Webinar 140 Mitigasi Perubahan Iklim Melalui Sektor Kehutanan dan Penggunaan Lahan
MZbp1kZfdaY • 2026-01-29
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Oke, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Selamat datang kembali di webinar Eko Edu ke-140. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu semua yang sudah selalu setia untuk mengikuti acara webinar ini. Dan hari ini webinar Eko akan mengangkat tema mitigasi perubahan iklim melalui sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Dan perkenalkan saya Dini yang akan bertugas sebagai moderator pada acara ini. Baik Bapak Ibu semuanya, mungkin sebelum kita mulai webinar pada siang ini, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk itu berdoa dipersilakan. Berdoa dicukupkan. Untuk selanjutnya mari kita menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Diharapkan kepada Bapak Ibu semuanya untuk duduk tegak. [musik] Oke, baik Bapak Ibu semuanya untuk acara selanjutnya di sini izinkan saya mempromosikan pelatihan-pelatihan dalam waktu dekat ini yang akan diselenggarakan oleh Ekoed Eedu yaitu yang pertama adalah ee kami di sini akan mengadakan pelatihan dan sertifikasi penanggung jawab operasional pengolahan air limbah atau POPA. Di sini ee pelatihannya memiliki sertifikasi BNSP yang akan dilaksanakan pada tanggal 2 hingga 6 Februari 2026. Adapun apabila Bapak Ibu melakukan biaya investasi pada H-1 pelatihan, Bapak Ibu akan mendapatkan diskon sebesar 10%. Lalu kemudian dilanjutkan di minggu selanjutnya pada tanggal 9 hingga 13 Februari 2026. Di sini kami akan mengadakan dua pelatihan, yaitu yang pertama adalah pelatihan life cycle assessment atau LCA, kemudian ada pelatihan pemodelan kualitas air sungai Kualukai, dan WASP gelombang 21. Dan di mana Bapak Ibu untuk kedua pelatihan ini Bapak Ibu masih mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan ee promo early bird dari kami yang di mana pembayarannya itu dibatasi hingga 30 Januari 2026. apabila Bapak, Ibu ingin mendapatkan harga ee promosi early bird. Lalu kemudian, nah selain itu juga di sini kami akan mengadakan pelatihan dasar AMDAL gelombang 21 yang di mana di sini dilaksanakan pada tanggal 18 hingga 26 Februari 2026. Adapun biaya investasinya yaitu sebesar Rp4.500.000. Dan untuk informasi lebih lanjut, Bapak Ibu bisa menghubungi kami melalui WhatsApp WhatsApp admin yaitu ada Anto Danisa. Kemudian Bapak Ibu juga di sini bisa mengunjungi sosial media kami ada Instagram di @ekoedu.id, kemudian ada YouTube channel, kemudian Facebook, Twitter, dan juga website resmi kami di www.ecoedu.co.id ecoedu.co.id ataupun jika Bapak Ibu langsung berminat untuk mendaftar, Bapak Ibu silakan saja untuk mengakses di pendaftaran.efocedu.co.id. Nah, selain itu juga kami di sini terdapat inhouse training yang dapat dilaksanakan secara offline maupun online itu tergantung sesuai dengan permintaan dari instansi ataupun perusahaan Bapak Ibu semuanya. Jadi kami tunggu Bapak Ibu di pelatihan kami. Dan baik Bapak Ibu untuk selanjutnya kita akan langsung saja masuk pada kegiatan utama kita yang di mana webinar kali ini kita akan membahas tentang mitigasi perubahan iklim melalui sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Dan tentu saja kami juga sudah meng menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya untuk memberikan wawasan serta materi yang bermanfaat ini. Dan mungkin langsung saja saya memperkenalkan narasumber kita hari ini yaitu adalah Bapak Dr. Arif Darmawan, Sphud, M.Sc. Beliau merupakan dosen jurusan kehutanan di Universitas Lampung dan kebetulan juga Pak Arif sudah ada di dalam ruangan Zoom. Mungkin saya akan menyapanya terlebih dahulu. Selamat pagi menuju siang, Pak Arif. Selamat pagi, Mbak I. Bagaimana kabarnya, Pak Arif hari ini? Baik sekali. Mohon maaf nih saya tadi terbirit-birit lari jadi agak telat. [tertawa] Aduh, semangat sekali ya, Pak, untuk memberikan ilmu kepada Eko Edu ini. Insyaallah. Oke. Baik, mungkin Pak Arif saya ingin menyampaikan dulu beberapa teknis yaitu yang pertama untuk pemaparan akan di untuk pemaparan dilaksanakan selama 1 jam lalu kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan menggunakan aplikasi Slido dan dilanjutkan lagi dengan tanya jawab secara langsung mungkin sekitar 30 menit. Dan untuk mengefektifkan waktu saya serahkan ruangan Zoom ini kepada Pak Arif dan kepada Bapak Ibu semuanya. selamat mengikuti acara webinar ini. Baik, terima kasih Mbak moderator. Ee saya sapa dulu yang ee jadi pemirsa hari ini. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Em, saya melihat ada banyak sekali ini ya yang apa hadir di webinar hari ini. Luar biasa. Jadi ada berapa nih saya lihat ada 725 ya. Luar biasa itu. Jadi ee saya pertama-tama mengucapkan terima kasih atas apa namanya kehormatannya bisa mengundang saya ee ke acara ini. Karena biasanya saya lihat juga Eko Edu ini Mbak kalau tiap bulan gitu ya. [tertawa] Biasa kalau dosen melihat supaya ada sertifikatnya juga gitu ya. [tertawa] Baik, hari ini saya akan coba sampaikan ee sebenarnya hal umum ya tentang ee perubahan iklim gitu ya. Nah, karena em saya di bidang kehutanan makanya saya akan menyampaikan ee beberapa aspek mengenai mitigasi perubahan iklim melalui sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Begitu. Ee perkenalkan diri, nama saya Arif Darmawan. Saya dosen di jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Selain jadi dosen, saya juga dulu pernah di ee 10 tahun yang lalu ya mungkin 15 tahun yang lalu saya anggota Satgas Red Plus ya waktu itu di UKP4 di bawah Pak Kuntoro Mangku Subroto. Kemudian juga Badan Red Plus. Kemudian juga setelah itu saya ee sempat menjadi konsultan di beberapa apa mitra pembangunan seperti UNDP, FAO, WWF dan hampir semuanya ee berkaitan dengan mitigasi perubahan iklim melalui sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Jadi ketika saya diminta untuk mengisi webinar ini, saya akan coba sharing pengalaman gitu ya. Jadi apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa ee sektor kehutanan dan penggunaan lahan ini menjadi isu yang seksi sekarang ya, terutama terkait dengan mitigasi perubahan iklim. Baik, kita mulai saja. Ee outline yang saya akan sampaikan kira-kira seperti ini ya. Jadi bagian satu saya akan coba sampaikan isu perubahan iklim dan akibatnya. Kemudian bagian dua saya akan bicara mengenai konvensi perubahan iklim dan komitmen Indonesia. Kemudian bagian tiga itu saya akan coba sampaikan beberapa hal mengenai sumber-sumber emisi dan serapan eh GSG ya atau GRK, greenhouse gas bahasa Inggrisnya, bahasa Indonesianya gas rumah kaca dari project forest carbon atau project karbon hutan gitu ya. Kemudian bagian empat, beberapa project forest carbon atau volume ee yang ada dan sukses di Indonesia. Kemudian bagian lima, bagaimana sih sebenarnya perkembangan projject forest carbon saat ini dan prospek ke depannya. Nah, kita mulai dengan yang pertama ya. Ini yang sangat dasar dan perlu kita pahami ketika kita bicara tentang perubahan iklim, mitigasi, adaptasi, dan seterusnya gitu ya. Jadi ee yang mendasari perubahan iklim sebenarnya pemanasan global ya. Dan ini ketika saya terangkan di kelas pun banyak yang bingung ya antara pemanasan global dan perubahan iklim ya. Sebenarnya itu aksi reaksi gitu ya. Jadi pemanasan global itu peristiwa naiknya suhu permukaan bumi ya. Jadi yang disebabkan oleh efek rumah kaca ya. Efek rumah kaca itu ee seperti kita di rumah kaca ya, itu kan lebih hangat ya. Jadi kalau rumah kaca itu punya lapisan kaca di atasnya yang membuat ee cahaya matahari yang masuk ke bumi itu kemudian dia tidak ee seluruhnya balik lagi ke atas ya, ke atmosfer, ke luar bumi, tapi ada yang tertahan dan balik lagi sehingga sebagian panas tertahan di atmosfer oleh gas rumah kaca ya. Jadi membuat suhu bumi tetap hangat gitu. Jadi ini yang kita sebut efek rumah kaca yang disebabkan apa? Yang menyebabkan kalau di atmosfer ya yang menyebabkan itu adalah yang kita sebut sebagai gas rumah kaca ya. Nah gas rumah kaca ini dulu ya ketika ee mungkin 50 100 tahun yang lalu itu bagus ya. Karena dengan adanya rumah kaca ee ada gas rumah kaca itu membuat bumi kita hangat ya. Jadi kalau tidak ada ee gas rumah kaca itu beberapa penelitian menyebutkan bahwa di tropis ya di ee apa di bagian tropis di bumi itu rata-rata suhunya itu sekitar 16 derajat Celcius ya. Bayangkan kalau misalnya 16 derajat Celcius di tropis ee kalau di subtropis berapa ya? Mungkin bisa minus terus dan itu ee sangat dingin ya. Artinya gas rumah kaca itu baik menghangatkan bumi ketika jumlahnya juga ee tidak berlebihan ya. Akan tetapi ketika konsentrasi gas rumah kaca ya CO2, CH4 dan seterusnya dan kawan-kawannya yang semakin meningkat ini dia akan membuat efek rumah kaca ini semakin tebal ya semakin banyak sehingga menyebabkan panas bumi yang terperangkap di atmosfer semakin banyak ya. Jadi inilah yang kita sebut sebagai pemanasan global jadi mengakibatkan peningkatan suhu bumi ya. Jadi ee inilah yang sebenarnya ee sering jadi isu ya pemanasan global. Nah, kalau kita lihat kenapa ee gas rumah kaca itu meningkat ya? Gas rumah kaca itu kan sebenarnya ikatan utamanya C ya, karbon C. Jadi C itu apa? Itu C. C itu sebenarnya ikatan organik ya. Semua yang sifatnya C itu biasanya organik ya, fotosintesis menghasilkan glukosa itu organik. C6H12 O6 misalnya, kemudian juga daging, kemudian ee tumbuhan dan segalanya itu organik. Artinya ee dalam siklus karbon itu ada beberapa siklus karbon atau siklus organik itu berkaitan dengan beberapa proses ya. misalnya fotosintesis ya. Fotosintesis ini yang paling penting sebenarnya. Jadi bagaimana CO2 itu bisa diserap oleh tumbuhan kemudian ee tumbuhan mengubah C tadi ke dalam glukosa menjadi glukosa dan membuat O2 keluar. Artinya ee O2 itu diperlukan untuk respirasi dan glukosa itu diperlukan untuk makanan ya. Nah, ketika glukosa itu terbentuk dan dikonsumsi ya sehingga akan masuk ke proses kedua rantai makanan ya. Jadi ee glukosa akan dikonsumsi oleh makhluk hidup lainnya ya misalnya herbivora. Kemudian herbivora ini yang punya ikatan karbon juga dimakan oleh karnivora ya. Dan ini membuat sebuah rantai makanan ya yang juga ee apa namanya? ada proses respirasi atau pembakaran ya. Jadi setiap ee makhluk hidup dia punya proses respirasi artinya dia menghisap O2 mengeluarkan CO2 kan. Jadi ini ee rantai makanan dan respirasi ini berjalan beriringan gitu ya. Nah, kemudian ketika ee makhluk hidup ini mati ya dia akan membusuk. Nah, pembusukan ini akan mengurai C tadi ke dalam menjadi CO2. Kalau misalnya terkubur dia CO2 atau C-nya ada di tanah. Ketika dia ada di permukaan, dia akan menjadi CO2 dan naik ke atmosfer. Ini proses keempat, dekomposisi. Nah, proses kelima ada pembakaran fosil ya. Jadi C tadi ikatan C yang didapatkan dari tumbuhan lampau ya yang berupa batu bara. Kemudian ada ee apa namanya? Ee makhluk hidup atau binatang-binatang ya yang lampau itu terkubur dalam tanah. Itu kan kita ambil ya, kita sedot, kita keluarkan batu baranya dibakar ya diproses ini. Kemudian juga fosilnya kita keluarkan kita bakar. Artinya apa? Pembakaran ini akan mengeluarkan CO2. CO2 bertambah, CO2 bertambah dari pembusukan, CO2 bertambah juga dari laut ya. Jadi dari laut ini ada proses rantai makanan, ada juga proses fotosintesis yang cukup besar. Bahkan di laut ini ee banyak prosesnya cuma ee maksudnya fotosintesis banyak. Hanya saja ee apa namanya untuk penyimpanannya atau reservoir-nya memang ee apa akan lebih banyak di hutan gitu ya. reservoir. Artinya ee C ini disimpan di dalam pohon beratus tahun gitu ya, ribuan tahun. Sehingga ee apabila ini nanti ditebang ini pasti akan ee menyebabkan atau mengeluarkan C2 ya. Jadi melepaskan C-nya ke atmosfer lagi. Jadi artinya apa? ee proses-proses siklus karbon ini semuanya ee alami gitu ya, alami ini. Tapi proses yang manusia atau antropogenic activities ini yang menyebabkan CO2 itu semakin banyak di atmosfer gitu ya. Jadi ee proses alami ada, tapi proses manusia atau antropogenic activities ini yang menyebabkan ee CO2 semakin banyak. Artinya pemanasan global juga tidak ee kalau menurut saya tidak akan ada proses balik ya. Karena kita tahu manusia semakin banyak kebutuhan ya. Misalnya saya di kantor ini ee merasa apa namanya? Nyaman ya karena ada AC misalnya. Kemudian juga ada kita ee bisa apa webinar seperti ini ada listrik ya. Listrik itu kan dari banyaknya dari batu bara ya, AC juga batu bara dan seterusnya. Jadi ee inilah yang banyak menyebabkan GRK, antropogenic activities. ya. Jadi ee apa namanya? Aktivitas-aktivitas manusia yang memang melepas CO2 ke udara. Misalnya apa? Di bidang energi ya yang tadi saya bilang ada di pembangkit listrik ee batu bara, penggunaan batu bara ya. Kemudian juga di volu agriculture forestry and other use ini terkait dengan deforestasi, degradasi, kemudian juga ee lahan gambut misalnya ya. Kemudian juga di sampah juga sama ini menghasilkan CH4 dan CO2 yang cukup signifikan. Kemudian juga di IPPU atau di industri ya ini juga menghasilkan ee CO2 yang signifikan. Jadi ee bottom line-nya atau yang perlu kita garis bawahi adalah antropogenic activities ini yang menjadi sebab dari pemanasan global. Nah, sekarang kita bicara perubahan iklim. Jadi, kalau kita bicara perubahan iklim itu sebenarnya dampak ya, dampak dari pemanasan global. Nah, jadi kenaikan temperatur bumi berdampak pada terganggunya keseimbangan iklim bumi sehingga mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia seperti kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian, dan ekosistem wilayah pesisir. Jadi kalau kita lihat ini data dari dulu saya ambil tahun 2017 ya waktu itu masih ada istilahnya apa ya knowledge managemen di dippi ya. Jadi menyebabkan eh apa ee datanya ee menyebutkan bahwa suhu rata-rata tahunan selama 30 tahun mengalami penyimpangan yang ekstrem dari nilai rata-rata anomali. Jadi kita bisa lihat ee dulunya mungkin agak sedikit ee jelas ya. Kemudian setelah ee 96 itu naik turunnya sangat ekstrem ya. Ini 2006 ekstrem kemudian rendah ya. Elnina lanino apa el Lan lan elninonya kelihatan sangat ekstrem sekali gitu ya. Nah, kita lihat sekarang ya, bagaimana ee bencana-bencana itu bukan bukan kayak yang mudah-mudah ya, bencana Aceh misalnya itu kan juga karena ee siklon yang dulunya tidak pernah ada ya. Kalau saya tanya ke teman-teman di ee apa ee BMKG kita ya sebenarnya siklon itu dulunya tidak pernah ada tapi jadi ada gitu. Nah, itu yang yang dulunya tidak ada, sekarang ada itu makin banyak gitu ya. Jadi ini yang jadi masalah. Nah, dampaknya seperti ini ya. Jadi ada macam-macam yang berkepanjangan ya. Karhutla berkepanjangan, kekeringan kita berkepanjangan misalnya. Jadi ada 2015, 2019 itu yang paling parah sebenarnya saya ee ambil ya. Jadi ee waktu itu sampai berapa bulan itu ee Palembang tertutup ee asap ya sampai kawan saya akhirnya mengungsi dari Palembang ke Bogor misalnya. Jadi itu ee dampak dari kebakaran Hutla ee Karutla ya. Kemudian juga kalau kita lihat di BNPB itu 60% bencana yang terjadi di Indonesia sepanjang 202 2014 hingga 2023 itu didominasi akibat banjir dan tanah longsor disusul oleh angin puting beliung dan karhutla. Jadi ini tuh jadi akan semakin banyak ya. Jadi, Bapak, Ibu kalau sudah bulan Desember, Januari, Februari itu yang biasanya kita dulu, wah ini liburan ya sama anak-anak kita sekarang. Jadi, waduh ini gimana nih nanti Salat Sunda. Kalau saya salat Sunda nih pergi jolok enggak gitu. Jadi ee apa ee Desember, Januari, Februari itu jadi banyak yang ekstrem ya ee hujan besar, kemudian longsor dan seterusnya. ya kita bisa lihatlah di berita-berita sekarang gitu. Nah, kemudian ini dampak perubahan iklim juga yang sangat ditakutkan ya. Jadi manusia makin banyak tapi akan kemungkinan terjadi kerawanan pangan ya. Bayangkan kalau misalnya ini terjadi luar biasa ya. Jadi ee apa namanya? Karena iklim itu menjadi berubah ya dari sebuah ee apa namanya? Kebiasaan atau ee musimannya misalnya yang harusnya musim hujan kok masih kemarau, yang harusnya kemarau kok masih hujan dan seterusnya itu akan yang paling rawan terganggu adalah pertanian. Sektor pertanian. Kalau sektor pertanian terganggu apa akibatnya? Tentu saja ee kerawanan pangan itu menjadi hal yang cukup ditakutkan ya. Apalagi kalau ya apa kalau kita bicara politik sekarang itu selalu kan wah ini pokoknya pangan harus ee cukup dan seterusnya suas sembadalah dan seterusnya. Jadi kalau kita tidak melihat aspek perubahan iklim ini, itu juga akan jadi ee si bukan sia-sia ya, tapi juga tidak akan efektif ketika kita bicara sosemedap pangan, pupuk dan seterusnya, tapi kita tidak melihat aspek perubahan iklim gitu. Nah, itu kira-kira ee dampak secara ee apa ya umum ya dari perubahan iklim. Jadi ee saya bicara dari perubahan ee apa pemanasan global, perubahan iklim dan dampaknya. Nah, sekarang kita bicara mitigasi dan adaptasi. Ini dua kata yang ee biasa kita sampai atau kita dengar ya ketika ee ada pada situasi ee yang tidak bisa kita hindari ya. Misalnya apa? Bencana ya. Bencana itu di Indonesia itu ring of fire artinya memang negeri bencana gitu. Sehingga ketika BNPB bilang mitigasi bencana itu memang bencana itu tidak bisa dihindari ya kalau di Indonesia karena memang sudah pasti ya kira-kira begitu. Nah, kemudian adaptasi juga sama. Adaptasi itu karena ya memang bencana sudah pasti akan terjadi maka kita harus beradaptasi ya. Nah, sama juga dengan perubahan iklim. Jadi perubahan iklim itu seperti saya bilang di awal itu bukan lagi proses yang bisa dibalik gitu. Apakah kita bisa balik lagi seperti yang dulu, Pak? Saya kira akan sulit ya, karena ya itu tadi yang menyebabkan perubahan iklim atau e pemanasan global ya itu sebenarnya dari antropogenic activities, dari kebiasaan kita yang sudah berubah ya. Dulu kita enggak punya handphone, sekarang handphone listrik kita perlu banyak, energi perlu banyak, mobil juga perlu banyak misalnya, dan seterusnya. Jadi apa yang bisa kita lakukan? Yang pertama itu mitigasi ya. Jadi mitigasi dalam konteks perubahan iklim adalah upaya menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca ya yang dilepaskan ke atmosfer untuk menanggulangi dampak perubahan iklim. Nah, jadi tujuan utama dari mitigasi itu adalah mengurangi emisi gas rumah kaca dan memperlambat terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global. Artinya dengan teknologi apapun kita coba ya ee misalnya nih ee pembangkit listrik itu yang tadinya emisinya sekian ditekan dengan menggunakan teknologi tertentu atau untuk dari sektor kehutanan kita akan melakukan penanaman sekian ribu hektar gitu ya, sekian juta hektar untuk perubahan iklim atau kita mengurangi deforestasi sekian ribu hektar untuk perubahan iklim dan seterusnya gitu. Jadi ini yang kita sebut mitigasi. Yang kedua adalah kita sebut adaptasi ya. Jadi adaptasi adalah upaya mengurangi dampak negatif perubahan iklim melalui strategi antisipasi dan penyesuaian dengan kondisi atau sistem alam. Jadi adaptasi ini lebih pada ya udahlah sudah terjadi perubahan iklim bagaimana kita beradaptasi ya. Ee biasanya kita pakai jaket terus ya sudah kita berubah jadi pakai kemeja saja misalnya setiap hari gitu ya. Kalau saya juga mungkin seperti itu ya. Dulunya saya pakai ee apa? Batik lengan panjang. Sekarang saya tidak suka batik lengan panjang karena panas ya. Saya lebih suka batik ee lengan pendek kalau untuk ke kampus gitu. Jadi itu upaya adaptasi ya. Tujuan tujuan utamanya adalah mengurangi kerentanan dan meningkatkan ketangguhan masyarakat. Jadi apa saja yang ee kita lakukan untuk adaptasi tentu saja seperti sistem informasi cuaca. Sekarang BMKG luar biasa ya menurut saya. Loncatan teknologi BMKG selalu menyampaikan dia juga sudah via apa namanya aplikasi ya. Kemudian juga banyak apa wah ini kemungkinan akan ada apa namanya ee badai besar misalnya dan seterusnya itu BMKG luar biasa. sehingga sistem informasi cuaca ini bisa kita lihat sebagai upaya adaptasi untuk perubahan iklim, sistem pertanian, peringatan dini, dan seterusnya. Jadi, ini dua hal ya, mitigasi artinya kita tetap berusaha untuk mengurangi gas rumah kaca ke atmosfer. Kemudian adaptasi adalah upaya menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim, ya gitu. Nah, ee karena perubahan iklim ini bersifat global, makanya ada konvensi perubahan iklim dunia, ya. Jadi, ada namanya UNFCC, United Nation Framework Convention on Climate Change. Jadi, UNFCC ini punya dua kamar ya, nanti kita jelaskan ya. ada kamar ee politik ya di situ ada negara-negara bernegosiasi untuk ee sebuah apa namanya keputusan atau kesepakatan perubahan iklim misalnya kesepakatan Paris yang terakhir ya itu dihasilkan dari COP atau eh conference of parties. Ini yang kita sebut sebagai kamar politik ya, negara-negara itu bernegosiasi. Tapi ada juga yang kita sebut sebagai kamar ee apa namanya? Kamar researcher atau kamar ilmuwan ya, ilmuwannya UNFCC namanya IPCC intergovernmental panel on climate change. Jadi IPCC itu merupakan kamar ilmuwannya UNFCC. Jadi, ilmuwan-ilmuwan di IPCC itu akan menyampaikan laporan-laporan terbaru tentang perubahan iklim, dampak, dan seterusnya yang akan dipakai sebagai bahan kajian oleh para politisi di COP. Kira-kira begitu. Nah, dari beberapa COP terakhir itu yang paling ee berhasil sebenarnya di Paris ya. ya COP tahun 21 2015 ini membuat kesepakatan Paris ya yang kita pakai sampai sekarang gitu. Jadi ee apa itu Paris agreement ya. Jadi intinya kesepakatan Paris itu kalau dulu ee zamannya Kyoto Protokol itu hanya negara-negara maju saja yang bertanggung jawab sama perubahan iklim ya. karena ya mereka kan industri ya mengeluarkan emisi banyak dan seterusnya. Tapi ternyata setelah waktu berjalan negara berkembang juga ternyata punya ee apa punya kontribusi banyak dalam perubahan iklim terutama dari sektor polu ya dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Jadi banyaknya deforestasi di negara-negara berkembang itu menjadi isu yang kemudian ee diakui juga oleh negara-negara berkembang ya misalnya Indonesia ya. Oke kita ngakulah kalau untuk vol kita besar emisinya nanti kita bisa lihat ya di eh apa namanya NDC Indonesia nationally determined contribution ya. Nah, ee kesepakatan Paris ini ee berlaku sampai tahun 2030, Bapak dan Ibu. Jadi ee ini merupakan kesepakatan yang paling mengikat ya saat ini dan ini hampir disepakati oleh semua negara ya, kecuali beberapa negara kita tahulah seperti Amerika Serikat yang katanya menarik diri dan seterusnya gitu ya. Tapi saya kira ee memang geopolitik ini juga sangat mengganggu perubahan iklim gitu ya. termasuk di Indonesia juga ganti presiden, ganti kebijakan dan seterusnya gitu. Nah, jadi ee seperti saya sebutkan Paris Agreement itu ee yang sekarang mengikat ya di internasional tentang perubahan iklim. Nah, ee saya coba jelaskan Paris Agreement, NDC, dan pranegara gitu. Jadi kita tadi sudah ee apa ee diskusi ya membahas bahwa kalau zaman dulu negara-negara maju saja yang menjadi ee target perubahan apa pengurangan emisi. Nah, sekarang semua negara itu ee sebagai aktor utama. Artinya ya semua negara itu punya hak dan kewajiban untuk menurunkan emisinya gitu. Jadi gitu ya. Jadi ee bagaimana caranya ya setiap negara itu nanti akan mengeluarkan yang namanya nationally determine contribution ya ee atau kita sebut NDC ya NDC. Jadi eh negara akan ee di situ menyampaikan emisi saya berapa dan kemudian komitmen saya untuk mengurangi emisi sampai 2030 berapa gitu ya. Nah itu kira-kira NDC. Nah, kemudian di sini ee Paris Agreement ini jelas mendelegasikan ee apa ee kewajiban tiap negara itu ke tiap negara masing-masing ya. Beda dengan Kyoto Protokol itu semuanya di sekretariat ya. Nah, itu akhirnya tidak begitu menarik. Nah, ketika Paris Agreement ini setiap negara itu berhak ee mengatur ya. Jadi aturan main dan mekanisme mitigasi perubahan iklim di tiap negara bisa berbeda. Dan ini yang ngatur adalah negara masing-masing gitu. Jadi tiap negara harus menyampaikan bahwa emisi saya itu paling banyak dari ini ya. Kemudian saya akan melakukan ini, ini, ini untuk menurunkan emisi dan seterusnya. Nah, Indonesia seperti ini Bapak dan Ibu. Jadi ini saya ambil dari enhance National Determine Contribution of Republic Indonesia. Second ya. Yang kedua, jadi kita menyampaikan kepada dunia bahwa yang paling banyak emisinya di Indonesia adalah dari forestry and other land use. Kita lihat di sini 647 dari 1,3 gigon ya. Jadi paling tinggi energi nomor du agrikultur atau pertanian. nomor Nah, di sinilah kemudian akhirnya ee apa kita apa ini komitmen kita. Komitmen kita menurunkan emisi sebanyak 31,89% dengan kemampuan sendiri dan 43,2% apabila mendapatkan bantuan internasional. Jadi, kira-kira begitu. Jadi, Indonesia sudah menyampaikan bahwa emisi yang terbesar itu dari forestry, dari kehutanan dan penggunaan lahan. Makanya ee mitigasi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan, mitigasi perubahan iklim itu menjadi ee apa ya menjadi sebuah keniscayaan kalau di Indonesia. Kira-kira begitu. Nah, kalau komitmennya selain NDC apalagi sebenarnya sudah banyak yang dilakukan ya dari mulai Paris agreement kemudian ee penandatanganan apa namanya ratifikasi ya pada bulan November 2016. Kemudian ada eh NDC, update NDC tahun 2021. Kemudian kita juga ee menyampaikan LTS LCCR ya. LTS LCCR itu ee apa ya? Itu kayak ee NDC itu kan komitmennya. Kalau LTS itu bagaimana mencapainya gitu step-stepnya kira-kira begitu ya. Nah, LTC LTS LCCR ini kemudian ditransformasikan di dalam negeri menjadi volun neting. Kira-kira begitu. Jadi voluneting itu sebenarnya pengejauan tahan dari LTS LCCR gitu. Nah, ini ee selain proses apa yang sifatnya negara juga ee tahun 2022 telah disahkan ee apa namanya Perpres 98 tahun 2021 kalau enggak salah ya tentang ee Nek nilai ekonomi karbon. Kemudian juga ada peraturan lebih detail ya. Jadi ee sekarang Perpres-nya sudah nomor 110 tahun 2025 ya tentang Nek dan kemudian juga didetailkan lagi di kehutanan. Nah, ini dari sisi peraturan dan saya coba ee apa namanya? Buat garis besarnya gitu ya. Jadi arah kebijakan utama untuk mencapai target dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan itu ada dua kalau saya lihat ya. Yang pertama itu dari voluneting ini ee sumber pembayarannya dari RBP ya yang diterima Indonesia dari Red Plus terutama ya ee ini sekarang masih berlangsung. Kemudian yang kedua adalah nilai ekonomi karbon ya. nilai ekonomi karbon ini ee lebih ke menjaring pihak swasta untuk berkontribusi lebih banyak ya untuk mengurangi emisi dan juga ee bisa membuat ee semacam ekosistem ya ekosistem untuk ee perdagangan karbon di dalam negeri dan juga ke luar negeri. Kira-kira seperti itu. Nah, kemudian ee ee kita akan bicara tadi kita sudah bicara masalah kebijakan ya, bagaimana ee apa dari kebijakan internasional kemudian ee bagaimana gratifikasi oleh Indonesia dan bagaimana proses Indonesia dalam ee apa mendomestikasi atau menjalankan ee ratifikasi ASI itu ke dalam kebijakan nasional, kemudian juga bagaimana implementasinya gitu ya. Nah, ini kita akan bicara lebih ke teknis ya. Jadi ee emisi dari kehutanan dan lahan itu punya standar ya. Bagaimana mengukurnya dan seterusnya itu berdasarkan buku-buku ini ya. Jadi sumber-sumber emisi dan serapan GHG atau greenhouse gas atau GRK dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan itu ee berdasarkan dari IPCC Guidelines for National National Genhouse Inventory ya 2006 IPCC 2006 juga ada suplemen eh untuk wetland ya 2013 kemudian juga ada 2013 rev eh revise supplement Ods and practice guidance arising from the Koto protocol. Kemudian 2019 refinement to the 2006 IPCC guidelines for National Greenhouse gas inventories. Jadi ini ee bisa dibilang sebagai buku buku putihnya ya atau standar semua ee apa semua metodologi untuk ee menghitung emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Nah, kira-kira seperti apa secara umum? Ya, secara umum seperti ini. Jadi, emisi dari ee kehutanan dan penggunaan lahan itu dibagi ee menjadi ya sebenarnya lebih banyak pada perubahan lahan ya. Jadi ee apa namanya? Lahan itu bisa kita ee apa namanya? Kita bisa klasifikasikan ke dalam kehutanan misalnya atau forestland, cropland ini lahan pertanian, grassland, lahan padang rumput, wetland adalah lahan basah. Kemudian settlement itu adalah ee pemukiman dan juga other. Nah, perubahan dari ee berbagai tutupan lahan atau penggunaan lahan ini dia yang kita hitung sebagai emisinya gitu. Misalnya forest L remaining forest L itu emisinya zero gitu ya. L converted to forest L itu menyerap emisi dan seterusnya ya. CRO misalnyaing CRO itu tetap emisinya tetap ada. Kemudian line converted to crop L itu apakah emisi atau serapan itu eh yang secara umum ya. Kemudian juga ada pitosition atau apa namanya pembusukan dari gambut kemudian gambut apa api dari gambut ya. Ini juga sebenarnya ada dalam buku IPCC tersebut. Jadi ketika kita mencoba mengkalkulasi atau menghitung berapa emisi akibat ee apa namanya perubahan lahan dan praktik kehutanan, kita perlu mengacu kepada ee IPCC guideline ini gitu kira-kira. Nah, ya kemudian yang lain misalnya wood harvestate ini juga ada diatur ya. Misalnya kalau untuk kehutanan kan ketika kita melakukan logging itu kan ada kayu yang kita ambil ya. Jadi kayu itu juga kita harus tahu berapa persentasenya. Misalnya saya enggak yakin dari satu pohon yang kita tebang itu ee 50%-nya itu dipakai tidak saya tidak yakin gitu ya. Paling banyak tuh 40% ya. 60% itu jadi waste ya, jadi sampah. Karena ya memang ee apa namanya yang kita ambil itu kan bukan ee pohon yang sudah kotak ya biasanya, tapi pohonnya masih bulat gitu ya. Ee dan yang kita ambil itu biasanya yang sudah ee apa entah jadi vinir ya. Vinir. Vinir itu yang kita putar rotari, kemudian kita pakai pisau, kemudian dibuat vinir gitu ya atau kita buat kayu gitu. Nah, ini W-nya ada setiap proses itu gitu. Jadi ee tetap wood harvest kita hitung karena itu ee apa namanya? Kayu yang ee tidak jadi emisi gitu ya. Kira-kira seperti itu. Nah, ini bagaimana proses penghitungan ya. Kita harus tahu ee apa namanya dalam ee gas rumah kaca pada volu ini proses yang terjadi seperti apa misalnya deforestasi ya. Jadi deforestasi itu misalnya apakah dari hutan primer menjadi non forest, kemudian apakah hutan primer menjadi sekunder, apakah hutan sekunder menjadi non forest. Kira-kira seperti itu. Nah, ini ee ketika kita hitung berapa ee hutan primer yang menjadi non forexest atau bukan hutan ini ada emisinya gitu. Kita hitung ada namanya ee faktor emisi ya. Dan ini berapa primary forest menjadi non forest itu yang kita sebut sebagai data aktivitas ya. Jadi ada beberapa macam ee apa namanya ee sumber-sumbernya ya misalnya dari deforestasi, dari degradasi kalau kita bicara tentang emisi ya. Kalau dari Ee mohon ditunggu ya Bapak Ibu semuanya gamb tadi ada kendala ya Pak. Oh iya ya. Iya, tadi sempat nge-freze. Oh, mohon maaf yang dibag. Tapi sekarang sudah aman, Pak. Oh, iya. Oke, oke. Iya, silakan dilanjut, Pak. Ya, baik baik. Mohon maaf ini. Nah, ee jadi sampai mana tadi? [tertawa] Jadi hutan ee hutan hutan gambut ya yang tidak tersentuh atau masih alami itu biasanya tidak mengemisi karena gambutnya itu masih tergenang gitu ya, tergenang dan yang membuat gambut itu mengemisi sebenarnya proses dekomposisi atau pembusukan ya. Jadinya ee gambut itu karena tergenang dia ee memang amonia apa CH4-nya dia tinggi ya tapi CO2-nya masih rendah gitu. Nah, ketika dia terganggu atau di di apa ya? Dikonversi biasanya hutannya juga ditebang. Kemudian juga ada kanal-kanal ya. Nah, kanal-kanal ini gunanya untuk menurunkan menurunkan muka air tanah. Gambut ini akhirnya tidak tergenang lagi dan kemudian terjadi proses pembusukan. Nah, pembusukan inilah yang kemudian membuat CO2 meningkat gitu ya. Jadi, makanya gambut ini ee gambut kan sebenarnya ee sangat besar ya menyimpan ee C ya karbon gitu ya. Jadi ketika dia tersingkap dan ketika dia mengering maka proses pembusukan itu membuat gambut itu ya menjadi C ya menjadi karboni dioksida gitu ya apalagi kalau terbakar. Nah, makanya isu gambut ini juga sangat penting dipelajari ketika kita bicara masalah ee GRK pada sektor volu gitu. Nah, kemudian itu masalah teknis ya. Jadi sebenarnya kalau kita ee jelaskan tentang bagaimana teknis ee penghitungan emisi dan seterusnya itu bisa satu semester sendiri ya. Tapi ee saya cuma menjelaskan hal-hal umum saja gitu ya. Nanti kalau misalnya ee tertarik ee mungkin bisa kita lanjutkan ke ee apa namanya ee apa bahasan yang lain gitu yang lebih detail gitu. Nah, sekarang tadi kita sudah bicara polosi, teknis. Nah, sekarang langsung nih proyek karbon hutan itu apa gitu ya. Jadi sekarang ini banyak orang bertanya ini proyek karbon hutan tuh seperti apa gitu. Nah, sebenarnya ada dua tipe dari proyek karbon hutan ya. Yang pertama itu proyek yang sifatnya pengurangan emisi dari sumbernya dan yang kedua itu ada peningkatan serapan emisi GRK dari sektor kehutanan dan tutupan lahan. Nah, dua dua tema ini seperti apa bedanya? Nah, kalau yang pertama ini mengurangi emisi melalui volue. Jadi, kegiatannya seperti apa? ini adalah aksi-aksi yang berdampak pada berkurangnya deforestasi. Kenapa kalau berkurang deforestasi kita bisa mengurangi emisi? Tentu saja gitu ya. Ketika kita mendeforestasi maka eh apa? Reservoir carbon. Reservoir karbon atau ya reservoir ya reservoir karbon yang ada di pohon-pohon itu kan akan kita lenyapkan ya. Karena reservoid itu kita hancurkan maka karbon itu akan menguap ke udara ya. CO2. Artinya ee deforestas itu pasti menyebabkan ee apa? Bertambahnya CO2 ke atmosfer. Jadi kalau kita mengurangi deforestasi artinya ya kita mengurangi ee emisi itu keluar dari reservoirnya gitu juga sama berlaku sama ketika berkurangnya degradasi hutan itu juga mengurangi reservoil apa? Mengurangi emisi ke ee atmosfer. Kemudian berkurangnya kebakaran hutan dan lahan. Berkurangnya emisi dari lahan gambut. Jadi ini yang banyak diminati ya oleh para pengembang proyek karbon hutan ya. Karena ya itu tadi ada standarnya yang membuat ini jadi ee kegiatan-kegiatan ini menjadi bisnisnya wah gitu ya. Padahal ya ee seperti misalnya saya langsung aja ngomong vera ya. Vera itu banyak juga dikecam ya karena bukan dikecam ya dikritik ya karena ee apa namanya bisa ee penurunan emisinya. Banyak yang bilang bahwa itu fake emission atau ee sebenarnya tidak tidak mengurangi emisi sesuai ee hitungan sebenarnya gitu. tapi ya masih dilakukan dan ee beberapa project masih melakukan itu ya walaupun sampai ee sekarang sudah diganti ya. Dulu ada VM 007 namanya yang Vera lakukan ee yang Vera keluarkan ya VM007. Nah, sekarang VM007 ini tidak berlaku lagi ya, sudah diganti jadi VM 0048 gitu. Jadi ee sekarang orang lebih suka metodologi konservatif kalau kita bicara tentang ee proyek karbon hutan ini gitu. Nah, balik lagi ya. Mohon maaf saya agak di luar di luar apa konteks. Jadi ini pengurangan emisi dari sumbernya ya. ketika kita bisa mengurangi deforestasi, mengurangi degradasi hutan, mengurangi kebakaran hutan dan lahan, mengurangi emisi dari lahan gambut, itu adalah mengurangi emisi ya dan bisa mendapatkan ee kredit dari ee dari ya dari standar manaun ya yang kalau dia bisa mengeluarkan standar misalnya kalau ya Indonesia ada SRN namanya ya atau Vera atau plan Vivo dan seterusnya. Kemudian yang B adalah peningkatan serapan ya. Nah, ini penyerapan artinya aksi-aksi yang berdampak pada penghutanan kembali atau reforestasi atau penghuntanan areal bukan hutan. Kemudian meningkatkan upaya pengelolan hutan yang lebih lestari. Misalnya menerapkan praktik reduce impact logging, sertifikasi hutan, sertifikasi kayu, dan lain sebagainya. Jadi ini yang banyak orang pahami. Oh, perubahan apa ee proyek kerbon hutan itu menanam itu menanam kembali gitu ya. Betul ya. Dalam konteks ee apa namanya ee proses yang kita sebut tadi apa? Fotosintesis ya. Bertambah fotosintesis dia pasti akan menyerap. Tapi juga ke dalam konteks reservoir atau ee penyimpan yang A ini juga sama ya. Jadi dua kegiatan ini juga sama-sama proyek karbon hutan ya. Mengurai deforestasi atau menanam itu sama-sama mengurangi emisi gitu dalam konteks ee pengukuran emisi gas rumah kaca. Nah, ini ada dua tipe proyek ya dalam karbon hutan. Jadi yang pertama itu yang kita sebut proyek jurisdiksi. Yurisdiksi atau dia itu lebih bersifat administratif ya. Ee seberapa luas itu luasnya administratif ya. Yang kedua adalah proyek tapak atau site. Jadi perbedaannya proyek yurisdiksi ini menggunakan batas proyek secara administratif. Misalnya proyeknya dilakukan di Kabupaten Avinsi B. atau di negara semuanya ya. Nah, kita punya pengalaman nih di provinsi dan ee negara ya nanti saya akan sampaikan. Kemudian ada juga proyek tapak ya. Proyek tapak itu menggunakan batas proyek secara lokal misalnya batas kelola hutan, taman nasional, PBPH, hutan desa, hutan kemasyarakatan dan seterusnya. Jadi ini biasanya ee proyeknya lebih kecil dan ee apa namanya? ee biasanya ini yang dulu ee orang pahami sebagai koboy karbon ya. Koboy karbon. Oh, di sini ada MoU dan seterusnya. Kita mau bikin karbon dan seterusnya. Ini sebenarnya proyek tapak ya. Jadi ee bagaimana dua tipe proyek ini dilakukan gitu. Nah, ini proyek yurisdiksi ya. Proyek yurisdiksi ini sudah kita lakukan sejak tahun 10 sebenarnya ya dalam ee kerja sama Norway dan Indonesia. Nah, kemudian juga ee ini apakah sudah menghasilkan? Sudah ya. Jadi proyek e green climate fund nasional ini menghasilkan 103,8 juta US Dollar ya. menurunkan emisi sebanyak 20,3 juta ton CO2 pada tahun 2014 sampai 2016. Ini dilakukannya seluruh Indonesia. Kemudian juga eh yurisdiksi di Kaltim ya namanya Kaltim FCPF Carbon Fund ya 22 juta eh apa ton CO2 diturunkan tahun 2019 sampai 2024 jumlah pembayarannya 110 juta US dolar. Kemudian juga ada di Jambi ya namanya Jambi Biocarbon Fund itu menurunkan emisi 14 juta ton CO2 tahun 2020 sampai 2025 yang ee mau di apa diakses sebanyak 70 juta US Do. Nah, dalam konteks bilateral ada Norway RBP ya, Indonesia dan Norway ini menurunkan 11,7 juta ton CO2 tahun 2016 sampai 2017 ee sudah ee menyerap sebanyak 56 juta US Do. Nah, tahapan eh untuk Norway ini tahapan emission reduction tahap 2 sedang dalam proses verifikasi. Nah, ini kita lihat ya bagaimana eh apa FR itu jadi bahan acuan ketika FR itu forest reference emission level ya. Nanti silakan bertanya FR itu apa. Tapi intinya ini adalah baseline yang kita lakukan untuk ee mengul apa? Apakah sebuah proyek yang kita lakukan di satu negara atau satu ee yurisdiksi itu berhasil atau tidak gitu ya. Yang jelas harus ee kalau emisi yang sekian misalnya tahun 2013 kita harus di bawahnya ya, di bawah emisinya gitu ya. Jadi ee itu yang menyebabkan ee emisi kita itu berhasil diturunkan gitu. Nah, ini proyek yurisdiksi. Nah, kalau proyek tapak itu apa ya? Misalnya ini yang paling sukses ya namanya Rimba Makmur Utama PT RMU seluas 157.000. 75 hektar melalui proyek yang kita sebut cuttingan mentaya yang terdaftar dalam vera registri nomor 1477. Ya, ini lokasinya karbon hutan yang diinisiasi oleh swasta didominasi oleh izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem ya. Dulu itu ada IUPHHHKRE sekarang juga namanya PBPH juga ya. Ee PBPH itu perizinan berusaha pengelolaan hutan. Jadi, PBPH itu sekarang boleh melakukan project seperti ini juga ya. Nah, ini yang paling berhasil ya mendapatkan pembayaran sekitar 12 juta US dolar kalau enggak salah ya ee sampai 2020 kemarin ya. Nah, ini ee mungkin yang sering dicontohkan oleh pemerintah sehingga membuka ee nilai ekonomi karbon dan seterusnya. Nah, ini juga ada proyek tapak yang sifatnya komunitas ya. Untuk proyek karbon hutan dengan sel komunitas misalnya hutan desa atau hutan adat itu biasanya ee apa ke skema plan vivo ya. Ini beberapa proyek yang terdaftar di plan Vivo di Indonesia. Ada Punan Long Adiu ya, Nangga Lauk, Durian Rambun ya. Ini ee durian Rambun kalau enggak salah di Jambi juga ya. Saya saya lupa mohon maaf kalau lupa. [tertawa] Jadi oh ini ada ya Durian Rambun Jambi, proyek bujangraba Jambi, gula-gula projek singkarak. Ini ada beberapa projek yang terdaftar dan mereka menyampaikan bahwa akan menurunkan emisi dari projject tapak mereka gitu. Nah, ini yang terakhir. Jadi, semua proyek-proyek itu harus karena ee balik ke awal ya, bahwa pemerintah yang mengatur gitu ya. Nah, akhirnya pemerintah juga harus menghitung ya bagaimana proyek jurisdiksi, bagaimana proyek tapak itu dilakukan dan menghasilkan berapa emisi penurunannya gitu. Nah, ada namanya sistem registri nasional yang mencatat ya mencatat berapa penurunan emisi yang dilakukan oleh Indonesia sehingga ini akan ee nilai atau apa penurunan emisinya akan menjadi bahan atau ee apa ya sistem transparansi yang akan disampaikan ke UNFCC. bahwa Indonesia menurunkan sekian persen sesuai dengan NDC atau tidak gitu ya. Nah, ee SRN merupakan sistem pengelolaan dan ee pengelolaan penyediaan data dan informasi berbasis web tentang aksi dan sumber daya untuk mitigasi perubahan iklim, adaptasi perubahan iklim, dan Nek di Indonesia. Jadi ee ini jadi semacam rumah ya akuntansi besarnya gitu, buku besarnya penurunan emisi di Indonesia dari berbagai macam kegiatan. Nah, kemudian ini mandatnya SRN dalam Perpres 982021 Nek ya. Jadi fungsi adalah dasar pengakuan pemerintah atas kontribusi penerapan NK dalam pencapaian targeti. Kemudian data dan informasi aksi dan sumber daya mitigasi penerapan NK upaya menghindari penghitungan ganda. Ya, ini yang ee sering menjadi isu juga double counting ya. Kemudian bahan penelusuran pengalihan, bahan pertimbangan kebijakan operasional lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan. Nah, ini juga ee SRN juga mengeluarkan yang disebut ee SPE, sertifikat penurunan emisi atau sertifikat apresiasi. Ini beda lagi. Kemudian nanti ee ada di karbon registry-nya gitu. Jadi Indonesia nanti secara mudah melaporkan apakah ee bisa menurunkan emisi atau tidak itu dari sistem SRN ini gitu. Nah, kalau misalnya Bapak, Ibu mau melihat sistem registring nasional itu bisa dilihat di sini sekarang karena dulu di KLHK, sekarang di KemenLH ya. Ee namanya srn.kkenemlh.id. Jadi, kira-kira seperti ini tampak depannya ya, berapa yang sudah turun mendaftarkan emisi apa projectnya dan seterusnya gitu. Nah, ini yang terakhir ee dari saya, dari paparan saya. Jadi ee ini murni pendapat saya ya. Jadi silakan Bapak dan Ibu punya pendapat masing-masing ya tentang perkembangan projek forest karbon saat ini dan prospek ke depannya. Jadi menurut saya perkembangan forest eh project forest carbon sampai saat ini dari aspek regulasi dan kelembagaan sudah cukup jelas ya. Jadi kelembagaan jelas ada SRN, ada regulasi juga cukup mendukung ya pasca Perpres 110 2025 sehingga menjadi penarik atau insentif sektor swasta untuk melakukan kajian-kajian awal tentang proyek karbon hutan. Kemudian dulu ada ketidakharmonisan antara skema registri nasional dengan ee skema kredit karbon yang diusung oleh skema non pemerintah. Nah, sekarang itu bukan isu utama lagi karena sudah ada ee apa namanya? Entah itu apa istilahnya ya ee mutual recognition MRA ataupun ada satu lagi istilahnya itu sudah bisa dilakukan oleh pemerintah. Kemudian yang ketiga ini penggunaan standar yang konservatif yang saya sebutkan tadi. Jadi sekarang mungkin ee para pengembang proyek akan ee lebih logik ya ketika mengembangkan proyek gitu. ini hitungannya seperti apa, bisnis yang dikeluarkan seperti apa, apakah masih bisa menguntungkan atau tidak, gitu. Nah, ini menjadi pilihan utama para pembeli sertifikat penurunan emisi gas rumah kaca. Kemudian Paris Agreement akan berlangsung sampai 2030 dan kemungkinan perdagangan karbon masih tetap akan berlangsung ya terutama karena artikel 6 ya itu sudah disetujui. Artikel 6 itu tentang ee perdagangan karbon sebenarnya ya baik domestik maupun internasional ee sebagai kontribusi sektor swasta dalam aksi mititigasi perubahan iklim. Walaupun ketidakpastian pasar akibat kondisi geopolitik global saat ini menjadi isu utama ya, terutama bagaimana ee ya kita tahu sendiri ya ee Amerika Serikat yang menarik diri kemudian ya banyak hal lah ya yang terjadi secara geopolitik dunia ini pasti akan mempengaruhi ee Paris Agreement dan bagaimana Paris Agreement ini akan apa ee mendapatkan kan atau mencapai targetnya di tahun 2030. Mungkin itu saja yang ee saya sampaikan ya. Mohon maaf kalau kependekan atau kepanjangan. Ee apa namanya? Saya rasa masih banyak hal yang belum saya terangkan, bahkan juga belum saya pahami dalam ee menyajikan presentasi tentang mitigasi perubahan iklim melalui sektor kehutanan dan penggunaan lahan ini. Ee oleh sebabnya saya mohon maaf. Ee saya kembalikan lagi ke moderator. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak kepada Pak Arif atas pemaparan materinya yang sangat ee menarik dan juga informatif ini. Dan kita juga sudah mendengarkan ya, Bapak, Ibu semuanya. Bagaimana tadi Pak Arif sudah menjelaskan dari tentang isu perubahan iklim dan akibatnya, kemudian sumber-sumber emisi dan serapan GRK dari Project Forest Carbon hingga perkembangan project Forest Carbon dan prospek ke depannya. Dan baik ee untuk itu kita akan lanjutkan pada acara selanjutnya yaitu tanya jawab dengan menggunakan aplikasi Slido terlebih dahulu. Nah, di sini Pak Arif sudah ada pertanyaan sekitar ee 11 pertanyaan, Pak. Mungkin bisa semua Bapak langsung dijawab saja satu persatu untuk pertanyaannya. Dipersilakan, Pak Arif. Baik, saya jawab yang pertama ya. Apa tantangan terbesar dalam mengimplementasikan strategi mitigasi perubahan iklim di sektor kehutanan saat ini? Nah, tantangan terbesarnya sebenarnya membuat ekosistemnya ya. Jadi ekosistemnya itu belum terbangun sempurna gitu. Jadi ee seperti misalnya begini, kita ee punya banyak buah yang harus dijual tapi pembelinya belum ada misalnya begitu. Atau pembeli sudah ada tapi pembelinya itu punya standarnya tinggi gitu ya. Misalnya kita jual jeruk nih, jual jeruknya ada 2 ton misalnya, tapi yang bisa kejual itu cuma 5 kilo gitu ya, karena tidak ee tidak standar gitu. Jadi tantangan terbesarnya sebenarnya membangun ekosistemnya sendiri gitu. Jadi ee pembeli dan penjual itu harus ee apa namanya? Sudah tahu dan ee apa namanya ya? Para pengembang proyek juga jangan cuma mikir wah ini bisnis besar tapi ee tidak tahu bahwa yang besar itu punya konsekuensi ya. Kalau misalnya kita lakukan dengan tidak teliti, kemudian juga dengan ee metodologi yang cuma apa dilihat dari ekonomi ya, maksudnya hitung-hitungan ekonomi di atas meja itu jarang yang berhasil. Jadi kira-kira seperti itu. Ee kemudian tantangan terbesar lain ya tentu saja ee apa ya kesadarahuan pememberi apa masyarakat juga ya kalau menurut saya. Jadi perubahan iklim dan ee proyek karbon ini seakan-akan jadi barang gaib istilahnya ya. Kalau di orang kehutanan itu ini barang gaib nih gitu ya. Enggak ada bentuknya gitu. itu sebenarnya ee salah satu ketidakmauan kita untuk paham gitu. Sebenarnya yang kita lakukan itu untuk mitigasi apa gitu ya, kemudian dampaknya apa dan segala macam gitu. Jadi ee seperti itu. Jadi ada dua menurut saya. Yang pertama itu ekosistemnya belum terbangun. Yang kedua adalah ee bagaimana juga kita membangun ee apa ya kesadaran bersama atau pengetahuannya sama gitu tentang perubahan iklim dan juga mitigasinya. Jadi mungkin itu jawaban saya yang pertama. Kemudian yang kedua, bagaimana mitigasi terbaik bagi kawasan hulu Jawa Tengah seperti kasus gunung Selamet yang baru-baru ini mengalami longsor. Ya, jadi ini mungkin dalam konteks ee mitigasi bencana ya, namanya anonymus ya. Jadi memang yang saya sebutkan tadi ee perubahan iklim dan bencana ini menjadi hal yang tidak apa ya tidak terelakan ya. Jadi ee kita dalam tahun-tahun ke depan itu cuma bisa mengurangi ya supaya tidak bertambah ya. Ee makanya mitigasi itu kita harus eh adaptasi itu harus kita bangun ya. Misalnya kalau tahu ee bulan Desember sampai Februari itu ekstrem cuacanya, kita harus ee sudah apa menyadar tahukan masyarakat bahwa ini bulan-bulan bahaya, ekstrem, dan seterusnya. Itu ee salah satu ee adaptasi ya. Kemudian juga dari mitigasi tentu saja ee mitigasi terbaiknya ya kita tahu kalau Gunung Selamet itu kan saya pernah ke Gunung Slamet itu ke Guci dan segala macamnya itu dari mulai kuliah dulu ya saya kebetulan di Banyumas Barat dulu di Perhutani Banyumas Barat jadi gundulnya itu banyak gitu Pak ya [tertawa] jadi banyak areal-areal tuh yang yang tidak terpohoni atau pohonnya enggak ada gitu ya. Nah, itu menurut saya penanaman itu harus dilakukan ya untuk di daerah sana gitu. Jadi ya itu mungkin salah satu aksi mitigasinya gitu. Mungkin itu ee bisa menjawab. Jadi kalau misalnya ee belum bisa mohon maaf gitu. Ini yang kedua. Kemudian yang ketiga dari Lia, bagaimana cara menjaga hutan yang sudah ditanam oleh kelompok Proklim agar tidak ditebang lagi oleh masyarakat untuk berkebun dan membangun rumah? Nah, ini pertanyaan yang sifatnya social engineering ya. Social engineering itu artinya kita harus tahu ee bagaimana mengubah ee apa ya suatu kebiasaan masyarakat gitu ya. Jadi misalnya kita tahu bahwa kalau menanam jenis A itu pasti akan ditebang ya. Jadi kalau misalnya kita nanam pohon pastikan itu sudah sesuai dengan masyarakat gitu. Jadi masyarakat itu mau nanam alpuket ya kita sediakan alpuket gitu. Jangan kita ee masyarakat penginnya nanam alpuket kita kasih bibit pinus gitu ya. ya masyarakat nanam aja tapi ya entah 2 bulan 3 bulan lagi hilang gitu ya. Jadi ee ketika kita menanam ya menanam itu sebuah kegiatan yang bagus ya tapi banyak yang gagal. Kenapa? Karena semangat kita hanya menanam gitu bukan memelihara sampai pohonnya jadi besar gitu ya. Nah banyak di ini kritik juga buat orang kehutanan. Jadi kalau nanam itu harus tanaman kehutanan gitu ya. harus kayu jati misalnya. Wah, apa mahoni. Nah, kita pikir apakah mahoni itu buat masyarakat ee menguntungkan gitu ya. Nah, sekarang kalau saya di Lampung itu ee di sini sudah mulai apa ya ee blending gitu ya kebutuhan masyarakat. Dulu nanam wah segala macamnya tanaman kehutanan gitu. sekarang sudah blending ya ditanam ya yang masyarakat pengin misalnya apa alpuket alpuket juga pohon ya alpukat sekarang yang menjadi apa ee banyak digemari kemudian juga ee apa tuh namanya longan bukan longan ya lengkeng ya lengkeng itu banyak digemari bahkan oh saya pengin nanam lengkeng Pak segala macam jadi ya sudah itu sama-sama pohon juga gitu buat masyarakat masyarakat itu menghasilkan mereka akan ee memelihara karena ada hasilnya buat ee penghijauan juga pasti berhasil kan
Resume
Categories