Operasi Midnight Hammer: Serangan Bunker Buster AS Guncang Iran! Awal Perang Dunia ke-3?
MSCyWTGeDKU • 2025-06-24
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Sahabat Akela, sebagaimana kita ketahui
bersama saat ini tengah pecah perang
antara Israel dengan Iran. Dan pada saat
video ini saya buat, Presiden Trump
mengumumkan bahwa Amerika Serikat sudah
meluncurkan serangan bom yang
menggunakan bom GBU 57 Series MOP atau
Massif Ordnance Penetrator, yakni bom
seberat 30.000 1000 pound atau 13,6
ton yang merupakan precision guided
bangke busted bom terbesar di dunia saat
ini. Bom ini diangkut dengan pesawat
siluman B2 Spirit. Seperti biasa, dunia
maya di Indonesia itu langsung ramai.
Dan seperti biasa, channel Akela juga
akan membahas krisis ini dimulai dari
latar belakang sejarahnya. Ketika saya
menyebut latar belakang sejarah, maka
Anda mungkin akan menduga peristiwa 7
Oktober 2023 serangan Hamas atas Israel.
Well, enggak jauh sebelum itu. Kalau
jauh sebelum itu, Anda mungkin akan
menyebut perang Lebanon, Intifada,
Yomkipur, atau bahkan perang Arab Israel
pertama tahun 1948.
Enggak juga. jauh sebelum itu ya, karena
saya akan memulainya dari tahun 632
Masehi. Jadi harap maklum jika videonya
jadi agak panjang.
Nah, kenapa 632 Masehi? Saya akan
mengajak Anda untuk mengerti, memahami
latar belakang sejarahnya secara lengkap
dari awal muasalnya sekali.
Pada tahun 632 Masehi, Madinah berduka.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi
wasallam wafat. Meninggalkan umat Islam
dalam kesedihan mendalam. Namun di
tengah duka, sebuah pertanyaan besar
menggantung.
Siapa yang akan memimpin umat Islam
setelah Nabi tiada? Para sahabat utama
dari kalangan Muhajirin dan Ansyar
segera berkumpul di Sakifah Bani Saidah.
Dan setelah memusyawarahkan
secara panjang lebar, mereka akhirnya
memutuskan untuk memilih Abu Bakar
Assiddiq sebagai khalifah pertama.
Inilah cikal bakal mazhab Suni yang
meyakini bahwa pemimpin umat harus
dipilih melalui musyawarah.
Tapi tidak semua setuju. Sebagian umat
ternyata ya, terutama keluarga Nabi
merasa bahwa Ali bin Abi Thalib sepupu
sekaligus menantu Rasulullah adalah
pilihan yang lebih layak bagi mereka.
Ali bukan hanya dekat secara darah, tapi
juga secara spiritual dengan Nabi. Dari
sinilah lahir mazhab Siah yang memegang
teguh bahwa kepemimpinan Islam hanya sah
jika berasal dari Ahlul Bait atau
keluarga Nabi. Nah, kepemimpinan Abu
Bakar atau lengkapnya Abu Bakar
As-Siddiq radhiallahu anhu disingkat RA
sebagai bentuk penghormatan bahwa beliau
ini adalah sahabat Nabi. Kepemimpinan
Abu Bakar adalah tonggak periode
dimulainya era khulafau Rasyidin yang
merujuk pada empat orang pemimpin umat
Islam pertama
sepeninggal Abu Bakar. Saya agak
percepat sedikit ya, Sahabat Akela.
Kekhalifahan berlanjut ke Umar bin
Khattab radhiallahu anhu. Kemudian
Utsman bin Affan radhiallahu anhu. Dan
akhirnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu
anhu. Namun masa kepemimpinan Ali ini
penuh gejolak. Perang Jamal, kemudian
ada perang Sifin dan puncaknya tragedi
Karbala pada tahun 680 Masehi.
Di Karbala, Husain bin Ali, cucu Nabi
ini dibunuh dengan sangat kejam.
Peristiwa ini langsung mengguncang umat
Islam dan menjadi luka abadi khususnya
bagi Syiah. Dan peristiwa ini diyakini
melambangkan pengkhianatan dan
ketidakadilan.
Sejak saat itu, Sunni dan Syiah semakin
menjauh berbeda dalam hukum bahkan
hingga ibadahnya, bahkan hingga
pandangan tentang otoritas keagamaan.
Namun konflik antar negara yang kita
kenal hari ini baru benar-benar membara
sejak tahun 1979.
Nah, sekarang kita masuk ke tahun 1979.
Di Iran rakyat bangkit melawan Shah Reza
Palevi, raja yang sekuler dan didukung
oleh Barat berarti Amerika Serikat.
Rezimnya digulingkan. Dan dari
pengasingan, seorang ulama Syiah,
Ayatullah Rahullah Qomeni kembali datang
pulang ke Iran untuk memimpin. Ia
mendirikan Republik Islam Iran, sebuah
negara yang tak hanya mengganti monarki
dengan republik, tetapi juga
memperkenalkan teokrasi berbasis wilayat
al-Fqih di mana ulama memegang kendali
tertinggi.
Tapi Iran tidak berhenti di situ. Komeni
punya visi besar, yakni menyebarkan
ideologi revolusi Islam Siah ke seluruh
dunia Muslim. Ini bukan sekedar mimpi.
Ini ancaman nyata bagi negara-negara
Suni seperti Arab Saudi, Mesir, dan
negara-negara teluk. Mereka kini melihat
Iran bukan lagi sebagai tetangga, tetapi
sebagai kekuatan revolusioner yang ingin
mengguncang tatanan kawasan.
Akibatnya ketegangan pun meledak.
Akhirnya pada tahun 1980, Irak yang
dipimpin oleh Saddam Husein menyerang
Iran. Memicu perang Iran Irak yang
berlangsung 8 tahun dan menelan lebih
dari 1 juta jiwa. Perang ini mengajarkan
Iran pelajaran pahit. Mereka tak bisa
menang dengan konfrontasi langsung.
Karena itu mereka kemudian beralih ke
strategi baru, yakni membangun jaringan
proksi dan milisi bersenjata di seluruh
area Timur Tengah.
Iran kemudian mulai menjalin pengaruh
melalui kelompok-kelompok bersenjata
yang didukungnya. Yang pertama adalah
Hizbullah di Lebanon yang kini jadi
kekuatan politik dan militer. Yang kedua
ada hutis di Yaman yang mengacaukan
stabilitas teluk. Yang ketiga ada
milisisiah di Irak yang memperkuat
cengkraman Iran di Baghdad. Kemudian
jangan lupa pemerintahan Basyar Al-Asad
di Suriah sekutu setia Teheran. Bahkan
Hamas dan Islamic Jihad di Gaza juga
mendapat dukungan Iran.
Jaringan inilah yang membentuk apa yang
disebut sebagai bulan sabit siah atau
the Siah Cresen. Sabuk pengaruh siah
yang membentang dari teheran melintasi
Baghdad, Damaskus, Berut hingga Gaza.
Bagi Iran ini adalah cara untuk
memperluas ideologi dan kekuatan tanpa
perang terbuka. Tapi bagi negara-negara
Sunni ini adalah mimpi buruk. Iran bukan
lagi sekedar menyebarkan ajaran, mereka
menyokong senjata, pelatihan dan agenda
politik yang mengguncang kawasan.
Nah, lompat ke tahun 2020, tepatnya 15
September 2020, dunia dikejutkan oleh
Abraham Accords. Untuk pertama kalinya
Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan
Sudan menandatangani perjanjian damai
dengan Israel.
Negara-negara Arab ini membuka hubungan
diplomatik dengan Israel. Sesuatu yang
dulu tidak pernah terbayangkan.
Mengapa mereka kok mau melakukannya?
Jawabnya sederhana. Iran.
Mereka merasa adanya ancaman dari
Teheran mendorong mereka mencari sekutu
baru termasuk Israel. Kesepakatan ini
digagas dan difasilitasi oleh
pemerintahan Donald Trump yang pertama
dulu sebelum Joe Biden melalui peran
utama Jaret Kusner, suami Ivan Katram
dan Avi Berkovic didampingi Stepen
Menucin, US Treasury Secretary, Menteri
Keuangannya saat itu.
Selain itu, ada harapan akan stabilitas
ekonomi dan keamanan kawasan. Bahkan
Arab Saudi yang selama ini menjaga jarak
mulai melirik kemungkinan bergabung ke
Abraham, didorong oleh Amerika Serikat
dan bahkan dimediasi oleh Tiongkok
perdamaian seolah benar-benar di depan
mata.
Tapi tidak semua pihak ternyata senang
akan hal itu. Iran yang sejak tahun 1979
konsisten menolak keberadaan Israel
secara totalitas.
Iran yang memegang teguh prinsip bahwa
negara Israel dan seluruh Zionis harus
lenyap dari Timur Tengah melihat hal ini
sebagai pengkhianatan
bagi mereka. Abrahamot adalah bukti
bahwa dunia Arab Suni mulai berpaling
dari perjuangan Palestina.
Bagi Iran, Israel bukan lagi sekedar
musuh, tapi keberadaannya sudah dianggap
haram. Sejak revolusi 1979,
Iran bertekad menghapus Israel dari
peta. bukan hanya lewat retorika, tapi
juga dengan mendukung kelompok-kelompok
seperti Hamas, Hizbullah, dan Islamic
Jihad. Bagi mereka perlawanan bersenjata
adalah satu-satunya jalan.
Di sisi lain, dunia suni moderat mulai
berpikir berbeda. Negara seperti Arab
Saudi, Mesir, Yordania, dan UAE atau Uni
Emirat Arab tetap kritis terhadap
Israel, tapi mereka melihatnya sebagai
realitas geopolitik yang tak bisa
diabaikan.
Solusi dua negara maksudnya Israel dan
Palestina hidup berdampingan
serta diplomasi kini jadi pilihan yang
lebih realistis ketimbang perang
terus-terusan tanpa akhir.
Sahabat Akela, jika Anda masih belum
jelas bagaimana persepsi negara-negara
Arab Suni, contohnya Arab Saudi terhadap
Iran, tahu enggak sebutan apa yang
digunakan putra mahkota Muhammad bin
Salman tentang Ayatullah Ali Kameni,
Supreme Leader Iran? Silakan Anda dengar
sendiri dalam cuplikan video berikut
ini. But you called theatola
the new Hitler of the Middle East.
Absolutely. Why?
Because he wants to expand. He wants to
create his own project in the Middle
East very much like Hitler who wanted to
expand at the time. Many countries
around the world and in Europe did not
realize how dangerous Hitler was until
what happened? I don't want to see the
same events happening in the Middle
East. Does Saudi Arabia need nuclear
weapons to counter Iran?
Saudi Arabia does not want to acquire
any nuclear bomb.
Dari video tersebut nampak jelas bahwa
Arab Saudi melihat Iran sebagai sebuah
ancaman.
Dan tepat saat Saudi dan Israel hampir
mencapai kesepakatan,
pada tanggal 7 Oktober 2023, Hamas
melancarkan serangan mendadak ke Israel.
Ribuan roket menghujani langit. Pagar
perbatasan dijebol dan lebih dari 1200
orang tewas dalam sehari. Serangan ini
bukan hanya tragedi, ini langsung
mengguncang tatanan kawasan. Abraham
Accords ya jelas terguncang. Dunia Arab
kembali terpecah antara yang mendukung
perjuangan Palestina dan yang
mengutamakan stabilitas kawasan. Bagi
Israel dan Amerika Serikat, serangan ini
jadi titik balik. Mereka kemudian tidak
hanya menyerang balik Gaza,
tapi juga mulai membidik jaringan proksi
Iran di seluruh kawasan
yang mengejutkan
ternyata tidak ada satuun negara Islam
lain yang bergerak menghentikan serangan
Israel dan Amerika Serikat. Yang paling
nampak jelas adalah serangan udara yang
dilakukan Israel
sebelum operation Midnight Hammer
guna mencapai Iran, pesawat-pesawat
tempur Israel ini harus melintasi
wilayah udara Arab Saudi, Irak, dan
Yordania.
Secara teknis, negara-negara ini bisa
menutup ruang udara mereka dan
menghambat serangan. Tapi yang terjadi
adalah mereka memilih diam-diam saja.
Di depan publik beberapa pemimpin
mungkin mengutuk Israel, tapi di balik
layar sikap mereka jelas. Iran adalah
ancaman yang lebih besar. Bagi banyak
negara Suni, serangan ke Iran justru
terasa seperti angin segar.
Satu persatu jaringan proksi Iran
kemudian mulai goyah. Yang pertama Gaza
hancur lebur. Hamas kehilangan kekuatan
militer dan politik. Yang kedua, hutis
di Yaman terisolasi dan terblokade baik
udara maupun laut. Yang ketiga,
Hizbullah di Lebanon lumpuh akibat
serangan presisi dari Israel. Yang
keempat, jauh sebelum ini semua Basyar
Al-Asad di Suriah semakin terpojok dan
bahkan dikabarkan mengungsi ke Moskow
sudah digulingkan. Kemudian puncaknya
pada tanggal 21 Juni 2025 Amerika
Serikat melancarkan operation Midnight
Hammer yang menyasar tiga situs nuklir
Iran. Fordo, Nathans, dan Esfahan
menggunakan bomb GBU 57 yang diangkut
menggunakan pesawat siluman B2 Spirit.
Mereka dengan menggunakan bomban
bangkebaste terbesar dunia ini
menghancurkan ambisi nuklir teheran.
Proxi Iran tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka sudah melemah oleh serangan
Israel yang sebelumnya. Posisi Iran kini
berdiri sendiri, terjepit, terisolasi di
tengah kawasan yang berubah. Pada saat
video ini dibuat, Iran mengumumkan akan
menutup Selat Hormus sebagai respon atas
operation midnight hammer yang
dilancarkan Amerika.
Hal ini memang sudah sering dilakukan
Iran, yakni dengan melancarkan berbagai
serangan terhadap kapal-kapal dagang
atau kapal tanker yang lalu lalang di
situ. Bisa dengan cara disita kapalnya
ya, kapal dagang atau kapal tanker atau
dengan menggunakan serangan drone dan
rudal atau pemasangan ranjau laut atau
serangan menggunakan kapal cepat arg.
Namun lagi-lagi harap diingat bahwa
Selat Hormus ini bukan 100% wilayah yang
dikuasai Iran. Iran hanya punya pesisir
utaranya. Sementara pesisir selatan itu
adalah dikuasai Uni Emirat Arab dan
Musandam. Slide Hormus ini secara aktif
dilalui oleh kapal-kapal dari Iran,
Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, UAI, dan
Arab Saudi. Juga negara-negara lain di
dunia termasuk Tiongkok.
Nah, bagaimana respon Trump atas
tindakan Iran menutup Selat Hormus?
Apakah ada gelombang serangan udara
besar-besaran lagi? Ternyata enggak.
Trump hanya meminta US Secretary of
State Marco Ruby untuk telepon Tiongkok
guna meminta Iran membuka Selat Hormus.
Loh, kok malah nyuruh Tiongkok?
Jawabnya adalah karena sejak tahun 2017
Tiongkok menjadi pengimpor minyak
terbesar di dunia melampaui Amerika
Serikat. di mana sekitar 40% dari impor
minyak Tiongkok berasal dari kawasan
Teluk Persia termasuk Arab Saudi, Irak,
UAE, dan Iran sendiri. Walaupun sudah di
embargo
harusnya enggak bisa, tapi tetap aja
Iran supply pakai black fleet ya ee
jalur gelap yang penting enggak
ketahuan. Dan hampir semua pengiriman
minyak dari negara-negara tersebut harus
melewati Selat Hormus untuk menuju laut
Arab, kemudian lanjut ke Samudera
Hindia, kemudian lanjut ke Selat Malaka
dan terus ke utara nyampai ke Tiongkok.
Dengan demikian, jika Selat Hormus
ditutup
maka Tiongkok akan sangat dirugikan.
Bagi Trump nampaknya ini adalah strategi
yang lebih efisien karena menggunakan
prinsip bisnis bahwa pelanggan adalah
raja. Dengan demikian pembeli terbesar
berarti adalah maharaja.
Penjual harus nurut sama maharaja. Kalau
enggak nanti Maharajanya kabur nyari
penjual yang lain.
Nah, setelah puluhan tahun terbelah oleh
ideologi dan konflik sektarian, Timur
Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda
perubahan. Dunia sunni moderat memilih
jalan diplomasi dan stabilitas. Israel
yang dulu berdiri sendiri, kini malah
punya sekutu tak terduga.
Apakah ini awal dari perdamaian menuju
kawasan Timur Tengah yang baru ataukah
ini justru awal dari sebuah perang dunia
ketiga? Bagaimana dengan Rusia dan
Tiongkok? Nah, pengin tahu analisanya
seperti apa? Oke, bagi yang pengin tahu
klik tombol like-nya dulu. Pastikan diri
Anda sudah subscribe di channel ini dan
pastikan tombol loncengnya aktif supaya
Anda tidak ketinggalan video-video
terbaru dari Akela. Nah, ayo lanjut.
Terus gimana ceritanya Mister Putin? Di
tengah eskalasi konflik antara Iran
dengan Israel dan Amerika, Rusia tampak
memilih diam hanya menyuarakan sikap
diplomatik tanpa melakukan pengerahan
militer atau aliansi terbuka dengan
Iran. Loh, kok bisa? Yang pertama, fokus
Rusia sudah terkuras di Ukraina.
Sejak invasi ke Ukraina tahun 2022,
Rusia mengalami kehilangan puluhan ribu
pasukan kehancuran aset berat, yakni
tank, artileri, jet tempur, dan
seterusnya. Kemudian jangan lupa
mengalihkan pasukan atau logistik ke
Iran hanya akan melemahkan garis
pertahanan Rusia terhadap Ukraina.
Sesuatu yang tidak bisa mereka ambil
risikonya saat ini.
Yang kedua, ketergantungan Rusia
terhadap Israel dalam teknologi dan
ekonomi. Rusia dan Israel itu tetap
menjaga hubungan teknologi dan migrasi.
banyak warga Rusia keturunan Yahudi yang
bermigrasi ke Israel. Kemudian Israel
dikenal tidak pernah memberikan senjata
ofsif ke Ukraina dan Rusia ingin Israel
mempertahankan sikap netral itu.
Sehingga jika Rusia membela Iran secara
militer, maka sangat berpotensi
Israel mungkin akan mengubah posisi
netralnya dan mulai mengirim sistem
senjata canggih ke Ukraina termasuk Iron
Dome dan ini bisa sangat menyulitkan
Rusia. Yang ketiga, Iran dari dulu bukan
sekutu formal Rusia. Iran ini adalah
mitra strategis musiman, bukan aliansi
pertahanan seperti CSTO atau NATO. Rusia
lebih melihat Iran sebagai pemasuk drone
murah, yakni Syahid 136, bukan mitra
pertempuran. Dengan demikian, membela
Iran bukan prioritas eksistensial bagi
Rusia. Bilamana dibandingkan contohnya
dengan mempertahankan kendali atas
Donbas dan Cremia.
Nah, lantas mengapa Tiongkok tidak turun
tangan mengerahkan persenjataan dan
pasukan untuk Iran? Walaupun Tiongkok
secara ekonomi dan diplomatik punya
hubungan erat dengan Iran, terutama
dalam hal energi dan perdagangan, namun
dalam konflik bersenjata terbuka ini,
Tiongkok sama sekali tidak mengerahkan
pasukan atau bahkan menunjukkan dukungan
militer secara langsung. Alasannya cukup
strategis dan realistis. beberapa yang
krusial di antaranya yang pertama
doktrin nonintervensi militer langsung.
Nah, ini adalah doktrin yang dianut
Tiongkok sejak era deng shopping.
Kebijakan luar negeri Tiongkok
menjunjung prinsip nonintervensi militer
langsung kecuali dalam urusan dalam
negeri sendiri. Contohnya Taiwan.
Sehubungan dengan itu, Tiongkok lebih
suka memainkan peran mediator diplomatik
ketimbang jadi pihak yang turut
bertempur. Yang kedua, perlindungan
jalur dagang dan ekonomi global. Tiongk
ini sebagaimana tadi sudah saya jelaskan
di atas sangat bergantung pada
stabilitas Selat Hormus dan laut merah
untuk suplai energi dan ekspor impor.
Jangan lupa 40% kebutuhan crude oil
Tiongkok berasal dari suplai dari Selat
Hormus. Perang besar di Timur Tengah
hanya akan merusak rantai pasok energi
dan memukul ekonomi Tiongkok. Oleh
karena itu, Tiongkok lebih memilih
netral. dan mendesak gencatan senjata
daripada berpihak ke salah satu pihak
contohnya Iran. Dan sama seperti Rusia,
Iran juga bukan mitra militer strategis
Tiongkok. Tiongkok memang menjalin kerja
sama dagang dan investasi dengan Iran.
Benar, tapi tidak pernah membentuk
aliansi militer resmi. Tidak ada
perjanjian mutual defense seperti NATO.
Dukungan Tiongkok hanyalah bersifat
ekonomi dan politik, bukan pertahanan.
Dan yang lebih penting lagi, Tiongkok
ingin tetap menjaga hubungan dagangnya
dengan Israel dan Amerika Serikat.
Barusan aja ditandatangani
perdamaian tahap awal guna menghentikan
perang dagang.
Jika sekarang
mendukung Iran secara militer, maka
rusak dah itu. Israel ini adalah mitra
teknologi penting bagi Tiongkok di
bidang AI, chips, dan cyber security.
Sementara Amerika Serikat adalah mitra
dagang utama dan pasar ekspor Tiongkok
yang terbesar.
Jika Tiongkok membela Iran secara
militer, maka Israel bisa memutus kerja
sama teknologi. Dan jangan lupa Amerika
Serikat bisa menambah sanksi,
memperketat blokade cip dan
semikonduktor dan jangan lupa tarifnya
balik lagi 145%.
Maka meskipun secara narasi global
banyak media menyangka Tiongkok dan
Rusia akan membela Iran secara militer,
kenyataannya tidak demikian. Kedua
negara memilih diam, netral, dan fokus
pada kepentingan dalam negeri dan
kestabilan global mereka sendiri. Atas
dasar itu, saya melihat sangat kecil
peluangnya krisis ini berkembang menjadi
perang dunia ketiga seperti yang
digembor-gemborkan banyak media maupun
influencer. yang lebih mungkin terjadi
adalah terjadinya peningkatan terorisme
pada warga negara Amerika maupun warga
negara Israel secara sporadik. Pagi ini
Senin 23 Juni 2025 pukul 09.00 pagi WIB
hanya nampak reaksi yang sangat tidak
signifikan pada S&P 500 futures. SNP 500
itu turunnya cuma minus 0,4%.
Nah, sedang minus 0,5%.
Bitcoin walaupun kemarin sempat turun
hingga menyentuh level 98.000-an, namun
ternyata sudah rebound kembali dan
ditutup hanya minus 1,1%.
Kemudian muncul berita bahwa Selat
Hormus ditutup oleh Iran. Berarti crude
oil pasti meledak harganya terbang.
Well, crude oil memang sempat naik
sampai 78,4 dolar per barrel. Namun pagi
ini kembali berada di level sekitar 75
US per barrel. Dengan demikian itu hanya
naik 1,7%
dibanding penutupan sebelumnya. Jika
pasar mengantisipasi akan terjadinya
perang dunia ketiga seperti yang
dihebohkan oleh media, maka seharusnya
pagi ini SNP 500 itu sudah crash jauh
lebih parah. Coba bandingkan. Bahkan
nike itu cuman minus 0,57%.
Bandingkan misalnya dengan kejadian
ketika Japanese yan carry tradewinding
yang pernah saya unggah dalam video
Japanesean carry trade unwinding ketika
misis kota Nabi mengguncang dunia.
Kejadian itu terjadi pada tanggal 5
Agustus 2024, sama-sama hari Senin
seperti hari ini. Dan pada saat itu Nike
itu crash hingga minus 12,4%.
Itu baru dahsyat. Ini minusnya NIKE
cuman minus 0,57%.
Reaksi pasar pasca operation Midnight
Hammer ini benar-benar sangat minim.
Satu-satunya sumber yang ramai
menyuarakan perang dunia ketiga hanyalah
media dan termasuk
influencer. Nah, sahabat Akela, semoga
video ini bermanfaat untuk Anda dan
jangan lupa khusus bagi sahabat Akela
yang butuh konsultasi sehubungan dengan
trading maupun investasi di Bursa Efek
Indonesia, bursa saham Amerika, Forex,
Gold, hingga Bitcoin dan aset crypto.
Anda juga bisa ikuti Akela live
streaming di channel ini setiap hari
Kamis malam pukul 19.30 WIB di mana
Akela akan hadir guna menjawab seluruh
pertanyaan Anda lainnya. Semoga
bermanfaat, sukses selalu dan sampai
jumpa.
Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:55:42 UTC
Categories
Manage