Apa dan mengapa kita harus mengecek asumsi sebelum melakukan uji hipotesis?
QSNFKP9g0pY • 2020-11-19
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh berjumpa lagi dengan saya di channel YouTube saya ensiklopedia Ahmad Fauzi channel yang menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan penelitian statistika publikasi dan berbagai pengetahuan lain yang mungkin dapat meningkatkan pengetahuan ataupun keterampilan kalian di video kali ini saya akan membahas salah satu konsep penting dalam statistika inferensia yaitu konsep yang berkaitan dengan pengecekan asumsi di video kali ini kita akan membahas apa dan mengapa kita harus mengecek asumsi sebelum kita melakukan uji hipotesis dalam statistika inferensia Oke ketika kita melakukan penelitian dan ketika kita memutuskan kita ingin analisis data dari sampel kita dengan menggunakan statistika inferensia yang tujuan akhirnya adalah ingin menggambarkan populasi secara keseluruhan ada satu hal penting yang harus selalu kita pegang yaitu Jangan pernah langsung berasumsi bahwa kita telah memilih analisis statistika inferensia yang tepat asumsi sendiri dapat kita Artikan beranggapan ya jadinya jangan pernah langsung beranggapan bahwasanya uji hipotesis yang kita pilih merupakan Iji hipotesis yang tepat yang dapat menggambarkan populasi secara keseluruhan Kenapa karena sebelum memastikan bahwa uji hipotesis tersebut tepat kita harus mengecek keterpenuhan asumsinya terlebih dahulu di video Sebelumnya saya telah menyinggung bahwa dalam statistika inferensia tujuan utamanya adalah menarik kesimpulan terkait gambaran populasi berdasarkan data sampel data sampel itu data yang mewakili populasi ketika kita ingin melakukan penelitian terkadang kita kesulitan mengambil data keseluruhan populasi apalagi bila populasinya amat sangat besar Oleh karena itu kita harus mengambil sebagian data yang kita anggap dapat atau mampu mewakili keseluruhan populasi tersebut dan ketika kita ingin melakukan analisis kita melakukan analisis dalam ranah statistika inferensia sehingga hasil analisisnya dapat kita gunakan untuk menginvert atau untuk menyimpulkan untuk menarik kesimpulan kondisi populasi secara keseluruhan dan di sini ternyata ketika kita melakukan uji hipotesis atau akan melakukan uji hipotesis kita tidak tidak boleh langsung melakukan uji tersebut kita tidak boleh langsung melakukan analisis statistika inferensia tersebut karena kita tidak boleh beranggapan bahwa analisis statistika inferensia yang kita pilih pasti dapat menggambarkan kondisi populasi berdasarkan data sampel kita kenapa karena sebelum kita melakukan analisis statistika inferensia kita harus mengecek kondisi data kita apa Apakah memenuhi asumsi yang telah ditentukan oleh uji hipotesis tersebut secara sederhananya asumsi itu merupakan prasyarat ketika kita akan melakukan uji hipotesis dalam statistika inferensia data-data sampel kita harus memenuhi prasyarat bila tidak memenuhi prasyarat maka adaakanya kita tidak boleh lanjut ke uji hipotesis tersebut Nah sekarang kita Bah Mengapa kita harus tepat dalam memilih dan melakukan uji asumsi misalkan saja kita melakukan penelitian kemudian penelitian tersebut menghasilkan data setelah kita melakukan proses pengumpulan data dan tujuan akhir kita adalah menyimpulkan kondisi dari populasi Berdasarkan data tersebut dan di sini sebelum kita menyimpulkan data kita perlu melakukan uji hipotesis akakukan analisis data dan sebelum analisis data kita harus mengecek asumsinya terlebih dahulu ketika kita salah mengecek asumsi atau kita melupakan asumsi atau bahkan kita salah memahami asumsi dan salah mengambil asumsi maka bisa saja kesimpulan yang kita dapat menjadi kesimpulan yang salah atau bahkan menyesatkan Sekarang kita coba lihat contoh kasus pentingnya asumsi bukan dari ranah bidang statistika atau penelitian tetapi dari bidang sehari-hari Bagaimana akibatnya ketika kita salah mengambil asumsi ketika kita salah berasumsi Misalkan seperti ini sekarang di tahun 2020 kita dalam kondisi pandemi pandemi covid-19 covid-19 sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus baru yang dinamai sebagai sarskov 2 Dan sekarang banyak berita bahwa masyarakat di berbagai negara terdiagnosis oleh covid-19 atau covid-19 ini misalkan saja anda melihat ada tetangga anda didiagnosis covid-19 oleh rumah sakit namun tetangga anda sama sekali tidak memiliki gejala penyakit tertentu misalkan anda melihat tetangga atau mungkin orang lain dia didiagnosis Oca mengalami atau terjangkit covid-19 tetapi kita tidak melihat gejalanya kita tidak melihat batuk pusing demam dan sebagainya maka pada umumnya kemudian masyarakat langsung menyimpulkan bahwa covid-19 merupakan konspirasi yang menguntungkan pihak tertentu kita merasa dibohongi kita menganggap covid-19 ini merupakan konspirasi Kenapa karena dari data yang kita ambil tadi ternyata banyak masyarakat yang sehat namun dikatakan dia terjangkit covid-19 nah sebelum menarik kesimpulan tersebut kita telah berasumsi kita telah beranggapan di dalam pikiran kita kita anggap seorang yang terjangkit virus akan menunjukkan gejala sakit jadinya sebelum kita menyimpulkan bahwa covid-19 itu konspirasi kita sudah beranggapan kalau orang sakit itu pasti kena gejala memiliki gejala kalau orang sakit itu ya biasanya demam pusing dan sebagainya sehingga asumsi kita adalah kalau orang tersebut terjangkit virus ya dia pasti menunjukkan gejala dari penyakit tersebut Apakah ini tepat Apakah asumsinya tepat dan apakah kesimpulannya tepat Nah bagi orang kesehatan bagi orang biologi atau bagi orang yang memahami virus atau imunitas kita bisa mengetahui bahwa asumsi ini salah dan tentunya kesimpulannya menjadi menyesatkan ya jadinya kita kalau belajar biologi kita tahu bahwa tidak selalu virus penyebab penyakit ketika menginfeksi seseorang orang tersebut akan menunjukkan gejala penyakit bisa saja tidak menunjukkan sama sekali bisa saja menunjukkan gejalanya dalam waktu yang sekian lama dan hal ini tidak hanya terjadi pada covid-19 misalkan orang terinfek oleh HIV HIV itu disebabkan oleh eh mohon maaf orang yang terinfeksi kena penyakit AIDS A itu disebabkan oleh virus yang kita kenal sebagai HIV nah orang yang terinfeksi oleh virus HIV tidak akan menunjukkan gejala penyakit Ace selama bertahun-tahun Apakah dengan demikian dia dikatakan tidak terjangkit HIV tidak dia tetap terinfeksi oleh HIV sehingga dia sebetulnya memil AIDS tetapi gejala aid tidak ditampakkan pada tubuh orang tersebut dan masih banyak virus-virus lain yang menyebabkan penyakit namun gejalanya bisa saja tidak muncul di sebagian orang bisa juga muncul tapi di tahun-tahun atau di waktu-waktu selanjutnya atau bahkan memang gejala tersebut sangatlah kecil penampakannya sehingga Kelihatannya tidak ada gejala sama sekali dan covid-19 merupakan salah satu penyakit yang gejalanya itu tidak dapat nampak pada semua orang atau tidak dapat nampak langsung Setelah orang tersebut terinfeksi sarskov 2 Nah di sini bisa kita lihat ketika kita mengangkat asumsi atau berpendapat atau berasumsi yang salah maka kesimpulan yang kita hasilkan bisa salah juga bahkan bisa menyesatkan itulah pentingnya ketepatan berasumsi kita ambil contoh lain berkaitan dengan dunia akademis berkaitan dengan dunia mahasiswa dan dosen misalkan saja anda seorang mahasiswa semester akhir Kemudian Anda ingin bimbingan ke dosen pembimbing satu anda untuk melakukan pembimbingan Anda harus berkomunikasi terhadap dosen pembimbing tersebut dan salah satu caranya adalah dengan mengirimkan sourch message atau SMS ke dosen pembimbing tersebut Nah misalkan Anda mengirimkan SMS ke dosen pembimbing namun dosen anda tidak kunjung membalas SMS tersebut misalkan pagi ini anda SMS ke dosen pembimbing Anda Namun sampai siang atau bahkan sampai sore dosen tersebut tidak membalas-balas SMS anda tadi lalu kemudian Anda langsung menyimpulkan bahwasanya dosen pembimbing Saya malas dalam memberikan bimbingan kepada mahasiswanya dengan dasar bahwasanya dosennya tadi tidak membalas SMS Anda kenapa Anda bisa mengambil kesimpulan tersebut karena biasanya kebanyakan mahasiswa berasumsi bahwa dosen selalu membawa HP atau asumsi yang lain dosen selalu sempat membaca pesan yang masuk ke dalam HP mereka nah ini pun juga merupakan asumsi yang kurang tepat seringkiali dosen tidak membawa hp karena ada pertemuan yang harus menyebabkan dosen tersebut menyimpan HP tersebut ada kalanya juga dosen tersebut mengikuti meeting dia bisa membuka HP tetapi dia tidak bisa membaca pesan yang masuk karena misalkan dia sedang menjadi pemateri dari seminar Dia mungkin sedang mengajar di kelas atau dia diundang ke kampus lain untuk memberikan materi tertentu Atau mungkin bertemu dengan pejabat tinggi nah ketika kita berasumsi bahwa dosen selalu membawa HP dan selalu sempat membaca pesan yang masuk kemudian ketika kita SMS SMS kita tidak dibalas maka kita dapat mengambil kesimpulan yang kurang tepat seperti ini Nah dari dua contoh kehidupan sehari-hari ini kita dapat dengan jelas Memahami pentingnya asumsi dan pentingnya ketepatan dalam berasumsi Nah sekarang kita kita masuk ke dalam statistika ketika kita membahas statistika inferensi ya kita akan mengelompokkan dua uji dua analisis dalam statistika inferensia menjadi dua kelompok besar yaitu parametrik dan non parametrik nah dalam statistika parametrik kita mengumpulkan data sampel untuk menyimpulkan kondisi data sampel tersebut dan digunakan sebagai gambaran kesimpulan umum dari populasi dan sama dengan kegiatan kita sehari-hari tadi ketika kita ingin mengambil kesimpulan ketika kita melakukan prosedur statistika parametrik Kita juga harus menetapkan asumsi-asumsi tertentu Kenapa karena pengambilan kesimpulan dalam prosedur statistika parametrik itu dibangun di atas asumsi-asumsi tentang data dan ingat ketika asumsi tersebut salah misalkan di contoh-contoh tadi ya ataupun kita tidak melakukan uji asumsi tidak mengecek asumsi atau juga kita melanggar asumsi artinya asumsi yang sudah ditetapkan kita langgar tetapi kita tetap lanjut melakukan uji statistika parametrik maka pastinya kesimpulan yang kita dapat dipertanyakan gitu ya jadinya seperti yang saya sampaikan statistika parametrik model di dalam statistika parametrik itu dalam pengambilan kesimpulannya didasarkan pada asumsi-asumsi tentang data kita beranggapan kita berasumsi bahwa data sampel kita ini merupakan data yang baik sehingga dapat mewakili populasi nah data yang baik itu memiliki berbagai kriteria nah berbagai kriteria itu perlu kita cek melalui pengecekan asumsi-asumsi yang sudah ditetapkan oleh para ahli Sta k tetapi pada kenyataannya banyak yang salah memilih uji asumsi banyak yang salah melakukan uji asumsi sebagian yang lain tahu bahwa asumsi itu penting namun tidak melakukannya atau memang dia tidak paham bahwa sebelum melakukan uji hipotesis dalam statistika parametrik kita wajib mengecek asumsi namun dia tidak melakukan atau mungkin di kasus yang lain dia telah melakukan berbagai pengecek asumsi sebelum uji hipotesis kemudian dia menemukan bahwa salah satu asumsi tidak terpenuhi namun dia lanjut ke uji hipotesis sehingga dia melanggar asumsi yang ada nah dari kasus-kasus ini Apakah salah melakukan uji asumsi tidak melakukan uji asumsi atau bahkan melanggar asumsi yang ada maka kesimpulan yang didapat dari penelitian tersebut merupakan kesimpulan yang tidak valid sehingga kita akan memberikan gambaran terkait populasi yang sebetulnya Gambaran tersebut tidak tergambar atau tidak terjadi di kehidupan nyata tidak nampak atau tidak muncul di populasi yang nyata itulah pentingnya pengecekan asumsi di dalam statistika parametrik Nah ada berbagai asumsi yang umum dicek ketika kita melakukan penelitian yang melibatkan uji statistika parametrik asumsi yang pertama adalah berkaitan dengan skala pengukurannya Nah kita telah menyinggung ada berbagai uji beda uji beda dalam ranah statistika parametrik misalkan Uji T kemudian Anova kemudian Anova itu ada oneway dan 2W satu jalur dan dua jalur kemudian Uji T itu ada Uji T berpasangan dan tidak berpasangan dan sebelum kita melakukan uji t uji Anova kita harus mengecek skala pengukuran variabel bebas dan variabel triikat saya ini memenuhi asumsi Uji T atau tidak misalkan saja ketika kita melakukan uji Anova Variabel terikat kita haruslah dalam skala rasio atau interval atau berupa variabel kontinu nah ini asumsi yang harus kita cek terlebih dahulu seperti yang saya katakan di awal kita jangan langsung memastikan bahwa uji hipotesis yang kita pilih pasti dapat memberikan kesimpulan yang tepat kita tidak boleh melakukan hal tersebut tetap tapi kita harus mengecek asumsi dari data kita tadi asumsi yang pertama yang perlu kita lihat adalah Variabel terikat kita dan variabel bebas kita sesuai dengan asumsi yang ada atau tidak kemudian selain skala pengukuran asumsi yang umum dicek juga sebelum kita melakukan statistika inferensia adalah independensi observasi independensi itu berasal dari kata independen bebas ervasi itu pengamatan ketika kita melakukan penelitian kita melakukan pengamatan untuk pengambilan data misalkan kita melakukan penelitian eksperimen dalam penelitian eksperimen tersebut kita melibatkan dua kelompok dikatakan independensi observasi bila salah satu semua subjek di satu kelompok tidak mempengaruhi subjek dari kelompok yang lain begitu ya kita membandingkan dua kelompok kita pastikan bahwa kedua kelompok ini tidak berkaitan kedua kelompok ini tidak berhubungan artinya tidak ada subjek di kelompok a yang dapat mempengaruhi data dari kelompok satunya atau dalam kasus lain ketika kita membandingkan kedua data dua data tersebut bukan berasal dari subjek yang sama misalkan kita ingin membandingkan perubahan konsentrasi gula sebelum dan sesudah memakan nasi misalkan seperti itu itu maka sebelum memakan nasi kita mengumpulkan data 10 orang kemudian 10 orang tersebut memakan nasi kemudian kita ambil data kadar gula darah setelah mereka makan nasi ini contoh data yang berhubungan data semacam ini melanggar independensi observasi nah ketika dia tidak memenuhi independensi observasi kita bisa memilih analisis data yang dikhusus kan untuk menganalisis data-data yang saling berhubungan semacam itu bisa uji berpasangan bisa juga mungkin repeat misers Anova Tetapi kalau Uji T tidak berpasangan kemudian twoway atau one way Anova itu kita disyaratkan bahwa data kita itu tidak mengalami hal seperti tadi Oleh karena itu independensi observasi harus terpenuhi asumsi lain yang sering juga perlu kita cek adalah normalitas normalitas ini berkaitan dengan distribusi data dari data sampel kita pada umumnya variabel-variabel di alam ini khususnya variabel yang berikatan dengan kehidupan kita misalkan tinggi badan berat badan konsentrasi gula darah kemudian IQ literasi yang berkaitan dengan manusia ataupun yang berkaitan dengan hewan ataupun yang berkaitan dengan tumbuhan variabel-variabel tersebut pada umumnya secara alami ketika kita ambil data keseluruhan populasi distribusi datanya itu normal distribusi data normal itu distribusi data ketika kita grafikkan membentuk kurva normal kurva mirip lonceng kurva mirip gunung jadinya tendensi sentralnya berada benar-benar di sentral di tengah min median modus di bagian tengah jadinya rerata atau Min nya itu di bagian tengah dan rerata tersebut dapat membagi data menjadi dua bagian yang sama rata jadinya bentuknya seperti gunung jadinya secara sederhana ketika data itu terdistribusi normal maka sebagian besar subjek datanya itu dekat dengan rerata dan hanya sebagian kecil dari subjek yang datanya jauh dari rerata misalkan tinggi badan reratanya Maka nanti yang kisaran berat badannya 80 lebih banyak dari kisaran berat badan 75 kisaran berat badan 70 itu lebih sedikit dari 75 kisaran berat badan yang 50 misalkan karena semakin jauh dengan rerata juga jumlahnya menjadi lebih sedikit jya semakin mendekati rerata semakin banyak subjek yang memiliki tinggi badan sesuai rata-rata tersebut frekuensinya semakin tinggi semakin mendekati rerata itu yang disebut atau dianggap sebagai distribusi normal Nah kenapa Data kita harus normal kenapa Data sampel kita harus normal karena seperti yang saya jelaskan tadi secara alami populasi itu datanya normal Nah kita itu ingin melakukan analisis sampel yang sampel itu nanti kesimpulannya digunakan untuk menggambarkan populasi kalau populasinya distribusinya normal tentunya data kita sampel kita kondisinya harus sama dengan populasi yaitu distribusinya juga harus normal ketika populasinya distribusinya normal namun data kita tidak normal maka asumsi normalitas dilanggar Kenapa karena distribusi sampel kita tidak sejalan tidak sesuai dengan kondisi alami dari populasi kemudian asumsi yang sering digunakan tetapi tidak selalu dilakukan pada berbagai uji hipotesis adalah uji homogenitas itu kalau kita Artikan secara sederhana adalah sama homogen sama kalau heterogen kan berbeda di sini apa yang dianggap sama apa yang harus homogen yang harus homogen adalah varian data nah homogenitas ini asumsi yang biasa kita gunakan sebelum kita melakukan uji beda misalkan uji oneway Anova tu Anova Uji T tidak berpasangan nah ketika kita menggunakan berb sebagai uji-uji ini sebetulnya kan kita membandingkan beberapa atau dua kelompok nah salah satu asumsi yang harus kita cek adalah varian data dari satu kelompok dengan kelompok yang lain harus tidak berbeda signifikan atau dalam arti yang lain harus homogen masih ingat apa itu varian kalau kita mengingat varian dalam konsep statistika deskriptif varian itu keragaman data seberapa tersebar data kita dari rerata ya misalkan kita membandingkan dua kelompok dua kelompok tersebut yang satu reratanya 50 yang satu reratanya 80 ketika varian data kedua kelompok ini sama misalkan kurang lebih 2 Nah misalkan 50 plus min 2 maka varian data kedua kelompok ini dikatakan homogen secara sederhananya seperti itu dan ketika kita Bandingkan kita dapat memperoleh Kesimpulan yang tepat namun ketika kita memiliki dua kelompok data sama reratanya yang satu 50 yang 1 80 namun di kelompok yang reratanya 50 Plus minusnya variannya hanya 2,1 misalkan sedangkan yang di kelompok yang reratanya 80 plus minusnya 10 Misalkan jadinya varian datanya luas maka ketika kita membandingkan dua kelompok data ini kesimpulan yang kita peroleh bisa saja berbeda tidak sesuai jadinya yang satunya 50 plus-2 jadinya rentangan data di kelompok tersebut ya 49 48 50 51 52 50 dan sebagian besar itu dekat dengan 50 namun kelompok satunya tadi 80 plus minus 10 jadinya rentangan datanya sebaran datanya luas Oleh karena itu biasanya kalau sebaran datanya terlalu luas maka Densi sentralnya anya itu tidak mampu menggambarkan kondisi dari data tersebut dengan baik sehingga ketika kita membandingkan dua data yang variannya berbeda semacam ini hasil perbandingan tersebut berbeda signifikan atau tidak berbeda signifikan di antara dua kelompok itu biasanya hasilnya kurang valid lalu ketika asumsi tidak terpenuhi Apa yang harus kita lakukan di sini ada beberapa informasi yang dapat kita jadikan dasar agar ketika kita melakukan pengumpulan data atau melakukan penelitian dan ternyata asumsi tidak terpenuhi kita tidak mengalami salah langkah ada satu kabar baik yang perlu saya sampaikan terlebih dahulu statistika parametrik itu dikatakan bersifat robus robus itu secara sederhananya dia itu Teguh artinya tidak mudah mengalami perubahan meskipun ada asumsi yang sedikit dililanggar begitu ya jadinya ad kalanya kita mengecek asumsi namun asumsi tersebut tidak terpenuhi nah pada kondisi-kondisi tertentu Meskipun asumsinya tidak terpenuhi kita masih bisa melakukan prosedur parametrik Kenapa karena prosedur parametrik itu bersifat robus tadi itu tidak mudah goyah namun tentunya pada kondisi-kondisi tertentu nanti akan kita bahas di video-video yang lain kemudian ketika ternyata asumsi kita itu memang tidak terpenuhi dengan jelas misalkan ada asumsi yang benar-benar gagal kita penuhi maka kita tetap melakukan uji parametrik Namun kita alihkan menggunakan uji yang lain misalkan Bagaimana misalkan t di uji e asumsinya independensi observasi kita ingin membandingkan dua kelompok awalnya kita ingin melakukan uji t tidak berpasangan jya kita membandingkan dua kelompok Uji T kan untuk dua kelompok tidak berpasangan jnya kita memiliki dua kelompok yang tidak saling berkaitan kita membandingkan kelompok A dan kelompok B kita bisa menggunakan uji t tidak berpasangan dan AS asumsinya adalah independensi observasi namun ketika kita ingin membandingkan dua kelompok dan ternyata data kelompok a dengan kelompok B itu saling berhubungan atau kita mendapatkan data itu berdasarkan penelitian yang time series misalkan data pertama kita ambil di hari pertama dan data kedua kita ambil di hari kelima kemudian kita ingin membandingkan data pertama dengan data kelima maka data ini kan sebetulnya berhubungan kita ambil dari subjek yang sama maka ini tidak memenuhi asumsi independensi observasi kita tetap bisa menggunakan uji parametrik tapi kita alihkan dengan uji parametrik yang lain yaitu Uji T berpasangan kemudian ketika memang asumsi lainnya tidak terpenuhi dan benar-benar sangat tidak terpenuhi dan kita tidak bisa mengalihkan ke uji parametrik lainnya maka kita harus mengalihkan uji kita ke uji non parametrik misalkan kita melakukan uji one way Anova dan uji one way Anova itu harus memiliki asumsi datanya normal kemudian variabel terikatnya itu berupa data variabel ktinu kemudian data satu dengan kelompok data yang lain bersifat homogen ketika asumsi misalkan asumsi normalitas tidak terpenuhi maka kita tidak boleh lanjut ke uji parametrik maka kita alihkan ke uji nonparametrik pengganti uji Anova Nah nanti kita akan belajar berbagai macam uji nonparametrik yang kita gunakan ketika data kita tidak memenuhi prasyarat tidak memenuhi asumsi parameter dan yang terakhir biasanya para peneliti juga melakukan transformasi data jya datanya ditransform diubah biasanya langkah transformasi data kita lakukan ketika data kita tidak memenuhi homogenitas transformasi data itu pengubahan data misalkan data kita kita kuadratkan semua itu namanya transformasi kuadrat atau sebaliknya kita akar semua jadinya seluruh data kita misalkan kita memiliki 40 data dari dua kelompok 40 data itu secara keseluruhan kita akar sehingga kita melakukan transformasi akar atau kita lckkan semua ya atau juga kita lakukan berbagai perubahan yang lain misalkan aksin nanti akan kita belajar berbagai macam transformasi data sesuai dengan kondisi data kita dan mengapa sebagian peneliti dan sebagian ahli mengatakan transformasi data itu kurang tepat nanti akan kita bahas di video yang lain Nah demikian video saya kali ini video yang telah menjelaskan apa itu asumsi dan mengapa asumsi itu harus kita cek sebelum kita melakukan uji hipotesis dalam statistika inferensia semoga ilmu dan pengetahuan yang kita pelajari di video ini bermanfaat dan Mohon maaf bila ada kesalahan Terima kasih asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Resume
Categories