Transcript
ZnNTo5SPads • ASN Mengaji Seri 8 | 2025 - Fiqih Qurban (Eps. 02)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0233_ZnNTo5SPads.txt
Kind: captions Language: id Kita panjatkan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala atas rahmat, taufik, dan hidayah-Nya pada kesempatan siang hari ini kita dapat melaksanakan salat zuhur berjamaah sekaligus dilanjutkan dengan kajian dengan tema fikih korban. Para jemaah yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Kedua kalinya selawat salam marilah kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang telah memberi bimbingan tuntunan berupa agama Islam. Para jemaah yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Untuk kajian pada siang hari ini yaitu ASN mengaji kedua lanjutan dari kemarin dengan tema fikih kurban yang akan disampaikan oleh K. H. Abdul Faid Alfaizin. Kepada beliaunya kami persilakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Alhamdulillahi rabbil alamin. Wasalatu wassalamu ala sayyidil mursalin sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi wabarik wasallim ajmain. Qolu subhanaka la ilma lana illa ma alamtana innaka antal alimul hakim. Allahummaah alaina futuhal arifin waj'al a'malana kholisatan liwajhikal karim birahmatika ya arhamar rahimin. Rbisrohli sodri waassirli amri wahlul uqdatan m lisani yafqohu qoli. Amma ba'du. Para jemaah Masjid Al-Huda BPSDM yang saya hormati. Alhamdulillah kita oleh Allah masih diberikan nikmat sehat walafiat sehingga kita bisa berkumpul di masjid yang insyaallah penuh barokah ini. Semoga setiap langkah kita menuju masjid ini menjadi penggugur dosa-dosa kita, menjadi peningkat derajat kita, dan semoga Allah subhanahu wa taala selalu memudahkan setiap langkah kita menuju surganya Allah subhanahu wa taala. Amin ya rabbal alamin. Para jemaah, kita akan melanjutkan kajian tentang fikih kurban. Hari ini kita sampai kepada syarat hewan kurban. Syarat hewan kurban kemarin sempat disinggung ada empat. Satu, hewan ternak, dua usia mencapai minimal selamat, cacat, milik sendiri. Kita kemarin sudah membahas hewan yang bisa jikan kurban adalah hewan yang diternak. Hari ini kita akan masuk kepada usia minimal hewan kurban. Usia minimal hewan kurban itu ada beberapa. Ada domba. Jadi kambing itu ada dua. Ada kambing domba. Kalau kata orang Jawa kambing gibas nggih yang gemuk banyak gajinya itu ya. Kambing gibas nggih. Kalau kambing gibas itu usia minimal 1 tahun masuk 2 tahun. 1 tahun masuk 2 tahun. Dari mana tahu? Ya kita tanya ke peternaknya. Karena kan kambing gak punya KTP. Ya, tanahnya ke peternaknya 1 tahun masuk 2 tahun atau poel. Jadi pilihannya dua. Satu usia 1 tahun meskipun ndak poel atau poel meskipun ndak 1 tahun. Tahu poel nggih? M tahu poelinya. Ah, kalau kata orang Jawa poel. Kata orang Indonesia giginya tanggal. Jadi tandanya itu jadi tandanya 1 tahun meskipun gak poel atau poel meskipun kurang 1 tahun. Itu pendapat kuat dalam mazhab Syafi'i. Bukan berarti yang sudah poel kurban gak begini. Sama dengan usia usia baleg itu kan ada yang baleg karena haid, karena mimpi basah. Ada yang balik itu karena usia. Ada anak usia 10 tahun pernah haid, maka dia balik. Ada anak tidak pernah eh gak pernah mimpi basah tapi usianya 15 tahun, maka dia balik. Jadi balik itu kemungkinan ada dua, karena usia 15 tahun atau meskipun tidak 15 tahun tapi pernah haid kalau perempuan atau pernah mimpi basa. Sama dengan itu domba. Paham nggih pun? Makanya begini, ini sering saya sampaikan, saya wanti-wanti ke takmir-takmir masjid. Kalau ngadakan acara santunan anak yatim, maka usul saya ditambah santunan anak yatim dan duafa. Perlu ditambah dan duafa. Kenapa dan duafa ini penting meskipun remeh? Karena praktiknya banyak. ketika ada santunan anak yatim yang dipanggil itu anak usia SMP, SMA. Padahal zaman sekarang anak-anak SD kelas 5, kelas 6 itu sudah banyak yang haid. Maka kalau dia kemudian dipanggil dapat santunan anak yatim, batas anak yatim itu adalah balik. La yutma ba'dal buluk. Tidak ada yatim setelah balik. Oh, kalau balek masih yatim, saya sama jenengan banyak yatim piatu ini karena enggak punya bapak, enggak punya ibu. Kayak saya kan yatim piatu, enggak punya Bapak Ibu. Apakah kemudian layak dapat santunan? Gak lah. Makanya supaya panitia gak keliru, tidak dosa, maka perlu ditambah dan duafa. Kenapa dan duafa penting? Supaya nanti kalau yang dipanggil itu ada yang sudah nak yatim, mantan yatim. Karena dia sekarang sudah baligh, kan sudah bukan yatim. Tapi masih dapat, layak dapat atas statusnya duafa. Paham nggih? Tapi kalau jenengan santunan anak yatim tok, berarti kan orang yang ngasih itu kan untuk anak yatim ternyata tidak diberikan kepada anak yatim. Inilah letak kekelurannya yang bisa menjadikan tidak amanah. Ini yang kemudian perlu dipahami pun. Kalau kambing etawa, kambing etawa itu kambing, kalau kata orang Jawa kambing kacang sing punya janggut. He, kambing kacang punya janggut itu namanya kambing etawa. Kalau dalam bahasa kitab namanya maaz. Kalau kambing etawa itu bisa dijadikan sebagai kurban usia minimal 2 tahun masuk 3 tahun. Usia minimal 2 tahun masuk 3 tahun. Meskipun kalau dalam mazhab Syafi'i ada satu kil, ada satu ul dari mazhab Syafi'i ada satu kaul yang mengatakan 1 tahun boleh. Tapi pendapat kuat kalau kambing etawa itu 2 tahun masuk 3 tahun. Jadi kalau 1 tahun belum boleh. Nah ini yang banyak di kita kadang-kadang kambing etawa itu 1 tahun sudah jadi korban. Itu pendapat yang kuat masih belum nunggu dua 2 tahun. sama dengan sapi. Sapi itu bisa dijadikan korban minimal 2 tahun masuk 3 tahun. Tapi kalau unta usia minimal 5 tahun masuk 6 tahun pun. Lanjut. Para jemah yang saya hormati syarat kedua adalah syarat ketiga adalah selamat dari cacat. Cacat ini di hadis dikatakan arbaun la yajuzna. Ada empat hewan yang tidak sah dijadikan kurban, tidak cukup dijadikan kurban. Satu, alaura yang buta sebelah. Almarid almaridah albayin maruduha yang sakitnya parah. Wal arja albayin doluha. Pincang yang pincangnya jelas. Wal kasir allati la tungki dan hewan yang sangat kurus. Ada empat hewan yang oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dikatakan tidak sah dijadikan kurban. Dari empat hadis ini ulama kesimpulannya beda-beda. Tapi kalau kita mengacu kepada mazhab Syafi'i, kesimpulan mazhab Syafi'i yang dimaksud cacat yang menjadikan kurban tidak sah adalah cacat yang bisa merusak daging atau ngurangi yang dimakan. Kalau cacat tidak ngerusak daging atau tidak ngurangi yang dimakan, maka sah. Contoh. Contohnya apa? Contohnya telinga. Telinga kalau robek memanjang itu gak ngurangi. Makanya tetap sah. Contoh lagi PMK, penyakit mulut dan kuku. Dulu itu fatwa MUI mengatakan PMK itu sah. Kenapa kok sah? Asalkan gejalanya ringan. Kenapa kok sah? Karena penyakit mulut dan kuku itu tidak pengaruh ke daging. Jadi ternyata penyakit mulut dan kuku itu kata dokter hewan dagingnya masih aman. dikonsumsi manusia aman dan nanti penyakit itu dalam kalau dimasak sekian derajat celcius itu sudah akan mati. Artinya daging gak pengaruh paling cuma kadang-kadang kukunya ngelupas. Kuku ngelupas kan bukan yang dimakan tidak pengaruh. Makannya tetap sah. Jadi yang dimaksud penyakit yang kemudian menjadikan tidak sah itu kalau ngurangi daging, ngurangi yang dimakan atau menyebabkan kualitasnya kemudian jelek. Ini yang kemudian cacat yang dijadikan sebagai pedoman mazhab Syafi'i tidak sah untuk jadikan hewan kurban. Contoh, contoh beberapa hewan kurban yang tidak sah untuk dijadikan hewan kurban. Satu, al-amya. Hewannya buta. Buta ada dua. Ada buta gak punya mata. Ada yang punya mata tapi gak bisa melihat. Kalau di kitab mazhab Syafi'i, ciri hewan yang buta ngak bisa melihat. Hitamnya hitamnya. Hitamnya itu bola matanya kan biasanya ada hitam-hitamnya lah. Hitam-hitamnya itu tertutup putih. Kalau jenengan lihat sapi, lihat kambing dilihat. Jenengan kalau matanya hitamnya itu tertutup putih kemungkinan ini masuk kategori hewan yang tidak bisa melihat. Itu kalau mazhab Syafi'i gak sah. MTUAT lidahnya terpotong. Aljad'a hidungnya terpotong. Mungkin ada penjual rujak cingur ke susu. Cingore dijbek disik. Kemudian waktu adulun telinganya terpotong. Telinga kalau terpotong gak sah. Tapi kalau robek memanjang sah karena gak ngurangi atau ditindes. Karena ada airbag itu kadang-kadang ada ee apa namanya? Hewan itu kadang-kadang kan ditindes itu ya dikasih nama itu sah karena gak ngurangi tapi kalau dipotong gak sah. Asaka gak punya telinga. Kalau punya telinga tapi telinganya kecil sah. Tapi kalau mulai lahir gak punya telinga gak sah. Alarja pincang. Jazma yang enggak punya kaki mulai lahir. Aljazza terpotong ujung kelendar kantong susunya. Ngapunten. Kalau yang betina itu kan ada kelenjar susu. Kalau yang terpotong kelenjar susu itu nak sah karena ngurangi. Tapi kalau yang terpotong ngapunten torpedo hewan jantan atau kemaluannya hewan jantan itu sah. Kenapa? Inilah yang dikenal dengan hewan yang dikebiri. Kenapa kata ulama kalau yang terpotong torpedo jantan sama kemaluan jantan itu sah? Karena hewan yang dikebiri biasanya gemuk. Berarti terkuranginya potongan torpedo nggih. Kemudian terkuranginya ee potongan kelamin itu tergantikan dengan gemuknya hewan yang dikebiri. Dan Rasulullah di hadis sahih pernah korban dengan dua hewan yang dikebiri. Domba yang dikebiri. Ini kata ulama sah. Kemudian maktuatul alyah pantatnya terpotong. Matu atau zanab ekornya terpotong. Almarid albayin maraduha. Kenapa kok ekor itu penting? Karena ekor itu kan termasuk yang dimakan. Mahal itu sop buntut itu kan larang. Sop buntut. Jadi kalau terpotong gak sah karena itu masuk bagian inti. Kalau enggak ada buntut kan gak sop buntut. Makanya masuk kategori inti. Kalau terpotong gak usah. Pokoknya ngurangi yang dimakan atau ngurangi kualitas daging. Al aljfa yang sangat kurus. Aljarba kalau mazhab Syafi'i termasuk yang koreng. Almajnunah hewan gila. Ciri-ciri hewan gila itu biasanya kata ulama kalau di kitab itu andaikan dilepas di tempat gembalaan dia itu gak bisa makan kayak bingung gitu. Linglung. Itu tanda-tandanya pun. Lanjut. Nah, kapan cacat itu dianggap tidak sah? Yang penting sebelum disembelih. Jadi, jenengan beli hewan kurban sehat waktu diturunkan dari truk karena ndak ngerti diturunkan paksa jatuh pincang maka ndak sah jadi kurban. Atau waktu dirobohkan ketika sapinya kemudian mau disembelih teknik ngerobohkan gak ngerti. pokok asal tarik dijegal akhirnya pincang maka ndak usah jadi kurban. Jadi yang dimaksud dengan selamat dari cacat adalah sebelum disembelih. Makanya hati-hati. Pertanyaannya begini, Ustaz. Kalau ada hewan yang sudah kadung dibeli kemudian hewannya cacat sebelum disembelih, bagaimana? Boleh enggak disembelih? Boleh. Boleh enggak dibagi waktu hari raya? Boleh. Cuma enggak dapat pahala kurban. Dapat pahala sedekah daging biasa. Pahalanya beda. Jenengan sedekah saging, sedekah daging senilai Rp50 juta. Dengan jenengan kurban senilai cuma Rp3 juta. Pahalanya lebih tinggi kurban yang Rp3 juta. Jadi andaikan ada hewan caca dijadikan ee di disembelih pada waktu itu lad dibagikan gak masalah. nyembelihnya tetap sah, bagikannya juga tetap sah, tapi bukan kurban tidak dapat pahala kurban. Paham nggih? Jadi bukan berarti ketika cacat dibuang gak tetap sembelih gak apa-apa cuma enggak dapat pahala korban yang kemudian cacat yang harus dihati-hati ini tadi yang katakan hewan dikebiri sah dan Rasulullah pernah melakukan itu disembelih oleh Rasulullah hewan yang dikembiri dan ini ulama mazhab 4 sepakat dalam kitab Almausu alfikiyah alquwaiyah waqitt ala ijza almadahibul arbaah mazhab 4 sepakat hewan yang dikebiri itu sah. Tapi kalau yang terpotong adalah kelenjar susunya itu ulama kemudian ada yang mengatakan tidak sah. Pun lanjut. Ini tadi sudah saya katakan telinga kecil sah tapi kalau enggak punya telinga gak sah. Lanjut. Nah, Imam Nawawi menyebutkan ada lima cacat sah jadi kurban cuma makruh. Satu, jalha ndak punya tanduk. Karena tanduk ndak pengaruh ke daging. Karena tanduk gak pengaruh dengan yang dimakan. Kan gak ada subtanduk kan gak ada. Kemudian alsma pembungkus tanduknya pecah. Punya tanduk tapi pembungkusnya pecah gak sah. Ee tetap sah tapi makruh karena enggak pengaruh ke daging. Bahkan alazba tanduknya pecah. Kan biasanya kambing yang tanduknya besar itu kadang-kadang kan tarung. Kadang-kadang sampai tarung andaikan nyantol itu kan umpama mereka setelah tarung langsung dicabut kemudian patah itu tetap sah karena ndak pengaruh kepada daging pun. Asyar telungannya dilubangi. Alkharqo telinganya robek memanjang itu sah tapi makruh. Pun lanjut. Ini PMK tadi sudah saya jelaskan. Nah, ini sudah jelas kurban hewan betina. Kurban itu tidak harus jantan. Kurban akikah tidak harus jantan. Boleh kurban jantan, boleh kurban betina. Dan ini ulama ijmak dalam kitab almajmu dikatakan yasiut tadhiyatu bidzakari wil unsa bil ijmai. Ulama ijma kurban itu sah baik dengan hewan jantan maupun dengan hewan betina. Wafil afdol minhuma khilafun asahih alladzi nas alaihi syafii fil buwaiti wabihi qa katirun annzakar afdolu minal unsa. Urusan betina dan jantan itu bukan urusan sah atau tidak sah. Urusannya bukan baik atau tidak baik. Betina sama jantan itu urusannya lebih utama yang mana? Pendapat yang sahih yang diambil oleh kebanyakan ashabus Syafi'i mengatakan bahwasanya yang jantan lebih baik dibandingkan betina. Makanya kalau jenengan pengin kurban golek sing betina gak masalah, gak harus jantan dan lebih murah, Pak. Jenengan kalau pengin cari yang murah itu, Pak, golek hewan betina sing tuwek wis ndak iso manak iku biasanya murah, Pak. Saya kemarin ditawari itu di Pasuruan kambing besar usia 3 tahun wis ndak iso manakita tawarkan cuma R juta. E sampean mek dana pas-pasan golek sing koy ngene. Dana-dana pas-pasan golek sing koy ngene gak masalah. Tetap sah jadi korban. Cuma resikonya satu tuek alot biasa mek daginge tuek iku angane nek alot kan gak masalah kan tinggal cah cara masaknya kan bisa ditambah Pak yang penting kan sah ya kalau jenengan duit pas-pasan kan enak itu 4 juta sudah bisa dapat dua kambing itu bisa kurban dua dibandingkan yang harga-harga satu kambing R juta R juta mending beli yang seperti ini dapat dua besarnya gak kalah dengan yang R juta Nah, cuma begini, Pak. Cuma hewan itu kalau betina sa asalkan tidak hamil. Asalkan tidak hamil, tidak bunting. Kalau bonting itu tidak sah. Kenapa kok tidak sah? Karena kalau bunting itu oleh sebagian ulama dikatakan sebagai cacat. bunting itu dianggap cacat. Kenapa bunting dianggap cacat? Karena biasanya hewan yang bunting itu hewannya kurus karena gizinya diambil janinnya. Makanya ulama mengatakan tidak sahnya bukan karena betinanya, tapi karena buntingnya. Dan bunting itu termasuk cacat karena menjadikan hewan kurus. Ini pendapat yang kuat. Meskipun ada pendapat di antaranya adalah pendapatnya Ibnu Rif'ah yang kemudian mengatakan boleh disembelih dan sah karena dianggap bukan cacat. Makanya kalau saya kalau hewannya bunting tapi masih gemuk eah ikut pendapat Ibnu Rif'ah boleh dijadikan kurban pun Ustaz hewan hewan bunting itu boleh disembelih gak secara fikih boleh Pak tapi kalau jenengan bicara berperi kehewanan itu beda. Kan begini Pak animal welfare. Artinya adalah kesejahteraan hewan. Kesejahteraan hewan itu oleh Rasulullah diperhatikan. Makanya Rasulullah itu pernah menegur marah kepada orang yang nyembelai kambing. Ketika mau nyembelai itu lehernya diinjek mungkin biar gampang. Nah, yang bikin Rasulullah itu marah adalah ditegur. Ketika mau disembelih orang ini ngasah pisau di depannya kambing yang mau di sembelih. Ketika mau disembelih itu diasah gini, Pak. Kambingnya melihat itu Rasulullah kemarin mengatakan, "Jangan bunuh kambing itu dua kali. Mati sak dorunge disembelih." Itu kan sadis, Pak. Katanya dibelai pisaunya di loh itu kan sadis, Pak. Paham nggih? Makanya hati-hati, Pak. Di hadis yang lain, Rasulullah mengatakan hati-hati dengan hewan. Hewan itu gak bisa bicara tapi hewan itu bisa doa. Ada satu riwayat, ada satu riwayat, Pak. Kenapa Nabi Yakub itu dipisah dengan anaknya Yusuf? Ada satu riwayat yang mengatakan, "Karena Nabi Yakub itu pernah suatu ketika ketika Nabi Yusuf pengin makanan makanan dari daging-daging muda, beliau mencari anak kambing atau anak sapi itu disembelih tapi nyembelihnya di depan induknya." Jadi dia itu nyembelih ada anak sapi itu disembelih di depan induknya, Pak. itu si induk ndak terima. Si induk kemudian mengatakan, "Ya Allah, aku tahu Yaakub itu memang nabimu, tapi aku juga makhlukmu dan aku berhak dapat keadilanmu." Maka Nabi Yakub kemudian oleh si induk ibunya, anak kambing, anak sapi ini kemudian doa, "Ya Allah, sebagaimana Yakub menyakiti hatiku karena nyembelih anakku di depanku, maka aku minta keadilanmu, pisahkan Yakub dengan anaknya." Ya, makanya Nabi Yakub itu oleh Allah diuji dipisah dengan anaknya yang paling disenangi namanya Yusuf sekian puluh tahun sampai beliau itu saking sedihnya sampai buta. Makanya hati-hati Pak nanti kalau nyembelai itu Pak jangan seperti pembantaian Pak nyembelai kambing tuh kambing sapine dijejer tek ngarep ngono, Pak. Mari ngono sing disembelih di depan itu kan sadis, Pak. Bayangkan jenengan kambing yang belum disembelih, sapi yang disuruh disembelih disuruh lihat temannya yang disembelih. Bukan hanya disembelih, Pak. Mari disembelih di kuliti. Mari dikuliti, dipecel-pecel tek ngarepe yang belum disembelih. Apa enggak sadis itu? Andaikan dia bisa ngomong jerit. Itu yang dikhawatirkan bukan hanya jerit, dia doa kepada Allah Subhanahu wa taala. Makanya Rasul mengatakan, "Idza dzabahtum faahsinudzibhah." Kalau kamu menyembeleh, perbaiki caramu menyembelih. Kalau kamu pun harus membunuh, perbaiki caramu membunuh. Makanya penting kalau bisa itu kalau saya usul antara penyembelihan dengan hewan yang belum sembelih itu dipisah, Pak. Sembelih kemudian dipisah diambil, sembelih diambil pokoknya siji jangan sampai hewan yang mau disembelih dipertentonkan. Benar dipertentonkan. pembantaian temannya. Padahal dia mau disembelih. Paham ngih? Hati-hati pun hewan yang bunting. Dan ini banyak, Pak. Saya sering ngelihat. Kalau bicara sah, sah, Pak. Kalau bicara boleh fikih boleh, Pak. Tapi kadang-kadang ada aspek-aspek itu yang butuh etika, Pak. Paham nggih? Kalau sahnya sah, kalau ustaz sah kan? Ya sah, Pak. Khawatir kambingnya doa loh. Loh, jangan salah. Allah itu maha mendengar doa termasuk doanya hewan. Makanya Rasulullah, makanya begini, Pak. Kenapa kalau salat istisqa? Kenapa kalau salat istisqa? Tahu salat istisqa jenengan minta hujan itu kalau jenengan lihat salat istisqa itu semua hewan kan suruh keluar, Pak. Kenapa kok suruh keluar? Karena bisa jadi Allah nurunkan hujan itu bukan karena doa sampean. Doa sampean kedusoni Allah bisa jadi nurunkan hujan karena doanya pitik. Karena doanya kambing. Makanya ketika salat istisqa itu di lapangan manusianya suruh keluar, hewan-hewan suruh keluar. Loh, hewan itu bisa ngomong tapi kita enggak tahu bahasanya dan dia bisa berdoa. Paham nggih? Makanya hati-hati jenengan kalau nyembelai ya. Hati-hati pun ustaz kalau ada hewan bunting disembelih ketika dibedah ketika dibedah anaknya hidup maka anaknya kalau mau dikonsumsi mau dimakan harus disembelih ulang tapi kalau ada hewan bunting jenengan sembelih. Ketika sembelih kemudian perutnya dibedah ternyata ketika perutnya dibedah anaknya mati di dalam perut. Maka kata ulama, anaknya bisa dimakan, bisa dijadikan gule tanpa harus disembelih ketika dia mati di dalam perut karena ikut sembelihan induknya. Paham nggih? Pun. Lanjut. Kurban patungan. Kurban patungan di hadis Muslim dikatakan naharna ma rasulillah amal Hudaibiyah. Kami pernah menyembelih bersama Rasulullah di waktu Hudaibiyah albadana an saab'ah. Satu unta itu bisa untuk tujuh orang. Wal baqarah an sabah. Satu sapi untuk tujuh orang. Berdasarkan hadis ini, Imam Nawawi mengatakan dalam kitab syarah muslimnya, fi hadil ahadis dalalatun lajawazil istiroqi fil hadi wa ajmau ala anata la yajuzu al istirqu fiha. Rasulullah kemudian mengatakan bahwasanya boleh tuju untuk sapi itu menunjukkan yang bisa patungan itu hanya sapi dan unta. Untuk kambing tidak bisa patungan. Ini yang kemudian kata Imam Nawawi pun lanjut Pak. Bagaimana? Makanya kalau ada sekolah, ada kantor urunan R sewuan, R.000an tuku sapi siji itu bukan kurban latihan kurban. Mek SD cocok, Pak. Mek perkantoran ojo lah. BBSDM urunan piroan? Urunan ran tuku piro? sapi loro itu bukan korban apa latihan korban. Mosok wis gede-gede ngene sik latihan kan ndak cocok Pak. Mek anak SD, SMP latihan kurban urunan ran se cocok. Jenengan jangan wis tuku wedus siji-siji gitu loh. Enak patungannya sapi. Jangan 200 tuku sapi telu. Berapa jumlahnya seluruh karyawan? Jumlahnya berapa? 100. Wah. Itu namanya latihan korban. Mosok maen sik latihan. Nah, bagaimana dengan kurban untuk satu keluarga? Ada hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam riwayat Muslim ketika beliau menyembelih. Ketika beliau menyembelih hewan kurban, beliau berdoa, "Bismillah." Allahumma taqobbal min Muhammad wa Ali Muhammad wa umati Muhammad. Ya Allah terimalah ini kurbannya Muhammad, keluarganya Muhammad, umatnya Muhammad. Di hadis yang lain dikatakan dari Abu Ayyub al-Anshari, beliau mengatakan, "Kana rulyah anhu wa ahli baiti fayulunimun." Di zaman Rasulullah, orang itu biasa nyembelai kurban satu kambing untuk dirinya dan untuk keluarganya. Hadis ini, Pak, ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama ini yang dipakai oleh Asyaukani, Almubarok Furi, Ibnu Qayyim Aljauziyah. Kemudian beberapa ulama-ulama yang ini kemudian dipakai oleh teman-teman kita salafi. Apa itu? Satu kambing boleh diatas namakan satu keluarga. Ini di antaranya dalam kitab Zadul Ma'ad, Ibnu Qayyim Aljauziyah mengatakan, "Wakana min hadih anata tujziuli wa ahli baithu." Di antara petunjuk Rasulullah, beliau mengatakan satu kambing itu cukup untuk satu keluarga meskipun jumlahnya banyak. Imam Asyaukani dalam kitabnya Nailul Autar juga mengatakan walqu anahajzi ahlil baiti wau miin aksar bidika sunah. Pendapat yang benar menurut saya kata beliau satu kambing boleh atas nama satu keluarga meskipun jumlahnya 100 orang asalkan masih satu nafkah. satu nafkah nggih. Jadi kalau ma jenengan satu nafkah punya 100 orang itu satu kambing boleh atas nama keluarga. Nah, pendapat pertama ini yang kebanyakan dipakai oleh teman-teman Muhammadiyah, teman-teman Salafi. Biasanya teman-teman Muhammadiyah, teman-teman Salafi itu kalau korban atas nama keluarga. Tahun ini punya kambing satu atas nama keluarga Bapak Ahmad. Meskipun semuanya sepakat, Pak, kalau jenengan anggota keluarga lima, yang paling bagus ya lima. kambing. Tapi kalau ikut pendapat ini, andaikan punya satu kambing tetap boleh atas nama keluarga. Jun ini atas nama keluarga Bapak Ahmad, tahun depan atas nama keluarga Bapak Ahmad. Terus gitu. Ini pendapat pertama pun. Kalau pendapat kedua, pendapat mazhab Syafi'i. Meskipun nanti ujungnya hampir mirip, Pak. Kalau pendapat mazhab Syafi'i, beliau mengatakan kaidahnya tetap satu. yang namanya kambing satu orang. Karena itu dalam mazhab Syafi'i mengatakan kambing harus diatasnamakan satu orang bukan satu keluar keluarga. Lalu bagaimana dengan hadis tadi? Hadis tadi kata mazhab Syafi'i mengatakan hadis itu menunjukkan kurban itu sunah kifayah. Karena sunah kifayah. Kalau satu keluarga ada yang sudah kurban satu orang, kesunahan untuk yang lain gugur. Tapi tetap yang dapat pahala yang kurban. Sama dengan begini, ada orang meninggal. Orang meninggal itu kan mensalati, merawat jenazah itu kan fardu kifayah. Artinya kalau satu kampung ada yang meninggal, ada satu orang yang ngerawat sampai mensalati sampai kemudian mengkuburkan. Berarti satu kampung kan gak dosa. Pertanyaan saya, yang dapat pahala yang yang mana? Yang merawat yang lain dapat pahala gak? Gak. Kewajibannya yang gugur. Paham nggih? Jadi kata mazhab Syafi'i Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kurban atas nama umatnya itu artinya umatnya gugur. Sudah. gak wajib, tapi yang dapat pahala tetap yang kurban. Paham nggih? Pun meskipun kata mazhab Syafi'i, orang yang kurban boleh diniati pahalanya untuk satu keluarga termasuk untuk yang meninggal. Makanya tadi saya katakan teknisnya beda tapi ujung-ujungnya hampir mirip. Kalau yang pertama satu kambing untuk satu keluarga atas nama satu keluarga. Kalau yang ini nak tetap harus atas nama satu orang. Cuma yang kurban atas nama dia, dia yang dapat pahala. Karena dia yang dapat pahala, dia boleh meniatinya untuk keluarga satu keluarga dan untuk orang lain. Ini namanya attasyriq fisawab. Kalau dalam mazhab Syafi'i. Jadi kalau mazhab Syafi'i, Pak, saya anggota keluarga lima, saya istri, anak tiga, ada mertua enam berarti. Jadi kalau saya mau kurban punya satu kambing digilir tahun ini atas nama saya. Tapi pahalanya bisa saya niati untuk satu keluarga. Tahun depan saya sudah atas nama istri saya, tahun depannya lagi atas nama ibu mertua. Tahun depan lagi atas nama anak pertama, anak kedua, anak ketiga. Harus atas nama. Ini yang dipakai oleh teman-teman NU. Makanya biasanya Mas itu ada yang korban atas nama Bapak Ahmad. Berarti ikut pendapat mazhab Syafi'i. Tapi kan ada keluarga kurban atas nama keluarga Bapak Ahmad. Berarti ikut pendapat yang pertama. Yang benar yang mana, Ustaz? Sama-sama benar. Yang salah itu cuma satu, Pak. Duit akeh ndak kurban. Wut tok sing salah. Masalah kurban satu keluarga itu sama-sama benar. Sing enggak benar cuma satu du akeh gak gelok korban. Lanjut. Korban atas nama orang lain. Korban atas nama orang lain. Kalau orangnya masih hidup dan dia bukan anggota keluarga yang dinafkahi, maka wajib izin. Kalau tidak izin, mazhab Syafi'i tidak sah. Makanya dalam kitab alqalyubi dikatakan, "Wala tadhiyatail ghair alhayi bighiri idnih." Tidak sah kurban atas nama orang lain tanpa izinnya. Jenengan punya mertua, tapi mertua jenengan pisah rumah enggak dinafkahi ikut adik jenengan. Kemudian jenengan punya mbah, mbah jenengan ikut paman jenengan. Atau jenengan punya orang tua, tapi orang tua jenengan ikut saudara jenengan. Kan gak dinafkahi jenengan. Meskipun kita beberapa kali ngasih. Jadi kalau kita kurban atas nama beliau, pamit dulu, izin dulu, telepon dulu. Paham nggih? Pun bagaimana kurban atas nama almarhum? Pendapat di mazhab Syafi'i mayoritas mengatakan tidak sah kecuali wasiat. Kenapa? Karena kaidahnya kurban atas nama orang lain kan wajib izin. Izinnya orang mati itu kalau sebelum meninggal dia wasiat, "Nak, me aku mati, aku dikurbani." Itu berarti izin. Maka kalau orangnya wasiat, ulama sepakat atas nama almarhum sah. Tapi kalau tidak wasiat ini ulama berbeda pendapat. meskipun mayoritas ulama mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali itu boleh. Bahkan di antara mazhab Syafi'i ada beberapa ulama yang juga memperbolehkan. Kenapa? Beliau mengatakan liannaha dorbun minas shodqoh. Karena kurban itu kata beliau disamakan dengan sedekah. Orang sedekah atas nama almarhum butuh pamit gak? Gak butuh. Butuh wasiat gak butuh. Sama dengan itu kurban. Karena korban untuk almarhum sama dengan hadiah eh sama dengan sedekah. Paham? Nggih? Satu. Nomor dua, hadis yang tadi Rasulullah itu kan pernah kurban untuk umatnya. Pertanyaannya kata ulama, umatnya Rasulullah itu khusus yang hidup atau yang meninggal juga? Yang meninggal juga. Maka ketika Rasulullah korban atas nama umatnya, itu termasuk umatnya yang sudah almarhum. Paham nggih? Pun. Maka pendapat Miras ulama, kurban atas nama almarhum itu boleh dan ini yang paling banyak dipakai oleh Indonesia. Di masih jenengan banyak korban atas sama almarhum? Banyak. Cuma pilihannya begini, Pak. Pilihannya itu dua. Pilihan pertama, alternatif pertama kurban atas nama almarhum itu ya kurban atas nama beliau. Saya punya ibu almarhumah. Berarti kurbannya atas nama ibu saya. Almarhumah namanya siapa? Kemudian atas nama bapak. Berarti atas nama Bapak almarhum dinamakan beliau. Cuma kalau yang pertama yang dapat pahala cuma yang atas nama dan saya yang punya uang. Jadi kalau saya kurban atas nama ibu saya yang dapat pahala kan cuma ibu. Ayah saya kan yang tidak atas nama kan gak dapat. Kakek nenek enggak dapat. Ini kalau alternatif pertama. Alternatif kedua caranya begini. Tetap kurbannya atas nama kita. Jenengan kurban tetap kurbannya atas nama jenengan lah. Ketika jenengan kurban, jenengan niati pahalanya untuk ibu, bapak, kakek, nenek kan dapat semua kayak tadi itu. Paham nggih? Nah, makanya pilihannya dua, Pak. Cuma biasanya orang Jawa kalau gak atas nama itu gak lego. Kan enggak lego, Ustaz. Terus atas nama aja lego. Iya, enggak lego. Padahal sama saja, Pak. Kalau saya, nah kalau saya, kalau saya dulu ketika saya sudah mulai kuat korban beberapa tahun lalu kan sudah saya mulai istikamahkan kurban tiap tahun. Nah, itu saya gilir, Pak. Saya dulu selesai, anak saya selesai, selesai semua bapak saya, ibu saya tak atas namakan satu-satu dulu, Pak. Kemudian kakek saya atas nama satu, nenek saya semuanya selesai. Makanya mulai 2 tahun, 3 tahun ini saya kalau kurban atas nama saya karena sudah selesai semua. Nah, kurorban atas nama saya. Tapi pahalanya saya niati untuk keluarga saya, untuk bapak ibu saya, untuk kakek nenek saya. Sampan monggo pilihan jenengan. Monggo, Pak. Monggo pilihan jenengan. Pun gitu nggih untuk pilihan korban atas nama. Sama dengan begini, Pak. Jenengan kalau baca rbigfirli waliwalidaiya atau setelah salat astagfirullahalazim li waliwalidaiya. Kalau jenengan pengin mendoakan Bapak Ibu, rbighfirli waliwalidaiya pakai fathah. Berarti yang jenengan doakan Bapak, Ibu jenengan. Tapi kalau jenengan pengin mbah saya punya jasa ke saya, kakek saya punya jasa ke saya, saya pengin doakan selain bapak, ibu, kakek, nenek juga dapat. Maka jangan rbighfirli waliwalidaiya, tapi rbighfirli waliwalidiya. pakai kasroh. Robbigfirli waliwalidya, Pak. Jadi ada dua alternatifnya. Kalau waliwalidiyah artinya saya mintakan maaf untuk yang merahkan saya banyak, Bapak, Ibu, Kakek, Nenek. Paham nggih? Kakek, nenek. Jadi kalau jenengan mau ya tapi ini pilihan Pak. Pilihan kan kadang ada orang itu kangen Bapak Ibu pengin khusus Bapak Ibu berarti rbighfirli waliwaidya. Jadi kalau tulisannya begini, Pak. Rbigfirli waliwa kan gini ya. Rbigfir li waliwalidaiya. Yang pertama. Kalau yang kedua, rbighfirli waliwali diya. Rbigfirli waliwa waliwalidaiya. Ada yang waliwalidya. Kalau wali-walidiah berarti khusus Bapak Ibu. Tapi kalau waliwalidiah bapak dapat, ibu dapat, kakek nenek dapat. Paham nggih? Nah, tergantung jenengan. Sama kalau doa setelah salat kan bisa begini astagfirullahalazim kan begini. Astagfirullahalazzim. Ini kan astagfirullahalazim li waliwa lidayya ini sama Pak. Jenengan bisa baca waliwalidaiya atau waliwalidya. Kalau saya biasanya kalau setelah salat saya baca rbi astagfirullahalazim li waliwalidiya supaya bapak ibu saya dapat kakek nenek dapat. Tapi kalau saya biasanya, Pak, kalau selesai salat tuh ada dua bacanya. Sebelum kalau ngimami ya saya biasanya asalamualaikum warahmatullah asalamualaikum warahmatullah saya baca rbigfirli waliwalidaiya warhamhuma kama rbayani shogiro tiga kali. Setelah itu wiridan yang biasa itu astagfirullahalazim li waliwalidiya wali ashabil huk. Nah yang kedua itu saya pakai wali-walidya. Jadi yang astag rabbigfirli waliwalidaiyanya yang ketiga itu sudah dapat ya. Yang setelah itu saya baca waliwalidya supaya dapat semua. Bapak dapat, ibu dapat, kakek dapat, nenek dapat. Pun saya percepat kita fokus korban. Nah, ini nanti kita laksanakan, Pak. Jadi waktu kurban itu hanya tanggal 10 sampai tanggal 13. Yang wajib nyembelihnya, makannya terserah. Jadi, umpama jenengan disembelih tanggal 12 boleh. Makannya tahun depan gak masalah. Kecuali dalam kondisi pceklik itu Rasulullah pernah melarang. W ini tak percepat. Nah, saya fokus ke distribusi Pak karena ini penting bagi jenengan. Nanti yang hal-hal sunah kita di pertemuan selanjutnya. Hun kurban itu, Pak ada tiga. Ada kurban wajib, ada kurban sunah, ada kurban atas nama almarhum. Tadi kurban wajib ini kurban karena nazar. Contoh saya kalau anak saya lulus CPNS saya akan kurban kok. Ternyata lulus. Nah, kurbannya berarti wajib karena nazar. Saya kalau sembuh waktu sakit saya waktu sembuh keluar rumah sakit saya akan kurban. Kok sembuh? Maka kurbannya nazar hukumnya wajib. Paham nggih? Saya umpama yang belum nikah, saya kalau lamaran saya diterima saya korban kok ternyata diterima maka kurbannya wajib karena nazar. Ada kurban sunah. Kurban sunah yang korban yang seperti biasanya yang enggak karena nazar pokok tuku gawe kurban. Ada kurban almarhum. Ini beda-beda, Pak. Nah, kalau kurban wajib, kurban wajib itu, Pak, kalau mazhab Syafi'i, Pak, itu harus hati-hati. Karena kurban wajib itu kalau mazhab Syafi'i hanya boleh untuk fakir miskin. Korban wajib hanya boleh untuk fakir miskin. Orang yang kaya ndak boleh makan. Yang kurban ndak boleh makan. Panitia ndak boleh makan. Makanya kalau ada yang kurban wajib pisah, Pak. Kalau ada yang kurban wajib pisah. Setelah dipisah sembelai tersendiri. Pastikan mulai kulit daging sak tulang-tulangnya hanya untuk fakir miskin. Paham nggih? Pun. Makanya kalau saya usul panitia ngasih pengumuman sama jemaah. Bagi jemaah yang kurban nazar, tolong konfirmasi ke panitia. Kenapa kok perlu konfirmasi? supaya diperlakukan beda. Paham nggih? Nah, panitia mangan atau alternatif kedua, panitia tidak menerima kurban nazar kongkon bel dewe kan terserah terserah panitianya, Pak. Kan pilihan pilihan bagian paham nggih pun. Ini kurban wajib. Kalau kurban termasuk kurban wajib menurut pendapat mayoritas ulama mazhab Syafi'i, kurban wajib itu sama dengan kurban wajib adalah kurban atas nama almarhum. Loh, kenapa? Karena begini, yang paling berhak terhadap daging kurban itu kan orang yang kurban. Yang punya izin untuk membagikan kan yang kurban, Pak. Kalau kurbannya atas nama almarhum, pamitan izinnya gimana, Pak? Masa jenengan mau ke alam roh dulu pamitan gitu kan gak mungkin. Makanya mazhab Syafi'i pendapat mayoritas mazhab Syafi'i korban atas nama almarhum itu diberlakukan sama dengan korban wajib hanya untuk fakir miskin. Cuma kalau ikut pendapat ini, Pak, ribet, Pak. Apalagi kurban atas nama almarhum pakai patungan, Pak. Kan ada patungan tuh salah satunya almarhum. Iya. Kalau dipisah kambing ya, kalau umpama patungan kan agak ribet teknisnya ribet. Se bisa, Pak. Makanya saya untuk kurban atas nama almarhum saya anjurkan ikut pendapatnya Imam Assubuki. Imam Assubuki beliau mengatakan begini. Waqad fakartu fihil an liqosdil udhiya an walidi rahimahullah. Saya sekarang kepikiran untuk kurban an walida untuk kedua orang tua saya. Makanya beliau mengatakan walluahuq. Kata Imam Asubuki, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, menurut saya kata mazhab Syafi'i, izin kurban untuk almarhum itu bisa diwariskan. Karena bisa diwariskan maka ahli waris bisa makan dan ahli waris bisa membagikan kepada orang kaya. Makanya kalau ikut mazhab Assubuki, kurban atas nama alfu masih aman, masih bisa diperlakukan seperti kurban sunah. Paham nggih? Meskipun mayoritas ulama mazhab Syafi'i mengatakan seperti korban wajib, tapi kalau saya pribadi lebih cenderung ikut pendapat Asubuki, Pak. Karena praktiknya sulit, Pak. Saya beberapa kali di masa itu kalau kurban atas almarhum dipisah itu ngersulo, Pak. Panitia ngersul ribet, Ustaz katanya. Makanya saya enggak terlalu enggak terlalu ketat untuk ini. Saya ikut Imam Asubuki aja wis golek sing repotak golek sing gampang juga golek sing repot. Apalagi kalau ikut pendapatnya Hanafi. Hanafi sama dalam kitab Hasyah Ibnu Abidin dikatakan manhail mayit yasna yasna fi udyati nafsihi min tasad wal aql dan seterusnya. Orang yang korban atas nama mayit maka bisa diperlakukan sebagaimana dia korban sendiri. Paham nggih? Bisa seperti itu. Makanya saya enggak terlalu gak terlalu ketat Pak untuk korban almarhum. Pun sekarang kita bicara kurban sunah. Kurban sunah, Pak. Kurban sunah itu ada yang wajib minimum, ada yang sempurna. Yang wajib, yang wajib, Pak. Yang wajib itu adalah yang wajib. Kalau dalam kitab Muhnil Muhtaj dikatakan wal asah wujubqi bibiha wau juzan yasir minmhaqan. Kata mazhab Syafi'i, pendapat paling kuat kurban sunah itu wajibnya cuma satu. Ada daging yang disedekahkan meskipun kepada orang fakir satu dan harus mentah meskipun cuma sedikit. Jadi kalau umpama jenengan kurban gitu nggih yang penting ada satu daging 2 kilo lah. 2 kilo jenengan berikan kepada fakir miskin meskipun satu sisanya dimakan gak masalah karena yang wajib cuma itu Pak. Jadi m jenengan nggih kurban mele wedus ngih. Setelah bal wedus tonggone ono sing miskin dikii seteng sak kilo 2 kilo dikii sak kilo 2 kilo sisane sampeyan pangan dewe itu secara fikih sah tapi kenemenen yo kenemen kenemenen iki kurban dew tapi secara fekisah pak karena kewajibannya cuma ngasih orang fakir meskipun satu meskipun 1 kilo. Paham nggih? Cuma kalau bicara yang paling sempurna dibalik. Kalau yang paling sempurna dibalik, Pak. Dalam kitab Munin Muttaj dikatakan begini, wal afdol. Wal afdol yang paling sempurna, yang paling utama attasadduq bikulliha. Disedekahkan semua illa lukmatan lukmataini yatabarok biakliha. Yang punya kurban hanya sunah makan satu suap, dua suap cuma ingin dapat barokahnya. Paham nggih? Nah, tapi yo andaikan ada tipe yang pertama yo wis ojo diseneni, Pak. Tapi unik, unik aja gak diseneni tapi unik. Ono sing pert pertama ya unik. Tapi jangan sampai setelah pengajian jenengan pilih yang pertama. Cocok iki ustaz iki ya gak pak. Ambil yang kedua yang paling sempurna. Jadi yang paling sempurna dibalik ya incip-incip kita yang makan. Kalau kalau satu suapan, dua suapan itu berarti berapa kilo, Pak? Enggak sampai 1 kilo, nggih. 12 kilo lah jenengan. Jenengan yang paling sempurna itu jenengan ambil 12 kilo, jenengan makan sendiri. Sisanya sedekahkan semua. Tapi kalau bicara yang wajib sedekah 2 kilo sisane dipangan dewek kentongkone pun. Nah, kalau jenengan kurban, Pak, kata ulama, daging yang paling bagus apa? Anggota tubuh yang paling bagus untuk dikonsumsi sendiri sebagai bentuk tabaruk adalah alkab, jantung atau hati. Itu yang paling bagus. Paham? Nggih pun. Nah, ini penting, Pak. Jadi, jadi yang wajib itu cuma tiga, cuma pertama, Pak. Makanya begini, Pak. Kalau saya usul, Pak, ke panitia itu, Pak. Ada satu orang panitia itu yang punya tugas ngambili daging dari masing-masing hewan untuk dipisah. Contoh, kita dapat 20 kambing, dapat 10 sapi. Teknisnya begini, untuk memastikan yang wajib. Yang penting kan yang wajib, Pak. Sisanya kan aman. yang wajib itu supaya pasti. Maka usul saya, usul saya supaya pasti ada satu orang yang tugasnya ngambili. Jadi umpama ada 20 kambing maka dia ngambil masing-masing kambing diambil dagingnya. Berapa? Terserah kebijakan panitia. Umpama masing-masing hewan diambil satu paha, monggo. Umpama diambil 3 kilo, monggo. Jadi kalau diambil satu paha, ada satu orang setelah disembelih berarti kan ada 20 kambing, ada 10 sapi. Berarti dia ngambili 20 paha dari 20 kambing, 10 paha dari 10 sapi yang beda-beda. Ini dipisah. Setelah dipisah, yang dipisah ini pastikan nyampai ke fakir miskin. sisanya aman, dimakan sendiri boleh. Karena kurban sunah yang penting yang wajib sudah orang kaya boleh makan. Orang kaya boleh makan, yang kurban boleh makan. Paham nggih? Nah, kalau praktiknya yang ada di masyarakat begini, Pak. Kambing disembelih semua dijadikan satu kambing kambing tok. Sapi sembelai semua dijadikan satu sapi tok. dipecel-pecel, dipotong-potong, dicampur. Yang saya khawatirkan, Pak, kalau di desa masih agak aman, Pak. Karena di desa itu banyak orang miskinnya, Pak. Paling sing sugih yo sing kurban. Tapi kalau di perumahan, perumahan-perumahan kota ini resiko. Kenapa resiko? Karena semuanya pada kurban nanti dibagikan ke warga yang warganya mayoritas kaya. Nah, yang kalau praktik kedua dicampur, Pak. Yang saya khawatirkan nanti ketika dibagi ada satu hewan yang yang wajibnya enggak terlaksana. Ada satu hewan yang tidak ada daging sama sekali yang diberikan ke fakir miskin. Ini yang menjadikan masalah supaya memastikan itu. Tadi usul saya ada satu orang bagian ngambili masing-masing hewan 1 kilo, 2 kilo, satu paha ambil pisah bagikan ke fakir miskin. Pak Ustaz cari fakir miskin seperti apa? Gampang Pak. J kan kalau jadi takir masjid tak marbot-marbrot masjid bagian tukang-tukang sahabat itu kan banyak miskin Pak. Cuman kalau kemudian di perumahan-perumahan itu kemudian tukang saptam, tukang-tukang bersih itu kan miskin-miskin Pak. Berikan ke mereka Pak perkara mereka nanti dapat tambahan gak masalah yang penting yang wajib sudah selesai Pak. Paham nggih? Ada yang tanya ke saya, "Ustaz, boleh gak kurban itu dibuat sarapan panitia?" Boleh. Syaratnya cuma tiga. Syaratnya tiga, Pak. Satu, bukan kurban wajib. Karena nanti kurban wajib kan hanya untuk fakir miskin. Nomor dua, selain kurban wajib, yang nomor dua yang wajib sudah terlaksana. Apa yang wajib? Jenengan tentukan dulu yang mau dikorbankan yang mana yang mau dijadikan sebagai sarapan. Setelah itu ambil satu paha. Dan ini kurban sunah. Setelah diambil satu paha, satu paha ini berikan ke fakir miskin. Sisanya untuk sarapan boleh. Tapi usul saya yang ketiga apa? Pamit sama yang punya hewan. Untuk memastikan yang punya hewan rela ikhlas mengizini hewan kurbannya dijadikan sarapan. Paham nggih? Pun caranya seperti itu. Pun lanjut Pak. Nah, menjual daging kurban intinya satu, Pak. Kurban itu yang boleh menjual hanya satu. Orang miskin selain orang miskin gak boleh menjual, yang kurban gak boleh menjual. Panitia wakilnya yang kurban juga ndak boleh menjual. Orang kaya hanya boleh makan. Jadi begini begini, Pak. Ini penting. Ini saya ingin sampaikan, Pak. Jadi kurban sunah ya. Ini bicara kurban sunah. Kurban sunah itu ada tiga, Pak. satu ada dimakan atau bahasa kitabnya al-aqlu. Ada yang kedua sedekah. Ada yang ketiga hadiah atau it'am bahasanya. Ada beberapa kitab menggunakan hidayah atau mengatakan idam. yang sama sajalah saya ambil hadiahlah. Dimakan ini bagiannya orang yang kurban. Jadi berkurban itu dapat bagian untuk dimakan dia dan keluarganya. Yang paling baik dia hanya ngambil sedikit supaya dapat barokahnya saja pun. Bagi pengkorban nak boleh dijual. Dia hanya boleh memakan. Ada yang sedekah. Sedekah ini untuk fakir miskin. Untuk fakir miskin. Syaratnya harus mentah. Yang wajib harus mentah. Nomor tiga, jadi milik. Karena jadi milik, maka yang diterima fakir miskin apapun itu namanya sedekah. Jadi miliknya dia. Karena jadi miliknya dia. Mau dimakan sendiri boleh, mau dijual boleh. Jadi umpama ada orang miskin punya kenalan 10 takmir, kenal apik. Jadi dia waktu kurban itu dapat 10 bungkus. Per bungkus 2 kilo. Berarti dapat berapa, Pak? 20 kilo kan gak duwe kulkas. Wong miskin gak ada kulkas. Dia mikir tak pangan kabeh kolesterol iki. Akhirnya dia ngambil cuma 1 kilo. Satu wadah 1 kilo, 2 kilo. Sisanya oleh dia dijual. Boleh gak? Boleh kalau fakir miskin. Karena itu sedekah jadi miliknya. Tapi kalau orang yang korban gak boleh. Yang ketiga hadiah. Hadiah ini, Pak untuk orang kaya. Boleh mentah, boleh matang. Paham nggih? Boleh mentar, boleh matang. Cuma bukan milik. Karena bukan milik orang kaya hanya boleh makan ndak boleh dijual. Jadi umpama sampeyan punya kenalan takmir banyak, sampeyan du akeh sugih. Ndak boleh. Setelah itu pikir-pikir iki tak dolang tukang bakso koy payu iki. Ndak boleh Pak. Orang kaya hanya boleh makan sendiri. Ustaz boleh gak daging kurban dijadikan bakso? Boleh kalau baksonya dimakan bukan dijual. Paham nggih? Kalau bagi orang kaya loh nggih. Tapi kalau bagi orang miskin boleh, Pak. Dia dapat daging banyak weman iki tak gawe bakso wae tak dol. Karena itu menjadi miliknya orang masing-maskin. Paham nggih? Pun lanjut. Nah, terakhir-terakhir ini waktunya terbatas Pak. Termasuk alokasi nonmuslim, Pak. Non muslim itu beberapa pendapat ulama yang penting anu ada beberapa ulama yang mengatakan boleh dikasih asalkan bukan kurban wajib dan kewajiban pertama sudah dilaksanakan. Makanya Pak biasanya di perumahan itu, Pak, perumahan-perumahan kayak saya ngaji di Citral itu kan banyak orang kaya termasuk nonmuslim. Ada beberapa Quran seperti itu, Pak. Makanya yang paling penting itu tadi yang wajib ada satu orang itu loh, Pak yang bagian itu memastikan itu. Setelah itu kan aman. Andaikan ada yang diberikan kepada yang kaya gak masalah, bahkan kepada nonmuslim pun kan sudah gak masalah. Karena yang wajib sudah selesai. Paham nggih? Oh, makanya paling penting lah ini yang jarang, Pak. Makanya pentingnya ngaji seperti itu ini, Pak. Makanya jenengan nanti setelah ngaji bisa jadi e jadi panitia, jadi penyuluh lah. Jadi penyuluh. Penyulu ke takmir-takmir cara yang benar seperti apa. Ngoten nggih. Pun. Nah, terakhir ini Pak. Terakhir seik kulitkulit kepanitia nanti kita kulit Pak. Ee sebelum kepanitiaan saya kulit. Nah ini kulit Pak. Kulit tidak boleh diberikan kepada tukang jagal sebagai upah. Termasuk ndak boleh diberikan kepada panitia atas nama upah. Tapi kalau tidak atas nama upah boleh. Contoh tukang jagal kita sudah ngundang dia, "Pak, sampean nyembeleh nanti di masjid saya. Kalau kambing sampean tak kasih upah 200, sapi sampean tak kasih upah 500." Kan sudah jelas upahnya, jelas. Nanti kalau dia nyembelih di 200 per ekor kambing, 500 per ekor sapi. Cuma karena dia juga warga, jenengan kasih dia kulit atas nama warga. Boleh paham nggih? Kalau dia miskin boleh dijual. Kalau dia kaya hanya boleh dipakai. Apakah dipakai untuk kerajinan? Apakah dipakai untuk jidor? Terserah dia. Paham nggih? Sama dengan ustaz. Boleh enggak tukang jagal dikasih kepala? Kalau jadi upah gak boleh, Pak. Sampean bel engahi nase gak boleh. Tapi dia sudah dapat upah, Pak. Sampean ini upahnya 200, ini upahnya 500 untuk sapi. Tapi karena dia juga warga dii endas atas nama warga. Boleh apa gak? Boleh. Karena bukan atas nama upah. Sama dengan mantinya juga sama. Paham nggih? Pun. Solusi kedua, Pak. Solusi kedua kalau saya yang boleh menjual kan fakir miskin. Kalau saya usul ke takmir-takmir masjid, kulit-kulit itu jangan dibagi. Kalau dibagi gak bermanfaat, pasti terbuang. Biarkan kulit itu u utuh. Bagaimana caranya, Ustaz? Carikan fakir miskin. Berikan ke dia, panggilkan pembeli, biar pembelinya membeli dari fakir miskin. Jadi, contoh jual panitianya, Pak. Nanti orangnya dikasihkan ke atas. Nah, kalau yang menjual panitianya kalau ikut mazhab Hanafi boleh. Jadi alternatifnya dua. Kalau saya alternatif yang paling enak yang pertama karena semua ulama sepakat boleh. Jadi jenengan berikan ke fakir miskin biar yang menjual fakir miskin panggilkan pem beli caranya carikan ada marbot tukang sapil pak ini bagian sampean panggilkan pembeli. Alternatif kedua kalau ikut mazhab Hanaf ya tadi yang jual panitia tapi wajib hasil penjualannya untuk fakir miskin. Yang enggak boleh itu begini, Pak. Yang enggak boleh ng yang enggak boleh yang jual panitia hasil penjualannya untuk operasional. Nah, ini yang enggak boleh. Ini enggak boleh, Pak. Nggih. Iki sing akeh biasane. Kalau yang kedua sih masih ada ulama yang memperbolehkan Hanafi. Jadi, dijual diberikan fakir miskin. Paham nggih? Pun. Boleh gak, Ustaz? Kurban kulitnya dijadikan sebagai beduk. Beduk kan gak dijual, Pak. Kecuali beduknya dijual. Tapi kalau beduknya masjid jenengan boleh asalkan diberikannya ke takmirnya. Pak ini bagian sampean kulit. Oh i wis tak pakai untuk beduk gak apa-apa karena kan gak dijual. Paham nggih? P ini yang kemudian untuk kulit. Kalau usul saya kayak pertama Pak Paling enak paling pertama pun terakhir Pak. Terakhir kepanitiaan ini karena penting Pak untuk yang lain teknis itu bisa dia saya undur ke panitiaan Pak. Satu, panitia itu statusnya wakil dari orang yang kurban. Nomor dua, karena panitia itu statusnya wakil, maka panitia operasionalnya nak boleh diambilkan dari kurban. Harus minta kepada yang kurban. Makanya nanti kalau jenengan pakai patungan, jenengan anu, Pak. Patungan bagi yang patungan masjid Rp3.500 itu niatnya apa, Pak? patungan kamb eh patungan sapi plus opera supaya nanti kalau jenengan dapat uang 20 R juta 500 kali orang tu berarti sekitar berapa, Pak? 24 eh 24 berarti yang eh 24 ngih 245 25 nggih eh 24 24,5 lah 24,5 kan jenengan bisa beli kambing eh beli sapi yang harga R juta yang R5uta kan operasional atau jenengan biasanya kalau di masjid-masjid di desa saya bagi yang kurban mandiri kurban mandiri dia yang beli sendiri itu kalau bisa panitia minta operasional gak boleh kemudian ngambil dari penjualan kulit gak boleh minta operasional. Paham nggih? Karena itu kepentingannya orang kurban pun. Karena kepentingannya orang yang kurban kewajiban nyembelih kewajiban bagi itu sebenarnya kewajiban orang yang kurban karena itu kan ibadahnya dia. Yang dapat pahala dia. Bukan kepentingan masjid. Karena bukan kepentingan masjid, ndak boleh pakai operasionalnya dari dana masjid. Wong bukan kepentingannya masjid. Paham nggih? Dana masjid gawe seragam panitia. Wong bukan kepentingannya masjid. Dana masjid gawe sarapane panitia kurban ndak boleh. Wong bukan kepentiangannya masjid. Paham nggih? Dana masjid gawe bay bayari tukang jagal gak boleh. Bukan kepentingan masjid. Bahkan kalau menggunakan peralatan yang memang murni milik masjid, kepanitiaan kalau bisa memberi uang kas. Contoh, kurbannya di masjid, pakai air masjid. Yang bayar PDF-nya masjid, ya. Kepanitiaan ambilkan operasional untuk bayar kas masjid. Paham nggih? Pun. Nomor tiga, kurban itu karena dia wakil, maka wakil itu hanya boleh melaksanakan apa yang diwakilkan. Makanya kalau bisa panitia itu kepada orang yang kurban pamit, "Pak, ini saya minta izin pembagian hewan kurban pasrah penuh kepitia." Paham nggih? Pun. Karena begini, Pak. Orang yang kurban itu yang paling berhak, karena yang paling berhak andaikan ada orang korban minta kepala dari hewan kurbannya boleh, "Pak, saya korban sapi, saya minta kepala." Wajib dikasih, Pak. Pak, saya korban kambing. Saya minta satu paha. Wajib dikasih. Karena yang paling berhak terhadap hewan kurban adalah dia. Yang gak wajib dikasih itu, Pak, kalau kurbannya kambing njaluk endase sapi itu gak wajib dikasih. Loh, mintanya boleh, Ustaz. Me mintanya boleh. Siapapun minta boleh, Pak. Tapi panitia ndak wajib ngasih. Boleh dikasih, boleh gak dikasih. Tapi yang kayak pertama wajib dia minta kepala dari hewannya dia wajib dikasih ngoten nggih pun sebenarnya banyak masih banyak tapi tinggal yang sunah-sunah nanti kita lanjutkan di pertemuan selanjutnya karena waktunya sangat terbatas. Kalau ada yang mau ditanyakan saya persilakan. Monggo. Terima kasih, Pak, waktu yang disampaikan kepada saya. Yang saya tanyakan masalah akikah dan korban. Nggih. Apakah daging akikah itu pihak keluarga boleh ikut makan, Pak? Terima kasih. Oke. Yang penting bukan akikah wajib, Pak. Yang penting bukan akikah. Hakikah wajib itu nazar. Ya, kalau akikah sunah itu masih aman, Pak. Jadi, akikah sunah itu boleh, Ustaz. Akikah sunah boleh gak dijadikan selamatan? Boleh. Karena akikah itu kan sunahnya dibagikan matang. Kalau selamatan kan matang. Paham. Nggih. Itu kalau akikah. Tapi kalau korban yang penting, Nah, kalau yang korban ini masalah. Kalau yang umpama selametan orang kaya, karena orang kaya itu kalau mazhab Syafi'i hanya boleh makan sendiri gitu. Nggih. Pun ada lagi? Monggo. Satu lagi, Ustaz. Tadi yang latihan korban itu sak disembelih di luar hari Tasrik enggak apa-apa nggih. Kalau kurban gak boleh, Pak. Kurban itu mentok tanggal 13. Oh, yang latihan itu jangan latihan. Oh, latihan. Kalau latihan korban, Pak, disembel sebelum salat ID boleh, Pak. Wong jenenge latihan wis engok mek gawe sarapan ae durunge salat latihanku bebas. Setelah tasrek boleh jangankan setasrek, sebelum id boleh wong latihan karena bukan korban ya. Bel saiki yo ndak apa ndak usah ngenteni latihan bel saiki boleh gitu nggih nggih pun ada lagi monggo kalau saya usul gini Pak dibandingkan jadi latihan nggih kalau perusahaan nggih saya mama punya perusahaan karyawan saya banyak supaya tetap dapat pahala kurban digilir aja Pak digilir wis iki sodakoqahe perusahaan sodakoqahe perusahaan kepada atau jenengan urunan nggih berarti umpama saiki gilirannya siapa gilirannya Bapak A Ya wis semuanya sodqah ke Pak A. Bapak A nanti yang beli kambing atas nama beliau berarti kan dapat pahala beliau. Tapi sampean dapat pahala sodqah. Paham nggih? Jadi biar ada yang dapat pahala kurban, Pak. Kalau usul saya loh. Tapi kan ini tergantung Pak kan ada yang enggak cocok. Ndak nak ustaz umurku saiki tuek ngenteni kapan ngenten mati engok gawit giliranku. Ya kan ini kan pilihan Pak. Kalau saya katakan lagi ini pilihan. Tapi kalau jenengan dibandingkan gak ono sing oleh ganjaran kurban blas ya kalau ursul saya kalau karyawan cuma 5 tujuh beli kambing satu kan berarti kan 7 tahun ya dibuat kayak tadi itu. Jadi sekarang atas nama Bapak Ahmad ya sudah semua orang tujuh ini sodqah ke Pak Ahmad Pak Ahmad beli kambing atas nama beliau berarti kurbannya beliau tahun depannya lagi seperti itu. Berarti kan tetap dapat pahala korban Pak Ahmadnya. Jenengan tahun depannya meik urip oleh ganjaran giliran korban. Nah, yang sodqah dapat pahala sodqoh gitu nggih. Pun ada lagi? Monggo. Cekap cekap ngih cekap. Waktunya memang terbatas. Semoga menjadi ilmu manfaat barokah. Semoga kita Allah jadikan orang yang istikamah dalam kebaikan. Amin ya rabbal alamin. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahabbilamin. Allahumma shalli wasallim ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Rabbanafirlana waliwalidina warhamhum kama rabbauna sigaro. Allahummafna bima alamtana waimna ma yanfauna wazidna ilma. Rabbana la tuzil qulubana ba'da idada wahablana min ladunka rahmah. Innaka antal wahab. Rabbana hablana min azwajina wurriyatina qurata a'yun waja'alna lil muttaqina imama. Rabbana fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaabanar ala sayyidina muhammad waa alihi wasbihi wasallam. Subhanaabbikail izzati amma yasifun wasalamun alal mursalin. Walhamdulillahiabbil alamin bibarokatil fatihah. Ini yang bisa saya sampaikan. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Subhanakallahumma wabi bihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik waalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Terima kasih. Demikianlah tadi ASN mengaji syari 8 episode 2 dengan tema fikih korban. Semoga memberi pencerahan terhadap semua jemaah dalam melaksanakan korban. Kurang lebihnya mohon maaf. Akhirul kalam wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.