Transcript
ldMSw_XASQo • ASN Belajar Seri 25 | 2025 - ASN Meraih Asa: Belajar Sepanjang Masa, Mengabdi Sepanjang Usia
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0241_ldMSw_XASQo.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. Selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. menjadi ASN berakhlak mulia, siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia bukan tekadera jadi ASN berkewajiban servis. [Musik] Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam webinar ASN belajar yang dipersembahkan oleh Corporate University SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sebelum memulai webinar, ada beberapa hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan format. Nama strip asal instansi Sobat ASN. Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi kamera tidak membelakangi cahaya ya, agar wajah Sobat ASN dapat terlihat lebih jelas. Tiga, gunakan virtual background yang sudah disediakan. Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link pendaftaran, virtual background dapat diunduh pada link yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp. Empat, apabila Sobat ASN ingin mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi interaktif, Sobat ASN dapat menggunakan reaction angkat tangan atau rise hand pada Zoom meeting. Lima. Bagi sobat ASN yang mengikuti webinar melalui live YouTube BPSDM Jatim TV dapat menuliskan pertanyaan melalui kolom live chat. Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis untuk mencatat hal-hal penting, ya. Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN tentang materi yang disampaikan oleh narasumber. Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat pada webinar ini, Sobat ASN wajib mengisi link presensi yang akan kami bagikan pada saat acara webinar berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi lembar penilaian dan kuesioner juga agar e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh. Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN perhatikan selama mengikuti webinar ini. Tetap semangat dan selamat mengikuti webinar ASN Belajar. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Kami mencoba menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. Barlah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan yang hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. Memerentas melayani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Kami dari sini dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Melayani bangsa loyal tanpa batasannya. Selalu adaptif dan berkolaborasi. Tangan satu tujuan tujuan. Jadikan ASN lebih berakhlak. bekerja sepenuh hati, tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa. [Musik] Kami dari sini tegas dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Bangsa loyal tanpa batasannya selalu adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan. Satu tujuan untuk menjadikan AS yang lebih beragung. beras penuh hati tulus membantu sesama diang kami melayani. Didah kami melayani di mana kami melayani Bapa [Musik] H [Tepuk tangan] [Musik] asalamualaikum warah warahmatullahi wabarakatuh. Ee perkenalkan nama saya Trisula Adi Saputro dari Badan Pengelan Keuangan dan Naset ee Pengeluang Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Magetan. Ee alhamdulillah ee hari ini kami melakukan tes uji kompetensi pengelola keuangan daerah. Ee saya selaku bendara pengeluaran alhamdulillah dengan menguji kompetensi ini bisa menguji kompetensi kita apakah kita layak untuk menjadi bendara pengeluaran. ee pesan-pesan untuk teman-teman yang lain ee bisa memaksimalkan apa pengetahuannya untuk meningkatkan kompetensinya selaku pengelola keuangan daerah. Kemudian untuk saran untuk PPSDM Provinsi Jawa Timur ee selama kami di sini alhamdulillah pelayanan cukup baik dan memuaskan sehingga kami bisa nyaman dan bisa mengikuti ujian dengan nyaman juga. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo, asalamualaikum. Nama saya Dias Karismadani. Saya dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto. Eh, hadir di sini untuk mengikuti sertifikasi kompetensi keuangan daerah. Kemarin hadir panitianya dari BPSDM benar-benar luar biasa. Penyambutan mulai dari depan sampai ke registrasi itu panitianya ramah sekali. Terus begitu masuk ke kamar ee semua fasilitasnya juga sudah memadai mulai dari makan, kamar tidur, kamar mandi, semuanya bersih. Untuk jalannya tes juga sudah terschedule dengan rapi, dengan tertib sehingga kami bisa mengikuti dengan nyaman dengan bisa fokus dan bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Harapan kita ke depan adalah mungkin BPSDM bisa lebih sering mengadakan kegiatan atau untuk webinarnya lebih berfokus kepada masalah keuangan daerah, terutama yang untuk daerah-daerah yang kan masalahnya berbeda-beda setiap daerah. Jadi bisa lebih sering untuk mengadakan yang bertema tentang keuangan. Terima kasih. Wasalamualaikum. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi semuanya. Saya Dian Asuti Perwandani dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Magetan hari ini ikut mengikuti diklat ee sertifikasi kompetensi pengelolaan keuangan di BPKPSD ee Provinsi. Terima kasih panitia. luar biasa ee pelaksanaan dikat lancar dan kami ee selama mengikuti dikat di sini ee sangat sangat nyaman sekali dan harapannya untuk PKPSDM Provinsi ee membeli kuota tambahan biar teman-teman kami yang berada di kabupaten kota sekitar seluruh provinsi bisa mengikuti dikat sama sehingga kami dalam rangka melaksanakan pengolan keuangan di kabupaten kota ee dapat menyajikan laporan yang akunabel transparasi. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Budi Fajaruddin asal dari Kabupaten Nganjuk ee Kecamatan Patian Raowo. Ee kami mengucapkan terima kasih atas ee fasilitasnya di mana kegiatan ini bisa berjalan dengan baik dan bisa menambah ilmu semua rekan-rekan sehingga apa yang kita lakukan di pemerintah daerah akan bisa menjadi maksimal. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Sumilan dari Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Peserta ujian sertifikasi kompetensi pengelolaan keuangan daerah angkatan pertama di BPSDM Jawa Timur di Surabaya. kesan-kesan selama mengikuti acara sertifikasi kompetensi pengelolaan keuangan di sini, saya sangat ee bangga, sangat menambah pengetahuan dan harapan ke depan ee dari sisi kami, dari sisi saya, pengetahuan-pengetahuan, pembelajaran-pembelajaran yang saya dapat di sini bisa diterapkan di OPD bisa untuk perbaikan-perbaikan di OPD dan ee harapan terkait dengan penyelenggaraan kompetensi di BBSDM Jawa Timur di Surabaya mudah-mudahan ke depannya bisa ditingkatkan lagi. Utamanya terkait jaringan waktu wawancara ini ada sedikit kendala sempat putus Pak jaringannya. Demikian, terima kasih. Perkenalkan nama saya Dewi Ratnani Utami. Saya bendahara dari Dinas KB Kabupaten Magetan. Kesan-kesan saya saat mengikuti diklat di BKPSDM Jawa Timur ini ee saya menikmati sekali fasilitasnya juga di sini. asesornya ee panitia-panitianya juga sangat cepat dalam memenuhi kebutuhan kita saat melakukan diklat. Dan untuk tempat ee asramanya saya juga merasa nyaman karena sudah terfasilitasi dari kamar mandi terus apa ada AC-nya. Jadi kita nyaman saat di kamar untuk melakukan kegiatan belajar belajarnya di malam hari atau untuk menyiapkan ujian-ujiannya, uji kompetensinya. Untuk pesannya kemudi ee semoga ke depannya lebih baik lagi dan fasilitas-fasilitasnya lebih baik lagi serta peserta itu lebih nyaman lagi untuk tinggal di sini. Terima kasih. Oh [Musik] Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam webinar ASN belajar yang dipersembahkan oleh Corporate University SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sebelum memulai webinar, ada beberapa hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan format nama, strip asal instansi Sobat ASN. Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi kamera tidak membelakangi cahaya ya, agar wajah Sobat ASN dapat terlihat lebih jelas. Tiga, gunakan virtual background yang sudah disediakan. Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link pendaftaran, virtual background dapat diunduh pada link yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp. Empat, apabila Sobat ASN ingin mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi interaktif, Sobat ASN dapat menggunakan reaction angkat tangan atau rise hand pada Zoom meeting. Lima. Bagi Sobat ASN yang mengikuti webinar melalui live YouTube BPSDM Jatim TV dapat menuliskan pertanyaan melalui kolom live chat. Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis untuk mencatat hal-hal penting ya. Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN tentang materi yang disampaikan oleh narasumber. Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat pada webinar ini, Sobat ASN wajib mengisi link presensi yang akan kami bagikan pada saat acara webinar berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi lembar penilaian dan kuesioner juga agar e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh. Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN perhatikan selama mengikuti webinar ini. Tetap semangat dan selamat mengikuti webinar ASN Belajar. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Ah. [Musik] Oh. [Musik] H [Musik] Nama saya Andi Bagus Rahmat. Ee saya peserta diklat. Terima kasih. Kesan saya bagus pelayanan semoga kualitasnya semakin meningkat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya nama jailani pegawai RSUD Muhammad Nur Pamekasan. Kami sangat bangga dengan adanya kompetensi ini karena untuk pembelajaran bagi kami masalah umur tidak ada halangan. Yang penting kita mau belajar. Dan saya sangat berterima kasih kepada BPSDM dengan adanya hal ini pengetahuan-pengetahuan itu akan selalu bertambah untuk kita semua khususnya khusus untuk pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk saat ini dan untuk masa depan. Mungkin itu dari kami kurang lebihnya mohon maaf. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam webinar ASN belajar yang dipersembahkan oleh Corporate University SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sebelum memulai webinar, ada beberapa hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan format. Nama strip asal instansi sobat ASN. Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi kamera tidak membelakangi cahaya ya, agar wajah Sobat ASN dapat terlihat lebih jelas. Tiga, gunakan virtual background yang sudah disediakan. Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link pendaftaran, virtual background dapat diunduh pada link yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp. Empat. Apabila Sobat ASN ingin mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi interaktif, Sobat ASN dapat menggunakan reaction angkat tangan atau rise hand pada Zoom meeting. Lima. Bagi Sobat ASN yang mengikuti webinar melalui live YouTube BPSDM Jatim TV dapat menuliskan pertanyaan melalui kolom live chat. Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis untuk mencatat hal-hal penting ya. Siapkan pula alat tulis Sobat ASN selain untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini dapat mempertajam pemahaman Sobat ASN tentang materi yang disampaikan oleh narasumber. Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat pada webinar ini, Sobat ASN wajib mengisi link presensi yang akan kami bagikan pada saat acara webinar berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi lembar penilaian dan kuesioner juga agar e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh. Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN perhatikan selama mengikuti webinar ini. Tetap semangat dan selamat mengikuti webinar ASN belajar. [Musik] Zaman yang terus bergerak. Sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi. selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan kelas dunia tekad tanggung jaerah jadi ASN berkuit lagi [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sobat ASN di manapun Anda berada, baik yang sudah bergabung di Zoom meeting dan live YouTube BPSDM Jatim TV. Senang sekali saya Lukman Ali dapat menyapa Anda kembali tentunya dalam acara webinar ASN Belajar seri 25 tahun 2025 persembahan Cororpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sobat ASN, dalam menghadapi arus deras perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, serta dinamika regulasi yang terus berkembang, Aparatur Sipil Negara atau ASN dituntut untuk tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga proaktif untuk meningkatkan kapasitas diri. Dan ASN juga berkewajiban untuk melakukan pengembangan secara terus-menerus, pengembangan kompetensi yang terintegrasi dan berkesinambungan demi memastikan terwujudnya pelayanan publik yang adaptif, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dan di era saat ini, pengembangan kompetensi bukan hanya sekedar pelatihan rutin saja ya, tapi juga merupakan bagian dari amanah, profesi dan tanggung jawab moral sebagai abdi negara. di mana ASN bukan hanya sebagai pekerja birokrasi saja, tapi juga penggerak perubahan, penjaga nilai-nilai kebangsaan dan pemimpin di setiap lini layanan. Dan kali ini mari kita teguhkan bersama komitmen sebagai ASN untuk terus mengembangkan diri sebagai wujud cinta pada negeri bersama dengan webinar ASN Belajar seri 25 tahun 2025. Baik, Sobat ASN. Untuk membuka webinar ASN belajar seri 25 tahun 2025 kali ini, marilah kita dengarkan opening speech yang akan disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, S.P.MP. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian, Sobat ASN di seluruh tanah air. Selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN Belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corporate University, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini Kamis tanggal 3 Juli 2025, ASN Belajar telah memasuki seri yang ke-25. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami, kami selalu berkomitmen sekaligus terus berikhtiar untuk menyajikan topik-topik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN belajar seri ke-25 tahun 2025 ini kembali menyajikan salah satu topik dalam rangka terus mendorong berkembangnya budaya belajar yang konsisten dan berkelanjutan bagi aparatur sipil negara di tengah perkembangan zaman yang menuntut ASN untuk terus tumbuh dan kembang secara akseleratif. Kita tentu sepakat bahwa budaya belajar akan menjadi kunci utama bagi suksesnya berbagai ikhtiar pengembangan kompetensi ASN di Indonesia. Karena hal ini sangat penting untuk terus dielaborasi dalam merancang program pengembangan kompetensi ASN, maka ASN Belajar seri ke-25 ini mengantarkan sebuah topik ASN meraih ASA. Belajar sepanjang masa. mengabdi sepanjang usia. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam ASN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sahabat ASN di seluruh tanah air, dunia kini bergerak dalam ritme yang tak lagi linier dan kita kini hidup di era disrupsi yang eksponensial. Ketika kecerdasan buatan menyapa birokrasi, ketika tantangan global menuntut kecepatan adaptasi, ketika harapan publik tidak lagi cukup dijawab dengan narasi, maka tak ada jalan lain kecuali kita terus berbenah diri. Di tengah akselerasi berbagai perubahan ini, ASN tidak bisa lagi diam dan berhenti. Kita dituntut untuk terus tumbuh, terus belajar, dan terus mengembangkan kompetensi. Kita tidak bisa lagi bersembunyi di balik pengalaman lama. Karena pengalaman yang tidak diperbaharui hanya akan menjadi nostalgia bukan solusi. ASN masa kini adalah ASN yang bersedia terus mengasah diri dari kebiasaan manual menuju kebiasaan digital, dari berpikir birokratis menuju kolaboratif, dari rutinitas menjadi inovasi. Maka dalam situasi ini pengembangan kompetensi bukanlah pilihan melainkan keharusan. Belajar tidak lagi sekedar kegiatan, tapi telah menjadi identitas kolektif kita bersama. Sebagai penyandang profesi ASN hari ini, kita optimis karena saat ini kita sudah menyaksikan lahirnya semangat baru ASN Indonesia untuk tumbuh kembang dalam ekosistem pengembangan kompetensi yang inklusif dan adaptif. Platform digital, micaring, pembelajaran lintas instansi, mentoring, coaching, semua tumbuh sebagai ruang bersama. ASN kita tidak lagi belajar dalam kesendirian. Kita belajar dalam komunitas dalam jejaring dan solidaritas. Inilah wajah baru pembelajaran ASN. Multi-entry, multiakses, tanpa batas usia, tanpa batas jabatan. Sebuah budaya belajar yang tidak eksklusif, tetapi memberdayakan semua. Karena kita percaya setiap ASN memiliki potensi untuk bersinar jika diberikan akses, dukungan, dan ekosistem yang sehat. Sobat SN di seluruh tanah air, jika pengabdian adalah jalan panjang, maka belajar adalah bekalnya. Jika usia adalah angka yang terus bertambah, maka kompetensi adalah cahaya yang menuntun langkah. Jika asa kita menjadi bangsa yang berdaya, maka transformasi ASN adalah keniscayaan semata. Jika Indonesia Emas adalah cita kita bersama, maka ASN pembelajar adalah fondasinya. Jika memuliakan sesama adalah visi pengabdian kita, maka tidak boleh berhenti menjadi lebih baik dari hari ke hari. Demi negeri yang makin berseri, demi rakyat yang lebih bermartabat. Sobat ASN di seluruh tanah air, lalu bagaimana seharusnya kita sebagai ASN Indonesia terus mengasah ketajaman kompetensi kita demi pengabdian yang makin berdampak? Nah, untuk membahas cerdas dan tuntas topik ini, kami telah mengundang para narasumber luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Ibu Dr. Erna Irawati, Sos, Empol Admin. Beliau adalah Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. Kedua, kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Dr. Sugeng Haryono, M.Pd. Beliau adalah Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Dan yang ketiga, kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. Yusuf Irianto, MKOM. Beliau adalah guru besar bidang manajemen sumber dan manusia Universitas Airlangga Surabaya. Nah, sobat ASN di seluruh tanah air, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-25 tahun 2025 ini. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih sekali Bapak Dr. Ramlianto, SPMP atas opening speech yang telah disampaikan. Dan sebelum kita berlanjut ke sesi berikutnya, kami informasikan bahwa saat ini Sobat ASN sudah dapat melakukan presensi pada laman semesta Bangkom. Dan link presensi ini dapat Sobat ASN lihat pada running tags, kolom chat Zoom, dan juga pinchat YouTube BPSDM Jatim TV. Dan dikarenakan saat ini traffic presensi sedang tinggi, bagi sobat ASN yang merasa belum bisa mengakses presensi dapat mencoba kembali secara berkala sampai dengan pukul 12.00 siang. [Musik] Baik, Sahabat SN, kali ini kita akan simak bersama keynote speech yang akan disampaikan secara langsung oleh Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, Ibu Dr. Terapan Erna Irawati, Sus, MPOL ADM. [Musik] Baik, saya akan sapa beliau terlebih dahulu. Selamat pagi, Bu Erna. Kabar baik, Ibu. Baik, Bu Erna. Ini kalau kita lihat kan sekarang perkembangan zaman lagi sangat disruptif banget ya, Bu ya. terutama banyak sekali perkembangan-perkembangan teknologi kita sebutnya mungkin artificial intelligence gitu ya di mana ekspektasi untuk pengerjaan sesuatu yang dulu mungkin bisa dikerjakan dalam 1 minggu, sekarang diekspektasikan bisa selesai dalam 1 hari karena kecepatan dari ee bantuan teknologi ini. Dan mau tidak mau sebenarnya ASN ini kan juga dituntut untuk terus beradaptasi. Nah, kali ini kita akan simak materi dan juga pemaparan dari Bu Erna. Apa saja sih hal-hal yang bisa kita tumbuhkan untuk menumbuhkan curiosity dan juga passion of knowledge dalam jiwa ASN. Untuk sesi materi akan disampaikan kurang lebih selama 30 menit Bu Erna. Nanti kita akan langsung masuk ke sesi tanya jawab. Saya persilakan kepada Bu Erna. Oke, terima kasih banyak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi. Salam sejahtera Bapak Ibu semuanya. Mas Lukman, Pak Sugeng tadi sudah ada dan juga ada Pak Ramli dan juga Bapak Ibu semuanya yang tergabung di dalam forum belajar pada pagi hari ini. Sekali lagi terima kasih. Ya, pagi ini kita mengangkat tema yang menurut saya sangat sangat menarik Bapak Ibu, yaitu kita kalau belajar seperti saya atau kita sebut sebagai long life learning. Jadi saya mengambil tema mengenai belajar sepanjang hayat. Kunci menuju kinerja unggul bagi kita yang bekerja di sektor publik. tadi sebenarnya di pembukaan Pak Ramli sudah sebentar Bapak Ibu ini oke Pak Ramli sudah memaparkan mengenai tantangan-tantangan yang kita hadapi saat ini. Kalau kita berbicara tantangan, kita berbicara ada tantangan nasional, tantangan global. Saya tidak akan diskusikan secara spesifik, tapi pada dasarnya yang disebutkan Pak Ramli dan Bapak Ibu di pembukaan bahwa kita berada di dalam sebuah lingkungan di mana lingkungan ini banyak sekali. Kalau kita berbicara mengenai perubahan, perubahannya berjalan dengan cepat dan juga tidak linier gitu. Dan ini faktornya banyak sekali dan memberikan tuntutan kepada kita yang bekerja di sektor publik. Satu itu, Bapak, Ibu. Nah, yang kedua yang ingin saya sampaikan adalah ketika perubahan di lingkungan strategis ini menuntut juga kepada kinerja dari sektor publik. kita membutuhkan ee sumber daya manusia yang relevan dengan perubahan. Ini hanya sebagai salah satu contoh saja Bapak Ibu. Setiap time tahun World Economic Forum selalu mengeluarkan mengenai skill atau kompetensi mana sih yang akan hilang, mana sih yang bertahan, mana yang saat ini tidak penting tapi nantinya penting atau saat ini penting, ke depannya juga penting lagi. Sebenarnya saya hanya ingin menggambarkan bahwa kalau Bapak Ibu nanti cermati pergeseran dari kompetensi itu selalu ada dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan apa? ini menunjukkan bahwa sebenarnya kalau kita memiliki kompetensi atau memiliki mindset yang sifatnya fix bahwa kita bakatnya pintar kemudian kita tidak belajar, saya yakin ketika terjadi pergoseran kompetensi kita menjadi tidak relevan. Yang kita butuhkan adalah growth mindset, yaitu ee kemampuan kita untuk selalu mengembangkan diri kita, menerima ketika terjadi perubahan. perubahan bisa dilakukan dengan pembelajaran, dengan praktik, dengan inkubasi dan lain-lain. Jadi lebih kepada kita turut mencermati sebenarnya kompetensi yang dibutuhkan di era sekarang seperti apa. Mungkin nanti bergeser tahun depannya berubah, tahun depannya berubah lagi. Jadi sekali lagi kita tidak bisa mengandalkan kepada saya berbakat kepada kompetensi atau menguasai sesuatu dengan sangat oke kemudian diam saja gitu. Karena jangan-jangan yang kita kuasai menjadi tidak relevan ketika perubahan terjadi. Satu ini Bapak Ibu tadi ada tantangan membutuhkan sumber daya manusia kompetensinya ternyata selalu mengalami perubahan sehingga kita harus menyesuaikan supaya tidak ketinggalan. Kalau kita tidak menyesuaikan, saya yakin lama-lama kita tidak relevan atau tidak bermanfaat dalam tanda kutip. Kemudian ee fenomena yang lain yang tadi sebenarnya juga sudah disinggung oleh Pak Ramli mengenai tidak linearnya perubahan dan ini berdampak juga kepada kita sumber daya manusia Bapak Ibu. Saya yakin Bapak Ibu ini ada satu penelitian bahwa ee Deloit Bapak Ibu 2022 mengatakan bahwa 71% pekerja melakukan pekerjaan di luar cakupan nama pekerjaannya dan hanya 24% yang melakukan pekerjaan sesuai dengan nama pekerjaan. Artinya apa, Bapak Ibu? Artinya tadi sering sekali standar kompetensi jabatan kita ah bersifat sedikit statis atau terlambat untuk dilakukan penyesuaian seiring dengan perubahan di lingkungan strategis. Saya yakin Bapak Ibu kita bekerja di sektor publik, jabatan kita adalah ini. Ternyata ada perubahan berdampak kepada organisasi kita. Standar kompetensi jabatannya belum disesuaikan. Ya, kita mau enggak mau, Bapak, Ibu, kalau kita bertahan dengan eh uraian atau rincian jabatan saya adalah 1 2 3 4 5 kita bertahan untuk melakukan ini, saya yakin Bapak, Ibu organisasi kita akan ketinggalan terhadap perubahan. Makanya ini ee penelitian ini menunjukkan bahwa belajar selalu dibutuhkan karena apa? perubahan terjadi. Apa yang kita lakukan hari ini belum tentu sama di tahun depan, di 2 tahun ke depan, bahkan bulan depan, 3 bulan ke depan, Bapak, Ibu. Kemudian ee 65% pekerja merasa skill yang dibutuhkan untuk melalui e melakukan pekerjaannya berubah dalam kurung waktu 2 tahun atau bahkan Bapak Ibu kalau saya sering sekali mengatakan 2 tahun kayaknya sekarang lama-lama semakin pendek. Kompetensi yang kita miliki umumnya semakin pendek gitu. Semakin pendek itu sudah tidak relevan seiring dengan perubahan harus kita rubah gitu. ini ee Deloid 2022 masih mengatakan sekitar 2 tahun atau jangan-jangan berkurang ke sana. Jadi sekali lagi Bapak Ibu, tiga kondisi tadi perubahan. Yang kedua adalah jenis kompetensi yang juga mengalami selalu perubahan berdampak kepada pekerjaan yang kita lakukan. Sering sekali berubah dari atau lebih luas dari cakupan nama jabatan kita. Sebenarnya meletakkan pembelajaran sebagai kunci. Bapak Ibu, kita harus menyesuaikan yang tadi saya sebutkan memiliki growth mindset selalu terbuka untuk melakukan baik reskilling maupun upskilling. Rkilling adalah Bapak Ibu selalu menambah bahkan membuang yang sudah tidak dibutuhkan dari kompetensi menambah dengan kompetensi yang baru. Upskilling adalah ketika ada perubahan dari satu kompetensi mungkin lebih advance Bapak Ibu serinya lebih tinggi lagi kita harus lakukan penyesuaian. Nah, ini konsep yang kita bicarakan pada hari ini menjadi sangat relevan, yaitu belajar sepanjang hayat. Ya tadi growth mindset salah satu cirinya adalah seseorang yang memiliki growth mindset adalah memiliki motivasi untuk belajar sepanjang hayat atau sebutannya lifelong learning. Bapak Ibu, apa itu lifelong learning atau belajar sepanjang har ayat? Adalah ee pencarian pengetahuan dalam tanda kutip ini kompetensi ya, Bapak, Ibu yang berkelanjutan dilakukan secara sukarela dan didorong oleh motivasi untuk pengembangan baik pribadi, pegawai, maupun perkembangan karir atau profesional. Jadi sekali lagi pencarian pengetahuan atau kompetensinya selalu terjadi berkelanjutan. Kemudian didorong oleh motivasi, sukarela. Jadi ini dari growth mindset tadi cirinya adalah belajar salah satunya adalah belajar sepanjang hayat. Pembelajaran ini melampaui pendidikan formal dan berlangsung sepanjang hidup seseorang. Nanti kemarin di beberapa diskusi kita sudah menyebut pendidikan ada formal, ada sosial, ada experiential learning. Ini yang ditempuh oleh ee seseorang yang memiliki motivasi untuk belajar sepanjang hayat. Karakteristik utamanya Bapak, Ibu adalah mandiri. Jadi ee inisiatif kemudian kesukarelaan dari kawan-kawan untuk selalu belajar. seringki dimulai oleh individu berdasarkan minat atau tujuan pribadi. Meskipun Bapak Ibu ini bisa dimanfaatkan organisasi untuk belajarnya sesuai dengan yang dibutuhkan oleh organisasi. Kemudian yang kedua adalah fleksibel dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan dalam berbagai format. Makanya tadi Bapak, Ibu kemarin kita sudah berdiskusi mengenai corporate university yang pada prinsipnya adalah menyediakan akses sehingga ketika aksesnya banyak semua bisa belajar. Seperti forum yang kita lakukan pada pagi hari ini, Bapak, Ibu. Sangat fleksibel Bapak Ibu di seluruh Indonesia bisa bergabung di dalam forum pagi ini. Holistik mencakup pengembangan intelektual, emosional, sosial, dan juga fisik. Jadi komponennya banyak Bapak, Ibu. adaptif membantu individu tetap relevan dengan perubahan teknologi dan juga berbagai tuntutan. Ini yang tadi saya sebutkan Bapak, Ibu. Ketika perubahan terjadi kita harus mengembangkan kompetensi supaya tidak ketinggalan berarti kita harus adaptif. Ada beberapa mengapa penting? Saya yakin tadi sudah menjadi sudah saya jelaskan bagaimana kalau kita dituntut ketika ada perubahan atau ada juga dari karir kita secara pribadi kita memiliki pola karir tujuan untuk bekerja kemudian di setiap jenjangnya membutuhkan kompetensi baru. Saya yakin Bapak Ibu belajar sepanjang ayat menjadi sangat penting. Beradaptasi dengan perubahan, meningkatkan kualitas pelayanan. eh pelayanannya kemarin seperti ini tadi Mas Lumpan menyebutkan mengenai artificial intelligence kita belum mengadopsi tapi sekarang masyarakatnya sudah terpapar dengan artificial intelligence. Mungkin dari kualitas pelayanan kita dapat ditingkatkan dengan pemanfaatan artificial intelligen. Membangun kapasitas kepemimpinan menunjuk menumbuhkan kecerdasan untuk pemikiran strategis, kepemimpinan beretika dan lain-lain juga kita dapat ee dari belajar sepanjang hayap mendorong inovasi transformasi organisasi memberdasakan pertumbuhan pribadi dan profesional. Nanti ee saya skip yang sifatnya teori ini, Bapak Ibu. Mungkin nanti bahannya saya akan sampaikan kepada kawan-kawan semua ini yang tadi ee pembelajarannya bisa formal, bisa sosial, bisa experiential learning untuk memastikan akses dan fleksibilitas sesuai dengan apa yang menjadi kecenderungan belajar yang dimiliki oleh Bapak, Ibu. Strateginya apa, Bapak, Ibu? ee kalau kita ingin memiliki organisasi sektor publik yang individu-individunya selalu memiliki motivasi untuk belajar atau menjadi pembelajar sepanjang hayat. Yang pertama, Bapak Ibu yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa pembelajaran sebagai nilai inti dari organisasi. Nah, kita sebenarnya sudah memiliki nilai kalau kita bekerja di sektor publik nilai berakhlak salah satunya adalah kompeten, Bapak, Ibu. Nah, nilai kompeten ini menjadi nilai bagi instansi pemerintah kita sudah memiliki dari sisi kebijakannya gitu. Yang menjadi tugas kita untuk memastikan bahwa pembelajaran dapat dilakukan sepanjang hayat adalah mengintegrasikan pembelajaran ini dengan misalnya Bapak Ibu budaya yang ada di dalam organisasi, evaluasi atau penilaian kinerja. Ketika seseorang sudah belajar kemudian diberikan pengakuan, kemudian misalnya kita memiliki manajemen talenta, pengakuan terhadap hasil belajar menjadi masukan untuk manajemen talenta. Kemudian penghargaan Bapak Ibu mungkin nanti ada beberapa individu yang menjadi champion belajar ee mendapatkan hasil yang sangat tinggi diberikan penghargaan. Jadi memastikan bahwa pembelajaran ini tidak bekerja sendirian gitu, tapi menjadi bagian misalnya di dalam manajemen ASN, evaluasi penilaian kinerja dan lain-lain. Yang kedua adalah menciptakan akses belajar bervariasi dan fleksibel. Ini tadi yang saya sebutkan, Bapak, Ibu. Salah satu ciri khas ee pembelajaran sepanjang hayat adalah fleksibilitas. Organisasi Bapak Ibu dalam konteks corporate university bertanggung jawab untuk mengembangkan kompetensi atau menyediakan akses Bapak Ibu menciptakan berbagai akses belajar formal, sosial, mandiri, tim kelas, macam-macam. Bapak, Ibu ini misalnya ee ada bodying, ada mentoring, ada coaching, ada SWIM dan lain-lain. Atau kita memiliki misalnya video pendek, audio, podcast dan lain-lain. Ini adalah akses-akses belajar bervariasi yang dapat kita sediakan bagi semua yang mau belajar secara fleksibel. Kemudian yang ketiga adalah memanfaatkan teknologi. Teknologi saat ini menjadi salah satu kekuatan besar di dunia Bapak Ibu. E semalam saya baru berdiskusi yang nomor satu untuk mendikte semua di dunia ini ekonomi atau teknologi. Ada yang berbat ekonomi, tapi ada juga yang berpendapat teknologi karena teknologi bisa men-drive ekonomi. Teknologi bisa memiliki media yang sangat kuat sehingga bisa apa namanya lebih besar pengaruhnya dibanding ekonomi. Tapi saya tidak akan mendiskusikan ekonomi dan teknologi. Tapi di sini ee kita sudah mengalami perjalanan pemanfaatan teknologi di dalam belajar ini lumayan Bapak Ibu sudah kalau kami dari Lembaga Administrasi Negara dari tahun 2018 sebenarnya sudah mengenalkan mengenai ee pembelajaran yang basisnya teknologi dari sisi kebijakan tapi praktiknya sebenarnya sudah mulai lama tapi kita mendapatkan momentum ketika pandemi Covid Bapak Ibu pemanfaatan teknologi di segala bidang termasuk di dalam pembelajaran aran mencapai puncaknya dan kita mendapatkan pembelajaran banyak Bapak Ibu sampai saat ini bagaimana kita memanfaatkan teknologi dapat membantu kita menyediakan akses dengan cara efisien. Kemudian yang keempat sebenarnya ini bagian dari akses tadi Bapak Ibu mendorong pembelajaran sebaya dan juga komunitas praktis. Sekarang komunitas-komunitas Bapak Ibu digerakkan. kami saat ini memiliki komunitas Korpo. Kemudian nanti sebentar lagi juga akan kita launching komunitas manajemen Talenta, Bapak, Ibu. Nanti ada komunitas coach, Bapak, Ibu. Nah, sebentar lagi kita akan keluarkan standar kompetensi coach. Monggo nanti diikuti ee dari kita beberapa komunitas ini sebagai media untuk belajar menjadi sangat-sangat efektif. sharing antara orang satu dengan orang yang lain, aplikasi replikasi menjadi lebih efisien dan dapat dilakukan sesuai dengan konteksnya masing-masing. Kemudian kolaborasi yang nomor lima misalnya bermitra dengan perguruan tinggi, NGO, dan swasta biasanya ada kaitannya Bapak Ibu dengan NGO maupun swasta yang misinya sama gitu. Kalau misinya adalah pembelajaran, ayo kita berkolaborasi. Dan sering sekali Bapak Ibu kolaborasi ini menyelesaikan yang nomor enam ini alokasi waktu dan anggaran. Biasanya anggaran Bapak Ibu kita apa namanya? Misalnya saya memberikan contoh, kami dari lembaga administrasi negara ee ketika akses belajarnya harus disediakan banyak, kami kerja sama dengan salah satu NGO misalnya PIAR Foundation membuat aplikasi ASN berpijar itu white flag Bapak Ibu tidak ada pembiayaannya Bapak Ibu kalau mau belajar silakan di sana dan ini wujud tadi Bapak Ibu ketika kita memiliki keterbatasan untuk menyediakan akses berkolaborasi dengan mitra kita akhirnya kita bisa mewujudkan satu platform belajar. Jadi sekali lagi ini beberapa strategi yang dapat kita lakukan untuk memastikan, menciptakan lingkungan supaya ASN kita memiliki motivasi untuk selalu belajar. Nah, ini ini salah satu contoh strateginya. Tadi kebetulan ee moderator Mas Lukman juga menyebutkan pemanfaatan artificial intelligence. Kalau tadi saya menyebutkan bahwa belajar sepanjang hayat mengandalkan kepada motivasi dari individu, tapi organisasi bisa menciptakan sebuah lingkungan untuk mendorong semua ASN-nya ini belajar sepanjang hayat. Ini misalnya Bapak, Ibu, ini salah satu contoh strategi pembelajaran sepanjang hayat yang untuk membantu adaptasi dari organisasi. Organisasinya berada di dalam lingkungan yang selalu berubah. Salah satu tuntutannya saat ini adalah eh AI dong di masuk di dalam sektor publik. Kita sudah tidak bisa menolak Bapak Ibu artifisial intelligence untuk tidak bisa tidak berpengaruh kepada sektor publik kita. Jadi ini saya mengangkat contoh penerapan chatbot artificial intelligent dalam layanan pemerintah. Misalnya Bapak Ibu ada pemerintah daerah X akan menerapkan chatbot chatboot berbasis artificial intelligence untuk menangani komplain, pertanyaan, klarifikasi dari warga terkait semua jenis pelayanan. Nah, penerapan chatbot ini ee akan memangkas waktu responnya menjadi lebih cepat dan juga mengurangi beban kerja dari staf di pemerintah X, Bapak, Ibu. Jadi, instansinya sudah mau me-leverage, meningkatkan kualitas pelayanannya dengan mengadopsi artificial intelligence. Salah satu tantangannya Bapak, Ibu yang dihadapi oleh pemerintah X ini adalah banyak pejabat dan stafnya yang belum memahami cara kerja artificial intelligence ini mengelola sistem chat-nya ataupun mengolah dari data-data yang dihasilkan dari chatbot-nya gitu. Jadi kalau chatbot berbasis IT serahkan kepada ahlinya gitu. Saya yakin ee kalau kita mau mengadopsi ada ahli yang untuk membuat chatbot berbasis AI ini. Tapi kita menghadapi tim kita yang ada di kantor kita atau unit kerja kita ternyata tidak paham bagaimana ya kalau kita sudah ee apa namanya aduannya menggunakan chatbot. Cara kerjanya bagaimana? Mengelola sistemnya seperti apa? Data yang ditampilkan bagaimana nanti dapat kita gunakan untuk mengambil keputusan. Nah, kalau strategi pembelajaran sepanjang hayatnya bisa masuk Bapak Ibu untuk beradaptasi pemerintah meluncurkan program pembelajaran berkelanjutan misalnya ada loka karya, ada pelatihan, kursus, sesi pembelajaran antar kerja atau tadi strategi-strategi yang lain menyediakan modul-modul, menyediakan akses-akses secara terbuka kepada semua pegawainya untuk mempelajari bagaimana menganalisis data dari chatboard, kemudian mengelola sistem dan lain-lain. Hasilnya apa? Hasil yang kita peroleh adalah stafnya menjadi percaya diri dalam menggunakan dan meningkatkan sistem chatbot, warga menerima respon, membangun kepercayaan. Nah, sekali lagi Bapak Ibu meskipun pembelajaran sepanjang hayat akan sangat berhasil ketika setiap ASN memiliki motivasi yang tinggi, namun organisasi juga bisa mengembangkan suatu lingkungan Bapak Ibu untuk mendorong semua pegawainya selalu belajar. Kalau mereka tidak mengikuti loka karya atau tidak belajar sendiri, mengikuti modul dan lain-lain, akhirnya tidak bisa mengelola sistem atau tidak bisa mengelola data yang dihasilkan oleh sistem chatboard, enggak ada gunanya. Lama-lama akan digantikan oleh orang lain, Bapak, Ibu. Nah, ini ini yang selain dari motivasi individu, organisasi juga bisa mendesain sebuah adaptasi, sebuah transformasi, sebuah perubahan. dengan menerapkan strategi pembelajaran sepanjang hayat. Ini beberapa tantangan, Bapak, Ibu. Yang pertama adalah keterbatasan waktu. Sering sekali sebagai ASN antara benar-benar memiliki beban kerja yang berat dan jadwal yang ketat atau pura-pura jadwalnya banyak atau sibuk sekali sehingga menyisiakan waktu untuk belajar, Bapak, Ibu. Jadi, sudah capek sendiri untuk belajar karena apa? Beban pekerjaannya sangat berat. Dampaknya pembelajaran menjadi tidak menjadi prioritas dibandingkan dengan tugasnya sudah saya kerja aja gitu. Tapi kalau kita hanya melakukan pekerjaan, kompetensi kita tidak berubah. Kalau nanti organisasi berubah, kompetensi kita enggak berubah, Bapak Ibu, ya akhirnya kita tidak relevan lagi. Solusinya biasanya adalah mengintegrasikan pembelajaran ke dalam pekerjaan sehari-hari. misalnya menawarkan modul-modul yang pendek-pendek saja 5 menit 5 menit pembelajarannya bersifat mikro tapi related dengan pekerjaannya. pelatihan di tempat kerja ditunjuk di sela-sela pekerjaannya ditunjuk beberapa orang yang menjadi coach atau menjadi mentor. Tapi juga sekali lagi Bapak Ibu kalau kita berada di level pimpinan pastikan Bapak Ibu selalu memberikan kesempatan dan jeda kepada pegawai untuk belajar. Jadi ee manfaat dari solusi ini mengintegrasikan dengan pekerjaan, memberikan jeda kepada pegawai untuk belajar, mengurangi tekanan waktu dan menjadikan pembelajaran bagian dari alur kerja. Jadi yang pertama kalau keterbatasan waktu pegawainya sibuk terus, Bapak, Ibu ya kaitkan dengan pekerjaan, gitu. Eh, kamu membuat ini ee tolong menggunakan ee Power BI misalnya untuk menganalisis data. saya enggak tahu. Oh, ini aksesnya ini. Silakan kamu belajar Power BI. Nanti saya cek ya hasilnya untuk tampilan data visualnya menggunakan Power BI misalnya seperti itu. Kemudian yang kedua adalah kurangnya motivasi atau kesadaran dari individu Bapak Ibu. Karena sering sekali mereka tidak melihat nilai langsung dari pembelajaran berkelanjutan. Misalnya Bapak Ibu semalam saya belajar tentang leadership lagi Bapak Ibu tidak melihat langsung nilai langsungnya atau kebermanfaatannya enggak secara langsung gitu tapi ketika ada satu event baru ketemu hasil pembelajaran. Nah, sering sekali ini yang karena tidak biasanya kalau pembelajaran yang sifatnya skill Bapak Ibu ini langsung bisa kita lihat hasilnya. Tapi pembelajaran-pembelajaran afektif yang sifatnya sikap, perilaku, knowledge, sering sekali hasil atau nilai langsungnya itu tidak kelihatan. Nah, sering sekali ini berdampak kepada ee pegawai yang menjadi tidak termotivasi untuk belajar sepanjang har. Dampaknya apa? Resistensi terhadap perubahan dan keterlibatan rendah dalam program pelatihan dari pegawai. Solusinya ya bangun budaya pembelajaran. dorong rasa ingin tahu, beri penghargaan, ee rayakan berbagai pengetahuan. Misalnya ada capaian-capaian tertentu ketika sharing, Bapak, Ibu. Sharing bisa menjadi bagian kita untuk melakukan apresiasi. Akses terbatas ke sumber belajar. Tantangannya tadi saya sudah menyebutkan Bapak Ibu misalnya aksesnya teknologi berarti kita harus menyediakan solusi-solusinya adalah kita menyediakan akses-akses belajar yang jangan-jangan memang tidak berbasis teknologi. Jadi kita menyediakan banyak akses dengan moda-moda yang berbeda sehingga kita tidak bisa mengatakan bahwa saya enggak bisa belajar karena apa? Enggak ada basis internetnya. Oh, ada saya email deh atau saya kirimkan modulnya, bukunya, dan lain-lain. Nah, jadi akses ke sumber belajar biasanya jawabannya adalah ya selain menyediakan akses tadi ya menyediakan opsi-opsi pembelajaran baik daring maupun luring. Kemudian dukungan organisasi Bapak Ibu. Kurangnya kebijakan insentif meskipun tadi saya menyebutkan pembelajaran sepanjang hayat sangat-sangat optimal ketika dimulai dari motivasi individu. Tapi ketika misalnya kita sudah semangat tapi tidak ada jeda dari pekerjaan kita sehingga tadi tidak ada jeda untuk belajar Bapak Ibu ya akhirnya kita menjadi tidak termotivasi. Muncul yang pertama tadi beban pekerjaan yang sangat berat. Jadi sekali lagi ketika kita berbicara dukungan organisasi yang tidak memadai solusinya ya komitmen pimpinan Bapak Ibu. Komitmen pimpinan bentuknya dua Bapak Ibu menjadi teladan bahwa seorang pemimpin suka belajar belajar sepanjang hayat. Jangan kita nyuruh orang saja belajar tapi kita sendiri enggak belajar. Yang kedua adalah menyediakan waktu serta sumber daya kita memberikan dukungan sepenuhnya. hambatan teknologi, infrastruktur, teknologi, ketakutan terhadap kegagalan, keterbatasan anggaran. Ini menjadi tantangan-tantangan yang kita hadapi. Ada beberapa strategi yang tadi sebenarnya di awal juga sudah saya sebutkan, tapi secara spesifik misalnya kolaborasi. Kalau kita ee anggarannya tidak cukup, takut terhadap kegagalan berarti menciptakan lingkungan, dukungan, pimpinan, dan lain-lain. Kemudian yang terakhir dari saya, Bapak Ibu adalah terkait dengan bagaimana kita mengukur keberhasilan lifelong learning. Bagaimana organisasi bisa mengukur bahwa SDM-nya memiliki motivasi untuk life long learning tadi. Yang pertama adalah memang ada yang mengatakan bisa enggak ini diukur dengan ee Kpatrick levelnya 1 2 3 4 bisa juga Bapak Ibu gitu. Tapi asal jelas dulu channel-nya. Makanya di sini Bapak Ibu biasanya ukuran untuk menilai apakah organisasi kita berhasil atau tidak menciptakan lingkungan yang mendukung life learning adalah yang pertama adalah dari tingkat partisipasi belajarnya. Bagaimana tingkat keterlibatan karyawan caranya? Ya, kita punya ukuran Bapak Ibu. Saya harapkan nanti semua instansi pemerintah memiliki ukuran gitu. Berapa persen pegawai yang mengikuti pembelajaran dengan macam-macam cara? Nanti corporate university bisa ngukur Bapak Ibu. Presentasi karyawan yang mengikuti program pembelajaran dibandingkan dengan total staff itu adalah tingkat partisipasi untuk salah satu yang dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat keberhasilan lifelong learning. Yang kedua adalah tingkat penyelesaian pembelajaran. Agak berbeda Bapak Ibu nomor satu dan nomor du gitu. Nomor satu adalah tingkat partisipasi siapapun yang belajar dengan cara apapun. Yang kedua adalah menyelesaikan Bapak Ibu komitmen dan apa yang ditunjukkan tingkat penyelesaian pembelajaran menunjukkan komitmen dan konsistensi dalam menyelesaikan pelatihan. Caranya apa? cara mengukurnya ya presentasi peserta yang menyelesaikan pembelajaran atau modul pelatihan dari yang tingkat partisipasi tadi. Jadi kalau ini yang sudah menyelesaikan Bapak Ibu. Kemudian yang ketiga adalah skor kepuasan pembelajaran. Makanya tadi ke Patrick level 2 bisa masuk Bapak apa yang ditunjukkan kualitas dan relevansi pengalaman belajar. Caranya adalah survei pasca pelatihan atau formulir umpan balik, retensi dan penerapan pengetahuan apa yang ditunjukkan. Jadi level 3, level 4 ke Patrick sudah mulai masuk Bapak, Ibu. Efektivitas transfer pembelajaran kepekerjaan, penilaian sebelum dan sesudah pelatihan, tinjauan kinerja, evaluasi dari atasan. Jadi tiga dan empatnya bisa. Kemudian eh indikator perubahan perilaku level 3 dari KPATK biasanya apa yang ditunjukkan dampak terhadap budaya dan praktik kerja bisa caranya observasi umpan balik 360 derajat atau studi kasus. Selain ukuran-ukuran ini, Bapak Ibu, ada ukuran-ukuran yang sudah kepada kemanfaatan dari sebuah lifelong learning. Misalnya perkembangan dan mobilitas karir tadi saya menyebutkan menjadikan nilai belajar, nilai kompeten lifelong learning sebagai nilai-nilai yang ada di dalam organisasi mengkaitkannya dengan manajemen ASN. Nah, di sini Bapak Ibu apakah ketika ada mobilitas karir pegawai-pegawai yang sudah belajar memiliki motivasi kuat tadi? Apakah mobilitas karirnya memang menunjukkan angka yang semakin naik atau progresif? Promosi perubahan peran tingkat mobilitas internal menjadi ukuran perkembangan dan mobilitas karir ini. Yang ke yang selanjutnya Bapak Ibu adalah hasil inovasi dan pemecahan masalah. Tadi saya menyebutkan di awal Bapak Ibu, kenapa kita membutuhkan SDM yang berkompeten yang selalu belajar? Karena tuntutan dari lingkungan lingkungan yang ada di sekitar kita terhadap kinerja dari publik juga semakin tinggi. Kinerja dari publik semakin tinggi di era yang perubahan biasanya ukurannya adalah apakah suatu organisasi melakukan transformasi, melakukan perubahan, membuat inovasi gitu. Sehingga sekali lagi Bapak Ibu ukuran untuk live learning juga bisa diukur dari hasil inovasi dan juga kemampuan dari individu ketika menyelesaikan sebuah permasalahan. Kemudian ukurannya juga bisa ee kita gunakan orang ada yang menyebutnya roti, ada yang menyebutkan rolly. Bapak Ibu return of learning in on learning investment ada roti Bapak Ibu return on training investment gitu. Cuman karena kita sudah keluar dari paradigma bahwa pengembangan kompetensi tidak hanya dari pelatihan makanya sebutannya rolly Bapak Ibu return on learning investment. nilai finansial dan finansial dan operasional dari pembelajaran. Caranya yang analisis biaya manfaat dibandingkan dengan ee biaya pelatihan dengan peningkatan kinerja. Jadi ukuran-ukuran ini Bapak Ibu yang menurut saya menjadi sangat penting ketika kita mau menciptakan sebuah lingkungan yang memang mengadopsi lifelong learning supaya tidak ketinggalan dengan perubahan. Jadi di akhir dari paparan saya, Bapak Ibu, ee pembelajaran tidak berhenti setelah sekolah formal selesai. Apalagi kalau kita sudah bekerja dan bekerjanya di sektor publik. Bapak, Ibu, pembelajaran sepanjang hayat adalah investasi pribadi dan juga profesional. investasi pribadi. Karena dengan menguasai kompetensi-kompetensi yang relevan dengan lingkungan strategis kita yang dibutuhkan dengan organisasi, Bapak, Ibu, kita menjadi percaya diri bahwa saya adalah orang yang profesional. Saya adalah yang kompeten dan sangat berpengaruh terhadap karir kita. Profesional Bapak, Ibu ketika kita bekerja ada perubahan-perubahan tuntutan pekerjaan, kita bisa mengikuti tuntutan dari perubahan tersebut. Tantangan nyata tetap ada Bapak Ibu kalau kita berbicara lifelong learning. Tadi saya menyebutkan ada waktu, ada akses, ada komitmen pimpinan, ada finansial dan lain-lain. Tapi yang terpenting bagi kita adalah ketika ada permasalahan, strategi apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi hambatan tersebut? Pembelajaran harus menjadi bagian dari gaya hidup kita untuk menjadikan kita memiliki kualitas kinerja yang selalu tinggi dan juga mampu beradaptasi di lingkungan yang selalu berubah. Demikian, terima kasih banyak. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Bu Erna Iraati atas materi yang telah disampaikan dan Sobat TSN. Setelah ini kita akan langsung masuk ke sesi tanya jawab. Jadi untuk Sobat TSN yang bergabung di Zoom bisa menggunakan feature raise hand atau yang bergabung melalui YouTube bisa tuliskan pertanyaan melalui live chat. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] Baik, saya akan rangkum terlebih dahulu ya. tadi materi dari Bu Erna ini sangat luar biasa. Pada intinya ketika kita mau menjadi lifelong learner itu kunci pertamanya memang harus memiliki growth mindset. Seperti itu. Sebelum saya ee berikan kesempatan untuk Sobat ASN yang ingin bertanya kepada pemateri pertama kita di pagi menuju siang hari ini terlebih dahulu saya mau tanya dulu ke Bu Erna. Kalau di Bu Erna sendiri di unit Ibu tadi kan yang paling penting sebenarnya selain dari motivasi dalam diri ee faktor pembentuk lifelong learner ini adalah culture yang mendukung seperti itu. Nah, kalau di lingkungan e tempat Ibu bekerja saat ini apa saja yang sudah dilakukan untuk menciptakan culture belajar tersebut, Bu Erna? Oke. Yang dilakukan saya di lembaga administrasi negara sebenarnya melalui program corporate university salah satunya di situ adalah budaya belajar tadi. Jadi dalam 1 bulan gitu ee misalnya bulan sekarang bulan Juli ya, Juni bulan Mei kemarin. Bulan Mei kemarin ada tiga modul. Jadi kalau lembaga administrasi negara ada dua modul Bapak Ibu yang mesti dipelajari oleh semua pegawai yang ada di lembaga administrasi negara. Yang pertama adalah EA and Etik. Oke. Yang kedua adalah saya mengingat-ingat karena saya lulus sih pengambilan keputusan. Oke, ini yang lembaga administrasi negara semua pegawai dalam 1 bulan itu setiap bulan berbeda. Oke. Apa namanya modulnya berbeda. Kemudian kalau yang ada di kedeputian saya, saya tambahkan satu Bapak Ibu yaitu corporate university. Semua yang bekerja di kedeputian transformasi harus tahu mengenai corporate university dan ini bergulir gitu. Itu satu. Kemudian yang kedua kita membudayakan sharing. Sharing misalnya kemarin kita berbicara mengenai kita mau mengembangkan live TikTok, live Instagram dan lain-lain. Kawan-kawan ada yang sudah melakukan kita undang. Tolong ajarin kita sharing seperti ini. Kalau kita mengikuti pelatihan kita sharingkan ke orang lain. Jadi ee lingkungan organisasi sudah diciptakan bahwa belajar ini menjadi bagian. Jadi biasanya hari Jumat gitu adalah waktu kita untuk sharing. Tapi kalau dalam bulan tertentu pasti ada modul yang memang harus dipelajari oleh semua ASN dan JPT Pratama harus bertanggung jawab memastikan 100% atau berapapun persen. Nah, biasanya kita lakukan cekek kemarin saya melakukan pengecekan di direktur-direktur saya sudah berapa persen yang belajar untuk modul di bulan Juni kemarin gitu. Nah, ini yang baru ini belum keluar modul baru karena masih tanggal ini minggu-minggu ini mungkin besok atau hari Senin pasti keluar modul baru yang harus kita pelajari. Jadi, di lingkungan kita sudah menjadi bagian dari sehari-hari orang bisa menjadi coach, bisa menjadi mentor, bisa menjadi body, terlibat dalam tas force. Hari ini Mas nanti sore 2.30 saya akan membekali task force untuk konten kreatornya lembaga administrasi negara. Ini semua unit kerja kompartemen Dilan ada perwakilannya empat orang. Nah, ini task force yang dipastikan targetnya minggu ke-3 bulan Juli harus ada sekitar 45 konten basisnya artificial intelligence gitu. Ini ini saya sedang mengembangkan satu kasos pembekalannya nanti sore dan hari Senin besok pembekalan untuk pemanfaatan AI-nya. Saya mengundang orang untuk sharing dengan tim. Luar biasa sekali. Berarti memang dalam beberapa kurun waktu tertentu selalu ada modul-modul yang harus dipelajari berbasis korompetensi yang harus dikuasai ya Bu ya. Dan memang Ibu juga mendorong ee para orang yang sudah belajar ini, para ASN yang sudah belajar ini untuk turut membagikan ilmunya supaya lingkungan belajarnya ini tercipta. Saling sharing satu sama lain tentunya juga memperhatikan tren yang ada. Thank you sekali Bu Erna untuk jawaban praktisnya. Nah, sekarang saya akan undang untuk para sahabat ASN yang sudah bertanya. Yang pertama saya akan undang terlebih dahulu untuk bergabung bersama dengan kami Bu Putri Eki dari DKP Jawa Timur. Saya ucapkan selamat pagi Bu Putri. Ibu punten suaranya masih termute. Bisa diaktifkan terlebih dahulu mik-nya. Suaranya masih belum terdengar. Bu Putri boleh untuk earphone-nya dicopot saja barangkali Ibu. Ee oke. Ee selamat pagi. Pagi. Nah, ini sudah jelas. Oke, Bu Putri sebelum menyampaikan pertanyaannya mungkin bisa disampaikan terlebih dahulu namanya, asal dinasnya, asal daerahnya. Silakan, Ibu. Oke, terima kasih Mas Lukman. Perkenalkan Bu Erna juga. Nama saya Putriaki Pratiwi. Saya dari Instansi Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur. Saya bertugas di UPT eh PPP Tamperan Pacitan. Terima kasih kesempatannya. Mohon izin Bapak Ibu terkait ee perkembangan teknologi dan fleksibilitas kita dalam belajar. Saya mau bertanya ee sekarang ini kan di era sekarang banyak sekali ya berbagai macam ee aplikasi dan platform AI ee contohnya ada Gemini atau Chat GPT. Ee berdasarkan penjelasan yang sudah disampaikan saya tangkap bahwa ee dari organisasi juga sangat men-support ya terkait perkembangan teknologi ini. Tapi ee seperti yang perlu kita ketahui teknologi itu selain membawa dampak positif juga ada dampak negatifnya. Nah, bagaimana ee mekanisme atau langkah antisipasi organisasi dalam menyikapi pegawai mungkin ya ee karena banyak pegawai sekarang yang genzy-genzi ini ee sangat menggunakan AI. Jadi, apakah ada batas-batas atau mekanisme tertentu supaya kita semua tidak kebablasan gitu ya, Bu dalam menggunakan AI dalam bekerja? Ee terima kasih, Mas. Pertanyaan saya seperti berikut. Terima kasih, Bu Putri. Ini menarik sekali ya Bu Erna ya. Ketika kita sudah kebablasan pakai AI pada akhirnya otak kita tidak terbiasa untuk berpikir. Kita menganggap AI itu jawabannya selalu benar. Padahal AI juga bergantung sama database. Bagaimana Bu Erna menanggapi pertanyaan ini? Silakan Bu. Oke. Ini diskusi beberapa hari ke sana Mbak Putri. Terima kasih banyak ini mengedress di sini. Kalau saya selalu mengatakan begini, artificial intelligence itu menjadi pintar karena kita. masternya selalu kita kita harus menempatkan diri bahwa kita adalah masternya kita bisa mendikte artificial intelligence. Biasanya perdebatannya kan gini, eh artificial intelligence itu membuat kepala kita tidak bisa berpikir gitu. Karena apa? Semuanya ada jawabannya. Misalnya begini, kita belajar sendiri ya, Mbak Putri. karena belajar sendiri, tapi kita tidak ingin menguasai kompetensinya, tapi mau dapat sertifikatnya. Enggak usah baca modulnya, langsung evaluasi. Soalnya di sebelahnya pakai handphone lah, pakai apa namanya meta atau kalau punya Jemaah ini atau pakai Jemini bacanya Gemini atau bahasa Inggris saya enggak tahu. Atau CGBT atau eilot-nya Microsoft ketik aja langsung jawabannya semuanya 5 menit sudah lulus tanpa harus belajar. Nah, kalau ini saya kembalikan ke pertanyaannya gitu. Kalau kita berbicara growth mindset itu adalah proses bukan and result tidak result saja gitu. Kalau ener saja ya sudah belajar sendiri, evaluasi, lulus karena apa? Dibantu CGBT. Tapi kalau belajar ingin meningkatkan kompetensi kita, saya yakin kita akan mengalami prosesnya. Nah, satu itu ya pertanyaannya tadi lebih kepada Bu kalau instansi pemerintah sudah menerapkan EA untuk membantu pekerjaannya berarti istirahat dong kepala kita. Kalau saya enggak. Kita sebutannya deep learning, Mbak. Kalau saya mungkin sedikit bertanya kepada kawan-kawan. Kawan-kawan ketika melakukan pekerjaan misalnya sebagai seorang pemimpin atau kita punya project gitu, kita meng-hire konsultan, eh tolong dong bantu saya begini-begini gitu. Apakah berarti bahwa kemampuan berpikir kita berhenti? Kan kita tidak. Kita akan menilai apakah konsultan ini melakukan pekerjaannya dengan baik gitu. Ini misalnya konsultan fisik kemudian kita punya ee CGBT atau kita punya copilot, kita punya cemain gitu. Eh, aku punya problem ini. Tolong dong selesaikan ide. kasih ide ke saya dong untuk menganalisis data ini, ini, ini, ini, nih. Eh, datamu enggak lengkap. Karena dia kan kecerdasan dia itu dibuat pintar oleh kita semua yang kontribusi terhadap data. Dia akan nyari data semuanya. Eh, faktor ini belum ada, tambahkan dong. Eh, yang ini. Nah, ini kita mencerdaskan. Jadi, sekali lagi kita yang menjadi masternya, gitu. Kalau tadi saya membandingkan kita memiliki konsultannya adalah fisik, kemudian konsultan kita adalah artificial intelligen. Kalau lebih murah daripada konsultan, kita lebih murah dengan AI, kenapa kita tidak menggunakan AI? Sebenarnya kan sama ya, sama gitu. Jadi selalu kita sebutnya adalah deep learning gitu. Tidak menjadikan AI sebagai tujuan, tapi adalah tool atau teknologi yang membantu kita. Bapak, Ibu, kalau kita sudah terbiasa dengan chat GPT, kita bisa marahin AI, eh kok kayak gini sih jawabu enggak cocok dong. Tolong masukkan ini. Kita tanyain ya enggak ada Bapak, Ibu. Dia juga enggak 100% pintar. Misalnya Bapak, Ibu, saya nanya ke copilot gitu. Copilot tolong dong ee tampilkan data survei survei nasional tentang ee indeks ASN berakhlak. dia tampilkan angkanya tahun 2024 angkanya kalau enggak salah eh 2023 atau 2024 68 gitu. Eh tolong dong per nilai enggak ada. Dia jawab enggak ada karena belum ada data di mana pun yang bisa dia akses untuk menunjukkan nilai berakhlak misalnya kompeten berapa dan lain-lain. Jadi sekali lagi artificial intelligence yang membuat cerdas adalah kita gitu. Ketika kita datanya bisa diakses, dia akan semakin pintar karena apa? dia akan mencari banyak data, mencari kecenderungan yang benar, yang mana sampai bisa menyajikan ke kita. Tapi masternya adalah kita sama. Tapi kalau di universitas, di kampus beda ceritanya. Yang dididik di kampus adalah logika kita, ya, cara berpikir kita. Ah, kalau yang ini tujuannya tadi dia mengalami proses logika supaya kemampuannya dia itu berkembang. Kalau kita sudah masuk di pekerjaan, problem solving, benar enggak? Apakah kita mampu menyelesaikan sebuah solusi dari permasalahan yang kita hadapi? Apakah kita mau kerjakan sendiri? Apakah ada konsultan, apakah ada artificial intelligence, kita memilih gitu. Kita memilih mana yang cepat, mana yang murah, mana yang lebih akurat, mana yang lengkap, dan lain-lain. Jadi sekali lagi semua pilihan sebenarnya ada di kita. Tapi ketika kita bekerja berbeda tuntutannya dengan ketika kita di kampus. Nanti Pak ee Profesor mungkin bisa bercerita banyak kalau nanti ada pertanyaan tentang artificial intellig intelligence. Tapi sekali lagi ketika kita bekerja yang kita hadapi adalah problem. Problem butuh solusi. Bagaimana solusi ini diselesaikan tapi sekali lagi bahwa kita masternya bukan artificial intelligence. Mungkin itu. Terima kasih Bu Ernah untuk jawabannya. Jadi memang penting ee mindsetnya terlebih dahulu harus kita benahi ya. AI ini adalah tools kita adalah masternya. Tapi tetap ketika kita menggunakan AI dibutuhkan analytical dan critical thinking ketika jawaban itu sudah keluar. Thank you sekali lagi Bu Putri untuk pertanyaannya. Mohon izin Ibu ee dikirimkan untuk nama asal dinas, asal daerah dan juga alamatnya melalui chat Zoom untuk pengiriman souvenir dari tim BPSDM Jawa Timur. Terima kasih sekali lagi Bu Putri. Salam sehat selalu. Saya akan masuk ke penanyaan berikutnya. Kali ini sudah hadir bersama dengan kami Bapak Abdika Jaya dari Ombutsman RI. Saya akan sapa beliau terlebih dahulu. Selamat siang, Pak Abdika. Siang, Pak. Baik, Pak Abdika. Sebelum diampaikan pertanyaannya bisa diperkenalkan terlebih dahulu nama Bapak, asal dinas, dan juga asal daerah. Kami persilakan, Pak Abdika. Ya, terima kasih Pak. E perkenalkan nama Jaya asal instansi Komutmen RI Jakarta, Pak. Siap. Silakan, Pak Abdika. Pertanyaannya bisa disampaikan ke Bu Erna, Pak. Iya. Ee materi pada hari ini ee sangat menarik menurut saya, Bu ya. ee di kita di instansi Ombesmen mungkin juga di instansi lain juga itu khususnya untuk pelatihan itu ee masing-masing ASN memenuhi 20 JP Bu ya. Di samping itu juga saya ee juga aktif di organisasi Ikatan Akuntan Indonesia. di organisasi ini kita ada yang namanya program pendidikan profesi berkelanjutan di mana setiap tahunnya kita harus mengumpulkan 30 JP Bu ee pertanyaan saya Bu ee terkait dengan lifeelong learning ini bagaimana strategi kita agar Ling ini lebih efektif tidak hanya mata untuk memenuhi persyaratan tadi ya untuk memenuhi DP tadi. Kemudian tadi di materi Ibu Erna juga disebutkan bagaimana cara mengukur ee ya ee kemajuan dari pembelajaran panjang masa ini ya. Ee pertanyaan saya ee bisa enggak contohnya Bu? contoh ee mengukur ee kemajuan dari pembelajaran sepanjang masa ini. Terima kasih. Siap. Terima kasih Pak Abdika untuk pertanyaannya. Jadi ada dua pertanyaan untuk Bu Erna. Yang pertama bagaimana kita bisa membuat lifelong lear experience ini bisa berjalan dengan efektif dan terkait dengan pengukuran ya. Tadi kan banyak sekali levelnya ya Bu. Ada level 1, 2, 3, dan 4. Kalau berdasarkan K Patrick Evaluation model. Kalau di lingkungan Ibu seperti apa implementasinya dan porsinya juga ya barangkali yang paling sering digunakan itu level evaluasi yang seperti apa? Silakan Bu Erna. Oke, terima kasih banyak eh Pak Abdika dari Ombudsmen RI Jakarta. tetangga tapi agak jauh, Pak. tadi ee sebenarnya ketika terbit Undang-Undang 20 tahun 2023 meskipun kita masih menunggu PP-nya karena PP-nya masih RPP sebenarnya sudah ada satu perubahan paradigma cuman kita memang masih menggunakan PP 11 ya Bapak Ibu ketika di situ disebutkan untuk PNS itu minimal 20 JP P3K maksimal ee 24 JP JP tadi Bapak menyebutkan kalau di organisasi profesi ada 30 JP. Sebenarnya dengan Undang-Undang 20 pasal 49 Bapak Ibu ayat 1 di situ kan sebutannya adalah setiap ASN wajib belajar. bukan kalau undang-undang 5, undang-undang yang digantikan 20 adalah hak itu. Makanya di PP-nya hak-nya adalah 20 JP untuk PNS sehingga orang biasanya kenapa dirubah Bapak, Ibu? Ternyata ketika kita menetapkan itu dengan hak dan ukurannya adalah kuantitas, hak plus. Kalau hak Bapak Ibu motivasi atau budaya kita belum muncul untuk belajar live learning belum ada di pegawainya, enggak ada yang nanyain haknya gitu. Eh, kok saya tahun ini belum ada pelatihannya ya? Gitu. Enggak ada yang nanyain Bapak Ibu gitu. jarang kalaupun ada yang nanyain gitu ketika kita ngomong kuantitas tadi. Kemudian yang kedua adalah ketika kuantitas hak tadi kemudian ukurannya adalah kuantitas 20 yang terjadi adalah ketika organisasi kemudian mau diukur indeks profesionalismenya, salah satu ukurannya adalah setiap pegawai harus 20 JP. Motivasi individunya enggak muncul karena hak tadi tidak ditagih. Organisasinya ngejar. Ayo dong semua ASN kamu 20 JP karena kalau tidak IP indeks profesionalitas kita nanti enggak bagus nih. Akhirnya semuanya belajar dalam 1 hari buka tiga komputer ini dapat 3 JP, 4JP, 2 hari 20 JP. Tapi sekali lagi yang belajar komputer yang tadi saya sebutkan gitu. Jadi N produkct sertifikat 2JP, 3JP, 4JP yang dikejar bukan proses pembelajarannya. Jadi kuantitas di undang-undang yang baru ini nanti akan ditinggalkan di pengaturan di PP-nya Bapak Ibu, tapi lebih kepada pasal 49 ayat 3 terintegrasi dengan pekerjaan. Hasil belajar tadi harus ada manfaatnya bagi pekerjaan kita. Jadi kalau tadi saya menyebutkan ee kami membentuk task force content creator. Hari ini saya memberikan pembekalan mengenai delapan bentuk konten basisnya teknologi. Kita akan kenalkan. Kemudian kita sebutkan targetnya. Targetnya setiap kompartem kompartemen empat konten. Jadi terintegrasi dengan pekerjaan ada hasilnya. Nanti kita akan ajari menggunakan CKC ee premium menggunakan kan macam-macam AI-nya Bapak Ibu tanggal 78 kita akan bekali kepada pesertanya. Minggu ke 3 bulan Juli semuanya harus sudah siap untuk dikurasi. Nah, ini yang kita sebutkan pembelajaran ini memiliki tujuan dan tujuannya ini adalah tujuan organisasi tadi. Kalau tujuan organisasi, tujuan karir individu juga bisa Bapak Ibu. Tapi sekali lagi kalau kuantitas ukuran keberhasilnya adalah kuantitas. Bapak, Ibu yang dikejar kuantitasnya. Makanya tadi EA hadir membantu kita untuk ujian supaya lulus. Kalau lulus karena dapat sertifikat, serahkan ke kantor, eh ini 5JP, jadi saya selesai nih 20 JP. Tapi kita enggak ngerti apa itu konten yang harus kita tingkatkan. Jadi sekali lagi ee strateginya adalah kaitkan pembelajaran ini dengan tujuan kita. Apakah tujuannya adalah karir individu atau yang kedua tujuannya adalah menyelesaikan pekerjaan kita dengan kualitas yang terbaik. Jadi mengintegrasikan dengan pekerjaan menurut saya salah satu strategi untuk memastikan bahwa long life learning tadi ada manfaatnya dan kita menjadi termotivasi. Kalau motivasinya mengejar angka Bapak Ibu sekarang akses mudah banget ya Pak Abdi ya. Mau belajar apa ada webinar di sini. mau belajar apa? Ada webinar di sini 1 hari bisa Bapak Ibu kita apa namanya mengumpulkan banyak JP apalagi kalau gadget kita banyak gitu. Tapi saya tidak mengatakan bahwa belajar jarak jauh tidak bermanfaat. Banyak manfaatnya tapi sekali lagi dari kesadaran kita untuk menjalani proses. Jadi proses belajarnya yang harus kita pelajari apa meskipun bonusnya ada end product gitu. Cuma kalau kita jam Bapak, Ibu jumping bahwa saya hanya di N-nya tidak mengalami belajarnya Nnya kemudian kuncinya ke CGBT atau artificial intelligence, enggak ada pembelajarannya gitu. Ketika kita dihadapkan kepada misalnya harus membuat konten basisnya artificial tetap enggak bisa meskipun punya sertifikat 50 gitu. Jadi selalu dikaitkan dengan pekerjaan pasal 49 ayat 3 dari Undang-Undang 20 sebenarnya sudah sudah ke sana. Kemudian ee mengukur kemajuan Bapak Ibu yang paling sering digunakan. Jadi begini K Patrick itu misalnya K Patrick yang paling sering digunakan kalau kita melihat kemanfaatan sebuah pelatihan gitu. level 1, level 2 biasanya mengukur programnya di program pelatihannya gitu. Sedangkan level 3 dan 4 adalah ketika sudah kembali ke tempat kerja gitu. Roti atau rolly Bapak Ibu return of learning investment ini yang masih jarang tapi sekarang menjadi tren gitu. Kami tahun 2023 bekerja sama dengan Tanoto Foundation melakukan keduanya Bapak Ibu baiker Patrick level 3 dan 4. Kami tidak mengukur level 1 dan 2 karena level 1 dan 2 diselesaikan di program ini. Kami mengukur secara nasional dan waktu itu kita mengukur untuk Latsar kepemimpinan PKP, PKA, PKN2, dan PKN 1. Bapak, Ibu hasilnya ada gitu ee yang kita apa namanya yang yang surveinya kita berikan kepada alumni dan juga kepada atasannya, Bapak, Ibu. Jadi itu yang kita lakukan. Kemudian yang roti, Bapak Ibu kita sebutnya roti karena memang trainingnya yang kita ukur. Tapi kalau Bapak Ibu berbagai variasi, gunakan istilahnya adalah rolly tadi, return of training investment untuk pelatihan kepemimpinan kita ukur Bapak, Ibu. Cuman mungkin angkanya saya agak lupa. Jadi setiap investasi Rp1 Bapak Ibu kita bisa manfaatnya itu sekitar kalau kalau angkanya salah saya mohon maaf ya sekitar 20. Jadi 20 kali lipat dari misalnya kita investasinya di pelatihan ke PKn tingkat 2 22 juta. Setiap Rp1 dari 22 juta ini menghasilkan hasil sekitar misalnya 20 kalinya Bapak Ibu. Jadi mengukurnya seperti apa? Kita kejar memang valuasi nilai ekonomi dari proyek perubahan. Jadi setiap pelatihan kepemimpan kan ada proyek perubahannya. Proyek perubahannya sesudah jangka menengah hasilnya rupiahnya kemanfaatan bagi organisasi itu berapa. Kemudian kita bandingkan dengan biaya pelatihannya Bapak Ibu. Nah ini ini salah satu contoh. Jadi kalau yang biasa digunakan saat ini adalah Kpatrick. Kalau kemanfaatannya biasanya level 3 dan 4. Tapi kalau program adalah 1 du untuk live lifelong learning bisa empat levelnya digunakan termasuk yang roli tadi gitu. Mungkin itu sedikit apa namanya yang sudah pernah kita lakukan terkait mengukur keberhasilan. Jadi nanti ee Pak Abdi bisa kontak juga dengan tim kami kalau ingin melihat hasilnya. Kalau enggak salah di webnya LAN juga sudah ada evaluasi pasca pelatihan nggih. Itu ada dokumennya. Monggo nanti kalau mau dijelaskan. Makasih Bu. Terima kasih Pak Abdi untuk pertanyaannya. Mohon izin Bapak jangan lupa untuk memberikan kami informasi terkait nama asal dinas, asal daerah dan alamat Bapak untuk pengiriman souvenir melalui chat Zoom. Bu Erna terima kasih untuk jawabannya. Jadi memang benar sekali ya untuk membentuk learning experience yang efektif tadi itu memang harus dikaitkan tujuan organisasinya dan memang diintegrasikan dengan pekerjaan pun demikian tadi evaluasinya kita harus kombinasi sekarang sudah enggak efektif kalau kita cuman ukur L1 L2 tapi L3 dan L4-nya kan juga harus diukur perubahan behavior dan dampak terhadap organisasinya. Terima kasih sekali lagi Bu Erna untuk materi dan diskusi yang sangat menarik sekali di siang hari ini. Sebelum diakhiri barangkali dari Bu Erna ada closing statement yang ingin disampaikan Ibu kami persilakan. Oke, terima kasih banyak Mas Lukman. Terima kasih banyak sekali lagi Bapak Ibu yang sudah berpartisipasi dan semangat mengikuti seri belajar kita. Mungkin saya ingin menggaris bawahi satu Bapak Ibu, salah satu tantangan besar kita saat ini adalah mendapatkan dan memiliki ASN yang memiliki growth mindset, yang selalu haus untuk belajar, yang tahu bahwa untuk relevan untuk bisa maju di kondisi yang perubahannya sangat cepat saat ini adalah kemampuan kita untuk selalu mengembangkan diri kita untuk selalu belajar. Jadi sekali lagi, life live long learning menjadi tumpuan kita untuk menjadikan pemerintahan kita menjadi pemerintahan yang unggul. Sekali lagi terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih sekali lagi kami ucapkan kepada Bu Erna Irawati. Semoga apa yang disampaikan ini menjadi barokah dan bermanfaat untuk sobat ASN yang menyimak acara webinar ASN Belajar seri 25. Salam sehat selalu, Ibu. Kita bertemu lagi di event-event selanjutnya, Ibu. Terima kasih Jinli Bapak Ibu semuanya. Terima kasih Bu Erna dan Sobat TSN. Jangan ke mana-mana karena sesaat lagi kita masih akan ada dua narasumber yang akan berbagi inset luar biasa tentunya dalam webinar ASM Belajar seri 25 tahun 2025. Baik, Sobat ASN, Anda kembali lagi menyaksikan webinar ASN Belajar seri 25 tahun 2025. Dan kali ini kita akan mendengarkan paparan materi dari Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Dalam Negeri, Bapak Dr. Sugeng Haryono, M.Pd. [Musik] Baik, telah bergabung bersama dengan kita semua di sini Pak Sugeng Haryono. Selamat siang, Pak Sugeng. Selamat siang. Apa kabar, Mas Lukman? Alhamdulillah kabar baik, Bapak. Kabar baik juga, Pak. Alhamdulillah sehat. Baik, baik, Pak Sugang. tadi sudah disampaikan oleh Bu Erna bahwa tantangan terbesar dari ASN saat ini adalah memiliki growth mindset. Ya, ini yang harus di apa namanya? Gugah untuk menciptakan learning culture di lingkungan kita masing-masing. Dan kali ini kita akan mendengarkan perspektif lain dari Pak Sugeng Haryono. Bagaimana cara kita bisa menumbuhkan minat belajar sepanjang usia utamanya untuk keberhasilan organisasi. Untuk materi kurang lebih akan disampaikan kurang lebih selama 30 menit. Nanti kita akan langsung lanjut ke sesi tanya jawab, Pak Sugeng kami persilakan, Pak. Baik, terima kasih, Mas Lukman Ali. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, salam sejahtera untuk kita sekalian. Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, salam kebajikan dan tentunya salam sehat untuk kita semuanya. Yang saya hormati Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Pak Ramlianto, Bu Deputi tadi ada Bu Erna, saya ikutin juga materinya tadi Bu Deputi dan teman-teman semua yang terhubung secara online di acara webinar kita ini. ASN Belajar seri ke-25. Temanya sangat excited. Ini ASN meraih asa, meraih harapan, belajar sepanjang masa dan bagaimana kemudian tumbuh kultur ya untuk belajar dan itu digunakan untuk mengabdi sepanjang usia kita. Baik, saya akan menyampaikan materi saya bagi dalam tiga segmen. Yang pertama adalah saya menyampaikan pada segmen normatifnya, norma aturannya termasuk apa yang mesti dituju di depan. Yang kedua, kemudian saya akan menyampaikan segmen terkait dengan data yang kita hadapi, realita, fakta yang kita kemudian ketiga, baru kita akan bicara tentang apa yang seharusnya dilakukan. Ini lebih sebagai rekomendasi. dari acara kita ini ya. Baik, saya tadi sudah diperkenalkan nama saya, saya Sugeng Haryono saat ini sebagai Kepala BPSDM Kementerian Dalam Negeri. Ini silakan ini biodata saya, tapi ada beberapa hal yang ee nanti saya akan elaborasi pasti terkait dengan pengalaman penugasan saya, pengalaman berbagai pelatihan dan seterusnya. Lanjut. Kalau kita bicara tentang norma ini, segmen yang pertama aturan kita buka RPJPN kita, rencana pembangunan jangka panjang nasional 2025-2045 20 tahun ke depan visi yang hendak diwujudkan oleh kita bersama di negara tercinta kita adalah Indonesia Emas 2040, 20 tahun dari sekarang. 2025 ini menarik karena ini dimulai jangka panjang nasional dan jangka panjang daerah. Jangka menengah nasional, jangka menengah daerah. Renstra kementerian, lembaga pemerintah non kementerian dan Renstra semua perangkat daerah semua dimulai di 2025. Inilah satu hal tahapan yang monumental di negara kita. Kalau tahun kemarin kita melaksanakan Pilkada serentak nasional, ini sudah pertama kali dalam sejarah nasional kita. Pelantikan kepala daerah juga serentak di istana negara. Meskipun Aceh sesuai undang-undangnya dilaksanakan di Aceh. Saat ini juga masih ada yang PSU pemungkutan suara ulang. keserentakan ini dimaknai supaya di 2025 ketika hampir sebagian besar kepala daerah sudah dilantik dan presiden juga sudah dilantik, kita akan memulai keserentakan menuju kepada visi jangka panjang kita 2045 dan visi jangka menengah kita 2029 untuk menuju pada satu titik visi suatu Harapan besar yang hendak diwujudkan dalam jangka panjang dan dalam jangka menengah tentu dibutuhkan sumber daya manusia yang qualified. Ungkapan bijak mengatakan men the god. Di balik setiap kebijakan apapun kata G di sini diterjemahkan tidak sekedar sebagai senjata ya kebijakan yang gak dituju dalam bentuk visi tadi jangka panjang jangka menengah. akan sangat bergantung kepada manusia. Manusia adalah penentu dalam suatu sistem. Maka di dalam RPJPN, rencana pembangunan Jakarta nasional 20 tahun ke depan di sana ada manajemen talenta yang difokuskan pada beberapa hal. Saya ambil dua hal. Yang pertama adalah manajemen talenta itu sendiri. Kemudian yang kedua, pengembangan kompetensi ASN. Kenapa mesti ASN? Kita lihat di dalam Undang-Undang ASN, fungsi nomor satu ASN adalah pelaksana kebijakan publik, public policy. Kebijakannya sudah bagus. Misalnya kita punya RPJPN, RPJPD, RPJMN, RPJMD. Punya RENstra kementerian, lembaga pemerintahan nonkementerian punya Renstraisme OPD. Pada akhirnya pelaksana kebijakan ini adalah ASN. Itu fungsi nomor 1 ASN dari tiga fungsi yang ada di dalam Undang-Undang ASN. Terkait itu maka di dalam RPJPN kita Undang-Undang 59 tahun 2024 juga ada arah kebijakan untuk mewujudkan meritokrasi dan integritas. Tapi tandain hal yang menarik bagi kita semua adalah adanya etika rencana untuk melakukan peninjauan atas kewenangan kepala daerah selaku pejabat pembina kepegawaian. ini tentu dimaknai sebagai upaya untuk kita memisahkan antara carrier appointing, pola karir dari ASN dengan political appointing. Bahwa dalam penentuan karir seorang ASN seharusnya didasarkan murni kepada pertimbangan objektif, kinerja termasuk perilaku kerja. Kemudian di dalam meritokrasi dan integritas ini ada aspek juga saya tandain di sini peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kita fokuskan sumber daya manusia ASN. Sekali lagi fungsi nomor satu ASN dalam Undang-Undang ASN adalah pelaksana kebijakan publik. Kebijakannya sudah ada, sudah bagus. Nanti saya akan sampaikan lagi bentuk-bentuk kebijakannya. Maka penentunya adalah kualitas AS. Oke, kita lihat lagi regulasi berikutnya ya. Ya, ini ada asta cita ini di dalam RPJMN kita delapan cita delapan harapan kita. Dari delapan cita harapan itu ada dua yang perlu kita fokuskan. Nomor empat memperkuat pembangunan sumber daya manusia. Tentu ASN bagian dari sumber daya manusia. Nomor tujuh. Kemudian terkait dengan reformasi termasuk reformasi birokrasi ini asal cita inilah yang ee mengarahkan kepada kita dari satu visi jangka panjang, satu visi jangka menengah, kemudian dielaborasi ke dalam 8 jipa dan nanti ke dalam 17 prioritas program. Dari sinilah saya ingin mengajak coba kita lihat lagi aturan berikutnya. Tadi saya sudah sebut Undang-Undang ASN undang-undang 20 tahun 2023. Tadi saya menegaskan tiga fungsi ASN. Nomor satu adalah pelaksana kebijakan publik. Nomor dua adalah pelayan publik. Baru yang ketiga mempererat dan perekat NKRI. di Undang-Undang ASN ada juga yang menarik di pasal 49, setiap pegawai ASN wajib melakukan pengembangan kompetensi. Artinya undang-undang itu kan sesuatu yang sifatnya wajib dikerjakan. Tapi dalam pasal 49 pada undang-undang 20 2023 digunakan lagi kata wajib. Berarti ini adalah satu penekanan yang luar biasa bahwa setiap ASN mau tidak mau harus punya kesadaran pribadi untuk mengembangkan kompetensi melalui pembelajaran secara terus-menerus. Dalam tema kita, kita sebut sebagai pembelajaran sepanjang hayat. Terus-menerus untuk memberikan pengabdian yang terbaik sepanjang hayat. Pembelajaran terus-menerus ini agar tetap relevan dengan tuntutan organisasi. organisasi yang paling besar adalah organisasi negara. Kemudian di dalam organisasi di tingkat pusat ada kementerian, lembaga pemerintahan non kementerian, ada korporasi, ada BUMN dan seterusnya. Kemudian di tingkat daerah kita punya pemerintah daerah, ada perangkat daerah, ada juga BUMD di tingkat daerah. Itulah organisasi. Organisasi punya tantangan, punya visi organisasi. Jadi kita punya RENstra kementerian dan lembaga. punya RENstra perangkat daerah. Di tingkat daerah kita punya RPJM N, ada RPJMD dan RPJP. Organisasi ini mesinnya adalah manusia dan di dalam manusia itu ada ASN yang fungsi nomor satu adalah tadi pelaksana kebijakan yang dibuat oleh organisasi itu termasuk visi organisasi. Kita lihat lagi sekarang regulasi berikutnya. Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Kita buka di pasal 233. Pada ayat 1 pasal 233 ditegaskan bahwa ada frase di sana. Setiap pegawai ASN harus memenuhi persyaratan kompetensi. Normalnya harus memenuhi persyaratan kompetensi. Kalau digunakan kata persyaratan kompetensi, maka mestinya syarat ini diperlakukan ketika seseorang ASN belum duduk dalam suatu jabatan. Jabatan apapun, apakah jabatan pimpinan tinggi, jabatan administrasi, maupun jabatan fungsional. Karena di dalam undang-undang ASN ada tiga jenis jabatan itu. Di sini noranya tegas, harus memenuhi persyaratan kompetensi. Maka tuntutan untuk belajar seumur hidup itu kalau dikaitkan dengan perintah undang-undang pemerintahan daerah ini adalah sebelum seseorang duduk dalam suatu jabatan penuhi dulu syarat kompetensi sampai dinyatakan kompeten. Di sini ada empat jenis kompetensi yang harus dipenuhi. Kompetensi teknis, kompetensi manajerial, kompetensi sosial kultural, dan ditekankan secara khusus di pasal 233 kompetensi pemerintahan. Dalam konteks ini Kementerian Dalam Negeri saya memberikan fokus penekanan terutama pada kompetensi pemerintahan. Kalau kompetensi manajestrial tadi Ibu Deputi Bu Erna. Kompetensi teknis menjadi tugas bagi semua kementerian dan lembaga. Kompetensi sosial kultural akan sangat terkait dengan di mana posisi berada organisasi itu harus disesuaikan dengan kondisi sosial kultural masyarakat sekitar. Maka saya fokuskan kepada kompetensi pemerintahan karena ditugaskan kepada Kementerian Dalam Negeri. Kalau ayat 4 sana dikatakan kompetensi pemerintahan itu ditetapkan oleh menteri. Maka menteri yang dimaksud sini adalah menteri dalam. Di dalam penjelasan atas pasal ini ditegaskan bahwa yang dimaksud kompetensi pemerintahan itu antara lain. Jadi ini sekurang-kurangnya at least mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang terkait dengan tujuh unit kompetensi kebijakan desentralisasi, hubungan pemerintah pusat dengan daerah, pemerintahan umum, pengelolaan keuangan daerah, urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, hubungan pemerintah daerah dengan DPRD dan etika pemerintahan. Ini semua namanya kompetensi pemerintahan ya. Sekali lagi ini khusus diamanahkan kepada Menteri Dalam Negeri untuk melakukan pengaturan dan memastikan sebelum seseorang duduk dalam suatu jabatan apapun di tingkat daerah harus memenuhi persyaratan kompetensi pemerintahan. Tentu ini sekaligus disatukan dengan tiga kompetensi yang lain tadi kompetensi teknis, manajerial, dan sosial. Terkait hal itu, maka Bapak Menteri Jar Negeri kemudian sudah menerbitkan surat edaran tanggal 12 Desember 2024. Pada poin 3, kalau teman-teman lihat di sana ditegaskan bahwa pemerintah daerah harus menjamin bahwa penyelenggara pemerintahan daerah memiliki kompetensi dan kapabilitas dalam tata kelola pemerintahan. Oleh karena itu, maka penempatan atau pengisian jabatan wajib memenuhi persyaratan kompetensi pemerintahan yang dibuktikan dengan surat tanda tamat pendidikan pelatihan dan atau sertifikat kompeten di kompetensi pemerintahan. Ini sekali lagi kompetensi pemerintahan harus dibaca senapas dengan kompetensi teknis, manajerial, dan sosial kultural. Tapi kami memberikan penekanan ini karena sekali lagi ini ditugaskan kepada Menteri Dalam Negeri Undang-Undang Pemerintahan Daerah Pasal 2313. Untuk memenisme kompetensi ini tentu karena tadi undang-undang ASN mengatakan wajib diserahkan kepada setiap ASN punya kesadaran meningkatkan kompetensi tapi kemudian pemerintah negara memberikan reward. Ya, nanti saya akan sampaikan di bagian akhir dari paparan ini. Salah satu reward-nya tentu adalah terkait dengan pengembangan karir. Inilah semua norma yang saya sampaikan mulai dari Undang-Undang RPJPN 59 2024, Undang-Undang ASN 20 2003 sampai dengan kemudian Undang-Undang Pemerintahan Daerah 2314. Sekarang kita lihat datanya. Ini segmen kita yang kedua. Data pertama kita lihat data IPM indeks pembangunan manusia human development indeks IPM kita kita bandingkan saja dengan 10 negara ASEAN kita negara ada 11 negara ASEAN salah satu negara kita kita perbandingkan dengan 10 negara posisi kita adalah nomor 6 dari 11 negara Asia posisi kita di bawah prata ASEAN yang 73,6 IPM-nya kita di 71,3. Silakan teman-teman bisa melihat IPM ini apa sih urgensinya? Ini menunjukkan bagaimana tingkat ee kualitas keberhasilan kita dalam membangun pada sisi pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, daya beli. Belajar terus-menerus adalah bagian dari segmen pendidikan, tetapi juga sangat ditentukan oleh kualitas kesehatan mental, kualitas kesehatan fisik, dan berkorelasi nanti juga dengan produktivitas kerja. Nanti saya akan kaitkan dengan indeks produktivitas ya. Data lainnya menunjukkan seperti ini. Kita lihat ini kalau kita bagi IPM per provinsi ada 38 provinsi. Teman-teman bisa melihat se-Indonesia yang ikut acara ini. Bagaimana posisi IPM per provinsi? Kalau ada garis putus-putus warna merah, itulah rata IPM nasional 71,3. Suatu provinsi yang di atas berarti sudah di atas rata-rata nasional dan di bawah berarti di bawah rata. Kita bisa lihat sekali lagi ini adalah komposit dari pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Kita lihat lagi data berikutnya. Tadi kita bicara IPR, sekarang kita bicara angkatan kerja kita, ya. Jumlah tenaga kerja kita di negara Asia sudah paling tinggi 144,64 juta. Bandingkan dengan negara-negara lain, berapa jumlah tenaga kerjanya? Tetapi apakah ini berkorelasi dengan produktivitas? dan tidak. Silakan teman-teman bisa search sumber yang kami ambil. Kita lihat sekarang produktivitas tenaga kerja. Kalau tadi jumlah tenaga kerja kita paling tinggi di ASEAN, maka dari sisi produktivitas kita adalah nomor lima. Kita lihat di sini ya produktivitas kita ya. Nomor satu Singapura, dua Brunei kemudian Malaysia dan Thailand. Kita nomor 5. Silakan diambil nanti sumber lagi. Data berikutnya data ASN kita, data existing kita ASN saat ini mengacu kepada data di semester 2 tahun 2024. Artinya masih sangat baru ini akhir 2024 yang lalu dari ASN kita PNS adalah paling banyak 75%. PDK 25% dari sebaran pendidikan kita bisa melihat paling banyak dari ASN kita adalah antara D4 sampai dengan S1 itu 64%. Yang kedua, 13% itu adalah antara D1 sampai dengan D3. Oke, dua data ini kita gabungkan 77% antara D1 sampai dengan S1. Artinya apa? ASN kita sebagian besar adalah orang kuliahan. sudah kuliah ya sudah mengenyam bangku pendidikan pendidikan tinggi ada juga S2 11% juga cukup tinggi bahkan yang S2 ini setara dengan antara SD sampai dengan SMA tapi SD SMA ini kan rinya panjang SD SMP SMA tapi yang S2 itu sudah 11% kalau diakumulasikan S1 apa ee D1 sampai dengan S2. Wah, luar biasa batanya ya. Kita sampai angka 88% antara D1 sampai dengan S2. Tambah lagi yang S3 1%. Sekali lagi dengan data seperti ini tidak ada alasan bahwa ASN kemudian tidak melek literasi, tidak mau belajar. Karena fakta menunjukkan sebagian besar ASN yang 88% adalah lulusan perguruan tinggi. Ya, mestinya yang sudah terbiasa dengan pola belajar yang terus-menerus sudah sampai level pendidikan tinggi. Kita lihat lagi data berikutnya. Nah, ini ini hasil evaluasi kita bagaimana dalam pengembangan SDM saat ini terutama di tingkat daerah. Saya ambil aja nomor 6. belum terdapat pemetaan kapasitas daerah secara utuh. Misalnya gini, mengaitkan antara pengembangan kapasitas dengan potensi secara ril ada di daerah. Silakan buka dokumen Renstra masing-masing OPD, buka dokumen RPJMD, di sana ada potensi daerah. Apakah dalam pengembangan ASN sudah dikaitkan enggak dengan pemetaan kapasitas daerah untuk kapasitas ASN dan kapasitas potensi yang ada di daerah ini yang selama ini belum kita lakukan. Termasuk nomor delan, manajemen talenta belum secara merata di seluruh kementerian, lembaga pemerintahan nonkerian dan pemerintah daerah. Jalup nomor 6 dan nomor 8. Karena ini nanti terkait dengan rekomendasi kita dari sesi yang saya sampaikan ini. Kita lagi lihat lagi data berikut ya. Daftar negara dengan penduduk yang paling ee ya memanfaatkan bukulah sebagai sumber literasi. Coba diclose paparan berikutnya itu tolong disilang aja enggak itu yang view itu silang. Daftar negara dengan penduduk paling banyak membaca buku di tahun 2024. Kita lihat paling tinggi adalah Amerika Serikat dalam setahun 17 buku memerlukan 357 jam. Oke. India termasuk tinggi. Kita lihat negara kita adalah peringkat ke-31. Rata-rata 5,9 buku. Okelah mendekati 6 atau dari sisi jam 129 jam. Dari sini kita bisa belajar banyak. Coba kaitkan antara negara-negara dengan ee tingkat ee konsumsi buku yang tinggi jam yang dibutuhkan untuk mencerna buku, membaca buku dengan produktivitas mereka, dengan kemajuan mereka. Amerika Serikat, India ya, Inggris, Perancis, Italia, Kanada. Rusia, Australia kita posisi ke-31. Ya, data lain menunjukkan ini hampir sama dengan data tadi, cuma kita gambarkan saja posisinya. Indonesia nomor 31 dari 102 negara yang warganya paling rajin membaca buku. Okelah, kita sudah masuk ya sepertiga lah dari 10. Tapi itu pada nomor paling bujit dari sepertiga itu 31. lagi data berikutnya ya teman-teman. Tadi kita ingin detailkan saja dari data tadi ya hampir sama. Ini lebih menarik saja tampilannya. Oke, lanjut lagi ya. Tapi kita agak berbangga sedikit lah ya. bangga paling enggak di dalam negeri kita kalau kita bandingkan dalam 5 tahun terakhir ada peningkatan yang signifikan tingkat kegemaran membaca di masyarakat Indonesia. Makanya alhamdulillah dari 102 negara tadi posisi kita 31 itu sudah peningkatan yang luar biasa. Peningkatan kita bisa bandingkan dari 2019 di 53,49 naik terus eskalatif dan kenaikan yang cukup tinggi di 2023 ke 2024 ada 6 poin 2022 ke 2023 juga naik cukup tinggi. ini patutasuki. Tentu ini tidak berhenti segera sebagai data. Bagaimana ee kegemaran membaca ini kemudian juga tertransformasi kepada produktivitas kerja, kualitas kerja termasuk kualitas dalam pelaksanaan kebijakan publik, kualitas dalam hal layanan publik. membaca itu kan terbuka jendela ya, wawasannya menjadi luas, insight-nya bertambah, bagaimana kemudian tingkat asertifnya bertambah ini akan lahir dari orang-orang yang rajin membaca. Termasuk inovasi dalam memberikan layanan, inovasi dalam hal melaksanakan kebijakan. Kita lihat lagi sekarang data berikutnya. ini dari indeks literasi digital yang dilihat dari berbagai aspek ya. Dan dari sini kita lihat yang warna biru tua warna paling gelap karena ini segmennya kita bicara ASN ya belajar. Ternyata bahwa dalam hal skill digital paling tinggi adalah di pemerintah termasuk TNI POI. Bahkan melampaui skill digital ini melampaui masyarakat termasuk melampaui dari sektor pendidikan. Dalam hal etika digital juga begitu. pemerintah ini katakanlah kita bicara ASN TNI POI itu skornya paling tinggi ya termasuk dalam keamanan digital ya. Oke. Keamanan digital masih lebih tinggi sedikit sektor pendidikan karena kesadaran akan keamanan digital lebih tinggi. Tapi di ASN TNI Pohori juga tinggi dari skor maksimal 5 ini kita posisinya ya posisi di tengah-tengah antara 3 sampai dengan 4. Tapi kalau digital skill-nya kita sudah mendekati angka 4 TASN dan TNI. Ini data-data yang ee kemudian menuntun kita untuk perlu merekomendasikan apa sebetulnya yang kita butuhkan ke depan. Saya akan menyampaikan dua rekomendasi. Yang pertama adalah perlu kita lakukan pemetaan ASN ke dalam 9 kuadrat. Kementerian Dalam Negeri alhamdulillah sudah melakukan ini dan saya pikir bahwa semua pemerintah daerah, semua organisasi pemerintah di kementerian lembaga termasuk pemerintah daerah perlu memetakan setiap ASN ada di kotak yang mana. Inilah bagian dari setiap ASN perlu berintrospeksi diri. Kalau dipetakkan dalam 9 kuadran mapping talenta ini, kita ada di kotak nomor 1 2 3 yang warna merah warning. Ini adalah mereka dengan potensi yang rendah dan unjuk kerja yang rendah, kinerja yang rendah. atau kita ada di tengah-tengah yang warna kuning atau kita pada posisi yang tinggi, potensinya tinggi, kinerjanya tinggi dan bahkan kita menjadi stiap ASN bisa diukur dan tentu ini dikontribusikan oleh semangat untuk terus belajar. dari belajar terbuka inside baru, kesadaran baru, kemudian bermanifestasi dalam hal kinerja. Kalau setiap ASN perpetakan seperti ini, maka dia tahu posisi saat ini eksisting sehingga tidak lagi kasak kok. Kenapa tidak promosi ya? Kenapa tidak mendapatkan peluang yang lebih baik dari temannya? karena posisi Anda di sini dan ini men-challenge setiap ASN untuk terus belajar. Terakhir saya sampaikan rekomendasi tiga hal. Yang pertama adalah tadi kalau kita bicara tentang kotak talent managemen, maka perlu setiap kita petahkan ke sana dan ini memaksa setiap untuk belajar. Begitu tahu dia ada posisi kotak nomor 1 2 3 harus malu memaksa dia untuk belajar mengembangkan potensinya meningkatkan kinerja dan tentu harus diimbangi dengan reward dan panis. ASN yang ada di posisi kotak 1 2 3 pada sisi tertentu ketika harus perampingan birokrasi merekalah undang nomor satu yang akan dikeluarkan dari kota organisasi. Yang kedua, kita perlu mengembangkan karir yang sifatnya cross cutting dan ini belum dilakukan. Saya pikir perlu duduk bersama antara PKN ya, termasuk semua kementerian lembaga dan pemerintah daerah, para kepala daerah sebagai pejabat pembina kepegawaian ya. supaya ketika seorang ASN punya kompetensi yang tinggi, katakanlah dia ada di kota nomor 789 tadi, maka terbuka luas untuk dia juga didaya gunakan di kementerian lembaga yang lain termasuk pemerintah daerah bahkan bisa masuk di BUMN BUMD sori itu BUMN gar D tolong diperbaiki. BUMN gar D. Coba diedit sedikit berti BUMN gar D ya. BUMN dan BUMD termasuk korporasi ya. Misalnya kita punya bank yang plat merah mulai dari Bank Indonesia sampai bank-bank plat merah kita perlu masuk ke sana. Begitu seseorang selagi ASN ternyata berada pada kotak yang baik 7 89 syukur yang 9 dan ini perlu dikembangkan ke depan kita extend baik di dalam maupun luar negeri tayangkan ya misalnya luar negeri terutama di tingkat ASEAN dulu kita bisa magang ya magang hormat Ya. Maka di luar negeri kalau kita mengembangkan cross cutting karir seperti ini maka ini akan men-challenge. Artinya seseorang tidak akan berhenti karirnya di satu kementerian, satu pemerintah daerah, bahkan bisa lintas kementerian, lembaga bahkan termasuk korporasi, termasuk dengan pemerintah daerah. di dalam luar negeri minimal di tingkat ASEAN. Dan yang terakhir kita menyarankan untuk ya coba tayangkan lagi terakhir kita menyarankan untuk adanya pelibatan kontrol publik terhadap pelaksanaan ini semua termasuk kontrol publik dibutuhkan untuk misalnya terkait dengan pengisian suatu jabatan. Syarat jabatannya apa? Siapa yang mau masuk? Kemudian siap bertahan terus sampai tiga besar sampai kemudian terpilih perlu kontrol publik. Jadi sekali lagi perlu diperlakukan kontrol publik ini untuk pola karir di kementerian, lembaga, pemerintah daerah, BUMN, BUMD sampai tingkat korporasi supaya apa? Ada fairness di sini. Inilah beberapa hal yang saya saya sampaikan pada tiga segmen ini. Yang pertama tadi kita bicara pada tataran normalnya. aturannya apa yang gak dituju. Dan kedua kita sudah bicara datanya, faktanya di lapangan seperti apa dan yang ketiga kita bicara apa yang mestinya dilakukan sebagai rekomendasi kita bersama. Saya pikir demikian. Saya kembalikan kepada moderator. Terima kasih silakan kalau mau ada ee tanya jawab atau kita mau mendiskusikan lebih lanjut. Terima kasih. Baik, terima kasih sekali lagi kami ucapkan kepada Bapak Dr. Sugeng Haryono, M.Pd atas materi yang telah disampaikan dan Sobat ASN. Setelah ini kita akan masuk ke sesi tanya jawab. Jadi untuk sobat ASN yang bergabung di Zoom bisa manfaatkan futat rise hand atau yang bergabung melalui YouTube bisa tuliskan pertanyaan melalui live chat. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] Baik, Pak Sugeng Haryono. Tadi menarik sekali materi yang telah disampaikan ya. kita banyak sekali disampaikan terkait dengan kualitas sumber daya manusia di Indonesia ya. Kalau berdasarkan data sebenarnya kita ada di ee level intermediate ya, not bad but not good enough gitu sebetulnya. Nah, ee sebelum saya berikan kesempatan bagi Sobat ASN yang akan bertanya kepada narasumber kita yang kedua pada siang hari ini, terlebih dahulu saya mau berdiskusi dengan Pak Sugeng Haryono. Tadi kan ee sempat disampaikan bahwasanya ee ada situasi di mana karir ASN ini akan didasarkan pada pertimbangan objektif di mana salah satu pertimbangan objektifnya adalah evaluasi kinerja. Nah, kalau kita tarik dari evaluasi kinerja otomatis harus ada kompetensi-kompetensi yang tercapai. Nah, sebelum mencapai kompetensi tersebut, maka kita harus belajar kompetensinya seperti itu. Tapi, Pak Sugeng ee yang saya lihat saat ini kan di generasi Z ya utamanya ada fenomena di mana kenaikan jabatan itu tidak menjadi tujuan utama dalam karir. Bahkan beberapa Gen mayoritas Genzi sekarang kita juga tidak hanya punya satu pekerjaan, tapi kita juga memiliki pekerjaan-pekerjaan lain atau biasa kita sebut dengan freelance. Nah, pada akhirnya hal ini bisa saja tidak berkaitan dengan kemauan mereka untuk belajar dan memberikan performasi yang optimal di lingkungan kerja mereka seperti itu. Nah, kalau dari Pak Sugeng sendiri melihat fenomena ini dengan kemauan mereka untuk belajar dan memberikan performansi yang optimal di organisasi seperti apa Pak Sugeng menanggapi isu ini, Pak? Baik, terima kasih. Memang ada satu fenomena sekarang bagaimana kita ingin mencapai dalam hidup ini tujuan hidup, kenyamanan hidup, kemudian bagaimana bisa menjalani hobi, menjalani ee apa kesenangan ya tanpa harus terbebani dengan tugas-tugas misalnya jabatan. orang sudah ingin pada posisi slowing. Bahkan sekarang ada istilah brain road. Bagaimana otak itu sudah lelah, sudah capek dengan berbagai hal. Pulang kantor sudah enggak ada energi lagi. Orang sudah pengin hidup yang nyaman. Ya sudah saya bekerja saja sesuai dengan tugas, sesuai dengan jam. Tapi kemudian saya bisa menjalani hobi, saya menjalani kesenangan saya, bahkan bisa ada pekerjaan lain yang dilakukan. hal yang tidak salah sebetulnya. Tetapi dalam hal belajar ya terus-menerus itu juga tidak selalu harus dikaitkan dengan jabatan. Belajar itu bisa dilakukan sebagai passion karena orang ingin mengembangkan diri, orang ingin punya wawasan yang lebih luas. termasuk dalam hal hobi misal ketika orang punya hobi, punya ee pekerjaan lain ya yang dilakukan selain sebagai ASN, maka akan menjadi lebih baik ketika orang punya wawasan yang lebih luas. Jadi pembaca harus punya tujuan lain selain karir. Tapi negara memberikan tawaran ini ya. Negara memberikan tawaran karir. Negara memberikan tawaran phihidupan yang lebih baik melalui karir yang lebih baik. Bahkan tadi misalnya kita contohkan ketika orang jenuh sudah bekerja di satu pemerintahan di pusat maupun di daerah organisasi pemerintah daerah tertentu atau di kementerian lembaga pemerintah tertentu. Maka tadi kami rekomendasikan yang kedua, kenapa tidak kita lakukan semacam cross cutting untuk mengatasi kejenuhan ya bahkan di dalam dan luar negeri ini harus dibuka peluang-peluang seperti ini. Apa tadi itu titik jenuh itu ada orang bekerja di satu instansi datang pagi pulang sore terus-menerus ketemu entitas yang sama orang yang sama. Kenapa kita tidak buka orang dengan potensi yang tinggi? Katakanlah tadi kita lihat di posisi nomor 789 SK nomor 9 I dengan peluang untuk pindah ke KL yang lain, kementerian lembaga pemerintah daerah yang lain bahkan ke BUMN PUMD korporasi. Kalau ini dibuka peluang ini, maka sama halnya tadi orang ingin kerja dengan posisi supaya menghindari kejenuhan. Otak yang sudah brain road tadi sudah jenuh. Begitu ditransfer ke kementerian lembaga maka ada peluang challenge ini menchallenge. Maka ada rekomendasi kami yang kedua tadi gitu. ini harus dilakukan oleh pemerintah. Maka mestinya PKN LAN kalau perlu dengan ini presiden sebagai pejabat pembinaan kepegaan tingkat nasional mengambil keputusan seperti ini. Nah, ada jalan keluar tadi terutama bagi ASN yang sekali lagi ingin menghindari kejenuhan tetapi di sisi lain termatkan. Tapi sekali lagi mereka yang bisa cross cutting karir adalah mereka yang sekali lagi pada level minimal 7uh syukur del dan syukur-sukur di tingkat 9 tadi di talenting. Tapi kalau mereka di level 1 2 3 yang warna merah tadi ya mohon maaf di lembaga mana pun pada posisi resisten untuk menerima itu. Saya yakin ASN yang ya yang ingin mulai menyalurkan hobi adalah minimal dia di level ya 7 atau 8 lah. Tapi kalau mereka di kota 1, 2, 3, organisasi pun kalau dihadapkan pada pilihan untuk mengurangi pegawai, merekalah yang dikurangi nomor satu. Ya, artinya keamanan karir mereka pun sangat kecil karena memang secara realil potensinya rendah, kinerjanya rendah seperti itu ya. Baik, baik. Terima kasih Pak Sugeng Haryono untuk jawabannya. Menarik sekali ya. Jadi memang ada kecenderungan untuk Genzi ini tidak beta untuk berada dalam suatu entitas yang sama. Jadi tadi ee kebijakan untuk berpindah ke entitas lain gitu ya ketika merasa jenuh itu merupakan satu hal yang menarik ya untuk kita laksanakan ke depannya. Thank you, Pak, untuk jawabannya. Sekarang saya akan undang untuk penanya yang sudah bergabung bersama dengan kami. Yang pertama ada Pak Dani dari DLH Ngawi. Saya akan sapa beliau terlebih dahulu. Selamat siang, Pak Dani. Selamat siang. Baik, Pak Dani sebelum disampaikan pertanyaannya mungkin bisa disebutkan terlebih dahulu nama asal dinas dan juga asal daerahnya Pak. Silakan Pak. Baik, terima kasih atas waktunya Masuk. Nama saya Yosef Dani Kurniawan. Saya sekarang bertugas di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kabupaten Baik, Pak Dani kami persilakan untuk pertanyaannya. Langsung saja disampaikan kepada Pak Sugeng, Pak. Baik. Sangat menarik temanya hari ini. ASN meraih asa ya. Padahal kata-kata asa yang biasa kita dengar adalah putus asa. Jadi ya sedikit asa ini jarang kita dengar berdiri sendiri tetapi sering kita dengar sebagai putus asa yaitu putus harapan. Dan sebagai ASN saya pernah dua kali hampir putus asa dan mau resign dari ASN tetapi ditangguhkan karena beberapa orang dekat memotivasi untuk tetap bertahan di era yang pada waktu itu tidak nyaman bagi saya. Oke. Ee terima kasih Bapak. Jadi sangat menarik juga yang disampaikan Bapak terkait ee Tripod ee ada kompetensi ada pemetaan ASN. Jadi sedikit saya menyampaikan data Bapak bahwasanya selain kompetensi yang digunakan untuk pengembangan karir bahwasanya di daerah terutama di daerah saya bilang ee di daerah saya mungkin saya melihat juga di banyak daerah lain ada tripod bagaimana orang bisa mengembangkan kompetensi selain ee mengembangkan karir selain kompetensi salah satunya yang kedua yang dua ini adalah satu koneksi Bapak tidak bisa dipungkiri lagi koneksi masih ada ee kita masih saya masih melihat orang siapa yang menduduki suatu jabatan strategis terutama dan saya melihat di daerah lain itu juga masih ada terkait komisi. Jadi ee mungkin nanti bisa dievaluasi bahwasanya untuk menduduki jabatan tertentu ini membutuhkan sekian rupiah untuk bisa duduk di situ. Bahkan ee angkanya sampai saat ini saya melihat ee memprihatinkan karena inflasi itu terus terus terjadi gitu. Ee dan tadi yang sempat disampaikan oleh di dan ditanggapi oleh Maser tadi, fenomena belajar ini juga nyata loh, Pak. Jadi sekedar info saya angkatan 2005 ee penjaringan ASN serentak di Indonesia pertama kali di era Pak SBY dan kebetulan teman-teman seangkatan saya pada waktu itu ee kemudian ada belasan yang kemudian mencari S2. Puji Tuhan dari Bappenas mendapatkan memberikan beasiswa dan beberapa instansi pusat lainnya. ada belasan sudah S2 bahkan sampai ke luar negeri juga. Kemudian setelah kami kembali ternyata tidak semuanya sesuai dengan teori Bapak. Jadi kompetensi yang kami miliki tidak semuanya dipakai tidak tidak hanya kompetensi saya tapi kompetensi teman-teman sehingga di perjalanannya ini ee berpindah-pindah. Sebagai informasi, saya sampai sekarang sudah 11 kali pelantikan di ee 10 kali pelantikan di 10 tahun setelah saya lulus S2. Ee dan karena saya seorang yang bapak saya seorang guru, saya anak seorang pembelajar, ya saya anggap itu adalah suatu pembelajaran sehingga saya mengetahui banyak hal di ee apa jalan karir saya gitu. Ee tetapi ini saat-saat ini kemarin saya sempat berdiskusi dengan teman angkatan 2020-an bahwasanya mereka enggak mau lagi S2 beasiswa meninggalkan pekerjaan. Mereka tetap ada yang sekolah S2 tetapi ya izin belajar seperti itu. Yang ee kami menilai, saya pribadi menilai sih tidak optimal karena pembelajaran S2 jarak jauh tidak seperti halnya kita luring langsung ada di kampus gitu. Dan mereka ternyata juga berhitung ya, TPP TPP yang kita terima itu bisa dua kali S2, Mas. Kalau hanya enggak enggak perlu beasiswa seperti itu. Jadi ini data-data yang ada di yang ada di kami. Yang ingin saya tanyakan Bapak terkait satu materi yang jenengan sampaikan tadi, pemetaan itu kapan bisa dilaksanakan atau mungkin sudah sudah ada dilakukan di daerah-daerah. Karena saya menilai untuk pengembangan kapasitas pengembangan manusia karir ini sangat dibutuhkan, Pak, dan mendesak menurut saya. Jadi itu apakah sudah ada dilakukan di daerah mana atau belum atau seperti apa? Lalu yang kedua bagaimana untuk bisa m-drive supaya pemetaan dan karir ini ideal gitu. Jadi non sewu kalau ada daerah-daerah mungkin yang bahkan teman-teman itu kalau ngobrol putus asa yo wis aku gak duwe sopo-sopo paling ya gak dadi opo-opo gitu. Jangan sampai itu terjadi. Jadi yang saya menilai ada tripod tadi mungkin bisa di minimalkan untuk keduanya sehingga hanya kompetensinya saja yang diutamakan. Mohon pencerahannya Bapak. Terima kasih. Persilakan Pak Sugeng Haryono untuk menjawab pertanyaan Pak Dani, Pak. Monggo, Pak. Oke. Baik, terima kasih Mas Dani dari LAN hidup Ngawi. Nggih. Tetap semangat ya. Coba dibuka tadi Andre di bahan paparan yang halaman 4 atau tadi ya. RPJPN tadi kita yang atas tadi RPJPN. Nah, halaman 3 ya. Oke, saya memberikan normalnya tadi saya mengingatkan bahwa sudah ada etikat yang sangat kuat dari negara ya, dari pemerintah sebagai pelaksananya di RPJPN kita ini untuk meninjau kewenangan kepala daerah sebagai pejabat pembina keparian. Tadi kan Mas Jani juga di dalam praktik misalnya ada transaktif ya, bahkan penegakan hukum juga sudah mulai dilakukan di sini. ini ya. Maka menjawab itu di RPJPN kita Undang-Undang 59 2024 ada arah kebijakan untuk mewujudkan merurkasi dan integritas itu salah satunya penujuan kemenangan kepala daerah. Ini tentu memberikan harapan bagi kita semua. Kemudian coba lompat ke halaman 20 tadi yang 9 kotak tadi ya. Tadi saya gambarkan kotak untuk mapping halaman 20 ya. 9 kotak untuk mapping. Mapping tadi didasarkan kepada dua penilaian. Yang pertama adalah potensi ya. Yang kedua adalah kinerja. Coba tolong kita halaman 20 antara potensi antara potensi dengan kinerja ini kan dua hal yang saling terkait biar nanti kita lihat sama-sama ya. kita tadi yang talent mapping tadi kotak tadi. Pertama kita lihat setiap ASN selalu punya potensi. Kalau kita petakan apakah potensinya masuk di rendah, sedang atau tinggi. Kemudian coba langsung halaman 20 ya. Kemudian dari potensi ini tentu tertransformasi dalam bentuk kinerja. Idealnya sih seseorang punya potensi tinggi, kemudian juga punya kinerja yang baik, yang tinggi. Itu idealnya. Maka dia ada di kotak nomor 9, Rising Star. Mereka yang sampai karir puncak pada usia yang masih sangat muda mestinya adalah mereka yang punya potensi yang tinggi dan juga punya prestasi kerja yang baik. Di situ ya. Artinya apa? sistem kalau kita terapkan ee manajemen talenta ini kalau diterapkan secara konsisten maka tidak ada lagi tadi pameo rumor ya tidak ada siapa-siapa maka enggak bisa jadi apa-apa enggak perlu ada pamiu seperti itu kalau kita menerapkan talent manajemen ini dengan baik ini sudah diterapkan di beberapa kementerian dan lembaga ya pemda Jawa Barat sudah cukup konsisten menerapkan seperti ini. Bahkan termasuk dalam hal pemberian TPP tambahan penghasilan pegawai mereka juga mendasarkan seperti ini. Orang dengan kelas jabatan yang sama belum tentu punya TEGomp yang sama. Kalau kinerjanya ternyata lebih rendah maka TPP-nya teronvert eh tertransfer kepada mereka yang kinerjanya lebih tinggi dari harapan dan diterapkan di Jawa Barat. DKI juga sudahi seperti ini ya. Artinya apa? Sekali lagi ini didasarkan harus pada kemauan kuat dari pemerintah daerah kepada Menteri Pimpinan Lembaga untuk menerapkan. Maka di dalam saran saya tadi coba halaman berikutnya saya sampaikan saran yang ketiga tadi perlu pelibatan kontrol publik yang luas media ya. ya. Okelah berbagai ormas yang pemantau pakai nama watch itu ya termasuk DPR, DPRD ya, media elektronik, media sosial sekalipun ketika mengontrol untuk misalnya pengisian suatu jabatan, jabatan apa yang kosong di suatu pemda, apa syarat jabatannya, siapa yang melamar, apa yang mereka miliki dari masing-masing pelamar, pada titik mana pelamar ini kemudian gagal, kenapa dia gagal? Ketika kotak talent tadi dibuka secara objektif dan kemudian ada kontrol publik, maka insyaallah setiap ASN itu akan punya harapan untuk sampai pada titik puncak dengan pertimbangan yang lebih objektif, jauh dari pertimbangan subjektivitas dari jabat pembinaan kepegawaian, dari user. Tentu sekali lagi juga harus diimbangi dengan tadi ada punishment, ada reward dan punishment. Kalau mereka yang tidak mau berkembang, punya potensinya sudah rendah, kinerjanya rendah, ya sudah kotak nomor 1 2 3 yang warna merah tadi ya punismenya ini apa enggak aman dia suatu saat bisa aja organisasi tidak membutuhkan mereka. Ini ini yang ee apa mestinya kita lakukan. Sekali lagi pada tatan regulasi sudah sangat berpihak kepada upaya untuk mewujudkan kinerja yang baik dengan talenta yang baik pada tatanan kebijakan. Nah, tinggal sekarang yang kita harus lakukan adalah pada tatanan implementasi. Tidak. Saya pikir demikian. Saya kembalikan kepada ee moderator atas jawabannya. Bagaimana Pak Dani? Apakah ada tambahan konfirmasi kembali atau sudah cukup, Pak Dani? Ya, cukup. Baik, terima kasih sekali lagi, Pak Dani. Ee dan untuk klaim souvenir, kami mohon izin untuk mengirimkan nama asal dinas dan asal daerah maupun alamat ke tim admin kami melalui chat Zoom ya, Pak Dani ya. Salam sehat selalu, Pak Dani. Thank you, Pak. Dan selanjutnya saya masuk ke penanya berikutnya. Ini sudah bergabung bersama dengan kami Bapak Adrianus dari Ombutsman RI. Saya akan sapa beliau. Selamat siang, Pak Adrianus. Selamat siang, Pak. Apa kabar? Kabar baik, alhamdulillah. Pak Adrianus, sebelum disampaikan, mohon izin untuk diperkenalkan terlebih dahulu nama, asal instansi, dan juga asal daerahnya. Silakan, Pak. Baik. Ee asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, mohon memperkenalkan diri saya Adrianus dari UnisM Republik Indonesia. tepatnya yang di daerah ee Kuningan, Jakarta Selatan atau Musmen Pusat. Baik, Pak Adrianus silakan disampaikan langsung pertanyaannya, Pak. Baik, terima kasih banyak, Pak. Mohon izin bertanya, Pak Sug. Materi yang disampaikan oleh Pak Sug pada pagi hari ini tuh sangat menarik sekali sehingga ee apa ya? Saya sempat berpikir gitu ya tadi kan di sini kan kalau kita melihat ya ee fenomena dari generasi ee Genzet atau Generasi Milenal tadi seperti disampaikan oleh ee apa tadi e MC ya itu apa mengelitik saya gitu ya. Nah, kalau kita melihat bahwa kecenderungan dari generasi milenal ee dan generasi Z ini kan dia bisa dikatakan ee apa kurang senang untuk membaca atau ee apa namanya literasinya sangat kurang gitu ya. Mereka istilahnya lebih lebih senang untuk diceritakan atau kalau kita nyebutnya bahasa syarianya lebih lebih sering disuapin gitu ya. Nah, pertanyaan saya itu adalah bagaimana cara untuk meningkatkan ee apa namanya ya minat baca gitu ya kepada generasi tersebut. Dan kita tahu bahwa dengan kita sering membaca kan e kita secara enggak langsung kan akan menambah pengetahuan terus juga menambah keterampilan kita yang nantinya akan berguna bagi ee apa namanya pekerjaan kita. Itu pertanyaan saya yang pertama. Terus yang kedua itu yang terkait dengan manajemen talenta. Ini sangat menarik sekali, Pak. Ee saya ingin bertanya ee apa bagaimana cara untuk memberikan nilai yang objektif terkait dengan ee apa namanya? penilaian kinerja dan juga untuk penilaian kompetensi atau potensi gitu yang dimiliki oleh pegawai secara objektif mengingat pada saat ini kan bahwa ee unsur subjektivitas itu kan masih berperanan ya yang cukup ee apa mengganggu juga gitu di dalam memberikan nilai dan juga berpengaruh pada nanti pemetaan di dalam landbx tersebut. Itu pertanyaan yang kedua. Terus yang ketiga ini adalah ee bagi pegawai yang masuk ke dalam kotak atau yang kita sering disebut sebagai kotak bintang ya atau boxstar itu kan ee apa harusnya kan mendapatkan suatu apa ya kayak entah penghargaan ataupun reward dari ee apa tempat dia bekerja. karena sekarang keterbatasan anggaran. Nah, hal tersebut itu kan agak sedikit susah nih. Nah, kira-kira itu ee apa yang sebaiknya dilakukan oleh kementerian atau lembaga yang memiliki pegawai sudah berada di kotak? Karena secara enggak langsung kalau saya melihat itu ee akhirnya pegawai yang di ada di kota itu akan menimbulkan di motivasi gitu. Dia sudah berusaha untuk ee bekerja secara optimal sehingga dia bisa masuk dalam kotor 9. Namun ya dia tidak menerima apa-apa gitu ya dari jadi paya dia untuk bisa menduduki ee di kota ini. Terima kasih Trianus. Ada tiga pertanyaan Pak Sugeng. Saya izin rangkum. Yang pertama adalah bagaimana menumbuhkan minat baca di kalangan generasi sekarang yang cenderung mengkonsumsi mikrokonten ya dengan waktu singkat. Kemudian yang kedua adalah bagaimanaa kita bisa memberikan penilaian objek dalam manajemen talenta. Kemudian yang ketiga adalah untuk talenta yang berada dalam kuadran star atau kuadran 9 apa yang harus dilakukan selain memberikan reward untuk mempertahankan motivasi mereka dalam bekerja. Silakan Pak Sugeng. Baik terima kasih Pak Adrianus. Ini kalau dari ori sudah ikut di sini harusnya ori semua ini pemikiran kita ini orinal baik ombutsmen Republik Indonesia ini kan termasuk salah satu yang mengawasi bagaimana kebijakan publik ini berjalan termasuk dalam hal penerapan manajemen talent ya ini malah terima kasih kalau bisa tadi yang saya paparan di halaman ee 20 dan 21 9 kotak manajemen talenta dan kemudian saran yang tiga tadi tadi syukur-syukur bisa diseriusi oleh teman-teman di ori ya nanti. Salam hormat untuk Pak Edi Caweng. Siap. Baik. Masih di sana ya. Ya itu adik kelas saya waktu 3 jam ada dulu. Robet di Jaweng nanti. Salam hormat. Oke. Yang pertama bagaimana saya meningkatkan minat baca? Mestinya minat baca ini tumbuh dari kesadaran kita. Tapi kesadaran ini untuk tumbuh tidak mudah. ini harus dimulai dari entitas paling kecil yang namanya keluarga. Keluarga, kemudian ya masyarakat, entitas kantor kita dan seterusnya. Pertama yang harus kita lakukan adalah dipaksa. Tentu memaksa di sini tidak dalam arti harus disiapkan cambuk, ya. Misalnya pada jam-jam tertentu kalau di rumah orang tua itu juga harus memberi contoh. Ketika orang tua menyuruh anaknya belajar, sementara orang tua sibuk nonton TV atau sibuk gadget, anak akan melihat inkonsistensi. Ya, tapi pada saat itu ketika orang tua memaksa belajar, membuka buku, menunjukkan sesuatu yang menarik bagi anak kecil ya ini sebut ini adalah upaya memaksa. Dia tidak boleh bermain yang lain selain membuka buku. Memaksa tapi dengan cara-cara yang baik. Kalau di kantor ya tentu saja bisa sejam misalnya kita memaksa orang untuk membuat resensi buku tolong dipresentasikan paksa apa isi buku itu nanti diminta untuk menjelaskan ke teman-temannya dipaksa melalui upaya dipaksa lama-lama orang terpaksa berbuat sesuatu karena terpaksa enggak apa-apa ya tapi dia ada reward dentanismenya nya anak kecil kalau kamu belum baca buku itu belum ada isinya belum bisa menjelaskan belum boleh dapat main yang lain contoh kalau di kantor belum menyelesaikan resensi buku maka belum bisa dikasih penugasan ke luar kota misalnya dipaksa terpaksa orang terpaksa tapi lama-lama akan terbiasa oke ternyata enak ya asyik membaca buku ya orang bisa terbuka wawasannya bisa menjawab banyak hal, bisa tahu banyak hal meskipun sekali lagi tidak selalu dikaitkan dengan karir. Karena membaca kalau sudah menjadi kegemaran juga orang tidak biasa membaca supaya naik jabatan tidak selalu orang punya wawasan, punya kesadaran ya kesadaran kritis itu menjadi terbiasa. Orang sudah terbiasa dengan budaya baca lama-lama akan terbudaya. Dan di negara-negara maju tadi saya sampaikan kita peringkat ke berapa ya? 31 dari 102 nomor 1 Amerika misalnya dan diserai pada level terbudaya dengan membaca ketika mengantri mereka membaca naik tr naik MRT mereka di dalam situemba tidak lagi sekedar mendengarkan musik atau ngobrol atau melamun ya tapi membaca kita melihat budaya membaca itu sudah tumbuh menjadi bagian dari budaya mereka sehari-hari untuk sampai level itu tentu itu sekali lagi ada tadi steping-steping dari mulai dipaksa, terpaksa, terbiasa, baru kemudian sampai terbudaya. Dan ini harus dimulai dari organisasi terkecil keluarga. Bahkan dimulai dari anak yang sejak dari kecil untuk membaca. Ketika orang tua menceritakan sesuatu dengan membuka buku, maka anak-anak, oh ternyata itu ada di dalam buku. apa yang tadi dijelaskan orang tuanya ini saya karena membaca ini ingin tahu lebih banyak baca tentu sesuaikan dengan anak konsumsi perkembangannya ya yang ada audio visual yang lebih banyak gambar tetapi menchallenge orang untuk ingin tahu lebih banyak tapi level perkembangannya kalau di ASN ya tidak lagi seperti itu ya tadi misalnya hal yang mudah saja dipaksa untuk meresensi buku ini seminggu sekali kali saja dan ya ini pribadilah sekali lagi mestinya pada level orang yang sudah selesai dari perguruan tinggi apalagi sudah membuat skripsi tesis disertasi mereka yang sudah level maturitasnya tinggi untuk membaca mestinya tapi dalam faktanya kan tadi ada brain road tadi otak sudah lelah tidak lagi mau membaca apalagi membaca pesan-pesan pendek atau di medsos dianggap sebagai kebenaran padahal tidak dilakukan triangulasi data tidak ada verifikasi data ini berbahaya ya. Yang kedua tadi bagaimana cara melakukan penilaian kinerja potensi secara objektif. Tentu kita membutuhkan instrumen yang lebih objektif. Misalnya ada evidence terkait dengan potensi seseorang sudah ikut pelatihan, sudah selesai pendidikan formal dan informal, sudah ikut pelatihan, mana evidence-nya? Jelas. Nah, evidence ini menjadi evidence base untuk melihat seseorang potensi atau tidak. Ada enggak tulisannya, pengakuannya dari internasional, dari kantor dan seterusnya. Termasuk juga dari penilaian sejawat, teman-teman sejawat dari sosiometri. Pengakuan kinerja seseorang bisa dilakukan dari pengakuan anak buah, teman kerja, atasan, bahkan termasuk customer, pasarakatas. Ini bisa kita lakukan. Ini lebih objektif. Ya, penilaian yang objektif juga bisa dilakukan ketika ada lembaga tersendiri yang melakukan memantau itu. Sebetulnya salah satunya bisa dari ori ya. Bagaimana apakah 9 talent maping tadi sudah diterapkan enggak di suatu kementerian dan lembaga? Coba evidensinya apa? Seseorang pada level 6 7 8 9 itu seperti apa? Siapa mereka? Evidensinya apa? Apa yang bisa mereka kerjakan? pada level 7 89 itu dan seterusnya. Nah, ini. Nah, kemudian yang terakhir ya orang yang sudah sampai pada level tertinggi misalnya 9 tadi, bagaimana supaya tidak terdemotivasi tadi ini saran ini tapi sudah mulai dilakukan meskipun agak terbatas perlu ada cross cutting karier. Coba di halaman 21 tadi sayaangkan lagi saran saya yang kedua tadi ya. Pola karir yang sifatnya cross cutting. Ketika satu institusi jenuh misalnya jenuh di sini bukan berarti jenuh orangnya tapi jabatannya enggak ada yang kosong. Sementara yang daftar tumbuhnya banyak nih, yang potensi talentanya bagus, maka mestinya kementerian, lembaga, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, korporasi saling membuka diri, saling menginformasikan. Ini loh di tempat saya ada orang yang paletanya bagus, attitud-nya bagus, kinerjanya bagus, tapi kota organisasi kami enggak bisa nampung karena sudah penuh jabatannya. Banyak sekali yang seperti ini di tempat kami misalnya. Kenapa tidak? Sebagai contoh misalnya ini ya tidak bermaksud mempromosikan sesuatu tapi misalnya satu ee korporasi swasta ya ini terjadi apakah boleh disebut ya karena nanti kayak promosi ya kayak mengendorse gitu ya. ini terjadi dalam praktik misalnya buka lapak ada satu tenaga engineer yang bagus ya masih muda yang kemudian dia terinformasi kepada korporasi dan kemudian BUMN mengambil itu. Sekarang misalnya rekruitmen DPUn terutama pada sisi board of eh apa namanya bukannya komisaris ya yang manajemennya ya sangat mungkin mereka mengambil dari kementerian lembaga pemerintah daerah atau antar korporasi dari orang-orang yang talentanya terbaik ini yang saran saya yang kedua dan ini ombudmen pada posisi harus mengawasi mereka yang terbaik yang sudah ee memberikan kinerja yang terkait, potensinya tinggi, umur masih relatif muda, masih bisa dikembangkan. Mestinya antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah, BUM dan PUM di korporasi bisa saling bermanfaat. Ini untuk menghindari tadi demotivasi. Saya pikir itu respon dari kami. Saya kembalikan kepada moderator. Terima kasih. Terima kasih Pak Sugeng untuk jawabannya. Thank you juga kepada Pak Adrianus atas pertanyaannya. Mohon izin jangan lupa untuk mengirimkan identitas termasuk alamat ke tim admin kami melalui chat Zoom untuk klaim souvenir. Thank you sekali lagi Pak Adrianus untuk pertanyaannya. Baik, terima kasih banyak Pak Sugang. Terima kasih. Makasih. Sukses Pak Adrianus. Ee Adrianus. Baik Pak Sugang. Kita sudah berada di akhir sesi kedua pada siang hari ini. Sebelum kami tutup dan berikan kesempatan ke narasumber selanjutnya, barangkali dari Pak Sugeng ada closing statement yang ingin disampaikan. Silakan Pak Sugeng. Baik, terima kasih. Sesuai dengan tema besar kita ASN merayah asa, tentu kita harus punya asa. Yang menggerakkan kita untuk terus hidup, terus maju adalah asa harapan. Nomor satu, harapan tentu tidak akan datang dengan sendiri. Harus ada ekstra impor, ikhtiar yang luar biasa. Salah satunya melalui membaca, salah satunya melalui belajar yang terus-menerus. Tentu belajar ini akan mengarahkan kita untuk ya walasan lebih luas, kesadaran lebih tinggi, dan kemudian kinerja yang lebih tinggi. Dengan cara seperti itu, maka asa harapan kita akan terwujud. Saya pikir itu. Saya kembalikan kepada moderator. Terima kasih. Terima kasih, Pak Sugeng Haryono. Salam sehat selalu, Pak. Sampai bertemu lagi di event selanjutnya, Pak Sugeng. Kasih sukses selalu dan Sobat SN. Bagi sobat ASN yang belum sempat bertanya, jangan khawatir karena kita masih ada satu sesi dengan narasumber kita yang terakhir tetap di webinar ASN Belajar seri 25 tahun 2025. Baik, Anda kembali menyaksikan webinar ASN belajar 25 tahun 2025. Sobat ASN, kali ini materi terakhir akan disampaikan oleh guru besar bidang manajemen sumber daya manusia Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Erlangga, Prof. Dr. H. Yusuf Irianto. [Musik] Selamat siang, Prof. Yusuf. Bagaimana kabarnya Prof? Selamat siang. Alhamdulillah baik dan sehat, Pak Lukman. Baik, Prof. Yusuf. Tadi sudah disampaikan oleh pembicara pertama kita, Bu Erna, bahwasanya yang paling penting dimiliki itu adalah growth mindset. Ya, kemudian tadi Pak Sugeng sudah menyampaikan juga bahwasanya dalam lingkungan kerja kita ini perlu diadakan talent mapping. Kemudian pendekatan-pendekatannya pun juga harus fleksibel dan adaptif sesuai dengan kuadran masing-masing talent. Nah, kali ini kita akan mendengarkan paparan menarik dari Prof. Yusuf terkait inset-inset apa yang perlu untuk diperhatikan untuk menumbuhkan keinginan belajar di lingkungan ASN. Ee izin juga Prof. Yusuf untuk penyampaian materi kurang lebih selama 30 menit. Nanti kita akan masuk ke sesi tanya jawab. Saya persilakan Prof. Yusuf. Baik, terima kasih. Saya izin eh share screen dulu ya. Mudahan gak ada kendala. Apakah suara saya bisa didengar? Mas Lukman sudah terdengar dengan jelas Prof. Bismillah. Ee bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik ee hadirin yang saya hormati, kita akan membahas beberapa hal terkait topik kita yang penting ya dalam rangka meraih ASA. Kita sebagai ASN itu masih punya harapan di masa depan. Nah, dengan cara apa ASA itu diraih? Tentu kita harus mensikapinya dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip bagaimana kehidupan ini sebetulnya harus diwarnai dengan pembelajaran sebagai salah satu cara kita untuk ee melakukan adaptasi ya, penyesuaian diri terhadap ee hal-hal yang berubah di sekitar kita ya. Dan ini sebagai tugas fungsi kita sebagai ASN tentu kita adalah mengabdi sepanjang usia kita ya. ini adalah tema yang menyentuh ya, tidak hanya menari tapi juga menyentuh ya. Luar biasa PPSDM Jatim ee menetapkan tema ini. Ee saya mengutip dari dua orang yang saya hormati ya, dari sisi keagamaan itu ada Hasan Albasri dan dari sisi keilmuan saya itu adalah dari Stepen Cofe. Kalau kita belajar itu akan tampak dalam wajah kita ya, tangan kita, lidah kita. Itu maksudnya adalah ucapan kita ya. ee bagaimanakah kita menunjukkan satu gairah ya dalam hidup ini yang positif, optimis ya. Ucapan-ucapan kita, sikap kita, kita itu adalah sesuatu yang berdampak pada masyarakat. Namun tidak menghilangkan kodrat kita sebagai manusia untuk selalu rendah hati, tidak sombong ya. Apalagi kepada sang pencipta, sang khali yaitu Allah Subhanahu wa taala. Nah, kalau dari stok COVID itu mengajari kita bagaimanakah yang kita lakukan. Saya sebagai dosen, guru besar di UNER ya dan juga Bapak Ibu sekalian sebagai ASN di tempat masing-masing itu punya dampak yang besar dari apa yang sekedar kita katakan. J apalagi sekarang ini adalah sesuatu yang dikaitkan dengan impacting ya. Jadi semua hal yang kita lakukan harus berdampak. ASN berdampak, inovasinya berdampak ya tugas kita berdampak, universitas berdampak ya seah kita ini selalu dikenalkan dengan kata-kata baru dan itu menuntut kita untuk harus tahu apa maksudnya dan kalau kita pengin tahu maksudnya tentu kita harus belajar. Makanya kan belajar itu sepanjang saya dikandung badan ya. Ee mulai dari kita lahir sampai kita mau masuk yang lahat. Nah, gitu. Itu penting sekali belajar itu tanpa ada tekanan, tanpa ada perintah, tapi kita sudah punya kesadaran bagaimanakah sebetulnya belajar itu adalah sesuatu kultur. Nanti akan saya sampaikan dengan berbagai macam pembahasan yang ada dalam agenda kita. Tidak usah saya baca satu persatu untuk menyingkat waktu. Nah, ini ya belajar itu adalah budaya atau kultur. Kultur itu adalah sejumlah nilai yang kita sepakati bersama untuk memposisikan diri kita itu sebagai ee orang yang tepat. Tepat sebagai seorang dosen ya, tepat sebagai seorang ee fungsional di lembaganya masing-masing ya. Tepat sebagai ASN yang bekerja dengan tanggung jawab dan tugas-tugas tertentu. Ya, itu ada nilainya, ada value-nya. Maka setiap saat kita harus kreasi nilai ya, mengkreasi nilai, mengcreate satu nilai value creation. Dari tugas kita sebagai seorang ASN, apa yang menjadi nilai yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat? Itu harus kita bisa jawabnya. Karena kita digaji oleh rakyat gitu ya. Saya digaji oleh R karena saya PMS sebagai dosen, maka saya harus berusaha semua dosen ya, tidak hanya saya berusaha untuk lakukan value creation dan itu tidak mungkin kalau dosen itu tidak belajar. Demikian juga panjenengan semua. Nah, sekarang belajar itu lebih mudah lagi karena apa? Ada paradigma connected learning dengan adanya teknologi internet ya. kita pajar pakai Zoom seperti ini dan seterusnya ada distant learning yang dihubungkan dengan eh teknologi yang namanya connected learning ya. Belajar yang terkoneksi dengan internet misalnya belajar terkoneksi dengan HP kita ya belajar terkoneksi dengan jejaring kita. luar biasa itu. Jadi beda dengan zaman saya kuliah ketika tahun-an ya yang harus datang ke Perpus untuk mencari sumber-sumber pengetahuan dan seterusnya ya. Ini adalah teknologi digital yang mendukung kita untuk mudah mengakses pengetahuan. Nah, namun ya untuk hal-hal tertentu ya yang sifatnya pelayanan masyarakat yang harus berhadapan dengan masyarakat tetap kita harus belajar ee di tempat ya. Karena apa? Tempat kita, kantor kita, ya, working space kita di instansi masing-masing itu adalah tempat kita belajar ya. Pembelajaran berbasis tempat atau offline itu tetap penting karena nanti dari situ kita dapat tahu ee apa yang terjadi di kantor kita masing-masing dalam rangka memberikan layanan terbaik bagi masyarakat. Terus improvement ya. terus kita berbahagi dengan belajar di masa yang lalu untuk kita berbahagi keadaan di masa ee masa depan agar rakyat ini bisa menikmati layanan kita yang selalu lebih baik dan sesuai kebutuhan mereka. Dan ini yang penting Bapak Ibu ya yang penting tadi ada penanya yang mengkaitkannya dengan karir ya bahwa pendidikan belajar dan karir itu punya korelasi yang signifikan ya. Kalau Anda belajar jangan jangan khawatir pendapatan nanti Anda akan naik entah dari mana kita karena rezeki itu datangnya dari Allah ya. Kalau karir insyaallah ya dengan track record kita yang baik ya dengan macam-macam syarat-syarat yang harus kita penuh itu baik semuanya insyaallah dengan baca itu semakin meringankan kita untuk menapak KW yang lebih tinggi. Kalau KW semakin tinggi, pendapatan semakin tinggi dan orang-orang Amerika dan Eropa yang sangat materialistik itu yakin kalau kita ikut pelatihan pendidikan itu otomatis ee apa pendapatannya akan itu ada di situs ini Bapak Ibu lihat ya dan ini nanti akan saya kutip tentang apa learning and technology itu. Nah, sebagian besar nanti saya kutip dari eh situs ini namanya Research Center di Amerika Serikat. Ini ada sebuah fakta ya. Tadi saya sebut bahwa belajar itu adalah culture, budaya bukan sesuatu hal yang memaksa kita gak ya. Jadi tidak ada paksaan dalam belajar ya. Ini ada riset dari Research Center sebagai satu lembaga yang terkemuka di Amerika Serikat ya. Itu mereka tahu bahwa warga Amerika Serikat itu merasa dirinya itu sebagai pembelajar sepanjang hayat. Karena apa? Kalau kita lihat ya para turis secara umumlah kok naik kereta itu mereka pasti baca gak gak ngobrol kayak kita ya baca apalagi orang Jepang ya nanti berapa persen persentase dari orang-orang Amerika yang merasa dirinya itu e pembelajar ya supaya apa dari membaca itu ya membaca yang namanya pengetuan eksplisit di dalam buku atau pengetan implisit dalam pekerjaan kita sehari-hari itu adalah sebuah sebuah ucap upaya kita untuk mengumpulkan knowledge ya atau knowledge gathering, mengumpulkan pengetahuan dan itu tentu saja sesuai minat kita dan terkait pula dengan pergaan kita. Ingat ya, jadi belajar sebagai individu dan belajar sebagai profesional. Kalau kita belajar sebagai individu itu adalah sesuai minat kita. Tapi kalau kita belajar sesuai belajar profesional itu adalah sebagai profesi kita. ASN belajar terhadap tugas-tugasnya ya demi meraih sesuatu yang lebih baik di masa depan. Karena apa? Skill meningkat, wawasan luas itu mendorong kita untuk tetap semangat menatap hari esok sebagai ASN ya. Dan kalau sudah semangat itu wah kelihatan kita raut Mekah kita. Seperti yang dikatakan Pak Hasan Basri tadi ya, ulama terkemuka di zaman Umayyah dulu itu ya. Wajah kita berseri-seri melayani masyarakat itu dengan tersenyum bahagia. ikhlas gitu ya. Passion-nya itu adalah pelayanan itu teru terbaca di wajahnya itu Bapak Ibu belum menyadari ya saya itu bisa melihat ya bagaimanakah ketika saya butuh mendapat pelayanan SIM KTP dan seterusnya itu ada ASN yang berseri-seri yang melayani kita ya itu ya. Oh, kalau sudah begitu rakyat senang dengan kita ya. Dan orang-orang di Amerika itu belajar di mana saja gitu. Ada di rumah, di tempat kerja ya. Dan dalam konteks seperti ini, internet itu adalah alat yang paling penting untuk menunggu kita menjadi orang yang selalu belajar, dapat pengetahuan. Maka manfaatkan internet yang ada di sekitar kita dengan Wi-Fi ya, dengan up gadget kita. Itu adalah sesuatu yang bisa menambah knowledge kita. Ini mereka bilang ya survei research center tahun 2016 dan itu update terus ya sebagai pembelajar berkelanjutan itu mereka disurvei ya warga Amerika Sikat itu sebanyak 73% saudara hampir hampir apa bukan hampir ya di atas PAU warga Amerika itu adalah sebagai pembelajar sepanjang masa luar biasa banyak temuan-temuan penting banyak perai Nobel itu ya dari Amerika Karena tradisi mereka belajar. Kita tadi disebutkan oleh Pak Sugaryo ya, bagaimanakah kita itu banyak ngobrolnya dan belajarnya. Ya, bandingkan dengan Amerika yang meraih prestasi seperti itu ya. Meskipun dalam banyak hal Amerika itu sekarang tertinggal lagi dengan negara Cina tapi coba dari survei ini kita bisa belajar dari Amerika ya. Nah, ini ada pembelajar pribadi sebanyak 74% ya itu adalah pembelajar pribadi yang dia itu ikut terlibat dalam satu kegiatan minimal dalam setahun untuk menambahkan pengetahuan wawasan ya membaca kursus pertemuan dan seterusnya itu 74%. Lalu ada 63% ee sebagai pembelajaran profesional yang itu terkait dengan peningkatan skill dan eksertis terkait kemajuan K. Nah, di Indonesia belum ada studi, tapi kita harus ee berpikir bahwa kita adalah termasuk orang-orang yang berkategori pembelajaran baik sebagai individu maupun sebagai profesional. Karena itu tuntutan. Jangan sampai dalam pergaulan sosial ya kita ini ketinggalan pembicaraan. Kita hanya jadi pendiam penonton ya pasif karena kita gak tahu apa-apa. K terus kosakata baru bermunculan akibat orang itu belajar sesuatu yang baru lah. Kalau kita gak belajar, jangankan artinya ya, makna yang lebih dalam dari kosakata yang diucapkan orang-orang yang terbaru itu gak paham kita. Akibatnya kita minder dalam perguruan sosial dan mengasingkan diri. Lalu ada anti, ada kecemasan mental illness. Itu kan yang terjadi sekarang. Coba hentikan dengan orang yang belajar, wajahnya cerah ya, ucapannya itu tegas begitu karena dia paham terhadap situasi yang dihadapinya. Baik situasi kehidupan sehari-hari sebagai pribadi maupun situasi di kantornya. Dia paham mengikuti update terus kebijakan-kebijakan dari pemerintah itu ya. Oke, coba ini alasannya apa? Rasanya orang-orang Amerika itu merasa kalau dia belajar 80% Bapak Ibu ya membuat hidup itu lebih menarik, atraktif dan bermakna ya dengan membaca kitab suci Al-Qur'an misalnya ya atau kitab suci dari agama lain ya ada wawasan kita meningkat dari sisi religius kita ya tren sehari-hari kita baca koran ya yang sekarang sudah ada e papaper e newspaper itu akhirnya apa dia merasa bahwa oh ada sesuatu yang baru dan ini mesti kita lakukan. Hidup lebih bermakna. Nah, yang penting 64% itu merasa bahwa dia bisa menguk orang lain dengan lebih efektif melalui apa proses pembelajaran. Dan yang penting Bapak Ibu ada 60% dari ee apa responden itu memiliki waktu luang untuk belajar ya. Disediakan khusus. Kalau kita sebagai ASN mungkin ada desakan karena ada aturan ya ada 20 jam minimal 20 jam pelajaran ya kita harus ikut pelatihan atau pendidikan untuk meningkatkan kompetensi itu paksaan undang-undang dan kita harus melakukannya. Tapi ini ada s ee ada orang 60% jumlahnya di Amerika itu yang merasa bahwa dia itu menyediakan waktu khusus untuk belajar. Nah, gitu ya. Sekarang kita bertanya pada diri kita sendiri berapa pers waktu untuk kita. Nah, ini ya. Terus ada juga yang berpikiran bahwa ee mengubah hobi menjadi sesuatu yang menghasilkan pendapatan ini dari membaca tentang sesuatu akhirnya kita bisa menghasilkan suatu produk dan produk itu bisa dijual. Itu 36% orang melakukannya di Amerika ya. Kemudian 33% mengikuti perkembangan generasi baru ya. Jadi kalau Anda punya anak, punya cucu itu didiklah sesuai dengan apa yang menjadi nilai-nilai dasar kehidupan pada saat ee apa nilai kebaikan itu bisa diturunkan seterusnya. Jadi bukan mendidik anak sesuai zamannya, tapi mendidik nilai-nilai yang itu berpegang tu pada nilai-nilai dasar kehidupan itu 33%. Oke, ya. Oke. Jadi kalau kita belajar alasan ee belajar sepanjang hayat itu ada meningkatkan skill, mendapatkan mendapatkan kebian baru. Ya, jangan khawatir, karir kita akan melesat dengan belajar itu dan pekerjaan baru apa menanti kita baik di luar organisasi kita maupun di ee di dalam organisasi kita. Kalau Anda mau lift dari PNS atau ASN tersedia itu ya. Tapi saya rekomendasikan jangan live ya. kita terus mengabdi ya di birokrasi pemerintahan ini untuk melayani rakyat sebaik-baiknya ya. Nah, 70% 7% orang merasa khawatir kalau kita gak belajar nanti kita terkena dengan kebijakan perambingan. Itu terjadi di sektor swasta pada umumnya ya Bapak Ibu ya. Jadi ada sejumlah alasan atau pilihan rasional mengapa kita ini harus belajar sepanjang hayat agar kita terus dapat dipercaya untuk mengabdi demi kepentingan bangsa dan negara ini. Nah, gitu ya. Dampaknya Bapak, Ibu ini survei hasil surveinya ya. Saya kutip dan saya terjemahkan di sini bagi 74 orang, 74% orang yang merasa sebagai pembelajar pribadi tadi itu merasa lebih mampu dan sudah bisa jumlahnya 87%. Ini luar biasa ya. Jadi namanya presisi ya itu namanya ada ee itu namanya self confidence ya, self confidence dan self efikasi. Kalau self confidence itu percaya diri, tapi kalau sudah self efikasi itu adalah orang-orang yang apa melakukan pekerjaan itu yakin bahwa itu benar. pasti benar seperti sepak bola Ronaldo atau Lionel Messi ya itu sekali tendangannya pasti masuk ke gawang. Nah, itu namanya self efikasi. Nah, itu bisa diperoleh dari belajar ya. Ada banyak hal yang kita bisa peroleh dari belajar itu sebagai pembelajar pribadi. Nah, kalau bagi 63% orang yang belajar secara profesional itu memperluas jejaring profesional. Oke, kita belajar seperti ini ya. itu nanti kita kenalan ya, ada jejaring baru untuk kita. Ingat, satu orang yang masuk nomor HP-nya ke HP kita itu adalah rezeki bagi kita ya. Dalam artian apa? Bukan ee bukan masalah rezeki itu uang bukan. Tapi kalau nanti ada apa-apa ya kita bisa kontak ee pada teman-teman kita yang baru itu. Itu sangat menguntungkan networking. Baik ya, saya lanjutkan. Nah, sekarang polanya bagaimana? Ini harus kita pahami betul ya, bahwa realitas di Amerika itu juga hampir sama dengan kita. Kalau misalnya tingkat pendidikan ya dan pendapatan rumah tangga atau household income ya itu tinggi dan terhubung internet juga lebih tinggi itu terlibat cenderung terlibat aktif dalam ekosistem pendidikan. Sebaliknya gitu, orang-orang yang pendidikan rendah, pendapatan rumah tangganya rendah dan tidak atau sulit terhubung internet itu cenderung untuk tidak terlibat dalam ekosistem pembelajaran. Bapak, Ibu, Anda bersyukur sebagai ASN. Pemerintah sudah mensejahterakan kita sebagai ASN kan dengan gaji pokok, dengan remunerasi dan sebagainya ya. Berbagai macam insentif diberikan kepada kita. Itu artinya apa? Pemerintah berusaha untuk meningkatkan pendapatan kita. income kita meningkat, sejahtera kita, lalu pendidikan kita dengan adanya lembaga-lembaga yang mendikan beasiswa, kita bisa improve ya dari sekedar SMA ke S1, dari ee diploma, diploma ke S1, S1 ke S2, S2 ke S3 itu semakin tinggi kita semakin merasa gak gak ada apa-apanya. Ingat ya tadi ya dari Hasan Albasri bahwa semakin banyak ilmu kita semakin kayak padi merunduk kita gak sombong. Itu artinya apa? kita masih butuh terus butuh untuk terus belajar ya tingkat pendidikan tinggi bukan merasa dirinya serba mampu tapi masih banyak hal yang perlu digali lalu ditopan dengan pendapatan rumah tangga kita yang kita alokasikan sebagian dari pendapatan itu untuk belajar apalagi kalau kita dapat beasiswa itu semakin memberikan semangat pada kita dan yang terakhir adalah kalau kita terhubung dengan internet manfaatkan internet itu untuk belajar nah itu survei dari bi research resarch center itu ya kondisi kita itu adalah kondisi yang signifikan kaitannya dengan ee proses belajar kita. Oke ya. Nah, sekarang apalagi ya dengan ee beberapa macam siklus di dunia yang disediakan secara apa itu filantropis oleh beberapa lembaga seperti ee yayasan siapa itu? Pencipta Microsoft itu ya. Lalu ada juga adakan akademik ya, ada distant learning, ada kursus daring secara massalnya atau MOO eh C itu ya yang diadakan oleh universitas dan perusahaan itu tersedia banyak ya dan ini adalah sesuatu yang bisa kita manfaatkan baik ada yang berbayar maupun ada yang gratis dan itu lebih banyak gratisnya. Luar biasa, Saudara. Jadi di era connected learning seperti ini, itu rugi kalau kita gak manfaatkan internet demi keman kita. Dan rugi besar kalau kita ini gak belajar. Ya, kita akan tertinggal dengan orang-orang yang selalu mengaksesi internet untuk meningkatkan kapasitas mereka. Karena apa? Ada banyak platform dan metode pembelajaran digital yang memungkinkan kita itu setiap saat dapat belajar. Ya, waktu sanang kita di luar pekerjaan kita sehari-hari kita gunakan untuk belajar. Pokoknya ada makna di balik setiap detik kehidupan kita ya. Nah, sekarang fokusnya jangan sembarang belajar kalau itu tidak terkait dengan satu minat kita dan kalau tidak terkait dengan pekerjaan kita. Karena apa? Dengan fokus belajar itu kita menaruh perhatian ya ikut pelatihan atau kursus atau apa saja ya. itu digunakan untuk mempelajari dan meningkatkan keterampilan kerja. Ya, sementara dari ee hasil surveinya P resal center itu mengatakan bahwa hanya sepertiga yang mengikuti pelatihan itu untuk mendapatkan lisensi atau sertifikasi. Ya, kita butuh sertifikasi ya, kita butuh lisensi untuk pekerjaan kita. Tapi itu hanya sepertiga aja. Dua per3nya itu adalah untuk meningkatkan skill mereka ketika dia belajar sebagai seorang prof profesional termasuk kita ini sebagai ASN. Nah, begitu ya fokusnya ya. Jadi ee orientasi belajar itu dikatakan sebagai sesuatu kepentingan dua pihak yaitu kepentingan kita sebagai seorang individu pribadi maupun kepentingan organisasi kita tempat kita belajar. Dua-duanya harus seimbang ya. Jangan kita belajar sesuatu yang hanya berorientasi pada kepentingan kita. Nanti apa? Kita tidak akan mendapatkan apa-apa daripada apa yang harus kita lakukan dengan belajar untuk pekerjaan kita itu. Jadi balancing ya. Jadi ada keseimbangan antara kepentingan kita dengan kepentingan organisasi ya. Sebaliknya juga demikian ya, supaya Anda itu hidup lebih menarik, bersemangat, Anda juga dorong belajar untuk kepentingan Anda. Jangan hanya belajar tentang kegiatan kegiatan sehari-hari di pekerjaan di kantor Anda. Makanya saya katakan ini harus balance ya sebagai hasil dari temuan BU Research Center gitu. Lalu sifat-sifat pekerjaan. Nah, ini ya. Dan ini ee berkorelasi dengan tempat belajar kita. Misalnya apa? Kalau ada survei ini salah satunya saya saya kutip ya. Sifat pekerjaan di pemerintahan kayak kita dan pendidikan kayak saya ini ya sebagai seorang dosen ya itu cenderung mengarahkan untuk belajar di tempat kerja. Jadi sebaiknya ASN itu kalau terkait hal teknis viw center riset itu merekomendasikan agar kita belajar di tempat on the job training gitu ya misalnya gitu ya. Tapi kalau hal yang terkait dengan pemenuhan wawasan ya peningkatan wawasan dan yang terkait dengan penambahan pengetahuan itu bisa dilakukan secara daring seperti ini se yang kita lakukan dalam forum ASN belajar ya. Jadi, Bapak Ibu kita akhirnya bisa tahu ya paham setelah kita diberi wawasan oleh Ibu Deputilan tadi ya dari Ibu Dr. Erna Irawati dan juga dari eh Bapak Kepala BPSDM Kemendagi tadi ya Pak Dr. Sugeng Haryono. Akhirnya dengan materi ini saya berharap bahwa semua itu terangkum menjadi satu kaitan yang ee erat erat relasinya antara materi pertama sampai ketiga ini ya. Dan itu menjadi sesuatu yang bisa menjadi modal Bapak Ibu. untuk menyemangkati diri sendiri bahwa masa depan itu masih jauh dan kemungkinan perubahan itu terus terjadi. Maka kita harus menyesuaikan perubahan itu dengan ilmu pengetahuan. Caranya apa? Dengan belajar ilmu. Nah, begitu ya. Baik, kita lanjutkan ya. Nah, ini ada sesuatu yang harus kita perhatikan. ee kita dituntut ya seorang guru, seorang dosen ya, seorang ee pejabat fungsional di kantor masing-masing, seorang ASN, PNS ya, P3K itu dituntut punya fundamental skill ya. Asumsinya apa? Karena akan ada beberapa pekerjaan yang akan terspesialisasi ya, terutama di bahasa tenaga kerja yang ee ada automaticalitinya ya. Jadi ada eh artificial intelligence, ada chatboard dan sebagainya ya di era digital dan perubahan yang dinamis itu butuh keterampilan dasar atau basic skill atau fundamental skill. Untuk apa? Untuk memenuhi tiga kriteria yang dibutuhkan. Satu ya menambah nilai adding value di luar outsets of automatic. Seperti juga adanya keadilan AI. Banyak orang khawatir bahwa dirinya itu digeser peranannya oleh AI. Ya, pagi hari ini saya baca di sebuah ee harian terkemuka di Jakarta itu memang ada satu survei yang menunjukkan bahwa nasional di Indonesia ya semakin banyak pekerjaan yang tergerus oleh I. Terus ke mana tenaga kerja kita yang baru masuk pasar tenaga kerja ini? Maka kita harus punya nilai tambah dalam kehidupan kita dan itu di luar jangkauan AI ya. Maka bergaul itu penting, berjejaring itu penting supaya apa? Menambah pengetahuan kita tentang apa saja yang kita butuhkan saat ini ya. Jadi jangan merasa pesimis bahwa semua bisa dilakukan. Tapi ada ada yang menyebabkan kita optimis itu bahwa ada sesuatu yang bisa kita lakukan dan itu tidak bisa dilakukan oleh mesinah gitu ya. Maka Anda dituntut untuk aktif dalam lingkungan digital. Ini adalah skill kita. aktif dalam itu adalah butuh skill ya termasuk mampu mencari situs-situs yang terbaik untuk belajar itu seperti apa ya. Jadi tidak semua orang yang mengaksesi internet itu akhirnya sadar bahwa ada beberapa situs yang bermanfaat untuk belajar itu. Dan yang ketiga adalah kemampuan kita untuk menyesuaikan diri terus dapat beradaptasi dengan cara-cara pekerja yang baru dan pekerjaan-pekerjaan yang baru yang timbul akibat kemajuan peradaban manusia itu. Nah, ini katanya Bure Resour Center menjadi satu modal dasar kita dan kita harus punya kemampuan seperti itu di era connected learning ini ya, di era belajar yang terkoneksi dengan bermacam-macam teknologi itu namanya fundamental scale ya. Nah, ini saya kutip dari pendapat yang lain. Kalau tadi kita banyak bicara dari Bu Reset Center di Amerika ini ada ee sebuah lembaga yang ternama Mcen ya. Mcken ini adalah satu lembaga yang bermartabat di dunia. Dia bilang bahwa ada empat kategori fundamental skill yang perlu terus kita pelajari ya. Yang perlu kita terus pelajari. Artinya apa? Sepanjang hidup kita itu untuk memenuhi skali ini ya. Satu adalah kognitif, kemampuan kita berkomunikasi dan fleksibilitas mental. Ah saya prihatin Bapak Ibu ya. Saya prihatin ketika kemarin saya ketemu beberapa teman dari BKN dan BKD Jatim ya merasa bahwa kok begini anak-anak sekarang ini ya mentalnya mohon maaf saya katakan mental pecundan ya ditempatkan satu ditempatkan pada suatu tempat kerja yang itu di luar dari kehendak mereka lalu tiba-tiba sudah diterima menjadi calon BNS tiba-tiba pamit keluar ini kan merugikan negara ya ingat ngerekut satu orang sampai dia jadi calon PNS itu biaya sangat besar. Tiba-tiba hanya karena dia penempatannya tidak sesuai dengan harapannya dia mengundurkan diri. Nah, ini kan menyusahkan negara. Tidak siap mentalnya untuk fleksibel menerima tantangan padahal itu kognitif yang sangat dibutuhkan. Kinsik orang siap menerima tantangan apapun termasuk lokasi pekerjaan dan ini berat saudara ya. Lalu yang yang kedua adalah fundamental skill-nya adalah eh literasi digital. Coba Bapak Ibu searching di internet berapa skor literasi digital kita. Alhamdulillah kita naik ya tapi belum sesuai dengan harapan. Literasi digital masyarakat Indonesia masih relatif rendah ya dibandingkan dengan negara ASEAN yang maju seperti Singapura atau Malaysia apalagi dengan dunia ya seperti negara-negara Skandinavia dan seterusnya. Lalu yang ketiga itu adalah skill fundamentensi itu adalah interpersonal. Kita bisa efektif bekerja dalam tim. Ingat ya Bapak Ibu ya, ada lima faktor yang mempengaruhi kita berhasil dan bekerja itu. Satu faktor kita sendiri. Kalau kita selalu belajar kita akan dihargai orang. Yang kedua adalah pemimpin kita. Pimpinan kita itu adah pimpinan yang supportif. Ya, kalau pimpinan kita itu gak support ke kita, gak suka sama kita, like and dislike. Apa jadinya kita? Yang ketiga itu adalah kawan kita. Ya, kawan kita itu tergantung dari kemampuan interpersonal kita. Kalau kita gak bagus bergaul dengan kawan kita, bagaimana kita bisa efektif dalam bekerja, efektif untuk berhasil di dalam tim itu. Yang keempat adalah faktor sistem organisasi kita termasuk teknologinya. Dan yang kelima itu adalah faktor kebijakan. Lima hal itu harus kita pegang Bapak, Ibu ya. Interpional kemampuan kita untuk bergaul, sukses dalam satu tim karena tidak ada satu pekerjaan yang dilakukan satu orang kecuali profesi dokter atau lainnya ya, dokter gigi dan seterusnya. Yang keempat adalah fundament scale yang namanya kepemimpinan diri, self leadership. Ini penting ya, karena apa? Takdir kita adalah setiap orang itu adalah pemimpin. Maka kita harus bisa memaknai pemimpin itu untuk diri kita dan untuk orang lain. Luar biasa, Saudara. Ya, kalau kita menguasai ini. Menensi bilang kesuksesan orang itu tergantung dari kepemilikan, properti dari e keterampilan dasar ini yang disebut sebagai fundament scale, ya. Nah, tadi ada fundament skill, lalu sekarang ada prioritas skill. Bagaimanakah pemerintah kita, ya. Bagaimanakah kami-kami di universitas itu mendesain rancangan pembelajaran supaya anak-anak kita itu nanti laku di pasar kerja itu gak gampang Bapak Ibu ya. Makanya universitas itu orangnya ee banyak yang cepat sakit ya. Karena mikir gini mikir gini ya. Negara harus mampu menyiapkan SDM-nya. Termasuk organisasi tempat kita belajar harus mampu menyiapkan SDM-nya agar mampu bekerja di masa depan. Ya, karena apa? Bekerja di masa depan itu butuh skill baru dan itu hanya bisa dilakukan dengan belajar. Maka kita buat list keterampilan apa saja, pengetahuan apa saja. Nah, ini ada satu survei oleh MEN ya. Surveinya gak main-main. Ini ada 18.000 orang sebagai responden yang tinggal di 15 negara ya. 18.000 orang itu menyebutkan skill-skill yang diprioritaskan oleh negara ee oleh pemerintah masing-masing. Hasilnya ini Bapak, Ibu ya. Mana ini? Ini ya. Nih. Jadi mudah-mudahan bisa terlihat ini ya. Eah nanti panitia saya kira sudah mengirim apa PPT saya ke panjenengan semua ya. Jadi ada 56 ya 56 foundation skill that will help employee in the virtual. Jadi ada 56 fundamental skill yang itu nanti akan dapat membantu staf di organisasi masing-masing pada pekerjaan-pekerjaan di masa depan. Ya, ini di kotak ini ada dari kategori konektif ada critical, ada planning and wish of working, ada mental flexibility, ada communication ya kalau interpersonal itu ada mobilizing system, ada developing relationship dan seterusnya ya. Gak usah saya bacakan satu persatu dan itu ada turunannya atau derivatnya ya. Dan akhirnya kita bisa melihat bahwa ee ini ada satu gambaran bagaimanakah kita bisa mengantisasi masa depan itu dengan menyiapkannya sekarang belajar sejak dini untuk menghadapi realitas di masa depan. itu inti dari ee apa itu survei dari survei dari menceny dan kerja sama dia dengan apa yang disajikan dalam world government summit tahun 2023 yang lalu. Ya, ini menjadi perhatian kita Bapak Ibu ya, bagaimanakah sebetulnya kita harus punya satu waktu untuk belajar. Tidak hanya itu ya, tidak sekedar waktu untuk belajar tapi juga belajar apa itu yang penting ya. Satu kategorinya ya kalau kita sebagai pembelajar pribadi itu adalah sesuai minat kita. Kalau kita belajar secara profesional itu adalah sesuai dengan bidang tugas kita masing-masing. Dua-duanya harus ada pada kita ya. Kita harus punya dua hal itu. Oke. Trennya sekarang apa ya? Karena itu, karena ini ya karena ada 56 eh foundational scale tadi, maka organisasi yang sekarang baik perusahaan maupun pemerintahan di 15 negara tadi yang disurvei oleh MKIN itu membangun portofolio untuk pembelajaran ya. Ee saya kurang tahu detail ya, apakah 15 negara itu Indonesia termasuk di dalamnya. Nanti saya ee apa saya bacanya lagi ya. Tapi yang jelas saya tidak melihat nama Indonesia ya. Kalau OECD sekarang peran-peran mulai memasukkan Indonesia ya, karena kita ada akseksi ke akseksi ke sana dan nanti kita kemungkinan jadi anggota itu. Tapi untuk ini ee apa itu mungkin sih saya belum melihat Indonesia. Jadi organisasi membangun portofolio pembelajaran terhadap apa? 10 general skill yang fokus pada pengembangan ketadan sosial emosional dan kognitif tingkatan. Ya, ini 10 ini ya. leadership and managing others sampai advance IT skill and programming. Ini 10 hal yang tadi disampaikan nih ya sebagai apa? Portofolio pembelajaran yang nanti mereka membangun platform yang bisa diakses dengan mudah oleh warga negaranya. Nah, seperti sekarang ya BPSDM itu menyelenggarakan kursus yang bisa diakses dengan mudah. L misalnya juga punya fasilitas untuk itu dan juga yang lain bisa tidak bisa saya sebut satu persatu saking banyaknya ya. yang menyediakan platform itu. Jadi jangan khawatir Bapak, Ibu ya. Daya tarik hidup kita, nafsu kita atau hasrat kita untuk belajar itu sudah disediakan oleh pihak-pihak tertentu untuk belajar secara mandiri. Nah, ya. Tapi kalau kita tidakak bergerak untuk memanfaatkan itu, itu artinya percuma. Fasilitas itu gak ada artinya ya. Baik Bapak Ibu. Ingat how we can create a value. Value creation itu tuntutan kita. ya. Kita tidak sekedar jadi ASN, kita tidak segera menjadi guru, dosen, ya. Tapi kita adalah guru dosen ASN yang punya kemampuan untuk meng-create nilai dan itu dilakukan dengan belajar, ya. Oke, ini 10 skill yang tadi saya sebutkan gak usah saya ulang lagi. Oke, ya. Nah, ini Bapak Ibu kan perlu karir ya. Tadi ada penanya dari mana? Dari Ngawi atau dari mana ya? Saya dengar ee tersenyum juga saya dengar. Kalau gak punya apa-apa, gak punya siapa-siapa, bisa karir. I don't worry about ya, Pak. Ya, tadi Pak saya catat ya. Cuman ini harus kita ingat ada istilah skill distance ya. Skill distance yang kalau diterjemahkan dalam ee bahasa Indonesia secara harfiah gitu namanya jarak keterampilan. Tapi pengertiannya bukan sekedar jarak ya. Ini adalah kesenjangan ya. Namanya kesendangan. Jadi ada ru moving itu keniscayaan Bapak Ibu. Kalau kita pintar bertrack record baik, dipandang baik oleh pimpinan, kita dipromosikan, diusulkan untuk promosi. Itu namanya rle moving. Peran-peran kita bergerak, mobilitas vertikal ya, karirnya promotif ya, dipromosikan gitu. Itu tentu butuh skill baru yang berbeda sama sekali dengan kebutuhan-kebutuhan yang lalu ya. Skill baru itu adalah sebagai ini bukanah bukan berbeda ya. Skill baru itu adalah sebagai kebutuhan peran baru. Skill baru berbeda dengan skill yang lama sebelumnya ya. Untuk jabatan yang baru dia butuh untuk peran-peran yang baru dalam promosi itu dia butuh skill yang baru. Ya. Maka di sini ada riset dari ya. Jarak keterampilan atau skill distance rata-rata per perpindahan itu adalah 25%. Jadi kalau Bapak Ibu dipromosikan itu sudah ketahuan 25% Bapak Ibu gak nguasai skill baru itu sebagai pimpinan ya, sebagai orang yang dipromosikan pada jabatan baru. Maka pengatasannya adalah ada training need analisis yang sifatnya proaktif. Analisis kebutuhan diklat ya AKD yang sifatnya apa itu promotif ya. Sifatnya adalah preventif supaya apa? Dia dicegah dari distance ketika dia menduduki jabatan baru. Artinya apa? Dididik dididik dahulu baru duduk jabatan baru untuk mengatasi apa? 25% kekurangan tadi. Nah, itu ya itu namanya skill de. Ini artinya apa? Semakin eksplisit ya bahwa kita itu perlu belajar terus gak pernah berhenti. Bahkan orang-orang yang sudah guru besar ya sudah S3 itu merasa belum ada apa-apanya terus belajar. ya meningkatkan dia ikut pus doktoral ikut fellowship ya ikut program-program yang itu memungkan pengetahuan baru. Bayangkan Bapak Ibu ya seorang guru besar masih sinau masih belajar karena apa? Terus ada perubahan perubahan fenomena, perubahan konseptual, perubahan ilmu, perubahan teori ya itu semua harus dipelajari. Kalau gak ya ilmunya ketinggalan nanti gak direken sama mahasiswanya ilmu kuno ini, Pak. Gitu gitu ya. Coba bayangkan Bapak Ibu ya. Iya. Oke, karena itu betul ya k yang dikatakan Pak Sugeng Haro tadi dari Kemendagi, kita memperkuat ASN dengan cara membina dan melatih mereka apalagi bagi staf di awal-awal masa jabatannya ya dan organisasi pembelajaran atau learning organization yang kita bentuk yang susah pai dibentuk oleh Pak Ramli di BPSDM ya untuk Provinsi Jatim dan provinsi-provinsi yang lain itu harus kita hargai sebagai magnet kita. Untuk apa? untuk orang-orang yang bertalenta atau yang berbakat. Tadi disebutkan oleh Pak Sugeng Harono dan juga Ibu Deputi ya Ibu Erna Erawati Irawati tadi. Bagaimanakah kita bisa mementakan bakat orang itu dan SDM yang berbakat itu langka rare ya jarang. Maka kita harus petakan itu dan akhirnya kita bisa buat ee apa itu skema pembelajaran yang tepat bagi orang-orang yang berbakat itu ya. Oke. Gunanya apa? Untuk mengatasi skill distance yang diperlukan ketika dia dipromosikan. Oke, ini perjalanan ya. Jadi, skill distance itu requir for a new job that don't overlap with those in the immediate prev job. Ya, dan dia berbeda tidak overlapping, tidak tumpan titis dengan pengetahuan-pengetan dan skill-skill sebelumnya. Ya, ini skemanya. Bagaimanakah kita bisa mengetahui bahwa 30 sampai 40% skill rata-rata dari skill distance itu adalah R move yang dibuat oleh orang-orang yang memasuki eh karir baru yang nanti memperoleh higher earning bracket. Ya, luar biasa. Ini kalau sudah karir baru, menanjak, promotif, higher earning, pendapatannya meningkat ya. Oke, Bapak, Ibu. Ini adalah sesuatu yang bisa merangsang kita, gitu ya untuk meyakini bahwa belajar seumur hidup itu perlu ya perlu wajib kita lakukan. Yang kedua, bahwa dengan belajar itu kita bisa menguasai masa depan ya. Dan kalau sudah menguasai masa depan itu artinya kita dipercaya untuk dapat mengadi terus-terusan. Ya, Bapak, Ibu. Di perguruan tinggi itu ada satu skema. Bagaimanakah kalau para dosen atau profesor yang pensiun tapi tetap dikarakan? Syaratnya apa, Bapak, Ibu? Dia mampu menulis hal-hal yang baru. Ya, eman kalau orang ini pensiun hanya di rumah, sementara pengetahuannya update terus tarik, ayo, Pak, Pak, ayo, Prof. Ayo, Prof. ngajar lagi gitu kok, Ibu ya. Itu arti apa? asa kita dapat mengabdi seur hidup lewat pembelajaran sepanjang hayat di ee sepanjang hayat di badan dan itu bisa kita wujudkan ya. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan dan apa yang Bapak Ibu ee apa bayangkan begitu menjadi sesuatu yang real dan mudah dilaksanakan ya. Terima kasih dari saya karena saya waktu dibatasi ya hanya 30 menit. Terima kasih dan mohon maaf. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, saya kembalikan kepada Mas Lukman. Monggo, Mas Lukman. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Prof. Yusuf Wirianto atas materi yang telah disampaikan dan Sobat ASN. Setelah ini kita akan langsung masuk ke sesi tanya jawab. Bagi sobat ASN yang ingin bertanya, silakan bisa raise hand melalui Zoom ataupun bisa menyampaikan pertanyaan melalui live chat apabila bagi Anda yang bergabung di YouTube. Kita akan kembali setelah jeda pandwara berikut ini. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] I [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] Ya, Anda kembali lagi menyaksikan webinar ASN belajar seri 25 tahun 2025. Tadi menarik sekali yang telah disampaikan oleh Prof. Yusuf bahwasanya ketika kita belajar maka kita akan jadi relevan dan itu akan pengaruh ke interaksi sosial. Kali ini sudah bergabung bersama dengan kami penanya kita yang pertama atas nama Bu Sinta dari analis SDM Omutsman RI. Saya akan sapa beliau terlebih dahulu. Selamat siang, Bu Sinta. Selamat siang, Mas. Baik, Bu Sinta. Sebelum disampaikan pertanyaannya mungkin bisa diperkenalkan terlebih dahulu nama, asal instansi dan juga asal daerah. Kemudian sila disampaikan langsung pertanyaannya kepada Prof. Yusuf. Monggo Bu Sinta. Baik, terima kasih Mas. Saya Sinta Katlara dari Ombusmen Republik Indonesia. Domisili saya di Jakarta. Saya sangat tertarik dengan apa yang disampaikan Prof. Yusuf nih memang ee apa profil guru saya. Jadi teringat almarhum dan almarhumah kedua orang tua saya yang memang guru. Ibu guru TK, ayah saya guru SMA. Ee cara penyampaiannya juga tadi jadi ee terbayang pada saat orang tua saya tuh mendidik saya sejak kecil bahwa kita tuh wajib untuk membaca, membaca dan belajar. Karena dari belajar ee dan membaca itu kita bisa melihat ee dunia ya, Pak ya, Prof ya. Nah, saya ini ee tergelitik dengan tadi apa yang disampaikan di ee materi sebelumnya bahwa generasi Z dan generasi-generasi yang ee sekarang ini kenapa kok mereka jadi ee enggan membaca hal-hal yang memang ee bisa membuka wawasan mereka. Mereka lebih tertarik dengan ee gadget. Memang menurut mereka, mereka juga belajar di situ, tapi ada hal-hal yang sebetulnya mendasar itu mereka kurang pahami sehingga kadang ee attitude dan sikap mereka itu ee sangat jauh dari apa yang pernah ditanamkan oleh generasi-generasi terdahulu. Nah, saya ingin bertanya nih, bagaimana sih untuk ee menumbuhkan ee kita tetap ee menyalah dalam ee meraih asa dan juga belajar sepanjang masa agar negara kita tuh ee jangan menjadi ee orang yang atau menjadi yang malas membaca sebagai maunya seperti dibacakan saja, di ee suapi. Tadi ada saya dengar istilah juga ada seperti generasi yang disuapi. mereka tuh gimana sih, Prof, untuk menumbuhkan rasa minat baca pada generasi-generasi yang memang saat ini lebih tertarik kepada gigit. Itu saja dari saya. Terima kasih, Mas. Persilakan, Prof. Yusuf. Iya, silakan, Prof. Ini saya bisa jawab dan anu ya dengan baik untuk pertanyaan dari Bu Sinta dari Ori ya. Ee ini kusmen, Pak ya. Ada dua sisi dari teknologi misalnya internet atau AI ya, sisi gelap dan sisi yang saya sampaikan tadi sisi positif kaitnya tapi yang negatif ini gak saya sampaikan apa itu mahasiswa saya itu juga lulusannya nanti menjadi bekerja di BNS juga ya diasi ya itu adalah mereka-mereka generasi milenial lanjut ensi ya. Lalu nanti generasi alpa itu memang terus sisi gelap dari teknologi internet itu apa buktinya? Mereka sudah gak baca buku teks lagi Bu. Mereka sudah gak baca teks lagi tapi pakai pakai JPT. Bikin tugas pakai JP ya. Dan itu gak hanya di Indonesia, di Amerika juga terjadi. Itu di awal-awal chat GPT. Lalu kita bikinatnya yang memaksa itu tidak tetap silakan pakai tapi kamu dikontrol oleh turnity ya atau mekanisme yang yang menegaskan bahwa itu bukan karya muslim. Jadi ada paksaan anak-anak akhirnya untuk apa? Tetap ee membaca buku. Karena apa? Mereka akan takut hasil karyanya tidak diakui dan dia tidak lulus. Karena apa? Itu adalah bukan karya. Jadi kalau saya lihat diang dari sisi anak-anak kita itu memang lemah rapuh ya karena mereka lahir dalam kemanjaan akibat munculnya teknologi itu. Kalau kita dulu kan gak ya saya ya bukan kita ya kan masih muda ya saya dulu dipaksa mungkin seumur Pak kuliah tahun-an Pak. Ah, ya kan ya baca buku. Nah, itu jadi harus ada mekanisme pengendalian atau control mechanism ya terhadap anak-anak kita itu terhadap staf-staf kita yang cenderung mematkan gadget itu kan enak itu ya gadgetnya di tangan lalu dia apa saja dia belajar di situ tapi gak tahu bahwa situs itu mengandung kebenaran atau tidak. Nah, ini loh lain kalau beda ya. Beda kalau lain kalau bed beda kalau buku ya buku teks di pegang itu mesti ada pertanggungjawabannya dari penulisnya tapi kalau sudah akun-akun yang tersaji di internet dalam hutan belantara di internet itu tidak bisa kita cek satu persatu dan ini bisa menyesatkan anak-anak kita ya jadi ee semangat itu dibukan dengan apa? Teladan ya benar ya saya mengutip dari Pak Sugeng Harono tadi kita harus memberikan contoh yang terbaik ya. Kalau perlu saya punya ruang itu penuh dengan buku-buku hasil-hasil penelitian ya yang itu tercetak. Jadi ketika mahasiswa saya masuk di ruang ini bahwa ini ada sesuatu yang perlu dirujuk. Saya ini di ruang saya ada buku banyak Bu ya banyak ini. Dan anak-anak lihat Prof. saya bisa pinjam saya catat yang pinjam nanti dikembalikan bukunya ya gitu. Jadi ada satu mekanisme bagaimana anak-anak kita itu akhirnya dapat menyadari bahwa belajar itu tak sekedar ee instan ya. Sebab apa? Dari chat GPT dia instan Bu dapat sesuatu yang ee sesuai dengan kebutuhannya. Lalu ada mekanisme yang memaksa sedia bahwa itu adalah bukan karyamu. Nah, ini sudah dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia ee dan itu ada pedomannya, ada sanksinya dan ini akhirnya anak-anak menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang keliru. Maka benar apa yang dikatakan oleh universitas untuk mengatur. Nah, ini perlu di ee dilakukan di tempat kerja. Bagaimanakah supaya ada mekanisme yang memaksa anak-anak kita itu untuk belajar yang benar. Nah, begitu ya Bu Sinta ya. Terima kasih at dan mohon maaf kalau kita terima kasih Bu Sinta atas pertanyaannya semoga terjawab. Mohon izin untuk mengingatkan kembali jangan lupa untuk kirimkan alamat Ibu melalui tim admin kami yang ada di Zoom untuk klaim souvenir. Baik Bu Sinta terima kasih Pak Yusuf. Prof Yusuf terima kasih sebelumnya sudah memberikan materi yang sangat luar biasa. tadi banyak sekali paparan data yang dihasilkan dari ee riset McKensi seperti itu. Barangkali sebelum kita akhiri di sesi siang hari ini, Prof. Yusuf ingin menyampaikan closing statement. Kami persilakan, Prof. Baik. Bukan yang kuat, bukan yang pintar ya, tapi keberadaan kita, keberlangsungan kita itu tergantung dari kemampuan kita untuk menguasai sesuatu yang ee berada di masa depan dan di masa depan itu kita bisa antisipasi dengan belajar. Maka cocok ya bahwa bel asa terhadap ee ASNya ASA itu adalah punya asa tentang karirnya dia, tentang pengabdian dia. Dan itu semuanya ditopak oleh kemampuan kita belajar panjang hayat dikandung badan sepanjang masa agar dapat apa? mengabdi terus untuk bangsa ini untuk rakyat kita sepanjang umur. Terima kasih ya. Sukses selalu, sehat selalu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Prof. Yusuf Irianto atas rawuhnya di webinar ASN Belajar seri 25. Salam sehat selalu. Sampai bertemu lagi di event-event selanjutnya. Dan sobat ASN, tidak terasa kita sudah sampai di penghujung acara. Sekali lagi saya haturkan terima kasih untuk seluruh pihak yang telah mendukung webinar ASN belajar seri 25 tahun 2025. Kami ucapkan terima kasih kepada Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN LAN RI Ibu Dr. Terapan Erna Irawati. Kami juga ucapkan terima kasih kepala kepada Kepala BPSDM Kementerian Dalam Negeri Bapak Dr. Sugeng Haryono. Dan tak lupa kami juga ucapkan terima kasih kepada guru besar bidang manajemen sumber daya manusia Departemen Ilmu Administrasi Negara FISIP UNER Prof. Dr. H. Yusuf Irianto dan Sobat ASN. Sebelum mengakhiri sesi kali ini, kami ingatkan kembali untuk Sobat ASN jangan lupa untuk cek secara berkala semesta Bangkom guna undu e certificate. Dan sekali lagi webinar ASN belajar seri 25 tahun 2025 kali ini dipersembahkan oleh Korpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Tetap semangat dan sampai jumpa di seri berikutnya. ASN belajar 25 tahun 2025. Belajar sepanjang masa, mengabdi sepanjang ujian. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdempat. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi [Musik] selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetak berkualit [Musik] Yeah.