Transcript
ldMSw_XASQo • ASN Belajar Seri 25 | 2025 - ASN Meraih Asa: Belajar Sepanjang Masa, Mengabdi Sepanjang Usia
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0241_ldMSw_XASQo.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
Selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
menjadi ASN berakhlak mulia,
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN getar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
kelas dunia
bukan tekadera
jadi ASN
berkewajiban
servis.
[Musik]
Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam
webinar ASN belajar yang dipersembahkan
oleh Corporate University SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur.
Sebelum memulai webinar, ada beberapa
hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar
acara dapat berjalan dengan lancar.
Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan
format. Nama strip asal instansi Sobat
ASN.
Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi
kamera tidak membelakangi cahaya ya,
agar wajah Sobat ASN dapat terlihat
lebih jelas.
Tiga, gunakan virtual background yang
sudah disediakan.
Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link
pendaftaran, virtual background dapat
diunduh pada link yang dikirimkan
melalui pesan WhatsApp.
Empat, apabila Sobat ASN ingin
mengajukan pertanyaan atau
berpartisipasi interaktif, Sobat ASN
dapat menggunakan reaction angkat tangan
atau rise hand pada Zoom meeting.
Lima.
Bagi sobat ASN yang mengikuti webinar
melalui live YouTube BPSDM Jatim TV
dapat menuliskan pertanyaan melalui
kolom live chat.
Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis
untuk mencatat hal-hal penting, ya.
Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain
untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini
dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN
tentang materi yang disampaikan oleh
narasumber.
Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat
pada webinar ini, Sobat ASN wajib
mengisi link presensi yang akan kami
bagikan pada saat acara webinar
berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi
lembar penilaian dan kuesioner juga agar
e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh.
Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN
perhatikan selama mengikuti webinar ini.
Tetap semangat dan selamat mengikuti
webinar ASN Belajar.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Kami mencoba menjadi yang terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati.
Barlah kami junjung teguhkan diri dan
jadikan pedoman serta kekuatan
yang hadir di sini untuk mengabdi
laksanakan tugas ke bangga negeri.
Memerentas
melayani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Kami dari sini
dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Melayani bangsa loyal tanpa batasannya.
Selalu adaptif dan berkolaborasi.
Tangan satu tujuan tujuan. Jadikan ASN
lebih berakhlak.
bekerja sepenuh hati, tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa.
[Musik]
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
bergandeng tangan. Satu tujuan
untuk menjadikan AS yang lebih beragung.
beras penuh hati tulus membantu sesama
diang kami melayani.
Didah kami melayani
di mana kami melayani
Bapa
[Musik]
H
[Tepuk tangan]
[Musik]
asalamualaikum warah warahmatullahi
wabarakatuh. Ee perkenalkan nama saya
Trisula Adi Saputro dari Badan Pengelan
Keuangan dan Naset ee Pengeluang
Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten
Magetan. Ee alhamdulillah ee hari ini
kami melakukan tes uji kompetensi
pengelola keuangan daerah. Ee saya
selaku bendara pengeluaran alhamdulillah
dengan menguji kompetensi ini bisa
menguji kompetensi kita apakah kita
layak untuk menjadi bendara pengeluaran.
ee pesan-pesan untuk teman-teman yang
lain ee bisa memaksimalkan apa
pengetahuannya untuk meningkatkan
kompetensinya selaku pengelola keuangan
daerah. Kemudian untuk saran untuk PPSDM
Provinsi Jawa Timur ee
selama kami di sini alhamdulillah
pelayanan cukup baik dan memuaskan
sehingga kami bisa nyaman dan bisa
mengikuti ujian dengan nyaman juga.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Halo,
asalamualaikum. Nama saya Dias
Karismadani. Saya dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Mojokerto. Eh, hadir di sini
untuk mengikuti sertifikasi kompetensi
keuangan daerah. Kemarin hadir
panitianya dari BPSDM benar-benar luar
biasa. Penyambutan mulai dari depan
sampai ke registrasi itu panitianya
ramah sekali. Terus begitu masuk ke
kamar ee semua fasilitasnya juga sudah
memadai mulai dari makan, kamar tidur,
kamar mandi, semuanya bersih. Untuk
jalannya tes juga sudah terschedule
dengan rapi, dengan tertib sehingga kami
bisa mengikuti dengan nyaman dengan bisa
fokus dan bisa mendapatkan hasil yang
terbaik. Harapan kita ke depan adalah
mungkin BPSDM bisa lebih sering
mengadakan kegiatan atau untuk
webinarnya lebih berfokus kepada masalah
keuangan daerah, terutama yang untuk
daerah-daerah yang kan masalahnya
berbeda-beda setiap daerah. Jadi bisa
lebih sering untuk mengadakan yang
bertema tentang keuangan. Terima kasih.
Wasalamualaikum.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi semuanya. Saya
Dian Asuti Perwandani dari Dinas
Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga
Kabupaten Magetan hari ini ikut
mengikuti diklat ee sertifikasi
kompetensi pengelolaan keuangan di
BPKPSD ee Provinsi. Terima kasih
panitia. luar biasa ee pelaksanaan dikat
lancar dan kami ee selama mengikuti
dikat di sini ee sangat sangat nyaman
sekali dan harapannya untuk PKPSDM
Provinsi ee membeli kuota tambahan biar
teman-teman kami yang berada di
kabupaten kota sekitar seluruh provinsi
bisa mengikuti dikat sama sehingga kami
dalam rangka melaksanakan pengolan
keuangan di kabupaten kota ee dapat
menyajikan laporan yang akunabel
transparasi. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Perkenalkan nama saya Budi Fajaruddin
asal dari Kabupaten Nganjuk ee Kecamatan
Patian Raowo. Ee kami mengucapkan terima
kasih
atas ee fasilitasnya di mana kegiatan
ini bisa berjalan dengan baik dan bisa
menambah ilmu semua rekan-rekan sehingga
apa yang kita lakukan di pemerintah
daerah akan bisa menjadi maksimal.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Nama saya Sumilan dari Kecamatan
Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Peserta ujian sertifikasi kompetensi
pengelolaan keuangan daerah angkatan
pertama di BPSDM Jawa Timur di Surabaya.
kesan-kesan selama mengikuti acara
sertifikasi kompetensi pengelolaan
keuangan di sini, saya sangat ee
bangga, sangat menambah pengetahuan dan
harapan ke depan ee dari sisi kami, dari
sisi saya, pengetahuan-pengetahuan,
pembelajaran-pembelajaran yang saya
dapat di sini bisa diterapkan di OPD
bisa untuk perbaikan-perbaikan di OPD
dan ee harapan
terkait dengan penyelenggaraan
kompetensi di BBSDM Jawa Timur di
Surabaya mudah-mudahan ke depannya bisa
ditingkatkan lagi. Utamanya terkait
jaringan waktu wawancara ini ada sedikit
kendala sempat putus Pak jaringannya.
Demikian,
terima kasih. Perkenalkan nama saya Dewi
Ratnani Utami. Saya bendahara dari Dinas
KB Kabupaten Magetan. Kesan-kesan saya
saat mengikuti diklat di BKPSDM
Jawa Timur ini ee saya menikmati sekali
fasilitasnya juga di sini. asesornya
ee panitia-panitianya juga sangat cepat
dalam
memenuhi kebutuhan kita saat melakukan
diklat. Dan untuk tempat ee asramanya
saya juga merasa nyaman karena sudah
terfasilitasi dari kamar mandi terus apa
ada AC-nya. Jadi kita nyaman saat di
kamar untuk melakukan kegiatan belajar
belajarnya di malam hari atau untuk
menyiapkan ujian-ujiannya, uji
kompetensinya. Untuk pesannya kemudi ee
semoga ke depannya lebih baik lagi dan
fasilitas-fasilitasnya
lebih baik lagi serta peserta itu lebih
nyaman lagi untuk tinggal di sini.
Terima kasih.
Oh
[Musik]
Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam
webinar ASN belajar yang dipersembahkan
oleh Corporate University SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur.
Sebelum memulai webinar, ada beberapa
hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar
acara dapat berjalan dengan lancar.
Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan
format nama, strip asal instansi Sobat
ASN.
Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi
kamera tidak membelakangi cahaya ya,
agar wajah Sobat ASN dapat terlihat
lebih jelas.
Tiga, gunakan virtual background yang
sudah disediakan.
Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link
pendaftaran, virtual background dapat
diunduh pada link yang dikirimkan
melalui pesan WhatsApp.
Empat, apabila Sobat ASN ingin
mengajukan pertanyaan atau
berpartisipasi interaktif, Sobat ASN
dapat menggunakan reaction angkat tangan
atau rise hand pada Zoom meeting.
Lima.
Bagi Sobat ASN yang mengikuti webinar
melalui live YouTube BPSDM Jatim TV
dapat menuliskan pertanyaan melalui
kolom live chat.
Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis
untuk mencatat hal-hal penting ya.
Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain
untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini
dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN
tentang materi yang disampaikan oleh
narasumber.
Tujuh.
Untuk mendapatkan e-sertifikat pada
webinar ini, Sobat ASN wajib mengisi
link presensi yang akan kami bagikan
pada saat acara webinar berlangsung.
Jangan lupa untuk mengisi lembar
penilaian dan kuesioner juga agar
e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh.
Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN
perhatikan selama mengikuti webinar ini.
Tetap semangat dan selamat mengikuti
webinar ASN Belajar.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Ah.
[Musik]
Oh.
[Musik]
H
[Musik]
Nama saya Andi Bagus Rahmat. Ee saya
peserta diklat. Terima kasih. Kesan saya
bagus pelayanan
semoga kualitasnya semakin meningkat.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya nama jailani
pegawai RSUD Muhammad Nur Pamekasan.
Kami sangat bangga dengan adanya
kompetensi ini karena untuk pembelajaran
bagi kami masalah umur tidak ada
halangan. Yang penting kita mau belajar.
Dan saya sangat berterima kasih kepada
BPSDM dengan adanya hal ini
pengetahuan-pengetahuan itu akan selalu
bertambah untuk kita semua khususnya
khusus untuk pemerintah Provinsi Jawa
Timur untuk saat ini dan untuk masa
depan. Mungkin itu dari kami kurang
lebihnya mohon maaf. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam
webinar ASN belajar yang dipersembahkan
oleh Corporate University SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur.
Sebelum memulai webinar, ada beberapa
hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar
acara dapat berjalan dengan lancar.
Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan
format. Nama strip asal instansi sobat
ASN.
Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi
kamera tidak membelakangi cahaya ya,
agar wajah Sobat ASN dapat terlihat
lebih jelas.
Tiga, gunakan virtual background yang
sudah disediakan.
Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link
pendaftaran, virtual background dapat
diunduh pada link yang dikirimkan
melalui pesan WhatsApp.
Empat. Apabila Sobat ASN ingin
mengajukan pertanyaan atau
berpartisipasi interaktif, Sobat ASN
dapat menggunakan reaction angkat tangan
atau rise hand pada Zoom meeting.
Lima. Bagi Sobat ASN yang mengikuti
webinar melalui live YouTube BPSDM Jatim
TV dapat menuliskan pertanyaan melalui
kolom live chat.
Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis
untuk mencatat hal-hal penting ya.
Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain
untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini
dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN
tentang materi yang disampaikan oleh
narasumber.
Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat
pada webinar ini, Sobat ASN wajib
mengisi link presensi yang akan kami
bagikan pada saat acara webinar
berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi
lembar penilaian dan kuesioner juga agar
e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh.
Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN
perhatikan selama mengikuti webinar ini.
Tetap semangat dan selamat mengikuti
webinar ASN belajar.
[Musik]
Zaman yang terus bergerak.
Sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi.
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN getar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
kelas dunia
tekad tanggung jaerah jadi ASN
berkuit
lagi
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh, Sobat ASN di manapun Anda
berada, baik yang sudah bergabung di
Zoom meeting dan live YouTube BPSDM
Jatim TV. Senang sekali saya Lukman Ali
dapat menyapa Anda kembali tentunya
dalam acara webinar ASN Belajar seri 25
tahun 2025 persembahan Cororpu SDGIS
BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sobat ASN,
dalam menghadapi arus deras perubahan
ilmu pengetahuan, teknologi, serta
dinamika regulasi yang terus berkembang,
Aparatur Sipil Negara atau ASN dituntut
untuk tidak hanya mampu beradaptasi,
tetapi juga proaktif untuk meningkatkan
kapasitas diri. Dan ASN juga
berkewajiban untuk melakukan
pengembangan secara terus-menerus,
pengembangan kompetensi yang
terintegrasi dan berkesinambungan demi
memastikan terwujudnya pelayanan publik
yang adaptif, berkualitas, dan relevan
dengan kebutuhan masyarakat. Dan di era
saat ini, pengembangan kompetensi bukan
hanya sekedar pelatihan rutin saja ya,
tapi juga merupakan bagian dari amanah,
profesi dan tanggung jawab moral sebagai
abdi negara. di mana ASN bukan hanya
sebagai pekerja birokrasi saja, tapi
juga penggerak perubahan, penjaga
nilai-nilai kebangsaan dan pemimpin di
setiap lini layanan. Dan kali ini mari
kita teguhkan bersama komitmen sebagai
ASN untuk terus mengembangkan diri
sebagai wujud cinta pada negeri bersama
dengan webinar ASN Belajar seri 25 tahun
2025.
Baik, Sobat ASN. Untuk membuka webinar
ASN belajar seri 25 tahun 2025 kali ini,
marilah kita dengarkan opening speech
yang akan disampaikan oleh Kepala Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr.
Ramlianto, S.P.MP.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian, Sobat ASN
di seluruh tanah air. Selamat bertemu
kembali dalam webinar series ASN
Belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim
Corporate University, Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Hari ini Kamis tanggal 3 Juli 2025, ASN
Belajar telah memasuki seri yang ke-25.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih kami, kami
selalu berkomitmen sekaligus terus
berikhtiar untuk menyajikan topik-topik
pengembangan kompetensi yang menarik,
kekinian, dan tentu berdampak secara
nyata terhadap peningkatan kompetensi
dan kinerja aparatur sipil negara di
Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN
belajar seri ke-25 tahun 2025 ini
kembali menyajikan salah satu topik
dalam rangka terus mendorong
berkembangnya budaya belajar yang
konsisten dan berkelanjutan bagi
aparatur sipil negara di tengah
perkembangan zaman yang menuntut ASN
untuk terus tumbuh dan kembang secara
akseleratif.
Kita tentu sepakat bahwa budaya belajar
akan menjadi kunci utama bagi suksesnya
berbagai ikhtiar pengembangan kompetensi
ASN di Indonesia.
Karena hal ini sangat penting untuk
terus dielaborasi dalam merancang
program pengembangan kompetensi ASN,
maka ASN Belajar seri ke-25 ini
mengantarkan sebuah topik ASN meraih
ASA. Belajar sepanjang masa. mengabdi
sepanjang usia.
Nah, sudah menjadi tradisi akademik
dalam ASN belajar bahwa topik menarik
ini akan kita bahas secara intensif dari
beragam perspektif bersama para
narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sahabat ASN di seluruh tanah air, dunia
kini bergerak dalam ritme yang tak lagi
linier dan kita kini hidup di era
disrupsi yang eksponensial.
Ketika kecerdasan buatan menyapa
birokrasi, ketika tantangan global
menuntut kecepatan adaptasi, ketika
harapan publik tidak lagi cukup dijawab
dengan narasi, maka tak ada jalan lain
kecuali kita terus berbenah diri.
Di tengah akselerasi berbagai perubahan
ini, ASN tidak bisa lagi diam dan
berhenti. Kita dituntut untuk terus
tumbuh, terus belajar, dan terus
mengembangkan kompetensi. Kita tidak
bisa lagi bersembunyi di balik
pengalaman lama. Karena pengalaman yang
tidak diperbaharui hanya akan menjadi
nostalgia bukan solusi.
ASN masa kini adalah ASN yang bersedia
terus mengasah diri dari kebiasaan
manual menuju kebiasaan digital, dari
berpikir birokratis menuju kolaboratif,
dari rutinitas menjadi inovasi.
Maka dalam situasi ini pengembangan
kompetensi bukanlah pilihan melainkan
keharusan.
Belajar tidak lagi sekedar kegiatan,
tapi telah menjadi identitas kolektif
kita bersama.
Sebagai penyandang profesi ASN hari ini,
kita optimis karena saat ini kita sudah
menyaksikan lahirnya semangat baru ASN
Indonesia untuk tumbuh kembang dalam
ekosistem pengembangan kompetensi yang
inklusif dan adaptif.
Platform digital, micaring,
pembelajaran lintas instansi, mentoring,
coaching, semua tumbuh sebagai ruang
bersama. ASN kita tidak lagi belajar
dalam kesendirian.
Kita belajar dalam komunitas dalam
jejaring dan solidaritas.
Inilah wajah baru pembelajaran ASN.
Multi-entry, multiakses, tanpa batas
usia, tanpa batas jabatan.
Sebuah budaya belajar yang tidak
eksklusif, tetapi memberdayakan semua.
Karena kita percaya setiap ASN memiliki
potensi untuk bersinar jika diberikan
akses, dukungan, dan ekosistem yang
sehat.
Sobat SN di seluruh tanah air, jika
pengabdian adalah jalan panjang, maka
belajar adalah bekalnya. Jika usia
adalah angka yang terus bertambah, maka
kompetensi adalah cahaya yang menuntun
langkah.
Jika asa kita menjadi bangsa yang
berdaya, maka transformasi ASN adalah
keniscayaan semata. Jika Indonesia Emas
adalah cita kita bersama, maka ASN
pembelajar adalah fondasinya. Jika
memuliakan sesama adalah visi pengabdian
kita, maka tidak boleh berhenti menjadi
lebih baik dari hari ke hari. Demi
negeri yang makin berseri, demi rakyat
yang lebih bermartabat.
Sobat ASN di seluruh tanah air, lalu
bagaimana seharusnya kita sebagai ASN
Indonesia terus mengasah ketajaman
kompetensi kita demi pengabdian yang
makin berdampak? Nah, untuk membahas
cerdas dan tuntas topik ini, kami telah
mengundang para narasumber luar biasa
yang sudah barang tentu sangat kompeten
di bidangnya. Kami menyampaikan terima
kasih dan apresiasi kepada para
narasumber hebat yang telah berkenan
hadir dan akan berbagi berbagai
informasi strategis kepada Sobat ASN di
seluruh tanah air.
Pertama kami menyampaikan terima kasih
kepada yang terhormat Ibu Dr. Erna
Irawati, Sos, Empol Admin. Beliau adalah
Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran
ASN Lembaga Administrasi Negara Republik
Indonesia.
Kedua, kami menyampaikan terima kasih
kepada yang terhormat Bapak Dr. Sugeng
Haryono, M.Pd. Beliau adalah Kepala
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kementerian Dalam Negeri Republik
Indonesia. Dan yang ketiga, kami
menyampaikan terima kasih kepada yang
terhormat Bapak Prof. Dr. Yusuf Irianto,
MKOM. Beliau adalah guru besar bidang
manajemen sumber dan manusia Universitas
Airlangga Surabaya. Nah, sobat ASN di
seluruh tanah air, mari kita simak
dengan seksama webinar ASN belajar seri
ke-25 tahun 2025 ini. Semoga bermanfaat.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih sekali Bapak
Dr. Ramlianto, SPMP atas opening speech
yang telah disampaikan. Dan sebelum kita
berlanjut ke sesi berikutnya, kami
informasikan bahwa saat ini Sobat ASN
sudah dapat melakukan presensi pada
laman semesta Bangkom. Dan link presensi
ini dapat Sobat ASN lihat pada running
tags, kolom chat Zoom, dan juga pinchat
YouTube BPSDM Jatim TV. Dan dikarenakan
saat ini traffic presensi sedang tinggi,
bagi sobat ASN yang merasa belum bisa
mengakses presensi dapat mencoba kembali
secara berkala sampai dengan pukul 12.00
siang.
[Musik]
Baik, Sahabat SN, kali ini kita akan
simak bersama keynote speech yang akan
disampaikan secara langsung oleh Deputi
Bidang Transformasi Pembelajaran ASN
Lembaga Administrasi Negara Republik
Indonesia, Ibu Dr. Terapan Erna Irawati,
Sus, MPOL ADM.
[Musik]
Baik, saya akan sapa beliau terlebih
dahulu. Selamat pagi, Bu Erna. Kabar
baik, Ibu.
Baik, Bu Erna. Ini kalau kita lihat kan
sekarang perkembangan zaman lagi sangat
disruptif banget ya, Bu ya. terutama
banyak sekali perkembangan-perkembangan
teknologi kita sebutnya mungkin
artificial intelligence gitu ya di mana
ekspektasi untuk pengerjaan sesuatu yang
dulu mungkin bisa dikerjakan dalam 1
minggu, sekarang diekspektasikan bisa
selesai dalam 1 hari karena kecepatan
dari ee bantuan teknologi ini. Dan mau
tidak mau sebenarnya ASN ini kan juga
dituntut untuk terus beradaptasi. Nah,
kali ini kita akan simak materi dan juga
pemaparan dari Bu Erna. Apa saja sih
hal-hal yang bisa kita tumbuhkan untuk
menumbuhkan curiosity dan juga passion
of knowledge dalam jiwa ASN. Untuk sesi
materi akan disampaikan kurang lebih
selama 30 menit Bu Erna. Nanti kita akan
langsung masuk ke sesi tanya jawab. Saya
persilakan kepada Bu Erna. Oke, terima
kasih banyak.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Selamat pagi. Salam sejahtera Bapak Ibu
semuanya.
Mas Lukman, Pak Sugeng tadi sudah ada
dan juga ada Pak Ramli dan juga Bapak
Ibu semuanya
yang tergabung di dalam forum belajar
pada pagi hari ini. Sekali lagi terima
kasih. Ya, pagi ini kita mengangkat tema
yang menurut saya sangat sangat menarik
Bapak Ibu, yaitu kita kalau belajar
seperti saya atau kita sebut sebagai
long life learning. Jadi saya mengambil
tema mengenai belajar sepanjang hayat.
Kunci menuju kinerja unggul bagi kita
yang bekerja di sektor publik.
tadi sebenarnya di pembukaan Pak Ramli
sudah
sebentar Bapak Ibu ini oke Pak Ramli
sudah memaparkan mengenai
tantangan-tantangan yang kita hadapi
saat ini. Kalau kita berbicara
tantangan, kita berbicara ada tantangan
nasional, tantangan global. Saya tidak
akan diskusikan secara spesifik, tapi
pada dasarnya yang disebutkan Pak Ramli
dan Bapak Ibu di pembukaan bahwa kita
berada di dalam sebuah lingkungan
di mana lingkungan ini
banyak sekali. Kalau kita berbicara
mengenai perubahan, perubahannya
berjalan dengan cepat dan juga tidak
linier gitu. Dan ini faktornya banyak
sekali dan memberikan tuntutan kepada
kita yang bekerja di sektor publik. Satu
itu, Bapak, Ibu. Nah, yang kedua yang
ingin saya sampaikan adalah ketika
perubahan di lingkungan strategis ini
menuntut juga kepada kinerja dari sektor
publik. kita membutuhkan
ee sumber daya manusia yang relevan
dengan perubahan. Ini hanya sebagai
salah satu contoh saja Bapak Ibu. Setiap
time tahun World Economic Forum selalu
mengeluarkan mengenai skill atau
kompetensi mana sih yang akan hilang,
mana sih yang bertahan, mana yang saat
ini tidak penting tapi nantinya penting
atau saat ini penting, ke depannya juga
penting lagi. Sebenarnya saya hanya
ingin menggambarkan bahwa kalau Bapak
Ibu nanti cermati pergeseran dari
kompetensi itu selalu ada dari tahun ke
tahun. Ini menunjukkan apa? ini
menunjukkan bahwa sebenarnya kalau kita
memiliki kompetensi atau memiliki
mindset yang sifatnya fix bahwa kita
bakatnya pintar kemudian kita tidak
belajar, saya yakin ketika terjadi
pergoseran kompetensi kita menjadi tidak
relevan. Yang kita butuhkan adalah
growth mindset,
yaitu ee kemampuan kita untuk selalu
mengembangkan diri kita, menerima ketika
terjadi perubahan. perubahan bisa
dilakukan dengan pembelajaran, dengan
praktik, dengan inkubasi dan lain-lain.
Jadi lebih kepada kita turut mencermati
sebenarnya kompetensi yang dibutuhkan di
era sekarang seperti apa. Mungkin nanti
bergeser tahun depannya berubah, tahun
depannya berubah lagi. Jadi sekali lagi
kita tidak bisa mengandalkan kepada saya
berbakat kepada kompetensi atau
menguasai sesuatu dengan sangat oke
kemudian diam saja gitu. Karena
jangan-jangan yang kita kuasai menjadi
tidak relevan ketika perubahan terjadi.
Satu ini Bapak Ibu tadi ada tantangan
membutuhkan sumber daya manusia
kompetensinya ternyata selalu mengalami
perubahan sehingga kita harus
menyesuaikan supaya tidak ketinggalan.
Kalau kita tidak menyesuaikan, saya
yakin lama-lama kita tidak relevan atau
tidak bermanfaat dalam tanda kutip.
Kemudian ee fenomena yang lain yang tadi
sebenarnya juga sudah disinggung oleh
Pak Ramli mengenai tidak linearnya
perubahan dan ini berdampak juga kepada
kita sumber daya manusia Bapak Ibu. Saya
yakin Bapak Ibu ini ada satu penelitian
bahwa ee Deloit Bapak Ibu 2022
mengatakan bahwa
71% pekerja melakukan pekerjaan di luar
cakupan nama pekerjaannya
dan hanya 24% yang melakukan pekerjaan
sesuai dengan nama pekerjaan. Artinya
apa, Bapak Ibu? Artinya tadi sering
sekali standar kompetensi jabatan kita
ah bersifat sedikit statis atau
terlambat untuk dilakukan penyesuaian
seiring dengan perubahan di lingkungan
strategis. Saya yakin Bapak Ibu kita
bekerja di sektor publik, jabatan kita
adalah ini. Ternyata ada perubahan
berdampak kepada organisasi kita.
Standar kompetensi jabatannya belum
disesuaikan. Ya, kita mau enggak mau,
Bapak, Ibu, kalau kita bertahan dengan
eh uraian atau rincian jabatan saya
adalah 1 2 3 4 5 kita bertahan untuk
melakukan ini, saya yakin Bapak, Ibu
organisasi kita akan ketinggalan
terhadap perubahan. Makanya ini ee
penelitian ini menunjukkan bahwa
belajar selalu dibutuhkan karena apa?
perubahan terjadi. Apa yang kita lakukan
hari ini belum tentu sama di tahun
depan, di 2 tahun ke depan, bahkan bulan
depan, 3 bulan ke depan, Bapak, Ibu.
Kemudian ee 65% pekerja merasa skill
yang dibutuhkan untuk melalui e
melakukan pekerjaannya berubah dalam
kurung waktu 2 tahun atau bahkan Bapak
Ibu kalau saya sering sekali mengatakan
2 tahun kayaknya sekarang lama-lama
semakin pendek. Kompetensi yang kita
miliki umumnya semakin pendek gitu.
Semakin pendek itu sudah tidak relevan
seiring dengan perubahan harus kita
rubah gitu. ini ee Deloid 2022 masih
mengatakan sekitar 2 tahun atau
jangan-jangan berkurang ke sana. Jadi
sekali lagi Bapak Ibu, tiga kondisi tadi
perubahan. Yang kedua adalah jenis
kompetensi yang juga mengalami selalu
perubahan berdampak kepada pekerjaan
yang kita lakukan. Sering sekali berubah
dari atau lebih luas dari cakupan nama
jabatan kita. Sebenarnya meletakkan
pembelajaran sebagai kunci. Bapak Ibu,
kita harus menyesuaikan yang tadi saya
sebutkan memiliki growth mindset selalu
terbuka untuk melakukan baik reskilling
maupun upskilling.
Rkilling adalah Bapak Ibu selalu
menambah bahkan membuang yang sudah
tidak dibutuhkan dari kompetensi
menambah dengan kompetensi yang baru.
Upskilling adalah ketika ada perubahan
dari satu kompetensi mungkin lebih
advance Bapak Ibu serinya lebih tinggi
lagi kita harus lakukan penyesuaian.
Nah, ini konsep yang kita bicarakan pada
hari ini menjadi sangat relevan, yaitu
belajar sepanjang hayat. Ya tadi growth
mindset salah satu cirinya adalah
seseorang yang memiliki growth mindset
adalah memiliki motivasi untuk belajar
sepanjang hayat atau sebutannya lifelong
learning. Bapak Ibu, apa itu lifelong
learning atau belajar sepanjang har
ayat? Adalah ee pencarian pengetahuan
dalam tanda kutip ini kompetensi ya,
Bapak, Ibu yang berkelanjutan dilakukan
secara sukarela dan didorong oleh
motivasi untuk pengembangan baik
pribadi, pegawai, maupun perkembangan
karir atau profesional. Jadi sekali lagi
pencarian pengetahuan atau kompetensinya
selalu terjadi berkelanjutan. Kemudian
didorong oleh motivasi, sukarela. Jadi
ini dari growth mindset tadi cirinya
adalah belajar salah satunya adalah
belajar sepanjang hayat. Pembelajaran
ini melampaui pendidikan formal dan
berlangsung sepanjang hidup seseorang.
Nanti kemarin di beberapa diskusi kita
sudah menyebut pendidikan ada formal,
ada sosial, ada experiential learning.
Ini yang ditempuh oleh ee seseorang yang
memiliki motivasi untuk belajar
sepanjang hayat. Karakteristik utamanya
Bapak, Ibu adalah mandiri.
Jadi ee inisiatif kemudian kesukarelaan
dari kawan-kawan untuk selalu belajar.
seringki dimulai oleh individu
berdasarkan minat atau tujuan pribadi.
Meskipun Bapak Ibu ini bisa dimanfaatkan
organisasi untuk belajarnya sesuai
dengan yang dibutuhkan oleh organisasi.
Kemudian yang kedua adalah fleksibel
dapat terjadi kapan saja, di mana saja,
dan dalam berbagai format. Makanya tadi
Bapak, Ibu kemarin kita sudah berdiskusi
mengenai corporate university yang pada
prinsipnya adalah menyediakan akses
sehingga ketika aksesnya banyak semua
bisa belajar. Seperti forum yang kita
lakukan pada pagi hari ini, Bapak, Ibu.
Sangat fleksibel Bapak Ibu di seluruh
Indonesia bisa bergabung di dalam forum
pagi ini. Holistik mencakup pengembangan
intelektual, emosional, sosial, dan juga
fisik. Jadi komponennya banyak Bapak,
Ibu. adaptif membantu individu tetap
relevan dengan perubahan teknologi dan
juga berbagai tuntutan. Ini yang tadi
saya sebutkan Bapak, Ibu. Ketika
perubahan terjadi kita harus
mengembangkan kompetensi supaya tidak
ketinggalan berarti kita harus adaptif.
Ada beberapa
mengapa penting? Saya yakin tadi sudah
menjadi sudah saya jelaskan bagaimana
kalau kita dituntut ketika ada perubahan
atau ada juga dari karir kita secara
pribadi kita memiliki pola karir tujuan
untuk bekerja kemudian di setiap
jenjangnya membutuhkan kompetensi baru.
Saya yakin Bapak Ibu belajar sepanjang
ayat menjadi sangat penting. Beradaptasi
dengan perubahan, meningkatkan kualitas
pelayanan. eh pelayanannya kemarin
seperti ini tadi Mas Lumpan menyebutkan
mengenai artificial intelligence kita
belum mengadopsi tapi sekarang
masyarakatnya sudah terpapar dengan
artificial intelligence. Mungkin dari
kualitas pelayanan kita dapat
ditingkatkan dengan pemanfaatan
artificial intelligen. Membangun
kapasitas kepemimpinan menunjuk
menumbuhkan kecerdasan untuk pemikiran
strategis, kepemimpinan beretika dan
lain-lain juga kita dapat ee dari
belajar sepanjang hayap mendorong
inovasi transformasi organisasi
memberdasakan pertumbuhan pribadi dan
profesional. Nanti ee saya skip yang
sifatnya teori ini, Bapak Ibu. Mungkin
nanti bahannya saya akan sampaikan
kepada kawan-kawan semua ini yang tadi
ee pembelajarannya bisa formal, bisa
sosial, bisa experiential learning untuk
memastikan akses dan fleksibilitas
sesuai dengan apa yang menjadi
kecenderungan belajar yang dimiliki oleh
Bapak, Ibu. Strateginya apa, Bapak, Ibu?
ee kalau kita ingin memiliki organisasi
sektor publik yang individu-individunya
selalu memiliki motivasi untuk belajar
atau menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Yang pertama, Bapak Ibu yang bisa kita
lakukan adalah memastikan bahwa
pembelajaran sebagai nilai inti dari
organisasi. Nah, kita sebenarnya sudah
memiliki nilai kalau kita bekerja di
sektor publik nilai berakhlak salah
satunya adalah kompeten, Bapak, Ibu.
Nah, nilai kompeten ini menjadi nilai
bagi instansi pemerintah kita sudah
memiliki dari sisi kebijakannya gitu.
Yang menjadi tugas kita untuk memastikan
bahwa pembelajaran dapat dilakukan
sepanjang hayat adalah mengintegrasikan
pembelajaran ini dengan misalnya Bapak
Ibu budaya yang ada di dalam organisasi,
evaluasi atau penilaian kinerja. Ketika
seseorang sudah belajar kemudian
diberikan pengakuan, kemudian misalnya
kita memiliki manajemen talenta,
pengakuan terhadap hasil belajar menjadi
masukan untuk manajemen talenta.
Kemudian penghargaan Bapak Ibu mungkin
nanti ada beberapa individu yang menjadi
champion belajar ee mendapatkan hasil
yang sangat tinggi diberikan
penghargaan. Jadi memastikan bahwa
pembelajaran ini tidak bekerja sendirian
gitu, tapi menjadi bagian misalnya di
dalam manajemen ASN, evaluasi penilaian
kinerja dan lain-lain. Yang kedua adalah
menciptakan akses belajar bervariasi
dan fleksibel. Ini tadi yang saya
sebutkan, Bapak, Ibu. Salah satu ciri
khas ee pembelajaran sepanjang hayat
adalah fleksibilitas.
Organisasi Bapak Ibu dalam konteks
corporate university bertanggung jawab
untuk mengembangkan kompetensi atau
menyediakan akses Bapak Ibu menciptakan
berbagai akses belajar formal, sosial,
mandiri, tim kelas, macam-macam. Bapak,
Ibu ini misalnya ee ada bodying, ada
mentoring, ada coaching, ada SWIM dan
lain-lain. Atau kita memiliki
misalnya video pendek,
audio, podcast dan lain-lain. Ini adalah
akses-akses belajar bervariasi yang
dapat kita sediakan bagi semua yang mau
belajar secara fleksibel. Kemudian yang
ketiga adalah memanfaatkan teknologi.
Teknologi saat ini menjadi
salah satu kekuatan besar di dunia Bapak
Ibu. E semalam saya baru berdiskusi yang
nomor satu untuk mendikte semua di dunia
ini ekonomi atau teknologi. Ada yang
berbat ekonomi, tapi ada juga yang
berpendapat teknologi karena teknologi
bisa men-drive ekonomi. Teknologi bisa
memiliki media yang sangat kuat sehingga
bisa apa namanya lebih besar pengaruhnya
dibanding ekonomi. Tapi saya tidak akan
mendiskusikan ekonomi dan teknologi.
Tapi di sini ee kita sudah mengalami
perjalanan pemanfaatan teknologi di
dalam belajar ini lumayan Bapak Ibu
sudah kalau kami dari Lembaga
Administrasi Negara dari tahun 2018
sebenarnya sudah mengenalkan mengenai ee
pembelajaran yang basisnya teknologi
dari sisi kebijakan tapi praktiknya
sebenarnya sudah mulai lama tapi kita
mendapatkan momentum ketika pandemi
Covid Bapak Ibu pemanfaatan teknologi di
segala bidang termasuk di dalam
pembelajaran aran mencapai puncaknya dan
kita mendapatkan pembelajaran banyak
Bapak Ibu sampai saat ini bagaimana kita
memanfaatkan teknologi dapat membantu
kita menyediakan akses dengan cara
efisien. Kemudian
yang keempat sebenarnya ini bagian dari
akses tadi Bapak Ibu mendorong
pembelajaran sebaya dan juga komunitas
praktis. Sekarang komunitas-komunitas
Bapak Ibu digerakkan. kami saat ini
memiliki komunitas Korpo. Kemudian nanti
sebentar lagi juga akan kita launching
komunitas manajemen Talenta, Bapak, Ibu.
Nanti ada komunitas coach, Bapak, Ibu.
Nah, sebentar lagi kita akan keluarkan
standar kompetensi coach. Monggo nanti
diikuti ee dari kita beberapa komunitas
ini sebagai media untuk belajar menjadi
sangat-sangat efektif. sharing antara
orang satu dengan orang yang lain,
aplikasi replikasi menjadi lebih efisien
dan dapat dilakukan sesuai dengan
konteksnya masing-masing. Kemudian
kolaborasi yang nomor lima misalnya
bermitra dengan perguruan tinggi, NGO,
dan swasta biasanya ada kaitannya Bapak
Ibu dengan NGO maupun swasta yang
misinya sama gitu. Kalau misinya adalah
pembelajaran, ayo kita berkolaborasi.
Dan sering sekali Bapak Ibu kolaborasi
ini menyelesaikan yang nomor enam ini
alokasi waktu dan anggaran. Biasanya
anggaran Bapak Ibu kita apa namanya?
Misalnya saya memberikan contoh, kami
dari lembaga administrasi negara ee
ketika akses belajarnya harus disediakan
banyak, kami kerja sama dengan salah
satu NGO misalnya PIAR Foundation
membuat aplikasi ASN berpijar itu white
flag Bapak Ibu tidak ada pembiayaannya
Bapak Ibu kalau mau belajar silakan di
sana dan ini wujud tadi Bapak Ibu ketika
kita memiliki keterbatasan untuk
menyediakan akses berkolaborasi dengan
mitra kita akhirnya kita bisa mewujudkan
satu platform belajar. Jadi sekali lagi
ini beberapa strategi yang dapat kita
lakukan untuk memastikan, menciptakan
lingkungan supaya ASN kita memiliki
motivasi untuk selalu belajar. Nah, ini
ini salah satu contoh strateginya. Tadi
kebetulan ee moderator Mas Lukman juga
menyebutkan pemanfaatan artificial
intelligence.
Kalau tadi saya menyebutkan bahwa
belajar sepanjang hayat mengandalkan
kepada motivasi dari individu, tapi
organisasi bisa menciptakan sebuah
lingkungan untuk mendorong semua ASN-nya
ini belajar sepanjang hayat. Ini
misalnya Bapak, Ibu, ini salah satu
contoh strategi pembelajaran sepanjang
hayat yang untuk membantu adaptasi dari
organisasi. Organisasinya berada di
dalam lingkungan yang selalu berubah.
Salah satu tuntutannya saat ini adalah
eh AI dong di masuk di dalam sektor
publik. Kita sudah tidak bisa menolak
Bapak Ibu artifisial intelligence untuk
tidak bisa tidak berpengaruh kepada
sektor publik kita. Jadi ini saya
mengangkat contoh penerapan chatbot
artificial intelligent dalam layanan
pemerintah. Misalnya Bapak Ibu ada
pemerintah daerah X akan menerapkan
chatbot chatboot berbasis artificial
intelligence untuk menangani
komplain, pertanyaan, klarifikasi
dari warga terkait semua jenis
pelayanan. Nah, penerapan chatbot ini ee
akan memangkas waktu responnya menjadi
lebih cepat dan juga mengurangi beban
kerja dari staf di pemerintah X, Bapak,
Ibu. Jadi, instansinya sudah mau
me-leverage, meningkatkan kualitas
pelayanannya dengan mengadopsi
artificial intelligence.
Salah satu tantangannya Bapak, Ibu yang
dihadapi oleh pemerintah X ini adalah
banyak pejabat dan stafnya yang belum
memahami cara kerja artificial
intelligence ini mengelola sistem
chat-nya ataupun mengolah dari data-data
yang dihasilkan dari chatbot-nya gitu.
Jadi kalau chatbot berbasis IT serahkan
kepada ahlinya gitu. Saya yakin ee kalau
kita mau mengadopsi ada ahli yang untuk
membuat chatbot berbasis AI ini. Tapi
kita menghadapi tim kita yang ada di
kantor kita atau unit kerja kita
ternyata tidak paham bagaimana ya kalau
kita sudah ee apa namanya aduannya
menggunakan chatbot. Cara kerjanya
bagaimana? Mengelola sistemnya seperti
apa? Data yang ditampilkan bagaimana
nanti dapat kita gunakan untuk mengambil
keputusan. Nah, kalau strategi
pembelajaran sepanjang hayatnya bisa
masuk Bapak Ibu untuk beradaptasi
pemerintah meluncurkan program
pembelajaran berkelanjutan misalnya
ada loka karya, ada pelatihan, kursus,
sesi pembelajaran antar kerja atau tadi
strategi-strategi yang lain menyediakan
modul-modul, menyediakan akses-akses
secara terbuka kepada semua pegawainya
untuk mempelajari bagaimana menganalisis
data dari chatboard, kemudian mengelola
sistem dan lain-lain. Hasilnya apa?
Hasil yang kita peroleh adalah stafnya
menjadi percaya diri dalam menggunakan
dan meningkatkan sistem chatbot, warga
menerima respon, membangun kepercayaan.
Nah, sekali lagi Bapak Ibu meskipun
pembelajaran
sepanjang hayat akan sangat berhasil
ketika setiap ASN memiliki motivasi yang
tinggi, namun organisasi juga bisa
mengembangkan suatu lingkungan Bapak Ibu
untuk mendorong semua pegawainya selalu
belajar. Kalau mereka tidak mengikuti
loka karya atau tidak belajar sendiri,
mengikuti modul dan lain-lain, akhirnya
tidak bisa mengelola sistem atau tidak
bisa mengelola data yang dihasilkan oleh
sistem chatboard, enggak ada gunanya.
Lama-lama akan digantikan oleh orang
lain, Bapak, Ibu. Nah, ini ini yang
selain dari motivasi individu,
organisasi juga bisa mendesain sebuah
adaptasi, sebuah transformasi, sebuah
perubahan. dengan menerapkan strategi
pembelajaran sepanjang hayat. Ini
beberapa tantangan, Bapak, Ibu. Yang
pertama adalah keterbatasan waktu.
Sering sekali sebagai ASN antara
benar-benar memiliki beban kerja yang
berat dan jadwal yang ketat atau
pura-pura jadwalnya banyak atau sibuk
sekali sehingga menyisiakan waktu untuk
belajar, Bapak, Ibu. Jadi, sudah capek
sendiri untuk belajar karena apa? Beban
pekerjaannya sangat berat. Dampaknya
pembelajaran menjadi tidak menjadi
prioritas dibandingkan dengan tugasnya
sudah saya kerja aja gitu. Tapi kalau
kita hanya melakukan pekerjaan,
kompetensi kita tidak berubah. Kalau
nanti organisasi berubah, kompetensi
kita enggak berubah, Bapak Ibu, ya
akhirnya kita tidak relevan lagi.
Solusinya biasanya adalah
mengintegrasikan pembelajaran ke dalam
pekerjaan sehari-hari. misalnya
menawarkan modul-modul yang
pendek-pendek saja 5 menit 5 menit
pembelajarannya bersifat mikro tapi
related dengan pekerjaannya.
pelatihan di tempat kerja ditunjuk di
sela-sela pekerjaannya ditunjuk beberapa
orang yang menjadi coach atau menjadi
mentor.
Tapi juga sekali lagi Bapak Ibu kalau
kita berada di level pimpinan pastikan
Bapak Ibu selalu memberikan kesempatan
dan jeda kepada pegawai untuk belajar.
Jadi ee manfaat
dari solusi ini mengintegrasikan dengan
pekerjaan, memberikan jeda kepada
pegawai untuk belajar, mengurangi
tekanan waktu dan menjadikan
pembelajaran bagian dari alur kerja.
Jadi yang pertama kalau keterbatasan
waktu pegawainya sibuk terus, Bapak, Ibu
ya kaitkan dengan pekerjaan, gitu. Eh,
kamu membuat ini ee tolong menggunakan
ee Power BI misalnya untuk menganalisis
data. saya enggak tahu. Oh, ini aksesnya
ini. Silakan kamu belajar Power BI.
Nanti saya cek ya hasilnya untuk
tampilan data visualnya menggunakan
Power BI misalnya seperti itu. Kemudian
yang kedua adalah kurangnya motivasi
atau kesadaran dari individu Bapak Ibu.
Karena sering sekali mereka tidak
melihat nilai langsung dari pembelajaran
berkelanjutan. Misalnya Bapak Ibu
semalam saya belajar tentang leadership
lagi Bapak Ibu
tidak melihat langsung nilai langsungnya
atau kebermanfaatannya enggak secara
langsung gitu tapi ketika ada satu event
baru ketemu hasil pembelajaran. Nah,
sering sekali ini yang karena tidak
biasanya kalau pembelajaran yang
sifatnya skill Bapak Ibu ini langsung
bisa kita lihat hasilnya. Tapi
pembelajaran-pembelajaran
afektif yang sifatnya sikap, perilaku,
knowledge, sering sekali hasil atau
nilai langsungnya itu tidak kelihatan.
Nah, sering sekali ini berdampak kepada
ee pegawai yang menjadi tidak
termotivasi untuk belajar sepanjang har.
Dampaknya apa? Resistensi terhadap
perubahan dan keterlibatan rendah dalam
program pelatihan dari pegawai.
Solusinya ya bangun budaya pembelajaran.
dorong rasa ingin tahu, beri
penghargaan, ee rayakan berbagai
pengetahuan. Misalnya ada
capaian-capaian tertentu ketika sharing,
Bapak, Ibu. Sharing bisa menjadi bagian
kita untuk melakukan apresiasi. Akses
terbatas ke sumber belajar. Tantangannya
tadi saya sudah menyebutkan Bapak Ibu
misalnya aksesnya teknologi
berarti kita harus menyediakan
solusi-solusinya adalah kita menyediakan
akses-akses belajar yang jangan-jangan
memang tidak berbasis teknologi. Jadi
kita menyediakan banyak akses dengan
moda-moda yang berbeda sehingga kita
tidak bisa mengatakan bahwa saya enggak
bisa belajar karena apa? Enggak ada
basis internetnya. Oh, ada saya email
deh atau saya kirimkan modulnya,
bukunya, dan lain-lain. Nah, jadi akses
ke sumber belajar biasanya jawabannya
adalah ya selain menyediakan akses tadi
ya menyediakan opsi-opsi pembelajaran
baik daring maupun luring. Kemudian
dukungan organisasi Bapak Ibu. Kurangnya
kebijakan insentif meskipun tadi saya
menyebutkan pembelajaran sepanjang hayat
sangat-sangat optimal ketika dimulai
dari motivasi individu. Tapi ketika
misalnya kita sudah semangat tapi tidak
ada jeda dari pekerjaan kita sehingga
tadi tidak ada jeda untuk belajar Bapak
Ibu ya akhirnya kita menjadi tidak
termotivasi. Muncul yang pertama tadi
beban pekerjaan yang sangat berat. Jadi
sekali lagi ketika kita berbicara
dukungan organisasi yang tidak memadai
solusinya ya komitmen pimpinan Bapak
Ibu.
Komitmen pimpinan bentuknya dua Bapak
Ibu menjadi teladan bahwa seorang
pemimpin suka belajar belajar sepanjang
hayat. Jangan kita nyuruh orang saja
belajar tapi kita sendiri enggak
belajar. Yang kedua adalah menyediakan
waktu serta sumber daya kita memberikan
dukungan sepenuhnya. hambatan teknologi,
infrastruktur, teknologi, ketakutan
terhadap kegagalan, keterbatasan
anggaran. Ini menjadi
tantangan-tantangan yang kita hadapi.
Ada beberapa strategi yang tadi
sebenarnya di awal juga sudah saya
sebutkan, tapi secara spesifik misalnya
kolaborasi. Kalau kita ee anggarannya
tidak cukup, takut terhadap kegagalan
berarti menciptakan lingkungan,
dukungan, pimpinan, dan lain-lain.
Kemudian yang terakhir dari saya, Bapak
Ibu adalah terkait dengan bagaimana kita
mengukur keberhasilan lifelong learning.
Bagaimana organisasi bisa mengukur bahwa
SDM-nya
memiliki motivasi untuk life long
learning tadi. Yang pertama adalah
memang ada yang mengatakan bisa enggak
ini diukur dengan ee Kpatrick levelnya 1
2 3 4 bisa juga Bapak Ibu gitu. Tapi
asal jelas dulu channel-nya. Makanya di
sini Bapak Ibu biasanya ukuran untuk
menilai apakah organisasi kita berhasil
atau tidak menciptakan lingkungan yang
mendukung life learning adalah yang
pertama adalah dari tingkat partisipasi
belajarnya.
Bagaimana tingkat keterlibatan karyawan
caranya? Ya, kita punya ukuran Bapak
Ibu. Saya harapkan nanti semua instansi
pemerintah memiliki ukuran gitu.
Berapa persen pegawai yang mengikuti
pembelajaran dengan macam-macam cara?
Nanti corporate university bisa ngukur
Bapak Ibu. Presentasi karyawan yang
mengikuti program pembelajaran
dibandingkan dengan total staff itu
adalah tingkat partisipasi untuk salah
satu yang dapat digunakan sebagai salah
satu indikator untuk melihat
keberhasilan lifelong learning. Yang
kedua adalah tingkat penyelesaian
pembelajaran. Agak berbeda Bapak Ibu
nomor satu dan nomor du gitu. Nomor satu
adalah tingkat partisipasi siapapun yang
belajar dengan cara apapun. Yang kedua
adalah menyelesaikan Bapak Ibu komitmen
dan apa yang ditunjukkan tingkat
penyelesaian pembelajaran menunjukkan
komitmen dan konsistensi dalam
menyelesaikan pelatihan. Caranya apa?
cara mengukurnya ya presentasi peserta
yang menyelesaikan pembelajaran atau
modul pelatihan
dari yang tingkat partisipasi tadi. Jadi
kalau ini yang sudah menyelesaikan Bapak
Ibu. Kemudian yang ketiga adalah skor
kepuasan pembelajaran. Makanya tadi ke
Patrick level 2 bisa masuk Bapak apa
yang ditunjukkan kualitas dan relevansi
pengalaman belajar. Caranya adalah
survei pasca pelatihan atau formulir
umpan balik,
retensi dan penerapan pengetahuan apa
yang ditunjukkan. Jadi level 3, level 4
ke Patrick sudah mulai masuk Bapak, Ibu.
Efektivitas transfer pembelajaran
kepekerjaan, penilaian sebelum dan
sesudah pelatihan, tinjauan kinerja,
evaluasi dari atasan. Jadi tiga dan
empatnya bisa. Kemudian eh indikator
perubahan perilaku level 3 dari KPATK
biasanya apa yang ditunjukkan dampak
terhadap budaya dan praktik kerja bisa
caranya observasi umpan balik 360
derajat atau studi kasus.
Selain ukuran-ukuran ini, Bapak Ibu, ada
ukuran-ukuran yang sudah kepada
kemanfaatan
dari sebuah lifelong learning. Misalnya
perkembangan dan mobilitas karir tadi
saya menyebutkan menjadikan nilai
belajar, nilai kompeten lifelong
learning sebagai nilai-nilai yang ada di
dalam organisasi mengkaitkannya dengan
manajemen ASN. Nah, di sini Bapak Ibu
apakah ketika ada mobilitas karir
pegawai-pegawai yang sudah belajar
memiliki motivasi kuat tadi? Apakah
mobilitas karirnya memang menunjukkan
angka yang semakin naik atau progresif?
Promosi perubahan peran tingkat
mobilitas internal menjadi ukuran
perkembangan dan mobilitas karir ini.
Yang ke yang selanjutnya Bapak Ibu
adalah hasil inovasi dan pemecahan
masalah. Tadi saya menyebutkan di awal
Bapak Ibu, kenapa kita membutuhkan SDM
yang berkompeten yang selalu belajar?
Karena tuntutan dari lingkungan
lingkungan yang ada di sekitar kita
terhadap kinerja dari publik juga
semakin tinggi. Kinerja dari publik
semakin tinggi di era yang perubahan
biasanya ukurannya adalah apakah suatu
organisasi melakukan transformasi,
melakukan perubahan, membuat inovasi
gitu. Sehingga sekali lagi Bapak Ibu
ukuran untuk live learning juga bisa
diukur dari hasil inovasi dan juga
kemampuan dari individu ketika
menyelesaikan sebuah permasalahan.
Kemudian ukurannya juga bisa ee kita
gunakan orang ada yang menyebutnya roti,
ada yang menyebutkan rolly. Bapak Ibu
return of learning in on learning
investment ada roti Bapak Ibu return on
training investment gitu. Cuman karena
kita sudah keluar dari paradigma bahwa
pengembangan kompetensi tidak hanya dari
pelatihan makanya sebutannya rolly Bapak
Ibu return on learning investment. nilai
finansial dan finansial dan operasional
dari pembelajaran. Caranya yang analisis
biaya manfaat dibandingkan dengan ee
biaya pelatihan dengan peningkatan
kinerja. Jadi ukuran-ukuran ini Bapak
Ibu yang menurut saya menjadi sangat
penting ketika kita mau menciptakan
sebuah lingkungan
yang memang mengadopsi lifelong learning
supaya tidak ketinggalan dengan
perubahan. Jadi di akhir dari paparan
saya, Bapak Ibu, ee pembelajaran tidak
berhenti setelah sekolah formal selesai.
Apalagi kalau kita sudah bekerja dan
bekerjanya di sektor publik. Bapak, Ibu,
pembelajaran sepanjang hayat adalah
investasi pribadi dan juga profesional.
investasi pribadi. Karena dengan
menguasai kompetensi-kompetensi yang
relevan dengan lingkungan strategis kita
yang dibutuhkan dengan organisasi,
Bapak, Ibu, kita menjadi percaya diri
bahwa saya adalah orang yang
profesional. Saya adalah yang kompeten
dan sangat berpengaruh terhadap karir
kita. Profesional Bapak, Ibu ketika kita
bekerja ada perubahan-perubahan tuntutan
pekerjaan, kita bisa mengikuti tuntutan
dari perubahan tersebut. Tantangan nyata
tetap ada Bapak Ibu kalau kita berbicara
lifelong learning. Tadi saya menyebutkan
ada waktu, ada akses, ada komitmen
pimpinan, ada finansial dan lain-lain.
Tapi yang terpenting bagi kita adalah
ketika ada permasalahan, strategi apa
yang dapat kita lakukan untuk mengatasi
hambatan tersebut? Pembelajaran harus
menjadi bagian dari gaya hidup kita
untuk menjadikan kita memiliki kualitas
kinerja yang selalu tinggi dan juga
mampu beradaptasi di lingkungan yang
selalu berubah. Demikian, terima kasih
banyak. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih
Bu Erna Iraati atas materi yang telah
disampaikan dan Sobat TSN. Setelah ini
kita akan langsung masuk ke sesi tanya
jawab. Jadi untuk Sobat TSN yang
bergabung di Zoom bisa menggunakan
feature raise hand atau yang bergabung
melalui YouTube bisa tuliskan pertanyaan
melalui live chat.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
Baik, saya akan
rangkum terlebih dahulu ya. tadi materi
dari Bu Erna ini sangat luar biasa. Pada
intinya ketika kita mau menjadi lifelong
learner itu kunci pertamanya memang
harus memiliki growth mindset. Seperti
itu. Sebelum saya ee berikan kesempatan
untuk Sobat ASN yang ingin bertanya
kepada pemateri pertama kita di pagi
menuju siang hari ini terlebih dahulu
saya mau tanya dulu ke Bu Erna. Kalau di
Bu Erna sendiri di unit Ibu tadi kan
yang paling penting sebenarnya selain
dari motivasi dalam diri ee faktor
pembentuk lifelong learner ini adalah
culture yang mendukung seperti itu. Nah,
kalau di lingkungan e tempat Ibu bekerja
saat ini apa saja yang sudah dilakukan
untuk menciptakan culture belajar
tersebut, Bu Erna?
Oke. Yang dilakukan saya di lembaga
administrasi negara sebenarnya melalui
program corporate university salah
satunya di situ adalah budaya belajar
tadi. Jadi dalam 1 bulan gitu ee
misalnya bulan sekarang bulan Juli ya,
Juni bulan Mei kemarin. Bulan Mei
kemarin ada
tiga modul. Jadi kalau lembaga
administrasi negara ada dua modul Bapak
Ibu yang mesti dipelajari oleh semua
pegawai yang ada di lembaga administrasi
negara. Yang pertama adalah EA and Etik.
Oke. Yang kedua adalah saya
mengingat-ingat karena saya lulus sih
pengambilan keputusan. Oke, ini yang
lembaga administrasi negara semua
pegawai dalam 1 bulan itu setiap bulan
berbeda. Oke. Apa namanya modulnya
berbeda. Kemudian kalau yang ada di
kedeputian saya, saya tambahkan satu
Bapak Ibu yaitu corporate university.
Semua yang bekerja di kedeputian
transformasi harus tahu mengenai
corporate university dan ini bergulir
gitu. Itu satu. Kemudian yang kedua kita
membudayakan sharing.
Sharing misalnya kemarin kita berbicara
mengenai kita mau mengembangkan live
TikTok, live Instagram dan lain-lain.
Kawan-kawan ada yang sudah melakukan
kita undang. Tolong ajarin kita sharing
seperti ini. Kalau kita mengikuti
pelatihan kita sharingkan ke orang lain.
Jadi ee lingkungan organisasi sudah
diciptakan bahwa belajar ini menjadi
bagian. Jadi biasanya hari Jumat gitu
adalah waktu kita untuk sharing. Tapi
kalau dalam bulan tertentu pasti ada
modul yang memang harus dipelajari oleh
semua ASN dan JPT Pratama harus
bertanggung jawab memastikan 100% atau
berapapun persen. Nah, biasanya kita
lakukan cekek kemarin saya melakukan
pengecekan di direktur-direktur saya
sudah berapa persen yang belajar untuk
modul di bulan Juni kemarin gitu. Nah,
ini yang baru ini belum keluar modul
baru karena masih tanggal ini
minggu-minggu ini mungkin besok atau
hari Senin pasti keluar modul baru yang
harus kita pelajari. Jadi, di lingkungan
kita sudah menjadi bagian dari
sehari-hari orang bisa menjadi coach,
bisa menjadi mentor, bisa menjadi body,
terlibat dalam tas force. Hari ini Mas
nanti sore 2.30 saya akan membekali task
force untuk konten kreatornya lembaga
administrasi negara. Ini semua unit
kerja kompartemen Dilan ada
perwakilannya empat orang. Nah, ini task
force yang dipastikan targetnya minggu
ke-3 bulan Juli harus ada sekitar 45
konten basisnya artificial intelligence
gitu. Ini ini saya sedang mengembangkan
satu kasos pembekalannya nanti sore dan
hari Senin besok pembekalan untuk
pemanfaatan AI-nya. Saya mengundang
orang untuk sharing dengan tim. Luar
biasa sekali. Berarti memang dalam
beberapa kurun waktu tertentu selalu ada
modul-modul yang harus dipelajari
berbasis korompetensi yang harus
dikuasai ya Bu ya. Dan memang Ibu juga
mendorong ee para orang yang sudah
belajar ini, para ASN yang sudah belajar
ini untuk turut membagikan ilmunya
supaya lingkungan belajarnya ini
tercipta. Saling sharing satu sama lain
tentunya juga memperhatikan tren yang
ada. Thank you sekali Bu Erna untuk
jawaban praktisnya. Nah, sekarang saya
akan undang untuk para sahabat ASN yang
sudah bertanya. Yang pertama saya akan
undang terlebih dahulu untuk bergabung
bersama dengan kami Bu Putri Eki dari
DKP Jawa Timur. Saya ucapkan selamat
pagi Bu Putri.
Ibu punten suaranya masih termute. Bisa
diaktifkan terlebih dahulu mik-nya.
Suaranya masih belum terdengar. Bu Putri
boleh untuk earphone-nya dicopot saja
barangkali Ibu. Ee oke. Ee selamat pagi.
Pagi. Nah, ini sudah jelas. Oke, Bu
Putri sebelum menyampaikan pertanyaannya
mungkin bisa disampaikan terlebih dahulu
namanya, asal dinasnya, asal daerahnya.
Silakan, Ibu. Oke, terima kasih Mas
Lukman. Perkenalkan Bu Erna juga. Nama
saya Putriaki Pratiwi. Saya dari
Instansi Dinas Perikanan dan Kelautan
Jawa Timur. Saya bertugas di UPT eh PPP
Tamperan Pacitan.
Terima kasih kesempatannya. Mohon izin
Bapak Ibu terkait ee perkembangan
teknologi dan fleksibilitas kita dalam
belajar. Saya mau bertanya ee sekarang
ini kan di era sekarang banyak sekali ya
berbagai macam ee aplikasi dan platform
AI ee contohnya ada Gemini atau Chat
GPT. Ee berdasarkan penjelasan yang
sudah disampaikan saya tangkap bahwa ee
dari organisasi juga sangat men-support
ya terkait perkembangan teknologi ini.
Tapi ee seperti yang perlu kita ketahui
teknologi itu selain membawa dampak
positif juga ada dampak negatifnya. Nah,
bagaimana ee mekanisme atau langkah
antisipasi organisasi dalam menyikapi
pegawai mungkin ya ee karena banyak
pegawai sekarang yang genzy-genzi ini ee
sangat menggunakan AI. Jadi, apakah ada
batas-batas atau mekanisme tertentu
supaya kita semua tidak kebablasan gitu
ya, Bu dalam menggunakan AI dalam
bekerja? Ee terima kasih, Mas.
Pertanyaan saya seperti berikut. Terima
kasih, Bu Putri. Ini menarik sekali ya
Bu Erna ya. Ketika kita sudah kebablasan
pakai AI pada akhirnya otak kita tidak
terbiasa untuk berpikir. Kita menganggap
AI itu jawabannya selalu benar. Padahal
AI juga bergantung sama database.
Bagaimana Bu Erna menanggapi pertanyaan
ini? Silakan Bu. Oke. Ini diskusi
beberapa hari ke sana Mbak Putri. Terima
kasih banyak ini mengedress di sini.
Kalau saya selalu mengatakan begini,
artificial intelligence itu menjadi
pintar karena kita.
masternya selalu kita kita harus
menempatkan diri bahwa kita adalah
masternya kita bisa mendikte artificial
intelligence. Biasanya perdebatannya kan
gini, eh artificial intelligence itu
membuat
kepala kita tidak bisa berpikir gitu.
Karena apa? Semuanya ada jawabannya.
Misalnya begini, kita belajar sendiri
ya, Mbak Putri. karena belajar sendiri,
tapi kita tidak ingin menguasai
kompetensinya, tapi mau dapat
sertifikatnya.
Enggak usah baca modulnya, langsung
evaluasi. Soalnya di sebelahnya pakai
handphone lah, pakai apa namanya meta
atau kalau punya Jemaah ini atau pakai
Jemini bacanya Gemini atau bahasa
Inggris saya enggak tahu. Atau CGBT atau
eilot-nya Microsoft ketik aja langsung
jawabannya semuanya 5 menit sudah lulus
tanpa harus belajar. Nah, kalau ini saya
kembalikan ke pertanyaannya gitu. Kalau
kita berbicara growth mindset itu adalah
proses bukan and result tidak result
saja gitu. Kalau ener saja ya sudah
belajar sendiri, evaluasi, lulus karena
apa? Dibantu
CGBT. Tapi kalau belajar ingin
meningkatkan kompetensi kita, saya yakin
kita akan mengalami prosesnya. Nah, satu
itu ya pertanyaannya tadi lebih kepada
Bu kalau instansi pemerintah sudah
menerapkan EA untuk membantu
pekerjaannya berarti istirahat dong
kepala kita. Kalau saya enggak. Kita
sebutannya deep learning, Mbak. Kalau
saya mungkin sedikit bertanya kepada
kawan-kawan. Kawan-kawan ketika
melakukan pekerjaan misalnya sebagai
seorang pemimpin atau kita punya project
gitu, kita meng-hire konsultan, eh
tolong dong bantu saya begini-begini
gitu.
Apakah berarti bahwa kemampuan berpikir
kita berhenti? Kan kita tidak. Kita akan
menilai apakah konsultan ini melakukan
pekerjaannya dengan baik gitu. Ini
misalnya konsultan fisik kemudian kita
punya ee CGBT atau kita punya copilot,
kita punya cemain gitu. Eh, aku punya
problem ini. Tolong dong selesaikan ide.
kasih ide ke saya dong untuk
menganalisis data ini, ini, ini, ini,
nih. Eh, datamu enggak lengkap. Karena
dia kan kecerdasan dia itu dibuat pintar
oleh kita semua yang kontribusi terhadap
data. Dia akan nyari data semuanya. Eh,
faktor ini belum ada, tambahkan dong.
Eh, yang ini. Nah, ini kita
mencerdaskan. Jadi, sekali lagi kita
yang menjadi masternya, gitu. Kalau tadi
saya membandingkan kita memiliki
konsultannya adalah fisik, kemudian
konsultan kita adalah artificial
intelligen. Kalau lebih murah daripada
konsultan, kita lebih murah dengan AI,
kenapa kita tidak menggunakan AI?
Sebenarnya kan sama ya, sama gitu. Jadi
selalu kita sebutnya adalah deep
learning gitu. Tidak menjadikan AI
sebagai tujuan, tapi adalah tool atau
teknologi yang membantu kita.
Bapak, Ibu, kalau kita sudah terbiasa
dengan chat GPT, kita bisa marahin AI,
eh kok kayak gini sih jawabu enggak
cocok dong. Tolong masukkan ini. Kita
tanyain ya enggak ada Bapak, Ibu. Dia
juga enggak 100% pintar. Misalnya Bapak,
Ibu, saya nanya ke copilot gitu. Copilot
tolong dong ee tampilkan data survei
survei nasional tentang ee indeks ASN
berakhlak.
dia tampilkan angkanya tahun 2024
angkanya kalau enggak salah eh 2023 atau
2024 68 gitu. Eh tolong dong per nilai
enggak ada. Dia jawab enggak ada karena
belum ada data di mana pun yang bisa dia
akses untuk menunjukkan nilai berakhlak
misalnya kompeten berapa dan lain-lain.
Jadi sekali lagi artificial intelligence
yang membuat cerdas adalah kita gitu.
Ketika kita datanya bisa diakses, dia
akan semakin pintar karena apa? dia akan
mencari banyak data, mencari
kecenderungan yang benar, yang mana
sampai bisa menyajikan ke kita. Tapi
masternya adalah kita sama. Tapi kalau
di universitas, di kampus beda
ceritanya. Yang dididik di kampus adalah
logika kita, ya, cara berpikir kita. Ah,
kalau yang ini tujuannya tadi dia
mengalami proses logika supaya
kemampuannya dia itu berkembang. Kalau
kita sudah masuk di pekerjaan, problem
solving, benar enggak? Apakah kita mampu
menyelesaikan sebuah solusi dari
permasalahan yang kita hadapi? Apakah
kita mau kerjakan sendiri? Apakah ada
konsultan, apakah ada artificial
intelligence, kita memilih gitu. Kita
memilih mana yang cepat, mana yang
murah, mana yang lebih akurat, mana yang
lengkap, dan lain-lain. Jadi sekali lagi
semua pilihan sebenarnya ada di kita.
Tapi ketika kita bekerja berbeda
tuntutannya dengan ketika kita di
kampus. Nanti Pak ee Profesor mungkin
bisa bercerita banyak kalau nanti ada
pertanyaan tentang artificial intellig
intelligence. Tapi sekali lagi ketika
kita bekerja yang kita hadapi adalah
problem. Problem butuh solusi. Bagaimana
solusi ini diselesaikan tapi sekali lagi
bahwa kita masternya bukan artificial
intelligence. Mungkin itu. Terima kasih
Bu Ernah untuk jawabannya. Jadi memang
penting ee mindsetnya terlebih dahulu
harus kita benahi ya. AI ini adalah
tools kita adalah masternya. Tapi tetap
ketika kita menggunakan AI dibutuhkan
analytical dan critical thinking ketika
jawaban itu sudah keluar. Thank you
sekali lagi Bu Putri untuk
pertanyaannya. Mohon izin Ibu ee
dikirimkan untuk nama asal dinas, asal
daerah dan juga alamatnya melalui chat
Zoom untuk pengiriman souvenir dari tim
BPSDM Jawa Timur. Terima kasih sekali
lagi Bu Putri. Salam sehat selalu. Saya
akan masuk ke penanyaan berikutnya. Kali
ini sudah hadir bersama dengan kami
Bapak Abdika Jaya dari Ombutsman RI.
Saya akan sapa beliau terlebih dahulu.
Selamat siang, Pak Abdika. Siang, Pak.
Baik, Pak Abdika. Sebelum diampaikan
pertanyaannya bisa diperkenalkan
terlebih dahulu nama Bapak, asal dinas,
dan juga asal daerah. Kami persilakan,
Pak Abdika. Ya, terima kasih Pak. E
perkenalkan nama Jaya asal instansi
Komutmen RI
Jakarta, Pak.
Siap. Silakan, Pak Abdika. Pertanyaannya
bisa disampaikan ke Bu Erna, Pak. Iya.
Ee materi pada hari ini ee sangat
menarik menurut saya, Bu ya. ee
di kita di instansi Ombesmen mungkin
juga di
instansi lain juga itu
khususnya untuk pelatihan itu ee
masing-masing ASN memenuhi 20 JP Bu ya.
Di samping itu juga saya ee juga aktif
di organisasi Ikatan Akuntan Indonesia.
di organisasi ini kita ada yang namanya
program pendidikan profesi berkelanjutan
di mana setiap tahunnya kita harus
mengumpulkan 30
JP Bu ee pertanyaan saya Bu ee terkait
dengan
lifeelong learning ini
bagaimana strategi kita agar
Ling ini lebih efektif tidak hanya mata
untuk memenuhi persyaratan tadi ya untuk
memenuhi DP tadi. Kemudian tadi di
materi Ibu Erna juga disebutkan
bagaimana cara mengukur ee ya ee
kemajuan dari pembelajaran
panjang masa ini ya. Ee pertanyaan saya
ee bisa enggak contohnya Bu? contoh ee
mengukur ee kemajuan dari
pembelajaran
sepanjang masa ini. Terima kasih. Siap.
Terima kasih Pak Abdika untuk
pertanyaannya. Jadi ada dua pertanyaan
untuk Bu Erna. Yang pertama bagaimana
kita bisa membuat lifelong lear
experience ini bisa berjalan dengan
efektif dan terkait dengan pengukuran
ya. Tadi kan banyak sekali levelnya ya
Bu. Ada level 1, 2, 3, dan 4. Kalau
berdasarkan K Patrick Evaluation model.
Kalau di lingkungan Ibu seperti apa
implementasinya dan porsinya juga ya
barangkali yang paling sering digunakan
itu level evaluasi yang seperti apa?
Silakan Bu Erna. Oke, terima kasih
banyak eh Pak Abdika dari Ombudsmen RI
Jakarta. tetangga tapi agak jauh, Pak.
tadi ee sebenarnya ketika terbit
Undang-Undang 20 tahun 2023 meskipun
kita masih menunggu PP-nya karena PP-nya
masih RPP sebenarnya sudah ada satu
perubahan paradigma cuman kita memang
masih menggunakan PP 11 ya Bapak Ibu
ketika di situ disebutkan untuk PNS itu
minimal 20 JP P3K maksimal ee
24 JP JP tadi Bapak menyebutkan kalau di
organisasi profesi ada 30 JP. Sebenarnya
dengan Undang-Undang 20 pasal 49 Bapak
Ibu ayat 1 di situ kan sebutannya adalah
setiap ASN wajib belajar. bukan kalau
undang-undang 5, undang-undang yang
digantikan 20 adalah hak
itu. Makanya di PP-nya hak-nya adalah 20
JP untuk PNS sehingga orang biasanya
kenapa dirubah Bapak, Ibu? Ternyata
ketika kita menetapkan itu dengan hak
dan ukurannya adalah kuantitas, hak
plus.
Kalau hak Bapak Ibu motivasi atau budaya
kita belum muncul untuk belajar live
learning belum ada di pegawainya, enggak
ada yang nanyain haknya gitu. Eh, kok
saya tahun ini belum ada pelatihannya
ya? Gitu. Enggak ada yang nanyain Bapak
Ibu gitu. jarang kalaupun ada yang
nanyain gitu ketika kita ngomong
kuantitas tadi. Kemudian yang kedua
adalah ketika kuantitas hak tadi
kemudian ukurannya adalah kuantitas 20
yang terjadi adalah ketika
organisasi kemudian mau diukur indeks
profesionalismenya,
salah satu ukurannya adalah setiap
pegawai harus 20 JP.
Motivasi individunya enggak muncul
karena hak tadi tidak ditagih.
Organisasinya ngejar. Ayo dong semua ASN
kamu 20 JP karena kalau tidak IP indeks
profesionalitas kita nanti enggak bagus
nih. Akhirnya semuanya belajar dalam 1
hari buka tiga komputer
ini dapat 3 JP, 4JP, 2 hari 20 JP. Tapi
sekali lagi yang belajar komputer yang
tadi saya sebutkan gitu. Jadi N produkct
sertifikat 2JP, 3JP, 4JP yang dikejar
bukan proses pembelajarannya. Jadi
kuantitas di undang-undang yang baru ini
nanti akan ditinggalkan di pengaturan di
PP-nya Bapak Ibu, tapi lebih kepada
pasal 49 ayat 3 terintegrasi dengan
pekerjaan. Hasil belajar tadi harus ada
manfaatnya bagi pekerjaan kita. Jadi
kalau tadi saya menyebutkan ee kami
membentuk task force content creator.
Hari ini saya memberikan pembekalan
mengenai delapan bentuk
konten basisnya teknologi. Kita akan
kenalkan.
Kemudian kita sebutkan targetnya.
Targetnya setiap kompartem kompartemen
empat konten. Jadi terintegrasi dengan
pekerjaan ada hasilnya. Nanti kita akan
ajari menggunakan CKC ee premium
menggunakan kan macam-macam AI-nya Bapak
Ibu tanggal 78 kita akan bekali kepada
pesertanya. Minggu ke 3 bulan Juli
semuanya harus sudah siap untuk
dikurasi. Nah, ini yang kita sebutkan
pembelajaran ini memiliki tujuan dan
tujuannya ini adalah tujuan organisasi
tadi. Kalau tujuan organisasi, tujuan
karir individu juga bisa Bapak Ibu. Tapi
sekali lagi kalau kuantitas ukuran
keberhasilnya adalah kuantitas. Bapak,
Ibu yang dikejar kuantitasnya. Makanya
tadi EA hadir membantu kita untuk ujian
supaya lulus. Kalau lulus karena dapat
sertifikat, serahkan ke kantor, eh ini
5JP, jadi saya selesai nih 20 JP. Tapi
kita enggak ngerti apa itu konten yang
harus kita tingkatkan. Jadi sekali lagi
ee strateginya adalah kaitkan
pembelajaran ini dengan tujuan kita.
Apakah tujuannya adalah karir individu
atau yang kedua tujuannya adalah
menyelesaikan pekerjaan kita dengan
kualitas yang terbaik. Jadi
mengintegrasikan dengan pekerjaan
menurut saya salah satu strategi untuk
memastikan bahwa long life learning tadi
ada manfaatnya dan kita menjadi
termotivasi. Kalau motivasinya mengejar
angka Bapak Ibu sekarang akses mudah
banget ya Pak Abdi ya. Mau belajar apa
ada webinar di sini. mau belajar apa?
Ada webinar di sini 1 hari bisa Bapak
Ibu kita apa namanya mengumpulkan banyak
JP apalagi kalau gadget kita banyak
gitu. Tapi saya tidak mengatakan bahwa
belajar jarak jauh tidak bermanfaat.
Banyak manfaatnya tapi sekali lagi dari
kesadaran kita untuk menjalani proses.
Jadi proses belajarnya yang harus kita
pelajari apa meskipun bonusnya ada end
product gitu. Cuma kalau kita jam Bapak,
Ibu jumping bahwa saya hanya di N-nya
tidak mengalami belajarnya Nnya kemudian
kuncinya ke CGBT atau artificial
intelligence, enggak ada pembelajarannya
gitu. Ketika kita dihadapkan kepada
misalnya harus membuat konten basisnya
artificial tetap enggak bisa meskipun
punya sertifikat 50 gitu. Jadi selalu
dikaitkan dengan pekerjaan pasal 49 ayat
3 dari Undang-Undang 20 sebenarnya sudah
sudah ke sana. Kemudian ee
mengukur kemajuan Bapak Ibu yang paling
sering digunakan.
Jadi begini K Patrick itu misalnya K
Patrick yang paling sering digunakan
kalau kita melihat kemanfaatan sebuah
pelatihan gitu. level 1, level 2
biasanya mengukur programnya di program
pelatihannya gitu. Sedangkan level 3 dan
4 adalah ketika sudah kembali ke tempat
kerja gitu.
Roti atau rolly Bapak Ibu return of
learning investment ini yang masih
jarang tapi sekarang menjadi tren gitu.
Kami tahun 2023 bekerja sama dengan
Tanoto Foundation melakukan keduanya
Bapak Ibu baiker Patrick level 3 dan 4.
Kami tidak mengukur level 1 dan 2 karena
level 1 dan 2 diselesaikan di program
ini. Kami mengukur secara nasional dan
waktu itu kita mengukur untuk Latsar
kepemimpinan PKP, PKA, PKN2, dan PKN 1.
Bapak, Ibu hasilnya ada gitu ee yang
kita apa namanya yang yang surveinya
kita berikan kepada alumni dan juga
kepada atasannya, Bapak, Ibu. Jadi itu
yang kita lakukan. Kemudian yang roti,
Bapak Ibu kita sebutnya roti karena
memang trainingnya yang kita ukur. Tapi
kalau Bapak Ibu berbagai variasi,
gunakan istilahnya adalah rolly tadi,
return of training investment untuk
pelatihan kepemimpinan kita ukur Bapak,
Ibu. Cuman mungkin angkanya saya agak
lupa. Jadi setiap investasi Rp1 Bapak
Ibu kita bisa manfaatnya itu sekitar
kalau kalau angkanya salah saya mohon
maaf ya sekitar 20.
Jadi 20 kali lipat dari misalnya kita
investasinya di pelatihan ke PKn tingkat
2 22 juta. Setiap Rp1 dari 22 juta ini
menghasilkan hasil sekitar misalnya 20
kalinya Bapak Ibu. Jadi mengukurnya
seperti apa? Kita kejar memang valuasi
nilai ekonomi dari proyek perubahan.
Jadi setiap pelatihan kepemimpan kan ada
proyek perubahannya. Proyek perubahannya
sesudah jangka menengah hasilnya
rupiahnya kemanfaatan bagi organisasi
itu berapa. Kemudian kita bandingkan
dengan biaya pelatihannya Bapak Ibu. Nah
ini ini salah satu contoh. Jadi kalau
yang biasa digunakan saat ini adalah
Kpatrick. Kalau kemanfaatannya biasanya
level 3 dan 4. Tapi kalau program adalah
1 du untuk live lifelong learning bisa
empat levelnya digunakan termasuk yang
roli tadi gitu. Mungkin itu sedikit apa
namanya yang sudah pernah kita lakukan
terkait mengukur keberhasilan. Jadi
nanti ee Pak
Abdi bisa kontak juga dengan tim kami
kalau ingin melihat hasilnya. Kalau
enggak salah di webnya LAN juga sudah
ada evaluasi pasca pelatihan nggih. Itu
ada dokumennya. Monggo nanti kalau mau
dijelaskan. Makasih Bu. Terima kasih Pak
Abdi untuk pertanyaannya. Mohon izin
Bapak jangan lupa untuk memberikan kami
informasi terkait nama asal dinas, asal
daerah dan alamat Bapak untuk pengiriman
souvenir melalui chat Zoom. Bu Erna
terima kasih untuk jawabannya. Jadi
memang benar sekali ya untuk membentuk
learning experience yang efektif tadi
itu memang harus dikaitkan tujuan
organisasinya dan memang diintegrasikan
dengan pekerjaan pun demikian tadi
evaluasinya kita harus kombinasi
sekarang sudah enggak efektif kalau kita
cuman ukur L1 L2 tapi L3 dan L4-nya kan
juga harus diukur perubahan behavior dan
dampak terhadap organisasinya. Terima
kasih sekali lagi Bu Erna untuk materi
dan diskusi yang sangat menarik sekali
di siang hari ini. Sebelum diakhiri
barangkali dari Bu Erna ada closing
statement yang ingin disampaikan Ibu
kami persilakan. Oke, terima kasih
banyak Mas Lukman. Terima kasih banyak
sekali lagi Bapak Ibu yang sudah
berpartisipasi dan semangat mengikuti
seri belajar kita. Mungkin saya ingin
menggaris bawahi satu Bapak Ibu, salah
satu tantangan besar kita saat ini
adalah mendapatkan dan memiliki ASN yang
memiliki growth mindset, yang selalu
haus untuk belajar, yang tahu bahwa
untuk relevan untuk bisa maju di kondisi
yang perubahannya sangat cepat saat ini
adalah kemampuan kita untuk selalu
mengembangkan diri kita untuk selalu
belajar. Jadi sekali lagi, life live
long learning menjadi tumpuan kita untuk
menjadikan pemerintahan kita menjadi
pemerintahan yang unggul. Sekali lagi
terima kasih. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih sekali lagi
kami ucapkan kepada Bu Erna Irawati.
Semoga apa yang disampaikan ini menjadi
barokah dan bermanfaat untuk sobat ASN
yang menyimak acara webinar ASN Belajar
seri 25. Salam sehat selalu, Ibu. Kita
bertemu lagi di event-event selanjutnya,
Ibu.
Terima kasih Jinli Bapak Ibu semuanya.
Terima kasih Bu Erna dan Sobat TSN.
Jangan ke mana-mana karena sesaat lagi
kita masih akan ada dua narasumber yang
akan berbagi inset luar biasa tentunya
dalam webinar ASM Belajar seri 25 tahun
2025.
Baik, Sobat ASN, Anda kembali lagi
menyaksikan webinar ASN Belajar seri 25
tahun 2025. Dan kali ini kita akan
mendengarkan paparan materi dari Kepala
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kementerian Dalam Negeri, Bapak Dr.
Sugeng Haryono, M.Pd.
[Musik]
Baik, telah bergabung bersama dengan
kita semua di sini Pak Sugeng Haryono.
Selamat siang, Pak Sugeng. Selamat
siang. Apa kabar, Mas Lukman?
Alhamdulillah kabar baik, Bapak. Kabar
baik juga, Pak. Alhamdulillah sehat.
Baik, baik, Pak Sugang. tadi sudah
disampaikan oleh Bu Erna bahwa tantangan
terbesar dari ASN saat ini adalah
memiliki growth mindset. Ya, ini yang
harus di apa namanya? Gugah untuk
menciptakan learning culture di
lingkungan kita masing-masing. Dan kali
ini kita akan mendengarkan perspektif
lain dari Pak Sugeng Haryono. Bagaimana
cara kita bisa menumbuhkan minat belajar
sepanjang usia utamanya untuk
keberhasilan organisasi. Untuk materi
kurang lebih akan disampaikan kurang
lebih selama 30 menit. Nanti kita akan
langsung lanjut ke sesi tanya jawab, Pak
Sugeng kami persilakan, Pak.
Baik, terima kasih, Mas Lukman Ali.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Selamat siang, salam sejahtera untuk
kita sekalian. Shalom, Om Swastiastu,
Namo Buddhaya, salam kebajikan dan
tentunya salam sehat untuk kita
semuanya.
Yang saya hormati Kepala BPSDM Provinsi
Jawa Timur, Pak Ramlianto, Bu Deputi
tadi ada Bu Erna, saya ikutin juga
materinya tadi Bu Deputi dan teman-teman
semua yang terhubung secara online di
acara
webinar kita ini. ASN Belajar seri
ke-25.
Temanya sangat excited. Ini ASN meraih
asa, meraih harapan, belajar sepanjang
masa dan bagaimana kemudian tumbuh
kultur ya untuk belajar dan itu
digunakan untuk mengabdi sepanjang usia
kita.
Baik, saya akan menyampaikan materi saya
bagi dalam tiga segmen. Yang pertama
adalah saya menyampaikan pada segmen
normatifnya,
norma aturannya
termasuk apa yang mesti dituju di depan.
Yang kedua, kemudian saya akan
menyampaikan segmen terkait dengan data
yang kita hadapi, realita, fakta yang
kita kemudian ketiga, baru kita akan
bicara tentang apa yang seharusnya
dilakukan. Ini lebih sebagai
rekomendasi. dari acara kita ini ya.
Baik, saya tadi sudah diperkenalkan nama
saya, saya Sugeng Haryono saat ini
sebagai Kepala BPSDM Kementerian Dalam
Negeri.
Ini silakan ini biodata saya, tapi ada
beberapa hal yang ee nanti saya akan
elaborasi pasti terkait dengan
pengalaman penugasan saya, pengalaman
berbagai pelatihan dan seterusnya.
Lanjut.
Kalau kita bicara tentang norma ini,
segmen yang pertama aturan
kita buka RPJPN kita, rencana
pembangunan jangka panjang nasional
2025-2045
20 tahun ke depan
visi yang hendak diwujudkan oleh kita
bersama di negara tercinta kita adalah
Indonesia Emas 2040,
20 tahun dari sekarang.
2025 ini menarik karena ini dimulai
jangka panjang nasional dan jangka
panjang daerah. Jangka menengah
nasional, jangka menengah daerah.
Renstra kementerian, lembaga pemerintah
non kementerian dan Renstra semua
perangkat daerah semua dimulai di 2025.
Inilah satu hal tahapan yang monumental
di negara kita.
Kalau tahun kemarin kita melaksanakan
Pilkada serentak nasional, ini sudah
pertama kali dalam sejarah nasional
kita. Pelantikan kepala daerah juga
serentak di istana negara. Meskipun Aceh
sesuai undang-undangnya dilaksanakan di
Aceh.
Saat ini juga masih ada yang PSU
pemungkutan suara ulang.
keserentakan ini dimaknai
supaya di 2025 ketika hampir sebagian
besar kepala daerah sudah dilantik dan
presiden juga sudah dilantik,
kita akan memulai keserentakan
menuju kepada visi jangka panjang kita
2045 dan visi jangka menengah kita 2029
untuk menuju pada satu titik visi suatu
Harapan besar yang hendak diwujudkan
dalam jangka panjang dan dalam jangka
menengah tentu dibutuhkan sumber daya
manusia yang qualified.
Ungkapan bijak mengatakan men the god.
Di balik setiap kebijakan apapun kata G
di sini diterjemahkan tidak sekedar
sebagai senjata
ya kebijakan yang gak dituju
dalam bentuk visi tadi jangka panjang
jangka menengah. akan sangat bergantung
kepada manusia.
Manusia adalah penentu dalam suatu
sistem.
Maka di dalam RPJPN, rencana pembangunan
Jakarta nasional
20 tahun ke depan di sana ada manajemen
talenta
yang difokuskan pada beberapa hal. Saya
ambil dua hal. Yang pertama adalah
manajemen talenta itu sendiri.
Kemudian yang kedua, pengembangan
kompetensi ASN. Kenapa mesti ASN?
Kita lihat di dalam Undang-Undang ASN,
fungsi nomor satu ASN adalah pelaksana
kebijakan publik, public policy.
Kebijakannya sudah bagus. Misalnya kita
punya RPJPN, RPJPD, RPJMN, RPJMD. Punya
RENstra kementerian, lembaga
pemerintahan nonkementerian punya
Renstraisme OPD.
Pada akhirnya pelaksana kebijakan ini
adalah ASN. Itu fungsi nomor 1 ASN dari
tiga fungsi yang ada di dalam
Undang-Undang ASN.
Terkait itu maka di dalam RPJPN kita
Undang-Undang 59 tahun 2024 juga ada
arah kebijakan untuk mewujudkan
meritokrasi dan integritas.
Tapi tandain
hal yang menarik bagi kita semua adalah
adanya etika rencana untuk melakukan
peninjauan atas kewenangan kepala daerah
selaku pejabat pembina kepegawaian.
ini tentu dimaknai sebagai upaya untuk
kita memisahkan antara carrier
appointing,
pola karir dari ASN
dengan political appointing.
Bahwa dalam penentuan karir seorang ASN
seharusnya didasarkan murni kepada
pertimbangan objektif, kinerja
termasuk perilaku kerja.
Kemudian di dalam meritokrasi dan
integritas ini ada aspek juga saya
tandain di sini peningkatan kapasitas
sumber daya manusia.
Kita fokuskan sumber daya manusia ASN.
Sekali lagi fungsi nomor satu ASN dalam
Undang-Undang ASN adalah pelaksana
kebijakan publik. Kebijakannya sudah
ada, sudah bagus. Nanti saya akan
sampaikan lagi bentuk-bentuk
kebijakannya.
Maka penentunya adalah kualitas AS.
Oke, kita lihat lagi regulasi berikutnya
ya. Ya, ini ada asta cita ini di dalam
RPJMN kita
delapan cita delapan harapan kita. Dari
delapan cita harapan itu ada dua yang
perlu kita fokuskan. Nomor empat
memperkuat pembangunan sumber daya
manusia.
Tentu ASN bagian dari sumber daya
manusia.
Nomor tujuh. Kemudian terkait dengan
reformasi termasuk reformasi birokrasi
ini asal cita inilah yang ee mengarahkan
kepada kita
dari satu visi jangka panjang, satu visi
jangka menengah, kemudian dielaborasi ke
dalam 8 jipa dan nanti ke dalam 17
prioritas program.
Dari sinilah saya ingin mengajak coba
kita lihat lagi aturan berikutnya. Tadi
saya sudah sebut Undang-Undang ASN
undang-undang 20 tahun 2023. Tadi saya
menegaskan tiga fungsi ASN. Nomor satu
adalah pelaksana kebijakan publik. Nomor
dua adalah pelayan publik. Baru yang
ketiga mempererat dan perekat NKRI.
di Undang-Undang ASN ada juga yang
menarik di pasal 49,
setiap pegawai ASN wajib melakukan
pengembangan kompetensi. Artinya
undang-undang itu kan sesuatu yang
sifatnya wajib dikerjakan.
Tapi dalam pasal 49 pada undang-undang
20 2023
digunakan lagi kata wajib.
Berarti ini adalah satu penekanan yang
luar biasa bahwa setiap ASN mau tidak
mau harus punya kesadaran pribadi untuk
mengembangkan kompetensi
melalui pembelajaran secara
terus-menerus. Dalam tema kita, kita
sebut sebagai pembelajaran sepanjang
hayat. Terus-menerus untuk memberikan
pengabdian yang terbaik sepanjang hayat.
Pembelajaran terus-menerus ini agar
tetap relevan dengan tuntutan
organisasi. organisasi yang paling besar
adalah organisasi negara.
Kemudian di dalam organisasi di tingkat
pusat ada kementerian, lembaga
pemerintahan non kementerian, ada
korporasi, ada BUMN dan seterusnya.
Kemudian di tingkat daerah kita punya
pemerintah daerah, ada perangkat daerah,
ada juga BUMD di tingkat daerah. Itulah
organisasi.
Organisasi punya tantangan, punya visi
organisasi.
Jadi kita punya RENstra kementerian dan
lembaga. punya RENstra perangkat daerah.
Di tingkat daerah kita punya RPJM
N, ada RPJMD dan RPJP.
Organisasi ini mesinnya adalah manusia
dan di dalam manusia itu ada ASN
yang fungsi nomor satu adalah tadi
pelaksana kebijakan yang dibuat oleh
organisasi itu
termasuk visi organisasi.
Kita lihat lagi sekarang regulasi
berikutnya.
Undang-undang nomor 23 tahun 2014
tentang pemerintahan daerah.
Kita buka di pasal 233.
Pada ayat 1 pasal 233 ditegaskan bahwa
ada frase di sana. Setiap pegawai ASN
harus memenuhi persyaratan kompetensi.
Normalnya harus memenuhi persyaratan
kompetensi.
Kalau digunakan kata persyaratan
kompetensi, maka mestinya syarat ini
diperlakukan ketika seseorang ASN belum
duduk dalam suatu jabatan. Jabatan
apapun,
apakah jabatan pimpinan tinggi, jabatan
administrasi, maupun jabatan fungsional.
Karena di dalam undang-undang ASN ada
tiga jenis jabatan itu.
Di sini noranya tegas, harus memenuhi
persyaratan kompetensi. Maka tuntutan
untuk belajar seumur hidup itu kalau
dikaitkan dengan perintah undang-undang
pemerintahan daerah ini adalah
sebelum seseorang duduk dalam suatu
jabatan penuhi dulu syarat kompetensi
sampai dinyatakan kompeten.
Di sini ada empat jenis kompetensi yang
harus dipenuhi. Kompetensi teknis,
kompetensi manajerial, kompetensi sosial
kultural, dan ditekankan secara khusus
di pasal 233
kompetensi pemerintahan.
Dalam konteks ini Kementerian Dalam
Negeri saya memberikan fokus penekanan
terutama pada kompetensi pemerintahan.
Kalau kompetensi manajestrial tadi Ibu
Deputi Bu Erna.
Kompetensi teknis menjadi tugas bagi
semua kementerian dan lembaga.
Kompetensi sosial kultural akan sangat
terkait dengan di mana posisi berada
organisasi itu harus disesuaikan dengan
kondisi sosial kultural masyarakat
sekitar.
Maka saya fokuskan kepada kompetensi
pemerintahan karena ditugaskan kepada
Kementerian Dalam Negeri.
Kalau ayat 4 sana dikatakan kompetensi
pemerintahan
itu ditetapkan oleh menteri. Maka
menteri yang dimaksud sini adalah
menteri dalam.
Di dalam penjelasan atas pasal ini
ditegaskan bahwa yang dimaksud
kompetensi pemerintahan itu antara lain.
Jadi ini sekurang-kurangnya at least
mencakup pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang terkait dengan tujuh
unit kompetensi
kebijakan desentralisasi, hubungan
pemerintah pusat dengan daerah,
pemerintahan umum, pengelolaan keuangan
daerah, urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah, hubungan pemerintah
daerah dengan DPRD dan etika
pemerintahan.
Ini semua namanya kompetensi
pemerintahan ya. Sekali lagi ini khusus
diamanahkan kepada Menteri Dalam Negeri
untuk melakukan pengaturan dan
memastikan sebelum seseorang duduk dalam
suatu jabatan apapun di tingkat daerah
harus memenuhi persyaratan kompetensi
pemerintahan. Tentu ini sekaligus
disatukan dengan tiga kompetensi yang
lain tadi kompetensi teknis, manajerial,
dan sosial.
Terkait hal itu, maka Bapak Menteri Jar
Negeri kemudian sudah menerbitkan surat
edaran tanggal 12 Desember 2024. Pada
poin 3, kalau teman-teman lihat di sana
ditegaskan bahwa pemerintah daerah harus
menjamin
bahwa penyelenggara pemerintahan daerah
memiliki kompetensi dan kapabilitas
dalam tata kelola pemerintahan.
Oleh karena itu, maka penempatan atau
pengisian jabatan wajib memenuhi
persyaratan kompetensi pemerintahan yang
dibuktikan dengan surat tanda tamat
pendidikan pelatihan dan atau sertifikat
kompeten di kompetensi pemerintahan.
Ini sekali lagi kompetensi pemerintahan
harus dibaca senapas dengan kompetensi
teknis, manajerial, dan sosial kultural.
Tapi kami memberikan penekanan ini
karena sekali lagi ini ditugaskan kepada
Menteri Dalam Negeri Undang-Undang
Pemerintahan Daerah Pasal 2313.
Untuk memenisme kompetensi ini tentu
karena tadi undang-undang ASN mengatakan
wajib diserahkan kepada setiap ASN
punya kesadaran meningkatkan kompetensi
tapi kemudian pemerintah negara
memberikan
reward.
Ya, nanti saya akan sampaikan di bagian
akhir dari paparan ini. Salah satu
reward-nya tentu adalah terkait dengan
pengembangan karir.
Inilah semua norma yang saya sampaikan
mulai dari Undang-Undang RPJPN 59 2024,
Undang-Undang ASN 20 2003 sampai dengan
kemudian Undang-Undang Pemerintahan
Daerah 2314.
Sekarang kita lihat datanya. Ini segmen
kita yang kedua.
Data pertama kita lihat data IPM indeks
pembangunan manusia human development
indeks
IPM kita kita bandingkan saja dengan 10
negara ASEAN kita negara ada 11 negara
ASEAN salah satu negara kita kita
perbandingkan dengan 10 negara posisi
kita adalah nomor 6 dari 11 negara Asia
posisi kita di bawah prata ASEAN yang
73,6 IPM-nya
kita di 71,3. Silakan teman-teman bisa
melihat IPM ini apa sih urgensinya?
Ini menunjukkan bagaimana tingkat ee
kualitas keberhasilan kita dalam
membangun pada sisi pendidikan,
kesehatan, lapangan kerja, daya beli.
Belajar terus-menerus adalah bagian dari
segmen pendidikan, tetapi juga sangat
ditentukan oleh kualitas kesehatan
mental, kualitas kesehatan fisik, dan
berkorelasi nanti juga dengan
produktivitas kerja. Nanti saya akan
kaitkan dengan indeks produktivitas
ya. Data lainnya menunjukkan seperti
ini. Kita lihat ini kalau kita bagi
IPM per provinsi ada 38 provinsi.
Teman-teman bisa melihat se-Indonesia
yang ikut acara ini. Bagaimana posisi
IPM per provinsi? Kalau ada garis
putus-putus warna merah, itulah rata IPM
nasional 71,3.
Suatu provinsi yang di atas berarti
sudah di atas rata-rata nasional dan di
bawah berarti di bawah rata.
Kita bisa lihat sekali lagi ini adalah
komposit dari
pendidikan,
kesehatan, dan lapangan kerja.
Kita lihat lagi data berikutnya.
Tadi kita bicara IPR,
sekarang kita bicara angkatan kerja
kita, ya. Jumlah tenaga kerja kita di
negara Asia sudah paling tinggi
144,64
juta.
Bandingkan dengan negara-negara lain,
berapa jumlah tenaga kerjanya?
Tetapi
apakah ini berkorelasi dengan
produktivitas?
dan tidak. Silakan teman-teman bisa
search sumber yang kami ambil.
Kita lihat sekarang produktivitas tenaga
kerja. Kalau tadi jumlah tenaga kerja
kita paling tinggi di ASEAN, maka dari
sisi produktivitas kita adalah nomor
lima.
Kita lihat di sini ya produktivitas kita
ya. Nomor satu Singapura, dua Brunei
kemudian Malaysia dan Thailand. Kita
nomor 5.
Silakan diambil nanti sumber
lagi. Data berikutnya
data ASN kita, data existing kita ASN
saat ini
mengacu kepada data di semester 2 tahun
2024. Artinya masih sangat baru ini
akhir 2024 yang lalu
dari ASN kita PNS adalah paling banyak
75%.
PDK 25%
dari sebaran pendidikan kita bisa
melihat
paling banyak dari ASN kita adalah
antara D4 sampai dengan S1 itu 64%.
Yang kedua, 13% itu adalah antara D1
sampai dengan D3.
Oke, dua data ini kita gabungkan 77%
antara D1 sampai dengan S1.
Artinya apa? ASN kita sebagian besar
adalah orang kuliahan.
sudah kuliah ya sudah mengenyam bangku
pendidikan pendidikan tinggi
ada juga S2 11% juga cukup tinggi
bahkan yang S2 ini setara dengan antara
SD sampai dengan SMA tapi SD SMA ini kan
rinya panjang
SD SMP SMA tapi yang S2 itu sudah 11%
kalau diakumulasikan
S1 apa ee D1 sampai dengan S2. Wah, luar
biasa batanya
ya. Kita sampai angka 88%
antara D1 sampai dengan S2. Tambah lagi
yang S3 1%. Sekali lagi dengan data
seperti ini tidak ada alasan bahwa ASN
kemudian tidak melek literasi,
tidak mau belajar. Karena fakta
menunjukkan sebagian besar ASN yang 88%
adalah lulusan perguruan tinggi.
Ya, mestinya yang sudah terbiasa dengan
pola belajar yang terus-menerus
sudah sampai level pendidikan tinggi.
Kita lihat lagi data berikutnya. Nah,
ini ini hasil evaluasi kita bagaimana
dalam pengembangan SDM saat ini terutama
di tingkat daerah. Saya ambil aja nomor
6.
belum terdapat pemetaan kapasitas daerah
secara utuh. Misalnya gini, mengaitkan
antara pengembangan kapasitas dengan
potensi secara ril ada di daerah.
Silakan buka dokumen Renstra
masing-masing OPD, buka dokumen RPJMD,
di sana ada potensi daerah.
Apakah dalam pengembangan ASN sudah
dikaitkan enggak dengan pemetaan
kapasitas daerah untuk kapasitas ASN dan
kapasitas potensi yang ada di daerah ini
yang selama ini belum kita lakukan.
Termasuk nomor delan, manajemen talenta
belum secara merata di seluruh
kementerian, lembaga pemerintahan
nonkerian dan pemerintah daerah.
Jalup nomor 6 dan nomor 8.
Karena ini nanti terkait dengan
rekomendasi kita dari sesi yang saya
sampaikan ini.
Kita lagi lihat lagi data berikut ya.
Daftar negara dengan penduduk yang
paling ee ya memanfaatkan bukulah
sebagai sumber literasi. Coba diclose
paparan berikutnya
itu tolong disilang aja
enggak itu yang view itu silang.
Daftar negara dengan penduduk paling
banyak membaca buku di tahun 2024. Kita
lihat
paling tinggi adalah Amerika Serikat
dalam setahun 17 buku memerlukan 357
jam. Oke. India termasuk tinggi. Kita
lihat negara kita adalah peringkat
ke-31.
Rata-rata 5,9 buku. Okelah mendekati 6
atau dari sisi jam 129 jam.
Dari sini kita bisa belajar banyak. Coba
kaitkan antara negara-negara dengan ee
tingkat ee konsumsi buku yang tinggi jam
yang dibutuhkan untuk mencerna buku,
membaca buku dengan produktivitas
mereka, dengan kemajuan mereka.
Amerika Serikat, India ya, Inggris,
Perancis, Italia, Kanada. Rusia,
Australia
kita posisi ke-31.
Ya, data lain menunjukkan ini hampir
sama dengan data tadi, cuma
kita gambarkan saja posisinya. Indonesia
nomor 31 dari 102 negara yang warganya
paling rajin membaca buku. Okelah, kita
sudah masuk ya sepertiga lah dari 10.
Tapi itu pada nomor paling bujit dari
sepertiga itu 31.
lagi data berikutnya ya teman-teman.
Tadi kita ingin detailkan saja dari data
tadi ya hampir sama. Ini lebih menarik
saja tampilannya. Oke, lanjut lagi ya.
Tapi kita agak berbangga sedikit lah ya.
bangga paling enggak di dalam negeri
kita kalau kita bandingkan dalam 5 tahun
terakhir
ada peningkatan yang signifikan tingkat
kegemaran membaca di masyarakat
Indonesia. Makanya alhamdulillah dari
102 negara tadi posisi kita 31 itu sudah
peningkatan yang luar biasa.
Peningkatan kita bisa bandingkan dari
2019 di 53,49
naik terus eskalatif dan kenaikan yang
cukup tinggi di 2023 ke 2024
ada 6 poin
2022 ke 2023 juga naik cukup tinggi.
ini patutasuki.
Tentu ini tidak berhenti segera sebagai
data.
Bagaimana
ee kegemaran membaca ini kemudian juga
tertransformasi kepada produktivitas
kerja, kualitas kerja termasuk kualitas
dalam pelaksanaan kebijakan publik,
kualitas dalam hal layanan publik.
membaca itu kan terbuka jendela ya,
wawasannya menjadi luas, insight-nya
bertambah,
bagaimana kemudian tingkat asertifnya
bertambah
ini akan lahir dari orang-orang yang
rajin membaca.
Termasuk inovasi dalam memberikan
layanan, inovasi dalam hal
melaksanakan kebijakan.
Kita lihat lagi sekarang data
berikutnya.
ini dari indeks literasi digital yang
dilihat dari berbagai aspek ya. Dan dari
sini kita lihat yang warna biru tua
warna paling gelap
karena ini segmennya kita bicara ASN ya
belajar.
Ternyata bahwa dalam hal skill digital
paling tinggi adalah di pemerintah
termasuk TNI POI. Bahkan melampaui skill
digital ini melampaui masyarakat
termasuk melampaui dari
sektor pendidikan.
Dalam hal etika digital
juga begitu.
pemerintah ini katakanlah kita bicara
ASN TNI POI itu skornya paling tinggi
ya termasuk dalam keamanan digital
ya. Oke. Keamanan digital masih lebih
tinggi sedikit sektor pendidikan karena
kesadaran akan keamanan digital lebih
tinggi. Tapi di ASN TNI Pohori juga
tinggi dari skor maksimal 5 ini kita
posisinya ya posisi di tengah-tengah
antara 3 sampai dengan 4. Tapi kalau
digital skill-nya kita sudah mendekati
angka 4 TASN dan TNI.
Ini data-data yang ee
kemudian menuntun kita untuk
perlu merekomendasikan apa sebetulnya
yang kita butuhkan ke depan. Saya akan
menyampaikan dua rekomendasi. Yang
pertama adalah
perlu kita lakukan pemetaan ASN ke dalam
9 kuadrat.
Kementerian Dalam Negeri alhamdulillah
sudah melakukan ini dan saya pikir bahwa
semua pemerintah daerah, semua
organisasi pemerintah di kementerian
lembaga termasuk pemerintah daerah
perlu memetakan setiap ASN ada di kotak
yang mana. Inilah bagian dari setiap ASN
perlu berintrospeksi diri. Kalau
dipetakkan dalam 9 kuadran mapping
talenta ini,
kita ada di kotak nomor 1 2 3 yang warna
merah warning. Ini adalah mereka dengan
potensi yang rendah dan
unjuk kerja yang rendah, kinerja yang
rendah.
atau kita ada di tengah-tengah yang
warna kuning
atau kita pada posisi yang tinggi,
potensinya tinggi, kinerjanya tinggi dan
bahkan
kita menjadi stiap
ASN bisa diukur
dan tentu ini dikontribusikan oleh
semangat untuk terus belajar.
dari belajar terbuka inside baru,
kesadaran baru, kemudian
bermanifestasi dalam hal kinerja.
Kalau setiap ASN perpetakan seperti ini,
maka dia tahu posisi saat ini eksisting
sehingga tidak lagi kasak kok. Kenapa
tidak promosi ya? Kenapa tidak
mendapatkan peluang yang lebih baik dari
temannya? karena posisi Anda di sini
dan ini men-challenge setiap ASN untuk
terus belajar.
Terakhir saya sampaikan rekomendasi tiga
hal. Yang pertama adalah tadi kalau kita
bicara tentang kotak talent managemen,
maka perlu setiap kita petahkan ke sana
dan ini memaksa setiap untuk belajar.
Begitu tahu dia ada posisi kotak nomor 1
2 3 harus malu memaksa dia untuk belajar
mengembangkan potensinya meningkatkan
kinerja dan tentu harus diimbangi dengan
reward dan panis. ASN yang ada di posisi
kotak 1 2 3 pada sisi tertentu ketika
harus perampingan birokrasi merekalah
undang nomor satu yang akan dikeluarkan
dari kota organisasi.
Yang kedua, kita perlu mengembangkan
karir yang sifatnya cross cutting dan
ini belum dilakukan.
Saya pikir perlu duduk bersama antara
PKN
ya, termasuk semua kementerian lembaga
dan pemerintah daerah, para kepala
daerah sebagai pejabat pembina
kepegawaian ya.
supaya
ketika seorang ASN punya kompetensi yang
tinggi, katakanlah dia ada di kota nomor
789 tadi,
maka terbuka luas untuk dia juga didaya
gunakan di kementerian lembaga yang lain
termasuk pemerintah daerah bahkan bisa
masuk di BUMN BUMD sori itu BUMN gar D
tolong diperbaiki. BUMN gar D. Coba
diedit sedikit berti BUMN gar D ya.
BUMN dan BUMD termasuk korporasi
ya. Misalnya kita punya bank yang plat
merah mulai dari Bank Indonesia sampai
bank-bank plat merah kita perlu masuk ke
sana.
Begitu seseorang
selagi ASN ternyata berada pada kotak
yang baik 7 89 syukur yang 9 dan ini
perlu dikembangkan ke depan kita extend
baik di dalam maupun luar negeri
tayangkan
ya
misalnya luar negeri terutama di tingkat
ASEAN dulu kita bisa magang
ya magang
hormat Ya.
Maka di luar negeri kalau kita
mengembangkan cross cutting karir
seperti ini maka ini akan men-challenge.
Artinya seseorang tidak akan berhenti
karirnya di satu kementerian, satu
pemerintah daerah, bahkan bisa lintas
kementerian, lembaga bahkan termasuk
korporasi,
termasuk dengan pemerintah daerah.
di dalam luar negeri minimal di tingkat
ASEAN.
Dan yang terakhir kita menyarankan untuk
ya coba tayangkan lagi terakhir kita
menyarankan untuk adanya pelibatan
kontrol publik
terhadap pelaksanaan ini semua termasuk
kontrol publik dibutuhkan untuk misalnya
terkait dengan pengisian suatu jabatan.
Syarat jabatannya apa? Siapa yang mau
masuk? Kemudian siap bertahan terus
sampai tiga besar sampai kemudian
terpilih
perlu kontrol publik. Jadi sekali lagi
perlu diperlakukan kontrol publik ini
untuk pola karir di kementerian,
lembaga, pemerintah daerah, BUMN, BUMD
sampai tingkat korporasi
supaya apa? Ada fairness di sini.
Inilah beberapa hal yang saya saya
sampaikan pada tiga segmen ini. Yang
pertama tadi kita bicara pada tataran
normalnya.
aturannya apa yang gak dituju. Dan kedua
kita sudah bicara datanya, faktanya di
lapangan seperti apa dan yang ketiga
kita bicara apa yang mestinya dilakukan
sebagai rekomendasi kita bersama. Saya
pikir demikian. Saya kembalikan kepada
moderator. Terima kasih silakan kalau
mau ada ee tanya jawab atau kita mau
mendiskusikan lebih lanjut. Terima
kasih. Baik, terima kasih sekali lagi
kami ucapkan kepada Bapak Dr. Sugeng
Haryono, M.Pd atas materi yang telah
disampaikan dan Sobat ASN. Setelah ini
kita akan masuk ke sesi tanya jawab.
Jadi untuk sobat ASN yang bergabung di
Zoom bisa manfaatkan futat rise hand
atau yang bergabung melalui YouTube bisa
tuliskan pertanyaan melalui live chat.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
Baik, Pak Sugeng Haryono. Tadi menarik
sekali materi yang telah disampaikan ya.
kita banyak sekali disampaikan terkait
dengan kualitas sumber daya manusia di
Indonesia ya. Kalau berdasarkan data
sebenarnya kita ada di ee level
intermediate ya, not bad but not good
enough gitu sebetulnya. Nah, ee sebelum
saya berikan kesempatan bagi Sobat ASN
yang akan bertanya kepada narasumber
kita yang kedua pada siang hari ini,
terlebih dahulu saya mau berdiskusi
dengan Pak Sugeng Haryono. Tadi kan ee
sempat disampaikan bahwasanya ee ada
situasi di mana karir ASN ini akan
didasarkan pada pertimbangan objektif di
mana salah satu pertimbangan objektifnya
adalah evaluasi kinerja. Nah, kalau kita
tarik dari evaluasi kinerja otomatis
harus ada kompetensi-kompetensi yang
tercapai. Nah, sebelum mencapai
kompetensi tersebut, maka kita harus
belajar kompetensinya seperti itu. Tapi,
Pak Sugeng ee yang saya lihat saat ini
kan di generasi Z ya utamanya ada
fenomena di mana kenaikan jabatan itu
tidak menjadi tujuan utama dalam karir.
Bahkan beberapa Gen mayoritas Genzi
sekarang kita juga tidak hanya punya
satu pekerjaan, tapi kita juga memiliki
pekerjaan-pekerjaan lain atau biasa kita
sebut dengan freelance. Nah, pada
akhirnya hal ini bisa saja tidak
berkaitan dengan kemauan mereka untuk
belajar dan memberikan performasi yang
optimal di lingkungan kerja mereka
seperti itu. Nah, kalau dari Pak Sugeng
sendiri melihat fenomena ini dengan
kemauan mereka untuk belajar dan
memberikan performansi yang optimal di
organisasi seperti apa Pak Sugeng
menanggapi isu ini, Pak?
Baik, terima kasih. Memang ada satu
fenomena sekarang
bagaimana kita ingin
mencapai dalam hidup ini tujuan hidup,
kenyamanan hidup, kemudian bagaimana
bisa menjalani hobi, menjalani ee apa
kesenangan ya tanpa harus terbebani
dengan tugas-tugas misalnya jabatan.
orang sudah ingin pada posisi slowing.
Bahkan sekarang ada istilah brain road.
Bagaimana otak itu sudah lelah, sudah
capek dengan berbagai hal. Pulang kantor
sudah enggak ada energi lagi. Orang
sudah pengin hidup yang nyaman. Ya sudah
saya bekerja saja sesuai dengan tugas,
sesuai dengan jam. Tapi kemudian saya
bisa menjalani hobi, saya menjalani
kesenangan saya, bahkan bisa ada
pekerjaan lain yang dilakukan.
hal yang tidak salah sebetulnya. Tetapi
dalam hal belajar ya terus-menerus
itu juga tidak selalu harus dikaitkan
dengan jabatan.
Belajar itu bisa dilakukan sebagai
passion karena orang ingin mengembangkan
diri, orang ingin punya wawasan yang
lebih luas.
termasuk dalam hal hobi misal ketika
orang punya hobi, punya ee pekerjaan
lain ya yang dilakukan selain sebagai
ASN, maka akan menjadi lebih baik ketika
orang punya wawasan yang lebih luas.
Jadi pembaca harus punya tujuan lain
selain karir. Tapi negara memberikan
tawaran ini ya. Negara memberikan
tawaran karir. Negara memberikan tawaran
phihidupan yang lebih baik
melalui karir yang lebih baik. Bahkan
tadi misalnya kita contohkan ketika
orang jenuh sudah bekerja di satu
pemerintahan di pusat maupun di daerah
organisasi pemerintah daerah tertentu
atau di kementerian lembaga pemerintah
tertentu. Maka tadi kami rekomendasikan
yang kedua, kenapa tidak kita lakukan
semacam cross cutting untuk mengatasi
kejenuhan ya bahkan di dalam dan luar
negeri ini harus dibuka peluang-peluang
seperti ini. Apa tadi itu titik jenuh
itu ada orang bekerja di satu instansi
datang pagi pulang sore terus-menerus
ketemu entitas yang sama orang yang
sama. Kenapa kita tidak buka orang
dengan potensi yang tinggi? Katakanlah
tadi kita lihat di posisi nomor 789 SK
nomor 9 I
dengan peluang untuk pindah ke KL yang
lain, kementerian lembaga pemerintah
daerah yang lain bahkan ke BUMN PUMD
korporasi.
Kalau ini dibuka peluang ini, maka sama
halnya tadi orang ingin kerja dengan
posisi supaya menghindari kejenuhan.
Otak yang sudah brain road tadi sudah
jenuh. Begitu ditransfer ke kementerian
lembaga maka ada peluang challenge ini
menchallenge. Maka ada rekomendasi kami
yang kedua tadi gitu. ini harus
dilakukan oleh pemerintah. Maka mestinya
PKN LAN kalau perlu dengan ini presiden
sebagai pejabat pembinaan kepegaan
tingkat nasional mengambil keputusan
seperti ini. Nah, ada jalan keluar tadi
terutama bagi ASN yang sekali lagi ingin
menghindari kejenuhan tetapi di sisi
lain termatkan. Tapi sekali lagi mereka
yang bisa cross cutting karir adalah
mereka yang sekali lagi pada level
minimal 7uh syukur del dan syukur-sukur
di tingkat 9 tadi di talenting. Tapi
kalau mereka di level 1 2 3 yang warna
merah tadi ya mohon maaf di lembaga mana
pun pada posisi resisten untuk menerima
itu.
Saya yakin ASN yang ya yang ingin mulai
menyalurkan hobi adalah minimal dia di
level ya 7 atau 8 lah. Tapi kalau mereka
di kota 1, 2, 3, organisasi pun kalau
dihadapkan pada pilihan untuk mengurangi
pegawai, merekalah yang dikurangi nomor
satu. Ya, artinya keamanan karir mereka
pun sangat
kecil karena memang secara realil
potensinya rendah, kinerjanya rendah
seperti itu ya. Baik, baik. Terima kasih
Pak Sugeng Haryono untuk jawabannya.
Menarik sekali ya. Jadi memang ada
kecenderungan untuk Genzi ini tidak beta
untuk berada dalam suatu entitas yang
sama. Jadi tadi ee kebijakan untuk
berpindah ke entitas lain gitu ya ketika
merasa jenuh itu merupakan satu hal yang
menarik ya untuk kita laksanakan ke
depannya. Thank you, Pak, untuk
jawabannya. Sekarang saya akan undang
untuk penanya yang sudah bergabung
bersama dengan kami. Yang pertama ada
Pak Dani dari DLH Ngawi. Saya akan sapa
beliau terlebih dahulu. Selamat siang,
Pak Dani.
Selamat siang.
Baik, Pak Dani sebelum disampaikan
pertanyaannya mungkin bisa disebutkan
terlebih dahulu nama asal dinas dan juga
asal daerahnya Pak. Silakan Pak.
Baik, terima kasih atas waktunya Masuk.
Nama saya Yosef Dani Kurniawan. Saya
sekarang bertugas di Dinas Lingkungan
Hidup Kabupaten
Kabupaten Baik, Pak Dani kami persilakan
untuk pertanyaannya. Langsung saja
disampaikan kepada Pak Sugeng, Pak.
Baik. Sangat menarik temanya hari ini.
ASN meraih asa ya. Padahal kata-kata asa
yang biasa kita dengar adalah putus asa.
Jadi ya sedikit asa ini jarang kita
dengar berdiri sendiri tetapi sering
kita dengar sebagai putus asa yaitu
putus harapan. Dan sebagai ASN saya
pernah dua kali hampir putus asa dan mau
resign dari ASN
tetapi ditangguhkan karena beberapa
orang dekat memotivasi untuk tetap
bertahan di era yang pada waktu itu
tidak nyaman bagi saya. Oke. Ee terima
kasih Bapak. Jadi sangat menarik juga
yang disampaikan Bapak terkait ee Tripod
ee ada kompetensi ada pemetaan ASN. Jadi
sedikit saya menyampaikan data Bapak
bahwasanya selain kompetensi yang
digunakan
untuk pengembangan karir bahwasanya di
daerah terutama di daerah saya bilang ee
di daerah saya mungkin saya melihat juga
di banyak daerah lain ada tripod
bagaimana orang bisa mengembangkan
kompetensi selain ee mengembangkan karir
selain kompetensi salah satunya yang
kedua yang dua ini adalah satu koneksi
Bapak tidak bisa dipungkiri lagi koneksi
masih ada ee kita masih saya masih
melihat
orang siapa yang menduduki suatu jabatan
strategis terutama dan saya melihat di
daerah lain itu juga masih ada terkait
komisi. Jadi ee mungkin nanti bisa
dievaluasi bahwasanya untuk menduduki
jabatan tertentu ini membutuhkan sekian
rupiah untuk bisa duduk di situ. Bahkan
ee angkanya sampai saat ini saya melihat
ee memprihatinkan karena inflasi itu
terus terus terjadi gitu. Ee dan tadi
yang sempat disampaikan oleh di dan
ditanggapi oleh Maser tadi, fenomena
belajar ini juga nyata loh, Pak. Jadi
sekedar info saya angkatan 2005
ee penjaringan ASN serentak di Indonesia
pertama kali di era Pak SBY dan
kebetulan teman-teman seangkatan saya
pada waktu itu ee kemudian ada belasan
yang kemudian mencari S2.
Puji Tuhan dari Bappenas mendapatkan
memberikan beasiswa dan beberapa
instansi pusat lainnya.
ada belasan sudah S2 bahkan sampai ke
luar negeri juga. Kemudian
setelah kami kembali ternyata tidak
semuanya sesuai dengan teori Bapak. Jadi
kompetensi yang kami miliki tidak
semuanya dipakai tidak tidak hanya
kompetensi saya tapi kompetensi
teman-teman sehingga di perjalanannya
ini ee berpindah-pindah.
Sebagai informasi, saya sampai sekarang
sudah 11 kali pelantikan di ee 10 kali
pelantikan di 10 tahun setelah saya
lulus S2. Ee dan karena saya seorang
yang bapak saya seorang guru, saya anak
seorang pembelajar, ya saya anggap itu
adalah suatu pembelajaran sehingga saya
mengetahui banyak hal di ee
apa jalan karir saya gitu.
Ee tetapi ini saat-saat ini kemarin saya
sempat berdiskusi dengan teman angkatan
2020-an bahwasanya mereka enggak mau
lagi S2 beasiswa meninggalkan pekerjaan.
Mereka tetap ada yang sekolah S2 tetapi
ya izin belajar seperti itu. Yang ee
kami menilai, saya pribadi menilai sih
tidak optimal karena pembelajaran S2
jarak jauh
tidak seperti halnya kita luring
langsung ada di kampus gitu. Dan mereka
ternyata juga berhitung ya, TPP TPP yang
kita terima itu bisa dua kali S2, Mas.
Kalau hanya enggak enggak perlu beasiswa
seperti itu. Jadi
ini data-data yang ada di yang ada di
kami. Yang ingin saya tanyakan Bapak
terkait
satu materi yang jenengan sampaikan
tadi, pemetaan itu kapan bisa
dilaksanakan atau mungkin sudah sudah
ada dilakukan di daerah-daerah. Karena
saya menilai untuk pengembangan
kapasitas pengembangan manusia karir ini
sangat dibutuhkan, Pak, dan mendesak
menurut saya. Jadi itu apakah sudah ada
dilakukan di daerah mana atau belum atau
seperti apa? Lalu yang kedua bagaimana
untuk bisa m-drive supaya pemetaan dan
karir ini ideal gitu. Jadi non sewu
kalau ada daerah-daerah mungkin yang
bahkan teman-teman itu kalau ngobrol
putus asa yo wis aku gak duwe sopo-sopo
paling ya gak dadi opo-opo gitu. Jangan
sampai itu terjadi. Jadi yang saya
menilai ada tripod tadi mungkin bisa di
minimalkan untuk keduanya sehingga hanya
kompetensinya saja yang diutamakan.
Mohon pencerahannya Bapak. Terima kasih.
Persilakan Pak Sugeng Haryono untuk
menjawab pertanyaan Pak Dani, Pak.
Monggo, Pak. Oke. Baik, terima kasih Mas
Dani dari LAN hidup Ngawi. Nggih.
Tetap semangat ya. Coba dibuka tadi
Andre di bahan paparan yang
halaman 4 atau tadi ya. RPJPN tadi
kita yang atas tadi RPJPN. Nah, halaman
3 ya. Oke, saya memberikan
normalnya tadi saya mengingatkan bahwa
sudah ada etikat yang sangat kuat dari
negara
ya, dari pemerintah
sebagai pelaksananya
di RPJPN kita ini untuk meninjau
kewenangan kepala daerah sebagai pejabat
pembina keparian. Tadi kan Mas Jani juga
di dalam praktik misalnya ada transaktif
ya, bahkan penegakan hukum juga sudah
mulai dilakukan di sini. ini ya. Maka
menjawab itu di RPJPN kita
Undang-Undang 59 2024 ada arah kebijakan
untuk mewujudkan merurkasi dan
integritas itu salah satunya penujuan
kemenangan kepala daerah. Ini tentu
memberikan harapan bagi kita semua.
Kemudian coba lompat ke halaman 20 tadi
yang 9 kotak tadi ya.
Tadi saya gambarkan kotak untuk mapping
halaman 20 ya. 9 kotak untuk mapping.
Mapping tadi didasarkan kepada dua
penilaian. Yang pertama adalah potensi
ya. Yang kedua adalah kinerja.
Coba tolong kita halaman 20
antara potensi
antara potensi dengan kinerja ini kan
dua hal yang saling terkait
biar nanti kita lihat sama-sama ya. kita
tadi yang talent mapping tadi kotak
tadi.
Pertama kita lihat setiap ASN selalu
punya potensi. Kalau kita petakan apakah
potensinya masuk di rendah, sedang atau
tinggi.
Kemudian coba langsung halaman 20 ya.
Kemudian dari potensi ini tentu
tertransformasi dalam bentuk kinerja.
Idealnya sih seseorang punya potensi
tinggi, kemudian juga punya kinerja yang
baik, yang tinggi. Itu idealnya. Maka
dia ada di kotak nomor 9, Rising Star.
Mereka yang sampai karir puncak pada
usia yang masih sangat muda mestinya
adalah mereka yang punya potensi yang
tinggi dan juga punya prestasi kerja
yang baik.
Di situ ya. Artinya apa? sistem kalau
kita terapkan ee manajemen talenta ini
kalau diterapkan secara konsisten
maka tidak ada lagi tadi pameo rumor ya
tidak ada siapa-siapa maka enggak bisa
jadi apa-apa enggak perlu ada pamiu
seperti itu kalau kita menerapkan talent
manajemen ini dengan baik
ini sudah diterapkan di beberapa
kementerian dan lembaga ya pemda Jawa
Barat sudah cukup konsisten menerapkan
seperti ini. Bahkan termasuk dalam hal
pemberian TPP tambahan penghasilan
pegawai mereka juga mendasarkan seperti
ini. Orang dengan kelas jabatan yang
sama belum tentu punya TEGomp yang sama.
Kalau kinerjanya ternyata lebih rendah
maka TPP-nya teronvert eh tertransfer
kepada mereka yang kinerjanya lebih
tinggi dari harapan
dan diterapkan di Jawa Barat. DKI juga
sudahi seperti ini ya. Artinya apa?
Sekali lagi ini
didasarkan harus pada kemauan kuat dari
pemerintah daerah kepada Menteri
Pimpinan Lembaga untuk menerapkan.
Maka di dalam saran saya tadi coba
halaman berikutnya
saya sampaikan saran yang ketiga tadi
perlu pelibatan kontrol publik yang luas
media
ya. ya. Okelah berbagai ormas yang
pemantau pakai nama watch itu ya
termasuk DPR, DPRD ya, media elektronik,
media sosial sekalipun ketika mengontrol
untuk misalnya pengisian suatu jabatan,
jabatan apa yang kosong di suatu pemda,
apa syarat jabatannya, siapa yang
melamar, apa yang mereka miliki dari
masing-masing pelamar, pada titik mana
pelamar ini kemudian gagal, kenapa dia
gagal?
Ketika kotak talent tadi dibuka secara
objektif dan kemudian ada kontrol
publik, maka insyaallah
setiap ASN itu akan punya harapan untuk
sampai pada titik puncak dengan
pertimbangan yang lebih objektif, jauh
dari pertimbangan subjektivitas dari
jabat pembinaan kepegawaian, dari user.
Tentu sekali lagi juga harus diimbangi
dengan tadi ada punishment, ada reward
dan punishment.
Kalau mereka yang tidak mau berkembang,
punya potensinya sudah rendah,
kinerjanya rendah, ya sudah kotak nomor
1 2 3 yang warna merah tadi ya
punismenya ini apa enggak aman dia suatu
saat bisa aja organisasi tidak
membutuhkan mereka.
Ini ini yang ee apa mestinya kita
lakukan. Sekali lagi pada tatan regulasi
sudah sangat berpihak kepada upaya untuk
mewujudkan kinerja yang baik dengan
talenta yang baik pada tatanan
kebijakan. Nah, tinggal sekarang yang
kita harus lakukan adalah pada tatanan
implementasi. Tidak. Saya pikir
demikian. Saya kembalikan kepada ee
moderator
atas jawabannya. Bagaimana Pak Dani?
Apakah ada
tambahan konfirmasi kembali atau sudah
cukup, Pak Dani? Ya, cukup. Baik, terima
kasih sekali lagi, Pak Dani. Ee dan
untuk klaim souvenir, kami mohon izin
untuk mengirimkan nama asal dinas dan
asal daerah maupun alamat ke tim admin
kami melalui chat Zoom ya, Pak Dani ya.
Salam sehat selalu, Pak Dani. Thank you,
Pak.
Dan selanjutnya saya masuk ke penanya
berikutnya. Ini sudah bergabung bersama
dengan kami Bapak Adrianus dari
Ombutsman RI. Saya akan sapa beliau.
Selamat siang, Pak Adrianus. Selamat
siang, Pak. Apa kabar? Kabar baik,
alhamdulillah. Pak Adrianus, sebelum
disampaikan, mohon izin untuk
diperkenalkan terlebih dahulu nama, asal
instansi, dan juga asal daerahnya.
Silakan, Pak. Baik. Ee asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Ya, mohon memperkenalkan diri saya
Adrianus dari UnisM Republik Indonesia.
tepatnya yang di daerah ee Kuningan,
Jakarta Selatan atau Musmen Pusat.
Baik, Pak Adrianus silakan disampaikan
langsung pertanyaannya, Pak.
Baik, terima kasih banyak, Pak. Mohon
izin bertanya, Pak Sug. Materi yang
disampaikan oleh Pak Sug pada pagi hari
ini tuh sangat menarik sekali sehingga
ee apa ya? Saya sempat berpikir gitu ya
tadi kan di sini kan kalau kita melihat
ya ee fenomena dari generasi ee Genzet
atau Generasi Milenal tadi seperti
disampaikan oleh ee
apa tadi e MC ya itu apa mengelitik saya
gitu ya. Nah, kalau kita melihat bahwa
kecenderungan dari generasi milenal ee
dan generasi Z ini kan dia bisa
dikatakan ee apa kurang senang untuk
membaca atau ee apa namanya literasinya
sangat kurang gitu ya. Mereka istilahnya
lebih lebih senang untuk diceritakan
atau kalau kita nyebutnya bahasa
syarianya lebih lebih sering disuapin
gitu ya. Nah, pertanyaan saya itu adalah
bagaimana cara untuk meningkatkan ee apa
namanya ya minat baca gitu ya kepada
generasi tersebut. Dan kita tahu bahwa
dengan kita sering membaca kan e kita
secara enggak langsung kan akan menambah
pengetahuan terus juga menambah
keterampilan kita yang nantinya akan
berguna bagi ee apa namanya pekerjaan
kita. Itu pertanyaan saya yang pertama.
Terus yang kedua itu yang terkait dengan
manajemen talenta. Ini sangat menarik
sekali, Pak. Ee saya ingin bertanya ee
apa bagaimana cara untuk memberikan
nilai yang objektif terkait dengan ee
apa namanya? penilaian kinerja dan juga
untuk penilaian kompetensi atau potensi
gitu yang dimiliki oleh pegawai secara
objektif mengingat pada saat ini kan
bahwa ee unsur subjektivitas itu kan
masih berperanan ya yang cukup ee apa
mengganggu juga gitu di dalam memberikan
nilai dan juga berpengaruh pada nanti
pemetaan di dalam landbx tersebut. Itu
pertanyaan yang kedua. Terus yang ketiga
ini adalah ee bagi pegawai yang masuk ke
dalam kotak atau yang kita sering
disebut sebagai kotak bintang ya atau
boxstar itu kan ee apa harusnya kan
mendapatkan suatu apa ya kayak entah
penghargaan ataupun reward dari
ee apa tempat dia bekerja. karena
sekarang keterbatasan anggaran.
Nah, hal tersebut itu kan agak sedikit
susah nih. Nah, kira-kira itu ee apa
yang sebaiknya dilakukan oleh
kementerian atau lembaga yang memiliki
pegawai sudah berada di kotak? Karena
secara enggak langsung kalau saya
melihat itu ee akhirnya pegawai yang di
ada di kota itu akan menimbulkan di
motivasi gitu. Dia sudah berusaha untuk
ee bekerja secara optimal sehingga dia
bisa masuk dalam kotor 9. Namun ya dia
tidak menerima apa-apa gitu ya dari jadi
paya dia untuk bisa menduduki ee di kota
ini. Terima kasih
Trianus. Ada tiga pertanyaan Pak Sugeng.
Saya izin rangkum. Yang pertama adalah
bagaimana menumbuhkan minat baca di
kalangan generasi sekarang yang
cenderung mengkonsumsi mikrokonten ya
dengan waktu singkat. Kemudian yang
kedua adalah bagaimanaa kita bisa
memberikan penilaian objek dalam
manajemen talenta. Kemudian yang ketiga
adalah untuk talenta yang berada dalam
kuadran star atau kuadran 9 apa yang
harus dilakukan selain memberikan reward
untuk mempertahankan motivasi mereka
dalam bekerja. Silakan Pak Sugeng.
Baik terima kasih Pak Adrianus. Ini
kalau dari ori sudah ikut di sini
harusnya ori semua ini pemikiran kita
ini orinal baik ombutsmen Republik
Indonesia ini kan termasuk salah satu
yang mengawasi bagaimana
kebijakan publik ini berjalan termasuk
dalam hal penerapan manajemen talent ya
ini malah terima kasih kalau bisa tadi
yang saya paparan di halaman ee 20 dan
21 9 kotak manajemen talenta dan
kemudian saran yang tiga tadi tadi
syukur-syukur bisa diseriusi oleh
teman-teman di ori ya nanti. Salam
hormat untuk Pak Edi Caweng. Siap. Baik.
Masih di sana ya. Ya itu adik kelas saya
waktu 3 jam ada dulu.
Robet di Jaweng nanti. Salam hormat.
Oke. Yang pertama bagaimana saya
meningkatkan minat baca?
Mestinya minat baca ini tumbuh dari
kesadaran kita.
Tapi kesadaran ini untuk tumbuh tidak
mudah.
ini harus dimulai dari entitas paling
kecil yang namanya keluarga.
Keluarga, kemudian ya masyarakat,
entitas kantor kita dan seterusnya.
Pertama yang harus kita lakukan adalah
dipaksa.
Tentu memaksa di sini tidak dalam arti
harus disiapkan cambuk, ya.
Misalnya pada jam-jam tertentu kalau di
rumah orang tua itu juga harus memberi
contoh. Ketika orang tua menyuruh
anaknya belajar, sementara orang tua
sibuk nonton TV atau sibuk gadget,
anak akan melihat inkonsistensi.
Ya, tapi pada saat itu ketika orang tua
memaksa belajar,
membuka buku, menunjukkan sesuatu yang
menarik bagi anak kecil ya ini sebut ini
adalah upaya memaksa. Dia tidak boleh
bermain yang lain selain membuka buku.
Memaksa tapi dengan cara-cara yang baik.
Kalau di kantor ya tentu saja bisa sejam
misalnya
kita memaksa orang untuk membuat resensi
buku
tolong dipresentasikan
paksa apa isi buku itu nanti diminta
untuk menjelaskan ke teman-temannya
dipaksa
melalui upaya dipaksa lama-lama orang
terpaksa
berbuat sesuatu karena terpaksa enggak
apa-apa ya tapi dia ada reward
dentanismenya nya anak kecil kalau kamu
belum baca buku itu belum ada isinya
belum bisa menjelaskan belum boleh dapat
main yang lain contoh kalau di kantor
belum menyelesaikan resensi buku maka
belum bisa dikasih penugasan ke luar
kota misalnya dipaksa terpaksa orang
terpaksa tapi lama-lama akan terbiasa
oke ternyata enak ya asyik membaca buku
ya orang bisa terbuka wawasannya bisa
menjawab banyak hal, bisa tahu banyak
hal meskipun sekali lagi tidak selalu
dikaitkan dengan karir. Karena membaca
kalau sudah menjadi kegemaran juga orang
tidak biasa membaca supaya naik jabatan
tidak selalu orang punya wawasan, punya
kesadaran
ya kesadaran kritis itu menjadi
terbiasa. Orang sudah terbiasa dengan
budaya baca lama-lama akan terbudaya.
Dan di negara-negara maju tadi saya
sampaikan kita peringkat ke berapa ya?
31 dari 102 nomor 1 Amerika misalnya dan
diserai
pada level terbudaya dengan membaca
ketika mengantri mereka membaca naik tr
naik MRT mereka di dalam situemba tidak
lagi sekedar mendengarkan musik atau
ngobrol atau melamun ya tapi membaca
kita melihat budaya membaca itu sudah
tumbuh menjadi bagian dari budaya mereka
sehari-hari untuk sampai level itu tentu
itu sekali lagi ada tadi steping-steping
dari mulai dipaksa, terpaksa, terbiasa,
baru kemudian sampai terbudaya.
Dan ini harus dimulai dari organisasi
terkecil
keluarga.
Bahkan dimulai dari anak yang sejak dari
kecil untuk membaca.
Ketika orang tua menceritakan sesuatu
dengan membuka buku, maka anak-anak, oh
ternyata itu ada di dalam buku.
apa yang tadi dijelaskan orang tuanya
ini saya karena membaca ini ingin tahu
lebih banyak baca
tentu sesuaikan dengan anak konsumsi
perkembangannya ya yang ada audio visual
yang lebih banyak gambar tetapi
menchallenge orang untuk ingin tahu
lebih banyak tapi level perkembangannya
kalau di ASN ya tidak lagi seperti itu
ya tadi misalnya hal yang mudah saja
dipaksa untuk meresensi buku
ini seminggu sekali kali saja dan ya ini
pribadilah sekali lagi mestinya pada
level orang yang sudah selesai dari
perguruan tinggi apalagi sudah membuat
skripsi tesis disertasi mereka yang
sudah level maturitasnya tinggi untuk
membaca mestinya tapi dalam faktanya kan
tadi ada brain road tadi otak sudah
lelah tidak lagi mau membaca apalagi
membaca pesan-pesan pendek atau di
medsos dianggap sebagai kebenaran
padahal tidak dilakukan triangulasi data
tidak ada verifikasi data ini berbahaya
ya. Yang kedua tadi bagaimana cara
melakukan
penilaian kinerja potensi secara
objektif.
Tentu kita membutuhkan instrumen yang
lebih objektif. Misalnya ada evidence
terkait dengan potensi seseorang sudah
ikut pelatihan, sudah selesai pendidikan
formal dan informal, sudah ikut
pelatihan, mana evidence-nya?
Jelas. Nah, evidence ini menjadi
evidence base untuk melihat seseorang
potensi atau tidak. Ada enggak
tulisannya, pengakuannya
dari internasional, dari kantor dan
seterusnya. Termasuk juga dari penilaian
sejawat, teman-teman sejawat
dari sosiometri.
Pengakuan kinerja seseorang bisa
dilakukan dari pengakuan anak buah,
teman kerja, atasan, bahkan termasuk
customer, pasarakatas.
Ini bisa kita lakukan. Ini lebih
objektif.
Ya, penilaian yang objektif juga bisa
dilakukan ketika ada lembaga tersendiri
yang melakukan memantau itu. Sebetulnya
salah satunya bisa dari ori
ya. Bagaimana apakah 9 talent maping
tadi sudah diterapkan enggak di suatu
kementerian dan lembaga? Coba
evidensinya apa? Seseorang pada level 6
7 8 9 itu seperti apa? Siapa mereka?
Evidensinya apa?
Apa yang bisa mereka kerjakan? pada
level 7 89 itu dan seterusnya.
Nah, ini. Nah, kemudian yang terakhir
ya orang yang sudah sampai pada level
tertinggi misalnya 9 tadi, bagaimana
supaya tidak terdemotivasi
tadi ini saran ini tapi sudah mulai
dilakukan meskipun agak terbatas perlu
ada cross cutting karier.
Coba di halaman 21 tadi sayaangkan lagi
saran saya yang kedua tadi
ya. Pola karir yang sifatnya cross
cutting. Ketika satu institusi jenuh
misalnya
jenuh di sini bukan berarti jenuh
orangnya tapi jabatannya enggak ada yang
kosong. Sementara yang daftar tumbuhnya
banyak nih, yang potensi talentanya
bagus, maka mestinya kementerian,
lembaga, pemerintah daerah, BUMN, BUMD,
korporasi saling membuka diri, saling
menginformasikan. Ini loh di tempat saya
ada orang yang paletanya bagus,
attitud-nya bagus, kinerjanya bagus,
tapi kota organisasi kami enggak bisa
nampung karena sudah penuh jabatannya.
Banyak sekali yang seperti ini di tempat
kami misalnya. Kenapa tidak?
Sebagai contoh misalnya ini ya tidak
bermaksud mempromosikan sesuatu tapi
misalnya
satu ee korporasi swasta ya ini terjadi
apakah boleh disebut ya karena nanti
kayak promosi ya kayak mengendorse gitu
ya. ini terjadi dalam praktik misalnya
buka lapak ada satu tenaga engineer yang
bagus ya masih muda yang kemudian dia
terinformasi kepada korporasi dan
kemudian BUMN mengambil
itu.
Sekarang misalnya rekruitmen DPUn
terutama pada sisi
board of eh apa namanya bukannya
komisaris ya yang manajemennya
ya sangat mungkin mereka mengambil dari
kementerian lembaga pemerintah daerah
atau antar korporasi dari orang-orang
yang talentanya terbaik ini yang saran
saya yang kedua dan ini ombudmen pada
posisi harus mengawasi
mereka yang terbaik yang sudah ee
memberikan kinerja yang terkait,
potensinya tinggi, umur masih relatif
muda, masih bisa dikembangkan. Mestinya
antara kementerian, lembaga, pemerintah
daerah, BUM dan PUM di korporasi bisa
saling bermanfaat.
Ini untuk menghindari tadi demotivasi.
Saya pikir itu respon dari kami. Saya
kembalikan kepada moderator. Terima
kasih. Terima kasih Pak Sugeng untuk
jawabannya. Thank you juga kepada Pak
Adrianus atas pertanyaannya. Mohon izin
jangan lupa untuk mengirimkan identitas
termasuk alamat ke tim admin kami
melalui chat Zoom untuk klaim souvenir.
Thank you sekali lagi Pak Adrianus untuk
pertanyaannya. Baik, terima kasih banyak
Pak Sugang. Terima kasih. Makasih.
Sukses Pak Adrianus. Ee Adrianus. Baik
Pak Sugang. Kita sudah berada di akhir
sesi kedua pada siang hari ini. Sebelum
kami tutup dan berikan kesempatan ke
narasumber selanjutnya, barangkali dari
Pak Sugeng ada closing statement yang
ingin disampaikan. Silakan Pak Sugeng.
Baik, terima kasih. Sesuai dengan tema
besar kita ASN merayah asa, tentu kita
harus punya asa. Yang menggerakkan kita
untuk terus hidup, terus maju adalah asa
harapan.
Nomor satu, harapan tentu tidak akan
datang dengan sendiri. Harus ada ekstra
impor, ikhtiar yang luar biasa. Salah
satunya melalui membaca, salah satunya
melalui belajar yang terus-menerus.
Tentu belajar ini akan mengarahkan kita
untuk ya walasan lebih luas, kesadaran
lebih tinggi, dan kemudian kinerja yang
lebih tinggi. Dengan cara seperti itu,
maka asa harapan kita akan terwujud.
Saya pikir itu. Saya kembalikan kepada
moderator. Terima kasih. Terima kasih,
Pak Sugeng Haryono. Salam sehat selalu,
Pak. Sampai bertemu lagi di event
selanjutnya, Pak Sugeng. Kasih sukses
selalu
dan Sobat SN. Bagi sobat ASN yang belum
sempat bertanya, jangan khawatir karena
kita masih ada satu sesi dengan
narasumber kita yang terakhir tetap di
webinar ASN Belajar seri 25 tahun 2025.
Baik, Anda kembali menyaksikan webinar
ASN belajar 25 tahun 2025. Sobat ASN,
kali ini materi terakhir akan
disampaikan oleh guru besar bidang
manajemen sumber daya manusia Departemen
Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Erlangga, Prof. Dr. H. Yusuf Irianto.
[Musik]
Selamat siang, Prof. Yusuf. Bagaimana
kabarnya Prof? Selamat siang.
Alhamdulillah baik dan sehat, Pak
Lukman. Baik, Prof. Yusuf. Tadi sudah
disampaikan oleh pembicara pertama kita,
Bu Erna, bahwasanya yang paling penting
dimiliki itu adalah growth mindset. Ya,
kemudian tadi Pak Sugeng sudah
menyampaikan juga bahwasanya dalam
lingkungan kerja kita ini perlu diadakan
talent mapping. Kemudian
pendekatan-pendekatannya pun juga harus
fleksibel dan adaptif sesuai dengan
kuadran masing-masing talent. Nah, kali
ini kita akan mendengarkan paparan
menarik dari Prof. Yusuf terkait
inset-inset apa yang perlu untuk
diperhatikan untuk menumbuhkan keinginan
belajar di lingkungan ASN. Ee izin juga
Prof. Yusuf untuk penyampaian materi
kurang lebih selama 30 menit. Nanti kita
akan masuk ke sesi tanya jawab. Saya
persilakan Prof. Yusuf. Baik, terima
kasih. Saya izin eh share screen dulu
ya. Mudahan gak ada kendala. Apakah
suara saya bisa didengar? Mas Lukman
sudah terdengar dengan jelas Prof.
Bismillah. Ee bismillah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Baik ee hadirin yang saya
hormati, kita akan membahas beberapa hal
terkait topik kita yang penting ya dalam
rangka meraih ASA. Kita sebagai ASN itu
masih punya harapan di masa depan. Nah,
dengan cara apa ASA itu diraih? Tentu
kita harus mensikapinya dengan berpegang
teguh pada prinsip-prinsip bagaimana
kehidupan ini sebetulnya harus diwarnai
dengan pembelajaran sebagai salah satu
cara kita untuk ee melakukan adaptasi
ya, penyesuaian diri terhadap ee hal-hal
yang berubah di sekitar kita ya. Dan ini
sebagai tugas fungsi kita sebagai ASN
tentu kita adalah mengabdi sepanjang
usia kita ya. ini adalah tema yang
menyentuh ya, tidak hanya menari tapi
juga menyentuh ya. Luar biasa PPSDM
Jatim ee menetapkan tema ini. Ee saya
mengutip dari dua orang yang saya
hormati ya, dari sisi keagamaan itu ada
Hasan Albasri dan dari sisi keilmuan
saya itu adalah dari Stepen Cofe. Kalau
kita belajar itu akan tampak dalam wajah
kita ya, tangan kita, lidah kita. Itu
maksudnya adalah ucapan kita ya. ee
bagaimanakah kita menunjukkan satu
gairah ya dalam hidup ini yang positif,
optimis ya. Ucapan-ucapan kita, sikap
kita, kita itu adalah sesuatu yang
berdampak pada masyarakat. Namun tidak
menghilangkan kodrat kita sebagai
manusia untuk selalu rendah hati, tidak
sombong ya. Apalagi kepada sang
pencipta, sang khali yaitu Allah
Subhanahu wa taala.
Nah, kalau dari stok COVID itu mengajari
kita bagaimanakah yang kita lakukan.
Saya sebagai dosen, guru besar di UNER
ya dan juga Bapak Ibu sekalian sebagai
ASN di tempat masing-masing itu punya
dampak yang besar dari apa yang sekedar
kita katakan. J apalagi sekarang ini
adalah sesuatu yang dikaitkan dengan
impacting ya. Jadi semua hal yang kita
lakukan harus berdampak. ASN berdampak,
inovasinya berdampak
ya tugas kita berdampak, universitas
berdampak ya seah kita ini selalu
dikenalkan dengan kata-kata baru dan itu
menuntut kita untuk harus tahu apa
maksudnya dan kalau kita pengin tahu
maksudnya tentu kita harus belajar.
Makanya kan belajar itu sepanjang saya
dikandung badan ya. Ee mulai dari kita
lahir sampai kita mau masuk yang lahat.
Nah, gitu. Itu penting sekali belajar
itu tanpa ada tekanan, tanpa ada
perintah, tapi kita sudah punya
kesadaran bagaimanakah sebetulnya
belajar itu adalah sesuatu kultur. Nanti
akan saya sampaikan dengan berbagai
macam pembahasan yang ada dalam agenda
kita. Tidak usah saya baca satu persatu
untuk menyingkat waktu.
Nah, ini ya belajar itu adalah budaya
atau kultur. Kultur itu adalah sejumlah
nilai yang kita sepakati bersama untuk
memposisikan diri kita itu sebagai ee
orang yang tepat. Tepat sebagai seorang
dosen ya, tepat sebagai seorang ee
fungsional di lembaganya masing-masing
ya. Tepat sebagai ASN yang bekerja
dengan tanggung jawab dan tugas-tugas
tertentu. Ya, itu ada nilainya, ada
value-nya. Maka setiap saat kita harus
kreasi nilai ya, mengkreasi nilai,
mengcreate satu nilai value creation.
Dari tugas kita sebagai seorang ASN, apa
yang menjadi nilai yang bisa
dimanfaatkan oleh masyarakat? Itu harus
kita bisa jawabnya. Karena kita digaji
oleh rakyat gitu ya. Saya digaji oleh R
karena saya PMS sebagai dosen, maka saya
harus berusaha semua dosen ya, tidak
hanya saya berusaha untuk lakukan value
creation dan itu tidak mungkin kalau
dosen itu tidak belajar. Demikian juga
panjenengan semua. Nah, sekarang belajar
itu lebih mudah lagi karena apa? Ada
paradigma connected learning dengan
adanya teknologi internet ya. kita pajar
pakai Zoom seperti ini dan seterusnya
ada distant learning yang dihubungkan
dengan eh teknologi yang namanya
connected learning ya. Belajar yang
terkoneksi dengan internet misalnya
belajar terkoneksi dengan HP kita ya
belajar terkoneksi dengan jejaring kita.
luar biasa itu. Jadi beda dengan zaman
saya kuliah ketika tahun-an ya yang
harus datang ke Perpus untuk mencari
sumber-sumber pengetahuan dan seterusnya
ya. Ini adalah teknologi digital yang
mendukung kita untuk mudah mengakses
pengetahuan. Nah, namun ya untuk hal-hal
tertentu ya yang sifatnya pelayanan
masyarakat yang harus berhadapan dengan
masyarakat tetap kita harus belajar ee
di tempat ya. Karena apa? Tempat kita,
kantor kita, ya, working space kita di
instansi masing-masing itu adalah tempat
kita belajar ya. Pembelajaran berbasis
tempat atau offline itu tetap penting
karena nanti dari situ kita dapat tahu
ee apa yang terjadi di kantor kita
masing-masing dalam rangka memberikan
layanan terbaik bagi masyarakat. Terus
improvement ya. terus kita berbahagi
dengan belajar di masa yang lalu untuk
kita berbahagi keadaan di masa ee masa
depan agar rakyat ini bisa menikmati
layanan kita yang selalu lebih baik dan
sesuai kebutuhan mereka. Dan ini yang
penting Bapak Ibu ya yang penting tadi
ada penanya yang mengkaitkannya dengan
karir ya bahwa pendidikan belajar dan
karir itu punya korelasi yang signifikan
ya. Kalau Anda belajar jangan jangan
khawatir pendapatan nanti Anda akan naik
entah dari mana kita karena rezeki itu
datangnya dari Allah ya. Kalau karir
insyaallah ya dengan track record kita
yang baik ya dengan macam-macam
syarat-syarat yang harus kita penuh itu
baik semuanya insyaallah dengan baca itu
semakin meringankan kita untuk menapak
KW yang lebih tinggi. Kalau KW semakin
tinggi, pendapatan semakin tinggi dan
orang-orang Amerika dan Eropa yang
sangat materialistik itu yakin kalau
kita ikut pelatihan pendidikan itu
otomatis ee apa pendapatannya akan itu
ada di situs ini Bapak Ibu lihat ya dan
ini nanti akan saya kutip tentang apa
learning and technology itu. Nah,
sebagian besar nanti saya kutip dari eh
situs ini namanya Research Center di
Amerika Serikat.
Ini ada sebuah fakta ya. Tadi saya sebut
bahwa belajar itu adalah culture, budaya
bukan sesuatu hal yang memaksa kita gak
ya. Jadi tidak ada paksaan dalam belajar
ya. Ini ada riset dari Research Center
sebagai satu lembaga yang terkemuka di
Amerika Serikat ya.
Itu mereka tahu bahwa warga Amerika
Serikat itu merasa dirinya itu sebagai
pembelajar sepanjang hayat. Karena apa?
Kalau kita lihat ya para turis secara
umumlah kok naik kereta itu mereka pasti
baca gak gak ngobrol kayak kita ya baca
apalagi orang Jepang ya nanti berapa
persen persentase dari orang-orang
Amerika yang merasa dirinya itu e
pembelajar
ya supaya apa dari membaca itu ya
membaca yang namanya pengetuan eksplisit
di dalam buku atau pengetan implisit
dalam pekerjaan kita sehari-hari
itu adalah sebuah sebuah ucap upaya kita
untuk mengumpulkan knowledge ya atau
knowledge gathering, mengumpulkan
pengetahuan dan itu tentu saja sesuai
minat kita dan terkait pula dengan
pergaan kita. Ingat ya, jadi belajar
sebagai individu dan belajar sebagai
profesional.
Kalau kita belajar sebagai individu itu
adalah sesuai minat kita. Tapi kalau
kita belajar sesuai belajar profesional
itu adalah sebagai profesi kita.
ASN belajar terhadap tugas-tugasnya
ya demi meraih sesuatu yang lebih baik
di masa depan. Karena apa? Skill
meningkat, wawasan luas itu mendorong
kita untuk tetap semangat menatap hari
esok sebagai ASN ya. Dan kalau sudah
semangat itu wah kelihatan kita raut
Mekah kita. Seperti yang dikatakan Pak
Hasan Basri tadi ya, ulama terkemuka di
zaman Umayyah dulu itu ya. Wajah kita
berseri-seri melayani masyarakat itu
dengan tersenyum bahagia. ikhlas gitu
ya. Passion-nya itu adalah pelayanan itu
teru terbaca di wajahnya
itu Bapak Ibu belum menyadari ya saya
itu bisa melihat ya bagaimanakah ketika
saya butuh mendapat pelayanan SIM KTP
dan seterusnya itu ada ASN yang
berseri-seri yang melayani kita ya itu
ya. Oh, kalau sudah begitu rakyat senang
dengan kita ya. Dan orang-orang di
Amerika itu belajar di mana saja gitu.
Ada di rumah, di tempat kerja ya. Dan
dalam konteks seperti ini, internet itu
adalah alat yang paling penting untuk
menunggu kita menjadi orang yang selalu
belajar, dapat pengetahuan. Maka
manfaatkan internet yang ada di sekitar
kita dengan Wi-Fi ya, dengan up gadget
kita. Itu adalah sesuatu yang bisa
menambah knowledge kita. Ini mereka
bilang ya
survei research center tahun 2016 dan
itu update terus ya sebagai pembelajar
berkelanjutan itu mereka disurvei ya
warga Amerika Sikat itu sebanyak 73%
saudara hampir hampir apa bukan hampir
ya di atas PAU warga Amerika itu adalah
sebagai pembelajar sepanjang masa luar
biasa banyak temuan-temuan penting
banyak perai Nobel itu ya dari Amerika
Karena tradisi mereka belajar.
Kita tadi disebutkan oleh Pak Sugaryo
ya, bagaimanakah kita itu
banyak ngobrolnya dan belajarnya. Ya,
bandingkan dengan Amerika yang meraih
prestasi seperti itu ya. Meskipun dalam
banyak hal Amerika itu sekarang
tertinggal lagi dengan negara Cina tapi
coba dari survei ini kita bisa belajar
dari Amerika ya. Nah, ini ada pembelajar
pribadi
sebanyak 74%
ya itu adalah pembelajar pribadi yang
dia itu ikut terlibat dalam satu
kegiatan minimal dalam setahun untuk
menambahkan pengetahuan wawasan ya
membaca kursus pertemuan dan seterusnya
itu 74%.
Lalu ada 63%
ee sebagai pembelajaran profesional yang
itu terkait dengan peningkatan skill dan
eksertis terkait kemajuan K. Nah, di
Indonesia belum ada studi, tapi kita
harus ee berpikir bahwa kita adalah
termasuk orang-orang yang berkategori
pembelajaran baik sebagai individu
maupun sebagai profesional. Karena itu
tuntutan. Jangan sampai dalam pergaulan
sosial ya kita ini ketinggalan
pembicaraan. Kita hanya jadi pendiam
penonton ya pasif karena kita gak tahu
apa-apa. K terus kosakata baru
bermunculan akibat orang itu belajar
sesuatu yang baru lah. Kalau kita gak
belajar, jangankan artinya ya, makna
yang lebih dalam dari kosakata yang
diucapkan orang-orang yang terbaru itu
gak paham kita. Akibatnya kita minder
dalam perguruan sosial dan mengasingkan
diri. Lalu ada anti, ada kecemasan
mental illness. Itu kan yang terjadi
sekarang. Coba hentikan dengan orang
yang belajar, wajahnya cerah ya,
ucapannya itu tegas begitu karena dia
paham terhadap situasi yang dihadapinya.
Baik situasi kehidupan sehari-hari
sebagai pribadi maupun situasi di
kantornya. Dia paham mengikuti update
terus kebijakan-kebijakan dari
pemerintah itu ya. Oke, coba ini
alasannya apa?
Rasanya orang-orang Amerika itu merasa
kalau dia belajar 80% Bapak Ibu ya
membuat hidup itu lebih menarik,
atraktif dan bermakna
ya dengan membaca kitab suci Al-Qur'an
misalnya ya atau kitab suci dari agama
lain ya ada wawasan kita meningkat dari
sisi religius kita ya tren sehari-hari
kita baca koran ya yang sekarang sudah
ada e papaper e newspaper itu akhirnya
apa dia merasa bahwa oh ada sesuatu yang
baru dan ini mesti kita lakukan. Hidup
lebih bermakna.
Nah, yang penting 64% itu merasa bahwa
dia bisa menguk orang lain dengan lebih
efektif melalui apa proses pembelajaran.
Dan yang penting Bapak Ibu ada 60% dari
ee apa responden itu memiliki waktu
luang untuk belajar ya. Disediakan
khusus. Kalau kita sebagai ASN mungkin
ada desakan karena ada aturan ya ada 20
jam minimal 20 jam pelajaran ya kita
harus ikut pelatihan atau pendidikan
untuk meningkatkan kompetensi itu
paksaan undang-undang dan kita harus
melakukannya. Tapi ini ada s ee ada
orang 60% jumlahnya di Amerika itu yang
merasa bahwa dia itu menyediakan waktu
khusus untuk belajar.
Nah, gitu ya. Sekarang kita bertanya
pada diri kita sendiri berapa pers waktu
untuk kita. Nah, ini ya. Terus ada juga
yang berpikiran bahwa ee mengubah hobi
menjadi sesuatu yang menghasilkan
pendapatan ini dari membaca tentang
sesuatu akhirnya kita bisa menghasilkan
suatu produk dan produk itu bisa dijual.
Itu 36% orang melakukannya di Amerika
ya. Kemudian 33% mengikuti perkembangan
generasi baru ya. Jadi kalau Anda punya
anak, punya cucu itu didiklah sesuai
dengan apa yang menjadi nilai-nilai
dasar kehidupan pada saat ee apa nilai
kebaikan itu bisa diturunkan seterusnya.
Jadi bukan mendidik anak sesuai
zamannya, tapi mendidik nilai-nilai yang
itu berpegang tu pada nilai-nilai dasar
kehidupan
itu 33%.
Oke, ya. Oke. Jadi kalau kita belajar
alasan ee belajar sepanjang hayat itu
ada meningkatkan skill, mendapatkan
mendapatkan kebian baru. Ya, jangan
khawatir, karir kita akan melesat dengan
belajar itu dan pekerjaan baru apa
menanti kita baik di luar organisasi
kita maupun di ee di dalam organisasi
kita. Kalau Anda mau lift dari PNS atau
ASN tersedia itu ya. Tapi saya
rekomendasikan jangan live ya. kita
terus mengabdi ya di birokrasi
pemerintahan ini untuk melayani rakyat
sebaik-baiknya ya. Nah, 70% 7% orang
merasa khawatir kalau kita gak belajar
nanti kita terkena dengan kebijakan
perambingan. Itu terjadi di sektor
swasta pada umumnya ya Bapak Ibu ya.
Jadi ada sejumlah alasan atau pilihan
rasional mengapa kita ini harus belajar
sepanjang hayat agar kita terus dapat
dipercaya untuk mengabdi demi
kepentingan bangsa dan negara ini. Nah,
gitu ya. Dampaknya Bapak, Ibu ini survei
hasil surveinya ya. Saya kutip dan saya
terjemahkan di sini bagi 74 orang, 74%
orang yang merasa sebagai pembelajar
pribadi tadi itu merasa lebih mampu dan
sudah bisa jumlahnya 87%.
Ini luar biasa ya. Jadi namanya presisi
ya itu namanya ada ee itu namanya self
confidence ya, self confidence dan self
efikasi.
Kalau self confidence itu percaya diri,
tapi kalau sudah self efikasi itu adalah
orang-orang yang
apa melakukan pekerjaan itu yakin bahwa
itu benar. pasti benar seperti sepak
bola Ronaldo atau Lionel Messi ya itu
sekali tendangannya pasti masuk ke
gawang. Nah, itu namanya self efikasi.
Nah, itu bisa diperoleh dari belajar ya.
Ada banyak hal yang kita bisa peroleh
dari belajar itu sebagai pembelajar
pribadi. Nah, kalau bagi 63% orang yang
belajar secara profesional itu
memperluas jejaring profesional. Oke,
kita belajar seperti ini ya. itu nanti
kita kenalan ya, ada jejaring baru untuk
kita. Ingat, satu orang yang masuk nomor
HP-nya ke HP kita itu adalah rezeki bagi
kita ya. Dalam artian apa? Bukan ee
bukan masalah rezeki itu uang bukan.
Tapi kalau nanti ada apa-apa ya kita
bisa kontak ee pada teman-teman kita
yang baru itu. Itu sangat menguntungkan
networking.
Baik ya, saya lanjutkan. Nah, sekarang
polanya bagaimana?
Ini harus kita pahami betul ya, bahwa
realitas di Amerika itu juga hampir sama
dengan kita. Kalau misalnya tingkat
pendidikan
ya dan pendapatan rumah tangga atau
household income ya
itu tinggi dan terhubung internet juga
lebih tinggi itu terlibat cenderung
terlibat aktif dalam ekosistem
pendidikan. Sebaliknya gitu, orang-orang
yang pendidikan rendah, pendapatan rumah
tangganya rendah dan tidak atau sulit
terhubung internet itu cenderung untuk
tidak terlibat dalam ekosistem
pembelajaran. Bapak, Ibu, Anda bersyukur
sebagai ASN. Pemerintah sudah
mensejahterakan kita sebagai ASN kan
dengan gaji pokok, dengan remunerasi dan
sebagainya ya. Berbagai macam insentif
diberikan kepada kita. Itu artinya apa?
Pemerintah berusaha untuk meningkatkan
pendapatan kita. income kita meningkat,
sejahtera kita, lalu pendidikan kita
dengan adanya lembaga-lembaga yang
mendikan beasiswa, kita bisa improve ya
dari sekedar SMA ke S1, dari ee diploma,
diploma ke S1, S1 ke S2, S2 ke S3 itu
semakin tinggi kita semakin merasa gak
gak ada apa-apanya. Ingat ya tadi ya
dari Hasan Albasri bahwa semakin banyak
ilmu kita semakin kayak padi merunduk
kita gak sombong. Itu artinya apa? kita
masih butuh terus butuh untuk terus
belajar ya tingkat pendidikan tinggi
bukan merasa dirinya serba mampu tapi
masih banyak hal yang perlu digali lalu
ditopan dengan pendapatan rumah tangga
kita yang kita alokasikan sebagian dari
pendapatan itu untuk belajar apalagi
kalau kita dapat beasiswa itu semakin
memberikan semangat pada kita dan yang
terakhir adalah kalau kita terhubung
dengan internet manfaatkan internet itu
untuk belajar nah itu survei dari bi
research resarch center itu ya kondisi
kita itu adalah kondisi yang signifikan
kaitannya dengan ee proses belajar kita.
Oke ya. Nah, sekarang apalagi ya dengan
ee beberapa macam siklus di dunia yang
disediakan secara
apa itu filantropis oleh beberapa
lembaga seperti ee yayasan siapa itu?
Pencipta Microsoft itu ya. Lalu ada juga
adakan akademik ya, ada distant
learning, ada kursus daring secara
massalnya atau MOO eh C itu ya yang
diadakan oleh universitas dan perusahaan
itu tersedia banyak ya dan ini adalah
sesuatu yang bisa kita manfaatkan baik
ada yang berbayar maupun ada yang gratis
dan itu lebih banyak gratisnya. Luar
biasa, Saudara. Jadi di era connected
learning seperti ini, itu rugi kalau
kita gak manfaatkan internet demi keman
kita. Dan rugi besar kalau kita ini gak
belajar. Ya, kita akan tertinggal dengan
orang-orang yang selalu mengaksesi
internet untuk meningkatkan kapasitas
mereka. Karena apa? Ada banyak platform
dan metode pembelajaran digital yang
memungkinkan kita itu setiap saat dapat
belajar. Ya, waktu sanang kita di luar
pekerjaan kita sehari-hari kita gunakan
untuk belajar. Pokoknya ada makna di
balik setiap detik kehidupan kita
ya. Nah, sekarang fokusnya
jangan sembarang belajar kalau itu tidak
terkait dengan satu minat kita dan kalau
tidak terkait dengan pekerjaan kita.
Karena apa? Dengan fokus belajar itu
kita menaruh perhatian ya ikut pelatihan
atau kursus atau apa saja ya. itu
digunakan untuk mempelajari dan
meningkatkan keterampilan kerja. Ya,
sementara dari ee hasil surveinya P
resal center itu mengatakan bahwa hanya
sepertiga yang mengikuti pelatihan itu
untuk mendapatkan lisensi atau
sertifikasi. Ya, kita butuh sertifikasi
ya, kita butuh lisensi untuk pekerjaan
kita. Tapi itu hanya sepertiga aja. Dua
per3nya itu adalah untuk meningkatkan
skill mereka ketika dia belajar sebagai
seorang prof profesional termasuk kita
ini sebagai ASN. Nah, begitu ya fokusnya
ya. Jadi
ee orientasi belajar itu dikatakan
sebagai sesuatu kepentingan dua pihak
yaitu kepentingan kita sebagai seorang
individu pribadi maupun kepentingan
organisasi kita tempat kita belajar.
Dua-duanya harus seimbang ya. Jangan
kita belajar sesuatu yang hanya
berorientasi pada kepentingan kita.
Nanti apa? Kita tidak akan mendapatkan
apa-apa daripada apa yang harus kita
lakukan dengan belajar untuk pekerjaan
kita itu. Jadi balancing ya. Jadi ada
keseimbangan antara kepentingan kita
dengan kepentingan organisasi
ya. Sebaliknya juga demikian ya, supaya
Anda itu hidup lebih menarik,
bersemangat, Anda juga dorong belajar
untuk kepentingan Anda. Jangan hanya
belajar tentang kegiatan kegiatan
sehari-hari di pekerjaan di kantor Anda.
Makanya saya katakan ini harus balance
ya sebagai hasil dari temuan BU Research
Center gitu. Lalu sifat-sifat pekerjaan.
Nah, ini ya. Dan ini ee berkorelasi
dengan tempat belajar kita. Misalnya
apa? Kalau ada survei ini salah satunya
saya saya kutip ya. Sifat pekerjaan di
pemerintahan kayak kita dan pendidikan
kayak saya ini ya sebagai seorang dosen
ya itu cenderung mengarahkan
untuk belajar di tempat kerja. Jadi
sebaiknya ASN itu kalau terkait hal
teknis viw center riset itu
merekomendasikan agar kita belajar di
tempat on the job training gitu ya
misalnya gitu ya. Tapi kalau hal yang
terkait dengan pemenuhan wawasan ya
peningkatan wawasan dan yang terkait
dengan penambahan pengetahuan itu bisa
dilakukan secara daring seperti ini se
yang kita lakukan dalam forum ASN
belajar ya. Jadi, Bapak Ibu kita
akhirnya bisa tahu ya paham setelah kita
diberi wawasan oleh Ibu Deputilan tadi
ya dari Ibu Dr. Erna Irawati dan juga
dari eh Bapak Kepala BPSDM Kemendagi
tadi ya Pak Dr. Sugeng Haryono. Akhirnya
dengan materi ini saya berharap bahwa
semua itu terangkum menjadi satu kaitan
yang ee erat erat relasinya antara
materi pertama sampai ketiga ini ya. Dan
itu menjadi sesuatu yang bisa menjadi
modal Bapak Ibu.
untuk menyemangkati diri sendiri bahwa
masa depan itu masih jauh dan
kemungkinan perubahan itu terus terjadi.
Maka kita harus menyesuaikan perubahan
itu dengan ilmu pengetahuan. Caranya
apa? Dengan belajar ilmu. Nah, begitu
ya. Baik, kita lanjutkan ya.
Nah, ini ada sesuatu yang harus kita
perhatikan.
ee kita dituntut
ya seorang guru, seorang dosen ya,
seorang ee pejabat fungsional di kantor
masing-masing, seorang ASN, PNS ya, P3K
itu dituntut punya fundamental skill
ya. Asumsinya apa? Karena akan ada
beberapa pekerjaan yang akan
terspesialisasi
ya, terutama di bahasa tenaga kerja yang
ee ada automaticalitinya ya. Jadi ada eh
artificial intelligence, ada chatboard
dan sebagainya ya di era digital dan
perubahan yang dinamis itu butuh
keterampilan dasar atau basic skill atau
fundamental skill. Untuk apa? Untuk
memenuhi tiga kriteria yang dibutuhkan.
Satu ya menambah nilai adding value di
luar outsets of automatic.
Seperti juga adanya keadilan AI.
Banyak orang khawatir bahwa dirinya itu
digeser peranannya oleh AI. Ya, pagi
hari ini saya baca di sebuah ee harian
terkemuka di Jakarta itu memang ada satu
survei yang menunjukkan bahwa nasional
di Indonesia ya semakin banyak pekerjaan
yang tergerus oleh I. Terus ke mana
tenaga kerja kita yang baru masuk pasar
tenaga kerja ini? Maka kita harus punya
nilai tambah dalam kehidupan kita dan
itu di luar jangkauan AI
ya. Maka bergaul itu penting,
berjejaring itu penting supaya apa?
Menambah pengetahuan kita tentang apa
saja yang kita butuhkan saat ini
ya. Jadi jangan merasa pesimis bahwa
semua bisa dilakukan. Tapi ada ada yang
menyebabkan kita optimis itu bahwa ada
sesuatu yang bisa kita lakukan dan itu
tidak bisa dilakukan oleh mesinah
gitu ya. Maka Anda dituntut untuk aktif
dalam lingkungan digital. Ini adalah
skill kita. aktif dalam itu adalah butuh
skill ya termasuk mampu mencari
situs-situs yang terbaik untuk belajar
itu seperti apa ya. Jadi tidak semua
orang yang mengaksesi internet itu
akhirnya sadar bahwa ada beberapa situs
yang bermanfaat untuk belajar itu. Dan
yang ketiga adalah kemampuan kita untuk
menyesuaikan diri terus dapat
beradaptasi dengan cara-cara pekerja
yang baru dan pekerjaan-pekerjaan yang
baru yang timbul akibat kemajuan
peradaban manusia itu. Nah, ini katanya
Bure Resour Center menjadi satu modal
dasar kita dan kita harus punya
kemampuan seperti itu di era connected
learning ini ya, di era belajar yang
terkoneksi dengan bermacam-macam
teknologi itu namanya fundamental scale
ya. Nah, ini saya kutip dari pendapat
yang lain. Kalau tadi kita banyak bicara
dari Bu Reset Center di Amerika ini ada
ee sebuah lembaga yang ternama Mcen ya.
Mcken ini adalah satu lembaga yang
bermartabat di dunia. Dia bilang bahwa
ada empat kategori fundamental skill
yang perlu terus kita pelajari ya. Yang
perlu kita terus pelajari. Artinya apa?
Sepanjang hidup kita itu untuk memenuhi
skali ini ya. Satu adalah kognitif,
kemampuan kita berkomunikasi dan
fleksibilitas mental.
Ah saya prihatin Bapak Ibu ya.
Saya prihatin ketika kemarin saya ketemu
beberapa teman dari BKN dan BKD Jatim ya
merasa bahwa kok begini anak-anak
sekarang ini ya mentalnya mohon maaf
saya katakan mental pecundan ya
ditempatkan satu ditempatkan pada suatu
tempat kerja yang itu di luar dari
kehendak mereka lalu tiba-tiba sudah
diterima menjadi calon BNS tiba-tiba
pamit keluar ini kan merugikan negara ya
ingat ngerekut satu orang sampai dia
jadi calon PNS itu biaya sangat besar.
Tiba-tiba hanya karena dia penempatannya
tidak sesuai dengan harapannya dia
mengundurkan diri. Nah, ini kan
menyusahkan negara. Tidak siap mentalnya
untuk fleksibel menerima tantangan
padahal itu kognitif yang sangat
dibutuhkan. Kinsik orang siap menerima
tantangan apapun termasuk lokasi
pekerjaan
dan ini berat saudara ya. Lalu yang yang
kedua adalah fundamental skill-nya
adalah eh literasi digital. Coba Bapak
Ibu searching di internet berapa skor
literasi digital kita. Alhamdulillah
kita naik ya tapi belum sesuai dengan
harapan.
Literasi digital masyarakat Indonesia
masih relatif rendah ya dibandingkan
dengan negara ASEAN yang maju seperti
Singapura atau Malaysia apalagi dengan
dunia ya seperti negara-negara
Skandinavia dan seterusnya.
Lalu yang ketiga itu adalah skill
fundamentensi itu adalah interpersonal.
Kita bisa efektif bekerja dalam tim.
Ingat ya Bapak Ibu ya, ada lima faktor
yang mempengaruhi kita berhasil dan
bekerja itu. Satu faktor kita sendiri.
Kalau kita selalu belajar kita akan
dihargai orang. Yang kedua adalah
pemimpin kita. Pimpinan kita itu adah
pimpinan yang supportif. Ya, kalau
pimpinan kita itu gak support ke kita,
gak suka sama kita, like and dislike.
Apa jadinya kita? Yang ketiga itu adalah
kawan kita. Ya, kawan kita itu
tergantung dari kemampuan interpersonal
kita. Kalau kita gak bagus bergaul
dengan kawan kita, bagaimana kita bisa
efektif dalam bekerja, efektif untuk
berhasil di dalam tim itu. Yang keempat
adalah faktor sistem organisasi kita
termasuk teknologinya. Dan yang kelima
itu adalah faktor kebijakan. Lima hal
itu harus kita pegang Bapak, Ibu ya.
Interpional kemampuan kita untuk
bergaul, sukses dalam satu tim karena
tidak ada satu pekerjaan yang dilakukan
satu orang kecuali profesi dokter atau
lainnya ya, dokter gigi dan seterusnya.
Yang keempat adalah fundament scale yang
namanya kepemimpinan diri, self
leadership. Ini penting ya, karena apa?
Takdir kita adalah setiap orang itu
adalah pemimpin. Maka kita harus bisa
memaknai pemimpin itu untuk diri kita
dan untuk orang lain.
Luar biasa, Saudara. Ya, kalau kita
menguasai ini. Menensi bilang kesuksesan
orang itu tergantung dari kepemilikan,
properti dari e keterampilan dasar ini
yang disebut sebagai fundament scale,
ya. Nah, tadi ada fundament skill, lalu
sekarang ada prioritas skill.
Bagaimanakah pemerintah kita, ya.
Bagaimanakah kami-kami di universitas
itu mendesain rancangan pembelajaran
supaya anak-anak kita itu nanti laku di
pasar kerja itu gak gampang Bapak Ibu
ya. Makanya universitas itu orangnya
ee banyak yang cepat sakit ya. Karena
mikir gini mikir gini ya. Negara harus
mampu menyiapkan SDM-nya. Termasuk
organisasi tempat kita belajar harus
mampu menyiapkan SDM-nya agar mampu
bekerja di masa depan.
Ya, karena apa? Bekerja di masa depan
itu butuh skill baru dan itu hanya bisa
dilakukan dengan belajar.
Maka kita buat list keterampilan apa
saja, pengetahuan apa saja. Nah, ini ada
satu survei oleh MEN ya. Surveinya gak
main-main. Ini ada 18.000 orang sebagai
responden yang tinggal di 15 negara
ya. 18.000 orang itu menyebutkan
skill-skill yang diprioritaskan oleh
negara ee oleh pemerintah masing-masing.
Hasilnya ini Bapak, Ibu ya.
Mana ini? Ini ya. Nih. Jadi
mudah-mudahan bisa terlihat ini ya. Eah
nanti panitia saya kira sudah mengirim
apa PPT saya ke panjenengan semua ya.
Jadi ada 56 ya 56 foundation skill that
will help employee in the virtual. Jadi
ada 56 fundamental skill yang itu nanti
akan dapat membantu staf di organisasi
masing-masing pada pekerjaan-pekerjaan
di masa depan.
Ya, ini di kotak ini ada dari kategori
konektif ada critical, ada planning and
wish of working, ada mental flexibility,
ada communication ya kalau interpersonal
itu ada mobilizing system, ada
developing relationship dan seterusnya
ya. Gak usah saya bacakan satu persatu
dan itu ada turunannya atau derivatnya
ya. Dan akhirnya kita bisa melihat bahwa
ee ini ada satu gambaran bagaimanakah
kita bisa mengantisasi masa depan itu
dengan menyiapkannya sekarang belajar
sejak dini untuk menghadapi realitas di
masa depan.
itu inti dari ee apa itu survei dari
survei dari menceny dan kerja sama dia
dengan apa yang disajikan dalam world
government summit tahun 2023 yang lalu.
Ya, ini menjadi perhatian kita Bapak Ibu
ya, bagaimanakah sebetulnya kita harus
punya satu waktu untuk belajar. Tidak
hanya itu ya, tidak sekedar waktu untuk
belajar tapi juga belajar apa itu yang
penting ya. Satu kategorinya ya kalau
kita sebagai pembelajar pribadi itu
adalah sesuai minat kita. Kalau kita
belajar secara profesional itu adalah
sesuai dengan bidang tugas kita
masing-masing. Dua-duanya harus ada pada
kita ya. Kita harus punya dua hal itu.
Oke. Trennya sekarang apa ya? Karena
itu, karena ini ya karena ada 56 eh
foundational scale tadi, maka organisasi
yang sekarang baik perusahaan maupun
pemerintahan di 15 negara tadi yang
disurvei oleh MKIN itu membangun
portofolio untuk pembelajaran
ya.
Ee saya kurang tahu detail ya, apakah 15
negara itu Indonesia termasuk di
dalamnya. Nanti saya ee apa saya bacanya
lagi ya. Tapi yang jelas saya tidak
melihat nama Indonesia ya. Kalau OECD
sekarang peran-peran mulai memasukkan
Indonesia ya, karena kita ada akseksi ke
akseksi ke sana dan nanti kita
kemungkinan jadi anggota itu. Tapi untuk
ini ee apa itu mungkin sih saya belum
melihat Indonesia. Jadi organisasi
membangun portofolio pembelajaran
terhadap apa? 10 general skill yang
fokus pada pengembangan ketadan sosial
emosional dan kognitif tingkatan. Ya,
ini 10 ini ya. leadership and managing
others sampai advance IT skill and
programming. Ini 10 hal yang tadi
disampaikan nih ya sebagai apa?
Portofolio pembelajaran yang nanti
mereka membangun platform yang bisa
diakses dengan mudah oleh warga
negaranya. Nah, seperti sekarang ya
BPSDM itu menyelenggarakan kursus yang
bisa diakses dengan mudah. L misalnya
juga punya fasilitas untuk itu dan juga
yang lain bisa tidak bisa saya sebut
satu persatu saking banyaknya ya. yang
menyediakan platform itu. Jadi jangan
khawatir Bapak, Ibu ya. Daya tarik hidup
kita, nafsu kita atau hasrat kita untuk
belajar itu sudah disediakan oleh
pihak-pihak tertentu untuk belajar
secara mandiri. Nah, ya. Tapi kalau kita
tidakak bergerak untuk memanfaatkan itu,
itu artinya percuma. Fasilitas itu gak
ada artinya ya. Baik Bapak Ibu. Ingat
how we can create a value. Value
creation itu tuntutan kita. ya. Kita
tidak sekedar jadi ASN, kita tidak
segera menjadi guru, dosen, ya. Tapi
kita adalah guru dosen ASN yang punya
kemampuan untuk meng-create nilai dan
itu dilakukan dengan belajar,
ya. Oke, ini 10 skill yang tadi saya
sebutkan gak usah saya ulang lagi.
Oke, ya. Nah, ini Bapak Ibu kan perlu
karir ya. Tadi ada penanya dari mana?
Dari Ngawi atau dari mana ya? Saya
dengar ee tersenyum juga saya dengar.
Kalau gak punya apa-apa, gak punya
siapa-siapa, bisa karir. I don't worry
about ya, Pak. Ya, tadi Pak saya catat
ya. Cuman ini harus kita ingat ada
istilah skill distance
ya. Skill distance yang kalau
diterjemahkan dalam ee bahasa Indonesia
secara harfiah gitu namanya jarak
keterampilan. Tapi pengertiannya bukan
sekedar jarak ya. Ini adalah kesenjangan
ya. Namanya kesendangan.
Jadi ada ru moving itu keniscayaan Bapak
Ibu. Kalau kita pintar bertrack record
baik, dipandang baik oleh pimpinan, kita
dipromosikan, diusulkan untuk promosi.
Itu namanya rle moving. Peran-peran kita
bergerak, mobilitas vertikal ya,
karirnya promotif ya, dipromosikan gitu.
Itu tentu butuh skill baru yang berbeda
sama sekali dengan kebutuhan-kebutuhan
yang lalu ya. Skill baru itu adalah
sebagai ini bukanah bukan berbeda ya.
Skill baru itu adalah sebagai kebutuhan
peran baru. Skill baru berbeda dengan
skill yang lama sebelumnya ya. Untuk
jabatan yang baru dia butuh untuk
peran-peran yang baru dalam promosi itu
dia butuh skill yang baru.
Ya. Maka di sini ada riset dari ya.
Jarak keterampilan atau skill distance
rata-rata per perpindahan itu adalah
25%. Jadi kalau Bapak Ibu dipromosikan
itu sudah ketahuan 25% Bapak Ibu gak
nguasai skill baru itu sebagai pimpinan
ya, sebagai orang yang dipromosikan pada
jabatan baru. Maka pengatasannya adalah
ada training need analisis yang sifatnya
proaktif.
Analisis kebutuhan diklat ya AKD yang
sifatnya apa itu promotif ya. Sifatnya
adalah preventif supaya apa? Dia dicegah
dari distance ketika dia menduduki
jabatan baru. Artinya apa? Dididik
dididik dahulu baru duduk jabatan baru
untuk mengatasi apa? 25% kekurangan
tadi. Nah, itu ya itu namanya skill de.
Ini artinya apa? Semakin eksplisit ya
bahwa kita itu perlu belajar terus gak
pernah berhenti. Bahkan orang-orang yang
sudah guru besar ya sudah S3 itu merasa
belum ada apa-apanya terus belajar. ya
meningkatkan dia ikut pus doktoral ikut
fellowship ya ikut program-program yang
itu memungkan pengetahuan baru.
Bayangkan Bapak Ibu ya seorang guru
besar masih sinau masih belajar karena
apa? Terus ada perubahan
perubahan fenomena, perubahan
konseptual, perubahan ilmu, perubahan
teori ya itu semua harus dipelajari.
Kalau gak ya ilmunya ketinggalan nanti
gak direken sama mahasiswanya ilmu kuno
ini, Pak. Gitu gitu ya. Coba bayangkan
Bapak Ibu ya. Iya. Oke, karena itu betul
ya k yang dikatakan Pak Sugeng Haro tadi
dari Kemendagi, kita memperkuat ASN
dengan cara membina dan melatih mereka
apalagi bagi staf di awal-awal masa
jabatannya ya dan organisasi
pembelajaran atau learning organization
yang kita bentuk yang susah pai dibentuk
oleh Pak Ramli di BPSDM ya untuk
Provinsi Jatim dan provinsi-provinsi
yang lain itu harus kita hargai sebagai
magnet kita. Untuk apa? untuk
orang-orang yang bertalenta atau yang
berbakat. Tadi disebutkan oleh Pak
Sugeng Harono dan juga Ibu Deputi ya Ibu
Erna Erawati Irawati tadi. Bagaimanakah
kita bisa mementakan bakat orang itu dan
SDM yang berbakat itu langka rare ya
jarang. Maka kita harus petakan itu dan
akhirnya kita bisa buat ee apa itu skema
pembelajaran yang tepat bagi orang-orang
yang berbakat itu ya. Oke. Gunanya apa?
Untuk mengatasi skill distance yang
diperlukan ketika dia dipromosikan.
Oke, ini perjalanan ya. Jadi, skill
distance itu requir for a new job that
don't overlap with those in the
immediate prev job. Ya, dan dia berbeda
tidak overlapping, tidak tumpan titis
dengan pengetahuan-pengetan dan
skill-skill sebelumnya. Ya, ini
skemanya. Bagaimanakah kita bisa
mengetahui bahwa 30 sampai 40% skill
rata-rata dari skill distance itu adalah
R move yang dibuat oleh orang-orang yang
memasuki eh karir baru yang nanti
memperoleh higher earning bracket. Ya,
luar biasa. Ini kalau sudah karir baru,
menanjak, promotif, higher earning,
pendapatannya meningkat ya. Oke, Bapak,
Ibu. Ini adalah sesuatu yang bisa
merangsang kita, gitu ya untuk meyakini
bahwa belajar seumur hidup itu perlu ya
perlu wajib kita lakukan. Yang kedua,
bahwa dengan belajar itu kita bisa
menguasai masa depan ya. Dan kalau sudah
menguasai masa depan itu artinya kita
dipercaya untuk dapat mengadi
terus-terusan.
Ya, Bapak, Ibu. Di perguruan tinggi itu
ada satu skema. Bagaimanakah kalau para
dosen atau profesor yang pensiun tapi
tetap dikarakan? Syaratnya apa, Bapak,
Ibu? Dia mampu menulis hal-hal yang
baru. Ya, eman kalau orang ini pensiun
hanya di rumah, sementara pengetahuannya
update terus tarik, ayo, Pak, Pak, ayo,
Prof. Ayo, Prof. ngajar lagi gitu kok,
Ibu ya. Itu arti apa? asa kita dapat
mengabdi seur hidup lewat pembelajaran
sepanjang hayat di ee sepanjang hayat di
badan dan itu bisa kita wujudkan ya.
Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan
dan apa yang Bapak Ibu ee apa bayangkan
begitu menjadi sesuatu yang real dan
mudah dilaksanakan ya. Terima kasih dari
saya karena saya waktu dibatasi ya hanya
30 menit. Terima kasih dan mohon maaf.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Ya, saya kembalikan kepada
Mas Lukman. Monggo, Mas Lukman.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih Prof. Yusuf
Wirianto atas materi yang telah
disampaikan dan Sobat ASN. Setelah ini
kita akan langsung masuk ke sesi tanya
jawab. Bagi sobat ASN yang ingin
bertanya, silakan bisa raise hand
melalui Zoom ataupun bisa menyampaikan
pertanyaan melalui live chat apabila
bagi Anda yang bergabung di YouTube.
Kita akan kembali setelah jeda pandwara
berikut ini.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
I
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
Ya, Anda kembali lagi menyaksikan
webinar ASN belajar seri 25 tahun 2025.
Tadi menarik sekali yang telah
disampaikan oleh Prof. Yusuf bahwasanya
ketika kita belajar maka kita akan jadi
relevan dan itu akan pengaruh ke
interaksi sosial. Kali ini sudah
bergabung bersama dengan kami penanya
kita yang pertama atas nama Bu Sinta
dari analis SDM Omutsman RI. Saya akan
sapa beliau terlebih dahulu. Selamat
siang, Bu Sinta.
Selamat siang, Mas. Baik, Bu Sinta.
Sebelum disampaikan pertanyaannya
mungkin bisa diperkenalkan terlebih
dahulu nama, asal instansi dan juga asal
daerah. Kemudian sila disampaikan
langsung pertanyaannya kepada Prof.
Yusuf. Monggo Bu Sinta. Baik, terima
kasih Mas. Saya Sinta Katlara dari
Ombusmen Republik Indonesia. Domisili
saya di Jakarta.
Saya sangat tertarik dengan apa yang
disampaikan Prof. Yusuf nih memang ee
apa profil guru saya. Jadi teringat
almarhum dan almarhumah kedua orang tua
saya yang memang guru. Ibu guru TK, ayah
saya guru SMA. Ee cara penyampaiannya
juga tadi jadi ee terbayang pada saat
orang tua saya tuh mendidik saya sejak
kecil bahwa kita tuh wajib untuk
membaca, membaca dan belajar. Karena
dari belajar ee dan membaca itu kita
bisa melihat ee dunia ya, Pak ya, Prof
ya. Nah, saya ini ee tergelitik dengan
tadi apa yang disampaikan di ee materi
sebelumnya bahwa generasi Z dan
generasi-generasi yang ee sekarang ini
kenapa kok mereka jadi ee enggan membaca
hal-hal yang memang ee bisa membuka
wawasan mereka. Mereka lebih tertarik
dengan ee gadget. Memang menurut mereka,
mereka juga belajar di situ, tapi ada
hal-hal yang sebetulnya mendasar itu
mereka kurang pahami sehingga kadang ee
attitude dan sikap mereka itu ee sangat
jauh dari apa yang pernah ditanamkan
oleh generasi-generasi terdahulu. Nah,
saya ingin bertanya nih, bagaimana sih
untuk ee menumbuhkan ee kita tetap ee
menyalah dalam ee meraih asa dan juga
belajar sepanjang masa agar negara kita
tuh ee jangan menjadi ee orang yang atau
menjadi yang malas membaca sebagai
maunya seperti dibacakan saja, di ee
suapi. Tadi ada saya dengar istilah juga
ada seperti generasi yang disuapi.
mereka tuh gimana sih, Prof, untuk
menumbuhkan rasa minat baca pada
generasi-generasi yang memang saat ini
lebih tertarik kepada gigit. Itu saja
dari saya. Terima kasih, Mas.
Persilakan, Prof. Yusuf. Iya, silakan,
Prof. Ini saya bisa jawab dan anu ya
dengan baik untuk pertanyaan dari Bu
Sinta dari Ori ya. Ee ini kusmen, Pak
ya.
Ada dua sisi dari teknologi
misalnya internet atau AI ya, sisi gelap
dan sisi yang saya sampaikan tadi sisi
positif kaitnya
tapi yang
negatif ini gak saya sampaikan apa itu
mahasiswa saya itu juga lulusannya nanti
menjadi bekerja di BNS juga ya diasi ya
itu adalah mereka-mereka generasi
milenial lanjut ensi ya. Lalu nanti
generasi alpa itu memang terus sisi
gelap dari teknologi internet itu apa
buktinya?
Mereka sudah gak baca buku teks lagi Bu.
Mereka sudah gak baca teks lagi tapi
pakai pakai JPT.
Bikin tugas pakai JP ya. Dan itu gak
hanya di Indonesia, di Amerika juga
terjadi. Itu di awal-awal chat GPT. Lalu
kita bikinatnya
yang memaksa itu tidak tetap silakan
pakai tapi kamu dikontrol oleh turnity
ya atau mekanisme yang yang menegaskan
bahwa itu bukan karya muslim.
Jadi ada paksaan anak-anak akhirnya
untuk apa? Tetap ee membaca buku. Karena
apa? Mereka akan takut hasil karyanya
tidak diakui dan dia tidak lulus. Karena
apa? Itu adalah bukan karya.
Jadi kalau saya lihat diang dari sisi
anak-anak kita itu memang lemah rapuh ya
karena mereka lahir dalam kemanjaan
akibat munculnya teknologi itu. Kalau
kita dulu kan gak ya saya ya bukan kita
ya kan masih muda ya saya dulu dipaksa
mungkin seumur Pak kuliah tahun-an Pak.
Ah, ya kan ya
baca buku. Nah, itu jadi harus ada
mekanisme pengendalian atau control
mechanism ya terhadap anak-anak kita itu
terhadap staf-staf kita yang cenderung
mematkan gadget itu kan enak itu ya
gadgetnya di tangan lalu dia apa saja
dia belajar di situ tapi gak tahu bahwa
situs itu mengandung kebenaran atau
tidak. Nah, ini loh lain kalau beda ya.
Beda kalau lain kalau bed beda kalau
buku ya buku teks di pegang itu mesti
ada pertanggungjawabannya dari
penulisnya tapi kalau sudah akun-akun
yang tersaji di internet dalam hutan
belantara di internet itu tidak bisa
kita cek satu persatu dan ini bisa
menyesatkan anak-anak kita ya jadi ee
semangat itu dibukan dengan apa? Teladan
ya benar ya saya mengutip dari Pak
Sugeng Harono tadi kita harus memberikan
contoh yang terbaik ya. Kalau perlu saya
punya ruang itu penuh dengan buku-buku
hasil-hasil penelitian ya yang itu
tercetak. Jadi ketika mahasiswa saya
masuk di ruang ini bahwa ini ada sesuatu
yang perlu dirujuk. Saya ini di ruang
saya ada buku banyak Bu ya banyak ini.
Dan anak-anak lihat Prof. saya bisa
pinjam saya catat yang pinjam nanti
dikembalikan bukunya ya gitu. Jadi ada
satu mekanisme bagaimana anak-anak kita
itu akhirnya dapat menyadari bahwa
belajar itu tak sekedar ee instan ya.
Sebab apa? Dari chat GPT dia instan Bu
dapat sesuatu yang ee sesuai dengan
kebutuhannya. Lalu ada mekanisme yang
memaksa sedia bahwa itu adalah bukan
karyamu. Nah, ini sudah dilakukan oleh
beberapa perguruan tinggi di Indonesia
ee dan itu ada pedomannya, ada sanksinya
dan ini akhirnya anak-anak menyadari
bahwa ini adalah sesuatu yang keliru.
Maka benar apa yang dikatakan oleh
universitas untuk mengatur. Nah, ini
perlu di ee dilakukan di tempat kerja.
Bagaimanakah supaya ada mekanisme yang
memaksa anak-anak kita itu untuk belajar
yang benar. Nah, begitu ya Bu Sinta ya.
Terima kasih at dan mohon maaf kalau
kita
terima kasih Bu Sinta atas pertanyaannya
semoga terjawab. Mohon izin untuk
mengingatkan kembali jangan lupa untuk
kirimkan alamat Ibu melalui tim admin
kami yang ada di Zoom untuk klaim
souvenir. Baik Bu Sinta terima kasih Pak
Yusuf. Prof Yusuf terima kasih
sebelumnya sudah memberikan materi yang
sangat luar biasa. tadi banyak sekali
paparan data yang dihasilkan dari ee
riset McKensi seperti itu. Barangkali
sebelum kita akhiri di sesi siang hari
ini, Prof. Yusuf ingin menyampaikan
closing statement. Kami persilakan,
Prof. Baik. Bukan yang kuat, bukan yang
pintar ya, tapi keberadaan kita,
keberlangsungan kita itu tergantung dari
kemampuan kita untuk menguasai sesuatu
yang ee berada di masa depan dan di masa
depan itu kita bisa antisipasi dengan
belajar. Maka cocok ya bahwa bel asa
terhadap ee ASNya ASA itu adalah punya
asa tentang karirnya dia, tentang
pengabdian dia. Dan itu semuanya ditopak
oleh kemampuan kita belajar panjang
hayat dikandung badan sepanjang masa
agar dapat apa? mengabdi terus untuk
bangsa ini untuk rakyat kita sepanjang
umur. Terima kasih ya. Sukses selalu,
sehat selalu. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih Prof. Yusuf
Irianto atas rawuhnya di webinar ASN
Belajar seri 25. Salam sehat selalu.
Sampai bertemu lagi di event-event
selanjutnya. Dan sobat ASN, tidak terasa
kita sudah sampai di penghujung acara.
Sekali lagi saya haturkan terima kasih
untuk seluruh pihak yang telah mendukung
webinar ASN belajar seri 25 tahun 2025.
Kami ucapkan terima kasih kepada Deputi
Bidang Transformasi Pembelajaran ASN LAN
RI Ibu Dr. Terapan Erna Irawati. Kami
juga ucapkan terima kasih kepala kepada
Kepala BPSDM Kementerian Dalam Negeri
Bapak Dr. Sugeng Haryono. Dan tak lupa
kami juga ucapkan terima kasih kepada
guru besar bidang manajemen sumber daya
manusia Departemen Ilmu Administrasi
Negara FISIP UNER Prof. Dr. H. Yusuf
Irianto dan Sobat ASN. Sebelum
mengakhiri sesi kali ini, kami ingatkan
kembali untuk Sobat ASN jangan lupa
untuk cek secara berkala semesta Bangkom
guna undu e certificate. Dan sekali lagi
webinar ASN belajar seri 25 tahun 2025
kali ini dipersembahkan oleh Korpu SDGIS
BPSDM Provinsi Jawa Timur. Tetap
semangat dan sampai jumpa di seri
berikutnya.
ASN belajar 25 tahun 2025.
Belajar sepanjang masa, mengabdi
sepanjang ujian.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdempat.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
[Musik]
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan pemerintahan berkelas
dunia satukan tekad pantang menyerah
jadi ASN getar berkualitas
belajar wujudkan
pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN cetak berkualit
[Musik]
Yeah.