Webinar 132 Pengelolaan Pencemaran Udara Berkelanjutan
A8WZtIruGR0 • 2025-10-30
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat siang Bapak, Ibu,
dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang
kembali di webinar Eko ke-132.
Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
Ibu semuanya yang sudah selalu setia
untuk mengikuti acara webinar ini. Dan
hari ini webinar Eko akan mengangkat
tema pengelolaan pencemaran udara
berkelanjutan. Perkenalkan saya Dini
yang akan bertugas sebagai moderator
pada acara ini. Baik Bapak Ibu semuanya,
sebelum kita mulai webinar pada siang
ini, alangkah baiknya kita berdoa
bersama-sama sesuai dengan agama dan
kepercayaan masing-masing. Untuk itu
berdoa dipersilakan.
Berdoa dicukupkan dan untuk acara
selanjutnya mari kita menyanyikan lagu
Indonesia Raya secara bersama-sama.
Diharapkan kepada Bapak Ibu untuk duduk
tegak.
[musik]
Indonesia
tanah airku,
tanahku.
[musik]
Di sanalah [musik]
aku beradilah
[musik]
Indonesia
kebangsaanku,
[musik]
bangsa dan tanah air.
Marilah kita [musik] bersaru
Indonesia
bersatu.
[musik]
Hiduplah tanahku, hiduplah [musik]
negeriku, bangsaku, rak semuanya.
[musik]
Bangunlah jiwanya, bangunlah badanya
untuk Indonesia [musik]
Raya.
Indonesia [musik]
Raya merdeka, merdeka tanahku, [musik]
negeriku yang kucinta
Indonesia Raya [musik] merdeka, merdeka
hiduplah
Indonesia Raya [musik]
merdeka, [musik]
merdeka tanahku negeriku yang kua
Indonesia [musik] Raya merdeka, merdeka
hiduplah [musik]
Indonesia
Raya
[musik]
ya. Baik Bapak Ibu semuanya, untuk
selanjutnya izinkan saya mempromosikan
tiga pelatihan dalam waktu dekat ini
yang akan diselenggarakan oleh kami,
yaitu yang pertama di minggu ee
selanjutnya yaitu tanggal 3 sampai
dengan 7 November 2025. Di sini kami
akan mengadakan dua pelatihan, yaitu
yang pertama adalah pelatihan
perhitungan emisi gas rumah kaca atau
GRK dan perdagangan karbon gelombang 21.
Kemudian yang kedua adalah pelatihan
life cycle assesment atau LCA gelombang
12. Lalu dilanjutkan di minggu
selanjutnya di tanggal 10 hingga 14
November 2025. yakni kami akan
mengadakan pelatihan penunjang dokumen
AMDAL dan SLO terkait persetujuan teknis
untuk emisi udara gelombang 21.
Dan baik Bapak Ibu jika Bapak Ibu
melakukan pembayaran pada H-1 pelatihan
Bapak Ibu akan mendapatkan diskon 10%
dari biaya investasi.
Dan untuk informasi lebih lanjut dapat
menghubungi admin kami yaitu Riris
Danisa. Selain itu juga Bapak, Ibu dapat
mengunjungi sosial media kami yakni ada
Instagram, YouTube channel, Facebook,
Twitter, dan juga website resmi kami di
www.ecoedu.co.id.
Dan juga Bapak Ibu yang tertarik
langsung untuk mendaftar bisa akses di
pendaftaran.co.id.
Dan selain itu juga kami terdapat
inhouse training yang dapat dilakukan
secara offline sesuai dengan permintaan
dari instansi perusahaan Bapak Ibu
semuanya. Jadi kami tunggu Bapak Ibu di
pelatihan.
Baik Bapak Ibu, selanjutnya kita akan
langsung saja masuk pada kegiatan utama
kita di mana webinar kali ini kita akan
berdiskusi mengenai pengelolaan
pencemaran udara berkelanjutan dan tentu
saja kami telah menghadirkan narasumber
yang sangat kompeten di bidangnya untuk
memberikan materi dan wawasan yang
bermanfaat. Baik, perkenankan saya untuk
memperkenalkan narasumber kita hari ini
yaitu Bapak Dr. Eng Asep Sofan. Stmt
merupakan dosen Teknik Lingkungan di
Institut Teknologi Bandung. Mungkin saya
akan sapa terlebih dahulu. Selamat
siang, Pak Asep.
Selamat siang, Mbak Dini.
Bagaimana, Pak, kabarnya?
Alhamdulillah kabar baik,
ya. Alhamdulillah. Mudah-mudahan selalu
sehat selalu ya, Pak.
Amin.
Ya. Baik. Ee mungkin sebelum kita mulai,
izinkan saya untuk menyampaikan beberapa
teknis yang di mana untuk pemaparan
dilaksanakan selama 1 seteng jam,
kemudian nanti dilanjutkan dengan sesi
tanya jawab menggunakan aplikasi Slidu
dan dilanjutkan lagi dengan tanya jawab
secara langsung. Baik, untuk
mengefektifkan waktu saya serahkan
ruangan Zoom ini kepada Pak Asep dan
kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat
mengikuti acara webinar.
Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum. warahmatullahi
wabarakatuh.
Bapak, Ibu yang saya hormati. Senang
sekali bisa bertemu kembali ya di acara
ee webinar Ekoedu. Terima kasih kepada
Eko Edu mengundang saya untuk ee hadir
di webinar yang sangat penting ini.
Bapak, Ibu yang saya hormati, izinkan
saya untuk menyampaikan share screen ya.
Bagaimana? Apakah
sudah
ee full screen?
Ee sudah, Pak.
Baik, ya. Topik kita kali ini adalah
pengelolaan pencemaran udara
berkelanjutan.
Definisi pengelolaan pencemaran udara
berkelanjutan.
adalah pendekatan terpadu ya untuk
menjaga kualitas udara dengan
menyeimbangkan kebutuhan pembangunan,
perlindungan lingkungan dan
kesejahteraan masyarakat.
Pendekatan ini mencakup dimensi
teknologi, kebijakan sosial dan
ekologis.
Tujuannya menciptakan kota yang sehat,
adil, dan berketahanan iklim.
Nah, apa bedanya pengelolaan pencemaran
udara tanpa berkelanjutan? Ya, dengan
berkelanjutan.
Kata kuncinya adalah di kata terpadu di
sini ya. Jadi ketika kita ingin sebuah
kota atau kota kita ini ee mengalami
sebuah
ee
pertumbuhan yang baik dalam artian
kualitas udaranya terus membaik gitu ya.
Bukannya memburuk tapi terus membaik.
Apa yang harus kita lakukan?
yang harus yang harus kita lakukan
adalah pengelolaan secara terpadu, ya.
Pengelolaan secara terpadu.
Jadi di sini memadukan antara dimensi
teknologi, kebijakan sosial dan juga
ekologis
untuk mengelola kualitas udara secara
berkelanjutan.
kita memerlukan empat dimensi utama ya
tadi sudah kita sebutkan. Yang pertama
aspek lingkungan atau ekologi
tentunya harus ada pengendalian emisi
dan pemantauan kualitas udara ya. Nah,
ini yang biasanya kita lakukan di setiap
kota di Indonesia ini sudah kita lakukan
ya melakukan pengendalian emisi dan
pemantauan kualitas udara. Nah, tapi di
kita ee
belum menerapkan
teknologi.
Teknologi di sini ada integrasi sensor,
ada internet ofs, artificial
intelligence, dan analisis spasial.
Nah, mengapa dengan menerapkan teknologi
ini kita bisa menjamin lebih terjadi
berkelanjutan?
Karena kalau kita hanya melakukan
pengendalian
dan pemantauan,
kadang-kadang juga pemantauannya tidak
kontinue ya, tapi pemantauannya secara
ee
berkala ya, mungkin hanya dua kali dalam
setahun begitu ya. Nah,
apa yang terjadi? kita tidak bisa
mengawasi, tidak bisa memonitor.
Sebetulnya pencemaran udara di tempat
kita ini dia
membaik atau memburuk
karena rentang waktu evaluasinya terlalu
panjang.
Nah, sehingga di sini ee walaupun ya
kita belum bisa karena keterbatasan
anggaran, keterbatasan teknologi,
keterbatasan sumber daya manusia untuk
menerapkan ini, tapi setidaknya kita
sudah punya wawasan,
oh ternyata seperti itu
ee pengelolaan kualitas udara
berkelanjutan ya. Jadi di sini kita
jangan berkecil hati kalau misalnya kita
belum bisa untuk menerapkan empat hal
ini, tetapi setidaknya kita tahu langkah
ke depan itu seperti apa.
Setelah nomor satu ini
kita lanjut ke nomor dua ya. Nah, ini
sebagai sebuah rencana ke depan.
Jadi
dengan adanya teknologi
ya, salah satunya mengintegrasikan
sensor pencemar udara dan juga analisis
lainnya,
maka kita bisa
memonitor perkembangan
kualitas udara itu secara real time saat
ini juga dan juga bisa dilakukan
respon yang cepat.
Nah,
selain teknologi yang penting adalah
kelembagaan.
Memang saat ini di beberapa kota sudah
mengembangkan ya kolaborasi lintas
sektor. Misalnya Dinas Lingkungan
koordinasi dengan Dinas Perhubungan,
Dinas ESDM, Dinas Perindustrian, Dinas
Kesehatan.
Nah, tetapi dalam praktiknya
baru sebatas rapat ya, rapat-rapat
koordinasi
belum membentuk suatu kelembagaan
yang kalau di negara maju kelembagaan
ini sudah dipraktikkan langsung.
Demikian juga untuk sosial.
Di kita sudah ada sosialisasi.
Tetapi kalau kita bandingkan dengan
keterlibatan masyarakat di negara maju,
kita masih jauh ya.
Karena di
ee contoh di Amerika
ee masyarakat Amerika menganggap
kualitas udara yang baik itu adalah hak
mereka
ya. hak masyarakat sehingga mereka
memasang alat sensor sendiri
dan mereka komplain kepada pemerintah
ketika kualitas udaranya buruk.
Nah, jadi ee
aksi ya kepedulian
dari masyarakat di negara maju itu sudah
sangat tinggi terhadap hak mereka untuk
mendapatkan
udara bersih.
Nah, di kita sudah ada perkembangan tapi
masih jauh ya, terutama ketika terjadi
kebakaran hutan.
masyarakat seolah-olah tidak punya hak
untuk memperoleh udara bersih.
Pasrah saja begitu. Nah, tentunya ini
ee kita menuju ya ee menuju
dari
apa kepasrahan dari
masyarakat menuju partisipasi aktif dari
masyarakat untuk ee menuntut hak kita
sebagai warga negara ya.
Kemudian
kalau kita lihat lebih jauh ya tentang
komponen utama
kalau kita mau melakukan pengelolaan
udara berkelanjutan
tentunya tadi
pemantauan dan data ini menjadi paling
utama ya.
Nah, di negara maju mereka sudah
melakukan analisis yang menggunakan
kecerdasan buatan
atau artificial intelligence. Ini bukan
teori. Di kita masih berupa teori, hanya
dipelajari di kampus-kampus
ya, diskusi-diskusi ilmiah. Tapi di
negara maju ini sudah dipraktikkan.
Nanti kita akan bahas ya.
Kemudian juga mobilitas dan energi
bersih ya di kita sudah sering dibahas
di rapat-rapat tentang bagaimana
menurunkan emisi dari transportasi dan
industri. Beberapa peraturan sudah
dibuat, penegakan hukum sudah
dilaksanakan.
Namun kalau kita lihat bagaimana
pelaksanaan di negara maju sebetulnya
kita masih tertinggal jauh ya. Demikian
juga tentang tata kelola dan partisipasi
publik. Tadi sudah kita singgung sedikit
ya.
Nah,
untuk mewujudkan pengelolaan udara
berkelanjutan
prinsipnya salah satunya adalah
terintegrasi
atau keterpaduan.
Ini tidak bisa ditawar ya, karena
pencemaran udara itu adalah masalah yang
kompleks yang tidak bisa diselesaikan
oleh satu pihak. Ini harus melibatkan
banyak pihak.
Kita juga harus adaptif terhadap
perkembangan lingkungan.
Misalnya sekarang kebetulan kita masih
di ujung dari
Lanina ya. Nah, lanina itu adalah
periode
yang cenderung basah.
kita sudah di ujung artinya seharusnya
sudah normal tapi di sini masih ada
sisa-sisa
lanina kita masih mengalami ya tahun
lalu 2024 kita mengalami
kemarau basah
sekarang kita juga masih mengalami curah
hujan yang cukup tinggi ya nah tapi
nanti di 2026 2027 siklus nya akan
bergeser kepada elnino.
Hujan akan jarang turun,
maka bencana banjir
beralih ke bencana kebakaran hutan, ya.
Nah, berarti kita harus adaptif,
kita harus tanggap terhadap
perubahan lingkungan dan sosial.
Artinya secara ilmiah sudah bisa
diprediksi bahwa
2026, 2027, 2028 itu akan mengalami
musim kering yang makin lama makin kuat
ya atau kita sebut dengan elnino.
Nah, artinya kan sekarang kita sudah
tahu
akan mengalami musim kering di
tahun-tahun yang akan datang. seharusnya
kita sudah melakukan persiapan
untuk mengatasi kebakaran hutan dan juga
dampak-dampak pencemaran udara di daerah
rawan kebakaran hutan.
Kemudian yang ketiga ini adalah keadilan
ya atau air justice. Nah, ini adalah
suatu bentuk kesadaran yang sudah mulai
muncul di kota-kota besar di Indonesia.
Tapi masih sangat sedikit ya. Baru
beberapa orang atau beberapa puluh orang
saja yang peduli.
Masyarakat tidak tahu harus bagaimana
dia menuntut haknya.
Ya. Jadi kalau kita lihat
kasus
ee
upah minimum,
buruh sering langsung demonstrasi
atau ada masalah politik langsung
demonstrasi ya. Tapi untuk udara bersih
ini kelihatannya masyarakat masih belum
merasakan
bahwa udara bersih adalah hak dari warga
masyarakat.
Bahkan untuk yang terlihat saja seperti
pengelolaan sampah, masyarakat masih
belum menganggap itu sebagai haknya
mendapatkan kota yang bersih dari
sampah. Nah, ini ee
tugas dari kita ya di mana pun Bapak Ibu
bertugas baik sebagai pemerintahan,
sebagai
akademisi
di konsultan atau mahasiswa pelajar
tentunya kesadaran tentang hak atas
udara bersih ini harus selalu kita
tingkatkan.
Berikutnya adalah transparansi
dan juga kolaborasi. Nah, hak warga atas
udara bersih ini terkait dengan
transparansi.
Saat ini data-data pemantauan tidak
diumumkan ke publik. Masyarakat diam
saja,
tidak merasa haknya terganggu.
Padahal di negara maju mereka menuntut
data pemantauan itu saya harus tahu
karena itu menyangkut kepada kehidupan
saya, kesehatan saya dan keluarga. Nah,
itu tentang transparansi dan juga
kolaborasi.
Artinya di negara maju
urusan mengendalikan pencemaran udara
ini bukan hanya tanggung jawab
pemerintah.
Ini merupakan tanggung jawab semua
masyarakat. Karena tadi masyarakat sudah
peduli ya terhadap kondisi kualitas
udara.
Masalah terbesar di kita di Indonesia
pada umumnya adalah kesadaran masyarakat
yang masih relatif rendah terhadap
bahaya pencemaran udara.
Sebetulnya ini tidak mengagetkan
karena masyarakat kita ini jangankan
untuk kualitas udara yang tidak
terlihat,
untuk masalah sanitasi saja masih buruk.
ya. Masalah pengelolaan sampah juga
masih buruk dari dalam arti kesadaran.
Jadi
tentunya ini perlu bertahap ya mulai
dari kesadaran terhadap sanitasi,
kesadaran terhadap pengelolaan sampah,
baru nanti meningkat kepada kesadaran
terhadap bahaya pencemaran udara.
Jadi literasi masyarakat saat ini masih
rendah. Masyarakat masih belum tahu apa
yang harus dilakukan ketika kualitas
udara buruk. Ya, ini merupakan tugas
khususnya dari bagi para pendidik. Jika
ada guru, ada dosen yang hadir di sini,
ini merupakan tugas kita para pendidik
untuk meningkatkan literasi.
masyarakat tentang bahaya pencemaran
udara. Karena bisa jadi masyarakat itu
tidak peduli karena tidak tahu bahayanya
itu apa.
Jadi, kesadaran masyarakat yang relatif
rendah ini akan memperburuk dampak.
Banyak warga belum memahami indikator
kualitas udara. Misalnya ISPU, indeks
standar pencemar udara. Dan masyarakat
tidak mengubah aktivitasnya meski polusi
tinggi.
Kemudian kurangnya informasi membuat
masyarakat tidak melindungi diri.
Misalnya memakai masker, mengurangi
aktivitas luar ruang, lebih menanam
vegetasi. Nah, jadi ini adalah suatu
lingkaran yang harus kita putus.
ketidaktahuan,
ketidakpedulian
dan akhirnya tidak melakukan apa-apa.
Padahal
udara bersih itu adalah investasi jangka
panjang
ya,
bisa menekan biaya kesehatan publik,
kita bisa lebih tahan dan berkelanjutan
serta ee secara sosial dan lingkungan.
Nah, kesadaran seperti ini menjadi
apa? Tolok awal, ya. Menjadi langkah
awal. Langkah awal. Kalau kita ingin
pengelolaan pencemaran udara
berkelanjutan, langkah awalnya apa? Kita
tingkatkan kesadaran
masyarakat tentang bahaya pencemaran
udara.
Nah,
jangan-jangan banyak masih banyak
masyarakat kita yang tidak tahu apa itu
ISPU,
tidak bisa membaca.
Ya, kalau ISPU tidak tahu,
padahal pemerintah menyampaikan
informasi itu berdasarkan ISPU,
ya tidak akan muncul gerakan, tidak akan
muncul kepedulian.
Jadi ini adalah tugas dari kita semua
untuk menyebarluaskan
tentang bagaimana pemerintah
mengkomunikasikan hasil pemantauan
yaitu menggunakan ISPU. Apa itu ISPU?
ISPU adalah sebuah indeks.
Mengapa dipakai indeks? Karena kalau
kita lihat
angka dari pencemaran itu nilainya tidak
sama.
Contoh misalnya untuk PM10
dia dikisaran puluhan sampai ratusan.
Tapi contoh misalnya CO dia kisarannya
ribuan sampai puluhan ribu.
Nah, ini adalah angka yang berbeda-beda
ya, berbeda-beda
rentangnya.
Makanya kita buat indeks.
Jadi di dalam indeks
kita ada faktor konversi ya. Ee ada
faktor konversi
dari angka yang beda-beda ya. Ini kan
beda-beda. Ada yang belasan, puluhan,
bahkan ada yang ribuan. Itu kita
konversi ke angka ISPU
0 sampai 50.
ya.
Kemudian juga nanti ada
rentang yang berikutnya
setelah dikonversi
ya misalnya tadi angkanya
ee sampai 50 itu kategorinya baik
maka tingkat mutu udaranya sangat baik.
Kemudian sedang ini masih bisa diterima.
Tidak sehat merugikan kesehatan.
Sangat tidak sehat
meningkatkan risiko kesehatan.
Kemudian berbahaya ini kesehatan serius.
Jadi kita bisa melihat,
bertanya ke sekeliling kita, berapa
orang yang tahu arti dari warna-warna
ISPO ini.
Nah, kalau banyak yang tidak tahu
ya itu berarti
ee
ciri ya tanda bahwa
masyarakat kita belum peduli terhadap
informasi
pencemaran udara.
Nah, ini ada sebuah contoh
data ISPU dari PM 2,5 di DKI Jakarta
dari tahun 2021 sampai 2024
dari lima stasiun pemantauan kualitas
udara di Jakarta.
Kalau kita lihat di sini
selain yang baik dan sedang ini ada juga
yang tidak sehatnya ya.
Nah, ada juga yang tidak sehatnya.
Kalau kita lihat di sini dari sisi
fluktuasi ya, ini kan Mei, September
mungkin ya di sini sekitar Juli, Agustus
ya. Ini Juli, Agustus ini tinggi. Nanti
turun lagi di Desember,
naik lagi di Juli, Agustus. Begitu
polanya ya. Jadi sangat dipengaruhi oleh
hujan.
Nah, sehingga kita juga bisa
meningkatkan kewaspadaan dini ketika
tidak ada hujan. Berarti pencamaran
udara ada kemungkinan naik
melihat pola seperti ini. Dan kalau kita
lihat di sini ada beberapa episode ya
yang sampai menimbulkan tidak sehat.
tentunya ini sangat merugikan kepada
kesehatan kita.
Yang kedua, selain pengenalan cara
membaca ISPU, kita juga tahu harus tahu
dampak kesehatan dari pencemar udara.
Sebagai contoh, PM 2,5.
Mungkin di antara kita banyak yang tidak
tahu bahwa PM 2,5 itu kecil sekali.
Jadi kalau ini adalah
rambut manusia ya. Nah, jadi PM10 saja
itu kecil sekali
ya. Ada
kalau kita
ee
tumpukkan begitu ya di sini.
Jadi PM 10 itu
sekitar
7 PM 10 dijejerkan itu baru setara
dengan rambut manusia.
Tapi kalau kita lihat PM2,5 di sini ini
kecil sekali ya,
mungkin ratusan
dijejer baru setara dengan
satu rambut manusia ya lebarnya. Padahal
rambut manusia juga sangat kecil
lebarnya itu. Ini apalagi PM10 dan
PM2,5. Nah, ini juga perlu kita
sampaikan ya kepada masyarakat di
sekitar kita.
bahwa PM2,5 itu memang kecil sekali,
tidak terlihat. Jangan sangka kalau
udara ya oke kita berada di belakang
bis, bisnya solar
ditanjakan, kemudian bisnya ngegas,
keluarlah asap yang sangat tebal. Oh,
masyarakat tahu
itu pencamaran udara hindari. Nah, tapi
bagaimana kalau PM25 itu tidak terlihat?
Karena kalau asap tebal itu kita sebut
sebagai TSP atau lebih besar lagi PM 100
atau lebih besar lagi karena sampai
terlihat ya, sampai terlihat. Nah, PM10
juga sebetulnya tidak terlihat apalagi
PM 2,5. Nah, jadi kita sering tidak
menyadari tentang bahaya PM 2,5 ini
karena sangat kecil, tidak terlihat.
Kemudian juga
bagaimana saking kecilnya itu dia bisa
masuk ke alveolus,
ke dalam
saluran pernapasan kita. Dan ee kita
tahu bahwa
alveolus itu adalah
saluran tempat bertemunya udara dengan
darah.
Jadi aliran darah itu menuju alveolus.
Di alveolus juga oksigen itu datang ya
dan di sana bertemu
bagaimana oksigen ini masuk ke dalam
darah.
menyerap, berbaur dengan darah
sebagai
energi ya, energi untuk darah.
Karena kalau darah tidak dapat oksigen
maka darah ini tidak bisa mengalirkan
oksigen ke otak,
ya. maka kita akan mengalami pingsan
kalau otak ini kekurangan oksigen.
Makanya
kalau kita keracunan CO misalnya itu kan
CO
dia akan terikat dengan hemoglobin ya.
Jadi bukan oksigen yang akan
masuk ke dalam darah itu tapi ee CO.
Nah,
akibatnya oksigennya kehabisan tempat.
Banyak orang-orang yang keracunan CO itu
langsung pingsan
bahkan meninggal.
Tapi kalau untuk PM2,5 mekanismenya
tidak seperti itu.
PM2,5
akan masuk ke alveolus
dan akan masuk ke aliran darah. Jadi PM
2,5 itu akan masuk ke aliran darah kita.
Nah, apakah PM 2,5 itu berbahaya?
Jawabannya tidak.
Yang berbahaya bukan PM 2,-nya,
tapi yang berbahaya adalah kandungan
yang ada di dalam PM 2,5.
Karena berdasarkan penelitian di dalam
PM 2,5 itu
ya kalau kita ingin mengilustrasikan
BM2,5 misalnya debu.
Debu dia berasal dari tanah.
Tanah biasanya kalium.
Kalium sendiri tidak berbahaya untuk
kita. Nah, tapi
dari kendaraan bermotor dia menghasilkan
sulfat dan nitrat
dan menempel
ke dalam
partikel 2,5 tadi PM 2,5 dia menempel.
Maka di dalam PM2,5 yang kita hirup
itu mengandung sulfat, nitrat,
dan juga logam-logam berat,
ya. Nah, di situlah
mulai PM 2,5 ini
mulailah PM 2,5 ini menjadi ee bahaya
ya.
Ketika PM2,5 itu masuk ke dalam darah
dan mengandung sulfat serta nitrat serta
logam berat dan kandungan lain itu oleh
darah akan dianggap sebagai bahan asing.
Ya. Maka tugas tubuh manusia kita punya
sel darah putih kalau ada benda asing
dia akan bekerja.
Nah, di sinilah
mulai terjadi peperangan antara sel
darah putih dengan PM2,5 yang masuk ke
dalam darah.
Bisa jadi sukses, tapi bisa juga gagal.
Nah, ketika gagal itu akan terjadi
kanker ya sebagai benih dari kanker.
Kanker ini
tentunya tidak sekaligus langsung ya.
Ini dia pelan-pelan begitu. Kalau kita
terus-menerus menghirup PM2,5 yang
tercemar oleh sulfat, nitrat, dan logam
berat.
Nanti saluran darah kita ini akan
terjadi inflamasi,
pengerasan
saluran
atau ya
ee
kita sebut sebagai
ee sistem di dalam peredaran darah.
Dan kalau kita punya kelainan jantung
ya, ada penyumbatan jantung, maka
partikulat ini bisa memicu
memicu terjadinya
gagal jantung.
di sekeliling kita, di sekitar kita
sering ada kejadian.
Ee dia sehat, pagi-paginya badminton,
olahraga,
malamnya meninggal
karena gagal jantung.
Itu kita sering dengar ya.
Kemarin masih pergi bekerja,
besoknya sudah meninggal padahal
kondisinya sehat.
Nah, ini salah satunya tentu penyebabnya
banyak ya, tapi salah satunya adalah
pengaruh dari PM 2,5.
Secara tidak sadar dia menghirup PM 2,5
terus-menerus.
Sering naik sepeda motor tanpa masker,
merasa baik-baik saja. Nah, padahal
PM2,nya itu terakumulasi,
terakumulasi di dalam darah dan dia bisa
sewaktu-waktu
terjadi
gagal jantung.
Kalau gagal jantungnya
ee di otak ya kita sebut sebagai stroke
ya.
Nah,
jadi PM 2,5 ini sangat bahaya
bisa menyebabkan gagal jantung, stroke,
dan juga kanker.
Nah, ini mungkin yang harus kita
sosialisasikan kepada masyarakat
betapa bahayanya PM2,5
terhadap tubuh kita.
Bagaimana dengan NO2, SO2, ozon? Itu
adalah
zat yang akan menyebabkan iritasi di
saluran pernapasan.
Tentu juga berbahaya ya. Apalagi CO
terhirup itu bisa langsung pingsan
bahkan meninggal.
Nah, nanti Bapak Ibu silakan dibaca ya
untuk ee info-info tentang dampak PM 2,5
terhadap kanker paru-paru.
Nah,
yang berikutnya adalah
kita harus bisa melihat bagaimana
fluktuasi
konsentrasi pencemar udara.
Kalau kita lihat di sini
ya, ini adalah jam .00 pagi ya. Sini 6
pagi. Nah,
walaupun di 6 pagi ini tentu konsentrasi
naik karena aktivitas meningkat,
tapi kalau kita lihat malam hari ini
juga tinggi ya.
Jadi malam hari jam . jam .00 itu masih
tinggi karena ada yang disebut dengan
planetary boundary layer
atau lapisan inversi.
Pada malam hari inversi turun sehingga
pencemaran udara naik.
Sehingga kita harus hati-hati ketika
melakukan aktivitas di malam hari.
Karena sebetulnya konsentrasi itu tidak
ada jaminan turun ya. karena aktivitas
turun, aktivitas kendaraan dan
seterusnya turun itu tidak ada jaminan.
Bisa jadi ya dalam beberapa kasus
konsentrasi pencemar udara pada malam
hari itu lebih tinggi daripada siang
hari. Nah, ini juga perlu diperiksa ya
di kota masing-masing fluktuasinya
seperti apa ya. Ini juga harus menjadi
perhatian kita kapan pencemar udara itu
tinggi, jam berapa, dan kapan dia cukup
aman ya buat kita untuk beraktivitas di
luar rumah.
Ini untuk PM10, PM2,5, SO2, NO2
rata-rata memiliki konsentrasi yang
relatif tinggi ya di malam hari.
Kemudian, nah kecuali ozon. Kalau ozon
memang dia sangat dipicu oleh sinar
matahari. Jadi ketiga ketika tidak ada
sinar matahari dia rendah ya. Jadi malam
hari untuk ozon dia rendah
tapi untuk CO dia masih tinggi ya. Masih
tinggi. Ini kan malam hari nih.
Justru kalau siang hari
lapisan inversi naik ya.
sehingga udara lebih bebas bergerak.
Nah,
kalau misalnya Bapak Ibu ingin ee
memahami dispersi pencemar udara lebih
intensif lagi, kita bisa melakukan
modeling
untuk mengetahui bagaimana pergerakan
polutan, ya.
Saya akan jelaskan cara membuatnya.
Tentu harus dibuat inventarisasi emisi
dulu
mulai dari transportasi,
komersial, industri, kepadatan penduduk.
Kemudian nanti dimodelkan
menggunakan model tiga dimensi ya
sehingga dapat di
plot distribusi spasial.
Kita buat grid system-nya.
Kemudian ini contohnya ya, bagaimana SO2
ini dia bergerak dari jam ke jam
ee ke utara, ke selatan ya kalau untuk
Jakarta karena dipengaruhi oleh
angin laut dan angin darat.
Demikian juga untuk vertikal. Nah, kalau
kita lihat warna biru itu dia naik ya
pada siang hari, tapi pada malam hari
dia turun.
Ya. Jadi, PBL atau planetary boundary
layer atau lapisan inversi ini dia tidak
tetap, dia akan naik turun. Siang hari
dia naik, malam hari dia turun. Nah, itu
yang menyebabkan
pada malam hari konsentrasi itu kenapa
dia tinggi begitu.
Demikian juga untuk NO2 ya memiliki
pola pergerakan dari jam ke jam.
ini juga untuk NO2 untuk vertikalnya.
Nah,
itu bagian pertama yang kita bahas yaitu
bagaimana kesadaran masyarakat ini
menjadi modal awal.
Kesadaran untuk melihat data pencemaran
udara. kesadaran untuk melihat kapan
pencemaran udara itu tinggi, kapan itu
rendah, dari secara temporal ya, jam
berapa dia tinggi dan juga secara
spasial di daerah mana tinggi, di daerah
mana rendah. Nah, itu bagian pertama.
Bagian kedua adalah bagaimana kita
meningkatkan
pemantauan ini menjadi lebih
berkelanjutan.
Tadi saya sudah sampaikan bahwa kegiatan
di Indonesia memang belum sampai ke
sana, tapi kita kan harus tahu apa yang
akan kita tuju. Nah, kita masih ada di
level ini ya.
Jadi kita masih ada di fase satu
bagaimana kita melakukan pemantauan
manual dan stasiun tetap. Ini yang kita
sudah laksanakan.
Nah, kita menuju ke fase dua yaitu
sistem terotomatisasi dan satelit.
Nah, saat ini data-data satelit sudah
tersedia ya, tapi yang memanfaatkan baru
para peneliti
kelembagaan seperti pemerintah daerah,
Dinas Lingkungan itu belum
belum menggunakan data-data satelit
sebagai ee alat pemantauan. Nah,
mudah-mudahan walaupun teknologi ini di
negara maju sudah mulai diterapkan dari
tahun 2000 sampai tahun 2015,
kita di tahun 2025 misalnya mulai masuk
ke sini
tertinggal 10 tahun dari global ya tidak
apa-apa tapi kita memulai.
Nah, di negara maju sekarang sudah
sampai fase ketiga,
yaitu sistem udara digital global, ada
AI ya, artificial intelligence, internet
of sensor, dan GIS
yang menghubungkan antara data sensor
darat, satelit dan data-data dari
masyarakat.
Kemudian penggunaan data analytik
AI untuk deteksi dini dan prediksi
spasial.
Jadi di fase 3 ini ya
ada paradigma baru yaitu dari monitoring
ke inteligence ya ke kecerdasan buatan.
Contoh di sini ada Copernicus
Atmospheric Monitoring Service di Eropa
yang memantau seluruh Eropa dengan 50
miliar data titik harian ya. Jadi
datanya banyak sekali.
Kemudian
perkembangan berikutnya adalah
bagaimana
perkembangan teknologi global
bergerak dari end of pipe control
ke teknologi pencegahan dan efisiensi
sistemik
dengan fokus utama efisiensi energi,
bahan bakar bersih, pengendalian emisi
terintegrasi, dan otomatisasi.
Nah,
Eropa sudah berhasil ya menurunkan SO2
dan NOX hingga 50%
selama 10 tahun terakhir ya.
Jadi ini sudah ada kasus ee nyata
bagaimana
ee teknologi-teknologi yang tadi
diceritakan yang ini ya mulai dari
otomatisasi
kemudian AI dan seterusnya ini sudah
berhasil menurunkan 50%
di Eropa.
Kemudian juga di sektor industri dan
energi bagaimana di Eropa sudah
menerapkan carbon capture and storage
ya. Kemudian di Jepang, di Korea sudah
ada efisiensi proses dan otomasi pabrik.
di Amerika Latin
sudah berganti ke bahan bakar yang
rendah sulfur. Di Indonesia secara
sporadis ya sudah ada beberapa proyek
efisiensi energi di sektor semen baja
dan PLTU berbasis West Recovery.
Nah, di negara maju saat ini sudah
dilaksanakan digitalisasi dan big data
lingkungan.
yang tadi sudah kita bahas ya, merupakan
pemantauan atmosfer secara real time dan
prediktif.
Kemudian data AI dan big data juga
dipakai secara aktif, bukan kajian lagi.
Contoh negara-negara yang sudah
menerapkan ya ada Uni Eropa dengan
Kopernikusnya.
Kemudian Cina dengan National Air Air
Quality Monitoring Network kira-kira
lebih dari 3.000 stasiun ya.
Indonesia
ee data terakhir itu 46 stasiun ya. 46
banding 3.000 jauh sekali.
Kemudian Korea Selatan ini 1.700 ya.
Jadi sudah di atas 1000 semua nih negara
lain. Kita masih di bawah 100.
Jadi jauh sekali ya ee perkembangan
di luar dengan di kita.
Nah, ini contoh yang paling maju saat
ini. Copernicus Atmospheric Service
untuk Uni Eropa. Bagaimana mereka
menggabungkan data observasi satelit,
data monitoring,
kemudian masuk ke dalam modeling ya dan
juga ee menggunakan
ee sosialisasi atau publikasi ke
masyarakat langsung.
Ini adalah contoh ya.
Kalau kita lihat website Kopernikus,
kita bisa lihat ee prediksi
dari NO2, SO2, semua partikel ya.
Nah, dulu
dulu ee
dulu ada
ee perkembangan yang sangat baik di
Amerika ya, USEPA
kira-kira tahun 10 tahun yang lalu ya
2015 begitu
ee Amerika dengan Eropa dalam pemantauan
kualitas udara ini kira-kira miriplah
sama gitu. Nah, tapi ada perkembangan
yang kurang baik ya di Amerika.
Mereka tidak terlalu fokus lagi kepada
lingkungan
sehingga saat ini USPA tidak terlalu
berkembang seperti ya Amerika tidak
terlalu berkembang seperti di Eropa.
Karena kalau Eropa dia konsisten,
dia terus berkembang.
Sedangkan negara-negara baru yang muncul
ya dalam 10 tahun belakangan ini di
antaranya Korea, Jepang, dan Cina ya.
Jadi ee itu adalah kawasan-kawasan yang
secara serius melakukan pemantauan
ee pencemaran udara di kawasannya
masing-masing.
Nah, selain itu juga mereka fokus kepada
sektor transportasi ya. Bagaimana
transportasi ini bisa turun.
Contohnya di Eropa mereka melakukan
elektrifikasi massal dan zona nol emisi
dan ini sudah menurunkan NO2 30 sampai
40% ya.
Kemudian di Korea, di
Jepang ya,
di Cina ini sudah melakukan
ee elektrifikasi juga dan traffic
menggunakan AI
ini juga sudah meningkatkan efisiensi
energi selama 20 sebanyak 20%.
di Amerika Latin misalnya di Bogota ya
mereka sudah menerapkan bis listrik
transportasi publik ini turun PM 2,5-nya
25%.
Sebetulnya di Jakarta juga sudah ada ee
program bus listrik, kemudian
transportasi publik, ya. Nah, namun
berapa turunnya itu ee belum ada
publikasi yang solid ya. ee karena tadi
pemantauannya
ee tidak sebaik di negara maju. Kita
jadi ragu-ragu berapa persen sudah turun
ya. Karena inventarisasi emisi di kita
pun sesuatu teknologi yang sangat
sangat lama ya dari tahun
60-an
itu pun belum dijalankan ya di kita itu.
Artinya kalau kita tanya ada enggak
sebuah kota yang setiap tahun mengupdate
inventarisasi emisinya
itu tidak ada.
Jadi baru apa? Sporadis
dibuat
ditinggal gitu ya. Nanti 5 tahun
kemudian dibuat lagi begitu. Nah, tentu
bukan seperti itu. Ee kalau ingin
berkelanjutan
harus di-update tiap tahun.
Nah, di sini ada fenomena yang
berkembang saat ini, yaitu mobility as a
service.
ee contohnya adalah
bagaimana transportasi itu dikelola
dalam sebuah format digital ya sehingga
pengguna transportasi itu bisa ee
melakukan
perencanaan perjalanan, memesan,
membayar itu secara terpadu
sehingga bisa mengurangi
pergerakan ya mungkin Mungkin kalau
tidak menggunakan aplikasi ini dia
menghabiskan waktu di jalan 1 jam. Tapi
dengan dibantu oleh aplikasi ini, dia
menemukan satu rute
transportasi publik yang asalnya dari 1
jam menjadi setengah jam. Nah, ini
adalah satu inovasi
untuk mengurangi jumlah perjalanan.
Ketika jumlah perjalanan ini berkurang
tentunya produktivitas kita makin
meningkat.
Kemudian juga
secara umum pencemaran udara bisa lebih
turun ya.
Nah,
ini juga belum ada ya di kita mungkin
untuk prototype-nya sudah beberapa kota
ya.
Namun ee untuk
aplikasi yang masif
yang tujuannya untuk menurunkan
pencemaran udara ini kita belum
menemukan.
Kalau untuk sektor komersil seperti ojek
online ya, ada Gojek, Grab itu kita
sudah menemukan ada di Indonesia, tapi
kan tujuannya hanya untuk melakukan ee
perencanaan, memesan begitu, membayar
perjalanan, tetapi belum diintegrasikan
kepada data pencemaran udara.
Nah, kalau yang disebut ee
MAS
integrasi transport publik digital ini
juga sudah mempertimbangkan tentang ee
pencemaran udara.
Nah, jadi dalam mobilitas global yang
sudah berkembang di negara maju ya
sebagai wawasan untuk kita semua.
Mereka ini sudah melakukan elektrifikasi
kendaraan.
Cina saat ini sudah 70% EV global itu
ada di Cina ya.
Kemudian integrasi
MAS ini kalau kita ke Jepang, Singapura,
Shanghai itu sudah ada aplikasi itu.
Kemudian juga untuk logistik ya ini
tidak kalah pentingnya karena kendaraan
logistik atau niaga ini dia bergerak
sangat panjang kilometernya ya dan
waktunya juga durasinya jadi sangat
intensif di dalam berkendara
di negara-negara seperti Cina, Belanda,
Amerika Selatan. Ya, ini menjadi ee
perhatian yang serius bagaimana
kendaraan niaga ini dibuat berbahan
bakar listrik dan juga otonom.
Kemudian juga transportasi aktif seperti
jalan kaki, sepeda ini juga ee sangat
populer ya di Belanda, di Cengdu, di
Bogota.
Kemudian juga untuk ee mobilitas
ee secara
penggunaan yang adil ya ini juga ee
sudah mulai dikembangkan di Amerika
Latin dan juga di Indonesia.
Nah, untuk studi
kasus global yang kita anggap ee
berhasil ya, ini ada di Senzen di China
100%
bis dan taksi itu menggunakan listrik
ada 16.000 unit.
Nah, jumlah kendaraan listrik di
Indonesia total saat ini baru sekitar
1.000 sampai 2.000 ya. Ee angka terakhir
tuh di angka 1.200. Jadi masih di bawah
2.000.
Ini satu kotak saja
dia sudah ada 16.000
unit kendaraan listrik.
Jadi sangat masif ya. Ee ini PM 2,5-nya
dilaporkan turun sebanyak 43%
akibat penggunaan
bus dan taksi listrik 100% di Senzen.
PM 2,5-nya turun sangat signifikan turun
43%.
Kemudian di Beijing ya ada zona emisi
rendah AI traffic system NO2-nya
dilaporkan turun 30%.
Nah, ini yang penting ya, bahwa program
pencemaran udara di kita pertama masih
terbatas pada ee pemantauan yang tidak
terintegrasi ya dan juga tidak kontinue.
Kadang-kadang yang di beberapa kota
mungkin untuk Jakarta sudah kontinue ya
tinggal lanjut ke terintegrasi
tapi di beberapa kota bahkan kontinue
juga belum.
Nah,
kemudian juga
masih dalam tataran konsep ya. Nah,
rapat-rapat, laporan-laporan begitu ya.
Tapi masyarakat belum bisa melihat
secara real apakah sudah terjadi
penurunan pencemaran udara. Nah, jadi
masih sangat jauh ya antara ee kondisi
kita
dengan ee ini ada studi kasus terbaik
ya, best practices di Senzen Beijing,
kemudian di Seul Korea ini turun 20%.
di
Chili Santiago ini juga PM 2,5-nya turun
25% ya dengan melaksanakan bus listrik
massal. Nah,
memang semuanya butuh biaya. Konversi ke
bis listrik pasti butuh biaya. Nah,
yang paling penting di sini bagaimana
ee komitmen jangka panjang dari sebuah
kota untuk mencapai target itu. Ya,
kita lebih bahas lebih mendalam ya
perkembangan di China.
Jadi tadi sudah ada
keberhasilan-keberhasilan
di China ya, ada penurunan sampai 50%.
Kemudian tadi ya di Senzen dan Guangzo
ini elektrifikasi total. Di Beijing
ada AI traffic prediction mengatur 1,2
juta titik kemacetan
ya. Kemudian di Heinen Province
ini juga melarang penjualan.
Jadi kendaraan bukan listrik dilarang
dijual di Heinen Province sejak tahun
2025. Nah, ini ee dengan
ee kebijakan-kebijakan di atas ini
dampak nasionalnya emisi transportasi
CO2 turun 11%.
PM 2,5 turun rata-rata 36%.
Juga di China sudah memasukkan ee air
justice ya,
serta
ee sudah ada transformasi mobilitas
yaitu kebijakan energi, industri dan
data.
Nah, di kita sudah banyak diskusi ya,
rapat-rapat begitu ee prototype. Nah,
tapi kalau implement terimplementasi
seperti di China begitu saya belum
lihat. Mungkin nanti Bapak Ibu ee yang
hadir di webinar ini. Oh, saya nemukan
di kota A ya. boleh kita akan bahas.
Nah, di China juga ada AI ya, robot
taksi di kota-kota besar dan autonomo
delivery vehicle. Jadi ee kendaraan
pengantar makanan, pengantar barang itu
mereka menggunakan listrik dan tidak ada
supirnya ya.
Autonomous delivery ini di Beijing
dan
taksi tanpa
supir itu juga sudah banyak ya di
kota-kota besar di China.
Nah, ini artinya sudah terintegrasi data
AI ya, data-data kendaraan yang ada di
sana
sehingga data itu
sudah merupakan satu ekosistem sendiri
di dalam sebuah kota.
ini sebagai ilustrasi tentang bagaimana
data-data pemantauan udara ini sudah
berkembang
dari sebuah
data tunggal menjadi data kolektif ya
yang terintegrasi dengan data-data
lainnya.
Jadi saat ini banyak ee sudah
dikembangkan
AI ya, management system
untuk memprediksi PM2,5, NO2, analisis
penyebaran spasial,
optimasi kebijakan transportasi real
time.
Artinya bidang lingkungan yang mungkin
di kita kurang diperhatikan ya di negara
maju ini sangat diperhatikan
karena kesehatan itu menjadi
investasi jangka panjang ya. Investasi
jangka panjang.
Nah, ini ee
wawasan ya buat kita semua bagaimana
ee negara maju sudah mengarah ke sana.
Nah, jadi tool seperti AI itu sudah
biasa, bukan sekedar di tempat riset
atau diskusi-diskusi ilmiah itu sudah
dipraktikkan di kota-kota ya. Tadi
kita sudah melihat bagaimana
delivery sudah menggunakan otomatis
tidak ada spirnya.
Taksi juga otomatis tidak ada spirnya.
Itu kan artinya datanya sudah
terintegrasi ya. Nah, tentunya di
belakangnya itu banyak sekali
algoritma yang sudah dikembangkan. Bukan
sekedar penelitian tapi sudah
diterapkan.
di kota, di level kota.
Jadi ee model-model algoritma seperti
ini ini sudah biasa ya dipraktikkan di
negara-negara maju. Mungkin di Indonesia
baru ada di level penelitian di
kampus-kampus, di pusat penelitian
begitu ya. dan di sana mereka sudah
menerapkan langsung. Tentunya ini
menjadi tantangan ya bagi kita untuk ee
menuju ke arah sana.
Jadi antara
tools ya misalnya AI dengan sumber emisi
ini sudah terintegrasi bagaimana
kendaraan itu menjadi
lebih
ee
diatur untuk menurunkan kemacetan dan
juga menurunkan
pencemaran udara.
Contoh misalnya di Beijing ya,
itu lalu lampu lalu lintasnya itu tidak
statis, dia dinamis.
Ketika ada satu daerah yang macet,
bagaimana supaya kendaraannya berpindah
ke daerah yang tidak macet
ya dengan
ee rekayasa lalu lintas secara otomatis
real time oleh AI. Jadi bukan oleh
manusia lagi. Otomatis saja AI itu sudah
berpikir sendiri. Dia mengatur lalu
lintas dan itu terbukti bisa menurunkan
ee
kemacetan ya dan juga
rata-rata waktu paparan polusi
kendaraan hingga 15 sampai 20%.
Jadi sudah terbukti ya dan sudah
dijalankan
tentunya bukan hanya itu ya ee
banyak bukan hanya di China, di negara
lain juga khususnya di Eropa itu juga
sudah ee menerapkan hal ini.
Dan kalau kita lihat ya sebagai
kesimpulan bahwa ee
udara atau atmosfer kesehatan ee
pencemaran udara ya itu sudah menjadi
basis kebijakan ruang dan kesehatan.
Jadi bukan diserahkan kepada tiap
penduduk ya
kalau ingin sehat ya beli masker sendiri
gitu. enggak begitu lagi, tapi sudah
diatur
dalam sebuah kebijakan ruang dan
kesehatan.
Tentunya ini satu hal yang sangat bagus
ya. Ee nah yang terakhir adalah tadi
bagaimana kepedulian masyarakat yang
disebut dengan citizen sensing.
Ee contoh misalnya di Eropa itu ada
sebuah komunitas ya
yang mengoperasikan lebih dari 100.000
sensor aktif. Jadi alat pemantau udara
dibeli oleh masyarakat, dipasang oleh
masyarakat, kemudian
di pantau secara online ya misalnya IQR
itu mereka
menyampaikan data real time ke
masyarakat.
Di Amerika ada juga purple Air ya ini
ada 12.000 Ibu sensor dan juga di
negara-negara lain.
Iya.
Ee
mungkin saya cukupkan dahulu
paparannya. Kita lanjut dengan diskusi
ya. Ee memang ini agak futuristik ya.
Dan mungkin kata Bapak, Ibu, aduh
kayaknya enggak mungkin begitu ya kita
terapkan di Indonesia. Namun demikian
saya sampaikan juga sebagai wawasan.
Setidaknya kita tahu perkembangan
pengelolaan pencemaran udara
berkelanjutan
di negara maju itu seperti apa dan ini
menjadi arah kita ke depan.
ee saya.
Baik. Ee terima kasih banyak kepada Pak
Asep atas pemaparan materinya yang
sangat informatif dan membuka wawasan
kita. Dan baik Bapak Ibu peserta kita
sudah mendengarkan bagaimana
penjelasannya dimulai dari tadi itu
adalah prinsip dasar pengelolaan
pencemaran udara kemudian evolusi sistem
pencemaran udara global hingga juga
penerapan AI dalam pengelolaan
pencemaran udara khususnya di negara
Cina. Baik ee mungkin kita akan
lanjutkan pada sesi tanya jawab dari
Slido terlebih dahulu dan di sini saya
akan menampilkannya
ya. Kebetulan di sini sudah ada sembilan
pertanyaan, Pak Asep dari aplikasi
Saidu. Dan kepada Pak Asep bisa langsung
bisa langsung saja menjawabnya
pertanyaannya satu persatu.
Baik, kita mulai dari pertanyaan yang
pertama ya. Terima kasih. Ee pertanyaan
pertama
ee tentang ya mungkin saya bacakan dulu
ya. Selain penggunaan cangkang di pabrik
minyak kelapa sawit
dalam jangka pendek menengah cara
perusahaan sawit bisa mengendalikan
pencemaran udara. Ya, ee tentunya di
dalam pengendalian pencemaran udara di
industri ini ada minimal tiga hal ya.
Yang pertama tentu menjamin bahwa
emisinya bisa dikendalikan
dengan cara alat pengendali. ini sudah
diatur di dalam perteek ya, persetujuan
teknis emisi. Bagaimana Bapak Ibu
menghitung emisi yang dikeluarkan ini
kalau langsung tanpa alat pengendali dia
bisa ini enggak gitu ya, bisa
melebihi baku mutu atau tidak. Nah,
kalau melebihi baku mutu berarti harus
ada alat pengendali ya.
Yang kedua adalah bagaimana ee
modifikasi bahan bakar ini tadi ya yang
cangkang ini ee artinya
ee bahan bakar itu tentu banyak ada
batubara, ada gas, ada diesel. Nah,
salah satunya adalah biomassa
menggunakan cangkang sawit sebagai bahan
bakar. Nah, tentu di sini ada kelebihan
dan kekurangan.
kekurangannya nilai kalornya lebih
rendah sehingga jumlah cangkang yang
diperlukan lebih banyak tentunya jumlah
partikulatnya juga akan lebih banyak ya
ee tapi kelebihannya tentu di sini lebih
murah dan kita bisa mengurangi limbah
mengenai pencemarnya ini tentunya sangat
tergantung ya kepada proses itu sendiri
bisa jadi pencemarnya lebih tinggi atau
lebih rendah
Yang jelas di sini kita sudah melakukan
ee penghematan energi ya dari yang
berbahan bakar fosil digantikan dengan
renewable energy.
Jadi
itu yang kedua ya modifikasi dari bahan
bakar. Yang ketiga tentunya kita
melakukan yang kita sebut sebagai
produksi bersih. Bagaimana secara
keseluruhan dari raw material sampai
produk itu kita hitung lagi agar
emisinya bisa kita kurangi secara
komprehensif.
Nah,
ee kalau pertanyaannya
bisa mengendalikan pencemaran udara, ya
tentu tadi tidak bisa hanya dari
cangkang saja ya, dari tiga variabel
tadi. Dari alat pengendali itu paling
penting. Yang kedua, modifikasi ini juga
harus disesuaikan dengan alat
pengendali. Kalau misalnya penggunaan
cangkang ini ternyata emisinya malah
jadi lebih besar, berarti alat
pengendalinya kan harus di sesuaikan ya.
Kemudian juga tadi menggunakan produksi
bersih. Bagaimana kita melakukan
ee
evaluasi
dari setiap proses ya.
Contoh misalnya
dalam SOP
ketika kita melakukan pembersihan
ee alat pengendali misalnya ya. Nah, itu
kan ee kalau tidak diperhatikan pada
saat kita overha kita bisa melepaskan
emisi dalam jumlah yang besar. Nah, itu
kira-kira contoh banyak sekali yang bisa
kita lakukan.
Kemudian
ada pertanyaan dari Bu Ana, bagaimana
cara memastikan partisipasi publik
efektif?
Ya,
tentu partisipasi publik ini ada
beberapa sisi ya.
Ada sisi berperan di dalam
melindungi dirinya
dari pencemaran udara
atau dia berperan ikut menurunkan
ya sumber emisi. Jadi ada dua
pendekatan. Ada pendekatan reseptor, ada
pendekatan sumber.
Kalau pendekatan reseptor
kita katakan partisipasi publik ini
sudah berjalan kalau kita sudah melihat
orang-orang sudah secara sadar
menggunakan masker
di tempat-tempat yang terpolusi ya.
Nah,
jadi ee kalau Bapak Ibu
ee pernah ke Jepang ya,
itu mereka itu selalu pakai masker.
Setiap pergi
ke tempat kerja, pulang dari tempat
kerja, pergi ke sekolah, pulang dari
sekolah. Padahal udaranya itu sudah
bersih
saking mereka pedulinya kepada
kesehatan.
Nah, kalau kita lihat di Jakarta, saya
jarang sekali melihat orang pakai masker
ya.
Dia ya, artinya dia berjalan di
sepanjang jalan Sudirman misalnya,
Tamrin
dan kita tahu di sana itu pasti PM
2,5-nya tinggi gitu,
tapi tidak ada yang pakai masker. Nah,
ini kan bukti bahwa perlindungan
reseptor itu masih kurang
jadi belum efektif.
Nah, ini yang paling mudah melindungi
diri sendiri. Yang kedua,
menurunkan
sumber ya. Di antaranya
beralih ke mobil listrik misalnya ya.
Kita biasanya tiap hari menyumbangkan
emisi buat dihirup oleh seluruh
masyarakat
yang ada di sekitar kita. Kita keluarkan
emisi tiap hari.
Kemudian kita ganti dengan mobil listrik
ya. Itu artinya kita sudah menurunkan
sumber emisi
minimal di kota. Ya,
saya berani menyuruh ini karena saya
sudah hampir 1 tahun pakai mobil
listrik. Jadi ee artinya saya sudah
memberi contoh gitu ya, bukan sekedar
menyuruh.
Karena saya sadar bahwa
saya tiap hari memberikan emisi ya.
Nah, ini banyak yang tidak sadar juga.
Disangkanya dia tidak buang sampah.
Kalau buang sampah orang sudah mulai
sadar kan tidak mungkin dia pergi ke
kantor dia buang sampah sepanjang jalan
kan tidak tidak ada orang yang seperti
itu. Tapi dia tidak menyadari bahwa dia
belum beralih ke mobil listrik itu
berarti dia buang sampah tiap waktu
sepanjang perjalanan dari rumah dia ke
kantor dan sebaliknya dia buang sampah
berupa polutan udara.
Nah, bagaimana kalau wah ini belum ada
uangnya beli mobil listrik? Minimal
dia tahu enggak emisi dia itu ada
berapa?
Dia tahu enggak bahwa sepeda motor
emisinya lebih tinggi dari mobil ya.
Apalagi sepeda motor yang tidak di
dirawat itu emisinya banyak sekali. Nah,
hal-hal seperti ini kan belum belum
menjadi kesadaran bersama ya. Kesadaran
untuk beralih ke mobil listrik atau
motor listrik beralih ke ah mungkin ada
yang nanya itu kan nanti emisinya tetap
di pembangkit listrik batu bara ya. Tapi
minimal itu kan ada alat pengendalinya
di PLN ya.
Kita kan bicara di kota, di kota kita
tidak mengeluarkan emisi
atau kita menggunakan kendaraan umum dan
seterusnya. Banyak sekali yang bisa kita
lakukan sebagai langkah untuk menurunkan
emisi, ya. Nah, jadi partisipasi publik
ini bisa kita lakukan dengan
perlindungan reseptor. Kita sebagai
penerima pencemaran udara dengan
melindungi diri menggunakan masker dan
tindakan lainnya atau kita juga bisa
ikut serta di dalam menurunkan emisi.
Kemudian dari Pak David di tengah krisis
iklim apa tantangan
ya? Nah, jadi kita tahu bahwa
untuk CO2 kita gagal ya.
Ee
kalau kita lihat laporan SDGIS,
laporan SDGIS
yang sekarang 2025
targetnya kan 2030 itu 5 tahun lagi.
Ee seharusnya kita ini sudah mencapai
sekitar 60% dari target ya. Tapi
kenyataannya SDGIS itu hanya tercapai
20%-an.
masih jauh padahal waktunya tinggal 5
tahun. Nah, dan yang lebih menyedihkan
untuk target
SDGs
tentang perubahan iklim
itu minus bukan progres tapi malah
memburuk dari tahun awal ya ee
sejak SDGs ini dijalankan.
Jadi
banyak hal ya yang membuat gagal.
Yang pertama adalah perang Ukraina.
Perang Ukraina
menyebabkan
Eropa yang sudah punya target
untuk elektrifikasi 100% di tahun 2030
jadi mundur ya.
bebas batubara jadi mundur
karena mereka harus mencari energi baru
karena suplly dari Rusia terganggu.
Kemudian yang kedua,
kebijakan Amerika yang
masuk IPCC atau UNFCC
ketika
Partai Demokrat ketika yang dapat Partai
Republik seperti sekarang Donald Trump
dari Partai Republik dia keluar dari
UNFCC
itu kan 5 tahun.
Jadi ketika
Donald Trump
tahun
mungkin 2015 ya yang periode pertama dia
juga keluar
kemudian digantikan oleh Joe Biden dari
Partai Demokrat masuk lagi ke UNFCC
terus sekarang keluar lagi ya. Nah, tapi
minimal sudah 10 tahun tuh Amerika
tidak komit kepada perjanjian perubahan
iklim. Nah, ini juga berpengaruh ya
karena Amerika itu negara yang sangat
besar dan
ee yang mengemisikan
CO2 paling tinggi atau paling besar di
dunia ya. Tentu ini sangat besar
pengaruhnya.
Nah, dan juga faktor-faktor lainnya
seperti perang dagang dan seterusnya ini
menghambat target penurunan gas rumah
kaca dan kita bisa lihat
hasilnya ya
ee iklim semakin sulit diprediksi,
semakin banyak bencana terkait
hidrometeorologi.
Itu yang terjadi sekarang.
kita sebut sebagai krisis iklim. Nah,
tentu krisis iklim ini
harus menjadi
ee semangat ya. Jangan sampai
sudah krisis iklim, kita tidak mengelola
lingkungan dengan baik.
Karena krisis iklim ini menjadi amplify
atau amplifier sebagai penguat dari
bencana lingkungan.
Jadi bencana lingkungan itu sebetulnya
sudah ada akibat kerusakan lingkungan.
Tapi dengan adanya krisis iklim dia jadi
dua kali, tiga kali lebih lebih bahaya
ya. Nah, ya tentunya kita di tengah
krisis iklim ini harus menjadi semangat
bagaimana pengelolaan lingkungan ini
menjadi lebih baik. Salah satunya
pengelolaan pencemaran udara seperti
yang tadi kita sudah lakukan.
Memang yang tadi kita sampaikan adalah
wawasan untuk ke depan ya. Nah, karena
saya pernah juga menyampaikan
ee tentang pengelolaan pencemaran udara
yang tradisional
mulai dari inventarisasi emisi,
pemantauan,
kemudian juga penyusunan
ee program-program
penurunan pencemaran udara ya.
Nah, itu pun belum kita laksanakan ya.
Nah, jadi
tantangan utamanya
ya kita harus fokus ya ee di dalam
mengatasi tantangan yang semakin berat.
Kemudian dari Pak Arman radio aktif di
Cikande.
Ya, ini juga salah satu contoh ya.
Kenapa kita baru tahu setelah ada temuan
dari luar negeri?
Ya, karena kita itu tidak fokus kepada
data
ya. Perhatian kita kepada data itu
sangat kurang.
Kalau di negara maju kenapa dia bisa
tahu ada
radiasi
di udang begitu? Karena mereka selalu
menggunakan data.
Jadi ini masalah kebiasaan ya, behavior
dan juga masalah kemampuan.
Jadi behavior-nya kedisiplinan kita
kurang dan dari sisi kemampuan kita juga
kekurangan alat-alat untuk mendeteksi
dan ini bisa saling melengkapi karena
alatnya tidak ada ya akhirnya tidak
dipantau ya. Contoh, Bapak Ibu sering
melihat ada pemantau
ee
di jalan raya itu suka ada truk masuk
ditimbang ya penimbangan
penimbangan truk kelebihan muatan.
Nah, kalau Bapak perhatikan ya, Bapak
Ibu perhatikan sering sekali alatnya itu
rusak
akhirnya ya tidak ditimbang.
Jadi
ee
pengukuran itu antara dua sisi tadi,
kedisiplinan dan juga fasilitas.
Ketika fasilitasnya tidak ada, semakin
tidak disiplin.
Karena tidak disiplin, fasilitas tidak
diperhatikan. Nah, ini menjadi
ciri khas di negara-negara berkembang
ya.
Jadi kenapa kita tidak tahu? Ya karena
tadi infrastruktur
atau fasilitas
pemantauan, monitoring, pengukuran itu
di kita sangat kurang. Ditambah lagi
kalaupun alatnya sudah ada, kita tidak
disiplin
ya.
Banyak sekali kasus ya di lapangan
alatnya ada
tapi tidak ada orang yang mencatatnya
atau catatannya tidak disimpan dengan
rapi dan seterusnya.
Jadi dua hal ini
saling melengkapi
antara ketidakdisiplinan dengan
fasilitas yang kurang.
Kemudian
dari ada penanya berikutnya, apakah AKMS
harus dipasang di industri?
Bagaimana dengan regulasi yang mengatur
hal tersebut?
Di dalam regulasi
tidak disebutkan AKMS, tapi
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:09:23 UTC
Categories
Manage