2026 Hard Landing atau Soft Landing? The Fed bakal QE atau Tidak?
aWlkKTVrixk • 2026-01-07
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Sebagaimana sudah saya jelaskan di awal, jika soft landing, maka The F akan pangkas suku bunga menuju level netral, yakni antara 300 sampai 350 basis point dan berhenti di situ tidak ada Qi Sahabat Akela yang saya kasihi, yang pertama saya ucapkan selamat tahun baru 2026. Semoga di tahun yang baru ini Anda semua bisa mengambil keputusan yang lebih bijak dalam investasi maupun trading serta senantiasa beroleh berkat dan kasih Tuhan. Amin. Nah, selanjutnya tiba saatnya saya mempresentasikan Akela Market Review untuk tahun 2026 ini. Akan tetapi, saya menyadari bahwa banyak di antara Anda yang menyimak video ini mungkin karena baru mengetahui YouTube channel ini sehingga belum sempat nonton video-video lama Akela sebelumnya. Padahal guna memahami seluruh konten video ini dibutuhkan pemahaman atas materi yang sudah pernah atau bahkan sering saya berikan dalam video-video lama di channel ini. Karena itu, saya mohon izin mengawali market review kali ini dengan introduction dulu. Bagi subscriber lama kalau mau skip ya silakan langsung ke bagian market review sudah saya sediakan timeline yang Anda bisa klik langsung di bagian bawah ini. Oke, kita mulai dari satu pertanyaan mendasar. semua pasar, baik itu pasar saham, indeks S&P 500, NASDAK, Forex, Crypto, gold itu semua bergerak mengalami tren baik uptrend alias bullish ataupun downtrend alias beish atau kadang-kadang terjebak pada kondisi non trending atau sideways. Pertanyaannya, apa yang mengakibatkan terjadinya tren ini? Tren ini tercipta oleh optimisme pasar yang mengakibatkan terjadinya bullish momentum. Sedangkan pesimisme atau bahkan fear itu memicu terjadinya baris momentum. Singkatnya tren itu baik bullish maupun berish tercipta oleh sentimen pasar. Nah, pertanyaan selanjutnya, apa yang mengakibatkan terjadinya sentimen pasar atau berubahnya sentimen pasar yang misalnya ya mula-mula optimisme jadi bullish pada pasar saham kemudian berubah jadi pesimis dan optimisme pasarnya itu berpindah ke gold misalnya. Jadi ada rotasi aset kelas dari saham ke gold misalnya. Apa yang mengakibatkan investor lebih menyukai aset kelas tertentu? Contohnya gold dibandingkan dengan aset kelas lainnya seperti saham, Bitcoin atau treasuries atau apa yang mengakibatkan gold mulai ditinggalkan dan bergerak ke Bitcoin atau saham dan seterusnya. Ini memang jarang sekali dibahas di YouTube ataupun media sosial. Namun saya rasa ini penting khususnya bagi pemula yang baru mengenal dunia pasar modal. Analoginya adalah ketika ada orang yang percaya akan suatu hal, namun dia tidak bisa menjelaskan kenapa begitu, apa landasan pemikiran yang mendasari keyakinannya akan hal tersebut. Sementara di satu pihak ada orang lain yang mempercayai hal yang sama, namun dia tahu dasar pemikiran kenapa dia mempercayai hal tersebut. Silakan sahabat Akela renungkan pelan-pelan. Anda lebih nyaman jadi kelompok yang pertama atau jadi kelompok yang kedua? Ketik di kolom komentar ya. Saya akan mulai dari yang pertama. Apa yang bisa mendorong terciptanya sentimen optimis pada stock market? Yang pertama adalah pertumbuhan laba bersih perusahaan. investor yang membeli saham mereka itu pada dasarnya membeli suatu bisnis yang bertumbuh bagus, produknya tuh laris manis, penjualannya atau omset perusahaan itu bertumbuh sehingga of course laba operasionalnya juga bertumbuh. Yang kedua adalah ekspansi likuiditas. Ketika bank sentral misalnya DEFET memangkas suku bunga hingga di bawah 3% atau bahkan membanjiri likuiditas dengan cara memborong surat utang pemerintah alias treasuries ini seringki dikenal dengan istilah quantitative easing atau Q. Maka pada saat itu imbal hasil treasuries atau fixed income itu sangat rendah sehingga investor cenderung mengalihkan investasinya dari fixed income atau treasuries ke aset produktif dengan earnings growth yang menarik yang pertumbuhan labanya atraktif. Yang ketiga adalah kebijakan fiskal. Ketika pemerintah memangkas pajak korporasi. Jadi kalau pajaknya perusahaan tuh dipangkas, maka otomatis kan uang yang seharusnya digunakan buat bayar pajak ini sekarang jadi bagian keuntungannya perusahaan. Akibatnya laba bersih perusahaan atau net income after interest and tax otomatis jadi naik. Karena komponen pajak yang mengurangi laba operasional ini kini dipangkas. Pajaknya turun, laba bersihnya jelas jadi naik. Jadi, earnings growth, liquidity expansion, dan fiskal. Tiga hal ini ya, pertumbuhan earnings, liquidity expansion atau ekspansi liquiditas dan fiskal atau pajak. Tiga hal ini sangat besar pengaruhnya terhadap sentimen stock market atau pasar modal. Dan khusus NASDAQ sekarang tambah satu lagi yakni pertumbuhan teknologi AI atau artificial intelligence. Ini adalah yang sekarang lagi jadi motor penggeraknya Nasdaq. Dan apa yang kita alami sekarang ini ini hanyalah permulaan dari AI booming di Bursa Efek Indonesia. Di samping earnings growth atau pertumbuhan laba, likuiditas, dan kebijakan moneter bank sentral ini seringki juga memberikan sentimen yang signifikan. Kemudian jangan lupa stabilitas politik dan kebijakan pemerintah yang erat kaitannya dengan pajak lagi-lagi fiskal ini juga sangat menentukan. Selanjutnya bagaimana dengan gold? Apa yang bisa bikin gold itu naik? Yang pertama adalah ekspansi likuiditas. khususnya defet. Jadi kalau defed pangkat suku bunga, liquiditas itu expansion dan ini positif untuk gold. Dan jika terjadi ketegangan geopolitik, contohnya adalah sebagaimana yang kita ketahui di awal tahun ini Trump melancarkan operasi militer ke Venezuela. Ya, Presiden Maduro itu ditangkap oleh Trump. Maka apa yang terjadi? Gold langsung melonjak. Karena gold ini berfungsi sebagai safe heaven pada saat krisis geopolitik terjadi. Nah, lantas bagaimana dengan Bitcoin? Sama dengan emas, Bitcoin juga cenderung bullish ketika terjadi ekspansi likuiditas. Jadi kalau jumlah uang beredarnya meningkat ekspansi likuiditas, maka Bitcoin cenderung bullish. Namun sebagaimana saya sudah jelaskan dalam dua video sebelumnya, Bitcoin dari krisis Wall Street ke lahirnya agama digital dan Bitcoin dari store of value ke alat politik evolusi iman moneter Bitcoin. Bitcoin ini memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki aset kelas lainnya dan itu adalah socially amplified aset. Yakni suatu aset yang volatilitasnya menjadi sangat besar akibat internet dan sosial media. Karena itu Bitcoin ini membutuhkan narasi. Narasi yang cukup heboh sehingga tercipta naratif momentum yang viral dan diyakini netizen dunia secara masif. Sebagaimana saya jelaskan dalam kedua video mengenai Bitcoin dari store of value ke alat politik, Bitcoin sesungguhnya mengalami pergeseran narasi yang cukup ekstrem. Pertama kali awalnya viral sebagai medium of exchange, pengganti uang fiat ya, calon pengganti uang fiat. Namun sejak era pasca COVID narasinya berubah menjadi store of value atau bahkan seringki bahkan disebut sebagai digital gold 2.0. Narasi ini memang menimbulkan banyak perdebatan. Di satu pihak ada kubu yang membantah atau kontra. Karena jika Bitcoin adalah digital gold versi 2, kenapa justru ketika gold di tahun 2025 itu naik plus 62,97% Bitcoin kok malah min 7,18%. Namun di pihak lain ada kelompok holdler yang mendasari argumentasinya pada supply Bitcoin yang terbatas hanya 21 juta BTC. Sementara pertambangan gold di dunia akan masih terus berlanjut bahkan ketika Bitcoin mencapai 21 juta. Dengan demikian, Bitcoin akan lebih langka ketimbang gold sehingga Bitcoin lebih layak sebagai storage of value ketimbang gold. Ya, ini argumentasi dari kelompok Bitcoin holdler. Jika perdebatan ini saya teruskan, maka seluruh video ini akan bahas tentang debat kusir yang enggak akan kunjung usai. Dan apa yang terjadi? Ya memang itulah dunia internet dan sosial media. Algoritma mesin sosial media ini tidak membutuhkan kebenaran atau realitas yang didasarkan fakta. Namun butuh like, subscribe, dan komen. Semakin heboh, semakin banyak yang berdebat, maka dia naratif momentumnya itu justru bergerak. Dan itulah sebabnya kenapa kita sebut Bitcoin ini sebagai socially amplified aset atau aset yang bergerak akibat adanya narrative momentum. Nah, dari semua faktor penyebab sentimen pasar tersebut, faktor ekspansi likuiditas khususnya ekspansi likuiditas the FAT ini selalu hadir di semua aset kelas ya. Jadi bukan saya pengin bahas ekonomi Amerika, no no ya. Tapi karena semua aset kelas ini bergerak akibat adanya perubahan kebijakan likuiditas the Fed atau Federal Reserve. Karena itu, mari kita memulai market review kali ini dengan menentukan ekspansi likuiditas apa yang tengah berlangsung saat ini dan kemungkinan besar akan berlangsung sepanjang 2026. Yang pertama harap bedakan antara liquidity expansion dalam kondisi ekonomi yang soft landing versus liquidity expansion dalam kondisi ekonomi yang tengah mengalami ancaman hard landing. Jika kita sedang menyimak suatu analisa atau ulasan tentang kondisi makroekonomi Amerika, saya yakin sahabat Akela sering dengar istilah hard landing dan soft landing. Saya menjumpai ada banyak sekali netizen atau bahkan influencer sekalipun yang jadi ruet soal ini. Nah, supaya jernih, clean and clear, maka saya jelaskan begini. Pasca resesi akibat COVID-19, annual GDP growth Amerika itu pulih dan langsung melonjak tinggi bahkan sempat menembus angka 12%. Lonjakan ini membawa dampak tingginya agregat demand atau permintaan masyarakat secara keseluruhan masyarakat dan dunia usaha terhadap berbagai barang dan jasa termasuk tenaga kerja. Tingginya permintaan mengakibatkan kenaikan harga yang signifikan dan ini berarti kenaikan inflasi yang signifikan. Di tahun 2022 inflasi bahkan sempat tembus level 9,1%. Ada beberapa faktor utama penyebab kejadian ini. Di antaranya FET memang terlambat menghentikan program quantitatif easing yang mereka mulai sejak bulan Maret 2020 guna mencegah ekonomi colaps akibat lockdown Covid. Selain itu, ekspansi Putin ke Ukraina juga menambah andil dalam supply push inflation yang berlangsung saat itu. Itu sebabnya sejak awal 2022 fokus utama FET adalah menurunkan inflasi dan ini ditempuh melalui memperketat likuiditas alias mengurangi jumlah uang beredar dengan cara menghentikan QI, menaikkan suku bunga Fed Fund rate, dan mulai menjalankan program QT alias quantitatif tightening atau pengetatan likuiditas. Sampai tahap ini, DEFET mengalami tantangan besar dalam menentukan dosis kenaikan suku bunganya dan QT yang mereka jalankan. Jika dosisnya terlalu rendah, maka inflasinya enggak turun-turun. Jika dosisnya terlalu tinggi, maka likuiditasnya macet. Akibatnya GDP growth pertumbuhan GDP langsung anjlok bahkan bisa jadi negatif alias resesi. Nah, ini istilah yang lebih populer adalah hard landing. Jadi memang benar guna menurunkan inflasi maka FET justru mengupayakan turunnya pertumbuhan ekonomi. Jadi pertumbuhan ekonominya di slow down dan mereka memang mengupayakan kenaikan angka pengangguran. Kedengarannya memang rada aneh dan kontraproduktif. The FET kok malah bikin pengangguran jadi naik. Ini adalah prinsip Philips Curve atau kurva Philip dan sudah seringki saya bahas dalam video-video sebelumnya. Uang itu uang pada dasarnya adalah the blood of the economy. Darahnya ekonomi. Ketika suplai uang yang beredar itu dikurangi, maka ekonomi otomatis melambat, agregat demand-nya jadi turun. Angka pengangguran naik dari U1 ke U2. Dan perhatikan ini mengakibatkan inflasi turun dari P1 ke P2. Nah, sebagaimana yang saya jelaskan sebelumnya, jika dosis pengetatan likuiditas terlalu tinggi, maka likuiditas bisa macet dan akibatnya pertumbuhan ekonomi terjun ke level negatif alias kontraksi. Dan ini dikenal dengan istilah hard landing. National Bureau of Economy Research mendefinisikan resesi ini sebagai penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dan menjalar ke seluruh sendi-sendi perekonomian berlangsung lama dan nampak pada penurunan produksi, jumlah tenaga kerja, penurunan income, dan penjualan. Pada kondisi resesi atau hard landing, GDP growth itu terkontraksi sekurang-kurangnya dua kuartal berturut-turut. Industrial production negatif, pertumbuhan laba korporasi itu atau earnings itu juga negatif, terjadi masif PHK besar-besaran dan terjadi lonjakan angka pengangguran. Ingat ya, bukan sekedar angka penganggurannya naik pelan-pelan, gak kayak gitu, tapi melonjak akibat adanya PHK besar-besaran di mana-mana. Nah, apakah DEFED pernah kasih dosis yang berlebih sehingga mengakibatkan ekonomi Amerika resesi? Jawabnya pernah. Dan yang paling nampak jelas itu ada di zamannya Paul Falker di era awal tahun 1980-an. Jika The Fed mendeteksi gejala-gejala hard landing, maka The Fed terpaksa harus kembali pangkas suku bunga secara agresif. Dan jika suku bunga sudah diturunkan hingga 0,25% atau 25 basis poin sementara pertumbuhan ekonomi masih belum menunjukkan gejala recovery atau pemulian, maka the mau tidak mau meluncurkan program QI atau quantitatif easing. Ya, jadi Qi ini adalah solusi kepepet sudah gak ada cara lain. maka jurus pamungkasnya keluar namanya Qi dan ini hanya diluncurkan apabila suku bunga sudah mencapai 0 ya mendekati 0,25% atau 25 basis poin. Nah, kembali lagi ke hyper inflation pasca COVID. Sejak tahun 2022, the Fed ini sadar betul bahwa mereka harus menurunkan inflasi tanpa mendorong ekonomi masuk ke jurang resesi alias hard landing. Ya, jadi jelas ya, inflasi berusaha diturunkan tapi dia enggak mau dalam menurunkan inflasi itu mengakibatkan terjadi hard landing. Karena itu dosis pengetatan likuiditasnya itu harus pas. Enggak boleh kurang, enggak boleh kebanyakan, tapi pas sehingga GDP growth itu turun tapi tidak sampai kontraksi. Angka penganggurannya naik, tapi naiknya sepelan mungkin tanpa ada lonjakan pengangguran akibat PHK masif, PHK massal besar-besaran. Pertumbuhan ekonomi memang turun, tapi tidak sampai resesi. Ini kata kuncinya. Pengangguran naik perlahan, namun sejalan dengan itu. Karena penganggurannya naik, inflasi jadi turun ya. Agregat demand turun, maka inflasi turun ke level ideal yakni 2% year over year. Kondisi yang kayak gini disebut soft landing, ya. Jadi beda ada hard landing resesi. Ini adalah penurunan pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan inflasi jadi turun sampai level 2% tapi tidak sampai mengakibatkan ekonominya resesi. Hanya slow down. Ini namanya soft landing. Jika The Fed berhasil menurunkan inflasi ke level 2% tanpa resesi alias off landing, kendati pun ekonomi melambat dan pengangguran naik misalnya ke 4,7% maka inilah kondisi ideal. Laba korporasi masih bertumbuh positif. Sejalan dengan itu, DEFET hanya perlu mengembalikan likuiditas ke level normal. Saya sering sebut sebagai normalisasi suku bunga. Di mana The FET hanya akan mengembalikan suku bunga ke level netral, tidak terlalu longgar, tidak terlalu ketat alias sedang-sedang aja. Dan itu adalah level 3 sampai 3,5%. dan yang jelas tidak ada Q. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan kondisi makroekonomi Amerika sekarang ini? Apakah akan mengarah ke resesi alias hard landing atau inflasi cenderung turun tanpa terjadi resesi alias soft landing. Sekarang coba lihat ini adalah USGDP annual growth saat ini ada di level 2,3%. jauh dari negatif. Bila dibandingkan dengan tahun 2023 yang sempat mencapai di atas 3%, maka pertumbuhan GDP ini turun. Memang turun, namun tidak sampai kontraksi atau GDP negatif alias resesi alias hard landing. Ya, dia slow down. Indikator berikutnya adalah unemployment rate alias angka pengangguran. saat ini di level 4,6%. Bila dibandingkan dengan pertengahan tahun 2022 di kisaran 3,6% maka kita bisa lihat bahwa angka pengangguran memang merangka naik. Namun coba lihat apa ada lonjakan angka pengangguran supaya jelas merangka naik itu kayak apa dan lonjakan angka pengangguran itu kayak apa. Maka coba lihat ke grafik ini. Perhatikan apa yang terjadi di tahun 2020 sampai 2021. Itu namanya lonjakan angka pengangguran. Perhatikan periode 2022 sampai 2025 sekarang. Apakah Anda melihat hal yang sama? Di mana ada lonjakan pengangguran? Sama sekali enggak ada. Nah, dengan demikian observasi data kita sudah dapat dua poin. Berarti nomor satu adalah GDP bertumbuh 2,3% year over year alias tidak resesi. Dan angka pengangguran merangka naik perlahan sejak tahun 2022. Namun tidak ada lonjakan angka pengangguran sehingga tidak ada resesi. Yang ada adalah ekonomi slow down, pertumbuhan ekonomi yang melambat. Nah, yuk kita teruskan sekarang ke inflasi. Data inflasi yang paling populer itu namanya consumer price index alias CPI. Dan semua data inflasi termasuk CPI itu terdiri dari dua dua data. Ada headline CPI alias inflasi keseluruhan dan core CPI alias inflasi inti di mana komponen bahan makanan dan energi dikeluarkan. Saat ini headline CPI berada di level 2,7%. Namun bisakah Anda perhatikan trennya? Sejak pertengahan 2022 sampai Juli 2023, The Fed melakukan pengetatan secara lebih agresif. Ee saya ingat Jimmy Bullerd pada waktu itu bilang istilahnya adalah front loading. Mereka menaikkan suku bunga lebih agresif dengan tujuan inflasi bisa turun signifikan dulu. Kemudian ketika sudah mulai turun, The Fed mulai mengendorkan agresivitas mereka dalam melakukan pengetatan. Dan semakin mendekati gol ideal mereka di 2% year over year, mereka menghentikan kenaikan suku bunga dan mulai pelan-pelan menurunkan suku bunga menuju ke level netral yakni 300 sampai 350 basis poin. Itu sebabnya pola yang sama bisa kita lihat pada core CPI inflasi turun cepat hingga akhir tahun 2023. Kemudian sepanjang 2024 penurunannya jadi sangat landai. Selain CPI, indikator inflasi yang paling menjadi sumber referensi def sesungguhnya adalah PCE alias personal consumption expenditure. Dan mari kita lihat headline PCI dan core PCI berikut ini. Saat ini headline PCI berada di level 2,8%. Sementara core PCI juga berada di level 2,8%. Dua-duanya memiliki pola yang mirip dengan CPI. Turun signifikan mulai pertengahan 2022 hingga akhir 2023. Kemudian sejak itu tetap turun tapi turunnya tuh pelan banget ya, landai. Dari sini kita bisa menarik tiga poin penting ya. Nomor satu annual GDP growth plus 2,3% year over year. Berarti tidak ada resesi. Yang kedua, unemployment rate atau angka pengangguran. berada di level 4,6% naik perlahan sejak pertengahan 2022 namun tidak ada lonjakan angka pengangguran akibat PHK massal dan berarti tidak nampak ada resesi. Memang def tujuannya adalah menaikkan angka pengangguran ya. Yang ketiga, inflasi baik headline maupun core sejak 2024 bergerak turun secara perlahan. berarti kinerjanya inflasi, upayanya defet berarti berhasil karena inflasi bergerak turun secara perlahan dan PC maupun core PC berada di level 2,8% menuju target 2% year over year. Berdasarkan tiga hal di atas, maka sahabat Akela ini hard landing atau soft landing? Well, yang jelas ini adalah soft landing, bukan hard landing. Sebagaimana sudah saya jelaskan di awal, jika soft landing, maka the akan pangkas suku bunga menuju level netral, yakni antara 300 sampai 350 basis point dan berhenti di situ tidak ada Qi. Kesimpulan ini sejalan dengan apa yang The Fed sendiri sajikan dalam summary of Economy Projection yang mereka rilis pada FOMC Desember yang lalu. Median projection Fed Fundri untuk tahun 2026 adalah 3,4 alias 325 sampai 350 basis point. Di mana saat ini Fed Fun Red itu sudah berada di level 350 sampai 375. Berarti di tahun 2026 mereka hanya akan pangkas satu kali 25 basis poin saja. dan sesudah itu berhenti. Oleh karena itu sangat masuk akal bila pasar Fed Fund Future saat ini mengantisipasi adanya 83,4% peluang The Fed hanya akan bertahan di level 350 sampai 375 pada FOMC yang akan datang di bulan Januari 2026 ini. Wah, jika FET tidak pangkat suku bunga lagi maka market jadi baris dong. Oke, tenang dulu. Pengin tahu jawabnya? Nah, simak dalam Akela Market Review 2026 bagian yang kedua. Tapi sebelum itu, jika Anda merasa video ini bermanfaat bagi Anda, mohon dukungannya dengan klik tombol like. Pastikan diri Anda sudah subscribe dan nyalakan alert-nya biar Anda tidak ketinggalan video-video terbaru dari Akela. Bagi yang ingin konsultasi tentang trading maupun investasinya, baik US Stock Market meliputi saham-saham S&P 500 dan NASDAQ juga berbagai komoditas seperti gold, crude oil atau forexingga aset crypto, ikuti Akela live streaming di channel ini setiap hari Kamis malam pukul 19.30 WIB. Sahabat Akela semoga bermanfaat semuanya. Sukses selalu dan sampai jumpa di bagian yang kedua.
Resume
Categories