya. Iya. Masyaallah. Nah, yang kedua, Pak. Jadi, ketika mau masuk ditawarin menjadi anggota MWCNO tadi dikatakan ya, penguruspengurus pengurus ya. Pengurus NU di Kecamatan berarti ini ya, di Kecamatan Ngasem kok ada syarat biasanya kalau kita saya rumah saya nih ya, Mas Agung ayo masuk di pengurusan. Siap kan gitu kan ya. Ah, jadi bagus nih untuk portofolio saya jadi pengurus begitu kok. ada syarat kalau saya jadi pengurus saya harus memiliki program yang di mana nanti programnya itu bisa apa membantu ee kepengurusan ini gitu. Iya. Jadi kembali kembali kepada asas manfaatnya. Wah. Kalau kita hanya kan kebanyakan orang itu masuk tapi mereka hanya sebagai simbol atau nama yang cantum di situ. Saya bukan orang seperti itu, gitu ya. Kami hadir harus membawa perubahan. Kami hadir harus membawa kemanfaatan. kami hadir harus membawa gerbong masyarakat untuk sukses bersama, sejahtera bersama gitu ya. Memang memang dari kayak seperti itu ya dari dulunya gitu ya. Memang sejak di pesantren saya punya ditanamkan oleh kiai saya sudahlah punya jiwa seperti itu. Nanti di mana pun kamu berada kamu pasti akan menjadi pembeda. Di mana pun kamu berada kamu akan terasa manfaatnya. H. Jadi itu yang menjadikan kami sudah saya pegang teguh sampai hari ini. Asas manfaat. Asas manfaat. Karena memang itu kan kata Nabi. Sebaik-baik manusia yang paling bermanfaat untuk manusia yang lain. Masyaallah. Dan itu benar-benar diyakini dan dipegang. Betul, Pak. Ya, kami berjuanglah untuk itu. Nah, katanya dulu pas waktu bikin BMT banyak tantangan kan? Banyak tantangan ya. Betul ya, Pak? Ya, betul. Betul. Sangat-sangat banyak ya. Jadi bagi kami perjuangan pasti ada ujian. Oh ya. Semakin besar perjuangan semakin besar ujian dan tantangan. Itu sudah menjadi sunatullah bagi kami ya. Bagaimana Nabi diuji bertubi-tubi tapi kemudian dampaknya di akhir luar biasa sampai yang sekarang kita rasakan yaitu Islam. He he. Saya pikir itu Pak Agung ya. Nah. Jadi tantangannya itu tidak hanya dari eksternal, dari internal pun sangat banyak ya. Siap. Jadi kami ee dituduh, difitnah, macam-macam. Tapi bagi kami sudahlah saya enggak berbuat apa-apa. Saya punya niat yang mulia, saya punya niat yang baik untuk kontribusi, manfaat yang lebih terhadap perjuangan. Heeh. Pak, kenapa koperasi, Pak? Karena satu tidak seribet ketika kita mendirikan bank. He dua modalnya juga tidak sebesar bank. Artinya koperasi adalah sebuah wadah yang sangat realistis untuk kita dirikan pada saat itu. Walaupun pada saat itu banyak orang menentang takut gagal nanti takut uang enggak kembali. Tapi saya yakinkan dengan saya ajak ke Pekalongan melihat koperasi yang sudah sukses, saya ajak ke Sidogiri melihat koperasi besar yang berkontribusi besar kepada pesantren untuk meyakinkan mereka. Heeh. Heeh. Begitu saya ajak, ternyata mereka pun masih pesimis. Sudahlah untuk meyakinkan susah juga. Akhirnya saya umumkan, "Sudahlah siapa yang mau gabung, yakin gabung dengan kita, monggo kita urunan 1 jutaan sebanyak 67 juta dan itu pun di luar struktur yang paling banyak untuk kontribusi apa itu modal awal kita di koperasi ini. Berarti hanya 67 juta ter 67 juta dari 67 orang jutaan sangat minim itu menurut saya sangat minim 14 tahun sudah hampir ee setengah triliun. Masyaallah. Ya, itu semua fadol dari Allah, karunia dari Allah. Ya Allah. Enggih mungkin ya yang saya bayangkan ya waktu memulai kan berarti masih muda, Pak. Ya berarti di usia sekitar saya karena nikahnya terlambat ya sudah di atas 30 berapa ya? 3435 kayaknya untuk mulai ya. Waktu itu 3435. Iya mungkin sekitar itu. Waktu itu ekonomi keluarga kan juga masih berjuang Pak ya. Masih masih berjuang. Saya juga harus membagi waktu antara jualan perjuangan ngajar TPQ, kemudian ngajar guru-guru TPQ, kemudian berdakwah keliling dari satu daerah ke daerah yang lain walaupun jalannya becek. Bahkan saya pernah nangis gara-gara apa itu sepeda enggak bisa dijalankan padahal itu sudah di tengah hutan. Mau balik itu sudah di tengah, mau terus enggak bisa jalan ya sudah minta sama Allah, "Ya Allah agar kami dibalas dengan sesuatu yang lebih lagi." Itu apa? Berjuang ke mana itu? Kok naik di tengah hutan itu? Ke anu ke pembinaan. Jadi pembinaan kami itu tidak hanya kita kumpulkan di satu tempat, tapi saya juga datang untuk mengedukasi guru-guru ngaji. Begini loh cara mengajar begini loh. Apa manajemen yang profesional itu seperti ini. Yang dulu mungkin enggak pernah punya target anak saya ngaji di sini itu berapa tahun harus selesai jilid, 8 tahun harus khatam Quran, berapa tahun saya harus anak saya bisa hafal juz 30, hafal 100 hadis dan seterusnya. itu kita harus datang ke sana lah. Perjalanan itu kan butuh perjuangan. Sehingga saya merasakan juga mereka datang ke tempat kami juga butuh perjuangan. Saya pun merasakan oh iya begini. Dari situlah kita harus banyak bantu. Ya kasihan kalau mereka butuh bantuan tapi mau ke mana dia mau bilang itu enggak pernah tahu. Berarti ini yang kaitannya sama guru kampung tadi ya. Iya. Jadi setelah ituus koperasi juga. H setelah koperasi ini agak mulai bertumbuh, berkembang, akhirnya yang jualan ini saya sudah alihkan, tapi tetap setoran ke saya. Jadi, saya sudah berpikir bagaimana memanage waktu ya, memanage apa perusahaan agar kemudian usaha kami tetap jalan, perjuangan kami, serta koperasi ini pun juga bisa tetap jalan. Oh, iya. I saya penasaran, Pak. He sebenarnya yang paling mendominasi mendominasi spirit atau semangatnya Pak Wahyudi ini, apakah Azaz menjadi seorang pengajar tadi yang luar biasa tadi? Apakah ada mentality seorang pebisnis juga atau seperti apa? Saya pikir kedua-duanya kan gitu. Rasulullah kan yo pebisnis sekaligus pejuang kan gitu lah. Dua-duanya bisa kok kita sinergikan, kolaborasikan. Yang penting niatnya ditatah ya. Niatnya tentu untuk perjuangan. Heeh. Jadi kalaupun bisnis tentu bisnis yang bermanfaat, bisnis yang berdampak untuk kemajuan umat. Ya, saya pikir ee kedua-duanya itu penting. Bagi saya dua-duanya jalan. Sampai hari ini pun saya enggak pernah meninggalkan. Saya pernah dipesani guru bahwa kalau kamu pengin ketika meninggal kuburmu enggak pernah sepi, Mas, ya, maka kamu jangan pernah berhenti jadi guru Al-Qur'an. Makanya sampai hari ini saya tetap ngajar guru-guru Al-Qur'an. Saya di pesantren setiap malam saya pasti sampai jam 10. Enggak pernah telat kecuali saya harus keluar kota. Saya ajarkan. Karena katanya ketika kamu mengajar Quran dan kemudian kamu meninggal dunia dalam posisi kamu menjadi guru Al-Qur'an, maka nanti kuburmu tidak akan pernah sepi diziarahi oleh malaikat Allah seperti orang berziarah ke Makkah dan Madinah. Artinya ramai terus kuburan kita. Hanya itu saja mimpi-mimpi. Semoga itu diijabah. Amin ya Allah. Oke, oke, oke. Saya menjadi penasaran background-nya Pak Wahyudi ini dari keluarga seperti apa sih? Saya dari keluarga yang bukan sekedar biasa tapi di bawah biasa, miskin ya. Iya. Jadi saya dulu di mondok pun orang tua saya kadang terlambat h untuk ngirimkan saya setiap bulan ya saking miskinnya. He. Tapi saya enggak pernah marah sama orang tua. Saya memahami dan saya biasanya makan itu malam cari di dapur. Di dapur. Ketika santri-santri yang lain sedang tidur, saya kasih intip, saya bahkan itu berjalan sampai 6 tahun lebih karena saya mondok kelas 4 ya. Saya sudah biasakan itu. Jadi saya makan di dapur sisa-sisa intip itu sama cabe sama garam. Sudahlah itu nikmat sambil berdoa, "Ya Allah, rubah kehidupan saya, masa depan saya." Hanya itu saja. Sabar, sabar, sabar. Dan gak ada teman-teman jarang yang tahu gitu bahwa saya itu sangat-sangat tidak punya uang pada saat itu. Tapi bantu tetangga untuk mencucikan baju, dikasih makan, kadang sesekali dikasih uang sambil nunggu koperasi. Itu gajinya enggak mahal, enggak ada gaji bagi saya. He. Tapi minimal tidak minta orang tua. Jadi saya sejak sanawiyah aliah sudah tidak terlalu merepoti orang tua. Bahkan saya kuliah itu juga begitu. Saya 3 tahun itu bawa lontong. Saya datang ke kampus, yang lain ke kafe. Saya ke kamar mandi untuk makan lontong karena malu. Iya. Iya. I tapi semua saya yakin akan diakumulasi oleh Allah balasannya. berarti juga ee kan tadi kan dari segi ekonomi termasuk yang di kalangan agak di bawah. Oh, agak di bawah memang paling bawah. Sudah saya halusin ini, Pak. Sudah saya halusin. Maksudnya bukan dari kalangan kayak seorang ustaz begitu, bukan pondok pesantren, pemilik begitu. Bukan, Pak, ya? Bukan. Bukan, ya. Saya hanya ee seorang yang memang dari bawah, dari keluarga yang sangat bawah, tapi punya cita-cita yang mulia. Ya. Dan enggak tahu saya pun di punya pesantren pun sudahlah saya menjalani takdir Allah ketika ada orang titip sampai sekarang sampai ratusan sampai santrinya bisa ke luar negeri sampai santrinya setiap tahun itu pasti rutin ke luar negeri. Ada tasmik 30 juz di Makkah Madinah. Itu semua saya jalani dan memotivasi anak-anak. Sudahlah saya bukan dari keluarga kiai, bukan anaknya kiai besar atau kiai desa sekalipun. Tidak. Saya orang biasa, tapi kemudian dengan kerja keras Allah memberikan hal yang sangat luar biasa yang tidak pernah saya kira gitu. Cita-cita tinggi tadi tadi dikatakan saya anak dari orang biasa yang memiliki cita-cita tinggi. Nah, cita-cita tinggi itu dari Pak Wahyudi sendiri atau dari orang tua Pak Wahyudi? Saya sendiri. Karena orang tua enggak pernah punya mimpi. Pernah punya mimpi. Yang penting dia mondok ya. Kemudian dia cari ilmu dan enggak berharap apa-apa. hanya berharap anaknya punya ilmu itu saja. Cuman mimpi pun saya enggak pernah jadi apa jadi apa. Mengalir saja tapi aliran saya harus tidak boleh turun tapi arisnya harus deras ke atas ituallah. Jadi cor air itu nyemprot lah. Oh iya nyembur Pak sekarang wis sekarang semburan banyak sekarang ya. Iya masyaallah. Nah kembali lagi ke koperasi. Iya. Dari kemudian kan banyak juga koperasi, Pak. Kalau kita bicara koperasi ada yang koperasi biasa, ada yang koperasi syariah. Betul. Kalau yang di ini kan koperasi syariah. Koperasi syariah namanya BMT kan, Pak? Ya. BMT Baitul Malambil gitu ya. Ngasem. Ngasem itu melambangkan sebuah kecamatan ya. Kecamatan dulu kecamatan termiskin dulu. Kecamatan termiskin. Iya. Nomor empat se Jawa Timur. Nomor empat. Oh iya dah. Betul. Durun sekarang jadi nomor paling kaya. Yo gaklah maksudnya sudah naiklah. Sekarang naik jadi nomor berapa, Pak? Kurang tahu. Kemarin saya tanya, "Pak Camat, sudahlah itu enggak usah ditanya. Minimal berubah gitu." Artinya dari kawasan yang kecamatan miskin jadi lebih baik gitu ya. Iya, betul. Ekonominya sudah tumbuh besar, sungguh pesat insyaallah ya. yang kami bisa melihat dari UMKM yang kita dampingi. Jadi kita punya BMTM Institute yang memang fokusnya adalah pendampingan kepada anggota-anggota untuk naik kelas. H. Jadi dari mereka yang mungkin dulu jualan biasa-biasa saja, sekarang tidak lagi toko-toko biasa, tapi sudah masuk ke market-market besar. Hm. Jadi kita bantu bagaimana izin-izinnya lengkap, BRIT, kemudian sertifikasi halalnya, BPOM-nya, dan lain-lain. Kita bantu gratis dan kita datangkan mentor-mentor bisnis untuk mereka berpikir bagaimana sih menaikkan usaha mereka. Tidak hanya skala kecil, tapi menjadi skala besar sehingga ada yang sampai impor apa ekspor dan lain-lain gitu. sebelum ke situ, Pak. Iya. Darip juta betul pecah telur pertama kayak sudah mulai ada wah kelihatan bagus nih. Itu momen apa, Pak? Tahun ketiga kayaknya kalau tidak kedua ya. Jadi dulu kantor kita itu di sebuah teras rumah dekat pasar ya miliknya warga yang kemudian kita sewa. He. Dan setiap pagi anak-anak kita ajak untuk duha. H. Jadi sebelum kerja anak-anak duha kemudian baca waqiah dan karena teras itu kita tutup dengan banner banner bekas itu lah orang-orang ketika ke pasar ini ada apa ya kok tiap pagi ngaji tiap habis tiap pagi salat salat duha at 4 rakaat kemudian waqiah kita tiga doa doa pertama buat para anggota agar anggota kita itu bisnisnya bertumbuh berkembang, lancar kemudian mereka sehat walafiat keluarganya barokah keturunannya juga barokah. Doa kedua mendoakan para pengelola yang menjalankan usaha ini agar diberi kejujuran, kemampuan, kesabaran, keuletan, sehingga bisa mengembangkan usaha. Doa ketiga kepada para pengurusnya agar kemudian mereka tetap dalam bingkai kejujuran, transparansi, dan kemudian akuntabilitas sehingga usaha-usaha ini betul-betul dijaga dan diridai oleh Allah. Itu saja harapan kita ya. Setiap hari anak-anak dha, waqiah dan doa. Dan setiap malam anak-anak tahajud. Bahkan yang mulai agak seret membayarnya, angsurannya itu kita doakan fatihai khusus kita. Fatihah khusus ya. Bahkan kita setiap nagih dengan cara kekeluargaan. Kalau mereka sulit, kita datang ke rumahnya, "Ibu, mohon izin saya mau ngaji di rumah jenengan untuk mendoakan jenengan." Masyaallah. Itu cara-cara yang senantiasa kita jalan kita doakan ya mungkin mereka lagi ada masalah keuangan sehingga terlambat bayarnya gak mampu mengangsurnya. Nah, kita diskusikan lah. Kemudian tilawah itu juga menjadi bagian wajib. Makanya di tempat kami mereka yang ketika tanya, "Kamu mau ngapain kok masuk sini?" Heeh. "Karena saya pengin jadi orang baik." gitu ya. Jadi masuk situ kinerja sama ibadah itu di disinkronkan. Ya harapan kami memang barokah itu dan keikut serta Allah dalam mendampingi usaha itu betul-betul maksimal. Masyaallah. Tadi di tahun ketiga ada apa, Pak? Tadi tahun ketiga ketika kita pindah kantor ya, kantor kita itu adalah pertama sewa di kantor MBC. Itu dulu kantor belum fungsi. Akhirnya kita permak seperti gedung bank. He ya. Karena dua lantai bagus. Setiap orang masuk apa resepsionis kita sudah memberikan layanan, ada security-nya dan bersih, nyaman sehingga kemudian kepercayaan orang semakin tumbuh. H. Wah, semakin tumbuh. Di situlah kemudian kita mulai berani untuk ekspansi, membuka cabang sehingga sampai hari ini sudah sekitar 40 cabang di empat kabupaten. Masyaallah. Jadi mulai dengan apa ya berganti kantor yang lebih baik ya, Pak ya. Betul. Iya. Untuk membangun tras memang untuk membangun kepercayaan akhirnya juga sangat berdampak ya, Pak. Iya, betul. Itu yang kemudian mendongkrak karena memang saya berpikir ini kalau kita tetap di sini ya mungkin banyak orang enggak tahu. Akhirnya kita permak kantor MBC kita sewa profesional ya. Ya, kita sewa setiap bulan dan setiap tahun kita juga kontribusi ke sana ya. Kemudian kita permak bagaimana seperti standar perbankan. H. Nah, di situlah kemudian orang berbondong-bondong semakin percaya lagi. Karena kan orang kan meletakkan uangnya di situ kan, Pak. Ya, betul. Betul. Di samping memang ee manajemen likuiditas kita juga bagus. Kemudian apa itu ee sistem pengendalian internal kita juga bagus sehingga mereka ngambil berapa pun ada ada mereka ngambil berapapun mereka akan sangat mudah. Makanya kita punya ATM itu sebagai fasilitas. Jadi BMT yang punya ATM kami jadi ATM di cabang-cabang kita sehingga anggota kita yang jualan jam .00 malam kan kantor belum buka, mereka bisa ambil di ATM kita. Nah, benar-benar ATM kayak perbankan umum gitu, Pak. Betul. Betul. Jadi mereka nyamannya di kita apa? Karena kita bisa diambil sewaktu-waktu. Oh. Karena kita punya ATM dan juga kita punya posmtungasem lim link. Kalau BRI punya Brilink, kita punya pos BMT NU Ngasemlindang. Ini sudah ratusan sehingga orang kalau memang jauh dari ATM mereka bisa ngambil di pos PM itu ngasem. Oh, itu kayak anu gitu ya, kayak apa? ges atau betul jadi mereka bisa transaksi di situ, nabung di situ, ambil di situ dan itu sudah ratusan kita. He dan kita memberdayakan anggota kita. Masyaallah ada ratusan yang tadi link tadi BMT Ngasem link. Iya. Terus tambah ATM 24 jam. Ada ATM-nya juga di masing-masing cabang. Berarti ada 40 ATM. Iya. Belum. Belum semua tapi sudah banyak. Oh 40 cabang, Pak. Ya, insyaallah. 40 cabang itu di berapa kabupaten? Kabupaten kabupaten di mana aja, Pak? Lamongan, Tuban, Bojonegoro, sama Ngawi. Oh, ya. Karena izin kita izin provinsi sehingga bisa membuka di semua kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Di Jawa Timur. Wah, semoga di Tulungagung, Pak, nanti. I, semoga. Baik, baik. Pak ee kan sekarang juga banyak gerakan tuh, Pak, di terutama juga di kalangan kita seorang pebisnis ada gerakan yang anti riba. Iya. Berarti termasuk di BMT ini juga sudah anti riba, Pak? Ya, kita memang brandingnya itu syariah, ya. Syariah itu secara budaya kerja seperti tadi saya sampaikan, mereka menjaga ibadahnya, tilawahnya, tahajudnya, dhanya, doanya. Ya, itu bagian dari syariah yang kita harus jaga. Kejujuran, amanah ya siddiq, amanah, tabligh, fatonah itu harus menjadi bagian budaya yang harus dijalankan oleh pengelola. itu bagian dari syariah yang kita terapkan. Yang kedua adalah akad-akadnya. Sudah pakai akad syariah. Jadi di tempat kami enggak hanya sekedar administrasi, tapi betul-betul di akad. H. Jadi misalkan ada orang mau beli sepeda motor atau beli mobil, maka kita akad dengan akad murabahah. Ibu, jenengan mau beli mobil dengan merek apa? Di toko mana? Nah, nanti kita akan belikan sesuai dengan request mereka. Setelah kita beli, kemudian kita jual. Ibu, jenengan sudah saya belikan mobil dengan merek ini harga R200 juta. Kulo akad dengan akad murabahah. Dan saya minta margin sekian. Hm. Ya gimana, Ibu? Ikhlas. Ikhlas itu akad seperti akad nikah begitu. Iya. Iya. Iya. Benar-benar hadap-hadapan terus kayak gitu ya, Pak ya. Iya. hadap-hadapan kita serah terima di situ dan kemudian perjanjiannya kita tandatangani, jatuhlah akad. Di situlah harapan kami ada berkah, tidak sampai ribah. Masyaallah. Nah, kalau mereka butuh mereka punya modal tapi kurang modal kita akad dengan akad musyarakah. Ya, kita tambah modalnya untuk pengembangan bisnis. tetap kita akad sesuai dengan akad-akad yang diterbitkan oleh DSNUI, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Iya. Saya melihat malah ada ini, Pak. Kalau dulu saya memahami ya, akad anti riba atau akad ee syariah itu hanya diakad. Tapi ternyata Pak Wahyudi menggambarkan bahwasanya dalam kepengurusan itu juga menjaga beberapa ee amalan-amalan yang syariah. W. Betul. budaya syariah harus budaya syariah. Jadi bukan hanya akad ternyata, tapi budayanya juga syariah gitu ya. Betul. Bahkan teman-teman yang study banding ke tempat kami melihat di tempat kami belum bisa meniru. Terutama dalam hal budaya. Ah bagaimana menjaga tahajudnya? Iya. Susah Pak tahajud kan di rumah Pak. Gimana cara jaganya Pak? Ya pakai aplikasi kan gitu. Oh iya pakai aplikasi. Iya. Jadi kalau mereka izinnya sebelum subuh ya berarti enggak tahajud kan gitu. Oh izin apa itu? Izin izin bahwa dia sudah tahajud. Oh. Karena ini nanti berdampak kepada tunjangan-tunjangannya. Oh. Ya. Walaupun memang ada pendapat janganlah nak kita pengin membangun budaya kan gitu. Niat kita niat bukan untuk apa-apa. Ini memang sunah ya. Tapi bagaimana ketika mereka menjaga ibadahnya maka semua perilakunya, kejujurannya, pikirannya, hatinya senantiasa dalam apa? Bingkai yang ditetapkan oleh Allah. Tidak sampai keluar dari rambu-rambu yang telah ditetapkan Allah dan Rasulullah. harapan kita ya ketika pengelolanya seperti itu, pengurusnya seperti itu, maka saya yakin perusahaan, koperasi dan apapun itu akan dijaga oleh Allah. Tidak hanya dijaga, diridai, diberkahi. Itu yang kita harapkan gitu loh ya. Budaya ini. Jadi tidak hanya sekedar akad-akad, tapi budaya termasuk dari yang kita kasih pembiayaan mereka juga harus syari. Oh, gitu. Iya. Kita kawal kan gitu. Makanya kita juga ada namanya K Institute H yang kita kasih gratis supaya kita bisa mengawal bagaimana bisnis mereka. Jangan sampai ada transaksi-transaksi yang ribawi yang kemudian masuk. Jangan sampai ada transaksi-transaksi yang haram yang kemudian masuk sehingga masuk kepada koperasi kita. Maksudnya berarti yang nonmuslim enggak enggak bisa dibiayai ya atau seperti apa? Ya bisa. Cuman kan barang-barang yang haram kan kita enggak boleh. Oh barang-barangnya kan kita mesti tanya ini untuk apa kan gitu. Kalaupun toh untuk usaha. Kalau misalkan untuk yang dilarang oleh Islam ya tentu tidak kita biar saya mau buka miras gitu enggak bisa, Pak. Ya saya mau buka miras saya pengajuan gitu enggak bisa ya. Iya sudah pasti orang melihat pasti wis enggak mau ya enggak akan diacak boleh ya Pak ya. Kalau yang menurut agama Islam itu tidak diperkenankan itu tidak tidak bisa dicairkan. Iya. Iya. Jadi batas-batas syariah itu kita betul-betul jaga dan DPS kita itu memang aktif. Jadi dewan pengawas kita itu selalu melihat termasuk transaksi-transaksi di akad itu selalu dilihat ini sudah sesuai syariah tidak sesuai dengan DASN MUI atau tidak. Ya. Sehingga harapan kita dalam apa transaksi akad pun juga jangan sampai kemudian ee tidak syariah. Tidak syari ya. Baik. tadi kan ee ada kemudian juga banyak BM banyak koperasi-koperasi lain. Nah, itu maksudnya gimana, Pak? Ini berarti kalau yang ini satu koperasi. Jadi awalnya kita itu simpan pinjam. Oke. KSPPS namanya koperasi simpan pinjam pembiayaan syariah. Heeh. Setelah bertumbuh berkembang kok kita enggak bisa hanya bisnis ini. Hm. Ya, karena likuiditas kita itu sangat banyak. Oh, maka kita harus melihat celah untuk mengembangkan usaha. Dan ternyata di Undang-Undang perkoperasian itu kita bisa mendirikan koperasi konsumen, koperasi produsen, koperasi jasa. Nah, dari situlah kemudian kita mendirikan koperasi konsumen yang kemudian ada swalaian. Kita sudah beberapa swalaian ya dan insyaallah kita lebih murah harganya dan lebih ramai. Wah, kalau di toko-toko modern lain itu biasanya transaksi hariannya antara 300 400, kita sudah 800 sampai 900 itu per hari. Oh, artinya apa? Swalayan kita itu sudah lebih ramai daripada apa toko-toko modern yang sudah menasional itu. 900 tapi apaak tadi? 900 transaksi harian. Iya. dibandingkan dengan toko modern yang lain umumnya di bawah itu di bawah itu antara 400 ya sampai ee 300400 ya artinya ramai lebih ramai dibanding dan suara kita seperti itu. Kemudian juga ada apa online. Jadi konsumen itu mengelola dua bisnis. bisnis toko offline, toko swalayan tadi. Yang kedua, bisnis online. He. Heeh. Yang kedua ada ee koperasi produsen. Kita punya air dalam kemasan. Nah, kita sudah punya pabrik dan kita sudah distribusi ke 20 kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kemudian ada juga food ya, karena gedung kita itu empat lantai dan ada food di situ. Kemudian ada koperasi jasa. Nah, koperasi jasa ini ada banyak bisnis. Mulai dari barbershop, mulai dari refleksi ajib dan ajaib, terus itu syariah. Jadi yang majet ya laki-laki sudah bagus ajib dan ajaib g. Oh iya. Jadi refleksi ajib dan ajaib itu laki-laki yang mijet ya. Laki-laki perempuan ya perempuan dipisah tempatnya. Kemudian ada juga bekam. Kemudian ada apa? Eh, kalau tadi barbershop kan untuk laki-laki, ada rumah cantik untuk perempuan ya. Kemudian sekaligus potong rambut untuk perempuan muslimah itu. Karena kadang-kadang banyak orang kesulitan cari salon. Rata-rata salon ya mereka-mereka yang tidak berjilbab. Nah, ini kita sediakan salon muslimah ya. Kemudian ada juga case host atau hotel. kita punya hotel syariah dan alhamdulillah tidak kita sudah kerja sama dengan Traveloka ee God dan lain-lain sehingga alhamdulillah sudah banyak termasuk dari luar negeri yang punya bisnis di Indonesia atau di Bojonegoro juga banyak yang apa itu nginep di situ. Terus ada ballroom ya kapasitas 1000 orang. Kemudian ada kolam renang, ada kafe. Ya, kafe juga begitu kita batasi. Enggak boleh miras-miras ya. Kalau kalaupun takaroke ya kalau bisa muslim ya. Lagu-lagu ya enggak harus nasib kan ya. Pokoknya enggak sampai dilaranglah gitu ya. Misalkan lagu-lagu nostalgia enggak apa-apalah gitu ya. Kemudian ada playground, ada percetakan, ada tour and travel. ini di koperasi jasa lah. Empat koperasi ini KSPS, Koperasi produsen, koperasi konsumen, koperasi jasa terhimpun membentuk sebuah koperasi sekunder. Lah inilah yang dinamakan holding koperasi. Nah, kebanyakan holding itu kan holding company. Nah, ini holding koperasi. Jadi, semuanya lewat izin koperasi. Koperasi koperasi. Jadi, holding koperasi punya anak turunan koperasi-koperasi koperasi primer empat gitu. yang itu kemudian kemarin di apa diresmikan ada bangunan megah itu Pak ya. Iya betul ada lima lantai dan itu semua bisnis ada di situ. Masyaallah ya. Jadi kita memang kepengin makanya kemarin Sesmenkop Pak Zabadi mengatakan ini holding pertama di Indonesia. Holding koperasi maksudnya. Holding koperasi pertama. Iya. Artinya apa? Banyak mereka koperasi punya tapi lewat PT bukan koperasi lah. Ini kan enggak. Oh. I I jadi holdingnya sekundernya itu koperasi-koperasi. Heeh. macam-macam tadi lah. Kebanyakan teman-teman yang koperasi-koperasi besar itu punya tapi PTPT PT kan gitu lah. Makanya mereka company kan gitu bukan bukan koperasi lah ini holding koperasi. Makanya beliau mengatakan apa itu ini holding pertama di Indonesia. Makanya kemarin Pak Menteri pingan saya pengin datang. Oh. Nah, untuk lihat apa holding koperasi mungkin bagi yang belum paham, Pak. Saya sendiri juga agak apa ramu-ramu gitu, abu-abu gitu loh. Apa sih e kalau holdingnya koperasi seperti apa, kalau holdingnya PT bagaimana? Begitu ya sebenarnya sama cuman manajemennya kalau sudah koperasi kan anggota. Kalau PT itu kan bisa dimiliki perseorangan. Milik bisa jadi perseorangan atau keluarga begitu ya. Iya. bisa keluarga atau bisa beberapa orang sharing di saham kan gitu. Iya. Tapi kalau koperasi itu kan milih anggota kemudian untuk anggota dan dari anggota kan gitu. Nah, mereka sejahtera bersama kan gitu lah. Itu harapan kita sehingga enggak ada yang dominasi. Mereka punya hak yang sama karena simpanan pokoknya sama. Tapi kalau PT bisa jadi mayoritas kan gitu. Nah, pengendali utama. Nah, harapan kita memang itu kan dalam Undang-Undang Pasal 33 ayat 1 kan begitu ya. Perekonomian itu memang koperasi itu sebenarnya. Nah, itu kan digaungkan mulai zaman Nabung Hatta. Heeh. Bahwa koperasi itu menjadi soko guru perekonomian Indonesia. Harusnya begitu. Tapi sampai sekarang kan tidak. Karena memang belum masif pergerakannya. Yang didengar di berita-berita itu yang jelek-jelek. Padahal banyak koperasi bagus loh ya. Koperasi-koperasi kayak Sidogiri UGT ada maslahah itu kontribusi zakatnya saja itu puluhan miliarah kepada pesantren ya sehingga tiap tahun dari hasil usaha zakatnya diserahkan ke pesantren ya pengelolanya yang gajinya besar juga ditaruh di pesantren sehingga pesantren cari anak-anak yang enggak mampu di Kalimantan, di Papua, di Sumatera untuk mereka mondok dan mereka dibiayai dari dana itu. Dari dana yang tadi itu tadi. Iya. dari infak, dari zakat ya, dari manfaat wakaf dan seterusnya ya. Masyaallah. Berarti saat ini ada berapa orang yang terlibat, Pak, dari BMT Ngasem itu, Pak? Ada sekitar hampir berapa ya? 400 atau mungkin ya. 400 orang. Iya. Kalau kami kan pengelola. Oh. Lah, kalau anggota banyak. Kalau anggota kan sudah. Oke. Oke. Anggota. Kalau pengelola. Nah, pengelola yang kerja itu kita namakan bukan karyawan tapi santri. Oh. Walaupun mereka bekerja tapi kita namakan santri. Tujuannya apa? Satu, mereka menjaga ibadahnya. Mereka tetap mau belajar. Yang ketiga, mereka harus menjaga kejujurannya. Mereka harus takzim juga kepada yang di atas. Jadi, prinsip-prinsip itu yang kita jaga. Makanya walaupun mereka sudah enggak mondok, tapi kita namakan dengan santri-santri karya lah gitu. He. Santrinya nyantri di BMT Ngas. Nah, begitu. Karena harus ngaji juga kan. Harus Iya. Harus tahajud juga. Tahajud. Harus berarti ada yang sampai-sampai tua begitu, Pak, santrinya ya senior sementara anak-anak seusia berapa ya? 38 belum kayaknya yang 40 dan kita dorong memang mereka harus ee apa itu kuliah yang sudah S1 kita dorong S2 dan ini alhamdulillah sudah mau wisuda S2 dan kita dorong juga untuk masuk S3 ke depannya kita berpikir dan bercita-cita koperasi ini menjadi koperasi besar seperti koperasi-koperasi besar di dunia di di di luar negeri He perusahaan besar, bank-bank besar, klub-klub besar itu dimiliki oleh koperasi. sih. Oh, gitu, Pak, ya. Iya. Dan banyak ya. Cuma contohnya apa, Pak? Contohnya ya kayak apa ya ee klub-klub besar apa Barcelona atau apa ee Oh, klub sepak bola. Iya. Sepak bola besar termasuk klub basket di apa di Amerika itu kan juga ada yang miliknya koperasi termasuk bank-bank besar. Cuman banyak orang enggak tahu. Nah, lah kita berpikir ke sana. Makanya kemudian santri-santri karya ini setiap Sabtu kita wajibkan belajar bahasa Inggris. Harapan kita ke depan bisa kerja sama dengan koperasi-koperasi besar di dunia di luar sana ya. Masyaallah. Baik, sekarang kita ngomongin dampak Pak. Dampak. Jadi kan berawalnya dari MW NU lah gitu ya. N Kecamatan Ngasem ini sudah berkontribusi apa di dengan Ngasemnya itu? Ya. Jadi karena sejak awal sudah kontribusi ya, cuman bertahap ya, tapi sekarang rata-rata per tahun R miliar. Oh, mas. Jadi ketika NU bahkan PWNO bahkan PBNU pun itu bingung cari dana untuk operasional. Tapi di MBC Ngasem setingkat kecamatan he 1 tahun sudah dapat R miliar lebih. He. Sehingga ketika NU NU yang lain mau mengadakan acara, bingung nanti anggarannya dari mana. Kalau rapat bingung ketuanya karena harus tekor terus, harus keliling-keliling cari dana atau tekor sendiri gitu, Pak. Ya. Akhirnya kadang-kadang enggak mau rapat walaupun 5 tahun karena bingung mengeluarkan uang. Kalau ketuanya kaya enggak apa-apa gitu ya. Tapi kalau enggak akhirnya di tempat kami tidak. Setiap akhir tahun uang ini kita serahkan ya. Monggo dipakai untuk 1 tahun ke depan ya. menyusun program sekaligus anggaran monggo dihabiskan karena tahun depan akan ada dapat bagi hasil. Jadi anggota-anggota BMTNU Ngasem Grup ini kemudian sepakat sekian persen kita kontribusikan kepada MWCNU Kecamatan Ngasem sehingga MWCU Ngasem yo sekarang wis enggak mikir anggaran tapi fokus menyusun program, mensukseskan program sehingga mereka bisa membantu banyak orang. termasuk ada ambulans dua yang setiap bulan itu 200 ee 200 lebih pasien itu R0. Hmm. Ketika ada orang-orang tetangga kita jangankan untuk berobat, untuk ngangkut pasien saja itu harus nyarter 500 lebih per antaran. Nah, ini dengan ada ambulan 2 ini kita mampu mengantarkan sekitar pasien. kemarin data akhir 2025 itu sekitar 200 eh 2.000 dalam setahun. Dalam setahun itu gratis R0. Itu dampak ketika MBC sudah punya anggaran kemudian beli ambulans. Yang satu ambulans kita kasih. Nah, mereka tinggal memikir operasional. Operasional dari mana? Ya, dari kemandirian tadi. Itu salah satunya. Nah, yang kedua banyak anggota-anggota kita yang kemudian mereka dulu jualan kerupuk satu kresek merah itu 200 ee Rp20.000 dengan kita dampingi mereka bisa packaging yang bagus, kemudian mereka punya jaringan kita bantu sehingga sekarang jadi 200 kresek besar itu jadi Rp200.000 kan sudah lumayan meningkatkan pendapatan anggota. Nah, jadi dampak-dampak itu yang mungkin bisa kita berikan. Termasuk ada benah guru ngaji ya yang rutin kita adakan setiap bulan sekali. Termasuk ADMI Akademi Takmir Masjid Indonesia. Kita membuat organisasi kita kumpulkan monggo takmir-takmir masjid yang kepingin memakmurkan masjidnya. Oh, dibantu begitu, Pak. Dibantu manajemen. Bagaimana sih biar memakmurkan masjid? He. Jadi ada satu masjid di Sekar yang dulu pernah saya jualan di situ yang jadi tadi pas ke gunung itu tadi kan itu kan ikut program ADMI Akademi Takmir Masjid Indonesia yang dibuat oleh BMUasem. Nah, dia kok jemaahnya subuh sampai ratusan ya. Saya enggak percaya. Saya datang enggak ngomong-ngomong bahwa saya pengin membuktikan. Betul enggak? Saya datang jam .00 sebelum subuh dan ternyata takmirnya sudah bersih-bersih, menata dan kan mau ada sesuatu yang dikasihkan gitu. Jadi anak-anak itu banyak juga satu keluarga datang salat jemah. Oh, ternyata di pelosok desa yang dulu ini sangat tertinggal agamanya, sekarang sudah ramai. Itu kan dampak yang sudah kita berikan ya. Maksudnya ada yang ngasih itu tadi di situ ada program untuk pemerintah apa begitu? Ada orang iya. Dikasih apa gitu ya. Oh. Heeh. Akhirnya masjid-masjid yang lain niru. Ada yang program sudahlah lek kamu satu keluarga datang bapak ibu sama anaknya nanti anaknya enggak usah sangu sekolah tak sangoni dari sini lah. Akhirnya orang-orang tua juga banyak yang ikut itu kayak gitu berarti dari angg dari warga dari Agnia yang punya kepedulian ya. Kita membangun saja program dan kita tawarkan yang baik. Saya yakin adalah banyak orang punya kepedulian. Iya. Iya. Nah, itu nanti pengelolaannya dibantu tadi di Ajmi tadi iya kita bina bagaimana sih meramurkan masjid ya meramaikan masjid ada kafe anak muslim kita ajari digitalisasi di situ. Kita ajari bisnis di situ. Anak-anak muda daripada kamu nongkrong di warung enggak ada gunanya, enggak ada ide-ide yang kreatif mending di masjid. Satu bisa ada pahala iktikaf. Yang kedua, kemudian kita bisa menjaga ibadah kita. Nah, yang ketiga, kita dapat pengalaman karena ada materi-materi yang kita berikan ya sesuai dengan kebutuhan masa depan anak-anak. Ada juga, Kak, kalau enggak saya ingat itu program bedah rumah, Pak. Benah rumah. Benah rumah ya. Ya, kadang ada yang bedah, ada yang rumah, tapi kebanyakan benah. Benah rumah berarti mereparasi begitu. Betul. Tapi ada juga yang memang di benar-benar dari setup dari awal gitu. Iya. Jadi, guru-guru ngaji itu kan mau upah karena gajinya enggak ada kan gitu ya. Tapi mereka punya kepedulian kepada anak-anak tetangganya, anak-anak satu warga. Itu kan kalau kita enggak mikirkan siapa lagi? Enggak ada anggaran dari pemerintah juga. Maka kita masuk di situ, minimal kita bangunkan apa itu rumah. Bahkan kemarin yang barusan kita launching itu sampai kaget itu sudah mau roboh itu. Dan ternyata dia dobel dapat benah rumah, dapat umrah juga. Oh. Tapi dari orang lain gitu loh maksudnya. Oh, berarti kan doble berkahnya itu ya. Jadi pas bangun pulang itu dari rumahnya sudah ganti. W masyaallah. Saya membayangkan kayaknya indah gitu, Pak ya di sana, Pak. Ayo saya mau pindah Ngasem aja, Pak. Katanya kalau pengin bahagia selamanya, bantu banyak orang sebanyak-banyaknya katanya gitu ya. I ee itu hanya disampaikan orang. Saya hanya menjalankan sajalah. Ee kadang-kadang kita berpikir membantu orang kan artinya harta kita berkurang. Oh tidak juga justru bertambah. Itu janji Allah kok. Iya. Iya. Hanya orang yang enggak yakin saja yang merasa bahwa ketika kita memberi he kurang. Tapi sejatinya tidak. Allah akan melipat gandakan kok. Justru ketika kita memberi kita akan mendapatkan lebih, kan gitu. Ee cuman keyakinan saja sejauh mana itu akan terjadi pada diri kita. Memupuk keyakinan itu bagaimana Pak? bagi orang-orang yang belum yakin ya. Satu edukasi saja. Edukasi yang kedua stimulus agar mereka punya pengalaman. Kalau enggak punya pengalaman enggak akan bisa. Tidak dari hal yang besar, dari hal kecil dulu. H ya. Dari mana juga ya tadi dari komunitas ADMI harapan kita kalau mereka sering ke masjid otomatis kan ada banyak petuah-petuah baik, nasihat-nasihat baik yang harapannya akan menyentuh hati mereka, meluluhkan hati mereka. dan kemudian membuka mata hati mereka untuk bisa ikut apa aksi-aksi kebaikan yang kita tawarkan gitu. Ah, ini kayaknya sudah panjang juga, Pak, kita berdiskusi. Makasih. Makasih, Mas Agung. Kalau bahasa orang umum itu, kalau bahasa bisnis itu ada end game, Pak. Endgame itu adalah sebuah akhir dari ini atau sebenarnya Pak Wahyud itu apa yang akan dicari? Endgame-nya apa? kayaknya saya ada saya enggak ada N-nya ya. Enggak ada N-nya, Pak ya. Gimana itu, Pak? Maksud saya, saya enggak pernah sudahlah saya jalankan saja apa yang kemudian Allah takdirkan memberikan yang terbaik apun yang Allah telah beri kesempatan buat kami. Saya enggak tahu nanti akhirnya seperti apa. Saya hanya husnudan ke Allah karena Allah itu sesuai prasangka hambanya. Ana indadonni abdi katanya gitu. Saya punya keyakinan itu saja. Sudah. Saya mengalir tapi memberikan yang terbaik sampai Allah mengatakan, "Sudah waktunya kamu selesai." Itu saja biar apa? Enkim-nya itu dari Allah saja. Oh. Jadi enggak pernah membayangkan nanti bakalan seperti apa. Yang penting lakukan sekarang yang terbaik begitu, Pak. Bagi saya itu Allah itu sangat baik. Allah tahu yang terbaik. Masa depan kita seperti apa, akhir kita seperti apa. Ya, husnudan ke Allah. Itu saja yang mungkin saya selalu sanamkan. Jadi kita tidak menghabiskan waktu untuk berpikir yang negatif, berpikir yang tidak produktif, kontraproduktif. Sudah berpikir yang positif saja. Allah itu sangat perencana yang terbaik. Waru wakarallah. Kita punya rencana tapi Allah kan punya rencana. Wallahu khairul makirin. Tapi rencana Allah adalah rencana terbaik. Makanya saya enggak berencana sudah biar Allah yang merencana. Oh yang penting setiap kita hadapi yang terbaik. yang terbaik itu saja. Allah akan menata dan saya merasakan banyak hal, keajaiban-keajaiban itu dari situ. Hmm. Contoh, Pak ya. Pada saat kami pengin apa itu umrah asyurul awakhir pada saat itu ekonomi belum anu kan gitu. Heeh. He he. Saya pengin, "Ya Allah, saya pengin umrah pertama saya adalah umrah Asyrul Awakhir." Umrah apa, Pak? Umrah Asyrul Awakhir akhir 10 hari akhir Ramadan. Oh. apa iktikaf di Iya di Masjidil Haram sambil mengharap lailatul qadar ya. Iya. Saya itu mimpi pertama. Heeh. Heeh. Dan saya sampai lupa. He he. Karena saking mintanya itu lupa itu ketika saya sudah lupa, ternyata Allah takdirkan orang banyak datang menawarkan umrah. Tapi enggak umrah asrwakhir. Heeh. Heeh. Tapi ada teman saya satunya itu ngomong, "Pak Ustaz, kirimkan paspor. Untuk apa?" "Sudahlah kirimkan." saya kirimkan. Oh, saya sudah buat ospor sebelumnya. Kemudian saya datang, Ustaz, besok tanggal sekian datang ke Malang. Saya datang ke Malang, saya nurut saja. He. Ternyata suntik miningitis dan kemudian manasik. Ustaz, besok tanggal ketemu di Juanda ya berangkat Asrul Awakhir. Sudah itu bagian dari ketika kita sudah terbaik, Allah jauh memberikan yang lebih baik. ketika kita minta sampai yang kita minta itu sudah lupa bahwa kita sudah pernah minta itu. Nah, itu bagian dari balasan Allah yang masyaallah ya. Termasuk saya ngurusi guru ngaji, saya enggak pernah bayangkan punya pesantren. Dan ternyata ketika ada santri saya didik. Jadi kamu ke kelas 3 SMP harus punya paspor. Dan alhamdulillah setiap tahun anak-anak berangkat ke luar negeri. Saya motivasi dan rata-rata santri saya adalah kelas menengah ke bawah. H mereka yang rumahnya ya Allah kadang-kadang satu keluarga hanya satu kamar padahal keluarganya ada lima. Hm. Ayo kamu harus sukses. Ayo kamu harus bisa bahagiakan orang tua. Kamu harus bisa ngumrohkan orang tua. Syukur kamu bisa haji dan umrah bareng orang tua. Sudahlah enggak ada yang enggak mungkin di dunia ini ketika kamu yakin kepada Allah. Dan alhamdulillah ada yang merealisasikan itu. H. Jadi sampai orang tuanya nangis. Loh, uang dari mana? Ternyata dia karena jadi musyrifah ya kan dapat mukafaah disimpan, disimpan dapat kiriman kadang-kadang dia simpan dan ketika orang tuanya pengin umrah dia realisasikan. Yaah itu sudah bagi kami kepuasan. Nah kamu enggak usah memberi saya. Kamu memberikan orang tua, bahagiakan orang tua, bermanfaat buat sesama, itu sudah kepuasan yang luar biasa bagi saya. Masyaallah. Jadi ada juga pondok ternyata ya. Ada pondok ee di rumah. Yahk namanya ya. Yahki. Yayasan Hafiz Quran Indonesia. Jadi setiap hari ngomong empat bahasa. Pagi bahasa Arab, siang Mandarin, sore Jepang, malam bahasa Inggris. Wajib setiap hari. Kecuali hari Jumat wajib bahasa Jawa halus. Karena jangan sampai ngerti jawanya jawanya jangan tertinggal, Pak. Ya. Nah, dia pintar bahasa asing, tapi bahasa jawanya enggak bisa halus. sama orang tua, sama orang-orang yang lebih di tetangganya kan harus juga halus dan liburannya berdasarkan perubahan karakter. Jadi ketika dia di pondok bagus karakternya, dia bisa dapat jatah sambangan lebih lama, dapat pulang lebih awal dan ketika di rumah dia enggak menyucahkan orang tua, bahkan 30 50% pekerjaan orang tua bisa dia bantu, dia akan dapat tambahan libur lebih. Oh, gitu ya. sehingga karakter di pondok sama di rumah sama. Ah, bisa menjaga ibadahnya, bisa menjaga murajaahnya. Kita apresiasi. Saya baru dengar yang kayak gitu, Pak. Ya, itu berdasarkan pengalaman kami. Oh, ternyata ini kebutuhan membentuk karakter itu penting. Nanti ketika di dunia kerja, dalam kehidupan nyata, dalam perjuangan, karakter ini sangat dibutuhkan. Betul. Betul. Untuk membawa perubahan, untuk membawa kemajuan dan kesuksesan. Betul. Karena memang saya juga melihat itu beda karakternya, Pak. Anak pesantren ketika di rumah kayak ibarat bebas gitu loh. Bukan bebas, balas dendam. Balas dendam lah. Ini saya enggak mau. Oke. Maka saya buat konsep liburan kami enggak ikut peraturan apapun. Kamu bisa libur bahkan setiap 3 bulan asal kamu di pondok produktif. Hmm. Kamu dapat jatah sambangan. Kalau kamu enggak produktif, kamu hanya bisa setengah jam. Hm. Tapi kalau kamu produktif bisa sehari, bisa setengah hari dan lain sebagainya. Dan itu yang membangun mental. Yang kedua, leadership kami ajarkan. Jadi, bagaimana mereka memimpin karena kami melihat terutama saya ngalami di perusahaan, betapa butuhnya kita leader-leader yang bagus bisa menggerakkan dirinya dan menggerakkan bawahannya. Itu penting untuk bisa maju semua perusahaan. Kalau ada kader seperti ini akan sangat bagus. Yang ketiga adalah entrepreneurship. saya ajari bagaimana sih mereka berpikir tidak menjadi karyawan, tapi bagaimana mereka entrepreneur? Yang keempat adalah bahasa tadi. Yang kelima adalah mereka harus punya karakter. Dan terakhir mereka harus tasmik 30 juz di Makkah dan Madinah. Masyaallah. E dorong mereka untuk dan alhamdulillah sudah ada empat yang sudah tasbih 30 juz di Mekah Madinah. Oh enam kayaknya sudah enam. Saya aja jadi keinginan anak saya sekelah di situ, Pak. Ya, semoga semoga lagi mungkin ada juga mungkin Pak tapi bukan cewek. Oh, bukan cowok sementara masih cewek. Waduh, ini masih memang banyak yang kepingin tapi saya yes doa saja saya masih belum belum bisa merelasi masih cewek mungkin anaknya apa penonton pecah telur yang ingin yang memiliki anak cewek dan ingin semoga sekolah di sana bisa Pak ya semoga saja ya tarik Allahlah yang menggerak
Resume
Categories