File TXT tidak ditemukan.
Bertetangga dengan langit: Perjalanan menuju Bhutan Selatan yang tersembunyi | DW Dokumenter
wnUyc4ACwL4 • 2024-11-30
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Kerajaan Buddha terakhir di Pegunungan Himalaya. Bhutan dikenal sebagai negara kecil dan bahagia, yang terletak di puncak dunia. Yang kurang dikenal adalah bagian selatan negara ini, dengan iklim subtropis, hutan lebat, dan keragaman hayati yang unik. Di tengah alamnya yang murni, ada hal lain masih lestari. Sesuatu yang lama hilang dalam banyak budaya. Untuk menemukan esensi kehidupan di Bhutan, kami pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi kru kamera mana pun. Di mana masyarakatnya masih utuh dan warganya saling membantu. Dari keluarga besar hingga ke lingkungan sekitar, dan terutama dalam menyelamatkan jiwa dan hewan. Bhutan berkembang karena masyarakatnya saling mendukung. Di Bhutan bagian selatan yang beriklim subtropis, Sonam Norzin yang berusia 35 tahun mempraktikkan ajaran Buddha versinya, lewat pekerjaannya. Sudah lebih dari 18 tahun saya bekerja untuk Asosiasi Penyelamatan Hewan Jangsa. Kami hidup dari donasi. Kami menyelamatkan hewan dari penjagalan, seperti ikan di kolam ini, semuanya diselamatkan. Begitu cara kami mengikuti jalan Buddha. Ini kontribusi kami dalam menjaga warisan spiritual Bhutan tetap hidup. Ayo kita bersihkan. Semua harus siap saat ikan yang baru tiba. Botol oksigennya sudah ada? Sudah. Berapa banyak ikan yang datang hari ini? Sekitar 100 kilogram dari tambak ikan. Saya melihat banyak penderitaan dalam pekerjaan saya. Hewan bisa merasa sakit, tapi tidak bisa bilang karena tidak bisa bicara bahasa kita. Kita harus sadar itu. Hanya dengan begitu, kita bisa berempati dengan semua makhluk hidup. Itu tanggung jawab kita. Saat Sonam dan para relawan tiba di tambak ikan, mereka dapat kejutan buruk. Di kolam itu hanya tersisa genangan air. Biasanya tidak masalah kalau semua ikan itu masih hidup saat dijual, jadi para petambak menguras airnya seperti biasa. Kita perlu air lebih banyak! Oke. Yang benar saja! Kemarikan embernya, jaring ini tidak ada gunanya. Cepat. Apa masih hidup? Hati-hati. Kita harus cepat menangkap dan memberi oksigen. Kalau tidak, ikan ini bisa mati. Tidak ada waktu menimbang ikan-ikan itu. Jadi kami sepakat membayar sekitar Rp6 juta ke petambak ikan untuk sekitar 2.000 ekor. Sonam dan timnya dengan susah payah mengangkut karung 15 kilogram ke atas gunung. Alih-alih dimatikan, semua ikan itu akan tinggal di kolam biara. Hampir semua hewan yang kami rawat pernah disiksa manusia. Ini sangat menguras emosi. Saya sering heran, kenapa manusia bisa sebrutal itu. Saya marah dan bahkan membencinya. Tidak terpuruk pada perasaan ini adalah ujian penting untuk iman saya. Taman nasional ini meliputi lebih dari setengah negara Bhutan, di mana hutan perawan dilindungi hukum. Kebanyakan warga di sini hidup sebagai petani kecil dan berbagi habitat dengan hewan liar. Perburuan juga dilarang. Beruang hitam kecil ini hidup di dekat salah satu desa yang masih belum dialiri listrik. Rigidong, desa kami ini, sangat terpencil. Saya buka toko di sini. Hidup tanpa listrik itu sulit. Sudah lama kami dijanjikan listrik, tapi belum ada juga. Saya punya keluarga kecil dengan dua anak dan sekarang menanti anak ketiga. Sering kali, kami tidak bisa melakukan panggilan darurat karena baterai ponsel habis. Mengisi daya dengan panel surya perlu waktu lama dan belum tentu berhasil. Hewan liar seperti beruang dan babi hutan sering datang malam hari dan makan tanaman kami. Seharusnya besok ada orang dari operator jaringan yang datang. Sudah lama ada menara transmisi di sini, tapi koneksinya yang tidak ada. Saya tidak tahu kapan kami akan dapat listrik, tapi kalau ada, semua akan jadi lebih baik. Itu harapan saya. Kami membakar parafin untuk lampu minyak ini. Ini mahal. Sinarnya redup dan kami tidak bisa melihat dengan baik. Anak-anak sulit kerjakan PR dalam gelap. Ini makan. Dengan listrik, kami bisa beli <i>rice cooker.</i> Atau kulkas untuk membuat es krim untuk anak-anak. Menyediakan kebutuhan untuk penduduk desa juga penting bagi dokter gigi Tenzin yang berusia 34 tahun. Ia telah melakukan perjalanan selama dua hari. Awas! Berapa lama perjalanan ke Lhuentse? Biasanya sekitar sepuluh jam. Jalannya buruk karena hujan. Iya, ayo kita lanjut. Perjalanan Tenzin ke area timur yang terpencil melewati hutan lebat di Bhutan Selatan. Saya mendirikan Mountain Dentistry untuk membantu warga desa. Biasanya, warga harus menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit terdekat untuk ke dokter gigi. Jadi saya ingin membawa praktik saya ke mereka. Dengan begitu, saya bisa merawat dan memberi edukasi tentang perlunya teratur menjaga kebersihan gigi. Hari ini saya pergi ke area terpencil yang disebut Lhuentse. Warga di sana biasanya harus menempuh jalan hampir seminggu untuk dapat perawatan. Selama itu, tidak ada yang mengurus ternak atau ladang. Jadi mereka jarang pergi ke dokter gigi. Wah! Namgay, kita harus hati-hati. Ada peringatan batu dan tanah longsor di halaman Facebook layanan lalu lintas. Saya senang bisa membantu warga di sana. Kita tidak bisa maju lagi. Ini halangan pertama. Ada mobil lain yang menunggu. Ini akan makan waktu. Batu terus berjatuhan. Saat larut malam, jalan akhirnya aman dan dokter gigi Tenzin dapat melanjutkan perjalanan. Bagi banyak orang, kepercayaan berperan penting dalam melewati kesulitan hidup sehari-hari. Saya mengikuti tradisi kuno leluhur. Saat tubuh kami sakit, kami mandi dengan batu panas. Saya sudah berkonsultasi dengan peramal. Ini hari yang sangat diberkati untuk melakukannya. Mari aku bantu! Dema yang berusia 80 tahun hidup sesuai keselarasan bintang dan aturan dewa-dewi setempat. Di pegunungan tinggi, kami merasakan keilahian di mana-mana. Setiap batu dan setiap sungai itu hidup. Kami memberi persembahan untuk dewa-dewi dan berdoa agar mereka melindungi dan tidak mencelakai kami. Semoga tidak terlalu panas. Hati-hati! Bintang-bintang menyuruh saya menyelamatkan jiwa seekor hewan demi karma saya. Saya tidak punya apa-apa, tapi anak dan cucu saya punya tabungan. Sebentar lagi saya bisa menjalankan rencana ini dan mempraktikkan Tshe Thar, menyelamatkan hewan dari penjagalan. Umat Buddha percaya bahwa hewan bisa saja merupakan orang tua kita di kehidupan sebelumnya. Kita perlu melindungi hewan-hewan di sekitar dan tidak menyakiti mereka. Di desa-desa Hindu di Bhutan Selatan, hubungan dengan alam lain sangatlah penting. ‘Orang-orang terpilih’ adalah yang paling bertanggung jawab dalam hubungan ini. Semua berawal waktu saya berusia 12 tahun. Mendadak saya sakit parah. Sangat parah, sampai tidak bisa sekolah. Lalu saya mimpi melihat seorang lelaki yang mengajari saya berbagai mantra. Suatu malam, dia memanggil saya ke hutan. Saya bangun dan mengikutinya. Saat terbangun, saya benar-benar ada di hutan. Seluruh tubuh saya gemetar dan saya melakukan ritual pertama di sana. Mungkin saya cenayang termuda di negara ini dan suatu hari saya mungkin menjadi yang terakhir. Para orang tua tidak ingin anak-anak mereka jadi cenayang. Mereka ingin anak-anak menempuh pendidikan. Saat tidak melakukan ritual, saya membantu orang tua di ladang atau mengurus ternak. Saya bangga jadi cenayang. Meski banyak orang saat ini menganggapnya tidak berguna. Saya senang bisa membantu orang lain. Ini panggilan saya. Biasanya orang-orang datang karena nyeri sendi, demam, atau mual. Dengan menghitung bulir beras, saya bisa tahu dewa mana yang menyiksa mereka. Tapi, ritual saya hanya bisa membantu mengatasi masalah spiritual, dan kadang bukan itu penyebabnya. Maka saya sarankan orang-orang pergi ke dokter di rumah sakit. Kalau bicara, saya bisa muntah. Saya pernah jadi korban ilmu hitam dan terkena penyakit. Beberapa cenayang memakai ilmu hitam karena tidak mau orang lain lebih kuat dan lebih diminati. Ritual besar ada bayarannya, jadi ada persaingan. Saat makan malam dengan keluarga, Suresh tahu ada tugas besar yang menunggu. Apa Ayah kenal orang yang meninggal itu? Iya, dia kerabat jauh. Keluarganya dari desa kita. Kenapa dia meninggal? Sudah tua. Ritual kematian akan diadakan dua minggu lagi. Dia akan dikremasi. Meski sudah melakukan ritual sebagai cenayang, saya belum pernah lakukan ritual terpenting: Ritual kematian. Jadi, ini juga ujian untuk menunjukkan perkembangan saya kepada guru saya. Pagi ini, terlihat banyak antusiasme di desa tanpa listrik ini. Sepertinya kita akan dapat listrik, saya lihat mereka bekerja di menara transmisi. Kali ini harus berhasil. [Para murid mengeja dalam bahasa Dzongkha] Kalau ada listrik, akhirnya kami bisa mengajari anak-anak cara memakai komputer dan bekerja <i>online.</i> Kami pernah dilatih, tapi selama ini tidak terpakai. Saya cuma sekolah sebentar, tapi saya mau anak-anak dapat pendidikan bagus. Saya mau mereka jadi dokter atau insinyur. Hei, apa sudah bisa? Belum, belum. Masih belum bisa. Masih belum ada yang dapat listrik. Kalian sudah lama bekerja. Jangan bilang ini tidak bisa lagi. Selesai! Apa lampunya bisa menyala? Seharusnya bisa. Jangan lupa berdoa dulu. Berdoalah dengan sepenuh hati. Baiklah. Dia sangat senang. Di mana <i>charger</i>nya? Kita bisa mengisi baterai ponsel dengan cepat. Lihat. Apa kamu senang? Kami sangat senang akhirnya ada listrik. Wajah anak-anak kami bersinar di bawah cahaya. Setelah perjalanan yang berat, dokter gigi Tenzin akhirnya tiba di tujuan pertamanya. Di Bhutan, setiap desa punya klinik kesehatan. Paramedis yang tahu riwayat medis semua penduduk dapat membantu saat saya merawat mereka. Pendidikan sangat penting bagi saya. Saat pergi ke desa-desa terpencil, biasanya kami pergi ke sekolah dulu. Ayo bilang halo ke sahabat saya, Dorji. Siap? Satu, dua, tiga. Bilang, “Hai!” Saya dan teman saya, Dorji, akan memeriksa gigi kalian. Kapan kalian menyikat gigi? Tiap pagi. Cuma pagi? Kadang malam juga. Cuma kadang! Siapa yang sakit gigi? Gigiku sakit. Waktu makan? Iya, waktu tidur juga. Juga?! Mari saya tunjukkan caranya sikat gigi. Buat lingkaran besar sampai kecil. Dan gigi depan begini. Orang bilang dokter gigi akan menyuntik kami. Aku takut. Kalau anak-anak nakal, kita biasa mengancam akan membawa mereka ke dokter. Jelas anak-anak jadi takut pada dokter dan rumah sakit. Saat saya lihat mereka takut, saya mencoba jelaskan sedetail mungkin. Saya akan bersihkan gigimu dengan air ini. Begini caranya. Kemarikan tanganmu. Apa terasa? Gigi dewasa anak-anak tumbuh di antara usia enam dan sembilan tahun. Kalau gigi susu yang berlubang tidak dirawat, bisa semakin parah. Jika saya bisa mendidik generasi ini tentang kebersihan gigi, mereka akan mendidik orang tua di rumah, lalu seluruh masyarakat lokal. Saya menganggap anak-anak sebagai duta terkuat saya. Selesai, terima kasih banyak. Terima kasih. Bagus sekali! Sonam kembali ke biara saat larut malam dengan ikan yang ia selamatkan. Llama miliknya dan para biksu sudah menunggu berjam-jam, karena pemberkatan tidak boleh ditunda. Ikan itu tidak akan bertahan lama di kantong plastik. Akhirnya, waktunya tiba. Lebih dari 2.000 ekor ikan mas kecil dilepaskan. Kolam biara sekarang penuh. Ini akan jadi rumah baru mereka. Besok pagi, misi lain menunggu. Waktunya untuk mewujudkan keinginan Dema. Saya dihubungi satu keluarga. Nenek mereka ingin menyelamatkan yak dari penjagalan. Mereka telah mengumpulkan uang dan meminta saya datang ke Thimphu untuk membantu mereka. Ini kesempatan saya untuk menyelamatkan nyawa. Hai, Nenek! Ayo ke sini. Nek, perkenalkan, ini pemilik yak itu. Dia datang membawa hewan-hewannya dari pegunungan tinggi karena mereka akan dijagal di sini. Iya, saya sudah janjian dengan pembeli dan tukang daging untuk buat kesepakatan. Kapan mereka datang? Harusnya sebentar lagi. Yak ini sudah seperti keluarganya. Saya kira juga begitu! Dia tidak tega mereka disembelih. Bagaimana lagi. Ini satu-satunya sumber pendapatan kami. Anak-anak dan istri saya hidup dari uang ini selama setahun. Pasti ada pilihan selain menjagal yak. Bagaimana kalau bertani? Tanah saya sangat kecil, hampir tidak bisa menampung rumah kami, dan sedikit yang bisa tumbuh di dataran setinggi itu. Berapa harga yak itu? Saya jual berdasarkan berat. Yang lebih besar harganya sekitar Rp23 jutaan. Kami tidak mampu membayarnya. Yang lebih kecil sekitar Rp16 juta. Anda bertanggung jawab atas yak ini dan kami ingin menyelamatkan mereka. Saya telah mengumpulkan uang dari seluruh keluarga, tolong beri kami kesempatan. Kalau harganya turun jauh, saya tidak akan dapat cukup uang. Nanti saya malah harus menyembelih yang lain. Kalau dua terlalu mahal, pilih satu saja. Yang lain untuk dipotong. Saya mau selamatkan keduanya. Ini menyedihkan sekali, satu pun tidak mampu kami beli, apalagi dua. Saya berdoa akan ada orang baik yang mau menyelamatkan yang lain dan kami tidak harus memisahkan mereka. Saat biksu yang berkeliling memulai upacara, Sonam berusaha mencari pembeli di saat-saat terakhir untuk yak yang kedua. Oke, akan saya kirimkan video yak itu. Terima kasih! Ini uangnya. Saya akan mendoakan Anda. Harinya telah tiba bagi Suresh untuk menunjukkan keahliannya dalam ritual kematian untuk mendiang perempuan sepuh itu. Saya pergi. Hati-hati! Dalam kasta kami, biasanya cenayang menjaga roh orang yang meninggal. Tanpa ritual, roh itu tidak bisa menemukan kedamaian dan akan menyulitkan hidup orang yang berduka. Cenayang berperan sebagai perantara untuk menangani masalah yang belum selesai dan membantu kerabat menerima kematian. Setelah perjalanan jauh, Suresh dan gurunya tiba larut malam di rumah keluarga mendiang. Hai! Kami terlambat. Silakan masuk! Cincin orang yang meninggal bisa membantu menangkap jiwanya. Sudah siap? Kita harus mulai sekarang. Berhubungan dengan roh orang yang meninggal bisa berisiko. Saya harus berkomunikasi dengan roh tersebut, meski roh itu bicara dalam bahasa daerah yang tidak terlalu saya pahami. Dan para tetua kadang tidak menganggap saya serius. Karena saya masih muda, mereka meragukan kemampuan saya. Tapi saya tidak khawatir karena guru saya akan membantu dan melindungi. Sekarang guru berusaha menghubungi roh mendiang perempuan itu. Dia merasukinya. Tahan dia! Dia jatuh. Ayo bantu dia duduk. Kami mencoba membawa roh ibumu ke tempat yang ditakdirkan. Dia belum bisa meninggalkanmu dan menerima kematiannya. Tapi jangan sedih, kematiannya sudah ditakdirkan dan semua berjalan seperti seharusnya. Sekarang saya dan guru bisa mendampingi jiwanya ke tempat dia akan menemukan kedamaian. Pergilah sendiri. Kamu melakukannya dengan baik! Saya akan mengajarkan semua yang saya tahu sampai pengalamanmu cukup untuk menjadi guru. Guru bilang, sebentar lagi saya akan bisa melakukan ritual kematian sendiri. Tapi masih banyak yang harus dipelajari. Saya akan berusaha sebaik mungkin! Dengan peralatan yang berat di punggungnya, dokter gigi Tenzin mendaki ke desa-desa terpencil di pegunungan. Saya bekerja di rumah sakit umum selama enam tahun. Saya berhenti karena lebih suka bepergian untuk menolong orang. Teman dan keluarga yang membantu membelikan peralatan. Tempat ini adalah Bhutan yang sesungguhnya bagi saya, rasa kebersamaan di sini paling kuat. Sebelah sini. Kami baru tiba dan orang-orang sudah berdatangan. Saya tidak punya janji dengan siapa pun malam ini. Tapi saya senang mereka datang. Para petani sedang panen padi, jadi mereka tidak punya waktu di siang hari. Saya agak lelah karena perjalanan panjang, tapi saya akan merawat semua yang datang hari ini. Pagi ini saya praktik di luar. Udaranya bagus, cahayanya lebih baik daripada di dalam, dan pemandangannya luar biasa. Selamat pagi. Saya bisa merawat sebagian besar pasien dengan alat ini. Tapi saya tidak bisa melakukan operasi. Jika diperlukan, saya merujuk pasien ke rumah sakit terdekat dan mendaftarkan mereka di sana. Tapi saya berusaha melakukan semuanya di sini. Anda bisa bahasa Dzongkha? Bisa, tapi pendengarannya tidak bagus. Baiklah, saya akan bicara lebih keras. Apa Anda mengerti maksud saya? Saya pergi ke rumah sakit karena sakit gigi parah. Saya harus minum obat sampai perawatan berikutnya. Tapi saya tidak bisa lagi pergi jauh. Bukan, tolong yang ini saja. Gerahamnya infeksi sampai ke akar. Sayangnya, saya harus mencabut gigi ini. Saya akan mengasah sisi bawahnya yang tajam agar tidak melukai lidahnya. Coba tutup. Sekarang gigit jari saya, dan buka lagi. Buka, Bu! Saya sangat bersyukur. Terima kasih banyak! Di pedesaan, sebagian besar orang sudah tidak punya gigi di usia 40 atau 50. Dan itu dianggap normal. Tidak ada yang mendidik dan merawat mereka. Mereka terbiasa dengan penderitaan ini. Saya ingin mereka sadar semua bisa berbeda dan kesehatan mereka ada di tangan mereka. Kehidupan pemilik toko Rinzin dan keluarganya telah berubah dalam banyak hal. Bagaimana caranya? Hati-hati ya. Sekarang kita bisa masak makanan pakai ini. Jangan sentuh itu. Benar. Itu bahaya. Makan malam siap. Setelah ada listrik, kami membeli kulkas supaya bisa berikan minuman dingin kepada para petani setelah bekerja di cuaca panas. Dan anak-anak mampir sepulang sekolah karena kami membuat es krim. Pelanggan tinggal lebih lama, kadang sampai pukul 11 atau 12 malam. Hasilnya, pendapatan naik dan kekhawatiran kami pun berkurang. Jika hati seseorang tidak bahagia, listrik tidak akan memperbaiki hidup mereka. Sudah lama saya menemukan kebahagiaan bersama keluarga saya, tapi semua terlihat lebih baik dengan cahaya. Yak yang sudah diselamatkan tengah menunggu untuk dibawa ke cagar alam, Dema masih mendoakan hewan yang mereka tinggalkan. Saya baru dihubungi organisasi kami. Dua anggota kami setuju membayar yak lainnya. Oh, itu berita yang baik sekali. Terima kasih sudah menyelamatkan jiwa yak ini. Saya doakan Anda dan keluarga hidup tercukupi dan bahagia. Bahkan ketika kami tidak bisa menyelamatkan semua hewan, saya senang kedua yak itu bisa tetap hidup. Banyak orang yang datang di waktu yang tepat sehingga ini terjadi. Saya tidak pernah berhenti belajar dalam pekerjaan saya. Satu hal yang saya pelajari adalah, kita membantu orang lain untuk bantu diri sendiri. Saya ingin menyelamatkan hewan sebanyak mungkin dalam hidup saya. Itu cara saya lebih dekat pada Buddha. Bahkan sesuatu yang biasa seperti makan atau tidur juga menjadi bagian dari perjalanan ini. dan itu perasaan yang luar biasa!
Resume
Categories