Trump's Tariffs Make Fed CANCELLED Interest Rate Cut?! Here are the FACTS!
is9jvywSOlg • 2025-05-02
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Gara-gara resiprokal tarif inilah, kini
ancaman inflasi kembali muncul. Karena
semua tarif bea masuk yang dibebankan
pemerintah akan langsung terefleksikan
pada kenaikan harga yang bakal dihadapi
oleh US Consumers.
Oke, sahabat Akela yang saya kasihi.
Sesudah saya menjelaskan tentang sejarah
lahirnya uang Fiat melalui video
berjudul Illuminati Rosil, nih fakta
sejarah lahirnya uang Fiat. Sebelum saya
lanjutkan, bagaimana secara timbulnya
teori-teori konspirasi menyesatkan yang
viral di Sosmet hingga YouTube, maka
saya perlu jelaskan dulu fungsi uang
fiat dan saya lanjutkan dengan kondisi
ekonomi global khususnya Amerika Serikat
pasca kebijakan tarif resipokal yang
diluncurkan Trump pada tanggal 2 April
yang lalu dalam hubungannya dengan FOMC
tanggal 6 sampai tanggal 7 Mei yang akan
diselenggarakan The FET. Dan bagaimana
dengan S&P 500 dan Bitcoin Anda? Mengapa
hal ini penting? Ya, karena jika kita
mau tambah sejahtera dan saya yakin
sahabat Akela semuanya juga ingin
hidupnya tambah sejahtera, maka kita
mesti paham bahwa tingkat kesejahteraan
seseorang selalu diukur dengan satuan
nilai uang. Karena itu, yuk kita pahami
dulu apa fungsi uang fiat dalam
kehidupan kita ini. Fungsi uang fiat
yang pertama adalah sebagai medium of
exchange alias alat tukar yang
memudahkan kita untuk membeli atau
menjual barang dan jasa sehingga
memudahkan terjadinya transaksi tanpa
perlu barter.
Sehubungan dengan fungsinya sebagai
medium of exchange atau alat tukar, uang
juga berfungsi sebagai unit of account
alias satuan nilai, yakni sebagai ukuran
nilai untuk menentukan harga barang,
jasa, atau suatu aset. Kita misalnya
kalau masuk online marketplace, apakah
itu Shopee, Tokopedia, kita dengan mudah
mengetahui berapa harga suatu produk
yang kita inginkan. Selain itu, karena
adanya daya beli yang terkandung di
dalamnya, maka uang juga memiliki fungsi
sebagai monetary policy instrument atau
alat kebijakan moneter yang sering
digunakan bank sentral, BI atau DEFET
contohnya untuk mengatur ekonomi seperti
mengendalikan laju inflasi atau
stabilitas ekonomi melalui suku bunga
dan suplai uang. Yang terakhir, karena
daya beli yang terkandung di dalamnya,
maka uang juga berfungsi sebagai storage
of value atau sarana penyimpan nilai
yang memudahkan kita untuk menyimpan
daya beli yang kita bisa gunakan di masa
depan. Akan tetapi harap diperhatikan
sebagai stories of value, uang ini
adalah alat penyimpan daya beli yang
paling buruk. Karena secara konsisten
dan berkesinambungan alias terus-menerus
daya beli yang tersimpan dalam uang itu
selalu tergerus terus atau berkurang
tiap tahunnya. Penurunan daya beli uang
ini dikenal dengan istilah inflasi.
Dalam dunia sehari-hari kita bisa lihat
ada banyak sekali barang dan jasa
kebutuhan hidup kita sehari-hari yang
harganya senantiasa mengalami kenaikan
tahun ke tahun. Nah, inflasi ini bisa
naik, bisa turun. Namun, harap diingat
ketika inflasi turun itu bukan berarti
harga, barang-barang dan jasa turun.
Penurunan inflasi dalam dunia ekonomi
seringki dikenal dengan istilah
disinflasi atau
disinflation. Harga barang dan jasa
tetap naik, namun kenaikannya yang
berkurang. Jika sebelumnya dalam setahun
misalnya itu naik 5%, maka kini dalam
setahun itu naiknya cuma 2%. Namun harap
diingat itu berarti harga
barang-barangnya itu tetap naik. Nah,
apakah harga barang-barang dan jasa ini
tidak akan pernah turun lagi? Jawabnya
ada, kemungkinan kecil. Namun ini hanya
akan terjadi jika kondisi ekonomi sangat
luar biasa buruknya. Dan dalam dunia
ekonomi, penurunan harga-harga ini
dikenal dengan istilah
deflasi. Loh, bukannya harga
barang-barang turun mestinya kan bagus
kan? Kok saya tadi bilang kondisi
ekonomi yang luar biasa
buruknya. Iya, sebagai konsumen bisa
jadi bagus. Namun bagi produsen apabila
deflasi ini berkelanjutan menjadi
deflationary spiral akibat rendahnya
permintaan secara agregat, maka deflasi
ini adalah
malapetaka. Loh, kok bisa malapetaka?
Ya, bayangkan aja Anda punya suatu
pabrik tekstil misalnya atau garment dan
karena lesunya permintaan, Anda terpaksa
harus pangkas harga produk Anda dengan
harapan penjualan bisa jadi naik karena
harganya didiskon. Namun, kompetitor
Anda dalam waktu singkat juga tahu bahwa
wih pabrik situ pangkas harga loh. Maka
dia juga ikut pangkas harga. Dan apa
yang terjadi dalam waktu singkat pabrik
yang tetangganya lagi, kompetitor yang
lain itu juga pangkas harga lagi.
Akibatnya semua main pangkas harga
terjadilah price war atau perang harga.
Dan harga barang-barang jadinya turun
turun turun turun turun sampai pada satu
titik mereka jual di bawah harga pokok
produksi. Maka itu artinya pabrikan ini
sekarang terpaksa menjual dengan harga
rugi. Dan jika kondisi masih
berkelanjutan, maka satu persatu siapa
yang tahan suruh kerja rugi.
Pabrikan-pabrikan ini akan terpaksa satu
persatu menutup usahanya dan PHK pun
jadi melonjak hingga angka pengangguran
naik secara
signifikan. Jadi ada inflasi,
disinflasi, dan deflasi. Inflasi berarti
kenaikan harga barang-barang dan jasa.
Sementara disinflasi berarti kondisi
inflasi yang turun. Namun inflasinya
masih tetap positif. Dengan kata lain,
harga barang-barangnya masih tetap naik,
tapi naiknya kenaikannya itu turun.
Sementara deflasi adalah kondisi di mana
rendahnya permintaan berakibat
harga-harga jadi turun alias inflasinya
negatif. Nah, idealnya inflasi itu
bergerak konstan stabil. di kisaran 2%
year over year. Pertanyaan selanjutnya,
siapa yang bertanggung jawab menjaga
inflasi ini agar tetap konstan 2% per
tahunnya? Jawabnya adalah bank sentral
masing-masing negara. Kalau di Indonesia
itu ada Bank Indonesia, sementara kalau
di Amerika ada Federal Reserve atau the
FEAT. Jadi harap diperhatikan ya, fungsi
defed itu adalah salah satunya menjaga
stabilitas harga alias mengendalikan
inflasi dan sekaligus juga menjaga
jumlah tenaga kerja yang maksimal atau
maksimum employment. Jadi, baik The Fed
maupun BI adalah lembaga negara
independen, bukan pemerintah dan juga
bukan swasta. Dalam hal de tanggung
jawabnya dikenal dengan dual mandate dan
itu adalah price stability dan maximum
employment. Saya sering menerima
komentar atau pertanyaan yang
kekoh bilang bahwa The Fed adalah bank
swasta. Bahkan parnya ada dosen dari
suatu universitas yang ngotot bilang ke
saya bahwa the bank swasta.
Dasar argumentasinya adalah jika bukan
pemerintah berarti swasta dong. Yaitu
dasar pemikiran yang sangat dangkal.
Karena jika semua lembaga non pemerintah
itu berarti swasta, maka berarti DPR
yang sidang di Senayan itu adalah swasta
juga berarti ya. Lembaga negara itu ada
yang secara struktural independen, tidak
berada di bawah pemerintah, tidak tunduk
di bawah pemerintah, tapi mereka bukan
swasta. BI contohnya DPR contoh
berikutnya. Nah, kenapa bisa terjadi
penyesatan-penyesatan seperti ini? Ya,
penyebab utamanya apalagi kalau bukan
teori
konspirasi. Itu sebabnya supaya
masyarakat netizen tidak semakin
tersesat, channel Akela ini hadir untuk
Sahabat Akela. Contohnya adalah video
yang saya buat untuk menjelaskan
independency the Fat dan sejarah
lahirnya The Fat. Anda bisa menyimaknya
nanti di link yang ini. Pertanyaan
selanjutnya, lantas bagaimana dengan
kondisi inflasi di Amerika sekarang ini?
Apakah DEF akan memangkas suku bunga
pada FOMC tanggal 6 sampai 7 Mei yang
akan datang ini? Untuk itu, mari kita
lihat data berikut ini. Ini adalah data
headline CPI inflation. Headline itu
artinya
keseluruhan alias seluruh komponen
termasuk makanan. komoditas energi
seperti BBM, transportasi, biaya
pendidikan, perumahan, kesehatan,
hiburan, dan lain-lain itu semua masuk
semua. CPI ini singkatan dari Consumers
Price Index dan data ini dirilis oleh
BLS atau Bureau of Label Statistic.
Perhatikan, ada penurunan CPI inflation
yang cukup signifikan di bulan Maret
2025, yakni turun jadi
2,4% turun 0,4% dari level 2,8% di bulan
Februari atau bulan sebelumnya. Data ini
adalah year over year yang artinya
bilamana dibandingkan dengan data 1
tahun sebelumnya yakni Maret 2024, maka
harga-harga di bulan Maret 2025 ini
mengalami kenaikan sebesar
2,4% dalam setahun
terakhir. Nah, jadi kalau ada pengusung
teori konspirasi yang bilang bahwa data
CPI inflation ini adalah data yang
dibuat-buat atau scam karena komponen
energi dikeluarkan atau health care-nya
enggak ada dikeluarkan, itu salah
besar. Memang biasanya kalau tidak paham
detailnya, maka jalan pintasnya adalah
ya bilang aja datanya scam atau
dibuat-buat gitu. Oke, lanjut. Data
berikutnya adalah core CPI inflation.
Nah, apa bedanya headline CPI dengan
core
CPI? Jika ada core CPI, ada kata core,
maka itu artinya komponen energi dan
makanan
dikeluarkan. Jadi, teliti ya, ada dua
data yang dirilis. Yang satu adalah
headline CPI di mana semuanya termasuk
dan ada core CPI di mana komponen energi
dan makanan
dikeluarin. Nah, pertanyaannya adalah
kenapa kok gitu?
Ini lagi-lagi bukan bertujuan untuk
dibuat-buat atau scam, namun
karena energi dan makanan ini volatile
alias bisa berfluktuasi besar dan dapat
mengaburkan tren inflasi jangka panjang
yang
sebenarnya. Harga energi contohnya
sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal
seperti cuaca, geopolitik. Misalnya ada
konflik nih di Timur Tengah atau
keputusan OPEC, sementara harga pangan
itu dipengaruhi oleh musim, bencana
alam, ya bisa banjir, kekeringan, atau
gangguan rantai pasokan, supply chain.
Nah, sekarang coba lihat bahwa sejalan
dengan CPI inflation, data core CPI
inflation juga turun signifikan dari
3,1% menjadi 2,8%.
Hal ini menunjukkan bahwa baik headline
CPI maupun core CPI inflation sudah
turun menuju target ideal the yakni 2%
year over
year. Nah, di Amerika ini ada dua
lembaga yang menerbitkan data inflasi.
Yang pertama adalah headline CPI dan
Core CPI diterbitkan oleh BLS Biro Olab
Statistik atau Dep nakernya Amerika.
Sementara data inflasi yang satunya lagi
yang menjadi data inflasi referensi
utamanya The Fed adalah headline PCI dan
Core PC. PCE itu adalah singkatan dari
personal consumption expenditure dan
data ini diterbitkan oleh BEA atau
Bureau of Economic Analysis yakni Depak,
Departemen Perdagangannya Amerika. Data
PCE ini dirilis oleh BEA pada tanggal 30
April 2025 yang terakhir, yang paling
baru dan nampak bahwa PCE inflation
bulan Maret mengalami penurunan
signifikan dari 2,7% di bulan Februari
menjadi
2,3% di bulan Maret 2025.
Ini berarti bilamana dibandingkan dengan
Maret 2024, harga barang-barang dan jasa
itu hanya naik 2,3% di bulan Maret 2025.
Ini udah hampir
2%. Sementara itu, Core PC inflation itu
juga turun signifikan dari level 3,1% di
bulan sebelumnya menjadi hanya 2,8% di
bulan Maret 2025. Nah, supaya sahabat
Akela lebih jelas lagi, ayo bandingkan
sekarang dengan proyeksi yang dilakukan
The Fed pada FOMC Maret 2025 yang lalu.
The Fed memproyeksikan hingga akhir
tahun 2025 PCE inflation itu berada di
level 2,7%. Kenyataannya sekarang ini
PCE inflation ini sudah jauh di bawah
proyeksi tersebut. Saat ini PC inflation
itu sudah 2,3%.
The F memproyeksikan core PC inflation
hingga akhir 2025 berada di level
2,8%. Ini baru bulan Mei dan core PC
sudah turun ke level 2,8%.
Karena itu seharusnya tidak ada alasan
lagi bagi The Fed untuk tidak memangkas
suku bunga pada FOMC tanggal 6 hingga 7
Mei 2025 ini. Akan
tetapi kini muncul satu variabel
pengganggu yang sangat signifikan dan
itu
adalah resiprokal tarif.
Gara-gara resiprokal tarif inilah kini
ancaman inflasi kembali muncul karena
semua tarif bea masuk yang dibebankan
pemerintah akan langsung terefleksikan
pada kenaikan harga yang bakal dihadapi
oleh US Consumers.
Trump sendiri menuding Jerome Powell
playing Politics dengan tidak memangkas
suku bunga di tengah kondisi inflasi
yang menurun
ini. Ada pepatah ketika seorang
menudingkan jari telunjuknya ke orang
lain, sesungguhnya ada tiga jari lainnya
yang sedang menuding ke dirinya
sendiri. Pepatah ini sangat pas buat
Trump. Kenapa? ya. Karena harap teliti
lagi data inflasi yang dirilis BA maupun
BLS ini semuanya adalah data inflasi
bulan Maret. Sementara tarif resiprokal,
Anda kan ingat itu baru diumumkan
tanggal 2 April.
Dengan kata lain, jika tidak ada tarif
resiprokal, maka kemenangan def mencapai
soft landing alias menurunkan inflasi
tanpa mengakibatkan resesi. Itu sudah
hampir bisa
dipastikan. Mau bukti? Gampang. Ini ada
data University of Michigan Inflation
Expectation. Data ini adalah indikator
ekonomi yang mengukur ekspektasi
konsumen di Amerika Serikat terhadap
perubahan harga barang dan jasa dalam 12
bulan ke depan atau 1 tahun dan 5 hingga
10 tahun ke depan atau 5 tahun.
Indikator ini dihasilkan dari Surface of
Consumers yang dilakukan oleh University
of Michigan Survei Research Center.
Survei dan indikator ini diciptakan pada
tahun 1946 oleh Prof. George Katona,
seorang
ekonomsik yang dikenal sebagai pelopor
dalam studi sentimen konsumen dan
pengaruhnya terhadap ekonomi. The Fed
memantau indikator ini untuk memantau
apakah ekspektasi inflasi itu stabil di
kisaran target inflasi 2%. Ekspektasi
yang melonjak misalnya pada bulan April
2025, ekspektasi 1 tahun ini melonjak
menjadi
6,7% atau tertinggi sejak tahun
1981. Dan ini tidak lain dikarenakan
adanya kekhawatiran tarif resiprokal
Trump dapat memicu kekhawatiran bahwa
inflasi ini menjadi akan sangat sulit
dikendalikan. Berdasarkan Surface of
Consumers University of Michigan, justru
kebijakan tarif Trump inilah yang
membuat The FET terpaksa harus menunda
pemangkasan suku bunganya. Karena
gara-gara tarif kini muncul
kekhawatiran, sentimen akan terjadinya
lonjakan inflasi. Mau bukti lagi?
Tenang. Akela selalu bicara atas dasar
data dan fakta. sama sekali tidak ada
propaganda politik apalagi teori
konspirasi. Pada tanggal yang sama, Bro
of Economic Analysis juga merilis data
Advance GDP. Data Advance GDP
menunjukkan bahwa bila dibandingkan
dengan quarter 1 tahun 2024, ekonomi
Amerika bertumbuh 2% di kuarter pertama
2025. The F memproyeksikan GDP slow down
ke level 1,7%. year over year di akhir
2025. Tapi di kuartal 1, BEA menunjukkan
data
2%. Kini GDP slow down namun masih jauh
berada di atas proyeksi The Fed masih
berada di kisaran 2% sementara PCI sudah
turun ke 2,3% dan core PCI sudah turun
ke level 2,8%.
Ini berarti kondisi ekonomi masih
resilience, masih bagus, masih bertahan
2% walaupun slowd tapi inflasinya sudah
turun ke 2,3%. Untuk corec sudah turun
ke 2,8%. It would have been a perfect
soft landing
scenario. Tapi coba lihat data advance
GDP ini lagi. Sekarang lihat data
quarter over quarter negatif. min
0,3%. Berarti untuk pertama kalinya GDP
Amerika terkontraksi bilamana
dibandingkan dengan kuartal sebelumnya
lah. Penyebabnya apa? Oke, ingat GDP itu
adalah C + G + I + X - M. C itu
household consumption, Gvernment
spending. E atau I itu adalah
investment, X adalah eksport, dan M
adalah impor. Penyebab utama kontraksi
ini adalah karena adanya lonjakan impor
sejak awal pemerintahan Donald Trump.
Anda bisa lihat sendiri datanya pada
grafik impor Amerika ini. Hal ini juga
dikonfirmasi oleh BE sendiri. Lonjakan
impor Amerika memberikan kontribusi
terhadap penurunan GDP hingga 5%
sementara investasi memberikan
kontribusi positif hingga hampir 4%
sehingga ketika di total net GDP itu
terkontraksi sebesar
0,3%. So, berarti min 0,3% ini adalah
karena adanya lonjakan impor pada
kuartal pertama.
Lantas kenapa terjadi lonjakan impor
pada kuartal pertama di Amerika? Ya
bayangkan aja jika Anda importir dan
akan dikenakan tarif gak peduli
berapapun besarnya apa yang Anda
lakukan. Mumpung tarifnya belum jalan,
ya sekarang langsung isi gudang-gudang
kita ini semua penuhin semua
gudang-gudang di Amerika sebelum nanti
tarif diberlakukan. Kan gitu kan
logiknya kan begitu. Mumpung belum
dikenakan tarif impor, isi aja gudang
dulu sebanyak-banyaknya. Impor aja
sebanyak-banyaknya. Pada saat presentasi
ini saya buat, indeks S&P 500 berhasil
rebound dan beberapa hari ada sinyal
buy. SP 500 juga berhasil menembus
resistance-nya di level
5459 dan berarti untuk short term ke
depan SNP 500 bullish.
Dan untuk Bitcoin coba perhatikan ada
sinyal buy di level
83380 pada tanggal 11 April yang
diberikan oleh Timo quantitative trading
system yang kami gunakan di Akela.
Bitcoin sejak itu berhasil bullish
hingga level 95.112.
Akan tetapi hingga saat presentasi ini
saya buat, ada
91,6% peluang The Fed tetap
mempertahankan suku bunga di level 425
hingga 450. Dengan kata lain, besar
kemungkinan pada FOMC kali ini
walaupun inflasi sudah
turun, tapi kali ini The Fed terpaksa
harus tetap bertahan di 425 hingga
450. Pasar akan sangat menantikan
komentar Jerem Pawel pada perserence
sesudah FMC statement diumumkan. Akela
mengantisipasi bahwa kali ini Powell
akan sangat berhati-hati dan The Fed
akan memilih untuk menantikan data
inflasi ke depannya guna mengetahui
seberapa besar pengaruh tarif resiprokal
Trump ini terhadap tren inflasi Amerika
yang sebelumnya saya jelaskan tadi.
Harusnya ini sudah bisa dipastikan
menjadi perfect soft landing scenario
dan kini seberapa besar disrupsi yang
ditimbulkan oleh trade war 2.0 ini itu
yang menjadi faktor variabel uncertainty
yang sangat besar. Nah, sahabat Akela
semua, demikianlah analisa FOMC 6 hingga
7 Mei yang akan datang. Dan jangan lupa
khusus bagi subscribers channel ini,
Anda bisa konsultasi sehubungan dengan
investasi ataupun trading Anda langsung
dengan saya dan Bapak Hendra Martonoim,
pencipta TIMO quantitative Trading
System melalui Akela live streaming yang
kami selenggarakan tiap hari Kamis pukul
19.30 WIB di channel ini. Karena itu,
pastikan diri Anda sudah subscribe, klik
tombol like-nya, dan silakan share ke
teman-teman Anda yang membutuhkan.
Semoga bermanfaat semuanya. Sukses
selalu dan sampai jumpa.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:55:32 UTC
Categories
Manage