Transcript
7TZ7pIstO-U • Fatalnya kebijakan migrasi Eropa | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0006_7TZ7pIstO-U.txt
Kind: captions Language: id Ini adalah kisah para pengungsi di salah satu tempat yang paling tidak bersahabat di Bumi: Gurun Sahara. Kami menemukan dua orang pria dan menolong mereka. Mereka menunjukkan lokasi orang ketiga yang berada jauh di belakang. Saat orang itu pingsan, mereka tidak bisa menolongnya karena mereka saja nyaris tidak berdaya. Mereka tidak bisa menyelamatkannya, meski itu teman sendiri. Menurut identitasnya, pria yang meninggal itu lahir tahun 1989, jadi usianya sekitar 34 atau 35 tahun. Kita akan bertindak memperkuat perbatasan luar dan mencegah migrasi tidak teratur. Pembuangan manusia di gurun tidak akan terjadi tanpa pendanaan dari UE. Tindak pencegahan dengan menggunakan kematian. Tidak cuma menerima kemungkinan tindak kekerasan, tapi mengandalkannya. Nama saya Aly Waly, dari Brigade Penjaga Perbatasan ke-19. Saat ini kita sedang menuju Dahr Alkhous, salah satu tempat kami paling banyak menemukan migran. Kami mengikuti penjaga perbatasan Libia ini, saat dia dan timnya mencari orang-orang yang ditinggalkan begitu saja di gurun, tanpa makanan atau air. Para migran yang kami temukan di sini sangat beragam. Dari anak-anak, perempuan, kadang kami menemukan bayi yang baru berusia dua atau tiga bulan. Kondisi mereka sangat menyedihkan. Semua ini tragedi kemanusiaan yang terjadi jauh dari ibu kota Eropa, di wilayah yang tidak terpantau oleh dunia yang lebih luas, tempat yang umumnya tidak dikunjungi warga sipil atau reporter. Ketika jeda, Aly Waly menunjukkan video di ponsel yang direkam olehnya dan unitnya untuk mendokumentasikan peristiwa yang selama ini terjadi di sini. Seperti yang Anda lihat di video, ada sekelompok migran di sana, termasuk perempuan, yang datang dari daerah atau negara tetangga. Satu-satunya negara tetangga di sini adalah: Tunisia. Kami selamatkan setelah mereka berjalan selama dua setengah sampai tiga hari. Tanpa air dan makanan. Mereka mengalami disorientasi. Dan Anda tahu, di suhu gurun, mereka butuh air. Sudah dua atau tiga hari mereka tidak minum. Jika diberi banyak minum, mereka bisa pingsan atau sakit. Bisa dilihat, kami beri mereka air sedikit demi sedikit. Ini anak kecil dengan ibunya. Mungkin sudah tergeletak di sana selama dua atau tiga hari. Cairan yang anda lihat itu karena pembusukan. Suhunya 50 derajat. Kami membawa unit medis lapangan ke sini agar kami bisa membawa jasad mereka. Gurun ini penuh hewan liar yang akan datang dan memangsa mereka. Tidak mudah rasanya meninggalkan jasad bayi atau siapa pun di gurun. Itu tetap jenazah manusia dan perlu dikubur. Di antara para penyintas, ada Siaka dan Ada Steven Tarawallie. Perjalanan mereka mencari perlindungan dimulai pada musim panas tahun 2022. Di negara asal mereka di Sierra Leone, mereka ambil bagian dalam demonstrasi besar yang mengkritik pemerintah, korupsi, kenaikan harga pangan, dan kebrutalan polisi. Ketika berunjuk rasa, kami dikatakan main hakim sendiri. Jadi mereka mulai membunuh banyak orang, termasuk beberapa teman saya. Nyawa kami terancam. Jadi kami putuskan untuk pergi. Mereka melarikan diri lewat Guinea, ke Mali, lalu Aljazair, dan akhirnya tiba di kota pelabuhan Sfax di Tunisia. Siaka bekerja jadi buruh harian, sementara Ada mengemis di jalanan. Kehidupan di lapisan masyarakat paling bawah. Di negara yang dipimpin pria ini. Presiden Kais Saied berkuasa pada 2019. Dia sangat populer, terutama di kalangan pemuda. Awalnya, dia juga dari luar elite politik. Jadi rakyat banyak berharap. Tapi dengan sangat cepat, kita melihat tanda-tanda dan pendekatan politiknya yang benar-benar mengonsolidasikan kekuasaannya. Termasuk menganiaya lawan-lawannya sebagai bagian dari pemerintahan yang semakin otoriter. Sekaligus semakin terbuka dalam hasutannya menyebarkan kebencian terhadap migran dari Afrika sub-Sahara. Dia benar-benar mengobarkan api kebencian ini. Jelas sekali serangan, khususnya serangan rasis dan xenofobia meningkat pesat di seluruh negara terhadap orang-orang berkulit hitam. Jadi lingkungan di sana benar-benar tidak bersahabat dan tidak stabil. Pada Juli 2023, seorang pria Tunisia tewas ditikam dalam pertengkaran antara penduduk lokal dan para migran, yang menyebabkan ledakan kekerasan terhadap orang kulit hitam. Mereka datang dan mendobrak pintu. Saya pikir ada perampok bersenjata. Jadi, saya pergi ke balkon dan melihat, mereka bawa banyak tongkat dan pisau. Ada yang bawa parang, dia mau menyerang istri saya, jadi saya halangi dia. Karena itu saya cedera di sini. Mereka ingin membunuh kami. Kami putuskan melarikan diri. Tapi suatu malam, dengan tekanan penduduk setempat, polisi mengumpulkan orang-orang kulit hitam di daerah itu, termasuk Ada dan Siaka, yang tidak tahu apa yang akan dilakukan pihak berwenang terhadap mereka. Sekitar pukul empat atau lima, bus-bus berdatangan. Setiap polisi membawa senjata. Mereka menodongkan senjata dan menyuruh kami masuk ke dalam bus. Kamera TV merekam saat para migran dibawa pergi. Ada banyak polisi di dalam bus. Mereka menghentikan orang-orang yang ingin berbicara atau berkomunikasi. Para perempuan mulai menangis. Ada anak-anak juga, dan tidak ada makanan. Firasat saya buruk, karena saya pikir mereka mau membunuh kami. Tak lama sebelum malam itu, para pemimpin eksekutif Uni Eropa tiba di Ibu Kota Tunisia untuk meminta bantuan Presiden Saied dan menyetujui kesepakatan penghentian migrasi ilegal ke Eropa. Selamat malam. Kami di sini sebagai Tim Eropa. Tunisia adalah mitra yang sangat kami hargai di Uni Eropa. Dan ini dibuktikan dengan kehadiran kami bertiga di Tunis hari ini dan keramahan yang kami terima, dan diskusi yang baik dengan Presiden Saied. Orang-orang Eropa memberi tawaran kepada Saied: Pemerintah Tunisia akan menerima sekitar delapan triliun rupiah sebagai imbalan untuk mengurangi orang yang mencapai perairan Eropa. Tujuannya adalah melakukan pendekatan holistik terhadap kebijakan migrasi yang berakar pada penghormatan hak asasi manusia. Saya rasa yang kita lihat adalah mundurnya demokrasi dan meningkatnya pemimpin otoriter. Ini adalah titik yang sangat penting bagi von der Leyen, dan tim Eropa untuk pergi ke Tunisia dan membahas kesepakatan ini. Hanya beberapa hari setelah pertemuan di Tunis, bus yang membawa Ada, Siaka, dan puluhan orang lainnya tiba di tujuan. Mereka sampai di perbatasan Tunisia dan Libia, di dekat pantai Mediterania, tanpa bekal air minum. Siaka dan Ada mengatakan mereka dipukuli ketika dipaksa turun dari bus. Mereka memukuli kami agar tidak bisa berjalan lagi. Karena kami bisa saja menemukan cara lain masuk ke Tunisia. Karena itu kami dicambuk. Saya yang perempuan ini juga dicambuki. Mereka tidak punya perikemanusiaan. Memukuli saya tanpa ampun. Saat itu saya hamil dua bulan. Garda Nasional memperlakukan kami seperti itu. Garda Nasional Tunisia menerima bantuan dari Kementerian Dalam Negeri Jerman di Berlin. Mereka memberikan miliaran rupiah dari uang pajak, untuk membeli kendaraan, instrumen penglihatan malam, dan peralatan lain. Termasuk juga pelatihan oleh Badan Kepolisian Federal Jerman. Sejak 2015, mereka memberi instruksi kepada sekitar empat ribu anggota Garda Nasional Tunisia dan polisi perbatasan. Model kerja sama ini dipuji Menteri Dalam Negeri Jerman saat mengunjungi instruktur di lapangan tidak lama setelah tawaran pendanaan UE. Bagi saya, yang penting Kepolisian Federal dan Badan Investigasi Kriminal Jerman membantu menjamin supremasi hukum, dan ketaatan pada hak asasi manusia di tiap kegiatan polisi dan penjaga perbatasan di sini. Sebagai polisi Jerman, mereka perlu menyadari lanskap politik yang dimasuki. Dan akan selalu ada komplikasi terhadap pelanggaran hak asasi manusia. Tidak lama setelah kunjungan menteri Jerman, Ada dan Siaka Steven Tarawallie terkapar tak berdaya penuh luka di gurun. Tempat itu sangat dingin di malam hari. Saya pikir: Tidak, tempat ini tidak baik. Kami pikir, apa yang akan terjadi di pagi atau sore hari? Karena tidak ada tempat berteduh. Saya tidak punya harapan lagi. Saya bilang, “Mungkin saya akan mati di sini.” Karena saat itu, situasi saya tidak baik karena saya hamil. Saya mulai pendarahan. Tidak ada obat. Pada hari itu, saya keguguran. Sekarang pukul 10 GMT. Kami memulai berita ini dengan liputan eksklusif dari zona yang paling dimiliterisasi di perbatasan Tunisia dan Libia. 1.200 migran, termasuk perempuan hamil dan 29 anak-anak, terdampar di sana dengan sedikit makanan, air, atau tempat berlindung. Dan di antara mereka adalah Ada dan Siaka. Di pantai tanpa air minum, dan pasukan keamanan mencegah mereka bergerak, baik ke Tunisia atau menyeberangi perbatasan ke Libia. Mereka ditemukan oleh reporter yang mendengar tentang sekelompok orang yang terdampar. Bisakah Anda ceritakan: Apa Anda dari Sfax? Siapa yang membawa Anda ke sini? Orang-orang Tunisia? Ketika reporter Al-Jazeera datang, saya kembali merasa ada sedikit harapan. Kondisi di sini sangat buruk. Orang-orang terluka, dan sangat butuh bantuan. Ada perempuan dan anak-anak, dan mereka ingin merasa aman. Saat dia datang, dia memutuskan untuk membuat video. Saya rasa dia bagikan video itu supaya publik melihatnya. Mereka memukuli kami tanpa ampun. Ada yang kakinya patah. Sudah enam hari mereka di sini, yang lain baru datang. Kita bisa lihat mereka terluka. Jika dia tidak menyiarkannya, mungkin sekarang kami sudah mati. Pemandangan menyedihkan itu disaksikan oleh pemirsa di seluruh dunia. Di bawah tekanan internasional yang meningkat, pemerintah di Tunis mengalah, orang-orang itu diizinkan kembali ke Tunisia. Beberapa bulan kemudian, Ada dan Siaka naik ke kapal yang akan membawa mereka ke Eropa. Ketika Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen kembali mengunjungi Tunis pada Juli 2023, seolah-olah dia dan rombongannya tidak pernah mendengar kejadian dramatis yang telah terjadi. Tim Eropa kembali ke Tunis. Kita berkumpul pada 11 Juni untuk menawarkan kemitraan baru dengan Tunisia. Dan hari ini, lebih dari sebulan kemudian, kita mewujudkannya. Kita bertanggung jawab ketika kita tidak hanya menerima pelanggaran hak asasi manusia ini, tapi juga mengatakan para pelakunya sebagai mitra dalam mengurangi migrasi tidak teratur. Kita seolah menutup mata atas kejadian ini. Dan dengan latar belakang itulah, perjanjian migrasi Uni Eropa dan Tunisia ditandatangani pada 16 Juli 2023. Kami beri imbalan uang ke negara itu untuk mencegah para migran menaiki perahu. Soal cara Tunisia melakukannya, dan apa yang terjadi pada orang-orang itu... Apa orang-orang bisa mengaku tidak tahu? Tidak, kata David Yambio. Ia pernah melarikan diri ke Eropa dari Sudan lewat Libia. Dia mendirikan organisasi untuk membantu para pengungsi, dan memperjuangkan kepentingan mereka. Termasuk di kantor pusat Uni Eropa di Brussels. Kami ingin menarik perhatian Anda, mempertanyakan demokrasi Anda, dan membangkitkan kesadaran Anda dalam melakukan hal yang benar. Pada musim panas 2023, sebuah foto yang diunggah di X menjadi simbol penderitaan dan hilangnya nyawa di gurun Tunisia. Foto itu menampilkan dua jenazah manusia, tanpa wajah. David Yambio bertekad membuat mereka dikenal. Fati dan putri kecilnya, Marie. Gadis kecil itu meninggal bersama ibunya karena kelaparan dan kehausan di gurun, karena mereka ditinggalkan di bawah terik mentari, ketika suhu mencapai lebih dari 45° Celsius. Ini bukti jelas, orang-orang ini tidak mati begitu saja. Mereka dibunuh. David Yambio dan organisasinya melacak satu-satunya yang selamat dari keluarga itu: Sang ayah, Pato. Kisah ini mendorong Paus Fransiskus menemuinya di Roma, dengan David Yambio dan para aktivis hak pengungsi lainnya. Paus mengatakan, akan berdoa untuk istri dan putri Pato. Tragedi ini diliput media di seluruh dunia. Tunisia telah melakukan pembunuhan, dan saat kami melaporkan situasi ini, itu adalah tindakan perlawanan. Ini seruan kepada dunia, agar masyarakat internasional bangkit dan mempertanyakan pendekatan otoritas Eropa dalam membuat perjanjian dengan lembaga-lembaga yang terbukti sangat kejam, seperti Kais Saied. Tapi dana yang dijanjikan Uni Eropa mulai masuk ke Tunisia. Dan isu ini hilang dari radar media. Mauritania, di tepi barat Sahara. Sejak UE memperluas kerja samanya dengan pemerintah untuk mencegah pergerakan para migran ke utara, para jurnalis semakin kesulitan mendapat visa ke negara itu. Sudah berbulan-bulan kami menjalin kontak untuk melanjutkan penelitian kami di dua kota terbesar di Mauritania, Nouadhibou dan Nouakchott. Dan salah satu sumber kami memberikan informasi. Kami disuruh menunggu di luar penjara di Nouakchott, dan diam-diam merekam yang kami lihat. Mauritania adalah negara transit yang penting bagi puluhan ribu orang menuju utara setiap tahunnya. Mereka ingin lebih dekat ke Eropa, khususnya ke Kepulauan Canary milik Spanyol. Salah satu konsekuensi dari taktik pencegahan dan penyebaran ini adalah orang-orang diarahkan lagi ke rute lain. Dan pembukaan rute Atlantik baru-baru ini, yang jumlahnya meningkat, terutama berasal dari Mauritania karena alasan yang sama. Jadi ini perkembangan dan tempat baru bagi UE menggunakan kebijakan eksternalisasi ini. Pada awal 2024, Uni Eropa menegosiasikan perjanjian migrasi komprehensif dengan Mauritania, seiring penandatanganan perjanjian Tunisia. Ini terjadi tepat saat kami sedang merekam di luar penjara dan tempat lain di Mauritania dengan kamera tersembunyi. Saat itu siang hari dan suhu di luar 40° Celsius, dan tampaknya hening. Kami tahu ada bus putih sedang disiapkan di dalam untuk mendeportasi orang-orang berkulit hitam yang berniat menyeberang ke Eropa atau yang ditangkap semena-mena. Pukul 5 sore, sekelompok migran tiba dengan truk. Lalu pukul 6 sore gerbang itu terbuka, dan bus putih muncul. Kami punya daftar nama orang-orang yang disebut ada di dalam bus itu... dan dengan hati-hati membuntutinya. Kami bergerak menuju Mali, negara yang dilanda perang saudara yang melibatkan kelompok milisi dan pemerintah. Karena risiko ketahuan terlalu besar, kami memutuskan untuk kembali. Dua minggu kemudian Ursula von der Leyen dari Uni Eropa berkunjung ke negara itu bersama Perdana Menteri Spanyol. Sejak lama Spanyol telah lama bekerja sama dengan para pejabat Mauritania. Mereka ke sana untuk bernegosiasi dengan presiden negara itu, seorang mantan kepala Angkatan Darat. Senang bertemu lagi, Pak Presiden, setelah kunjungan Anda ke Brussels. Suatu kehormatan juga bisa bersama Perdana Menteri Sanchez. Kunjungan ini menegaskan pentingnya kemitraan dengan Mauritania. Mereka menawarkan sekitar 8 triliun rupiah untuk memperkuat perbatasan Mauritania dan memperluas hubungan ekonomi. Kita sebagai pembayar pajak di Eropa mendanainya. Dan saya rasa, bagian terpenting adalah bagaimana kita semua, dengan cara tertentu terlibat dalam apa yang terjadi, meskipun jauh dari Eropa, di benua lain. Tentang orang-orang di dalam bus putih itu, riset berdasarkan daftar nama membawa kami ke Senegal. Kami mencari dua orang perempuan: Bella dan Idiatou. Kami tahu mereka sekarang tinggal di Kaolack dengan saudara tiri Idiatou. Mereka menutupi wajah karena takut dikenali. Keduanya berasal dari sebuah desa di Guinea. Setelah pergi ke Mauritania, mereka membayar penyelundup untuk bisa menyeberangi laut ke Kepulauan Canary dan ke Eropa. Tapi kapal mereka dicegat pihak berwenang. Setelah melihat rekaman kamera kami, mereka mengakui pernah ada di penjara itu. Mereka bilang kami akan dipulangkan. Kami bilang tidak masalah kalau begitu rencananya. Tepat sebelum berangkat, kata mereka, pejabat Spanyol memotret mereka. Ini bus yang mengangkut kami ke sana. Dari Nouakchott, mereka bergerak ke timur. Bus terus melaju selama sehari semalam. Lalu bus itu belok ke selatan. Setelah menempuh perjalanan hampir seribu kilometer, mobil lalu berhenti di perbatasan Mali. Mereka membawa kami ke tempat sepi, meninggalkan kami di antah berantah. Mereka meninggalkan mobil di sana dan mengusir kami. Saya belum pernah ke Mali. Dan kami takut, karena kami dengar ada perang di sana. Kami berjalan selama empat hari. Kami berjalan sangat jauh sampai saya sakit. Kaki saya bengkak. Lalu Bella bilang kami harus cari tempat berteduh. Kami beristirahat dan terus berjalan sampai tiba di satu desa di Mali. Di sana kami diberi makan dan minum. Seorang pria membawa mereka berkendara ke Senegal, ke kota Kaolack, tempat saudara tiri Bella tinggal. Saudara tirinya lalu membayar ongkos perjalanan sejauh hampir 900 kilometer itu. Pendeportasian dan penelantaran para migran di gurun bukanlah hal rahasia bagi para pemimpin UE di Brussels. Beberapa tahun terakhir, UE malahan mengirimkan miliaran rupiah ke Mauritania demi keamanan di perbatasan. Pada November 2023, tiga bulan sebelum kunjungan Ursula von der Leyen, sebuah laporan oleh Parlemen Eropa menuliskan "pengungsi, pencari suaka, dan migran di Mauritania terus-menerus menghadapi pelanggaran hak asasi manusia yang sistemik dan serius, serta perlakuan buruk." Termasuk "pengusiran kolektif secara kejam ke Senegal dan Mali." Tapi temuan-temuan itu diabaikan. Ylva Johansson, komisaris Uni Eropa untuk migrasi dan dalam negeri, menandatangani perjanjian migrasi komprehensif dengan Mauritania, pada 7 Maret 2024. Hampir setahun setelah kesepakatan pengendalian migrasi besar pertama UE dan Tunisia ditandatangani, kami berkeliling dengan penjaga perbatasan Libia. Kami ingin tahu apa yang terjadi di gurun sejak saat itu dan menghabiskan waktu beberapa hari bersama Ali Waly dan anak buahnya. Awalnya semuanya tenang. Tapi semua berubah pada hari ketiga. Ali mengirim tim kami ke salah satu koleganya di selatan. Saya menuju menara dan kami membawa sekelompok migran. Saya ulangi: Kami di Al-Hamraya dan kami membawa sekelompok migran. Ada berapa orang? Sekarang 23 orang. Semoga kalian semua beruntung. Sebagian dari mereka ditemukan di gurun beberapa jam sebelumnya, yang lainnya, sehari sebelumnya. Mereka diizinkan beristirahat di pos pemeriksaan, kebutuhan mereka juga dipenuhi. Apa yang terjadi? Kami tadinya tinggal di Tunisia. Saya bekerja memanen zaitun, dan memasang ubin. Mereka lalu menangkap dan membawa saya ke kantor polisi. Saya ditahan selama lima hari. Banyak pengungsi lain juga ditahan di sana, ada sekitar 200 orang Somalia, dan ada dari Suriah, Yaman, dan Palestina. Setiap malam, mereka membuang 35 atau 40 orang di perbatasan. Kapan itu? Jam 3 pagi. Apa yang kamu lihat? Biasanya saat dibawa ke perbatasan, kami disuruh berbaris, dan mereka memukuli kami. Semua diambil. Paspor, ponsel, dan uang kami. Kartu identitas pengungsi juga diambil. Mereka datang di malam hari, dan meninggalkan kami di perbatasan. Di gurun. Mereka memukuli kami dan memaksa kami berjalan, dan mengancam akan menembak kalau kami kembali. Kami bahkan tidak punya sepatu, mereka merampasnya. Saat itu sekitar pukul 7 pagi, saya mau berangkat kerja. Ada mobil berhenti dan saya dipaksa masuk. Hari itu saya dibawa ke gurun, tempat yang tidak saya kenal. Setiap hari dari pagi kami dipukuli... dan dipukul lagi ketika malam. Semua orang di sini terluka karena diborgol. Ada perempuan hamil dan anak-anak di kamp itu. Kami tidak tahu bagaimana mereka diperlakukan. Awalnya ada 90 orang, tapi sekarang, kami tidak tahu berapa yang sudah tewas. Apa anda meninggalkan jasad mereka? Iya, di Tunisia. Kami dipukuli habis-habisan, begitu parah. Sampai banyak yang tidak bisa jalan lagi saat menyeberang ke Libia. Tahun lalu saya datang dari Sudan. Di negara kami, tidak ada kedamaian sejak 2013 hingga kini. Karena itu saya pergi. Masih banyak yang tertinggal di gurun. Kami di sini, kalau ada yang datang ke sini, kami akan menerima mereka, Insyaallah. Kondisi mereka buruk. Kamu lihat sendiri sulitnya medan di sini. Sulit sekali berjalan di sini. Tapi saya harap kami bisa bertindak, jangan khawatir. Insyaallah. Penandatanganan kesepakatan dengan UE tidak menghentikan Tunisia mendeportasi orang ke gurun. Sebuah laporan oleh Dewan Keamanan PBB pada April 2024 menyatakan bahwa migran dan pencari suaka terus diusir dari Tunisia. Pada akhir Maret, ada total 8.664 orang membutuhkan perlindungan internasional, tapi dicegat di perbatasan oleh personel Libia, tercatat 29 kasus kematian. Angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi. Pada Mei 2024, kami melaporkan insiden ini dan menunjukkan bagaimana deportasi terus berlanjut secara sistematis. Di Afrika Utara, pasukan keamanan yang didukung Uni Eropa, berulang kali menculik pencari suaka, dan menelantarkan mereka di gurun. Laporan tersebut mengindikasikan UE mengetahui hal ini dan unit yang bertanggung jawab didanai dan dilengkapi oleh Brussels. Laporan ini menuduh UE terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia, dan pengusiran massal migran secara rahasia, serta membuang mereka di daerah perbatasan terpencil dan berbahaya di Gurun Sahara. Sehari setelah disiarkan, kami bertanya kepada juru bicara pemerintah Jerman atas tuduhan itu. Kami tidak punya informasi sendiri tentang hal ini. Jadi kami harus menyelidiki masalah ini dan mengambil tindakan yang sesuai. Tuduhan ini melibatkan unit-unit yang didukung Jerman. Kami perlu melihat kronologi yang tepat, setelah memeriksa prosedurnya. Mayoritas orang Eropa menganggap Maroko sebagai tempat liburan yang menyenangkan. Tapi hanya sedikit yang sadar tempat itu bisa sangat berbahaya, terutama bagi orang kulit hitam. Karena pemerintah Maroko sangat memantau para jurnalis, kami pun harus menyamar, dan merekam hanya dengan pakai ponsel. Kami diminta menunggu di salah satu alun-alun ibu kota, Rabat, untuk melihat dan mendokumentasikan perburuan orang-orang dari Afrika sub-Sahara, yang sering terjadi di sini. Tidak butuh waktu lama. Beberapa kali kami melihat pria berbaju merah mengejar orang kulit hitam, dan membawa mereka pergi. Pria yang sama muncul lagi malam itu, dan kami melihatnya memaksa seorang pria masuk ke dalam mobil van bertuliskan Pasukan Bantuan Paramiliter, yang dibiayai oleh UE sejak tahun 2018. Di sini kami juga melihat bus-bus mendeportasi migran. Pemerintah Mauritania dan Tunisia menolak tuduhan deportasi. Namun, Maroko melaporkan pada 2023, pasukan keamanannya menangkap 75.000 orang yang mencoba masuk ke Eropa secara ilegal. Menurut pihak berwenang, mereka dibawa ke bagian lain negara itu untuk keselamatan mereka sendiri, agar tidak tinggal di daerah berbahaya. UE sudah bekerja sama dengan pasukan keamanan Maroko sekitar 20 tahun. Dan sudah lama UE tahu ada orang-orang yang dideportasi ke gurun, kata mantan Wakil Direktur Badan Perbatasan Uni Eropa, Frontex. Saya tahu tentang penggerebekan di kota-kota Maroko... dan migran yang kadang ditinggalkan di perbatasan Aljazair. Mereka disuruh pergi ke sana. Dan sayangnya ini terjadi berulang kali dalam beberapa kasus. Menurut saya ini ilegal. Saya yakin itu melanggar hak asasi manusia. Dan Uni Eropa? Jika mereka punya bukti jelas tentang ini, Uni Eropa harus mengambil tindakan pencegahan. Dan orang-orang yang di awal film ini diselamatkan penjaga perbatasan Libia ketika melintasi Sahara, apa yang terjadi pada mereka? Nasib mereka tidak jelas. Pasukan keamanan Libia terkenal atas perlakuan brutal mereka kepada pengungsi. Masalah di Libia adalah sistem yang dalam beberapa tahun terakhir menahan para migran di kamp-kamp. Di pusat-pusat penampungan migran ilegal, beberapa di antaranya dikelola badan-badan negara, yang lainnya dikelola secara informal oleh milisi. Selain itu, ada penyelundup manusia di Libia. Ini sangat brutal. Ada perdagangan budak yang aktif yang terjadi saat orang-orang ditempatkan di pusat-pusat penahanan macam ini. Mereka dipaksa membangun fasilitas pemerintah. Para perempuan diperkosa. Para pemuda sehat seusia saya ditempatkan di medan perang, akibat konflik bersenjata berkepanjangan di wilayah tersebut. Kami tahu nama-nama mereka dan mencari mereka di media sosial. Sebagian berhasil. Pada kasus pria ini, kami menemukan profil Facebooknya. Namanya Adam Ibrahim, dan seperti terlihat di profilnya, dia berasal dari salah satu medan pertempuran utama dalam perang saudara Sudan: Kota Al Fasher. Kami juga menemukan Alwasilah Mohamed, juga dari Sudan. Dan pria yang berdiri di sampingnya selama wawancara: Musa Adep juga dari Sudan. Sesaat sebelum dibawa ke gurun, dia mengunggah foto-foto dirinya. Bagaimana keadaan mereka setelah dijemput pasukan keamanan Libia? Awalnya, tidak ada tanda kehidupan apa pun. Dan tiba-tiba, unggahan ini muncul di profil Musa Adep, video yang sudah diedit. Bukti dia masih hidup, dan punya akses internet. Apa reaksi politisi Eropa atas masalah ini? Tentang deportasi massal oleh pasukan keamanan yang didanai UE, tentang kebrutalan, penderitaan, dan kematian? Selama beberapa bulan, kami mengirim sejumlah permintaan wawancara kepada politisi UE dan Jerman yang bertanggung jawab atas migrasi. Kepada Presiden Komisi Eropa. Perwakilan urusan luar negeri UE. Dan Komisaris Eropa untuk urusan dalam negeri. Komisi merespons singkat bahwa UE berharap mitranya menghormati hak asasi manusia semua migran. Tapi tidak ada yang bersedia diwawancara, termasuk para pemimpin negara yang kami coba dekati. Baik itu Kanselir Jerman. Maupun Perdana Menteri Belanda. Serta rekan-rekannya di Spanyol. Dan Italia. Kami tidak bisa melakukan wawancara. Tidak ada yang siap bicara di depan kamera, termasuk anggota kabinet Jerman yang kami minta, terlepas dari siapa, kapan, dan partai apa pun itu. Lalu bagaimana dengan investigasi yang dijanjikan juru bicara pemerintah Jerman? Tentang tuduhan terhadap otoritas Tunisia, yang mendapat dukungan finansial dari Berlin. Apa kesimpulan dari investigasi tersebut dan langkah apa yang telah diambil pemerintah? Saya tahu itu masalah, tapi seingat saya itu tidak ada di daftar pertanyaan, jadi kami tidak mempersiapkannya. Saya akan memeriksanya. Sebenarnya, kami telah menuliskan pertanyaan itu beberapa hari sebelumnya. Saya ingat, pertanyaan itu sudah diteruskan ke Kementerian Dalam Negeri, dan Anda tidak puas dengan jawaban mereka. Saya mengerti, tapi kami sudah menjawabnya. Padahal, tidak ada tanggapan dari kementerian. Mereka hanya mengeluarkan pernyataan bahwa mereka secara rutin mengingatkan pemerintah Tunisia tentang pentingnya menghormati hak asasi manusia... dan bahwa peralatan dari Jerman hanya boleh digunakan sesuai tujuannya. Tapi bagaimana dengan janji untuk memeriksa prosedur? Kami sudah jawab itu, saya tidak membawanya sekarang. Nanti hubungi saya lagi, kalau ada perkembangan, kami kabari. Hanya pemerintah Jerman yang tahu apakah investigasi itu pernah dilakukan. Juli 2024. Kami kembali ke Libia. Ibu kota Tripoli dikuasai beberapa kelompok milisi. Baku tembak terjadi hampir setiap hari. Para migran di sini hidup di pinggiran dan dalam kemiskinan. Banyak yang bekerja sebagai buruh harian dengan kondisi buruk. Rezim di Libia barat, yang mencakup Tripoli, menggelar konferensi tentang migrasi dan mengundang jurnalis. Warga Libia ingin terlihat sebagai mitra yang dapat diandalkan bagi UE. Deportasi juga akan menjadi topik bahasan. Tamu terpenting di konferensi yang ditata megah itu adalah Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Tidak banyak media yang tahu hal ini. Acaranya lebih penuh gaya dibanding substansi. Tidak ada hasil yang berarti. Namun, kami ke sini untuk alasan lain, yakni agar bisa menghubungi Adam, Al-Wasilah, dan Musa. Tiga pria dari gurun yang kami temukan lewat Facebook. Sekarang mereka tinggal di sini, bersama para pengungsi lain. Bagaimana keadaan mereka sejak dibawa keluar dari gurun oleh Patroli Perbatasan Libia? Lebih dari dua bulan saya tinggal di markas besar kelompok milisi. Saya baru keluar dua hari lalu, saat bertemu Anda. Saya mencoba mencari kerja, tapi belum dapat. Dua hari setelah Anda pergi, petugas datang. Katanya, sebagian dari kalian akan bekerja di sini dan akan dibayar, dan sebagian akan pergi ke markas besar di Tripoli. Saya bilang saya mau bekerja, dan saya bekerja selama 1 bulan 15 hari. Setelah enam minggu, saya datangi petugas itu untuk minta upah. Saya bilang, “Saya perlu uang untuk keluarga di Sudan.” Katanya, “Tidak ada uang! Persetan kalian.” Di sini mereka menghabiskan siang dan malam, seperti minggu-minggu sebelumnya. Dalam 15 atau 16 hari, saya hanya sekali meninggalkan tempat ini, untuk bertemu Anda. Saya tidak bisa keluar. Ada masjid di pojok. Tapi jika saya keluar, akan ada mobil antiimigrasi Libia. Mereka akan menangkap dan memasukkan saya ke pusat penahanan. Satu-satunya solusi yang terpikir adalah pergi. Apapun caranya. Saya ingin pergi malam ini. Jika Anda tidak datang, saya pasti sudah pergi. Mau pergi ke mana? Tunisia, lalu menyeberang ke Aljazair. Kembali ke gurun? Iya betul. Kalau meninggal bagaimana? Tidak masalah. Saya sudah mati. Saya bersumpah sebenarnya saya sudah mati. Apa Anda tidak takut? Tidak, sumpah. Saya takut tinggal di sini. Manusia berkulit hitam sudah mati sejak lahir. Semua penderitaan dan rasisme yang kami alami membuat kami tidak takut mati. Lalu kami dapat respons positif untuk wawancara. Bukan dari Komisi Eropa, tapi dari sekutu penting Ursula von der Leyen di Parlemen Eropa yang mengepalai blok konservatif dan berperan penting membentuk kebijakan migrasi UE. Orang-orang mengalami dehidrasi berat dan kelelahan, beberapa dari mereka terluka parah. Perempuan dan anak-anak tewas tergeletak di gurun. Bisakah pemerintah yang bertanggung jawab atas masalah serius ini jadi mitra Eropa? Tidak ada alternatif layak untuk bekerja sama dengan negara-negara tetangga, terlepas dari betapa sulitnya ini. Mustahil menyelesaikan masalah ini hanya di satu sisi perbatasan. Tetapi ada dialog, yang dapat dikembangkan. Bicara dengan otoritas Tunisia tentang pengamanan perbatasan selatan sesuai prinsip kemanusiaan. Apakah mereka menuruti saran itu? Dalam pertemuan dengan menteri dalam negeri dan presiden di Tunis, saya lihat mereka menyadari tanggung jawab mereka. Tapi mereka juga bilang, “Kalian tidak tahu seperti apa masalah kami.” Jika kita minta suatu negara menghentikan orang, kita harus bertanggung jawab dan bertanya kepada diri sendiri: Bagaimana caranya? Tapi Eropa, yang bagi banyak orang adalah tanah perjanjian baru atau tempat berlindung, semakin menutup perbatasannya. Ini akan terjadi di beberapa perbatasan. Sampai sekarang, banyak orang tewas di Mediterania, tepat di depan kita. Dan perjanjian Tunisia telah mengurangi jumlah orang yang tenggelam. Itu fakta. Jadi pada titik tertentu, kita harus katakan dengan tegas, “Kalian tidak boleh masuk, dan tidak ada prospek mendapat perlindungan di Eropa.” Dan di sanalah, urusannya jadi lebih rumit. Tapi, apakah benar-benar tidak ada alternatif? Dan apakah dalam jangka panjang, kebijakan ini akan dapat mengurangi imigrasi? Arus migrasi, apalagi yang tidak teratur, seperti kapal yang berkomunikasi. Kalau satu jalan ditutup, orang akan lewat jalan lain. Jadi, kebijakan restriktif yang hanya berfokus mengamankan perbatasan dan membangun tembok di perbatasan ini tidak akan berhasil. Dan 20 atau 30 tahun terakhir menunjukkan bahwa kebijakan tersebut tidak berhasil. Jadi, pendekatan apa yang bisa berhasil? Ada proposal yang tersedia... Ada cara lain. Lebih dari sepuluh tahun lalu kami menawarkan perjalanan bebas visa ke negara-negara Balkan, dan ke Moldova, negara yang sangat miskin. Dan berhasil: Dengan syarat bekerja sama. Negara-negara tersebut menerima kembali warganya, jika mereka diminta pergi. Deportasi di sana berhasil. Tapi, orang-orang bisa juga naik pesawat dan datang ke sini secara legal tanpa bantuan penyelundup. Ini memperluas mobilitas legal dengan syarat yang setara, dan kita bilang, “Kami tidak takut pada kalian dan kami lihat peluang adanya hubungan yang lebih baik.” Itulah pemikiran yang kita butuhkan tentang Afrika. Menurut kalian, apakah Eropa sepadan dengan risikonya? Ada mimpi yang ingin saya wujudkan. Saya mau menyelesaikan studi. Ambisi saya lebih besar dari itu, karena itu saya harus menyelesaikan kuliah. Semua sudah tutup di Sudan. Sekolah tutup. Saya tidak bisa belajar di Libia atau Tunisia. Jadi harus pergi ke Eropa. Sejak lahir, kita selalu berharap kehidupan yang baik, bukan yang direndahkan dan dipermalukan. Setiap hari ada perang, dan kami harus terus mengungsi. Karena itu saya ingin ke Eropa dan hidup seperti mereka. Ini tentang arah yang ingin kita tuju. Apakah, sebagai benua yang kini telah lebih kaya, kita ingin mengabaikan nilai-nilai dan konvensi kita? Apakah itu yang kita tuju? Adam, kamu sudah berusaha selama dua bulan? Apa kamu tidak kecewa? Tidak, meski itu berarti tinggal di sini satu tahun lagi. Tujuan saya adalah mencapai Eropa. Kamu tidak akan menyerah? Tidak. Jika saya mati, itu takdir saya. Tapi selama masih hidup, saya akan terus mencoba. Saya harus mencobanya.