Transcript
9QRgpcTKdZI • Webinar 131 Mengelola Sampah Kota : Opsi Teknologi, Pembiayaan, Partnership, dan Risiko
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0165_9QRgpcTKdZI.txt
Kind: captions
Language: id
nya masalah sampah ini kalau kita lihat
dari gambaran yang paling
umum ya ini ee masing-masing orang ee
apa namanya
ee mempersepsi gitu ya solusi sampah
seperti ini gitu ya.
E kemudian kemudian yang paling penting
lagi saya kira ini bagaimana bisa ee
kita mendapat gambaran seutuhnya problem
sampah kita. Kemudian juga tentunya ee
arah selanjutnya gitu ya. Jadi yang
duduk di atas gajah ini penting dan ini
belum ada gitu ya. Presiden sih ya tapi
ya siapa gitu. Apakah KLH ee ya,
Kementerian Lingkungan Hidup, apakah PU,
apakah ESDM,
siapa gitu. Tapi kita tahu kelola sampah
ini semacam penugasan ke daerah. Jadi
tetap apapun namanya chief-nya itu ya
pemerintah daerah gitu. Tapi pemerintah
daerah seperti kita ketahui juga tidak
akan bisa jalan sendiri. Jadi ini udah
fenomena yang kita pahami semuanya punya
persepsi yang berbeda. Apalagi yang
dihilir ya yang mengembangkan teknologi
itu buru-burunya yang mau buru-buru mau
pasang gitu. Kalau perlu ada pendanaan
gitu kan. Tapi problemnya kan kita
mengerti ya, sangat kompleks. Terutama
sebetulnya ee apa yang kita sebut dengan
budaya ya, budaya kelola sampahlah di
rumah tangga pribadi.
Saya ingin minta chatting lagi
berikutnya.
Kebetulan saya nih ee
apa namanya? Kepala apa? Ketua RW juga
gitu ya.
Ketua RW biasa itu enggak ada yang mau
jadi ketua RW. Jadi saya ditunjuk sama
warga. Saya tinggal di komplek Alamanda
di Tubagus Ismail. Enggak jauh dari
kampus ya.
Kayaknya sudah dua kali ya, dua periode
nih harus pilih-pilih tapi kelihatannya
lanjut aja seumur hidup gitu.
Jadi sampah ini di komplek kami ee
karena kami berada di satu kelurahan
namanya Sekaloa. Saya tahu betul.
kita ini istilahnya bayar bayar angkut
aja. Ada Mas Kang Oni namanya saya
sendiri bayarnya 70 atau R5.000 gitu
sebulan. Dia datang tiga kali atau 2
hari sekali gitu, dua atau 3 hari sekali
selesailah. Ya, jadi selama ini juga
kami sebagai warga, kebetulan juga RW di
situ tentunya ada program kota ya dalam
hal ini walikota sudah lama ini bukan
hanya walikota yang baru, bukan hanya
gubernur yang baru. Jadi kita sudah
mulai belajar memilah-milah sampah ya.
Tapi di warga saya ya ini makanya saya
pengin dapat chatting dari semuanya nih,
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adik-adik
semuanya. kita sebut aja ee cara ngolah
sampah ya. Jadi pertama yang sangat ee
saya sebut apa ini yang sangat ee
apa nih ya positif ya sangat positif nih
yang ya saya sebut enaknya apa nih
radiks lah bukan radikal tapi radiks
gitu ee yang memang dia membuat objektif
e itu zero way sudah dari rumah gitu ya
jadi itu nomor satu jadi nomor satu itu
zero ways sudah di rumah. Jadi
istilahnya di rumah itu tidak boleh ada
sampah keluar. Caranya gimana? Silakan
kebiasaan hidup bawa apa? Tumblr, bawa
tas, ee apapun ya, lalu buat biopori ya.
Ee ditanam pakai pupuknya dan
seterusnya. Ini nomor satu.
Kemudian nomor dua tentunya kayak saya
ini gitu ya. Saya masih level dua nih,
yang satu ini mantap ini. Kalau semuanya
ee nomor satu, saya pikir kita enggak
usah pusing ya cari investasi.
Ini ekstrem aja ya saya katakan. Tapi
ternyata yang nomor satu ini ketika
UNPAT juga membuat suatu KKN, kebetulan
juga di kawasan kami di kelurahan RW,
saya juga minta database-nya di
Kelurahan Sekoloa Kecamatan apa namanya?
Coblong ya, coblong. Kami juga masih
bekerja untuk itu. Ragam-ragam upaya itu
eh ditemukan memang tidak banyak nih
nomor satu ya. Jadi nomor satu ini
enggak banyak mungkin lebih kecil dari
1% atau 2% ya gitu loh angka kita itu
gambarannya. Jadi nomor satu yang
radikal radik mengelola sampah zero
waste di rumah. nomor dua kayak saya ya.
Nanti tolong di kolom chatting bisa
dimulai apa kita sebut nomor dua ya. Ee
nomor dua ee
siapa aja nih yang yang
apa yang bayar angkut sampah ya
istilahnya bayar angkut sampah.
Tadi udah ada background-nya ABG
Civil Society 1 2 3 4 kayaknya kita
merata. Kemudian kelola sampah ya
silakan diisi aja di kolom chat apakah
Anda nomor satu yang memang mengelola
sampah zero di rumah kemudian
angkut bayar angkut kan gitu. Nomor tiga
tentunya yang disiplin punya tong sampah
yang beragam-ragam gitu ya untuk
organik, non organik bahkan tergantung
mau berapa macam gitu ya, ada kaca, ada
apa kan ini di luar negeri sudah mungkin
bisa 5 en gitu ya sudah dipilah langsung
ya itu nomor tiga.
Nomor tiga saya pikir apaagi jadi satu
yangat sangat radikal zero wis di rumah.
Nomor dua bayar angkut. Nomor tiga
punya ya punya apa? punya tong-tong
sampah yang berbeda. Silakan ee
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adik-adik ya ee
sharing gitu ee kira-kira apa ee praktik
ya budaya kelola sampahnya di rumah
masing-masing.
Yang kos-kosan juga boleh tentu ya. Ee
saya pikir tentunya ada yuran gitu ya.
Mana nih? Ee kok saya enggak ngelihat
ada yang respon atau saya salah lihat
ini.
Everyone
ayo silakan.
Ee oke. Ee
ya
saya yakin juga sama halnya ya. Yang
nomor satu itu sangat minim ya. Nomor
dua biasanya mendominasi ya, seolah-olah
enggak mau tahu beres kirim. Jadi
biayanya biaya angkut gitu. Nah, nanti
urusan vendor atau urusan yang ngangkut
itulah dealing ya. sampah itu dari mulai
tempat pengumpulan sementara, lalu di
situ ada ritual-ritual lain yang
biasanya tidak sembarangan bisa ee nitip
kan gitu sampai ke pembuangan akhir.
Nah,
situasinya sekarang terakhir ee budaya
ini kita masih colollaps ya di Bandung
lah terutama saya hanya apa namanya
berani bicara di Bandung karena saya
warga Bandung.
itu bahkan ember yang beraneka warna itu
ditarik kembali ya oleh kelurahan.
Tadinya dibagi ya kita belajar yang
organik mulai pohon-pohon enggak boleh
dibuang, harus diamankan sendiri. Nah,
itu kalau yang tadi tukang angkut ya dia
punya effort sendiri untuk mengamankan
itu gitu. Ee tadinya mau buat sumur
seperti itu biar dibusukin
tidak jalan gitu ya. Tapi intinya ee apa
namanya? Ajakan untuk memilah sampah
dari pemerintahan gitu sebutlah ya dalam
hal ini kelurahan ataupun pemerintahan
Bandung
itu ee ditarik lagi alasannya katanya di
Gede Bage TPA-nya sudah penuh dan
lain-lain dan lain-lain lah. Jadi ee
saya pikir itu satu yang negatifnya gitu
ya.
Kemudian yang positifnya tentu ada ya ee
ada grup emak-emak, ada grup ee bank
sampah namanya itu berjalan tapi soow
lah. Termasuk di kantor kelurahan juga
saya lihat ada tempat pengolahan kecil
gitu ya, pemilahan sampah, memelihara
ikan, mungkin mereka mau membuat
sirkular ekonomi. Jadi singkat cerita
ini ee yang negatif-negatif lagi ya saya
kira banyak ceritanya.
ee jatuh korban di Gunung Sampah,
ancaman kesehatan yang pasti sampai
sekarang kayaknya berjalan tanpa arah
dan solusinya juga belum jelas dan tidak
solid. Nah, ini pembicaraan kita pagi
ini sangat penting. Kita merepresentasi
ee sebagian mungkin tentunya kalangan
akademik ya, Teman-teman ee Bapak-bapak,
Ibu-ibu juga ada yang dari Seiv Society,
ada yang dari Pemda, pemerintah pusat
barangkali juga. Kemudian ada pengembang
bisnis, mungkin juga finansiasi
ya. Saya pir ee untuk sementara saya
enggak mau lanjut dulu. Justru saya
ingin dengar gitu ya. Ee kira-kira
apakah betul gambaran itu sama di tempat
Bapak Ibu sekalian.
Nah, ini mungkin bisa di-chatting juga
ya. Ya, yes gitu. Why gitu. Kemudian
mungkin no, berarti no bagus gitu ya.
Wah, kayaknya ya semua gitu banyak. Iya.
Kalau iya memang problem betul ya. Yes.
Seperti itu gambarannya ya. Semua ini
banyak bilang yes. Tapi ada juga yang ee
kayaknya yes semua nih ya.
Waduh.
Berarti ya memang kita masih bermasalah
ya, tapi gimana ini? Nah. Nah. Saya mau
share ini. Jadi di presentasi saya sudah
ada. Saya yakin juga semuanya sudah
menerima. Tapi saya mungkin ee mau
berhenti ngomong nih ya sebelum kita
lanjut. Tentunya kita ada agenda tadi
perlahan-lahan ya tentang paradigma
kelola sampah, kemudian opsi teknologi,
masalah kemitraan kelembagaan pendanaan
tentunya serta roadmap.
saya berhenti. Ee mungkin kita
apa ini namanya? Raise hand gitu ya biar
tertib ya. Waduh ini yes semua nih. Yes
semua ya. Silakan rais hand. Eh
jadi kita mungkin ambil dua orang gitu
ya. Enggak usah lama juga mudah-mudahan
merepresentasi.
Ada yang res handen mungkin.
mau sharing
atau sudah punya case ya tentunya di
zaman sekarang ada IT ya akan sangat
membantu terutama bicara pengumpulan
iuran dan lain-lain.
Ada yang rais hand mau sharing?
Sharing apa nih? Sharing paradigma,
sharing usulan atau sharing pesimistik
gitu ya.
atau sharing optimism.
Nah, ini ada dua orang ya. Mungkin
kita invite aja langsung ee apa konsern
mereka. Pertama ada di kanan ini maksuk
koi pikdes cas mungkin bisa
memperkenalkan diri ya sekalian
menyampaikan konsernnya tentunya ee juga
hadir hari ini pasti punya target gitu
ya.
Ee silakan
buka di-unmute ya biar bisa kedengaran
suaranya dengan oleh rekan-rekan yang
lain.
Masuk koi Pitcast. Nah, ini kayaknya
dari Dinas Kesehatan atau apa nih? Ee
ibu-ibu mungkin akhwat ya silakan.
I
ya
ya.
Baik.
Eh, baik, terima kasih, Prof. Eh,
perkenalkan saya maksuk. Sebetulnya saya
akademisi, tapi belum sempat saya rename
itu dari Kolegium Epidemiologi.
Eh, saya dosen di Politeknik Kesehatan
Palembang dan memang peminatannya
terkait dengan kesehatan lingkungan dan
pengelolaan sampah. Nah, ini juga
mungkin ee sek sharing sekaligus mungkin
bisa untuk ee ee karena Prof. tadi
bilang Prof. itu engineering sipil, tapi
ee juga ada di masyarakat
juga ee
konsern untuk pengelolaan sampah.
Nah, memang kalau ee
di tempat ee Prof sebetulnya ee
permasalahan ee sampah yang ada itu
karena kami memang di perkotaan,
tepatnya di Kota Palembang, sampah ini
menjadi permasalahan utama terutama di
sungai gitu, Prof. ee ya upaya yang
sudah kita lakukan paling tidak di
kampus kita ee sudah membuat semacam
subunit bank sampah tapi enggak jalan
juga gitu, Prof. ya. Nah, ee tapi ee
ee saya berupaya kerja sama dengan bank
sampah induk untuk yang di level rumah
tangga, Prof. ee di kampung kami
sendirilah, katakanlah di RT kami
sendiri paling tidak kita bisa memulai
untuk memilah sampah ini dari diri kita
sendiri gitu, Prof. Karena ini berangkat
dari ee permasalahan sampah yang memang
ee di lapor rumah tangga ini tidak
dipilah. Nah, saat ini alhamdulillah
sudah jalan 1 tahun, Prof. dan
tabungannya
sudah lumayan banyak, sudah hampir 2
jutaan kalau saya hitung. Itu belum kita
ambil dari bank sampah induk. ee mungkin
eehannya
kita belum bisa mengajak untuk semua ee
masyarakat ikut terlibat gitu ya, Prof.
ee untuk mengikuti ee pemilahan ini pun
dari Kota Palembang itu ee
setiap kelurahan itu wajib punya satu
bank sampah tapi
realisasi tapi di RT kecil saja lumayan
Prof. ee setiap
bulan itu sampah plastik yang dihasilkan
itu hampir kurang lebih 30 kilo. Lumayan
kan kalau dia masuk ke sungai. Nah,
mungkin ee Prof bisa kasih pencerahan
gitu terkait dengan apa yang sudah Prof.
sampaikan tadi. Kemudian terkait dengan
inovasi, Prof. Karena kita ini kan
sebagai ee akademisi diminta ee diminta
untuk hilirisasi penelitian. Nah, ini
mungkin kesulitannya apa? kesulitannya
karena saya ini bukan ee sarjana teknik
karena saya adalah sains. Lebih ke
sainsnya, lebih ke ilmunya gitu kalau
kita bicara. Dia lebih ke dampak
kesehatannya ketimpang dengan teknis
untuk menghasilkan suatu inovasi.
Mungkin itu saja dulu, Prof. dari saya
bis ee mohon
bantuannya untuk pencerahan. Terima
kasih, Prof.
Terima kasih, Bu Maksuk. Maksuk ya, Bu
Maksuk ee di Palembang
ee kebetulan juga dari kalangan
akademisi. Ee kayaknya kita profilnya
hampir sama ya yang hadir juga
permasalahan di tempat kita
masing-masing dan kebudaya budaya dari
mengelola sampah di rumah tangga.
Tadi ada yang kedua yang rais hand eh
kalau enggak salah itu tadi Pak Erwin
ya, Pak Erwin ee silakan mungkin cepat
ee apa sih ee motifnya join gitu apa mau
dengar-dengar aja apa punya pendapat
sekalian perkenalkan diri Pak Erwin.
Baik ee terima kasih ee Pak Profesor
Harun. Saya Erwin Kasim. Eh,
wah ini Pak Erwin. Pak Erwin ini ini
saya ini e keluarga apa? Abang abang
ipar saya ini
ya. Abang ipar saya ya. Ya, silakan.
Terima kasih. Terima kasih Pak Harun
atas undangannya. Ee saya sebenarnya
bukan ee dari teknik lingkungan. saya
background-nya adalah power system
engineer. Jadi listrik eh terpancing
terinspirasi pada saat pemerintah
mengeluarkan Perpres, saya lupa Perpres
16 atau sebelumnya ya
untuk membangun tujuh PLTA ee di PLT
ee di tujuh kota waktu itu yang kemudian
challeng
dipermasalahkan oleh WALI. Akhirnya
pemerintah kalah di Mahkamah Agung eh di
Mahkamah Agung ya. Kemudian akhirnya
keluarlah Perpres 18 tahun 2008 eh 2000
ee Perpres 35 tahun 2018 yang akhirnya
direvisi kembali oleh ee pemerintah
kemarin tanggal 10 Oktober ya kalau
enggak salah keluarlah Perpres 109 tahun
2025 membangun 33
ee PLTSA ee di Indonesia. Nah, saya
melihat Pak ee Harun ee permasalahan
sampah ini sebenarnya bukan isu yang
baru, sudah sering sekali dibahas.
Bahkan sudah ada Undang-Undang
18 tahun 2008 tentang ee penanganan
sampah dan itu tidak dilakukan, tidak
berjalan di mana di sana banyak sekali
instruksi ee yang sudah harus dikerjakan
oleh pemda tetapi tidak dilakukan karena
apa? Karena ujung-ujungnya adalah duit.
Karena semua itu memerlukan anggaran.
Sementara e apa ya nomenklatur cantolan
untuk menganggarkan itu juga tidak
begitu lengkap di ee Kementerian Dalam
Negeri. Sehingga juga untuk
menganggarkan ee bagaimana memberikan
pelayanan dan ee apa pengurangan sampah
itu tidak bisa berjalan dengan baik
walaupun sebenarnya sudah ada
aturan-aturannya. Nah, di sini
masalahnya adalah memang pendanaan yang
satu. Yang kedua, budaya di Jepang itu
sudah 100 tahun yang lalu anak-anak
sudah disiplin, tidak ada orang buang
sampah sembarangan. Di Singapura baru
law enforcement. Kalau kita masuk
Singapura mendarat saja kita di Changi
sudah enggak berani kita buang sampah
sembarangan. Tapi keluar dari Cangi
lempar sampah lagi. Itu biasa. Orang
Singapura pun demikian mungkin kalau dia
terbang ke Jakarta. Nah, jadi memang law
enforcement. Nah, sementara untuk
menjalankan law enforcement itu perlu
juga pendanaan, perlu sosialisasi mulai
dari ee tingkat SD, SMP, SMA sampai juga
ee disiplin ee para aparatnya. Nah,
sementara tenaga aparat di lapangan juga
sangat terbatas. Jadi kompleks sekali
masalah ini. Nah, tapi kita perlu ee
melakukan suatu ee upaya tetap upaya
usaha itu harus dilakukan. Nah, saya
melihat masalah yang penting di sini
adalah bagaimana yang kuat membantu yang
lemah. Karena kalau untuk perhotelan,
kawasan real estate eh hotel, apartemen,
mall, mereka sudah disiplin. Mereka
sudah bisa pilah, bisa kumpul, bisa
membayar orang untuk angkut sampahnya
bersih di lingkungannya. Nah, masalahnya
di lingkungan ee real estate yang di
bawah ini yang daerah kumo,
daerah-daerah yang biasalah mungkin 80%
masyarakat kita masih ee apa J apa
JDP-nya itu masih rendah sekali tidak
mampu dimintain uang yuran sampah
Rp100.000 sebulan pun mungkin tidak
mampu. Nah, di sinilah peranan negara
untuk bisa bertahap untuk mendidik
supaya poluterpay principal itu
berjalan. Siapa yang buang sampah ya
bayar cuma ini belum bisa dilakukan
untuk masyarakat umum. masyarakat ee
menengah ke bawah baru bisa dilakukan di
masyarakat perhotelan, perumahan mewah,
ee apartemen, dan
perkantoran-perkantoran yang sanggup
bayar. Nah, untuk itu pemerintah harus
membuat suatu regulasi bagaimana pajak
itu betul-betul bisa dialokasikan untuk
ee membantu yang lemah. Tadi kita saja
disuruh membeli tong sampah yang tiga
warna aja sudah tidak sanggup. Satu tong
sampah pun juga kadang-kadang juga
mahal.
Ya, kelihatannya
hilang ya. Terputus betul ya. Ee Dini,
Pak Erwin.
Iya betul Prof. Terputus.
Baik. Heeh. Kita stop ya. Belum apa-apa
kita sudah berjalan 36 menit di ini ya.
Baru pemanasan. Baru pemanasan. Jadi ee
begitulah ya. tadi sudah kita dengar Pak
Erwin tadi terputus. Oke, nanti bisa
masuk lagi. Tapi ee tentunya ada isu-isu
yang sangat mendasar ya tadi. Nah, ini
kuis. Kalau dosen tuh senangnya buat
kuis terus ya, Dini ya.
Ini gampang nih kuisnya. Gampang banget
nih. Saya pengin tahu
bagi yang mengiur sampah gitu ya, itu
berapa sih bayarnya?
sebulan mungkin atau mingguan terserah
tapi umumnya kan per bulan. Nah, tolong
tolong ditulis saja gitu
kira-kira
nanti kita lihat minimum maksimumnya ya.
Saya punya angka maksimum loh di
Indonesia.
Minimum berapa?
Ee 30.000
20 30 185.000
15.000
250. Waduh, gede itu. 50 25
ya. 20 10 25 10
5.000 wah murah Rp50.000.
Aduh saya di rumah R30.000 R.000.
Oke. Jadi kita sudah bisa ya lihat ada
yang 100 tadi barusan kita ngelihat
angka itu ini apa namanya kluster atau
populasi yang hadir ya tadi ragam ya
background-nya itu 30
kayaknya ya range-nya ya yang kecil
mungkin ada 10 20 ya tapi kalau bahasa
statistik itu mode-nya ya modood modood
itu range-nya 3050 ya banyak ya 30
sampai 50 tadi adalah yang 100 ya tapi
mood-nya tuh sekitar mood tergantung per
kilo. Wah ini hebat juga nih ya
tergantung per kilonya Pak. Wah canggih
berarti udah udah canggih tuh di
tempatnya 50. Jadi saya yakin ya segitu
gitu ya. Kalau perumahan saya 75
Rp150.000. Nah nanti dicek apakah sama
satpam atau enggak gitu ya. Saya sendiri
tadi Rp70.000
kadang-kadang
Kang Oni namanya malas malas ini dia
karena mungkin banyak uang atau karena
saya Pak RW gitu ya.
Dia enggak nagih-nagih nagihnya 3 bulan
gitu. Jadi saya transfer lah tiga kali
gitu ya. Jadi Pak Oni ini manual banget
ya. Dia punya kayak apa namanya tuh
mobil truk kecil engkol ya namanya.
Engkol mungkin muatannya 1 ton juga
mungkin udah padat banget ya. 1 ton 2
ton dia menyewa kadang udah numpuk di
depan rumah saya. Saya suka tanya e kita
punya apa namanya? Sekretaris eksekutif
ya di komplek kami ini. Gimana nih
sampah? Wah itu lagi ban bannya mogok
mobilnya mogok jadi enggak ngangkut
numpuk gitu ya. Oh ni ini cerita aja.
Jadi cerita yang memang betapa hal-hal
ini sepele kelihatannya ya, tapi ya
begini terus gitu ya. Jadi kembali
saya bisa posting ini saya kadang minta
sama teman tolong dikirim tuh pas
fotonya fotonya iuran sampah sama
kuitansinya.
Jadi terakhir kayaknya dari yang
teman-teman kirim ini tadi ada yang 150
ya dan itu sangat sedikit ya 100 sampai
jarang ya. Heeh. Lalu ee yang saya
terima paling tinggi saya kaget ya
memang daerahnya juga khusus gitu ya.
Itu dia bayar 300
1 bulan ya.
itu di Tulung Agung di Menteng. Saya
enggak usah sebut ya orangnya, tapi kita
bayar 300. Waduh.
Nah,
sepakat enggak yang hadir di sini? Saya
sih nebak
100 itu sudah kemahalan.
Kalau kita mau tuntasin semuanya bisa
iur 100, ada 1.000 KK atau 100 KK. Waduh
kita bisa hire ya. bisa higher tadi yang
kita enggak kerjain.
Kita bisa beli alat apalagi bisa
ditumpuk sudah berbulan-bulan.
Jadi ada kapital.
Nah, inilah yang kita sebut ee magicnya
number gitu ya kalau jumlah. Nah, inilah
yang gotong-royong ya tadi disebut ya.
Gotong-royong, kolaborasi.
Ada koperasi ya yang mau dibuat ya
80.000 koperasi ya. Mudah-mudahan
sebagian besar ada untuk ngurus sampah
gitu ya. Jadi memang
dahsyatnya di situ gitu loh ya. Jadi 30
50 saya pikir fair enough kalau bisa
dikumpulin. Tapi gimana caranya uang itu
terkelola dengan baik untuk ya
istilahnya apa 3R itu ya ee pemilahan
dan lain-lain itu enggak usah disebut
pengolahan dan membuat mendapatkan value
itu silakan nanti kalau uangnya
terkumpul bisa beli alatnya bagus gitu.
Yang pasti itu sudah bisa nutupin gaji
mereka UMR di Palembang. Kita sudah
hitung-hitung ya, hitung-hitung saya
punya 120 KK ya, tapi ini belum jalan
terus terang karena kita sedang juga ee
apa namanya? Pilot ya platformnya ya,
platform bayar iurannya gitu. dan juga
saya juga ajak Kang Oni, Kang Oni kita
mau istilahnya apa ini kalau di
proof of konsep gitu ya, proof of dan
kita jual juga ke kelurahan ngajak
airway sebelah ada yang sudah mau kita
coba ada platform digital pengumpulan
iuran sampah. Nah, ini multiurpose
ternyata kalau itu bisa kita kumpulin
banyak
lebih bagus ya. Nah, ini teman-teman ada
yang bergerak di situ. Saya juga sudah
sharing di slide. Silakan lihat mungkin
ada nomor HP-nya. Dia udah membuat di
mana? Di daerah Depok gitu ya. Lalu ada
juga di daerah lain tapi belum ketok
tular banyak gitu. Karena ini
langkah-langkah grassroot ya. Yang
penting harus amanah kan. itu aja yang
kerja dibayar ada hasilnya jadi bank
sampah ee dan bisa mempekerjakan dan
bisa menginvestasi lingkungan lebih
bersih gitu ya. Nah, ini satu upaya lah
satu upaya. Oke. Ee kalau ada yang urgen
boleh nih ee tadi Pak Erwin kita skip
aja kalau ada yang urgen satu orang
boleh.
Ah, Pak Yusuf silakan Pak Yusuf.
dibuka videonya biar wajah gantengnya
kelihatan Pak Yusuf
ya. Ya. Ya. Silakan
kelihatan ya, Pak.
Ah.
I terima kasih kesempatannya Pak Prof
sama Eko ini. Saya sih intinya hanya
apa? Sharing juga apa yang saya lakukan.
Perkenalkan saya Yusuf, Prof.
Iya.
Saya dari Yayasan Trapawana, Jawa Barat.
Saya sebenarnya
baru mendalami masalah sampah ini 2
tahun lalu lah sampai hari ini
saya membuat lembaga, sebuah yayasan
bagaimana saya bisa berkontribusi
menangani sampah yang ada di Kota
Bandung gitu. Sampai saat ini mungkin
per bulan rata-rata saya sudah 45 ton
saya olah kayak gitu dan itu mandiri kan
tidak ada kontribusi dari siapapun.
Saya coba untuk bergerak dari mana? Nah,
ini saya menarik ikut apa e webinar ini.
Ada beberapa yang mungkin saya bisa
sharing. Yang pertama masalah harga
sampah di Bandung. Sebenarnya Perwal
sudah jelas kalau sampah itu ada
retribusinya
dan menurut Perwal yang tahun 45 di apa
eh nomor 45 yang di Bandung itu kan
rata-rata ada yang 3.000, ada yang 5.000
gitu ya, ada yang 7.000 R. Ibu dan itu
menurut peraturan Kemendagri disesuaikan
dengan volume listrik. Jadi dia
listriknya pakai berapa watt gitu. Ada
yang 450, 900 dan sebagainya kayak gitu.
Jadi sebenarnya tarif sampah ini sudah
ada ketentuannya untuk retribusi.
Retribusi itu apa? Dari TPS narik ke
TPA. Nah, tinggal yang beragam ini
adalah yang berbeda-beda ini adalah
untuk operasionalnya. Mungkin tadi 3.000
untuk ee apa retribusinya
ee atau 5.000 untuk retribusinya. Nah,
yang 10.000-nya adalah untuk jasa
angkut. seperti itu sih ee apa yang yang
mengenai retribusi ini. Nah, ee di sisi
lain saya juga tadi menanggapi masalah
ee sampah rumah tangga sama ee yang tadi
Pak Erwin juga ee omongin mengenai
polusi sama regulasi.
Nah, yang saya amati permasalahan sampah
di Bandung itu
yang pertama itu kalau misalkan memang
sampah di Bandung ini akan selesai
sebenarnya regulasinya sudah jelas bahwa
ada sampah sejenis rumah tangga. ada
sampah rumah tangga kayak gitu. Nah,
sampah rumah tangga penanganannya ini
berbeda dengan sampah sejenis rumah
tangga apalagi dengan B3. Nah,
permasalahan yang sekarang terjadi itu
adalah penanganannya tercampur antara
sampah rumah tangga dan sampah sejenis
rumah tangga seperti itu. Kalau B3 sudah
jelas aturan perwal dan sebagainya
sehingga ketat penanganan sampahnya.
Nah, yang saya soroti di sini adalah
sampah sejenis rumah tangga. Kang Yusuf
punten.
I gimana
eta teh naon sejenis rumah tangga teh?
Jadi gini Prof.
Maksudnya biar teman
sampah rumah tangga itu adalah sampah
yang dihasilkan dari ee rumah tangga,
dari perumahan.
Oh, kompak.
Sampah sejenis rumah tangga itu yang
dihasilkan dari wilayah-wilayah kawasan
komersil atau HOREKA,
hotel, restoran, dan sebagainya. Oke.
Kayak gitu. Nah, saya juga sempat aneh
melihat data Kota Bandung dengan 1500 ee
ton per hari itu datanya dari mana?
Kan kita tidak pernah punya data real
timbulan sampah yang ada di Bandung.
Tidak ada pendataan timbulan sampah yang
ada di Bandung. 1500 ton per hari itu
adalah hitungan teori
dari jumlah penduduk kota Bandung dikali
0,6 lahirlah 1500 timbunan. Dan itu
berlaku di kota-kota semuanya, kota
kabupaten. Nah, rilnya timbulan kota
Bandung itu berapa?
Kan enggak pernah tahu kita.
Oke.
Sehingga apa? Sehingga kalau kita
berbicara analisa,
analisa itu akan apa? Akan menghasilkan
satu kesimpulan yang menjadi acuan. Ih,
datanya juga sudah acak-acakan, Prof.
data sampahnya aja. kita enggak pernah
tahu data timbulan berapa, pengangkutan
berapa, RW ini berapa, berapa, semuanya
tercampur
seperti itu.
Nah, yang mau saya ee apa ee sharing di
sini adalah yang pertama itu ee
penanganan sampah ini menjadi apa secara
regulasi ya, dari pandangan regulasi ini
ada tigalisme penanganan
dan semuanya parsial, Dok,
Prof. parsial program, parsial
pendanaan, parsial dari teknis
pengelolaan.
Ada ada kecamatan dan desa, ada DLHK,
ada PUPR.
Ini yang disebut tigalisme ini. Jadi
mereka masing-masing punya program
tentang sampah, tetapi tidak tidak
tidak satu titik.
Program DLH dia punya kewenangan dari
hulu sampai hilir gitu kan. Tetapi
ketika misalkan kita berbicara di
wilayah kecamatan itu berbeda lagi. PUPR
dia punya program, dia punya pendanaan
mengenai pembangunan-pembangunan
persampahan, tapi masing-masing
semuanya. Jadi tigalisme ini tuh tidak
ada satu buah ekosistem yang mengerucut
gitu tuh.
Jadi semuanya itu parsial.
Semuanya parsial.
Jadi sampah ini kalau menurut saya kita
butuh dalang yang tadi apa disampaikan
sama Profesor dalang yang meritmekan
peran pemerintah seperti apa, peran
masyarakat seperti apa, hulu seperti
apa, hilir seperti apa.
Ini masih masih apa parsial.
Iya. ada ee aktivis, oh gampang sampah
itu dengan insilator. Tapi dia hanya
ngerti di insilator. Oh, gampang sampah
itu dengan pembangkit tenaga listrik.
Tapi dia hanya ngerti di tenaga listrik
bagaimana dengan carut-marut
pengangkutan, bagaimana dengan
carut-marutnya pembinaan di sumber
sampah.
Tidak ada yang meng apa mengosketrakan
mengenai ekosistem sampah yang ada di
Bandung sehingga ini tercecer semua
gitu.
Gitu. di sisi regulasi, tidak semua kota
kabupaten mempunyai rencana induk
persampahan yang jelas. He.
Contoh di Bandung, di dalam rencana
induk ee Kota Bandung itu sudah jelas
bahwa Sari Mukti akan ditutup. Sementara
rencana induknya berbicara Legok Nangka
yang sampai saat ini belum dijalankan.
H.
sehingga rencana induk setiap kota
kabupaten tidak pernah ada yang jelas
mengenai sampah ini mau dibawa ke mana,
arahnya ke mana.
Seperti itu. Termasuk juga pepresa
ini yang yang menurut saya juga ini
masih parsial. Apakah pemda Bandung
sanggup nyediain 1000 ton per hari?
Karena yang saya tahu dari 1500 itu 40%
adalah sampah basah. Bagaimana
treatmentnya? Apakah langsung dibakar
jadi listrik?
He
bagaimana pengangkutannya? Dan yang
kedua, apakah memang benar meskipun
ditugaskan oleh Prabowo bahwa PLN mau
nerima harga segitu?
H
kan ini juga masih masih tanda tanya
seperti itu. Nah, berikutnya itu ada
apa? Ee
bisa dipat enggak, Pak Yusuf? Kang
Yusuf.
Oke.
Konsernnya.
Betul. Nah, konsen-konsen yang lain juga
sebenarnya
ee hal-hal yang lain adalah mengenai ee
kebijakan-kebijakan yang sekarang ee
mulai berjalanlah terutama masalah ee
PLTSA ini sama ee kontradiksi dengan 3R.
He,
gitu. Artinya gini, ketika misalkan
pembangkit listrik butuh 1000 ton
sampah, nah berarti intinya tidak proses
3R tidak akan berjalan. Sementara proses
3R adalah bagaimana mengurangi sampah
dan justru residu yang dibakar ke PLTSA
ini. Jadi masih ada kontra kontradiksi
di situ gitu. Jadi terakhir
kesimpulannya adalah
bagaimana agar sebuah ee ekosistem
sampah ini ada yang menyatukan menjadi
sebuah ekosistem dari hulu sampai hilir
gitu tuh keluncinya.
Hulunya seperti apa, profesionalisme
pengangkutannya seperti apa? regulasinya
seperti apa sehingga penanganan sampah
memang bisa apa terselesaikan. Dan satu
lagi terakhir
harapan kami apa ee pemerintah atau
khususnya DLHK dia tidak hanya sebagai
apa tidak turun sebagai aktivator
sudahlah diregulasi
ya ini kan saya saya aja terbukti tanpa
ada APBD tanpa ada anggaran apapun 45
ton ee per bulan saya kelola
seperti itu kan artinya buka diri gitu
DLHK
H
kerja samakan. Banyak kok yang mau
ngurus sampah gitu.
Hm. Itu Kang Yusuf ngangkut aja apa
diproses juga?
Diproses.
Saya ada proses magotisasi, ada untuk
peternakan juga, untuk kompos juga
penanganannya jelas
pemasaran pemasarannya lancar juga
enggak numpuk.
Nah, untuk pemasarannya makanya saya
kesempatan ini juga ingin sampaikan
terutama ke deerindak ya. Artinya apa?
Tolong dijaga impor botol bekas. Kenapa?
Sampah kita akan aut-autan, Pak. Untuk
pet ya. Harga pet sekarang turun lagi
menjadi 3.700 dari 5.000 per kilonya.
Ini gara-gara ada impor, impor sampah.
Sementara impor sampah kan sudah jelas
pelanggar regulasi,
tapi bahan baku. Iya, saya paham. Tapi
ini menghancurkan ee apa? Para pemulung,
para pengepul dan sebagainya gitu. Kan
bahan baku kita dari sampah banyak, Pak.
Cuman karena ada impor-or yang enggak
jelas sehingga apa? Sampah tersendat.
Akhirnya apa? Pemulung dibayar murah.
He he.
Oke, Kang Yusuf. Hatur nuhun, ya. Hatur
nuhun. Nanti
terima kasih, B.
Kita harus buat buat apa istilahnya
silaturahim nih di Bandung.
Kandung
aya KDM, aya Faran, aya ITB, Jawa Barat,
aya IPB, aya UNPAT, orang-orang pintar
lengkap gitu.
Betul.
Jadi kalau kalau problem sampah itu
enggak beres itu mungkin ITB disalahin
juga tuh ya. Ini ke mana yuk?
Betul, Pak. Betul.
Nah, gitu ya.
Betul ya. Kalau bagi saya intinya semua
stakeholderber kita satu frekuensi, satu
pemikiran gitu kan. Hilangkan
kepentingan untuk masalah sampah ini.
Benar kata Pak Buksin tadi, ini duit
semua, Pak. Asli ini duit semua. Akan
tetapi kalau penanganannya enggak benar
gitu ya, duitnya dapat, sampahnya
numpuk.
Iya. yang saya rasakan yang saya rasakan
yang saya lihat penggiat-penggiat sampah
khususnya untuk apa ee sektor sampah
sejenis rumah tangga itu enggak akan
lama Pak penanganannya gitu.
Oke.
Jadi hanya dilihatnya adalah emas hitam
oh ini duitnya gede pembangkit tenaga
listrik duitnya gede. Dia enggak tahu
bagaimana mengangkut sampah itu sama
mengolah sampah itu begitu capeknya. H
baik. ee saya pikir
kita sudah mendengar ya ee ya
apa namanya e sebaran problem, sebaran
penanganan perlunya kolaborasi. Ya
mungkin balik lagi deh kita back to
laptop belum banyak ngobrol kita udah
jalan 55 menit.
55 menit nih.
Iya. Berarti sangat
monggo diing lagi
masalah sampah
di-sharing lagi bahan kita. Jadi
tayangannya di tadi di ini
slide berikutnya. Halo slide berikutnya.
Udah ya, Prof? Ini
kok enggak kelihatan ya?
Kok enggak ada ya? Apa yang lain
ngelihat?
E sekarang bagaimana, Prof? Sudah ada
belum? Ya
tadi sudah tayang tapi mati ya.
Eh dari sana dari panitia sebentar.
Oke. Eh, alright. Saya pikir
kita ada menu gitu ya. Tadi beberapa
sudah dikomen ya oleh peserta yang
memang sudah orang lapangan langsung.
pertama ini opsi teknologi. Kemudian
tujuan kita ee nanti kita lihat ada
beberapa materi yang sudah saya
kumpulkan ya, terutama ya bicara tadi ya
istilahnya tuh ee
P apa istilahnya PSL gitu ya,
pengelolaan sampah untuk ee
energi listrik. Nah, bahasanya tegas itu
ya di agenda-agenda terakhir. Ada yang
bilang PLTSA,
lalu ada yang RDF. Ah, untung ruginya
tentunya ada ya semuanya.
Kemudian apa nih? Menilai kelayakan
finansial dan opsi pembiayaan. Nah, ini
ada pendatang baru namanya Danantara.
Kita kupas nanti ya agak di belakang.
Nah, ini model partnership ya tentunya
kelembagaan tadi kemitraan seperti apa,
siapa yang ngambil resiko apa dari hulu
sampai hilir gitu ya. Harus ada
dirijennya tadi kan. Kemudian hal-hal
yang kita harus ee siasati ya tentulah
tidak ada tanpa resiko ya terutama ya
resiko-resiko tadi dari pemda, dari
beragam pihak ya terutama tentang
supply. Jaminan supply tadi ya ada 1000
ton minimum ya sehari.
Saya sih enggak gitu mempermasalahkan
angka ya ribuan atau apapun gitu ya.
Memang mau disebut angkanya nyatanya ya
di TPA
gunung gitu timbulannya. Jadi artinya
ada masalah memang statistik bilang
rata-rata disebut ee 12eng kilo satu
orang. Jadi mungkin itu ee batas atas ya
saya kira. Nah batas bawahnya monggo
kalau mau ditaruh 0,25 0,3. Tapi intinya
timbulan itu menggunung gitu ya. Lalu
kita tertahan di kawasan atau di
perumahan untuk jangan buru-buru kirim
karena enggak ada tempat. Kalau bisa
diamankan dulu sementara. Jadi itu di
Bandung loh ya cerita di Bandung yang
nota bene memang masih bermasalah terus
ya. Bahkan banyak bukan banyak artinya
pernah ada apa namanya malapetaka lah ya
kalau kita boleh sebut. Di Jawa Barat
juga terakhir di Bogor ya atau di mana?
Di Depok juga sama terbenam di Gunung
Sampah ya. Jadi kita enggak ingin ini
berulang terus ya ee cerita seperti ini.
Oke, lanjut.
Ini enggak usah kita bahas ya, mungkin
latar belakang sudah cukup clear. Tapi
intinya ya intinya memang betul sampah
ini boleh dibilang sampah tapi juga ada
nilainya. Jadi dari hulu di tengah
sampai mau dimusnahkan ataupun katakan
gitu ya dihilir ada rangkaian nilai ya
kadang teman-teman menyebutnya supply ya
supply chain rantai pasok saya lebih
senang mengatakan ya value change saja
gitu ya value change. Jadi di
tengah-tengah itu bisa diekstrak,
diolah, diycle atau diuse ya rupa-rupa
untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat.
ee ya bisa positif bisa negatif. Tadi
ada cerita apa tadi dari Kang Yusuf ya?
Cerita impimport impimport ee dari luar
yang merusak nilai gitu ya ee sampah
kita.
Lanjut.
Ini saya pikir sudah kita bahas ya. Saya
kira
utamanya juga penyakit ya. Nah, jadi
open damping open dumping yang memang
sudah dihimbau ya sudah dihimbau untuk
untuk diamankan untuk ditutup yang
klimaks-nya kita tahu ya di Bali ya ada
ketegangan gitu apalagi setelah itu ada
banjir kan gitu ya ada banjir di Bali
barusan jadi saling saling menyalahkan
ya semuanya saling menyalahkan
lanjut
ya ini ya opsi tekn teknologi.
Jadi memang selama ini banyak berjalan
secara konvensional ya, tempat ee
penumpukan akhir ya ya sebaiknya
mengikuti ee standar-standar yang aman
ya, tidak sembarangan.
Lalu mekanisme komposting, rumah tangga,
komunitas yang sudah berjalan,
bank sampah tentunya yang berjalan
secara komunitas ya. Kemudian yang
modern ya ini ada kita boleh tambah tadi
istilahnya ya PS
L gitu PSL untuk ee apa tadi ee elektrik
ya untuk pengelolaan sampah untuk ya
energi listrik jadi lebih tegas gitu ya.
Kemudian juga bisa by producnya bisa
berupa gas, kemudian bisa pelet gitu ya,
berupa pirolisis, ada teknologi khusus,
kemudian ee perbandingannya ya kira-kira
seperti itu. Ee tentunya tidak ada
solusi yang mujarab satu gitu ya untuk
seluruh Indonesia. Nah, jadi ini harus
bisa dieksperimentasi
sebetulnya ya kawasan timur, kawasan
Indonesia Barat, kawasan ee tengah gitu
ya. Apa teknologi yang sesuai gitu
terutama juga yang paling penting
dihilirnya itu penampungannya,
pemasarannya apa gitu. Sebetulnya kita
punya gambaran nanti saya pikir di slide
berikutnya kelihatan kalau kita mau
memulai apa namanya piloting ya yang
lebih besar. Lanjut.
Ee saya pikir ini sudah kita bahas dan
dari curhat kawan-kawan tadi ee sudah
ada. Tapi saya yakin ya perlu kombinasi
ini ya. perlu kombinasi bukan hanya yang
skala besar ya, RDF maupun PSL ya, tapi
juga yang konvensional terutama itu juga
harus terus digalakkan. Jadi ada
istilahnya mungkin regionalisasi
atau
ee skala besar ya seperti tadi disebut
contoh di Jawa Barat di Lebok Nangka
yang jaraknya dari kilom 0 kita kilom 0
kita itu di depan Homan ya kalau enggak
salah di
Dinas PU gitu ya Jawa Barat itu ke sana
itu minimum 40 kil Pak jaraknya. Jadi
bisa dibayangkan saya ngitung-ngitung
berapa armada sehari kalau pulang pergi
bisa berapa jam itu bisa 3 jam 4 jam
kali kan. Jadi kalau memang mau seperti
itu akan tinggi biaya ongkos angkutnya
ya. Nah sekarang juga sudah ada upaya
untuk mempercepat investasi yang di
bantu oleh Jepang sampai sekarang kita
lihat belum ada perkembangan yang
positif ya. kayak saya belum mendengar
gitu ya. Mudah-mudahan sukses tapi
banyak yang mencurigai itu juga akan
mangkak begitu ya. Kita lihat aja.
Oke, lanjut.
Ee ya ini udah saya kira ya ee saya
pikir ada terakhir ya Perpres yang
terbaru yang notab juga sudah ada menu
untuk
langsung dan antara ya. yang ingin
mencoba kelas besar gitu ya. Kelas besar
barangkali diambil tiga lokasi dulu dari
33 atau 10 ya sekarang lagi malah dalam
proses mencari mitra. Jadi ini boleh
kita diskusi nanti ya.
Lanjut.
Oke. Ee mari kita simpulkan ya. Jadi
kita simpulkan dulu apa yang sudah kita
bahas. Saya kira memang gerakan sampah
dari rumah ini harus kita lebih
tingkatkan. Jadi orang-orang seperti ee
tadi yang nomor satu itu ya yang radik
radikal itu harus bisa
apa namanya mempengaruhi ya mempengaruhi
tetangga dan seterusnya untuk melakukan
kebiasaan yang sama.
Jadi harus sering-sering dikasih corong,
dikasih waktu untuk
pendidikan gitu. Terutama juga mulai
dari anak-anak kecil ya, mulai dari usia
dini gitu ya. pendidikan-pendidikan
seperti itu, itu saya pikir akan menjadi
snowballing ya ketika memang apakah
betul generasi kita aja, apakah generasi
yang berikutnya ini saya pikir mereka
sudah lebih sadar ya ee tentang budaya
bagaimana untuk bisa mengurangi terutama
dengan isu climate change sehubungan
dengan ee pernik-pernik persampahan
gitu. bagaimana kita bisa ee menghemat
juga mengurangi ya konsumsi-konsumsi
yang sifatnya merusak lingkungan.
Saya cerita ITB ya. Jadi tadi maaf
memang mestinya rektor ya meminta maaf,
gubernur juga sudah ngajak,
walikota saya yakin juga sudah ngajak
gitu tapi kita belum ada tahu sebetulnya
apa gitu yang sedang dilakukan ITB sudah
diajak mungkin juga sudah diajak tapi
ngajak doang gitu kali ya lali enggak
jelas gitu agendanya gitu ya. Nah, lalu
di ITB sendiri ee kita punya cara ya,
ada cara bagaimana tadi mengelola sampah
walaupun belum sempurna tapi sudah ada
mekanisme-mekanisme.
Kawan-kawan yang bergerak di penelitian
ini yang sering mungkin sudah juga
merambah ke beberapa kabupaten kota ada
namanya teknik teknologi Masaro. ini
Kang Zainal dari Teknik Kimia. Lepas
dari kurang lebihnya beliau terus ya
kalau bahasa saya ya mempropagandakan
biar ini dianut skala menengah kecil
gitu ya. Nah, ini teknologi kimiawi
bagaimana cara kita mempercepat
pembusukan ya ee fermentasi dan
seterusnya ya lalu bisa dijadikan pupuk
ya. Kemudian yang bawah ini istilahnya
biodrying,
peyemisasi ya. Bahasa sundanya teh ya
poemisasi tapi bukan fermentasi ini mah.
Jadi biodi jadi ini Kang Sony namanya
mungkin pernah dengar SS ya di
Kelungkung kemudian juga di Cirata. Nah,
saya terus terang dua-dua ini saya kenal
gitu. Tapi kadang kalau ngobrolnya
berdua ya saling kritik gitu ya. Jadi
saya bilang ini sebetulnya ya harus
berkolaborasi gitu. Enggak mesti harus
masa wungkul, harus peumisasi wungkul.
Enggak dong. Jadi kita cobalah ya kita
buat eksperimen. Jadi di Jawa Barat
sendiri saya pikir tidak kurang kalau
kita mau melihat beragam offaker tadi ya
pemasaran sehingga kita sesuaikan dengan
kebutuhan itu termasuk RDF ya termasuk
RDF. Nah ini biodiiring bagi kawan-kawan
yang tertarik ee saya aduh saya enggak
tulis kontaknya ya. Tapi saya boleh
di-chat nanti langsung aja atau nanti
lewat panitia saya bisa kasih kontak Pak
Soni. Lalu yang Masaruh saya bisa kasih
kontak Pak Zainal ya. Pak Zainal ini
buat paten di ITB. Saya tanya patennya
30% untuk ITB. Lalu bisnisnya gimana? Ya
bisa dibicarakan. Jadi saya enggak
ngerti ini. Jadi apakah penggeluntoran
apa namanya nih paten di luar royalty
PTEN ada bisnis ITB masih diajak enggak
nih? Ah gitu saya karena teman ya saya
berani nanya gitu ya. Kang Zainal ngajak
ayo atuh bila perlu bagi apa? Bagi
share. Waduh, senang saya Pak Zainal 51%
nanti ada yang mau taruh 15, 5 dan
lain-lain gitu ya buat perusahaan atau
apalah gitu ya untuk mengatakan Mas
Hararo ini ya milik bersama gitu kan,
bukan milik perorangan. Nah, ini yang
catatan buat rekan saya Pak Zainal,
Kang Sony luar biasa ya. Jadi infonya
silakan nanti teman-teman. Saya juga
sudah nyaris nih mau pesan kerambah, mau
pesan apa rumah. Jadi apa pengeringan
itu lewat kayak bilik gitu ya, tapi
biliknya tembus cahaya ya. Nanti silakan
istilahnya ini daripada ngangkut
berat-berat jadi mempercepat
pengeringanlah gitu ya sehingga ongkos
angkut juga jadi lebih ringan. Saya
pikir logis ya yang Pak Zainal juga tadi
sangat logis tentunya. Heeh. Jadi ini
ada dua yang terdepan yang barangkali
untuk skala menengah kecil ya monggo
gimana caranya ya mungkin lewat Eco Edu
ini ee bisa
mempercepat penularan ini ketok tular
ini dan kita tes mana yang paling bagus
gitu efisiensi dan efekness-nya.
Nah, yang kiri ini kebetulan ada ada
nomor nomor HP-nya ya. ini rekan kita di
Depok ini. Tiba-tiba kok saya dapat
kontak dia atau dia ngontak saya, saya
juga lupa. Akhirnya saya suruh datang
aja ke RW nginp di masjid gitu. Lalu ada
acara kelurahan, ada acara UNPAT KKN.
Kita diskusilah ada 2 minggu. Jadi kita
belum sempat bungkus gitu. Tetap intinya
udah kebayanglah ya, perlu ada cara
platform mengumpulkan iuran sampah yang
betul-betul amanah gitu ya. Enggak akan
ke mana-mana walaupun tetap ada vendor
tukang angkut ya, Kang Oni enggak usah
nunggu 3 bulan atau ribet ngumpulin uang
per pintu gitu ya. Ini otomatis bisa
dierima setiap bulan bisa dicairkan dan
ada nomor rekeningnya. Nah, ini monggo
ya.
ideal sekali kalau memang jadi ee
koperasi. Jadi setiap KK itu jadi punya
nomor koperasi, nomor member koperasi
gitu ya. Nah, tentunya di situ jadi
banyak ee apa namanya transaksi yang
bisa dilakukan selain urusan iuran
sampah. Nah, ini banyak manfaatnya
termasuk wakaf dan lain-lain lah ya
untuk pengembangan komunitas di akar
rumput. Nah, ini masih belum
ter apa tersosialisasi
dengan baik, tapi saya kira di tengah ee
teknologi digital yang sangat membantu
mestinya ya ee bila perlu juga under
blockchain gitu ya. Jadi tidak ada yang
bisa cheating atau menipu tentang
bayarmembayar ini gitu ya. ee bila perlu
juga smart kontraknya dengan pemda,
dengan tiping fee ya. Jadi harus bayar
tepat waktu dan seterusnya. Jadi
mimpi-mimpi seperti ini bisa dibantu
oleh anak-anak muda yang sedang membuat
startup gitu ya, tentang ee bagaimana
membuat platform pengelolaan sampah.
Bahkan kalau udah bagus dari awal itu
bisa dipraktikkan tadi namanya polluters
pay ya. Ketika memang yang bersangkutan
itu baru radiksnya radikalnya baru
separuh jalan gitu kan. Jadi ngiurannya
enggak mahal ya lebih murah dia gitu.
Jadi bisa dikembangkan ke sana. Jadi
siapa yang mengotori lebih banyak dia
bayar lebih banyak gitu ya. Nah, ini
penting nih. Silakan nanti kalau ada
yang mau dapat nomor Kang Zainal, Kang
Sony, saya dengan senang hati nanti
sharing ke teman-teman dari Edu, Eko Edu
ya. Eko Edu. Kita udah 1 jam
13 menit ini ya. Saya enggak tahu kita
kan jatahnya 2 jam ee sampai jam 12.00.
ee waktu salat zuhur berbeda-beda, tapi
nanti saya pakai waktu barat aja ya.
Nanti kita break ee barang 15 menit gitu
ya atau 10 menit. Bagi yang mau salat
nanti kita lanjut penutup, diskusi
penutup nanti ya. Seperti itu. Mungkin
kalau boleh diambil 10 menit nanti kita
berakhir mungkin 12.10 atau 15 menit
12.15 ya dari jatah sampai jam 12.00
Tapi ini masih lama nih, kita masih
punya banyak waktu.
Saya satu slide lagi nih, nanti saya
berhenti lalu kita bisa diskusi lagi.
Bisa lanjut.
Nah, ini data lapangan ya. Benar sekali
memang kita masih banyak secara alamiah
ya ngelola sampah ini masih sangat
sedikit yang melakukan 3R gitu ya. Jadi
ini
mestinya gambarnya kebalik nih. Gimana
kita bisa membalikkan itu gitu ya. Kalau
enggak ya enggak ke mana-mana. Ini yang
kita bicara yang di akar rumput aja
dulu. Kemudian jenis sampah. Nah, ini
nanti ada yang lebih bagus gambarnya
bisa kita lihat nanti. Tapi ini dulu
ternyata itu ee apa namanya? Banyak dari
sisa-sisa
ya sebutlah dapurlah ya makanan gitu ya.
Jadi umumnya itu bisa dijadikan magot.
Jadi sangat dominan ya, sangat dominan
ee jenis sampah. Nah, ini tentunya
restoran-restoran,
hotel kali yang punya kafe ya, termasuk
perumahan ya itu juga banyak yang
organik yang berupa persampahan dari
makanan. Nah, idealnya memang apa-apa
nilai yang bisa diekstrak ya tadi mid
value atau change value sebelum tersisa
menjadi residu yang harus dimusnahkan
atau mau dijadikan apa terserah. Itu
memang mestinya nilainya banyak di situ
gitu. Ketika memang sampah basah ini
langsung jadi dimusnahkan, lalu ee
tenaga
panasnya dibuat untuk memasak air
menjadi uap lalu jadi listrik. Waduh itu
sayang sekali saya pikir kalau tidak
diekstrak. Nah, agenda dari Danantara
mudah-mudahan tidak sesimpel itu. Jadi
namanya pengembang nanti juga akan ada
alat pemilah pengolah proses di mulutnya
ya. di mulutnya. Tapi kembali urusan
hulu itu pemda gitu yang 1.000 ton
sehari. Nah, ini tentunya teman-teman
pemda kalau hadir pada siang ini, pagi
ini monggo nanti kalau mau sharing
apakah sudah ada diskusi-diskusi
bagaimana cara mensiasati ya supply yang
1000 ton ini.
Oke. Ee satu lagi,
satu lagi atau dua lagi nih nanti kita
tutup dengan teknologi. Lanjut.
Ee ini tadi cerita tos itu ya, cerita
apa ee poemisasi gitu, Teman-teman.
Kebetulan memang perlu area yang sangat
luas. Kalau areanya dapat pinjam ya
bagus. Tapi kalau area diminta lagi sama
pemilik tentunya ya bermasalah untuk
membuat apa? Melakukan pengeringan ya.
Jadi solusi komunitas ini tidak bisa
kita bunuh ya dan dia selalu akan ada
dan ada terus sampai kapanpun ini harus
kita tingkatkan nilainya ya. Tentunya
yang bekerja yang berusaha lebih ya
tentu dapat insentif yang lebih.
Kemudian yang besar-besar, yang
regional, alternatif saya anggap ini
yang sekarang juga kelihatannya jadi
prioritas ingin dilakukan itu ee
termasuklah ya ee hasilnya bisa skala
besar, listrik, BBM maupun gas. Nah, ini
kita kita bisa bedah nanti seperti apa
peran pemda, peran danantara, peran
kampus, peran pendana, peran konon
katanya yang hadir itu hanya ee katakan
ya teknolog-teknolog atau produk-produk
hilir ya dari luar negeri ya dari luar
negeri karena memang mungkin tidak ada
yang proven untuk skala 1000 di
Indonesia gitu sekarang.
Nah, ini tanda tanya ee memang apa
memang kita harus ee lanjut tapi dengan
kehati-hatian tanpa melupakan yang
solusi komunitas ini. Satu lagi
ya, ini kebetulan bidang saya.
Nanti kalau ada yang mau papernya saya
bisa kirim ya sama anak S2. Sekarang dia
sudah selesai S3. Ee jadi kita dulu
ngelihat di kawasan timur Bandung itu
gimana mengoptimasi cara angkut sampah,
bagaimana menschedule, bagaimana ukuran
armada, bagaimana konfigurasi TPA dan
TPS gitu. Ee apa tujuannya? Jadi secara
programa nonline ataupun juga linier ya,
kita bisa menetapkan kita objektifnya
mau apa, zero di mana? Kalau zero di
rumah semuanya bisa disiplin. Wah, hebat
gitu ya. Atau zero di TPA
boleh gitu. Atau minimum di TPS gitu ya.
TPA bersama TPA boleh gitu. Jadi bisa
diatur pengangkutannya, lokasinya,
geografisnya dan seterusnya. Nah,
tentunya harus dibantu dilengkapi dengan
peralatan-peralatan angkut termasuk juga
alat-alat sederhana dari mulai perumahan
TPS dan TPA. Nah, ini
namanya penelitian kan saya kita pernah
presentasi juga ke Dinas Lingkungan
Bandung atau kawan-kawan ya di awal-awal
itu. Nah, praktiknya memang ya enggak
gampang nih katanya ya. Saya enggak
tahulah. Jadi intinya saya pikir
biaya-biaya angkut sampah ini sangat
tinggi. Apalagi mereka harus pelihara
armada ya ee mungkin pelihara ee beli
beli baru apa memang kita harus beli
beli beli terus armada nanti pindah ke
Lobok Nangka juga tambah jauh beli
armada lagi gitu ya. Nah ini
mungkin ada titik optimal yang bisa kita
lakukan tentang angkutan sampah ini ya.
Nah, saya dapat inspirasi nih.
Mudah-mudahan Bapak-bapak, Ibu-ibu yang
hadir di sini bisa memberi masukan nanti
ke saya, bisa lewat chat ataupun nanti
bagaimana ya, khususnya Jakarta nih. Ini
gubernur kita Pak Promono Anung,
kebetulan alumni ITB juga ya, Pak
Pramono. Ee
sudah banyak PR Jakarta yang mangkrak
gitu kan. sekarang juga mau mulai lagi
semangat ya panjang ceritanya kalau mau
diceritakan. Namun bagaimana kalau kita
pikirkan ya sampah di Jakarta karena
Jakarta nih punya pulau 1000 gitu ya.
Nah ini mungkin provoking aja nih punya
pulau 1000 artinya pulaunya ada 1000
gitu ya atau namanya 1000.
Kita pilih beberapa gitu ya. Kita
reklamasi aja dengan sampah. Kita
reklamasi dengan sampah. Jadi intinya
kita harus punya dermaga di kawasan
Jakarta Utara, Priok dan sekitarnya.
Lalu dermaga lagi di sana gitu. Lalu
sampah ini diangkat dengan tongkang.
Perkara mau diolah silakan, lebih
gampang lagi jauh kan. Kalau mau diolah
di sana dengan teknologi apa. Tapi
paling enggak daratannya dijadikan eh
sori ya daratannya dijadikan lebih lebar
gitu istilahnya reklamasi alamiah.
Nah ini boleh nih ya kalau ada yang mau
buat tugas akhir ataupun tesis disirtasi
kita bisa hitung-hitungan kelayakannya
gitu ya. kita bisa hitung-hitung
kelayakannya. Ee yang pasti sementara
Jakarta ini ya memanfaatkan rorotan
katanya yang bermasalah. Bantar gerbang
juga coba-coba ada di Sunter. Nah, ini
ee oke mungkin secara lingkungan udah
pastilah ya ee bukan tanpa gangguan
tentunya ya. keluar masuk nanti angkutan
segala rupa. Nah, bagaimana bisa
dilakukan eksperimentasi atau juga
dihitung lebih ketat dari awal? Kalau
kita reklamasi aja Pulau Seribu
sebagianlah kan punya 1000 ya mungkin
berapa biji gitu direklamasi dengan
sampah. Nah, mungkin bisa membantu juga
Jabo theek ya, bisa membantu
pemda-pemda yang lain Jabo The B
ngangkutnya mungkin bisa pakai kereta
api pindah ke mana? Ke tongkang gitu
kan. Kalau yang dari jauh-jauh pisan
kalau dari Jakarta ya pakai truk lalu
pakai tongkang gitu ya ke sana. Nah, ini
ee ide outside the box aja. Saya juga
mau mencoba me apa namanya? Mencoba
menghitung-hitung gitu. seperti apa
efisiennya
kalau dilakukan reklamasi sampah gitu
ya. Bahkan ini kan bumi ini kan alamiah.
Apa yang kita ambil dari bumi juga
alamiah juga ya. E segala rupa fosil dan
lain-lain ya. Mungkin nanti plastik juga
mungkin ya jadi minyak juga gitu kan
ujung-ujungnya kalaupun jadi mereklamasi
pulau itu gitu ya.
Satu lagi deh. Boleh. Nah, ini ada yang
belum saya sebut ya, Teman-teman. Yang
saya berhasil berinteraksi dalam waktu
kurun mungkin 6 bulan atau setahun ini.
Kita doakan
ini agak kepotong ya, enggak apa-apa.
Kita doakan Pak Husein ya, Husein Ahmad
Husein bekas bupati Banyumas. Cepat
sembuh. Saya juga belum bisa kontak lagi
karena beliau dapat serangan jantung
ketika belajar sampah ke Cina gitu ya.
Dia sudah ditugaskan oleh Pak KDM
sebagai staf khusus ngurus sampah dan
dikasih eksperimen di ee Sarimukti. Saya
enggak tahu. Jadi, bagi teman-teman yang
tertarik tentang fenomena ini dan hasil
diskusi kami, boleh nanti saya sharing.
Kita diskusi panjang lebar bagaimana
caranya untuk bisa menguji lanjut
walaupun masih belum sempurna ya
teknologinya, terutama dari sisi emisi,
tapi ya enggak apa-apa itu teknologi
lokal yang bisa kita manfaatkan.
Kemudian ada satu lagi namanya AWS. Ini
saya kenal namanya mirip sama saya Harun
Al Rasyid juga bekas orang PLN. Kemudian
ada mitranya namanya Jalamp Prong ya.
Jalamp Prong ini yang foto kedua. Nah,
ini bekas orang IPTn. Gua bisa buat
pesawat masa gua enggak bisa buat tungku
katanya. Gitulah jualannya Pak Jalampong
ini. Nah, ini ada data-datanya silakan
diverifikasi. Terutama konon katanya
untuk B3 rumah sakit ya. B3 rumah sakit,
tapi mereka juga sudah membuat
produk-produk. Ee nah ini biasanya
mereka dalam tanda petik sudah ada
dananya silakan ada harga gitu. Jadi
yang CSR CSR yang daripada nunggu proven
teknologi monggo ini bisa diambil yang
ini sudah banyak ee praktiknya di
beberapa titik di dalam dan di luar
negeri. Nah, ini saya dapat berapa nih
ya mempromosikan AWS nih? Pak Jalr
Prong, Pak Arun.
dan juga Mas ee Husein juga dulu dibantu
oleh rekan-rekan ini di Banyumas sana
awal-awalnya. Jadi ceritanya mungkin
banyak tidak keluar, namun bagi yang
tertarik kita bisa diskusi karena memang
ada trik and trik gitu ya dalam
implementasi tungku ini ya insinerator.
Oke, saya stop dulu ee di situ
ee nanti kita diskusi lagi. Ee ini kita
bisa pakai 15 menit kali ya. Atau kalau
di Indonesia Barat zuhur jam berapa di
ini?
ee sekitar 1140-an
kalau enggak salah, Prof.
Saya cek ini ya sebentar biar enak aja,
biar tenang.
Ini karena sebagian kita kan muslim ya,
jadi saya kira kalau sampah ini enggak
beres, malu kita. Karena hadis itu
mengatakan kebersihan itu sebagian dari
iman. Ya,
ini jam
jam zuhur betul 40 ya. Jadi kita ada
waktu ee 15 menit lah ya. 15 menit untuk
diskusi nih ya. Jadi ee satu lagi juga
di Muslim ini kalau sering salat Jumat
khususnya yang ikhwan-ikhwan ya itu
selalu ditutup dengan
apa itu? Innallaha yam'muru bil adli wal
ihsan waaizil qurba waanha anil fahsya
wal munkar. Ah itu urusan sampah itu ya.
Jadi kalian harus berbuat adil. In yau
bil adil wal ihsan. Berbuat baik.
Inal adil wa ihsan. Waaiil qurba.
Bantulah kerabat-kerabat, famili-famili
dekat. Lalu janganlah kalian
ee membuat fahsya. Ya, fah itu ee
merusak diri sendiri. Ee mungkar merusak
pihak kedua ya. Ee wal bag bahasa Arab
ya. Albag. Saya terakhir juga mau bisa
bahasa Arab karena saya enggak pernah
belajar bahasa Arab. Terakhir-terakhir
kok saya tertarik belajar bahasa Arab.
Jadi ada levelnya merusak diri sendiri,
merusak pihak kedua, mungkar. wal bag
keos membuat keos. Jadi kalau kita
tumpuk sampah ini kita buat keos sudah
kalau sampah kita apalagi bisa korban
ya. Nah ini kita sebagai negara yang
mayoritas muslim saya kira urusan sampah
ini adalah cermin dari sebutlah ya kita
mengaplikasikan nilai-nilai muslim. Jadi
ini beda antara agama dan penganut ya.
Jadi kualitas penganut kita mungkin ya
segitu masih kalau masih urusan sampah
kita belum beres. Nah, itu mungkin apa
ee yang salahnya dari saya, mungkin yang
benar dari Allah Subhanahu wa taala.
Monggo 15 menit siapa yang mau angkat
tangan? Pak Erwin nanti dulu ya. Mungkin
ada yang lain. Ee
ada yang lain. Ee siapa nih ee yang
sudah angkat tangan?
Ada yang rais hand Pak Safril ya.
Safril.
Safril Kasim. Ada Pak Fajar. Pak Erwin
nanti dulu ya. Tadi putus tadi Pak
Erwin. Silakan. Mangga Pak Safril.
Baik terima kasih Prof. Farun.
Prof. Farun yang saya hormati Bapak Ibu
semua. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh. Ee saya mulai tadi dari
kebetulan di ujung
presentasi Prof. Harun itu
ya kita sebagai muslim ya.
Iya kelihatannya. Ee tapi juga
catatannya sekian lama bangsa kita ini
ada gitu.
He.
Kita masih bermasalah bermasalah malah
di sektor hulu dari soal persampahan
ini.
Iya.
Padahal kita mayoritas muslim gitu ya.
Jadi kelihatannya ee di tengah kita tadi
Profun menyampaikan value change,
kemudian di hilir kita bicara ee
industrialisasi ya, nilai ekonomi dan
lain sebagainya. Tapi kelihatannya dari
Jakarta sampai Papua mungkin masalah
kita sebenarnya di hulu.
Iya
ya. Saya melihat setiap hari itu kalau
saya jogging pagi di tempat saya di
Kendari Prof. di daerah yang baru saja
diselenggarakan STQ Nasional di Tugu ee
religi MTQ itu setiap hari ada petugas
yang di
beri tanggung jawab untuk mengais
orang gitu ya. Artinya sebenarnya
persoalan kita dan ini saya kira juga
terjadi misalnya di GBK gitu ya selesai
acara besar paling tidak yang paling
kelihatan itu selesai salat Idul Fitri
kita muslim tuh koran itu berhamburan di
mana-mana gitu. Saya pernah sampaikan
ketika saya diundang oleh Pemkot untuk
sharing masalah sampah. Saya bilang sama
Kadis LH, "Pak Kadis, sebenarnya kinerja
Bapak itu akan terbukti gitu. Kalau
nanti di salat Idul Fitri beberapa
tahun, katakanlah Pak Kadis punya target
kapan gitu, itu sudah enggak ada sampah
di Masjid Agung tempat kita salat semua
gitu." Jadi apa yang saya mau katakan
sebenarnya apa ya kita mau sebut apalah
rekayasa sosial atau social engineering
atau apapun tapi itu yang kita butuhkan
dan pemerintah kita itu kelihatannya
enggak pernah fokus di urusan itu. Jadi
kita semua ngurusin hulu, tengah hilir
ya enggak apa-apa diurusin semua asal
ada yang beres gitu.
Pertanyaannya kan setelah sekian ratus
tahun tadi siapa tadi yang sampaikan
bahwa Jepang 100 tahun gitu. Kalau
pengalaman kita di negara-negara maju
juga saya kira kita pernah semua ke
beberapa negara gitu ya, kita melihat
mereka sudah selesai lama ee soal
pembuangan sampah pada tempatnya
pengumpulan pemilahan itu sudah selesai.
Mereka mereka tinggal cerita value
change, commercial dan lain-lain
sebagainya teknologi yang bagus. Nah,
kita kapan nih targetnya Prof. Paron
kira-kira gitu ya. Kapan nih kita
selesai dengan urusan hulu persampahan
kita? masyarakat sudah dengan sendirinya
sadar mau membuang sampah pada
tempatnya, mengumpulkan, menilah dan
lain sebagainya. Target kita kapan gitu.
H.
Nah, kita enggak pernah mendengar
misalnya ada target misalnya 5 tahun ke
depan ya sudah masyarakat ini 80% lah
sudah punya kebiasaan itu. Kalau bangsa
lain 100 tahun lalu masa kita sampai
saat ini belum ya h
enggak enggak kelihatan dari gitu itu.
Nah, mungkin kita perlu menyuarakan itu
secara nasional. apa nih target
pemerintah kita selesai dengan urusan
apa melibatkan ee budayawan, melibatkan
tokoh agama dan lain sebagainya sehingga
ya kita tinggal ngurus value change-nya
dan
ee teknologi dikomersialisasinya mungkin
gitu.
I
tapi kalau kita enggak pernah selesai
dengan ini kapan kita
Iya. Nah, kan gitu ya. Saya saya poin
saya itu, Pak. Mungkin perlu kita
galakkan itu
penyampaian untuk di dikasih target lah
kapan kita perlu selesai secara nasional
gitu.
Saya kira itu mungkin Prof. Paron yang
saya ingin sampaikan. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Wabarakatuh. Jadi ketika saya terakhir
sering ke Bali ya, termasuk Bali kan
juga banyak rekan-rekan kita dari agama
Hindu ya. Em ya saling nyalahin juga ya.
Bahkan di sana gunung-gunung sudah jadi
properti gitu ya, semuanya
resapan-resapan banjir ya, God-nya
mampet ya. Jadi ee saya pikir ini
ee ya umatnya
bukan bukan ajarannya yang salah tapi
kualitas umatnya ya. Kita harus ee
improve. Kalau Aa Agim bilang mulai dari
dirimu sendiri dulu ya yang paling
dekat. keluargamu ya mungkin suka enggak
suka ya saya pikir ya kita harus banyak
volunteir kayak seperti Kang Yusuf tadi
kemudian di mana pun gitu ya untuk bisa
mengketok tular apa yang bisa kita
beresin di lingkungan terdekat kita dulu
gitu.
Silakan Fajar. Fajar sudah angkat
tangan. Tapi mungkin sebelumnya mungkin
Prof. Parun ya mungkin begini maksud
saya itu ada suara dari kita gitu
akademisia ya
secara nasional itu ada target gitu.
Kapan sih pemerintah mau membereskan
masalah hulu persampahan kita ini?
Iya
gitu kan
ya. Kalau enggak ada target seperti itu
kita jalan terus nih sampai kapanp
masalah ini akan terus ada dan
road road map-nya ya Pak ya. Road
map-nya seperti apa?
Kita targetnya di hulu ini kapan gitu.
He
gitu. Saya kira itu mungkin Bu. Oke, ee
kita dengar yuk. Eh, Mas Fajar dari
mana, Pak Fajar?
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Ee saya dari Bekasi, Prof.
Ee
ee saya mohon maaf karena saya sangat
awam di bidang pengelolaan sampah gitu.
Dekat Bantar Gerbang enggak? Bantarbang.
Betul betul, Prof. Dekat banget, Prof.
Gimana itu? dramatisir sikitlah
ceritanya biar kawan-kawan dari Kendari
dengar.
Kalau areal-areal Bantar Gebang itu
jelas yang paling berasa itu aroma,
Prof.
Oh,
itu pasti gitu.
Aroma itu pasti luar biasa karena memang
baunya tercium itu sampai sekian kilo
mungkin ya.
Hm.
Gitu, Prof. Nah, kebetulan saya ini
aktif di sebuah sekolahan, Prof. gitu. H
di sekolahan yang yang sekolahannya
dekat areal Bantar Gebang dengan jumlah
siswa kurang lebih sekitar 1200-an,
Prof.
Iya.
Tentu kami menghasilkan banyak sekali
sampah di sana gitu.
Dan yang sementara ini hanya kita
lakukan adalah
sampah diambil atau diangkut dan dibuang
ke Bantar Gebang begitu saja, Prof.
Gitu.
Dan ee saya sendiri melihat ada tuh
beberapa terobosan misalkan ada mesin
atau apa alat
insinerator ya? ya, Prof. Ya,
pembakar. Tungku pembakar sampah itu.
Kemudian ada juga merubah sampah menjadi
bahan bakar meskipun kami belum pernah
mencoba, Prof. gitu.
Heeh. He.
Nah, itu yang ingin saya tanyakan.
Seberapa efektif alat tersebut? Begitu,
Prof.
Iya.
Apakah memungkinkan atau apakah bisa itu
diterapkan di sebuah lembaga pendidikan
atau sekolah seperti itu, Prof?
Iya.
Ya, saya kira itu saja, Prof.
Iya, makasih, Prof. Jadi, ini pertanyaan
lalu dari Bapak yang dari Kendari tadi
meminta roadmap. Roadmap itu sebagian
ada di slide terakhir saya buat, tapi
enggak apa-apa Jar, Pak Fajar ee saya
pikir kita konkret aja. Ee tentu ya ee
sebetulnya kan isu lingkungannya
kalau sembarangan tungkunya gitu ya,
prosesnya tentunya juga ee mengganggu ya
mengganggu lingkungan. Jadi memang ini
kita memang banyak berharap karena
banyak akar rumput yang mengembangkan
teknologi
menengah kecillah ya kita anggap ya
mungkin barang 10 20 ton per hari diolah
dengan manual. atau semimanual ee
rupa-rupa dijadiin pelet apa dijadiin
tadi ada poemisasi istilahnya ada Masaro
juga ya atau yang lain-lain juga
tentunya banyak gitu.
Nah, akhirnya ada di residunya itu
dimusnahkan dalam tanda petik gitu. Jadi
nilai-nilai tengahnya sudah dimanfaatin.
Nah, ketika memang pemanfaatan tungku
yang Pak Fajar mau coba gitu tentunya
ini juga harus ada tempat ada area yang
mencukupi ya paling berapa 200 300 m
gitu. Kalau skala skala
RW lah ya atau skala sebutlah seperti
itu tadi kampus ya atau sekolah gitu ya.
Kemudian teknologinya juga ya bahasanya
ya harus tersertifikasi.
Nah, saya kebetulan juga anggota baru
dibuat teman-teman di apa itu BPLH atau
juga KLH sekarang namanya. Saya juga
sudah sharing ya slide-nya di belakang
kemarin juga saya sudah ngomong titip
ya. kiranya memang ee pihak KLH, BPLH
ini harus lebih aktif lagi untuk
proaktif bagaimana ya kan open dumping
sudah enggak boleh, sanitary landfel
juga terbatas, lalu tungku banyak
inovasi macam-macam bahkan ada yang coba
pakai hidrogen lah segala rupa. saya
sering dengar itu ya turun untuk bisa ee
membuat standar kepastian ya
uji emisi gitu aja apapun caranya. Saya
mendengar juga dari peneliti-peneliti di
ITB. Kebetulan tadi saya juga bilang ee
di ITB sendiri ya ada mazhab-mazhabnya
fakultas-fakultas kan gitu. Kalau dia
dari hayati namanya itu sekolah ilmu
life science ya tentu ya.
dia lebih senang dengan pembusukan ya
ataupun gitu. Lalu yang teknik kimia
juga barangkali sama, tapi yang dari
mesin itu senangnya yang panas-panas
gitu kan.
Jadi sama jadi
ini harus dikolaborasi. Jadi
mudah-mudahan nanti saya akan taruh di
chat ya ee nomor kontak rekan-rekan kita
itu termasuk nanti nomor kontak saya ya.
Kita lanjut ini Fajar ya. Sementara kita
break dulu 15 menit ya, nanti kita masuk
lagi ee berarti 55 atau jam 12.00 ya
untuk kita lanjut sampai lewat 15 atau
lewat 20 atau teman-teman mau .30 juga
saya sih oke aja. Kita break dulu ya
Bapak-bapak, Ibu-ibu. Ee sekitar 15
menit.
Silakan Dini
ya. Iya. Baik ee Prof. Kita akan break
dulu 15 menit untuk untuk salat zuhur
dan juga mungkin untuk istirahat
sejenak. Nanti kita akan kembali lagi
pada jam 11.5
menit seperti itu ya, Prof. ya.
Sampai jam 12.00 paling lambat.
Baik, sampai jam 12.00 baru kita mulai
kembali.
Baik, Bapak Ibu ee selamat beristirahat
sejenak.
ee sambil nunggu kawan-kawan yang lain
ya, barangkali
ee ee sambil nunggu mungkin ee 2 3 menit
awal kalau ada yang ready mau bertanya
boleh
silakan.
Sebelum kita lanjut ee beberapa slide
penutup penting ya.
Ada. Oh, ada Pak Erwin. Silakan Pak
Erwin.
Oke, Pak Harun eh minta maaf tadi ada
kendala sedikit di laptop.
Alhamdulillah sudah bisa diatasi. Ee
tinggal sedikit lagi, tinggal kesimpulan
permasalahannya sudah banyak disinggung
disampaikan tadi oleh
kesimpulan yang saya coba radar.
Pertama, permasalahan sampah ini sangat
sangat sangat sangat kompleks. Jadi,
tidak bisa dilihat dari satu perspektif
dan penyelesaian dengan satu ee
pendekatan. Intinya adalah
ujung-ujungnya duit di pendanaan. Karena
sampah itu adalah kegiatan eh compli
environmental compli bukan eh profit
center. Jadi ini cost center. Jadi
memang harus ada uang untuk bayar servis
e kebersihan. Sementara pelayanan sampah
zero yang berdasar undang-undang itu
menjadi tugas tanggung jawab dari pemda
dan pusat. Ternyata data dananya juga
terbatas. PAD-nya rata-rata dari hasil
pengamatan kami itu tidak lebih dari 1%
APBD. Sementara harusnya sih sekitar 4
sampai 5%. Nah, kalau kita lihat di
tetangga kita Singapura okelah kita
tidak bisa jadikan referensi tapi di
sana teing fe saja sudah 77 dolar
Singapura per ton. Kemudian fit in tarif
kalau dijadikan listrik juga dibeli oleh
utility di sana cukup lumayan. di Jerman
ting fe 130 sen per euro. Jadi ee sori
30 130 euro ini bukan sen. Nah, jadi ee
kelihatannya memang kita tidak bisa
bandingkan dengan negara-negara di luar
ya. Nah, negara kita tadi sangat miskin.
JDP kita masih di bawah 5.000 dolar per
kapita. Jadi rasanya agak berat sekali
kalau mereka harus di mintakan ee apa?
Tanggung jawab untuk membayar sampahnya
lagi. Tetapi kita tidak bisa diam. kami
setuju dengan langkah-langkah
pemerintah. Ee kemarin sudah dilakukan
ee sedikit ee apa perbaikan ee Pak
Prabowo sanggup untuk menangani
kota-kota besar yang sapanya sudah
melebihi 1000 ton per hari akan dibantu
ee dengan pendanaan yang mungkin lebih
mudah untuk pendari-cari
dua untuk toping fee ee tetapi nanti
akan dibantu oleh danara. Nah, sementara
pemda-pemda yang lain yang masih ada 500
15 kota ya mungkin lebih ee sisanya dari
33 mungkin sekitar 490-an
ini harus tetap berupaya untuk
menyelesaikan sampahnya dengan cara
adanya perubahan regulasi supaya prinsip
seperti Islam yang kuat membantu yang
lemah. Nah, ini yang mungkin perlu di
diterapkan. memang tidak mudah tapi ya
harus dipaksa ee sehingga nanti ee
rumah-rumah mewah, rumah-rumah yang di
real estate itu harus bayar sampahnya
lebih besar per tahunnya ketimbang
orang-orang tinggal di daerah kawasan
Komo kayak di Bandung mungkin di ee
Siliwangi atau daerah-daerah Dago atau
daerah-daerah Kumo ya. Nah, ini harus
dibedakan e tarifnya per ton sehingga
nanti ee dana-dana yang diambil lebih
dari yang mampu itu di subsidikan ke
daerah-daerah yang masih belum mampu.
Ini yang menjadi ee solusi yang kalau
saya lihat ee salah satunya adalah
demikian karena mengharapkan PAD
meningkat dengan pertumbuhan ekonomi 5%.
Saya enggak yakin tahun 2045
Indonesia emas ini sudah selesai. Tidak
yakin ya. ini sangat berat sekali kalau
kondisi infrastruktur atau kemampuan
pendanaan tumbuhan ekonomi Indonesia
masih ee biasa-biasa seperti sekarang
saja. Nah, ini mungkin sebagai masukan
Pak Harun ee supaya nanti jadi catatan
ee Prabowo supaya ada konsep regulasi
yang memaksa yang kuat bayar yang
membantu yang lemah. Sehingga nanti uang
kelebihan ini dipakai oleh masyarakat
untuk membeli 3 tong sampah minimal tiap
rumah harus wajib fardu ain 3 tong
sampah. Sehingga pemilihan itu harus
dimulai dari dari sumber dari rumah.
Kayak di Eropa, di Sydney saya sudah
pernah lihat mereka sudah pilah sampah
itu di rumah. Kalau mereka buang sampah
di tong yang sampah yang salah misalnya
pil kota apa e kulit pisang atau bekas
nasi ditaruh di tempat plastik yang
anorganik itu tidak akan diangkut sama e
pegawai sampah karena pegawai sampahnya
mereka berbeda yang organik dan
nonorganik. Nah, ini mungkin jadi eh apa
action plan atau program yang harus
dilakukan walaupun memang ujung-ujungnya
juga pemerintah harus menyediakan taman
dana ya, terutama untuk sosialisasi,
edukasi menk, SD, SMP dan seterusnya.
Belum lagi nambah infrastruktur tadi
beli tong sampah, truknya ditambah,
petugasnya ditambah pengawasannya,
ditambah. Nah, ini semua memang sambil
jalan. Nah, sehingga memang ini berat
tapi we surely but slowly. Itu aja
mungkin Pak Harun eh sebagai masukan.
Terima kasih.
Itu sudah closing remark itu
Pak Erwin.
Suara saya kedengaran enggak ya?
Kedengaran.
Kedengaran ya. Oke, kita ada satu orang
lagi nih, Samsul. Silakan sambil nunggu
yang lain walaupun sudah masuk semua ya
mungkin 537. Silakan Pak Samsul.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Satuh silakan. izin
memperkenalkan dari Aceh, Pak Prof.
ee waba waba
baget, Pak. Agak baget.
Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Pertama, memang kalau penanganan sampah
ini tidak berbagi peran, enggak
maksimal.
Apalagi memang
pesan peraturan itu selesai di sumber.
tadi menarik menurut kami yang di masih
gagaplah nih terkait dengan penanganan
sampah ini di sumber ee
yang disampaikan Pak Yusuf Firdaus tadi
kami boleh mau belajar lebih lanjut
bagaimana menggerakkan komunitas sebagai
bentuk partnership pemerintah gitu, Pak
sehingga selesai di sumber itu mungkin
ee kami mohon dibekali lagi nanti secara
mendalam sehingga PD
komunitas-komunitas
di apa namanya di statement-segmen
tertentu karena memang tipikal wilayah
kami agak linier jauh, Pak. Begitu dari
pusat ee pengelolaan sampah akhir di
TPA-nya.
Maka solusinya harus pendekatan kluster
selesai di beberapa titik. Kemudian yang
paling
ee teranyar sekarang ini kan PSL tuh,
Pak. yang memang sudah turun kebijakan
dari kementerian.
Tapi masalahnya
volume timbulannya, Pak menyebabkan
menjadi pertimbangan. Cukup enggak bahan
bakunya seperti kami di Aceh Utara
ee kayaknya jadi terlalu berat, Pak,
jumlah yang di syaratkan untuk
lebih ee minimal 1.000 ton itu, Pak.
gitu loh. Sehingga
ee apakah memang harus sebesar itu
volumenya sehingga PSLI itu jadi
terlaksana gitu atau ada solusi lain?
Memang
wilayah kami di Aceh Utara berdekatan
minimal tiga kabupaten kota bisa jadi
satu lokasi.
Pak Samsul dari pemda apa dari
dari pemda, Pak. dari I ya.
Jadi sampai sekarang kesulitan
menggerakkan
partnership itu komunitas sehingga
berbagi peran itu tidak maksimal, Pak.
Makasih, Pak, sarannya. Asalamualaikum.
Thank you, Pak Erwin. Thank you, ee Bang
Samsul. Saya di chat sudah sharing ya
nomor kawan-kawan.
Kang Yusuf punten sekalian aja Kang
Yusuf. Nanti teman-teman mau connect ke
Kang Yusuf belajar akar rumput ya.
Tolong di-share aja nomor HP-nya Kang
Yusuf ee di chat ya. Saya juga nanti
saya juga sudah kasih nomor saya di
situ. Nah, kalau tentang ekonomi politik
politik ekonomi ya kita boleh bahas
kereta api cepat, kita boleh bahas
angkutan umum, kita boleh bahas ya saya
pikir itu memang ada konseptual dan
bicara sampah saya kira betul ee
termasuk juga barang publik sangat ya.
Apakah kita perlu beli senjata
banyak-banyak kan gitu alut sista gitu
kan ratusan triliun ya bisa diklaim itu
penting untuk pertahanan negara gitu kan
itu wajib gitu dibeli. Nah pendidikan
apalagi 20% katanya tahun depan kalau
enggak dirubah ya itu 300 triliun itu
dari pendidikan untuk makan bergizi
gratis. Waduh.
Nah, itu jadi persoalan
1 tahun Prabowo ee saya pikir sudah
banyak dibahas di mana-mana. Saya
melihat sendiri banyak program-program
Giant yang notabangkali
cara eksekusi ya, cara tenokrasinya
masih sangat disayangkan ya, harus
disempurnakan ya. Apalagi bicara
perumahan 3 juta. Saya kebetulan ee
memang bergaul dengan kawan-kawan
asosiasi ataupun apa namanya itu Hood
ya, Housing Urban Development Institute.
Bahkan kita punya tanggung jawab ini ya
Kementerian PKP ini karena kompornya
dulu dari kawan-kawan juga biar dibuat
PKP ini saya bilang ya harus dikawal
terus itu
PKP ya. bagaimana bisa mempercepat
delivery masyarakat berpenghasilan
rendah bisa mempunyai hunian yang layak
gitu ya. Jadi ee kembali saya pikir kita
enggak akan bisa tuntas ya. Paling
enggak ada nomor tadi Pak Samsul, nomor
Pak Yusuf tadi ya, nomor saya, nomor
Kang Sony itu untuk drying tadi ya,
untuk pengeringan. Kemudian Zainal untuk
pembusukan ya mereka aktif sekali. Lalu
ada juga nomor HP Pak Slamet ya kalau
enggak salah platform digital untuk
akcountability iuran sampah ya kira-kira
gitu. Kita ada waktu nih ee barang saya
mau lanjut ke slide dulu ee barangkali
bisa dibantu kembali slide kita bicara
tentang danantara aja langsung ya sama
bicara tentang apa yang disebut dengan
value for money gitu ya. Jadi sebetulnya
konsepnya kan tidak apa, tidak
canggih-canggih amat sebetulnya.
Sepanjang kita berpegang kepada kaidah
ya mau apapun enggak ada masalah gitu
kan.
Ee mungkin saya boleh pilih ya slide
nomor berapa karena waktu kita sangat
terbatas.
Saya pilih mungkin nanti kita bisa
mundur. Yang pasti kita ada pemain baru
ini namanya Danantara.
Ee saya pilih dulu mungkin yang nomor 24
kali ya. Slide 24
ada gambar kemitraan dan kelembagaan.
Kemitraan dan kelembagaan. Slide 24
setelah 23
bisa dibantu, Din.
Iya.
I
ya. Betul.
Oke. Ee singkat aja ee tidak
berlama-lama. Jadi ini penting ya ee
kita membetakan peran siapa berbuat apa
dalam konteks danantara.
Ee barangkali
ya secara hukum silakan kalau
teman-teman masih mempertanyakan posisi
dan antara sebagai project fasilitator,
sebagai partner selection manager,
mencari mitra kemudian untuk membantu
transaksi ya advisory gitu ya dan antara
perannya seperti itu. Pemda itu berperan
untuk ee menjamin pasokan daripada
sampah yang tadi dimasukkan dalam
Perpres itu memang dimulai yang paling
kritikal, yang paling bermasalah ya.
1.000 tentu bukan berarti yang lebih
kecil tidak penting, kan. Nah, ini yang
mungkin kita perlu lengkapin. Kemudian
ee pemda juga sebagai regulator untuk
urusan izin-izin pembangunan, lokasi dan
lain-lain. Kemudian juga harus
mengadakan ee semacam meminjamkan gitu
ya line ee untuk area ee mana namanya
pengolahan itu ataupun industri itulah
mungkin cukup berapa ee 500 m tergantung
teknologinya ya. Kemudian support
tentunya infrastruktur pendukung. Nah,
ini mungkin air kali ya sangat penting
ya untuk pendingin dan lain-lain.
Kemudian swasta ini sayangnya memang
tidak ada lokal yang masuk karena memang
ee tadi ya proven teknologi skala grande
itu ya kita belum punya kecuali dibuka
pintunya itu boleh seri jadi 2500 ee 10
gitu kan atau ee 5200. Ee asalkan bisa
dibuktikan lebih efisien, lebih murah
kan mestinya ada dibuka seperti itu gitu
ya. Bahkan ada mid produknya bila perlu
ya dipertandingkan. Siapa yang bisa
memeras sebelum dibakar itu ada
value-value yang bisa diambil. Nah,
tentunya yang terakhir memang ini berat
ya bagi PLN, tapi dia juga sudah dibantu
oleh pemerintah dalam hal ini state
budget ya untuk menutupi ee katakan
harapan daripada pengembang ya. Jadi
saya mendengar kalau enggak salah
angkanya PLN itu ee hanya mampu 7 gitu 7
sen per kW lebih kurang kilow hour. Nah,
ini pertandingan para pemasok ini
seperti apa? Apakah kita meminta paling
murah? Misalnya kalau dia mintanya 10 ya
nanti pemerintah mungkin dalam tanda
petik mentop up gitu ya ee dari
kekurangan PLN. Tapi PLN sendiri khusus
di Pulau Jawa kita mengerti kelebihan
pasokan. Eah lalu juga isu tentang ee
energi baru terbarukan. Bagaimana dengan
agenda-agenda energi baru terbarukan
yang lain selain sampah. Jadi ini PR
kita banyak. ee kita selama ini sudah
mengenal apa namanya ee KPBU ya, kerja
sama pemerintah badan usaha. Kita kenal
juga B2B yang diskusinya cukup
berkepanjangan, urusan kereta api cepat
gitu.
Kemudian tentunya yang full APBN. Jadi
memang ee sekarang tidak akan ada lagi
PMN ya. Tapi the game is the same ya,
bagaimana bisa meningkatkan
eh pelayanan dalam hal ini mengadakan
aset infrastruktur yang baru bahkan juga
untuk dipelihara yang sudah ada. Jadi
ini yang penting sebetulnya aset
manajemen gitu kan. Kalau dia baru
tentunya masalah ee namanya value of
money-nya seperti apa. Nah, ini terus
terang ee ini mestinya ada ting tank ya
di balik situ untuk memastikan ee apapun
pilihannya itu adalah yang paling
efisien.
Yang paling efisien biasanya yang paling
rendah kapex juga paling rendah risiko
kan gitu kan. hanya ada dua biaya itu
hanya ada dua biaya itu cara lama juga
ada itu KEX sama dengan risiko tentu
juga dengan OPEX yang baru bagaimanapun
teknologinya
itu juga harus bisa diukur sehingga kita
mengatakan pilihan terakhir itu bisa
yang paling rendah itu gap-nya yang kita
sebut dengan value for money gitu ya
dengan inovasi-inovasi tentunya apalagi
bicara hutang kalau hutang itu harus ada
cost of money-nya Jadi value inovasinya
harus lebih tinggi daripada korban cost
of money. Nah, ini tentunya yang harus
kita buktikan. Sayangnya kita selama
berjalan hampir 30 tahun ya, KPBU
ataupun KPS ataupun namanya P3 kita
tidak ada bukti yang real seberapa
efisien infrastruktur yang dikerjamakan
dengan pemerintah dan badan usaha. Nah,
kalau kita tanya kawan-kawan yang lain,
tetangga ataupun negara lain ya, mereka
bisa nyebut persentase
efisiensinya. Nah, ini saya enggak yakin
memang terusang ada prerequisit ya. Kita
harus punya pemerintahan yang bersih,
kita punya swasta yang capable, kita
harus punya industri dan civil society
yang mature gitu. Kemudian rules ini
mencari efisiensi hanya bisa kalau model
kemitraan kelembagaannya itu memang
bagus ya, good governance. Kita mau
nyontoh Eropa katanya tapi saya pikir
masih jauh ya apapun ya harus kita kejar
ke sana. Good governance pengadaan
kemudian pemerintah sedikit mengatur
jangan terlalu ikutan menyelam terlalu
banyak gitu kan silakan industri ya.
Saya pikir persyaratan-persyaratan ini
yang ee ingin kita upayakan. Adapun
sekarang BUMN tentunya ada danantara di
segitiga itu kelihatan ya ee bagi-bagi
perannya mungkin contohnya apa ya badan
pengatur jalan tol ya walaupun masih di
bawah ketiak Menteri PU tapi kita
melihat ya ada persaingan lah. Yang lain
saya belum begitu lihat mungkin ada di
Telkom, BRTI ee Listrik mungkin ada ya.
Jadi semacam wasit gitu ya yang kita
perlukan. Nah, ini ee persampahan ee
mestinya ee kalau secara prosedur ya
harus mengikuti KPBU ya walaupun ini
ditugaskan dan antara sebagai pemeran
itu. Saya pikir ini satu slide yang
harus kita bahas. Ee saya kemarin itu
lanjut next page saja.
Nah, saya kemarin kita ada diskusi di
namanya WCC ya, W
Crisis Center yang mungkin baru
di-launching oleh KLH di bypass itu
kantornya. Saya menyarankan ee di setiap
titik ya apalagi ada kampusnya itu harus
membuat satu eksperimen gitu ya.
eksperimen eh by size, by capacity,
teknologinya, by teknologi atau
produknya juga midnya dan by region
karena berbeda-beda. Nah, ini menu ya.
Silakan kalau kawan-kawan ini tersebar
dari Sabang sampai Marauk. Kalau nanti
perlu-perlu kontak aja saya. Kita bisa
kolaborasi dengan Word ee apa nih? Bois
Crisis Center yang di situ banyak
pendekar-pendekar juga beberapa dari
pemerintahan, beberapa dari kalangan
pendanaan ya yang bisa membantu
kawan-kawan silakan aja nanti ee
dimanfaatin ya. Jadi ini hanya sens
cepat saya aja kiranya di wilayah timur
mungkin biogester,
kompos, komunitas, kemudian di Jawa
sekitarnya mungkin thermal thermal base
ya, thermal treatment ya, termasuk ee
uap yang menjadi listrik kan gitu.
Kemudian di Jawa Tengah, Sumatera
barangkali boleh ee ee berupa
teknologi-teknologi baru yang harus kita
coba ya. bila perlu juga ada untuk gas
gitu ya. Tapi intinya ya intinya ini
perlu ada perpres ee pertama itu tentang
bagaimana mengamankan ee ya piloting ini
gitu. Karena piloting ini kan apapun
teknologinya yang mau kita kembangkan
kalau sudah proven ya gak ada masalah
gitu kan. Tapi kalau teknologi tidak
belum proven tentunya perlu ada
perlindungan ya. Perlu ada perlindungan.
Eh, next. Buat pemda saya pikir harus
hati-hati menandatangani komitmen ya.
Pertama audit betul ya. Ee kualitas dan
komposisi dari kuantitasnya sudah pasti
gitu. Sampah yang ada di tempat.
Kemudian hitung kemampuan finansial ya
untuk tiping fee dan potensi penalti
yang mungkin dalam kontrak itu ada.
Kemudian tentunya sistem logistik yang
saya sampaikan tadi perlu dioptimasi
angkutannya. Kemudian tentu teman-teman
di DPRD ya ee harus ikutan secepat
mungkin karena apapun harus izin mereka
ya. Kemudian negosiasikan hal-hal yang
sifatnya eh fal major kalaupun ada dalam
contoh kontrak. Nah, mudah-mudahan dan
antara juga sudah mulai membagi sharing
e draf-draft kontraknya ya biar bisa
terbaca oleh semua orang termasuk oleh
partner-partner. Kemudian ee ini yang
saya sebut step by step ya. Ee skala
kecil mestinya ya juga boleh dipilih ya
sayang memang dan antara langsung
lompat. Namun sebetulnya perlu ada
semacam ya itu piloting ya skala-skala
kecil. Ee kemudian kita pastikan
skemanya performance based ya. Kalau
sudah oke baru bayar. Jadi kita harus
melihat ini minimum mungkin 4 tahun 5
tahun apakah betul teknologi itu sustain
gitu ya sesuai dengan ee lokasinya atau
jenis sampahnya. Nah, ini ee perlu
memang membuktikan karena alat-alat yang
dikembangkan di luar negeri dan
sampahnya juga berbeda belum tentu ee
bisa apa langsung di seperti itu linier
ya bisa dimanfaatkan
ya. Tentu hal-hal lain kita harus
minimalkan resiko resiko dari para pihak
sama resiko keuangan ya jangan sampai
menjadi beban.
Em
next mungkin roadmap-nya terakhir sama
penutup ya. Saya berpikiran walaupun ini
bisa digeser ya 2026 ya masing-masing ee
kita mulai ee saya pikir memperbaiki
pondasi ya terutama apa yang sudah
menjadi kebiasaan konvensional ini perlu
kita upayakan terutama saya kira itu ya
ee platform-platform ee itu enggak akan
bisa jalan kalau tidak ada regulasi dari
pemerintah setempat juga gitu
kewajiban-kewajiban.
Adapun angkanya ya saya pikir tadi
disebut ee Kang Yusuf 3.000 5.000 ya.
Waduh saya kira ini sekali kok hilang
ini kita udah ditutup nih. Bisa di-share
lagi enggak ya? Ini udah dua slide
terakhir
ya. Jadi lanjut. Kalau bagus ya kita
replikasi gitu. tentunya beragam
industri, beragamaker
sesuai karakteristik daerah untuk
menggunakan hasil ee by product dari
pengelolaan sampah. Nah, berikutnya
terakhir kalau memang yang kecil-kecil
ini terbukti ya kita tinggal bicara
scaling up ya. Adapun macam-macam
terutama ya apa nih ekonomi sular ya
yang harus kita juga create ya kalau
mungkin bisa di jadi penambah. Oke
penutup terakhir
ee saya pikir next
ya. Ini
slide terakhir, halaman terakhir
ya.
kita perlu ee apa namanya dorong untuk
ee setiap daerah itu punya semacam ID
gitu ya, problem jenis sampah, oftaker,
besaran dan lain-lain, kualitas sampah
ya seperti itu. Kemudian ee di kalangan
penelitian kampus, startup ya saya pikir
ya harus diwadahin dengan sandboxing ya
perlindungan, uji coba terutama
lingkungan kan lingkungan, emisi dan
lain-lain. Ini harus diwadahi. Fokus
pada strategi cerdas tadi, kolaborasi
yang semakin banyak, kemudian komitmen
yang berkelanjutan.
Nah, ini ee masukan ya barangkali buat
ee teman-teman di KLH, BPLH barangkali
perlu mediasi ke Danantara.
Mudah-mudahan mereka enggak kurang ya
tim teknisnya. Tapi saya pikir bisa
diskusi tema-tematik penting seperti
risk profiling, risk profiling atau
profile risiko dari hulu ke hilir
terutama tadi di sisi pemda ya. Kemudian
bagaimana cara memitigasinya.
Kemudian juga sistem development KLH
BPLH ini kalau bisa memilih empat daerah
atau kawasan untuk sebagai eksperimen
tadi ya untuk eksperimental yang bisa
kita lakukan ya tentunya dengan
men-develop standar-standar ya teknis
dan lain-lain dari pengalaman
masing-masing akan menjadi panduan ee
pedoman yang baik buat ee pemda-pemda di
seluruh Indonesia. Terakhir saya pikir
ya ini masa depan sampah ya tentunya ini
tugas kita bersama di tangan kita
bersama dari pertemuan singkat 2 jam
atau 2 jam setengah ini mudah-mudahan
ada snowballing ya snowballing yang bisa
kita kolaborasikan
atau update perkembangan dan sejenisnya.
Nah, silakan kita ada 5 menit kalau ada
yang mau cepat memanfaatkan waktu kita
ada 5 menit.
Silakan.
Oke. Ee, Pak Harun terima kasih. Minta
maaf nih kalau saya ee
ada dari yang lain enggak, Pak Erwin?
Ada yang dari yang lain enggak? kita
prioritasin mungkin kalau ada. Kalau
enggak ada ya silakan.
Oke. Eh, kita harus bedakan pembahasan
jangan dicampur antara Perpres 109 yang
kemarin dikeluarkan oleh ee pemerintah
yang ditugaskan kepadaantara dengan yang
sisa kota ee 514 - 44 ee 34 kota ya.
Nah, untuk antara sebenarnya tidak ada
isu. Karena apa? Karena mereka ingin
membantu Perpres 35 yang kemarin gagal
ya. 12 kota saja belum bisa ditanganin.
Makanya dengan adanya Perpres yang baru
di mana harga listriknya dinaikkan pemda
tidak perlu bayar tingvi. Mudah-mudahan
akan terbangunlah PLTSA untuk kota-kota
yang sudah UGD yang sudahnya sampahnya
sudah sudah membukit sudah tidak bisa
ditangani lagi. Beli tanah untuk
perluasan TPA mahal sekali. Nah, ini
harus kita dukung. Ee saya percaya saya
tidak mewakili Daantara, saya enggak
dibayar. Tapi saya percaya Dananttara
sudah melakukan studi yang cukup matang.
Ee mengapa dipilih teknologinya ee
insinerator? Ketimbang teknologi yang
banyak sekali sekarang ee tersedia di
lapangan. Tetapi fakta di lapangan 12
kota yang kemarin diperintahkan untuk
dibangun pun tidak jalan dengan polisi
yang lalu. Nah, mudah-mudahan ini jalan.
Nah, itu mungkin ee sekedar komentar
dari saya. Ee mudah-mudahan dengan
adanya PP 109 sudah akan bisa dibangun
karena saya dengar bocorannya sudah ada
sekitar 90-an perusahaan yang mendaftar.
Karena memang ini cukup baik untuk ee
pengembang yang membuat teknologi dari
Cina barangkali ya kelihatannya lebih
murah daripada teknologi yang dari ee
Eropa atau dari Jepang. Itu aja mungkin
Pak Harun kita dukung eh Pak Prabowo
untuk eh menggarap yang 33 kota ini.
Terima kasih.
Oke, Pak Yusuf. Ada
ya, Pak? Saya 1 menit aja untuk
nanggapin. Pertama itu ee saya nanggapin
permasalahan dari Pak Erwin tadi.
Artinya gini, saya setuju pertama adalah
dana sampah itu harus minimal 3% dari
APBN. Ya, rata-rata memang di Indonesia
1%. Nah, cuman di Bandung ini sebenarnya
sudah mau 4%. Bandung itu ee apa dari
APBD ee 78 triliunan itu buat sampah
sudah 250 miliar per tahun, tapi masih
kurang. Ini kan jadi aneh. Artinya
dananya sudah tinggi tapi Bandung kenapa
enggak selesai-selesai? Ini yang ee
masalah tadi ee apa APBD sama ee
anggaran buat sampah. Yang berikutnya
saya setuju dengan perkataan Profesor
tadi. Artinya apa? Kita perlu ee
treatment-treatment di tiap daerah ini
berbeda gitu. Tidak semua harus pakai
PLTSA,
tidak semua. Karena beberapa treatment
juga bisa selesai sebelum ke TPA
sebenarnya kayak gitu. Saya setuju, Pak.
misalkan di daerah Jawa Barat, Bandung,
Kabupaten
yang perlu adalah menyambung lagi ee apa
pertanyaan dari Pak Samsul yang tadi
dari Aceh sambungannya terhadap ee
komentar tadi yaitu apa yang perlu kita
benahin dalam masalah sampah di
Indonesia adalah trade flow sampah.
Dari mulai sumber sampah ya diakutnya
sama siapa, gaji pengangkutnya berapa,
setelah diangkut dipilahnya di mana? Apa
hasil pilahnya? Mana datanya?
Ini dilakukan oleh ee Kadis LH di DLH.
DLH ada enggak repot-nya jadi plastik
berapa, jadi magot berapa dan
sebagainya. Setelah ada di apa TPST
sementara yang kita lihat tumpukan
truk-truk kuning yang kita juga enggak
jelas PUPR buatnya di mana aja kan gitu.
Dari situ ada masalah lagi distribusi ke
TPA
itu masalah semua dari kendaraan dan
sebagainya dan sebagainya. SDM,
pengangkutan, jalan, infrastruktur
termasuk di TPA-nya sendiri. Jadi
intinya trade flow kita benahin dan
trade flow ini terbagi tiga sudah jelas
sampah rumah tangga, sampah yang dari ee
rumah profesor itu ujungnya di mana gitu
kan kita enggak tahu
ujungnya di mana, dibawa ke mana, sama
siapa-siapa yang mempertanggungjawabkan
ini. Nah, saya usulan kepada Pak Samsul
yang ada di Aceh itu benahi trade
flow-nya. Jadi kita tahu kita buang
sampah misalkan plastik A tahu ada di
mana terakhirnya. Nah, kalau tahu itu
berarti sampah selesai. Itu trade flow
sampah yang harus dibenahi dari hulu
sampai hilir. Terlepas dari itu pakai
PLTSA, magot dan sebagainya. Dan
terakhir khususnya untuk Pak Samsul tadi
undang semua stakeholder,
komunitas-komunitas dan buat sebuah
ekosistem sampah.
Setelah trade flow terjalin, buat satu
ekosistem sampah. Oh, ternyata di TPST
dia enggak bisa nih ngolah organik. Ada
yang ngurus magot, disalurkanlah oleh
pemerintah ke magot. Oh, ini ke sini,
ini ke sini. Sehingga road mappingnya
jelas masalah sampah di Indonesia.
Sampai detik ini saya tidak pernah
melihat bagaimana trade flow sampah di
Indonesia. Itu sih ini yang saya coba
sekarang bangun sehingga apa? Sehingga
ee apa? data sampah benar-benar
tervalidasi, Pak. Karena ya saya juga
pernah apa ee ee di bangku kuliah waktu
itu. Kesimpulan terakhir masalah sampah
ini yang yang apa yang saya bisa
simpulkan. Pertama adalah objeknya
sampah. Yang kedua adalah analisisnya
analisis sampah karena datanya data
sampah, data ngarang semuanya.
Sehingga apa? Hasil dari analisa juga
sampah, Pak.
Dan yang jadi masalah yang menganalisis
adalah penyampah. Sudah tidak akan
selesai. Itu kesimpulan dari saya, Pak
Prof. Terima kasih banyak ilmu-ilmunya.
Semoga ee apa Indonesia cepat selesai
masalah sampah ini. Tidak terlalu banyak
kepentingan action, eksekusi seperti
itu, Pak. Terima kasih banyak.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Baik. Ee ya saya lihat
memang potensi pengembangan platform
digital ya yang di dalamnya ada
transaksi yang transparan bahkan tidak
bisa penipuan
full di bawah platform blockchain ya.
Transaksi, volume, kualitas, tracking
tadi trade flow istilahnya. ee kalau itu
change-nya ya dari mana ke mana itu
semuanya bisa diracing. Saya pikir bagi
anak-anak muda yang mau meng-elevate ya
platform moking-nya sudah ada tadi saya
sudah share ya. Bagi kawan-kawan juga
yang mau memanfaatkan testing ini ee
bisa kontak Pak Slamet gitu. Saya juga
sedang melakukan uji coba di dua RW di
Skoloa untuk melakukan ee katakan tadi
ya ee biar kelihatan jejak thread
flow-nya, bayar membayarnya juga bisa
lebih aman dan tertib gitu. Oke, saya
kembalikan ke dini ya. kecuali ada yang
urgen banget dari kawan-kawan yang hadir
masih bertahan
mungkin 2 menit ya 3 menit boleh kalau
masih ada ee silakan saja kalau memang
masih ada kalau enggak saya ee akan
kembalikan ke Dini. Ee mungkin demikian
yang bisa kita sempatkan pada kesempatan
yang singkat ini. Mudah-mudahan kita
bisa bertemu lagi untuk follow up ya ee
dan update-update perkembangan ee
penanganan sampah yang sangat masih
perlu diselesaikan.
Thank you. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Silakan, Dini.
Iya. Baik. Ee terima kasih Prof. Harun
atas diskusinya yang sangat menarik ini
karena emang sampai saat ini masalah
sampah itu masih menjadi masalah yang
kompleks dan belum terselesaikan dengan
baik khususnya untuk di negara ini. Ee
mungkin
karena waktunya sudah lebih Prof. Harun
dicukupkan untuk ee untuk webinarnya.
Dan sebelum Prof. Harun meninggalkan
ruangan Zoom ini, kita akan dokumentasi
terlebih dahulu.
Oh iya.
Baik. Kepada Bapak Ibu yang bisa
mengaktifkan kameranya dipersilakan.
Oke. Baik, saya mulai saja untuk
melakukan perhitungan mundur dimulai
dari angka 3.
[Musik]
Mungkin sekali lagi.
3 2 1
ya. Baik, untuk dokumentasinya sudah
dicukupkan. Ee saya ucapkan terima kasih
lagi kepada Prof. Harun atas penyampaian
materinya yang sangat bermanfaat dan
membuka wawasan bagi kita semuanya. Dan
semoga di kesempatan lain kita dapat
kembali berdiskusi dan bertemu kembali
dalam kegiatan berikutnya.
Dan ee kepada Prof. Karun apabila ingin
meninggalkan ruangan Zoom sudah
dipersilakan, Prof.
Iya, terima kasih ya. Salam kembali.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Sampai jumpa.
I terima kasih, Prof.
Ya. Baik, ee Bapak Ibu semuanya,
berakhir sudah acara webinar di hari ini
dan bagi Bapak Ibu yang ingin
mendapatkan e-sertifikatnya, Bapak Ibu
dapat mengisi link presensi kehadiran
yang tertera di layar ini. Dan ketika
Bapak, Ibu mengisi absensinya,
dipastikan ee nama dan email sudah
diketik dengan benar karena hal ini akan
mempengaruhi pengiriman e-sertifikatnya.
Dan baik ee saya akhiri kegiatan webinar
di hari ini. Mohon maaf apabila saya ada
salah sikap dan ucap. Wabillahi taufik
wal hidayah. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
siang dan selamat melanjutkan aktivitas
lainnya.