Transcript
goOFQM4syuY • Webinar 137 Mengelola Bahaya dan Risiko Gempa untuk Membangun Lingkungan yang Lebih Tangguh
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/EcoEduid/.shards/text-0001.zst#text/0171_goOFQM4syuY.txt
Kind: captions Language: id Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi menjelang siang Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang kembali di webinar Ekoed EDU ke-137. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu semuanya yang sudah selalu setia untuk mengikuti acara webinar ini. Dan hari ini webinar Eko Edu akan mengangkat tema mengelola bahaya dan resiko gempa untuk membangun lingkungan yang lebih tangguh. Dan perkenalkan saya Dini yang akan bertugas sebagai moderator pada acara ini. Dan baik Bapak Ibu semuanya sebelum memulai webinar pada siang ini, alangkah baiknya kita berdoa bersama-sama dengan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk itu berdoa dipersilakan. Berdoa dicukupkan. Untuk selanjutnya mari kita menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak Ibu untuk duduk. [musik] Baik Bapak, Ibu semuanya, untuk selanjutnya izinkan saya mempromosikan tiga pelatihan dalam waktu dekat ini yang akan diselenggarakan oleh kami ee yaitu yang pertama adalah pelatihan dan sertifikasi operator pengumpulan limbah B3 atau OPM LB3 gelombang pertama yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 hingga 19 Desember 2025. Adapun biaya investasinya sebesar Rp6.500.000. Kemudian pada selanjutnya yaitu kami akan mengadakan pelatihan perhitungan emisi gas rumah kaca atau GRK dan perdagangan karbon gelombang 2022 gelombang 22. pada tanggal 5 sampai dengan 9 Januari 2026. Dan untuk biaya investasinya yaitu sebesar Rp3.600.000. Namun apabila Bapak Ibu melakukan pembayaran sampai dengan tanggal 26 Desember 2025 ee Bapak Ibu akan mendapatkan harga spesial yaitu di early bird di harga Rp3.300.000. Lalu kemudian selanjutnya ini pada tanggal yang sama yaitu 5 sampai dengan 9 Januari 2026 kami di sini akan mengadakan pelatihan dan sertifikasi penanggung jawab pengendalian pencemaran air atau PPPA gelombang 4 yang di mana biaya investasinya itu sebesar Rp8.500.000. Namun Bapak Ibu akan mendapatkan diskon 10% apabila Bapak Ibu melakukan pembayaran sampai dengan 4 Januari 2026. Dan untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi admin kami di Anto dan Nisa. Dan Bapak Ibu juga bisa mengunjungi sosial media kami yaitu ada Instagram, YouTube channel, Facebook dan juga website resmi kami di www.edu.co.id. Dan juga Bapak Ibu yang tertarik langsung untuk mendaftar, silakan langsung akses saja di pendaftaran.ecoedu.co.id. Dan selain itu juga kami di sini terdapat inhouse training yang dapat dilakukan secara offline maupun online sesuai dengan permintaan dari instansi dan perusahaan Bapak Ibu semuanya. Jadi kami tunggu Bapak Ibu semua di pelatihan dan baik Bapak Ibu untuk selanjutnya kita akan langsung saja masuk pada kegiatan utama kita yang di mana webinar kali ini kita akan berdiskusi mengenai mengelola bahaya dan risiko gempa untuk membangun lingkungan yang lebih tangguh. Dan di sini juga kami telah menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Dan langsung saja saya memperkenalkan narasumber kita hari ini yaitu adalah Prof. Dr. Irwan Meilano, ST, M.Sc. Beliau merupakan guru besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian di Institut Teknologi Bandung. Dan mungkin saya akan menyap terlebih dahulu. Selamat pagi menjelang siang, Prof. Irwan. Selamat pagi, Mbak Dini. Terima kasih untuk undangannya. Mudah-mudahan suara saya bisa terdengar dengan baik. Ya, terdengar dengan baik, Prof. Ya. Baik, Prof. Mungkin ee di sini sebelum kita mulai, izinkan saya untuk menyampaikan beberapa teknis terlebih dahulu. Yaitu yang pertama untuk pemaparan dilaksanakan selama 1 seteng jam, kemudian nanti dilanjutkan dengan sesi tanya jawab menggunakan aplikasi Slidu dan dilanjutkan lagi dengan tanya jawab secara langsung. Baik, untuk mengefektifkan waktu saya serahkan ruangan Zoom ini kepada Prof. Irwan dan kepada Bapak Ibu semuanya. Selamat mengikuti acara webinar ini. Baik, ee terima kasih. Selamat pagi Bapak Ibu sekalian. Ee ee semoga Anda semua dalam Bapak Ibu dalam keadaan sehat. Ee pagi ini ee saya akan mendiskusikan beberapa topik yang didasakan semakin relevan. ee terutama sesudah kita menyaksikan bagaimana kerugian ekonomi, dalam lingkungan, kerusakan, bahkan korban jiwa yang diakibatkan oleh bencana ee di Sumatera beberapa hari terakhir. dan ee mari kita sama-sama untuk ee terus mendukung agar ee upaya penanggulangan bisa berlangsung dengan baik dan lebih penting dari itu agar bencana ini tidak terulang di masa depan. Saya akan coba sharing slide saya. Mohon diinformasikan apabila ee slide-nya sudah terlihat, belum terlihat, ataupun apabila slide-nya tidak terlihat secara utuh. Ee sudah full screen ya, Prof. Oke. Oke. Baik, terima kasih. Sebentar saya coba perbaiki. Baik ee Bapak Ibu sekalian ee sebelum memulai ee paparan izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu untuk memberikan ee background dan mungkin apabila ada potensi kerja sama ke depan dengan senang hati nanti ee kita bisa berkolaborasi. Ee seperti yang tadi dijelaskan oleh Ibu Deni, nama saya Irwan Melano. Ee saya guru besar dalam bidang ee geisi gempa bumi. Dan selama pendidikan ee yang telah saya lalui, saya berfokus pada ee aspek ee geodetik untuk keperluan kebencanaan khususnya ee kebencanaan ee gempa bumi. ee sejak saya menyelesaikan studi S3 di tahun 2006 ee dalam 20 tahun terakhir saya telah melakukan penelitian terutama yang terkait dengan membuat ee model gempa bumi berdasarkan ee data pengamatan geodetik. kemudian ee terlibat dalam membangun peta gempa Indonesia atau Sesmik Hazard Analysis Map atau kota sering disebut sebagai peta SPSHA yang menjadi dasar pembangunan infrastruktur di Indonesia ee menjadi anggota tim peta gempa Indonesia sejak tahun 2028 sampai sekarang. Dan dalam 6 tahun terakhir saya tertarik dengan penelitian yang menghubungkan antara ee sumber gempa ee hazat gempa, dampak kerusakan gempa, dan kerugian ekonomi dalam topik yang disebut sebagai disaster risk financing. Eh, topik disaster risk financing akan masuk ke dalam bahasan diskusi hari ini. Jadi, selain membahas mengenai ee potensi gempa, dampak gempa, saya akan memberikan ee ee akan memberikan penjelasan yang cukup detail terkait dengan ee disa financing. Bapak, Ibu sekalian ee mengapa topik ini relevan? mengapa kita ee penting untuk membahas topik ini hari ini dengan beberapa dengan beberapa argumentasi. Yang pertama bahwa ee sampai saat ini kita tidak bisa menghentikan kejadian gempa. Belum ada teknologi yang membuat gempa tidak terjadi. Tetapi kita paham bahwa kerusakan dan korban bisa dikurangi secara signifikan pada saat kita memiliki persiapan yang baik. Jadi walaupun gempa tidak bisa dihentikan seperti layaknya juga letusan gunung api kita tidak bisa menghentikan letusan gunung api seperti layaknya cyclon ee kita tidak bisa menghentikan cyclon tsunami kita tidak bisa menghentikan tsunami tetapi kerusakan dan korban jiwa akibat bencana tersebut bisa dikurangi secara signifikan serta kerugian ekonomi apabila apabila kita memiliki persiapan dan mitigasi yang tepat. Kemudian ee fakta yang kedua bahwa lingkungan yang baik, lingkungan yang sehat akan membawa korban yang lebih sedikit. Kita seringki menyaksikan bahwa ee gempa dengan kekuatan yang sama di lokasi yang berbeda akan mengakibatkan akan menghasilkan jumlah korban yang berbeda. gempa dengan magnitude. Enam di suatu kota yang memiliki lingkungan yang baik, tidak mengakibatkan korban jiwa yang besar dibandingkan di daerah dengan lingkungan yang kurang baik. Curah hujan yang tinggi sama-sama di atas 300 mili. Tetapi di suatu wilayah dengan kondisi lingkungan yang baik, lingkungan yang sehat tidak akan mengakibatkan banjir, longsor. Tetapi di lingkungan yang kurang sehat, bahkan lebih rendah dari angka tersebut bisa mengakibatkan banjir dan longsor yang besar. Dan ini membawa kita pada diskusi bahwa tata ruang yang baik, infrastruktur yang baik, dan perencanaan yang adaptif di bisa mengurangi dampak dari ee bencana. Kemudian ada fakta yang penting sekali untuk kita diskusikan. Kita bisa melihat bahwa kecepatan urbanisasi meningkatkan risiko. Tidak di semua kota, tetapi pada daerah dengan lingkungan yang tidak baik, maka urbanisasi menjadi faktor yang menyebabkan risiko semakin tinggi. Untuk itu, maka diskusi hari ini menjadi sangat relevan. Mengapa bahaya dan risiko gempa? Mengapa bahaya dan risiko gempa sangat penting untuk kita kelola untuk membangun lingkungan yang lebih tangguh? Lingkungan yang pada saat terjadi gempa kemudian tidak menjadi bencana. Jadi tidak harus bahwa kejadian gempa menjadi bencana. Tidak menjadi keharusan bahwa curah hujan tinggi tropis menjadi bencana pada saat kita bisa mengelola bahaya dan risiko dengan baik melalui pembangunan lingkungan yang lebih tangguh. Mari kita ee pelajari sama-sama bagaimana ee jejak gempa di Indonesia dan dampaknya. kita bisa memulai walaupun sebetulnya jejak gempa di Indonesia jauh sangat lama. kita pernah catatan, kita pernah memiliki ee kita pernah memiliki catatan gempa bahkan lebih tua dari usia republik ini. Ee kita pernah milik catatan di tahun 1800-an bagian dari utara Jakarta di kota tua itu pernah hancur akibat gempa bumi. Kota Cirebon pernah hancur juga akibat gempa bumi. Kota Semarang, kota Surabaya, kota Bandung di tahun 1800-an pernah mengalami gempang. Begitu pula kota-kota di Sumatera. Kita pernah memiliki kerajaan yang sangat besar, kerajaan Samudra Pasai yang bahkan ee informasinya ee bahkan informasinya ee memiliki duta besar sampai ke negeri Cina. Kemudian kita tidak bisa melihat di mana jejak dari kerajaan besar tersebut. Kita tidak bisa melihat bagaimana sisa peradaban dari sisa dari peradaban besar tersebut. Kemungkinan besar kerajaan Samudra Pas hancur akibat bencana gempa dan bencana tsunami. Tapi mari kita lihat ee beberapa gempa yang terjadi sesudah tahun 2000. Misalnya gempa Aceh 2004, jumlah korban jiwa mendekati 300.000 di berbagai negara. Di Indonesia saja mendekati 200.000 dengan kerugian ekonomi yang sangat dahsyat. Nanti kita akan sedikit membahas lebih detail kejadian gempa ini. Kedua yaitu gempa Yogyakarta. Gempa yang berlangsung kurang dari 20 detik tapi mengakibatkan lebih dari 6.000 korban jiwa. 29.000 rumah rusak dan mengakibatkan kerugian ekonomi mendekati 20 triliun. Begitu pula gempa palu 2018 menghasilkan tidak hanya gempa tetapi juga tikifaksi tanah longsor robekan tanah yang secara signifikan mengakibatkan korban jiwa lebih dari yang tercatat lebih dari 2000 jiwa tapi mungkin yang tidak tercatat lebih dari itu. Setelah itu gempa Cianjur 2022, gempa dengan magnitud yang sangat kecil di bawah 5,5 tetapi mengakibatkan korban jiwa. Jadi kita bisa melihat bahwa kerugian ekonomi akibat bencana khususnya gempa bumi berdampak sangat dahsyat untuk wilayah kita. Untuk itu, Bapak Ibu sekalian, maka ee saya akan membahas pat. Tetapi penekanan ee akan diberikan dalam ee untuk membahas tiga hal saja, tapi saya siapkan empat hal. Nanti kita lihat ee waktunya apakah mungkin kita membahas keseluruhan karena saya berharap untuk bisa lebih banyak diskusi dengan Bapak Ibu sekalian. ee saya akan memberikan waktu di setiap akhir dari satu sesi untuk membuka diskusi ee agar kemudian Bapak Ibu tidak lupa ee walaupun nanti di akhir apabila waktunya masih ada kita akan membuka juga sesi diskusi. Saya bagi menjadi empat bagian yaitu yang sangat mendasar bagaimana memahami bahaya gempa bumi. sedikit menjelaskan beberapa konsep teoritis mekanisme gempa bumi. Saya akan jelaskan dengan mudah. Kemudian saya akan membahas bagaimana risiko gempa bumi didefinisikan. Kemudian akan sedikit membahas ee walaupun tidak secara langsung bagaimana menghubungkan antara ee penelitian gempa bumi dengan pembangunan yang berkelanjutan. Dan yang terakhir saya akan membahas cukup banyak ee topik baru yang ee yang ingin saya perkenalkan ke banyak pihak, yaitu eh pbiayaan risiko bencana atau disaster risk financing and insurance. Eh, topik yang sangat baru eh merupakan kerja sama kami dengan Kementerian Keuangan yang didukung oleh LPDP. Baik, ee izinkan saya untuk membahas topik yang pertama, bagaimana memahami bahaya gempa bumi. Untuk membahas topik yang pertama, ee izinkan saya untuk memperlihatkan kembali foto yang diambil di tahun 2000 akhir 2024 yang menggambarkan bagaimana tsunami berdampak sangat dahsyat di Provinsi Aceh. Bapak, Ibu bisa melihat di kejauhan ada garis pantai dan Bapak Ibu bisa menduga bahwa lokasi ini terletak jauh dari garis pantai tapi dekat dengan ee muara sungai ee berjarak kira-kira 2 kilo dari garis pantai. Dan Bapak Ibu bisa melihat kerusakan yang sangat luar biasa akibat tsunami. Ee perlu diketahui bahwa bencana gempa tsunami 2024 merubah teori dasar gempa bumi, merubah banyak aspek mengenai gempa bumi, termasuk merubah ee diri saya sendiri. Jadi saya awalnya belajar program doktor di Jepang mengenai Gunung Api. Tetapi tahun 2024 saat itu saya adalah mahasiswa program doktor. Tahun kedua saya baru masuk tahun kedua program doktor. Dan kemudian saya memutuskan untuk merubah topik riset saya menjadi ee lebih pada gunung api, lebih pada gempa bumi daripada gunung api. Bapak, Ibu sekalian mungkin pernah melihat gambar ini. Ini bisa dilihat ini adalah gampa citer satelit yang sebelah kiri di Januari 2023 yang sebelah kanan akhir Desember 2024. Bisa melihat bagaimana kerusakan rumah yang berjarak lebih dari 2 kilo dari garis pantai. Tidak hanya rumahnya yang rusak, lingkungannya pun hancur. Tidak ada satu bangunan yang bisa bertahan, semuanya hancur. Dan saya survei ke lokasi ini di bulan Maret, 4 bulan sesudah kejadian. Dan kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dampak kerusakan. Mari saya coba perlihatkan bagaimana dampak kerugian ekonomi akibat bencana. Jadi Bapak Ibu bisa melihat salah satu dampak terdahsyat dari bencana adalah gempa bumi. Jadi saya kumpulkan dalam ee 20 tahun sejak tahun 2000. Bencana apa saja ya yang kemudian berdampak sangat serius di muka bumi ini? Yang nomor satu adalah gempa bumi. Kerugiannya lebih dari 5.000 triliun. Yang artinya apabila gempa bumi ee di Jepang ini ee terjadi di Indonesia, maka kita harus meriset kembali sejarah kita karena kerugian ekonominya tiga kali lebih besar daripada ee PDB kita, daripada maaf daripada APBN kita. Jadi bayangkan daripada uang yang kita miliki kerugiannya jauh lebih besar. Iya. Kemudian setelah itu eh diikuti oleh hurikin ataupun topan dahsyat terjadi di terutama di Amerika. Setelah itu banjir di Thailand sampai R triliun. Banjir di Cina lebih dari 500 triliun. Kemudian gempa di Sicuan ee sampai 448 triliun. Saya pernah menjadi ee dosen tamu di Siichuan University dan menyaksikan ee bagaimana dahsyatnya akibat gempa Siuan. Tapi di waktu yang bersamaan saya pun menyaksikan bagaimana dahsyatnya Cina membangun kembali daerah Sicuan menjadi daerah yang sangat maju, daerah yang kemudian bisa lebih bertahan apabila bencana gempa terjadi di masa depan. Kemudian gempa di banjir Pakistan yang mengakibatkan ee kerugian ekonomi lebih dari 100 triliun. Bapak, Ibu sekalian, sekarang saya akan ee lihat dalam konteks korban korban jiwa. Jadi, yang tadi kerugian ekonomi. Kemudian saya ubah cara melihat data dengan melihat korban jiwa. Maka dari 10 yang terbesar ee enam di antaranya akibat dari gempa bumi. Kenapa gempa bumi mengakibatkan korban jiwa yang sangat besar? Jadi salah satu kejadian bencana dengan korban terbesar adalah gempa Haiti pada tahun 2010 korban jiwanya mendekati 300.000 jiwa. Pertanyaannya adalah kenapa gempa bumi mengakibatkan korban jiwa yang besar? Jawabannya adalah karena waktunya sangat pendek, hanya beberapa detik. Bapak, Ibu coba lihat kolom data yang saya perhatikan yang terkait dengan durasi kejadian bencana gempa bumi. Kejadian gempa bumi berlangsung sangat sebentar. Gempa Haiti hanya berlangsung 60 detik. Gempa Aceh adalah gempa terlama yang pernah tercatat dalam sejarah manusia hanya berlangsung 600 detik. ee gempa bam itu hanya berlangsung 22 detik, korban jiwanya 30.000. Jadi tidak ada kejadian bencana yang waktunya sangat pendek kecuali gempa bumi. Bapak, Ibu bisa melihat untuk banjir itu beberapa minggu, siklon tropis itu beberapa hari, topan itu beberapa minggu, tetapi untuk gempa bumi hanya beberapa detik. Dan ini mengakibatkan bahwa memahami gempa bumi menjadi sangat penting. Salah satu faktornya karena durasi kejadiannya sangat pendek. Bapak, Ibu sekalian, seandainya suatu saat di masa depan kita bisa memprediksi gempa selayaknya prakiran cuaca. Misalnya di tempat Bapak Ibu dalam beberapa jam ke depan kita bisa memperkirakan akan besok pagi akan terjadi gempa dengan magnitudo 3 tetapi kalau di wilayah lain hanya terjadi 2,5 misalnya. Itu akan sangat baik dan saya percaya suatu saat di masa depan kita bisa melakukannya. Tetapi saat ini kita belum bisa. Saat ini kita belum bisa memprediksi gempa bumi selayaknya. memprediksi cuaca. Dan kemudian pada saat kita tidak bisa memprediksi, kita harus kemudian merenung kembali faktor-faktor apa yang menyebabkan gempa merusak. Dan untuk itu maka kita akan mempelajari lebih baik agar faktor-faktor tersebut tidak memberikan dampak yang dahsyat. Yang pertama adalah ground shaking atau goncangan dahsyat yang dikuantifikasi dengan nilai pick ground acceleration atau akselerasi maksimal yang menggambarkan kekuatan gempa. Kabar baiknya kita sudah bisa menghitung di awal seberapa kekuatan gempa yang mungkin terjadi, goncangan yang mungkin terjadi di masa depan. Kita sudah bisa melakukannya. Yang kedua adalah nilai yang kedua adalah amplifikasi. Tanah lunak dan sedimen yang tebal akan memperkuat guncangan gempa bahkan membuat tanah menjadi cair. Yang menjadi penyebab gempa Jogja mengakibatkan kerugian dan korban yang sangat besar adalah amplifikasi goncangan yang diperkuat. Yang membuat gempa Cianjur 2002 dampaknya sangat dahsyat adalah amplifikasi. Lapisan tanah lunak produk dari letusan gunung api membuat tanahnya halus, gembur, tetapi di waktu yang bersamaan bisa menambah goncangan gempa. Dan apabila lapisan tanah lunak kemudian diikuti dengan lapisan air yang sangat tebal, ada lapisan kemudian pangkalang air di bagian bawah, maka akan ee aquuiver yang dangkal akan ditambah goncangan yang kuat akan menghasilkan amplifikasi dan juga ee amplifikasi dan juga likuivfaksi. Kemudian faktor yang lain adalah kerentanan akibat struktur. Bapak, Ibu sekalian, izinkan saya untuk ee memperlihatkan bagaimana para ilmuwan mengkuantifikasi potensi gempa. Jadi, kami sudah bisa mengkuantifikasi potensi gempa dengan dengan mendefinisikan satu angka ajaib yang kemudian bisa bermanfaat untuk pengurangan resiko bencana. Apa angka ajaib tersebut? Angka ajaib tersebut adalah A atau percepatan gempa. Jadi yang yang diperlukan bukan kemampuan untuk memprediksi kapan gempa terjadi. Tapi sekarang yang lebih penting, pengetahuan yang lebih penting kita miliki adalah memperkirakan berapa kemungkinan nilai dari percepatan gempa yang disebut dengan A itu bisa terjadi. Jadi satu angka penting yang kemudian digunakan oleh banyak pihak, oleh banyak pakar termasuk ahli struktur, termasuk ahli geoteknik untuk merancang bangunan adalah mengetahui besarnya percepatan gempa bumi. Jadi kalau kita bisa mengetahui A dan apabila nilai A tersebut dikalikan dengan massa, maka kita akan mengetahui gaya gempa yang bekerja di suatu bangunan. Jadi kita sudah bisa memperkirakan berapa gaya gempa yang terjadi di suatu bangunan bahkan sebelum bangunan tersebut dibangun. Untuk itu, untuk menjamin agar bangunannya tidak rusak, maka kita harus membangun bangunan lebih kuat daripada gaya gempa yang mungkin terjadi. Atau kita bisa mengurangi gaya gempa tersebut di dalam bangunan dengan menggunakan ee peredam gaya gempa. Jadi, ada banyak sekali dumping sistem semacam per yang digunakan untuk mengurangi gaya gempa. Bapak, Ibu sekalian. Sedikit cerita bahwa di ITB kami memiliki bangunan yang sangat tua yaitu observatorium Bosca. Dibangun pada tahun 1923 dan pembangunannya selesai di tahun 1926. Salah satu pengamat ee bintang tertua di Indonesia bahkan tertua di belahan bumi paling selatan. Dan yang menarik dari bangunan yang sangat tua tersebut, di bagian bawah dari strukturnya sudah ada sistem penahan gempa sederhana di zaman itu tahun 1923 yang tujuannya adalah mengurangi nilai percepatan gempa terhadap bangunan terhadap observatorium. Jadi pada saat kita bisa menghitung percepatan gempa di awal, maka kita bisa membuat infrastruktur kita lebih baik daripada potensi percepatan gempa yang mungkin terjadi. Begitu pula pada saat kita bisa menghitung percepatan gempa di suatu lereng dikalikan dengan massa, maka akan menghasilkan gaya lereng yang mungkin menghasilkan longsoran. Apabila kita bisa mengetahui percepatannya, maka ada dua pilihan kita. memperkuat longsorannya, memperkuat lereng tersebut sehingga tidak longsor atau kita menghindari wilayah infrastruktur yang dibangun dekat dengan lereng. Jadi pada saat secara alamiah terjadi longsor, maka infrastruktur kita tidak rusak, penduduk kita tidak menjadi korban, tidak terjadi, tidak terdapat kerugian ekonomi. Manfaat yang ketiga, pada saat kita bisa menghitung besarnya percepatan gempa atau A, maka akan membantu kita untuk apabila nilai dari percepatan gempa bertemu dengan suatu tadi lapisan lunak yang kaya dengan air, aqui yang sangat dangkal, dikalikan suatu konstanta dan percepatan maka kita akan mengetahuilah ee bagaimana potensi lukufaksi di wilayah tersebut. Pertanyaannya adalah apabila kita sudah bisa mengetahui potensi likuifaksi, lantas apa yang kita lakukan? Apa yang kita lakukan pada saat kita mengetahui potensi tekuifaksi? Ada dua pilihan. kita bisa membangun ee infrastruktur kita, memastikan infrastruktur kita pondasinya mencapai batuan dasar yang lunak sehingga walaupun lapisan atas mengalami likuifaksi, bangunan kita tidak roboh. Atau pilihan yang lain adalah mengurangi kadar air di dalam tanah sehingga likuaksi tidak terjadi atau pilihan yang lainnya tidak membangun di wilayah tersebut. Jadi kemudian kita memiliki berbagai pilihan untuk memastikan bahwa ee bangunan masih bisa berdiri, kerugian ekonomi tidak terjadi. Bapak, Ibu sekalian, saya akan bercerita sedikit bagaimana nilai dari percepatan atau nilai A tersebut dihitung. Jadi, satu angka penting ee angka ajaib yang menjadi dasar pengurangan risiko bencana bumi tersebut. Bagaimana dihitung? Yang pertama tentu saja memahami kondisi tektonik di Indonesia. Ee kita paham Indonesia berada dalam paling tidak empat ee tektonik ee empat lempeng tektonik utama dari lempeng bagian selatan dari Rasia atau dikenal dengan Sunda Blok. Kemudian sedikit bergerak ke arah timur kita menemukan lempeng laut Filipin. Ke arah timur lagi merupakan lempeng Pasifik dan bergerak ke selatan. Dominannya dibangun dari lempeng Australia. Pertemuan dari empat lempeng tersebut menjadi area subduksi, menjadi area polusi, menjadi area transform, menghasilkan banyak gempa di Indonesia. Ini gempa yang kami plot dalam 20 tahun terakhir. Ada be gempa-gempa yang kecil, ada gempa yang besar, ada beberapa gempa yang sangat besar. Dan Bapak Ibu kalau jeli melihat masih ada beberapa wilayah yang kemudian mengalami kekosongan gempa yang artinya ini kabar yang ee menjadi perhatian kita semua. Tidak kita harapkan tetapi sangat mungkin gempa terjadi di dalam lingkaran-lingkaran merah yang saya tampilkan dalam slide ini. Bapak Ibu sekalian. Kemudian informasi mengenai kejadian gempa, sumber gempa bumi. Akumulasi energi yang didapatkan dari GPS kami kumpulkan untuk mendefinisikan sumber gempa. Ada nilai magnitudo di sini di dalam wilayah di mohon maaf apabila angkanya kecil tapi Bapak Ibu apabila jeli bisa melihat ada potensi magnitud gempa yang bisa terjadi di wilayah tersebut. Nah, kemudian setelah kita memahami magituduk gempa, maka kita akan melakukan proses perhitungan yang disebut dengan seismic hazard analisis. Nah, SESM hajat analisis menghasilkan nilai percepatan gempa atau menghasilkan nilai A yang sangat penting angka ajaib yang digunakan di negara manapun untuk mengurangi risiko gempa bumi. Dan Indonesia ternyata sudah punya peta gempa, sudah punya peta yang menggambarkan nilai percepatan nilai A tersebut. Misalnya yang paling tua dibangun 1983. ee ini dibangun oleh suatu konsultan Indonesia bekerja sama dengan konsultan dari New Zealand. Kenapa waktu itu kita membuat? karena untuk kepentingan membangun infrastruktur strategis waktu itu. Jadi tahun 0-an Bapak Ibu yang mungkin seumuran saya bisa paham bahwa tahun 0 kita membangun banyak sekali sekolah, ada Impres, kita membangun banyak sekali fasilitas kesehatan termasuk Puskesmas di seluruh Indonesia dan ini program yang sangat berhasil diakui oleh WHO. Berhasil menurunkan banyak penyakit. berhasil menurunkan tingkat buta huruf di Indonesia secara signifikan. Nah, peta tersebut di-update tahun 2002. Jadi, nilai percepatan gempa, nilai A tadi yang saya sampaikan itu kemudian nilainya berubah menjadi nilai yang baru. Dan kemudian tahun 2006 saya pulang bergabung dalam tim tahun dan menghasilkan peta tahun 2010. Ini peta gempa yang kita bangun di tahun 2010 menjadi standar nasional. Kemudian tahun 2017 kita update dan sekarang kita update kembali menjadi peta terbaru tahun 2025. Jadi ini adalah peta gempa Indonesia terbaru ee dan baru diterbitkan ee peta-peta gempa yang sebelumnya ini menjadi SNI menjadi SNI 1726 SNI bangunan tahan gempa yang di dalamnya ada informasi kata gempa. Bapak Ibu sekalian ee izinkan saya mengakhiri bagian pertama dari diskusi ee dari presentasi hari ini. Ee sebelum saya lanjutkan, apabila Bapak Ibu memiliki pertanyaan ee silakan disampaikan. Ee saya kembalikan kepada moderator. Ee terima kasih. Silakan apabila pertanyaan sambil memberikan waktu kepada saya untuk ee break sebentar. Oke. Baik, Prof. di sini kebetulan sudah ada juga ee yang rise hand yaitu Pak Sugeng Wijono dan mungkin bagi Bapak Ibu yang lain apabila ada hal yang ingin ditanyakan juga dipersilakan untuk menggunakan fitur lens-nya. Ee mungkin dipersilakan kepada Pak Sugeng untuk menyampaikan pertanyaannya. Oke, terima kasih. Selamat pagi, Pak Irwan. Ee kami ingin menanyakan beberapa Pak Irwan. Jadi, tadi saya sudah diutarakan bahwa ee ee analisis mengenai hasad atau katakanlah ee ancaman atau bahaya itu untuk gempa kan dihasil salah satu parameter tadi percepatannya, Pak. percepatan gempa atau percepatan media untuk ee ee mengantarkan gempa. Nah, apakah ada parameter-par lain, Pak, dalam rangka menyusun ee peta ancaman gempa selain percepatan, Pak? Jadi, parameter-parameter lain yang nanti mungkin bisa digunakan oleh beberapa lembaga. Jadi sekarang itu kan yang mengamati gempa ada Pusgen, ada pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, ada BMKG. Jadi ee walidata yang nanti diberikan kepada BNPB untuk membuat peta risiko gempa itu yang mana, Pak? Artinya apa? Masing-masing ee walidata tadi itu mengadakan pertemuan sehingga keluar menjadi satu masukan sebagai peta hasad atau peta bahaya atau ancaman. Kemudian dikirimkan ke BNPB untuk menjadi bahan membuat peta risiko gempa. Saya kira itu, Pak Irwan. Terima kasih, Pak Irwan. Baik. Ee terima kasih, Pak Sugeng. Ee mohon maaf, Pak Sugeng. Bapak di mana, Pak, sekarang, Pak? Saya ada di geologi, Pak. Disiplin saya itu geologi. Dan ee ini kemungkinan saya pengin menanyakan karena kan walid data untuk gempa itu ada beberapa institusi ya, Pak ya. yang saya lihat itu BMKG kemudian Pusg kemudian juga apa pusat PLANID Mitigasi dan bencana geologi itu. Nah itu nanti sebagai wali data apakah itu mengadakan apa ni komunikasi dulu kemudian menjadi satu output peta ancaman yang akan diberikan kepada BNPB untuk membuat peta risiko gempa itu loh Pak. Baik terima kasih. ya memperhatikan faktor kerentanan juga dan bahkan kemarin itu berkembang faktor kerentan itu menjadi ee masukan yang cukup besar yang kemungkinan bisa menggantikan apa e kapasitas dan kapasitas itu termasuk kerentanan fisik ini menjadi diskusi yang menarik kemarin Pak terima kasih Pak Irwan I terima kasih Pak Sugeng untuk ee diskusinya ee ee Bapak Sugeng di di Jakarta atau di mana, Pak? Maaf, saya di Jogja, Pak. Di Geologi, Pak. [tertawa] Iya, di Jogja. Iya. Salam, Pak Sugeng. Ee iya selalu senang bisa berkunjung ke Jogja, Pak. Dan mudah-mudahan kita bisa bertemu secara langsung. Oke. Ee jadi yang Bapak tanyakan sangat penting. Ee yang pertama ee milih apa saja atau tadi Bapak menyatakan parameter apa saja yang digunakan dalam ee hazat gempa bumi sebagai ee sebagai parameter yang digunakan untuk menghitung resiko. Baik. Ee Bapak, Ibu sekalian, satu angka yang lazim digunakan dalam menghitung hazat gempa di manapun di seluruh dunia adalah nilai percepatan. Percepatan gempa. Percepatan gempa biasanya ditunjukkan dalam dua nilai. Yang pertama adalah big ground acceleration atau percepatan puncak di tanah, percepatan maksimal kadang-kadang disebut sebagai eh maksimal percepatan maksimal ground acceleration. Yang kedua adalah respon spektra. Kalau respon spektra itu bicara bagaimana percepatan berpengaruh pada struktur bangunan disesuaikan dengan jenis dan tingkat bangunannya. itu sangat membantu untuk keperluan desain bangunan. Jadi ee kita cukup memiliki satu variabel utama walaupun nanti ada yang lain. Jadi kalau pertanyaannya mana saja maka yang saya rekomendasikan terpenting itu satu. Tapi walaupun ada yang lain. Jadi kalau ee yang satu ini sudah ada baru yang lain mengikuti. Tapi jangan yang lain dulu baru yang ini gitu ya. Jadi percepatan itu adalah ee nilai penting. Ee sebagai ilustrasi bahwa peta gempa kami kemudian diadopsi menjadi bagian dari perhitungan risiko di indeks risiko bencana yang digunakan oleh BNPB. Nah, ee kabar baiknya mungkin berbeda sedikit berbeda untuk hazat yang lain karena kebetulan saya pun menghitung ee untuk kebet untuk keperluan ee tadi topik terakhir yang akan saya sampaikan pembiayaan risiko bencana. Kami menghitung ilan hazard yang lain selain gempa bumi juga. Tetapi saya melihat bahwa untuk hazat gempa bumi salah satu faktor yang menguntungkan di Indonesia karena adanya satu kelompok yang tadi juga Bapak sebutkan yaitu Pusg, Pusat Studi Gempa Nasional yang kemudian secara formal dan informal menggabungkan seluruh kekuatan di Indonesia. Jadi ee kalau Bapak perhatikan maka anggota dari Pusgen itu termasuk juga Badan Geologi PVMPG, termasuk juga BMKG menjadi bagian dari Pusg termasuk juga BRIN penelitinya terlibat dalam Pus termasuk kami yang ada di kampus juga terlibat dalam Pusat dan banyak sekali kampus-kampus lain terlibat termasuk UI UGM kampus lain tergabung dalam pushgame sehingga kemudian secara produk menjadi konsensus nasional. menjadi produk yang kemudian untuk itu maka produk Pusgen itu menjadi SNI, Pak. Nah, begitu menjadi SNI maka kemudian bisa menjadi dasar bagi siapapun dan kami sangat mendorong agar instansi menggunakan ee produk kami nanti datanya dan bahkan datanya available untuk publik. Bahkan Bapak Ibu bisa mendapatkan kalau Bapak Ibu masukkan nilai koordinat ada aplikasi yang kami buat dan waktu itu kami simpan di Kementerian PU dan di Brin kalau tidak salah ee Bapak Ibu masukkan nilai koordinat maka bisa keluar nilai A-nya, nilai percepatan gempanya di wilayah tempat Bapak Ibu sekalian. Jadi kalau ee misalnya pertanyaannya ee ee variabel apa yang paling penting, maka yang kami rekomendasikan adalah variabel percepatan. Walaupun nanti percepatan itu ada macam-macam, ada background acceleration, ada spectral acceleration dan nanti percepatan tersebut yang kami dapatkan di batuan dasar itu harus ditingkatkan ketermukaan. Jadi nanti ada karena setiap daerah memiliki karakteristik faktor artifikasi yang berbeda-beda. Tapi kalau bicara faktor dasar itu dulu ee percepatan. Nah, sesudah itu terpenuhi dan kami menyaksikan beberapa negara eh kalau Amerika Jepang itu masih menggunakan faktor yang sama acceleration seperti tapi kami melihat beberapa negara seperti New Zealand itu ditambahkan faktor yang lain yaitu rapture yaitu robekan bidang tanah. Bagi kami itu menarik. Ee kami pun sedang mengkaji agar robekan bidang tanah itu kami masukkan juga ee karena ini dua faktor yang independen bukan faktor turunan, gitu. Jadi kalau misalnya longsor, likuifaksi, ee kemudian tsunami itu adalah faktor turunan dari kedua faktor tersebut. Jadi kalau kita bisa mendefinisikan nilai dari robekan, maka ee robekan itu faktornya adalah distribusi slip, maka kita bisa menghitung ketinggian tsunami. Kalau kita bisa menghitung nilai goncangan terhadap suatu wilayah ditambahkan kelerengan bisa menghitung potensi land, kita bisa menghitung potensi likuifaksi. Jadi kedua faktor utama ini merupakan faktor dasar yang kemudian bisa diturunkan menjadi bencana kolateral. dari gempa bumi yang lainnya. Jadi, dua hal tersebut menurut kami menjadi variabel penting dalam konteks perhitungan hazard. Pertanyaan selanjutnya, Bapak tanyakan, siapa wali datanya? Wali data untuk ee untuk eh untuk data percepatan itu ada di Pusgen dan sudah kami SNIK-an, Pak. Kemudian bisa diakses oleh publik ee nilainya, Pak. Itu kalau tadi tadi, Pak, ya. F volt tadi itu tergantung apa? Skala skala skala persebarannya atau mungkin pada skala ee gerakan vertikalnya ya, Pak ya? Iya, betul, Pak. Jadi proses ee jadi proses untuk membangun ee saya izinkan ee untuk menampil menampilkan slide, Pak, ya. Jadi proses untuk menghitung percepatan dan robekan tersebut, proses awalnya adalah memahami sumber gempa. Jadi pada saat memahami sumber gempa maka di situ ada magnitudo, Pak. Jadi ada magnitudo gempanya harus kita ketahui. Dan tidak hanya magnitudo, kita harus mengetahui periodisasi kejadian gempa. Ada magnitude. Berarti kalau periodisasi ada slip rate seb atau laju geser dari sumber gempa. Jadi seberapa seberapa sering gempa tersebut itu terjadi? itu itu faktor yang kita sebut sebagai sumber. Nah, dan itu biasanya ee pengguna tidak perlu tahu, Pak. Jadi, pengguna ya nanti bagian rumitnya itu bagian kami yang mengerjakan. Nah, dalam konteks pengguna termasuk kalau Bapak, Ibu di daerah ataupun tadi Bapak menyampaikan BNPB, maka lebih fokus pada dampaknya dan dampak tersebut adalah percepatan. Dan sekarang kita masukkan juga ee kami sedang berpikir serius untuk memasukkan aspek robekan juga ke dalam ee ke dalam ee komponen yang dihasilkan dalam SESMIK Hazard. Selama ini kita sampai SNI yang terbaru kita baru memasukkan unsur percepatan, tapi kita sedang sedang mempertimbangkan dengan serius untuk memasukkan ee faktor perbaikan juga. Mudah-mudahan menambah diskusi. Pak, mungkin sedikit pertanyaan, Pak. Jadi pada saat BNPB itu membuat peta risiko bencana atau indeks risiko bencana ya, Pak ya. Itu ee pihak Pusken dilibatkan enggak ya, Pak ya? Karena kan ee kan di BNPB itu mungkin multidisiplin ada di situ ya, Pak, ya. Jadi waktu dia membuat ee menghitung indeks risiko kita yang didasarkan kepada hasad kemudian dikalikan dengan kerentanan atau vulnerability kemudian dibagi kapasitas itu pihak Pusken dilibatkan enggak, Pak? Iya. Jadi ee kalau kami meyakini bahwa ee peta risiko bencana tidak tidak multiperpose, Pak. Ya, jadi tidak satu peta risiko itu tidak digunakan untuk berbagai kepentingan. Peta risiko BNPB sangat baik. Ee menurut saya ee salah satu pata risiko yang perlu diadopsi oleh berbagai daerah untuk keperluan manajemen pengurangan risiko bencana. Jadi ketika ee BPBD ee ingin melaksanakan proses ee pengurangan upaya pengurangan risiko bencana, maka sangat penting untuk menggunakan peta risiko yang dihasilkan oleh BNPB. Tetapi untuk keperluan berbeda, maka peta risiko itu bisa dihitung dengan cara berbeda. Tetapi apa yang sama? yang sama adalah petaha zatnya. Ya, jadi kemarin itu dalam pertemuan itu kan model risiko bencana itu kan menjadi diskusi menarik karena ada rencana peraturan yang menggantikan peraturan kepala BNPB tahun 2012 itu loh, Pak. Jadi model dari apa IR atau risiko bencana itu sama dengan apa hasad kalikan vulnerability V dibagi kapasitas itu ee kelihatannya ada ada sesuatu perubahan khususnya dalam ee penanganan vulnerability yang mungkin eh overlapping dengan mitigasi gitu loh, Pak. Iya. Ee saya ee saya paham saya ikut terlibat lewat pembuatan perka nomor 2 tahun 2012. Ee tetapi yang ingin saya sampaikan bahwa ee bahwa tidak ada satu peta risiko yang digunakan untuk seluruh kepentingan ya. sehingga untuk kepentingan yang sekarang apabila saya perhatikan bahwa peta risiko BNPB sangat kuat dalam konteks ee kerentanan dan kapasitas. Ee ee menurut saya itu sangat baik terutama untuk keperluan upaya pengurangan risiko bencana sehingga daerah bisa memahami kapasitas mana yang harus ditingkatkan, kerentanan mana yang kemudian harus dikurangi itu sangat baik. tetapi tidak berarti bahwa petar resiko tersebut bisa digunakan untuk berbagai kepentingan. Ee karena itu itu yang mungkin bisa sampaikan karena menjadi landasan untuk perencanaan penanggulangan bencana itu loh yang yang sudah wajib dilakukan oleh provinsi maupun kabupaten kota itu loh Pak. Nanti kita I saya saya sangat setuju dan mungkin cocok Pak untuk kebutuhan itu. Iya. Tetapi kalau dalam konteks untuk misalnya ee saya sekarang bidang saya sedang mempelajari dengan detail bidang terkait dengan pembiayaan risiko bencana ee mungkin ee bagian dari kapasitasnya harus dimodifikasi bahkan mungkin tidak dimasukkan. Begitu pula kerentanannya lebih fokus pada kerentanan fisik saja. Iya. Jadi ee untuk keperluan perencanaan, penanggulangan bencana itu oke, tetapi untuk keperluan yang lain ee kita harus memodifikasi. Jadi tadi diskusi Bapak mengenai perubahan indikator IRBI bisa jadi cocok tetapi untuk satu aplikasi, untuk satu kepentingan. Tetapi mungkin untuk kepentingan yang lain, Bapak, Ibu apabila punya kepentingan yang berbeda, objektif yang berbeda di daerah, maka cara perhitungannya bisa jadi berbeda. Jadi tidak satu resep yang tunggal bisa digunakan untuk keperluan yang untuk seluruh keperluan. Nanti saya akan ee perkenalkan perhitungan ee risiko yang saya lakukan dan Bapak Ibu kalau jeli bisa melihat itu berbeda dengan Per nomor 2 tahun 2012. Oke, terima kasih Pak Erwan. Baik ee Bapak Ibu sekalian ee saya ee izinkan saya untuk ee melanjutkan diskusi. Ee kita akan masuk ke bagian yang kedua yaitu menjelaskan pembentukan dari risiko. Dari tadi sudah ada diskusi yang baik terkait dengan ee ee perhitungan risiko yang saya ikut terlibat dalam proses pembuatan Perk nomor 2 tahun 2012. Ee ee saya meyakini bahwa ee kata kunci dari risiko adalah probabilitas terjadinya probabilitas terjadinya kerugian. Jadi kata kunci dari risiko adalah potensi terjadinya kerugian yang artinya kemudian kita harus memahami ancaman untuk menjadi kerugian. Tetapi ada ada yang kedua yaitu aspek probabilitas. Nah, aspek probabilitas itu yang kemudian kita perlu pahami. Dari mana kemudian risiko itu menjadi probabilitas? Artinya risiko itu bisa terjadi, bisa tidak terjadi. Jadi ada aspek kemungkinan bahkan atau ketidak mungkinan risiko itu terjadi. Ee untuk itu nanti kita perlu ee membahas bagaimana proses membangun suatu risiko. Bapak, Ibu sekalian, ini adalah model dasar bagaimana satu risiko dibangun. Jadi, komponen ini adalah model dasar komponen bagaimana risiko dibangun. Bapak, Ibu yang bekerja dalam aspek lingkungan mungkin bisa menelaah apakah ee model yang tadi disampaikan dikembangkan BNPB itu sesuai atau tidak sesuai. Tetapi Bapak, Ibu yang bekerja dalam ee ee pengurangan risiko bencana di daerah terutama di BPBD itu kami sangat mendukung itu digunakan. Tetapi untuk aplikasi yang lain Bapak Ibu silakan melihat objektifnya. Nah, tetapi apapun apapun ee jenis aplikasi ataupun apapun kemanfaatan yang akan Bapak Ibu ee kemanfaatan kajian risiko yang ee akan Bapak Ibu ee gunakan, maka ada beberapa komponen dasar yang seharusnya ada di dalam kajian risiko. Komponen dasar tersebut adalah memahami bahaya atau hazard. ini menjadi sangat penting. Ee saya tidak hanya bicara gempa bumi, tetapi saya juga bicara mengenai ee ee saya juga bicara mengenai ee ee gunung api dan banjir. Jadi, memahami hazat itu adalah komponen yang sangat penting. Bagi saya memahami hazat adalah ibaratnya adalah memahami ee diri kita sendiri. Jadi untuk negara sebesar Indonesia memahami artinya adalah memahami bagaimana ee izin Prof. suaranya hilang ya. Oh iya. E jadi untuk ee untuk Indonesia memahami hazat adalah memahami ee bangsa kita sendiri. Dan satu hal penting yang ee saya ingin Bapak Ibu ee tidak lupa ee Bapak Ibu selalu mengingat bahwa Hazad jadi ee ee saya adalah ee orang yang bekerja dalam bidang hazat bahwa hazat itu adalah probabilitas, kemungkinan. Itu yang ingin saya tekankan pada Bapak, Ibu sekalian bahwa curah hujan tinggi itu adalah probabilitas. Tadi nilai A atau percepatan gempa itu adalah probabilitas, tapi dia adalah komponen utama. Saya sering melihat beberapa pakar kemudian memfokuskan risiko pada aspek kerentan. Itu aspek yang penting juga. Tetapi tidak mungkin ada kerentanan apabila tidak ada haza. Jadi pastikan Bapak, Ibu sekalian, Bapak, Ibu sekalian memiliki pengetahuan yang baik akan haza. Bahkan bagian haza itu sering sekali dilupakan. Yang penting kita memiliki ee aturan penanggulangan bencana. Yang penting kita memiliki komunitas ee pengurangan risiko bencana. Yang penting kita memiliki ketahanan sosial yang kuat. Tetapi apabila hazana tidak kita pahami, maka dampaknya akan sangat serius. Jadi menurut saya fundamental penting dari memahami risiko adalah memahami hazard atau bahaya. Dan bahaya adalah probabilitas. Suatu fenomena yang memiliki probabilitas. untuk menghasilkan kerusakan atau kerugian. Untuk itu maka risiko itu menjadi probabilitas. Risk is eh probability functions. Pertanyaannya adalah kenapa risiko probabilitas? Karena bahaya adalah probabilitas. Yang kedua adalah exposure atau keterpaparan. Keterpaparan itu artinya adalah memahami lingkungan kita sendiri, atribut lingkungan kita sendiri, nilai aset dari lingkungan kita sendiri, bangunan kita sendiri, rumah kita sendiri. Kita perlu mengetahui seperti apa rumah kita, apa fondasi dari rumah kita, apakah rumah kita cukup kuat? berapa lantai rumah kita? Saya sering melihat sekarang banyak sekali bangunan ee yang atapnya menggunakan bajaringan, tapi gentengnya masih genteng yang lama. Jadi mungkin gentengnya masih lama, genteng lama masih bagus, tapi kemudian atapnya itu sudah mulai dimakan rayap. Nah, diganti bajar ringan tapi gentingnya masih yang sama. Dan itu pasti romboh setiap gempa. Ini saya perhatikan banyak sekali bajar ringan tidak cukup kuat untuk menahan ee mungkin ada jenis bajar ringan yang kuat tapi kebanyakan tidak digunakan untuk bisa menahan genting dan itu rusak. Yang kedua adalah kerentanan. Kerentanan bicara seberapa mungkin aset yang kita miliki akan terpapar oleh peristiwa bencana. Kerentanan kadang-kadang dibagi menjadi kerentanan sosial, kerentanan fisik. Kadang-kadang bagian kerentanan yang positif dijadikan sebagai ee ee kadang-kadang kita menambahkan unsur capacity di situ. Tetapi menurut saya yang paling basic yang membangun risiko dalam konteks pembangunan risiko dan ini menurut saya paling fundamental nanti bisa masuk unsur kapasitas. Walaupun cukup hati-hati ketika kita memasuk unsur kapasitas karena kita menggabungkan indeks risiko dengan indeks ketahanan atau resilience. Jadi kalau tidak hati nanti kita bisa mixing konsep sebetulnya. Tetapi dalam konsep dasar pembangun risiko maka bahaya keterpaparan dan kerentanan. Kemudian kita mensimulasikan, menghitung dampak. Dampak ini penting digunakan untuk kesiapsiagaan, untuk mengevaluasi dampak yang mungkin. Jadi, sebelum memasukkan sebelum memasukkan unsur kapasitas, kita hitung dulu potensi dampaknya secara sederhana, secara fundamental. Nah, nilai dampak yang mungkin jadi dampak dari seluruh kejadian bencana. Jadi kalau misalnya begini, dampak dalam seluruh kejadian bencana itu misalnya gempa bumi ini kita sedang menghitung gempa. Maka gempa bumi di suatu wilayah bisa memiliki karena tadi ada probabilitas bisa memiliki kemungkinan magnitude yang bervariasi. Bisa magnitud 3 maka dampaknya seperti apa? Magnitud 5 dampaknya seperti apa? Magnitud 5,5 6 seperti apa? 6,1 6,2 pada kemudian seluruh dampak itu kita gabungkan maka kita mendapatkan peta risiko. Jadi peta risiko adalah gabungan atau compound probability dari berbagai kemungkinan dampak. kita bisa fokus hanya menghitung dampak dulu dan kita tertarik untuk mengurangi dampak dengan memasukkan unsur kapasitas kemudian itu oke. Tetapi kemudian dalam konteks ee perhitungan dasar dari risiko kita kita bisa menghilangkan unsur kapasitas untuk mendapatkan risiko. Cukup menggabungkan beberapa dampak dan menjadi perhitungan risiko. Tapi kalau kita tadi di ingin masukkan juga kapasitas sebagai faktor pembagi itu pun oke. Tapi harus ingat ketika memasukkan kapasitas apa tujuannya akan ke mana peta risiko kita akan menjadi apa manfaatnya dan tidak bisa peta risiko digunakan untuk seluruh kepentingan. Tapi kalau yang basic itu bisa digunakan. Itu yang ingin saya sampaikan. dan kemudian peta risiko tersebut ee jadi ada beberapa model yang kemudian membangun peta risiko. Ee jadi ini misalnya ee ini peta risiko di seluruh Indonesia yang ee kami buat. Jadi kami pun menghasilkan peta risiko untuk seluruh bencana di seluruh Indonesia ee khususnya untuk keperluan ee pengembangan konsep yang sedang kami lakukan yaitu ee ee pembiayaan risiko bencana atau disaster risk financing. Ee Bapak, Ibu sekalian ee izinkan di bagian akhir sebelum ee diskusi lanjutan saya ingin memperkenalkan ee riset yang sedang saya lakukan dalam 6 tahun dalam 6 tahun terakhir yaitu ee riset terkait dengan pembiayaan risiko bencana. DRF disaster risk financing pembiayaan risiko bencana. Kadang-kadang orang tambahkan iitu insurance. Tapi insurance itu tidak faktor bukan faktor utama. Kita cukup berhenti di DRF, disaster risk financing atau pembiayaan risiko bencana. Ini adalah ee hal yang baru dan ee ee kita sangat ee dorong agar Indonesia memiliki skema pembiayaan risiko bencana yang lebih baik. ee Bapak, Ibu sekalian, mengapa perlu ada skema pembiayaan risiko rencana? alasannya yaitu ee saya menyaksikan cukup lama, saya bekerja cukup lama di bidang ee kebencanaan lebih dari 20 tahun dan saya menyaksikan bahwa strategi penanggulangan yang negatif akan memperlambat kemajuan pembangunan atau malah membuat orang berada dalam kondisi kemiskinan atau mereka atau bahkan mendorong mereka untuk kembali ke dalamnya dan bukan kemudian bangkit dengan lebih baik. Ee misalnya sebagai contoh bahwa gempa dan tsunami 2024 menghancurkan lebih dari 100.000 kapal nelayan dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Contoh yang lain misalnya gempa di Lombok tahun 2018 mengakibatkan perlambatan ekonomi di daerah Lombok terutama akibat sektor pariwisata. Karena responnya tidak cepat maka berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi. Kemudian dampak yang lain adanya kurangnya sumber daya untuk merespon dengan cepat. Jadi pada saat kita tidak punya skema pembiayaan yang baik, maka kita tidak memiliki sumber daya untuk merespon segera dan dengan efektif dan menyebabkan kerugian manusia dan ekonomi yang meningkat. Jadi, kita sering melihat bahwa kemudian korban bertambah karena respon kita yang terlambat. Kemudian ee faktor yang ketiga bahwa pemerintah misalnya pemerintah daerah misalnya seringki tidak mampu untuk membiayai, seringkiali tidak memiliki kemampuan pembiayaan untuk merespon bencana dengan cepat. Pemerintah seringki harus menarik dana dari pusat dananya berasal dari pelayanan publik untuk mengalihkan dana tersebut dari proses pembangunan yang produktif. Jadi dana yang produktif kemudian terpaksa dialihkan, dipindahkan untuk menanggulangi bencana. Nah, Bapak, Ibu sekalian, saya ingin coba bandingkan antara mitigasi risiko bencana atau manajemen risiko bencana dengan ee pembiayaan risiko. Jadi, pembiayaan risiko bencana merupakan bagian integral dari mitigasi bencana gempa secara umum. Jadi, jangan didikotomikan kemudian melihat mana yang lebih penting. Tidak demikian, tetapi seharusnya ini merupakan bagian yang integral. dan itu di ada memiliki lima pilar utama. Baik kemudian pengurangan risiko bencana ataupun perlindungan pembiayaan risiko bencana itu memiliki lima pilar. Pilarnya yaitu sama-sama berdasar pada identifikasi risiko. Jadi pada saat kita memiliki identifikasi risiko yang baik maka kita kemudian bisa melakukan dua hal. Yang pertama memitigasi risiko bencana ke depan. tetapi juga di waktu yang bersamaan memberikan perlindungan pada kerugian ekonomi di masa depan. Yang kedua, pilar yang kedua adalah pengurangan risiko. Bagaimana kemudian pembian risiko bencana bisa mengurangi risiko? Karena menghindari terjadinya risiko baru. Banjir diikuti dengan risiko penyakit pernapasan. diikuti dengan risiko penyakit kulit, diikuti dengan risiko sulitnya air bersih. Gempa bumi seringki diikuti dengan risiko masyarakat yang tinggal di pengungsian itu harus kemudian ee ee terkena penyakit diare, penyakit ISPA. Itu terlalu sering kami saksikan di berbagai tempat. Jadi apabila kita memiliki pembiayaan risiko bencana yang baik, maka akan mengurangi risiko yang muncul, risiko baru yang muncul sesudah terjadinya bencana. Kemudian yang ketiga adalah kesiapsiagaan. meningkatkan kapasitas untuk mengelola krisis dengan mengembangkan kapasitas prediksi dan manajemen bencana dengan lebih baik pada saat kita memiliki skema pembiayaan bencana. Dan yang pilar yang penting yaitu perlindungan finansial. Jadi jangan sampai uang yang harus diguna harusnya digunakan untuk keperluan yang produktif harus kita kemudian kita pindahkan. Kemudian yang kelima adalah pemulihan yang lebih tangguh. Bapak, Ibu sekalian ee izinkan saya untuk berbagi dan ini merupakan bagian akhir dari slide saya. Ada prinsip dari pembiayaan risiko bencana gempa bumi. Ada ada empat prinsip. Prinsip yang pertama bahwa ketepatan waktu pendanaan ini menjadi faktor yang sangat penting. Jadi ee saya gambarkan dalam grafik sumbu X-nya adalah waktu, sumber Y-nya adalah kebutuhan dana. Jadi seringki dana itu tidak butuh sangat besar di awal. Jadi untuk tahap ee bantuan, tahap respon cepat mungkin yang hanya berwarna merah, tapi begitu recovery warna hijau dananya akan lebih besar. Begitu rekonstruksi membangun ulang itu akan jauh lebih besar. Untuk itu maka kita harus kecepatan memang penting, tetapi tidak semua sumber daya dibutuhkan sekaligus dalam satu waktu. Kita harus punya endurance yang sangat panjang. Kemudian ee ee faktor yang kedua yaitu ada lapisan risiko bencana. Tidak ada satuun instrumen keuangan yang bisa mengatasi semua risiko. Tadi saya sampaikan bahwa tidak ada satu model risiko yang bisa digunakan untuk seluruh kepentingan. Jadi, ada yang pertama instrumen dana cadangan. Itu itu adalah bagian yang mendesak dan mungkin kita siapkan di awal. Tapi seringki ini terbatas apalagi dana cadangan yang dimiliki pemerintah daerah. seringkiali tidak ada, maka harus minta ke pemerintah pusat. Tapi pemerintah pusat pun akan membatasi di mana mereka akan memberikan. Nah, harus ada layer lain yang kemudian jangan sampai habis di awal terus kita tidak bisa lagi membantu. Jadi, kemudian harus ada instrumen keuangan yang menyediakan likuiditas segera setelah terjadi bencana, pembiayaan kontigensi. Dan kalaupun itu terlewati, maka ada transfer risiko. Mau tidak mau beberapa risiko itu harus kita alihkan dalam bentuk transfer risiko. Ini misalnya bentuk yang ee kami diskusikan dengan Kementerian Keuangan. Jadi dalam bentuk ada lokasi APBD seringkiali kalau tidak ada ya APBN kemudian kontigensi. Kalau itu lewat maka ada pulling fund. Itu yang kami dorong pulling fund bencana. Kemudian baru masuk ke aspek yang lain yang di atasnya. Kemudian ada prinsip yang ketiga bagi kami bagaimana dana sampai ke penerima manfaat sama pentingnya dengan dari mana asalnya. Jadi bagaimana dana sampai ke masyarakat itu sama pentingnya dengan dana dari asalnya. Jadi seringki dana itu ada tapi tidak sampai ke masyarakat. Bagaimana dana tersebut dibagi untuk rekonstruksi sekolah, pembangunan kembali infrastruktur, untuk memberikan makanan bagi masyarakat, dukungan mata pencaharian itu perlu didefinisikan. Jadi, bagaimana dana sampai ke penerima sama pentingnya dengan dana dari mana asalnya. Jadi memiliki seringkali menjadi paradoks memiliki dana yang besar untuk tanggap bencana tetapi tidak dapat membelanjakannya dengan cepat ke daerah. Jadinya dana ada tapi tidak bisa cepat diturunkan ke daerah. Seringki kita tidak punya pengalaman bagaimana menyalurkan dana. Seringki bahwa penyaluran dana bencana bahkan menjadi sumber persoalan. habis disalurkan terus kemudian pejabatnya ditangkap oleh kejaksaan atau yang lain karena kita tidak punya kemampuan untuk mengelola dan memonitor. Untuk itu, maka prinsip ini perlu sangat hati-hati sekali. Dan yang terakhir adalah perlu membuat keputusan yang tepat. Maka dan ini menjadi akhir dari diskusi saya hari ini dan mudah-mudahan kita punya banyak waktu ee untuk ngobrol. Untuk membuat keputusan yang tepat, kita perlu memiliki informasi yang tepat. Kita perlu memiliki data, kita perlu memiliki analitis, kita perlu memahami ee memiliki data pengamatan yang kuat sebagai dasar untuk menghitung kerugian. membuat membuat keputusan finansial yang berdasarkan bukti dan kemudian memiliki kemampuan untuk memantau dan mengevaluasi strategi pengurangan risiko bencana khususnya gempa bumi. Demikian terima kasih yang ingin saya sampaikan ee Bapak Ibu sekalian. Ee jadi ada empat hal yang tadi telah saya diskusikan. Ee dan hal yang keempat saya hanya ingin memperkenalkan Bapak Ibu sekalian pada skema yang ee sedang saya kaji yaitu memperkenalkan pembiayaan risiko bencana. Pentingnya pembiayaan risiko bencana memiliki perencanaan pembiayaan risiko bencana di level daerah dan level nasional. Demikian saya kembalikan ee Mbak Dini apabila masih ada diskusi. Dipersilakan. Baik, terima kasih Prof. Irwan atas pemaparan materinya yang sangat informatif dan membuka wawasan kita semuanya. Dan tadi juga kita sudah mendengarkan bagaimana ee apa memahami bahaya gempa hingga juga pembiayaan resiko bencana. Dan baik untuk selanjutnya di sini kita akan langsung saja pada sesi tanya jawab dari aplikasi Slido terlebih dahulu dan mohon ditunggu sebentar di sini saya akan menampilkannya. Oke. Baik. Di sini Prof. Irwan sudah ada 10 pertanyaan yang dari aplikasi Slidu dan ee dipersilakan kepada Prof. Irwan untuk bisa langsung saja menjawab pertanyaannya satu persatu. Baik. ee pertanyaannya ada di aplikasi sebentar ee oh di link ini ya. Iya ini sudah ada ditampilkan, Prof di layar. Oke sudah ditampilkan di layar. E e mana ya di layar saya sudah stop. Oh ini nih ID screen. Oke maaf. Baik. Ee ee ada pertanyaan ee saya sangat menghargai kalau Anda bisa menyampaikan juga ee siapa yang bertanya. Ee yang pertanya pertama saya coba menjawab ya bagian yang pertama. Apa inovasi terbaru dengan teknologi bangunan tahan gempa yang relevan untuk di ee terapkan ee di daerah ee rawan bencana gempa bem? Baik. Ee ini pertanyaan yang ee strategis tapi ya saya perlu sampaikan bahwa ee bidang saya bukan ee struktural engineer, saya bukan ee pakar struktur. Tapi yang ingin saya sampaikan em beberapa ee terkait dengan saya mungkin akan sampaikan secara umum ee teknologi apa yang kemudian sekarang bergempang eh maaf berkembang dalam bidang gempa bumi ya. Ee yang pertama adalah teknologi peringatan dini. Jadi sekarang ee berkembang sangat cepat ee teknologi untuk memberikan peringatan goncangan gempa. Jadi tadi memberikan tadi kan saya sampaikan bahwa yang penting gempa itu yang penting dalam gempa adalah memiliki pengetahuan akan nilai A percepatan gempa. Dan kalau kita bisa memiliki informasi A dengan cepat sebelum goncangan betul-betul terjadi, itu disebut sebagai eh earthquake early warning system atau peringatan dini gempa bumi. Dan sekarang peringatan dini gempa bumi berkembang sangat cepat. Jadi kalau Anda bertanya inovasi terbaru dalam teknologi untuk gempa bumi sekarang itu adalah sistem peringatan lini gempa bumi. Earthquly working system. Ee saya memiliki dua mahasiswa S3 yang bekerja di BMKG baru setahun ini dengan topik tersebut itu akan topik yang sangat berkembang cepat. Sekarang di beberapa negara sudah sangat baik. Anda bisa menyaksikan di Jepang sebelum goncangan terjadi beberapa ee masyarakat sudah bisa mendapatkan peningkatan dirinya lewat handphone. Kita pun sedang bekerja agar memiliki sistem itu di Indonesia. Kemudian teknologi bangunan itu berkembang sangat cepat. Teknologi bangunan untuk daerah rawan gempa yang sekarang ee dikembangkan ee jadi ada dua pendekatan ya kalau dalam konteks ter bangunan yaitu memperkuat struktur pasti ya. Ee tetapi seringki kemudian cost-nya sangat besar ataupun batasan strukturnya menjadi sangat harus sangat rigid. Padahal kan tidak boleh terlalu rigid juga ya ee agar dia bisa menahan goncangan gempa. Nah, sekarang kemudian dikombinasikan kalau saya perhatikan di beberapa negara ee mohon maaf kalau referensinya lebih banyak ke Jepang karena saya ee banyak terlibat di sana. Mereka menggunakan damping system. Jadi sistem untuk mengurangi goncangan, dampak goncangan terhadap bangunan. Jadi seperti kayak diberi bantalan dari karet misalnya. Jadi ketika ee tanahnya bergoncang, bangunannya tidak bergoncang. Kemudian dalam konteks bangunan yaitu desain bangunan tentu saja. Jadi bangunan yang ringan misalnya kalau dalam konteks di Indonesia bangunan ringan tersebut bisa jadi tidak terlalu tidak harus selalu mahal. bisa jadi kemudian bangunan yang menggunakan ee yang lebih ee lebih tidak rigid misalnya ee bangunan dengan ee berbahan bambu itu sekarang cukup ee ee cukup populer digunakan di wilayah Tan Gempa. kami punya beberapa dosen yang memang pakar arsitek bambu yang kami endorse untuk kemudian membantu wilayah-wilayah yang terkena bencana khususnya gempa bugut ya. Hm. Mohon maaf. Jadi demikian beberapa inovasi dalam konteks teknologi khususnya yang Anda sampaikan bangunan tahan gempa. Ada pertanyaan, apakah peta kebencanaan khususnya gempa yang berasa yang ber dari BNPB sudah menggambarkan kondisi maupun risiko gempa di Indonesia? Ee jawabannya iya sudah, tetapi ada tetapinya. Tetapi kemudian ee tadi saya sampaikan ketika menjawab diskusi dari Pak Sugeng bahwa ee peta risiko bencana BNPB itu cocok untuk ee konteks perencanaan pengurangan risiko bencana. Bisa jadi apa? ee pertanyaannya adalah ee untuk apa ee peta risiko tersebut akan Anda gunakan? Jadi, tergantung dari kebutuhan. Kalau misalnya kebutuhan yang Anda butuhkan misalnya Anda adalah seorang struktural engineers yang ingin memperbaiki, ingin menjamin wilayah atau kota Anda ataupun misalnya Anda adalah engineers di suatu oil and gas industry ingin memastikan bahwa oil and gas facilities di Anda bisa bertahan akibat gempa. Maka Anda harus peta bikin peta risiko baru. Apakah misalnya Anda adalah ee ee pakar lingkungan misalnya yang ingin melihat kerusakan hutan akibat longsor, ya Anda harus bikin peta risiko yang baru. Jadi peta risiko BNPB itu sangat bagus, sangat saya rekomendasikan untuk ee perencanaan, pengurangan risiko bencana. Jadi user utamanya adalah BNPB dan BPBD terutama. Untuk yang lain ee saya sangat ee sangat merekomendasikan Anda untuk menelaah sebenarnya tujuannya untuk apa. Beberapa poin yang belum masuk ke dalam peta risiko BNPB adalah aspek probabilitas kecuali dalam peta gempa. Tapi peta gempa pun probabilitas yang digunakan adalah 10% dalam 50 tahun. Padahal beda, beda, beda fungsi, maka peta probabilitasnya pun berbeda. Jadi, itu yang menurut saya perlu ee Anda perhatikan. Tapi secara umum oke. Sangat baik. Ee kemudian ada pertanyaan ketiga. Ee saya ingin bertanya, apakah untuk sensor longsor dan gempa bisa kita integrasikan dengan IoT? sehingga masyarakat akan lebih cepat untuk evakuasinya. Bisa ee isu di dalam di dalam peta gempa hubungannya dengan longsor adalah ee pengamatan saya adalah skala informasi. Jadi begini bahwa peta gempa itu dibangun dengan asumsi seluruh ee karena level karena kami membangun untuk level nasional dengan asumsi bahwa goncangan terjadi di batuan dasar. Padahal longsor itu terjadi di permukaan. Jadi pada saat peta gempa ingin diintegrasikan dengan peta potensi longsor, maka kita harus mengetahui percepatan gempa dinaikkan ke permukaan tergantung jenis tanahnya. Jadi kalau misalnya ee bisa diintegrasikan bisa sekali, tapi ada beberapa stage tambahan dan menurut saya ini peluang riset yang baik yaitu yang pertama adalah ee merubah skala informasi menjelas menjadi skala informasi yang digunakan yang bisa digunakan untuk mengkaji longsor dan itu kemudian kita harus menambahkan beberapa informasi tambahan yaitu ee misalnya percepatan ee percepatan percepatan tanah bisa VS30 kita menyebutnya sebagai percepatan velocity di 30 gitu ya. Ee bisa sekali dan saya sangat optimis bahwa ini akan menjadi masa depan pemanfaatan IoT untuk berbagai aplikasi itu bisa sangat detail. Ee kemudian ada pertanyaan yang selanjutnya. Saya tinggal di Kalimantan Barat. Apakah ada potensi ada potensi terjadi gempa? Jawabannya iya. Jadi ee seperti tadi saya jelaskan bahwa gempa adalah hazat secara umum adalah probabilitas. Jadi ee ee jadi kemudian ee jadi kemudian di wilayah Indonesia di manaun probabilitas gempa itu ada dan kita tinggal melihat berapa nilai maksimum dari probabilitas tersebut. Jadi kalau kita bandingkan dengan wilayah yang lain misalnya di Pulau Jawa, tentu saja bahwa ee magnitud maksimum untuk gempa di Kalimantan lebih rendah, tapi tidak berarti tidak ada gempa. Ee saya ada mahasiswa S3 dari Brin sekarang yang sedang riset kegempaan di Kalimantan dan kita melihat bahwa ada bukti kegempaan di Kalimantan. Bahkan kita melihat ada bukti akumulasi regangan di Kalimantan yang berpotensi untuk menjadi gempa. Ee tapi kabar baiknya bahwa magnitudo dari gempanya ee tidak terlalu besar. Ee kemudian ada pertanyaan dari ee Saudara Yanto, apakah lokasi daerah yang yang dapat teridentifikasi zona gempa menjadi salah satu kebijakan pemerintah untuk mengosongkan area pemukiman? Jawabannya tidak. Ee jadi ee kita tidak bisa ee khusus untuk gempa ya untuk mungkin beda dengan longsor. Jadi kalau longsor ketika ada potensi longsor memang ee didorong apabila potensi longsor tersebut kemudian sulit untuk diperkuat gitu ya ataupun cost untuk memperkuat longsornya terlalu mahal. ee Anda kalau memperhatikan beberapa negara itu beberapa lereng itu seperti dikunci gitu ya agar kemudian tidak terjadi longsor. Khusus untuk ee untuk ee gempa bumi, maka yang pertama yang harus kita lakukan adalah mengkuantifikasi potensi ancamannya. Jadi pada saat kita mengkuantifikasi potensi ancamannya, yang bisa kita lakukan adalah ee yang bisa kita lakukan adalah membuat perencanaan wilayah yang kemudian bangunannya disesuaikan dengan potensi ancamannya. Jadi bisa tetapi kemudian disesuaikan kecuali di dalam koridor yang sangat pendek. Jadi misalnya ee koridor yang sangat pendek dari sumber gempa. Misalnya kalau kita tahu ada sebuah sesar yang mungkin menghasilkan robekan atau rapture. Sempat saya tadi sempat saya bahas sedikit ketika menjawab diskusi dari Pak Sugeng. Jadi ketika ada robekan maka tidak ada kemampuan infrastruktur, tidak ada kemampuan struktur yang bisa menahannya. Tapi kalau goncangan itu bisa dilawan dengan struktur yang baik atau mah struktur yang ringan kayak struktur bambu seperti orang seperti rumah gadang di Minang misalnya, seperti rumah-rumah di Sunda yang dari ee yang dari bambu yang kemudian ee di bagian bawahnya itu dikasih batu. Sehingga saya masih ingat rumah kakek saya di kampung dulu. ee jadi ee dikasih bambu sehingga bagian bawahnya itu ada lahan kosong yang digunakan sebagai kadang-kadang sebagai kandang ayam gitu ya. Sehingga rumah tuh tidak menyentuh tanah. Pada saat ee goncangan gempa ya rumahnya tuh turun ke bawah karena kan berdiri di atas batu. Begitu gempanya beres ya rumahnya dinaikin ke atas gitu ya. Jadi kita sudah punya wisdom ee masyarakat kita hidup di daerah yang memiliki potensi gempa dan mereka sesuaikan bangunannya. Nah, jadi tidak dikosongkan tapi harus menyesuaikan bangunan dengan kondisi ee kondisi ee goncangan gempanya bisa bangunannya sangat baik memiliki tadi dumping system kalau kayak di Jepang atau memiliki atau menggunakan ke wisdom lokal yang sudah kita miliki di Indonesia dan itu sebenarnya keren-keren sekali wilayah-wilayah kita. suku-suku misalnya saya pernah ke suku Sasah di Lombok itu mereka sudah punya pengetahuan bangunan agar mereka bisa hidup di lokasi yang berpotensi gempa beli. Nah, kecuali kalau robekan. Jadi kalau robekan tuh tidak ada kemampuan struktur yang bisa menahannya. Mau dibangun sekuat apapun kalau tanahnya robek ya bangunan robek gitu ya. itu seperti kejadian gempa palu 2018 itu yang disebut sebagai robekan itu harus dikosongkan tapi dikosongkannya pendek aja mungkin bisa jadi 10 m di samping sesar 10 m di kiri 10 m di kanan gitu ya seperti yang digunakan di New Zealand dan beberapa wilayah di Amerika jadi cuman cuman daerah yang sangat sempit itu kosong jadi kawasan hijaunya itu sebenarnya sempit enggak usah satu kota dikosongkan, enggak cuman 10 m disampai ke sesar tinggal dihitung panjang sesarnya nya berapa kilo gitu ya misalnya panjang besarnya 10 kilo, 15 kilo ya dekat itu aja dikosongkan jadi kawasan hijau. Sisanya disesuaikan nanti bangunannya. Ee yang pertanyaan selanjutnya, sejauh mana kesiapan infrastruktur dan sistem mitigasi di Aceh dan di Padang apabila gempa 2004 dan 2009 terulang dari Alex Karik Kurniawan, ee saya tidak punya pengetahuan untuk saya bicara mengenai saya bisa bicara mengenai gempa Padang dan gempa Aceh 2009. Kami pernah publikasi saya bisa bicara juga potensi gempanya. Jadi ee gempa 2009 di di Padang adalah bukan gempa utama yang kita khawatirkan karena terjadi di bagian bawah ee dari zona subduksi yang kita khawatirkan di zona subdsinya. Ee tapi saya tidak punya pengetahuan mengenai kesiapan infrastruktur dan mitigasi di wilayah tersebut. Itu di luar pengetahuan saya. Ee pertanyaan selanjutnya yaitu ee jika percepatan 0,3 0,3 apakah di cukup menentukan bangunan tertentu? Apakah bisa terjadi 0,6G di Maluku dan di Papua? Jawabannya iya. Percepatan 0,3 itu kalau di ee untuk memberikan gambaran 0,3g itu seperti apa, nilai A-nya 0,3 itu seperti apa? yaitu ee pada saat gempa Jogja 2006. Jadi, Bantul saat gempa Jogja itu percepatannya 0,3. 0,6 itu di mana? 0,6 itu mungkin di Teluk Palu saat gempa 2018. Maluku dan Papua. Iya. Apalagi Papua pegunungan ee di daerah ada banyak sesar aktif. ada sesar aiduna di sana dan sebagainya. Jadi sangat mungkin terjadi, tidak harapkan tetapi sangat mungkin terjadi. Ee perlu kerja sama ESRI ee ESRI saya kurang paham mungkin ESRI ini adalah eh penyedia software GIS JIK dan lain-lain membangun sim warning tingkat bawah POUJA PKK penguatan dan bencana ya. Kalau saya sih ee saya percaya pada kapasitas nasional. Jadi kita bisa membangun dengan kemampuan sendiri. Asal banyak stakeholder bekerja ee insyaallah kita bisa membangun ee dengan kapasitas sendiri. Ee pertanyaan nomor dua, penataan kuota resilience. Mangga silakan ee silakan saja bisa kontak saya. Saya bisa kontak di media sosial. Anda bisa cek nama saya Irwan Melano, bisa kirim ee DM ke saya. Dan saya pun baru sadar, ternyata saya lebih mudah diakses di Instagram dibandingkan WA. Ternyata saya lebih sering ngecek Instagram dibandingkan WA. Jadi silakan kalau Anda ingin ada pertanyaan lain, Anda bisa dikontak ke Instagram saya. Namanya nama saya aja dan enggak saya kunci. Anda bisa selalu bisa mengkebuli. Ee apakah gempa bisa mitigasi? Tentu saja kita bicara sekarang dalam mengurangi melakukan mitigasi untuk mengurangi risiko. Ee pertanyaan kedua adalah metode adaptasi apakah yang paling efektif untuk di Indonesia? Ee saya rasa yang paling efektif adalah meningkatkan literasi. Jadi ee salah satu persoalan serius di kita adalah rendahnya pengetahuan kita akan diri kita sendiri. Seperti saya sampaikan dalam memahami potensi bencana adalah memahami diri kita sendiri. Jadi kita sering tidak paham kondisi alam, kondisi lingkungan, tempat kita tinggal. Padahal kita sudah punya local wisdom yang sangat panjang, tapi aspek modernisasi ee mungkin pasca penjajahan sehingga asumsi kita rumah yang keren itu dibuat dibuat dari batu bata. Padahal di negara yang batu batanya yang pakai rumahnya batu bata kayak di Belanda itu memang enggak ada gempa. Tapi kita niru gitu ya. Padahal orang benda, orang Belanda pun ketika ketika buat ee bangunan batu bata di Indonesia ya bangunannya dibikin sangat kokoh gitu ya. Saya ingat ee sekolah saya waktu SMA itu adalah sekolah Belanda Buger Puger School. Itu gede gede banget gitu ya ee kolom-kolomnya. Jadi walaupun orang Belanda bikin tuh mereka pakai kolomnya besar-besar, tidak ada besinya tapi ya pakai tebal-tebal gitu ya. ee karena mereka paham bahwa ee mereka harus beradaptasi dengan kondisi yang lokal. Jadi menurut saya kata kuncinya adalah meningkatkan literasi. Jadi tidak ada ee tidak ada ee cara cepat kecuali membangun literasi dalam memahami diri kita sendiri. memahami potensi bencana sebagai awal untuk mengurangi risiko bencana. Demikian, Mbak Dini. Mudah-mudahan ee saya dapat nilai B pun sudah bersyukur ini. Mudah-mudahan ya. Baik, terima kasih Prof. Irwan atas ee jawaban-jawabannya dan untuk selanjutnya kita akan lanjutkan pada sesi tanya jawab secara langsung dengan peserta Zoom. Kebetulan ini juga sudah ada dua ee yang raise hand. Ee namun mohon izin Pak Sugeng mungkin saya memberikan kesempatan kepada Pak Sultan terlebih dahulu. Ee mangga kepada Pak Sultan bisa dipersilakan untuk memberikan pertanyaannya. Oke, makasih ee moderator ya. Mohon maaf tidak ini nak buka kamera ya karena jangan sampai apa ee jaringan. Ee saya kira pertama-tama saya ee sangat apa mengapresiasi ya kegiatan kita hari ini ya dengan materi saya kira sangat aktual ya. Aktual karena hari ini kita masih bergelut dengan apa bahaya bencana kemarin ya yang sudah kita lihat. Nah ee terima kasih Prof. Irwan. Ee saya konsern ke materi yang terakhir tadi disampaikan Prof. Irwan ya terkait dengan ee pembiayaan apa itu bencana ya. Bencana. Nah ee apalagi ee kalau gak salah simak tadi bahwa Prof. Irwan ee saat ini lagi mengkaji ya ee bagaimana sebetulnya ee pembiayaan-pembiayaan bencana itu yang ideal ya. Nah, sehingga itu ee yang saya ingin ee dapatkan gambaran singkat mungkin dari Prof. Irwan bahwa ee seperti apa sebetulnya atau bagaimana sebetulnya ee mengelola dana bencana itu secara ideal ya. Karena kalau kita melihat misalnya mekanisme yang ada di tingkat ee pemerintah itu kan sangat tidak fleksibel ya. ee apalagi kemarin kalau kita mendengar ee apa pernyataan dari Mensos ya, bahwa kalau mau menggali misalnya dana untuk bencana ya harus melalui izin misalnya ya itu kan sangat ee apa namanya sangat birokratis ya sementara kalau kita bicara bencana itu kan ya sesuatu yang memang harus kita tangani cepat ya. Nah, sehingga itu yang menjadi pertanyaan saya untuk mungkin singkat saja untuk Prof. Irwan bahwa ee seperti apa sebetulnya mengelola dana bencana itu ya ee terutama mungkin kalau kita bicara ee di awal-awal ya ee terjadinya bencana ya kalau umpama di masa rekonstruksi itu ya mungkin ee memang perlu di situ perencanaan yang lebih matang ya. Tapi ini apa konteksnya ketika bencana itu baru apa terjadi ya atau baru mulai. Saya kira cuma itu saja Prof. yang saya ingin dapatkan gambaran yang ee ya katakanlah yang idealnya ya ee mengelola dana bencana itu terutama di awal-awal ya terjadinya ee bencana. Makasih, Prof., makasih ee moderator. Saya kira cuman itu. Iya. Eh, terima kasih, Pak Sultan JB. Ee Bapak sekarang di mana, Pak ee posisi Bapak? Oh, i saya kebetulan di Makassar, Prof. Oh, di Makassar. Baik Makassar, [tertawa] ya. Iya. Eh, senang sekali bisa bertemu ee walaupun hanya lewat Zoom ya. Mudah-mudahan kita bisa berdialog secara langsung di masa depan. Mudah-mudahan, Prof. Insyaallah ya. Amin. Amin. Insyaallah. Jadi ee ee saya menyaksikan ee banyak sekali bencana yang ee mohon maaf proses penanggulangannya tidak maksimal. Ee jadi biasanya sesudah kejadian bencana pasti kami ke lapangan melakukan survei dari mulai bencana Aceh 2004, Jogja 2005, Padang 2009, Nias 2005, kemudian selatan Jawa 2006, terus sampai kemudian yang ee Ambon 2021, kemudian Ambon Maaf, Ambon 2019 dan ee sebelumnya ee Palu, Lombok dan ee bahkan di beberapa daerah sampai 2 tahun kita masih menyaksikan masyarakat yang tinggal di pengungsian. Dan itu kemudian membuat saya menyadari bahwa respon cepat pada saat bencana ini menjadi sangat penting dan untuk memastikan tidak terjadi resiko baru. Ee ee saya mungkin tidak bisa sampaikan di sini, tapi saya menyaksikan banyak hal sekali yang sangat menyedihkan ee pada saat bersama-sama tinggal dengan masyarakat di daerah pengungsian. Dan itu kemudian membuat saya yakin bahwa memiliki skema pembiayaan yang baik itu menjadi sangat penting. Untuk itu dalam 6 tahun terakhir kami melakukan riset ee ee mengenai topik ini ada beberapa kata kunci ee dalam proses pembiayaan yang kemudian ee ee perlu dilakukan. Yang pertama adalah memiliki informasi seberapa mungkin, seberapa besar kemungkinan kerugian ekonomi yang mungkin terjadi terhadap pada saat bencana terjadi. Jadi dan itu mungkin menjadi tidak relevan dengan apa yang sudah ee sekarang terjadi karena kan sudah kadung terjadi ya. Tetapi belajar dari pengalaman sekarang, maka kita harus memiliki perhitungan yang baik untuk bencana nanti di masa depan. Seberapa besar kemungkinan kerugian ekonomi belajar dari yang sekarang. Tetapi dalam konteks yang sekarang, maka satu hal yang menurut saya sangat penting adalah ketepatan waktu untuk pendanaan. Tetapi ketepatan waktu itu tidak harus berarti bahwa dana itu kemudian disalurkan di awal. Jadi, kecepatan memang penting, tetapi tidak semua sumber daya dibutuhkan sekaligus dalam satu waktu. Nah, agar kemudian ada dana minimal yang bisa dikeluarkan di dalam waktu segera, maka ada dua pendekatan. Pendekatan pertama yaitu pendekatan yang paling dasar yaitu setiap daerah harus memiliki kapasitas APBD untuk menanggulangi bencana sekecil apapun tapi itu harus diberikan. Jadi dalam komponen APBD itu harus ada komponen yang disimpan untuk merespon cepat bencana. Jadi jangan sampai kemudian daerah langsung mendeklare tidak mampu karena memang dari awal tidak menyimpan dana walaupun tidak harus besar. sangat tergantung tadi persepsi kita pada saat mendefinisikan perencanaan ee pada saat kemudian mendefinisikan potensi kerugian kita kemudian akan menyimpan berapa persen dari APBD kita dalam untuk itu. Dan kalaupun itu tidak tidak cukup maka harus segera ditutup dengan e APBN. Nah, tetapi menurut saya ada satu salah satu institusi yang penting yaitu pulling fund bencana. Ini yang kami sedang dorong sebetulnya. Jadi, ada pulling fund, ada pengumpulan dana bencana sekarang itu disimpan di BPDLH di Kementerian Keuangan yang menyimpan uang bencana. Nah, pulling fund ini kemudian harus cepat bisa dimasukkan pada saat alokasi pada saat APBD-nya kurang, pada saat APBN-nya terlambat karena seringkiali mungkin perlu waktu untuk mencairkan. Tapi pulling fund itu harus sangat cepat bisa dicairkan karena uangnya itu selalu ada di sana tertumpuk dan disimpan khusus untuk keperluan bencana. Jadi ada ee ada mekanisme di mana ee saya menyebutnya sebagai ee pelapisan keuangan untuk bencana. Jadi ee kan ee walaupun sebetulnya kan ee kita ingin ee yang disampaikan BNPB penting sekali mengurangi risiko bencana itu lebih penting, itu oke, itu penting. Tetapi merespon cepat bencana sebagai awal dari pengurangan risiko bencana di depan itu kuncinya. Jadi pada saat bencana terjadi dan kita tidak bisa merespon bencana dengan cepat dan itu terjadi berkali-kali di berbagai bencana saat ini, mohon maaf, maka sangat sulit untuk bisa meyakinkan kita bisa melakukan mitigasi dengan baik. Jadi, kemampuan kita merespon termasuk di dalamnya dan saya setelah saya kaji salah satu persoalan itu adalah kemampuan keuangan kita. Seringki uangnya ada tetapi kemudian tidak bisa dicairkan di waktu yang tepat. Seringkiali uangnya ada, tapi kita tidak memiliki mekanisme struktural yang membuat uang tersebut bisa efektif, dialokasikan secara efektif, dicairkan, dimonitor penggunaannya dengan baik yang kemudian tidak menjadi persoalan lanjutan di masa depan. Jadi seringkiali ee banyak dari kita sangat konservatif bahkan tidak mau menerima ataupun mau menyalurkan karena takut karena memang banyak contohnya kemudian berulusan dengan penegak hukum. Kalau menurut saya itu terjadi karena kita tidak memiliki mekanisme yang kuat akan hal tersebut dan salah satu solusinya adalah memperkuat pemanfaatan pulling fund bencana yang sekarang itu ada sudah ada di BPDLH ee di bawah Kementerian Keuangan. Mudah-mudahan saya mendapatkan diskusi. Mungkin saya izin 10 menit karena atau 5 menit lagi karena sudah mulai azan di tempat kami. Oke. Baik, Prof. Ee mohon ee ditunggu Bapak Ibu, Bapak Ibu semuanya kita sejenak bre break dulu 5 menit nanti akan kembali lagi pada pukul 11.5. Izin, Prof. Apakah sudah bisa dimulai kembali? Iya, mangga. Silakan, ya. Baik. Ee ini karena waktunya tersisa 5 menit lagi, jadi untuk tanya jawabnya ee mungkin hanya untuk dua penanya yang sudah raise hand dan dipersilakan. I baik dan dipersilakan kepada Pak Sugeng untuk menyampaikan pertanyaannya. Oke, terima kasih Pak Irwan. Iya, Mas. Saya akan ada di Jogja ya waktu gempa tahun 2006. Iya. Iya, Pak. Saya ada di Jogja, Pak. Ini ini studi kasus e kelihatannya ee yang pertama terkait dengan pengembangan pemukiman ya, Pak ya. Dulu sebelum gempa pemukiman itu kan berkembang ke arah selatan ya, ke arah selatan ke arah Bantul ya. Ke arah Bantul. Kemudian daerah-daerahnya tidak lepas dengan daerah-daerah yang dekat sesar aktif, sesarupak ya toh. Sehingga waktu terjadi gempa itu ee korban cukup banyak. ee banyak rumah-rumah juga rumah-rumah baru termasuk juga roboh banyak gedung-gedung pemerintah juga roboh. Nah, kemudian bergeser lagi ke arah utara karena takut pada daerah-daerah selatan yang dekat sesarup ee ke arah Sleman. Tapi sekarang sudah lupa lagi, sudah berkembang lagi ke arah selatan. Nah, terkait dengan apa tadi ee peta ee apa percepatan gempa ya. peta percepatan gempa yang Pak Irwan sudah buat dalam skala nasional. Mungkinkah itu bisa dimanfaatkan oleh pengembang sehingga pengembang itu bisa katakanlah memberikan apa faktor kenyamanan bagi konsumen gitu loh, Pak. Jadi sehingga apa ee daerah-daerah yang dipilih bukan hanya memandang karena harga tanahnya lebih murah kemudian saya buat di situ tapi tanpa mempertimbangkan faktor percepatan gempa tadi. Jadi ee mungkinkah itu peta percepatan gempa itu ee ya saya kira ini bisa menjadi ee tanggung jawab pengembang atau mungkin juga mungkin ee lembaga yang berkompeten untuk mengembangkan ee peta percepat peta percepatan gempa secara detail sehingga konsumen itu merasa nyaman dengan lokasi lokasi pemukiman yang baru yang dibuat oleh para pengembang itu, Pak. Jadi ini kadang-kadang banyak yang ee merasa konsumen itu dirugikan. Dirugikan karena apa? Karena dalam jual beli ak jual beli tanah itu ee ada poin yang mengatakan post major. Jadi sewaktu belum serah terima itu bangunan itu menjadi tanggung jawab pengembang. Tetapi kalau sudah serah terima, maka tanggung jawab ee rumah itu menjadi tanggung jawab konsumen. Ini padahal kita tidak mungkin banyak konsumen yang tidak tahu ya bagaimana sih potensi ee potensi risiko gempa yang ada di daerah tersebut. Jadi ini yang pertama. Yang kedua, kenapa sih pembangunan mitigasi atau terkait dengan program ee penanggulangan bencana khususnya mitigasi struktural itu ya yang jelas kalau mungkin mengandalkan dana APBD mungkin kecil sekali, Pak. Tapi itu kan adalah yang paling penting sebelum bencana itu terjadi, mitigasi itu dilakukan seperti katakanlah ee yang terjadi di Aceh, di Sumatera Utara, di Sumatera Barat yang terkait dengan longsor dan banjir itu kan mitigasi strukturalnya kan hampir sama sekali tidak tidak muncul atau mungkin sangat kurang sekali sehingga lemah sekali sehingga terhadap perubahan fungsi lahan yang terjadi secara cepat itu ee tidak bisa katakanlah menanggulhangi mitigasi mitigasi yang sifatnya struktur struktural. Ini yang menjadi apa ee permenungan kita. Bagaimana sih ee pemerintah itu sadar bahwa mitigasi struktural itu penting dilakukan sebelum bencana itu terjadi. Terima kasih, Pak Irwan. Ya. Baik, terima kasih. Mungkin kita gabungkan dengan pertanyaan Pak Budi. Oke. Baik, Prof. Eh, dipersilakan kepada Pak Jok untuk menyampaikan pertanyaan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Dengar, Pak? Ya, clear, Pak. Heeh. Eh, perkenalkan saya Joko Budi dari DLH Kabupaten Kutai Timur di Provinsi Kalimantan Timur. Jadi, sebagai informasi, Pak BPBD Kabupaten Kutai Timur itu ee membentuk tim gitu pengkajian kebutuhan pasca bencana. tergantung bencananya, ada bencana banjir ataupun kebakaran yang masing-masing kondisi daerah tentunya berbeda, Pak. Ya. Dan kami kebetulan sudah melakukan antisipasi dengan melakukan pengkajian kebutuhan pasca bencana banjir, Pak. Karena kebetulan sering terjadi banjir di Kabupaten Kutai Timur. di mana tim ini ee melibatkan beberapa SKPD yang langsung terdampak dengan adanya kejadian bencana. Jadi di situ akan menghitung nilai kerugian dan nilai kerusakan. Kalau kerusakan itu terhadap fisik, Pak. Sebagai contoh, pada kejadian bencana yang pada akhirnya ee menyebabkan jalan rusak akan dihitung nilai kerusakan dari perbaikan jalan. Selanjutnya nilai kerugiannya itu adalah proses dari ee perbaikan itu, Pak. Misalkan dengan adanya perbaikan itu akan membuatkan masyarakat memutar jalan. akan dihitung berapa biaya dari ee BBM yang dikeluarkan masyarakat, kemudian pendapat dari pendapatan masyarakat itu termasuk di nilai kerugian. Jadi semacam itu, Pak. Jadi saya rasa mungkin beberapa kabupaten, provinsi di Indonesia sudah ee melakukan dokumen kebencanaan ini, saya rasa. Demikian, Pak, dari saya. Terima kasih, ya. Baik. Ee terima kasih Pak Budi. Ee jadi ee izinkan saya untuk ee tadi membahas diskusi yang pertama ee terkait dengan ee dari Pak Sugeng. Ee seminggu sesudah kejadian gempa Jogja ee saya berangkat ke Jogja. Jadi waktu itu saya sudah bekerja ee saya bekerja di ee institusi yang ee ee merespon ee bencana. Jadi salah satu tugas saya adalah merespon pada saat bencana terjadi. Ee kemudian saya minta izin untuk ke Indonesia karena bencana terjadi di Indonesia. Jadi saya ee ingin ee membantu merespon. Saya berangkat ke Jogja. Ya. Kemudian ee kami melakukan survei yang intensif di Jogja. Kemudian ee menulis beberapa karya publikasi dari hasil survei tersebut. ee faktor yang menarik dan mungkin sekarang ee juga sudah banyak diketahui bahwa ee persoalan di Jogja di antaranya adalah percepatan tanah yang lebih tinggi daripada percepatan yang di batuan dasar. Sedangkan peta gempa yang kami buat adalah mengasumsikan percepatan terjadi di batuan keras atau di batuan dasar. Pada saat kemudian gempa terjadi, maka kemudian percepatan di batuhan dasar. Untuk menghitung potensi gempa ke depan, maka kita harus ee menghitung tidak hanya di petuhan dasar kita naik ke permukaan. Jadi pada saat dan pada saat dinaikkan ke permukaan maka khusus untuk Jakarta eh maaf untuk Jogja karena sedimen dari produk Merapi kemudian ee selain juga sedimen sungai di sekitar sungai Opak tapi dominan karena produk letusan Gunung Merapi yang hampir 2 seteng tahun sekali meletus. Bahkan mungkin dalam sejarah kita paham Candi Borobudur pun sempat hilang gitu. kemudian sebelum ditemukan kembali karena tertutup oleh sedimen yang untuk menunjukkan bahwa sedimennya itu begitu tebal dan ketebalan sedimen itu kemudian menghasilkan yang kita sebut sebagai faktor amplifikasi atau penguatan gelombang gempa. Nah, terkait ee yang Bapak sampaikan agar pengembang menginformasikan goncangan gempa, sebetulnya ada faktor teknis tambahan yang kemudian harus dikuasai oleh siapapun yaitu ee menambahkan faktor amplifikasi. Jadi menambahkan faktor amplifikasi sehingga goncangan gempa yang kami hitung itu bisa menjadi nilai goncangan gempa di permukaan. Ee tidak terlalu rumit, hanya kemudian kita harus sedikit memahami kondisi ee lokal dari setiap ee wilayah. Dan itu yang tadi saya sampaikan di bagian ee di bagian tanya jawab sebelumnya, yaitu salah satu tantangan kita adalah ee pengetahuan dari meningkatkan pengetahuan dari masyarakat dan pengambil kebijakan, Pak. Ini mohon maaf. Jadi saya sering menemukan ee pihak di daerah yang kemudian tidak memahami bagaimana proses untuk menggunakan informasi ee ee informasi percepatan gempa di batuan dasar sehingga sebagai dasar sehingga digunakan untuk keperluan menghitung percepatan di permukaan dan apabila pengembang bisa melakukan itu baik tapi kalau tidak ya mungkin itu dilakukan oleh pihak yang lain, bisa pemerintah daerah membantu masyarakat. Kalau saya sih mendorong itu dilakukan tidak oleh pihak pengembang atau swasta. Sebaiknya itu menjadi informasi resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah sehingga tidak ada dispute dan kepentingan, Pak. Jadi itu kemudian dikurang di diberikan oleh pemerintah daerah yang dengan demikian ee kita bisa ee masyarakat bisa memahami implikasi dari adanya goncangan tersebut pada struktur bangunan yang mereka miliki. Ee dan satu hal sebetulnya yang penting bahwa ee goncangan gempa itu adalah probabilitas. Jadi goncangan gempa adalah probabilitas. Untuk itu maka tidak bisa diberlakukan sama untuk setiap struktur bangunan. Jadi ee poin yang ingin saya sampaikan bahwa sebaiknya itu tidak dilakukan oleh pihak swasta tapi otoritas. Jadi silakan pemerintah daerah melakukan perhitungan. Nah, implikasinya kemudian dibicarakan antara pihak swasta dengan ee pemerintah dan juga ee calon pemilik bangunan. Harapannya bahwa ee harapannya yaitu ee pengembang pada saat membangun sudah memperhitungkan hal tersebut yang artinya bahwa bangunan dibangun lebih kuat daripada potensi goncangan di permukaan. Kemudian yang disampaikan oleh Pak Joko ee sangat baik sekali ee kami mendengar ee bahwa ee banyak kota dan provinsi bahkan itu di seluruh Indonesia karena itu menjadi ee menjadi dasar pendefinisian kota tangguh bencana gitu. memiliki ee rencana kontingjensi yang kemudian berdasarkan pada ee jitupasna dan sudah ada perka mengenai perhitungan jitupasna yang dibuat oleh BNPB dengan sangat baik. Saya rasa ini upaya yang sangat baik. Ee kita pun perlu kemudian ada dua hal, Pak. yang pertama ee yang pertama ee kalau saya bicara dalam konteks ee konteks hazat 4emp dulu yang pertama bahwa pada saat kita menghitung kaji cepat potensi kerugian kerusakan dampak ekonomi tadi disebutkan ada yang langsung tidak langsung maka harus menggunakan asumsi dari hazarda Dan hazat yang kita gunakan tadi saya sampaikan bahwa hazat itu adalah probabilitas. Maka pertanyaannya adalah kita menggunakan asumsi probabilitas yang mana untuk banjir? Apakah kita menggunakan asumsi banjir 10 tahun? Apakah kita menggunakan asumsi banjir 25 tahun? Karena itu akan mempengaruhi perhitungannya. Apakah perhitungan kita underestimate? Apakah perhitungan kita overestimate? Saya yakin kotak kotak-kotak kota kabupaten di wilayah Sumatera Barat dan di Aceh itu pasti sudah punya perhitungan yang seperti Bapak sampaikan. Tapi kemudian fakta kita melihat pada saat bencana terjadi yang sekarang terjadi bencana di Sumatera. Dugaan saya bencana terjadi pada periodisasi perhitungan hazat yang berbeda dengan perhitungan hazat yang digunakan dalam jidupas mereka saat ini. Kenapa itu terjadi? Karena dalam model jadi bisa jadi jitupasna itu berdasarkan pada IRB dan IRBI dalam konteks banjir itu tidak probabilistik. Jadi Bapak kalau melihat model hazat banjir di dalam IRB sekarang itu tidak probabilistik. Kalau dalam gempa itu menggunakan probabilitas 10 tahun dalam dalam maaf ee 10% dalam 50 tahun yang cocok untuk bangunan rumah. tapi tidak cocok untuk infrastruktur jembatan misalnya. Jadi ee menurut saya hal yang langkah yang tepat ee langkah yang baik dan kami apresiasi daerah melakukan tersebut. Tapi satu hal yang kami kemudian ee belajar dari terutama pengalaman gempa di eh maaf ya gempa pun bisa pengalaman gempa kemarin di ee gempa yang sangat kecil tapi dampak kerusakannya besar. misalnya gempa ee ee gempa Cianjur atau kejadian banjir kemarin. Saya ee saya paham betul saya punya banyak teman di PBPD Sumatera Barat. Mereka punya kajian yang sangat baik. Tapi bisa jadi kemudian perhitungan banjir tidak sesuai dengan banjir yang terjadi kemarin yang kemudian kan kita tidak bisa kan ee ee kita tidak membayangkan bahwa banjirnya itu sedahsiat itu. Kita tidak membayangkan bahwa jadi model banjir kita ee itu adalah ee berdasarkan topografi. Bahkan kalau Bapak perhatikan model banjir yang digunakan ee tapi mungkin saya bicara itu dalam topik yang berbeda lah ee tapi poin yang ingin saya sampaikan dalam konteks model hajat ee itu harus sesuai dengan atau kita harus mempertimbangkan potensi-potensi ancaman yang berbeda sehingga nilai dari kerugian ataupun kerusakan itu tidak satu angka tapi berdasarkan kemungkinan model banjir. Jadi ada model 10 tahun hasilnya ini, model 25 tahun hasilnya seperti ini. Model 100 tahun hasilnya seperti ini. Nah, itu hal yang pertama. Kemudian hal yang kedua untuk setiap yang kita hitung kita harus mengetahui dari mana sumber pendanaannya. Jadi tidak hanya besar ee dampak ekonominya yang kita ketahui, bisa langsung, tidak langsung. dampak ekonomi yang langsung itu penting sekali dalam konteks respon dan tidak langsung itu akan bertambah besar seiring dengan waktu karena kehilangan opportunity. Tapi kita pun harus mengetahui siapa yang akan dana dana tersebut itu bersumber dari siapa. itu menjadi prinsip yang sangat penting yaitu tadi saya sampaikan dalam diskusi yang awal kita harus bisa mengetahui berapa persen alokasi APBD yang akan kita keluarkan dan kalau melebihi jadi kalau tadi saya jelaskan ada beberapa ee model kemungkinan banjir berdasarkan tingkat pengulangan banjirnya maka yang bisa ditanggulingi oleh APBD itu banjir yang mana? Dan kita tidak bisa kemudian membuat satu skenario. Skenario itu harus banyak. Nah, begitu terjadi banjir yang sangat dahsyat seperti di Sumatera itu uangnya dari mana? Karena skemanya betul-betul berbeda. Untuk itu, maka tadi saya sangat ee saya sangat menyarankan agar kita memiliki pelapisan atau layering kan menyebutnya. Jadi pelapisan dalam pembiayaan risiko bencana tentu saja semuanya berhasilkan berdasar pada kajian gitu pasna yang kami tadi Bapak sampaikan atau kami menyebutnya kajian risiko pembiayaan kajian pembiayaan risiko bencana yang dibuat dalam model yang probabilistik. Terima kasih. Mudah-mudahan ee menambah diskusi ya. Baik, terima kasih Prof. Irwan atas ee penyampaian materinya dan juga tanya jawabnya. Dan mungkin ini waktunya juga sudah lebih dari pukul 12.00. Jadi untuk sesi tanya jawabnya dicukupkan dan terima kasih kepada para peserta yang sudah berpartisipatif. Dan untuk itu mungkin sebelum menutup Zoom-nya apakah ee untuk memberikan closing statement-nya untuk Prof. Irman. Saya rasa sudah cukup. Tapi ee ee saya ingin mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan kesempatan yang diberikan oleh Eko Udu dan partisipasi dari Bapak Ibu sekalian. Ee langkah kita tidak mudah. Langkah untuk pengurangan risiko bencana itu tidak mudah dan ee kita menyaksikan bahwa tantangannya akan jauh lebih berat ke depan. ee apalagi ee dampak dari perubahan iklim ee ataupun variasi dari iklim ini akan semakin serius ke depannya. Ee untuk itu keterlibatan dari banyak stakeholder menjadi sangat penting dan upaya untuk memiliki pengetahuan yang baik, komprehensif dalam memahami bencana. dalam upaya pengurangan risiko bencana dalam merespon. Dan satu hal yang tadi saya ee mulai perkenalkan di bagian tempat yaitu pembiayaan risiko bencana menjadi sangat penting. Mudah-mudahan di waktu yang singkat ini pengetahuan sederhana yang saya berikan bisa bermanfaat bagi Bapak Ibu sekalian. Terima kasih. Baik, Prof. Irwan. Untuk selanjutnya kita akan dokumentasi terlebih dahulu. Bagi Bapak Ibu yang bisa mengaktifkan kameranya dipersilakan. Di sini saya akan ee mulai untuk dokumentasi. Saya akan melakukan perhitungan mundur dimulai dari angka . Oke. Baik. Saya akan mulai saja dokumentasinya. Saya akan melakukan perhitungan mukur dimulai dari angka 2 1 m dan sekali lagi 3 2 1. Oke. Baik ee saya ucapkan sekali lagi terima kasih kepada Prof. Irwan atas penyampaian materinya yang sangat bermanfaat dan membuka wawasan bagi kita semuanya. Dan kehadiran Prof. Irwan merupakan suatu kehormat kehormatan juga bagi kami dan semoga di lain kesempatan kita dapat kembali berdiskusi dan bertemu dalam kegiatan berikutnya. Dan dengan hormat kami persilakan kepada Prof. Irwan apabila ingin meninggalkan ruangan Zoom. Oke. Baik Bapak Ibu semuanya, berakhir sudah acara webinar di hari ini dan bagi Bapak Ibu yang ingin mendapatkan e-sertifikat, Bapak Ibu dapat mengisi link presensi kehadiran yang tertera di layar ini. Dan ketika Bapak, Ibu mengisi presensinya, pastikan nama dan email sudah diketik dengan benar karena hal ini akan mempengaruhi pengiriman sertifikatnya. Dan baik saya akhiri kegiatan webinar hari ini. Mohon maaf apabila saya ada salah sikap dan ucap. Wabillahi taufik wal hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. He. Yeah.