Transcript
9QRgpcTKdZI • Webinar 131 Mengelola Sampah Kota : Opsi Teknologi, Pembiayaan, Partnership, dan Risiko
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0165_9QRgpcTKdZI.txt
Kind: captions Language: id nya masalah sampah ini kalau kita lihat dari gambaran yang paling umum ya ini ee masing-masing orang ee apa namanya ee mempersepsi gitu ya solusi sampah seperti ini gitu ya. E kemudian kemudian yang paling penting lagi saya kira ini bagaimana bisa ee kita mendapat gambaran seutuhnya problem sampah kita. Kemudian juga tentunya ee arah selanjutnya gitu ya. Jadi yang duduk di atas gajah ini penting dan ini belum ada gitu ya. Presiden sih ya tapi ya siapa gitu. Apakah KLH ee ya, Kementerian Lingkungan Hidup, apakah PU, apakah ESDM, siapa gitu. Tapi kita tahu kelola sampah ini semacam penugasan ke daerah. Jadi tetap apapun namanya chief-nya itu ya pemerintah daerah gitu. Tapi pemerintah daerah seperti kita ketahui juga tidak akan bisa jalan sendiri. Jadi ini udah fenomena yang kita pahami semuanya punya persepsi yang berbeda. Apalagi yang dihilir ya yang mengembangkan teknologi itu buru-burunya yang mau buru-buru mau pasang gitu. Kalau perlu ada pendanaan gitu kan. Tapi problemnya kan kita mengerti ya, sangat kompleks. Terutama sebetulnya ee apa yang kita sebut dengan budaya ya, budaya kelola sampahlah di rumah tangga pribadi. Saya ingin minta chatting lagi berikutnya. Kebetulan saya nih ee apa namanya? Kepala apa? Ketua RW juga gitu ya. Ketua RW biasa itu enggak ada yang mau jadi ketua RW. Jadi saya ditunjuk sama warga. Saya tinggal di komplek Alamanda di Tubagus Ismail. Enggak jauh dari kampus ya. Kayaknya sudah dua kali ya, dua periode nih harus pilih-pilih tapi kelihatannya lanjut aja seumur hidup gitu. Jadi sampah ini di komplek kami ee karena kami berada di satu kelurahan namanya Sekaloa. Saya tahu betul. kita ini istilahnya bayar bayar angkut aja. Ada Mas Kang Oni namanya saya sendiri bayarnya 70 atau R5.000 gitu sebulan. Dia datang tiga kali atau 2 hari sekali gitu, dua atau 3 hari sekali selesailah. Ya, jadi selama ini juga kami sebagai warga, kebetulan juga RW di situ tentunya ada program kota ya dalam hal ini walikota sudah lama ini bukan hanya walikota yang baru, bukan hanya gubernur yang baru. Jadi kita sudah mulai belajar memilah-milah sampah ya. Tapi di warga saya ya ini makanya saya pengin dapat chatting dari semuanya nih, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adik-adik semuanya. kita sebut aja ee cara ngolah sampah ya. Jadi pertama yang sangat ee saya sebut apa ini yang sangat ee apa nih ya positif ya sangat positif nih yang ya saya sebut enaknya apa nih radiks lah bukan radikal tapi radiks gitu ee yang memang dia membuat objektif e itu zero way sudah dari rumah gitu ya jadi itu nomor satu jadi nomor satu itu zero ways sudah di rumah. Jadi istilahnya di rumah itu tidak boleh ada sampah keluar. Caranya gimana? Silakan kebiasaan hidup bawa apa? Tumblr, bawa tas, ee apapun ya, lalu buat biopori ya. Ee ditanam pakai pupuknya dan seterusnya. Ini nomor satu. Kemudian nomor dua tentunya kayak saya ini gitu ya. Saya masih level dua nih, yang satu ini mantap ini. Kalau semuanya ee nomor satu, saya pikir kita enggak usah pusing ya cari investasi. Ini ekstrem aja ya saya katakan. Tapi ternyata yang nomor satu ini ketika UNPAT juga membuat suatu KKN, kebetulan juga di kawasan kami di kelurahan RW, saya juga minta database-nya di Kelurahan Sekoloa Kecamatan apa namanya? Coblong ya, coblong. Kami juga masih bekerja untuk itu. Ragam-ragam upaya itu eh ditemukan memang tidak banyak nih nomor satu ya. Jadi nomor satu ini enggak banyak mungkin lebih kecil dari 1% atau 2% ya gitu loh angka kita itu gambarannya. Jadi nomor satu yang radikal radik mengelola sampah zero waste di rumah. nomor dua kayak saya ya. Nanti tolong di kolom chatting bisa dimulai apa kita sebut nomor dua ya. Ee nomor dua ee siapa aja nih yang yang apa yang bayar angkut sampah ya istilahnya bayar angkut sampah. Tadi udah ada background-nya ABG Civil Society 1 2 3 4 kayaknya kita merata. Kemudian kelola sampah ya silakan diisi aja di kolom chat apakah Anda nomor satu yang memang mengelola sampah zero di rumah kemudian angkut bayar angkut kan gitu. Nomor tiga tentunya yang disiplin punya tong sampah yang beragam-ragam gitu ya untuk organik, non organik bahkan tergantung mau berapa macam gitu ya, ada kaca, ada apa kan ini di luar negeri sudah mungkin bisa 5 en gitu ya sudah dipilah langsung ya itu nomor tiga. Nomor tiga saya pikir apaagi jadi satu yangat sangat radikal zero wis di rumah. Nomor dua bayar angkut. Nomor tiga punya ya punya apa? punya tong-tong sampah yang berbeda. Silakan ee Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adik-adik ya ee sharing gitu ee kira-kira apa ee praktik ya budaya kelola sampahnya di rumah masing-masing. Yang kos-kosan juga boleh tentu ya. Ee saya pikir tentunya ada yuran gitu ya. Mana nih? Ee kok saya enggak ngelihat ada yang respon atau saya salah lihat ini. Everyone ayo silakan. Ee oke. Ee ya saya yakin juga sama halnya ya. Yang nomor satu itu sangat minim ya. Nomor dua biasanya mendominasi ya, seolah-olah enggak mau tahu beres kirim. Jadi biayanya biaya angkut gitu. Nah, nanti urusan vendor atau urusan yang ngangkut itulah dealing ya. sampah itu dari mulai tempat pengumpulan sementara, lalu di situ ada ritual-ritual lain yang biasanya tidak sembarangan bisa ee nitip kan gitu sampai ke pembuangan akhir. Nah, situasinya sekarang terakhir ee budaya ini kita masih colollaps ya di Bandung lah terutama saya hanya apa namanya berani bicara di Bandung karena saya warga Bandung. itu bahkan ember yang beraneka warna itu ditarik kembali ya oleh kelurahan. Tadinya dibagi ya kita belajar yang organik mulai pohon-pohon enggak boleh dibuang, harus diamankan sendiri. Nah, itu kalau yang tadi tukang angkut ya dia punya effort sendiri untuk mengamankan itu gitu. Ee tadinya mau buat sumur seperti itu biar dibusukin tidak jalan gitu ya. Tapi intinya ee apa namanya? Ajakan untuk memilah sampah dari pemerintahan gitu sebutlah ya dalam hal ini kelurahan ataupun pemerintahan Bandung itu ee ditarik lagi alasannya katanya di Gede Bage TPA-nya sudah penuh dan lain-lain dan lain-lain lah. Jadi ee saya pikir itu satu yang negatifnya gitu ya. Kemudian yang positifnya tentu ada ya ee ada grup emak-emak, ada grup ee bank sampah namanya itu berjalan tapi soow lah. Termasuk di kantor kelurahan juga saya lihat ada tempat pengolahan kecil gitu ya, pemilahan sampah, memelihara ikan, mungkin mereka mau membuat sirkular ekonomi. Jadi singkat cerita ini ee yang negatif-negatif lagi ya saya kira banyak ceritanya. ee jatuh korban di Gunung Sampah, ancaman kesehatan yang pasti sampai sekarang kayaknya berjalan tanpa arah dan solusinya juga belum jelas dan tidak solid. Nah, ini pembicaraan kita pagi ini sangat penting. Kita merepresentasi ee sebagian mungkin tentunya kalangan akademik ya, Teman-teman ee Bapak-bapak, Ibu-ibu juga ada yang dari Seiv Society, ada yang dari Pemda, pemerintah pusat barangkali juga. Kemudian ada pengembang bisnis, mungkin juga finansiasi ya. Saya pir ee untuk sementara saya enggak mau lanjut dulu. Justru saya ingin dengar gitu ya. Ee kira-kira apakah betul gambaran itu sama di tempat Bapak Ibu sekalian. Nah, ini mungkin bisa di-chatting juga ya. Ya, yes gitu. Why gitu. Kemudian mungkin no, berarti no bagus gitu ya. Wah, kayaknya ya semua gitu banyak. Iya. Kalau iya memang problem betul ya. Yes. Seperti itu gambarannya ya. Semua ini banyak bilang yes. Tapi ada juga yang ee kayaknya yes semua nih ya. Waduh. Berarti ya memang kita masih bermasalah ya, tapi gimana ini? Nah. Nah. Saya mau share ini. Jadi di presentasi saya sudah ada. Saya yakin juga semuanya sudah menerima. Tapi saya mungkin ee mau berhenti ngomong nih ya sebelum kita lanjut. Tentunya kita ada agenda tadi perlahan-lahan ya tentang paradigma kelola sampah, kemudian opsi teknologi, masalah kemitraan kelembagaan pendanaan tentunya serta roadmap. saya berhenti. Ee mungkin kita apa ini namanya? Raise hand gitu ya biar tertib ya. Waduh ini yes semua nih. Yes semua ya. Silakan rais hand. Eh jadi kita mungkin ambil dua orang gitu ya. Enggak usah lama juga mudah-mudahan merepresentasi. Ada yang res handen mungkin. mau sharing atau sudah punya case ya tentunya di zaman sekarang ada IT ya akan sangat membantu terutama bicara pengumpulan iuran dan lain-lain. Ada yang rais hand mau sharing? Sharing apa nih? Sharing paradigma, sharing usulan atau sharing pesimistik gitu ya. atau sharing optimism. Nah, ini ada dua orang ya. Mungkin kita invite aja langsung ee apa konsern mereka. Pertama ada di kanan ini maksuk koi pikdes cas mungkin bisa memperkenalkan diri ya sekalian menyampaikan konsernnya tentunya ee juga hadir hari ini pasti punya target gitu ya. Ee silakan buka di-unmute ya biar bisa kedengaran suaranya dengan oleh rekan-rekan yang lain. Masuk koi Pitcast. Nah, ini kayaknya dari Dinas Kesehatan atau apa nih? Ee ibu-ibu mungkin akhwat ya silakan. I ya ya. Baik. Eh, baik, terima kasih, Prof. Eh, perkenalkan saya maksuk. Sebetulnya saya akademisi, tapi belum sempat saya rename itu dari Kolegium Epidemiologi. Eh, saya dosen di Politeknik Kesehatan Palembang dan memang peminatannya terkait dengan kesehatan lingkungan dan pengelolaan sampah. Nah, ini juga mungkin ee sek sharing sekaligus mungkin bisa untuk ee ee karena Prof. tadi bilang Prof. itu engineering sipil, tapi ee juga ada di masyarakat juga ee konsern untuk pengelolaan sampah. Nah, memang kalau ee di tempat ee Prof sebetulnya ee permasalahan ee sampah yang ada itu karena kami memang di perkotaan, tepatnya di Kota Palembang, sampah ini menjadi permasalahan utama terutama di sungai gitu, Prof. ee ya upaya yang sudah kita lakukan paling tidak di kampus kita ee sudah membuat semacam subunit bank sampah tapi enggak jalan juga gitu, Prof. ya. Nah, ee tapi ee ee saya berupaya kerja sama dengan bank sampah induk untuk yang di level rumah tangga, Prof. ee di kampung kami sendirilah, katakanlah di RT kami sendiri paling tidak kita bisa memulai untuk memilah sampah ini dari diri kita sendiri gitu, Prof. Karena ini berangkat dari ee permasalahan sampah yang memang ee di lapor rumah tangga ini tidak dipilah. Nah, saat ini alhamdulillah sudah jalan 1 tahun, Prof. dan tabungannya sudah lumayan banyak, sudah hampir 2 jutaan kalau saya hitung. Itu belum kita ambil dari bank sampah induk. ee mungkin eehannya kita belum bisa mengajak untuk semua ee masyarakat ikut terlibat gitu ya, Prof. ee untuk mengikuti ee pemilahan ini pun dari Kota Palembang itu ee setiap kelurahan itu wajib punya satu bank sampah tapi realisasi tapi di RT kecil saja lumayan Prof. ee setiap bulan itu sampah plastik yang dihasilkan itu hampir kurang lebih 30 kilo. Lumayan kan kalau dia masuk ke sungai. Nah, mungkin ee Prof bisa kasih pencerahan gitu terkait dengan apa yang sudah Prof. sampaikan tadi. Kemudian terkait dengan inovasi, Prof. Karena kita ini kan sebagai ee akademisi diminta ee diminta untuk hilirisasi penelitian. Nah, ini mungkin kesulitannya apa? kesulitannya karena saya ini bukan ee sarjana teknik karena saya adalah sains. Lebih ke sainsnya, lebih ke ilmunya gitu kalau kita bicara. Dia lebih ke dampak kesehatannya ketimpang dengan teknis untuk menghasilkan suatu inovasi. Mungkin itu saja dulu, Prof. dari saya bis ee mohon bantuannya untuk pencerahan. Terima kasih, Prof. Terima kasih, Bu Maksuk. Maksuk ya, Bu Maksuk ee di Palembang ee kebetulan juga dari kalangan akademisi. Ee kayaknya kita profilnya hampir sama ya yang hadir juga permasalahan di tempat kita masing-masing dan kebudaya budaya dari mengelola sampah di rumah tangga. Tadi ada yang kedua yang rais hand eh kalau enggak salah itu tadi Pak Erwin ya, Pak Erwin ee silakan mungkin cepat ee apa sih ee motifnya join gitu apa mau dengar-dengar aja apa punya pendapat sekalian perkenalkan diri Pak Erwin. Baik ee terima kasih ee Pak Profesor Harun. Saya Erwin Kasim. Eh, wah ini Pak Erwin. Pak Erwin ini ini saya ini e keluarga apa? Abang abang ipar saya ini ya. Abang ipar saya ya. Ya, silakan. Terima kasih. Terima kasih Pak Harun atas undangannya. Ee saya sebenarnya bukan ee dari teknik lingkungan. saya background-nya adalah power system engineer. Jadi listrik eh terpancing terinspirasi pada saat pemerintah mengeluarkan Perpres, saya lupa Perpres 16 atau sebelumnya ya untuk membangun tujuh PLTA ee di PLT ee di tujuh kota waktu itu yang kemudian challeng dipermasalahkan oleh WALI. Akhirnya pemerintah kalah di Mahkamah Agung eh di Mahkamah Agung ya. Kemudian akhirnya keluarlah Perpres 18 tahun 2008 eh 2000 ee Perpres 35 tahun 2018 yang akhirnya direvisi kembali oleh ee pemerintah kemarin tanggal 10 Oktober ya kalau enggak salah keluarlah Perpres 109 tahun 2025 membangun 33 ee PLTSA ee di Indonesia. Nah, saya melihat Pak ee Harun ee permasalahan sampah ini sebenarnya bukan isu yang baru, sudah sering sekali dibahas. Bahkan sudah ada Undang-Undang 18 tahun 2008 tentang ee penanganan sampah dan itu tidak dilakukan, tidak berjalan di mana di sana banyak sekali instruksi ee yang sudah harus dikerjakan oleh pemda tetapi tidak dilakukan karena apa? Karena ujung-ujungnya adalah duit. Karena semua itu memerlukan anggaran. Sementara e apa ya nomenklatur cantolan untuk menganggarkan itu juga tidak begitu lengkap di ee Kementerian Dalam Negeri. Sehingga juga untuk menganggarkan ee bagaimana memberikan pelayanan dan ee apa pengurangan sampah itu tidak bisa berjalan dengan baik walaupun sebenarnya sudah ada aturan-aturannya. Nah, di sini masalahnya adalah memang pendanaan yang satu. Yang kedua, budaya di Jepang itu sudah 100 tahun yang lalu anak-anak sudah disiplin, tidak ada orang buang sampah sembarangan. Di Singapura baru law enforcement. Kalau kita masuk Singapura mendarat saja kita di Changi sudah enggak berani kita buang sampah sembarangan. Tapi keluar dari Cangi lempar sampah lagi. Itu biasa. Orang Singapura pun demikian mungkin kalau dia terbang ke Jakarta. Nah, jadi memang law enforcement. Nah, sementara untuk menjalankan law enforcement itu perlu juga pendanaan, perlu sosialisasi mulai dari ee tingkat SD, SMP, SMA sampai juga ee disiplin ee para aparatnya. Nah, sementara tenaga aparat di lapangan juga sangat terbatas. Jadi kompleks sekali masalah ini. Nah, tapi kita perlu ee melakukan suatu ee upaya tetap upaya usaha itu harus dilakukan. Nah, saya melihat masalah yang penting di sini adalah bagaimana yang kuat membantu yang lemah. Karena kalau untuk perhotelan, kawasan real estate eh hotel, apartemen, mall, mereka sudah disiplin. Mereka sudah bisa pilah, bisa kumpul, bisa membayar orang untuk angkut sampahnya bersih di lingkungannya. Nah, masalahnya di lingkungan ee real estate yang di bawah ini yang daerah kumo, daerah-daerah yang biasalah mungkin 80% masyarakat kita masih ee apa J apa JDP-nya itu masih rendah sekali tidak mampu dimintain uang yuran sampah Rp100.000 sebulan pun mungkin tidak mampu. Nah, di sinilah peranan negara untuk bisa bertahap untuk mendidik supaya poluterpay principal itu berjalan. Siapa yang buang sampah ya bayar cuma ini belum bisa dilakukan untuk masyarakat umum. masyarakat ee menengah ke bawah baru bisa dilakukan di masyarakat perhotelan, perumahan mewah, ee apartemen, dan perkantoran-perkantoran yang sanggup bayar. Nah, untuk itu pemerintah harus membuat suatu regulasi bagaimana pajak itu betul-betul bisa dialokasikan untuk ee membantu yang lemah. Tadi kita saja disuruh membeli tong sampah yang tiga warna aja sudah tidak sanggup. Satu tong sampah pun juga kadang-kadang juga mahal. Ya, kelihatannya hilang ya. Terputus betul ya. Ee Dini, Pak Erwin. Iya betul Prof. Terputus. Baik. Heeh. Kita stop ya. Belum apa-apa kita sudah berjalan 36 menit di ini ya. Baru pemanasan. Baru pemanasan. Jadi ee begitulah ya. tadi sudah kita dengar Pak Erwin tadi terputus. Oke, nanti bisa masuk lagi. Tapi ee tentunya ada isu-isu yang sangat mendasar ya tadi. Nah, ini kuis. Kalau dosen tuh senangnya buat kuis terus ya, Dini ya. Ini gampang nih kuisnya. Gampang banget nih. Saya pengin tahu bagi yang mengiur sampah gitu ya, itu berapa sih bayarnya? sebulan mungkin atau mingguan terserah tapi umumnya kan per bulan. Nah, tolong tolong ditulis saja gitu kira-kira nanti kita lihat minimum maksimumnya ya. Saya punya angka maksimum loh di Indonesia. Minimum berapa? Ee 30.000 20 30 185.000 15.000 250. Waduh, gede itu. 50 25 ya. 20 10 25 10 5.000 wah murah Rp50.000. Aduh saya di rumah R30.000 R.000. Oke. Jadi kita sudah bisa ya lihat ada yang 100 tadi barusan kita ngelihat angka itu ini apa namanya kluster atau populasi yang hadir ya tadi ragam ya background-nya itu 30 kayaknya ya range-nya ya yang kecil mungkin ada 10 20 ya tapi kalau bahasa statistik itu mode-nya ya modood modood itu range-nya 3050 ya banyak ya 30 sampai 50 tadi adalah yang 100 ya tapi mood-nya tuh sekitar mood tergantung per kilo. Wah ini hebat juga nih ya tergantung per kilonya Pak. Wah canggih berarti udah udah canggih tuh di tempatnya 50. Jadi saya yakin ya segitu gitu ya. Kalau perumahan saya 75 Rp150.000. Nah nanti dicek apakah sama satpam atau enggak gitu ya. Saya sendiri tadi Rp70.000 kadang-kadang Kang Oni namanya malas malas ini dia karena mungkin banyak uang atau karena saya Pak RW gitu ya. Dia enggak nagih-nagih nagihnya 3 bulan gitu. Jadi saya transfer lah tiga kali gitu ya. Jadi Pak Oni ini manual banget ya. Dia punya kayak apa namanya tuh mobil truk kecil engkol ya namanya. Engkol mungkin muatannya 1 ton juga mungkin udah padat banget ya. 1 ton 2 ton dia menyewa kadang udah numpuk di depan rumah saya. Saya suka tanya e kita punya apa namanya? Sekretaris eksekutif ya di komplek kami ini. Gimana nih sampah? Wah itu lagi ban bannya mogok mobilnya mogok jadi enggak ngangkut numpuk gitu ya. Oh ni ini cerita aja. Jadi cerita yang memang betapa hal-hal ini sepele kelihatannya ya, tapi ya begini terus gitu ya. Jadi kembali saya bisa posting ini saya kadang minta sama teman tolong dikirim tuh pas fotonya fotonya iuran sampah sama kuitansinya. Jadi terakhir kayaknya dari yang teman-teman kirim ini tadi ada yang 150 ya dan itu sangat sedikit ya 100 sampai jarang ya. Heeh. Lalu ee yang saya terima paling tinggi saya kaget ya memang daerahnya juga khusus gitu ya. Itu dia bayar 300 1 bulan ya. itu di Tulung Agung di Menteng. Saya enggak usah sebut ya orangnya, tapi kita bayar 300. Waduh. Nah, sepakat enggak yang hadir di sini? Saya sih nebak 100 itu sudah kemahalan. Kalau kita mau tuntasin semuanya bisa iur 100, ada 1.000 KK atau 100 KK. Waduh kita bisa hire ya. bisa higher tadi yang kita enggak kerjain. Kita bisa beli alat apalagi bisa ditumpuk sudah berbulan-bulan. Jadi ada kapital. Nah, inilah yang kita sebut ee magicnya number gitu ya kalau jumlah. Nah, inilah yang gotong-royong ya tadi disebut ya. Gotong-royong, kolaborasi. Ada koperasi ya yang mau dibuat ya 80.000 koperasi ya. Mudah-mudahan sebagian besar ada untuk ngurus sampah gitu ya. Jadi memang dahsyatnya di situ gitu loh ya. Jadi 30 50 saya pikir fair enough kalau bisa dikumpulin. Tapi gimana caranya uang itu terkelola dengan baik untuk ya istilahnya apa 3R itu ya ee pemilahan dan lain-lain itu enggak usah disebut pengolahan dan membuat mendapatkan value itu silakan nanti kalau uangnya terkumpul bisa beli alatnya bagus gitu. Yang pasti itu sudah bisa nutupin gaji mereka UMR di Palembang. Kita sudah hitung-hitung ya, hitung-hitung saya punya 120 KK ya, tapi ini belum jalan terus terang karena kita sedang juga ee apa namanya? Pilot ya platformnya ya, platform bayar iurannya gitu. dan juga saya juga ajak Kang Oni, Kang Oni kita mau istilahnya apa ini kalau di proof of konsep gitu ya, proof of dan kita jual juga ke kelurahan ngajak airway sebelah ada yang sudah mau kita coba ada platform digital pengumpulan iuran sampah. Nah, ini multiurpose ternyata kalau itu bisa kita kumpulin banyak lebih bagus ya. Nah, ini teman-teman ada yang bergerak di situ. Saya juga sudah sharing di slide. Silakan lihat mungkin ada nomor HP-nya. Dia udah membuat di mana? Di daerah Depok gitu ya. Lalu ada juga di daerah lain tapi belum ketok tular banyak gitu. Karena ini langkah-langkah grassroot ya. Yang penting harus amanah kan. itu aja yang kerja dibayar ada hasilnya jadi bank sampah ee dan bisa mempekerjakan dan bisa menginvestasi lingkungan lebih bersih gitu ya. Nah, ini satu upaya lah satu upaya. Oke. Ee kalau ada yang urgen boleh nih ee tadi Pak Erwin kita skip aja kalau ada yang urgen satu orang boleh. Ah, Pak Yusuf silakan Pak Yusuf. dibuka videonya biar wajah gantengnya kelihatan Pak Yusuf ya. Ya. Ya. Silakan kelihatan ya, Pak. Ah. I terima kasih kesempatannya Pak Prof sama Eko ini. Saya sih intinya hanya apa? Sharing juga apa yang saya lakukan. Perkenalkan saya Yusuf, Prof. Iya. Saya dari Yayasan Trapawana, Jawa Barat. Saya sebenarnya baru mendalami masalah sampah ini 2 tahun lalu lah sampai hari ini saya membuat lembaga, sebuah yayasan bagaimana saya bisa berkontribusi menangani sampah yang ada di Kota Bandung gitu. Sampai saat ini mungkin per bulan rata-rata saya sudah 45 ton saya olah kayak gitu dan itu mandiri kan tidak ada kontribusi dari siapapun. Saya coba untuk bergerak dari mana? Nah, ini saya menarik ikut apa e webinar ini. Ada beberapa yang mungkin saya bisa sharing. Yang pertama masalah harga sampah di Bandung. Sebenarnya Perwal sudah jelas kalau sampah itu ada retribusinya dan menurut Perwal yang tahun 45 di apa eh nomor 45 yang di Bandung itu kan rata-rata ada yang 3.000, ada yang 5.000 gitu ya, ada yang 7.000 R. Ibu dan itu menurut peraturan Kemendagri disesuaikan dengan volume listrik. Jadi dia listriknya pakai berapa watt gitu. Ada yang 450, 900 dan sebagainya kayak gitu. Jadi sebenarnya tarif sampah ini sudah ada ketentuannya untuk retribusi. Retribusi itu apa? Dari TPS narik ke TPA. Nah, tinggal yang beragam ini adalah yang berbeda-beda ini adalah untuk operasionalnya. Mungkin tadi 3.000 untuk ee apa retribusinya ee atau 5.000 untuk retribusinya. Nah, yang 10.000-nya adalah untuk jasa angkut. seperti itu sih ee apa yang yang mengenai retribusi ini. Nah, ee di sisi lain saya juga tadi menanggapi masalah ee sampah rumah tangga sama ee yang tadi Pak Erwin juga ee omongin mengenai polusi sama regulasi. Nah, yang saya amati permasalahan sampah di Bandung itu yang pertama itu kalau misalkan memang sampah di Bandung ini akan selesai sebenarnya regulasinya sudah jelas bahwa ada sampah sejenis rumah tangga. ada sampah rumah tangga kayak gitu. Nah, sampah rumah tangga penanganannya ini berbeda dengan sampah sejenis rumah tangga apalagi dengan B3. Nah, permasalahan yang sekarang terjadi itu adalah penanganannya tercampur antara sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga seperti itu. Kalau B3 sudah jelas aturan perwal dan sebagainya sehingga ketat penanganan sampahnya. Nah, yang saya soroti di sini adalah sampah sejenis rumah tangga. Kang Yusuf punten. I gimana eta teh naon sejenis rumah tangga teh? Jadi gini Prof. Maksudnya biar teman sampah rumah tangga itu adalah sampah yang dihasilkan dari ee rumah tangga, dari perumahan. Oh, kompak. Sampah sejenis rumah tangga itu yang dihasilkan dari wilayah-wilayah kawasan komersil atau HOREKA, hotel, restoran, dan sebagainya. Oke. Kayak gitu. Nah, saya juga sempat aneh melihat data Kota Bandung dengan 1500 ee ton per hari itu datanya dari mana? Kan kita tidak pernah punya data real timbulan sampah yang ada di Bandung. Tidak ada pendataan timbulan sampah yang ada di Bandung. 1500 ton per hari itu adalah hitungan teori dari jumlah penduduk kota Bandung dikali 0,6 lahirlah 1500 timbunan. Dan itu berlaku di kota-kota semuanya, kota kabupaten. Nah, rilnya timbulan kota Bandung itu berapa? Kan enggak pernah tahu kita. Oke. Sehingga apa? Sehingga kalau kita berbicara analisa, analisa itu akan apa? Akan menghasilkan satu kesimpulan yang menjadi acuan. Ih, datanya juga sudah acak-acakan, Prof. data sampahnya aja. kita enggak pernah tahu data timbulan berapa, pengangkutan berapa, RW ini berapa, berapa, semuanya tercampur seperti itu. Nah, yang mau saya ee apa ee sharing di sini adalah yang pertama itu ee penanganan sampah ini menjadi apa secara regulasi ya, dari pandangan regulasi ini ada tigalisme penanganan dan semuanya parsial, Dok, Prof. parsial program, parsial pendanaan, parsial dari teknis pengelolaan. Ada ada kecamatan dan desa, ada DLHK, ada PUPR. Ini yang disebut tigalisme ini. Jadi mereka masing-masing punya program tentang sampah, tetapi tidak tidak tidak satu titik. Program DLH dia punya kewenangan dari hulu sampai hilir gitu kan. Tetapi ketika misalkan kita berbicara di wilayah kecamatan itu berbeda lagi. PUPR dia punya program, dia punya pendanaan mengenai pembangunan-pembangunan persampahan, tapi masing-masing semuanya. Jadi tigalisme ini tuh tidak ada satu buah ekosistem yang mengerucut gitu tuh. Jadi semuanya itu parsial. Semuanya parsial. Jadi sampah ini kalau menurut saya kita butuh dalang yang tadi apa disampaikan sama Profesor dalang yang meritmekan peran pemerintah seperti apa, peran masyarakat seperti apa, hulu seperti apa, hilir seperti apa. Ini masih masih apa parsial. Iya. ada ee aktivis, oh gampang sampah itu dengan insilator. Tapi dia hanya ngerti di insilator. Oh, gampang sampah itu dengan pembangkit tenaga listrik. Tapi dia hanya ngerti di tenaga listrik bagaimana dengan carut-marut pengangkutan, bagaimana dengan carut-marutnya pembinaan di sumber sampah. Tidak ada yang meng apa mengosketrakan mengenai ekosistem sampah yang ada di Bandung sehingga ini tercecer semua gitu. Gitu. di sisi regulasi, tidak semua kota kabupaten mempunyai rencana induk persampahan yang jelas. He. Contoh di Bandung, di dalam rencana induk ee Kota Bandung itu sudah jelas bahwa Sari Mukti akan ditutup. Sementara rencana induknya berbicara Legok Nangka yang sampai saat ini belum dijalankan. H. sehingga rencana induk setiap kota kabupaten tidak pernah ada yang jelas mengenai sampah ini mau dibawa ke mana, arahnya ke mana. Seperti itu. Termasuk juga pepresa ini yang yang menurut saya juga ini masih parsial. Apakah pemda Bandung sanggup nyediain 1000 ton per hari? Karena yang saya tahu dari 1500 itu 40% adalah sampah basah. Bagaimana treatmentnya? Apakah langsung dibakar jadi listrik? He bagaimana pengangkutannya? Dan yang kedua, apakah memang benar meskipun ditugaskan oleh Prabowo bahwa PLN mau nerima harga segitu? H kan ini juga masih masih tanda tanya seperti itu. Nah, berikutnya itu ada apa? Ee bisa dipat enggak, Pak Yusuf? Kang Yusuf. Oke. Konsernnya. Betul. Nah, konsen-konsen yang lain juga sebenarnya ee hal-hal yang lain adalah mengenai ee kebijakan-kebijakan yang sekarang ee mulai berjalanlah terutama masalah ee PLTSA ini sama ee kontradiksi dengan 3R. He, gitu. Artinya gini, ketika misalkan pembangkit listrik butuh 1000 ton sampah, nah berarti intinya tidak proses 3R tidak akan berjalan. Sementara proses 3R adalah bagaimana mengurangi sampah dan justru residu yang dibakar ke PLTSA ini. Jadi masih ada kontra kontradiksi di situ gitu. Jadi terakhir kesimpulannya adalah bagaimana agar sebuah ee ekosistem sampah ini ada yang menyatukan menjadi sebuah ekosistem dari hulu sampai hilir gitu tuh keluncinya. Hulunya seperti apa, profesionalisme pengangkutannya seperti apa? regulasinya seperti apa sehingga penanganan sampah memang bisa apa terselesaikan. Dan satu lagi terakhir harapan kami apa ee pemerintah atau khususnya DLHK dia tidak hanya sebagai apa tidak turun sebagai aktivator sudahlah diregulasi ya ini kan saya saya aja terbukti tanpa ada APBD tanpa ada anggaran apapun 45 ton ee per bulan saya kelola seperti itu kan artinya buka diri gitu DLHK H kerja samakan. Banyak kok yang mau ngurus sampah gitu. Hm. Itu Kang Yusuf ngangkut aja apa diproses juga? Diproses. Saya ada proses magotisasi, ada untuk peternakan juga, untuk kompos juga penanganannya jelas pemasaran pemasarannya lancar juga enggak numpuk. Nah, untuk pemasarannya makanya saya kesempatan ini juga ingin sampaikan terutama ke deerindak ya. Artinya apa? Tolong dijaga impor botol bekas. Kenapa? Sampah kita akan aut-autan, Pak. Untuk pet ya. Harga pet sekarang turun lagi menjadi 3.700 dari 5.000 per kilonya. Ini gara-gara ada impor, impor sampah. Sementara impor sampah kan sudah jelas pelanggar regulasi, tapi bahan baku. Iya, saya paham. Tapi ini menghancurkan ee apa? Para pemulung, para pengepul dan sebagainya gitu. Kan bahan baku kita dari sampah banyak, Pak. Cuman karena ada impor-or yang enggak jelas sehingga apa? Sampah tersendat. Akhirnya apa? Pemulung dibayar murah. He he. Oke, Kang Yusuf. Hatur nuhun, ya. Hatur nuhun. Nanti terima kasih, B. Kita harus buat buat apa istilahnya silaturahim nih di Bandung. Kandung aya KDM, aya Faran, aya ITB, Jawa Barat, aya IPB, aya UNPAT, orang-orang pintar lengkap gitu. Betul. Jadi kalau kalau problem sampah itu enggak beres itu mungkin ITB disalahin juga tuh ya. Ini ke mana yuk? Betul, Pak. Betul. Nah, gitu ya. Betul ya. Kalau bagi saya intinya semua stakeholderber kita satu frekuensi, satu pemikiran gitu kan. Hilangkan kepentingan untuk masalah sampah ini. Benar kata Pak Buksin tadi, ini duit semua, Pak. Asli ini duit semua. Akan tetapi kalau penanganannya enggak benar gitu ya, duitnya dapat, sampahnya numpuk. Iya. yang saya rasakan yang saya rasakan yang saya lihat penggiat-penggiat sampah khususnya untuk apa ee sektor sampah sejenis rumah tangga itu enggak akan lama Pak penanganannya gitu. Oke. Jadi hanya dilihatnya adalah emas hitam oh ini duitnya gede pembangkit tenaga listrik duitnya gede. Dia enggak tahu bagaimana mengangkut sampah itu sama mengolah sampah itu begitu capeknya. H baik. ee saya pikir kita sudah mendengar ya ee ya apa namanya e sebaran problem, sebaran penanganan perlunya kolaborasi. Ya mungkin balik lagi deh kita back to laptop belum banyak ngobrol kita udah jalan 55 menit. 55 menit nih. Iya. Berarti sangat monggo diing lagi masalah sampah di-sharing lagi bahan kita. Jadi tayangannya di tadi di ini slide berikutnya. Halo slide berikutnya. Udah ya, Prof? Ini kok enggak kelihatan ya? Kok enggak ada ya? Apa yang lain ngelihat? E sekarang bagaimana, Prof? Sudah ada belum? Ya tadi sudah tayang tapi mati ya. Eh dari sana dari panitia sebentar. Oke. Eh, alright. Saya pikir kita ada menu gitu ya. Tadi beberapa sudah dikomen ya oleh peserta yang memang sudah orang lapangan langsung. pertama ini opsi teknologi. Kemudian tujuan kita ee nanti kita lihat ada beberapa materi yang sudah saya kumpulkan ya, terutama ya bicara tadi ya istilahnya tuh ee P apa istilahnya PSL gitu ya, pengelolaan sampah untuk ee energi listrik. Nah, bahasanya tegas itu ya di agenda-agenda terakhir. Ada yang bilang PLTSA, lalu ada yang RDF. Ah, untung ruginya tentunya ada ya semuanya. Kemudian apa nih? Menilai kelayakan finansial dan opsi pembiayaan. Nah, ini ada pendatang baru namanya Danantara. Kita kupas nanti ya agak di belakang. Nah, ini model partnership ya tentunya kelembagaan tadi kemitraan seperti apa, siapa yang ngambil resiko apa dari hulu sampai hilir gitu ya. Harus ada dirijennya tadi kan. Kemudian hal-hal yang kita harus ee siasati ya tentulah tidak ada tanpa resiko ya terutama ya resiko-resiko tadi dari pemda, dari beragam pihak ya terutama tentang supply. Jaminan supply tadi ya ada 1000 ton minimum ya sehari. Saya sih enggak gitu mempermasalahkan angka ya ribuan atau apapun gitu ya. Memang mau disebut angkanya nyatanya ya di TPA gunung gitu timbulannya. Jadi artinya ada masalah memang statistik bilang rata-rata disebut ee 12eng kilo satu orang. Jadi mungkin itu ee batas atas ya saya kira. Nah batas bawahnya monggo kalau mau ditaruh 0,25 0,3. Tapi intinya timbulan itu menggunung gitu ya. Lalu kita tertahan di kawasan atau di perumahan untuk jangan buru-buru kirim karena enggak ada tempat. Kalau bisa diamankan dulu sementara. Jadi itu di Bandung loh ya cerita di Bandung yang nota bene memang masih bermasalah terus ya. Bahkan banyak bukan banyak artinya pernah ada apa namanya malapetaka lah ya kalau kita boleh sebut. Di Jawa Barat juga terakhir di Bogor ya atau di mana? Di Depok juga sama terbenam di Gunung Sampah ya. Jadi kita enggak ingin ini berulang terus ya ee cerita seperti ini. Oke, lanjut. Ini enggak usah kita bahas ya, mungkin latar belakang sudah cukup clear. Tapi intinya ya intinya memang betul sampah ini boleh dibilang sampah tapi juga ada nilainya. Jadi dari hulu di tengah sampai mau dimusnahkan ataupun katakan gitu ya dihilir ada rangkaian nilai ya kadang teman-teman menyebutnya supply ya supply chain rantai pasok saya lebih senang mengatakan ya value change saja gitu ya value change. Jadi di tengah-tengah itu bisa diekstrak, diolah, diycle atau diuse ya rupa-rupa untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat. ee ya bisa positif bisa negatif. Tadi ada cerita apa tadi dari Kang Yusuf ya? Cerita impimport impimport ee dari luar yang merusak nilai gitu ya ee sampah kita. Lanjut. Ini saya pikir sudah kita bahas ya. Saya kira utamanya juga penyakit ya. Nah, jadi open damping open dumping yang memang sudah dihimbau ya sudah dihimbau untuk untuk diamankan untuk ditutup yang klimaks-nya kita tahu ya di Bali ya ada ketegangan gitu apalagi setelah itu ada banjir kan gitu ya ada banjir di Bali barusan jadi saling saling menyalahkan ya semuanya saling menyalahkan lanjut ya ini ya opsi tekn teknologi. Jadi memang selama ini banyak berjalan secara konvensional ya, tempat ee penumpukan akhir ya ya sebaiknya mengikuti ee standar-standar yang aman ya, tidak sembarangan. Lalu mekanisme komposting, rumah tangga, komunitas yang sudah berjalan, bank sampah tentunya yang berjalan secara komunitas ya. Kemudian yang modern ya ini ada kita boleh tambah tadi istilahnya ya PS L gitu PSL untuk ee apa tadi ee elektrik ya untuk pengelolaan sampah untuk ya energi listrik jadi lebih tegas gitu ya. Kemudian juga bisa by producnya bisa berupa gas, kemudian bisa pelet gitu ya, berupa pirolisis, ada teknologi khusus, kemudian ee perbandingannya ya kira-kira seperti itu. Ee tentunya tidak ada solusi yang mujarab satu gitu ya untuk seluruh Indonesia. Nah, jadi ini harus bisa dieksperimentasi sebetulnya ya kawasan timur, kawasan Indonesia Barat, kawasan ee tengah gitu ya. Apa teknologi yang sesuai gitu terutama juga yang paling penting dihilirnya itu penampungannya, pemasarannya apa gitu. Sebetulnya kita punya gambaran nanti saya pikir di slide berikutnya kelihatan kalau kita mau memulai apa namanya piloting ya yang lebih besar. Lanjut. Ee saya pikir ini sudah kita bahas dan dari curhat kawan-kawan tadi ee sudah ada. Tapi saya yakin ya perlu kombinasi ini ya. perlu kombinasi bukan hanya yang skala besar ya, RDF maupun PSL ya, tapi juga yang konvensional terutama itu juga harus terus digalakkan. Jadi ada istilahnya mungkin regionalisasi atau ee skala besar ya seperti tadi disebut contoh di Jawa Barat di Lebok Nangka yang jaraknya dari kilom 0 kita kilom 0 kita itu di depan Homan ya kalau enggak salah di Dinas PU gitu ya Jawa Barat itu ke sana itu minimum 40 kil Pak jaraknya. Jadi bisa dibayangkan saya ngitung-ngitung berapa armada sehari kalau pulang pergi bisa berapa jam itu bisa 3 jam 4 jam kali kan. Jadi kalau memang mau seperti itu akan tinggi biaya ongkos angkutnya ya. Nah sekarang juga sudah ada upaya untuk mempercepat investasi yang di bantu oleh Jepang sampai sekarang kita lihat belum ada perkembangan yang positif ya. kayak saya belum mendengar gitu ya. Mudah-mudahan sukses tapi banyak yang mencurigai itu juga akan mangkak begitu ya. Kita lihat aja. Oke, lanjut. Ee ya ini udah saya kira ya ee saya pikir ada terakhir ya Perpres yang terbaru yang notab juga sudah ada menu untuk langsung dan antara ya. yang ingin mencoba kelas besar gitu ya. Kelas besar barangkali diambil tiga lokasi dulu dari 33 atau 10 ya sekarang lagi malah dalam proses mencari mitra. Jadi ini boleh kita diskusi nanti ya. Lanjut. Oke. Ee mari kita simpulkan ya. Jadi kita simpulkan dulu apa yang sudah kita bahas. Saya kira memang gerakan sampah dari rumah ini harus kita lebih tingkatkan. Jadi orang-orang seperti ee tadi yang nomor satu itu ya yang radik radikal itu harus bisa apa namanya mempengaruhi ya mempengaruhi tetangga dan seterusnya untuk melakukan kebiasaan yang sama. Jadi harus sering-sering dikasih corong, dikasih waktu untuk pendidikan gitu. Terutama juga mulai dari anak-anak kecil ya, mulai dari usia dini gitu ya. pendidikan-pendidikan seperti itu, itu saya pikir akan menjadi snowballing ya ketika memang apakah betul generasi kita aja, apakah generasi yang berikutnya ini saya pikir mereka sudah lebih sadar ya ee tentang budaya bagaimana untuk bisa mengurangi terutama dengan isu climate change sehubungan dengan ee pernik-pernik persampahan gitu. bagaimana kita bisa ee menghemat juga mengurangi ya konsumsi-konsumsi yang sifatnya merusak lingkungan. Saya cerita ITB ya. Jadi tadi maaf memang mestinya rektor ya meminta maaf, gubernur juga sudah ngajak, walikota saya yakin juga sudah ngajak gitu tapi kita belum ada tahu sebetulnya apa gitu yang sedang dilakukan ITB sudah diajak mungkin juga sudah diajak tapi ngajak doang gitu kali ya lali enggak jelas gitu agendanya gitu ya. Nah, lalu di ITB sendiri ee kita punya cara ya, ada cara bagaimana tadi mengelola sampah walaupun belum sempurna tapi sudah ada mekanisme-mekanisme. Kawan-kawan yang bergerak di penelitian ini yang sering mungkin sudah juga merambah ke beberapa kabupaten kota ada namanya teknik teknologi Masaro. ini Kang Zainal dari Teknik Kimia. Lepas dari kurang lebihnya beliau terus ya kalau bahasa saya ya mempropagandakan biar ini dianut skala menengah kecil gitu ya. Nah, ini teknologi kimiawi bagaimana cara kita mempercepat pembusukan ya ee fermentasi dan seterusnya ya lalu bisa dijadikan pupuk ya. Kemudian yang bawah ini istilahnya biodrying, peyemisasi ya. Bahasa sundanya teh ya poemisasi tapi bukan fermentasi ini mah. Jadi biodi jadi ini Kang Sony namanya mungkin pernah dengar SS ya di Kelungkung kemudian juga di Cirata. Nah, saya terus terang dua-dua ini saya kenal gitu. Tapi kadang kalau ngobrolnya berdua ya saling kritik gitu ya. Jadi saya bilang ini sebetulnya ya harus berkolaborasi gitu. Enggak mesti harus masa wungkul, harus peumisasi wungkul. Enggak dong. Jadi kita cobalah ya kita buat eksperimen. Jadi di Jawa Barat sendiri saya pikir tidak kurang kalau kita mau melihat beragam offaker tadi ya pemasaran sehingga kita sesuaikan dengan kebutuhan itu termasuk RDF ya termasuk RDF. Nah ini biodiiring bagi kawan-kawan yang tertarik ee saya aduh saya enggak tulis kontaknya ya. Tapi saya boleh di-chat nanti langsung aja atau nanti lewat panitia saya bisa kasih kontak Pak Soni. Lalu yang Masaruh saya bisa kasih kontak Pak Zainal ya. Pak Zainal ini buat paten di ITB. Saya tanya patennya 30% untuk ITB. Lalu bisnisnya gimana? Ya bisa dibicarakan. Jadi saya enggak ngerti ini. Jadi apakah penggeluntoran apa namanya nih paten di luar royalty PTEN ada bisnis ITB masih diajak enggak nih? Ah gitu saya karena teman ya saya berani nanya gitu ya. Kang Zainal ngajak ayo atuh bila perlu bagi apa? Bagi share. Waduh, senang saya Pak Zainal 51% nanti ada yang mau taruh 15, 5 dan lain-lain gitu ya buat perusahaan atau apalah gitu ya untuk mengatakan Mas Hararo ini ya milik bersama gitu kan, bukan milik perorangan. Nah, ini yang catatan buat rekan saya Pak Zainal, Kang Sony luar biasa ya. Jadi infonya silakan nanti teman-teman. Saya juga sudah nyaris nih mau pesan kerambah, mau pesan apa rumah. Jadi apa pengeringan itu lewat kayak bilik gitu ya, tapi biliknya tembus cahaya ya. Nanti silakan istilahnya ini daripada ngangkut berat-berat jadi mempercepat pengeringanlah gitu ya sehingga ongkos angkut juga jadi lebih ringan. Saya pikir logis ya yang Pak Zainal juga tadi sangat logis tentunya. Heeh. Jadi ini ada dua yang terdepan yang barangkali untuk skala menengah kecil ya monggo gimana caranya ya mungkin lewat Eco Edu ini ee bisa mempercepat penularan ini ketok tular ini dan kita tes mana yang paling bagus gitu efisiensi dan efekness-nya. Nah, yang kiri ini kebetulan ada ada nomor nomor HP-nya ya. ini rekan kita di Depok ini. Tiba-tiba kok saya dapat kontak dia atau dia ngontak saya, saya juga lupa. Akhirnya saya suruh datang aja ke RW nginp di masjid gitu. Lalu ada acara kelurahan, ada acara UNPAT KKN. Kita diskusilah ada 2 minggu. Jadi kita belum sempat bungkus gitu. Tetap intinya udah kebayanglah ya, perlu ada cara platform mengumpulkan iuran sampah yang betul-betul amanah gitu ya. Enggak akan ke mana-mana walaupun tetap ada vendor tukang angkut ya, Kang Oni enggak usah nunggu 3 bulan atau ribet ngumpulin uang per pintu gitu ya. Ini otomatis bisa dierima setiap bulan bisa dicairkan dan ada nomor rekeningnya. Nah, ini monggo ya. ideal sekali kalau memang jadi ee koperasi. Jadi setiap KK itu jadi punya nomor koperasi, nomor member koperasi gitu ya. Nah, tentunya di situ jadi banyak ee apa namanya transaksi yang bisa dilakukan selain urusan iuran sampah. Nah, ini banyak manfaatnya termasuk wakaf dan lain-lain lah ya untuk pengembangan komunitas di akar rumput. Nah, ini masih belum ter apa tersosialisasi dengan baik, tapi saya kira di tengah ee teknologi digital yang sangat membantu mestinya ya ee bila perlu juga under blockchain gitu ya. Jadi tidak ada yang bisa cheating atau menipu tentang bayarmembayar ini gitu ya. ee bila perlu juga smart kontraknya dengan pemda, dengan tiping fee ya. Jadi harus bayar tepat waktu dan seterusnya. Jadi mimpi-mimpi seperti ini bisa dibantu oleh anak-anak muda yang sedang membuat startup gitu ya, tentang ee bagaimana membuat platform pengelolaan sampah. Bahkan kalau udah bagus dari awal itu bisa dipraktikkan tadi namanya polluters pay ya. Ketika memang yang bersangkutan itu baru radiksnya radikalnya baru separuh jalan gitu kan. Jadi ngiurannya enggak mahal ya lebih murah dia gitu. Jadi bisa dikembangkan ke sana. Jadi siapa yang mengotori lebih banyak dia bayar lebih banyak gitu ya. Nah, ini penting nih. Silakan nanti kalau ada yang mau dapat nomor Kang Zainal, Kang Sony, saya dengan senang hati nanti sharing ke teman-teman dari Edu, Eko Edu ya. Eko Edu. Kita udah 1 jam 13 menit ini ya. Saya enggak tahu kita kan jatahnya 2 jam ee sampai jam 12.00. ee waktu salat zuhur berbeda-beda, tapi nanti saya pakai waktu barat aja ya. Nanti kita break ee barang 15 menit gitu ya atau 10 menit. Bagi yang mau salat nanti kita lanjut penutup, diskusi penutup nanti ya. Seperti itu. Mungkin kalau boleh diambil 10 menit nanti kita berakhir mungkin 12.10 atau 15 menit 12.15 ya dari jatah sampai jam 12.00 Tapi ini masih lama nih, kita masih punya banyak waktu. Saya satu slide lagi nih, nanti saya berhenti lalu kita bisa diskusi lagi. Bisa lanjut. Nah, ini data lapangan ya. Benar sekali memang kita masih banyak secara alamiah ya ngelola sampah ini masih sangat sedikit yang melakukan 3R gitu ya. Jadi ini mestinya gambarnya kebalik nih. Gimana kita bisa membalikkan itu gitu ya. Kalau enggak ya enggak ke mana-mana. Ini yang kita bicara yang di akar rumput aja dulu. Kemudian jenis sampah. Nah, ini nanti ada yang lebih bagus gambarnya bisa kita lihat nanti. Tapi ini dulu ternyata itu ee apa namanya? Banyak dari sisa-sisa ya sebutlah dapurlah ya makanan gitu ya. Jadi umumnya itu bisa dijadikan magot. Jadi sangat dominan ya, sangat dominan ee jenis sampah. Nah, ini tentunya restoran-restoran, hotel kali yang punya kafe ya, termasuk perumahan ya itu juga banyak yang organik yang berupa persampahan dari makanan. Nah, idealnya memang apa-apa nilai yang bisa diekstrak ya tadi mid value atau change value sebelum tersisa menjadi residu yang harus dimusnahkan atau mau dijadikan apa terserah. Itu memang mestinya nilainya banyak di situ gitu. Ketika memang sampah basah ini langsung jadi dimusnahkan, lalu ee tenaga panasnya dibuat untuk memasak air menjadi uap lalu jadi listrik. Waduh itu sayang sekali saya pikir kalau tidak diekstrak. Nah, agenda dari Danantara mudah-mudahan tidak sesimpel itu. Jadi namanya pengembang nanti juga akan ada alat pemilah pengolah proses di mulutnya ya. di mulutnya. Tapi kembali urusan hulu itu pemda gitu yang 1.000 ton sehari. Nah, ini tentunya teman-teman pemda kalau hadir pada siang ini, pagi ini monggo nanti kalau mau sharing apakah sudah ada diskusi-diskusi bagaimana cara mensiasati ya supply yang 1000 ton ini. Oke. Ee satu lagi, satu lagi atau dua lagi nih nanti kita tutup dengan teknologi. Lanjut. Ee ini tadi cerita tos itu ya, cerita apa ee poemisasi gitu, Teman-teman. Kebetulan memang perlu area yang sangat luas. Kalau areanya dapat pinjam ya bagus. Tapi kalau area diminta lagi sama pemilik tentunya ya bermasalah untuk membuat apa? Melakukan pengeringan ya. Jadi solusi komunitas ini tidak bisa kita bunuh ya dan dia selalu akan ada dan ada terus sampai kapanpun ini harus kita tingkatkan nilainya ya. Tentunya yang bekerja yang berusaha lebih ya tentu dapat insentif yang lebih. Kemudian yang besar-besar, yang regional, alternatif saya anggap ini yang sekarang juga kelihatannya jadi prioritas ingin dilakukan itu ee termasuklah ya ee hasilnya bisa skala besar, listrik, BBM maupun gas. Nah, ini kita kita bisa bedah nanti seperti apa peran pemda, peran danantara, peran kampus, peran pendana, peran konon katanya yang hadir itu hanya ee katakan ya teknolog-teknolog atau produk-produk hilir ya dari luar negeri ya dari luar negeri karena memang mungkin tidak ada yang proven untuk skala 1000 di Indonesia gitu sekarang. Nah, ini tanda tanya ee memang apa memang kita harus ee lanjut tapi dengan kehati-hatian tanpa melupakan yang solusi komunitas ini. Satu lagi ya, ini kebetulan bidang saya. Nanti kalau ada yang mau papernya saya bisa kirim ya sama anak S2. Sekarang dia sudah selesai S3. Ee jadi kita dulu ngelihat di kawasan timur Bandung itu gimana mengoptimasi cara angkut sampah, bagaimana menschedule, bagaimana ukuran armada, bagaimana konfigurasi TPA dan TPS gitu. Ee apa tujuannya? Jadi secara programa nonline ataupun juga linier ya, kita bisa menetapkan kita objektifnya mau apa, zero di mana? Kalau zero di rumah semuanya bisa disiplin. Wah, hebat gitu ya. Atau zero di TPA boleh gitu. Atau minimum di TPS gitu ya. TPA bersama TPA boleh gitu. Jadi bisa diatur pengangkutannya, lokasinya, geografisnya dan seterusnya. Nah, tentunya harus dibantu dilengkapi dengan peralatan-peralatan angkut termasuk juga alat-alat sederhana dari mulai perumahan TPS dan TPA. Nah, ini namanya penelitian kan saya kita pernah presentasi juga ke Dinas Lingkungan Bandung atau kawan-kawan ya di awal-awal itu. Nah, praktiknya memang ya enggak gampang nih katanya ya. Saya enggak tahulah. Jadi intinya saya pikir biaya-biaya angkut sampah ini sangat tinggi. Apalagi mereka harus pelihara armada ya ee mungkin pelihara ee beli beli baru apa memang kita harus beli beli beli terus armada nanti pindah ke Lobok Nangka juga tambah jauh beli armada lagi gitu ya. Nah ini mungkin ada titik optimal yang bisa kita lakukan tentang angkutan sampah ini ya. Nah, saya dapat inspirasi nih. Mudah-mudahan Bapak-bapak, Ibu-ibu yang hadir di sini bisa memberi masukan nanti ke saya, bisa lewat chat ataupun nanti bagaimana ya, khususnya Jakarta nih. Ini gubernur kita Pak Promono Anung, kebetulan alumni ITB juga ya, Pak Pramono. Ee sudah banyak PR Jakarta yang mangkrak gitu kan. sekarang juga mau mulai lagi semangat ya panjang ceritanya kalau mau diceritakan. Namun bagaimana kalau kita pikirkan ya sampah di Jakarta karena Jakarta nih punya pulau 1000 gitu ya. Nah ini mungkin provoking aja nih punya pulau 1000 artinya pulaunya ada 1000 gitu ya atau namanya 1000. Kita pilih beberapa gitu ya. Kita reklamasi aja dengan sampah. Kita reklamasi dengan sampah. Jadi intinya kita harus punya dermaga di kawasan Jakarta Utara, Priok dan sekitarnya. Lalu dermaga lagi di sana gitu. Lalu sampah ini diangkat dengan tongkang. Perkara mau diolah silakan, lebih gampang lagi jauh kan. Kalau mau diolah di sana dengan teknologi apa. Tapi paling enggak daratannya dijadikan eh sori ya daratannya dijadikan lebih lebar gitu istilahnya reklamasi alamiah. Nah ini boleh nih ya kalau ada yang mau buat tugas akhir ataupun tesis disirtasi kita bisa hitung-hitungan kelayakannya gitu ya. kita bisa hitung-hitung kelayakannya. Ee yang pasti sementara Jakarta ini ya memanfaatkan rorotan katanya yang bermasalah. Bantar gerbang juga coba-coba ada di Sunter. Nah, ini ee oke mungkin secara lingkungan udah pastilah ya ee bukan tanpa gangguan tentunya ya. keluar masuk nanti angkutan segala rupa. Nah, bagaimana bisa dilakukan eksperimentasi atau juga dihitung lebih ketat dari awal? Kalau kita reklamasi aja Pulau Seribu sebagianlah kan punya 1000 ya mungkin berapa biji gitu direklamasi dengan sampah. Nah, mungkin bisa membantu juga Jabo theek ya, bisa membantu pemda-pemda yang lain Jabo The B ngangkutnya mungkin bisa pakai kereta api pindah ke mana? Ke tongkang gitu kan. Kalau yang dari jauh-jauh pisan kalau dari Jakarta ya pakai truk lalu pakai tongkang gitu ya ke sana. Nah, ini ee ide outside the box aja. Saya juga mau mencoba me apa namanya? Mencoba menghitung-hitung gitu. seperti apa efisiennya kalau dilakukan reklamasi sampah gitu ya. Bahkan ini kan bumi ini kan alamiah. Apa yang kita ambil dari bumi juga alamiah juga ya. E segala rupa fosil dan lain-lain ya. Mungkin nanti plastik juga mungkin ya jadi minyak juga gitu kan ujung-ujungnya kalaupun jadi mereklamasi pulau itu gitu ya. Satu lagi deh. Boleh. Nah, ini ada yang belum saya sebut ya, Teman-teman. Yang saya berhasil berinteraksi dalam waktu kurun mungkin 6 bulan atau setahun ini. Kita doakan ini agak kepotong ya, enggak apa-apa. Kita doakan Pak Husein ya, Husein Ahmad Husein bekas bupati Banyumas. Cepat sembuh. Saya juga belum bisa kontak lagi karena beliau dapat serangan jantung ketika belajar sampah ke Cina gitu ya. Dia sudah ditugaskan oleh Pak KDM sebagai staf khusus ngurus sampah dan dikasih eksperimen di ee Sarimukti. Saya enggak tahu. Jadi, bagi teman-teman yang tertarik tentang fenomena ini dan hasil diskusi kami, boleh nanti saya sharing. Kita diskusi panjang lebar bagaimana caranya untuk bisa menguji lanjut walaupun masih belum sempurna ya teknologinya, terutama dari sisi emisi, tapi ya enggak apa-apa itu teknologi lokal yang bisa kita manfaatkan. Kemudian ada satu lagi namanya AWS. Ini saya kenal namanya mirip sama saya Harun Al Rasyid juga bekas orang PLN. Kemudian ada mitranya namanya Jalamp Prong ya. Jalamp Prong ini yang foto kedua. Nah, ini bekas orang IPTn. Gua bisa buat pesawat masa gua enggak bisa buat tungku katanya. Gitulah jualannya Pak Jalampong ini. Nah, ini ada data-datanya silakan diverifikasi. Terutama konon katanya untuk B3 rumah sakit ya. B3 rumah sakit, tapi mereka juga sudah membuat produk-produk. Ee nah ini biasanya mereka dalam tanda petik sudah ada dananya silakan ada harga gitu. Jadi yang CSR CSR yang daripada nunggu proven teknologi monggo ini bisa diambil yang ini sudah banyak ee praktiknya di beberapa titik di dalam dan di luar negeri. Nah, ini saya dapat berapa nih ya mempromosikan AWS nih? Pak Jalr Prong, Pak Arun. dan juga Mas ee Husein juga dulu dibantu oleh rekan-rekan ini di Banyumas sana awal-awalnya. Jadi ceritanya mungkin banyak tidak keluar, namun bagi yang tertarik kita bisa diskusi karena memang ada trik and trik gitu ya dalam implementasi tungku ini ya insinerator. Oke, saya stop dulu ee di situ ee nanti kita diskusi lagi. Ee ini kita bisa pakai 15 menit kali ya. Atau kalau di Indonesia Barat zuhur jam berapa di ini? ee sekitar 1140-an kalau enggak salah, Prof. Saya cek ini ya sebentar biar enak aja, biar tenang. Ini karena sebagian kita kan muslim ya, jadi saya kira kalau sampah ini enggak beres, malu kita. Karena hadis itu mengatakan kebersihan itu sebagian dari iman. Ya, ini jam jam zuhur betul 40 ya. Jadi kita ada waktu ee 15 menit lah ya. 15 menit untuk diskusi nih ya. Jadi ee satu lagi juga di Muslim ini kalau sering salat Jumat khususnya yang ikhwan-ikhwan ya itu selalu ditutup dengan apa itu? Innallaha yam'muru bil adli wal ihsan waaizil qurba waanha anil fahsya wal munkar. Ah itu urusan sampah itu ya. Jadi kalian harus berbuat adil. In yau bil adil wal ihsan. Berbuat baik. Inal adil wa ihsan. Waaiil qurba. Bantulah kerabat-kerabat, famili-famili dekat. Lalu janganlah kalian ee membuat fahsya. Ya, fah itu ee merusak diri sendiri. Ee mungkar merusak pihak kedua ya. Ee wal bag bahasa Arab ya. Albag. Saya terakhir juga mau bisa bahasa Arab karena saya enggak pernah belajar bahasa Arab. Terakhir-terakhir kok saya tertarik belajar bahasa Arab. Jadi ada levelnya merusak diri sendiri, merusak pihak kedua, mungkar. wal bag keos membuat keos. Jadi kalau kita tumpuk sampah ini kita buat keos sudah kalau sampah kita apalagi bisa korban ya. Nah ini kita sebagai negara yang mayoritas muslim saya kira urusan sampah ini adalah cermin dari sebutlah ya kita mengaplikasikan nilai-nilai muslim. Jadi ini beda antara agama dan penganut ya. Jadi kualitas penganut kita mungkin ya segitu masih kalau masih urusan sampah kita belum beres. Nah, itu mungkin apa ee yang salahnya dari saya, mungkin yang benar dari Allah Subhanahu wa taala. Monggo 15 menit siapa yang mau angkat tangan? Pak Erwin nanti dulu ya. Mungkin ada yang lain. Ee ada yang lain. Ee siapa nih ee yang sudah angkat tangan? Ada yang rais hand Pak Safril ya. Safril. Safril Kasim. Ada Pak Fajar. Pak Erwin nanti dulu ya. Tadi putus tadi Pak Erwin. Silakan. Mangga Pak Safril. Baik terima kasih Prof. Farun. Prof. Farun yang saya hormati Bapak Ibu semua. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Ee saya mulai tadi dari kebetulan di ujung presentasi Prof. Harun itu ya kita sebagai muslim ya. Iya kelihatannya. Ee tapi juga catatannya sekian lama bangsa kita ini ada gitu. He. Kita masih bermasalah bermasalah malah di sektor hulu dari soal persampahan ini. Iya. Padahal kita mayoritas muslim gitu ya. Jadi kelihatannya ee di tengah kita tadi Profun menyampaikan value change, kemudian di hilir kita bicara ee industrialisasi ya, nilai ekonomi dan lain sebagainya. Tapi kelihatannya dari Jakarta sampai Papua mungkin masalah kita sebenarnya di hulu. Iya ya. Saya melihat setiap hari itu kalau saya jogging pagi di tempat saya di Kendari Prof. di daerah yang baru saja diselenggarakan STQ Nasional di Tugu ee religi MTQ itu setiap hari ada petugas yang di beri tanggung jawab untuk mengais orang gitu ya. Artinya sebenarnya persoalan kita dan ini saya kira juga terjadi misalnya di GBK gitu ya selesai acara besar paling tidak yang paling kelihatan itu selesai salat Idul Fitri kita muslim tuh koran itu berhamburan di mana-mana gitu. Saya pernah sampaikan ketika saya diundang oleh Pemkot untuk sharing masalah sampah. Saya bilang sama Kadis LH, "Pak Kadis, sebenarnya kinerja Bapak itu akan terbukti gitu. Kalau nanti di salat Idul Fitri beberapa tahun, katakanlah Pak Kadis punya target kapan gitu, itu sudah enggak ada sampah di Masjid Agung tempat kita salat semua gitu." Jadi apa yang saya mau katakan sebenarnya apa ya kita mau sebut apalah rekayasa sosial atau social engineering atau apapun tapi itu yang kita butuhkan dan pemerintah kita itu kelihatannya enggak pernah fokus di urusan itu. Jadi kita semua ngurusin hulu, tengah hilir ya enggak apa-apa diurusin semua asal ada yang beres gitu. Pertanyaannya kan setelah sekian ratus tahun tadi siapa tadi yang sampaikan bahwa Jepang 100 tahun gitu. Kalau pengalaman kita di negara-negara maju juga saya kira kita pernah semua ke beberapa negara gitu ya, kita melihat mereka sudah selesai lama ee soal pembuangan sampah pada tempatnya pengumpulan pemilahan itu sudah selesai. Mereka mereka tinggal cerita value change, commercial dan lain-lain sebagainya teknologi yang bagus. Nah, kita kapan nih targetnya Prof. Paron kira-kira gitu ya. Kapan nih kita selesai dengan urusan hulu persampahan kita? masyarakat sudah dengan sendirinya sadar mau membuang sampah pada tempatnya, mengumpulkan, menilah dan lain sebagainya. Target kita kapan gitu. H. Nah, kita enggak pernah mendengar misalnya ada target misalnya 5 tahun ke depan ya sudah masyarakat ini 80% lah sudah punya kebiasaan itu. Kalau bangsa lain 100 tahun lalu masa kita sampai saat ini belum ya h enggak enggak kelihatan dari gitu itu. Nah, mungkin kita perlu menyuarakan itu secara nasional. apa nih target pemerintah kita selesai dengan urusan apa melibatkan ee budayawan, melibatkan tokoh agama dan lain sebagainya sehingga ya kita tinggal ngurus value change-nya dan ee teknologi dikomersialisasinya mungkin gitu. I tapi kalau kita enggak pernah selesai dengan ini kapan kita Iya. Nah, kan gitu ya. Saya saya poin saya itu, Pak. Mungkin perlu kita galakkan itu penyampaian untuk di dikasih target lah kapan kita perlu selesai secara nasional gitu. Saya kira itu mungkin Prof. Paron yang saya ingin sampaikan. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Wabarakatuh. Jadi ketika saya terakhir sering ke Bali ya, termasuk Bali kan juga banyak rekan-rekan kita dari agama Hindu ya. Em ya saling nyalahin juga ya. Bahkan di sana gunung-gunung sudah jadi properti gitu ya, semuanya resapan-resapan banjir ya, God-nya mampet ya. Jadi ee saya pikir ini ee ya umatnya bukan bukan ajarannya yang salah tapi kualitas umatnya ya. Kita harus ee improve. Kalau Aa Agim bilang mulai dari dirimu sendiri dulu ya yang paling dekat. keluargamu ya mungkin suka enggak suka ya saya pikir ya kita harus banyak volunteir kayak seperti Kang Yusuf tadi kemudian di mana pun gitu ya untuk bisa mengketok tular apa yang bisa kita beresin di lingkungan terdekat kita dulu gitu. Silakan Fajar. Fajar sudah angkat tangan. Tapi mungkin sebelumnya mungkin Prof. Parun ya mungkin begini maksud saya itu ada suara dari kita gitu akademisia ya secara nasional itu ada target gitu. Kapan sih pemerintah mau membereskan masalah hulu persampahan kita ini? Iya gitu kan ya. Kalau enggak ada target seperti itu kita jalan terus nih sampai kapanp masalah ini akan terus ada dan road road map-nya ya Pak ya. Road map-nya seperti apa? Kita targetnya di hulu ini kapan gitu. He gitu. Saya kira itu mungkin Bu. Oke, ee kita dengar yuk. Eh, Mas Fajar dari mana, Pak Fajar? Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ee saya dari Bekasi, Prof. Ee ee saya mohon maaf karena saya sangat awam di bidang pengelolaan sampah gitu. Dekat Bantar Gerbang enggak? Bantarbang. Betul betul, Prof. Dekat banget, Prof. Gimana itu? dramatisir sikitlah ceritanya biar kawan-kawan dari Kendari dengar. Kalau areal-areal Bantar Gebang itu jelas yang paling berasa itu aroma, Prof. Oh, itu pasti gitu. Aroma itu pasti luar biasa karena memang baunya tercium itu sampai sekian kilo mungkin ya. Hm. Gitu, Prof. Nah, kebetulan saya ini aktif di sebuah sekolahan, Prof. gitu. H di sekolahan yang yang sekolahannya dekat areal Bantar Gebang dengan jumlah siswa kurang lebih sekitar 1200-an, Prof. Iya. Tentu kami menghasilkan banyak sekali sampah di sana gitu. Dan yang sementara ini hanya kita lakukan adalah sampah diambil atau diangkut dan dibuang ke Bantar Gebang begitu saja, Prof. Gitu. Dan ee saya sendiri melihat ada tuh beberapa terobosan misalkan ada mesin atau apa alat insinerator ya? ya, Prof. Ya, pembakar. Tungku pembakar sampah itu. Kemudian ada juga merubah sampah menjadi bahan bakar meskipun kami belum pernah mencoba, Prof. gitu. Heeh. He. Nah, itu yang ingin saya tanyakan. Seberapa efektif alat tersebut? Begitu, Prof. Iya. Apakah memungkinkan atau apakah bisa itu diterapkan di sebuah lembaga pendidikan atau sekolah seperti itu, Prof? Iya. Ya, saya kira itu saja, Prof. Iya, makasih, Prof. Jadi, ini pertanyaan lalu dari Bapak yang dari Kendari tadi meminta roadmap. Roadmap itu sebagian ada di slide terakhir saya buat, tapi enggak apa-apa Jar, Pak Fajar ee saya pikir kita konkret aja. Ee tentu ya ee sebetulnya kan isu lingkungannya kalau sembarangan tungkunya gitu ya, prosesnya tentunya juga ee mengganggu ya mengganggu lingkungan. Jadi memang ini kita memang banyak berharap karena banyak akar rumput yang mengembangkan teknologi menengah kecillah ya kita anggap ya mungkin barang 10 20 ton per hari diolah dengan manual. atau semimanual ee rupa-rupa dijadiin pelet apa dijadiin tadi ada poemisasi istilahnya ada Masaro juga ya atau yang lain-lain juga tentunya banyak gitu. Nah, akhirnya ada di residunya itu dimusnahkan dalam tanda petik gitu. Jadi nilai-nilai tengahnya sudah dimanfaatin. Nah, ketika memang pemanfaatan tungku yang Pak Fajar mau coba gitu tentunya ini juga harus ada tempat ada area yang mencukupi ya paling berapa 200 300 m gitu. Kalau skala skala RW lah ya atau skala sebutlah seperti itu tadi kampus ya atau sekolah gitu ya. Kemudian teknologinya juga ya bahasanya ya harus tersertifikasi. Nah, saya kebetulan juga anggota baru dibuat teman-teman di apa itu BPLH atau juga KLH sekarang namanya. Saya juga sudah sharing ya slide-nya di belakang kemarin juga saya sudah ngomong titip ya. kiranya memang ee pihak KLH, BPLH ini harus lebih aktif lagi untuk proaktif bagaimana ya kan open dumping sudah enggak boleh, sanitary landfel juga terbatas, lalu tungku banyak inovasi macam-macam bahkan ada yang coba pakai hidrogen lah segala rupa. saya sering dengar itu ya turun untuk bisa ee membuat standar kepastian ya uji emisi gitu aja apapun caranya. Saya mendengar juga dari peneliti-peneliti di ITB. Kebetulan tadi saya juga bilang ee di ITB sendiri ya ada mazhab-mazhabnya fakultas-fakultas kan gitu. Kalau dia dari hayati namanya itu sekolah ilmu life science ya tentu ya. dia lebih senang dengan pembusukan ya ataupun gitu. Lalu yang teknik kimia juga barangkali sama, tapi yang dari mesin itu senangnya yang panas-panas gitu kan. Jadi sama jadi ini harus dikolaborasi. Jadi mudah-mudahan nanti saya akan taruh di chat ya ee nomor kontak rekan-rekan kita itu termasuk nanti nomor kontak saya ya. Kita lanjut ini Fajar ya. Sementara kita break dulu 15 menit ya, nanti kita masuk lagi ee berarti 55 atau jam 12.00 ya untuk kita lanjut sampai lewat 15 atau lewat 20 atau teman-teman mau .30 juga saya sih oke aja. Kita break dulu ya Bapak-bapak, Ibu-ibu. Ee sekitar 15 menit. Silakan Dini ya. Iya. Baik ee Prof. Kita akan break dulu 15 menit untuk untuk salat zuhur dan juga mungkin untuk istirahat sejenak. Nanti kita akan kembali lagi pada jam 11.5 menit seperti itu ya, Prof. ya. Sampai jam 12.00 paling lambat. Baik, sampai jam 12.00 baru kita mulai kembali. Baik, Bapak Ibu ee selamat beristirahat sejenak. ee sambil nunggu kawan-kawan yang lain ya, barangkali ee ee sambil nunggu mungkin ee 2 3 menit awal kalau ada yang ready mau bertanya boleh silakan. Sebelum kita lanjut ee beberapa slide penutup penting ya. Ada. Oh, ada Pak Erwin. Silakan Pak Erwin. Oke, Pak Harun eh minta maaf tadi ada kendala sedikit di laptop. Alhamdulillah sudah bisa diatasi. Ee tinggal sedikit lagi, tinggal kesimpulan permasalahannya sudah banyak disinggung disampaikan tadi oleh kesimpulan yang saya coba radar. Pertama, permasalahan sampah ini sangat sangat sangat sangat kompleks. Jadi, tidak bisa dilihat dari satu perspektif dan penyelesaian dengan satu ee pendekatan. Intinya adalah ujung-ujungnya duit di pendanaan. Karena sampah itu adalah kegiatan eh compli environmental compli bukan eh profit center. Jadi ini cost center. Jadi memang harus ada uang untuk bayar servis e kebersihan. Sementara pelayanan sampah zero yang berdasar undang-undang itu menjadi tugas tanggung jawab dari pemda dan pusat. Ternyata data dananya juga terbatas. PAD-nya rata-rata dari hasil pengamatan kami itu tidak lebih dari 1% APBD. Sementara harusnya sih sekitar 4 sampai 5%. Nah, kalau kita lihat di tetangga kita Singapura okelah kita tidak bisa jadikan referensi tapi di sana teing fe saja sudah 77 dolar Singapura per ton. Kemudian fit in tarif kalau dijadikan listrik juga dibeli oleh utility di sana cukup lumayan. di Jerman ting fe 130 sen per euro. Jadi ee sori 30 130 euro ini bukan sen. Nah, jadi ee kelihatannya memang kita tidak bisa bandingkan dengan negara-negara di luar ya. Nah, negara kita tadi sangat miskin. JDP kita masih di bawah 5.000 dolar per kapita. Jadi rasanya agak berat sekali kalau mereka harus di mintakan ee apa? Tanggung jawab untuk membayar sampahnya lagi. Tetapi kita tidak bisa diam. kami setuju dengan langkah-langkah pemerintah. Ee kemarin sudah dilakukan ee sedikit ee apa perbaikan ee Pak Prabowo sanggup untuk menangani kota-kota besar yang sapanya sudah melebihi 1000 ton per hari akan dibantu ee dengan pendanaan yang mungkin lebih mudah untuk pendari-cari dua untuk toping fee ee tetapi nanti akan dibantu oleh danara. Nah, sementara pemda-pemda yang lain yang masih ada 500 15 kota ya mungkin lebih ee sisanya dari 33 mungkin sekitar 490-an ini harus tetap berupaya untuk menyelesaikan sampahnya dengan cara adanya perubahan regulasi supaya prinsip seperti Islam yang kuat membantu yang lemah. Nah, ini yang mungkin perlu di diterapkan. memang tidak mudah tapi ya harus dipaksa ee sehingga nanti ee rumah-rumah mewah, rumah-rumah yang di real estate itu harus bayar sampahnya lebih besar per tahunnya ketimbang orang-orang tinggal di daerah kawasan Komo kayak di Bandung mungkin di ee Siliwangi atau daerah-daerah Dago atau daerah-daerah Kumo ya. Nah, ini harus dibedakan e tarifnya per ton sehingga nanti ee dana-dana yang diambil lebih dari yang mampu itu di subsidikan ke daerah-daerah yang masih belum mampu. Ini yang menjadi ee solusi yang kalau saya lihat ee salah satunya adalah demikian karena mengharapkan PAD meningkat dengan pertumbuhan ekonomi 5%. Saya enggak yakin tahun 2045 Indonesia emas ini sudah selesai. Tidak yakin ya. ini sangat berat sekali kalau kondisi infrastruktur atau kemampuan pendanaan tumbuhan ekonomi Indonesia masih ee biasa-biasa seperti sekarang saja. Nah, ini mungkin sebagai masukan Pak Harun ee supaya nanti jadi catatan ee Prabowo supaya ada konsep regulasi yang memaksa yang kuat bayar yang membantu yang lemah. Sehingga nanti uang kelebihan ini dipakai oleh masyarakat untuk membeli 3 tong sampah minimal tiap rumah harus wajib fardu ain 3 tong sampah. Sehingga pemilihan itu harus dimulai dari dari sumber dari rumah. Kayak di Eropa, di Sydney saya sudah pernah lihat mereka sudah pilah sampah itu di rumah. Kalau mereka buang sampah di tong yang sampah yang salah misalnya pil kota apa e kulit pisang atau bekas nasi ditaruh di tempat plastik yang anorganik itu tidak akan diangkut sama e pegawai sampah karena pegawai sampahnya mereka berbeda yang organik dan nonorganik. Nah, ini mungkin jadi eh apa action plan atau program yang harus dilakukan walaupun memang ujung-ujungnya juga pemerintah harus menyediakan taman dana ya, terutama untuk sosialisasi, edukasi menk, SD, SMP dan seterusnya. Belum lagi nambah infrastruktur tadi beli tong sampah, truknya ditambah, petugasnya ditambah pengawasannya, ditambah. Nah, ini semua memang sambil jalan. Nah, sehingga memang ini berat tapi we surely but slowly. Itu aja mungkin Pak Harun eh sebagai masukan. Terima kasih. Itu sudah closing remark itu Pak Erwin. Suara saya kedengaran enggak ya? Kedengaran. Kedengaran ya. Oke, kita ada satu orang lagi nih, Samsul. Silakan sambil nunggu yang lain walaupun sudah masuk semua ya mungkin 537. Silakan Pak Samsul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Satuh silakan. izin memperkenalkan dari Aceh, Pak Prof. ee waba waba baget, Pak. Agak baget. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Pertama, memang kalau penanganan sampah ini tidak berbagi peran, enggak maksimal. Apalagi memang pesan peraturan itu selesai di sumber. tadi menarik menurut kami yang di masih gagaplah nih terkait dengan penanganan sampah ini di sumber ee yang disampaikan Pak Yusuf Firdaus tadi kami boleh mau belajar lebih lanjut bagaimana menggerakkan komunitas sebagai bentuk partnership pemerintah gitu, Pak sehingga selesai di sumber itu mungkin ee kami mohon dibekali lagi nanti secara mendalam sehingga PD komunitas-komunitas di apa namanya di statement-segmen tertentu karena memang tipikal wilayah kami agak linier jauh, Pak. Begitu dari pusat ee pengelolaan sampah akhir di TPA-nya. Maka solusinya harus pendekatan kluster selesai di beberapa titik. Kemudian yang paling ee teranyar sekarang ini kan PSL tuh, Pak. yang memang sudah turun kebijakan dari kementerian. Tapi masalahnya volume timbulannya, Pak menyebabkan menjadi pertimbangan. Cukup enggak bahan bakunya seperti kami di Aceh Utara ee kayaknya jadi terlalu berat, Pak, jumlah yang di syaratkan untuk lebih ee minimal 1.000 ton itu, Pak. gitu loh. Sehingga ee apakah memang harus sebesar itu volumenya sehingga PSLI itu jadi terlaksana gitu atau ada solusi lain? Memang wilayah kami di Aceh Utara berdekatan minimal tiga kabupaten kota bisa jadi satu lokasi. Pak Samsul dari pemda apa dari dari pemda, Pak. dari I ya. Jadi sampai sekarang kesulitan menggerakkan partnership itu komunitas sehingga berbagi peran itu tidak maksimal, Pak. Makasih, Pak, sarannya. Asalamualaikum. Thank you, Pak Erwin. Thank you, ee Bang Samsul. Saya di chat sudah sharing ya nomor kawan-kawan. Kang Yusuf punten sekalian aja Kang Yusuf. Nanti teman-teman mau connect ke Kang Yusuf belajar akar rumput ya. Tolong di-share aja nomor HP-nya Kang Yusuf ee di chat ya. Saya juga nanti saya juga sudah kasih nomor saya di situ. Nah, kalau tentang ekonomi politik politik ekonomi ya kita boleh bahas kereta api cepat, kita boleh bahas angkutan umum, kita boleh bahas ya saya pikir itu memang ada konseptual dan bicara sampah saya kira betul ee termasuk juga barang publik sangat ya. Apakah kita perlu beli senjata banyak-banyak kan gitu alut sista gitu kan ratusan triliun ya bisa diklaim itu penting untuk pertahanan negara gitu kan itu wajib gitu dibeli. Nah pendidikan apalagi 20% katanya tahun depan kalau enggak dirubah ya itu 300 triliun itu dari pendidikan untuk makan bergizi gratis. Waduh. Nah, itu jadi persoalan 1 tahun Prabowo ee saya pikir sudah banyak dibahas di mana-mana. Saya melihat sendiri banyak program-program Giant yang notabangkali cara eksekusi ya, cara tenokrasinya masih sangat disayangkan ya, harus disempurnakan ya. Apalagi bicara perumahan 3 juta. Saya kebetulan ee memang bergaul dengan kawan-kawan asosiasi ataupun apa namanya itu Hood ya, Housing Urban Development Institute. Bahkan kita punya tanggung jawab ini ya Kementerian PKP ini karena kompornya dulu dari kawan-kawan juga biar dibuat PKP ini saya bilang ya harus dikawal terus itu PKP ya. bagaimana bisa mempercepat delivery masyarakat berpenghasilan rendah bisa mempunyai hunian yang layak gitu ya. Jadi ee kembali saya pikir kita enggak akan bisa tuntas ya. Paling enggak ada nomor tadi Pak Samsul, nomor Pak Yusuf tadi ya, nomor saya, nomor Kang Sony itu untuk drying tadi ya, untuk pengeringan. Kemudian Zainal untuk pembusukan ya mereka aktif sekali. Lalu ada juga nomor HP Pak Slamet ya kalau enggak salah platform digital untuk akcountability iuran sampah ya kira-kira gitu. Kita ada waktu nih ee barang saya mau lanjut ke slide dulu ee barangkali bisa dibantu kembali slide kita bicara tentang danantara aja langsung ya sama bicara tentang apa yang disebut dengan value for money gitu ya. Jadi sebetulnya konsepnya kan tidak apa, tidak canggih-canggih amat sebetulnya. Sepanjang kita berpegang kepada kaidah ya mau apapun enggak ada masalah gitu kan. Ee mungkin saya boleh pilih ya slide nomor berapa karena waktu kita sangat terbatas. Saya pilih mungkin nanti kita bisa mundur. Yang pasti kita ada pemain baru ini namanya Danantara. Ee saya pilih dulu mungkin yang nomor 24 kali ya. Slide 24 ada gambar kemitraan dan kelembagaan. Kemitraan dan kelembagaan. Slide 24 setelah 23 bisa dibantu, Din. Iya. I ya. Betul. Oke. Ee singkat aja ee tidak berlama-lama. Jadi ini penting ya ee kita membetakan peran siapa berbuat apa dalam konteks danantara. Ee barangkali ya secara hukum silakan kalau teman-teman masih mempertanyakan posisi dan antara sebagai project fasilitator, sebagai partner selection manager, mencari mitra kemudian untuk membantu transaksi ya advisory gitu ya dan antara perannya seperti itu. Pemda itu berperan untuk ee menjamin pasokan daripada sampah yang tadi dimasukkan dalam Perpres itu memang dimulai yang paling kritikal, yang paling bermasalah ya. 1.000 tentu bukan berarti yang lebih kecil tidak penting, kan. Nah, ini yang mungkin kita perlu lengkapin. Kemudian ee pemda juga sebagai regulator untuk urusan izin-izin pembangunan, lokasi dan lain-lain. Kemudian juga harus mengadakan ee semacam meminjamkan gitu ya line ee untuk area ee mana namanya pengolahan itu ataupun industri itulah mungkin cukup berapa ee 500 m tergantung teknologinya ya. Kemudian support tentunya infrastruktur pendukung. Nah, ini mungkin air kali ya sangat penting ya untuk pendingin dan lain-lain. Kemudian swasta ini sayangnya memang tidak ada lokal yang masuk karena memang ee tadi ya proven teknologi skala grande itu ya kita belum punya kecuali dibuka pintunya itu boleh seri jadi 2500 ee 10 gitu kan atau ee 5200. Ee asalkan bisa dibuktikan lebih efisien, lebih murah kan mestinya ada dibuka seperti itu gitu ya. Bahkan ada mid produknya bila perlu ya dipertandingkan. Siapa yang bisa memeras sebelum dibakar itu ada value-value yang bisa diambil. Nah, tentunya yang terakhir memang ini berat ya bagi PLN, tapi dia juga sudah dibantu oleh pemerintah dalam hal ini state budget ya untuk menutupi ee katakan harapan daripada pengembang ya. Jadi saya mendengar kalau enggak salah angkanya PLN itu ee hanya mampu 7 gitu 7 sen per kW lebih kurang kilow hour. Nah, ini pertandingan para pemasok ini seperti apa? Apakah kita meminta paling murah? Misalnya kalau dia mintanya 10 ya nanti pemerintah mungkin dalam tanda petik mentop up gitu ya ee dari kekurangan PLN. Tapi PLN sendiri khusus di Pulau Jawa kita mengerti kelebihan pasokan. Eah lalu juga isu tentang ee energi baru terbarukan. Bagaimana dengan agenda-agenda energi baru terbarukan yang lain selain sampah. Jadi ini PR kita banyak. ee kita selama ini sudah mengenal apa namanya ee KPBU ya, kerja sama pemerintah badan usaha. Kita kenal juga B2B yang diskusinya cukup berkepanjangan, urusan kereta api cepat gitu. Kemudian tentunya yang full APBN. Jadi memang ee sekarang tidak akan ada lagi PMN ya. Tapi the game is the same ya, bagaimana bisa meningkatkan eh pelayanan dalam hal ini mengadakan aset infrastruktur yang baru bahkan juga untuk dipelihara yang sudah ada. Jadi ini yang penting sebetulnya aset manajemen gitu kan. Kalau dia baru tentunya masalah ee namanya value of money-nya seperti apa. Nah, ini terus terang ee ini mestinya ada ting tank ya di balik situ untuk memastikan ee apapun pilihannya itu adalah yang paling efisien. Yang paling efisien biasanya yang paling rendah kapex juga paling rendah risiko kan gitu kan. hanya ada dua biaya itu hanya ada dua biaya itu cara lama juga ada itu KEX sama dengan risiko tentu juga dengan OPEX yang baru bagaimanapun teknologinya itu juga harus bisa diukur sehingga kita mengatakan pilihan terakhir itu bisa yang paling rendah itu gap-nya yang kita sebut dengan value for money gitu ya dengan inovasi-inovasi tentunya apalagi bicara hutang kalau hutang itu harus ada cost of money-nya Jadi value inovasinya harus lebih tinggi daripada korban cost of money. Nah, ini tentunya yang harus kita buktikan. Sayangnya kita selama berjalan hampir 30 tahun ya, KPBU ataupun KPS ataupun namanya P3 kita tidak ada bukti yang real seberapa efisien infrastruktur yang dikerjamakan dengan pemerintah dan badan usaha. Nah, kalau kita tanya kawan-kawan yang lain, tetangga ataupun negara lain ya, mereka bisa nyebut persentase efisiensinya. Nah, ini saya enggak yakin memang terusang ada prerequisit ya. Kita harus punya pemerintahan yang bersih, kita punya swasta yang capable, kita harus punya industri dan civil society yang mature gitu. Kemudian rules ini mencari efisiensi hanya bisa kalau model kemitraan kelembagaannya itu memang bagus ya, good governance. Kita mau nyontoh Eropa katanya tapi saya pikir masih jauh ya apapun ya harus kita kejar ke sana. Good governance pengadaan kemudian pemerintah sedikit mengatur jangan terlalu ikutan menyelam terlalu banyak gitu kan silakan industri ya. Saya pikir persyaratan-persyaratan ini yang ee ingin kita upayakan. Adapun sekarang BUMN tentunya ada danantara di segitiga itu kelihatan ya ee bagi-bagi perannya mungkin contohnya apa ya badan pengatur jalan tol ya walaupun masih di bawah ketiak Menteri PU tapi kita melihat ya ada persaingan lah. Yang lain saya belum begitu lihat mungkin ada di Telkom, BRTI ee Listrik mungkin ada ya. Jadi semacam wasit gitu ya yang kita perlukan. Nah, ini ee persampahan ee mestinya ee kalau secara prosedur ya harus mengikuti KPBU ya walaupun ini ditugaskan dan antara sebagai pemeran itu. Saya pikir ini satu slide yang harus kita bahas. Ee saya kemarin itu lanjut next page saja. Nah, saya kemarin kita ada diskusi di namanya WCC ya, W Crisis Center yang mungkin baru di-launching oleh KLH di bypass itu kantornya. Saya menyarankan ee di setiap titik ya apalagi ada kampusnya itu harus membuat satu eksperimen gitu ya. eksperimen eh by size, by capacity, teknologinya, by teknologi atau produknya juga midnya dan by region karena berbeda-beda. Nah, ini menu ya. Silakan kalau kawan-kawan ini tersebar dari Sabang sampai Marauk. Kalau nanti perlu-perlu kontak aja saya. Kita bisa kolaborasi dengan Word ee apa nih? Bois Crisis Center yang di situ banyak pendekar-pendekar juga beberapa dari pemerintahan, beberapa dari kalangan pendanaan ya yang bisa membantu kawan-kawan silakan aja nanti ee dimanfaatin ya. Jadi ini hanya sens cepat saya aja kiranya di wilayah timur mungkin biogester, kompos, komunitas, kemudian di Jawa sekitarnya mungkin thermal thermal base ya, thermal treatment ya, termasuk ee uap yang menjadi listrik kan gitu. Kemudian di Jawa Tengah, Sumatera barangkali boleh ee ee berupa teknologi-teknologi baru yang harus kita coba ya. bila perlu juga ada untuk gas gitu ya. Tapi intinya ya intinya ini perlu ada perpres ee pertama itu tentang bagaimana mengamankan ee ya piloting ini gitu. Karena piloting ini kan apapun teknologinya yang mau kita kembangkan kalau sudah proven ya gak ada masalah gitu kan. Tapi kalau teknologi tidak belum proven tentunya perlu ada perlindungan ya. Perlu ada perlindungan. Eh, next. Buat pemda saya pikir harus hati-hati menandatangani komitmen ya. Pertama audit betul ya. Ee kualitas dan komposisi dari kuantitasnya sudah pasti gitu. Sampah yang ada di tempat. Kemudian hitung kemampuan finansial ya untuk tiping fee dan potensi penalti yang mungkin dalam kontrak itu ada. Kemudian tentunya sistem logistik yang saya sampaikan tadi perlu dioptimasi angkutannya. Kemudian tentu teman-teman di DPRD ya ee harus ikutan secepat mungkin karena apapun harus izin mereka ya. Kemudian negosiasikan hal-hal yang sifatnya eh fal major kalaupun ada dalam contoh kontrak. Nah, mudah-mudahan dan antara juga sudah mulai membagi sharing e draf-draft kontraknya ya biar bisa terbaca oleh semua orang termasuk oleh partner-partner. Kemudian ee ini yang saya sebut step by step ya. Ee skala kecil mestinya ya juga boleh dipilih ya sayang memang dan antara langsung lompat. Namun sebetulnya perlu ada semacam ya itu piloting ya skala-skala kecil. Ee kemudian kita pastikan skemanya performance based ya. Kalau sudah oke baru bayar. Jadi kita harus melihat ini minimum mungkin 4 tahun 5 tahun apakah betul teknologi itu sustain gitu ya sesuai dengan ee lokasinya atau jenis sampahnya. Nah, ini ee perlu memang membuktikan karena alat-alat yang dikembangkan di luar negeri dan sampahnya juga berbeda belum tentu ee bisa apa langsung di seperti itu linier ya bisa dimanfaatkan ya. Tentu hal-hal lain kita harus minimalkan resiko resiko dari para pihak sama resiko keuangan ya jangan sampai menjadi beban. Em next mungkin roadmap-nya terakhir sama penutup ya. Saya berpikiran walaupun ini bisa digeser ya 2026 ya masing-masing ee kita mulai ee saya pikir memperbaiki pondasi ya terutama apa yang sudah menjadi kebiasaan konvensional ini perlu kita upayakan terutama saya kira itu ya ee platform-platform ee itu enggak akan bisa jalan kalau tidak ada regulasi dari pemerintah setempat juga gitu kewajiban-kewajiban. Adapun angkanya ya saya pikir tadi disebut ee Kang Yusuf 3.000 5.000 ya. Waduh saya kira ini sekali kok hilang ini kita udah ditutup nih. Bisa di-share lagi enggak ya? Ini udah dua slide terakhir ya. Jadi lanjut. Kalau bagus ya kita replikasi gitu. tentunya beragam industri, beragamaker sesuai karakteristik daerah untuk menggunakan hasil ee by product dari pengelolaan sampah. Nah, berikutnya terakhir kalau memang yang kecil-kecil ini terbukti ya kita tinggal bicara scaling up ya. Adapun macam-macam terutama ya apa nih ekonomi sular ya yang harus kita juga create ya kalau mungkin bisa di jadi penambah. Oke penutup terakhir ee saya pikir next ya. Ini slide terakhir, halaman terakhir ya. kita perlu ee apa namanya dorong untuk ee setiap daerah itu punya semacam ID gitu ya, problem jenis sampah, oftaker, besaran dan lain-lain, kualitas sampah ya seperti itu. Kemudian ee di kalangan penelitian kampus, startup ya saya pikir ya harus diwadahin dengan sandboxing ya perlindungan, uji coba terutama lingkungan kan lingkungan, emisi dan lain-lain. Ini harus diwadahi. Fokus pada strategi cerdas tadi, kolaborasi yang semakin banyak, kemudian komitmen yang berkelanjutan. Nah, ini ee masukan ya barangkali buat ee teman-teman di KLH, BPLH barangkali perlu mediasi ke Danantara. Mudah-mudahan mereka enggak kurang ya tim teknisnya. Tapi saya pikir bisa diskusi tema-tematik penting seperti risk profiling, risk profiling atau profile risiko dari hulu ke hilir terutama tadi di sisi pemda ya. Kemudian bagaimana cara memitigasinya. Kemudian juga sistem development KLH BPLH ini kalau bisa memilih empat daerah atau kawasan untuk sebagai eksperimen tadi ya untuk eksperimental yang bisa kita lakukan ya tentunya dengan men-develop standar-standar ya teknis dan lain-lain dari pengalaman masing-masing akan menjadi panduan ee pedoman yang baik buat ee pemda-pemda di seluruh Indonesia. Terakhir saya pikir ya ini masa depan sampah ya tentunya ini tugas kita bersama di tangan kita bersama dari pertemuan singkat 2 jam atau 2 jam setengah ini mudah-mudahan ada snowballing ya snowballing yang bisa kita kolaborasikan atau update perkembangan dan sejenisnya. Nah, silakan kita ada 5 menit kalau ada yang mau cepat memanfaatkan waktu kita ada 5 menit. Silakan. Oke. Ee, Pak Harun terima kasih. Minta maaf nih kalau saya ee ada dari yang lain enggak, Pak Erwin? Ada yang dari yang lain enggak? kita prioritasin mungkin kalau ada. Kalau enggak ada ya silakan. Oke. Eh, kita harus bedakan pembahasan jangan dicampur antara Perpres 109 yang kemarin dikeluarkan oleh ee pemerintah yang ditugaskan kepadaantara dengan yang sisa kota ee 514 - 44 ee 34 kota ya. Nah, untuk antara sebenarnya tidak ada isu. Karena apa? Karena mereka ingin membantu Perpres 35 yang kemarin gagal ya. 12 kota saja belum bisa ditanganin. Makanya dengan adanya Perpres yang baru di mana harga listriknya dinaikkan pemda tidak perlu bayar tingvi. Mudah-mudahan akan terbangunlah PLTSA untuk kota-kota yang sudah UGD yang sudahnya sampahnya sudah sudah membukit sudah tidak bisa ditangani lagi. Beli tanah untuk perluasan TPA mahal sekali. Nah, ini harus kita dukung. Ee saya percaya saya tidak mewakili Daantara, saya enggak dibayar. Tapi saya percaya Dananttara sudah melakukan studi yang cukup matang. Ee mengapa dipilih teknologinya ee insinerator? Ketimbang teknologi yang banyak sekali sekarang ee tersedia di lapangan. Tetapi fakta di lapangan 12 kota yang kemarin diperintahkan untuk dibangun pun tidak jalan dengan polisi yang lalu. Nah, mudah-mudahan ini jalan. Nah, itu mungkin ee sekedar komentar dari saya. Ee mudah-mudahan dengan adanya PP 109 sudah akan bisa dibangun karena saya dengar bocorannya sudah ada sekitar 90-an perusahaan yang mendaftar. Karena memang ini cukup baik untuk ee pengembang yang membuat teknologi dari Cina barangkali ya kelihatannya lebih murah daripada teknologi yang dari ee Eropa atau dari Jepang. Itu aja mungkin Pak Harun kita dukung eh Pak Prabowo untuk eh menggarap yang 33 kota ini. Terima kasih. Oke, Pak Yusuf. Ada ya, Pak? Saya 1 menit aja untuk nanggapin. Pertama itu ee saya nanggapin permasalahan dari Pak Erwin tadi. Artinya gini, saya setuju pertama adalah dana sampah itu harus minimal 3% dari APBN. Ya, rata-rata memang di Indonesia 1%. Nah, cuman di Bandung ini sebenarnya sudah mau 4%. Bandung itu ee apa dari APBD ee 78 triliunan itu buat sampah sudah 250 miliar per tahun, tapi masih kurang. Ini kan jadi aneh. Artinya dananya sudah tinggi tapi Bandung kenapa enggak selesai-selesai? Ini yang ee masalah tadi ee apa APBD sama ee anggaran buat sampah. Yang berikutnya saya setuju dengan perkataan Profesor tadi. Artinya apa? Kita perlu ee treatment-treatment di tiap daerah ini berbeda gitu. Tidak semua harus pakai PLTSA, tidak semua. Karena beberapa treatment juga bisa selesai sebelum ke TPA sebenarnya kayak gitu. Saya setuju, Pak. misalkan di daerah Jawa Barat, Bandung, Kabupaten yang perlu adalah menyambung lagi ee apa pertanyaan dari Pak Samsul yang tadi dari Aceh sambungannya terhadap ee komentar tadi yaitu apa yang perlu kita benahin dalam masalah sampah di Indonesia adalah trade flow sampah. Dari mulai sumber sampah ya diakutnya sama siapa, gaji pengangkutnya berapa, setelah diangkut dipilahnya di mana? Apa hasil pilahnya? Mana datanya? Ini dilakukan oleh ee Kadis LH di DLH. DLH ada enggak repot-nya jadi plastik berapa, jadi magot berapa dan sebagainya. Setelah ada di apa TPST sementara yang kita lihat tumpukan truk-truk kuning yang kita juga enggak jelas PUPR buatnya di mana aja kan gitu. Dari situ ada masalah lagi distribusi ke TPA itu masalah semua dari kendaraan dan sebagainya dan sebagainya. SDM, pengangkutan, jalan, infrastruktur termasuk di TPA-nya sendiri. Jadi intinya trade flow kita benahin dan trade flow ini terbagi tiga sudah jelas sampah rumah tangga, sampah yang dari ee rumah profesor itu ujungnya di mana gitu kan kita enggak tahu ujungnya di mana, dibawa ke mana, sama siapa-siapa yang mempertanggungjawabkan ini. Nah, saya usulan kepada Pak Samsul yang ada di Aceh itu benahi trade flow-nya. Jadi kita tahu kita buang sampah misalkan plastik A tahu ada di mana terakhirnya. Nah, kalau tahu itu berarti sampah selesai. Itu trade flow sampah yang harus dibenahi dari hulu sampai hilir. Terlepas dari itu pakai PLTSA, magot dan sebagainya. Dan terakhir khususnya untuk Pak Samsul tadi undang semua stakeholder, komunitas-komunitas dan buat sebuah ekosistem sampah. Setelah trade flow terjalin, buat satu ekosistem sampah. Oh, ternyata di TPST dia enggak bisa nih ngolah organik. Ada yang ngurus magot, disalurkanlah oleh pemerintah ke magot. Oh, ini ke sini, ini ke sini. Sehingga road mappingnya jelas masalah sampah di Indonesia. Sampai detik ini saya tidak pernah melihat bagaimana trade flow sampah di Indonesia. Itu sih ini yang saya coba sekarang bangun sehingga apa? Sehingga ee apa? data sampah benar-benar tervalidasi, Pak. Karena ya saya juga pernah apa ee ee di bangku kuliah waktu itu. Kesimpulan terakhir masalah sampah ini yang yang apa yang saya bisa simpulkan. Pertama adalah objeknya sampah. Yang kedua adalah analisisnya analisis sampah karena datanya data sampah, data ngarang semuanya. Sehingga apa? Hasil dari analisa juga sampah, Pak. Dan yang jadi masalah yang menganalisis adalah penyampah. Sudah tidak akan selesai. Itu kesimpulan dari saya, Pak Prof. Terima kasih banyak ilmu-ilmunya. Semoga ee apa Indonesia cepat selesai masalah sampah ini. Tidak terlalu banyak kepentingan action, eksekusi seperti itu, Pak. Terima kasih banyak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Baik. Ee ya saya lihat memang potensi pengembangan platform digital ya yang di dalamnya ada transaksi yang transparan bahkan tidak bisa penipuan full di bawah platform blockchain ya. Transaksi, volume, kualitas, tracking tadi trade flow istilahnya. ee kalau itu change-nya ya dari mana ke mana itu semuanya bisa diracing. Saya pikir bagi anak-anak muda yang mau meng-elevate ya platform moking-nya sudah ada tadi saya sudah share ya. Bagi kawan-kawan juga yang mau memanfaatkan testing ini ee bisa kontak Pak Slamet gitu. Saya juga sedang melakukan uji coba di dua RW di Skoloa untuk melakukan ee katakan tadi ya ee biar kelihatan jejak thread flow-nya, bayar membayarnya juga bisa lebih aman dan tertib gitu. Oke, saya kembalikan ke dini ya. kecuali ada yang urgen banget dari kawan-kawan yang hadir masih bertahan mungkin 2 menit ya 3 menit boleh kalau masih ada ee silakan saja kalau memang masih ada kalau enggak saya ee akan kembalikan ke Dini. Ee mungkin demikian yang bisa kita sempatkan pada kesempatan yang singkat ini. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi untuk follow up ya ee dan update-update perkembangan ee penanganan sampah yang sangat masih perlu diselesaikan. Thank you. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Silakan, Dini. Iya. Baik. Ee terima kasih Prof. Harun atas diskusinya yang sangat menarik ini karena emang sampai saat ini masalah sampah itu masih menjadi masalah yang kompleks dan belum terselesaikan dengan baik khususnya untuk di negara ini. Ee mungkin karena waktunya sudah lebih Prof. Harun dicukupkan untuk ee untuk webinarnya. Dan sebelum Prof. Harun meninggalkan ruangan Zoom ini, kita akan dokumentasi terlebih dahulu. Oh iya. Baik. Kepada Bapak Ibu yang bisa mengaktifkan kameranya dipersilakan. Oke. Baik, saya mulai saja untuk melakukan perhitungan mundur dimulai dari angka 3. [Musik] Mungkin sekali lagi. 3 2 1 ya. Baik, untuk dokumentasinya sudah dicukupkan. Ee saya ucapkan terima kasih lagi kepada Prof. Harun atas penyampaian materinya yang sangat bermanfaat dan membuka wawasan bagi kita semuanya. Dan semoga di kesempatan lain kita dapat kembali berdiskusi dan bertemu kembali dalam kegiatan berikutnya. Dan ee kepada Prof. Karun apabila ingin meninggalkan ruangan Zoom sudah dipersilakan, Prof. Iya, terima kasih ya. Salam kembali. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sampai jumpa. I terima kasih, Prof. Ya. Baik, ee Bapak Ibu semuanya, berakhir sudah acara webinar di hari ini dan bagi Bapak Ibu yang ingin mendapatkan e-sertifikatnya, Bapak Ibu dapat mengisi link presensi kehadiran yang tertera di layar ini. Dan ketika Bapak, Ibu mengisi absensinya, dipastikan ee nama dan email sudah diketik dengan benar karena hal ini akan mempengaruhi pengiriman e-sertifikatnya. Dan baik ee saya akhiri kegiatan webinar di hari ini. Mohon maaf apabila saya ada salah sikap dan ucap. Wabillahi taufik wal hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang dan selamat melanjutkan aktivitas lainnya.