Resume
mgpB29jjL3Q • WEBINAR ASN BELAJAR SERI 23 - KOLABORASI MASYARAKAT WUJUDKAN SDGs DI DAERAH
Updated: 2026-02-12 02:05:20 UTC

Berikut adalah rangkuman komprehensif dan terstruktur dari transkrip video webinar "ASN Belajar Seri 23".


Kolaborasi Masyarakat Wujudkan SDGs di Daerah: Studi Kasus Magetan & Program KOMPAK

Inti Sari (Executive Summary)

Webinar ini membahas pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tingkat daerah. Melalui studi kasus di Kabupaten Magetan dan program KOMPAK di Jawa Timur, diskusi menyoroti inovasi dalam penanggulangan kemiskinan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta integrasi data desa untuk pelayanan publik yang lebih efektif dan transparan.

Poin-Poin Kunci (Key Takeaways)

  • Peran ASN: Aparatur Sipil Negara (ASN) didorong untuk terus belajar dan berinovasi guna mendukung target SDGs 2030 melalui Corporate University BPSDM Jawa Timur.
  • Inovasi Magetan: Kabupaten Magetan menerapkan berbagai program berbasis kolaborasi seperti "Bunda Sejahtera" (penanggulangan kemiskinan), "Ojek Ibu Hamil" (kesehatan), dan kebijakan seragam batik untuk pemberdayaan UMKM.
  • Filosofi Lokal: Budaya lokal, seperti filosofi "Gunungan Wayang", mengajarkan tentang keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan yang selaras dengan nilai-nilai SDGs.
  • Program KOMPAK: Program kolaboratif ini membantu pemerintah daerah dalam integrasi data (melalui sistem SAID) dan market facilitation untuk meningkatkan ekonomi petani dan UMKM.
  • Integrasi Data: Sistem informasi terpadu seperti SIBUBA dan SAID terbukti efektif menurunkan angka kematian ibu dan meningkatkan ketepatan sasaran bantuan.

Rincian Materi (Detailed Breakdown)

1. Pembukaan dan Konteks "Jatim Bangkit"

  • Pujian Fasilitas & Tujuan: BPSDM Provinsi Jawa Timur mendapat pujian atas fasilitas pelatihannya yang setara hotel bintang lima. Webinar ini merupakan bagian dari upaya pengembangan pasca-pelatihan ASN.
  • Visi Jatim Bangkit: Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memiliki visi "Jatim Bangkit" untuk pemulihan ekonomi pasca-pandemi, pengembangan SDM, dan penanggulangan kemiskinan.
  • Peran Kecamatan: Kecamatan memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi dan pelayanan, termasuk program "Kecamatan CERDAS" dan "CETAR" yang melahirkan inovasi seperti SIBUBA dan SAID.

2. Implementasi SDGs di Kabupaten Magetan

Bupati Magetan menjelaskan penerapan SDGs dengan fokus pada prinsip kemitraan (partisipasi, kesetaraan, akuntabilitas).

  • Goal 1: Tanpa Kemiskinan (No Poverty)
    • Program Bunda Sejahtera: Pinjaman syariah tanpa agunan bagi kelompok rentan. Dimulai sejak 2019 dengan 250 penerima, kini hampir 5000 penerima dengan tingkat kepatuhan tinggi.
    • Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH): Pemerintah memberikan stimulan dana, dan masyarakat melakukan gotong royong. Database RTLH dibuka transparan agar donatur bisa langsung membantu.
  • Goal 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger)
    • Program Makasih (Makan Lansia Sejahtera): Bantuan langsung untuk lansia sebatangkara yang tidak bisa bekerja, bekerja sama dengan warung tetangga.
    • Panti Lansia Mulia: Fasilitas perawatan bagi lansia yang membutuhkan perawatan intensif.
  • Goal 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health)
    • Ojek Ibu Hamil: Inovasi nasional Top 45. Menggunakan ojek wanita yang dibiayai Dana Desa untuk antar jemput ibu hamil ke posyandu/Bidan, mengurangi kematian ibu dan bayi serta stunting.
    • Konsep Center of Excellence: Setiap daerah mengembangkan spesialisasi layanan kesehatan tertentu (misal: Magetan untuk ibu-anak) untuk efisiensi.

3. Filosofi Budaya, Transparansi, dan Pemberdayaan Ekonomi

  • Filosofi Gunungan Wayang: Bupati Magetan menjelaskan bahwa "Gunungan" melambangkan alam semesta dan kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya, mencerminkan prinsip keberlanjutan (sustainability) SDGs.
  • Mall Pelayanan Publik: Magetan mengubah pasar yang tidak terpakai menjadi pusat pelayanan terpadu untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui transparansi.
  • Iklim Investasi & Kebijakan UMKM:
    • Kemudahan Investasi: Contoh PT Gudang Garam yang berdiri dalam satu tahun berkat koordinasi lintas instansi.
    • Kebijakan Seragam Batik: Mewajibkan ASN menggunakan Batik Khas Magetan pada hari tertentu, meningkatkan jumlah pengrajin batik dari 7 menjadi 47 kelompok, termasuk kelompok difabel.

4. Program KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan)

Program ini bekerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah (termasuk Jawa Timur) untuk mendukung SDGs.

  • Fokus Utama: Tata kelola pemerintahan desa, manajemen keuangan publik, pelayanan kesehatan dasar, dan pengembangan ekonomi lokal.
  • Sistem SAID (Bondowoso): Sistem Administrasi dan Informasi Desa yang mengintegrasikan data kependudukan, kesehatan, dan kemiskinan.
    • Memverifikasi data penerima bantuan sosial (DTKS).
    • Mengidentifikasi warga tanpa KTP/akta kelahiran.
    • Terintegrasi dengan SIKDA (kesehatan) dan program "Tetap Manis" (kemiskinan).
  • SIBUBA (Bondowoso): Aplikasi berbasis Android untuk memantau ibu hamil dan bersalin.
    • Mencatat riwayat kesehatan dan imunisasi.
    • Terhubung dengan SAID untuk penganggaran program kesehatan desa.
    • Dampak: Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 192 (2018) menjadi 177 per 100.000 kelahiran hidup.

5. Keperantaraan Pasar (Market Facilitation) di Trenggalek

  • Masalah: Petani jahe/biofarmaka sering merugi karena harga yang ditentukan tengkulak.
  • Solusi: KOMPAK memfasilitasi market intermediation dengan menghubungkan BUMDes Mas (Trenggalek) dengan industri besar.
  • Kerjasama Industri: BUMDes Mas bermitra dengan PT Bintang Toedjoe untuk pasokan jahe merah berkualitas.
  • Pendanaan: BUMDes Mas mendapatkan pendanaan 2 Miliar Rupiah melalui platform crowdfunding i-grow.
  • Dampak: Meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani serta akses pasar yang lebih luas.

6. Sesi Tanya Jawab dan Penutup

  • Cakupan Program KOMPAK: Fokus pada Pendidikan, Kesehatan, dan Kependudukan (Adminduk). Irigasi bukan fokus utama, tetapi bisa diusulkan melalui mekanisme participatory budgeting di desa.
  • Pengukuran Partisipasi: Melibatkan kelompok rentan (perempuan, difabel) sejak tahap pemetaan komoditas dan analisis masalah.
  • Kesinambungan Program: Meskipun program KOMPAK berakhir pada 30 Juni, inovasi dan modulnya tetap tersedia untuk direplikasi daerah lain melalui MoU dengan Pemprov Jatim.
  • Ajakan Penutup: Moderator mengingatkan ASN untuk menjadikan program yang berdampak pada masyarakat luas sebagai warisan, serta mengundang pada webinar seri berikutnya.

Kesimpulan & Pesan Penutup

Webinar ini menegaskan bahwa pencapaian SDGs tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendirian, tetapi memerlukan kolaborasi aktif dengan sektor swasta, masyarakat, dan lembaga mitra seperti KOMPAK. Inovasi daerah, baik dalam bentuk kebijakan yang pro-UMKM maupun pemanfaatan teknologi untuk integrasi data, terbukti efektif meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ASN diharapkan dapat mengadopsi best practice tersebut dan menerapkannya di wilayah masing-masing untuk menciptakan pelayanan publik yang inklusif dan berkelanjutan.

Prev Next