Transcript
9xQ7sxWN3EU • RAGAM TTG DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI INDONESIA
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/ProjectBIndonesia/.shards/text-0001.zst#text/0122_9xQ7sxWN3EU.txt
Kind: captions
Language: id
Sabtu, 26 Juli 2025. Bersama saya Nuha
Sania Maulidah selaku MC sekaligus
moderator yang akan memandu acara ini
dari jam 09.00 hingga jam 11.00 siang
nanti
acara webinar kita hari ini mengusung
topik ragam teknologi tepat guna dalam
pengelolaan sampah di Indonesia inovasi
lokal untuk solusi global yang akan
disampaikan oleh pemateri kita yaitu
Bapak Dr. Sri Wahyono, S.Si., M.Si. Si.
Baik, selanjutnya Bapak, Ibu hadirin
yang terhormat, izinkan saya mengucapkan
selamat datang dan memberikan salam
hormat saya kepada pemateri kita pada
hari ini yaitu Bapak Dr. Sri Wahyo,
S.Si., M.Si. dan juga kepada Bapak Dr.
Ir. Hijrah Purnama Putra, ST., M. selaku
founder dari Pik Daur Ulang Project di
Indonesia sekaligus sekretaris jurusan
Teknik Lingkungan Universitas Islam
Indonesia. Juga tidak lupa kepada Bapak
Ibu peserta webinar pada hari yang
berbahagia ini.
Sebelum masuk ke materi webinar kita,
saya mohon izin mengingatkan Bapak Ibu
untuk dapat mengisi daftar hadir atau
presensi di link yang telah admin kami
kirimkan di kolom chat Zoom. Kemudian
dengan hormat saya meminta kesediaan
Bapak Ibu untuk menonaktifkan mikrofon
selama kegiatan berlangsung supaya kita
dapat menikmati materi yang disampaikan
dengan baik.
Selanjutnya sebelum kita masuk ke acara
inti yaitu penyampaian materi akan ada
sambutan dari Bapak Dr. Ir. Hijrah
Purnama Putra, ST, MA selaku founder
dari BTIK Daur Ula Project P Indonesia
sekaligus sekretaris jurusan Teknik
Lingkungan Universitas Islam Indonesia.
Baik, langsung saja kepada Bapak Hijrah.
Waktu dan tempat kami persilakan. Oke,
baik. Terima kasih Mbak Nuha.
Mudah-mudahan suara saya sudah terdengar
dengan jelas. Ee asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah
walhamdulillah wasalatu wasalamu ala
rasulillah. Tentunya selamat pagi, salam
sejahtera untuk kita semuanya. Ee puji
syukur ee kehadirat Allah Subhanahu wa
taala. Pagi hari ini kita penuh semangat
berkumpul hampir ada 100 peserta ya yang
hadir bergabung pada kesempatan hari ini
ya. Dari jumlah yang disampaikan oleh
panitia mendekati angka 500. Tapi
mudah-mudahan ee karena berbagai macam
agenda mungkin sebentar lagi akan
bergabung gitu ya, tapi juga mungkin
sebagian ada yang bergabung lewat
YouTube gitu ya. Yang kami hormati ee
senior kami ya ee Pak Sri Wahyono ee
matur nuwun sudah beberapa kali ini
berkenan untuk mengisi agenda yang
dilakukan oleh Bik Darurulang Project B
Indonesia dan jurusan Teknik Lingkungan
Universitas Islam Indonesia gitu.
Walaupun ee juga beberapa kali pernah
ketemu secara langsung, tapi tidak
bosan-bosan ketemu secara online.
Dan Bapak, Ibu para peserta pada pagi
hari ini yang juga senantiasa ee
semangat dan menjadi partisipan ee apa
reguler dari kegiatan webinar maupun
training online yang dilakukan oleh
Project B Indonesia ya. Nah, ini kembali
ke tema
pengolaan sampah yang harapannya bisa
dilakukan di berbagai macam lokasi
terutama ee bagi penghasil di hulu ya
yang bisa memanfaatkan berbagai macam
teknologi tapi harapannya adalah
teknologi tepat guna. Salah satunya yang
kita kejar adalah keberlanjutan dari
teknologi tersebut gitu ya.
Mudah-mudahan dengan mudah, murah, dan
ee dampaknya juga cukup besar,
mudah-mudahan ini bisa terus
dimanfaatkan untuk bisa mengurangi
jumlah sampah yang harus berakhir di ee
skala kawasan atau skala kota gitu, di
hilirnya nanti. Nah, Bapak Ibu ee agenda
ini kita usahakan bisa rutin 2 mingguan
atau 3 mingguan dan mudah-mudahan Bapak
Ibu tidak bosan-bosan saat nanti
menerima informasi dari admin. Tapi
kalau Bapak Ibu berkenan juga ee nomor
admin bisa di-save begitu ya. Nanti bisa
muncul sesekali status dari admin. Dan
mungkin ke depan ee tidak lama lagi kita
akan mencoba ee suatu sistem pendaftaran
ee melalui website yang nanti Bapak Ibu
bisa mendapatkan informasi secara
otomatis lewat satu akun Bapak Ibu dan
Bapak Ibu bisa mendapatkan materi yang
juga sudah lewat ya sudah dilakukan pada
periode-periode sebelumnya tapi nanti di
dalam ee Ee begitu sistemnya sudah siap,
nanti kita akan sosialisasikan kepada
Bapak Ibu. Niatnya mudah-mudahan semoga
bisa menjadi penyemangat untuk belajar
di hari libur ya, tidak terbatas waktu
dan ruang, tapi kita semuanya bisa
meningkatkan kompetensi kita gitu ya.
Nah, titipan dari Jurusan Teknik
Lingkungan yang ee juga berprogres ee
lewat berbagai macam kompetensi. salah
satunya adalah ee bidang pengolahan
sampah yang akhir-akhir ini banyak
mendapatkan sorotan dari berbagai macam
pihak ya. Jadi ee kami dari Teknik
Lingkungan dengan keahlian tersebut
kemudian mengajak Bapak Ibu juga untuk
bisa terlibat aktif dengan berbagai
macam kegiatan yang mudah-mudahan ke
depan tidak hanya webinar tapi ada
kegiatan yang secara offline
baik itu Bapak Ibu pada saat ke Jogja
begitu atau nanti pada saat kami mungkin
ada road show ke berbagai macam kota di
Indonesia.
Ee terima kasih Pak Sri. Saya tidak akan
berlama-lama karena saya ee sudah
mendapatkan gayanya Pak Sri dalam
menyampaikan butuh waktu karena banyak
sekali yang sudah disiapkan dan
insyaallah Bapak Ibu materinya selama
ini Pak Sri sangat mantap dan
mudah-mudahan nanti diskusi juga cukup
waktunya ya. Mbak Nuha dan teman-teman
selamat bertugas pagi hari ini.
Mudah-mudahan bisa memberikan ee
pelayanan yang maksimal kepada seluruh
peserta dan Bapak Ibu selamat mengikuti
kegiatan webinar ragam teknologi tepat
guna TTG dalam ee pengolahan ee sampah
di Indonesia ya. Ee dan selamat
menikmati, mudah-mudahan bermanfaat dan
membawa keberkahan bagi kita semuanya.
Mohon maaf jika ada kekurangan.
Wabillahi taufik wal hidayah.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih untuk Bapak
Hijrah yang telah memberikan sambutan
dan sekaligus membuka acara pada pagi
hari ini. Bapak, Ibu peserta webinar
sekalian, kami dari panitia juga
melakukan live streaming melalui YouTube
channel kami di Project B Indonesia.
Jika semisal selama acara webinar
berlangsung ada Bapak Ibu yang
terkendala dalam Zoom, tidak perlu
khawatir karena Bapak Ibu juga tetap
bisa mengikuti webinar ini melalui
YouTube channel kami di Project di
Indonesia. Selanjutnya seperti biasa nih
Bapak Ibu sekalian, hari ini kami juga
menyiapkan berbagai macam doorpress
spesial untuk Bapak Ibu yang beruntung.
Doorpres ini diberikan berdasarkan tiga
pertanyaan terbaik dan dua story
Instagram terunik selama webinar
berlangsung. Untuk pemenang tiga
pertanyaan terbaik akan kami umumkan di
akhir acara webinar. Sedangkan untuk
pemenang dua story Instagram terunik
akan kami hubungi langsung melalui DM
Instagram. Nah, jadi bagi Bapak Ibu yang
ingin bertanya selama webinar ee dapat
memberikan pertanyaannya melalui kolom
chat dengan format nama kemudian
pertanyaan yang ingin ditanyakan
dan nanti akan kami pilih tiga penanya
terbaik untuk memenangkan doorpress
spesial dari kami. Lalu untuk story
Instagram, Bapak, Ibu dapat membuat
story Instagram semenarik mungkin dan
jangan lupa tag Instagram kami di
@projecti
Baik, tanpa berlama-lama lagi kita akan
langsung lanjut ke acara inti yaitu
penyampaian materi. Namun sebelum itu,
mari kita lihat terlebih dahulu CV dari
pemateri kita berikut ini. Han
[Musik]
Baik, itu tadi sekilas mengenai pemateri
kita pada hari ini. Selanjutnya mungkin
untuk efisiensi waktu jika Bapak Sri
sudah siap, kita bisa langsung saja
untuk memulai penyampaian materinya.
Waktunya kurang lebih sampai pukul
10.30.
Baik Bapak, tanpa berlama-lama lagi
waktu dan tempat kami persilakan.
Ya. Baik. Ee terima kasih Mbak Nuha.
Semoga suara saya bisa terdengar dengan
jelas.
Ee Bapak dan Ibu penggiat lingkungan di
seluruh Indonesia,
semangat pagi.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
di hari yang cerah ini di daerah Bogor
dan juga semoga di daerah Bapak dan Ibu
sekalian di hari libur di weekend kita
bersama-sama
ee sharing pengalaman terkait dengan apa
yang disampaikan tadi oleh dr hijrah. Ee
saya dari Brin, Bapak Ibu sekalian
diminta menyampaikan materi tentang
teknologi tepat guna. Izinkan saya share
Bapak dan Ibu sekalian ee bahan paparan
saya.
Semoga Bapak dan Ibu sekalian sudah bisa
menikmati bahan paparan saya, Bapak dan
Ibu sekalian, dengan judul Ragam
Teknologi Tepat guna dalam kelang sampah
di Indonesia.
Ada beberapa hal yang ingin saya sharing
kepada saya share kepada Bapak dan Ibu
sekalian pengalaman-pengalaman kami
terkait dengan teknologi tempat guna.
Nah, hal yang pertama yang ingin saya
sampaikan adalah pengertian teknologi
tepat guna dan ciri-ciri serta posisinya
dalam sampah kota. Kemudian yang kedua
adalah karakteristik sampah dan kluster
teknologinya.
Kemudian yang selanjutnya adalah TTG
dari berbagai jenis teknologi pengolahan
sampah. Nah, ini yang mungkin ee
dinanti-nanti ini oleh Bapak dan Ibu
sekalian dan mudah-mudahan nanti apa
yang saya sampaikan juga bisa menambah
wawasan dan pengetahuan dari Bapak dan
Ibu sekalian.
Jadi ada terkait dengan teknologi tempat
guna, pengolahan sampah organik,
plastik, kertas, dan pemanfaatan gas
TPA.
Bapak dan Ibu sekalian, mari kita lihat
ee definisi teknologi dan posisi
teknologi pengelan sampah dalam ee
pengelolan sampah yang berkelanjutan.
Jadi intinya teknologi adalah penerapan
ilmu pengetahuan untuk tujuan keseharian
kita, Bapak dan Ibu sekalian, untuk
memecahkan masalah yang nyata sehingga
kita lebih nyaman secara proses dan
produksi juga lebih efisien dan lebih
produktif. itu intinya tu seperti itu.
Nah, dalam sampah Bapak Ibu sekalian ada
berbagai subsistem
ee yang kita sebut biasanya ee
aspek teknis operasional.
Ada subsistem pemilahan dan pewhan
sampah. Kemudian
dari situ kan kemudian sampah diangkut
ya. ada pengangkutan
diangkut kemudian untuk dibuang ke TPA
atau diolah ya ada subsidi pengolahan
dan kemudian ada terakhir ee destinasi
dari sampah itu biasanya adalah berada
di TPA.
Jadi kalau kita lihat dalam pengelolaan
sampah terpadu, Bapak, Ibu sekalian, ini
semua adalah aspek fisiknya gitu yang
harus di ee dukung, di-support oleh
aspek ee tata kelola. Ada kelembagaan,
legislasi,
kemudian finansial, dan peran antar
stakeholder. Jadi, Bapak dan Ibu
sekalian bisa melihat
yang akan kita diskusikan pada pagi ini
adalah seperti ini dan wabil khusus juga
ada di tiga dan empat ini di dalam
rimbanya penghan persampahan itu seperti
itu. Baik, saya lanjutkan Bapak dan Ibu
sekalian.
Nah, teknologi tadi kemudian teknologi
tempat guna, saya cari-cari itu ee
definisi teknologi tempat guna itu apa
sih gitu. Ini saya ketemu Permendes
nomor 23 tahun 2017. Jadi sesuai dengan
kebutuhan masyarakat menjawab persoalan
masyarakat dan tentu saja tidak merusak
lingkungan
menggunakan sumber daya lokal. Itu
definisinya seperti itu. Jadi ee ada
banyak ciri khas terkait dengan
teknologi tempat guna.
Misalnya di sini yang biasa saya
sampaikan pada teman-teman yang lain ini
biasanya pembuatan peralatannya mudah
dilakukan,
biayanya juga relatif miring itu lebih
murah, enggak mahal-mahal amat biayanya
seperti itu. Tata cara pengoperasiannya
juga mudah dilakukan oleh masyarakat.
Masalah lingkungan tentu saja harus
minim. Produknya juga mesti bermanfaat.
kemudian lokasinya
ee tersedia dan tentu saja masyarakat
harus menerima gitu Bapak Ibu sekalian.
Tapi ee definisi ini saya enggak
terlampau rigid Bapak Ibu sekalian.
Nanti Bapak Ibu sekalian bisa melihatnya
sendirilah gitu ya. Apa yang ee
teknologi yang kami sampaikan itu apa
saja. Kadang ada yang agak apa
complicated,
kadang memang ada beberapa yang mahal
dan sebagainya. Jadi ini hanya sebagai
apa namanya? Semacam panduan saja git
begitu. sekalian, Bapak, Ibu sekalian
ya. Nah, kemudian
posisinya nih biar dalam rimba pulang
sampah ini ee teknologi tepat guna
posisinya ee di mana sih? Kalau tadi
dalam pengelolaan sampah terpadu itu
seperti itu. Nah, dalam ekosist
pengelolaan sampah seperti apa sih?
Kalau kita ee sadari Bapak Ibu sekalian,
pengelolaan sampah yang kita lakukan
pada masa lalu adalah sampah dari
sumbernya ya. kemudian dikumpulkan,
diangkut dan dibuang. TPH kumpul,
angkut, buang. Tetapi kan dalam
paradigma baru, kesadaran baru kita yang
tertuang dalam berbagai regulasi sampah,
sampah itu adalah sumber daya.
di sumbernya sampah tidak serta-merta
hanya dikumpulkan untuk kemudian
diangkut ke TPS, tetapi bisa diolah di
rumah kita, di kampus kita, di lokasi
tempat kita usaha, di kantor kita. Itu
bisa kita lakukan. Itu yang disebut
sebagai ee gampangnya pengolahan sampah
tingkat rumah tangga.
Kemudian di tingkat RT, RW, kelurahan
atau kecamatan di tingkat kawasan yang
biasanya di situ dulu hanya sekedar
tempat penampungan sampah sementara bisa
disulap menjadi tempat pengolahan juga.
Ini di tingkat kawasan, kemudian di
tingkat kota pun demikian.
Nah, cirinya kalau kita lihat ada
tingkat rumah tangga, tingkat kawasan,
tingkat kota, maka dari ee tingkat rumah
tangga dan tingkat kawasan yang
dekat-dekat dan rumah kita, di kawasan
kita, Bapak Ibu sekalian, itu punya dua
prinsip. Biasanya seperti itu. Proximity
principle, dekat dengan sumber
sampahnya. Kalau di rumah kita ya, di
sampah di rumah kita. Kalau di TPS3R
katakanlah di RTRW atau kelurahan kita
ya lingkup itu juga kan jadi dekat
dengan sumber sampahnya. Kemudian
biasanya yang melakukannya adalah
komunity komunitynya masyarakat
sekitarnya masyarakat kita sendiri
community base. Jadi itu ada dua prinsip
tetapi kalau tingkat kota itu biasanya
pelakunya adalah memang e pelaku yang
organisasi profesional entah tidak
industri
blaga.
biasanya jaraknya juga tentunya karena
terpusat ada daerah-daarah yang jauh,
ada daerah yang dekat gitu seperti itu.
Nah, kemudian dalam konsep bijakannya
yang di tingkat rumah tangga, tingkat
kawasan yang punya ciri tadi dekat
sumber dengan sumber dan berbasis
masyarakat itu biasanya kita sebut
sebagai desentralisasi. Sedangkan yang
ee hanya satu pengelolan sampah skala
besar itu sentralisasi. Nah, kita lihat
Bapak, Ibu sekalian dengan itu biasanya
tipologi kota yang melakukan
desentralisasi ituanya adalah kota
kecil, kota sedang, kota besar gitu.
Sedangkan yang sentralisasi biaknya
kota-kota yang besar dan metropolitan.
Ada di mana posisi TTG? Ada di sini,
Bapak, Ibu sekalian.
tingkat rumah tangga ya, tingkat kawasan
itu biasanya tipikalnya seperti itu.
Community principle, community base,
desentralisasi
ee biasanya dilakukan oleh kota kecil
sampai kota besar gitu. Itu seperti itu,
Bapak, Ibu sekalian. Nah,
oke saya lanjutkan lagi. Itu posisinya
rimbanya, posisi teknologi tepat guna
pelang sampah dan ee ekosistemnya
seperti itu. Nah, bagaimana dengan ini
nanti akan masuk ke teknologinya.
Bagaimana dengan ee teknologinya? Nah,
dalam pemahaman modern kita, Bapak, Ibu
sekalian, kita tahu sama tahu nih bahwa
sampah kita kondisinya adalah sangat
heterogen. Ya, Bapak, Ibu sekalian.
Banyak material di sana.
materialnya pun bermacam-macam, punya
karakteristik yang bermacam-macam. Maka
kalau kita mau mengolah golden key-nya
menjadi kunci pentingnya adalah sampah
itu harus dipilah. Nah, di sini juga ada
teknologi-teknologi pemilahan
mulai dari eh rotary screen, magnetic
spator, kemudian berbagai macam cara
yang lain dengan tiupan udara misalnya
karena beratakan berat dan sebagainya.
Nah, di sini juga ada teknologinya.
Nah, setelah terpilah Bapak Ibu di Bapak
Ibu sekalian
ini ee dalam klasifikasi modern kita
mengenal ada empat hal. Pertama adalah e
sampah yang terpilah itu kita
kelompokkan sampah yang layak diulang
bisa kertas, plastik, kaca dan
sebagainya.
Kemudian sampah yang organik atau bio
entah itu sampah makanan, entah itu
sampah dari pekarangan kebun kita ya,
Bisah daun itu ya itu bisa dikelompokkan
tersendiri karena punya karakteristik
tersendiri. Nah, kemudian ada juga
pengelompokan sampah yang combastibel
dapat dibakar
tadi layak dari ulang yang pertama.
Kemudian yang kedua adalah sampah
organik. Kemudian yang ketiga adalah
sampah yang dapat dibakar. Kemudian
sampah yang keempat ini enggak bisa
dibakar
relatif sulit di daer ulang inord. Nah,
ini yang biasanya kita sebut sebagai
sampah residu sebenarnya masing-masing
ini, Bapak, Ibu sekalian itu punya
karakteristik tersendiri
ya. Sambal organik biasanya mengandung
nutrisi,
kadar air tinggi, nilai kalor rendah,
tambah kompasibel misalnya ee mudah
dibakar ya, kadar airnya cenderung
rendah gitu seperti itu. Nah, dari
sifat-sifat karakter umum masing-masing
itu Bapak-bapak dan Ibu sekalian itu
kemudian ee melahirkan pengelompokan
baru. Tipologi pengolahan sampah pertama
adalah kalau yang layak didaur ulang
misalnya plastik, kertas, logam, karet
itu masuk industri darur ulang. Kemudian
yang organik biasanya teknologinya
adalah berbasis biologis. Ini yang ee di
ee brin di tempat kami bekerja. eh saya
mengkoordinasikan kegiatan ini
komposting biogas ya yang yang
hidup-hiduplah BSF, black solder flies,
Farming Composting, dan biodrying dan
sebagainya. Kemudian yang kompasel
itulah yang kemudian pakai e nasi yang
kemudian ee dipanaskan atau dibakar gitu
ya dengan berbasis termal lewat
iterasikah, basifikasiaikah, piralisis
kah Bapak Ibu sekalian. Kemudian yang
tidak bisa di daur ulang, non kompasel
iner. Nah, itu ya mau gimana lagi
diulang enggak bisa dimanfatkan enggak
bisa bi masuk ke TPA ya Bapak Ibu
sekalian. Seperti ini ragam klusternya
sehingga nanti apa yang saya sampaikan
enggak enggak enggak lepas dari ini juga
ada teknologi darul berbasis biologis
ya. Kalau yang termal mungkin kemarin
pekanpekan yang lalu sudah dibahas oleh
dr. atau ahli ya. Saya enggak akan
banyak membahas itu. Dan juga ee sekilas
tentang TPA.
Nah, Bapak Ibu sekalian,
pertama kita coba ee lihat apa itu
komposting. Saya yakin Bapak Ibu
sekalian sudah paham benar nih apa
namanya komposting gitu ya. Apalagi yang
sudah mempraktikkan gitu. Nah,
komposting Bapak Ibu sekalian dalam
pengertian modern
adalah ee penguraian
material organik ya, dekomposisi
material organik oleh siapa?
Oleh ee mikroorganisme sehingga
dilakukan secara biologis dalam kondisi
apa? Kondisinya harus ada udara menjadi
produk seperti kumus. Nah, itu ee
pengertian sederhananya, definisinya
ituu seperti itu, Bapak, Ibu sekalian.
ini yang dipegang oleh para ee ilmuwan
di dunia itu kompas tingar
sepintas Bapak Ibu sekalian bahwa sampah
organik, material organik itu sebenarnya
mengandung berbagai macam senyawa,
karbohidrat, protein, lemak ya selulus,
mineral dan sebagainya yang bagi kita
sudah enggak diperlukan lagi. Tetapi
bagi mikroorganisme
itu makanan yang sangat nyamnyam,
makanan yang sangat lezat gitu. Nah,
yang bekerja di dalamnya dalam proses
komposting ini adalah mikroorganisma
bisa berupa bakteri, jamur, fungi, ya,
aktinometes, protosoa, alga dan
sebagainya. Ini kalau kita ingat
pelajaran biologi masa SMP, SMA itu
ingat nih berbagai jenis mikroorganisme
tadi. Nah, karena dia prosesnya adalah
aerobik maka harus ada suplai udara
Bapak Ibu sekalian. Entah itu dengan
dilakukan dengan pengadukan atau dengan
eh semacam suction blower seperti ini
gitu. Harus ada mikroorganismenya, harus
ada udaranya. Seperti kita menghidup
udara tuh apa ee bernafas gitu. mikroba
pengomosan juga seperti itu. Perlu itu
dan juga perlu minum kasarnya seperti
itu ya apa gampangnya seperti itu. Perlu
air gitu Bapak Ibu yang dalam proses
kimianya. Nah, kalau ini semua dipenuhi
maka kemudian akan ter ee apa namanya?
Terdekomposi, terurelah ee material
organik menjadi kompos, kemudian menjadi
gas-gas ee yang lain. Biasanya adalah
yang dominan adalah gas CO2. Kemudian
Bapak Ibu sekalian dalam prosesnya ini
tipikal nih dalam proses pengomposan
harus panas Bapak Ibu kalau ngomposin
sampah enggak panas itu artinya
kompostingnya prosesnya bermasalah ya.
Nah biasanya panasnya Bapak Ibu sekalian
sampai 70 derajat itu loh biasanya itu
bertahan sampai sekitar 2 pekan habis
itu turun turun turun turun. Nah, proses
aktif ini dalam yang pada masa proses
panas inilah yang biasanya digunakan
dalam proses biodrying.
Drying, pengeringan bio adalah biologis,
pengeringan secara biologis gitu. Nah,
ini yang disebut sebagai proses
biodrying. Kalau proses biodrying kita
lanjutkan, jadilah proses pengomposan
secara sempurna gitu.
Nah, jadilah produk kompos Bapak, Ibu
sekalian ya, dari material organik,
sampah organik terproduksilah menjadi
kompos dan biasanya gas-gasnya itu tidak
berbau. Kalau kita mengosan sama gasnya
bau itu artinya ada masalah di sana.
Biasanya ee komposisi utamanya adalah
CO2. Ada banyak ee apa prinsip dalam
proses pengomposan ya, pengaturan rasio
karbon dan nitrogen, ketersediaan
mikroorganisme, aerasi dan sebagainya
gitu. Tapi enggak saya bahas dalam dalam
sekarang ini, Bapak, Ibu, karena waktu
kita juga sedikit. Jadi, prinsipnya itu
seperti itu, Bapak, Ibu sekalian. Nah,
coba kita ee apa? Tarik ke dalam ee hal
yang yang praktis sekarang. Komposting
dan being itu punya prinsip yang sama,
Bu, ya, Bapak, Ibu sekalian. Punya
prinsip yang sama, gitu. Jadi kalau
proses komposting ada ada fase aktif,
ada fase pematangan, fase aktif biaya
suhunya tinggi. Itu yang diolah adalah
tentu harus sampah organik, sampah daun,
sampah makanan atau mungkin kotoran
ternak Bapak Ibu sekalian yang tentunya
kalau sampah kota memang harus sudah
terpilah. Kalau enggak dipilah maka
produk komposnya juga enggak akan bagus
untuk proses soil kondisioner atau
pembolah pembenah tanah ya. Jadi ee awal
ee bahan bakunya adalah samp organik,
produknya adalah kompos. Nah, bagaimana
dengan biodrying? Biodrying itu bisa
juga berupa material yang sampah organik
murni ya atau sampah campuran. Tetapi
dalam bioying itu sebenarnya yang
berproses itu sampah organiknya. Kalau
sampah plastik dan sebagainya enggak
berproses gitu. Nah, itu biasanya ee
memanfaatkan masa aktifnya itu yang
penting kering gitu kan. ini karena masa
aktifnya biasanya suhunya tinggi maka
kering nilai kalornya biasanya akan
lebih tinggi ya karena kadar airnya
sudah berkurang ya dari 60% katakanlah
menjadi 20%. Kalau kadar air yang berang
lebih kering. Kalau lebih kering ee
prinsipnya adalah biasanya nilai
kalornya akan meningkat. Nah ini jadilah
bahan bakar gitu.
Maka kemudian Bapak Ibu sekalian kalau
dalam kacamata saya biodriving adalah
komposting setengah jalan. Kalau
dilanjutkan menjadi beberapa pekan
kemudian jadilah komposu. Nah, ini yang
kita kenal dalam praktik ee beberapa
teman itu ada yang istilah peyemisasi
ya. Ya, kemudian produknya ee di
peletkan. Kemudian untuk proses
klasifikasi.
Kemudian di Cilacap juga ada proses BRI
yang sekolahnya lebih besar lagi ya
menjadi RDF yang kemudian produknya
untuk semen killen gitu.
Nah, kemudian
teknologinya nih kalau kita lihat lintas
kalah Bapak Ibu sekalian teknologi
komposting ya nanti biodring komposting
itu ada yang tingkat rumah tangga yang
bisa dilakukan Bapak Ibu sekalian. Saya
melihat di lapangan juga banyak
kreasi-kreasi ee teman-teman di lapangan
ya ee terkait dengan bagaimana ngomposin
sampah dengan berbagai jenis komposter.
Bapak, Ibu sekalian ini kami juga
mengkaji berbagai hal terkait dengan hal
itu, skala rumah tangga. Kemudian ada
juga komposting yang skala kawasan Bapak
Ibu sekalian dilakukan biasanya
dilakukan oleh TPS3R
untuk sampah daunnya kah, untuk sampah
makanannya kah, demikian juga untuk
komposting yang skala besar. Dalam
kacamata keilmuan Bapak, Ibu sekalian,
komposting skala rumah tangga, segala
kompak kawasan, dan skala kota itu
biasanya terkelompokkan menjadi low
teknologi low teh ya. Eh, teknologi yang
tidak terlampau rumit-rumit amat gitu.
Tidak seperti waste to energy rated itu
enggak seperti itu. Ini sederhana cuma
ee apa namanya? Sampah yang diolah itu
kalau tingkat rumah tangga kan sampah
dari rumah saja. tambah kawasan mungkin
dari kawasan kelurahan atau kecamatan.
Sedangkan kota adalah sampah yang
organik dari seluruh kota itu.
Nah, ini contohnya
komposter rumah tangga misalnya yang
beredar di banyak ee masyarakat di
sekitar kita itu biasanya ada komposter
yang di ee semi aerobik. Ini sebenarnya
dalam kategori komposting enggak enggak
masuk enggak masuk definisi komposting,
tapi dalam dalam praktik kesarian itu
disebut sebagai komposter. Biasanya
dikenal sebagai komposter ember tumpuk
seperti ini. Ada yang bisa kita buat
sederhana
dengan berbagai wadah misalnya di sini
atau kemudian di dijual cara apa namanya
e fabrikasi juga ada industri yang
menjualnya gitu. Nah, komposter selain
semi aerobik juga ada komposter aerobik
Bapak Ibu sekalian. Nah, ini yang memang
dikembangkan dengan prinsip-prinsip
komposting yang saya sampaikan tadi yang
kita kenal dulu ada komposter Takakura,
ini Mister Takakura ya. Itu dari Jepang
yang memang melakukan kajian sampah di
Surabaya berarti itu dan berbagai jenis
komposter yang lain gitu. Di sini adalah
komposter komposter aerobik di mana
udara itu bisa masuk ke dalamnya.
Biasanya melalui proses pengadukan
manual dengan cetok dan sebagainya Bapak
Ibu sekalian ya. Nah, kalau sampah kebun
juga bisa dilakukan dengan cara yang
sederhana. Ini saya lihat kita kaya
sebenarnya Bapak Ibu sekalian berbagai
jenis komposter ya yang bisa yang
diterapkan oleh masyarakat pada saat
ini. Kita tinggal pilih yang mana Bapak
mau pilih yang mana gitu. Nah, kemudian
tingkat kawasan atau kota demikian juga
ee kita punya ee ee pengalaman yang yang
banyak gitu, Pak di sisi keindonesiaan
gitu. Mulai dari yang segala kawasan
misalnya dengan sistem bak seperti ini
Bapak, Ibu sekalian ya. Ini ee beberapa
gambar yang memang kami kerjakan di
beberapa lokasi gitu. Nah, kemudian
skala ee kawasan dengan sistem Windro
misalnya seperti ini yang ini menjadi
populer di banyakbanyak apa daerah. Nah,
juga ini juga skala kuota
yang dikerjakan oleh projek-projek ee
Bank Dunia biasanya atau PBB misalnya
ini di beberapa ee di 4 TP dalam rangka
reduksi emisi gas rumah kaca. Nah, ini
juga ada yang besar juga yang pernah
kami lakukan juga di sebuah tempat di
Jakarta Timur ya secara mekanikal gitu.
Jadi, rumah tangga ada tuh TTG-nya,
kawasan ada tuh TTG-nya, kota juga ada
terkait dengan kompos. Nah, kemudian
bagaimana bedriing? Ini yang terkenal
adalah di dari teman-teman Komestara ya.
ee tempat olah sampah setempat yang
cukup populer ee baik apa ee
pelatihannya, praktik praktiknya dan
upaya-upaya pemanfaatannya untuk
gasifikasi maupun di Joko untuk PLTU
misalnya ini juga dilakukan kemudian ee
secara besar juga rupanya dibangun juga
di TPA Kong oleh PUPR ya.
Ini adalah ee tempat produksi RDF yang
memang skala besar. Kemudian juga eh
best practice yang sebelumnya sudah
beroperasi adalah di Cilacap gitu dari
samp organik difermentasi secara
aerobik. Nah, produknya biasanya airnya
sudah berkurang lebih kering yang
kemudian ukurannya pun disesuaikan
dengan kebutuhan dari ofakernya atau
kemudian bisa dipeletkan juga untuk
gasifikasi dan sebagainya. Prinsipnya
sama antara komposting dan biodriving.
Hanya biodriving itu memanfaatkan masa
aktifnya saja
ya. Kemudian bagaimana dengan biogas ya
Bapak Ibu sekalian? Biogas sampah kota
biasanya punya karakteristik khusus
Bapak Ibu sekalian harus ada
pretreatmennya karena sampah kan
nyampur. Sampah harus dibilah dulu
kemudian ukurannya juga macam-macam.
Enggak kayak kotoran sapi misalnya kan
sudah seragam enggak perlu dipilah-pilah
lagi. Biasanya seperti itu. Kalau sampah
ee ukurannya ee juga beragam, jenisnya
macam-macam. Padahal yang kita inginkan
adalah sampah organiknya saja wabil
khusus sampah makanan biasanya itu dan
ukurannya juga mesti mesti seragam. Nah,
itu yang ada treatmentnya. Nah, kemudian
kalau secara proses Bapak Ibu sekalian
ya biasanya di situ memang complicated
banget prosesnya. proses biokimianya
mulai dari material protein,
karbohidrat, lipid, kemudian diproses
secara hidrolisis, di ada proses juga
sampai kemudian proses-proses itu
berujung pada terbentuknya gas metan
gitu. Gas metan dan ee apa namanya?
Kalau kita dalameter-parameter
ee prosesnya juga bermacam-macam
sebenarnya Bapak Ibu sekalian. Tapi
intinya bahwa dari proses itu biasanya
anaerobik. Kalau komposting ada adalah
harus ada udara, kalau biogas enggak
enggak boleh ada udara tuh harus kedap
gitu. Kalau ada kalau udah ada udara
yang masuk biasanya proses akan gagal
gitu enggak terjadi proses pembentukan
gas metan. Nah, kemudian produknya ya
biogas itu sendiri dan ada cairan yang
keluar biogasnya bisa dimanfaatkan untuk
listrik ya untuk memasak terutama
biasanya seperti itu kalau di tingkat
keluarga atau di tingkat kawasan untuk
memasak. Kalau skala besar bisa mil
listrik Bapak, Ibu sekalian ya. Nah,
kemudian kalau cairannya itu bisa meli
bubuk cair. Nah, kemudian gimana nih
contohnya? Nih contoh dari biogas kalau
rumah tangit seperti ini. Bisa dengan
dibuat dari du air, bisa dari fiber,
glass dan sebagainya. Ini ini sudah
populer Bapak Ibu sekalian. Kalau Bapak
Ibu pengin bikin bisa juga itu. Tapi ini
harus pesan. Kalau bikin sendiri
biasanya agak susah gitu, agak susah
dari 1 2 sampai 3 kg biasanya biogos
yang diproduksi bisa
untuk digunakan memasak sampai 1 jam
lumayan pengganti LPD gitu. Nah,
bagaimana dengan kawasan? Nah, kawasan
biasanya ee biayanya akan tinggi Bapak
Ibu sekalian ya. Eh, itu juga tergantung
dari teknologi yang dipakai nih. Seperti
gambar di sini adalah yang pernah kami
terapkan juga di sebuah ee kawasan
industri di situ ada 300 kg sampah
makanan yang bermasalah. Nah, ini diubah
menjadi biogas yang kemudian biogasnya
dimanfaatkan kembali untuk masakmemasak
di dapur dari kawasan itu. Itu ini
adalah yang skala kawasan Bapak Ibu
sekalian. Ini juga termasuk TTG dalam
kacamata kami Bapak Ibu sekalian ya.
Nah, kemudian ee yang di berbagai tempat
pun kita lihat misalnya di Bujoni tempat
teman-teman dari Malang nih ada juga ini
kembarannya yang ada di Jambi misalnya
ini dibangun oleh dengan dana PBB kalau
enggak salah. Kemudian ini beberapa
pihak swasta misalnya dari Bogor ya, ada
juga dari Bandung membuat juga ee
menerapkan ee biogas seperti ini ya.
Jadi eh sudah banyak sebenarnya Bapak
peri sekalian eh praktis
praktisis-praktisis terkait dengan TTG
biogas di kita seperti halnya komposting
tadi. Nah kemudian eeah ini yang lagi
populer. Kalau dulu komposting sangat
populer, diuka sangat populer. Nah ini
lagi lagi lagi ada di mana-mana juga
blackerflies ya magot itu ya. Ini juga
hal yang baik dalam untuk pengelolaan
sampah ya Bapak Ibu sekalian yang
digunakan adalah kalau tadi
mikroorganisme ini adalah serangga.
Serangganya ee adalah lalat tapi
lalatnya itu pun khusus bukan lalat
biasa. alat herusen
ya black flies
eh magotnya telur yang netas jadi
belatung-belatungnya atau makutnya itu
sangat rakus gitu sehingga itu yang
digunakan untuk ee menangani sampah gitu
yang kalau kita lihat siklus hidupnya
Bapak Ibu sekalian ee dari lalat ini
teman-teman di lapangan juga sudah
banyak tahu gitu ya ee
mulai dari lala dewasa kemudian kemudian
dikawinkan di dalam kandang bertelur,
telurnya diambil kemudian telurnya
ditetaskan dalam media khusus. Setelah
menetas baru kemudian dimasukkan ke
dalam wadah yang di situ kita bisa
masukkan sampah makanan bi seperti itu.
Nah, di situ akan ee membesarlah si
instan itu jadi matot ee dalam waktu
tertentu. Matotnya bisa kita panen
katakanlah pada hari ke-12 misalnya.
Kemudian dibiarkan yang lain di pupa.
Pupa kemudian ee dibiarkan menetas apa
ee apa keluar lagi menjadi lalat dewah
dari pupa itu. Nah, lalat dewas itu
kemudian ee kawin lagi, betul lagi. Ini
seperti itu.
Ee satu siklus ini adalah tantangan bagi
yang ini yang biasanya untuk rumah
tangga dan kawasnya tantangan untuk
menjalankan satu siklus ini gitu.
Gitu. Dan ini sangat populer saat ini di
berbagai tempat di Indonesia. Baik yang
biasanya ditempatkan ee skala kawasan.
Kalau rumah tangga biasanya hanya
sekedar ambil telur kemudian diwasakan
telurnya itu diterusaskan menjadi
magbakot itu kemudian dipanen magbetnya.
Tetapi untuk skala kawasan ee ini
memungkinkan untuk menjamin satu siklus
itu. Tetapi ini pun juga masih apa
namanya masih tantangan juga.
eh magot dari flies. Nah, kalau di
tingkat rumah tangga kita juga bisa
lakukan itu dengan eh dengan lalat
alami, enggak harus dengan eh tadi
hermesia yang itu. Ini sempat kita
patenkan juga eh reaktor sederhana kita,
Bapak, Ibu sekalian di mana yang hidup
adalah makut dari ee entah itu lalat
buah ataupun lalat-lalat rumahan itu dan
itu terjadi dengan sendirinya. kita
enggak harus me apa namanya memelihara
lalat di dalam sebuah kandang.
Nah, kemudian ini juga cakap populer
sampai sekarang ada komunitas
nusantaranya Ekoenzim ya. Nah, biasanya
ee ada kesulitan ee dalam hal penyed
penyediaan wadahnya yang cukup mudah.
Ini juga ada cara mudah Bapak Ibu
sekalian yang kita kembangkan juga di
mana kita ee ee lengkapi dengan seal air
ini sehingga kita nanti ketika
memproduksinya enggak harus buka tutup
pada tahapta-tahap awal itu satu rapat
nanti udara akan keluar dengan dirinya
secara aman gitu. Nah, ini memang luar
biasa Dr. Rukon dari mana? Dari Thailand
ya dalam pengembangan ini sebagai dia
sebagai seorang apa?
ee ilmuwan al apa yang cinta terhadap
alam ya. Ini ada di mana-mana ee apa
namanya penerapannya ada di berbagai
negara. Ini ee biasanya dilakukan secara
selektif
ee sampah makanannya juga sangat
selektif. Enggak serta-merta seluruh
jenis sampah makanan yang busuk sudah
enggak boleh, yang sudah di apa namanya
direbus enggak boleh. Gulanya pun g
harus gula alami, enggak boleh gula
rafinasi dan sebagainya. dan juga dari
sisi waktu itu mesti strik di angka 30
hari. Jadi ini memang semuanya selektif
Bapak Ibu sekalian.
Ada kekurangan dan ada kelebihan. Nah,
kemudian bagaimana kertas?
Kertas kalau ee di bank sampah ya cukup
dikumpulkan kan kardus dan sebagainya
kemudian dijual kemudian di pabrik itu
biasanya nanti digunakan sebagai apa? Ee
support material Bapak Ibu sekalian ya.
bi 50% adalah sampah kertas, 50% adalah
virginnya yang kemudian nanti setelah
jadi PALP kemudian dijadikan kertas.
Bagaimana dengan di keluarga? Misalnya
ini ee Ibu Bapak sekalian yang ada di
daerah dan penggiat bank sampah itu
paham betul ya bahwa sampah kertas pun
sebenarnya bisa digunakan untuk bahan
baku handyraft misalnya. ini kan
cantiknya seperti ini dengan cara
dibuburkan dibikin pal kembali dicetak
ya. Nah, ini memang perlu tangan-tangan
yang punya sense of arts yang tinggi.
Kalau kita enggak punya ee apa namanya
sens ini biasanya produknya akan akan
enggak begitu bagus. lah produk-produk
yang memang ngulik seperti ini ya punya
S of Cutting ini ee beberapa memang
dijual online dan diekspor.
Nah, demikian juga ee ada yang dengan
cara hanya tidak dipalkan, tidak dibikin
bubur teti hanya dipilin
kemudian dianyam seperti ini seperti ini
gitu.
Ini yang biasanya dilakukan di tingkat
komunitas atau tingkat rumah tangga bisa
dilakukan seperti itu. Nah, kemudian
bagaimana dengan darurang plastik?
plastik juga bisa dilakukan di rumah
maupun ee di komunitas atau skala skala
kawasan, tingkat kawasan Bapak Ibu
sekalian. Nah, biasanya kalau tingkat
kawasan
itu arahnya dicacah kemudian dipeletkan,
kemudian dicetak jadi sebuah produk ya
yang menjadi darurang material. Kemudian
ada juga yang di daruang secara termal
ini biasanya ee teknologinya ee
rada-rada rumit. Ee mungkin dalam
kacamata TTG agak agak susah juga
dikelompokkan dalam kacamata TTG Bapak
Ibu sekalian. Nah, kemudian chemical
recycling juga eh dalam yang skala
kawasan at skala besar juga teknologinya
relative rumage. Biasanya di apa
dijadikan ee minyak ya kemudian di
proses secara gasifikasi. Nah, di kita
juga sebenarnya ada yang kemudian
disederhanakan proses klasifikasinya,
proses viralisinya ada juga Bapak, Ibu
sekalian. Nah, kemudian contohnya nih
kalau yang tingkat kawasan ya biasanya
di masyarakat ya di IKM industri kecil
gitu ya biasanya sampah ee plastik
dicacah kemudian dicuci bersih kemudian
setelah kering hasil cacahnya bisa
dijadikan pelet. Misalnya seperti ini
Bapak Ibu sekalian ya. Kemudian dari
palet inilah menjadi bahan baku produk
barang-barang plastik kembali
atau yang populer saat ini adalah dengan
me proses
dengan dicacah kemudian dibersihkan dari
material-material pengotornya dilelehkan
kemudian dicetak menjadi produk-produk
seperti ini misalnya menjadi batak
puffing block kemudian ini genteng itu
Bapak Ibu sekalian ini eksis ya Bapak
Ibu sekalian tetapi Tapi biasanya ee
nanti penjualan produknya yang agak-agak
repotan opternya karena bersaing dengan
produk yang sudah itu sehingga beberapa
di tempat untuk jual produknya juga
mengalami keselan entah itu menjadi
batang seperti papan, bato, genteng dan
sebagainya.
Nah, kalau di tingkat rumah tangga
seperti Bapak, Ibu sekalian perhatikan
di sekelilingnya ee ada yang dengan
dipotong jahit dan rangkai tas ya
seperti ini. Kemudian juga ee dengan
cara potong tanpa dijahit hanya
dirangkai ya menjadi fas-fas bunga
seperti ini. Kemudian ada juga yang
dengan cara potong anyam dan rangkai
menjadi berbagai hitung-hitung tas
seperti ini, dompet, payung dan
sebagainya atau menjadi eak gitu.
Nah, ini ee dalam perkembangannya agak
agak agak menurun apa namanya intensitas
dari komunitas kita memproduksi ini
karena memang lagi-lagi adalah ketika
diproduksi itu kesulitan akan pasar gitu
sehingga akhirnya ee enggak enggak
terjual gitu.
Nah, ini ee juga satu apa namanya? TTG
yang sempat populer di sekitaran kita,
Bapak, Ibu, Ibu sekalian dari sampah
plastik dan kemudian TPA ini yang saat
ini juga menjadi perhatian ee Bapak
Menteri KLH dan juga lembaga yang
lainnya ya, bahwa TP kita kebanyakan
open dumping gitu. Sebenarnya kalau dari
sisi teknologi, dari sisi konstruksi,
teman-teman sipil itu sebenarnya sambil
merem gitu. Hanya dari sisi
pembiayaannya saja yang yang memang
memang ee cukup besar karena di dalamnya
biasanya mesti ada konstruksi pelapis
air di bagian dasarnya. Kemudian juga
apa air lindinnya juga harus ditani,
kemudian gasnya juga harus ditangani.
Ee jadi secara kalau secara teknologis
secara ini sebenarnya bisa saya sebutkan
ini sebenarnya teknologi tepat juga
karena ee memang memang sangat berguna.
Hanya saja memang dari sisi finansial
kapasitas ee
ekonomi daerah biasanya ee mengalami
masalah untuk membangunnya dan juga
untuk mengoperasikannya.
dan juga Bapak Ibu sekalian ini ada juga
pengalaman yang unik ini ee sebenarnya
dari teman-teman Malang itu saya belajar
juga dari almarhum Pak Kadri Malang ada
dan Renung yang sekarang masih aktif
khusus ya Pak Rudi juga ini sempat kami
kembangkan juga teknologi pemanfaatan
recovery gas dari TPA mulai dari kami
melakukan apa namanya ee studi studi
seberapa besar sebenarnya gas
dari TP itu bisa dieksplore ya,
potensinya ada berapa kemudian nanti
sistem yang digunakan apa ya yang
kemudian nanti gasnya itu bisa
dimanfaatkan ya setidaknya bisa untuk
memasak di TP itu sendiri atau
didistribusikan
bahwa rumah tangga sekitarnya atau
menjadi ee listrik gitu. Bapak, Ibu
sekalian ini ee ini asli ini Indonesia
ee dari Malang penemunya dan Renung dan
kawan-kawan itu kalau di luar negeri itu
kita enggak menemui itu. Jadi kalau dari
judul ee tadi dari solusi lokal menjadi
solusi global itu ada beberapa memang
dari apa yang kita punyai yang kemudian
ee oleh negara berkembang yang lain
misalnya Bangladesh, Pakistan dan
sebagainya mereka mengembangkan dengan
ala Indonesia dengan cara Indonesia
misalnya dengan komposting Bapak Ibu
sekalian komposting yang sitah indrom
seimbak mereka berbondong-bondong zaman
dulu itu belajar ke kita itu ee termasuk
juga beberapa jenis komposter juga
mereka ee ini belajar dari kita
sebenarnya. Jadi sebenarnya Bapak Ibu
sekalian intinya teknologi tempat guna
yang ada saat ini di Indonesia itu ee
sangat beragam. Kita sangat kaya mulai
dari yang diterapkan bisa diterapkan
untuk skala rumah tangga,
skala kawasan atau tingkat kawasan atau
tingkat kota. kita punya itu sebenarnya
kalau dari sisi teknis Bapak Ibu
sekalian ya. Tetapi kalau kita lihat
memang kenapa itu enggak berkembang kita
lihat tadi yang apa yang saya paparkan
di awal ee bagaimana sebuah pengelolaan
sampah yang berkelanjutan itu kan harus
di-support dari sisi finansialnya,
dari sisi kelembagaannya, dari sisi
regulasinya, dari sisi peran seru
stakeholder. Nah, tadi kita lihat yang
dari sisi teknisnya kita sebenarnya
punya kalaupun kita enggak punya
misalnya WTE misalnya yang skala besar
kita juga mampu kok. Tahun 2018 kami
bikin itu di Bandar Gebang itu kami pada
saat XBWPT bisa jadi energi listrik
gitu. Kita belajar bisa cepat kalau dari
tim-tim engineer itu bisa belajar dengan
cepat 1 bulan bisa itu ya didukung oleh
eh internal apa industri-industri yang
ada di dalam itu bisa kolaborasi untuk
yang skala-skala seperti itu rumit dan
sebagainya. Jadi kalau kembali ke TTG
itu kita sangat kaya Bapak Ibu sekalian.
Sangat kaya. Tinggal silakan mau pakai
yang mana. Kemudian disesuaikan dengan
kondisi masing-masing daerah, kondisi
sampahnya, kondisi kemampuan
finansialnya.
Ee dan tentunya itu ya
dari niat kita gitu.
kita
niat ee benar-benar niat untuk
menyelesaikan permasalahan sampah itu.
Nah, ini saya paparkan pada Bapak Ibu
sekalian yang mudah-mudahan bisa
memberikan bayangan dari tingkat rumah
tangga, dari tingkat ee kawasan maupun
kota ini seperti ini. Ini terakhir ya,
Mbak Nuha. Berapa menit lagi nih
ya? Ini terakhir. Jadi kalau dari dari
apa yang saya sampaikan Bapak Ibu
sekalian, kita sebenarnya bisa melakukan
itu sendiri dari rumah kita. Mau
komposting kah, mau biogas kah atau mau
dengan cara bioforori kah atau dengan
tadi ekoenzim atau pepuk organik cair
atau langsung kasih kasih ke ternak gitu
yang laku jual ya kita sedekahkanlah
Bapak Ibu sekalian ke pemulungkah atau
ke petugas sampah atau ikut bank sampah
gerakan sedekah sampah dari berbagai
rumah ibadah gitu.
Nah, untuk yang skala kawasan pun ini
mungkin sebagai apa ee apa yang saya
sampaikan tadi rangkumannya gitu. Ini
bisa dilakukan di berbagai apa wilayah
RT RW, desa, Kecamatan biasanya kita
sebut sebagai TPSDR, pusat daur pulang,
PDU, rumah kompos, reser, apapun namanya
ya Bapak Ibu sekalian. misalnya yang
organik pun bisa dikomposkan, bisa
dibiukaskan dengan berbagai cara gitu.
Dengan berbagai cara.
Nah, demikian juga yang laku jual gitu
ya
dan lainnya. Dan untuk yang
skala kota ini kalau skala kota biasanya
ee agak-agak non istilahnya apa namanya
lebih lebih apa namanya? lebih
complicated itu Bapak Ibu sekalian ya
biayanya juga besar karena sampah yang
diolah kelola adalah banyak dilakukan
oleh lembaga yang profesional prinsipnya
sama sampah mesti dipilah-pilah dulu
kemudian yang ee laku jual bisa masuk
industri ulang yang organik material
bisa dibiogaskan, dikompaskan budidaya
BSF menjadi pakan ternak
dibiodrayingkan. Sedangkan yang kombibel
itu bisa langsung di ee tangani dengan
misalnya atau gasifikasi atau viralisis
atau ditingkatkan dulu kualitas menjadi
RDF misalnya Bapak, Ibu sekalian bisa
untuk umpannya PLTSA ya, residunya TTPA
ya, kemudian yang RDF pun ya Bapak Ibu
sekalian ee bisa untuk semen industri.
Kalau yang organiknya dominan bisa untuk
PLTU ya. ini seperti inilah kira-kira
Bapak Ibu sekalian
ya yang pokok bagi saya ini pesan saya
ee mudah-mudahan nyampai ke Bapak Ibu
sekalian bahwa kita sebenarnya memiliki
perbendaharaan
teknologi tempat guna pengolan sampah
yang kaya dari tingkat rumah tangga,
tingkat kawasan sampai tingkat kota
seperti ini gitu. tinggal tadi ee
pendukungnya yang lain ada anggarannya
enggak gitu kan, lembaganya bagaimana,
sosialisinya bagaimana, kepatbatan
berbagai pihak seperti apa, regulasinya
pun harus diterapkan apa secara baik.
Jadi seperti itu Bapak, Ibu sekalian.
Terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu
sekalian. ada kalau misalnya Bapak, Ibu
sekalian pengin lihat beberapa tayangan
video apa yang saya sampaikan itu Bapak
Ibu sekalian ee bisa mampir ke channel
YouTube saya Indonesia W Adventure gitu.
Baik, tidak berlama-lama
tapi ini cukup lama Bapak Ibu sekalian
terima kasih atas perhatiannya ee
mudah-mudahan
bermanfaat bagi kita sekalian. Terima
kasih e Mbak Nuha. Selanjutnya saya
serahkan ke Mbak kembali. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Baik. Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Itu tadi penyampaian materi
dari pemateri kita yang luar biasa yaitu
Bapak Dr. Sri Wahyono, S.Si., M.Si.
Jika dilihat-lihat sudah banyak sekali
pertanyaan dari Bapak Ibu peserta
webinar. Tapi sebelum memasuki ke acara
selanjutnya yaitu tanya jawab, saya
ingin menginformasikan terlebih dahulu
kepada Bapak Ibu peserta yang
menginginkan materi webinar kita hari
ini dapat request materi terlebih dahulu
melalui link yang sudah admin kami
kirimkan di kolom chat Zoom. Kemudian
sebelum masuk ke sesi tanya jawab, kita
akan melakukan sesi foto bersama
terlebih dahulu. Untuk sesi foto bersama
kali ini saya akan dibantu oleh admin
kami. Baik, kepada admin waktu dan
tempat dipersilakan.
Terima kasih Mbak saya akses.
Oke, bisa kita mulai dari slide pertama.
3 2 1.
Slide berikutnya 3 2 1.
Slide ketiga 3 2 1.
Slide keempat 3 2 1.
Dan slide terakhir 3 2 1. Baik, terima
kasih. Ee saya kembalikan ke Mbak
Baik. Terima kasih untuk admin yang
telah membantu sesi foto bersama kita
pada hari ini. Kemudian selanjutnya kami
ingin meminta kesediaan Bapak Ibu
peserta webinar untuk mengisi kuesioner
yang linknya sudah ee admin kami
kirimkan di kolom chat Zoom supaya
kegiatan kami selanjutnya bisa lebih
baik lagi. Untuk acara selanjutnya yaitu
sesi tanya jawab yang di sini kami sudah
membantu merangkumkan pertanyaan dari
Bapak Ibu sekalian. telah Bapak, Ibu
para peserta webinar sampaikan di kolom
chat. Baik, untuk Bapak Sri membacakan
pertanyaannya terlebih dahulu kemudian
bisa diikuti oleh ee jawaban dari Bapak
Sri.
Baik, untuk nomor satu
dari Ibu Dina Evalia. Pertanyaan nomor
satu, menelaah teknologi yang ditetapkan
benar-benar mencerminkan kondisi,
potensi, dan budaya setempat. Bagaimana
peran teknologi tepat guna dalam
menjawab kebutuhan lokal masyarakat
terkait pengelolaan sampah? Nomor dua,
bagaimana keterjangkauan lokasi dan
infrastruktur mendukung penerapan TTG
secara merata di berbagai wilayah
menyangkut aspek pemerataan dan
aksesibilitas teknologi khususnya di
daerah terpencil atau tertinggal.
Kebijakan apa yang perlu diperkuat
pemerintah daerah untuk mendukung
pengembangan dan penerapan TTG secara
luas? Baik, silakan Bapak Sri dijawab
pertanyaan dari Ibu Dina Evalia.
Iya. Baik. Em
ee sebentar ini video
ya. Ini video saya bermasalah sebentar
ee apa namanya? Enggak bisa saya
nyalakan.
Oke, saya saya close ini videonya ya,
Bapak, Ibu sekalian. Karena ini ternyata
enggak bisa nyala secara teknis. Enggak
tahu ini. Ee ya ini saya mencoba
mencerna
ee pertanyaan Ibu Ibu ya mungkin ya Ibu
Dina ya. Pertanyaan saya cerna dulu
menelaah teknologi yang diterapkan
benar-benar mencerminkan
kondisi,
potensi dan budaya setempat.
Bagaimana peran teknologi tepat guna
dalam menjawab kebutuhan lokal
masyarakat terkait pengelolaan sampah?
Seperti yang saya sampaikan,
mudah-mudahan ee ee jawaban saya seperti
yang dimaksud oleh Mbak Dina,
kalau ee teknologi tepat guna ee dari
sisi definisi memang itu harus menjawab
kebutuhan lokal masyarakatnya. itu
kemudian juga masyarakatnya juga mau
menerimanya.
Kemudian dari sisi finansial,
pembiayaan, pengoperasiannya juga ee
mampu dipenuhi oleh ee masyarakat lokal
juga.
Nah, seperti yang saya sampaikan tadi
ee
bahwa ada beberapa
teknologi,
banyak teknologi bahkan ya yang bisa ee
diidentifikasi
untuk kemudian diterapkan di tingkat
keluarga,
di tingkat kawasan, maupun di tingkat
kota.
Nah, kalau kita ee mau menelaahnya
biasanya mana sih yang tepat gitu. Nah,
ini dia biasanya memang harus kita kaji
ee kalau dalam ee para periset itu ada
yang namanya multiriteria
eh decision analysis itu MCDA itu
dilihat dari dimensi ekonominya, dilihat
dari dimensi sosialnya. nya dilihat dari
dimensi
ee lingkungannya. Ini kebetulan saya
orang lingkungan ya, belajar S3 saya ada
di sana. Nah, dari situ pun nanti ada
anakannya, ada atributnya, ada
subkriterianya gitu. Nah, ee sebenarnya
sih ee enggak harus seperti itu ya kita
menelaahnya, tapi kalau mau saintifik
seperti itu. Tetapi kalau dari sisi apa?
feel heeling itu sebenarnya kita bisa
langsung ke masyarakat saja divisi
dengan masyarakatnya
menyampaikan masalahnya apa, kita
petakan bersama. Kemudian kita sepakati
ee apa yang mau kita lakukan dengan
teknologi apa itu ee biasanya akan lebih
ee justru apa namanya mengena gitu.
Tapi ee dari kacamata periset itu
biasanya ada beberapa namanya
ee keputusan yang diambil dari tadi ee
dimensi lingkungan, dimensi ekonomi,
dimensi sosial. Nah, itu yang pertanyaan
pertama. Mudah-mudahan ee apa namanya
yang dimakit oleh Bu Dina seperti itu.
Nah, kemudian yang kedua ini juga saya
mesti me
melihat kembali pertanyaannya.
Bagaimana keterjangkauan lokasi dan
infrastruk infrastruktur
mendukung penerapan TTG secara merata?
Wah, ini merata di berbagai wilayah
aspek yang menyangkut aspek pemerataan
dan aksesibilitas teknologi.
Nah, ini saya rada mengyutkan dahi ini.
Kemudian melihat ee begitu luasnya ini.
Kemudian khususnya di daerah terpencil.
Wah, ini khusus daerah terpencil
tertinggal lagi kan. Kemudian kebijakan
apa yang perlu diperkuat pemerintah
daerah ini? ini kelihatan pertanyaan
yang yang lain lagi bukan anakannya di
nomor dua ya untuk mendukung
pengembangan penerapan teknologi ee
secara luas ini kelihatannya ee Mbak
Dina kalau saya melihatnya ini memang ee
apa yang disampaikan oleh Mbak Dina ini
memang dalam kacamata pengelolan sampah
yang terpadu ya kalau yang saya
sampaikan sebenarnya ee lebih berat ke
arah yang dimensi fisiknya Bapak Ibu
sekalian. dimensi gimana sih
teknologinya, apa saja sih, proses
seperti apa. Nah, kelihatannya yang
disasar oleh Mbak Adina ini adalah
memang yang dari tata kelolanya
ya, mulai dari kemampuan fiskal
daerahnya, ada enggak yang dianggarkan
ke permodan seberapa besar, kemudian
juga dari sisi perencanaannya,
ada enggak sih perencanaan itu gitu ya?
itu kan biasanya kalau dalam pelan
sampah itu pun perlu ada ee perencanaan
ee jangka pendek, menengah, panjang
seperti itu. Kemudian dari sisi
regulasinya seperti apa dan kemudian ee
dari sisi peran antar stakeholder.
Ini mohon maaf nih Mbak Dina, saya agak
agak ee sulit menemukan kata-kata kunci
yang mesti saya fokuskan itu.
Kelihatannya memang ini ke arah tata
kelolanya ya. Kemudian ee kemudian
kebijakan apa yang perlu diperkuat gitu
ya untuk mendukung perapan teknologi ini
lagi-lagi adalah memang
ya yang ini semuanya kalau kita ingin
melakukan ee pengolan sampah yang yang
terencana baik gitu ya, sistematis
ini memang untuk sebuah daerah ya harus
harus harus mempulai mempunyai road map
gitu ya mempunyai master plan atau
rencana induk ya seperti yang saya
sampaikan tadi terkait dengan teknologi
misalnya mau teknologi tempat guna apa
yang diterapkan
atau jangan-jangan ee juga untuk kota
Metro misalnya itu adalah mau fokus di
teknologi yang memang haech e dengan WTE
misalnya dan sebagainya. Nah, kalau
untuk daerah-daerah tertinggal tentunya
dalam kacam mata saya ya itu yang memang
harus benar-benar murah semurah murah
semurah mungkin gitu. Kemudian gampang
gampang pun gampang segampang mungkin
dan materialnya juga gampang didapatkan
di situ gitu. Itu yang yang perlu
dikembangkan. Kemudian masyarakatnya pun
mau menerima dengan cara ada banyak
sosialisasi kemudian pelatihan-pelatihan
itu. Itu seperti itu sih. Ee
mudah-mudahan bisa menjawab yang
disampaikan oleh Mbak Dina Evalia.
Terima kasih Mbak Dina Evalia. Demikian
Mbak Nuha.
Baik untuk pertanyaan selanjutnya dari
Ibu Rahma. Pertanyaan nomor satu. Di
tengah keterbatasan ruang seperti
kos-kosan dan kontrakan yang minim
lahan, inovasi teknologi tepat guna
seperti apa yang paling relevan untuk
mendorong anak muda tetap bisa mengolah
sampah secara mandiri dan berkelanjutan.
Nomor dua, apa bentuk teknologi tepat
guna yang paling realistis dan
terjangkau yang bisa dibangun oleh anak
muda dengan anggaran minim, namun tetap
memberi dampak nyata bagi lingkungan
sekitarnya. Baik, Bapak silakan. untuk
dijawab pertanyaan dari Ibu Rahma.
Baik. Ee ini ee video saya sudah bisa
aktif kembali ternyata. Baik. Ee ini
dari katanya nih ee seorang mahasiswi
kayaknya Mbak Rahma nih ya karena bicara
tentang kos-kosan kemudian bicara
tentang mahasiswa gitu ya. ini ee
biasanya memang tempat kos terbatas
atau kontrakan itu menumlahan.
Nah, ee ini artinya kita Bapak Ibu
sekalian kalau kita bicara ini artinya
ini bicara tingkat keluarga
di mana setiap setiap keluarga atau
penghuni cost atau penghuni kontrakan
itu bisa melakukannya.
ee caranya sangat sederhana. Lagi-lagi
adalah ini ee yang sulit adalah biasanya
perubahan perilaku mau enggak kita gitu.
Ee caranya paling mudah adalah ee
pisahkan yang laku jual ini ilmunya
teman-teman dari Bangah sampah yang laku
jual gitu kan pisahkan kemudian
kumpulkan itu. Setelah terkumpul silakan
mau ee di bank sampahkan kan. Makkah
atau di kumpulkan dalam ee gerakan
sedekah sampah di berbagai rumah ibadah
atau langsung kemudian diberikan pada
para pemulung yang lewat atau petugas
sampah yang yang menangani sampah yang
yang mengumpulkan sampah kita itu sangat
mudah. kumpulkan
kemudian masukkan dalam wadah entah itu
tas kresek besarkah atau karung bekas
beras itu mudah kan Bapak Ibu sekalian
ya Bu Mbah Rahma itu asal kita mau saja
botol plastik kardus bekas apa namanya
kertas-kertas yang bisa kita pakai
buku-buku majoran ya seperti itu atau
mungkin ee bekas mainan yang dari
plastik program dan sebagainya itu kita
kumpulkan itu setidaknya kalau dari
rumah kita sekitar 30% gitu. 20 sampai
30% itu ada ada barang-barang itu. Kalau
itu sudah terkurangi ya itu kan lumayan.
Kemudian yang paling dominan adalah
sampah makanan.
Sampah makanan biasanya dari keluarga
itu sekitar 50% dari totali sampah yang
kita hasilkan. Gimana caranya?
Ee caranya pun sangat mudah. Mau enggak
kita
saya kasih cara yang paling mudah gitu.
Oh, tapi ini ini untuk kos-kosan mungkin
ya. Kalau kos-kosannya punya apa ee
sedikit apa halaman gitu ya, sedikit
halaman kemudian ada tanah di situ bisa
dibikin ee semacam lubang biopori
atau ee lubang biopori yang kemudian di
apa namanya? Di difungsikan
untuk ngolah sampah makanan kita. Ada
ada banyak variannya gitu. Ada banyak
varian itu. Itu dengan cara itu itu
sangat mudah. Sampah organik kita sama
makanan kita tinggal dimasukkan ke dalam
ee lubang semacam biopori gitu. Nanti
dengan sendirinya akan jadi kompos. Nah,
kemudian kalau kita mau agak agak agak
agak berupaya dikit kita melakukan
pengomposan sampah makanan itu mungkin
ada sampah daun-daunan yang ada di situ
dengan komposter.
Nah, komposter itu memang ee ee ada tata
cara pembuatannya gitu. Nah, tata cara
pembuatannya pun sangat sederhana
sebenarnya bisa dengan embet bekas ya
dengan dengan pot bekas dan sebagainya.
Itu pun bisa ditangani dengan ee apa
namanya ee dengan cara dikomposkan
dengan komposter. Ada juga yang kemudian
oh selain kompos saya pengin juga
produknya adalah pup cair. Nah itu pakai
komposter ember tumpuk misalnya gitu.
Dan kalau lebih advance lagi tapi ini
enggak cocok untuk tingkat kos-kosan
atau apa kontrakan adalah dengan di
biogas kan karena ini alatnya
instalasinya agak mahal. Paling yang
yang bisa dilakukan itu adalah ee yang
paling mudah adalah dengan cara ee
menggunakannya semacam lubang biopori
atau variannya gitu. itu paling mudah
dan paling murah gitu. Kemudian
kalau ee ee apa namanya yang agak agak
agak punya upaya dikit adalah dengan
dengan menggunakan komposter aerobik.
Jadi kalau kita lihat levelnya ee
menggunakan lubang bioris sama dengan
komposer aerobik itu ee lebih murah yang
dengan lubang biopori. Tetapi kalau
tempat kos-kosannya mungkin tidak
tersedia apa namanya ee lokasi yang ada
tanah yang bisa kita bikin lubang
bioporinya karena mungkin di situ ada di
plaster semuanya. Saran saya adalah
dengan komposter aerobik.
saran saya. Ee kemudian bagaimana dengan
komposer emper tumbuk? Perbandingan
dengan komposer aerobik. Nah, kalau
komposer tumbuk ee
hati harap ee harus agak agak telaten
dikit. Kalau kita meleng dikit bihnya
akan timbul bau. Karena memang ee sampah
yang diproses itu biya lebih apa
namanya? Lebih lebih kadar airnya tinggi
gitu. Karena di situ kita ingin pupuk
cairnya.
Kalau kadarnya enggak tinggi, kita
enggak dapatkan pupuk cairnya. Pupuk
cairnya itu sebenarnya ee itu bukan
pupuk cair, tapi orang menyebutnya pupuk
cair itu adalah air lindi sebenarnya. Di
mana air lindi punya kandungan nutrisi
yang ee lumayan tinggi untuk tanaman,
maka disebut pupuk air. Tapi itu juga
harus hati-hati karena itu biasanya
kondisinya asam sehingga kalau kita
makai pun itu harus diarkan terlebih
dahulu. Nah, kalau kita gunakan
komposter ember tumpuk biasanya
problematikanya nanti ada ada sedikit
bau, ada juga belatung gitu. Nah, kalau
dengan komposter aerobik sih biasanya
aman dari itu bau dan belatung itu aman.
Kalau timbul bau dan belatung artinya
komposter si aerobik itu ee ada masalah
di dalamnya. Nah, kemudian ee itu
mungkin yang saya bisa saya sampaikan.
Iya, Mbak. Mbak Rahma ini sebenarnya ee
ada beberapa semacam apa namanya
publikasi
atau petunjuk ee yang praktis terkait
dengan bagaimana ngelola sampah secara
sederhana dan menarik bagi anak-anak
muda itu. Ee KLHK punya itu sebenarnya.
Tapi eh saya pun sebenar punya eh Mbak
Rahma misalnya kalau Mbak Rahma butuh
nanti silakan eh apa namanya menghubungi
saya ee langsung melalui Mbak Nuha
misalnya itu ada beberapa cara yang bisa
dipilih oleh Mbak Nuha ee teknologi
pengolahan sampah yang basisnya adalah
tingkat keluarga atau tingkat keos-kosan
atau tingkat kontrakan itu bisa dipilih
mana yang mau mau dilakukan. semuanya
sederhana yang penting adalah mau enggak
kita gitu. Demikian Mbak Rahma terima
kasih. Silakan Mbak Nuha saya serahkan
kembali.
Baik, itu tadi jawaban untuk pertanyaan
Mbak Rahma. Selanjutnya untuk pertanyaan
dari Bapak Syarifudin nomor satu, elemen
elemen struktural budaya dan ekonomi apa
yang menjadi hambatan utama adopsi
teknologi tepat guna oleh masyarakat
lokal? Yang kedua, strategi apa yang
telah atau dapat diterapkan untuk
meningkatkan keterlibatan dan penerimaan
masyarakat terhadap teknologi ini,
terutama di wilayah yang dicirikan oleh
tingkat pendidikan dan kesadaran
lingkungannya yang berbeda. Nomor tiga,
bagaimana kelayakan teknis, ekonomi, dan
lingkungan dari penerapan teknologi RDF
di kabupaten atau kota di Indonesia
berdasarkan studi kasus yang ada serta
sejauh mana penerapan tersebut dapat
dijalankan secara berkelanjutan dengan
mempertimbangkan dampak sosial,
regulasi, infrastruktur, dan partisipasi
masyarakat. Baik, Bapak silakan untuk
dijawab pertanyaan dari Bapak.
Baik. Ee Mbak Nuha nih saya coba juga
nih pertanyaannya gitu dari Pak
Safrudin. Terima kasih.
Ee yang pertama adalah
elemen struktural,
strukturstruktur mungkin ya maksudnya
ya. Kemudian budaya
di budaya sosial
dan ekonomi
yang menjadi hambatan utama
adopsi teknologi tepat guna oleh
masyarakat lokal.
Ini pertanyaannya
berat nih. Saya menjawabnya ee berat
juga nih ya.
Ee
ini kan kalau kita lihat tadi ee bahwa
ada beberapa aspek atau orang
menyebutnya dimensi gitu ya. Ada dimensi
ekonomi, kemudian dimensi
sosial atau budaya ya. Kemudian
juga ada dimensi lingkungan. Kemudian di
sini juga dimasukkan dimensi apa
struktural. Dalam hal ini mungkin
kelembagaan ya, struktur masyarakat.
satu itu.
Nah, ini kan ee seandainya ini ee adalah
nanti ada masalah lokal dengan lokasi
spesifik gitu ya.
Ini memang kalau dikaji mendalam ya
dari berbagai hal itu gitu. cuma ada
cara yang yang pendekatan yang mungkin
lebih enggak terlampau apa namanya
ee rumit gitu ya. Ee biasanya kita
lakukan mapping sih ya mapping
bersama-sama dengan masyarakat di situ
juga gitu ya. Matat lokal itu mapping
permasalahan apa yang diracakan oleh
masyarakat terkait dengan sampah itu ya.
Nah, kalau kemudian ternyata sampah
dianggap belum jadi masalah di lokasi
itu juga kita akan sulit masuk ke dunia
itu gitu. Ee
ada pengalaman teman misalnya di dulu di
Jakarta Utara ya ketika mau melakukan
program sampah ee kemudian diisi dengan
masyarakat lokal di sana. Ternyata
sebenarnya kebutuhan masyarakat lokal
yang dirasakan oleh masyarakat setempat
pada saat itu bukan sampahnya pada saat
itu. Ee ternyata kebutuhannya adalah
misalnya saluran apa air limbah ya
selokan, kemudian tempat BAB gitu yang
yang saat itu menjadi masalah di sana
yang dirasakan. Nah, kemudian kalau kita
paksakan kemudian sampah masuk
langsungak enggak bisa juga kita harus
masuk ke dunia itu dulu. misalnya
pembuatan saluran air apa air comberan
yang baik, kemudian ee toilet yang baik
gitu ya. Baru kemudian mereka itu
melakukan kegiatan itu. Oh, ini sampah
ini bermasalah loh. Ee selokanmu kalau
kemasukan sampah juga bermasalah akan
banjir dan sebagainya. Makanya harus
ditangani gitu. Nah, setelah ditangani
ee ternyata
ee ini tempatmu hijau nih. Kita rasakan
masih gersang ya. ayo kita tanam tanaman
bersama-sama. Nah, itu kan butuh kompos
dan sebagainya. Nah, kompos dari
pengomposan sampah dan itu bisa
digunakan.
Jadi ee ini teman-teman sosial ini
sebenarnya yang paling jago apa me
merancang hal ini ya yang biasanya mesti
ketemu masyarakatnya dengan langsung
memetakan apa kebutuhan yang benar-benar
dibutuhkan oleh masyarakat. Kemudian
secara partisipatif juga masyarakat
diajak untuk kemudian diskusi. Ayo kita
selesaikan bersama-sama.
Kemudian ayo kita bikin regulasi yang
sifatnya lokal dan sebagainya gitu ya.
Nah, itu yang mungkin kalau kita ee
pandang dari sisi apa saya periset juga
ya. itu dari sisi strukturalnya,
budayanya, ekonominya seperti itu.
Kemudian yang yang dua strategi apa yang
telah atau dapat diterapkan
apa yang telah atau dapat diterapkan
untuk meningkatkan keterlibatan dan
penerimaan penerimaan masyarakat
terhadap teknologi ini. Terutama di
wilayah yang dicirikan oleh tingkat
pendidikan dan kesadaran lingkungan yang
berbeda-beda.
Ya, artinya itu sebenarnya hampir sama
dengan yang pertama ya.
Jadi ee
mungkin sebagian sudah terja oleh yang
pertanyaan yang pertama gitu. Kemudian
yang ketiga, bagaimana kelayakan teknis?
Nah, ini masuk teknis, ekonomi,
lingkungan
dari penerapan teknologi RDF review
drive fuel di kabupaten, ee kota di
Indonesia. berdasarkan studi kasus yang
ada bagaimana nih ya serta sejauh mana
penerapan tersebut dapat dijalankan
secara berkelanjutan dengan
mempertimbangkan wah lagi ini dampak
sosial regulasi straturah dan
partisipasi masyarakat
ya Bapak dan Ibu sekalian saat ini
memang ee
RDF revive drive field sampah ee yang
kemudian ditingkatkan nilai kalornya
nya. Kemudian juga dari ukurannya juga
diseragamkan dengan cara dicacat menjadi
ukuran tertentu itu memang sekarang
menjadi begitu populer di di banyak
daerah gitu. di banyak daerah karena
memang ee secara teknis juga tidak sulit
ya, tidak sulit itu biasanya kalau
secara biodriing seperti yang saya
sampaikan tadi
ee kemudian ada proses pencacahan
kemudian juga ada yang melakukan tidak
dengan eh proses biodrying tetapi dengan
thermal dryer ya dengan alat pemanas
hingga lebih kering lagi. Dan tentunya
juga tetap harus ada pencacahan karena
ukurannya juga aris tertentu. Mempunyai
kualitas tertentu, kadar airnya sekian,
kemudian
ee nilai kalornya sekian, kemudian
ukurannya sekian, kemudian
jenis-jenisnya pun tidak boleh
istilahnya nanti harus ada ee material
yang tidak kita inginkan gitu. Nah, dari
berbagai pengalaman Bapak dan Ibu
sekalian di daerah itu tentunya ini bisa
menjadi best practiceis kita, menjadi
apa namanya juga pembelajaran kita
ee bahwa ketika ketika ngolah sampah
dari yang sampah tidak dikelola kemudian
kita buang begitu saja dibandingkan
biayanya dengan ketika kita harus me
membuat RDF itu juga berbiaya.
Nah, pembiayaannya itu ee juga
tergantung teknologi yang digunakan.
Katakanlah tipikalnya itu untuk RDF
mungkin butuh ee sekitar Rp300.000 ya
per ton RDF. Katakanlah seperti itu
tipikalnya.
Artinya ee ketika kita memproduksi itu
ya kita membutuhkan biaya seperti
sebesar itu. Nah, kemudian ee biayanya
dari mana? Kalau dari retribusi
masyarakat kan masih belum banyak
menolong karena sulit mengumpulkannya.
Kemudian dari anggaran daerah juga kan
terbatas saat ini umumnya seperti itu
kan. Maka kemudian harapannya dari
pembelinya itu yang kemudian
memberikan apa ee sejumlah ee uang yang
kemudian bisa untuk biaya operasi dan
sedikit keuntungan yang ada di dalamnya.
Jadi eh prinsipnya ini offckernya
offckernya juga harus harus harus
definitif gitu.
harus definitif dari awal sudah harus
ada perbandingan dengan offakernya gitu.
Kemudian pertalanan harga. Nah, kemudian
juga dari sisi kualitas juga bagi daerah
yang memproduksi RDF itu juga harus
memenuhi ee kualitas yang diminta oleh
gitu. Nah, dalam pengalamannya di
beberapa daerah
itu terjadi ee apa namanya? Hal-hal yang
memang ee tidak ideal gitu. Pertama,
ternyata dari sisi kualitas RDF-nya
itu kadang enggak sesuai dengan yang
diminta oftteraker kata industri semen
gitu. Kadar airnya kadang naik turun,
cuman ukurannya pun ee masih terlampau
besar misalnya.
Kemudian untuk transportasinya pun juga
ee tidak diberhitungan dengan baik
misalnya ya karena transportasi RDF itu
kan RF itu Balki ya butuh apa alat
angkut yang lumayan besar volumeus gitu
ya misalnya untuk kasus kasus Banyemas
misalnya untuk ngangkut RDF yang
notabumas itu dekat ee SBI barisemen di
Cilacap yang mungkin sekitar 40 kiloan
itu butuh sekitar Rp100.000 R.000 per
ton RDF yang
harus ee dijual di sana gitu. Nah, itu
kan ee berat juga. Apalagi misalnya
Jogja, Jogja mau menjual RDF-nya katakan
di Cilacap tuh tambah jauh lagi gitu ya.
Ee
jadi dari sisi kualitas, kemudian dari
sisi apa namanya? Jarak yang seperti
saya sampaikan, kemudian dari sisi
oftakernya itu ee apa namanya?
punya komitmen enggak untuk memilihnya
gitu. Jadi ee dari sisi pemdanya juga ee
memproduksi RDF yang baik atau apa
namanya investornya ya sesuai dengan
kriteria. Kemudian dari sisi oftakernya
juga memang sudah definitif gitu dan
harganya juga sudah ditentukan. Tetapi
memang dalam perjalanannya itu yang
terjadi adalah ee ternyata akhirnya gitu
ya ee karena berbagai hal itu yang
diproduksi oleh daerah itu kemudian
numpuk
numpuk di TPS3R-nya,
numpuk di TPA-nya ya karena tidak
terserap ee karena sampah kan terus
terproduksi gitu ya. Devun terus ada
gitu ya, tapi tidak terserak oleh pasar
dengan numpuk. Akhirnya apa yang
terjadi? Ini yang banyak dialami di
berbagai daerah. Akhirnya pakai jurus
dewa maok daripada TPS3R-nya penuh,
daripada TPA penuh. Ya udah deh akhirnya
pakai ee disikat aja dengan
tunggu-tunggu bakar yang nota bene ee di
banyak sisi itu tidak memenuhi kriteria
teknis pembakaran sampah gitu. Itu itu
yang yang terjadi gitu.
Ee demikian ee Pak Safrudi terkait
dengan pertanyaan Bapak ee 1 2 dan 3.
Mudah-mudahan ee sesuai dengan apa yang
di oleh Bapak jawaban dari saya. Terima
kasih.
Silakan Mbak Nuha.
Baik, pertanyaan selanjutnya dari Ibu
Kartika. Bagaimana komposisi kandungan
unsur hara pada kompos dan pupuk cair
yang berasal dari sampah kota? Baik,
Bapak silakan dijawab.
Baik. Eh, Bu Kartika nih,
kolega saya juga nih, Bu Kartika. Baik.
Eh, komposisi kandungan zurhara pada
kompos dan pupuk cair yang berasal dari
sampah kota.
sampah kota ketika dikomposkan
kemudian
ee di dalamnya tidak hanya mengandung
sampah organik ee tidak hanya ee
mengandung sampah organik, tetapi di
dalamnya ada sampah-sampah yang lainnya
yang masih bercampur
itu ketika dikomposkan
atau ketika dibuat pupuk cair
itu saya jamin
ee produk komposnya enggak akan bergoles
baik.
Ketika dibikin pupuk cairnya pun
demikian juga ya. Ini kebetulan
dua-duanya kan kalau kompos adalah
sifatnya adalah biologis juga
fermentatif ya aerobiknya. Nah, pupuk
cair itu juga biasanya biologis juga
dilakukan oleh mikroorganisme.
Ee ada yang menggunakan cara aerobik.
Ada yang juga dengan anaerobik tanpa
udara gitu. Nah, kalau bahan bakunya
sudah mengandung
ee material atau senyawa yang tidak
dikehendaki dalam produk onkos adalah
produk kelut cair. Misalnya tuh
ee
serpian-serpian plastik misalnya
atau sekarang disebut sebagai
mikroplastik gitu ya.
Kemudian mungkin di situ ada baterai
bekas gitu ya, nyampur-nyampur.
Di situ kan kalau baterai bekas
tergantung jenis baterainya. Mungkin
mengandung merkuri, mungkin mengandung
logam yang lainnya.
Kemudian juga mungkin ada sisa-sisa
pestisida rumah tangga ya, misalnya
penyemprot namama ee serangga di rumah
nyampur-nyampur itu tentu akan
mengandung kandungan pestid yang tinggi
juga. sehingga ee intinya kalau inputnya
bermasalah, banyak pengotornya, banyak
yang potensial di polutannya, ketika
kita mengkomposkannya, ketika kita
memproduksi menjadi pupuk cair, kompos
dan pupuk cair yang dihasilkan akan
memiliki masalah itu, gitu. dari
pengalaman kami itu seperti itu.
Sehingga kalau kita mau melakukan
kegiatan pengomposan,
kegiatan pembuatan bubuk cair, maka
harus
kita merasa yakin betul bahwa sampah itu
tidak tidak tercampur dengan tunda yang
lainnya, dengan sampah yang lainnya.
Artinya apa? Sampah itu harus dipilah.
Artinya apa sampah itu harus dipilah?
sampah itu akan lebih ideal kalau sampah
terpilah dari sumbernya. Kalau kita mau
mengomposkan atau membawa kebuk air
harus terpilah gitu. Kalau enggak itu ee
akibatnya. Kemudian ee kan sekarang ada
kegiatan land mining juga ya dari TPA di
mining ya digali ya. Kemudian di situ di
ada proses mekanikal dengan cara diayak.
kita dapatkan produk komposnya, kita
dapatkan produk kasar, material batu dan
sebagainya, kita dapatkan produk yang
seperti apa? Sampah-sampah plastik yang
bisa menjadi RDF gitu ya. Nah, dalam
line fil mining juga kita dapatkan
material seperti kompos juga. Nah, ini
menjadi petunjuk nyata karena dari hasil
riset kita yang namanya kompos mat
seperti kompos dari landfil mining itu
dari pengalian TPA yang kemudian diayak
dan sebagainya kita dapat produk kompos
katakan kita sebut produk kompos saja
ya. Nah, itu juga kandungan kandungan
beberapa material apa ee logam berat,
unsur logam berat itu di atas ambang
batas itu. Jadi memang ee
produk kualitas kompos maupun pupuk Cir
bisa kita kendalikan kualitasnya kalau
memang bahan bakunya juga ee
terkendalikan gitu.
Demikian ee Bu Ktika, demikian Mbak
Nuha.
Baik, untuk pertanyaan selanjutnya dari
Ibu Meiana nomor satu. Terkait air lindi
yang dihasilkan dari sampah yang
tercampur apakah berbahaya? Padahal
hasil dari kompos sendiri dari air lindi
yang bisa disebut pupuk cair yang
bermanfaat bagi tumbuhan bisa dijelaskan
manfaat atau pencemarannya. Nomor dua,
bagaimana solusi TTG untuk menangani
limbah batang pohon yang tidak bisa
dimanfaatkan sebagai furnitur? Dan yang
terakhir dari semua TTG mana yang bisa
dikembangkan baik dari skala rumah
tangga maupun industri. Baik, Bapak
silakan.
Baik, terima kasih eh Ibu Mei Diana
Nababan. pertama terkait air lindi dari
sampah yang tercampur
apakah bahayanya? Ya, seperti yang saya
sampaikan tadi ke Buartu juga bahwa
ketika kita mengkomposkan kalau bahannya
tercampur
maka produk komposnya atau pupuk cairnya
juga akan terkontaminasi
itu gitu ya. Demikian juga seandainya di
sampahnya
ee di dalamnya ada material-material
yang tidak dikehendaki misalnya di situ
logam beratkah ya, kemudian
yang lainnya senyawa mungkin senyawa
kimia tertentu yang berbahaya
maka ee air lindinnya pun demikian.
Karena air lindik kan sebenarnya ee
air
ee yang berhasil dari sampah
yang yang ada itu gitu. Kalau sampahnya
tercampur dengan berbagai material yang
memang mencemari nanti air lindinnya itu
pun akan mengandung itu gitu. Jadi ee
kalau air ini kan memang air yang keluar
dari sampah itu atau mungkin ee dari ada
air yang ditambahkan atau air hujan itu
kemudian semacam ada licing ya, ada
pencucian terhadap material padat itu di
mana material sampah yang padat itu
mengandung material yang berbahaya
sehingga air dindinginnya pun tentu akan
mengandung itu.
Nah, kemudian ee padahal hasil dari
komposer sendiri kan air lindi yang bisa
disebut pupuk cair yang bermanfaat bagi
tumbuhan ee oh ini maksudnya air lindi
yang itu ya dari komposter mungkin ya.
Jadi kalau kita ee ingin ini sama
seperti tadi, kalau kita ingin bikin
pupuk cair, maka sampahnya ya
jangan nyampur dengan yang lain. Sampah
organiknya itu sampah makanan saja gitu
atau sampah organik yang lain. Mungkin
termasuk sampah dedaunan juga tidak
nyampur dengan ee sampah-sampah yang
lainnya. Memang kalau kita ingin bikin
bubuk cek kan memang ee materialnya
memang harus spesifik memang berasal
dari sampah organik. Lagi-lagi kalau
tercampur dengan yang lainnya maka
pupuknya itu pun mengandung material
yang tidak kita inginkan.
Nah, kemudian
ee
tentu akan juga akan berbahaya bagi bagi
pertanian kalau kita gunakan ee pupuk
cair yang kemudian mengandung logam
berat misalnya. Ee nah kalau biasanya si
kalau air lindi dari apa namanya
kompostor ember tumbuk misalnya itu yang
yang perlu kita perhatikan itu sih
sebenarnya ee keasamannya gitu. Kalau
terkait dengan kandungan-kandungan yang
berbahaya minalam berat dan sebagainya
itu sih biasanya enggak karena karena
yang kita gunakan kan sampah makanan ya
yang tidak tercemari itu lebih hanya
keasaman karena memang prosesnya itu
memang khas banget proses biokimia yang
yang airnya air lindingnya itu memang ee
pH-nya
pH-nya sekitar ee di bawah 6 gitu sampai
tiga atau empat asam itu artinya artinya
asam. Nah, kalau airnya kemudian kita
siramkan langsung ke tanaman itu
biasanya tanamannya akan terganggu
pertumbuhannya gitu karena terlampau
asam. Maka penggunaannya biasanya
pupuk organik cair ee dari apa yang
istilah umumnya itu yang sebenarnya itu
adalah itu harus diencerkan dulu.
Diarkan dulu ya katakanlah paling
setidaknya 1 banding 10 dululah kita 1
banding 10. bisa 1 banding 20 misalnya
sehingga nanti terencekan sehingga
kasamanya itu akan akan tereliminir gitu
sehingga aman bagi tanaman. Saya
menggunakan itu di rumah aman gitu.
Kemudian yang kedua bagaimana solusi TTG
untuk menangani limbah batang yang tidak
bisa dimanfaatkan sebagai furniture.
Nah, ini mungkin dari ini ya dari
pembuatan furniture itu
ee ada serpihan-serpihan kayunya gitu
ya.
Nah, kalau ini kan batangnya bukan
serbuk gegajinya mungkin ya. Nah, kalau
ee batangnya atau ee kayunya seandainya
kayunya itu ee belum melalui proses
pengawetan yang kadang ditambahkan kimia
ketika pengawetannya itu biasanya sih
kalau kita gunakan
untuk ee kebutuhan apa mulsa itu akan
aman gitu. Nah, seandainya itu yang
kondisinya seperti itu ee mungkin
praktik pemanfaatannya bisa dioping itu
ada alat chopping semacam alat pencacah
ee ranting gitu atau kayu yang kemudian
dijadikan mulsa. Jadi serpian-serpilan
kayu yang kemudian ee bisa untuk menutup
ee tanah ee lahan pertanian gitu. B kan
ada mulsa untuk mencegah pertumbuhan
rumput misalnya. Nah, ee di kita ee
praktik seperti ini masih sangat jarang.
Tetapi kalau kita lihat di berbagai
negara misalnya sempat saya kunjungi ya
di berbagai negara di Eropa maupun yang
lainnya itu ee kayu, ranting dan
sebagainya ini juga mirip sama ini
dicoping dengan alat alat alat alatalat
choper ranting atau kayu yang kemudian
nanti produknya serpian-serian kecil
yang kemudian itu jadi mulsa. Kadang
mereka jual juga di di ini secara
komersial. Kadang mereka warnai juga
dengan pewarna alamnya ya. Ada yang
warna coklat, ada yang kekuningan dan
sebagainya sehingga menarik. Jadi bisa
mungkin dijadikan mulsa atau juga
sebenarnya ini juga bisa dijadikan
banyak hal sih Ibu Bapak sekalian. Ini
bisa juga dari bio apa biocar ya dengan
cara diarangkan gitu ya. diarankan itu
menjadi pupuk yang sangat baik juga
untuk tanaman. Atau potensi lainnya
misalnya dijadikan semacam particle
board misalnya ya dengan dicoping tadi
dijadikan semacam papan ya. Jadi
potensinya sih banyak gitu ya. ee cuma
ya itu tadi ee ketika kita melihat ee
pangsa pasarnya apakah itu nanti ee baik
apa enggak ya kelayakannya itu kalau
kalau potensinya seperti itu bisa jadi
mulser, bisa jadi eh arang ya biochar
bisa jadi particle boat ada atau cara
riset juga ada yang mengubahnya menjadi
menjadi apa namanya difermentasi menjadi
ee apa semacam etanol gitu ada juga ya
seperti itu. Oke, banyak sih potensinya,
cuma ee ketika ee kita melihat ee nilai
pasarnya apakah layak apa enggak, itu
yang harus digali. Kemudian yang ketiga
dari semua TTG mana yang bisa
dikembangkan baik dari skala rumah
tangga maupun. Nah, itu mungkin nanti
dijawab sendiri oleh Bu Yudiana ya.
Karena tetik itu banyak banget tadi.
Mana yang mau dikembangkan ee di rumah
tangga misalnya itu seperti yang jawaban
saya pada jawaban pertanyaan-pertanyaan
sebelumnya misalnya ee mau dilakukan di
sebuah lokasi yang spesifik misalnya ya
memang harus kita lakukan secara
partisipatif dengan masyarakat
setempatnya gitu. Demikian eh Bu Meana
semoga e
jawaban seperti yang diinginkan. Ini ada
lagi ya Mbak Mbak Nuha ya. Silakan Mbak
Nuh.
Untuk pertanyaan selanjutnya dari Ibu
Nita. Untuk pengolahan pengolahan sampah
organik dengan mangkat apakah bisa
dikerjakan di fasilitas kesehatan
seperti rumah sakit?
Oke Bu Nita. Ee Bu Nita mungkin bekerja
di rumah sakit nih ya. Magot.
bisa aja gitu. Aman kok gitu aman kok.
Iya. Cuma lagi-lagi kan ee apa namanya?
Harus terencana dengan baik kat di rumah
sakit gitu ya. Ini di fasilitas
pelayanan kesehatan di rumah sakit ini
kan sampah yang termasuk sampah domestik
itu apa saja gitu ya. Kemudian sampah
yang termasuk sampah yang berbahaya,
infeksius, B3 dan sebagainya itu pertama
itu harus terpisahkan dulu gitu. Harus
terpisahkan dulu. ee jangan campuri
sampah-sampah domestik yang nota benar
bukan B3 tidakvisi itu tercampuri. Itu
itu yang pertama. Nah, kemudian kalaupun
kemudian nanti kan mungkin ada apa
namanya sampah sisa makanan entah itu
dari pasien yang tidak habis dimakan
atau dari dapurnya sendiri itu kemudian
ee ditangani
dengan ee katakanlah mau budidaya magot
ya sangat bisa gitu aman itu kok. Yang
penting di situ ada lokasinya ya.
Kemudian ya terencanalah mulai dari
perencanaannya, pengoperasiannya dan
nanti produknya untuk apa itu harus
direncanakan dulu. Nah, kalau kemudian
itu sudah makanya tinggal tinggal
laksanakan saja gitu. Ee aman gitu
enggak enggak enggak enggak enggak apa
namanya enggak berdampak buruk bagi
kesehatan atau kebersihan lingkungan di
rumah sakit. Bisa juga nih sampah
makanan misalnya ee di rumah sakit itu
katakanlah dibikin biogas juga bisa ya,
bisa juga kemudian ee dibikin kompos
juga bisa. Jadi ada banyak alternatif
sehingga nanti mungkin bagi P kegiatan
itu bisa memilih mana yang mau mau
dilakukan. Dilihat dari kemudahan,
dilihat dari biaya, dilihat dari tenaga
kerja yang diperlukan.
Ya, seperti itu. Demikian, Bu Nita. Eh,
Mbak Nuha silakan.
Baik, untuk pertanyaan selanjutnya dari
Ibu Suhartini. Bagaimana pengolaan
sampah daun dan rontokan buah dari
pekarangan yang praktis? Biaya murah
walau relatif cepat selama ini hanya
dimaksud dimasukkan ke kubangan, penuh
ditutup, ganti kubangun setelahnya dan
hal tersebut lama hancurnya. Baik, Bapak
silakan.
Iya. Jadi terima kasih Bu Hartini. Jadi
sampah daun biasanya sampah daun yang
rontok itu kan ada warnanya coklat ya.
Ee itu menunjukkan bahwa kandungan C-nya
tinggi, N-nya rendah. Nah, padahal
proses pengomposan itu biasanya perlu ee
rasio karbon dan nitrikon yang yang yang
imbang itu biasanya diangkat setar 30 g.
Sedangkan kalau sampah daun kering aja
itu biasanya di atas 100 gitu. Jadi jauh
dari apa? nilai nilai ideal ee rasio
karbon dan nitrogia.
Nah, maka kemudian ee proses
pengompostingnya yang betulan pun
biasanya lama gitu.
Ee biasanya kalau zaman dulu itu kan
dimasukkan ke dalam jugangan kata orang
Jawa itu ya. Kalau kemudian ada juga
model-model ee apa namanya varian
jugangan yang baru misalnya model tebak
yang ada di Bali ya. Kemudian di mana?
Di daerah Jogja juga dikembangkan itu ya
ee apa namanya pengomposkan sampah
organik daun, sisa makanan dengan cara
ee ditimbun ya dalam sebuah bak di dalam
tanah itu. Baik bak itu berupa gelan
tanpa dinding maupun diberi dinding biar
lebih rapi lagi gitu ya. Ee itu memang
akan lama gitu. itu memang alamnya
seperti itu. Nah, kalau ingin
mempercepatnya, kalau ingin
mempercepatnya biasanya memang harus ada
upaya gitu.
Ee misalnya ketika kita mengkomposkan
sampah daun itu setidaknya ada yang
warna hijaunya ada yang warna coklatnya
yang kita kompeskan itu kan tersedia ya
perlu penambahan warna daun yang masih
hijau gitu 1 banding 1 gitu. Gampangnya
seperti itu. Nah, sehingga nanti rasio
karbon dan nitrogennya itu lebih lebih
mendekati ideal gitu. Karena kan rasio
karbon dan nitrogen itu penting untuk
pertumbuhan mikroba.
Nah, mikroba yang bisa hidup nyaman di
dalam proses pengomposan adalah yang ee
harus terpenuhi kandungan karbon dan
nitrogennya yang yang ideal gitu, yang
seimbang.
Kalau daun kering aja itu enggak
seimbang gitu. Ibarat kita hanya dikasih
nasi saja, lauknya enggak dikasih gitu.
Ibarat kita gitu berseimbang.
Nah, kemudian yang kedua dari sisi
proses.
Kalau zaman dulu atau sistem juga kan ee
si daun itu tinggal ditimbun saja kan
kemudian ditutup setahun kemudian baru
kita panen. Nah, kalau yang model ee
pengomposan istilahnya pengomposan
kekinian itu ada upaya juga biasanya
seminggu sekali diaduk ya dibongkar ya.
Kemudian kalau terlampau kering juga
harus disiram juga sehingga harus ada
lembab. Kemudian harus ada tadi ee
dibongkar atau diaduk itu dalam rangka
proses aerasi untuk pengudaraan. Nah,
itu biasanya kalau kita mengumpaskan
sampah daun seperti itu dalam ee 6
sampai 8 pekan itu sudah jadi dari
pengalaman kami gitu Ibu Suhatini ya.
kami biasanya melakukan pengemasan
sampah daun dengan sistem B maupun
sistem wro itu seperti itu. Eh, sekitar
en en pekan sudah jadi enggak harus 1
tahun itu. Jadi dengan cara dikendalikan
kelembabannya
kemudian juga harus diaduk sepekan
sekali gitu memang perlu upaya itu. Nah,
kemudian kalau ee inputnya kebanyakan
daftarin, kita tambahkan juga
potongan-potongan rumput itu sehingga
ada hijunya itu. Demikian Bu Jatini eh
terkait dengan pengumosan sampak daun
seara sederhana seperti itulah kira-kira
sedang cara mendalamnya mungkin bisa
kita komunikasi pribadi. Demikian Mbak
Nua.
Baik. Eh baik Bapak eh saat ini juga
banyak dari
peserta webinar yang sudah raise hand
ya. Jadi mungkin bisa saja untuk peserta
yang sudah hand bisa menanyakan
pertanyaannya.
Baik, di sini ada Ibu Maria.
Baik, Ibu Maria boleh ee on mic ya untuk
memberikan pertanyaannya.
I terima kasih.
Ya, sudah terdengar
sudah.
Sudah. Baik, terima kasih. Luar biasa,
Pak Siri Wahyono ya untuk materinya dan
ilmunya ee insyaallah sangat bermanfaat
sekali gitu. Dan kebetulan ini momennya
sangat pas buat saya gitu. Karena
kemarin saya eh sempat lihat IG milik
Brin gitu ya ee terkait teknologi
terbarukan dari
Brin. M salah satunya itu yaitu adalah
petas
gitu. Nah, ini pas sekali gitu. Memang
saya ingin tahu lebih detail gitu kayak
pirolisis gitu. tu. Nah, yang ingin saya
tanyakan itu
em
dia menghasilkan
em BBM ee yang setara dengan Pertalight
begitu. Nah, berarti
ini di sini dia tidak ada
gitu atau MTBE ee atau gim Pak berarti
itu sudah dipakai atau seperti apa untuk
gitu kan di ee katalog LKPP gitu eh
nya
ini ya lembaga intinya untuk inilah ee
pengadaan gitu saya halnya
ee kapasitas yang lebih kecil lagi di
daerah gitu maksudnya di lingkup
terkecil
semisal di TPS3R gitu itu bisa kita
gunakan seperti itu. karena ee
setidaknya kita ee buat inilah TPS3R
percontohan. Terus ee untuk pertanyaan
yang kedua ee sebenarnya saya ini ya,
Pak ya untuk komposter itu komposting
gitu ee untuk ee proses komposting itu
ee menurut saya ee agak ini ya apa sudah
agak tidak banyak dipakai oleh ini gitu
apa
oleh ini ya ee oleh ee pemerintah gitu.
dalam menangani ini dalam menangani ee
sampah organik. Karena apa? Karena
memang ee dia dalam pengolahannya masih
menghasilkan gas metan yang mana itu ee
juga salah satu ini ya apa penyumbang ee
terbesar dengan GWP yang cukup tinggi
dibandingkan CO2 ee bagi ee ini eeem ee
GRK gitu kan. Nah, ee jadi ee menurut
saya BSF lah yang memang cocok untuk ee
kita gunakan sebagai teknologi tepat
guna di tingkat tapak. Cuman Pak ee
masalahnya gitu ee saya lihat gitu kan.
Nah, untuk BSF ini kalau di tingkat ee
rumah skala rumah tangga gitu kan,
apakah akan ini ya apa apakah akan
efektif begitu? Apakah ee solusi dari
Bapak seperti apa agar ee di tingkat
rumah tangga yang bisa dilakukan oleh
skala individu begitu itu bisa kita
terapkan? Kalau saya lihat-lihat gitu
kan sudah cari-cari gitu kan
informasinya. Oh, bisa nih teknologi
urban farming bisa tapi itu kan skala
yang cukup besar Pak. Nah, kalau kita
terapkan di skala individu itu apa gitu
apakah bisa gitu. Jadi ee per rumah
misalkan per rumah harus itu bisa gak
gitu seperti itu gitu. Terus ee
pertanyaan
yang ketiga ee sudah sih itu saja sih
Pak itu mungkin ini Pak apa itu ee
prospek ee ekonominya seperti apa gitu.
Apakah nanti meskipun perorangan bisa
nanti ee BSF ini kita olah untuk pakan
ternak gitu ya. Mungkin ee itu saja
pertanyaan dari saya. Selain pakan
ternak apa gitu, Pak? Gitu. Ya, mungkin
itu saja. Terima kasih banyak atas
perhatiannya Bapak. Ee wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Gimana Mbak Nuha? Jawab langsungkah?
Masih mute tuh, Mbak Nuha.
Baik, Pak. Silakan untuk dijawab
pertanyaan dari Maria.
Baik, Maria. ya ee memang ee setahu saya
Brain juga ada teknologi tepat guna ee
yang memanfaatkan sampah plastik menjadi
ee BBN.
Ee itu dilakukan oleh pusat riset, salah
satu pusat riset yang ada di Brin, Mbak
Maria. ee saya tidak terlibat di dalam
saya di pusat riset lingkungan dan
teknologi bersih. Kalau yang itu
kayaknya dilakukan oleh pusat riset yang
terkait dengan apa namanya daur hidup
gitu yang kemudian ada di banjarnegara
dan sebagainya.
Ee terkait dengan teknologi itu,
teknologi itu sebenarnya sudah
berkembang cukup lama, cukup lama ee di
dunia persampahan gitu ya. Ya, di mana
ee prosesnya adalah virolisis. Jadi
sampah plastik
itu kemudian dipanaskan dari luar
sehingga terjadi pecahan pecahan
material molekul yang ada di sana yang
kemudian ee menjadi monomer katakanlah
dari polimer menjadi monomer sehingga ee
monomer itu kemulai bisa dipanen gitu ya
dengan cara didestilasi
dari beberapa jenis plastik itu nanti
bisa didapatkan monomernya gitu. Nah,
kemudian beberapa jenis plastik memang
ee
menghasilkan
ee minyak gitu ya. Ada yang sekualitas
bensin, sekualitas solar, kemudian juga
sekualitas minyak tanah gitu. Ee
ada juga yang sudah ee palet project
yang cukup besar. Kalau yang dari BRIN
itu saya lupa kapasitasnya. ada di
Mataran juga dikembangkan juga cukup
besar. Kemudian di beberapa ee
teman-teman dari ee industri yang
mengembangkan diri persamaan juga
mengembangkan itu. Kemudian kalau di
luar negeri itu juga proteknya cukup
besar gitu ya. Misalnya di Spanyol,
kemudian di di Inggris. Ee saya pernah
kebetulan pernah ke sana ke fasilitas
itu ee ujung-ujungnya memang ee pertama
adalah ee pasarnya.
pasarnya ada apa enggak. Karena ee
kualitas dari hasil ee pirolisis itu
minyaknya kadang ee sangat dipengaruhi
oleh proses dan bahan bakunya. Kalau
bahan bakunya kotor, kemudian kalau
bahan bakunya masih nyampur dari
berbagai jenis plastik yang ada, tidak
single ee jenisnya tidak tunggal, itu
juga akan bermasalah juga gitu.
Kemudian ee dari sisi e net energinya
itu kan biasanya untuk membuat BBM dari
praktik itu perlu energi biasanya perlu
pemanasan. Kadang teman-teman pakai
pakai gas LPG ya itu kadang enggak
enggak masuk dari dari keseimbingan
energinya enggak masuk. Maka kemudian
yang dilakukan adalah misalnya dari
sampah sampah-sampah yang lain misalnya
sampah kayu gitu ya. Itu sebagai
pemanasnya. Saya enggak merekomendkan
sampah plastik yang lain untuk jadi
pemanasan. Enggak. Itu karena
bakar-bakar sampah. Artinya itu sampah
kayu mungkin masih masih bisa diterim
lah gitu ya. Ee jadi seandainya itu akan
dilakukan itu memang perlu perlu dari
kualitas ee sampah plastik awalnya itu
mesti juga jenisnya itu tertentu dan
harus bersih gitu ya.
Nah, kemudian nanti pemanasnya pakai apa
gitu. Nah, kemudian nanti penggunaannya
juga harus harus ini harus harus harus
sudah didefinisikan gitu ya. Katakanlah
mungkin apa ee
ee
nelayan yang menggunakan promotor gitu
atau kemudian beberapa alat pertanian.
Tapi itu pun saya pikir sih harus
hati-hati juga ya karena tidak
serta-merta ee kualitas dari BBM yang
dihasilkan itu ee apa namanya stabil
gitu ya. stabil. Stabil dalam hal dalam
arti bahwa ee itu kualitasnya baik terus
ya terjaga ee dan biasanya juga kualitas
dari minyak yang dihasilkan itu itu juga
secara struktur kimianya juga itu
sebenarnya mudah pecah gitu dari seperti
itu. Maka di luar negeri pun sampai saat
ini belum ada yang melakukan itu untuk
skala komersial yang digunakan untuk
mesin-mesin yang memang yang belum ada
gitu. Hanya di kita aja gitu yang saat
ini melakukan itu itu. Nah, kemudian
terkait dengan komposting.
Kalau komposting ee secara biologis
sebenarnya yang dihasilkan adalah gas
CO2 bukan gas metana gitu. Kalau gas
metana itu terbentuk kalau prosesnya
adalah anaerobik gitu ya.
Ee kemudian ee kenapa enggak pakai BSF
saja di mana memang kalau dari sisi
reduksi emisi metannya memang lebih
bagus ya. Memang kalau kita bindang,
kita bandingkan beberapa teknologi,
teknologi itu ada kelebihan dan
kekurangannya gitu ya. Ee BSF memang
dari sisi apa namanya? Dari sisi emisi,
reduksi emisi apa keselumahannya lebih
baik daripada yang lain itu lebih baik.
Tapi ee kan itu harus dikondisikan
dengan kondisi apa namanya masyarakat
yang ada gitu. Jadi tidak serta-merta oh
kita pakai BSF saja misalnya misalnya di
rumah tangga pun oh rumah tangga karena
yang lainnya itu ee dianggap sebagai apa
namanya emiter dari gas rumah kaca yang
tinggi. Kita pakai BSF saja untuk skala
rumah tangga itu enggak enggak bisa juga
karena misalnya untuk skala rumah tangga
kalau mengembangkan BSF ya akan sulit
juga.
Pertama, ibu-ibu berani enggak lihat
belatung gitu? Enggak semua berani gitu.
Katalah seperti itu. Kemudian nanti
untuk menjalankan satu siklus tadi kan
pelihara laratnya, ngambil telurnya,
telurnya ditetaskan, kemudian telurnya
setelah menetas kemudian digunakan untuk
ngolah sampah makanannya. Kemudian
sebagian nanti magotnya dipanen,
sebagian magotnya dijadikan tupa. Pupa
jadi lala dewasa. Lala dewasa kita
kandang kawin ituak enggak mungkin di
keluarga gitu. Enggak mungkin. Itu
mungkin kalau di skala kawasan sih bisa
ya. Skala beberap satu RT atau satu RW.
Kalau satu keluarga melakukan satu
siklus enggak bisa. Paling mudah ya beli
online itu atau beli kepada teman yang
sudah menernakan BSF itu telurnya gitu.
Tiap kita punya sampah, kita beli
telurnya BSF atau instarnya yang sudah
doll ya, dol yang baru baru netes itu
dipakai. Itu paling seperti itu gitu.
Jadi ada kerepotan di sana. Jadi peda
prinnya Mbak Maria kelebihan dan
kekurangan dari tiap-tiap teknologi
gitu. Kita enggak bisa apa namanya
fanatis terhadap satu teknologi. Kita
harus sesuaikan dengan kondisi lokalnya.
Demikian Mbak Maria. Mbak Nuha silakan.
Baik, itu tadi pertanyaan dari Ibu Maria
sekaligus menjadi pertanyaan penutup
dari sesi tanya jawab pada webinar kali
ini. Kami ee ucapkan mohon maaf karena
banyak sekali pertanyaan yang belum
terjawab karena ternyata pertanyaannya
sangat-sangat banyak ya. Ee kemudian
kami akan mengumumkan tiga ee penanya
terbaik
kami ucapkan kepada Ibu Meidiana
dari Jakarta Pusat, kemudian dari Ibu
Suharti dari DIY, kemudian Bapak Ahmad
Mustomi dari Bekasi. kami ucapkan kepada
ee penerima door price dan izin
mengingatkan untuk
ee untuk ee konfirmasi ke admin.
Kemudian
saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
Dr. Sri Wahyono, S.Si., M.Si. si yang
sudah membantu pertanyaan dari Bapak Ibu
peserta webinar kali ini. Kemudian bagi
Bapak Ibu sekalian yang masih memiliki
pertanyaan mungkin bisa disimpan dan
mungkin bisa ditanyakan di lain waktu
ya. Selain itu, kami juga ingin
mengingatkan Bapak, Ibu sekalian untuk
mengisi kuesioner yang linknya sudah
di-share di kolom chat supaya kegiatan
kami selanjutnya bisa lebih baik lagi.
Dan sekali lagi saya izin mengingatkan
kepada Bapak Ibu yang menginginkan
materi sekaligus sertifikat dan belum
request dapat mengisi link yang sudah
dikirimkan admin kami di kolom chat
Zoom. Terakhir saya ucapkan kepada
pemateri kita hari ini yaitu Bapak Dr.
Sri Wahyono, S.Si., M.Si. si yang telah
menyempatkan waktunya untuk untuk
berbagi dan sharing ilmunya kepada kami
hari ini. Lalu saya juga mengucapkan
terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Hijrah
Purnama Putra, ST, Ming selaku founder
dari PTIK Daor Ulang Project di
Indonesia sekaligus sekretaris jurusan
Teknik Lingkungan Universitas Islam
Indonesia. Dan juga tidak lupa saya
ucapkan terima kasih kepada panitia dan
peserta yang telah berkontribusi dan
sangat antusias selama webinar ini
berlangsung. Sampai ketemu lagi di
webinar selanjutnya yang tentunya dengan
tema-tema yang lebih menarik lagi. Akhir
kata saya selaku MC sekaligus moderator
memohon maaf sebesar-besarnya apabila
selama memandu acara ini terdapat
kesalahan kata maupun perbuatan. Saya
Nuhia Maulida pamit undur diri. Terima
kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam. Terima kasih Muha.
Terima kasih Bapak Ibu sekalian.
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih
para peserta
dipermulatkan untuk dari Zoom ya.
Terima kasih
Bapak Ibu. Kita ketemu lagi di lain
kesempatan.