File TXT tidak ditemukan.
Transcript
vvTfdSS2Aw4 • ChatGPT Prompt Strategy for Harvesting Research Ideas That Pass Scopus Grant Reviewers and Reputable
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EnsiklopediaAhmadFauzi/.shards/text-0001.zst#text/0390_vvTfdSS2Aw4.txt
Kind: captions
Language: id
Penelitian yang bagus ditentukan oleh
beberapa aspek. Salah satunya adalah
kualitas ide penelitian tersebut. Ide
penelitian yang berangkat dari
permasalahan yang urgen mengikuti tren
saat ini, serta memiliki kebaruan akan
menghasilkan penelitian yang bernilai.
Dengan ide penelitian semacam itu,
proposal penelitian kita akan lebih
berpotensi diterima di pendanaan
eksternal. misalkan saja lolos pendanaan
hibah Bima. Selain itu, penelitian
semacam ini akan lebih mudah diac oleh
promotor disertasi kita ataupun
pembimbing tesis maupun skripsi kita.
Promosal semacam ini juga akan lebih
berpeluang besar menghasilkan artikel
yang mudah diterima di jurnal terindeks
Scopus. Namun terkadang kita kehabisan
ide atau kesulitan mencari permasalahan
penelitian yang berstandar jurnal
bereputasi. Di video kali ini, mari kita
bahas bagaimana mengoptimalkan chat GBT
untuk memanen ide-ide penelitian
berkualitas dengan strategi prom yang
maksimal.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Berjumpa lagi dengan saya
di channel YouTube saya, Ensiklopedia
Ahmad Fauzi, channel yang membahas
berbagai platform AI yang bermanfaat
untuk bidang penelitian, pendidikan,
ataupun bidang-bidang yang lain.
Sebelumnya mohon maaf kita baru bertemu
lagi setelah 2 minggu karena 2 minggu
kemarin saya skip tidak membuat video.
Padahal biasanya saya tiap akhir pekan
berbagi video melalui channel YouTube
ini. Selama beberapa waktu terakhir saya
diundang ke beberapa kampus misalnya
dari UGM, IPB, UNDIP, UNPAT, kemudian
kampus di Banjarmasin hingga di
Makassar. Biasanya saya tetap bisa
merekam video untuk YouTube saya. Namun
karena dua pekan terakhir kondisinya
kurang kondusif, maka saya terpaksa skip
tidak berbagi video selama 2 pekan
terakhir. Alhamdulillahnya pada akhir
pekan ini saya bisa kembali merekam
suara saya ini menjadi video semacam
ini. Oleh karena itu, di video kali ini
kita kembali diskusi dan membahas
bersama bagaimana menggunakan AI untuk
mendapatkan ide penelitian yang
berkualitas. kita akan menggunakan chat
GPT. Ketika menggunakan chat GPT, ada
beberapa strategi yang dapat
memaksimalkan prompting kita sehingga
respon yang dia berikan menjadi lebih
berkualitas. Salah satunya adalah
sebelum kita ngobrol atau saat kita
ngobrol dengan CJPT, kita memberikan
semacam input data yang harus dia
pelajari terlebih dahulu. data tersebut
menjadi dasar dia untuk memberikan
respon dari pertanyaan-pertanyaan kita.
Misalkan saja hari ini kita akan diskusi
dengan chat GBPT untuk memanen berbagai
ide penelitian berkualitas. Maka di awal
kita akan melatih dia atau memberi
kesempatan bagi dia belajar bagaimana
caranya merancang ide penelitian yang
berkualitas. Oleh karena itu, kita perlu
mengambil data ide penelitian yang
berkualitas semacam itu. Dan ide
penelitian yang berkualitas biasanya
dapat kita peroleh dari artikel-artikel
yang telah publish di jurnal terindek
Scopus Q1. Oleh karena itu, di langkah
pertama ini kita coba kumpulkan terlebih
dahulu contoh-contoh artikel yang sesuai
dengan bidang atau topik kita yang
berasal dari jurnal-jurnal terindeks
Scopus. kita bisa langsung menggunakan
Scopus, kita juga bisa menggunakan
Google Scaller. Yang pertama, misalkan
saya ingin ambil beberapa artikel dari
jurnal terindek Scopus. Misalkan kampus
kita berlangganan Scopus, maka tampilan
depan dari halaman Scopus akan seperti
ini. Tapi tenang ya, bagi teman-teman
yang kampusnya tidak berlangganan
Scopus, nanti kita juga bisa cari
melalui Google Scar. Setelah kita akses
Scopus, kita tinggal masukkan saja
variabel yang ingin kita teliti atau
kita ingin kembangkan menjadi ide
penelitian kita.
Misalkan saja saya ingin meneliti
bagaimana pengaruh sosial media terhadap
mental health
siswa. Maka saya masukkan seperti ini.
And student.
Kemudian kita enter.
Setelah itu kita filter menjadi open
access semua agar artikel-artikel yang
muncul di list ini bisa kita download
secara gratis. Nanti bisa kita cek, bisa
kita cari mana artikel-artikel yang
bagus, yang cocok sesuai keinginan kita
atau menjadi dasar dari penelitian yang
akan kita kembangkan. Misalkan saya
memilih ini, kemudian
ini, kemudian
ini, dan ini. Saya pilih empat. Kemudian
saya klik download. Lalu nanti kita klik
lagi tombol download sehingga empat
artikel tersebut akan ter-download ke
dalam komputer atau laptop kita
masing-masing. Oke, ini sudah
terdownload. Bagi yang kampusnya tidak
berlangganan Scopus, maka caranya hampir
sama. kita bisa memasukkan
keyword-keyword ini sosial media, mental
health and student ke dalam Google
Scholar. Namun kalau kita memasukkan
seperti ini dengan cara konvensional
seperti ini, kita enggak bisa mengetahui
mana artikel-artikel dari jurnal
terindeks Scopus. Maka kita membutuhkan
extension. Extension-nya namanya Rapid
Journal Quality Check. Kita akses saja
melalui Google biasa. Lalu nanti kita
cari yang dari Chrome Webstore. Setelah
ketemu, kita klik saja Chrome
Webstore-nya. Kemudian kita akan
diarahkan ke halaman seperti ini. Kita
bisa klik tombol tambahkan ke Chrome.
Kemudian kita klik add extension
sehingga ekstensi tersebut akan
ter-download dan terinstall ke dalam
Chrome. Kita sangat ringan, hanya
beberapa KBte sehingga hanya butuh
beberapa detik instalan tersebut
terselesaikan.
Sekarang kita kembali ke Google Scaller.
Kita refresh saja Google Scaller kita.
Maka nanti artikel-artikel yang berasal
dari jurnal terindeks Scopus akan
terlaberi baik Q1, Q2, Q3, Q4. Tinggal
kita download saja beberapa artikel yang
kita inginkan yang juga terlabel Q1
hingga Q4 tersebut. Setelah kita
kumpulkan contoh-contoh artikel
tersebut, nanti artikel tersebut akan
kita sampaikan pada CJPT dan CJPT kita
minta belajar bagaimana sih
karakteristik dari ide penelitian yang
berkualitas berdasarkan contoh-contoh
artikel tersebut sebelum nanti kita
meminta tolong dia memberikan
alternatif-alternatif ide penelitian
yang juga memiliki level yang serupa.
Namun ada strategi lain agar kita
nge-promnya dan diskusi dengan CJBT
menjadi lebih maksimal lagi. Strategi
tersebut adalah kita setting dulu
persona dari chat GBPT. Chat GPT
layaknya teman kita mengobrol dan
mengobrol akan lebih berkualitas kalau
kita memilih teman obrolan sesuai dengan
keinginan kita, sesuai dengan
kompetensi, pengalaman dan peranan yang
kita harapkan. Oleh karena itu di awal
sebelum kita ngobrol lebih lanjut, kita
setting dulu persona dia. Dan ini juga
sering saya sampaikan di
workshop-workshop yang saya isi ketika
kita ngobrol, maka di prom 1 kita
setting persona terlebih dahulu.
Nah, ketika setting persona, saya lebih
suka menggunakan formula seperti ini.
Kita tentukan peranan dahulu. Kemudian
kita sampaikan kompetensi yang harus dia
miliki. Kemudian kita sampaikan
pengalaman yang harus dia kuasai. Baru
kemudian kita ceritakan apa yang sedang
kita hadapi. Lalu baru kita sampaikan
instruksi yang kita perintahkan pada
dia. Pertama, peranan. Karena kita ingin
ngobrol mencari ide-ide penelitian yang
berkualitas dan bereputasi, maka kita
akan posisikan dia sebagai sosok yang
terbiasa merancang ide penelitian
semacam itu. Yang biasanya merancang ide
penelitian berkualitas itu kalau enggak
dosen ya peneliti ya akademisi. Maka
kita bisa tuliskan seperti ini. Anda
adalah dosen peneliti sekaligus
akademisi di bidang. Nah, ini bidangnya
nanti kita isi sendiri. Kemudian
kompetensinya, Anda berkompeten
mencari ide penelitian yang memiliki
novelty
serta mengembangkan desain penelitian
bereputasi. Nah, seperti ini. Kemudian
pengalaman selain berpengalaman
sebagai author jurnal Q1 dan peneliti
yang sering lolos
hibah pendanaan kementerian,
Anda juga
berpengalaman
sebagai editor dan reviewer jurnal
Q1. Nah, sehingga dia perspektifnya
banyak. Ketika nanti kita minta dia
pendapat, dia memberikan pendapat dari
berbagai perspektif ini. Kemudian
skenarionya kita sampaikan hari ini saya
telah mengumpulkan
beberapa artikel dengan topik. Nah, ini
nanti kita sampaikan topiknya apa.
Artikelartikel
yang saya kumpulkan tersebut berasal
dari jurnal-jurnal
terindeks Scopus Q1. Wah, misalkan
seperti ini. Artikel-artikel tersebut
saya lampirkan bersama dengan chat ini.
Kemudian instruksi untuk prom pertama
enggak usah berat-berat karena di sini
kita sudah menyampaikan berbagai
informasi lain ya. Maka instruksinya
ringan saja. Misalnya cukup cermati
artikel-artikel
tersebut. Nah, ini prom 1. Lalu kita
masukkan ke jetbt kita masing-masing.
Kita copy. Kemudian kita salin di sini.
Lalu kita masukkan bidang penelitian
kita. Apa misalkan hari ini saya menjadi
orang dari psikologi misalkan, maka kita
tulis psikologi.
Kemudian di sini topiknya kita sampaikan
pengaruh
media sosial
terhadap kesehatan
mental siswa. Lalu artikel-artikel yang
sudah kita download tadi kita upload
bersama dengan prom 1 ini. Tadi saya
sudah download empat contoh artikel.
Nah, empat-empatnya kita upload saja ke
chat GPT bersamaan dengan prom pertama
ini.
Setelah kita tunggu beberapa detik, maka
PDF-PDF ini sudah terupload. Setelah itu
kita klik tanda panah ini atau kita
enter sehingga CJPT akan mencermati
secara umum belum secara khusus terkait
contoh-contoh artikel tadi.
Untuk prom pertama ini tujuan utamanya
adalah men-setting persona dia sekaligus
memberikan data awal, input data yang
menjadi dasar dia memberikan respon di
prom-prom selanjutnya. Sehingga respon
ini boleh kita baca, boleh juga kita
skip. Sebetulnya bagus ini isinya karena
dia meringkas berbagai artikel yang
sudah kita upload tadi. Tetapi karena
tadi saya katakan ini tujuannya hanya
setting persona dan menginput data awal,
maka kita skip saja tidak masalah.
Setelah kita buat prom 1, kita lanjut ke
prom 2.
Prom 2. Nah, di prom 2 kita minta dia
mempelajari
kualitas ide penelitian tersebut. Maka
di prom 2 kita minta dia fokus
pencermatannya sekarang. Sekarang
fokuskan pencermatan Anda di aspek. Nah,
ini bisa kita minta dia beberapa aspek.
misalkan di aspek ide atau topik
penelitian,
kemudian
research gap
dan tujuan penelitian masing-masing
artikel Q1 tersebut. Analisislah secara
mendalam kualitas dari ide atau topik
races gap dan tujuan penelitian
artikel-artikel tersebut.
sehingga memenuhi standar jurnal I1.
Buatlah hasil analisis secara mendetail
sehingga kita mendapatkan kunci
bagaimana caranya mendapatkan ide atau
topik,
menentukan
research gap
dan merumuskan tujuan penelitian
yang berpotensi besar diterima di jurnal
Q1.
semacam ini ya. Kemudian kita copy, kita
masukkan ke dalam chatbt lagi. Nah, di
prom 2 ini kita beri kesempatan chatbt
untuk mempelajari terlebih dahulu
bagaimana sih karakteristik dan kunci
ide penelitian yang berkualitas sehingga
dia punya memori terkait hal tersebut.
setelah dia memiliki memori atau setelah
dia mempelajari membuat ide penelitian
yang berkualitas baru nanti kita minta
dia memberikan saran ide-ide yang
berkualitas. Jadinya kita enggak
langsung meminta dia mencari ide sebelum
dia belajar. Kita enggak mau ngobrol
dengan seseorang yang orang itu belum
mempelajari topik diskusi yang ingin
kita diskusikan. Sama di sini kita ingin
ngobrol sama CJPT, maka kita beri
kesempatan CJBT belajar dahulu sebelum
nanti kita memberikan instruksi utama
kita. Nah, ini sudah dia analisis nih ya
ide atau topik penelitian. Nah, kualitas
ide yang Q1 itu seperti apa? Ini fokus
pada mekanisme relevan global, mengisi
kekosongan konteks, memakai teori
kompensatori dan literatur tentang
gangguan tidur. Ini yang dari artikel 1.
Lalu ini resour gap-nya, ini kualitas
gap-nya, ini tujuannya, ini kualitas
tujuannya. Mengapa Q1? Begitu juga
artikel kedua, begitu juga artikel
ketiga, begitu juga artikel yang
terakhir yaitu artikel keempat. Nah,
kemudian dia coba sintesis hasil
analisis dia. Nah, ternyata ide-ide yang
bisa lolos Q1 berdasarkan keempat contoh
tersebut memiliki karakteristik seperti
ini. Isu besar global, risk factor,
impact, specific mechanism. Kemudian
resis gap-nya bagaimana? missing
mechanism, missing interaction, missing
contex, dan inconsistent finding.
Kemudian tujuan penelitian yang
berkualitas berstandar Q1 seperti apa?
Nah, di sini ya ada hubungan mediasi
atau moderasi menggunakan model teoritis
hingga memperjelas mekanisme yang belum
konsisten. Tujuannya sederhana tapi
tajam. Inilah ciri khas artikel Q1. Wah,
ini informasi-informasi penting ini ya.
CJBT membantu menelaah artikel-artikel
yang sudah publish di K1 berdasarkan
aspek ide, research gap, dan tujuan
penelitiannya. Nah, sekarang CJPT punya
memori terkait hal tersebut.
Sehingga sekarang kita minta dia
memberikan alternatif ide penelitian
yang selevel dengan artikel-artikel Q1
tadi. Sekarang bantu saya memberikan
atau membuat ya list alternatif ide
penelitian
dengan topik serupa namun dapat saya
praktikkan. atau saya implementasikan
di konteks Indonesia.
Buat lima ide penelitian
yang standarnya
sama dengan ide-ide penelitian dari
jurnal-jurnal
Q1 tadi. Eh, sori kok jurnal artikel ya,
artikel jurnal Q1 tadi.
Tadi Anda sudah mencermati
karakteristik
ide-ide dari artikel Q1 tersebut
sehingga
gunakan hasil analisis dan pencermatan
Anda tersebut
dalam menyusun
topik
gap dan tujuan penelitian
yang Anda rekomendasikan
pada saya. Nah, misalkan seperti ini
saya copy kemudian kita masukkan lagi ke
chat GPT sehingga dia akan memberikan
lima alternatif ide penelitian yang bisa
dilakukan di Indonesia. Nah, ini ide
pertama serial mediation model. Wih,
keren ini ya. Pengaruh paparan konten
media sosial terhadap depresi mahasiswa
Indonesia melalui cognitive overload dan
emotional disregulation, sebuah serial
mediation model. Wih, bagus ini ya. Ini
gap-nya, ini tujuannya. Yang kedua,
moderated mediation dengan digital
wellbeing literacy. Topiknya problematik
social media use dan stress akademik
pada mahasiswa kesehatan di Indonesia.
Per mediasi slip disturbance dan
moderasi digital wellbeing literasi.
Wih, bagus juga. Yang ketiga, EA
exposure and mental health. Dampak
paparan algoritma berbasis AI di TikTok
ini lebih keren lagi ya terhadap FOMO
insomnia dan kesehatan mental remaja
Indonesia sebuah model integratif. Yang
keempat ris behav pathway seperti di
artikel 4. Social media use cyber buing
exposure and offline risk behavior as
predictor of apa? Suicidal ideation. Ide
untuk bunuh diri ya. Among Indonesian
adoles ya. a gender spificway analisis
dianalisis per gendernya ini bagus juga.
Kemudian ide 5, interaksi problematik
sosial media use and self compassion
dalam memprediksi depresi mahasiswa
Indonesia. Ini juga bagus, lima-limanya
bagus semua ya. Lalu, bagaimana cara
kita memilih mana yang paling bagus,
mana yang lebih berpeluang? Nah, itu
akan kita bahas di kesempatan lain ya.
Kebetulan ya ini sambil promo juga Bapak
Ibu ya. Kebetulan saya ditugaskan lagi
ngisi webinar yang diadakan oleh kampus
saya dan oleh lab saya, lab Pusat Sumber
Belajar Digital. Insyaallah akan
dilaksanakan Jumat, 5 Desember. Ya, kita
akan bahas lagi lebih dalam bagaimana
menindaklanjuti ide-ide ini. Dan tidak
hanya berhenti di ide, nanti akan juga
kita kembangkan desain penelitian dan
metode penelitian yang berkualitas
tentunya dengan bantuan AI juga. Dan
kemudian nanti kita juga akan bahas
topik-topik terkait ragam research gap
yang bisa kita angkat menjadi proposal
penelitian kita sehingga penelitian kita
lebih berpeluang. bisa lolos PKM ya
untuk mahasiswa, bisa lolos skripsi,
tesis disertasi yang sedang tugas akhir
ataupun juga lolos pendanaan internal
ataupun eksternal. Ya, akan kita bahas
di Zoom tersebut. Nanti link dari
kegiatan pelatihan atau webinar ini akan
saya share di bawah video ini. Kita
lakukan Jumat, 5 Desember karena tanggal
2 3, 4 Desember saya harus ke Jayapura.
Saya diundang oleh Universitas
Cendrawasih dan insyaallah baru kembali
ke Malang Kamis malam. Bagi Bapak Ibu
juga yang mau mengundang saya ke kampus,
Bapak Ibu di Pulau mana pun insyaallah
saya siap terbang juga. Terima kasih,
mohon maaf bila ada kesalahan.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Yeah.