Webinar 132 Pengelolaan Pencemaran Udara Berkelanjutan
A8WZtIruGR0 • 2025-10-30
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang kembali di webinar Eko ke-132. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu semuanya yang sudah selalu setia untuk mengikuti acara webinar ini. Dan hari ini webinar Eko akan mengangkat tema pengelolaan pencemaran udara berkelanjutan. Perkenalkan saya Dini yang akan bertugas sebagai moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu semuanya, sebelum kita mulai webinar pada siang ini, alangkah baiknya kita berdoa bersama-sama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk itu berdoa dipersilakan. Berdoa dicukupkan dan untuk acara selanjutnya mari kita menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak Ibu untuk duduk tegak. [musik] Indonesia tanah airku, tanahku. [musik] Di sanalah [musik] aku beradilah [musik] Indonesia kebangsaanku, [musik] bangsa dan tanah air. Marilah kita [musik] bersaru Indonesia bersatu. [musik] Hiduplah tanahku, hiduplah [musik] negeriku, bangsaku, rak semuanya. [musik] Bangunlah jiwanya, bangunlah badanya untuk Indonesia [musik] Raya. Indonesia [musik] Raya merdeka, merdeka tanahku, [musik] negeriku yang kucinta Indonesia Raya [musik] merdeka, merdeka hiduplah Indonesia Raya [musik] merdeka, [musik] merdeka tanahku negeriku yang kua Indonesia [musik] Raya merdeka, merdeka hiduplah [musik] Indonesia Raya [musik] ya. Baik Bapak Ibu semuanya, untuk selanjutnya izinkan saya mempromosikan tiga pelatihan dalam waktu dekat ini yang akan diselenggarakan oleh kami, yaitu yang pertama di minggu ee selanjutnya yaitu tanggal 3 sampai dengan 7 November 2025. Di sini kami akan mengadakan dua pelatihan, yaitu yang pertama adalah pelatihan perhitungan emisi gas rumah kaca atau GRK dan perdagangan karbon gelombang 21. Kemudian yang kedua adalah pelatihan life cycle assesment atau LCA gelombang 12. Lalu dilanjutkan di minggu selanjutnya di tanggal 10 hingga 14 November 2025. yakni kami akan mengadakan pelatihan penunjang dokumen AMDAL dan SLO terkait persetujuan teknis untuk emisi udara gelombang 21. Dan baik Bapak Ibu jika Bapak Ibu melakukan pembayaran pada H-1 pelatihan Bapak Ibu akan mendapatkan diskon 10% dari biaya investasi. Dan untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi admin kami yaitu Riris Danisa. Selain itu juga Bapak, Ibu dapat mengunjungi sosial media kami yakni ada Instagram, YouTube channel, Facebook, Twitter, dan juga website resmi kami di www.ecoedu.co.id. Dan juga Bapak Ibu yang tertarik langsung untuk mendaftar bisa akses di pendaftaran.co.id. Dan selain itu juga kami terdapat inhouse training yang dapat dilakukan secara offline sesuai dengan permintaan dari instansi perusahaan Bapak Ibu semuanya. Jadi kami tunggu Bapak Ibu di pelatihan. Baik Bapak Ibu, selanjutnya kita akan langsung saja masuk pada kegiatan utama kita di mana webinar kali ini kita akan berdiskusi mengenai pengelolaan pencemaran udara berkelanjutan dan tentu saja kami telah menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya untuk memberikan materi dan wawasan yang bermanfaat. Baik, perkenankan saya untuk memperkenalkan narasumber kita hari ini yaitu Bapak Dr. Eng Asep Sofan. Stmt merupakan dosen Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Bandung. Mungkin saya akan sapa terlebih dahulu. Selamat siang, Pak Asep. Selamat siang, Mbak Dini. Bagaimana, Pak, kabarnya? Alhamdulillah kabar baik, ya. Alhamdulillah. Mudah-mudahan selalu sehat selalu ya, Pak. Amin. Ya. Baik. Ee mungkin sebelum kita mulai, izinkan saya untuk menyampaikan beberapa teknis yang di mana untuk pemaparan dilaksanakan selama 1 seteng jam, kemudian nanti dilanjutkan dengan sesi tanya jawab menggunakan aplikasi Slidu dan dilanjutkan lagi dengan tanya jawab secara langsung. Baik, untuk mengefektifkan waktu saya serahkan ruangan Zoom ini kepada Pak Asep dan kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat mengikuti acara webinar. Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum. warahmatullahi wabarakatuh. Bapak, Ibu yang saya hormati. Senang sekali bisa bertemu kembali ya di acara ee webinar Ekoedu. Terima kasih kepada Eko Edu mengundang saya untuk ee hadir di webinar yang sangat penting ini. Bapak, Ibu yang saya hormati, izinkan saya untuk menyampaikan share screen ya. Bagaimana? Apakah sudah ee full screen? Ee sudah, Pak. Baik, ya. Topik kita kali ini adalah pengelolaan pencemaran udara berkelanjutan. Definisi pengelolaan pencemaran udara berkelanjutan. adalah pendekatan terpadu ya untuk menjaga kualitas udara dengan menyeimbangkan kebutuhan pembangunan, perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan ini mencakup dimensi teknologi, kebijakan sosial dan ekologis. Tujuannya menciptakan kota yang sehat, adil, dan berketahanan iklim. Nah, apa bedanya pengelolaan pencemaran udara tanpa berkelanjutan? Ya, dengan berkelanjutan. Kata kuncinya adalah di kata terpadu di sini ya. Jadi ketika kita ingin sebuah kota atau kota kita ini ee mengalami sebuah ee pertumbuhan yang baik dalam artian kualitas udaranya terus membaik gitu ya. Bukannya memburuk tapi terus membaik. Apa yang harus kita lakukan? yang harus yang harus kita lakukan adalah pengelolaan secara terpadu, ya. Pengelolaan secara terpadu. Jadi di sini memadukan antara dimensi teknologi, kebijakan sosial dan juga ekologis untuk mengelola kualitas udara secara berkelanjutan. kita memerlukan empat dimensi utama ya tadi sudah kita sebutkan. Yang pertama aspek lingkungan atau ekologi tentunya harus ada pengendalian emisi dan pemantauan kualitas udara ya. Nah, ini yang biasanya kita lakukan di setiap kota di Indonesia ini sudah kita lakukan ya melakukan pengendalian emisi dan pemantauan kualitas udara. Nah, tapi di kita ee belum menerapkan teknologi. Teknologi di sini ada integrasi sensor, ada internet ofs, artificial intelligence, dan analisis spasial. Nah, mengapa dengan menerapkan teknologi ini kita bisa menjamin lebih terjadi berkelanjutan? Karena kalau kita hanya melakukan pengendalian dan pemantauan, kadang-kadang juga pemantauannya tidak kontinue ya, tapi pemantauannya secara ee berkala ya, mungkin hanya dua kali dalam setahun begitu ya. Nah, apa yang terjadi? kita tidak bisa mengawasi, tidak bisa memonitor. Sebetulnya pencemaran udara di tempat kita ini dia membaik atau memburuk karena rentang waktu evaluasinya terlalu panjang. Nah, sehingga di sini ee walaupun ya kita belum bisa karena keterbatasan anggaran, keterbatasan teknologi, keterbatasan sumber daya manusia untuk menerapkan ini, tapi setidaknya kita sudah punya wawasan, oh ternyata seperti itu ee pengelolaan kualitas udara berkelanjutan ya. Jadi di sini kita jangan berkecil hati kalau misalnya kita belum bisa untuk menerapkan empat hal ini, tetapi setidaknya kita tahu langkah ke depan itu seperti apa. Setelah nomor satu ini kita lanjut ke nomor dua ya. Nah, ini sebagai sebuah rencana ke depan. Jadi dengan adanya teknologi ya, salah satunya mengintegrasikan sensor pencemar udara dan juga analisis lainnya, maka kita bisa memonitor perkembangan kualitas udara itu secara real time saat ini juga dan juga bisa dilakukan respon yang cepat. Nah, selain teknologi yang penting adalah kelembagaan. Memang saat ini di beberapa kota sudah mengembangkan ya kolaborasi lintas sektor. Misalnya Dinas Lingkungan koordinasi dengan Dinas Perhubungan, Dinas ESDM, Dinas Perindustrian, Dinas Kesehatan. Nah, tetapi dalam praktiknya baru sebatas rapat ya, rapat-rapat koordinasi belum membentuk suatu kelembagaan yang kalau di negara maju kelembagaan ini sudah dipraktikkan langsung. Demikian juga untuk sosial. Di kita sudah ada sosialisasi. Tetapi kalau kita bandingkan dengan keterlibatan masyarakat di negara maju, kita masih jauh ya. Karena di ee contoh di Amerika ee masyarakat Amerika menganggap kualitas udara yang baik itu adalah hak mereka ya. hak masyarakat sehingga mereka memasang alat sensor sendiri dan mereka komplain kepada pemerintah ketika kualitas udaranya buruk. Nah, jadi ee aksi ya kepedulian dari masyarakat di negara maju itu sudah sangat tinggi terhadap hak mereka untuk mendapatkan udara bersih. Nah, di kita sudah ada perkembangan tapi masih jauh ya, terutama ketika terjadi kebakaran hutan. masyarakat seolah-olah tidak punya hak untuk memperoleh udara bersih. Pasrah saja begitu. Nah, tentunya ini ee kita menuju ya ee menuju dari apa kepasrahan dari masyarakat menuju partisipasi aktif dari masyarakat untuk ee menuntut hak kita sebagai warga negara ya. Kemudian kalau kita lihat lebih jauh ya tentang komponen utama kalau kita mau melakukan pengelolaan udara berkelanjutan tentunya tadi pemantauan dan data ini menjadi paling utama ya. Nah, di negara maju mereka sudah melakukan analisis yang menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Ini bukan teori. Di kita masih berupa teori, hanya dipelajari di kampus-kampus ya, diskusi-diskusi ilmiah. Tapi di negara maju ini sudah dipraktikkan. Nanti kita akan bahas ya. Kemudian juga mobilitas dan energi bersih ya di kita sudah sering dibahas di rapat-rapat tentang bagaimana menurunkan emisi dari transportasi dan industri. Beberapa peraturan sudah dibuat, penegakan hukum sudah dilaksanakan. Namun kalau kita lihat bagaimana pelaksanaan di negara maju sebetulnya kita masih tertinggal jauh ya. Demikian juga tentang tata kelola dan partisipasi publik. Tadi sudah kita singgung sedikit ya. Nah, untuk mewujudkan pengelolaan udara berkelanjutan prinsipnya salah satunya adalah terintegrasi atau keterpaduan. Ini tidak bisa ditawar ya, karena pencemaran udara itu adalah masalah yang kompleks yang tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak. Ini harus melibatkan banyak pihak. Kita juga harus adaptif terhadap perkembangan lingkungan. Misalnya sekarang kebetulan kita masih di ujung dari Lanina ya. Nah, lanina itu adalah periode yang cenderung basah. kita sudah di ujung artinya seharusnya sudah normal tapi di sini masih ada sisa-sisa lanina kita masih mengalami ya tahun lalu 2024 kita mengalami kemarau basah sekarang kita juga masih mengalami curah hujan yang cukup tinggi ya nah tapi nanti di 2026 2027 siklus nya akan bergeser kepada elnino. Hujan akan jarang turun, maka bencana banjir beralih ke bencana kebakaran hutan, ya. Nah, berarti kita harus adaptif, kita harus tanggap terhadap perubahan lingkungan dan sosial. Artinya secara ilmiah sudah bisa diprediksi bahwa 2026, 2027, 2028 itu akan mengalami musim kering yang makin lama makin kuat ya atau kita sebut dengan elnino. Nah, artinya kan sekarang kita sudah tahu akan mengalami musim kering di tahun-tahun yang akan datang. seharusnya kita sudah melakukan persiapan untuk mengatasi kebakaran hutan dan juga dampak-dampak pencemaran udara di daerah rawan kebakaran hutan. Kemudian yang ketiga ini adalah keadilan ya atau air justice. Nah, ini adalah suatu bentuk kesadaran yang sudah mulai muncul di kota-kota besar di Indonesia. Tapi masih sangat sedikit ya. Baru beberapa orang atau beberapa puluh orang saja yang peduli. Masyarakat tidak tahu harus bagaimana dia menuntut haknya. Ya. Jadi kalau kita lihat kasus ee upah minimum, buruh sering langsung demonstrasi atau ada masalah politik langsung demonstrasi ya. Tapi untuk udara bersih ini kelihatannya masyarakat masih belum merasakan bahwa udara bersih adalah hak dari warga masyarakat. Bahkan untuk yang terlihat saja seperti pengelolaan sampah, masyarakat masih belum menganggap itu sebagai haknya mendapatkan kota yang bersih dari sampah. Nah, ini ee tugas dari kita ya di mana pun Bapak Ibu bertugas baik sebagai pemerintahan, sebagai akademisi di konsultan atau mahasiswa pelajar tentunya kesadaran tentang hak atas udara bersih ini harus selalu kita tingkatkan. Berikutnya adalah transparansi dan juga kolaborasi. Nah, hak warga atas udara bersih ini terkait dengan transparansi. Saat ini data-data pemantauan tidak diumumkan ke publik. Masyarakat diam saja, tidak merasa haknya terganggu. Padahal di negara maju mereka menuntut data pemantauan itu saya harus tahu karena itu menyangkut kepada kehidupan saya, kesehatan saya dan keluarga. Nah, itu tentang transparansi dan juga kolaborasi. Artinya di negara maju urusan mengendalikan pencemaran udara ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini merupakan tanggung jawab semua masyarakat. Karena tadi masyarakat sudah peduli ya terhadap kondisi kualitas udara. Masalah terbesar di kita di Indonesia pada umumnya adalah kesadaran masyarakat yang masih relatif rendah terhadap bahaya pencemaran udara. Sebetulnya ini tidak mengagetkan karena masyarakat kita ini jangankan untuk kualitas udara yang tidak terlihat, untuk masalah sanitasi saja masih buruk. ya. Masalah pengelolaan sampah juga masih buruk dari dalam arti kesadaran. Jadi tentunya ini perlu bertahap ya mulai dari kesadaran terhadap sanitasi, kesadaran terhadap pengelolaan sampah, baru nanti meningkat kepada kesadaran terhadap bahaya pencemaran udara. Jadi literasi masyarakat saat ini masih rendah. Masyarakat masih belum tahu apa yang harus dilakukan ketika kualitas udara buruk. Ya, ini merupakan tugas khususnya dari bagi para pendidik. Jika ada guru, ada dosen yang hadir di sini, ini merupakan tugas kita para pendidik untuk meningkatkan literasi. masyarakat tentang bahaya pencemaran udara. Karena bisa jadi masyarakat itu tidak peduli karena tidak tahu bahayanya itu apa. Jadi, kesadaran masyarakat yang relatif rendah ini akan memperburuk dampak. Banyak warga belum memahami indikator kualitas udara. Misalnya ISPU, indeks standar pencemar udara. Dan masyarakat tidak mengubah aktivitasnya meski polusi tinggi. Kemudian kurangnya informasi membuat masyarakat tidak melindungi diri. Misalnya memakai masker, mengurangi aktivitas luar ruang, lebih menanam vegetasi. Nah, jadi ini adalah suatu lingkaran yang harus kita putus. ketidaktahuan, ketidakpedulian dan akhirnya tidak melakukan apa-apa. Padahal udara bersih itu adalah investasi jangka panjang ya, bisa menekan biaya kesehatan publik, kita bisa lebih tahan dan berkelanjutan serta ee secara sosial dan lingkungan. Nah, kesadaran seperti ini menjadi apa? Tolok awal, ya. Menjadi langkah awal. Langkah awal. Kalau kita ingin pengelolaan pencemaran udara berkelanjutan, langkah awalnya apa? Kita tingkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya pencemaran udara. Nah, jangan-jangan banyak masih banyak masyarakat kita yang tidak tahu apa itu ISPU, tidak bisa membaca. Ya, kalau ISPU tidak tahu, padahal pemerintah menyampaikan informasi itu berdasarkan ISPU, ya tidak akan muncul gerakan, tidak akan muncul kepedulian. Jadi ini adalah tugas dari kita semua untuk menyebarluaskan tentang bagaimana pemerintah mengkomunikasikan hasil pemantauan yaitu menggunakan ISPU. Apa itu ISPU? ISPU adalah sebuah indeks. Mengapa dipakai indeks? Karena kalau kita lihat angka dari pencemaran itu nilainya tidak sama. Contoh misalnya untuk PM10 dia dikisaran puluhan sampai ratusan. Tapi contoh misalnya CO dia kisarannya ribuan sampai puluhan ribu. Nah, ini adalah angka yang berbeda-beda ya, berbeda-beda rentangnya. Makanya kita buat indeks. Jadi di dalam indeks kita ada faktor konversi ya. Ee ada faktor konversi dari angka yang beda-beda ya. Ini kan beda-beda. Ada yang belasan, puluhan, bahkan ada yang ribuan. Itu kita konversi ke angka ISPU 0 sampai 50. ya. Kemudian juga nanti ada rentang yang berikutnya setelah dikonversi ya misalnya tadi angkanya ee sampai 50 itu kategorinya baik maka tingkat mutu udaranya sangat baik. Kemudian sedang ini masih bisa diterima. Tidak sehat merugikan kesehatan. Sangat tidak sehat meningkatkan risiko kesehatan. Kemudian berbahaya ini kesehatan serius. Jadi kita bisa melihat, bertanya ke sekeliling kita, berapa orang yang tahu arti dari warna-warna ISPO ini. Nah, kalau banyak yang tidak tahu ya itu berarti ee ciri ya tanda bahwa masyarakat kita belum peduli terhadap informasi pencemaran udara. Nah, ini ada sebuah contoh data ISPU dari PM 2,5 di DKI Jakarta dari tahun 2021 sampai 2024 dari lima stasiun pemantauan kualitas udara di Jakarta. Kalau kita lihat di sini selain yang baik dan sedang ini ada juga yang tidak sehatnya ya. Nah, ada juga yang tidak sehatnya. Kalau kita lihat di sini dari sisi fluktuasi ya, ini kan Mei, September mungkin ya di sini sekitar Juli, Agustus ya. Ini Juli, Agustus ini tinggi. Nanti turun lagi di Desember, naik lagi di Juli, Agustus. Begitu polanya ya. Jadi sangat dipengaruhi oleh hujan. Nah, sehingga kita juga bisa meningkatkan kewaspadaan dini ketika tidak ada hujan. Berarti pencamaran udara ada kemungkinan naik melihat pola seperti ini. Dan kalau kita lihat di sini ada beberapa episode ya yang sampai menimbulkan tidak sehat. tentunya ini sangat merugikan kepada kesehatan kita. Yang kedua, selain pengenalan cara membaca ISPU, kita juga tahu harus tahu dampak kesehatan dari pencemar udara. Sebagai contoh, PM 2,5. Mungkin di antara kita banyak yang tidak tahu bahwa PM 2,5 itu kecil sekali. Jadi kalau ini adalah rambut manusia ya. Nah, jadi PM10 saja itu kecil sekali ya. Ada kalau kita ee tumpukkan begitu ya di sini. Jadi PM 10 itu sekitar 7 PM 10 dijejerkan itu baru setara dengan rambut manusia. Tapi kalau kita lihat PM2,5 di sini ini kecil sekali ya, mungkin ratusan dijejer baru setara dengan satu rambut manusia ya lebarnya. Padahal rambut manusia juga sangat kecil lebarnya itu. Ini apalagi PM10 dan PM2,5. Nah, ini juga perlu kita sampaikan ya kepada masyarakat di sekitar kita. bahwa PM2,5 itu memang kecil sekali, tidak terlihat. Jangan sangka kalau udara ya oke kita berada di belakang bis, bisnya solar ditanjakan, kemudian bisnya ngegas, keluarlah asap yang sangat tebal. Oh, masyarakat tahu itu pencamaran udara hindari. Nah, tapi bagaimana kalau PM25 itu tidak terlihat? Karena kalau asap tebal itu kita sebut sebagai TSP atau lebih besar lagi PM 100 atau lebih besar lagi karena sampai terlihat ya, sampai terlihat. Nah, PM10 juga sebetulnya tidak terlihat apalagi PM 2,5. Nah, jadi kita sering tidak menyadari tentang bahaya PM 2,5 ini karena sangat kecil, tidak terlihat. Kemudian juga bagaimana saking kecilnya itu dia bisa masuk ke alveolus, ke dalam saluran pernapasan kita. Dan ee kita tahu bahwa alveolus itu adalah saluran tempat bertemunya udara dengan darah. Jadi aliran darah itu menuju alveolus. Di alveolus juga oksigen itu datang ya dan di sana bertemu bagaimana oksigen ini masuk ke dalam darah. menyerap, berbaur dengan darah sebagai energi ya, energi untuk darah. Karena kalau darah tidak dapat oksigen maka darah ini tidak bisa mengalirkan oksigen ke otak, ya. maka kita akan mengalami pingsan kalau otak ini kekurangan oksigen. Makanya kalau kita keracunan CO misalnya itu kan CO dia akan terikat dengan hemoglobin ya. Jadi bukan oksigen yang akan masuk ke dalam darah itu tapi ee CO. Nah, akibatnya oksigennya kehabisan tempat. Banyak orang-orang yang keracunan CO itu langsung pingsan bahkan meninggal. Tapi kalau untuk PM2,5 mekanismenya tidak seperti itu. PM2,5 akan masuk ke alveolus dan akan masuk ke aliran darah. Jadi PM 2,5 itu akan masuk ke aliran darah kita. Nah, apakah PM 2,5 itu berbahaya? Jawabannya tidak. Yang berbahaya bukan PM 2,-nya, tapi yang berbahaya adalah kandungan yang ada di dalam PM 2,5. Karena berdasarkan penelitian di dalam PM 2,5 itu ya kalau kita ingin mengilustrasikan BM2,5 misalnya debu. Debu dia berasal dari tanah. Tanah biasanya kalium. Kalium sendiri tidak berbahaya untuk kita. Nah, tapi dari kendaraan bermotor dia menghasilkan sulfat dan nitrat dan menempel ke dalam partikel 2,5 tadi PM 2,5 dia menempel. Maka di dalam PM2,5 yang kita hirup itu mengandung sulfat, nitrat, dan juga logam-logam berat, ya. Nah, di situlah mulai PM 2,5 ini mulailah PM 2,5 ini menjadi ee bahaya ya. Ketika PM2,5 itu masuk ke dalam darah dan mengandung sulfat serta nitrat serta logam berat dan kandungan lain itu oleh darah akan dianggap sebagai bahan asing. Ya. Maka tugas tubuh manusia kita punya sel darah putih kalau ada benda asing dia akan bekerja. Nah, di sinilah mulai terjadi peperangan antara sel darah putih dengan PM2,5 yang masuk ke dalam darah. Bisa jadi sukses, tapi bisa juga gagal. Nah, ketika gagal itu akan terjadi kanker ya sebagai benih dari kanker. Kanker ini tentunya tidak sekaligus langsung ya. Ini dia pelan-pelan begitu. Kalau kita terus-menerus menghirup PM2,5 yang tercemar oleh sulfat, nitrat, dan logam berat. Nanti saluran darah kita ini akan terjadi inflamasi, pengerasan saluran atau ya ee kita sebut sebagai ee sistem di dalam peredaran darah. Dan kalau kita punya kelainan jantung ya, ada penyumbatan jantung, maka partikulat ini bisa memicu memicu terjadinya gagal jantung. di sekeliling kita, di sekitar kita sering ada kejadian. Ee dia sehat, pagi-paginya badminton, olahraga, malamnya meninggal karena gagal jantung. Itu kita sering dengar ya. Kemarin masih pergi bekerja, besoknya sudah meninggal padahal kondisinya sehat. Nah, ini salah satunya tentu penyebabnya banyak ya, tapi salah satunya adalah pengaruh dari PM 2,5. Secara tidak sadar dia menghirup PM 2,5 terus-menerus. Sering naik sepeda motor tanpa masker, merasa baik-baik saja. Nah, padahal PM2,nya itu terakumulasi, terakumulasi di dalam darah dan dia bisa sewaktu-waktu terjadi gagal jantung. Kalau gagal jantungnya ee di otak ya kita sebut sebagai stroke ya. Nah, jadi PM 2,5 ini sangat bahaya bisa menyebabkan gagal jantung, stroke, dan juga kanker. Nah, ini mungkin yang harus kita sosialisasikan kepada masyarakat betapa bahayanya PM2,5 terhadap tubuh kita. Bagaimana dengan NO2, SO2, ozon? Itu adalah zat yang akan menyebabkan iritasi di saluran pernapasan. Tentu juga berbahaya ya. Apalagi CO terhirup itu bisa langsung pingsan bahkan meninggal. Nah, nanti Bapak Ibu silakan dibaca ya untuk ee info-info tentang dampak PM 2,5 terhadap kanker paru-paru. Nah, yang berikutnya adalah kita harus bisa melihat bagaimana fluktuasi konsentrasi pencemar udara. Kalau kita lihat di sini ya, ini adalah jam .00 pagi ya. Sini 6 pagi. Nah, walaupun di 6 pagi ini tentu konsentrasi naik karena aktivitas meningkat, tapi kalau kita lihat malam hari ini juga tinggi ya. Jadi malam hari jam . jam .00 itu masih tinggi karena ada yang disebut dengan planetary boundary layer atau lapisan inversi. Pada malam hari inversi turun sehingga pencemaran udara naik. Sehingga kita harus hati-hati ketika melakukan aktivitas di malam hari. Karena sebetulnya konsentrasi itu tidak ada jaminan turun ya. karena aktivitas turun, aktivitas kendaraan dan seterusnya turun itu tidak ada jaminan. Bisa jadi ya dalam beberapa kasus konsentrasi pencemar udara pada malam hari itu lebih tinggi daripada siang hari. Nah, ini juga perlu diperiksa ya di kota masing-masing fluktuasinya seperti apa ya. Ini juga harus menjadi perhatian kita kapan pencemar udara itu tinggi, jam berapa, dan kapan dia cukup aman ya buat kita untuk beraktivitas di luar rumah. Ini untuk PM10, PM2,5, SO2, NO2 rata-rata memiliki konsentrasi yang relatif tinggi ya di malam hari. Kemudian, nah kecuali ozon. Kalau ozon memang dia sangat dipicu oleh sinar matahari. Jadi ketiga ketika tidak ada sinar matahari dia rendah ya. Jadi malam hari untuk ozon dia rendah tapi untuk CO dia masih tinggi ya. Masih tinggi. Ini kan malam hari nih. Justru kalau siang hari lapisan inversi naik ya. sehingga udara lebih bebas bergerak. Nah, kalau misalnya Bapak Ibu ingin ee memahami dispersi pencemar udara lebih intensif lagi, kita bisa melakukan modeling untuk mengetahui bagaimana pergerakan polutan, ya. Saya akan jelaskan cara membuatnya. Tentu harus dibuat inventarisasi emisi dulu mulai dari transportasi, komersial, industri, kepadatan penduduk. Kemudian nanti dimodelkan menggunakan model tiga dimensi ya sehingga dapat di plot distribusi spasial. Kita buat grid system-nya. Kemudian ini contohnya ya, bagaimana SO2 ini dia bergerak dari jam ke jam ee ke utara, ke selatan ya kalau untuk Jakarta karena dipengaruhi oleh angin laut dan angin darat. Demikian juga untuk vertikal. Nah, kalau kita lihat warna biru itu dia naik ya pada siang hari, tapi pada malam hari dia turun. Ya. Jadi, PBL atau planetary boundary layer atau lapisan inversi ini dia tidak tetap, dia akan naik turun. Siang hari dia naik, malam hari dia turun. Nah, itu yang menyebabkan pada malam hari konsentrasi itu kenapa dia tinggi begitu. Demikian juga untuk NO2 ya memiliki pola pergerakan dari jam ke jam. ini juga untuk NO2 untuk vertikalnya. Nah, itu bagian pertama yang kita bahas yaitu bagaimana kesadaran masyarakat ini menjadi modal awal. Kesadaran untuk melihat data pencemaran udara. kesadaran untuk melihat kapan pencemaran udara itu tinggi, kapan itu rendah, dari secara temporal ya, jam berapa dia tinggi dan juga secara spasial di daerah mana tinggi, di daerah mana rendah. Nah, itu bagian pertama. Bagian kedua adalah bagaimana kita meningkatkan pemantauan ini menjadi lebih berkelanjutan. Tadi saya sudah sampaikan bahwa kegiatan di Indonesia memang belum sampai ke sana, tapi kita kan harus tahu apa yang akan kita tuju. Nah, kita masih ada di level ini ya. Jadi kita masih ada di fase satu bagaimana kita melakukan pemantauan manual dan stasiun tetap. Ini yang kita sudah laksanakan. Nah, kita menuju ke fase dua yaitu sistem terotomatisasi dan satelit. Nah, saat ini data-data satelit sudah tersedia ya, tapi yang memanfaatkan baru para peneliti kelembagaan seperti pemerintah daerah, Dinas Lingkungan itu belum belum menggunakan data-data satelit sebagai ee alat pemantauan. Nah, mudah-mudahan walaupun teknologi ini di negara maju sudah mulai diterapkan dari tahun 2000 sampai tahun 2015, kita di tahun 2025 misalnya mulai masuk ke sini tertinggal 10 tahun dari global ya tidak apa-apa tapi kita memulai. Nah, di negara maju sekarang sudah sampai fase ketiga, yaitu sistem udara digital global, ada AI ya, artificial intelligence, internet of sensor, dan GIS yang menghubungkan antara data sensor darat, satelit dan data-data dari masyarakat. Kemudian penggunaan data analytik AI untuk deteksi dini dan prediksi spasial. Jadi di fase 3 ini ya ada paradigma baru yaitu dari monitoring ke inteligence ya ke kecerdasan buatan. Contoh di sini ada Copernicus Atmospheric Monitoring Service di Eropa yang memantau seluruh Eropa dengan 50 miliar data titik harian ya. Jadi datanya banyak sekali. Kemudian perkembangan berikutnya adalah bagaimana perkembangan teknologi global bergerak dari end of pipe control ke teknologi pencegahan dan efisiensi sistemik dengan fokus utama efisiensi energi, bahan bakar bersih, pengendalian emisi terintegrasi, dan otomatisasi. Nah, Eropa sudah berhasil ya menurunkan SO2 dan NOX hingga 50% selama 10 tahun terakhir ya. Jadi ini sudah ada kasus ee nyata bagaimana ee teknologi-teknologi yang tadi diceritakan yang ini ya mulai dari otomatisasi kemudian AI dan seterusnya ini sudah berhasil menurunkan 50% di Eropa. Kemudian juga di sektor industri dan energi bagaimana di Eropa sudah menerapkan carbon capture and storage ya. Kemudian di Jepang, di Korea sudah ada efisiensi proses dan otomasi pabrik. di Amerika Latin sudah berganti ke bahan bakar yang rendah sulfur. Di Indonesia secara sporadis ya sudah ada beberapa proyek efisiensi energi di sektor semen baja dan PLTU berbasis West Recovery. Nah, di negara maju saat ini sudah dilaksanakan digitalisasi dan big data lingkungan. yang tadi sudah kita bahas ya, merupakan pemantauan atmosfer secara real time dan prediktif. Kemudian data AI dan big data juga dipakai secara aktif, bukan kajian lagi. Contoh negara-negara yang sudah menerapkan ya ada Uni Eropa dengan Kopernikusnya. Kemudian Cina dengan National Air Air Quality Monitoring Network kira-kira lebih dari 3.000 stasiun ya. Indonesia ee data terakhir itu 46 stasiun ya. 46 banding 3.000 jauh sekali. Kemudian Korea Selatan ini 1.700 ya. Jadi sudah di atas 1000 semua nih negara lain. Kita masih di bawah 100. Jadi jauh sekali ya ee perkembangan di luar dengan di kita. Nah, ini contoh yang paling maju saat ini. Copernicus Atmospheric Service untuk Uni Eropa. Bagaimana mereka menggabungkan data observasi satelit, data monitoring, kemudian masuk ke dalam modeling ya dan juga ee menggunakan ee sosialisasi atau publikasi ke masyarakat langsung. Ini adalah contoh ya. Kalau kita lihat website Kopernikus, kita bisa lihat ee prediksi dari NO2, SO2, semua partikel ya. Nah, dulu dulu ee dulu ada ee perkembangan yang sangat baik di Amerika ya, USEPA kira-kira tahun 10 tahun yang lalu ya 2015 begitu ee Amerika dengan Eropa dalam pemantauan kualitas udara ini kira-kira miriplah sama gitu. Nah, tapi ada perkembangan yang kurang baik ya di Amerika. Mereka tidak terlalu fokus lagi kepada lingkungan sehingga saat ini USPA tidak terlalu berkembang seperti ya Amerika tidak terlalu berkembang seperti di Eropa. Karena kalau Eropa dia konsisten, dia terus berkembang. Sedangkan negara-negara baru yang muncul ya dalam 10 tahun belakangan ini di antaranya Korea, Jepang, dan Cina ya. Jadi ee itu adalah kawasan-kawasan yang secara serius melakukan pemantauan ee pencemaran udara di kawasannya masing-masing. Nah, selain itu juga mereka fokus kepada sektor transportasi ya. Bagaimana transportasi ini bisa turun. Contohnya di Eropa mereka melakukan elektrifikasi massal dan zona nol emisi dan ini sudah menurunkan NO2 30 sampai 40% ya. Kemudian di Korea, di Jepang ya, di Cina ini sudah melakukan ee elektrifikasi juga dan traffic menggunakan AI ini juga sudah meningkatkan efisiensi energi selama 20 sebanyak 20%. di Amerika Latin misalnya di Bogota ya mereka sudah menerapkan bis listrik transportasi publik ini turun PM 2,5-nya 25%. Sebetulnya di Jakarta juga sudah ada ee program bus listrik, kemudian transportasi publik, ya. Nah, namun berapa turunnya itu ee belum ada publikasi yang solid ya. ee karena tadi pemantauannya ee tidak sebaik di negara maju. Kita jadi ragu-ragu berapa persen sudah turun ya. Karena inventarisasi emisi di kita pun sesuatu teknologi yang sangat sangat lama ya dari tahun 60-an itu pun belum dijalankan ya di kita itu. Artinya kalau kita tanya ada enggak sebuah kota yang setiap tahun mengupdate inventarisasi emisinya itu tidak ada. Jadi baru apa? Sporadis dibuat ditinggal gitu ya. Nanti 5 tahun kemudian dibuat lagi begitu. Nah, tentu bukan seperti itu. Ee kalau ingin berkelanjutan harus di-update tiap tahun. Nah, di sini ada fenomena yang berkembang saat ini, yaitu mobility as a service. ee contohnya adalah bagaimana transportasi itu dikelola dalam sebuah format digital ya sehingga pengguna transportasi itu bisa ee melakukan perencanaan perjalanan, memesan, membayar itu secara terpadu sehingga bisa mengurangi pergerakan ya mungkin Mungkin kalau tidak menggunakan aplikasi ini dia menghabiskan waktu di jalan 1 jam. Tapi dengan dibantu oleh aplikasi ini, dia menemukan satu rute transportasi publik yang asalnya dari 1 jam menjadi setengah jam. Nah, ini adalah satu inovasi untuk mengurangi jumlah perjalanan. Ketika jumlah perjalanan ini berkurang tentunya produktivitas kita makin meningkat. Kemudian juga secara umum pencemaran udara bisa lebih turun ya. Nah, ini juga belum ada ya di kita mungkin untuk prototype-nya sudah beberapa kota ya. Namun ee untuk aplikasi yang masif yang tujuannya untuk menurunkan pencemaran udara ini kita belum menemukan. Kalau untuk sektor komersil seperti ojek online ya, ada Gojek, Grab itu kita sudah menemukan ada di Indonesia, tapi kan tujuannya hanya untuk melakukan ee perencanaan, memesan begitu, membayar perjalanan, tetapi belum diintegrasikan kepada data pencemaran udara. Nah, kalau yang disebut ee MAS integrasi transport publik digital ini juga sudah mempertimbangkan tentang ee pencemaran udara. Nah, jadi dalam mobilitas global yang sudah berkembang di negara maju ya sebagai wawasan untuk kita semua. Mereka ini sudah melakukan elektrifikasi kendaraan. Cina saat ini sudah 70% EV global itu ada di Cina ya. Kemudian integrasi MAS ini kalau kita ke Jepang, Singapura, Shanghai itu sudah ada aplikasi itu. Kemudian juga untuk logistik ya ini tidak kalah pentingnya karena kendaraan logistik atau niaga ini dia bergerak sangat panjang kilometernya ya dan waktunya juga durasinya jadi sangat intensif di dalam berkendara di negara-negara seperti Cina, Belanda, Amerika Selatan. Ya, ini menjadi ee perhatian yang serius bagaimana kendaraan niaga ini dibuat berbahan bakar listrik dan juga otonom. Kemudian juga transportasi aktif seperti jalan kaki, sepeda ini juga ee sangat populer ya di Belanda, di Cengdu, di Bogota. Kemudian juga untuk ee mobilitas ee secara penggunaan yang adil ya ini juga ee sudah mulai dikembangkan di Amerika Latin dan juga di Indonesia. Nah, untuk studi kasus global yang kita anggap ee berhasil ya, ini ada di Senzen di China 100% bis dan taksi itu menggunakan listrik ada 16.000 unit. Nah, jumlah kendaraan listrik di Indonesia total saat ini baru sekitar 1.000 sampai 2.000 ya. Ee angka terakhir tuh di angka 1.200. Jadi masih di bawah 2.000. Ini satu kotak saja dia sudah ada 16.000 unit kendaraan listrik. Jadi sangat masif ya. Ee ini PM 2,5-nya dilaporkan turun sebanyak 43% akibat penggunaan bus dan taksi listrik 100% di Senzen. PM 2,5-nya turun sangat signifikan turun 43%. Kemudian di Beijing ya ada zona emisi rendah AI traffic system NO2-nya dilaporkan turun 30%. Nah, ini yang penting ya, bahwa program pencemaran udara di kita pertama masih terbatas pada ee pemantauan yang tidak terintegrasi ya dan juga tidak kontinue. Kadang-kadang yang di beberapa kota mungkin untuk Jakarta sudah kontinue ya tinggal lanjut ke terintegrasi tapi di beberapa kota bahkan kontinue juga belum. Nah, kemudian juga masih dalam tataran konsep ya. Nah, rapat-rapat, laporan-laporan begitu ya. Tapi masyarakat belum bisa melihat secara real apakah sudah terjadi penurunan pencemaran udara. Nah, jadi masih sangat jauh ya antara ee kondisi kita dengan ee ini ada studi kasus terbaik ya, best practices di Senzen Beijing, kemudian di Seul Korea ini turun 20%. di Chili Santiago ini juga PM 2,5-nya turun 25% ya dengan melaksanakan bus listrik massal. Nah, memang semuanya butuh biaya. Konversi ke bis listrik pasti butuh biaya. Nah, yang paling penting di sini bagaimana ee komitmen jangka panjang dari sebuah kota untuk mencapai target itu. Ya, kita lebih bahas lebih mendalam ya perkembangan di China. Jadi tadi sudah ada keberhasilan-keberhasilan di China ya, ada penurunan sampai 50%. Kemudian tadi ya di Senzen dan Guangzo ini elektrifikasi total. Di Beijing ada AI traffic prediction mengatur 1,2 juta titik kemacetan ya. Kemudian di Heinen Province ini juga melarang penjualan. Jadi kendaraan bukan listrik dilarang dijual di Heinen Province sejak tahun 2025. Nah, ini ee dengan ee kebijakan-kebijakan di atas ini dampak nasionalnya emisi transportasi CO2 turun 11%. PM 2,5 turun rata-rata 36%. Juga di China sudah memasukkan ee air justice ya, serta ee sudah ada transformasi mobilitas yaitu kebijakan energi, industri dan data. Nah, di kita sudah banyak diskusi ya, rapat-rapat begitu ee prototype. Nah, tapi kalau implement terimplementasi seperti di China begitu saya belum lihat. Mungkin nanti Bapak Ibu ee yang hadir di webinar ini. Oh, saya nemukan di kota A ya. boleh kita akan bahas. Nah, di China juga ada AI ya, robot taksi di kota-kota besar dan autonomo delivery vehicle. Jadi ee kendaraan pengantar makanan, pengantar barang itu mereka menggunakan listrik dan tidak ada supirnya ya. Autonomous delivery ini di Beijing dan taksi tanpa supir itu juga sudah banyak ya di kota-kota besar di China. Nah, ini artinya sudah terintegrasi data AI ya, data-data kendaraan yang ada di sana sehingga data itu sudah merupakan satu ekosistem sendiri di dalam sebuah kota. ini sebagai ilustrasi tentang bagaimana data-data pemantauan udara ini sudah berkembang dari sebuah data tunggal menjadi data kolektif ya yang terintegrasi dengan data-data lainnya. Jadi saat ini banyak ee sudah dikembangkan AI ya, management system untuk memprediksi PM2,5, NO2, analisis penyebaran spasial, optimasi kebijakan transportasi real time. Artinya bidang lingkungan yang mungkin di kita kurang diperhatikan ya di negara maju ini sangat diperhatikan karena kesehatan itu menjadi investasi jangka panjang ya. Investasi jangka panjang. Nah, ini ee wawasan ya buat kita semua bagaimana ee negara maju sudah mengarah ke sana. Nah, jadi tool seperti AI itu sudah biasa, bukan sekedar di tempat riset atau diskusi-diskusi ilmiah itu sudah dipraktikkan di kota-kota ya. Tadi kita sudah melihat bagaimana delivery sudah menggunakan otomatis tidak ada spirnya. Taksi juga otomatis tidak ada spirnya. Itu kan artinya datanya sudah terintegrasi ya. Nah, tentunya di belakangnya itu banyak sekali algoritma yang sudah dikembangkan. Bukan sekedar penelitian tapi sudah diterapkan. di kota, di level kota. Jadi ee model-model algoritma seperti ini ini sudah biasa ya dipraktikkan di negara-negara maju. Mungkin di Indonesia baru ada di level penelitian di kampus-kampus, di pusat penelitian begitu ya. dan di sana mereka sudah menerapkan langsung. Tentunya ini menjadi tantangan ya bagi kita untuk ee menuju ke arah sana. Jadi antara tools ya misalnya AI dengan sumber emisi ini sudah terintegrasi bagaimana kendaraan itu menjadi lebih ee diatur untuk menurunkan kemacetan dan juga menurunkan pencemaran udara. Contoh misalnya di Beijing ya, itu lalu lampu lalu lintasnya itu tidak statis, dia dinamis. Ketika ada satu daerah yang macet, bagaimana supaya kendaraannya berpindah ke daerah yang tidak macet ya dengan ee rekayasa lalu lintas secara otomatis real time oleh AI. Jadi bukan oleh manusia lagi. Otomatis saja AI itu sudah berpikir sendiri. Dia mengatur lalu lintas dan itu terbukti bisa menurunkan ee kemacetan ya dan juga rata-rata waktu paparan polusi kendaraan hingga 15 sampai 20%. Jadi sudah terbukti ya dan sudah dijalankan tentunya bukan hanya itu ya ee banyak bukan hanya di China, di negara lain juga khususnya di Eropa itu juga sudah ee menerapkan hal ini. Dan kalau kita lihat ya sebagai kesimpulan bahwa ee udara atau atmosfer kesehatan ee pencemaran udara ya itu sudah menjadi basis kebijakan ruang dan kesehatan. Jadi bukan diserahkan kepada tiap penduduk ya kalau ingin sehat ya beli masker sendiri gitu. enggak begitu lagi, tapi sudah diatur dalam sebuah kebijakan ruang dan kesehatan. Tentunya ini satu hal yang sangat bagus ya. Ee nah yang terakhir adalah tadi bagaimana kepedulian masyarakat yang disebut dengan citizen sensing. Ee contoh misalnya di Eropa itu ada sebuah komunitas ya yang mengoperasikan lebih dari 100.000 sensor aktif. Jadi alat pemantau udara dibeli oleh masyarakat, dipasang oleh masyarakat, kemudian di pantau secara online ya misalnya IQR itu mereka menyampaikan data real time ke masyarakat. Di Amerika ada juga purple Air ya ini ada 12.000 Ibu sensor dan juga di negara-negara lain. Iya. Ee mungkin saya cukupkan dahulu paparannya. Kita lanjut dengan diskusi ya. Ee memang ini agak futuristik ya. Dan mungkin kata Bapak, Ibu, aduh kayaknya enggak mungkin begitu ya kita terapkan di Indonesia. Namun demikian saya sampaikan juga sebagai wawasan. Setidaknya kita tahu perkembangan pengelolaan pencemaran udara berkelanjutan di negara maju itu seperti apa dan ini menjadi arah kita ke depan. ee saya. Baik. Ee terima kasih banyak kepada Pak Asep atas pemaparan materinya yang sangat informatif dan membuka wawasan kita. Dan baik Bapak Ibu peserta kita sudah mendengarkan bagaimana penjelasannya dimulai dari tadi itu adalah prinsip dasar pengelolaan pencemaran udara kemudian evolusi sistem pencemaran udara global hingga juga penerapan AI dalam pengelolaan pencemaran udara khususnya di negara Cina. Baik ee mungkin kita akan lanjutkan pada sesi tanya jawab dari Slido terlebih dahulu dan di sini saya akan menampilkannya ya. Kebetulan di sini sudah ada sembilan pertanyaan, Pak Asep dari aplikasi Saidu. Dan kepada Pak Asep bisa langsung bisa langsung saja menjawabnya pertanyaannya satu persatu. Baik, kita mulai dari pertanyaan yang pertama ya. Terima kasih. Ee pertanyaan pertama ee tentang ya mungkin saya bacakan dulu ya. Selain penggunaan cangkang di pabrik minyak kelapa sawit dalam jangka pendek menengah cara perusahaan sawit bisa mengendalikan pencemaran udara. Ya, ee tentunya di dalam pengendalian pencemaran udara di industri ini ada minimal tiga hal ya. Yang pertama tentu menjamin bahwa emisinya bisa dikendalikan dengan cara alat pengendali. ini sudah diatur di dalam perteek ya, persetujuan teknis emisi. Bagaimana Bapak Ibu menghitung emisi yang dikeluarkan ini kalau langsung tanpa alat pengendali dia bisa ini enggak gitu ya, bisa melebihi baku mutu atau tidak. Nah, kalau melebihi baku mutu berarti harus ada alat pengendali ya. Yang kedua adalah bagaimana ee modifikasi bahan bakar ini tadi ya yang cangkang ini ee artinya ee bahan bakar itu tentu banyak ada batubara, ada gas, ada diesel. Nah, salah satunya adalah biomassa menggunakan cangkang sawit sebagai bahan bakar. Nah, tentu di sini ada kelebihan dan kekurangan. kekurangannya nilai kalornya lebih rendah sehingga jumlah cangkang yang diperlukan lebih banyak tentunya jumlah partikulatnya juga akan lebih banyak ya ee tapi kelebihannya tentu di sini lebih murah dan kita bisa mengurangi limbah mengenai pencemarnya ini tentunya sangat tergantung ya kepada proses itu sendiri bisa jadi pencemarnya lebih tinggi atau lebih rendah Yang jelas di sini kita sudah melakukan ee penghematan energi ya dari yang berbahan bakar fosil digantikan dengan renewable energy. Jadi itu yang kedua ya modifikasi dari bahan bakar. Yang ketiga tentunya kita melakukan yang kita sebut sebagai produksi bersih. Bagaimana secara keseluruhan dari raw material sampai produk itu kita hitung lagi agar emisinya bisa kita kurangi secara komprehensif. Nah, ee kalau pertanyaannya bisa mengendalikan pencemaran udara, ya tentu tadi tidak bisa hanya dari cangkang saja ya, dari tiga variabel tadi. Dari alat pengendali itu paling penting. Yang kedua, modifikasi ini juga harus disesuaikan dengan alat pengendali. Kalau misalnya penggunaan cangkang ini ternyata emisinya malah jadi lebih besar, berarti alat pengendalinya kan harus di sesuaikan ya. Kemudian juga tadi menggunakan produksi bersih. Bagaimana kita melakukan ee evaluasi dari setiap proses ya. Contoh misalnya dalam SOP ketika kita melakukan pembersihan ee alat pengendali misalnya ya. Nah, itu kan ee kalau tidak diperhatikan pada saat kita overha kita bisa melepaskan emisi dalam jumlah yang besar. Nah, itu kira-kira contoh banyak sekali yang bisa kita lakukan. Kemudian ada pertanyaan dari Bu Ana, bagaimana cara memastikan partisipasi publik efektif? Ya, tentu partisipasi publik ini ada beberapa sisi ya. Ada sisi berperan di dalam melindungi dirinya dari pencemaran udara atau dia berperan ikut menurunkan ya sumber emisi. Jadi ada dua pendekatan. Ada pendekatan reseptor, ada pendekatan sumber. Kalau pendekatan reseptor kita katakan partisipasi publik ini sudah berjalan kalau kita sudah melihat orang-orang sudah secara sadar menggunakan masker di tempat-tempat yang terpolusi ya. Nah, jadi ee kalau Bapak Ibu ee pernah ke Jepang ya, itu mereka itu selalu pakai masker. Setiap pergi ke tempat kerja, pulang dari tempat kerja, pergi ke sekolah, pulang dari sekolah. Padahal udaranya itu sudah bersih saking mereka pedulinya kepada kesehatan. Nah, kalau kita lihat di Jakarta, saya jarang sekali melihat orang pakai masker ya. Dia ya, artinya dia berjalan di sepanjang jalan Sudirman misalnya, Tamrin dan kita tahu di sana itu pasti PM 2,5-nya tinggi gitu, tapi tidak ada yang pakai masker. Nah, ini kan bukti bahwa perlindungan reseptor itu masih kurang jadi belum efektif. Nah, ini yang paling mudah melindungi diri sendiri. Yang kedua, menurunkan sumber ya. Di antaranya beralih ke mobil listrik misalnya ya. Kita biasanya tiap hari menyumbangkan emisi buat dihirup oleh seluruh masyarakat yang ada di sekitar kita. Kita keluarkan emisi tiap hari. Kemudian kita ganti dengan mobil listrik ya. Itu artinya kita sudah menurunkan sumber emisi minimal di kota. Ya, saya berani menyuruh ini karena saya sudah hampir 1 tahun pakai mobil listrik. Jadi ee artinya saya sudah memberi contoh gitu ya, bukan sekedar menyuruh. Karena saya sadar bahwa saya tiap hari memberikan emisi ya. Nah, ini banyak yang tidak sadar juga. Disangkanya dia tidak buang sampah. Kalau buang sampah orang sudah mulai sadar kan tidak mungkin dia pergi ke kantor dia buang sampah sepanjang jalan kan tidak tidak ada orang yang seperti itu. Tapi dia tidak menyadari bahwa dia belum beralih ke mobil listrik itu berarti dia buang sampah tiap waktu sepanjang perjalanan dari rumah dia ke kantor dan sebaliknya dia buang sampah berupa polutan udara. Nah, bagaimana kalau wah ini belum ada uangnya beli mobil listrik? Minimal dia tahu enggak emisi dia itu ada berapa? Dia tahu enggak bahwa sepeda motor emisinya lebih tinggi dari mobil ya. Apalagi sepeda motor yang tidak di dirawat itu emisinya banyak sekali. Nah, hal-hal seperti ini kan belum belum menjadi kesadaran bersama ya. Kesadaran untuk beralih ke mobil listrik atau motor listrik beralih ke ah mungkin ada yang nanya itu kan nanti emisinya tetap di pembangkit listrik batu bara ya. Tapi minimal itu kan ada alat pengendalinya di PLN ya. Kita kan bicara di kota, di kota kita tidak mengeluarkan emisi atau kita menggunakan kendaraan umum dan seterusnya. Banyak sekali yang bisa kita lakukan sebagai langkah untuk menurunkan emisi, ya. Nah, jadi partisipasi publik ini bisa kita lakukan dengan perlindungan reseptor. Kita sebagai penerima pencemaran udara dengan melindungi diri menggunakan masker dan tindakan lainnya atau kita juga bisa ikut serta di dalam menurunkan emisi. Kemudian dari Pak David di tengah krisis iklim apa tantangan ya? Nah, jadi kita tahu bahwa untuk CO2 kita gagal ya. Ee kalau kita lihat laporan SDGIS, laporan SDGIS yang sekarang 2025 targetnya kan 2030 itu 5 tahun lagi. Ee seharusnya kita ini sudah mencapai sekitar 60% dari target ya. Tapi kenyataannya SDGIS itu hanya tercapai 20%-an. masih jauh padahal waktunya tinggal 5 tahun. Nah, dan yang lebih menyedihkan untuk target SDGs tentang perubahan iklim itu minus bukan progres tapi malah memburuk dari tahun awal ya ee sejak SDGs ini dijalankan. Jadi banyak hal ya yang membuat gagal. Yang pertama adalah perang Ukraina. Perang Ukraina menyebabkan Eropa yang sudah punya target untuk elektrifikasi 100% di tahun 2030 jadi mundur ya. bebas batubara jadi mundur karena mereka harus mencari energi baru karena suplly dari Rusia terganggu. Kemudian yang kedua, kebijakan Amerika yang masuk IPCC atau UNFCC ketika Partai Demokrat ketika yang dapat Partai Republik seperti sekarang Donald Trump dari Partai Republik dia keluar dari UNFCC itu kan 5 tahun. Jadi ketika Donald Trump tahun mungkin 2015 ya yang periode pertama dia juga keluar kemudian digantikan oleh Joe Biden dari Partai Demokrat masuk lagi ke UNFCC terus sekarang keluar lagi ya. Nah, tapi minimal sudah 10 tahun tuh Amerika tidak komit kepada perjanjian perubahan iklim. Nah, ini juga berpengaruh ya karena Amerika itu negara yang sangat besar dan ee yang mengemisikan CO2 paling tinggi atau paling besar di dunia ya. Tentu ini sangat besar pengaruhnya. Nah, dan juga faktor-faktor lainnya seperti perang dagang dan seterusnya ini menghambat target penurunan gas rumah kaca dan kita bisa lihat hasilnya ya ee iklim semakin sulit diprediksi, semakin banyak bencana terkait hidrometeorologi. Itu yang terjadi sekarang. kita sebut sebagai krisis iklim. Nah, tentu krisis iklim ini harus menjadi ee semangat ya. Jangan sampai sudah krisis iklim, kita tidak mengelola lingkungan dengan baik. Karena krisis iklim ini menjadi amplify atau amplifier sebagai penguat dari bencana lingkungan. Jadi bencana lingkungan itu sebetulnya sudah ada akibat kerusakan lingkungan. Tapi dengan adanya krisis iklim dia jadi dua kali, tiga kali lebih lebih bahaya ya. Nah, ya tentunya kita di tengah krisis iklim ini harus menjadi semangat bagaimana pengelolaan lingkungan ini menjadi lebih baik. Salah satunya pengelolaan pencemaran udara seperti yang tadi kita sudah lakukan. Memang yang tadi kita sampaikan adalah wawasan untuk ke depan ya. Nah, karena saya pernah juga menyampaikan ee tentang pengelolaan pencemaran udara yang tradisional mulai dari inventarisasi emisi, pemantauan, kemudian juga penyusunan ee program-program penurunan pencemaran udara ya. Nah, itu pun belum kita laksanakan ya. Nah, jadi tantangan utamanya ya kita harus fokus ya ee di dalam mengatasi tantangan yang semakin berat. Kemudian dari Pak Arman radio aktif di Cikande. Ya, ini juga salah satu contoh ya. Kenapa kita baru tahu setelah ada temuan dari luar negeri? Ya, karena kita itu tidak fokus kepada data ya. Perhatian kita kepada data itu sangat kurang. Kalau di negara maju kenapa dia bisa tahu ada radiasi di udang begitu? Karena mereka selalu menggunakan data. Jadi ini masalah kebiasaan ya, behavior dan juga masalah kemampuan. Jadi behavior-nya kedisiplinan kita kurang dan dari sisi kemampuan kita juga kekurangan alat-alat untuk mendeteksi dan ini bisa saling melengkapi karena alatnya tidak ada ya akhirnya tidak dipantau ya. Contoh, Bapak Ibu sering melihat ada pemantau ee di jalan raya itu suka ada truk masuk ditimbang ya penimbangan penimbangan truk kelebihan muatan. Nah, kalau Bapak perhatikan ya, Bapak Ibu perhatikan sering sekali alatnya itu rusak akhirnya ya tidak ditimbang. Jadi ee pengukuran itu antara dua sisi tadi, kedisiplinan dan juga fasilitas. Ketika fasilitasnya tidak ada, semakin tidak disiplin. Karena tidak disiplin, fasilitas tidak diperhatikan. Nah, ini menjadi ciri khas di negara-negara berkembang ya. Jadi kenapa kita tidak tahu? Ya karena tadi infrastruktur atau fasilitas pemantauan, monitoring, pengukuran itu di kita sangat kurang. Ditambah lagi kalaupun alatnya sudah ada, kita tidak disiplin ya. Banyak sekali kasus ya di lapangan alatnya ada tapi tidak ada orang yang mencatatnya atau catatannya tidak disimpan dengan rapi dan seterusnya. Jadi dua hal ini saling melengkapi antara ketidakdisiplinan dengan fasilitas yang kurang. Kemudian dari ada penanya berikutnya, apakah AKMS harus dipasang di industri? Bagaimana dengan regulasi yang mengatur hal tersebut? Di dalam regulasi tidak disebutkan AKMS, tapi
Resume
Categories