File TXT tidak ditemukan.
Krisis Hutang RI Jalan Keluar atau Jalan Buntu
tZMWyx_GJbk • 2025-09-02
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
guna menjaga supaya interest to tax
revenue ratio ini tidak bablas tembus
25%
maka mau tidak mau pemerintah terpaksa
harus menaikkan target penerimaan pajak
Sahabat Akela yang saya kasihi, selama
beberapa hari ini situasi di berbagai
kota besar di negara kita sungguh
teramat sangat mencekam. Kendati pun
masih belum semencekam seperti insiden
Mei tahun 1998. Atas nama Akela, saya
juga mengucapkan bela sungkawa yang
sedalam-dalamnya
atas kepergian saudara Afan Kurniawan
juga semua yang jadi korban berbagai
kerusuhan dan kebakaran yang terjadi
selama beberapa hari terakhir ini. Oke,
dalam video ini saya tidak akan bahas
mengenai demo dan kerusuhan. Dan saya
juga tidak berupaya untuk bilang si A
yang benar atau si B yang salah. Enggak.
Mohon diingat bahwa saya tidak dalam
rangka mengkritik siapun termasuk
netizen, influencer hingga tokoh-tokoh
pemerintah, DPR dan sebagainya.
Melainkan seperti biasa saya hanya
berupaya mengungkapkan data dan fakta
dengan bahasa yang jauh lebih mudah
dipahami sehingga Sahabat Akela bisa
menilainya sendiri. Pada bulan Februari
2024, saya mengunggah video berjudul
Hutang Amerika tembus 34 triliun US Do.
Bagaimana dengan Indonesia? Dalam video
tersebut intinya saya mengatakan bahwa
saya bukan orang yang anti hutang.
Namun konsern saya, kekhawatiran saya
adalah produktivitas hutang.
Video ini lumayan panjang karena ada
banyak data dan fakta yang akan kita
bahas kali ini. Semoga sahabat Akela
bisa sabar menyimaknya sampai selesai.
Oke. Gini, dalam kehidupan kita
sehari-hari ketika kita berhutang
bisa saja misalnya untuk membeli suatu
aset bisa berupa mesin, kemudian
komputer, kemudian kendaraan bermotor
yang ditujukan untuk bisnis yang
menghasilkan income yang lebih besar.
daripada biaya yang harus dibayarkan
untuk bunga dan cicilan utang tersebut.
Maka jadilah utang tersebut jadi utang
yang produktif, berhutang untuk
menghasilkan income. Namun kadang kita
juga bisa jumpai ada orang yang
berhutang untuk beli komputer atau
kendaraan bermotor, namun tidak
ditujukan buat bisnis yang menghasilkan,
melainkan digunakan buat main game
misalnya atau kalau motor ia dipakai
buat jalan-jalan dan lain sebagainya.
Maka jika demikian halnya, hutang
tersebut menjadi hutang yang
nonproduktif
alias konsumtif atau tidak menghasilkan.
Hutang produktif yang di-manage dengan
baik, efektif untuk menumbuhkan kondisi
keuangan kita. Sebaliknya, hutang yang
konsumtif itu sangat buruk untuk kondisi
keuangan kita. Dalam dunia investasi
atau trading ini sama seperti kita
membeli suatu aset dengan leverage alias
margin. Jika harga aset yang dibeli itu
naik, maka keuntungan kita akan jauh
lebih dahsyat karena ada leverage-nya.
Namun sebaliknya, jika harga berbalik
turun kerugiannya itu tidak kalah
dahsyatnya dan Anda bisa terancam fal
sell akibat margin call. perusahaan
broker akan menjual rugi semua aset Anda
secara paksa dan tidak ada yang bisa
Anda lakukan apa-apa. Hal yang sama juga
terjadi dalam skala makroekonomi.
Untuk lebih jelasnya, seperti biasa,
mari kita buka nota keuangan dan APBN
tahun anggaran 2014.
Sejak dahulu kala kita ambil contoh APBN
tahun 2014 ini, beban terbesar APBN kita
adalah subsidi pemerintah. Di mana
subsidi energi adalah yang terbesar
meliputi subsidi BBM dan LPG dan subsidi
listrik sebesar Rp350 triliun.
Ditambah subsidi non energi meliputi
pangan, pupuk, benih, public service
obligation, bunga kredit program, dan
subsidi pajak totalnya menjadi 403
triliun.
Selain itu, pos pengeluaran pemerintah
terbesar lainnya adalah pembayaran bunga
hutang di tahun 2014 besarnya mencapai
triliun.
Pada waktu itu nominal PDB kita atau GDP
adalah 10.542,7
triliun.
Berdasarkan rasio hutang terhadap PDB
sebesar 25,59
persal
hutang pemerintah saat itu adalah
Rp2.697,9
triliun. Pada tahun 2014, total
penerimaan pajak atau tax revenue
pemerintah adalah Rp1.280,39
triliun. Nah, berdasarkan data-data ini
kita bisa hitung sekarang rasio
pembayaran bunga terhadap tax revenue
atau interest to tax revenue ratio
besarnya adalah 10,5%
yang artinya dari total keseluruhan
penerimaan pajak pemerintah 10,5%-nya
digunakan buat bayar bunga hutang.
Berdasarkan rule of time IMF dan World
Bank, angka ini masih jauh di bawah
ambang batas bahaya atau berisiko 25%.
Kembali ke PDB, output ekonomi Indonesia
saat itu mencapai nominal Rp10.542,7
triliun
di mana ekonominya bertumbuh sebesar
5,02%
year over year.
melambat bilamana dibandingkan dengan
tahun sebelumnya yakni 5,58%.
Nah, sekarang mari kita lihat tahun
2024.
Posisi utang kita di penghujung 2024
adalah sebesar 8.680,13
triliun. Berarti jika kita bandingkan
dengan tahun 2014,
dalam 10 tahun saja posisi utang negara
kita naik sebanyak 3,2 kali lipat.
Sementara itu, rasio hutang terhadap PDB
kini menjadi 39,2%.
Bandingkan dengan dep to GDP ratio tahun
2014 itu hanya 25,59%.
Berarti terjadi peningkatan nilai
nominal hutang yang masif signifikan
namun tidak diiringi pertumbuhan output
ekonomi yang seimbang sebesar
peningkatan posisi hutang. Akibatnya dep
to GDP rati-ya naik menjadi 39,2%.
Perhatikan lagi untuk pembiayaan
utangnya kini naik jadi Rp483,6
triliun.
Berarti ada peningkatan pembiayaan utang
sebesar 3,6 kali lipat bilamana
dibandingkan dengan tahun 2014.
Posisi output nominal PDB kita di tahun
2024 berdasarkan catatan dari BPS adalah
sebesar 22.139
triliun. Jika dibandingkan dengan output
PDB tahun 2014 sebesar Rp10.542,7
triliun, berarti ekonomi negara kita
dalam 10 tahun terakhir sudah bertumbuh
sebesar 2,1 kali lipatnya.
Jadi dari data-data ini kita bisa
memperoleh kesimpulan bahwa selama 10
tahun terakhir ekonomi Indonesia
bertumbuh 2,1 kali lipat. Namun ini
diperoleh dengan beban hutang yang
meningkat sebesar 3,2 kali lipat dan
pembiayaan hutang yang naik sebesar 3,6
kali lipat. berarti peningkatan nominal
hutangnya jauh lebih pesat ketimbang
pertumbuhan ekonomi yang diperoleh.
Namun mari kita lanjutkan gali datanya
dulu. Dalam buku kedua, nota keuangan
beserta APBN tahun anggaran 2025, kita
bisa lihat bahwa subsidi pemerintah
justru turun menjadi Rp244,14
triliun. di mana subsidi energi yang
sebelumnya adalah pos pengeluaran
terbesar kini turun menjadi 157,16
triliun
dan ditambah kompensasi listrik menjadi
Rp176,39
triliun.
Bila kita bandingkan dengan subsidi yang
diterima masyarakat di tahun 2014
sebesar Rp350
triliun,
maka berarti angka subsidi pemerintah di
tahun 2024 ini sudah berkurang sebanyak
49,6%.
Maksudnya
jika dulu BBM, LPG, dan listrik itu
ditraktir pemerintah sejumlah nilai
tertentu, maka kini traktirannya itu
berkurang kira-kira separuhnya.
Nah, ini jangan dikomplain, tapi tetap
disyukuri. Lah wong namanya ditraktir
kok gak disyukuri. Masih mending masih
dikasih traktiran ketimbang Singapura
contohnya ini enggak ada traktiran sama
sekali. Oke, lanjut. Di tahun 2025 ini
pembayaran bunga utang dialokasikan
sebesar 552,8
triliun.
Sementara target penerimaan pajak pada
APBN 2025 ditetapkan sebesar Rp2.490
triliun. Dengan demikian, jika kita
hitung rasio pembayaran bunga terhadap
penerimaan pajak kini naik menjadi 23,9%
dan ini berarti sudah mendekati ambang
batas berisiko di kisaran 25%. Ini juga
sinkron dengan data yang dirilis oleh
Kementerian Keuangan dalam buku kedua
Nota Keuangan beserta APBN 2025. Nampak
jelas bagaimana pertumbuhan beban bunga
hutang yang meningkat terus sejak 2020
hingga 2025. Nah, sekarang mari kita
lihat postur APBN kita tahun anggaran
2025.
Dalam dokumen ini kita bisa lihat
pendapatan negara sebesar Rp3.005,1
triliun.
Sementara belanja negara itu adalah
Rp3.621.
3 triliun.
Dengan demikian berarti pengeluaran atau
belanjanya itu lebih besar daripada
pendapatannya.
Dalam dunia ekonomi, hal seperti ini
dikenal dengan istilah defisit dan dalam
hal ini terjadi defisit sebesar Rp16,2
triliun. Jangan buru-buru panik atau
punya pikiran negatif. Defisit anggaran
di mana pengeluaran pemerintah lebih
besar dari pendapatannya itu tidak
selalu melupakan suatu hal yang buruk.
Dalam banyak situasi, defisit anggaran
malah dapat menjadi alat yang strategis
dan diperlukan untuk mencapai tujuan
ekonomi yang lebih besar. Salah satu
alasan utama defisit contohnya ya ini
anggaran bisa dianggap baik adalah
ketika digunakan sebagai kebijakan
fiskal yang ekspansif
untuk menghadapi resesi ekonomi dengan
meningkatkan belanja pemerintah misalnya
buat pembangunan infrastruktur, subsidi
atau bantuan sosial. Pemerintah
menyuntikkan aliran dana ke dalam
perekonomian. Hal ini dapat meningkatkan
daya beli masyarakat, mendorong
permintaan, dan menciptakan lapangan
kerja baru yang pada akhirnya akan
menggerakkan kembali roda ekonomi yang
melambat. Oke, mari kita teruskan.
Pertanyaan selanjutnya adalah lantas
bagaimana kita bisa membiayai defisit
sebesar Rp616,2
triliun tersebut? Jawabnya adalah
melalui pembiayaan utang sebesar R75,9
triliun.
Apa tuh artinya? Oke, gini. Jika kita
buka halaman 44 dalam informasi APBN
2025, di situ nampak jelas pembiayaan
hutang sebesar Rp775,9
triliun. Dan ini artinya pemerintah akan
menerbitkan surat utang baru atau SBN
surat berharga negara baru senilai
Rp775,9
triliun.
Anggaran subsidi dinaikkan kembali
menjadi total 307,9
triliun dengan rincian 104,5 triliun
untuk subsidi non energi dan 203,4
triliun untuk subsidi energi. Sampai
tahap ini mungkin banyak di antara
sahabat Akela yang sudah bisa melihat
masalah yang tengah dihadapi pemerintah
saat ini. Itu adalah rasio pembayaran
bunga hutang terhadap penerimaan pajak.
Dengan adanya penerbitan SBN baru guna
menutup defisit anggaran, maka logikanya
beban pembayaran bunga hutang pada APBN
berikutnya akan naik. Dan jika target
penerimaan pajaknya itu tetap, maka
rasio I/T ini berarti pasti naik.
Pertanyaannya naik jadi berapa? Ya, ayo
kita estimasi. Kita asumsikan tahun 2026
berarti ada hutang baru sebesar R75,9
triliun.
Anggap dengan tingkat kupon SBN
rata-rata 6% aja maka akan ada tambahan
beban bunga sebesar Rp46,55
triliun.
Jika kita tambahkan dengan beban bunga
existing yang sekarang ini berarti
menjadi total R599,45
triliun.
Jika target penerimaan pajak di tahun
2026 itu tetap,
maka rasio pembayaran bunga terhadap tax
revenue kini menjadi 25,95%.
Dengan kata lain, interest to tax
revenue ratio kini masuk ke kategori dep
service pressure.
Dampaknya ruang fiskal kita jadi
menyempit, belanja produktifnya negara
ini jadi semakin tertekan. Dan yang
lebih seram lagi, deb rating kita,
peringkat utang kita bisa terancam kena
downgrade.
Yang downgrade siapa? Yang downgrade
adalah SNP, Moodies, and FIT.
Dan jika ini diowngrade ini akan semakin
menaikkan beban bunga. Karena kalau di
downownrade maka yield obligasinya naik
dan ini akan menaikkan beban bunga untuk
penerbitan SBN berikutnya. ke depannya
pemerintah akan semakin disudutkan untuk
menaikkan pajak atau menerbitkan SBN
baru hanya buat bayar bunga alias
terjadilah yang namanya dep spiral. Dep
spiral itu adalah utangnya jadi tambah
lama tambah gede, tambah lama tambah
gede tanpa bisa dicegah. Guna menjaga
supaya interest to tax revenue ratio ini
tidak bablas tembus 25%.
Maka mau tidak mau pemerintah terpaksa
harus menaikkan target penerimaan pajak.
Sebagai bahan perbandingan,
interest to tax revenue ratio Thailand
saat ini adalah 5,7%.
Malaysia itu 14,71%
dan Singapura itu hanya 0,15%.
Nah, sampai sini jelas ya. di satu
pihak. Jika interest to tax ratio bablas
tembus 25% maka credit rating terancam
downgrade ruang fiskal jadi semakin
sempit. Alternatif lain adalah
pemerintah terpaksa harus menaikkan
target penerimaan pajaknya sehingga jika
pembayaran bunga naik, namun karena tax
revenue-nya juga naik kan, pajak
penerimaan pajaknya naik, maka rati-ya
tetap terjaga di bawah 25%.
Nah, sampai sini tarik napas panjang
dulu ya. Saya mohon Anda semua bersabar.
Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa
kita bisa sampai pada kondisi yang
terjepit seperti ini dan bagaimana
solusinya?
Oke, gini. Sepanjang satu Dasa Warsa
terakhir ini ada banyak sekali proyek
infrastruktur yang dibangun pemerintah.
Kita berterima kasih sama pemerintah
atas banyaknya pembangunan infrastruktur
tersebut. Namun masalahnya adalah di
antara begitu banyaknya belanja modal
pemerintah dan atau investasi yang
dilakukan oleh pemerintah sepanjang 10
tahun terakhir, ada beberapa yang tidak
sesuai harapan,
tidak menghasilkan multiplier effect
ekonomi yang diharapkan,
sepi pengunjung hingga operasionalnya
merugi. Ini adalah hantaman paling
menyakitkan bagi APBN kita. Proyek
sebagian dibiayai melalui penerbitan
surat utang. Namun sesudah proyeknya
jadi, ini tidak bisa dimanfaatkan dengan
baik sehingga sepi dan merugi.
Contoh pertama adalah Bandara
Internasional Jawa Barat Kertajati.
Bandara Internasional Jawa Barat
Kertjati terletak di Kabupaten
Majalengka, Jawa Barat. Total
pembangunannya menelan investasi sebesar
lebih dari R,5 triliun.
Bandara berjarak kurang lebih 100 km
dari Bandung dan 200 km dari Jakarta.
Sejak mulai beroperasi pada tahun 2018,
bandara ini sepi pengunjung dan
akibatnya sejak Juni 2025 rute
domestiknya ditutup sehingga hanya ada
satu rute internasional ke Singapura.
Diberitakan pemerintah Jawa Barat
menanggung kerugian operasional hingga
Rp60 miliar per tahunnya.
Ini adalah PR pertama yang harus
diselesaikan pemerintah. Contoh kedua
adalah sirkuit Mandalika di Kabupaten
Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara
Barat. Pengembangan proyek dimulai pada
tahun 2019 oleh BUMN PT Pengembangan
Pariwisata Indonesia Persero dengan
dukungan dari AIB menelan investasi
hingga Rp6,5 triliun.
Kawasan Mandalika sendiri oleh
pemerintah ditetapkan sebagai kawasan
ekonomi khusus. Sirkuit ini resmi dibuka
pada 12 November 2021 dan langsung
menjadi tuan rumah acara balap kelas
dunia seperti MotoGP dan World SBK.
Pembiayaan utama dari Asian
Infrastructure Investment Bank atau AIB
sebesar 248 juta US dar lebih kurang
78,5%
dari total pendanaan. Namun harap
diperhatikan, utang ini dipikul oleh
BUMN PT Pengembangan Pariwisata
Indonesia Pesero alias ITDC.
Jadi bukan termasuk dalam utangnya
pemerintah. Pemerintah hanya suntik
modal Rp500 miliar ke ITDC. Terus
masalahnya apa kalau gitu? Masalahnya
adalah ITDC kini menanggung utang
sebesar Rp4,6 triliun dan ini harus
benar-benar dipantau oleh pemerintah.
Ini adalah PR kedua yang harus
diselesaikan pemerintah. Berikutnya
adalah Patimban Port, Kabupaten Subang,
Jawa Barat. Ini adalah pelabuhan yang
dibangun sekitar 70 km dari kawasan
industri Karawang dan Bekasi, lebih
kurang 145 km dari Jakarta. Pembangunan
dimulai dari tahun 2018 dengan total
investasi diperkirakan mencapai R3,2
triliun. Hingga tahun 2025,
infrastruktur berupa jalan tol khusus ke
pelabuhan belum sepenuhnya selesai
sehingga membuat biaya logistik masih
tinggi. Banyak eksportir dan atau
importir yang masih nyaman lewat Tanjung
Prifrastruktur
dan ekosistem logistiknya itu sudah
lebih matang. Volume kontainer dan mobil
ekspor masih di bawah kapasitas karena
infrastruktur pendukungnya belum
lengkap. Ini adalah PR pemerintah yang
berikutnya. Jika Sahabat Akela
perhatikan, ada banyak sekali
proyek-proyek seperti ini. Tol
Transumatra contohnya ya disingkat TTS.
Ini adalah jaringan tol terpanjang di
Indonesia dengan panjang kurang lebih
2.800 km menghubungkan Aceh hingga
Lampung. Total kebutuhan investasi TTS
ini diperkirakan lebih dari Rp500
triliun. Penyertaan modal negara atau
PMN dari APBN sampai tahun 2023 sudah
lebih dari Rp15 triliun. Namun banyak
ruas tol sepi kendaraan terutama di
daerah Sumatera bagian utara dan tengah.
Contoh ruas Medan hingga Binjai dan
Pekanbaru Dumai. trafficnya rendah jauh
sekali di bawah proyeksi visibility
study awalnya. Selanjutnya ini adalah
proyek kereta cepat wus yakni kereta
cepat pertama di Asia Tenggara untuk
menghubungkan Jakarta Bandung lebih
kurang 142 km. Proyek ini dikerjakan
oleh PT Kereta Cepat Indonesia China
atau KCIC, Konsorsium BUMN Indonesia,
PTKAI, Wijaya Karya, PTPN 8, dan PT Jasa
Marga dengan konsorsium China Railway.
awalnya ditetapkan tidak mengganggu APBN
sama sekali, namun biaya pembangunan
jadi membengkak dari Rp70 triliun
menjadi Rp113 triliun
sehingga terjadi PMN atau penyertaan
modal negara dan tercatat sebagai
pembiayaan investasi. Nah, dalam laporan
keuangan PTKAI per 30 Juni 2025, PT PSBI
sebagai entitas anak usaha PTKAI
sekaligus pemegang saham terbesar PTKCIC
mencatatkan kerugian hingga Rp4,2
triliun. Kerugian terus berlanjut di
tahun ini. Sepanjang Januari hingga Juli
atau semester pertama tahun 2025, PTPSBI
juga merugi sebesar Rp1,63
triliun.
Dan selanjutnya, bagaimana dengan proyek
legendaris yang satu ini? Ibu kota
negara alias IKN. Total investasi
diperkirakan 466 triliun dengan rentang
waktu pembangunan
2022 sampai 2045. Skema awalnya 20% dari
APBN dan sisanya itu swasta BUMN dan
KPBU atau kerja sama pemerintah badan
usaha. Namun realisasinya investor
swasta dan asing itu sangat minim
sehingga mayoritas pembangunan awal
terpaksa harus ditopang oleh APBN lewat
belanja kementerian lembaga PMN atau
penyertaan modal negara dan dana
pemulihan ekonomi nasional pasca COVID.
Menurut rencana pembangunan menengah
nasional ini menunjukkan proporsi
pembiayaan dari APBN sebesar R90,4
triliun. By the way, harap perhatikan
saya tidak anti IKN. Saya demen IKN
malahan sekarang jadi alternatif tempat
wisata. Namun dalam kondisi ruang fiskal
yang semakin terjepit, tidakkah kita
harus memilah-milah mendahulukan mana
yang harusnya lebih prioritas
didahulukan?
Toh coba kita lihat Bapak Presiden dan
seluruh Menteri semuanya masih ngantor
di Jakarta kan. Ada banyak belanja dan
investasi pemerintah yang efek
multiplier-nya ke ekonomi itu baru bisa
dinikmati jauh dari sekarang. beberapa
malah sekarang ini dalam kondisi merugi.
Ini harus segera ditanggulangi.
Membangun sesuatu
sepanjang duitnya ada itu gampang. Namun
tantangannya sesudah aset tersebut
selesai dibangun dan didanai dari utang
negara, bagaimana aset tersebut bisa
benar-benar produktif dan menjelma jadi
sentra ekonomi yang baru. Itu adalah
tantangan yang harus segera
diselesaikan. Kemudian di sektor
pertambangan khususnya sektor pengolahan
nikel terutama untuk produk seperti
nickel pig iron atau NPI, feronel dan
mix hydroxide precipitate atau MHP.
Mereka ini memperoleh tax holiday alias
pembebasan pajak hingga 15 hingga 20
tahun. 75% penambangnya berasal dari
China, dari Tiongkok. Investor besar
seperti Singhan Group mendapatkan
manfaat ini. Mereka sudah berinvestasi
hampir 10 miliar US DO di Indonesia
sejak tahun 2015. Ekonom senior Bapak
Faisal Basri almarhum saya rasa sering
membahas perihal ini. Pada Mei 2023,
pemerintah memang memutuskan tidak lagi
memberikan tax holiday untuk smelter NPI
baru karena dianggap tidak lagi memenuhi
kriteria industri pionir. Namun pelaku
investasi yang sudah diberikan T holiday
sebelumnya tetap bisa dinikmati sampai
masa berlakunya berakhir. Itu 15 sampai
20 tahun. Jadi di satu pihak negara
butuh tax revenue guna membayar beban
bunga hutang APBN. Namun investor asing
malah dibebaskan dari pajak. Pajak hanya
dibebankan ke masyarakat dan pengusaha
lokal. Sudah gitu kontraknya berlaku
hingga 20 tahun. Saya paham berhubung
sudah terlanjur kontrak jangka panjang
maka tentu ini sudah tidak bisa diganggu
gugat. Namun ini just my idea. Bagaimana
jika pemerintah menerapkan ekspor tarif
khusus untuk produk nikel dan
turunannya. Ini bisa jadi substitusi
atas penerimaan pajak yang hilang akibat
tax holiday. Jika investornya protes,
loh, dulu enggak ada ekspor tarif. Jadi
kalau ekspor tuh dikenakan BA ya tarif.
Kok sekarang ini jadi bisa jadi ada
ekspor tarif. Well, zaman dulu di zaman
Joe Biden kan juga enggak ada pernah
dengar ada tarif resiprokal kan. Tapi
coba lihat apa yang dilakukan Trump
sekarang ya. Dia bikin tarif resiprokal.
Nah, sekali-kali coba mikir bikin miga
gitu kan keren kan? Make Indonesia great
again. Yang terakhir
program MBG makan bergizi gratis.
Bagaimana jika bikin terobosan supaya
program tetap berjalan namun tanpa
membebani APBN 71 triliun? Lah terus
yang bayarin siapa? Well, di dunia ini
ada banyak layanan yang kita bisa
nikmati dengan gratis. Contohnya kita
sekarang kalau mengemudi ke mana-mana
pakai Google Map. Emangnya pakai Google
Map bayar? Enggak kan? Kemudian Anda
nonton video YouTube ini, emangnya
bayar? Gratis juga kan? Loh, tapi itu
kan produk digital, ini makanan kan
beda. Oke, saya kasih satu contoh.
Brazil dalam program FOME Zero
melibatkan swasta. Dalam hal ini ada
Nestley, BRF dan lain-lain. Program FOME
Zero ini diluncurkan Presiden Luis
Inacio Lula da Silva. Ada banyak
kebijakan. Yang pertama adalah school
feeding program, makan gratis di
sekolah. Tuh, sama kan?
Yang kedua, subsidi pangan untuk
keluarga berpenghasilan rendah. Yang
ketiga, kredit mikro dan dukungan UMKM
pertanian. Yang keempat, kampanye
kesadaran gizi. Nah, akan tetapi
pemerintah sadar beban APBN besar
sehingga pemerintah Brazil menggandeng
perusahaan besar untuk ikut mendanai dan
mendukung program itu. Nestley berhasil
membantu suplai susu, biskuit bergizi,
dan makanan fortifikasi.
BRF atau Brazil Foods, Merger Sadia dan
Perdigao memberikan kontribusi protein
hewani berupa daging, olahan, ayam, dan
lain-lain. Sementara perusahaan
agrikultur setempat menyediakan bahan
pokok dengan harga subsidi. Bahkan
hingga transportasinya
itu juga ada sponsornya. Keren kan?
Atau barangkali sahabat Akela ada yang
punya ide terobosan yang lebih brilan,
ketik di kolom komentar ya. Negeri ini
milik kita bersama. Jika kita mencintai
negeri ini, yuk sama-sama fokus ke
solusi. Nah, Sahabat Akela, saya ingin
menutup video ini dengan satu cerita
legendaris ya. Alkisah di abad ke-15 di
Jepang itu adalah masa shogun asikaga
Yoshimasa.
Alkisah. Suatu ketika dalam sebuah
jamuan makan, pelayan Yosimasa itu
ceroboh dan mengakibatkan cawan
kesayangannya sang Sogun ini terjatuh
dan pecah. Semua orang sudah menahan
napas karena reflek tangan Yosimasa itu
sudah langsung menggenggam leher
katananya.
Namun sahabatnya langsung menggenggam
tangannya, menenangkannya sambil
berkata,
"Akhirnya
tiba saatnya
untuk membuat cawan ini jadi terlihat
jauh lebih indah.
Dan atas saran sahabatnya, Yosimasa
membuat sayembara kepada seluruh
pengrajin tembikar di seluruh Jepang
untuk menyambung kembali pecahan-pecahan
tembikar tersebut menjadi seindah
mungkin.
Para pengrajin Jepang kemudian
berinovasi. Mereka menyatukan kembali
kepingan-kepingan cawan yang sudah pecah
itu menggunakan urusi. Itu adalah
semacam furnish getah pohon.
atau laker gitu ya yang dicampur dengan
bubuk emas, perak, atau platinum.
Hasilnya luar biasa. Garis-garis retakan
yang sebelumnya dianggap sebagai cacat
kini berubah menjadi urat-urat keemasan
yang menonjol dan sangat indah. Cawan
itu jadi jauh lebih unik dan berharga
daripada sebelumnya. Justru karena
ketika dia pecah tidak dibuang. tapi
diperbaiki.
Peristiwa itu menandai lahirnya seni
tembikar Jepang yang dikenal dengan
sebutan Kinsugi atau Kin Sukuroi.
Kinsugi lebih dari sekedar teknik
memperbaiki keramik. Ada filosofi
wabisabi di situ. Keindahan dalam
ketidaksempurnaan.
Simbol resiliensi dan transformasi.
sesuatu yang rusak itu bisa kembali utuh
bahkan lebih berharga daripada
sebelumnya. Kalau zaman sekarang kan
orang sukanya lem biru, lempar beli
baru. Ya, kalau lem biru berarti tidak
ada kasih dan tanpa kasih tidak ada
kemenangan.
Saat ini Indonesia mengalami keretakan
antara rakyat dengan wakilnya di DPR.
Keretakan antara rakyat dengan
pejabatnya.
keretakan antara rakyat dengan aparat
hukumnya. Semua dipicu hanya bermulai
dari seseorang yang menyebut pihak yang
lainnya dengan sebutan tolol. Saya
memang melihat ada tren budaya yang
diimpor dari luar dan sekarang
akhir-akhir ini ngetren di sosial media,
di YouTube, di TikTok. Kalau enggak
salah sumbernya dari Andrew Tate
katanya. Sehingga sekarang supaya ngetop
di TikTok atau YouTube sukanya teriak
tolol, goblok atau bodoh. Analisa
teknikal dibilang analisa tolol. Orang
nge-jym dibilang bodoh. Orang udah pada
emosi jiwa kalau dibalas dengan ucapan
tolol rasanya kayak apa?
Emangnya bisa memadamkan api dengan
kirim api yang lebih gede lagi gitu.
Setahu saya ini bukan budaya Indonesia.
Semakin tinggi posisi dan jabatan, sudah
selayaknya semakin rendah hati dan
telaten.
Sabar menjelaskan satu-satu. Jika kita
benar-benar mencintai negeri ini, ayo
kita sambung kembali keretakan yang
terjadi ini dengan saling mengasihi satu
sama lain. Nah, yang terakhir pasa
kerusuhan hari ini, Senin, 1 September
2025 ternyata IHSG hanya pullback dan
rebound tepat di garis lautan. Jadi beli
sama apa dong kita ini. Oke, khusus bagi
sahabat Akela yang ingin konsultasi
sehubungan dengan trading maupun
investasinya baik itu di Bursa Efek
Indonesia, bursa saham Amerika, Forex,
Gold, hingga Bitcoin dan aset crypto.
Ikuti Akela live streaming di channel
ini setiap hari Kamis malam pukul 19.30
30 WIB di mana Akela akan hadir guna
menjawab seluruh pertanyaan Anda. Semoga
bermanfaat, sukses selalu dan sampai
jumpa.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:55:39 UTC
Categories
Manage