Transcript
9xQ7sxWN3EU • RAGAM TTG DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI INDONESIA
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/ProjectBIndonesia/.shards/text-0001.zst#text/0122_9xQ7sxWN3EU.txt
Kind: captions Language: id Sabtu, 26 Juli 2025. Bersama saya Nuha Sania Maulidah selaku MC sekaligus moderator yang akan memandu acara ini dari jam 09.00 hingga jam 11.00 siang nanti acara webinar kita hari ini mengusung topik ragam teknologi tepat guna dalam pengelolaan sampah di Indonesia inovasi lokal untuk solusi global yang akan disampaikan oleh pemateri kita yaitu Bapak Dr. Sri Wahyono, S.Si., M.Si. Si. Baik, selanjutnya Bapak, Ibu hadirin yang terhormat, izinkan saya mengucapkan selamat datang dan memberikan salam hormat saya kepada pemateri kita pada hari ini yaitu Bapak Dr. Sri Wahyo, S.Si., M.Si. dan juga kepada Bapak Dr. Ir. Hijrah Purnama Putra, ST., M. selaku founder dari Pik Daur Ulang Project di Indonesia sekaligus sekretaris jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia. Juga tidak lupa kepada Bapak Ibu peserta webinar pada hari yang berbahagia ini. Sebelum masuk ke materi webinar kita, saya mohon izin mengingatkan Bapak Ibu untuk dapat mengisi daftar hadir atau presensi di link yang telah admin kami kirimkan di kolom chat Zoom. Kemudian dengan hormat saya meminta kesediaan Bapak Ibu untuk menonaktifkan mikrofon selama kegiatan berlangsung supaya kita dapat menikmati materi yang disampaikan dengan baik. Selanjutnya sebelum kita masuk ke acara inti yaitu penyampaian materi akan ada sambutan dari Bapak Dr. Ir. Hijrah Purnama Putra, ST, MA selaku founder dari BTIK Daur Ula Project P Indonesia sekaligus sekretaris jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia. Baik, langsung saja kepada Bapak Hijrah. Waktu dan tempat kami persilakan. Oke, baik. Terima kasih Mbak Nuha. Mudah-mudahan suara saya sudah terdengar dengan jelas. Ee asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah. Tentunya selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semuanya. Ee puji syukur ee kehadirat Allah Subhanahu wa taala. Pagi hari ini kita penuh semangat berkumpul hampir ada 100 peserta ya yang hadir bergabung pada kesempatan hari ini ya. Dari jumlah yang disampaikan oleh panitia mendekati angka 500. Tapi mudah-mudahan ee karena berbagai macam agenda mungkin sebentar lagi akan bergabung gitu ya, tapi juga mungkin sebagian ada yang bergabung lewat YouTube gitu ya. Yang kami hormati ee senior kami ya ee Pak Sri Wahyono ee matur nuwun sudah beberapa kali ini berkenan untuk mengisi agenda yang dilakukan oleh Bik Darurulang Project B Indonesia dan jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia gitu. Walaupun ee juga beberapa kali pernah ketemu secara langsung, tapi tidak bosan-bosan ketemu secara online. Dan Bapak, Ibu para peserta pada pagi hari ini yang juga senantiasa ee semangat dan menjadi partisipan ee apa reguler dari kegiatan webinar maupun training online yang dilakukan oleh Project B Indonesia ya. Nah, ini kembali ke tema pengolaan sampah yang harapannya bisa dilakukan di berbagai macam lokasi terutama ee bagi penghasil di hulu ya yang bisa memanfaatkan berbagai macam teknologi tapi harapannya adalah teknologi tepat guna. Salah satunya yang kita kejar adalah keberlanjutan dari teknologi tersebut gitu ya. Mudah-mudahan dengan mudah, murah, dan ee dampaknya juga cukup besar, mudah-mudahan ini bisa terus dimanfaatkan untuk bisa mengurangi jumlah sampah yang harus berakhir di ee skala kawasan atau skala kota gitu, di hilirnya nanti. Nah, Bapak Ibu ee agenda ini kita usahakan bisa rutin 2 mingguan atau 3 mingguan dan mudah-mudahan Bapak Ibu tidak bosan-bosan saat nanti menerima informasi dari admin. Tapi kalau Bapak Ibu berkenan juga ee nomor admin bisa di-save begitu ya. Nanti bisa muncul sesekali status dari admin. Dan mungkin ke depan ee tidak lama lagi kita akan mencoba ee suatu sistem pendaftaran ee melalui website yang nanti Bapak Ibu bisa mendapatkan informasi secara otomatis lewat satu akun Bapak Ibu dan Bapak Ibu bisa mendapatkan materi yang juga sudah lewat ya sudah dilakukan pada periode-periode sebelumnya tapi nanti di dalam ee Ee begitu sistemnya sudah siap, nanti kita akan sosialisasikan kepada Bapak Ibu. Niatnya mudah-mudahan semoga bisa menjadi penyemangat untuk belajar di hari libur ya, tidak terbatas waktu dan ruang, tapi kita semuanya bisa meningkatkan kompetensi kita gitu ya. Nah, titipan dari Jurusan Teknik Lingkungan yang ee juga berprogres ee lewat berbagai macam kompetensi. salah satunya adalah ee bidang pengolahan sampah yang akhir-akhir ini banyak mendapatkan sorotan dari berbagai macam pihak ya. Jadi ee kami dari Teknik Lingkungan dengan keahlian tersebut kemudian mengajak Bapak Ibu juga untuk bisa terlibat aktif dengan berbagai macam kegiatan yang mudah-mudahan ke depan tidak hanya webinar tapi ada kegiatan yang secara offline baik itu Bapak Ibu pada saat ke Jogja begitu atau nanti pada saat kami mungkin ada road show ke berbagai macam kota di Indonesia. Ee terima kasih Pak Sri. Saya tidak akan berlama-lama karena saya ee sudah mendapatkan gayanya Pak Sri dalam menyampaikan butuh waktu karena banyak sekali yang sudah disiapkan dan insyaallah Bapak Ibu materinya selama ini Pak Sri sangat mantap dan mudah-mudahan nanti diskusi juga cukup waktunya ya. Mbak Nuha dan teman-teman selamat bertugas pagi hari ini. Mudah-mudahan bisa memberikan ee pelayanan yang maksimal kepada seluruh peserta dan Bapak Ibu selamat mengikuti kegiatan webinar ragam teknologi tepat guna TTG dalam ee pengolahan ee sampah di Indonesia ya. Ee dan selamat menikmati, mudah-mudahan bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kita semuanya. Mohon maaf jika ada kekurangan. Wabillahi taufik wal hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih untuk Bapak Hijrah yang telah memberikan sambutan dan sekaligus membuka acara pada pagi hari ini. Bapak, Ibu peserta webinar sekalian, kami dari panitia juga melakukan live streaming melalui YouTube channel kami di Project B Indonesia. Jika semisal selama acara webinar berlangsung ada Bapak Ibu yang terkendala dalam Zoom, tidak perlu khawatir karena Bapak Ibu juga tetap bisa mengikuti webinar ini melalui YouTube channel kami di Project di Indonesia. Selanjutnya seperti biasa nih Bapak Ibu sekalian, hari ini kami juga menyiapkan berbagai macam doorpress spesial untuk Bapak Ibu yang beruntung. Doorpres ini diberikan berdasarkan tiga pertanyaan terbaik dan dua story Instagram terunik selama webinar berlangsung. Untuk pemenang tiga pertanyaan terbaik akan kami umumkan di akhir acara webinar. Sedangkan untuk pemenang dua story Instagram terunik akan kami hubungi langsung melalui DM Instagram. Nah, jadi bagi Bapak Ibu yang ingin bertanya selama webinar ee dapat memberikan pertanyaannya melalui kolom chat dengan format nama kemudian pertanyaan yang ingin ditanyakan dan nanti akan kami pilih tiga penanya terbaik untuk memenangkan doorpress spesial dari kami. Lalu untuk story Instagram, Bapak, Ibu dapat membuat story Instagram semenarik mungkin dan jangan lupa tag Instagram kami di @projecti Baik, tanpa berlama-lama lagi kita akan langsung lanjut ke acara inti yaitu penyampaian materi. Namun sebelum itu, mari kita lihat terlebih dahulu CV dari pemateri kita berikut ini. Han [Musik] Baik, itu tadi sekilas mengenai pemateri kita pada hari ini. Selanjutnya mungkin untuk efisiensi waktu jika Bapak Sri sudah siap, kita bisa langsung saja untuk memulai penyampaian materinya. Waktunya kurang lebih sampai pukul 10.30. Baik Bapak, tanpa berlama-lama lagi waktu dan tempat kami persilakan. Ya. Baik. Ee terima kasih Mbak Nuha. Semoga suara saya bisa terdengar dengan jelas. Ee Bapak dan Ibu penggiat lingkungan di seluruh Indonesia, semangat pagi. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. di hari yang cerah ini di daerah Bogor dan juga semoga di daerah Bapak dan Ibu sekalian di hari libur di weekend kita bersama-sama ee sharing pengalaman terkait dengan apa yang disampaikan tadi oleh dr hijrah. Ee saya dari Brin, Bapak Ibu sekalian diminta menyampaikan materi tentang teknologi tepat guna. Izinkan saya share Bapak dan Ibu sekalian ee bahan paparan saya. Semoga Bapak dan Ibu sekalian sudah bisa menikmati bahan paparan saya, Bapak dan Ibu sekalian, dengan judul Ragam Teknologi Tepat guna dalam kelang sampah di Indonesia. Ada beberapa hal yang ingin saya sharing kepada saya share kepada Bapak dan Ibu sekalian pengalaman-pengalaman kami terkait dengan teknologi tempat guna. Nah, hal yang pertama yang ingin saya sampaikan adalah pengertian teknologi tepat guna dan ciri-ciri serta posisinya dalam sampah kota. Kemudian yang kedua adalah karakteristik sampah dan kluster teknologinya. Kemudian yang selanjutnya adalah TTG dari berbagai jenis teknologi pengolahan sampah. Nah, ini yang mungkin ee dinanti-nanti ini oleh Bapak dan Ibu sekalian dan mudah-mudahan nanti apa yang saya sampaikan juga bisa menambah wawasan dan pengetahuan dari Bapak dan Ibu sekalian. Jadi ada terkait dengan teknologi tempat guna, pengolahan sampah organik, plastik, kertas, dan pemanfaatan gas TPA. Bapak dan Ibu sekalian, mari kita lihat ee definisi teknologi dan posisi teknologi pengelan sampah dalam ee pengelolan sampah yang berkelanjutan. Jadi intinya teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan untuk tujuan keseharian kita, Bapak dan Ibu sekalian, untuk memecahkan masalah yang nyata sehingga kita lebih nyaman secara proses dan produksi juga lebih efisien dan lebih produktif. itu intinya tu seperti itu. Nah, dalam sampah Bapak Ibu sekalian ada berbagai subsistem ee yang kita sebut biasanya ee aspek teknis operasional. Ada subsistem pemilahan dan pewhan sampah. Kemudian dari situ kan kemudian sampah diangkut ya. ada pengangkutan diangkut kemudian untuk dibuang ke TPA atau diolah ya ada subsidi pengolahan dan kemudian ada terakhir ee destinasi dari sampah itu biasanya adalah berada di TPA. Jadi kalau kita lihat dalam pengelolaan sampah terpadu, Bapak, Ibu sekalian, ini semua adalah aspek fisiknya gitu yang harus di ee dukung, di-support oleh aspek ee tata kelola. Ada kelembagaan, legislasi, kemudian finansial, dan peran antar stakeholder. Jadi, Bapak dan Ibu sekalian bisa melihat yang akan kita diskusikan pada pagi ini adalah seperti ini dan wabil khusus juga ada di tiga dan empat ini di dalam rimbanya penghan persampahan itu seperti itu. Baik, saya lanjutkan Bapak dan Ibu sekalian. Nah, teknologi tadi kemudian teknologi tempat guna, saya cari-cari itu ee definisi teknologi tempat guna itu apa sih gitu. Ini saya ketemu Permendes nomor 23 tahun 2017. Jadi sesuai dengan kebutuhan masyarakat menjawab persoalan masyarakat dan tentu saja tidak merusak lingkungan menggunakan sumber daya lokal. Itu definisinya seperti itu. Jadi ee ada banyak ciri khas terkait dengan teknologi tempat guna. Misalnya di sini yang biasa saya sampaikan pada teman-teman yang lain ini biasanya pembuatan peralatannya mudah dilakukan, biayanya juga relatif miring itu lebih murah, enggak mahal-mahal amat biayanya seperti itu. Tata cara pengoperasiannya juga mudah dilakukan oleh masyarakat. Masalah lingkungan tentu saja harus minim. Produknya juga mesti bermanfaat. kemudian lokasinya ee tersedia dan tentu saja masyarakat harus menerima gitu Bapak Ibu sekalian. Tapi ee definisi ini saya enggak terlampau rigid Bapak Ibu sekalian. Nanti Bapak Ibu sekalian bisa melihatnya sendirilah gitu ya. Apa yang ee teknologi yang kami sampaikan itu apa saja. Kadang ada yang agak apa complicated, kadang memang ada beberapa yang mahal dan sebagainya. Jadi ini hanya sebagai apa namanya? Semacam panduan saja git begitu. sekalian, Bapak, Ibu sekalian ya. Nah, kemudian posisinya nih biar dalam rimba pulang sampah ini ee teknologi tepat guna posisinya ee di mana sih? Kalau tadi dalam pengelolaan sampah terpadu itu seperti itu. Nah, dalam ekosist pengelolaan sampah seperti apa sih? Kalau kita ee sadari Bapak Ibu sekalian, pengelolaan sampah yang kita lakukan pada masa lalu adalah sampah dari sumbernya ya. kemudian dikumpulkan, diangkut dan dibuang. TPH kumpul, angkut, buang. Tetapi kan dalam paradigma baru, kesadaran baru kita yang tertuang dalam berbagai regulasi sampah, sampah itu adalah sumber daya. di sumbernya sampah tidak serta-merta hanya dikumpulkan untuk kemudian diangkut ke TPS, tetapi bisa diolah di rumah kita, di kampus kita, di lokasi tempat kita usaha, di kantor kita. Itu bisa kita lakukan. Itu yang disebut sebagai ee gampangnya pengolahan sampah tingkat rumah tangga. Kemudian di tingkat RT, RW, kelurahan atau kecamatan di tingkat kawasan yang biasanya di situ dulu hanya sekedar tempat penampungan sampah sementara bisa disulap menjadi tempat pengolahan juga. Ini di tingkat kawasan, kemudian di tingkat kota pun demikian. Nah, cirinya kalau kita lihat ada tingkat rumah tangga, tingkat kawasan, tingkat kota, maka dari ee tingkat rumah tangga dan tingkat kawasan yang dekat-dekat dan rumah kita, di kawasan kita, Bapak Ibu sekalian, itu punya dua prinsip. Biasanya seperti itu. Proximity principle, dekat dengan sumber sampahnya. Kalau di rumah kita ya, di sampah di rumah kita. Kalau di TPS3R katakanlah di RTRW atau kelurahan kita ya lingkup itu juga kan jadi dekat dengan sumber sampahnya. Kemudian biasanya yang melakukannya adalah komunity komunitynya masyarakat sekitarnya masyarakat kita sendiri community base. Jadi itu ada dua prinsip tetapi kalau tingkat kota itu biasanya pelakunya adalah memang e pelaku yang organisasi profesional entah tidak industri blaga. biasanya jaraknya juga tentunya karena terpusat ada daerah-daarah yang jauh, ada daerah yang dekat gitu seperti itu. Nah, kemudian dalam konsep bijakannya yang di tingkat rumah tangga, tingkat kawasan yang punya ciri tadi dekat sumber dengan sumber dan berbasis masyarakat itu biasanya kita sebut sebagai desentralisasi. Sedangkan yang ee hanya satu pengelolan sampah skala besar itu sentralisasi. Nah, kita lihat Bapak, Ibu sekalian dengan itu biasanya tipologi kota yang melakukan desentralisasi ituanya adalah kota kecil, kota sedang, kota besar gitu. Sedangkan yang sentralisasi biaknya kota-kota yang besar dan metropolitan. Ada di mana posisi TTG? Ada di sini, Bapak, Ibu sekalian. tingkat rumah tangga ya, tingkat kawasan itu biasanya tipikalnya seperti itu. Community principle, community base, desentralisasi ee biasanya dilakukan oleh kota kecil sampai kota besar gitu. Itu seperti itu, Bapak, Ibu sekalian. Nah, oke saya lanjutkan lagi. Itu posisinya rimbanya, posisi teknologi tepat guna pelang sampah dan ee ekosistemnya seperti itu. Nah, bagaimana dengan ini nanti akan masuk ke teknologinya. Bagaimana dengan ee teknologinya? Nah, dalam pemahaman modern kita, Bapak, Ibu sekalian, kita tahu sama tahu nih bahwa sampah kita kondisinya adalah sangat heterogen. Ya, Bapak, Ibu sekalian. Banyak material di sana. materialnya pun bermacam-macam, punya karakteristik yang bermacam-macam. Maka kalau kita mau mengolah golden key-nya menjadi kunci pentingnya adalah sampah itu harus dipilah. Nah, di sini juga ada teknologi-teknologi pemilahan mulai dari eh rotary screen, magnetic spator, kemudian berbagai macam cara yang lain dengan tiupan udara misalnya karena beratakan berat dan sebagainya. Nah, di sini juga ada teknologinya. Nah, setelah terpilah Bapak Ibu di Bapak Ibu sekalian ini ee dalam klasifikasi modern kita mengenal ada empat hal. Pertama adalah e sampah yang terpilah itu kita kelompokkan sampah yang layak diulang bisa kertas, plastik, kaca dan sebagainya. Kemudian sampah yang organik atau bio entah itu sampah makanan, entah itu sampah dari pekarangan kebun kita ya, Bisah daun itu ya itu bisa dikelompokkan tersendiri karena punya karakteristik tersendiri. Nah, kemudian ada juga pengelompokan sampah yang combastibel dapat dibakar tadi layak dari ulang yang pertama. Kemudian yang kedua adalah sampah organik. Kemudian yang ketiga adalah sampah yang dapat dibakar. Kemudian sampah yang keempat ini enggak bisa dibakar relatif sulit di daer ulang inord. Nah, ini yang biasanya kita sebut sebagai sampah residu sebenarnya masing-masing ini, Bapak, Ibu sekalian itu punya karakteristik tersendiri ya. Sambal organik biasanya mengandung nutrisi, kadar air tinggi, nilai kalor rendah, tambah kompasibel misalnya ee mudah dibakar ya, kadar airnya cenderung rendah gitu seperti itu. Nah, dari sifat-sifat karakter umum masing-masing itu Bapak-bapak dan Ibu sekalian itu kemudian ee melahirkan pengelompokan baru. Tipologi pengolahan sampah pertama adalah kalau yang layak didaur ulang misalnya plastik, kertas, logam, karet itu masuk industri darur ulang. Kemudian yang organik biasanya teknologinya adalah berbasis biologis. Ini yang ee di ee brin di tempat kami bekerja. eh saya mengkoordinasikan kegiatan ini komposting biogas ya yang yang hidup-hiduplah BSF, black solder flies, Farming Composting, dan biodrying dan sebagainya. Kemudian yang kompasel itulah yang kemudian pakai e nasi yang kemudian ee dipanaskan atau dibakar gitu ya dengan berbasis termal lewat iterasikah, basifikasiaikah, piralisis kah Bapak Ibu sekalian. Kemudian yang tidak bisa di daur ulang, non kompasel iner. Nah, itu ya mau gimana lagi diulang enggak bisa dimanfatkan enggak bisa bi masuk ke TPA ya Bapak Ibu sekalian. Seperti ini ragam klusternya sehingga nanti apa yang saya sampaikan enggak enggak enggak lepas dari ini juga ada teknologi darul berbasis biologis ya. Kalau yang termal mungkin kemarin pekanpekan yang lalu sudah dibahas oleh dr. atau ahli ya. Saya enggak akan banyak membahas itu. Dan juga ee sekilas tentang TPA. Nah, Bapak Ibu sekalian, pertama kita coba ee lihat apa itu komposting. Saya yakin Bapak Ibu sekalian sudah paham benar nih apa namanya komposting gitu ya. Apalagi yang sudah mempraktikkan gitu. Nah, komposting Bapak Ibu sekalian dalam pengertian modern adalah ee penguraian material organik ya, dekomposisi material organik oleh siapa? Oleh ee mikroorganisme sehingga dilakukan secara biologis dalam kondisi apa? Kondisinya harus ada udara menjadi produk seperti kumus. Nah, itu ee pengertian sederhananya, definisinya ituu seperti itu, Bapak, Ibu sekalian. ini yang dipegang oleh para ee ilmuwan di dunia itu kompas tingar sepintas Bapak Ibu sekalian bahwa sampah organik, material organik itu sebenarnya mengandung berbagai macam senyawa, karbohidrat, protein, lemak ya selulus, mineral dan sebagainya yang bagi kita sudah enggak diperlukan lagi. Tetapi bagi mikroorganisme itu makanan yang sangat nyamnyam, makanan yang sangat lezat gitu. Nah, yang bekerja di dalamnya dalam proses komposting ini adalah mikroorganisma bisa berupa bakteri, jamur, fungi, ya, aktinometes, protosoa, alga dan sebagainya. Ini kalau kita ingat pelajaran biologi masa SMP, SMA itu ingat nih berbagai jenis mikroorganisme tadi. Nah, karena dia prosesnya adalah aerobik maka harus ada suplai udara Bapak Ibu sekalian. Entah itu dengan dilakukan dengan pengadukan atau dengan eh semacam suction blower seperti ini gitu. Harus ada mikroorganismenya, harus ada udaranya. Seperti kita menghidup udara tuh apa ee bernafas gitu. mikroba pengomosan juga seperti itu. Perlu itu dan juga perlu minum kasarnya seperti itu ya apa gampangnya seperti itu. Perlu air gitu Bapak Ibu yang dalam proses kimianya. Nah, kalau ini semua dipenuhi maka kemudian akan ter ee apa namanya? Terdekomposi, terurelah ee material organik menjadi kompos, kemudian menjadi gas-gas ee yang lain. Biasanya adalah yang dominan adalah gas CO2. Kemudian Bapak Ibu sekalian dalam prosesnya ini tipikal nih dalam proses pengomposan harus panas Bapak Ibu kalau ngomposin sampah enggak panas itu artinya kompostingnya prosesnya bermasalah ya. Nah biasanya panasnya Bapak Ibu sekalian sampai 70 derajat itu loh biasanya itu bertahan sampai sekitar 2 pekan habis itu turun turun turun turun. Nah, proses aktif ini dalam yang pada masa proses panas inilah yang biasanya digunakan dalam proses biodrying. Drying, pengeringan bio adalah biologis, pengeringan secara biologis gitu. Nah, ini yang disebut sebagai proses biodrying. Kalau proses biodrying kita lanjutkan, jadilah proses pengomposan secara sempurna gitu. Nah, jadilah produk kompos Bapak, Ibu sekalian ya, dari material organik, sampah organik terproduksilah menjadi kompos dan biasanya gas-gasnya itu tidak berbau. Kalau kita mengosan sama gasnya bau itu artinya ada masalah di sana. Biasanya ee komposisi utamanya adalah CO2. Ada banyak ee apa prinsip dalam proses pengomposan ya, pengaturan rasio karbon dan nitrogen, ketersediaan mikroorganisme, aerasi dan sebagainya gitu. Tapi enggak saya bahas dalam dalam sekarang ini, Bapak, Ibu, karena waktu kita juga sedikit. Jadi, prinsipnya itu seperti itu, Bapak, Ibu sekalian. Nah, coba kita ee apa? Tarik ke dalam ee hal yang yang praktis sekarang. Komposting dan being itu punya prinsip yang sama, Bu, ya, Bapak, Ibu sekalian. Punya prinsip yang sama, gitu. Jadi kalau proses komposting ada ada fase aktif, ada fase pematangan, fase aktif biaya suhunya tinggi. Itu yang diolah adalah tentu harus sampah organik, sampah daun, sampah makanan atau mungkin kotoran ternak Bapak Ibu sekalian yang tentunya kalau sampah kota memang harus sudah terpilah. Kalau enggak dipilah maka produk komposnya juga enggak akan bagus untuk proses soil kondisioner atau pembolah pembenah tanah ya. Jadi ee awal ee bahan bakunya adalah samp organik, produknya adalah kompos. Nah, bagaimana dengan biodrying? Biodrying itu bisa juga berupa material yang sampah organik murni ya atau sampah campuran. Tetapi dalam bioying itu sebenarnya yang berproses itu sampah organiknya. Kalau sampah plastik dan sebagainya enggak berproses gitu. Nah, itu biasanya ee memanfaatkan masa aktifnya itu yang penting kering gitu kan. ini karena masa aktifnya biasanya suhunya tinggi maka kering nilai kalornya biasanya akan lebih tinggi ya karena kadar airnya sudah berkurang ya dari 60% katakanlah menjadi 20%. Kalau kadar air yang berang lebih kering. Kalau lebih kering ee prinsipnya adalah biasanya nilai kalornya akan meningkat. Nah ini jadilah bahan bakar gitu. Maka kemudian Bapak Ibu sekalian kalau dalam kacamata saya biodriving adalah komposting setengah jalan. Kalau dilanjutkan menjadi beberapa pekan kemudian jadilah komposu. Nah, ini yang kita kenal dalam praktik ee beberapa teman itu ada yang istilah peyemisasi ya. Ya, kemudian produknya ee di peletkan. Kemudian untuk proses klasifikasi. Kemudian di Cilacap juga ada proses BRI yang sekolahnya lebih besar lagi ya menjadi RDF yang kemudian produknya untuk semen killen gitu. Nah, kemudian teknologinya nih kalau kita lihat lintas kalah Bapak Ibu sekalian teknologi komposting ya nanti biodring komposting itu ada yang tingkat rumah tangga yang bisa dilakukan Bapak Ibu sekalian. Saya melihat di lapangan juga banyak kreasi-kreasi ee teman-teman di lapangan ya ee terkait dengan bagaimana ngomposin sampah dengan berbagai jenis komposter. Bapak, Ibu sekalian ini kami juga mengkaji berbagai hal terkait dengan hal itu, skala rumah tangga. Kemudian ada juga komposting yang skala kawasan Bapak Ibu sekalian dilakukan biasanya dilakukan oleh TPS3R untuk sampah daunnya kah, untuk sampah makanannya kah, demikian juga untuk komposting yang skala besar. Dalam kacamata keilmuan Bapak, Ibu sekalian, komposting skala rumah tangga, segala kompak kawasan, dan skala kota itu biasanya terkelompokkan menjadi low teknologi low teh ya. Eh, teknologi yang tidak terlampau rumit-rumit amat gitu. Tidak seperti waste to energy rated itu enggak seperti itu. Ini sederhana cuma ee apa namanya? Sampah yang diolah itu kalau tingkat rumah tangga kan sampah dari rumah saja. tambah kawasan mungkin dari kawasan kelurahan atau kecamatan. Sedangkan kota adalah sampah yang organik dari seluruh kota itu. Nah, ini contohnya komposter rumah tangga misalnya yang beredar di banyak ee masyarakat di sekitar kita itu biasanya ada komposter yang di ee semi aerobik. Ini sebenarnya dalam kategori komposting enggak enggak masuk enggak masuk definisi komposting, tapi dalam dalam praktik kesarian itu disebut sebagai komposter. Biasanya dikenal sebagai komposter ember tumpuk seperti ini. Ada yang bisa kita buat sederhana dengan berbagai wadah misalnya di sini atau kemudian di dijual cara apa namanya e fabrikasi juga ada industri yang menjualnya gitu. Nah, komposter selain semi aerobik juga ada komposter aerobik Bapak Ibu sekalian. Nah, ini yang memang dikembangkan dengan prinsip-prinsip komposting yang saya sampaikan tadi yang kita kenal dulu ada komposter Takakura, ini Mister Takakura ya. Itu dari Jepang yang memang melakukan kajian sampah di Surabaya berarti itu dan berbagai jenis komposter yang lain gitu. Di sini adalah komposter komposter aerobik di mana udara itu bisa masuk ke dalamnya. Biasanya melalui proses pengadukan manual dengan cetok dan sebagainya Bapak Ibu sekalian ya. Nah, kalau sampah kebun juga bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Ini saya lihat kita kaya sebenarnya Bapak Ibu sekalian berbagai jenis komposter ya yang bisa yang diterapkan oleh masyarakat pada saat ini. Kita tinggal pilih yang mana Bapak mau pilih yang mana gitu. Nah, kemudian tingkat kawasan atau kota demikian juga ee kita punya ee ee pengalaman yang yang banyak gitu, Pak di sisi keindonesiaan gitu. Mulai dari yang segala kawasan misalnya dengan sistem bak seperti ini Bapak, Ibu sekalian ya. Ini ee beberapa gambar yang memang kami kerjakan di beberapa lokasi gitu. Nah, kemudian skala ee kawasan dengan sistem Windro misalnya seperti ini yang ini menjadi populer di banyakbanyak apa daerah. Nah, juga ini juga skala kuota yang dikerjakan oleh projek-projek ee Bank Dunia biasanya atau PBB misalnya ini di beberapa ee di 4 TP dalam rangka reduksi emisi gas rumah kaca. Nah, ini juga ada yang besar juga yang pernah kami lakukan juga di sebuah tempat di Jakarta Timur ya secara mekanikal gitu. Jadi, rumah tangga ada tuh TTG-nya, kawasan ada tuh TTG-nya, kota juga ada terkait dengan kompos. Nah, kemudian bagaimana bedriing? Ini yang terkenal adalah di dari teman-teman Komestara ya. ee tempat olah sampah setempat yang cukup populer ee baik apa ee pelatihannya, praktik praktiknya dan upaya-upaya pemanfaatannya untuk gasifikasi maupun di Joko untuk PLTU misalnya ini juga dilakukan kemudian ee secara besar juga rupanya dibangun juga di TPA Kong oleh PUPR ya. Ini adalah ee tempat produksi RDF yang memang skala besar. Kemudian juga eh best practice yang sebelumnya sudah beroperasi adalah di Cilacap gitu dari samp organik difermentasi secara aerobik. Nah, produknya biasanya airnya sudah berkurang lebih kering yang kemudian ukurannya pun disesuaikan dengan kebutuhan dari ofakernya atau kemudian bisa dipeletkan juga untuk gasifikasi dan sebagainya. Prinsipnya sama antara komposting dan biodriving. Hanya biodriving itu memanfaatkan masa aktifnya saja ya. Kemudian bagaimana dengan biogas ya Bapak Ibu sekalian? Biogas sampah kota biasanya punya karakteristik khusus Bapak Ibu sekalian harus ada pretreatmennya karena sampah kan nyampur. Sampah harus dibilah dulu kemudian ukurannya juga macam-macam. Enggak kayak kotoran sapi misalnya kan sudah seragam enggak perlu dipilah-pilah lagi. Biasanya seperti itu. Kalau sampah ee ukurannya ee juga beragam, jenisnya macam-macam. Padahal yang kita inginkan adalah sampah organiknya saja wabil khusus sampah makanan biasanya itu dan ukurannya juga mesti mesti seragam. Nah, itu yang ada treatmentnya. Nah, kemudian kalau secara proses Bapak Ibu sekalian ya biasanya di situ memang complicated banget prosesnya. proses biokimianya mulai dari material protein, karbohidrat, lipid, kemudian diproses secara hidrolisis, di ada proses juga sampai kemudian proses-proses itu berujung pada terbentuknya gas metan gitu. Gas metan dan ee apa namanya? Kalau kita dalameter-parameter ee prosesnya juga bermacam-macam sebenarnya Bapak Ibu sekalian. Tapi intinya bahwa dari proses itu biasanya anaerobik. Kalau komposting ada adalah harus ada udara, kalau biogas enggak enggak boleh ada udara tuh harus kedap gitu. Kalau ada kalau udah ada udara yang masuk biasanya proses akan gagal gitu enggak terjadi proses pembentukan gas metan. Nah, kemudian produknya ya biogas itu sendiri dan ada cairan yang keluar biogasnya bisa dimanfaatkan untuk listrik ya untuk memasak terutama biasanya seperti itu kalau di tingkat keluarga atau di tingkat kawasan untuk memasak. Kalau skala besar bisa mil listrik Bapak, Ibu sekalian ya. Nah, kemudian kalau cairannya itu bisa meli bubuk cair. Nah, kemudian gimana nih contohnya? Nih contoh dari biogas kalau rumah tangit seperti ini. Bisa dengan dibuat dari du air, bisa dari fiber, glass dan sebagainya. Ini ini sudah populer Bapak Ibu sekalian. Kalau Bapak Ibu pengin bikin bisa juga itu. Tapi ini harus pesan. Kalau bikin sendiri biasanya agak susah gitu, agak susah dari 1 2 sampai 3 kg biasanya biogos yang diproduksi bisa untuk digunakan memasak sampai 1 jam lumayan pengganti LPD gitu. Nah, bagaimana dengan kawasan? Nah, kawasan biasanya ee biayanya akan tinggi Bapak Ibu sekalian ya. Eh, itu juga tergantung dari teknologi yang dipakai nih. Seperti gambar di sini adalah yang pernah kami terapkan juga di sebuah ee kawasan industri di situ ada 300 kg sampah makanan yang bermasalah. Nah, ini diubah menjadi biogas yang kemudian biogasnya dimanfaatkan kembali untuk masakmemasak di dapur dari kawasan itu. Itu ini adalah yang skala kawasan Bapak Ibu sekalian. Ini juga termasuk TTG dalam kacamata kami Bapak Ibu sekalian ya. Nah, kemudian ee yang di berbagai tempat pun kita lihat misalnya di Bujoni tempat teman-teman dari Malang nih ada juga ini kembarannya yang ada di Jambi misalnya ini dibangun oleh dengan dana PBB kalau enggak salah. Kemudian ini beberapa pihak swasta misalnya dari Bogor ya, ada juga dari Bandung membuat juga ee menerapkan ee biogas seperti ini ya. Jadi eh sudah banyak sebenarnya Bapak peri sekalian eh praktis praktisis-praktisis terkait dengan TTG biogas di kita seperti halnya komposting tadi. Nah kemudian eeah ini yang lagi populer. Kalau dulu komposting sangat populer, diuka sangat populer. Nah ini lagi lagi lagi ada di mana-mana juga blackerflies ya magot itu ya. Ini juga hal yang baik dalam untuk pengelolaan sampah ya Bapak Ibu sekalian yang digunakan adalah kalau tadi mikroorganisme ini adalah serangga. Serangganya ee adalah lalat tapi lalatnya itu pun khusus bukan lalat biasa. alat herusen ya black flies eh magotnya telur yang netas jadi belatung-belatungnya atau makutnya itu sangat rakus gitu sehingga itu yang digunakan untuk ee menangani sampah gitu yang kalau kita lihat siklus hidupnya Bapak Ibu sekalian ee dari lalat ini teman-teman di lapangan juga sudah banyak tahu gitu ya ee mulai dari lala dewasa kemudian kemudian dikawinkan di dalam kandang bertelur, telurnya diambil kemudian telurnya ditetaskan dalam media khusus. Setelah menetas baru kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang di situ kita bisa masukkan sampah makanan bi seperti itu. Nah, di situ akan ee membesarlah si instan itu jadi matot ee dalam waktu tertentu. Matotnya bisa kita panen katakanlah pada hari ke-12 misalnya. Kemudian dibiarkan yang lain di pupa. Pupa kemudian ee dibiarkan menetas apa ee apa keluar lagi menjadi lalat dewah dari pupa itu. Nah, lalat dewas itu kemudian ee kawin lagi, betul lagi. Ini seperti itu. Ee satu siklus ini adalah tantangan bagi yang ini yang biasanya untuk rumah tangga dan kawasnya tantangan untuk menjalankan satu siklus ini gitu. Gitu. Dan ini sangat populer saat ini di berbagai tempat di Indonesia. Baik yang biasanya ditempatkan ee skala kawasan. Kalau rumah tangga biasanya hanya sekedar ambil telur kemudian diwasakan telurnya itu diterusaskan menjadi magbakot itu kemudian dipanen magbetnya. Tetapi untuk skala kawasan ee ini memungkinkan untuk menjamin satu siklus itu. Tetapi ini pun juga masih apa namanya masih tantangan juga. eh magot dari flies. Nah, kalau di tingkat rumah tangga kita juga bisa lakukan itu dengan eh dengan lalat alami, enggak harus dengan eh tadi hermesia yang itu. Ini sempat kita patenkan juga eh reaktor sederhana kita, Bapak, Ibu sekalian di mana yang hidup adalah makut dari ee entah itu lalat buah ataupun lalat-lalat rumahan itu dan itu terjadi dengan sendirinya. kita enggak harus me apa namanya memelihara lalat di dalam sebuah kandang. Nah, kemudian ini juga cakap populer sampai sekarang ada komunitas nusantaranya Ekoenzim ya. Nah, biasanya ee ada kesulitan ee dalam hal penyed penyediaan wadahnya yang cukup mudah. Ini juga ada cara mudah Bapak Ibu sekalian yang kita kembangkan juga di mana kita ee ee lengkapi dengan seal air ini sehingga kita nanti ketika memproduksinya enggak harus buka tutup pada tahapta-tahap awal itu satu rapat nanti udara akan keluar dengan dirinya secara aman gitu. Nah, ini memang luar biasa Dr. Rukon dari mana? Dari Thailand ya dalam pengembangan ini sebagai dia sebagai seorang apa? ee ilmuwan al apa yang cinta terhadap alam ya. Ini ada di mana-mana ee apa namanya penerapannya ada di berbagai negara. Ini ee biasanya dilakukan secara selektif ee sampah makanannya juga sangat selektif. Enggak serta-merta seluruh jenis sampah makanan yang busuk sudah enggak boleh, yang sudah di apa namanya direbus enggak boleh. Gulanya pun g harus gula alami, enggak boleh gula rafinasi dan sebagainya. dan juga dari sisi waktu itu mesti strik di angka 30 hari. Jadi ini memang semuanya selektif Bapak Ibu sekalian. Ada kekurangan dan ada kelebihan. Nah, kemudian bagaimana kertas? Kertas kalau ee di bank sampah ya cukup dikumpulkan kan kardus dan sebagainya kemudian dijual kemudian di pabrik itu biasanya nanti digunakan sebagai apa? Ee support material Bapak Ibu sekalian ya. bi 50% adalah sampah kertas, 50% adalah virginnya yang kemudian nanti setelah jadi PALP kemudian dijadikan kertas. Bagaimana dengan di keluarga? Misalnya ini ee Ibu Bapak sekalian yang ada di daerah dan penggiat bank sampah itu paham betul ya bahwa sampah kertas pun sebenarnya bisa digunakan untuk bahan baku handyraft misalnya. ini kan cantiknya seperti ini dengan cara dibuburkan dibikin pal kembali dicetak ya. Nah, ini memang perlu tangan-tangan yang punya sense of arts yang tinggi. Kalau kita enggak punya ee apa namanya sens ini biasanya produknya akan akan enggak begitu bagus. lah produk-produk yang memang ngulik seperti ini ya punya S of Cutting ini ee beberapa memang dijual online dan diekspor. Nah, demikian juga ee ada yang dengan cara hanya tidak dipalkan, tidak dibikin bubur teti hanya dipilin kemudian dianyam seperti ini seperti ini gitu. Ini yang biasanya dilakukan di tingkat komunitas atau tingkat rumah tangga bisa dilakukan seperti itu. Nah, kemudian bagaimana dengan darurang plastik? plastik juga bisa dilakukan di rumah maupun ee di komunitas atau skala skala kawasan, tingkat kawasan Bapak Ibu sekalian. Nah, biasanya kalau tingkat kawasan itu arahnya dicacah kemudian dipeletkan, kemudian dicetak jadi sebuah produk ya yang menjadi darurang material. Kemudian ada juga yang di daruang secara termal ini biasanya ee teknologinya ee rada-rada rumit. Ee mungkin dalam kacamata TTG agak agak susah juga dikelompokkan dalam kacamata TTG Bapak Ibu sekalian. Nah, kemudian chemical recycling juga eh dalam yang skala kawasan at skala besar juga teknologinya relative rumage. Biasanya di apa dijadikan ee minyak ya kemudian di proses secara gasifikasi. Nah, di kita juga sebenarnya ada yang kemudian disederhanakan proses klasifikasinya, proses viralisinya ada juga Bapak, Ibu sekalian. Nah, kemudian contohnya nih kalau yang tingkat kawasan ya biasanya di masyarakat ya di IKM industri kecil gitu ya biasanya sampah ee plastik dicacah kemudian dicuci bersih kemudian setelah kering hasil cacahnya bisa dijadikan pelet. Misalnya seperti ini Bapak Ibu sekalian ya. Kemudian dari palet inilah menjadi bahan baku produk barang-barang plastik kembali atau yang populer saat ini adalah dengan me proses dengan dicacah kemudian dibersihkan dari material-material pengotornya dilelehkan kemudian dicetak menjadi produk-produk seperti ini misalnya menjadi batak puffing block kemudian ini genteng itu Bapak Ibu sekalian ini eksis ya Bapak Ibu sekalian tetapi Tapi biasanya ee nanti penjualan produknya yang agak-agak repotan opternya karena bersaing dengan produk yang sudah itu sehingga beberapa di tempat untuk jual produknya juga mengalami keselan entah itu menjadi batang seperti papan, bato, genteng dan sebagainya. Nah, kalau di tingkat rumah tangga seperti Bapak, Ibu sekalian perhatikan di sekelilingnya ee ada yang dengan dipotong jahit dan rangkai tas ya seperti ini. Kemudian juga ee dengan cara potong tanpa dijahit hanya dirangkai ya menjadi fas-fas bunga seperti ini. Kemudian ada juga yang dengan cara potong anyam dan rangkai menjadi berbagai hitung-hitung tas seperti ini, dompet, payung dan sebagainya atau menjadi eak gitu. Nah, ini ee dalam perkembangannya agak agak agak menurun apa namanya intensitas dari komunitas kita memproduksi ini karena memang lagi-lagi adalah ketika diproduksi itu kesulitan akan pasar gitu sehingga akhirnya ee enggak enggak terjual gitu. Nah, ini ee juga satu apa namanya? TTG yang sempat populer di sekitaran kita, Bapak, Ibu, Ibu sekalian dari sampah plastik dan kemudian TPA ini yang saat ini juga menjadi perhatian ee Bapak Menteri KLH dan juga lembaga yang lainnya ya, bahwa TP kita kebanyakan open dumping gitu. Sebenarnya kalau dari sisi teknologi, dari sisi konstruksi, teman-teman sipil itu sebenarnya sambil merem gitu. Hanya dari sisi pembiayaannya saja yang yang memang memang ee cukup besar karena di dalamnya biasanya mesti ada konstruksi pelapis air di bagian dasarnya. Kemudian juga apa air lindinnya juga harus ditani, kemudian gasnya juga harus ditangani. Ee jadi secara kalau secara teknologis secara ini sebenarnya bisa saya sebutkan ini sebenarnya teknologi tepat juga karena ee memang memang sangat berguna. Hanya saja memang dari sisi finansial kapasitas ee ekonomi daerah biasanya ee mengalami masalah untuk membangunnya dan juga untuk mengoperasikannya. dan juga Bapak Ibu sekalian ini ada juga pengalaman yang unik ini ee sebenarnya dari teman-teman Malang itu saya belajar juga dari almarhum Pak Kadri Malang ada dan Renung yang sekarang masih aktif khusus ya Pak Rudi juga ini sempat kami kembangkan juga teknologi pemanfaatan recovery gas dari TPA mulai dari kami melakukan apa namanya ee studi studi seberapa besar sebenarnya gas dari TP itu bisa dieksplore ya, potensinya ada berapa kemudian nanti sistem yang digunakan apa ya yang kemudian nanti gasnya itu bisa dimanfaatkan ya setidaknya bisa untuk memasak di TP itu sendiri atau didistribusikan bahwa rumah tangga sekitarnya atau menjadi ee listrik gitu. Bapak, Ibu sekalian ini ee ini asli ini Indonesia ee dari Malang penemunya dan Renung dan kawan-kawan itu kalau di luar negeri itu kita enggak menemui itu. Jadi kalau dari judul ee tadi dari solusi lokal menjadi solusi global itu ada beberapa memang dari apa yang kita punyai yang kemudian ee oleh negara berkembang yang lain misalnya Bangladesh, Pakistan dan sebagainya mereka mengembangkan dengan ala Indonesia dengan cara Indonesia misalnya dengan komposting Bapak Ibu sekalian komposting yang sitah indrom seimbak mereka berbondong-bondong zaman dulu itu belajar ke kita itu ee termasuk juga beberapa jenis komposter juga mereka ee ini belajar dari kita sebenarnya. Jadi sebenarnya Bapak Ibu sekalian intinya teknologi tempat guna yang ada saat ini di Indonesia itu ee sangat beragam. Kita sangat kaya mulai dari yang diterapkan bisa diterapkan untuk skala rumah tangga, skala kawasan atau tingkat kawasan atau tingkat kota. kita punya itu sebenarnya kalau dari sisi teknis Bapak Ibu sekalian ya. Tetapi kalau kita lihat memang kenapa itu enggak berkembang kita lihat tadi yang apa yang saya paparkan di awal ee bagaimana sebuah pengelolaan sampah yang berkelanjutan itu kan harus di-support dari sisi finansialnya, dari sisi kelembagaannya, dari sisi regulasinya, dari sisi peran seru stakeholder. Nah, tadi kita lihat yang dari sisi teknisnya kita sebenarnya punya kalaupun kita enggak punya misalnya WTE misalnya yang skala besar kita juga mampu kok. Tahun 2018 kami bikin itu di Bandar Gebang itu kami pada saat XBWPT bisa jadi energi listrik gitu. Kita belajar bisa cepat kalau dari tim-tim engineer itu bisa belajar dengan cepat 1 bulan bisa itu ya didukung oleh eh internal apa industri-industri yang ada di dalam itu bisa kolaborasi untuk yang skala-skala seperti itu rumit dan sebagainya. Jadi kalau kembali ke TTG itu kita sangat kaya Bapak Ibu sekalian. Sangat kaya. Tinggal silakan mau pakai yang mana. Kemudian disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah, kondisi sampahnya, kondisi kemampuan finansialnya. Ee dan tentunya itu ya dari niat kita gitu. kita niat ee benar-benar niat untuk menyelesaikan permasalahan sampah itu. Nah, ini saya paparkan pada Bapak Ibu sekalian yang mudah-mudahan bisa memberikan bayangan dari tingkat rumah tangga, dari tingkat ee kawasan maupun kota ini seperti ini. Ini terakhir ya, Mbak Nuha. Berapa menit lagi nih ya? Ini terakhir. Jadi kalau dari dari apa yang saya sampaikan Bapak Ibu sekalian, kita sebenarnya bisa melakukan itu sendiri dari rumah kita. Mau komposting kah, mau biogas kah atau mau dengan cara bioforori kah atau dengan tadi ekoenzim atau pepuk organik cair atau langsung kasih kasih ke ternak gitu yang laku jual ya kita sedekahkanlah Bapak Ibu sekalian ke pemulungkah atau ke petugas sampah atau ikut bank sampah gerakan sedekah sampah dari berbagai rumah ibadah gitu. Nah, untuk yang skala kawasan pun ini mungkin sebagai apa ee apa yang saya sampaikan tadi rangkumannya gitu. Ini bisa dilakukan di berbagai apa wilayah RT RW, desa, Kecamatan biasanya kita sebut sebagai TPSDR, pusat daur pulang, PDU, rumah kompos, reser, apapun namanya ya Bapak Ibu sekalian. misalnya yang organik pun bisa dikomposkan, bisa dibiukaskan dengan berbagai cara gitu. Dengan berbagai cara. Nah, demikian juga yang laku jual gitu ya dan lainnya. Dan untuk yang skala kota ini kalau skala kota biasanya ee agak-agak non istilahnya apa namanya lebih lebih apa namanya? lebih complicated itu Bapak Ibu sekalian ya biayanya juga besar karena sampah yang diolah kelola adalah banyak dilakukan oleh lembaga yang profesional prinsipnya sama sampah mesti dipilah-pilah dulu kemudian yang ee laku jual bisa masuk industri ulang yang organik material bisa dibiogaskan, dikompaskan budidaya BSF menjadi pakan ternak dibiodrayingkan. Sedangkan yang kombibel itu bisa langsung di ee tangani dengan misalnya atau gasifikasi atau viralisis atau ditingkatkan dulu kualitas menjadi RDF misalnya Bapak, Ibu sekalian bisa untuk umpannya PLTSA ya, residunya TTPA ya, kemudian yang RDF pun ya Bapak Ibu sekalian ee bisa untuk semen industri. Kalau yang organiknya dominan bisa untuk PLTU ya. ini seperti inilah kira-kira Bapak Ibu sekalian ya yang pokok bagi saya ini pesan saya ee mudah-mudahan nyampai ke Bapak Ibu sekalian bahwa kita sebenarnya memiliki perbendaharaan teknologi tempat guna pengolan sampah yang kaya dari tingkat rumah tangga, tingkat kawasan sampai tingkat kota seperti ini gitu. tinggal tadi ee pendukungnya yang lain ada anggarannya enggak gitu kan, lembaganya bagaimana, sosialisinya bagaimana, kepatbatan berbagai pihak seperti apa, regulasinya pun harus diterapkan apa secara baik. Jadi seperti itu Bapak, Ibu sekalian. Terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu sekalian. ada kalau misalnya Bapak, Ibu sekalian pengin lihat beberapa tayangan video apa yang saya sampaikan itu Bapak Ibu sekalian ee bisa mampir ke channel YouTube saya Indonesia W Adventure gitu. Baik, tidak berlama-lama tapi ini cukup lama Bapak Ibu sekalian terima kasih atas perhatiannya ee mudah-mudahan bermanfaat bagi kita sekalian. Terima kasih e Mbak Nuha. Selanjutnya saya serahkan ke Mbak kembali. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Baik. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Itu tadi penyampaian materi dari pemateri kita yang luar biasa yaitu Bapak Dr. Sri Wahyono, S.Si., M.Si. Jika dilihat-lihat sudah banyak sekali pertanyaan dari Bapak Ibu peserta webinar. Tapi sebelum memasuki ke acara selanjutnya yaitu tanya jawab, saya ingin menginformasikan terlebih dahulu kepada Bapak Ibu peserta yang menginginkan materi webinar kita hari ini dapat request materi terlebih dahulu melalui link yang sudah admin kami kirimkan di kolom chat Zoom. Kemudian sebelum masuk ke sesi tanya jawab, kita akan melakukan sesi foto bersama terlebih dahulu. Untuk sesi foto bersama kali ini saya akan dibantu oleh admin kami. Baik, kepada admin waktu dan tempat dipersilakan. Terima kasih Mbak saya akses. Oke, bisa kita mulai dari slide pertama. 3 2 1. Slide berikutnya 3 2 1. Slide ketiga 3 2 1. Slide keempat 3 2 1. Dan slide terakhir 3 2 1. Baik, terima kasih. Ee saya kembalikan ke Mbak Baik. Terima kasih untuk admin yang telah membantu sesi foto bersama kita pada hari ini. Kemudian selanjutnya kami ingin meminta kesediaan Bapak Ibu peserta webinar untuk mengisi kuesioner yang linknya sudah ee admin kami kirimkan di kolom chat Zoom supaya kegiatan kami selanjutnya bisa lebih baik lagi. Untuk acara selanjutnya yaitu sesi tanya jawab yang di sini kami sudah membantu merangkumkan pertanyaan dari Bapak Ibu sekalian. telah Bapak, Ibu para peserta webinar sampaikan di kolom chat. Baik, untuk Bapak Sri membacakan pertanyaannya terlebih dahulu kemudian bisa diikuti oleh ee jawaban dari Bapak Sri. Baik, untuk nomor satu dari Ibu Dina Evalia. Pertanyaan nomor satu, menelaah teknologi yang ditetapkan benar-benar mencerminkan kondisi, potensi, dan budaya setempat. Bagaimana peran teknologi tepat guna dalam menjawab kebutuhan lokal masyarakat terkait pengelolaan sampah? Nomor dua, bagaimana keterjangkauan lokasi dan infrastruktur mendukung penerapan TTG secara merata di berbagai wilayah menyangkut aspek pemerataan dan aksesibilitas teknologi khususnya di daerah terpencil atau tertinggal. Kebijakan apa yang perlu diperkuat pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan dan penerapan TTG secara luas? Baik, silakan Bapak Sri dijawab pertanyaan dari Ibu Dina Evalia. Iya. Baik. Em ee sebentar ini video ya. Ini video saya bermasalah sebentar ee apa namanya? Enggak bisa saya nyalakan. Oke, saya saya close ini videonya ya, Bapak, Ibu sekalian. Karena ini ternyata enggak bisa nyala secara teknis. Enggak tahu ini. Ee ya ini saya mencoba mencerna ee pertanyaan Ibu Ibu ya mungkin ya Ibu Dina ya. Pertanyaan saya cerna dulu menelaah teknologi yang diterapkan benar-benar mencerminkan kondisi, potensi dan budaya setempat. Bagaimana peran teknologi tepat guna dalam menjawab kebutuhan lokal masyarakat terkait pengelolaan sampah? Seperti yang saya sampaikan, mudah-mudahan ee ee jawaban saya seperti yang dimaksud oleh Mbak Dina, kalau ee teknologi tepat guna ee dari sisi definisi memang itu harus menjawab kebutuhan lokal masyarakatnya. itu kemudian juga masyarakatnya juga mau menerimanya. Kemudian dari sisi finansial, pembiayaan, pengoperasiannya juga ee mampu dipenuhi oleh ee masyarakat lokal juga. Nah, seperti yang saya sampaikan tadi ee bahwa ada beberapa teknologi, banyak teknologi bahkan ya yang bisa ee diidentifikasi untuk kemudian diterapkan di tingkat keluarga, di tingkat kawasan, maupun di tingkat kota. Nah, kalau kita ee mau menelaahnya biasanya mana sih yang tepat gitu. Nah, ini dia biasanya memang harus kita kaji ee kalau dalam ee para periset itu ada yang namanya multiriteria eh decision analysis itu MCDA itu dilihat dari dimensi ekonominya, dilihat dari dimensi sosialnya. nya dilihat dari dimensi ee lingkungannya. Ini kebetulan saya orang lingkungan ya, belajar S3 saya ada di sana. Nah, dari situ pun nanti ada anakannya, ada atributnya, ada subkriterianya gitu. Nah, ee sebenarnya sih ee enggak harus seperti itu ya kita menelaahnya, tapi kalau mau saintifik seperti itu. Tetapi kalau dari sisi apa? feel heeling itu sebenarnya kita bisa langsung ke masyarakat saja divisi dengan masyarakatnya menyampaikan masalahnya apa, kita petakan bersama. Kemudian kita sepakati ee apa yang mau kita lakukan dengan teknologi apa itu ee biasanya akan lebih ee justru apa namanya mengena gitu. Tapi ee dari kacamata periset itu biasanya ada beberapa namanya ee keputusan yang diambil dari tadi ee dimensi lingkungan, dimensi ekonomi, dimensi sosial. Nah, itu yang pertanyaan pertama. Mudah-mudahan ee apa namanya yang dimakit oleh Bu Dina seperti itu. Nah, kemudian yang kedua ini juga saya mesti me melihat kembali pertanyaannya. Bagaimana keterjangkauan lokasi dan infrastruk infrastruktur mendukung penerapan TTG secara merata? Wah, ini merata di berbagai wilayah aspek yang menyangkut aspek pemerataan dan aksesibilitas teknologi. Nah, ini saya rada mengyutkan dahi ini. Kemudian melihat ee begitu luasnya ini. Kemudian khususnya di daerah terpencil. Wah, ini khusus daerah terpencil tertinggal lagi kan. Kemudian kebijakan apa yang perlu diperkuat pemerintah daerah ini? ini kelihatan pertanyaan yang yang lain lagi bukan anakannya di nomor dua ya untuk mendukung pengembangan penerapan teknologi ee secara luas ini kelihatannya ee Mbak Dina kalau saya melihatnya ini memang ee apa yang disampaikan oleh Mbak Dina ini memang dalam kacamata pengelolan sampah yang terpadu ya kalau yang saya sampaikan sebenarnya ee lebih berat ke arah yang dimensi fisiknya Bapak Ibu sekalian. dimensi gimana sih teknologinya, apa saja sih, proses seperti apa. Nah, kelihatannya yang disasar oleh Mbak Adina ini adalah memang yang dari tata kelolanya ya, mulai dari kemampuan fiskal daerahnya, ada enggak yang dianggarkan ke permodan seberapa besar, kemudian juga dari sisi perencanaannya, ada enggak sih perencanaan itu gitu ya? itu kan biasanya kalau dalam pelan sampah itu pun perlu ada ee perencanaan ee jangka pendek, menengah, panjang seperti itu. Kemudian dari sisi regulasinya seperti apa dan kemudian ee dari sisi peran antar stakeholder. Ini mohon maaf nih Mbak Dina, saya agak agak ee sulit menemukan kata-kata kunci yang mesti saya fokuskan itu. Kelihatannya memang ini ke arah tata kelolanya ya. Kemudian ee kemudian kebijakan apa yang perlu diperkuat gitu ya untuk mendukung perapan teknologi ini lagi-lagi adalah memang ya yang ini semuanya kalau kita ingin melakukan ee pengolan sampah yang yang terencana baik gitu ya, sistematis ini memang untuk sebuah daerah ya harus harus harus mempulai mempunyai road map gitu ya mempunyai master plan atau rencana induk ya seperti yang saya sampaikan tadi terkait dengan teknologi misalnya mau teknologi tempat guna apa yang diterapkan atau jangan-jangan ee juga untuk kota Metro misalnya itu adalah mau fokus di teknologi yang memang haech e dengan WTE misalnya dan sebagainya. Nah, kalau untuk daerah-daerah tertinggal tentunya dalam kacam mata saya ya itu yang memang harus benar-benar murah semurah murah semurah mungkin gitu. Kemudian gampang gampang pun gampang segampang mungkin dan materialnya juga gampang didapatkan di situ gitu. Itu yang yang perlu dikembangkan. Kemudian masyarakatnya pun mau menerima dengan cara ada banyak sosialisasi kemudian pelatihan-pelatihan itu. Itu seperti itu sih. Ee mudah-mudahan bisa menjawab yang disampaikan oleh Mbak Dina Evalia. Terima kasih Mbak Dina Evalia. Demikian Mbak Nuha. Baik untuk pertanyaan selanjutnya dari Ibu Rahma. Pertanyaan nomor satu. Di tengah keterbatasan ruang seperti kos-kosan dan kontrakan yang minim lahan, inovasi teknologi tepat guna seperti apa yang paling relevan untuk mendorong anak muda tetap bisa mengolah sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Nomor dua, apa bentuk teknologi tepat guna yang paling realistis dan terjangkau yang bisa dibangun oleh anak muda dengan anggaran minim, namun tetap memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya. Baik, Bapak silakan. untuk dijawab pertanyaan dari Ibu Rahma. Baik. Ee ini ee video saya sudah bisa aktif kembali ternyata. Baik. Ee ini dari katanya nih ee seorang mahasiswi kayaknya Mbak Rahma nih ya karena bicara tentang kos-kosan kemudian bicara tentang mahasiswa gitu ya. ini ee biasanya memang tempat kos terbatas atau kontrakan itu menumlahan. Nah, ee ini artinya kita Bapak Ibu sekalian kalau kita bicara ini artinya ini bicara tingkat keluarga di mana setiap setiap keluarga atau penghuni cost atau penghuni kontrakan itu bisa melakukannya. ee caranya sangat sederhana. Lagi-lagi adalah ini ee yang sulit adalah biasanya perubahan perilaku mau enggak kita gitu. Ee caranya paling mudah adalah ee pisahkan yang laku jual ini ilmunya teman-teman dari Bangah sampah yang laku jual gitu kan pisahkan kemudian kumpulkan itu. Setelah terkumpul silakan mau ee di bank sampahkan kan. Makkah atau di kumpulkan dalam ee gerakan sedekah sampah di berbagai rumah ibadah atau langsung kemudian diberikan pada para pemulung yang lewat atau petugas sampah yang yang menangani sampah yang yang mengumpulkan sampah kita itu sangat mudah. kumpulkan kemudian masukkan dalam wadah entah itu tas kresek besarkah atau karung bekas beras itu mudah kan Bapak Ibu sekalian ya Bu Mbah Rahma itu asal kita mau saja botol plastik kardus bekas apa namanya kertas-kertas yang bisa kita pakai buku-buku majoran ya seperti itu atau mungkin ee bekas mainan yang dari plastik program dan sebagainya itu kita kumpulkan itu setidaknya kalau dari rumah kita sekitar 30% gitu. 20 sampai 30% itu ada ada barang-barang itu. Kalau itu sudah terkurangi ya itu kan lumayan. Kemudian yang paling dominan adalah sampah makanan. Sampah makanan biasanya dari keluarga itu sekitar 50% dari totali sampah yang kita hasilkan. Gimana caranya? Ee caranya pun sangat mudah. Mau enggak kita saya kasih cara yang paling mudah gitu. Oh, tapi ini ini untuk kos-kosan mungkin ya. Kalau kos-kosannya punya apa ee sedikit apa halaman gitu ya, sedikit halaman kemudian ada tanah di situ bisa dibikin ee semacam lubang biopori atau ee lubang biopori yang kemudian di apa namanya? Di difungsikan untuk ngolah sampah makanan kita. Ada ada banyak variannya gitu. Ada banyak varian itu. Itu dengan cara itu itu sangat mudah. Sampah organik kita sama makanan kita tinggal dimasukkan ke dalam ee lubang semacam biopori gitu. Nanti dengan sendirinya akan jadi kompos. Nah, kemudian kalau kita mau agak agak agak agak berupaya dikit kita melakukan pengomposan sampah makanan itu mungkin ada sampah daun-daunan yang ada di situ dengan komposter. Nah, komposter itu memang ee ee ada tata cara pembuatannya gitu. Nah, tata cara pembuatannya pun sangat sederhana sebenarnya bisa dengan embet bekas ya dengan dengan pot bekas dan sebagainya. Itu pun bisa ditangani dengan ee apa namanya ee dengan cara dikomposkan dengan komposter. Ada juga yang kemudian oh selain kompos saya pengin juga produknya adalah pup cair. Nah itu pakai komposter ember tumpuk misalnya gitu. Dan kalau lebih advance lagi tapi ini enggak cocok untuk tingkat kos-kosan atau apa kontrakan adalah dengan di biogas kan karena ini alatnya instalasinya agak mahal. Paling yang yang bisa dilakukan itu adalah ee yang paling mudah adalah dengan cara ee menggunakannya semacam lubang biopori atau variannya gitu. itu paling mudah dan paling murah gitu. Kemudian kalau ee ee apa namanya yang agak agak agak punya upaya dikit adalah dengan dengan menggunakan komposter aerobik. Jadi kalau kita lihat levelnya ee menggunakan lubang bioris sama dengan komposer aerobik itu ee lebih murah yang dengan lubang biopori. Tetapi kalau tempat kos-kosannya mungkin tidak tersedia apa namanya ee lokasi yang ada tanah yang bisa kita bikin lubang bioporinya karena mungkin di situ ada di plaster semuanya. Saran saya adalah dengan komposter aerobik. saran saya. Ee kemudian bagaimana dengan komposer emper tumbuk? Perbandingan dengan komposer aerobik. Nah, kalau komposer tumbuk ee hati harap ee harus agak agak telaten dikit. Kalau kita meleng dikit bihnya akan timbul bau. Karena memang ee sampah yang diproses itu biya lebih apa namanya? Lebih lebih kadar airnya tinggi gitu. Karena di situ kita ingin pupuk cairnya. Kalau kadarnya enggak tinggi, kita enggak dapatkan pupuk cairnya. Pupuk cairnya itu sebenarnya ee itu bukan pupuk cair, tapi orang menyebutnya pupuk cair itu adalah air lindi sebenarnya. Di mana air lindi punya kandungan nutrisi yang ee lumayan tinggi untuk tanaman, maka disebut pupuk air. Tapi itu juga harus hati-hati karena itu biasanya kondisinya asam sehingga kalau kita makai pun itu harus diarkan terlebih dahulu. Nah, kalau kita gunakan komposter ember tumpuk biasanya problematikanya nanti ada ada sedikit bau, ada juga belatung gitu. Nah, kalau dengan komposter aerobik sih biasanya aman dari itu bau dan belatung itu aman. Kalau timbul bau dan belatung artinya komposter si aerobik itu ee ada masalah di dalamnya. Nah, kemudian ee itu mungkin yang saya bisa saya sampaikan. Iya, Mbak. Mbak Rahma ini sebenarnya ee ada beberapa semacam apa namanya publikasi atau petunjuk ee yang praktis terkait dengan bagaimana ngelola sampah secara sederhana dan menarik bagi anak-anak muda itu. Ee KLHK punya itu sebenarnya. Tapi eh saya pun sebenar punya eh Mbak Rahma misalnya kalau Mbak Rahma butuh nanti silakan eh apa namanya menghubungi saya ee langsung melalui Mbak Nuha misalnya itu ada beberapa cara yang bisa dipilih oleh Mbak Nuha ee teknologi pengolahan sampah yang basisnya adalah tingkat keluarga atau tingkat keos-kosan atau tingkat kontrakan itu bisa dipilih mana yang mau mau dilakukan. semuanya sederhana yang penting adalah mau enggak kita gitu. Demikian Mbak Rahma terima kasih. Silakan Mbak Nuha saya serahkan kembali. Baik, itu tadi jawaban untuk pertanyaan Mbak Rahma. Selanjutnya untuk pertanyaan dari Bapak Syarifudin nomor satu, elemen elemen struktural budaya dan ekonomi apa yang menjadi hambatan utama adopsi teknologi tepat guna oleh masyarakat lokal? Yang kedua, strategi apa yang telah atau dapat diterapkan untuk meningkatkan keterlibatan dan penerimaan masyarakat terhadap teknologi ini, terutama di wilayah yang dicirikan oleh tingkat pendidikan dan kesadaran lingkungannya yang berbeda. Nomor tiga, bagaimana kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan dari penerapan teknologi RDF di kabupaten atau kota di Indonesia berdasarkan studi kasus yang ada serta sejauh mana penerapan tersebut dapat dijalankan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan dampak sosial, regulasi, infrastruktur, dan partisipasi masyarakat. Baik, Bapak silakan untuk dijawab pertanyaan dari Bapak. Baik. Ee Mbak Nuha nih saya coba juga nih pertanyaannya gitu dari Pak Safrudin. Terima kasih. Ee yang pertama adalah elemen struktural, strukturstruktur mungkin ya maksudnya ya. Kemudian budaya di budaya sosial dan ekonomi yang menjadi hambatan utama adopsi teknologi tepat guna oleh masyarakat lokal. Ini pertanyaannya berat nih. Saya menjawabnya ee berat juga nih ya. Ee ini kan kalau kita lihat tadi ee bahwa ada beberapa aspek atau orang menyebutnya dimensi gitu ya. Ada dimensi ekonomi, kemudian dimensi sosial atau budaya ya. Kemudian juga ada dimensi lingkungan. Kemudian di sini juga dimasukkan dimensi apa struktural. Dalam hal ini mungkin kelembagaan ya, struktur masyarakat. satu itu. Nah, ini kan ee seandainya ini ee adalah nanti ada masalah lokal dengan lokasi spesifik gitu ya. Ini memang kalau dikaji mendalam ya dari berbagai hal itu gitu. cuma ada cara yang yang pendekatan yang mungkin lebih enggak terlampau apa namanya ee rumit gitu ya. Ee biasanya kita lakukan mapping sih ya mapping bersama-sama dengan masyarakat di situ juga gitu ya. Matat lokal itu mapping permasalahan apa yang diracakan oleh masyarakat terkait dengan sampah itu ya. Nah, kalau kemudian ternyata sampah dianggap belum jadi masalah di lokasi itu juga kita akan sulit masuk ke dunia itu gitu. Ee ada pengalaman teman misalnya di dulu di Jakarta Utara ya ketika mau melakukan program sampah ee kemudian diisi dengan masyarakat lokal di sana. Ternyata sebenarnya kebutuhan masyarakat lokal yang dirasakan oleh masyarakat setempat pada saat itu bukan sampahnya pada saat itu. Ee ternyata kebutuhannya adalah misalnya saluran apa air limbah ya selokan, kemudian tempat BAB gitu yang yang saat itu menjadi masalah di sana yang dirasakan. Nah, kemudian kalau kita paksakan kemudian sampah masuk langsungak enggak bisa juga kita harus masuk ke dunia itu dulu. misalnya pembuatan saluran air apa air comberan yang baik, kemudian ee toilet yang baik gitu ya. Baru kemudian mereka itu melakukan kegiatan itu. Oh, ini sampah ini bermasalah loh. Ee selokanmu kalau kemasukan sampah juga bermasalah akan banjir dan sebagainya. Makanya harus ditangani gitu. Nah, setelah ditangani ee ternyata ee ini tempatmu hijau nih. Kita rasakan masih gersang ya. ayo kita tanam tanaman bersama-sama. Nah, itu kan butuh kompos dan sebagainya. Nah, kompos dari pengomposan sampah dan itu bisa digunakan. Jadi ee ini teman-teman sosial ini sebenarnya yang paling jago apa me merancang hal ini ya yang biasanya mesti ketemu masyarakatnya dengan langsung memetakan apa kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Kemudian secara partisipatif juga masyarakat diajak untuk kemudian diskusi. Ayo kita selesaikan bersama-sama. Kemudian ayo kita bikin regulasi yang sifatnya lokal dan sebagainya gitu ya. Nah, itu yang mungkin kalau kita ee pandang dari sisi apa saya periset juga ya. itu dari sisi strukturalnya, budayanya, ekonominya seperti itu. Kemudian yang yang dua strategi apa yang telah atau dapat diterapkan apa yang telah atau dapat diterapkan untuk meningkatkan keterlibatan dan penerimaan penerimaan masyarakat terhadap teknologi ini. Terutama di wilayah yang dicirikan oleh tingkat pendidikan dan kesadaran lingkungan yang berbeda-beda. Ya, artinya itu sebenarnya hampir sama dengan yang pertama ya. Jadi ee mungkin sebagian sudah terja oleh yang pertanyaan yang pertama gitu. Kemudian yang ketiga, bagaimana kelayakan teknis? Nah, ini masuk teknis, ekonomi, lingkungan dari penerapan teknologi RDF review drive fuel di kabupaten, ee kota di Indonesia. berdasarkan studi kasus yang ada bagaimana nih ya serta sejauh mana penerapan tersebut dapat dijalankan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan wah lagi ini dampak sosial regulasi straturah dan partisipasi masyarakat ya Bapak dan Ibu sekalian saat ini memang ee RDF revive drive field sampah ee yang kemudian ditingkatkan nilai kalornya nya. Kemudian juga dari ukurannya juga diseragamkan dengan cara dicacat menjadi ukuran tertentu itu memang sekarang menjadi begitu populer di di banyak daerah gitu. di banyak daerah karena memang ee secara teknis juga tidak sulit ya, tidak sulit itu biasanya kalau secara biodriing seperti yang saya sampaikan tadi ee kemudian ada proses pencacahan kemudian juga ada yang melakukan tidak dengan eh proses biodrying tetapi dengan thermal dryer ya dengan alat pemanas hingga lebih kering lagi. Dan tentunya juga tetap harus ada pencacahan karena ukurannya juga aris tertentu. Mempunyai kualitas tertentu, kadar airnya sekian, kemudian ee nilai kalornya sekian, kemudian ukurannya sekian, kemudian jenis-jenisnya pun tidak boleh istilahnya nanti harus ada ee material yang tidak kita inginkan gitu. Nah, dari berbagai pengalaman Bapak dan Ibu sekalian di daerah itu tentunya ini bisa menjadi best practiceis kita, menjadi apa namanya juga pembelajaran kita ee bahwa ketika ketika ngolah sampah dari yang sampah tidak dikelola kemudian kita buang begitu saja dibandingkan biayanya dengan ketika kita harus me membuat RDF itu juga berbiaya. Nah, pembiayaannya itu ee juga tergantung teknologi yang digunakan. Katakanlah tipikalnya itu untuk RDF mungkin butuh ee sekitar Rp300.000 ya per ton RDF. Katakanlah seperti itu tipikalnya. Artinya ee ketika kita memproduksi itu ya kita membutuhkan biaya seperti sebesar itu. Nah, kemudian ee biayanya dari mana? Kalau dari retribusi masyarakat kan masih belum banyak menolong karena sulit mengumpulkannya. Kemudian dari anggaran daerah juga kan terbatas saat ini umumnya seperti itu kan. Maka kemudian harapannya dari pembelinya itu yang kemudian memberikan apa ee sejumlah ee uang yang kemudian bisa untuk biaya operasi dan sedikit keuntungan yang ada di dalamnya. Jadi eh prinsipnya ini offckernya offckernya juga harus harus harus definitif gitu. harus definitif dari awal sudah harus ada perbandingan dengan offakernya gitu. Kemudian pertalanan harga. Nah, kemudian juga dari sisi kualitas juga bagi daerah yang memproduksi RDF itu juga harus memenuhi ee kualitas yang diminta oleh gitu. Nah, dalam pengalamannya di beberapa daerah itu terjadi ee apa namanya? Hal-hal yang memang ee tidak ideal gitu. Pertama, ternyata dari sisi kualitas RDF-nya itu kadang enggak sesuai dengan yang diminta oftteraker kata industri semen gitu. Kadar airnya kadang naik turun, cuman ukurannya pun ee masih terlampau besar misalnya. Kemudian untuk transportasinya pun juga ee tidak diberhitungan dengan baik misalnya ya karena transportasi RDF itu kan RF itu Balki ya butuh apa alat angkut yang lumayan besar volumeus gitu ya misalnya untuk kasus kasus Banyemas misalnya untuk ngangkut RDF yang notabumas itu dekat ee SBI barisemen di Cilacap yang mungkin sekitar 40 kiloan itu butuh sekitar Rp100.000 R.000 per ton RDF yang harus ee dijual di sana gitu. Nah, itu kan ee berat juga. Apalagi misalnya Jogja, Jogja mau menjual RDF-nya katakan di Cilacap tuh tambah jauh lagi gitu ya. Ee jadi dari sisi kualitas, kemudian dari sisi apa namanya? Jarak yang seperti saya sampaikan, kemudian dari sisi oftakernya itu ee apa namanya? punya komitmen enggak untuk memilihnya gitu. Jadi ee dari sisi pemdanya juga ee memproduksi RDF yang baik atau apa namanya investornya ya sesuai dengan kriteria. Kemudian dari sisi oftakernya juga memang sudah definitif gitu dan harganya juga sudah ditentukan. Tetapi memang dalam perjalanannya itu yang terjadi adalah ee ternyata akhirnya gitu ya ee karena berbagai hal itu yang diproduksi oleh daerah itu kemudian numpuk numpuk di TPS3R-nya, numpuk di TPA-nya ya karena tidak terserap ee karena sampah kan terus terproduksi gitu ya. Devun terus ada gitu ya, tapi tidak terserak oleh pasar dengan numpuk. Akhirnya apa yang terjadi? Ini yang banyak dialami di berbagai daerah. Akhirnya pakai jurus dewa maok daripada TPS3R-nya penuh, daripada TPA penuh. Ya udah deh akhirnya pakai ee disikat aja dengan tunggu-tunggu bakar yang nota bene ee di banyak sisi itu tidak memenuhi kriteria teknis pembakaran sampah gitu. Itu itu yang yang terjadi gitu. Ee demikian ee Pak Safrudi terkait dengan pertanyaan Bapak ee 1 2 dan 3. Mudah-mudahan ee sesuai dengan apa yang di oleh Bapak jawaban dari saya. Terima kasih. Silakan Mbak Nuha. Baik, pertanyaan selanjutnya dari Ibu Kartika. Bagaimana komposisi kandungan unsur hara pada kompos dan pupuk cair yang berasal dari sampah kota? Baik, Bapak silakan dijawab. Baik. Eh, Bu Kartika nih, kolega saya juga nih, Bu Kartika. Baik. Eh, komposisi kandungan zurhara pada kompos dan pupuk cair yang berasal dari sampah kota. sampah kota ketika dikomposkan kemudian ee di dalamnya tidak hanya mengandung sampah organik ee tidak hanya ee mengandung sampah organik, tetapi di dalamnya ada sampah-sampah yang lainnya yang masih bercampur itu ketika dikomposkan atau ketika dibuat pupuk cair itu saya jamin ee produk komposnya enggak akan bergoles baik. Ketika dibikin pupuk cairnya pun demikian juga ya. Ini kebetulan dua-duanya kan kalau kompos adalah sifatnya adalah biologis juga fermentatif ya aerobiknya. Nah, pupuk cair itu juga biasanya biologis juga dilakukan oleh mikroorganisme. Ee ada yang menggunakan cara aerobik. Ada yang juga dengan anaerobik tanpa udara gitu. Nah, kalau bahan bakunya sudah mengandung ee material atau senyawa yang tidak dikehendaki dalam produk onkos adalah produk kelut cair. Misalnya tuh ee serpian-serpian plastik misalnya atau sekarang disebut sebagai mikroplastik gitu ya. Kemudian mungkin di situ ada baterai bekas gitu ya, nyampur-nyampur. Di situ kan kalau baterai bekas tergantung jenis baterainya. Mungkin mengandung merkuri, mungkin mengandung logam yang lainnya. Kemudian juga mungkin ada sisa-sisa pestisida rumah tangga ya, misalnya penyemprot namama ee serangga di rumah nyampur-nyampur itu tentu akan mengandung kandungan pestid yang tinggi juga. sehingga ee intinya kalau inputnya bermasalah, banyak pengotornya, banyak yang potensial di polutannya, ketika kita mengkomposkannya, ketika kita memproduksi menjadi pupuk cair, kompos dan pupuk cair yang dihasilkan akan memiliki masalah itu, gitu. dari pengalaman kami itu seperti itu. Sehingga kalau kita mau melakukan kegiatan pengomposan, kegiatan pembuatan bubuk cair, maka harus kita merasa yakin betul bahwa sampah itu tidak tidak tercampur dengan tunda yang lainnya, dengan sampah yang lainnya. Artinya apa? Sampah itu harus dipilah. Artinya apa sampah itu harus dipilah? sampah itu akan lebih ideal kalau sampah terpilah dari sumbernya. Kalau kita mau mengomposkan atau membawa kebuk air harus terpilah gitu. Kalau enggak itu ee akibatnya. Kemudian ee kan sekarang ada kegiatan land mining juga ya dari TPA di mining ya digali ya. Kemudian di situ di ada proses mekanikal dengan cara diayak. kita dapatkan produk komposnya, kita dapatkan produk kasar, material batu dan sebagainya, kita dapatkan produk yang seperti apa? Sampah-sampah plastik yang bisa menjadi RDF gitu ya. Nah, dalam line fil mining juga kita dapatkan material seperti kompos juga. Nah, ini menjadi petunjuk nyata karena dari hasil riset kita yang namanya kompos mat seperti kompos dari landfil mining itu dari pengalian TPA yang kemudian diayak dan sebagainya kita dapat produk kompos katakan kita sebut produk kompos saja ya. Nah, itu juga kandungan kandungan beberapa material apa ee logam berat, unsur logam berat itu di atas ambang batas itu. Jadi memang ee produk kualitas kompos maupun pupuk Cir bisa kita kendalikan kualitasnya kalau memang bahan bakunya juga ee terkendalikan gitu. Demikian ee Bu Ktika, demikian Mbak Nuha. Baik, untuk pertanyaan selanjutnya dari Ibu Meiana nomor satu. Terkait air lindi yang dihasilkan dari sampah yang tercampur apakah berbahaya? Padahal hasil dari kompos sendiri dari air lindi yang bisa disebut pupuk cair yang bermanfaat bagi tumbuhan bisa dijelaskan manfaat atau pencemarannya. Nomor dua, bagaimana solusi TTG untuk menangani limbah batang pohon yang tidak bisa dimanfaatkan sebagai furnitur? Dan yang terakhir dari semua TTG mana yang bisa dikembangkan baik dari skala rumah tangga maupun industri. Baik, Bapak silakan. Baik, terima kasih eh Ibu Mei Diana Nababan. pertama terkait air lindi dari sampah yang tercampur apakah bahayanya? Ya, seperti yang saya sampaikan tadi ke Buartu juga bahwa ketika kita mengkomposkan kalau bahannya tercampur maka produk komposnya atau pupuk cairnya juga akan terkontaminasi itu gitu ya. Demikian juga seandainya di sampahnya ee di dalamnya ada material-material yang tidak dikehendaki misalnya di situ logam beratkah ya, kemudian yang lainnya senyawa mungkin senyawa kimia tertentu yang berbahaya maka ee air lindinnya pun demikian. Karena air lindik kan sebenarnya ee air ee yang berhasil dari sampah yang yang ada itu gitu. Kalau sampahnya tercampur dengan berbagai material yang memang mencemari nanti air lindinnya itu pun akan mengandung itu gitu. Jadi ee kalau air ini kan memang air yang keluar dari sampah itu atau mungkin ee dari ada air yang ditambahkan atau air hujan itu kemudian semacam ada licing ya, ada pencucian terhadap material padat itu di mana material sampah yang padat itu mengandung material yang berbahaya sehingga air dindinginnya pun tentu akan mengandung itu. Nah, kemudian ee padahal hasil dari komposer sendiri kan air lindi yang bisa disebut pupuk cair yang bermanfaat bagi tumbuhan ee oh ini maksudnya air lindi yang itu ya dari komposter mungkin ya. Jadi kalau kita ee ingin ini sama seperti tadi, kalau kita ingin bikin pupuk cair, maka sampahnya ya jangan nyampur dengan yang lain. Sampah organiknya itu sampah makanan saja gitu atau sampah organik yang lain. Mungkin termasuk sampah dedaunan juga tidak nyampur dengan ee sampah-sampah yang lainnya. Memang kalau kita ingin bikin bubuk cek kan memang ee materialnya memang harus spesifik memang berasal dari sampah organik. Lagi-lagi kalau tercampur dengan yang lainnya maka pupuknya itu pun mengandung material yang tidak kita inginkan. Nah, kemudian ee tentu akan juga akan berbahaya bagi bagi pertanian kalau kita gunakan ee pupuk cair yang kemudian mengandung logam berat misalnya. Ee nah kalau biasanya si kalau air lindi dari apa namanya kompostor ember tumbuk misalnya itu yang yang perlu kita perhatikan itu sih sebenarnya ee keasamannya gitu. Kalau terkait dengan kandungan-kandungan yang berbahaya minalam berat dan sebagainya itu sih biasanya enggak karena karena yang kita gunakan kan sampah makanan ya yang tidak tercemari itu lebih hanya keasaman karena memang prosesnya itu memang khas banget proses biokimia yang yang airnya air lindingnya itu memang ee pH-nya pH-nya sekitar ee di bawah 6 gitu sampai tiga atau empat asam itu artinya artinya asam. Nah, kalau airnya kemudian kita siramkan langsung ke tanaman itu biasanya tanamannya akan terganggu pertumbuhannya gitu karena terlampau asam. Maka penggunaannya biasanya pupuk organik cair ee dari apa yang istilah umumnya itu yang sebenarnya itu adalah itu harus diencerkan dulu. Diarkan dulu ya katakanlah paling setidaknya 1 banding 10 dululah kita 1 banding 10. bisa 1 banding 20 misalnya sehingga nanti terencekan sehingga kasamanya itu akan akan tereliminir gitu sehingga aman bagi tanaman. Saya menggunakan itu di rumah aman gitu. Kemudian yang kedua bagaimana solusi TTG untuk menangani limbah batang yang tidak bisa dimanfaatkan sebagai furniture. Nah, ini mungkin dari ini ya dari pembuatan furniture itu ee ada serpihan-serpihan kayunya gitu ya. Nah, kalau ini kan batangnya bukan serbuk gegajinya mungkin ya. Nah, kalau ee batangnya atau ee kayunya seandainya kayunya itu ee belum melalui proses pengawetan yang kadang ditambahkan kimia ketika pengawetannya itu biasanya sih kalau kita gunakan untuk ee kebutuhan apa mulsa itu akan aman gitu. Nah, seandainya itu yang kondisinya seperti itu ee mungkin praktik pemanfaatannya bisa dioping itu ada alat chopping semacam alat pencacah ee ranting gitu atau kayu yang kemudian dijadikan mulsa. Jadi serpian-serpilan kayu yang kemudian ee bisa untuk menutup ee tanah ee lahan pertanian gitu. B kan ada mulsa untuk mencegah pertumbuhan rumput misalnya. Nah, ee di kita ee praktik seperti ini masih sangat jarang. Tetapi kalau kita lihat di berbagai negara misalnya sempat saya kunjungi ya di berbagai negara di Eropa maupun yang lainnya itu ee kayu, ranting dan sebagainya ini juga mirip sama ini dicoping dengan alat alat alat alatalat choper ranting atau kayu yang kemudian nanti produknya serpian-serian kecil yang kemudian itu jadi mulsa. Kadang mereka jual juga di di ini secara komersial. Kadang mereka warnai juga dengan pewarna alamnya ya. Ada yang warna coklat, ada yang kekuningan dan sebagainya sehingga menarik. Jadi bisa mungkin dijadikan mulsa atau juga sebenarnya ini juga bisa dijadikan banyak hal sih Ibu Bapak sekalian. Ini bisa juga dari bio apa biocar ya dengan cara diarangkan gitu ya. diarankan itu menjadi pupuk yang sangat baik juga untuk tanaman. Atau potensi lainnya misalnya dijadikan semacam particle board misalnya ya dengan dicoping tadi dijadikan semacam papan ya. Jadi potensinya sih banyak gitu ya. ee cuma ya itu tadi ee ketika kita melihat ee pangsa pasarnya apakah itu nanti ee baik apa enggak ya kelayakannya itu kalau kalau potensinya seperti itu bisa jadi mulser, bisa jadi eh arang ya biochar bisa jadi particle boat ada atau cara riset juga ada yang mengubahnya menjadi menjadi apa namanya difermentasi menjadi ee apa semacam etanol gitu ada juga ya seperti itu. Oke, banyak sih potensinya, cuma ee ketika ee kita melihat ee nilai pasarnya apakah layak apa enggak, itu yang harus digali. Kemudian yang ketiga dari semua TTG mana yang bisa dikembangkan baik dari skala rumah tangga maupun. Nah, itu mungkin nanti dijawab sendiri oleh Bu Yudiana ya. Karena tetik itu banyak banget tadi. Mana yang mau dikembangkan ee di rumah tangga misalnya itu seperti yang jawaban saya pada jawaban pertanyaan-pertanyaan sebelumnya misalnya ee mau dilakukan di sebuah lokasi yang spesifik misalnya ya memang harus kita lakukan secara partisipatif dengan masyarakat setempatnya gitu. Demikian eh Bu Meana semoga e jawaban seperti yang diinginkan. Ini ada lagi ya Mbak Mbak Nuha ya. Silakan Mbak Nuh. Untuk pertanyaan selanjutnya dari Ibu Nita. Untuk pengolahan pengolahan sampah organik dengan mangkat apakah bisa dikerjakan di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit? Oke Bu Nita. Ee Bu Nita mungkin bekerja di rumah sakit nih ya. Magot. bisa aja gitu. Aman kok gitu aman kok. Iya. Cuma lagi-lagi kan ee apa namanya? Harus terencana dengan baik kat di rumah sakit gitu ya. Ini di fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit ini kan sampah yang termasuk sampah domestik itu apa saja gitu ya. Kemudian sampah yang termasuk sampah yang berbahaya, infeksius, B3 dan sebagainya itu pertama itu harus terpisahkan dulu gitu. Harus terpisahkan dulu. ee jangan campuri sampah-sampah domestik yang nota benar bukan B3 tidakvisi itu tercampuri. Itu itu yang pertama. Nah, kemudian kalaupun kemudian nanti kan mungkin ada apa namanya sampah sisa makanan entah itu dari pasien yang tidak habis dimakan atau dari dapurnya sendiri itu kemudian ee ditangani dengan ee katakanlah mau budidaya magot ya sangat bisa gitu aman itu kok. Yang penting di situ ada lokasinya ya. Kemudian ya terencanalah mulai dari perencanaannya, pengoperasiannya dan nanti produknya untuk apa itu harus direncanakan dulu. Nah, kalau kemudian itu sudah makanya tinggal tinggal laksanakan saja gitu. Ee aman gitu enggak enggak enggak enggak enggak apa namanya enggak berdampak buruk bagi kesehatan atau kebersihan lingkungan di rumah sakit. Bisa juga nih sampah makanan misalnya ee di rumah sakit itu katakanlah dibikin biogas juga bisa ya, bisa juga kemudian ee dibikin kompos juga bisa. Jadi ada banyak alternatif sehingga nanti mungkin bagi P kegiatan itu bisa memilih mana yang mau mau dilakukan. Dilihat dari kemudahan, dilihat dari biaya, dilihat dari tenaga kerja yang diperlukan. Ya, seperti itu. Demikian, Bu Nita. Eh, Mbak Nuha silakan. Baik, untuk pertanyaan selanjutnya dari Ibu Suhartini. Bagaimana pengolaan sampah daun dan rontokan buah dari pekarangan yang praktis? Biaya murah walau relatif cepat selama ini hanya dimaksud dimasukkan ke kubangan, penuh ditutup, ganti kubangun setelahnya dan hal tersebut lama hancurnya. Baik, Bapak silakan. Iya. Jadi terima kasih Bu Hartini. Jadi sampah daun biasanya sampah daun yang rontok itu kan ada warnanya coklat ya. Ee itu menunjukkan bahwa kandungan C-nya tinggi, N-nya rendah. Nah, padahal proses pengomposan itu biasanya perlu ee rasio karbon dan nitrikon yang yang yang imbang itu biasanya diangkat setar 30 g. Sedangkan kalau sampah daun kering aja itu biasanya di atas 100 gitu. Jadi jauh dari apa? nilai nilai ideal ee rasio karbon dan nitrogia. Nah, maka kemudian ee proses pengompostingnya yang betulan pun biasanya lama gitu. Ee biasanya kalau zaman dulu itu kan dimasukkan ke dalam jugangan kata orang Jawa itu ya. Kalau kemudian ada juga model-model ee apa namanya varian jugangan yang baru misalnya model tebak yang ada di Bali ya. Kemudian di mana? Di daerah Jogja juga dikembangkan itu ya ee apa namanya pengomposkan sampah organik daun, sisa makanan dengan cara ee ditimbun ya dalam sebuah bak di dalam tanah itu. Baik bak itu berupa gelan tanpa dinding maupun diberi dinding biar lebih rapi lagi gitu ya. Ee itu memang akan lama gitu. itu memang alamnya seperti itu. Nah, kalau ingin mempercepatnya, kalau ingin mempercepatnya biasanya memang harus ada upaya gitu. Ee misalnya ketika kita mengkomposkan sampah daun itu setidaknya ada yang warna hijaunya ada yang warna coklatnya yang kita kompeskan itu kan tersedia ya perlu penambahan warna daun yang masih hijau gitu 1 banding 1 gitu. Gampangnya seperti itu. Nah, sehingga nanti rasio karbon dan nitrogennya itu lebih lebih mendekati ideal gitu. Karena kan rasio karbon dan nitrogen itu penting untuk pertumbuhan mikroba. Nah, mikroba yang bisa hidup nyaman di dalam proses pengomposan adalah yang ee harus terpenuhi kandungan karbon dan nitrogennya yang yang ideal gitu, yang seimbang. Kalau daun kering aja itu enggak seimbang gitu. Ibarat kita hanya dikasih nasi saja, lauknya enggak dikasih gitu. Ibarat kita gitu berseimbang. Nah, kemudian yang kedua dari sisi proses. Kalau zaman dulu atau sistem juga kan ee si daun itu tinggal ditimbun saja kan kemudian ditutup setahun kemudian baru kita panen. Nah, kalau yang model ee pengomposan istilahnya pengomposan kekinian itu ada upaya juga biasanya seminggu sekali diaduk ya dibongkar ya. Kemudian kalau terlampau kering juga harus disiram juga sehingga harus ada lembab. Kemudian harus ada tadi ee dibongkar atau diaduk itu dalam rangka proses aerasi untuk pengudaraan. Nah, itu biasanya kalau kita mengumpaskan sampah daun seperti itu dalam ee 6 sampai 8 pekan itu sudah jadi dari pengalaman kami gitu Ibu Suhatini ya. kami biasanya melakukan pengemasan sampah daun dengan sistem B maupun sistem wro itu seperti itu. Eh, sekitar en en pekan sudah jadi enggak harus 1 tahun itu. Jadi dengan cara dikendalikan kelembabannya kemudian juga harus diaduk sepekan sekali gitu memang perlu upaya itu. Nah, kemudian kalau ee inputnya kebanyakan daftarin, kita tambahkan juga potongan-potongan rumput itu sehingga ada hijunya itu. Demikian Bu Jatini eh terkait dengan pengumosan sampak daun seara sederhana seperti itulah kira-kira sedang cara mendalamnya mungkin bisa kita komunikasi pribadi. Demikian Mbak Nua. Baik. Eh baik Bapak eh saat ini juga banyak dari peserta webinar yang sudah raise hand ya. Jadi mungkin bisa saja untuk peserta yang sudah hand bisa menanyakan pertanyaannya. Baik, di sini ada Ibu Maria. Baik, Ibu Maria boleh ee on mic ya untuk memberikan pertanyaannya. I terima kasih. Ya, sudah terdengar sudah. Sudah. Baik, terima kasih. Luar biasa, Pak Siri Wahyono ya untuk materinya dan ilmunya ee insyaallah sangat bermanfaat sekali gitu. Dan kebetulan ini momennya sangat pas buat saya gitu. Karena kemarin saya eh sempat lihat IG milik Brin gitu ya ee terkait teknologi terbarukan dari Brin. M salah satunya itu yaitu adalah petas gitu. Nah, ini pas sekali gitu. Memang saya ingin tahu lebih detail gitu kayak pirolisis gitu. tu. Nah, yang ingin saya tanyakan itu em dia menghasilkan em BBM ee yang setara dengan Pertalight begitu. Nah, berarti ini di sini dia tidak ada gitu atau MTBE ee atau gim Pak berarti itu sudah dipakai atau seperti apa untuk gitu kan di ee katalog LKPP gitu eh nya ini ya lembaga intinya untuk inilah ee pengadaan gitu saya halnya ee kapasitas yang lebih kecil lagi di daerah gitu maksudnya di lingkup terkecil semisal di TPS3R gitu itu bisa kita gunakan seperti itu. karena ee setidaknya kita ee buat inilah TPS3R percontohan. Terus ee untuk pertanyaan yang kedua ee sebenarnya saya ini ya, Pak ya untuk komposter itu komposting gitu ee untuk ee proses komposting itu ee menurut saya ee agak ini ya apa sudah agak tidak banyak dipakai oleh ini gitu apa oleh ini ya ee oleh ee pemerintah gitu. dalam menangani ini dalam menangani ee sampah organik. Karena apa? Karena memang ee dia dalam pengolahannya masih menghasilkan gas metan yang mana itu ee juga salah satu ini ya apa penyumbang ee terbesar dengan GWP yang cukup tinggi dibandingkan CO2 ee bagi ee ini eeem ee GRK gitu kan. Nah, ee jadi ee menurut saya BSF lah yang memang cocok untuk ee kita gunakan sebagai teknologi tepat guna di tingkat tapak. Cuman Pak ee masalahnya gitu ee saya lihat gitu kan. Nah, untuk BSF ini kalau di tingkat ee rumah skala rumah tangga gitu kan, apakah akan ini ya apa apakah akan efektif begitu? Apakah ee solusi dari Bapak seperti apa agar ee di tingkat rumah tangga yang bisa dilakukan oleh skala individu begitu itu bisa kita terapkan? Kalau saya lihat-lihat gitu kan sudah cari-cari gitu kan informasinya. Oh, bisa nih teknologi urban farming bisa tapi itu kan skala yang cukup besar Pak. Nah, kalau kita terapkan di skala individu itu apa gitu apakah bisa gitu. Jadi ee per rumah misalkan per rumah harus itu bisa gak gitu seperti itu gitu. Terus ee pertanyaan yang ketiga ee sudah sih itu saja sih Pak itu mungkin ini Pak apa itu ee prospek ee ekonominya seperti apa gitu. Apakah nanti meskipun perorangan bisa nanti ee BSF ini kita olah untuk pakan ternak gitu ya. Mungkin ee itu saja pertanyaan dari saya. Selain pakan ternak apa gitu, Pak? Gitu. Ya, mungkin itu saja. Terima kasih banyak atas perhatiannya Bapak. Ee wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Gimana Mbak Nuha? Jawab langsungkah? Masih mute tuh, Mbak Nuha. Baik, Pak. Silakan untuk dijawab pertanyaan dari Maria. Baik, Maria. ya ee memang ee setahu saya Brain juga ada teknologi tepat guna ee yang memanfaatkan sampah plastik menjadi ee BBN. Ee itu dilakukan oleh pusat riset, salah satu pusat riset yang ada di Brin, Mbak Maria. ee saya tidak terlibat di dalam saya di pusat riset lingkungan dan teknologi bersih. Kalau yang itu kayaknya dilakukan oleh pusat riset yang terkait dengan apa namanya daur hidup gitu yang kemudian ada di banjarnegara dan sebagainya. Ee terkait dengan teknologi itu, teknologi itu sebenarnya sudah berkembang cukup lama, cukup lama ee di dunia persampahan gitu ya. Ya, di mana ee prosesnya adalah virolisis. Jadi sampah plastik itu kemudian dipanaskan dari luar sehingga terjadi pecahan pecahan material molekul yang ada di sana yang kemudian ee menjadi monomer katakanlah dari polimer menjadi monomer sehingga ee monomer itu kemulai bisa dipanen gitu ya dengan cara didestilasi dari beberapa jenis plastik itu nanti bisa didapatkan monomernya gitu. Nah, kemudian beberapa jenis plastik memang ee menghasilkan ee minyak gitu ya. Ada yang sekualitas bensin, sekualitas solar, kemudian juga sekualitas minyak tanah gitu. Ee ada juga yang sudah ee palet project yang cukup besar. Kalau yang dari BRIN itu saya lupa kapasitasnya. ada di Mataran juga dikembangkan juga cukup besar. Kemudian di beberapa ee teman-teman dari ee industri yang mengembangkan diri persamaan juga mengembangkan itu. Kemudian kalau di luar negeri itu juga proteknya cukup besar gitu ya. Misalnya di Spanyol, kemudian di di Inggris. Ee saya pernah kebetulan pernah ke sana ke fasilitas itu ee ujung-ujungnya memang ee pertama adalah ee pasarnya. pasarnya ada apa enggak. Karena ee kualitas dari hasil ee pirolisis itu minyaknya kadang ee sangat dipengaruhi oleh proses dan bahan bakunya. Kalau bahan bakunya kotor, kemudian kalau bahan bakunya masih nyampur dari berbagai jenis plastik yang ada, tidak single ee jenisnya tidak tunggal, itu juga akan bermasalah juga gitu. Kemudian ee dari sisi e net energinya itu kan biasanya untuk membuat BBM dari praktik itu perlu energi biasanya perlu pemanasan. Kadang teman-teman pakai pakai gas LPG ya itu kadang enggak enggak masuk dari dari keseimbingan energinya enggak masuk. Maka kemudian yang dilakukan adalah misalnya dari sampah sampah-sampah yang lain misalnya sampah kayu gitu ya. Itu sebagai pemanasnya. Saya enggak merekomendkan sampah plastik yang lain untuk jadi pemanasan. Enggak. Itu karena bakar-bakar sampah. Artinya itu sampah kayu mungkin masih masih bisa diterim lah gitu ya. Ee jadi seandainya itu akan dilakukan itu memang perlu perlu dari kualitas ee sampah plastik awalnya itu mesti juga jenisnya itu tertentu dan harus bersih gitu ya. Nah, kemudian nanti pemanasnya pakai apa gitu. Nah, kemudian nanti penggunaannya juga harus harus ini harus harus harus sudah didefinisikan gitu ya. Katakanlah mungkin apa ee ee nelayan yang menggunakan promotor gitu atau kemudian beberapa alat pertanian. Tapi itu pun saya pikir sih harus hati-hati juga ya karena tidak serta-merta ee kualitas dari BBM yang dihasilkan itu ee apa namanya stabil gitu ya. stabil. Stabil dalam hal dalam arti bahwa ee itu kualitasnya baik terus ya terjaga ee dan biasanya juga kualitas dari minyak yang dihasilkan itu itu juga secara struktur kimianya juga itu sebenarnya mudah pecah gitu dari seperti itu. Maka di luar negeri pun sampai saat ini belum ada yang melakukan itu untuk skala komersial yang digunakan untuk mesin-mesin yang memang yang belum ada gitu. Hanya di kita aja gitu yang saat ini melakukan itu itu. Nah, kemudian terkait dengan komposting. Kalau komposting ee secara biologis sebenarnya yang dihasilkan adalah gas CO2 bukan gas metana gitu. Kalau gas metana itu terbentuk kalau prosesnya adalah anaerobik gitu ya. Ee kemudian ee kenapa enggak pakai BSF saja di mana memang kalau dari sisi reduksi emisi metannya memang lebih bagus ya. Memang kalau kita bindang, kita bandingkan beberapa teknologi, teknologi itu ada kelebihan dan kekurangannya gitu ya. Ee BSF memang dari sisi apa namanya? Dari sisi emisi, reduksi emisi apa keselumahannya lebih baik daripada yang lain itu lebih baik. Tapi ee kan itu harus dikondisikan dengan kondisi apa namanya masyarakat yang ada gitu. Jadi tidak serta-merta oh kita pakai BSF saja misalnya misalnya di rumah tangga pun oh rumah tangga karena yang lainnya itu ee dianggap sebagai apa namanya emiter dari gas rumah kaca yang tinggi. Kita pakai BSF saja untuk skala rumah tangga itu enggak enggak bisa juga karena misalnya untuk skala rumah tangga kalau mengembangkan BSF ya akan sulit juga. Pertama, ibu-ibu berani enggak lihat belatung gitu? Enggak semua berani gitu. Katalah seperti itu. Kemudian nanti untuk menjalankan satu siklus tadi kan pelihara laratnya, ngambil telurnya, telurnya ditetaskan, kemudian telurnya setelah menetas kemudian digunakan untuk ngolah sampah makanannya. Kemudian sebagian nanti magotnya dipanen, sebagian magotnya dijadikan tupa. Pupa jadi lala dewasa. Lala dewasa kita kandang kawin ituak enggak mungkin di keluarga gitu. Enggak mungkin. Itu mungkin kalau di skala kawasan sih bisa ya. Skala beberap satu RT atau satu RW. Kalau satu keluarga melakukan satu siklus enggak bisa. Paling mudah ya beli online itu atau beli kepada teman yang sudah menernakan BSF itu telurnya gitu. Tiap kita punya sampah, kita beli telurnya BSF atau instarnya yang sudah doll ya, dol yang baru baru netes itu dipakai. Itu paling seperti itu gitu. Jadi ada kerepotan di sana. Jadi peda prinnya Mbak Maria kelebihan dan kekurangan dari tiap-tiap teknologi gitu. Kita enggak bisa apa namanya fanatis terhadap satu teknologi. Kita harus sesuaikan dengan kondisi lokalnya. Demikian Mbak Maria. Mbak Nuha silakan. Baik, itu tadi pertanyaan dari Ibu Maria sekaligus menjadi pertanyaan penutup dari sesi tanya jawab pada webinar kali ini. Kami ee ucapkan mohon maaf karena banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab karena ternyata pertanyaannya sangat-sangat banyak ya. Ee kemudian kami akan mengumumkan tiga ee penanya terbaik kami ucapkan kepada Ibu Meidiana dari Jakarta Pusat, kemudian dari Ibu Suharti dari DIY, kemudian Bapak Ahmad Mustomi dari Bekasi. kami ucapkan kepada ee penerima door price dan izin mengingatkan untuk ee untuk ee konfirmasi ke admin. Kemudian saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Sri Wahyono, S.Si., M.Si. si yang sudah membantu pertanyaan dari Bapak Ibu peserta webinar kali ini. Kemudian bagi Bapak Ibu sekalian yang masih memiliki pertanyaan mungkin bisa disimpan dan mungkin bisa ditanyakan di lain waktu ya. Selain itu, kami juga ingin mengingatkan Bapak, Ibu sekalian untuk mengisi kuesioner yang linknya sudah di-share di kolom chat supaya kegiatan kami selanjutnya bisa lebih baik lagi. Dan sekali lagi saya izin mengingatkan kepada Bapak Ibu yang menginginkan materi sekaligus sertifikat dan belum request dapat mengisi link yang sudah dikirimkan admin kami di kolom chat Zoom. Terakhir saya ucapkan kepada pemateri kita hari ini yaitu Bapak Dr. Sri Wahyono, S.Si., M.Si. si yang telah menyempatkan waktunya untuk untuk berbagi dan sharing ilmunya kepada kami hari ini. Lalu saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Hijrah Purnama Putra, ST, Ming selaku founder dari PTIK Daor Ulang Project di Indonesia sekaligus sekretaris jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia. Dan juga tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada panitia dan peserta yang telah berkontribusi dan sangat antusias selama webinar ini berlangsung. Sampai ketemu lagi di webinar selanjutnya yang tentunya dengan tema-tema yang lebih menarik lagi. Akhir kata saya selaku MC sekaligus moderator memohon maaf sebesar-besarnya apabila selama memandu acara ini terdapat kesalahan kata maupun perbuatan. Saya Nuhia Maulida pamit undur diri. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih Muha. Terima kasih Bapak Ibu sekalian. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih para peserta dipermulatkan untuk dari Zoom ya. Terima kasih Bapak Ibu. Kita ketemu lagi di lain kesempatan.