Resume
OGHfGznJgGA • WEBINAR ASN BELAJAR SERI 20 - WUJUDKAN ASN PRO HIJAU MENDUKUNG SDGs
Updated: 2026-02-12 02:05:06 UTC

Berikut adalah rangkuman komprehensif dan terstruktur dari konten video "ASN Belajar Seri ke-20" berdasarkan transkrip yang diberikan.


Mewujudkan ASN Pro Hijau: Strategi Implementasi Green Office dan Green Building Menuju Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Inti Sari (Executive Summary)

Webinar ASN Belajar Seri ke-20 mengangkat tema "Mewujudkan ASN Pro Hijau untuk Mendukung ESDijis" (Education for Sustainable Development Goals) sebagai bagian dari persiapan pemerintah Indonesia menuju target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Dua narasumber ahli, Paulus Tallulembang dan Dr. Rahman Kurniawan, secara mendalam menguraikan pentingnya peran Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai agen perubahan dalam penerapan ekonomi hijau, Green Office, dan Green Building. Diskusi menekankan bahwa transformasi lingkungan tidak hanya memerlukan regulasi dan teknologi, tetapi terutama perubahan perilaku disiplin dan konsistensi dari individu serta kepemimpinan yang memberi teladan.


Poin-Poin Kunci (Key Takeaways)

  • Potensi & Tantangan Ekonomi Hijau: Indonesia memiliki potensi karbon besar (hutan, mangrove) bernilai ekonomi tinggi, namun dihadapkan pada tantangan seperti konflik lahan dan perlunya mekanisme perdagangan karbon global.
  • Paradigma Green Economy: Pembangunan berkelanjutan menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan keadilan sosial dan kesehatan lingkungan.
  • Peran Vital ASN: Dengan jumlah sekitar 4 juta orang, ASN memiliki efek pengali (multiplier effect) yang besar. Perilaku hijau di kantor dapat memengaruhi keluarga dan masyarakat luas.
  • Konsep Green Office: Lebih dari sekadar menanam pohon, Green Office mencakup efisiensi energi, air, material, pengelolaan sampah (3R/5R), dan perubahan budaya kerja.
  • Konsistensi & Kepemimpinan: Keberhasilan program lingkungan sangat bergantung pada konsistensi perawatan (maintenance) dan keteladanan dari para pemimpin instansi.

Rincian Materi (Detailed Breakdown)

1. Pendahuluan dan Konteks ESDijis

  • Pembukaan: Webinar dibuka oleh BPSDM Provinsi Jawa Timur dengan tema utama mendukung ESDijis untuk mencapai target SDGs 2030, khususnya pada pilar lingkungan hidup.
  • Kolaborasi: Kegiatan ini melibatkan kolaborasi dengan Universitas Airlangga dan akademisi lainnya untuk membangun kurikulum dan kapasitas ASN.
  • Tujuan: ASN diharapkan menjadi sumber informasi dan pelaku utama dalam penerapan SDGs di lingkungan kerja maupun masyarakat.

2. Sesi 1: Regulasi, Ekonomi Hijau, dan Gaya Hidup (Narasumber: Paulus Tallulembang)

  • Regulasi Nasional: Pembahasan dimulai dengan dasar hukum seperti Perpres No. 15 Tahun 2017 dan Perpres No. 8 Tahun 2021 mengenai Nilai Ekonomi Karbon (NEK), yang berfokus pada sektor kehutanan, pertanian, energi, industri, dan pengelolaan sampah.
  • Potensi Karbon: Indonesia memiliki area hutan terluas ke-3 di dunia (159 juta hektar) dengan potensi serapan karbon mencapai 113 gigaton. Nilai ekonominya diperkirakan mencapai 8.000 triliun Rupiah.
  • Definisi Green Economy: Ekonomi hijau adalah pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif secara sosial. Pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan sering kali mengabaikan faktor sosial dan lingkungan, menyebabkan ketimpangan.
  • Dampak Kesehatan: Kerusakan lingkungan berpengaruh langsung pada kesehatan, misalnya tingginya angka kematian akibat COVID-19 di area dengan polusi tinggi.
  • Green Lifestyle (Gaya Hidup Hijau):
    • Narasumber memberikan analogi penurunan berat badan (dari 104 kg menjadi 80 kg) sebagai gambaran disiplin yang dibutuhkan dalam Green Lifestyle.
    • Perubahan harus dimulai dari diri sendiri (start from within), menjadi teladan (role model), dan memberikan manfaat nyata bagi orang lain.
    • Konsep "Green is your Legacy": Menanam pohon hari ini adalah warisan untuk generasi mendatang.

3. Konsep Green Office dan Green Building

  • Green Office: Bukan sekadar urusan tanaman, tetapi manajemen sumber daya dan perubahan perilaku.
    • Langkah Implementasi: Pembentukan tim/ambassador, pedoman teknis, infrastruktur hijau, green procurement, dan edukasi staf.
    • Contoh Sederhana: Menghilangkan botol plastik sekali pakai, menggunakan banner digital, dan membawa botol minum sendiri (tumbler).
  • Green Building: Definisi bangunan hijau mencakup efisiensi listrik/air, pengelolaan sampah, serta kesehatan dan kenyamanan penghuni.
    • 6 Kategori Green Building:
      1. Tepat Guna Lahan (lokasi, transportasi publik, penanganan air hujan).
      2. Efisiensi & Konservasi Energi (monitoring penggunaan listrik, AC, pencahayaan alami).
      3. Konservasi Air (penghematan, penggunaan air hujan, daur ulang air).
      4. Sumber & Siklus Material (material ramah lingkungan, daur ulang, lokal).
      5. Kesehatan & Kenyamanan (kualitas udara, pencahayaan, akustik).
      6. Manajemen Bangunan (operasional dan pemeliharaan).

4. Sesi 2: Penerapan SDGs di Lingkungan Kantor (Narasumber: Dr. Rahman Kurniawan)

  • Konteks SDGs: Transisi dari MDGs (2000-2015) ke SDGs (2015-2030) dengan tujuan kesejahteraan global.
  • Kantor Berwawasan Pembangunan Berkelanjutan:
    • Menggabungkan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam operasional kantor.
    • Parameter utama: Efisiensi (air, energi, material), kenyamanan, dan produktivitas.
  • Peran ASN:
    • Sebanyak 4 juta ASN menghabiskan sepertiga waktu mereka di kantor. Jika setiap ASN berperilaku hijau, dampaknya akan masif.
    • Langkah praktis: Mematikan elektronik saat tidak digunakan, menggunakan sensor gerak, menerapkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), dan menggunakan wadah minum/sendok garpu pribadi.
  • Studi Kasus:
    • Kementerian LHK dan Kementerian Keuangan telah menerapkan kebijakan penghematan dan Eco Office.
    • Kantor Pusat Pengelolaan Ekoregion Makassar sebagai contoh pemanfaatan taman belajar, efisiensi AC, dan penampungan air hujan.

5. Tantangan, Diskusi, dan Studi Kasus Peserta

  • Tantangan Utama: Perawatan (maintenance) dan operasional sering kali menjadi titik lemah. Banyak fasilitas hijau (seperti panel surya) dibangun tanpa perencanaan anggaran perawatan jangka panjang.
  • Kepemimpinan: Konsistensi program sangat bergantung pada keteladanan pemimpin. Jika pemimpin tidak taat aturan, bawahan cenderung mengabaikannya.
  • Pendekatan Hukuman vs. Hadiah: Dalam diskusi, disebutkan bahwa kombinasi pendekatan reward (apresiasi) dan punishment (penegakan hukum) diperlukan, namun edukasi dan keteladanan adalah kunci utama.
  • Studi Kasus Biro Organisasi Jatim (Ibu Ani Setyo):
    • Menerapkan budaya "Gemes Full" (Gerakan Meja Rapi Sebelum Pulang).
    • Wajib menanam tanaman di setiap meja kerja (apabila layu diberi sanksi bendera hitam).
    • Program "Abu Daya" (pengurangan sampah plastik) dengan menggunakan tumbler dan alat makan non-plastik.

6. Kuis dan Penutup

  • Sesi Kuis: Dilakukan melalui platform Slido dengan pertanyaan seputar SDGs, regulasi Green Building (Permen PU No 02 Tahun 2015), dan tindakan ASN Pro Hijau.
  • Pemenang: Ibu Melviana keluar sebagai pemenang utama kuis.
  • Informasi Administrasi:
    • Link absensi: bit.ly/flashabsensiseri20 (valid hingga malam hari).
    • Layanan recertification dibuka hingga akhir Mei 2022.
  • Kesimpulan Akhir: Pembangunan berkelanjutan memerlukan biaya awal yang mungkin lebih mahal (misal: infrastruktur hijau), namun memiliki manfaat jangka panjang yang besar bagi kualitas hidup. ASN diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan, tetapi juga trendsetter dalam gaya hidup hijau.
Prev Next