Transcript
VnLeTlhBFlo • How to Calculate Duncan's DMRT Test (Advanced Test) Manually and How to Notate It
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EnsiklopediaAhmadFauzi/.shards/text-0001.zst#text/0093_VnLeTlhBFlo.txt
Kind: captions Language: id Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berjumpa lagi dengan saya di channel YouTube saya, Ensiklopedia Ahmad Fauzi, channel yang menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan analisis data, penelitian, publikasi, dan berbagai pengetahuan lain yang mungkin dapat meningkatkan pengetahuan ataupun keterampilan kalian. Di tiga video sebelumnya kita telah mempelajari berbagai macam uji lanjut dari uji BNT atau nama lainnya LSD, uji BNJ atau HSD, dan uji danet. Dan di video kali ini mari kita bahas uji lanjut yang lain yaitu uji dan ken lengkapnya adalah uji jarak berganda danken yang dapat disingkat sebagai UJBD atau di referensi lain hanya disingkat UJD dan bahasa Inggrisnya adalah danken multiple range test atau disingkat sebagai DMRT. Sama dengan uji lanjut yang lain, uji dan ken hanya perlu kita lakukan ketika kita memperoleh hasil ANOVA yang menyatakan H0-nya ditolak dan perlakuan yang kita bandingkan minimal tiga kelompok. Kalau dua kelompok kita tidak perlu melakukan uji lanjut. Dan seperti yang saya sampaikan di video sebelumnya, meskipun kita mempelajari berbagai macam uji lanjut, uji lanjut yang perlu kita pilih di penelitian kita cukup satu. Kita pilih DKEN saja, BNT saja, Danet saja, Tuki saja, ataupun mungkin uji lanjut yang lain. Kita tidak perlu melakukan uji lanjut dengan dua macam analisis. Dan bagaimana cara memilih uji lanjut yang tepat sesuai dengan penelitian kita? Akan kita bahas di video yang lain. Oke, misalkan kita menggunakan data ini. Data ini berbeda dengan data-data pada video uji lanjut yang lain, ya. Nah, di sini contohnya kita membandingkan tujuh kelas dari kelas IPA 1 hingga kelas IPA 7. Kemudian kita bandingkan hasil belajarnya. Hasil belajar siswa dari IPA 1 dari hingga IPA 7 kita peroleh dengan menggunakan tes hasil belajar yang menggunakan 10 soal. Ketika jawabannya tepat semua akan mendapatkan skor 10 dan kalau tidak tepat semua mendapatkan skor 0. Dan siswa dari setiap kelas ada lima. Dan sebetulnya tidak mungkin ya satu kelas hanya lima siswa apalagi kelasnya banyak. Tapi karena hanya contoh kita gunakan data yang sederhana saja. Jadinya ada lima siswa di setiap tujuh kelas tersebut. Dan setelah saya melakukan analisis ANOVA, ternyata evitung yang saya peroleh adalah sebesar 26,517. Angka ini jauh lebih besar daripada F tabelnya yang hanya sebesar 2,45. Karena F hitungnya lebih besar dari F tabel maka H0 ditolak. Karena H0 ditolak, maka dapat disimpulkan tujuh kelas yang saya bandingkan ini berbeda signifikan. Namun saya masih belum tahu kelas-kelas mana yang berbeda signifikan dan kelas-kelas mana yang tidak berbeda signifikan. Oleh karena itu, perlu kita lakukan uji lanjut. Dan pada video kali ini kita menggunakan uji dan ken uji lanjut kita. Untuk mempermudah kita melakukan uji lanjut, kita tuliskan ulang lagi tabel rangkuman ANOVanya. Setelah kita siapkan tabel rangkuman ANOVanya, kita siapkan formula dan kennya yaitu seperti ini ya. Di sini DMRT yang merupakan singkatan dari Dunken multiple range test bahasa Inggrisnya uji Dunken ya. Kemudian alfanya, alfa penelitian kita pada contoh kasus ini adalah sebesar 0,05. Kenapa 0,05? Akan kita bahas di video yang lain. Kemudian rumus dan kennya adalah seperti ini. R 0,05 PDB galat di* AK KT galat di/ N. Kalau melihat rumus ini, ini mirip dengan uji tuki ya. Kalau danet kan kategalatnya dikali 2. Uji BNT kategalat dikali 2. Kalau uji tuki kategalatnya tidak dikali 2. Demikian juga uji dan kategalatnya tidak dikali 2. Tapi sebagai informasi terlebih dahulu meskipun rumusnya mirip dengan uji danken, namun nanti cara pemberian notasinya berbeda mungkin berbeda agak jauh ya dibandingkan uji danken, BNT, maupun Danet. Jadinya perlu kita cermati secara seksama bagaimana nanti cara pemberian notasinya. Jadinya jangan disamakan dengan uji lanjut yang lainnya. Oke, sekarang langsung kita masukkan. Kita menggunakan distribusi R. Oleh karena itu, kita harus mencari tabel distribusi R di Google terlebih dahulu. Kemudian di sini R0,05 P. Nah, P-nya tetap kita tulis P seperti ini dulu. Kalau diuji yang uji tuki ataupun danet, P-nya kan langsung kita isi. Namun pada uji danken kita tulis P terlebih dahulu. Kemudian DB galatnya 28. Angka 28 ini kita peroleh dari rangkuman tabel ANOVA ini. Kemudian dikali akar kegalat dibagi n. KT Galatnya bisa kita lihat dari rangkuman ANOVA juga di sini ya. Galat KT di sini 0,700 dibagi N. N itu jumlah ulangan. Tadi siswa di setiap kelas kan 5 sehingga n-nya 5 ulangannya 5. Kemudian di sini tetap ditulis R 0,05 tetap P. Kemudian DB-nya 28 kemudian dikali 0 kom √ 0,14 0,14 kalau diakarkan adalah sebesar 0,374. Nah, sekarang kita lihat terlebih dahulu bentuk dari tabel distribusi R. Nah, seperti ini. Nah, cara pembacaannya berbeda ini dengan uji-uji lanjut yang lain. Tadi saya sudah memperoleh DB galet sebesar 28, yaitu ini, ya. Kemudian perlakuan saya ada 7, maka saya harus mencatat nilai tabelnya dari P2 hingga P7. Nah, berbeda kan dengan uji lanjut yang lain. Kalau di uji lanjut yang lain misalkan uji tu kita hanya melihat perlakuan kita misalkan jumlahnya 5 maka nanti kita tinggal meluruskan saja DB 28 kemudian P-nya 5 akhirnya ditemukan. Kalau kitaet p-nya kan jumlah perlakuan dikurangi 1. Misal kita membandingkan 5 kelompok maka P-nya 5 - 1 = 4. Kemudian kita cari DB-nya misalkan DB galatnya 28. kita tarik, kita temukan. Namun pada uji dan ken yang kita catat adalah dari P2 hingga P dengan jumlah perlakuan yang kita bandingkan. Tadi ada tujuh kelas, IPA 1, IPA 2, hingga IPA 7. Sehingga kita mencatat P2 hingga P7 yaitu ini 2,9 3,04 3,13 3,20 3,26 3,30. Sehingga untuk mempermudah kita buat tabel seperti ini aja. P-nya kita tulis lagi. Tadi kan kita catat ya. Ini P2 sampai P7 kita catat di sini paling atas. P2 3 4 5 6 7. Kemudian nilai R-nya. Nah, ini 2,90 hingga 3,30 kita tuliskan di sini agar lebih mudah. Kemudian √2 ini gak usah dua kali ya maksudnya akar kategalat dibagi n yaitu ini 0,374 langsung kita masukkan di sini. Sekali lagi ya, ini mohon maaf sebetulnya tidak perlu dua kali hanya akar KTG / n sesuai dengan rumus ini dan hasilnya kan 0,374. Sehingga kita akan memperoleh nilai DMRT dari setiap p-nya tadi. Langsung saja 2,9 * 0,374 = 1,085. Kenapa dikali? Karena melanjutkan formula ini. Tadi kita sudah memperoleh akar kategala dibagi n, namun kita belum memperoleh nilai r-nya. Lah nilai r nilai r-nya kan macam-macam. Jadinya kita menggunakan tabel ini. Setelah nilai R-nya kita temukan, kita kalikan 0,374 sehingga kita peroleh angka angka DMRT ini. Misalkan pada P5 di tabel yang distribusi R kita peroleh angka 3,2. akar kategalat dibagi n ditemukan 0,374. Maka nilai DMRT-nya 3,2 * 0,374 = 1,197 dan seterusnya. Setelah kita memperoleh DMRT dari setiap P, kemudian saatnya kita siapkan tabel yang berisikan perlakuan-perlakuan kita atau kelompok-kelompok yang kita bandingkan dengan reratanya. Nah, tadi kan saya melibatkan lima ulangan atau lima siswa dari setiap tujuh kelas yang saya gunakan. Kemudian saya rerata hasilnya seperti ini. Setelah kita menyiapkan data ini, data rata, langkah selanjutnya adalah kita mengurutkan kelompok dari terkecil hingga terbesar atau dari rerata terbesar hingga terkecil. Tetapi yang paling enak adalah mengurutkan rata dari kelompok yang reratanya terkecil hingga terbesar. Di sini kelompok dengan rata terkecil adalah IPA 7,8. Sedangkan kelas yang paling besar ratanya adalah IPA 6 yaitu 8,4. Nah, setelah kita mengurutkan kelompok yang kita bandingkan dari rerata terkecil hingga terbesar, sekarang waktunya menambahkan rerata dengan angka-angka DMRT ini. Nah, ini ya prinsipnya. Kelompok pertama kita tambah tambahkan DMRT yang P2. Kelompok yang kedua rarata terkecil kedua ya kita tambahkan nilai DMRT pada P3. Kelompok terkecil ketiga kita tambahkan DMRT dengan P-nya 4 dan seterusnya. Sehingga di sini 47 reratannya 2,8 + 1,085. IPA 3 reratannya 5 + 1,137. IPA 5 reratanya 5,2 + 1,171. IPA 1 reratannya 6 + 1,197. IPA 4 reratanya 6,8 + 1,220 dan IPA 2 reratanya 8 + 1,235. Sedangkan perlakuan dengan rerata tertinggi tidak perlu ditambahkan apa-apa. Sehingga kita peroleh hasil penjumlahan seperti ini. 2,8 + 1,085 = 3,885. 5 + 1,137 = 6,137 dan seterusnya hingga 8 + 1,235 = 92,235. Angka-angka ini kemudian kita masukkan ke tabel. Ingat ya, 3,885, 6,137 hingga 9,235. Nah, kita masukkan ke tabel sini 3,85 6,137 9,235. Jadinya tetap kita menggunakan urutan kelas dari rerata terkecil hingga terbesar. Kemudian kita beri kolom kolom yang merupakan hasil penjumlahan rata dengan DMRT masing-masing tadi yaitu angka-angka ini. Kemudian kita siapkan kolom berisi rerata asli, rerata awal ya. Rerata sesuai dengan data kita tadi ya. Total hasil belajar dibagi 5 di setiap kelas yaitu 2,8 5,2 hingga 8,4. Langkah selanjutnya adalah pemberian notasi. Nah, pemberian notasi ini sedikit lebih kompleks dibandingkan uji lanjut lainnya. Meskipun lebih kompleks, banyak yang menggunakan uji DMRT karena tingkat ketelitiannya lebih tinggi daripada uji-uji lanjut yang lain. Nah, sekarang kita cermati dengan teliti. Langkah pertama ini masih sama dengan yang lainnya, yaitu kita beri notasi yang paling kecil. Kalau kita menggunakan notasi alfabetik, notasi paling kecil adalah notasi A. Sehingga kelas dengan rata terkecil kita berikan notasi A. Kalau pada uji lanjut yang lain kan kita hanya memperoleh nilai kritis sejumlah satu macam saja. Misalkan BNT, kita hanya menggunakan satu nilai kritis. Kemudian kita cari selisih dua kelompok yang selisihnya kurang dari nilai kritis tadi. Kalau kurang dari notasinya sama ya. Kalau uji lanjut lainnya kan seperti itu. Kalau uji DMRT berbeda. Nilai kritisnya banyak. Ini ini merupakan nilai kritis ya. Nah, kemudian setelah kita beri notasi di perlakuan dengan rata paling kecil yaitu notasi A, kita cari kelompok di bawah kelompok pertama yang reratanya kurang dari 3,885 ini gitu ya. Kita cari ke bawah rerata kelompok yang kurang dari 3,885. Kalau ada kelompok yang reratanya kurang dari 3,885, maka notasinya harus sama. Kita beri notasi A juga. Namun kalau sudah tidak ada kelompok yang raratanya kurang dari 3,885, maka kita tidak perlu memberikan notasi A pada perlakuan yang lain. Sekarang kita lihat 3,885. Kita cari rerata dari kelompok lain. Ternyata tidak ada rerata yang kurang dari 3,885. Hanya rerata dari IP7 saja, yaitu rerata dirinya sendiri yang kurang dari 3,885. Artinya kita tidak perlu memberikan notasi A pada perlakuan yang lain. Itu tahap kedua. Sekarang tahap ketiga, kita beri notasi B pada perlakuan yang kedua yaitu IPA 3. Selanjutnya kita cari rerata yang kurang dari 6,137 pada perlakuan yang lain. Pada perlakuan lain kalau reratanya kurang dari 6,137 kita beri notasi B juga. Nah, sekarang kita lihat ya. Ini rerata dirinya sendiri kan 5. 5 itu kurang dari 6,137. Jadinya jelas notasinya B. Kita lihat sekarang notasi mohon maaf kita lihat perlakuan lain rerata lain. Kalau notasinya kurang dari 6,137 notasinya juga B. Nah, ini perlakuan atau kelompok ketiga reratannya 5,2. 5,2 itu kurang dari 6,137. Maka notasinya B juga. Kemudian kita lihat IPA 1. IPA 1 ratanya 6. 6 itu kurang dari 6,137 maka notasinya B juga. Kemudian kita lihat IPA 4 reratanya 6,8 lebih besar dari 6,137. Sehingga tidak perlu diberi notasi lagi, tidak perlu diberi notasi B lagi. Selesai. Tahapan selanjutnya kita ke perlakuan atau kelompok ketiga. Kemudian kita beri notasi C. Kemudian sama seperti tadi, kita cari perlakuan lain yang raratanya kurang dari 6,371 dan kalau kurang dari 6,371 kita beri notasi yang sama yaitu notasi C. Sekarang perlakuan IPA 1 atau kelompok IPA 1 raratanya 6. 6 itu kurang dari 6,371 sehingga perlu kita beri notasi C. Kemudian IPA 4 6,8. 6,8 itu lebih besar dari 6,371 sehingga tidak perlu kita beri notasi C. Nah, di sini kita menemukan kasus ternyata notasi C ini tidak bisa melebihi kelompok yang dengan notasi B. Ya, kita lihat ya. Notasi C berhenti di perlakuan di mana notasi B berhenti sehingga notasi C tidak melebihi notasi B. Pada kasus semacam ini, pada kasus notasi baru yang tidak melebihi notasi sebelumnya, maka notasi ini kita hilangkan. Nah, sehingga C-nya hilang. Begitu ya. Saya ulangi lagi. Ketika ada notasi yang notasinya tidak melebihi notasi sebelumnya, maksudnya tidak lebih bawah dari notasi sebelumnya, maka notasi baru tersebut kita hilang. kan. Oke, notasi C kan tadi dari 6,371. Nah, sekarang kita melanjutkan ke perlakuan keempat atau kelompok keempat. Nah, kelompok keempat nilai DMRT-nya sebesar 7,197. Sekarang kita cari rerata kelompok lain yang kurang dari 7,197. Namun karena notasi C-nya tadi kita hilangkan, maka sekarang kita munculkan lagi notasi C untuk kelompok IPA 1 ini. Begitu ya. Tadi kan awalnya C itu untuk IPA 5. Namun notasi C tidak melebihi notasi B sehingga C-nya kita gagalkan. Karena C-nya kita gagalkan, sekarang notasi C kita serahkan ke perlakuan selanjutnya yaitu IPA 1. Setelah notasi C kita tuliskan, kita cari kelompok lain yang reratanya kurang dari 7,197. Sehingga perlu kita cari, kita tambahkan notasi C lagi. IPA 4 raratanya 6,8 ini kurang dari 7,197 sehingga kita beri notasi C. IPA 2 raratannya 8 itu lebih besar dari 7,197 sehingga tidak perlu diberi C. Nah, di sini kita lihat notasi C-nya melebihi notasi B ya. Notasi B berhenti di IPA 1, sedangkan notasi C berhenti di IPA 4. Sehingga notasi C-nya tidak seperti kasus sebelumnya, tidak perlu kita hilangkan. Begitu ya. Nah, sekarang kita lihat perlakuan selanjutnya. Perlakuan selanjutnya kita beri notasi D. Kemudian kita lihat DMRT-nya 8,02. Maka kita cari kelompok lain yang reratanya kurang dari 8,02. Sehingga perlu kita beri notasi D juga. IPA 2. Nah, IPA 2 ini reratanya 8 kurang dari 8,02 sehingga kita beri notasi D. 8,4 itu lebih besar dari 8,02 sehingga tidak perlu kita beri notasi lagi. Kemudian selanjutnya ke IPA 2 sama karena notasi D melebihi baris C, maka notasi D kita pertahankan. Beda ceritanya kalau notasi D-nya berhenti di tempat berhentinya notasi C, maka notasi D-nya kita hilangkan. Nah, ini kan berhentinya di bawah notasi C. Sehingga sekarang 9,235 IPA 2 ini ya kita tambahkan notasi yaitu notasi E ya. IPA 2 notasinya E. Kemudian kita cari rerata yang kurang dari 9,235. Kalau kurang dari 9,235 maka notasinya harus sama yaitu notasi E. IPA 6 raratanya 8,4. 8,4 ini kurang dari 9,235 sehingga IPA 6 juga diberi notasi E. Selesai. Kita lihat pemberian notasinya berbeda dengan uji lanjut uji lanjut sebelumnya. Oke, demikian penjelasan saya terkait bagaimana caranya melakukan uji danken secara manual dan pemberian notasi danken. Semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada kesalahan. Terima kasih. Asalamualaikum. warahmatullahi wabarakatuh.