Transcript
EtVXNfO3GJw • ASN Belajar Seri 32 | 2025 - Akuntabilitas Kinerja ASN
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0255_EtVXNfO3GJw.txt
Kind: captions
Language: id
Hasen muda semangat membara
di era digital terus berkarya
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cempelak Jawa Timur terus
melaju.
Bersama BPST
Jim, kita terus melesat untuk Indonesia
emas. Prestasi hebat ASN unggul
tiada yang tertinggal. No one left
behind. Kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cemerlang. Jawa Timur terus
melaju bersama BPSDM
Jatim kita terus melesat untuk Indonesia
emas prestasi her aset unggur tiada yang
tertinggal
no one left behind kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi.
Inovasi cemalah. Jawa Timur terus
melaju.
Bersama BPSDM
Jatim kita terus melesar. Untuk
Indonesia emas prestasi hebat bersama
kampus satelit PPSM
Jatim. No one left behind. ASN unggul
dan berkualitas
melesa tinggi
Indonesia jaya Yeah.
[Musik]
gerak sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan
tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN
belajar. ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASN belajar wujudkan
pemerintahan
berkelas dunia.
tekad pantang menyerah
jadi ASN getar berkualitas
belajar wujudkan
perintahan
selah dunia
tekat pandang menyerah
jadi AS berkualitas
[Musik]
sama aku
[Musik]
mencoba
menjadi yang terbaik.
Melayani bangsa dengan sepenuh hati
marahlah kami junjung taguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas kebanggaan negeri
sis melayani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Hem
di sini suka dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Melayani bangsa loyal tanpa batasannya
selalu adaptif dan berkolaborasi
diandeng tangan
tujuan
menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
[Musik]
Kami dari sini tegas dengan hati.
Tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Bangsa loyal tanpa batasannya
adaptif dan berkolaborasi.
Bergandeng tangan satu tujuan
untuk menjadikan air yang lebih
beragama.
mengas penuh hati tulus membantu sesama
dibang kami melayani
dengan kami melayani
[Musik]
H
[Musik]
Bersona membangun asa
menuju cipta yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti menitipi zaman
dengan semangat pembaruan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
PPS Jing Pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdas dan inovasi bersatu dalam
visi yang terang menjawab tantangan dan
jalan geniang
PPSDM Jawa Timur Center of Sans masa
depan gemil
[Musik]
bersama membangun asa
menuju cita yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti meniti zaman
dengan semangat pembaharuan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan. BPSM Jatim
pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas.
Mencet STM berkompetensi.
Tangguh cerdas penuh inovasi
bersatu dalam visi yang terang menjawab
tantangan jangan demiang.
BPSDN Jawa Timur Center of Sans masa
depan gemilang L
[Musik]
Hasen muda semangat membara
di era digital terus berkarya
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cemal Jawa Timur terus melaju
bersama BPST yang cim kita terus meles
Dasar untuk Indonesia emas. Prestasi
hebat ASN.
Tiada yang tertinggal no one left
behind. Kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cemerlang. Jawa Timur terus
melat
[Musik]
kita terus melesat untuk Indonesia emas
prestasi her aset unggur tiada yang
tertinggal
no one left behind kita terus melangkah
berkolaborasi
inisiatif tinggi.
Inovasi cemalah Jawa Timur terus melaju.
Bersama BPSDM
Jatim kita terus melesat untuk Indonesia
emas prestasi hebat bersama kampus
satelit PPSM
Jatim no one left behind. ASN unggul dan
berkualitas
Melasa tinggi
Indonesia jaya Yeah.
[Musik]
Coba menjadi yang terbaik. Melayani
bangsa dengan sepenuh hati. Marah kami
junjung taguhkan diri
dan jadikan pedoman serta kekuatan.
Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan
tugas ke bangga negeri. Memertaut
melayani bangsa dengan akuntabilitas
tinggi.
Ho.
Kami dari sini suka dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
Layani bangsa loyal tanpa batasannya
telah
berkolaborasi
bergandeng tangan
tujuan
untuk menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati tulus membantu
sesama dengan bangga kami melayani
bangsa
[Musik]
Kami dari sini tus dengan hati
tunjukkan kompetensi dalam harmoni.
di bangsa loyal tanpa batasannya
ada tips dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan untuk
menjadikan air lebih berageras
penuh hati tulus membantu sesama bila
mengangani
bila kami melayani
dengan mengangkapi
melayani
bangsa
[Musik]
H
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua. Om
swastiastu. Namo buddhaya. Salam
kebajikan dan salam sehat untuk kita
semua. Selamat pagi dan selamat datang
kami ucapkan sobat ASN di mana pun Anda
berada yang sudah bergabung melalui
BPSDM Jatim TV dan Zoom Meeting. Sebelum
kita memulai, saya boleh dong ya untuk
berpantun terlebih dahulu. Pergi ke
taman memetik melatih
S.
Harum semerbak menyejukkan hati
saget.
ASN bekerja penuh akuntabilitas.
Birokrasi bersih terwujud dengan
integritas.
Ya, itu sesuai dengan tema kita pada
hari ini. Namun sebelumnya saya ingin
menyapa terlebih dahulu yang terhormat
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Bapak
Dr. Ramlianto, S.PMP. Yang kami hormati
para narasumber yang telah hadir secara
online, Deputi Bidang Reformasi
Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan
Pengawasan Kementerian PAN RB, Prof. Dr.
Erwan Agus Purwanto, M.Si. Si.
Yang kami hormati manajer bidang mutu,
regulasi dan kerja sama LSP KPK Republik
Indonesia, Bapak Muhammad Ridwan Afan,
SH. Yang kami hormati Guru Besar Ilmu
Akuntansi Sektor Publik Universitas
Negeri Surabaya, Prof. Dr. Dian Anita
Nuswantara, S., M.Si., AK. C. Serta
Bapak dan Ibu, Sobat ASN di mana pun
berada yang sudah bergabung dalam Zoom
meeting maupun YouTube BPSDM Jatim TV.
Selamat pagi dan selamat bergabung
secara online dalam webinar seri ke-32
tahun 2025 dengan tema kali ini
akuntabilitas kinerja ASN jalan
pengabdian menuju birokrasi bersih dan
berintegritas. tentunya tema kali ini
sudah disiapkan dengan sebaik mungkin
untuk dapat kita ikuti bersama sampai
dengan siang hari nanti. Dan tentunya
puji syukur kita haturkan kehadirat
Tuhan yang maha esa. Berkat
perkenanannya kita dilimpahkan kesehatan
yang baik sehingga hari ini kita dapat
bangun beraktivitas dan juga berjumpa
secara online pada ASN Belajar seri
ke-32 ini hari Kamis tanggal 21 Agustus
2025 yang bertempat di kantor BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Bapak dan Ibu,
Sobat ASN. Senang sekali kembali saya
Fanny Patriia yang akan menjadi
moderator pada seri kali ini. Di mana
tema kali ini adalah ASN sebagai motor
penggerak pemerintahan dituntut
profesional, berintegritas, dan
akuntabel guna mewujudkan birokrasi yang
bersih, efektif, dan dipercaya oleh
publik. tentunya transformasi menuju
birokrasi kelas dunia 2045 membutuhkan
budaya kerja berorientasi hasil dan
akuntabilitas kinerja yang konsisten.
Meski masih dihadapkan pada tantangan
seperti lemahnya pemahaman sakit, mal
administrasi, dan resistensi perubahan,
upaya kolektif untuk menumbuhkan
kesadaran ASN menjadikan akuntabilitas
sebagai nilai dasar yang sangat penting
agar birokrasi mampu memenuhi harapan
masyarakat. Dan selengkapnya akan kita
bahas dalam ASN Belajar seri ke-32 tahun
2025.
[Musik]
Baik, Bapak dan Ibu, Sobat ASN di mana
pun berada. Tentunya sebelum kita
memulai dan menyapa para narasumber yang
telah hadir secara online, kita
bersama-sama akan menyimak terlebih
dahulu keynote speech yang akan
disampaikan oleh Kepala BPSDM Provinsi
Jawa Timur, Bapak Dr. Ramlianto, S.P.,
MP.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita semuanya. Sobat ASN
di seluruh tanah air. Selamat bertemu
kembali dalam webinar series ASN
Belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim
Corporate University Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Hari ini Kamis tanggal 21 Agustus 2025,
ASN belajar telah memasuki seri yang
ke-32.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih kami. Kami
terus berkomitmen sekaligus terus
berikhtiar untuk menyajikan topik-topik
pengembangan kompetensi yang menarik,
kekinian, dan tentu diharapkan berdampak
secara nyata terhadap peningkatan
kompetensi dan kinerja aparatur sipil
negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini
ASN Belajar seri ke-32 tahun 2025 ini
menyajikan salah satu topik dalam rangka
mengisi hari ulang tahun kemerdekaan
Republik Indonesia yang ke-80 tahun 2025
dengan berbagai ikhtiar positif untuk
meningkatkan kinerja dan integritas
birokrasi pemerintah.
sebuah ikhtiar yang tidak hanya dimaknai
sebagai rutinitas serimonial, melainkan
sebagai bagian dari perjalanan panjang
bangsa dalam membangun birokrasi yang
akuntabel, bersih, dan berorientasi
pelayanan.
80 tahun kemerdekaan adalah momentum
refleksi. Apakah aparatur negara telah
sungguh-sungguh menghadirkan pengabdian
terbaiknya bagi rakyat? Apakah
akuntabilitas kinerja sudah menjadi
budaya, bukan sekedar kewajiban
administratif?
Karena tema ini sangat tepat untuk kita
elaborasi secara luas dan mendalam, maka
ASN Belajar seri ke-32 tahun 2025 ini
mengangkat topik akuntabilitas kinerja
SN, jalan pengabdian menuju birokrasi
yang bersih dan berintegritas.
Nah, sudah menjadi tradisi akademik
dalam SN belajar bahwa topik menarik ini
akan kita bahas secara intensif dari
beragam perspektif bersama para
narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sahabat ASN di seluruh tanah air, topik
hari ini mengingatkan kita bahwa
pengabdian ASN bukan hanya soal memenuhi
target kerja, tapi juga soal menjaga
kejujuran, menegakkan integritas, dan
mengedepankan tanggung jawab.
Sebab hanya dengan akuntabilitas yang
kokoh, birokrasi mampu menjadi benteng
pencegahan korupsi sekaligus pilar
kepercayaan publik.
ASN belajar seri ke-32 ini adalah ruang
bersama untuk menguatkan komitmen,
menajamkan kesadaran, dan memperkuat
langkah kolektif.
Dari sinilah kita berharap lahir
aparatur yang tidak sekedar bekerja
karena kewajiban, melainkan mengabdi
karena panggilan nurani. Sebuah
pengabdian yang akan menuntun Indonesia
melangkah mantap menuju Indonesia Emas
2045.
Namun, Sobat ASN, membangun
akuntabilitas tidaklah pernah menjadi
perkara mudah, terlebih di tengah era
disrupsi digital seperti saat ini. Kita
menghadapi derasnya arus perubahan yang
menghadirkan setidaknya tiga tantangan
besar. Pertama, tantangan transparansi
data. Di era big data informasi terbuka
begitu luas dan cepat. Namun pada saat
yang sama rawan disalahgunakan.
Birokrasi dituntut untuk bekerja lebih
cepat, lebih akurat, sekaligus tetap
menjaga transparansi sebagai syarat
utama kepercayaan publik.
Kedua, tantangan budaya birokrasi. Tidak
dapat kita pungkiri masih ada warisan
budaya lama yang feodalistik, birokrasi
yang cenderung lamban, dan mentalitas
zona nyaman. Semua itu bagaikan patologi
yang perlahan menggerogoti akuntabilitas
dan menghalangi lahirnya birokrasi
modern yang profesional dan melayani.
Ketiga, tantangan integritas personal.
Di tengah kemajuan teknologi, godaan
korupsi pun semakin canggih. Modus
penyalahgunaan kewenangan hadir dengan
wajah yang semakin halus dan sulit
terdeteksi.
ASN tidak hanya diuji melalui mekanisme
administratif semata, tetapi juga
melalui ujian kejujuran hati dan
keteguhan moral yang menjadi benteng
terakhir akuntabilitas.
Sobat ASN di seluruh tanah air. Namun di
balik tantangan itu selalu ada ruang
bagi harapan. Justru dalam derasnya arus
disrupsi, kita dituntut untuk melahirkan
birokrasi yang lebih adaptif,
transparan, dan berintegritas.
Kuncinya terletak setidaknya pada tiga
langkah strategis.
Pertama, memperkuat sistem digital yang
akuntabel. Teknologi jangan hanya
menjadi alat administratif belakang,
melainkan instrumen pengawasan,
transparansi, dan pengendalian kinerja
yang efektif. Dengan sistem yang
terintegrasi dan terbuka, celah
penyalahgunaan wewenang bisa semakin
dipersempit.
Kedua, membangun budaya birokrasi yang
sehat. Birokrasi yang tidak boleh lagi
terjebak pada pola lama yang feodalistik
atau sekedar mengejar kepuasan atasan,
melainkan birokrasi yang harus hadir
sebagai mesin pelayanan publik yang
profesional, humanis, dan berorientasi
pada hasil. Di sinilah nilai
akuntabilitas menemukan makna nyatanya.
Ketiga, memperkuat integritas personal
ASN. Setiap aparatur harus memiliki
kesadaran bahwa jabatan adalah amanah,
bukan sekedar kedudukan.
Integritas menjadi tameng terakhir
menghadapi segala godaan. Dan hanya
dengan itu ASN mampu menjadikan
pengabdian sebagai jalan mulia dalam
membangun bangsa.
Dengan tiga langkah itu, kita percaya
bahwa birokrasi Indonesia dapat
bertransformasi menjadi birokrasi yang
tidak sekedar bekerja, tapi juga
mengabdi dengan penuh tanggung jawab.
Akuntabilitas kinerja bukan lagi jargon,
melainkan roh yang menghidupi pelayanan
publik. Dan dari sanalah lahir birokrasi
yang bersih, kuat, dan berintegritas,
sebuah benteng kokoh pencegahan korupsi
sekaligus fondasi bagi Indonesia Emas
2045.
Akhirnya mari kita maknai akuntabilitas
kinerja ini sebagai nafas pengabdian
yang menuntun setiap langkah ASN dalam
melayani rakyat dan negara. bukan
sekedar angka di atas laporan, tetapi
wujud kejujuran, integritas, dan
tanggung jawab moral yang hidup di dalam
hati. Dengan akuntabilitas, kerja ASN
bukan hanya memenuhi target, tetapi juga
merawat kepercayaan publik dan menjaga
martabat birokrasi serta membangun masa
depan Indonesia yang lebih bersih serta
berintegritas.
Sahabat ASN di seluruh tanah air, lalu
bagaimana kita sebagai ASN Indonesia
memaknai 80 tahun Indonesia Merdeka ini
dalam aksi nyata peningkatan
akuntabilitas kinerja. Nah, untuk
membahas cerdas dan tuntas topik ini,
kami telah mengundang dengan hormat para
narasumber luar biasa yang sudah barang
tentu sangat kompeten di bidangnya.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi kepada para narasumber hebat
yang telah berkenan hadir dan akan
berbagi berbagai informasi strategis
kepada Sobat SN di seluruh tanah air.
Pertama, kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi kepada yang terhormat
Bapak Dr. Ir. Wawan Wardiana, MT. Beliau
adalah Deputi Pendidikan dan Peran serta
masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi.
Kedua, kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi kepada yang terhormat
Bapak Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto,
M.Si. Beliau adalah Deputi Bidang
Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas
Aparatur dan Pengawasan, Kementerian
Pendagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi. Ketiga, kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada yang terhormat Ibu Prof. Dr. Dian
Anita Nuswantara, S., M.Si.,,, Ak, C.
Beliau adalah guru besar ilmu akuntansi
Universitas Negeri Surabaya.
Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan
seksama webinar ASN Belajar seri ke-32
tahun 2025. Semoga bermanfaat.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[Musik]
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih atas keynote
speech yang telah disampaikan oleh
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Bapak
Dr. Ramlianto, SPMP. Nah, apa yang telah
disampaikan ini tentunya menjadi acuan
bagi kita semua untuk menyimak dan
mengikuti ASN Belajar seri ke-32 tahun
2025 hari ini. Tentunya sebelum kita
akan menyapa narasumber yang pertama,
ada beberapa hal yang perlu kami
sampaikan terlebih dahulu terkait dengan
aturan dari ASN Belajar seri ke-32 kali
ini. Yang pertama, sesi tanya jawab
dilakukan di akhir setiap pemaparan
narasumber. Kami mohon keaktifan dan
kontribusi dari Sobat ASN di mana pun
berada. Jika ingin bertanya atau
berinteraksi secara langsung dengan
narasumber, lakukan rah hand di Zoom
meeting, maka kami akan langsung
koneksikan dan juga live cam serta live
mic untuk bisa berinteraksi langsung di
layar dengan langsung. Dan kami mohon
Bapak dan Ibu sudah menyiapkan
pertanyaannya. Kemudian yang kedua, para
penanya harap menyebutkan identitas
berupa nama dan instansi. Ini berlaku
untuk sobat ASN yang ingin bertanya
melalui kolom chat. Kemudian yang
ketiga, link absensi peserta akan
diberikan setelah mengisi aplikasi
semesta Bangkom. Jadi, Bapak dan Ibu
tadi di awal sebelum kita mulai sudah
kami tampilkan bagaimana cara mengisi
semesta Bangkom. Untuk itu jika
tertinggal informasinya nanti kami akan
tampilkan lagi dan kami mohon untuk
dapat disimak dengan lebih baik. Kita
akan segera menyapa narasumber kita yang
pertama yaitu Deputi Bidang Reformasi
Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan
Pengawasan Kementerian PAN RB Republik
Indonesia, Bapak Prof. Dr. Erwan Agus
Purwanto, M.Si.
Halo, selamat pagi Bapak.
Selamat pagi, Mbak Foni. Ya,
betul, saya Fanny, Pak. Selamat pagi,
Prof. Ini senang sekali bisa bergabung
dengan kami di sini di Jawa Timur.
Ya, senang juga saya Mbak Fani bisa ee
diundang di acara yang penting ya ee
apa namanya? ASN belajar sudah seri
ke-32 ya hari ini ya.
Betul sudah seri ke-32 tidak terasa di
tengah Agustus ini. Namun sebelum kami
memberikan kesempatan untuk memberikan
materi tentunya ada sedikit hal
informasi mengenai Prof. untuk dapat
kami sampaikan. Prof. Dr. Erwan Agus
Purwanto, M.Si. SI lahir di Klaten dan
saat ini tinggal di Serpong, Tangerang
Selatan dan beralamat kantor di
Kementerian Pendayagunan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi.
Menempuh pendidikan S1 di Jurusan Ilmu
Administrasi Negara, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, UGM. Kemudian
S2-nya di Magister Administrasi Publik
Pasca Sarjana UGM juga. dan S3 dengan
gelar doktor di Amsterdam School of
Social Science Research, Faculty of
Socials and Behavioral Science
University of Amsterdam. Lulus di tahun
2004. Wow, luar biasa sekali. Dengan
diklat dan training yang telah diikuti
ini banyak sekali dengan pengalaman
kerja saat ini menjabat sebagai deputi
reformasi birokrasi, akuntabilitas dan
pengawasan mulai dari tahun 2021.
Kemudian juga pernah menjadi dekan
Visipol UGM tahun 2012 sampai 2021.
serta menjadi guru besar bidang
kebijakan politik vispipol UGM. Ternyata
dari tahun 2019 sampai dengan sekarang
ya, Prof. Dan banyak sekali pengalaman
pekerjaan yang telah diikuti oleh beliau
dengan pengalaman inovasi yang luar
biasa banyak. Penelitian yang telah
dilakukan juga luar biasa banyak. Wow
sampai 24 ini. Dan tentunya tidak perlu
diragukan lagi, Sobat ASN untuk dapat
kita simak pemaparan materi yang akan
disampaikan oleh Prof. Erwan sekarang
disilakan, Prof.
Baik, terima kasih Mbak Fani yang sudah
memperkenalkan kepada
sobat ASN. Selamat pagi. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Salam
sejahtera untuk kita semuanya. Om
swastiastu. Namo buddhaya dan salam
kebajikan.
Salam sehat dan semangat untuk ee
seluruh sobat ASN yang mengikuti acara
ASN Belajar webinar yang sudah mencapai
seri ke-32 pada pagi hari ini. Ee terima
kasih juga kepada Dr. Ramlianto, Bapak
Kepala BPSDM yang sudah mengundang ee
kami untuk berpartisipasi, berbagi
pengalaman terkait dengan isu yang hari
ini kita bahas, yaitu ee akuntabilitas
kinerja ASN dan bagaimana tentu
dampaknya terhadap upaya untuk mencapai
tujuan-tujuan pembangunan nasional yang
sekarang ee menjadi prioritas Bapak
Presiden, Sobat ASN Yang saya banggakan,
pada pagi hari ini saya akan membawakan
tiga
tema gitu ya, tiga topik dalam diskusi
kita pagi hari ini. Yang pertama terkait
dengan akuntabilitas kinerja. Ee kita
bicara tentang pilar reformasi
birokrasi. Kemudian yang kedua nanti
saya akan bicara tentang bagaimana
mewujudkan akuntabilitas kinerja melalui
Sakip. Dan yang terakhir saya akan spill
sedikit ee
upaya yang sedang kita lakukan yaitu
perubahan kebijakan. Nanti SAKIP ini
akan kita sempurnakan menjadi ee SAKP.
Nah, itu tiga topik yang akan saya
bawakan pada pagi hari ini dan berharap
nanti ada feedback, ada masukan yang
bisa kita diskusikan ee dari para sobat
ASN yang mengikuti acara kita.
Sobat ASN yang saya banggakan, kalau
kita bicara tentang birokrasi yang tadi
sudah disinggung oleh Pak Kepala BPSDM,
tentu ee birokrasi ini punya peran yang
sangat
apa? Vital begitu ya, sangat penting
bagi kemajuan sebuah bangsa. Sering di
sering disampaikan bahwa birokrasi ini
juga menjadi engine of development gitu
ya. menjadi mesinnya, menjadi lokomotif
yang menggerakkan pembangunan nasional
sehingga tujuan-tujuan pembangunan ini
bisa di ee capai. Nah, mengapa demikian?
Kalau kita bedah memang ee birokrasi ini
ada dua aspek penting yang perlu kita ee
reform begitu ya. Yang pertama adalah
aspek tata kelola. Kemudian yang kedua
menyangkut produknya yaitu kualitas
kebijakan. Nah, yang tata kelola tentu
ada berbagai macam hal di situ yang
nanti perlu kita perbaiki.
Ada urusan tumpang tindih kebijakan,
penyederhanaan proses bisnis. Nah, ini
yang tidak kalah penting yang pagi hari
ini menjadi tema kita yaitu manajemen
kinerja, kemudian sistem merit dan
sebagainya. Sementara kualitas kebijakan
ini berkaitan dengan bagaimana ee apa
namanya birokrasi yang punya tata kelola
yang baik tadi menghasilkan produk yang
juga baik. Nah, caranya seperti apa?
Yang pertama tentu sebuah kebijakan
harus mengacu kepada nilai-nilai atau
kepentingan publik dan yang lain adalah
cara membuatnya berbasis pada bukti atau
evidence bas policy. Nah, inilah harapan
kita kalau birokrasi kita ee punya hal
yang positif baik dari aspek tata kelola
maupun kualitas kebijakan, maka itu yang
diharapkan menjadi pilar utama untuk
mewujudkan tujuan pembangunan. Nah, apa
yang sudah kami lakukan di level
nasional dalam upaya untuk tadi
melakukan reform para sobat ASN
ini sejak ee era reformasi ya sampai
hari ini kita sudah melalui ada tiga
tahap roadmap eh RB gitu ya. Jadi dalam
upaya kita melakukan reformasi
birokrasi, kita punya grand desain dari
2010 sampai 2025. Grand desain itu
tujuannya apa? Yaitu menghasilkan
birokrasi berkelas dunia atau world
class birokrasi dengan ciri-ciri tidak
ada korupsi, kualitas layanan prima, dan
yang lain tentu kaitannya dengan tema
kita adalah birokrasi tersebut juga
punya akuntabilitas kinerja. Nah, untuk
menuju ke world class birokrasi tadi ada
tiga tahapan roadmap yang sudah kita
lalui dari 2010 14 15 ee 2019 sampai
2020 2024 yang masing-masing ini ada ee
penekanannya ya dari yang pertama ini
birokrasi kita ee apa namanya lebih
fokus pada aspek kerangka hukum.
Kemudian yang kedua ee lebih fokus pada
kinerja. Kemudian yang roadmap yang
ketiga ini birokrasi kita diharapkan
lebih dinamis atau dynamic governance.
Nah, ini road map yang sudah kami lalui
atau kita lalui ee sobat ASN.
Namun demikian di tengah jalan kita juga
menyempurnakan roadmap ini. Barangkali
sobat ASN pernah mendengarkan eh
kebijakan refocusing. Jadi green desain
yang kita buat dari 2010 sampai 2025
tadi kemudian disempurnakan. Mengapa?
karena memang banyak masukan ee kritik
begitu ya, bahwa reformasi birokrasi
selama ini dianggap lebih ee
berorientasi pada dokumen gitu ya, lebih
berorientasi pada ee hal-hal yang
bersifat formal sementara hasilnya ini
belum bisa dirasakan secara langsung
oleh masyarakat. Nah, oleh karena itu
pada tahun 2020,
Sobat ASN, kami di Kementerian PAN RB
melakukan refocusing dengan mengenalkan
namanya double track RB. Jadi, ada dua
TRK ya, dua jalur reformasi birokrasi.
Yang pertama adalah reformasi birokrasi
yang bersifat general. Artinya ini kita
tetap mengerjakan PR kita memperbaiki
tadi ee tata kelola, memperbaiki
produk-produk ee birokrasi itu. Tapi
pada saat yang sama kita juga
mengenalkan namanya RP tematik yaitu ee
upaya-upaya kita melakukan perbaikan
pada berbagai macam aspek birokrasi
terutama yang menimbulkan masalah di
lapangan ee debattle naking begitu yang
berkaitan dengan ee pelaksanaan
program-program yang dampaknya itu
langsung dirasakan oleh masyarakat atau
yang ee menjadi prioritas atau perhatian
utama masyarakat. misalnya terkait
dengan ee penurunan angka kemiskinan,
terkait dengan upaya kita meningkatkan
realisasi investasi yang itu hubungannya
dengan penciptaan lapangan kerja terkait
dengan upaya kita menurunkan angka
stunting karena ee Indonesia memasuki
satu tahapan yang disebut sebagai
demographic di evidence, bonus
demography begitu. sehingga kalau ee apa
namanya
generasi penerus bangsa ini menderita
stunting, maka nanti kualitas sumber
daya manusia Indonesia itu tentu menjadi
tidak kompetitif dibanding ee SDM
bangsa-bangsa yang lain dan seterusnya.
yang ini RBATIK ini merupakan ee apa
namanya? Upaya kita untuk memperbaiki
bagaimana kebijakan tadi dirumuskan,
bagaimana kebijakan diimplementasikan
agar terdeliver kepada masyarakat
sehingga hasilnya langsung dirasakan.
Nah, inilah dua dua TRK ee RB yang
kemarin kami perkenalkan sehingga
harapannya
pemahaman masyarakat tentang RB ini
menjadi berubah tadi tidak hanya fokus
pada hal-hal yang bersifat
administratif,
indeks, ee angka-angka begitu ya yang
mencerminkan kemajuan ee reformasi
birokrasi. Namun demikian di lapangan
hasilnya tidak dirasakan oleh
masyarakat. Nah, ini yang kemudian kami
perkenalkan sebagai
eh double track eh RB yang nanti
indikatornya tidak hanya bersifat output
oriented, tetapi lebih bersifat outcome
oriented sebagaimana bisa dilihat di
sebelah kiri gitu ya. mulai dari indeks
RB, kemudian ada corruption perception
index dan seterusnya sampai kepada eh
indikator yang bersifat dampak yaitu
penurunan angka kemiskinan, realisasi
investasi, juga ee penurunan angka
inflasi ee nasional.
Nah, Sobat ASN untuk melanjutkan
upaya-upaya kita yang tidak kena lelah
memperbaiki birokrasi tersebut, karena
grand desain RB kita sudah berakhir di
tahun 2025. maka ke depan kita juga
perlu memiliki panduan lagi gitu ya. Ee
di samping capaian-capaian yang tadi
sudah kita raih, tentu ke depan kita
ingin terus meningkatkan ee kualitas
atau sosok dari birokrasi kita ini agar
sosok birokrasi kita ini juga tidak
kalah atau sama dengan sosok birokrasi
di negara-negara maju atau sering
disebut negara industri atau high income
country. di negara-negara tetangga kita.
Kita bisa bandingkan kualitas birokrasi
kita dengan Singapura, dengan Malaysia,
dengan Korea, dengan Jepang dan dan
seterusnya yang mereka ini sekarang
sudah masuk dalam kategori sebagai high
income country. Nah, Indonesia punya
visi ke sana. Oleh karena itu, birokrasi
kita mau tidak mau juga harus diarahkan
untuk menuju birokrasi yang berkelas
dunia di tahun 2045. Nah, ini sesuai
dengan visi kita mewujudkan Indonesia
emas di tahun 2045
di mana Indonesia diharapkan sudah masuk
jajaran sebagai negara berpenghasilan
tinggi.
Nah, itulah visi besar kita di dalam
merancang grand desain RB 2025-2045 di
dalam menyongsong ee Indonesia emas
nanti. Nah, ee untuk bisa mewujudkan
visi itu kita membreakdown menjadi ada
misi, ada tujuan, dan kemudian tentu ada
sasaran. Nah, sasaran ini terkait dengan
perubahan yang kita harapkan dari aspek
birokrasi yang nanti bisa menopang
terwujudnya birokrasi berkelas dunia.
Nah, ada lima sasaran, Sobat ASN yang
penting yang nanti akan kita kerjakan
bersama-sama ke depan dari 2025 sampai
2045.
Mulai dari terwujudnya transformasi
digital sebagai sasaran pertama yang itu
merupakan fondasi dari ee reformasi
birokrasi kita. Kemudian yang kedua
terkait dengan ee aparatur negara ini
harus kompeten dan punya kinerja yang
tinggi dan tentu berdasarkan sistem
merit ini adalah sasaran kedua. Yang
ketiga adalah upaya kita untuk membangun
perilaku birokrasi yang beretika dan
inovatif.
Kemudian yang keempat, nah ini yang
terkait dengan tema kita pada pagi hari
ini, yaitu terbangunnya kapabilitas
kelembagaan berkinerja tinggi yang
berbasis jejaring, dan lincah. Nah, di
dalamnya ini indikatornya nanti terkait
dengan akuntabilitas kinerja. Kemudian
sasaran yang kelima adalah terwujudnya
kebijakan dan pelayan publik yang
berkualitas dan inklusif yang tadi
seperti kami sampaikan ee di roadmap
sebelumnya pun ini menjadi perhatian
kita agar kualitas kebijakan kita ini
betul-betul tadi berbasis pada
nilai-nilai kepikan. Kemudian yang kedua
dirumuskan menggunakan data yang akurat
ee evident based sehingga produknya
tidak menjadi produk kebijakan yang
justru menyusahkan masyarakat, namun
kebijakan yang ee mampu memecahkan
persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
masyarakat.
Nah, inilah ee Sobat ASN sedikit
mengenalkan tentang bagaimana
akuntabilitas kinerja yang itu menjadi
pilar di dalam upaya kita melakukan
reformasi birokrasi. Sebagaimana tadi
sobat ASN lihat baik di Grand Desain
2010-2025
akuntabilitas kinerja itu ee menjadi
bagian penting di dalam menilai
keberhasilan ee RB dan di dalam green
desain yang baru nanti yang sekarang
sedang kita ee godok dan eh airpres-nya
sudah di meja Pak Menteri Sekretariat
Negara. harapannya nanti kalau Perpres
ini sudah keluar di situ persoalan
akuntabilitas juga masih menjadi hal
yang penting. Sebagaimana tadi saya
sampaikan di sasaran keempat,
akuntabilitas masih menjadi ee hal yang
pokok ya di dalam menilai kemajuan
reformasi birokrasi.
Nah, pertanyaannya adalah kemudian
bagaimana mewujudkan akuntabilitas
kinerja pemerintah tersebut ya.
Nah, ee
sobat ASN, kalau kita bicara tentang
bagaimana mewujudkan akuntabilitas
kinerja pemerintah melalui Sakip, tentu
inilah kerangka pikirnya mengapa Sakip
itu dibutuhkan. Kembali kepada tadi
seperti saya sampaikan bahwa
ee ini berkaitan juga dengan peringatan
ee ke-80 tahun kemerdekaan Indonesia.
Tentu ketika Indonesia merdeka para
founding fathers kita itu punya visi
besar ya. punya impian yang ingin
diwujudkan yaitu
sebagaimana termuat di dalam pembukaan
Undang-Undang Dasar yaitu lima daster
itu melindungi, memajukan, mencerdaskan
dan seterusnya yang itu menjadi
cita-cita kita bersama. Nah, untuk
mencapai tujuan itu, negara yang ee
sejahtera, kemudian yang makmur bagi
seluruh rakyat, tentu harus ada kerangka
ee pikirnya, harus ada alurnya, harus
ada logical framework-nya, begitu ya.
Nah, inilah turunannya. Untuk bisa
mewujudkan itu, kita harus punya good
governance. Kemudian kita harus punya
yang disebut result oriented government,
pemerintah yang berorientasi pada hasil.
Kemudian oleh karena itu performance
management menjadi sebuah ee alat yang
penting bagaimana kita mengelola kinerja
pemerintah dan pada akhirnya tools yang
bisa disediakan adalah sakip yaitu
sistem akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah. Nah, tahapan-tahapan ini
yang nanti atau sekarang kita kerjakan
yang harapannya ee lambat laun setahap
demi setahap kita akan mampu mewujudkan
mimpi besar ee
diproklamasikannya
ee Indonesia menjadi negara yang merdeka
itu adalah agar rakyatnya menjadi makmur
dan sejahtera tadi. Nah, secara teoritis
ee sobat ASN,
Sakep ini juga diadopsi oleh banyak
negara ya di dalam mengawal kinerja
pemerintah mereka.
Mengapa Sakip ini ee diadopsi oleh
banyak negara? karena ada beberapa hal
penting yang bisa memastikan agar ee
kegiatan yang dilakukan oleh birokrasi
itu nanti pada akhirnya menghasilkan
sebuah produk yang disebut kinerja. Dan
dari kinerja itulah ee muncul dampak
kebijakan yang ee diinginkan. Nah, ini
ada empat aspek yang penting. Yang
pertama adalah ee
sakit ini membantu kita di dalam membuat
namanya eh clarity about objectives itu
ya. Ada goal performance setting. Jadi
kita merumuskan apa eh tujuan dari
sebuah kebijakan, apa kinerja yang ingin
kita raih. Kemudian yang kedua,
information on results. Jadi kalau kita
punya tujuan tentu harus ada mekanisme
untuk mengukur keberhasilan itu.
Kemudian yang ketiga adalah eh target
for result. Kalau
apa namanya hasilnya bisa diukur, tentu
saja harus ada target-targetnya. Kapan
hasil itu dicapai, tahapan-tahapannya
seperti apa, begitu.
Kemudian yang keempat adalah eh link
between objective and means-nya. Jadi
kalau kita punya tujuan kemudian tujuan
itu ingin dicapai tentu kita harus punya
alat untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Nah, Sakib ini menggabungkan dua aspek
tadi. Bagaimana ee tujuan itu bisa
dicapai dengan alat yang kita sediakan.
Sehingga di sini kalau kita lihat ee
apa namanya?
kita mulai dari mana begitu ya. Kalau
kita mulai melakukan pembangunan dari
sejak kita merdeka kemudian tujuannya
tadi adalah mewujudkan Indonesia yang
sejahtera dan makmur maka di situlah ada
tahapan-tahapannya bagaimana ee masalah
dan isu strategis itu dirumuskan.
Kemudian ee untuk bisa menuju ke sana
kita ee membuat
ukuran-ukuran.
Kemudian setelah ukuran-ukuran dibuat,
kita merumuskan program dan merumuskan
targetnya sehingga di akhir dari
perjalanan kita nanti kita punya ee apa
namanya?
Kinerja yang hendak kita capai yaitu
yang kita sebut kesejahteraan, yang kita
sebut kemakmuran tadi. Tentu
kesejahteraan dan kemakmuran itu ada
ukuran-ukurannya yang secara bertahap
nanti bisa kita wujudkan. Nah, inilah eh
apa namanya?
Theoretical framework dari SAKIP yang
sekarang kita gunakan untuk mengawal
tadi
eh
apa namanya? Result oriented government
untuk mewujudkan visi besar ee Indonesia
merdeka itu. Nah, terkait hal tersebut
ee Bapak Presiden kita Bapak Prabowo
Subianto pun juga punya pemikiran yang
sejalan gitu ya. Inilah arahan ee
presiden kita terkait dengan reformasi
birokrasi yang di dalamnya kalau kita
lihat ada banyak aspek terkait dengan
bagaimana agar birokrasi itu responsif,
agar plan publik diperbaiki dan
seterusnya. Namun demikian, ada salah
satu aspek yang terkait dengan urusan
akuntabilitas kinerja, yaitu
beliau menekankan Bapak Presiden
menekankan perlunya efektivitas alokasi
anggaran. Jadi ini sangat penting kalau
tadi kita bicara keterkaitan antara
mins dan ya, antara hasil akhir dengan
ee instrumen atau alat untuk mencapai ee
hasil akhir itu maka anggaran menjadi
salah satu instrumen penting untuk ee
mencapai tujuan ee sebagaimana sudah
kita gariskan. Nah, apa ee arahan
presiden kita tentang akuntabilitas
kinerja ini? ada banyak
pandangan beliau di dalam banyak
kesempatan ee pidato pidato beliau mulai
dari pidato di DPR maupun di ee
forum-forum yang lain beliau menekankan
tentang pentingnya akuntabilitas kinerja
ini. Misalnya ini beliau mengatakan
bahwa
ee saya perintahkan pemangkasan
perjalanan dinas, seminar, dan acara
seremonial anggaran lebih baik dialihkan
untuk kebutuhan prioritas rakyat.
Artinya, Presiden menekankan bahwa
anggaran ini betul-betul harus digunakan
untuk mencapai apa yang menjadi
prioritas masyarakat, prioritas rakyat.
Sebagaimana tadi di awal kami sampaikan,
refocusing ee RB 2 3 tahun yang lalu
juga tujuannya ke sana agar ee
RB tidak hanya sekedar perbaikan
dokumen-dokumen prosedur saja, tetapi
betul-betul ee berdampak kepada
masyarakat. Kemudian beliau juga
menyampaikan ee tidak usah membuang
tenaga mencari siapa yang salah, yang
penting cari solusi tepat dan cepat
untuk selamatkan kekayaan negara. Jadi
bagaimana agar sumber daya yang terbatas
itu bisa kita selamatkan.
Kemudian beliau juga menekankan
efisiensi anggaran adalah amanah
Undang-Undang Dasar 1945.
Nah, kita sudah berhasil mengalihkan
anggaran ke program yang langsung
dirasakan masyarakat. Beliau punya 11
program prioritas, Sobat ASN mulai dari
MBG ee koperasi
ee merah putih, Sekolah rakyat dan
seterusnya yang itu ee dalam pandangan
beliau memang yang menjadi kebutuhan
masyarakat kita saat ini.
Beliau juga mengatakan kita harus hemat
kurangi kebocoran anggaran, kurangi
pengeluaran-pengeluaran seremonial,
seminar dan seterusnya. Saatnya
mengatasi masalah secara langsung. Nah,
inilah arahan presiden kita ee sobat
ASN.
Oleh karena itu, maka ini yang juga
direspon ee oleh Kementerian PAN RB ya
di dalam mendorong ee Sakip
dengan perubahan paradigma gitu ya.
Kalau dulu ee fokusnya hanya laporan,
sekarang kita membangun sistem. Kalau
dulu fokusnya pada input, realisasi
anggaran gitu ya. sekarang fokusnya
kepada outcome, pada impact yang
dihasilkan dari kegiatan itu. Kalau dulu
fokusnya hal-hal yang bersifat
administratif, tata usaha, ee klerikal
dan seterusnya, sekarang kita geser
lebih bersifat managerial ya, strategic
decision bagaimana PDCA itu kita
lakukan.
Nah, ee oleh karena itu ee urgensi
anggaran berbasis kinerja ini menjadi
sangat penting yang tadi bisa mendukung
ee next slide
apa namanya penghematan anggaran
sebagaimana menjadi arahan ee presiden
kita gitu ya.
Bagaimana ee pengematan anggaran itu
menjadi isu penting. Mengapa perlu
dilakukan budget reform gitu ya. Karena
kita memang punya
PR yang harus disesuaikan. Yang pertama,
belanja publik ini perlu ditekan karena
keterbatasan sumber daya. Jadi, sumber
daya makin terbatas sementara kebutuhan
masyarakat terus meningkat, tidak
mungkin menaikkan pajak terus-menerus
sehingga kita harus lebih ee bijak di
dalam menggunakan sumber daya yang
terbatas tersebut. Kemudian yang kedua,
publik ini menuntut peningkatan kualitas
pelayanan. Jadi kesadaran publik ee
terkait dengan hak-hak mereka sebagai
warga negara ini terus meningkat,
literasi mereka terus meningkat sehingga
ini juga harus kita respon secara bijak
bagaimana menggunakan anggaran untuk
menghasilkan program-program yang
berkualitas yang ee bisa meningkatkan ee
pelayanan publik ee menjadi lebih baik
lagi. Nah, ini saya kira ee
mekanismenya,
cara berpikir kita juga berubah. Kalau
dulu ee apa namanya anggaran itu menjadi
yang utama,
kalau sekarang kita balik gitu ya, cara
berpikir kita itu starting from the end.
From the end apa? Yang paling akhir itu
adalah kita ingin mencapai sasaran
strategis atau yang menjadi prioritas
itu ya. Nah, prioritas pembangunan
nasional kita apa? itu yang menjadi ee
starting di dalam menyusun sebuah
program. Kalau program dan kegiatannya
sudah disusun, baru kita bicara tentang
anggaran. Jadi, kalau dulu startnya dari
anggaran kita punya uang mau dipakai
untuk apa? Kalau ini sekarang kita
balik. Kita punya kepinginan apa? Punya
cita-cita besar apa? Dari cita-cita
besar itu bagaimana cara mewujudkannya?
Kita susun program prioritas. Kalau
sudah ada program prioritas baru kita ee
apa namanya? Tetapkan anggarannya. Jadi
jangan terbalik gitu ya. Sekarang eh
program itu follow result dan monee
follow program eh prinsip yang kita
gunakan. Sehingga prinsipnya di sini
tidak boleh ada satu rupiah pun anggaran
instansi pemerintah yang tidak memiliki
hasil atau manfaat bagi masyarakat. Nah,
oleh karena itu ini ee anggaran yang
berbasis kinerja ini telah mendorong
berbagai macam pencapaian program
pembangunan nasional. Karena tadi
prinsip prinsipnya
ee setiap rupiah itu meter, setiap
rupiah itu punya makna gitu ya yang
nanti ee diharapkan berdampak pada
masyarakat.
Sehingga prinsipnya besaran anggaran
dialokasikan sesuai dengan program
kegiatan yang mendukung prioritas
pembangunan. kemudian berdampak dan kita
harus selalu apa namanya mengupayakan
ada efisiensi anggaran sehingga dapat
dialokasikan untuk program-program
pembangunan lainnya. Nah, karena apa
Bapak, Ibu sekalian? Kalau kita bicara
tentang anggaran yang terbatas itu bisa
zero samgame. Kalau anggaran sudah kita
belanjakan untuk satu kegiatan, maka
meniadakan peluang untuk mendanai
kegiatan yang lain. Nah, sehingga di
sini kita harus betul-betul efisien gitu
ya. Sehingga kalau efisien artinya ruang
fiskal, peluang untuk membiayai kegiatan
yang lain itu masih bisa terwujud.
Begitu. Tidak seperti tadi yang saya
sampaikan, kalau tidak ada efisiensi
maka penggunaan anggaran itu bersifat
seroskim. Sudah untuk belanja
program A, maka menjadi meniadakan
kesempatan untuk membiayai program B.
Sehingga pilihan-pilihan kebijakan ini
harus kita lakukan dengan bijak karena
implikasinya kalau kita salah memilih
ibaratnya kita naik ee
apa namanya? Kapal induk katakanlah
begitu. Kalau sudah ditentukan arahnya,
kita sudah bergerak menuju ke sana, itu
memutar memutar haluannya tidak semudah
kalau kita ee naik kapal freat gitu ya.
Sehingga kapal induk yang besar ini
harus betul-betul mencerminkan arah
kebijakan. Kalau arah kebijakan kita
keliru, maka nanti anggaran yang kita
alokasikan, tenaga yang kita alokasikan
itu menjadi tidak mudah untuk kita putar
ulang. yang itu tadi menyediakan
kesempatan untuk membiayai
program-program pembangunan yang lain.
Nah, Sobat ASN ee
hal lain yang ingin saya share pada pagi
di pagi hari ini adalah
upaya kita untuk melakukan penyempurnaan
terus-menerus itu ya. Meskipun tadi ee
saya sampaikan bahwa
SAKIP ini sudah dipakai di banyak negara
terbukti mampu mendukung ee menghasilkan
kinerja pemerintah yang berdampak bagi
kebutuhan masyarakat. Namun demikian,
berdasarkan evaluasi yang kami lakukan,
Sakip ini perlu disempurnakan agar lebih
baik lagi di dalam upaya kita mendukung
pencapaian ee tujuan-tujuan pembangunan
atau pencapaian program prioritas
pembangunan nasional.
Nah, ee
perlu kami sampaikan di sini di dalam
apa namanya program Asta Citanya Bapak
Presiden
kalau kita bedah itu ya ee program kerja
Asta Cita ketujuh itu menyangkut
reformasi tata kelola pemerintahan itu
ya. Ada berbagai macam hal yang penting
untuk dikerjakan terkait dengan
menciptakan pemerintahan yang berbasis
digital. kita punya program SPBE dan
juga GAFTEK. Kemudian membangun sistem
integritas nasional. Kita punya program
zona integritas.
Menyusun birokrasi yang berdasarkan atas
strategi pembangunan dan menerapkan
manajemen kinerja ASN dengan manajemen
ASN. Nah, yang lain ini meningkatkan
sinergi antar lembaga birokrasi dan
antar daerah. Nah, inilah di dalam Asta
Cita Ketujuh Bapak Presiden ini ada
ee program yang tujuannya meningkatkan
sinergi antar lembaga birokrasi. Nah,
dari evaluasi yang kami lakukan selama
ini ee sobat ASN,
dengan diterapkannya Sakip ini maka
Kementerian Lembaga dan Daerah ini
cenderung fokus kepada kinerja
masing-masing lembaganya, masing-masing
instansinya begitu ya. Sehingga seringki
yang terjadi dari evaluasi kami ee
kinerja instansi pemerintah itu
tercapai. Namun demikian ada mismatch
dengan tujuan atau prioritas pembangunan
nasional. Artinya ada silow-silo antar
instansi, antar pemerintah daerah yang
membuat kinerja instansi itu ee
agregatnya tidak mencerminkan kinerja
pembangunan nasional. Nah, oleh karena
itu maka kita merancang sebuah
kebijakan baru yang kita sebut sebagai
SAKP gitu ya. Yang ini merupakan
penyempurnaan sakip yang tadi sudah kami
sampaikan.
Nah, SAKP itu apa? yaitu rangkaian
sistematik dari berbagai aktivitas, alat
dan prosedur yang dirancang untuk
pengelolaan kinerja pemerintah yang
meliputi ada perencanaan kinerja,
pengendalian pelaksanaan kinerja, dan
nanti ada pelaporannya. Nah, ini ee
strukturnya, Sobat ASN.
SAKP ini terdiri dari
yang baru ini kita sebut SAPN dan yang
kedua adalah Sakip yang tadi sudah ee
kita diskusikan ya. Nah, SAKPN ini
adalah sistem akuntabilitas kinerja
pembangunan nasional. Perlu kita ketahui
bahwa di samping kinerja pada
masing-masing instansi pemerintah
yang terbagi dalam kementerian sektoral
begitu. Namun demikian setiap tahun kita
punya prioritas pembangunan nasional
gitu ya yang itu dikawal oleh
teman-teman yang ada di BAPENAS. Nah,
inilah yang harus kita sinkronkan antara
prioritas pembangunan nasional di satu
sisi dengan ee kinerja instansi
pemerintah di sisi yang lain. Sehingga
harapannya kalau keduanya ini bisa kita
kawal bersama-sama, nanti dampaknya
kinerja pembangunan nasional itu
terkawal dengan baik oleh setiap
instansi pemerintah. Jadi instansi
pemerintah tidak hanya sibuk mengawal
apa yang menjadi kinerjanya, namun
demikian mereka juga ada sharing outcome
bekerja sama dengan instansi pemerintah
yang lain sehingga ee hasilnya nanti ee
prioritas pembangunan nasional bisa
tercapai.
Nah, ini identifikasi persoalannya
seperti tadi sedikit sudah saya singgung
mengapa Sakip menuju SAKP gitu ya.
Nah, sebelum ada SAKP ini realitasnya
seperti ini. Kinerja itu bersifat
parsial masing-masing instansi
pemerintah gitu ya. Kemudian tadi ada
silo dan akuntabilitas instansi
pemerintah tercapai. Masing-masing
instansi itu kinerjanya baik, namun
agregatnya di level nasional itu tidak
terwujud di situ. Nah, nanti harapannya
setelah ada SAKP ini menjadi tidak ada
so lagi, ada ser outcome sehingga tujuan
pembangunan nasional ini bisa kita
wujudkan. Nah, ini dampak SAKP ke depan
yang kita harapkan.
Eh,
slide berikut.
Dari tadinya outcome oriented menjadi
lebih ke impact oriented, meningkatnya
ketercapaian pembangunan nasional dari
instansi pemerintah ini ee apa namanya
yang tadinya outcome kemudian
menghasilkan dampak berupa efisiensi ee
anggaran. Jadi ini adalah upaya kita ee
Sobat ASN ke depan apabila
SAKP ini sudah kita undangkan ini
prosesnya masih di ee Kementerian
Sekretariat Negara untuk di apa namanya
diundangkan Perpres-nya nanti. Nah, ke
depan nanti setelah kita undangkan
harapannya dampaknya seperti yang kita
sampaikan di sini ada pergeseran ee cara
kerja kita dari outcome menjadi dampak
baik ee keselarasan kinerja antar
kementerian, lembaga dan daerah dengan
cashcading dan alignment gitu ya yang
nanti eh oleh
eh strategic diamond gitu ya oleh
Kementerian Sekretar Negara, Kementerian
Keuangan BEPENAS dan Kemen PAN yang
mengawar mengawal alignment ini sehingga
ya ke depan dampaknya peningkat
meningkatnya ketercapaian pembangunan
nasional. Kemudian yang kedua adalah
instansi pemerintah harapannya lebih
bijak di dalam menyusun mengelola
anggaran sehingga kita memiliki
efisiensi. Itu saya kira tiga hal yang
ingin saya sampaikan pada pagi hari ini.
Mudah-mudahan
ee bisa menginspirasi ya sobat ASN di
dalam berkarya meningkatkan kinerja di
instansi masing-masing. Dan seperti tadi
kami sampaikan, tidak hanya bersifat
silo. Ke depan kita harapannya bisa
berkolaborasi antara instansi pemerintah
sehingga tujuan pembangunan nasional
bisa kita wujudkan bersama-sama. Terima
kasih. Saya kembalikan ke Mbak Fani.
Baik, terima kasih banyak Prof. Erwan
atas insight-nya dan juga ilmu yang
telah disampaikan kepada sobat ASN di
mana pun berada. Kita langsung saja
menuju ke sesi tanya jawab. Untuk itu,
Sobat ASN yang ingin berinteraksi secara
langsung silakan untuk raise hand
sekarang juga. Maka kami akan koneksikan
untuk live cam dan open mic. Disilakan
sambil kami menunggu.
Oh, sudah ada. Baik, selamat pagi Bapak.
Selamat pagi Bapak dengan Bapak Joko.
Betul
Bapak Joko Kusuma.
Selamat pagi Bapak dengan Bapak Joko.
Betul
betul. Selamat pagi.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Bapak Jok
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuhi. Bapak dengan Bapak Joko.
Betul.
Betul. Betul sekali.
Oke.
Asalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Untuk monitor audionya boleh dimatikan
karena terdengar
gaung di kami. Pak,
audionya boleh di
mic-nya tetap open mic, namun monitor
untuk sound-nya boleh dimatikan, Bapak.
Halo.
Nah, baik. sudah terdengar dengan jelas,
Pak Joko. Silakan untuk interaksi
pertanyaan maupun
mungkin diskusi yang dilakukan dengan
Prof. Erwan.
[Musik]
Selamat pagi. Asalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
I baik sudah terdengar dengan jelas Pak
Joko. Silakan untuk interaksi pertanyaan
maupun mungkin diskusi yang dilakukan
dengan Prof.
Baik, terima kasih pemateri. Jadi ee
selamat pagi. Asalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Baik, sudah terdengar dengan jelas. Pak
Jok silakan untuk interaksi.
Iya suaranya membalik. Eh, mana ini suar
terima kasih
suaranya mendal. yang ingin saya
tanyakan.
[Musik]
Baik, masih terkendala komunikasi dan
teknis begitu ya. Maka kami akan tunggu
dulu sebentar Pak Joko untuk dapat
dibetulkan. Kami menunggu sobat ASN lain
yang ingin raise hand silakan masih ada
waktu yang ingin ditanyakan dan juga
didiskusikan dengan Prof. Perw. Pada
kesempatan kali ini
disilakan Sobat ASN sekali lagi yang mau
berdiskusi untuk raise hand atau saya
juga akan menunggu pertanyaan tertulis
melalui kolom chat dari Zoom meeting
yang telah hadir pada pagi hari ini.
Baik, kami masih menunggu.
Ada lagi.
Oke, kami sudah sambungkan
dengan salah satu sobat ASN yang telah
tergabung. Halo, selamat pagi Bapak
Doni. Atau saya juga akan menunggu
pertanyaan tertulis melalui kolom chat
dari Zoom meeting-nya.
Pak Doni selamat pagi.
Betul dengan Pak Dani ya, Bapak Dani
dari Setda Ngawi.
Mic-nya baik, kami akan settingkan.
Oke, siap. Sudah,
sudah. Baik,
apa kabar, Pak Dani?
Halo. Selamat.
Kabar baik. Terima kasih. Siap. Silakan
Bapak untuk pertanyaannya.
Baik, menarik sekali tadi yang
disampaikan ee saya hanya ada sedikit
pertanyaan yang menelitik tadi tentang
anggaran sekarang. Ee dulu kan kinerja
berbasis anggaran, kalau sekarang tadi
dikatakan anggaran mengikuti program
itu. Itu nanti implementasinya
bagaimana? karena kenyataan yang terjadi
saat ini ee itu belum belum terjadi.
Mohon izin untuk penjelasannya lebih
lanjut.
Eh, saya hanya ada sedikit pertanyaan
yang tadi tentang
Baik, disilakan untuk jawabannya Prof.
Erwan
sekarang
iya sepertinya ada persoalan ini ya,
Mbak ya. teknis betul
kenyataan yang terjadi saat ini
I. Baik, terima kasih Pak Doni
pertanyaannya.
Jadi seperti tadi kami sampaikan memang
ini kita mengenalkan ee peradim ya.
Perlu ada pergeseran cara pandang kita
terkait dengan anggaran.
Kalau selama ini ee
ketika kita merancang sebuah program
kegiatan itu dimulai dari alokasi
anggaran dulu gitu ya. Kita punya uang
kemudian uang itu akan digunakan untuk
apa itu baru dipikir kegiatannya
ee program-programnya begitu.
Padahal mestinya ee tidak seperti itu
ya. Ibaratnya kalau ibu-ibu mau ke pasar
kan mestinya sudah punya tujuan ke pasar
itu ingin masak apa gitu ya, bukan ke
pasar kemudian nanti ketemu di jalan
membeli
ee apa namanya?
Barang-barang yang kemudian baru sampai
rumah dirancang masaknya yang ee
seadanya sesuai dengan barang-barang
yang tadi didapat di pasar gitu ya. Nah,
ini yang ee kita tidak ingin seperti itu
gitu.
Jadi inginnya memang sejak awal ketika
berangkat itu sudah punya tujuan. dari
tujuan itu baru dia ke pasar mencari ee
bahan-bahan yang akan dipakai untuk
membuat sesuatu sayur ee lodeh misalnya
ee apa namanya unsur-unsurnya itu sudah
dipelin di situ. Nah, mestinya idealnya
seperti itu nanti, Pak Doni ke depan
kita punya goal yang jelas baru setelah
punya goal kita breakdown apa tujuannya,
apa namanya program-programnya apa, baru
kemudian kita alokasikan.
Demikian ya ee jawabannya ini. Kami
masih mendengarkan lagu Indonesia Raya
sebentar.
Baik, karena memang di sana setiap pukul
09.00 lebih atau pukul 10.00 ya lebih
tepatnya untuk mendengarkan bersama-sama
lagu Indonesia Raya. Pak Dani mungkin
ada yang mau ditambahkan?
Oke, sementara gitu. cuman nanti apa
apa ya teknisnya itu yang kan ee
jawabannya
eh seperti halnya penganggaran itu sudah
di
apa namanya sudah disusun dulu kan ini
anggaran kadang dan kadang kala
tujuannya itu berubah kan kita selalu
menganggarkan untuk N plus 2 ya jadi
mungkin teknisnya nanti yang perlu
diimplementasinya
perlu diperjelas lagi.
Baik, silakan di
Iya, betul Pak Doni. Jadi teknisnya ini
kami kawal itu ya karena sejak ee
Kementerian PAN RB ditetapkan menjadi
bagian dari strategic diamond. Maka
sekarang di dalam setiap merumuskan
ee RPJMD dan juga RENSTRA itu kami
dilibatkan bersama-sama dengan BAPENAS
dengan ee Kementerian Keuangan dan
dengan ee daerah terkait itu terlibat di
dalam menyusun RPJMD. Artinya seperti
tadi kami sampaikan berarti ee kinerja
yang ingin kita capai itu kita rumuskan
lebih dahulu gitu ya. Nah, sehingga di
sini kita ngawal itu dari visi misi yang
sudah dibuat oleh kepala daerah terpilih
kemudian dikonversi menjadi RPJMD di
situ kita kawal. Kemudian dari RPJMD
nanti turunannya menjadi RENSRA OBD.
Artinya ini kan kita mulai dari belakang
gitu ya,
dari idealisme apa yang kita wujudkan di
satu daerah. Dari situ nanti kami akan
turun membantu di dalam menerapkan sakit
tadi. Setelah RPJMD-nya betul
dirumuskannya, tujuan sasaran ee
pengumpulan kinerjanya itu sudah sesuai
baru kemudian detailnya nanti kami kawal
oleh teman-teman dari Kemenpan untuk
menerapkan SAKIP di masing-masing OPD
gitu. Jadi ee seperti itu baru kemudian
nanti menjadi program ee kegiatan dan
anggarannya dialokasikan di situ. Nah,
sehingga kita mulainya pekerjaannya ini
dengan BAPENAS dengan Kementerian
Keuangan dimulai dari belakang dulu gitu
ya, dari sesuatu yang ingin kita
wujudkan, kemudian kita bergerak ke
depan ee anggaran yang kita alokasikan
untuk mencapai tujuan itu. Ini yang
sekarang sudah kami lakukan ee Pak Doni.
Ya, dengan kata lain, Prof. Izin e tadi
pagi saya membaca berita terkait dana
keistimewaan Jogja ya. Jadi di tahun
ini dulu ada 1,6 atau berapa kemudian
efisiensi menjadi 1,3 yang di tahun
depan itu akan tinggal 500 itu 500 M.
Jadi misal ketika cita-cita itu sudah
ditetapkan di depan nanti efisiensi
seperti ini akan tidak akan bisa terjadi
ya. Dengan kata lain itu
kan tadi anggaran berdasar cita-cita
kan.
Iya tentu saja kan ada cita-cita ya.
Cita-citanya itu yang diwujudkan dalam
bentuk tadi RPJMD ya. Kalau di Jogja
berarti ee salah satu di muatan di dalam
RPJMD itu ada ee urusan keistimewaannya
gitu ya. Urusan yang sama dengan
pemerintah daerah yang lain di Jogja ada
urusan keistimewaan terkait dengan
persoalan tanah, budaya dan seterusnya
yang ada lima kalau tidak salah. Nah,
tentu ee Pak Doni yang namanya
tujuan, yang namanya cita-cita itu
dinamis gitu ya.
dinamisnya apa? Ada konteks ee
eksternal, ada internal, ya. Karena
situasi, asumsi-asumsi ketika kita
menyusun tujuan dari pembangunan itu
juga tidak statik gitu. Sayangnya itu ya
jadi sesuatu yang ideal ketika di tengah
ee perjalanan ini ada yang berubah, mau
enggak mau kita adjust gitu ya. Kita
adjust apa yang menjadi prioritas. Kalau
tadinya di Jogja punya 10 hal yang
diwujudkan. Kalau anggarannya terpaksa
berubah, berarti cita-citanya kita
kurangi gitu ya. Kita sesuaikan. Ini kan
realitas kehidupan begitu. Ee karena
dunia tidak statis gitu ya. Kita bicara
tentang perubahan baik pada level
nasional maupun pada level global.
Karena perubahan ee kebijakan politik
misalnya di Amerika dan negara-negara
yang lain itu juga berdampak kepada kita
ya. Misalnya perang dagang dan
sebagainya. kita tidak bisa kemudian ee
stuck pada asumsi-asumsi awal yang kita
rumuskan. Namun enggak mau kita juga
mengadjust ee kebijakan kita. Begitu.
Begitulah dinamiknya akir pada akhirnya
function mon.
[Musik]
Baik, terima kasih Prof atas penjelasan.
Menyulkan diri. Betul. Betul. I
siap. Betul. Terima kasih.
Sama-sama Pak Doni.
Baik Pak Dani. Terima kasih banyak untuk
pertanyaan dan diskusinya. ini menarik
sekali dan seru. Namun waktu yang sangat
terbatas harus mengakhiri sesi diskusi
ini. Terima kasih Prof. Erwan atas
jawaban dan juga diskusi yang telah
dilakukan dan waktunya.
Terima kasih Mbak Fan
juga ya yang sudah menyempatkan untuk
bisa berdiskusi.
Baik, terima kasih juga atas waktunya di
sela-sela kesibukan di hari Kamis ini
Prof. untuk dapat hadir secara online.
Semoga kita dapat berjumpa lagi pada
kesempatan berikutnya. Terima kasih
banyak sekali lagi. Baru saja kita
menyimak sobat ASN pemaparan yang
disampaikan oleh narasumber kita yang
pertama yaitu Deputi Bidang Reformasi
Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan
Pengawasan Kementerian PAN RB Prof. Dr.
Erwan Agus Perwanto, M.Si. si dan segera
kita akan kembali lagi untuk menemui dan
juga menjumpai secara online narasumber
kita yang kedua setelah yang satu ini.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
bersama membangun asa
menuju cipta yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti menitipi zaman
dengan semangat pembaruan,
ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
PPS Jatim Pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdas dan inovasi bersatu dalam
visi yang terang menjawab tantangan
jangan gemilang
PPSDM Jawa Timur Center of Exens masa
depan
[Musik]
bersama membangun asa
menuju cita yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti meniti zaman
dengan semangat pembaruan
ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
BPSM Jatim Pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetat SDM berkompetensi
tangguh cerdas penuh inovasi bersatu
dalam visi yang terang menjawab
tantangan dan jangan demiang
BPSDN Jawa Timur Center of Sans masa
depan demil hilang
[Musik]
Terima kasih Anda masih bersama dengan
kami Sobat ASN dalam webinar seri ke-32
tahun 2025 kali ini mengambil tema
akuntabilitas kinerja ASN jalan
pengabdian menuju birokrasi bersih dan
berintegrasi. Tadi telah kita simak
bersama pemaparan yang telah disampaikan
oleh narasumber yang pertama yaitu Prof.
Erwan dari Kementerian PAN RB Republik
Indonesia. Maka saatnya kita untuk
menyapa narasumber kita yang kedua.
Beliau sudah menyempatkan diri untuk
dapat hadir secara online dan menyapa
kita semua yaitu manajer bidang mutu
regulasi dan kerja sama LSP KPK Republik
Indonesia Bapak Muhammad Ridwan Afan,
SH.
Selamat pagi, Pak Ridwan.
Selamat pagi, Mbak dan rekan-rekan
semua. Selamat pagi.
Pagi. Terima kasih banyak telah
menyempatkan waktunya. Kami mengerti
bahwa sibuk sekali yang harus dikerjakan
dan juga banyak jadwal yang harus
dilakukan. namun menyempatkan diri untuk
dapat menjadi narasumber kita pada momen
kali ini. Terima kasih banyak, Pak
Ridwan.
Terima kasih kembali, Mbak.
Dan saya sedikit ingin mengenalkan
profil singkat mengenai narasumber kita
yang kedua, yaitu Bapak Muhammad Ridwan
Afan, SH. Tinggal dan lahir di Jakarta.
saat ini menjadi spesialis anti korrupsi
and good governance, praktisi
sertifikasi provinsi, certified
integrity officer, certified senior
antiorruption instructor dengan resume
keahlian 11 tahun berpengalaman sebagai
pengajar, narsum, trainer dan pengembang
kurikulum modul tema anti korupsi anti
fraud kepatuhan fraud risk management
and good governance pada berbagai jenis
organisasi. fasilitator dan konsultan
implementasi sistem integritas
organisasi yang berbasis ISO 37001
2016 anti bribery management system ABMS
dan panduan cek KPK serta 7 tahun
berpengalaman sebagai pengelola lembaga
sertifikasi profesi LSP dan asesor
kompetensi. Wow, dengan background yang
luar biasa ini saya sudah tidak sabar
juga untuk dapat mendapatkan ilmu dan
insight dari Pak Ridwan. Untuk itu waktu
kami silakan Pak Ridwan.
Baik, terima kasih Mbak, Bapak, Ibu
sekalian, para sobat ASN. Saya izin
share screen terlebih dahulu
sekaligus menyapa dengan asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Bapak, Ibu
sekalian, ee senang sekali kami dari KPK
dapat kesempatan untuk berbagi bersama
berkaitan dengan tema yang diajukan oleh
panitia yaitu integritas ASN sebagai
benteng pencegahan korupsi. Nah,
rekan-rekan sekalian, Sobat ASN, kalau
kita ngomongin integritas ASN itu kalau
kita pakai pendekatan logical framework
analisis ya atau LFA itu maksudnya sudah
output. Nah, untuk mencapai integrasi
ASN ini kita perlu namanya memberikan
input yaitu berkaitan dengan penguatan
knowledge-nya atau pemahaman berkaitan
dengan ee apa itu korupsi, gratifikasi,
dan choy karena inilah jenis-jenis
korupsi yang sangat mungkin terjadi dan
dilakukan oleh ASN baik sengaja maupun
tidak disengaja. Sehingga di judul
paparan saya adalah membangun integritas
dengan memahami korupsi, gratifikasi dan
coy. Bapak, Ibu sekalian, 30 menit ke
depan mungkin ada beberapa hal yang
perlu ee kami sampaikan.
Setidaknya nanti mungkin kita akan fokus
di tiga hal saja, yaitu sedikit saya
akan menyampaikan soal korupsi, kemudian
kedua kita akan ngomongin penyebab dan
strategi pemerintasannya. Termasuk nanti
kita akan melihat bagaimana peran
individu ASN dalam pemberantasan dan
strategi pemberantasan korupsi di
Indonesia atau di organisasi.
Dan yang ketiga kita akan melakukan
overview kondisi korupsi di Indonesia
serta kalau memungkinkan waktunya kita
akan menyampaikan mengenai mengenal
gratifikasi sebagai the silent killernya
korupsi dan juga mengenal conflict of
interest. Dua hal ini adalah dua jenis
korupsi yang seringki terjadi di
lingkungan kita sebagai ASN. Dan lebih
parahnya lagi, gratifikasi dan COI ini
kadang-kadang adalah jenis korupsi yang
kita lakukan karena ketidaktahuan.
Bahkan mungkin kita melakukannya juga
tanpa niatan. Tapi sayangnya gratifikasi
dan COI ini seringki melekat pada Tupoxi
kita sebagai ASN.
Nah, Bapak Ibu sekalian, saya ingin
memulai dengan eh sebuah adagium yang
disampaikan oleh Ron. Ron ini ee
bangsawan Inggris. Beliau bilang untuk
memahami korupsi kita cukup memahami
kata-kata Lord Acton ini secara singkat.
Power tends to corup absolute power
corrupt absolutely. Kekuasaan itu
cenderung dengan korupsi. Kekuasaan yang
absolut pasti korupsinya absolut pula.
Nah, dari sini kita bisa ee melihat
bahwa sebenarnya
ee sifat asli dari korupsi adalah
menempel dengan kekuasaan. Maka di mana
ada kekuasaan, sekecil atau sebesar
apapun potensi risiko korupsinya ada.
Nah, kalau kita berkaca pada ee peran
kita sebagai ASN yang mana tentu ada
kekuasaan yang melakat di sana, maka
otomatis ada potensi juga korupsi yang
melekat mengikutinya.
Kemudian yang kedua, Bapak Ibu sekalian,
sebagaimana dibahas dalam UNCIC, United
Nation Convention Corruption, maupun
tercantum dalam eh konsideran
Undang-Undang Tipik dan juga Undang KPK
secara argumentum alkontrario itu
menunjukkan bahwa korupsi adalah
kejahatan luar biasa. Kenapa dia disebut
kejahatan luar biasa? Dan ini harus
dipahami oleh kita bersama dan diresapi
sehingga kita punya paradigma atau cara
pandang memandang korupsi adalah
kejahatan luar biasa. maka melawannya
pun harus dengan cara luar biasa juga.
Sehingga tidak lagi ditemukan misalkan
organisasi yang mengesampingkan, "Oh,
nanti aja nih kita bikin sistem
integritas organisasi karena korupsi itu
risikonya kecil atau misalkan itu bukan
ancaman serius dan sebagainya. Padahal
undang-undang dan kesepakatan
internasional juga sudah menyatakan
bahwa korupsi adalah kejahatan luar
biasa yang disebabkan karena dia adalah
kejahatan yang berpotensi dilakukan oleh
siapa saja Bapak Ibu sekalian.
Bahkan dalam beberapa literatur
disebutkan bahwa korupsi adalah jenis
kejahatan yang tidak butuh bakat.
Sebenarnya ini yang sedikit membuat
ironi. Korupsi potensi ada di siapa saja
sehingga dia disebut sebagai kejahatan
white colar crime juga atau kejahatan
orang eh pintar. Karena biasanya orang
pintar itu menggunakan kerah putih.
Sehingga diistilahkan korupsi adalah
kejahatan kerah putih. Korbannya juga
biasa bisa siapa saja dalam konteks
korupsi. Bahkan korbannya tidak merasa
dirinya korban. sehingga ini membuat ee
efek jera dan juga sanksi sosial bagi
pelaku koruptor tidak berlaku
sebagaimana mestinya. Yang ketiga,
korupsi itu punya kekhasan yaitu
dampaknya snowball effect atau
katastrofik. Jadi, Bapak Ibu bisa
bayangkan KPK pernah menangani kasus di
Kalimantan itu ada ee seorang kepala
daerah yang beliau disuap Rp2 miliar
untuk ahli fungsi lahan hutan. darinya
hutannya tidak boleh di ekstraksi.
Diberikan izinnya keluar dengan suap 2
miliar tadi sehingga keluar izin
ekstrasinya. Untuk galian tipe C. Bapak
Ibu tahu setelah kita lakukan kajian dan
penyidikan ternyata kerugian negara
totalnya bisa 5,9 triliun dihitung dari
kerusakan lingkungan, ee dampak
ekologis, sosiologis dan sebagainya.
Jadi, Bapak, Ibu ini baru kita baru
ngomongin ee ketika suatu kejahatan
korupsi, satu kasus korupsi
divaluasikan.
Ini sudah menunjukkan betapa
katastropiknya atau betapa snowball
effectnya dampak dari korupsi. Dan yang
terakhir, korupsi adalah jenis kejahatan
yang sangat terorganisir bahkan sifatnya
lintas negara. Nah, makanya
kejahatan-kejahatan korupsi rata-rata
sulit untuk diungkap, susah untuk
ditelusur, diracing ee bahkan ditacing
aliran dananya dan sebagainya. Karena
memang dia punya kejahatan yang kekhasan
yang sangat organisir dan sifatnya bisa
sang lintas negara. Saya punya contoh
Bapak Ibu sekalian ini adalah eh mapping
skema aliran dananya.
ini sudah e ingkrah ya, jadi boleh kita
jadikan contoh kasus IKTP-nya pas.
Bapak, Ibu bisa bayangkan
ee PPATK pada saat itu saja sampai tidak
bisa melakukan penelusuran aliran
dananya saking canggih dan
sopisticatednya modus korupsi IKTP pada
saat itu.
Aliran dananya setelah kita lakukan
mapping itu ternyata mengalir ke lebih
dari tujuh negara untuk diayering atau
dilakukan pencucian uang. Bahkan ee kita
akhirnya bisa menemukan ekor aliran
dananya dari sebuah invoice yang
ditemukan di sebuah negara namanya
Mauritanius. Bapak, Ibu bayangkan
korupsi hari ini sudah sopisticated ini
melibatkan lintas negara dengan sangat
terorganisir ee dan kerugian juga sangat
besar. Jadi, Bapak Ibu bisa bayangkan
hari ini korupsi adalah kejahatan yang
sangat luar biasa sehingga kita tidak
bisa biasa-biasa lagi dalam
memberantasnya. termasuk ketika kita
ngomongin di internal organisasi kita
hari ini mungkin modus korupsi yang
terjadi sudah sangat sopicated bahkan
mungkin pengawas internal atau
inspektorat kadang-kadang belum bisa
meng-capture sehingga banyak sekali
modus-modus korupsi baru yang belum bisa
e di apa namanya ditangani dengan baik.
Nah, Bapak, Ibu sekalian, kalau kita
ngomongin ee korupsi maka tidak lepas
dengan yang namanya Undang-Undang 30
ee 31 tahun 99 junto 2021 berkaitan
dengan Undang-Undang Tindak Pidana
Korupsi. Bapak, Ibu, ini menjadi penting
karena begini, Bapak, Ibu sekalian.
Pertama, kalau kita lihat ee
naturalis dari undang-undang ini
sebenarnya undang-undang tipikot itu
dibentuk dan dibikin oleh para pembuat
undang-undang. Subjek hukum utamanya
adalah para penyelenggara negara, para
aparur sipil negara dan juga APH. Bapak,
Ibu bayangkan. Jadi, undang-undang tupik
kalau di negara kita itu dibentuk
sebenarnya untuk ee dengan subjek hukum
utama kita PSASN.
Nah, tapi di satu sisi lain ironisnya
justru malah jarang sekali kita dengar
ASN ini sudah melag berkaitan dengan
jenis-jenis tindak pidana korupsi.
Makanya penting saya sampaikan di awal
kalau kita pengin ngomongin integritas
ASN yang nanti berdampak pada kinerja
organisasi maka penting juga menguatkan
kapabilitas dan kapasitas ASN berkaitan
dengan korupsi ini. Dia harus tahu apa
jenis-jenis korupsi yang enggak boleh,
modusnya apa dan sebagainya. Sehingga
mustahil kalau kita pengin memberantas
korupsi apalagi pengin membangun
integritas ASN tapi kita tidak
menguatkan aspek knowledge-nya karena
ini jadi salah satu problem. Yang
lucunya adalah Bapak Ibu sekalian, di
satu sisi kita adalah subjek hukum
utamanya, tapi di satu sisi lain
knowledge kita soal korupsi dan
jenis-jenisnya juga sangat minim.
Sehingga banyak sekali kasus di KPK yang
ketika di persidangan para ee
terdakwahnya bilang bahwa saya enggak
tahu, saya enggak pernah baca
undang-undangnya, saya tidak pernah
lihat pasalnya, saya enggak tahu kalau
yang saya lakukan salah dan sebagainya.
Padahal di mata hakim tidak pernah baca
undang-undang, enggak tahu dan
sebagainya. Itu bukan alasan pemaaf atau
alasan pembenar yang bisa mengurangi
hukuman. Karena ee ya sebagaimana Bapak
tahu kita dianggap tahu hukum ada-ada
giumnya itu.
Nah, Bapak, Ibu sekalian kalau kita
lihat dari tujuh jenis ini dari mulai
urban keuangan negara, suap-menyuap,
penggelapan sampai ke nomor tuuh konf
dalam pengadaan sebenarnya yang paling
sangat sumir, yang paling sangat masuk
korupsinya tapi dengan diam-diam makanya
disebut silent killer of corruption itu
ada dua, yaitu gratifikasi
dan konflik kepentingan dalam pengadaan
atau kalau boleh kita persingkat konflik
kepentingan saja.
Dua hal ini seringkiali diterima dengan
ucapan alhamdulillah. Bahkan dipamerkan
di media sosial. Bahkan saya punya
cerita gini, Bapak Ibu sekalian. Saya
punya teman beberapa orang ee karena
saya di Fakultas Hukum, saya punya teman
beberapa jaksa. Salah satu teman saya
masih temenan di Instagram. Dia
seringkiali posting dia memfoto mobilnya
sedang diservis sambil dikasih eh
caption, "Terima kasih ko Ahun, servis
hari ini gratis, lancar-lancar
rezekinya." Bayangkan seorang jaksa
beliau kasih pitsus di salah satu
kejaksaan di Sumatera. Beliau memposting
sedang menerima gratifikasi dari ee
pihak ketiga tapi diumbar-umbar di media
sosial. Padahal beliau kasih pitsus loh
pidana khusus yang mana korupsi di
dalamnya ee menjadi salah satu
tupoksinya dia. Bayangkan seorang kasih
pitsus aja tidak tahu bahwa gratifikasi
yang sedang diterima dia adalah bentuk
gratifikasi yang dilarang atau wajib
dilaporkan malah disombongkan. Nah, itu
berarti kita punya problem berkaitan
dengan literasi anti korupsi. Dan yang
kedua ada yang namanya konflik
kepentingan. Ini juga sama Bapak Ibu
sekalian seringki dilakukan dengan
begitu banyak rasionalisasi.
Berbeda dengan jenis korupsi lainnya itu
butuh kalau kita bahasa bahasa
bercandanya ya, jenis korupsi lainnya
tuh butuh ketegaan
atau butuh niat jahat yang sangat nyata.
Contoh suap-menyuap, pemerasan, ee
perbuatan curang, penggelapan dalam
jabatan dan sebagainya. butuh niat jahat
yang sangat nyata atau butuh ketegaan
kalau kita bahasanya. Tapi untuk
gratifikasi sama coy itu pertama karena
jenis tindak pidananya sangat sumir atau
sangat halus. Yang kedua,
rasionalisasinya banyak sekali untuk
bentuk pembenarannya dalam menerima
gratifikasi maupun membenarkan COVID
kepentingan yang terjadi.
Kemudian Bapak Ibu sekalian,
ada juga tindak pidana lain yang
berkaitan dengan korupsi tapi sebenarnya
bukan korupsi. Nah, contoh misalkan
merintangi pemeriksaan perkara korupsi
pasal 21 dan sebagainya. Nanti Bapak Ibu
silakan baca saja. ini juga bagian yang
mungkin ee misalkan nih ada atasan kita
atau rekan kerja kita yang terkena atau
lagi diperiksa kasus korupsi, Bapak, Ibu
jangan saya kali-kali mencoba
menyembunyikan ee membantu, mencoba apa
namanya memberikan kesaksian palsu
bahkan karena itu nanti bisa kena pasal
21. Kalau Bapak Ibu ingat ini contoh
nyatanya waktu kasus pasov juga tuh eh
pengacara beliau Pak Frederik itu kena
pasal 21 karena ternyata menskenariokan
eh Pasetnov nabrak tiang listrik. Kalau
Bapak Ibu ingat ya, ee yang benjol
sebagai Bapau kan itu merintangi proses
penyidikan,
sori merintangi proses pemeriksaan
perkara korupsi sehingga beliau kena
pasal 21 bersama dr. Bimanes pada saat
itu. Nah, Bapak Ibu ini penting juga ee
dalam konteks korupsi karena korupsi
adalah kejahatan luar biasa. Bahkan
treatmen kita dalam undang-undang untuk
para pelaku cobaan, pelaku pembantu atau
pelaku pemufakatan jahat ini dipidana
sama dengan tindak pidana utamanya. Jadi
kayak pelaku utama di pidananya. Beda
pelu kejahatan lain, Bapak, Ibu
sekalian. Pelaku pembantu, pelaku
percobaan atau pelaku pemuafakatan jahat
ini biasanya sepertiga hukumannya. Tapi
kalau dalam pindak-pindak korupsi
biasanya jaksa akan menuntut sama dengan
pelaku utamanya. karena memang
dimungkinkan di pasal 15 undang-undang
201. Jadi, Bapak Ibu sekalian sudahlah
kalau ada atasan yang ngajak korupsi,
ada atasan yang ngajak main-main proyek,
baiknya ditolak. Nah, karena sekali lagi
ee percobaan pembantuan, bahkan
pemfangatan jahat dihukum sama sori
dituntut sama dengan pelaku utamanya.
Yang selanjutnya Bapak Ibu ya ini yang
membuat miris dan ini yang kejadian hari
ini di ee Indonesia ketika kita
ngomongin korupsi biasanya paradigma
yang pertama muncul adalah lembaga saya
defensif biasanya lembaga saya
insyaallah aman valus lembaga saya kuat
enggak bakal ada korupsi di sini padahal
tadi Lord aja sudah bilang di mana ada
kekuasaan di situ ada cenderung potensi
untuk korupsinya di mana pun dengan
latar belakang ee sektor apapun lembaga
pasti ada potensinya Atau yang lebih
parah adalah bahwa ketika ngomongin
korupsi, wah saya mah enggak korupsi
karena enggak ada uang negara yang rugi
di dalamnya. Padahal korupsi itu enggak
hanya berkaitan dengan kerugian keuangan
negara saja, Bapak Ibu sekalian. Kalau
kita ngomongin 30 delit tindak pidana
korupsi di Undang-Undang TIBOR itu hanya
dua pasal yang ngomongin secara ansi
kerugian keuangan negara. Pasal 2, pasal
3 sisanya ngomongin behavior. Contoh
misalkan dalam konteks gratifikasi di
sana sangat mungkin tidak ada kerugian
negara yang muncul karena gratifikasi
itu personal jatuhnya atau dalam konteks
suap-menyuap. Konteks suap-menyuap juga
sangat mungkin enggak ada kelugian
negara yang terjadi di sana. Jadi
korupsi tidak hanya melalu tidak hanya
berkaitan dengan pedugian keuangan
negara saja. Makanya itu pentingnya
Bapak, Ibu sekalian memahami literasi
soal korupsi juga atau berdalih lembaga
saya sudah diaudit WTP wajar tanpa
pengecualian. Jadi enggak mungkin ada
korupsi di lembaga saya sehingga itu
jadi rasionalisasi. Oh, dengan WTP ini
saya enggak perlu bangun sistem
integritas di organisasi. Padahal Bapak
Ibu ketahui sendiri apakah WTP itu bisa
meng-capture di belakang yang enggak ada
kickback? Apakah bisa meng-capture ada
gratifikasi atau enggak ada gratifikasi
di organisasi tersebut? Kan tidak
tentunya dan sebagainya.
Kemudian ini penting juga kenapa orang
bisa korupsi. Kenapa kita penting
memahami penyebab Bapak, Ibu sekalian?
Karena ada filosofi dokter ya. Untuk
memberikan obat yang tepat, seorang
dokter harus melakukan diagnosis mencari
penyebabnya sehingga bisa meresiapkan
obat yang tepat. Begitu pula kalau kita
ngomongin bagaimana memberantas korupsi
di organisasi kita. Kita harus tahu dulu
mayoritas penyebabnya sih karena apa
sih? baru kita bisa menentukan treatment
yang tepat untuk memberantas korupsi di
internal organisasi
ini. Ada berbagai macam studi dan juga
teori berkaitan dengan ee penyebab
korupsi ini. Contohnya salah satunya
adalah
riset yang dilakukan oleh ee teman-teman
kita di Brazil.
Dia mengumpulkan bebagai macam kas-kus
dari seluruh dunia dan ternyata
memberikan kesimpulan bahwa mayoritas
orang korupsi karena gaya hidup.
Yang kedua karena pasangan. Nah,
kemudian tekanan keuangan dan
sebagainya. Nah, kemudian yang
selanjutnya
ini juga ada namanya diamond fraud. Jadi
eh semacam teori kenapa sih orang bisa
korupsi? Yang pertama karena pressure,
tekanan baik internal maupun eksternal.
Tekanan internal biasa sifatnya tadi
karena gaya hidup, kebutuhan, terlibat
judul misalkan dan sebagainya. Eksternal
misalkan tekanan atasan. ekosistem
organisasi yang sangat menyuburkan dan
menormalisasi korupsi itu juga bisa jadi
bentuk pressure. Opportunity kesempatan
kesempatan ini muncul karena sistem yang
lemah kapasitas kapabilitas kemampuan
yang melekat biasanya pada jabatan,
kewenangan, dan sebagainya. Semakin dia
punya kewenangan, maka semakin mungkin
juga terjadinya korupsi. Dan yang paling
parah adalah rasionalisasi atau
pembenaran. Oh, saya sudah lama kok di
sini. Oh, yang lain juga begitu. Oh,
saya minjam dulu uangnya dikembalikan
dan sebagainya. Nah, Bapak Ibu sekalian,
ini saya pengin memberikan contoh
sedikit saja. Ada beberapa ee contoh
koruptor yang Bapak Ibu bisa lihat
sekali bagaimana serakahnya mereka dan
bagaimana sudah di luar nalar. Ini
adalah salah satu contoh misalkan ini ee
sudah ingkrah juga boleh kita jadikan
ibrah dan contoh. Ini kisah kasusnya
patai cewek. Bayangkan Bapak Ibu
sekalian, Partai CW itu
memainkan 1105 proyek di Banten
dengan nilai ee total yang diita 500
miliaran lebih termasuk di dalamnya 175
unit rumah dan ada 111 SPBU di
antaranya. Bayangkan saking serakahnya
dia, dia memainkan 1105 proyek di
Banten. Kemudian yang di Sita KPK segini
banyak. Jadi, Bapak, Ibu sekalian, kalau
kita ngomongin teori korupsi tadi, dia
bukan ada di aspek korupsi karena
kebutuhan sudah bukan karena kebutuhan,
tapi sudah karena keserakahan yang tidak
bisa berhenti. Nah, kemudian selanjutnya
tadi kita sudah mengetahui apa
penyebabnya, maka bagaimana cara
mengatasinya?
Ee secara umum kalau kita mau
memberantas korupsi biasnya ada tiga hal
yang dilakukan dalam skop atau skala ee
sebesar atau sekecil apapun. Yang
pertama ada yang sifatnya strategi
penindakan. Ini jadi penting juga.
Tujuannya supaya membuat orang takut
korupsi, membuat efek jerak. Yang kedua
ada perbaikan sistem supaya orang enggak
bisa korupsi. Mempersempit ruang gerak
koruptor supaya enggak bisa korupsi.
Kalau dulu transaksi keuangan itu
langsung, tinggal tanda tangan cek atau
cash. Sekarang kan cashless mempersempit
ruang gerak koruptor. Dulu pengadaan
sistemnya FIS langsung dengan vendornya.
sekarang melalui EPR atau melalui ee
sistem lainnya yang meminimalisir ketemu
dengan vendor itu juga mempersempit uang
gerak koruptor. Itu tujuan dari
perbaikan sistem. Dan terakhir yang
paling panjang, edukasi supaya orang
enggak ingin korupsi. Sayangnya justru
level edukasiah yang paling lemah di
negeri ini. Berdasarkan pengalaman kami,
kami keliling-keliling ke berbagai
daerah di Indonesia. Ketika kami
menanyakan pertanyaan sederhana, Bapak,
Ibu sekalian, benci enggak sama
koruptor? Benci jawabannya. sepakat
semua mereka ee teman-teman ASN ini
menjawab dengan sempat. Benci, sangat
benci gitu. Kemudian mau enggak korupsi
jawabannya enggak mau. Mau enggak
ngelawan, mau kalau mau ngelawan. Tapi
ketika ditanya lebih spesifik apa itu
korupsi? Apa itu gratifikasi yang boleh
enggak boleh, bingung semuanya.
Bayangkan Bapak Ibu sekalian mengaku
dirinya benci sama korupsi, mengaku
pengin melawan korupsi tapi enggak tahu
interaksi soal korupsinya. Bagaimana mau
melawan? pertanyaan sekarang atau bahkan
pertanyaan lebih mendasar adalah
bagaimana mau menghindar ketika kita
enggak tahu wujud yang harus
dihindarinya apa? Nah, ini jadinya
penting sekali kita ngomongin edukasi
dan yang paling penting dari itu semua
adalah komitmen pimpinan atau turn from
the talk di yang diwujudkan dalam bentuk
kelengkapan dan kecukupan kebijakan
Bapak Ibu sekalian. Jadi komitmen
pimpinan ini kalau dalam konteks
membangun sistem integritas nyaris di
semua eh sistem integritas yang kita
kenal ada ISO 37001, panduan CKPK dan
sebagainya. Klausul 1 itu selalu
ngomongin ee lingkup organ eh sori skop
skopnya yang kedua langsung ngomongin
komitmen pimpinannya. Kenapa saking
pentingnya peran komitmen pimpinan dalam
membangun sistem integritas? Kalau
pimpinan pengunya komitmen yang sangat
baik, insyaallah meskipun kebijakannya
masih ee belum pas, belum kurang, atau
misalkan bawah-bawahnya masih bangat
yang banyak yang melakukan frud, tapi
kalau komitmen pimpinannya bagus,
insyaallah bawahnya akan ee bisa diubah
menjadi bagus juga. Sebaliknya Bapak Ibu
sekalian, regulasinya sudah bagus,
kebijakannya sudah sangat pro terhadap
pemberasan korupsi dan organisasi
tersebut. Individu-individu di bawahnya
juga sudah cukup berintegritas misalkan,
tapi punya pimpinan yang enggak punya
komitmen terhadap pemberasan korupsi,
malah dia turut bermain atau menyengaja
untuk bermain, ya hancur sudah semua
regulasi yang ada, semua sistem yang
dibangun sebaik apapun. Makanya
pentingnya komitmen pimpinan.
Eh, kemudian ini bagaimana organisasi
mencegah korupsi ya. Yang paling pertama
turn from the top di mana pun pasti ini
yang paling utama keteladanan pimpinan
skopnya bisa sebesar atau sekecil apapun
Bapak Ibu sekalian kalau Bapak Ibu hari
ini jadi kasubak misalkan ya berarti T
from the top di level Kasubak dan
sebagainya.
Kemudian saya izin mungkin beberapa
menit lagi ya di ee sini.
Kemudian kalau kita ngomongin bagaimana
sih membangun sistem integras dalam
organisasi, yang paling pertama kalau
kita bangun pondasinya adalah kita
ngomongin anti cororruption
governance-nya dulu atau di sana sudah
adakah komitmen pimpinan yang
diejawantahkan menjadi berbagai
kebijakan, kemudian berbagai ee
pembagian tupoksi dan tanggung jawab
pembagian SDM dan pengarahan anggaran
yang sesuai dengan sistem integritas
yang akan dibangun. Tanpa itu semua,
Bapak, Ibu sekalian, yang atas yang
lainnya menjadi mustahil untuk dilakukan
kalau tanpa adanya anti eh governance
study. Nah, nanti sisanya Bapak Ibu bisa
baca berkaitan dengan asesmen risiko
frud dan sebagainya. Ini juga menjadi
penting bagaimana kita mau melawan FR di
organisasi kita kalau kita tidak pernah
memetakan risiko korupsi di organisasi
kita apa berdasarkan bisnis proses yang
selama ini berjalan. Nah, jadi penting
sekali melakukan yang namanya corruption
risk assessment.
Terakhir, Bapak Ibu sekalian, saya
pengin ngasih tahu ee berkaitan saya
pengin memberikan gambaran kepada Bapak
Ibu sekalian bagaimana sih kondisi
korupsi di negeri ini. Ini tujuannya
bukan menyebarkan pesimisme bukan Bapak
Ibu sekalian. Tapi di sini juga justru
saya pengin menyampaikan kepada Bapak
Ibu ini realitas empiris yang terjadi
hari ini di Indonesia berkaitan dengan
korupsi sehingga mudah-mudahan bisa
memacu Bapak Ibu sekalian untuk bebenah
secara individu yang nanti outcome-nya
adalah memperbaiki kinerja organisasi
tentunya budaya dan kinerja organisasi.
Nah, yang pertama ini Bapak, Ibu
sekalian, kita pernah punya salah satu
ee terperiksa korupsi ketika turun habis
di periksa di lantai 2 gedung KPK baru,
dia turun ditanya wartawan Bapak, Ibu
sekalian. Ditanya, "Bapak, Bapak korupsi
apa?" Jawabannya sangat miris. Saya
enggak korupsi, saya hanya terima
gratifikasi. Beliau seorang pejabat
negara dengan gaji ratusan juta. Bapak,
Ibu sekalian bayangkan seorang pejabat
negara enggak tahu bahwa gratifikasi
bagian dari korupsi. So, inilah fenomena
yang terjadi hari ini di Indonesia. Yang
pertama adalah sangat minim literasi
soal korupsi. Padahal tadi saya
sampaikan di awal dan berkali-kali
diulang, kita adalah subjek hukum utama
Undang undang-undang Tipik Cor. Tapi
memahami korupsinya masih jauh dari ee
harapan atau idealnya. Mudah-mudahan
kita ada waktu lagi membahas lebih
lanjut soal gratifikasi dan coy lebih
jauh karena ini sangat spesifik dan
sangat teknik ee dan perlu dipahami
bersama. Padahal kalau kita ngomongin
gratifikasi sama penyuapan itu adalah
dua jenis korupsi yang paling banyak
ditangani KPK. Kenapa? Pembuktiannya
mudah, Bapak, Ibu sekalian. Apalagi
gratifikasi. Gratifikasi itu cukup
memenuhi tiga unsur. Yang pertama yang
menerima adalah pegawai negeri atau
penyelenggara negara diberikan karena
hubungan dengan jabatan amal kewenangan
dan terbukti menerima hadiah atau janji
atau suap dan sori terbukti menerima
gratifikasi yang cakupannya sangat luas.
Tiga unsur tersebut terbukti otomatis
sudah dianggap gratifikasi. Apalagi
ditambah dengan dalam 30 hari kerja
pemberian tersebut dilaporkan. Enggak
perlu ada transaksional di sana karena
kalau transaksional itu jatuhnya ke
suap. Tidak perlu ada unsur paksaan di
sana karena kalau unsur paksaan jatuhnya
ke pemerasan. Gratifikasi itu cukup
diberikan saja barangnya. Asal ada
hubungannya sama jabat nama kewenangan
itu otomatis sudah jadi gratifikasi
Bapak Ibu sekalian. Nah, yang kedua
fenomena yang terjadi hari ini adalah
koruptor makin lama makin muda. Di KPK
kita rekor yang pernah ditangani KPK
umur 24 tahun. So, apa yang bisa kita ee
cermati dari sini Bapak, Ibu sekalian?
hari ini berarti edukasi kemudian ee
perbaikan sistem tidak hanya ditujukan
pada middle top level management juga
harus ditujukan pada generasi muda CPNS,
ASNASN baru juga harus dikuatkan karena
hari ini fenomenanya yang terjadi di KPK
juga bahkan koruptor secara umum makin
lama makin muda. Kalau kita kenal dulu
Bang Nazarudin ini umurnya 34 tahun
ketika ditangkap KPK. Kita kaget pada
saat itu masih cukup muda. Apalagi
sekarang kita punya rekor 24 tahun. E
Bang Nazarudin itu yang cukup bikin
kaget adalah umur 34 tahun tapi sudah
menyut dari segini banyak kasus. Bapak
Ibu sekalian bayangkan hari ini koruptor
tidak butuh pengalaman banyak di
pemerintahan. Makin lama makin muda dia
sudah bisa melakukan apa namanya ya ee
jadi intelektual dader atau aktor
intelektual terjadinya korupsi. Bahkan
hari ini makin lama makin canggih karena
anak-anak muda kita sudah lebih paham
teknologi dibandingkan kita. Makanya
teman-teman SPI Inspektorat kalau enggak
bebenah juga enggak menyesuaikan juga oh
makin ketinggalan ee dengan modus-modus
KSU yang makin canggih hari ini. Bahkan
yang lebih unik lagi adalah eh waktu
kasusnya Bang Nazarudin itu KPK sampai
mengirim jet pribadi untuk menjemput
beliau dari Colombia dengan total 4,8
miliar. Kenapa kita kirim? Karena
pertama beliau kabur ke Colombia. dengan
menyuap petugas imigrasi yang disuap
cuma puluhan juta dengan menguah paspor
namanya dari Najaruddin ke Sarifuddin
dan pakai ee foto keponakannya. Tapi apa
yang terjadi gara-gara Suluhan juta itu
KPK keluar 4,8 miliar untuk nyewa
pesawat jet. Karena ditakutkan
Nazaruddin kalau pakai pesawat komersil
akan kabur dengan eh semua knowledge
korupsi yang dia punya. Itu sangat
sayang sekali. Sehingga kita enggak
apa-apa 4,8 miliar asal saksi kunci ini
makanya dulu dikenal dengan cuuita
Nazaruddin bisa ketangkap dan bisa kita
proses di bawah. Salah satu yang muncul
kasus akibat dari Nazaruddin ini adalah
E-KTP tadi. IKTP itu bisa terbongkar
salah satunya karena kesaksian dari
Nazaruddin sendiri. Bayangkan. Jadi kita
ee gara-gara orang enggak berintegritas
di imigrasi di sua puluhan juta untuk
bikin paspor ee palsu, akhirnya kita
keluar 4,8 miliar.
Indonesia juga menjadi salah satu dari
lima negara paling banyak punglinya.
Sayangnya itu Bapak Ibu sekalian. Dan
ini dampaknya apa? Dampaknya investasi
juga. Kenapa? Karena negara bersih pasti
enggan invest ke negara bersih, jug
negara kotor. Kenapa? Karena mereka akan
kena hukuman baik di negara tempat dia
menyuap atau di negara asal mereka.
Contoh negara Inggris misalkan dia ada
undang-undang menyatakan kalau ada
perusahaan Inggris menyuap di sebuah
negara maka otomatis dia akan diproses
juga di negara tersebut. Nah, itu
menjadi ee salah satu tantangan juga.
Sebaliknya negara kotor justru senang
invest ke negara kotor. Kenapa? Karena
ekosistemnya sama. Kalau di negara
asalnya biasa nyuap, maka di tempat dia
mau listing, mau invest, bagusnya tempat
yang sering nyuap juga karena akan
mempermudah bisnisnya dia. Seperti itu.
Sayangnya negara kita juga negaranya
dengan tingkat sex torsion tertinggi di
dunia. Bahkan kita mengalah seks torsion
itu pemerasan menggunakan kekerasan
seksual yang mana pemerasan bagian dari
korupsi juga. di Undang-Undang Tipik
Coror kita mengalahkan negara-negara
yang katanya enggak ramah perempuan
Bangladesh, India dan sebagainya.
Datanya bilang negara kita yang paling
tinggi tingnya.
Dan terakhir untuk kalau kita ngomongin
secara global kita ada indeks persepsi
korupsi namanya IPK. IPK kita sayangnya
masih di angka 37/100
yang mana PRM jauh sekali dari angka
sempurna ee dan nilai ranking kita masih
99/180.
Yang mana di level Asia sendiri kita ada
di urutan yang cukup bawah Bapak Ibu
sekalian. Kita kalah dari negara yang 98
baru merdeka dari kita timur Leste
misalkan atau kita kalah dengan negara
tetangga kita Malaysia. atau lebih parah
lagi kalau sama Singapura sudah jauh
sekali Bapak Ibu sekalian. Nah,
harapannya Bapak Ibu dengan saya
menyampaikan seperti ini ee Bapak Ibu
punya pemahaman yang lebih komprehensif
soal bahaya laten korupsi yang bis
kemudian Bapak Ibu punya motivasi untuk
ee mengubah juga lewat individu. Dan
yang lebih penting adalah Bapak, Ibu
sekalian berkaitan dengan knowledge
terkait apa itu korupsi, apa itu
gratifikasi dan sebagainya. Karena
banyak sekali hari ini terpidana korupsi
yang sampai sekarang juga enggak tahu
bahwa ternyata mereka korupsi karena
ketidaktahuan tadi. Padahal sekali lagi
saya bilang di mata hakim, di mata hukum
ketidaktahuan, keabaian, kemudian alasan
belum pernah baca undang-undang dan
sebagainya itu bukan alasan pemaaf atau
alasan pembenar dalam konteks tindak
pidana korupsi. Dan Bapak, Ibu sekalian,
menjadi penting rasanya bagi kita ketika
kita ngomongin integritas ASN yang nanti
akan berdampak pada budaya kinerja
organisasi dimulai dengan cara
menguatkan pemahaman mengenai apa itu
korupsi sendiri. Demikian Bapak Ibu
sekalian materi akan saya sampaikan di
materi saya cukup lengkap dibahas
terkait gratifikasi jenis-jenis yang
boleh apa enggak boleh sampai ke
conflict of interest dan bagaimana
melawannya Bapak Ibu silakan nanti akan
kami sampaikan karena waktunya terbatas
tentu tidak bisa kami sampaikan secara
lisan tapi semoga dengan disebarkannya
ee materi ini juga bisa membuka wawasan
Bapak Ibu sekalian dan yang paling
penting adalah mencegah Bapak Ibu
sekalian dalam melakukan gratifikasi dan
coy. Apalagi kalau alasannya enggak
sengaja karena ketidaktahuan dan
sebaliknya. Terima kasih Bapak Ibu.
Mudah-mudahan ini bisa jadi pemantik
untuk diskusi kita. Saya kembalikan
kepada ee moderator. Silakan, Mbak.
Baik, terima kasih banyak Pak Ritwan
untuk informasi dan juga insightful eh
knowledge yang telah disampaikan.
Saatnya kita untuk dapat berdiskusi dan
juga bertanya. Dari sedari tadi ini
sudah ada yang rais hand. Jadi langsung
saja kita akan koneksikan. Disilakan.
Baik. Halo, selamat siang Ibu Ria
Amalia. Betul ya dari Dinas Kominfo
Provinsi Jatim.
Baik, kami akan open mic terlebih
dahulu.
Sudah, Ibu Ria mungkin bisa di-setting
open mic-nya.
Oke.
Oke, sudah jelas suara saya?
Sudah sekali. Sudah jelas sekali.
Disilakan untuk pertanyaan dan
diskusinya, Bu Ria.
Iya, terima kasih Mbak Fan untuk
kesempatan waktunya yang sudah
diberikan. Selamat siang, Pak Ridwan.
Salam kenal. Saya Ria. Terima kasih
untuk
Terima kasih untuk wawasan yang sudah
disampaikan. Ini sangat ee penting
sekali ya untuk kita ASN terutama begitu
ya. Nah, saya ingin sedikit ee berbagi
gitu Pak Ridwan sharing gitu ya. Kalau
seandainya ada case seperti ini kan kita
ini sebagai ASN itu kan tidak lepas juga
dengan mitra kita ASN di 38 kabupaten
kota di Jawa Timur nih kalau di Jatim
gitu ya.
Nah, biasanya itu kan kita selalu ada
konsultasi kemudian dan lain sebagainya
gitu ya. Dan biasanya mereka ketika
datang itu tidak semuanya sih kalau ada
case seperti ini. Namun tanggapan Pak
Ridwan seperti apa. Jadi ketika sudah
selesai gitu biasanya mereka membawakan
oleh-oleh gitu ya. Oleh-oleh berapa
makanan nih sebenarnya gitu ya. Nah,
apakah itu menurut Pak Ridwan itu
bagaimana sih? itu apakah termasuk
gratifikasi kas atau hanya sekedar tanda
terima kasih yang wajar gitu ya karena
berupa makanan dan ee hanya seperti itu
gitu. Nanti boleh dibagikan
sharing-sharing-nya seperti apa.
Kemudian yang kedua Pak Ridwan, saya
juga tertarik sebenarnya apa sih
perbedaan antara gratifikasi yang wajib
dilaporkan dengan gratifikasi yang tidak
wajib dilaporkan gitu ya. Tadi Pak
Ridwan sempat menyinggung mungkin saya
masih minim untuk pengetahuan itu gitu
ya. Jadi mungkin nanti Pak Ridwan juga
bisa berbagi seperti apa sih perbedaan
antara gratifikasi yang wajib dilaporkan
dan gratifikasi yang tidak wajib
dilaporkan. Itu dua aja sih Pak Ridwan
yang ingin saya diskusikan pada siang
hari ini. Terima kasih banyak untuk
kesempatannya. Semoga lain waktu bisa
langsung bertatap muka begitu ya, Pak
Ridwan ya. Jadi memang
ini menjadi poin yang sangat penting
gitu.
Sangat penting untuk kita ASN. bagaimana
kita harus berintegritas di ee pekerjaan
kita. Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Baik, bisa langsung ditanggapi dan
dijawab begitu, Pak Ridman.
Baik. Ee sepertinya saya menanggapinya
harus pakai paparan juga nih, Mbak
karena
ee boleh ya ini
boleh,
boleh, boleh, Pak Ridwan dengan senang
hati. Oke,
jadi gini Bapak Ibu sekalian. Tadi
pertanyaannya berkaitan dengan apakah
oleh-oleh itu adalah gratifikasi atau
bukan? Nah, untuk menjawab hal tersebut
sebenarnya Bapak Ibu sekalian bukan
dilihat dari barangnya dulu, tapi
dilihat dari siapa yang memberikan. Nah,
kalau yang memberikannya itu ada
hubungan dengan jabatan sama kewenangan,
maka bentuknya bisa apapun itu enggak
boleh. Ternyata kalau yang memberikan
itu ternyata mitra kita atau pihak
ketiga dengan kita atau orang yang
berkepentingan dengan ee tupoksi kita di
kantor, maka baik pemberian tersebut
berupa uang, barang, rabat, makanan
sekalipun yang jumlahnya murah misalkan,
itu tetap enggak boleh karena itu bagian
dari gratifikasi. Jadi bukan ya.
Terlebih dahulu ketika kita ee apa
namanya menganalisis apakah ini
gratifikasi atau bukan. Bukan dilihat
dari barangnya dulu tapi siapa yang
memberikan. Kalau memberikan itu ada
hubungan sama jabatan sama kewenangan,
jumlahnya berapa pun enggak boleh.
Bahkan ee senior-senior kami di
gratifikasi dulu sering cerita ada dulu
ASN yang melaporkan juga
penerimaan berupa kue seharga Rp15.000
ke KPK dan dinyatakan bahwa itu
gratifikasi. Dan biasanya kalau Bapak,
Ibu melaporkan gratifikasi berupa
makanan jawabannya template baik dari
UPG, unit pengendali gratifikasi maupun
dari KPK. Jawabannya adalah silakan
disalurkan ke yang membutuhkan. ini
jangan jadi rasionalisasi ya lu jadi
rasionalisasi oh saya juga membutuhkan
kok adik saya banyak dan sebagainya
enggak bisa gitu jadi nanti silakan
diberikannya
panti asuhan kah atau ke OB kantor kah
dan sebagainya tapi dengan catatan
dilaporkan terlebih dahulu jadi Mbak Ria
oleh-oleh itu selama jika yang
memberikan itu ada hubungannya dengan
jabatan kewenangan kita dan juga bahkan
bertentangan dengan kewajiban kita itu
maka wajib dilaporkan atau dalam hal ini
bahasa gampangnya enggak bolehlah
dilarang. Nah, Bapak Ibu tadi nyambung
yang kedua, apa itu gratifikasi yang
wajib dilaporkan? Apa yang tidak wajib
dilaporkan? Nah, saya mau ngasih tahu
ini dulu Bapak, Ibu. Lihat ada empat
unsur gratifikasi yang enggak boleh atau
yang wajib dilaporkan. Manakala ee sori
pasal 12B ee pasal 12 huruf B besar itu
menyatakan pegawai negeri atau
penyelenggara negara. Lihat, pegawai
negeri ini diperluas ya, Bapak, Ibu.
Bukan cuman yang dapat SK PNS bukan.
tapi juga nyangkut ke honorer, nyangkut
ke pegawai BUMN, BUMD, nyangkut juga
misalkan ke orang yang bekerja kayak
tenaga ahli misalkan yang dari APBA itu
juga termasuk pegawai negeri dalam
konteksor
menerima gratifikasi yang mana
gratifikasi itu bisa dimaknai sangat
luas. Janji, diskon, hadiah, makanan, ee
jasa dan sebagainya itu juga
dikategorikan gratifikasi. Dan
konteksnya yang ketiga ini dilihat
berhubungan dengan jabatan dan
berlawanan dengan kewajiban atau
tugasnya maka itu otomatis gratifikasi.
Tapi jangan khawatir Bapak Ibu sekalian
sebenarnya gratifikasi itu kita dikasih
waktu tobarat 30 hari. Jadi gratifikasi
karena dalam konteks gratifikasi kadang
ada gratifikasi yang enggak mungkin kita
tolak. Nanti akan saya jelaskan itu.
Kalaupun kita terima nanti silakan
dilaporkan dalam waktu 30 hari kerja.
Setelah dilaporkan otomatis pidananya
hilang. Tapi kalau enggak dilaporkan
selama 30 hari maka otomatis dianggap
mensreanya muncul, niat jahatnya muncul.
Ini kan lagi ramai nih ngomongin
menstrea. Kalau dalam konteks
gratifikasi hari pertama sampai hari
ke-30 itu dianggap menstreanya belum
keluar. Di hari setelah 30 belum
dilaporkan juga maka otomatis dianggap
gratifikasi yang ilegal atau suap karena
menstnya sudah muncul atau niat jahatnya
sudah muncul. Nah, Bapak Ibu,
gratifikasi itu bisa di apa namanya ya?
Berbalut uang terima kasih TH Rang PUJ,
rem dan sebagainya. Nah, ini Bapak Ibu
pada prinsipnya sebenarnya gratifikasi
itu yang paling itu ditolak.
Nah, tapi ada kondisi yang mana
kadang-kadang kita menerima eh sori
sebelum itu ee pada prinsipnya Bapak Ibu
daripada menghafal apa gratifikasi yang
tidak wajib dilaporkan lebih baik pada
prinsipnya pertama ketika Bapak Ibu
dapat hadiah atau barang jasa dan
sebagainya menerima gratifikasi Bapak
Ibu dari pihak yang Bapak Ibu bisa
sinyalir ini ada hubungannya dengan
jabatan sama kewenangan. Prinsip yang
pertama reflek kita adalah nolak.
Karena itu kita anggap sebagai suap dulu
aja. Tapi manakala ternyata
gratifikasinya enggak mungkin ditolak.
Misalkan apa? Misalkan kalau ditolak
mengancam nyawa. Misalkan misalkan Bapak
Ibu jadi auditor ke sebuah desa yang
sangat syarat unik. Misalkan dapat
hadiah dari kepala desanya sambil
dibilang kalau Bapak Ibu enggak nerima
nanti takutnya warga marah santet dan
sebagainya enggak diterima Bapak Ibu
sekalian. Atau yang kedua misalkan
gratifikasinya sudah dikirim langsung ke
meja kantor kita lagi enggak ada di
kantor di kantor misalkan ke rumah dan
sebagainya itu berarti kondisi-kondisi
di mana kita enggak bisa nolak tapi
jangan khawatir Bapak Ibu tetap bisa
melaporkannya.
Nah melaporkan ke mana? Ke unit
pengendali gratifikasi di kantor
masing-masing atau di Inspektorat
masing-masing. Yang kedua, bisa
melaporkan secara online ke KPK melalui
gratifikasi online-nya KPK di gol.g.id.
itu bisa bisa Bapak Ibu bisa melakukan
secara online dan bisa merahasiakan
namanya Bapak Ibu sekalian. Nah, nanti
akan dinilai oleh KPK atau UPG kalau
ternyata barang tersebut adalah
gratifikasi yang tidak boleh atau wajib
dilaporkan maka akan dis negara. Tapi
kalau setelah dinilai oh enggak apa-apa
kok ini enggak ada hubungannya sama ee
jabatan kewangan atau dia masuk kategori
gratifikasi yang tidak wajib dilaporkan,
maka akan dikembalikan kepada Bapak Ibu
sekalian. Nah, seperti itu. Lalu apa
yang gratifikasi yang enggak boleh eh
yang bukanak bukan enggak boleh ya
gratifikasi yang tidak wajib dilaporkan?
Ee ada beberapa sori sebelum itu saya
sampaikan dulu bahwa KPK juga memahami
ada jenis-jenis gratifikasi yang itu
bagian dari keramah-tamahan, bagian dari
adat istiadat, bagian dari keagamaan.
Maka gratifikasi seperti itu yang
diakomodir oleh KPK. Diperbolehkan loh
sebenarnya. Enggak semua gratifikasi
enggak diperbolehkan. Ada juga sori
bahasnya bukan diperbolehkan tidak wajib
dilaporkan soalnya takut salah
pemaknaan. Nih ada beberapa ciri
gratifikasi yang tidak wajib dilaporkan.
Yang pertama berlaku umum. Jenisnya,
syaratnya, nilainya memenuhi prinsip
kewajaran. Contoh, misalkan dalam diklat
misalkan Bapak Ibu dapat makan siang,
semuanya dapat nasi kotak boleh enggak?
Ya boleh Bapak Ibu. Itu gratifikasi
bukan gratifikasi jelas karena diberikan
ada hubungannya sama jabatan sama
kewenangan. Tapi boleh enggak? boleh dan
enggak wajib dilaporkan karena apa?
Sifatnya berlaku umum dan wajar menjadi
enggak boleh. Misalkan saya dari KPK
misalkan datang ke PPSDM Jatim yang lain
makan dapat nasi kotak saya diajak makan
ke lembur kuring misalkan sama
pengelola. Nah, itu mudah menjadi enggak
boleh. Kenapa? Karena enggak berlaku
umum. Ada favoritism di sana, ada
perlakuan khusus di sana. Makanya
menjadi enggak boleh. Salah satu ciri
gratifikasi paling gampang adalah
biasanya diberikan tertutup atau
sifatnya diskriminatif. Itu biasanya
cara satu rednya gratifikasi.
Nah, kemudian bisa dipandang sebagai
wujud ekspresi keramah-tamahan dan
sebagainya. Misalkan Bapak, Ibu datang
ke suatu daerah lagi kunjungan ke
daerah, tiba-tiba ada upacara ada
dikasih ee kalungan bunga dan sebagainya
itu enggak apa-apa. Bagian dari
kerahakamahan dan bagian dari wujud adat
istiadat. Eh, nah ini adalah negative
list-nya Bapak, Ibu. Ini ada di S KPK
tahun 2019 berkaitan dengan sori saya
agak enggak kelihatan.
KPK nomor 2 tahun 2019 terkait hal-hal
yang tidak wajib dilaporkan. Contoh
misalkan ee karena hubungan keluarga
nomor satu ya ee kalau pemberian dari
misalkan paman ke keponakan boleh
enggak? Boleh. Ponakan ke paman boleh
enggak? Boleh. Pastinya karena hubungan
kekeluargaan menjadi enggak boleh kalau
ada konflik kepentingan di dalamnya.
Contoh misalkan si ponakannya ini
ternyata jadi salah satu vendor atau
pihak ketiga di kantor pamannya. Nah,
itu jadi enggak boleh. Nah, apalagi
pamannya di sana berlaku sebagai PPK-nya
kah atau misalkan ee orang yang turut
mengawasi proyeknya kan itu enggak
boleh. Kemudian contoh lainnya yang
cukup sisanya sih bisa dibaca dengan
gampang ya Bapak Ibu. Tapi ada yang
takut yang multitafsir nomor 12 nih
Bapak Ibu. Bapak, Ibu mungkin sering
dengar ya dulu ketika ngomongin
gratifikasi, "Oh, boleh nerima
gratifikasi asal di bawah R juta." Nah,
ini yang enggak benar ee atau
informasinya kurang lengkap. Boleh
sebenarnya Bapak, Ibu atau tidak wajib
dilaporkan ketika menerima gratifikasi
maksimal R juta dalam kondisi tertentu.
Contoh kayak nomor 12 nih, dalam upacara
akikah, kelahiran, pernikahan. Kalau di
ee Kristen teman-teman kita yang Kristen
misalkan ada baptis, fitanan dan
sebagainya boleh enggak nerima? Bahkan
dari vendor sekalipun boleh Bapak Ibu
sekalian tidak wajib dilaporkan dalam
konteks ini karena itu kaitannya dengan
ee upacara keagamaan, adat dan
sebagainya. Maksimal Rp1 juta di atas R1
juta wajib dilaporkan. terkait musibah.
Misalkan Bapak Ibu rumahnya kebanjiran,
kemudian ada kawan kantor mau nolong
atau misalkan rekanan mau nolong juga
selama enggak ada konflik kepentingan
dan Bapak Ibu bisa menilai itu bagian
dari humanisme diperbolehkan juga. Atau
sesama rekan kerja dalam rangka pisah
sambut atasan mau mutasi nih boleh
enggak kita patungan ngasih ke atasan
kenang-kenangan? Boleh Bapak Ibu
sekalian.
ee atau saya mohon maaf saya di sini
simplifikasi menggunakan kata boleh
sebenarnya yang tepat adalah tidak wajib
dilaporkan dengan batasan maksimal
Rp300.000 per pemberian. Ini nomor 14.
Contoh lain Bapak Ibu sekalian Bapak Ibu
dapat honor ngajar di luar selama itu
diperbolehkan di instansi Bapak Ibu
sekalian silakan asal di asal sesuai
dengan ketentuan saja. Kemudian contoh
yang lebih ekstrem nih, misalkan
teman-teman di sektor kesehatan kita
kenal ada yang namanya sponsorsif dari
perusahaan obat ke dokter misalkan boleh
enggak? Nah, kalau itu lebih spesifik
diatur di Permenkes nomor 58 tahun 2016
jadi sponsorship dari perusahaan eh obat
enggak boleh lagi langsung ke dokternya
K rumah sakit sehingga nanti rumah sakit
akan menentukan itu wajib dilaporkan
baik ke KPK maupun ke Kemenkesnya.
Begitu Bapak, Ibu, Mbah Ria. Jadi ini
silakan dibaca nanti ee gratifikasi
tidak wajib dilaporkan. Perbedaannya
jelas ya. Kalau tadi kalau sori
gratifikasi yang tidak wajib dilaporkan
itu limitatif sekali atau diatur dengan
sangat rigid. Ada 17 komponen yang tidak
wajib dilaporkan. Sisanya berarti
gratifikasi yang ilegal atau wajib
dilaporkan. Jadi daripada ribet ngfalin
17 ini, mendingan perlakuan kita pertama
ketika nerima gratifikasi adalah kalau
enggak bisa ditolak laporkan biar nanti
yang pusing UPG sama KPK. Bapak, Ibu
tinggal nerima laporannya aja. Dan
Bapak, Ibu dengan melaporkan gratifikasi
dengan otomatis menghapuskan unsur
pidana, bahkan dalam beberapa kesempatan
bisa dapat reward dari KPK. Karena kita
di tiap tahun ada yang namanya ee
gratifikasi award seperti itu. Begitu
mungkin eh Ibu moderator Mbak Vina ya
kalau tidak salah namanya. Mohon maaf
Mbak Fani moderatornya
Bang mohon maaf.
Terima kasih ya Pak Ridwan atas
pencerahannya. Sangat bermanfaat sekali
sih. Berarti nanti kalau kita
mauelaporin ke KPK yang via online itu
anonim boleh ya berarti bisa ya bisa ya
berarti. Sebenarnya
sori namanya enggak anonim namanya tetap
dimasukkan tapi nanti ada pilihan Bapak
Ibu bisa melaporkannya
tidak perlu diberikan surat ke instansi
asal gitu.
Oke oke oke oke. I terima kasih Pak
Ridwan atas sharing-sharingnya.
Terima kasih. Saya kembalikan ke
moderator.
Baik terima kasih banyak Bu Ria untuk
pertanyaannya. Ini menjawab dari
pertanyaan banyak sekali sobat ASN
begitu ya. dan saya juga turut menyimak
begitu dan waktu yang harus memisahkan
pertemuan kita Pak Ridwan terima kasih
banyak atas waktu dan juga ilmu serta
informasinya. Semoga saja ini dapat
diterima dengan baik oleh teman-teman
Sobat ASN di mana pun berada. Baik,
demikian Sobat ASN pemaparan materi dari
narasumber yang kedua yaitu manajer
bidang mutu regulasi dan kerja sama LSP
KPK Republik Indonesia Bapak Muhammad
Ridwan Afan, SH. Dan segera kita akan
menjumpai dan juga mengenalkan
narasumber kita yang ketiga setelah
informasi yang satu ini.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Berslah membangun asa
menuju cipta yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti menitipiti zaman
dengan semangat pembaruan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
PPS Jing Pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdas dan inovasi bersatu dalam
visi yang terang menjawab tantangan dan
jangan gemilang
PPSDM Jawa Timur Center of Sans masa
depan
[Musik]
bersama membangun asa
menuju cita yang mulia.
Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa
Timur yang berjaya.
Langkah pasti meniti zaman
dengan semangat pembaharuan.
Ilmu dedikasi dan harapan
menjadi bekal masa depan.
BPSM Jatim pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas.
Mencet STM berkompetensi.
Tangguh cerdas penuh inovasi
bersatu dalam visi yang terang menjawab
tantangan dan jangan demiang.
BPSDN Jawa Timur Center of Sans masa
depan gemilang
[Musik]
e
Sobat ASN masih bersama kami dalam ASN
Belajar seri ke-32 tahun 2025 dengan
tema Akuntabilitas Kinerja ASN jalan
pengabdian menuju birokrasi bersih dan
berintegritas. Telah kita simak bersama
dua narasumber yang telah memberikan
materinya dan juga sesi tanya jawab,
maka saatnya kita untuk segera menemui
narasumber kita yang ketiga yang tidak
kalah menarik karena beliau di sela-sela
waktunya untuk bekerja dan juga mengajar
menyempatkan diri untuk dapat menjumpai
kita secara online pada hari ini yaitu
guru besar ilmu akuntansi sektor publik
Universitas Negeri Surabaya Prof. Dr.
Dian Anita Nuswantara, S., M.Si., Ek.
dan kita akan segera temui secara
online. Selamat pagi, Prof.
Selamat pagi. Asalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh, Prof. Terima kasih banyak
waktunya. Ini masih di kelas nampaknya
ya.
Iya, mohon maaf ee sedang ada conference
di Songkla dan Raja Mangala Thailand
sehingga mungkin kalau tegang bersinyal
barangkali karena enggak bisa bahasa
Indonesia sinyalnya. Ya, mohon maaf.
Baik, kalau begitu sedikit saya ingin
mengenalkan profil dari Prof. Dian
kepada Sobat ASN yang sekarang ini sudah
menyimak. Prof. Dr. Dian Anita
Nuswantara, C BKP CipIPS CRGP adalah
seorang akademisi dan praktisi di bidang
akuntasi dengan jabatan fungsional
lektor kepala di Fakultas Ekonomi Unesa.
Lahir pada tahun 1974. Beliau ini
memiliki pengalaman panjang dalam
pengajaran. penelitian dan juga
pengabdian masyarakat dan juga mengampu
beberapa mata kuliah seperti akuntansi
sektor publik, akuntansi manajemen,
manajemen strategik, dan seminar
perilaku organisasi. Juga sudah
mempublikasikan banyak sekali karya
ilmiah yang telah terdaftar dalam
beberapa basis data internasional
termasuk Sinta dan juga Scopus. Terima
kasih banyak, Prof. untuk waktunya
sekali lagi di sela-sela mengajar di
Thailand ya tadi kalau tidak salah ya.
Betul. Baik. Wow.
Baik kalau begitu terima kasih waktunya
dan kami segerakan untuk dapat
memberikan materinya, Prof. Silakan.
Baik, terima kasih. Ee mohon maaf, Bui.
Betul.
Baik, terima kasih Buani. Luar biasa
sekali saya mendengar ee dari sesi mulai
pagi tadi. Luar biasa. Ee saya pun
mendapat pencerahan yang cukup banyak ya
dari materi hari ini. Jadi saya jadi
tahu juga ini kenapa ya ee dan apa dan
bagaimana kita harus melapor kalau ada
gratifikasi mana yang boleh, mana yang
tidak boleh. Luar biasa dan semoga
materi yang saya sampaikan hari ini bisa
ee tersambung dengan materi-materi
sebelumnya. Begitu Bu Fani pengantar
dari saya. Izin saya lanjutkan kembali.
Saya juga mohon maaf hari ini kita
mungkin walaupun tanpa PowerPoint tapi
saya yakin ee diskusi ini lebih tidak
kalah atau tidak mengurangi esensi
diskusi karena saya tidak menggunakan
PowerPoint. Namun saya langsung
menyampaikan dalam ee versi yang lebih
casual begitu.
Materi kita ini berbicara tentang
transparansi laporan kinerja ASN,
menjaga akuntabilitas dan kepercayaan
publik.
Kalau tadi lebih pada di berangkat dari
kacamata polisi, kacamata regulasi,
saya ingin mencoba kacamata yang lain.
Kalau tadi kacamatanya kacamata jauh,
kacamata ee minus gitu. Saya mungkin
mencoba kacamata baca saja, yaitu
kacamata akademisi.
Saya mencoba menggunakan beberapa teori
untuk meyakinkan, menguatkan kita bahwa
ASN kenapa ya harus bikin laporan,
kenapa harus transparan, mengapa kita
harus ee at some point menjadi salah
satu sampling pemeriksaan?
Kita berangkat dari arti penting ASN
dalam tata kelola pemerintah.
Saya mengambil salah satu studi yang
dilakukan oleh Wong
di di tahun
dilakukan di Hongkong
yaitu judulnya Contemporary Hong Kong
Government and Politics.
Di dalam artikel ini, Wong menjelaskan
dengan sangat baik
membuktikan dari hasil survei bahwa ASN
itu memiliki peran kunci
dalam policy implementation dan decision
making. Jadi tidak hanya
mengimplementasi
ASN itu, tapi juga dalam hal pengambilan
keputusan.
Demikian pula di tahun 2015
di Asia, masih di Asia Ibrahim melakukan
penelitian
bahwa efektivitas ASN itu erat kaitannya
dengan kepatuhan terhadap standar etika
termasuk akuntabilitas
dan integritas.
Ada dua kata kunci, yaitu akuntabilitas
dan integritas.
Pembicara sebelumnya banyak sekali
mengupas terkait tentang integritas.
Saya rasa ee ini sangat terkoneksi
materi-materi yang kita diskusikan pada
hari ini.
Kemudian penelitian Ibrahim juga
menyatakan bahwa
seyogyanalah
ASN ini mendorong perilaku etis mencegah
pelanggaran seperti korupsi, korupsi,
penipuan juga ini berdampak pada
kepercayaan publik.
Tidak itu saja, tata kelola yang
efisien.
Mungkin kita bertanya, apa hubungannya
ASN dengan tata kelola yang efisien?
Kalau kepercayaan publik sangat mudah
dilihat oleh mata, sangat mudah kita
dengar. Namun bahwa ASN
perlu atau mendorong ee maaf mendorong
ethical behavior dikaitkan dengan tata
kelola yang efisien.
Hal ini ternyata Ibrahim sudah melakukan
peneliti dan menjelaskan dengan baik
bagaimana ketika seorang ASN tidak
menjaga etikal kendaknya, kode etiknya
enggak dijaga, standar etikanya tidak
dijaga, yang terjadi adalah pemborosan.
Dari mana ada pemborosan?
Pemborosan terjadi karena dia
menggunakan resources yang ada di
lembaga masing-masing
secara tidak bertanggung jawab.
Ini sudah
nyata namun belum tentu terungkap.
Itulah sebabnya kita berbicara mengenai
ee kode etik.
Jadi ketika kita bicara kode etik itu
sebenarnya kita tidak sedang bicara
sebuah peraturan ditegakkan. Bukan yang
kita bicarakan itu adalah about
perekonomian.
Bagaimana ekonomi ini bisa sustainable
didukung dengan ASN yang accountable dan
berintegritas.
terbaru. Kemudian tahun 2025,
Cordoso dan Gomez. Nah, dari namanya
sudah kelihatan mulai bergeser tadi dari
Hongkong, Ibrahim meneliti di Asia. Ini
sudah geser lagi nih. Artinya ngomongin
ASN itu bukan di Indonesia saja,
di seluruh dunia problemnya sama.
Namun Cordoso dan Gomez
Cordoso dan Gomez menjelaskan
memberikan solusi
apa yang harus dilakukan
supaya standar etik, etical conduct,
kemudian eh integritas dan akuntabilitas
ASN ini bisa terjaga.
Apa yang harus dilakukan? Apakah
pimpinan lembaga cukup dengan memberikan
regulasi, cukup dengan mensosialisasikan
aturan-aturan,
cukup dengan menyampaikan code of
conduct?
Ternyata tidak cukup.
Apa yang perlu dilakukan? Pelatihan dan
pengembangan berkelanjutan.
pendidikan sangat penting.
Kok bisa-bisa saya juga promosi kampus
saya ini. Makanya para ASN apabila
memiliki ee kemampuan yang dirasa sangat
cukup baik dari aspek ketersediaan
waktu, kemudian kesempatan
menempuh pendidikan, raihlah pendidikan
yang lebih tinggi.
Kita harus meyakini bahwa pendidikan ini
menjadi tulang punggung akuntabilitas
dan integritas.
Hasil survei yang dilakukan Kordoso dan
Gomez, dia membandingkan studi di Kenya
dan Vietnam.
Dia mengatakan bahwa ternyata pendidikan
itu mempengaruhi tingkat etika
seseorang.
Semakin tinggi tingkat pendidikan,
dia semakin paham bagaimana mengapa
dia harus berperilaku etis,
bagaimana dia harus memenuhi sebuah
peraturan. Tidak sekedar melakukan demi
supaya enggak dihukum, supaya memenuhi
kuota, supaya memenuhi kemauan pimpinan.
Namun lebih daripada itu, ASM dalam hal
ini
ASN dalam hal ini benar-benar menghayati
hidupnya sebagai seorang ASN.
Bahkan dalam studi tersebut di Kenya dan
Vietnam,
pemerintah melakukan pengembangan
kompetensi digital kepada ASN.
Untuk apa?
Agar mereka tahu mengapa mereka harus
melakukan etik, kode kode etik dan
bagaimana mereka harus berperilaku etik
di era digital.
Nanti akan kita singgung apa hubungannya
dengan transparansi laporan kinerja ASN.
Ketika kita tidak menyadari, tidak
mengilham, menghayati bahwa di era
digital ini semua sudah terekam,
yang ada adalah kita melakukannya tidak
dengan sungguh-sungguh.
Kita melakukannya untuk sebagai
kosmetika.
Jadi kalau dalam akuntansi kita mengenal
kosmetika akuntansi.
Di dalam pelaporan pun kita mengenal
cosmetical accounting.
Tapi bukan berarti ini dunia perempuan
ya. Tetapi itulah yang dimaksud adalah
bagaimana kita memoles-moles apapun
dipoles sehingga cantik.
Angka-angka akuntansi
apapun ee foto-foto dalam digital era,
semua dilakukan untuk melakukan
membuatnya lebih cantik.
Namun di dalam kita ee
meng era digital ini, di dalam era
reformasi ini,
ASN menghadapi tantangan yang sangat
luar biasa.
Tahun 2018
vokal menjelaskan tentang implementasi
new public management.
Kita semua sudah mengenal sebagai ASN
pasti sudah mengenal bahwa new public
managemen ini sudah masuk ke Indonesia
sejak tahun 2000. Sejak reformasi
pemerintah di awal itu sudah dilakukan
tahun 2000. Di mana model layanan lebih
menekankan pada fleksibilitas
dan nah ini yang penting diskresi
manajerial untuk meningkatkan kinerja.
New public management itu adalah kita
ngopi, mencontek dari praktik-praktik
bisnis yang baik untuk dibawa kepada
sektor publik, sektor pemerintah.
Untuk apa? Untuk meningkatkan kinerja.
Nah,
supaya agak-agak keren ngomongnya
dicampur-campur bahasa Inggris enggak
apa-apa ya. Kita kan orang-orang memang
kemrisnya orang kita. Jadi ya dimaklumi
aja. Nah, unfortunately, nah biar
kecinta-cintaan ini ya. Unfortunately
ketika pemerintah menerapkan new public
management,
ada fleksibilitas,
ada diskresi manajerial.
Justru di sinilah letak
challenge sebagai ASN
punya fleksibilitas. pengin makai, tapi
ketika dipakai salah,
punya diskresi, pengin makai, ketika
dipakai salah.
Itulah sebabnya lagi-lagi kembali ke
yang disampaikan oleh Cordoso dan Gomez.
Pelatihan dan pendidikan berkelanjutan
menjadi poin penting.
Berikutnya yang diteliti oleh IA Nova
tahun 2019
ini tentang political and economic
conex.
mungkin sangat terasa di hari ini bagi
saya itu sangat terasa. Apa itu?
Efektivitas sistem layanan sipil atau
masyarakat dapat bervariasi
berdasar konteks politik dan ekonomi di
berbagai negara. Enggak perlu ngomong
berbagai negara. Di era pergantian
presiden pun kita sudah merasakan
berbeda dari setiap pemimpin tentang
sistem pelayanan publik.
Itu sebabnya kembali lagi ee belok
sedikit bahwa partai politik, visi misi
partai politik itu bukanlah sebuah
kosmetik, namun itu adalah sesuatu janji
dan harapan kepada masyarakat.
ASN perannya di mana?
ya, ASN kalau mau melakukan, kalau mau
milih, kalau mau ee
apa nyoblos ya, benar-benar harus
mempelajari apa visi dan misi seorang
pemimpin.
Jangan sampai sebagai ASN kita justru
tidak peduli
karena layanan publik itu meningkatkan
ras.
Berikutnya dari semua penelitian itu
kita bangun sebuah kerangka kita sebut
dengan institutional framework. Kerangka
kelembagaan yang mengatur ASN.
kerangka kelembagaan yang mengatur ASN.
Jadi memang sebagai ASN itu sangat
challenging.
Diberi fleksibilitas tapi juga diatur.
Diberi kebijakan tapi harus hati-hati.
Dan ini bukanlah satu hal yang mudah.
Kenapa? Lagi-lagi sebetulnya goal dari
pemerintah, tugas pemerintah itu adalah
welfar, kesejahteraan masyarakat. Maka
akuntabilitas
adalah nyawa layanan publik.
Kalau dari teori hipnoterapi,
kalau saya di kelas offline, saya selalu
mengajak setiap peserta mengulang-ulang
beberapa kalimat yang mampu mempengaruhi
alam pikiran bawah sadar kita.
Ya, ini epok-epok. Epok-epok itu apa ya?
Pura-pura kita ini offline. Mungkin
teman-teman sambil ee membayangkan kita
berada di bertemu secara fisik, kita
ucapkan bersama-sama akuntabilitas
adalah nyawa layanan publik.
Akuntabilitas adalah nyawa layanan
publik.
Mengapa kita harus akuntabel?
Kembali lagi kepercayaan publik hanya
dapat diraih kalau kita akuntabel, kalau
ASN akuntabel.
Karena kepercayaan publik adalah modal
yang tak ternilai. Mungkin kembali ke
beberapa penelitian tadi dikatakan
negara dengan tingkat pendidikan yang
bagus, penduduknya lebih paham, lebih
mudah diedukasi
mereka lebih kritis dengan cara yang
lebih baik.
Modal tak ternilai kepercayaan publik
juga menunjukkan ee iklim yang sehat.
ASN-nya bekerja tenang.
masyarakatnya mencari uang dapatnya
banyak
ee tidak ada ketimpangan yang sangat
lebar,
investor berkenan untuk hadir.
Kembali lagi ternyata bicara mengenai
akuntabilitas ASN, transparansi
laporan kinerja ASN itu bukan tentang
praktik, bukan tentang sistem, bukan
tentang hukuman,
tapi ini adalah tentang nyawa.
nyawa bahwa akuntabilitas itu adalah
nyawa layanan publik.
Tanpa keterbukaan
kepercayaan publik rapuh.
Bicara tentang keterbukaan kita bicara
akuntabilitas publik. Maka kita punya
piramida.
Piramida paling bawah yang harus
dibangun adalah sistem audit dan
evaluasi.
Seperti tadi saya sampaikan bahwa kita
akan terus diinceng, diincer,
risih. Enggak perlu.
Kalau kita enggak ngapa-ngapain, ya
enggak usah risih. Diaudit siapa? Atut.
Enggak usah takut.
kan di audit kita enggak ngapa-ngapain.
Walaupun di balik itu semua selalu ada
ee yang disebut dalam tanda kutip
penyimpangan, tetapi percayalah bahwa
dengan sistem digitalisasi ini, sistem
audit ini pun makin sempit untuk menjadi
terjadinya error, terjadinya
ee risiko tidak terdeteksinya sebuah
kesalahan. semakin kecil di era digital
ini.
Paling gampang kalau kita bicara, kalau
saya di kampus misalnya,
mengajar itu hari ini untuk daftar hadir
tidak perlu lagi mahasiswa tanda tangan.
saya cukup
meng apa ya menunjukkan
ee
HP saya ke seluruh kelas dan
di dalam sistem akan terrecord berapa
mahasiswa yang hadir, siapa yang hadir.
Enggak bisa lagi mahasiswa nitip
dan saya juga enggak bisa dititipin
absen sama mahasiswa. Kalau ini sih dari
dulu ya.
Artinya bahwa teknologi itu sebetulnya
seharusnya ada untuk menjaga
akuntabilitas.
Naik lagi tangga ketiga, laporan kinerja
terbuka.
Aduh, pusing. Laporan kinerja kok
terbuka, ya?
Pemerintah perlu membentuk satu tim task
force,
satu task force untuk memastikan
apa what do and don't, apa yang boleh
dan apa yang tidak boleh. Dan ini sekali
lagi harus terus-menerus digaungkan.
Apa yang boleh diunggah, apa yang tidak
boleh diunggah.
Dunia kita sedang terbalik.
Sesuatu yang harusnya diunggah, sesuatu
yang harus di-share, enggak di-share.
Sesuatu yang harusnya di-share,
maaf kebalik, ya. Sesuatu yang harusnya
di-share enggak di-share. Sesuatu
harusnya enggak di-share, di-share. Foto
tetangganya bertengkar. Harusnya kan
enggak di-share,
malah di-share.
Tetapi ketika diminta mengunggah
LHKASN,
LHKPN,
duh mesti nunggu last minute.
Kenapa? Karena infonya dipikir-pikir
dulu. Nyari datanya susah. Padahal di
era digital ini loh harusnya gampang
semua loh. Nah, ini PR lagi tatak
pelatihan, pendidikan berkelanjutan,
ee digital literacy ini harus terus
digaungkan.
Yang kedua naik lagi transparansi ASN.
Transparansi ASN inilah kita
sebagai ASN ya memang dituntut untuk
selalu terbuka. Saya ingat beberapa
waktu yang lalu pernah ee 10 tahun yang
lalu mungkin pada saat kami mengantar
mahasiswa
mm PKL di ee salah satu pemerintah kota.
di situ pemerintah kota
memberikan ee apa semacam logbook belum
musim digital digitalisasi di
pemerintahan pada saat itu. Kemudian
setiap mengupload apa yang harus
dilakukan, betapa beratnya kami
merasakan mendorong ASN untuk mengunggah
apa yang dilakukan hari ini, luarannya
apa, tercapai atau tidak. lalu dilakukan
evaluasi secara reguler
perjuangan ini yang sudah dipupuk sejak
2010 saja ketika kami kembali berkunjung
mengantar mahasiswa PKL ketika kami
berdiskusi problem-problem ini masih ada
di mana ASN masih sulit untuk
ee menyampaikan semua data yang
dimiliki untuk kepentingan
evaluasi kinerja, kepentingan laporan
kinerja.
Padahal ketika ini semua kita lalui,
penilaian ASN tidak lagi subjektif.
semua ASN yang baik mendapat penghargaan
sesuai dengan kinerja dan publik tahu,
publik yakin.
Yakin itu belum tentu dia masuk akses.
Tidak.
Publik itu diberitahu saja bagaimana
mekanisme sebuah sistem bekerja.
Bagaimana saya dinilai dan portofolio
saya dapat diakses.
Pada akhirnya publik akan yakin bahwa oh
iya kemudian guru besar itu enggak bayar
portofolionya jelas. Lihatkan di mana
ada yang namanya Google Scholar, ada
yang namanya
database Scopus,
ada yang namanya ee BOS,
ada yang namanya SSO UNESA yang bisa
diakses apapun dengan batasan tertentu.
Apa yang akhirnya terjadi?
Teras meningkat. Jadi kami pun sebagai
ASN tidak bisa lagi enggak punya karya
lalu maju sebagai guru besar. hari ini
harusnya itu tidak ada lagi karena
publik dengan mudah bisa mengakses dan
itu pun sudah terjadi ketika tidak
sinkron antara portofolio
dengan ee apa namanya pengusulan, maka
sudah mulai dilakukan penertiban.
Akhirnya yang terjadi adalah publikasi.
Apakah hari ini sudah terjadi?
tentu saja masih perlu kita perjuangkan.
Namun setidaknya
sistem di era digital ini,
sistem di era digital ini mendorong kita
untuk bersama-sama
memperjuangkan akuntabilitas.
Dari mana? Dari kita. dari saya, dari
Bapak, dari Ibu kapan? Ayo lah, saiki ae
enggak usah suwe-suwe
apa sih dimensi penting transparansi
laporan keu laporan maaf laporan
kinerja.
Tadi mungkin sudah saya berikan gambaran
yang pertama adalah data kinerja bahwa
data kinerja itu harus bisa diakses.
Bapak, Ibu kalau ingin tahu bagian ini
kerjaannya apa aja sih? kok sampai ke
luar negeri barang enggak boleh diakses.
Bahkan universitas yang kami datangi pun
melakukan hal yang sama. Mereka
melakukan publikasi, pertanggungjawaban.
Apa yang mereka lakukan? Tidak tiba-tiba
dapat akreditasi unggul. Tidak.
Semua harus diunggah
hari ini harus sudah mulai
enggak unggah-unggahan. Enggak
unggah-unggahan itu maksudnya sesuatu
yang enggak penting diunggah.
Yang harusnya diunggah enggak diunggah.
Itu sudah harus mulai kita bikin
status-status yang enggak penting.
Ayolah jangan buang-buang energi.
Bikin status banyak-banyak temannya
komen enggak dijawab. Ini public trust
menurun. Coba Bapak dan Ibu perhatikan
yang suka bikin status terus koncone
e luar biasa. Coba enggak usah dijawab.
satu dua tiga kali dia enggak akan cek
atau komen Bapak Ibu lagi. Dan Bapak Ibu
itu cuek. Ini adalah gambaran sederhana
bahwa data kinerja
itu ada feedback-nya.
Kita mengunggah sesuatu itu pasti ada
feedback-nya.
Saya mengunggah saya jalan-jalan ke
Thailand terus ada yang nanya ngapain,
Bu? Enggak tak jawab. Pasti publik
menilai. Budian sombong, Budian bojok,
iku cuma AI, iku tidak sedang ke
Thailand itu AI.
Bisa jadi demikian. Public trust turun,
akses ee akses publik
ini juga harus didesain.
Aksesnya lewat mana ya publik ya?
yang mana yang bisa diakses.
Ini harus melalui penelitian yang
panjang.
Dibuka lebar-lebar itu juga bukan
sesuatu hal yang sangat baik.
Ditutup rapat-rapat apalagi ini akan
tidak hanya menurunkan menghilangkan
public trust.
Maka
di dalam setiap data yang kita unggah
harus ada yang disebut dengan
keberlanjutan,
konsistensi.
Hari ini saya unggah, saya meneliti
bidang akuntansi. Besok saya ngunggah
lagi meneliti bidang apa ya kesehatan.
Yakjane Budi Dian iki dosen opo sih?
ini enggak boleh terjadi. Publik akan
bingung sebenarnya kompetensi saya itu
apa?
Master segala ilmu kah? Tentu tidak.
Hari ini bicara ilmu itu sangat luas.
Bahkan saya pun seringki merasa saya ini
kok bodoh banget ya enggak ngerti
tentang
ee
Bitcoin. Enggak ngerti saya. Enggak
apa-apa cukup tahu tapi tidak perlu
sangat tahu.
Karena tadi setiap kita itu punya
konsistensi dan keberlanjutan. Percuma
saya tahu Bitcoin tapi terus saya gak
melakukan apapun. Ya cukup tahu saja.
Saya sedih karena saya enggak ngerti
pasar modal ini apa ya kok naik turun.
Cukup tahu saja enggak mendalami ya
enggak apa-apa.
Memang bidang Bapak Ibu misalnya adalah
di bidang kesehatan, di bidang
pertambangan, di bidang ee metalurgi
disebutin yang aneh-aneh biar ee
gambarannya luas.
Jadi, Bapak Ibu, itulah yang tadi saya
sampaikan bahwa
kita perlu mengunggah data kinerja
untuk
meningkatkan
keterbukaan publik. Pada saat yang sama
kita harus melakukannya secara
konsisten.
Berikutnya adalah di era digital dan era
keterbukaan.
bagaimana kita bisa menjaga ee keamanan
data bagaimana kita bisa
menggunakan teknologi secara aman. Ini
juga menjadi satu hal yang perlu Bapak
Ibu pahami.
Karena transparansi seperti yang tadi
saya sampaikan harus dilakukan secara
bijak, terstruktur, tidak asal.
Transparansi
pada poin positif. Meningkatkan
akuntabilitas,
menurunkan tingkat korupsi, memastikan
prosedur berjalan sesuai dengan standar.
Ketika semua ini sudah terjadi, tugas
auditor jauh lebih mudah, tapi
tantangannya lebih tinggi. Apa?
Karena auditor harus lebih pandai
daripada audi.
Mohon maaf tadi ke-emute ya.
Saya ulang sedikit. Jadi hari ini
auditor itu memang harus lebih pandai
daripada auditi dalam hal teknologi
informasi,
teknologi digital
dan sebaliknya audit
ASN juga harus pandai agar apa makna
transparansi
tidak menjadi sebuah mom tapi
benar-benar tahu apa, mengapa, dan
bagaimana transparansi itu dilakukan.
Sebelum kita bergeser ke topik
berikutnya,
faktanya transparansi ini sering
tersendat.
Apa kira-kira yang menjadi penyebabnya?
Lagi-lagi saya menggunakan hasil riset
karena
untuk menghindari saya dibilang itu
tidak. ini hasil riset. Bapak, Ibu boleh
buka ee paper-paper yang saya tulis
tentang frout, tentang whistle blowing,
tentang audit. Di situ beberapa sudah
saya jelaskan bahwa transparansi ini
sering tersendat pertama karena budaya
birokrasi yang tertutup.
Jadi seringki kami pun di manapun di
lembaga-lembaga yang kami ajar
mengatakan bahwa masa saya harus membuka
ini adalah informasi yang rahasia.
Rahasia yang mana anggaran kok rahasia?
Stakeholder perlu tahu. Ini adalah
budaya-budaya lama yang harus mulai kita
kembalikan kepada publik. bahwa publik,
layanan publik itu adalah tujuan kita.
Baik, izin ee Prof. kalau kita lanjutkan
ke sesi diskusi karena sudah ada yang
res hand apakah boleh?
Oh, baik baik silakan silakan.
Baik dan silakan kami akan tampilkan di
sini ada Mas Yudi Kemal dari Trenggalek
yang ingin sekali berdiskusi dan juga
bertanya dengan Prof. Dian. Disilakan
Mas Yudi Kemal. Apa kabar?
Baik, Mbak Fani. Apa kabar?
Alhamdulillah. Luar biasa. Dan ini
tentunya
Selamat siang, Prof. Iya,
selamat siang, Pak Yudi. Apa kabar?
Selamat siang, Prof.
Baik, saya sebetulnya adalah mantan
mahasiswanya
Prof. Dian. Jadi, ee sudah tidak asing.
Rasanya doanya Prof. Dian waktu mengajar
akuntansi sektor publik terwujud, maka
sekarang saya menjadi aparatur sipil
negara, Prof. Saya Kepala UPT
PPD ee Trenggalek BAPENDA Provinsi Jawa
Timur.
Masyaallah. Izin, Prof.
Tapi ee saya rupanya ee mempunyai minat
lain dari ee rumpun ilmu kita, Prof. ee
saya rupanya memang sepertinya harus ee
apa namanya ee menjadi orang manajemen.
Jadi mohon maaf kalau kalau ada menjadi
betrayal gitu, menjadi betrayal karena
ee S2 dan
eh doktoral saya tetap di doktor ilmu
manajemen. Tapi enggak apa-apa kita
masih serumpun Prof. dan akuntansi masih
menjadi darah lah.
Izin, Prof. ee
menarik ee BPENDA Provinsi Jawa Timur,
UPTPD ee seluruh Jawa Timur dan Kantor
Bersama Samsat Jawa Timur itu sebetulnya
kami ee apa namanya sudah beberapa yang
berzitas terutama kami Prof. PTPPD
Trenggalek dan ee Samsat ee Trenggalek.
Tadi saya memilih ke Prof. karena ee dua
narasumber sebelumnya kami sudah ee
selalu bertemu beliau-beliau di ee
event-event zona integritas karena kami
sudah meraih ee wilayah bebas korupsi ee
di
tahun 2022 dari Kemenpan RB dan kami
akan elevasi ke ee wilayah birokrasi
bersih melayani WBBM. Semoga Prof. izin
karena tim penilai nasionalnya juga di
September ini kami didampingi oleh tim
penilai internal dari ee Pemerintah
Provinsi Jawa Timur. Prof ee ini
menarik. Jadi berkaitan dengan ee
integritas dan juga akuntabilitas. Jadi
Pak Sekda ee kami Prof.
Sekarang ini akuntabilitas ee sudah
sangat mudah sebetulnya untuk bisa
dinilai. Masyarakat itu sudah bisa
menilai dari ee tolak ukur sosial media.
Jadi sudah bukan barang ee apa namanya
ee tabu lagi gitu ya. atau mungkin ada
beberapa yang masih merasa janggal
ketika misalnya ee apa namanya? Kami
mengunggah. Jadi kami vlogging ee
kinerja kami dan itu ternyata Pak Sekda
menyampaikan bahwa ee itu sebetulnya
yang ee sekarang menjadi tolak ukur dari
akuntabilitas. Nah, Prof. menarik. Ee
jadi pertanyaan saya ke Prof. Dian,
bagaimana ee dari sebuah laporan atau
informasi kinerja ASN ini yang
dipublikasikan lewat sosial media
sebagai ukuran akuntabilitas bisa
dikatakan akuntable, Prof. Kalau dalam
eh research language itu kan katanya
kita ke Inggris ya, Prof. sedikit eh
success measurement atau indikatornya
itu bisa tinggi. Sementara saat ini
kalau kita berbicara integritas atau
etika birokrasi yang kami promote tadi
Prof menyampaikan whle blowing system di
kami ada Prof. Samsat ee Trenggalek itu
kami ee menjalankan WBS bahkan untuk
elevasi ketiga ee ke WBBM itu kami yang
tadinya hanya eh complaining kepada apa
namanya
eh pegawainya hanya di BPENDA Provinsi
tapi sekarang sudah integrated langsung
ke Polri eh jadi ke eh Pak Kanitiden
langsung kemudian yang BPenda ke saya
kemudian ee apa namanya Jasarja ke Pak
Kepala Perwakilan Jasar Harja. Jadi ee
itu yang kami ee laksanakan. Jadi kami
sudah sangat-sangat ee berbenah, kami
sangat promoting. Tidak ada yang
kemudian memang seperti tadi Prof. Dian
sampaikan, ngapain dirahasiakan. Karena
sebetulnya prinsipnya memang ee sekali
lagi integritas adalah satu bentuk yang
kemudian memang harus bisa ternilai dan
terukur. Nah, ketika kita mempromote
itu, Prof. em bagaimana ya
menyampaikannya bahwa kadang-kadang ee
dengan kondisi yang memang sekarang
mungkin memang ee jadi kurang baik-baik
saja karena banyakbanyak faktor eh
feedback yang kami dapat justru adalah
cynical judgment atau untrust. Tadi tadi
Prof Dian menyampaikan eh trust karena
kayaknya indikator trust ini, variabel
ini kayaknya saya pun ee masih pakai nih
di disertasi kemarin dan masih Nah, tapi
ya itu Prof. ee yang saya tanyakan
gimana sih sebenarnya kemudian itu bisa
menjadi eh akcountable gitu kalau kita
sendiri masih berjuang melawan feedback
atau judgemental yang kemudian tidak
tidak cukup ee supportif kepada kami
yang kemudian kami ee akhirnya ketika
mau melangkah bahwa ya sudahlah apa
namanya ee pasti nah ada pastinya gitu
alah gitu kayak gitu-gitu Prof. Jadi
yang yang hal-hal yang demikian yang em
kami ee cukup kewalahan tapi kami tetap
berusaha semaksimal yang kami bisa.
Terima kasih Prof. Dian. Matur nuwun.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Pak Yudi gantian ya. Lain
kali Pak Yudi yang datang ke kampus
jadi narasumber.
Baik, Pak Yudi. Mungkin memang benar
pertama kalau kita bicara tadi ya,
penghambatnya itu adalah budaya. Budaya
itu apa? Birokrasi sendiri itu justru
menjadi penghambat kalau kalau budayanya
bukan budaya terbuka.
Dan ini memang bukan hal yang mudah
kita bicara penghambat. Kemudian yang
kedua, mungkin sedikit tadi sudah saya
singgung terkait dengan
bahwa bicara transparansi itu bukan
berarti buka-bukaan telanjang di tengah
jalan sehingga bisa dilihat semua orang
itu bukan.
Jadi transparansi itu ada step-stepnya
untuk menimbulkan terust.
Pertama
harus ada sistem audit dan evaluasi.
Kedua, ketika itu sudah kita lakukan
laporan kinerja terbuka. Laporan kinerja
terbuka sudah kita lakukan baru
transparansi ASN. Di situlah akan terp
atau muncul terust. Jangan sampai
melakukan transparansi tapi kita enggak
pernah diaudit, tapi kita enggak ngerti
filosofi audit, tapi sistem kita juga
pengendalian internal kita buruk.
itu namanya kita ee pakai topeng monyet
nari di tengah jalan ya kan memermalukan
diri kita sendiri. Apa artinya? Bahwa
memang transparansi itu bukan untuk
membuat masyarakat resah. Bayangkan
kalau saya pakai topeng monyet, saya
harus tampil di tengah jalan. Wah,
enggak banget, Pak.
Jadi saya harus berangkat itu sudah
mandi,
saya sudah pakai parfum, saya sudah
tampil. Memang ASN itu penampilannya
seperti ini. Saya maju, tapi bukan
berarti saya masih belepotan. Maka
mundur lagi. Ada yang disebut dengan
pelatihan, pendidikan berkelanjutan.
Bahkan saya salib kalau Pak Yudi sudah
sampai di tangga S3. Luar biasa sekali.
Apa?
Iya, semua tidak bukan begitu juga
maksudnya. Tapi begitu kita memiliki
pendidikan edukasi yang memadai itu
membuat kita berpikir budaya terbelah.
Yang tadinya tertutup langsung terbuka.
Bapak pasti merasakan sendiri bagaimana
ketika Bapak melalui proses kuliah mau
akuntansi, mau manajemen.
Itu tidak soal. Tapi ketika kita sudah
kuliah, keilmuan kita meningkat,
diiringi dengan kedewasaan berpikir,
budaya yang tadinya tertutup akan
terbelah. Itu sudah modal yang luar
biasa.
Lagi mengembangkan sistem penjaga amanah
harus dijaga. Apa? sistem pengendalian
internal,
sistem ee evaluasi kinerja, berbagai
sistem pengawasan sudah diciptakan,
teknologi digital disiapkan,
naiklah kita pada sesi kelas yang kedua,
kelas berikutnya mampu menyajikan
laporan kinerja secara terbuka.
Bagaimana kalau kita masih jelek? Ya
harus segera berpacu. Bukan berarti saya
jelek, berarti saya di rumah aja kan?
Enggak gitu juga saya jelek ya, saya
harus berdandan, saya harus berjuang,
saya harus ke pasar beli bedak, saya
harus mandi, beli sabun untuk wangi.
Itu yang gambaran mudahnya. Setelah kita
siap, kita mulai naik angkot, naik ee
naik Grab menuju ke kantor transparansi
ASN dengan semua kelengkapan saya yang
saya yakini secara memadai saya,
integritas saya, accountable yang tadi
dikatakan
ini bentar lagi BPK nih kita. Nah, ini
sudah siap berarti declare kita. Tapi
ada konsekuensinya. Berarti ASN-nya juga
harus transparan,
sudah diklare loh zona integritas, sudah
diklare loh WBK. Nah, berarti harus
diikuti dengan yang lain. Jadi,
declarare-declare yang saya yang kita
lihat hari ini di mana-mana, ayo kita
lihat kembali yuk.
Benarkah declar-nya itu seperti
bannernya
ataukah hanya banner saja ini
sistemnya dibuat tapi setinggi atau
seadvance apa sistem yang dibangun
kalau ini kita lalui. Jadi kita tidak
bisa langsung meraih transparansi ASN.
Itu adalah suatu hal yang ee tadi
membuat justru kekhawatiran
kita harus saling membangun. membangun
dengan menjaga WBK. Sistem WBK ini
tujuannya sebetulnya menjaga kita
sendiri. Bukan menjaga masyarakat, tidak
menjaga kita. Ketika kita harus
transparan, kita sudah siap.
Itu sebenarnya salah satu filosofi WBK
bahwa kita siap transparan.
Nah, yang jadi problem adalah saya masih
beberapa kali mendapati ee wilayah bebas
korupsi, tapi nah jejer. Nah, ini yang
menjadi PR.
Kemudian
saya sedikit lagi masuk ke tadi yang
saya sampaikan bahwa transparansi itu
filosofinya sederhana.
memastikan prosedur berjalan sesuai
standar, maka harus ada standar supaya
bisa diukur.
Ngukurnya gimana?
Smart.
Yang diukur itu harus simpel ngukurnya.
Jangan susah-susah nanti malas
ngukurnya. Harus measurable.
ada angka atau ada alat ukur yang mampu
ee
mengukurnya.
Ini panasnya berapa derajat ya? Bisa
menggunakan tangan saja, bisa
menggunakan termo, bisa menggunakan yang
lain, alat-alat yang lain.
Achievable bahwa prosedur itu memang
lazim.
Jangan bikin prosedur tapi enggak bisa
dilakukan atau menghambat aktivitas yang
lain.
Rasional harus bisa dirasional.
Kemudian T timelin ada batas waktunya,
ada tenggat waktunya. Jadi dikatakan di
sini kalau kita mau transparan itu harus
diukur secara smart. Saya sangat setuju
bahwa akuntabilitas itu harus smart,
harus diukur dengan sesuatu yang memang
logik,
sesuatu yang memang penting
dan tahu kapan itu harus diukur.
Jadi tidak lagi kita itu mengukur segala
sesuatu itu tiba-tiba
ini panasnya berapa ya? Tiba-tiba saya
diukur panas panas badan saya.
Tapi kita punya SOP juga. Kapan saya
harus mengukur panas badan saya? Oh,
setiap 2 hari. Maka saya pun di dalam
menyiapkan laporan harus memahami bahwa
ini waktunya saya melakukan laporan.
Bila perlu saya harus menyalakan alarm
dalam handphone saya.
Ketika berbunyi, saya menyiapkan diri
saya, oh ini waktunya saya diukur.
Sehingga orang tidak merasa menjadi
beban. Pengukuran itu menjadi sesuatu
yang lazim.
Ketika kita menghayati itu sebagai
sebuah budaya, niscaya kita melakukannya
bukan bekan, namun sungguh ini menjadi
sebuah habit. Inilah mimpi kita semua.
Mimpi bahwa transparan is habit,
akuntability habit, integritas habit,
hal-hal baik semuanya adalah habit.
Maka kembali lagi
kami juga merasa tertampar ketika
kampus-kampus mengalami ee berbagai
kasus, tidak hanya kampusnya, dosennya,
mahasiswanya, alumninya, bermacam-macam.
Maka Bapak dan Ibu ini adalah memang PR
kita semua Pak Yudi.
Ini bukan PR Bapak Ibu saja. kami di
kampus juga punya PR. Jadi kami selalu
ee mengatakan bahwa ketika ada mahasiswa
kami melakukan kesalahan itu bukan 100%
kesalahan mahasiswa. Kami pun turut
berkontribusi. Maka kami pun mengatakan
mengapa mengatakan di tempat kami pun
sama. Ini banner atau filosofi hidup?
Anda memasuki wilayah bebas korupsi
IOTA.
itu harus selalu kita tanyakan pada diri
kita sendiri. Maka seperti tadi saya
sampaikan, kita harus sering-sering
mendengungkan. Akuntabilitas adalah
nyawa layanan publik. Akuntabilitas
adalah nyawa layanan publik. Ini yang
terus harus kita gaungkan. Di bawah
pikiran sadar kita akan menggerakkan
kita menggerakkan pikiran kita,
perbuatan kita agar kita menjadi pribadi
yang tunta. Dan ini sekali lagi
very challenging
tapi bukan berarti tidak bisa kita
lakukan.
Iya. mungkin tidak bisa menjawab sangat
memuaskan Mbak Yuki, tapi minimal bisa
memberikan eh inspiring you apa yang
harus kita lakukan dalam rangka kita
menciptakan transparansi dan bagaimana
kita mengawal transparansi, mengukur dan
pada akhirnya ee menjadikan itu sebuah
habit.
Baik,
begitu Pak Yuji.
Baik, jawabannya sangat implementatif
sekali juga Ibu. Terima kasih banyak
Prof. atas jawabannya. Dan Mas Yudi
Kemal terima kasih untuk pertanyaannya.
Ini mewakili dari Sobat ASN yang juga
ingin menanyakan hal yang sama secara
garis besar begitu ya, Prof. Terima
kasih banyak waktunya karena memang
terbatas untuk perjumaan kita dan juga
waktu yang diberikan untuk pemaparan
materi. Terima kasih banyak kami berikan
sebesar-besarnya kepada guru besar Ilmu
Akuntansi sektor publik Universitas
Negeri Surabaya Unesa Prof. Dr. Dian
Anita Nuswantara, S., M.Si., EK. CA.
Prof. Terima kasih banyak dan semoga
saja kegiatan di Thailand
dapat berjalan dengan lancar, sehat
selalu, dan dapat kembali ke tanah air
juga dalam kondisi sehat dan selamat.
Iya, Bui.
Amin. Ibu juga sehat selalu.
Amin. Terima kasih banyak.
Iya,
terima kasih banyak, Prof. atas
waktunya. Sampai jumpa kembali dalam
pertemuan berikutnya.
Sampai jumpa kembali. Terima kasih.
Terima kasih. Baik, Sobat ASN, sebelum
kita mengakhiri seluruh sesi dalam ASN
belajar saringan ke-32 tahun 2025, kali
ini ada beberapa hal yang perlu kami
sampaikan terlebih dahulu untuk dapat
mengecek secara berkala semesta Bangkom
guna mengunduh e-sertifikat.
Tadi sudah kami tampilkan cara-caranya
bagaimana, sudah tiga kali kami
tampilkan. Otomatis mungkin Sobat ASN
sudah hafal begitu ya, bagaimana caranya
mengakses ertifikat dengan mengunduh
semesta Bangkom dan mengeceknya secara
berkala. Dan demikianlah seluruh
rangkaian ASN belajar sering ke-27 tahun
2025. Kami ucapkan terima kasih banyak
kepada seluruh narasumber yang telah
mengisi materi pada seri kali ini, yaitu
tadi Deputi Bidang Reformasi Birokrasi,
Akuntabilitas Aparatur dan Pengawasan
Kementerian PAN RB Republik Indonesia,
Bapak Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto,
M.Si. Kami juga ucapkan terima kasih
kepada Bapak Muhammad Ritwan Awan, SH.
selaku manajer bidang mutu, regulasi dan
kerja sama LSP KPK Republik Indonesia.
Dan yang baru saja jauh-jauh dari
Thailand untuk bisa mengisi seri kali
ini itu ada Prof. Dr. Dian Anita
Nuswantara, S., M.Si., AKCA selaku guru
besar ilmu akuntansi sektor publik
Universitas Negeri Surabaya. Kami mohon
maaf apabila tidak sempat kami tampilkan
untuk sesi interaksi dan juga sesi tanya
jawab karena memang waktu yang sangat
terbatas. Semoga saja kita dapat
berjumpa lagi pada seri berikutnya dan
terima kasih untuk antusiasmenya
partisipasi sobat ASN di mana pun berada
baik secara Zoom meeting maupun YouTube
BPSDM Jatin TV. Kita akan berjumpa pada
seri berikutnya ASN Belajar seri 32
tahun 2025 dipersembahkan oleh Corpu
SDJIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Tetap
semangat dan sampai jumpa.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam.
[Musik]
[Tepuk tangan]
Zaman yang terus bergerak.
Sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak
bersama ASN belajar.
Ciptakan SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk inovasi yang berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap nyongsor Indonesia emas.
ASN
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia satukan tekad pantang
menyerah
jadi ASN getar berkualitas.
yang belajar wujudkan
iman
kelas dunia
tukang tekad pantang menyerah
jadi ASN berkualitasku
[Musik]
sama belajar
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]