Transcript
_7ZzroyWOFc • Bisnis perjalanan luar angkasa | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0010__7ZzroyWOFc.txt
Kind: captions Language: id Di wilayah Ararat, Armenia, Austrian Space Forum sedang menjalani pelatihan untuk kolonisasi Planet Merah Mars. Ini adalah stasiun simulasi terbaru, tempat enam astronaut analog akan menjalankan tugas selama sebulan. Tugas yang mungkin suatu hari dilakukan manusia di Mars dalam 20 hingga 30 tahun mendatang. Ini seperti mendapat gambaran masa depan. Tim internasional yang disebut astronaut analog ini menguji peralatan dan prosedur yang baru dikembangkan. Tujuannya adalah mendeteksi potensi kesalahan untuk memastikan perjalanan ke Mars tidak menjadi misi bunuh diri. Saya yakin, sudah waktunya menuju Mars. Mars adalah tempat yang selalu kami impikan. Suatu hari, akan ada kota-kota di Mars, saya sangat percaya itu. Apa yang kami lakukan di sini adalah langkah awal kecil. Seperti bayi, belajar merangkak dulu, sebelum belajar berjalan. Dulu, menggapai bintang adalah proyek bergengsi negara <i>superpower. </i> Kini, perusahaan swasta mengubah perjalanan luar angkasa menjadi model bisnis yang berkelanjutan. Mereka membangun roket dan mencari solusi teknis agar akses ke luar angkasa lebih terjangkau. Jalan menuju bintang penuh tantangan, tapi bagi mereka, tidak ada jalan kembali. Mereka terpikat pesona luar angkasa tanpa batas dengan segala kekayaannya. Ada begitu banyak hal di luar sana. Semesta ini tak terbatas, kita punya kekuatan dan kemakmuran tak terbatas. Hanya perlu ke sana untuk mengambilnya. Area industri di Innsbruck menjadi markas Austrian Space Forum. Astrofisikawan Gernot Grömer memimpin persiapan misi Mars berikutnya dari organisasi riset swasta ini. Kita akan lepas helm dan memeriksa sensor satu per satu dan memeriksa kabelnya, untuk memperbaiki jalur kabelnya. Bisa tolong lepas helmnya? Mereka ingin menambah fitur baru pada pakaian antariksa ini. Ini pada dasarnya semacam pesawat luar angkasa yang bisa dipakai. Dalam pakaian antariksa ini, kita bisa mengukur banyak hal, mulai dari EKG, serta hal sederhana lainnya: Anda bisa makan, minum, bahkan buang air kecil dalam pakaian ini. Satu hal yang perlu dihindari, jangan bersin di dalam pakaian ini. Itu merepotkan. Jadi, ada sepotong kain kecil di sini untuk menggosok hidung Anda, karena tak mungkin menggaruk hidung. Ini hal kecil, dan bukan teknologi canggih, tetapi sangat membantu kehidupan astronaut analog. Para ilmuwan terus menerus menyempurnakan pakaian antariksa ini lebih dari sepuluh tahun. Sekarang, pakaian ini akan dilengkapi sensor untuk mengukur beban kerja astronaut dalam misi analog berikutnya. Simulator pakaian antariksa seperti ini satu-satunya di Eropa. Ini alat terbaik yang kami miliki untuk simulasi tekanan yang mungkin dialami manusia saat bekerja dan hidup di Mars. Waktu kecil dulu, saat pertama kali melihat luar angkasa melalui teleskop, Gernot sudah bercita-cita untuk menggapai bintang. Untuk mencapai mimpinya, ia menjadi astronaut analog, peneliti di Bumi yang mempelajari perjalanan luar angkasa. Kami perkirakan 20 hingga 30 tahun mendatang, manusia pertama akan mendarat di Planet Merah Mars. Ini berarti, orang yang akan melangkah pertama kali di Mars sekarang sudah lahir. Dengan kata lain, kami adalah generasi pembangun kapal, menciptakan peralatan yang memungkinkan perjalanan paling kompleks dan berbahaya, yang suatu hari akan membawa kita ke dunia baru. Ia mengenakan apa yang disebut eksoskeleton. Alat yang mensimulasikan tekanan yang akan dihadapi astronaut di Mars. Kalau saya mengangkat tangan, posisinya akan tetap di sana dan tidak turun lagi. Untuk mengepal, perlu tenaga ekstra. Ini memungkinkan saya mensimulasikan dengan akurat tekanan fisiologis yang akan diberikan pakaian antariksa di Mars. Sejak miliuner teknologi seperti Elon Musk memulai eksplorasi ruang angkasa sebagai pasar komersial, industri ini mengalami lonjakan. Banyak <i>startup</i> Eropa kini berlomba untuk bergabung dalam tren itu. Stefan Brieschenk, adalah pendiri sekaligus kepala insinyur Rocket Factory Augsburg di Jerman bagian selatan. Dia membawa kami ke lokasi bekas markas militer. Mereka menyewa bunker amunisi untuk menghemat biaya pengujian bersertifikat. Rocket Factory melakukan berbagai cara untuk menciptakan roket dengan harga yang paling bersaing. Apa yang kalian lakukan dengan konektor ini? Diperbaiki? Ya, ini sekarang sama seperti yang digunakan pada helikopter. Hari ini kami menjalankan uji coba untuk memastikan performa pompa <i>turbo. </i> Kalau performanya tidak memadai, roket tidak akan mencapai orbit. Ayo kita nyalakan. Pompa<i> turbo</i> digerakkan oleh mesin helikopter. Mampukah komponen ini menahan kekuatannya? Suaranya luar biasa, kan? Pompa bisa saja meledak, jadi semua orang harus menjauh. Stefan dapat menilai kinerja pompa hanya dari suaranya. Tes kali ini berjalan baik, ini hari yang baik. Kami sedang kumpulkan datanya. Pompa<i> turbo</i> semakin baik, mesinnya makin canggih. Kami semakin dekat untuk terbang ke orbit. Kantor pusat Rocket Factory Augsburg berjarak 30 kilometer. Stefan dan mitranya mendirikan perusahaan ini pada 2018, di usia 33 tahun. Dengan dukungan modal ventura, sekitar 300 karyawan dari lebih dari 40 negara mengembangkan roket dengan komponen-komponen dari industri untuk menekan biaya. Ada banyak detail teknis yang berbeda, tapi ini sebenarnya tangki bir biasa, seperti yang bisa ditemukan di pabrik bir. Dengan tangki bir ke luar angkasa? Ide ini datang dari AI (kecerdasan buatan), kata Stefan. Para insinyur juga memanfaatkan suku cadang dari industri automotif atau dari printer 3D. Sebelum mendirikan perusahaannya, dia belajar teknik kedirgantaraan di Australia Sebelum mendirikan perusahaannya, dia belajar teknik kedirgantaraan di Australia dan berkarier selama sepuluh tahun. Ini adalah inti segalanya: Mesin roket. Ini keajaiban fisika, bahwa semuanya berfungsi. Perjalanan luar angkasa adalah keajaiban. Dulu, banyak matematikawan yang mengatakan mustahil bisa mencapai luar angkasa, menurut hukum alam. Tapi, lebih dari 60 tahun lalu, Rusia membuktikan sebaliknya dengan meluncurkan satelit ke orbit, dan eksplorasi luar angkasa pun melonjak. Ayah Stefan seorang insinyur perancang helikopter. Tapi dia ingin terbang lebih tinggi dan memilih roket, tantangan tertinggi bagi penggemar teknik. Saat ini, lebih dari 100 perusahaan di seluruh dunia berlomba untuk menciptakan roket biaya rendah, yang memungkinkan satelit mencapai orbit dengan murah dan menghasilkan lebih banyak data. Karena itu, kerahasiaan penting. Tetapi di dunia komersial, yang lebih penting daripada kerahasiaan adalah waktu. Segala sesuatu harus rampung secepat mungkin. Elon Musk memimpin revolusi penerbangan luar angkasa dengan SpaceX. Tujuan utamanya mengolonisasi Mars. Namun saat ini, sebagian besar roket digunakan untuk peluncuran satelit ke orbit rendah Bumi. Hingga 2023, lebih dari 7.500 satelit mengorbit Bumi, menjadikan ini bisnis besar bagi para pembuat roket. “<i>New Space</i>” adalah istilah untuk pasar baru luar angkasa komersial. Jerman juga tidak ingin ketinggalan menggarap bidang ini. Tahun 2021, Asosiasi Industri Jerman, BDI, mendirikan New Space Initiative di Berlin. Pasar ini bernilai triliunan, karena semakin banyak sektor yang bergantung pada jaringan digital. Matthias Wachter memimpin prakarsa ini. Ada pertukaran data, dan sebagian besar pertukaran data ini terjadi melalui satelit dan sistem berbasis luar angkasa. Itulah sebabnya New Space menjadi komitmen kami dan isu utama bagi seluruh spektrum industri Jerman. Kami percaya ini memiliki potensi besar bagi masa depan industri Jerman, serta daya saingnya. Rocket Factory di Augsburg adalah satu dari tiga perusahaan <i>startup </i>Jerman yang mengembangkan roket kecil untuk satelit. Mereka semua ingin menjadi yang pertama. Kami menjangkau luar angkasa dan terus maju, juga kalau kemungkinannya kecil, kami akan menemukan jalan untuk mengetahui lebih banyak lagi, dan menjawab pertanyaan besarnya: Mengapa kita ada? Mengapa kita di sini? Stefan senang menghabiskan waktu luangnya di bengkel garasi rumahnya. Saya di sini setiap hari, biasanya sampai tengah malam. Tanpa ini, hidup saya tak akan berfungsi. Tanpa bengkel ini, hidup saya sulit dibayangkan. Saya perlu ini. Saya ingin menginvestasikan sebanyak mungkin waktu untuk terus maju. Ia yakin teknologi baru akan terus meningkatkan kualitas hidup di Bumi. Di siang hari, ia membangun roket. Di malam hari, ia mencoba merevolusi mesin mobil. Saya sudah mengerjakan mesin ini hampir sepuluh tahun. Kedengarannya gila, tapi akhirnya saya berhasil. Mesin bebas emisi, berdasarkan mesin pembakaran dengan teknologi roket. Di pabrik, kami membangun roket seperti mobil, dan di rumah, saya membangun mobil seperti roket. Mesin pembakaran tanpa emisi! Membuat yang mustahil menjadi mungkin, di Bumi maupun di luar angkasa. Stefan yakin, manusia suatu hari akan menjadi spesies antarplanet. Sangat penting bagi umat manusia untuk membangun basis di planet lain, tempat yang bisa terus-menerus dihuni. Itu langkah pertama. Mars, Bulan, ada beberapa target. Tapi Mars jelas lebih masuk akal. Pariwisata luar angkasa, koloni di Mars dan Bulan, penambangan asteroid. Pertumbuhan tanpa batas di luasnya semesta. Banyak yang terdengar seperti <i>science fiction,</i> namun ekspektasi terus meningkat. Menurut sebuah studi BDI, pasar aplikasi berbasis luar angkasa dapat tumbuh 7,4% per tahun, mencapai kuadriliunan rupiah pada 2040. Di lahan pasir di Austria bagian utara, Gernot Grömer memperkenalkan misi Mars Austrian Space Forum kepada publik. Di balik segala romantisme yang mengiringinya, luar angkasa adalah bidang ekonomi bernilai triliunan yang tak dapat diabaikan Austria. Luar angkasa "made in Austria” suatu hari bisa jadi merek handal, dan tempat ini bisa menjadi awalnya. Khususnya Rover Mars menarik perhatian. Para mahasiswa Jerman dan Austria mengembangkannya untuk misi mendatang. Rover ini dirancang untuk menjelajahi medan berat semandiri mungkin. Ayo jalankan! Hari ini adalah acara Ready for Space. Kami melakukan pelatihan terbuka untuk misi Armenia. Memang belum sempurna, tapi itu gunanya latihan ini. Masih ada lima bulan untuk menyelesaikan beberapa masalah kecil. Bagi para mahasiswa Jerman, ini adalah kesempatan untuk bertemu tim lain dan bertukar ide. Rover mereka bernama Irma dan Charlie. Irma tak akan berubah secara fundamental lagi. Sistemnya sudah final, tugas utamanya, melakukan pemindaian, dan hasilnya bagus. Fokus kami adalah otomatisasi seluruh sistemnya. Sama dengan Charlie. Charlie bergerak lebih mandiri dibanding Irma, meski belum sepenuhnya. Kesimpulannya: Masih banyak yang harus dilakukan sebelum misi di Armenia. Di dalam aula, astronaut analog sedang memakai perlengkapan antariksa, proses yang makan waktu sampai tiga jam. Anika Mehlis dipasangi eksoskeleton untuk mensimulasikan gerakan dan tekanan seperti di Mars. Saya membaca artikel di koran tentang Austrian Space Forum yang mencari astronaut analog baru. Saya memang tertarik dengan perjalanan luar angkasa, jadi saya cek di situs internetnya, dan pikir, “Oh, saya bisa coba ini.” Anika ahli mikrobiologi dan teknik lingkungan. Di waktu luangnya dia astronaut analog. Hari ini koleganya dari Italia. Dia sendiri berasal dari Plauen, Jerman bagian timur. Saya sangat menantikan misi ini. Saya penasaran, apa semua sensornya berfungsi. Kami sudah sedikit mencobanya, melihat bagian mana yang berfungsi. Sensornya ada di dalam pakaian astronaut berbobot 50 kilogram ini dan mengukur kondisi mereka dalam kegiatan sesuai instruksi. Berjalan lambat menuju titik dua. Bisa istirahat sebentar, atau langsung ke sana. Saya tidak tahu Anda bisa lihat atau tidak, tapi saya sangat berkeringat. Suhu dalam setelan ini sekitar 32° Celsius, dan bobotnya membuat tiap gerakan terasa melelahkan. Tapi, saya puas karena sensornya berfungsi baik, dan hasil gambarnya cukup bagus. Rencana kami berjalan baik. Juga di negara bagian Bayern, Jerman bagian selatan, New Space jadi topik penting. Stefan berbicara di hadapan perwakilan Kamar Dagang dan Industri Jerman. Elon Musk terkenal dengan peluncuran ribuan satelit untuk menyediakan internet. Industri luar angkasa kini tengah berkembang pesat. Kami ingin menciptakan roket layaknya mobil, yang dapat membawa satelit ke orbit, membuka peluang ekonomi luar angkasa yang bernilai kuadriliunan rupiah. Rocket Factory ingin meluncurkan roket seminggu sekali dan membawa satelit ke orbit dengan biaya terjangkau. Pusat Dirgantara Jerman DLR adalah mitra dari <i>startup</i> Augsburg ini. Tujuannya, menggabungkan "Old Space" dan "New Space." Kami dapat memanfaatkan teknologi yang sudah dikembangkan di sini. Ungkapannya dalam bahasa Inggris: <i>You are standing on the shoulders of giants.</i> Dia berharap kolaborasi ini akan memberi mereka keuntungan kompetitif menuju luar angkasa. Pihak DLR cukup terkesan dengan keseriusan para petualang muda ini. New Space membawa pola pikir baru yang mempermudah akses, keterjangkauan, dan relevansi eksplorasi luar angkasa serta aplikasinya bagi semua orang. Tergantung bagaimana perhitungannya, potensi pasarnya bisa setara dengan industri automotif. Ekspektasi tinggi, bukan hanya ada di pihak industri ini. Para mahasiswa juga berharap akan ada banyak bidang kerja baru yang prestisius. Beberapa bulan telah berlalu sejak uji coba untuk Armenia di lahan pasir Austria. Bagaimana status Rover saat ini, apakah mereka sudah siap untuk misi-misi luar angkasa? Saya sangat yakin para astronaut di Armenia akan mampu mengendalikan robot-robot ini tanpa kesalahan. Petualangan "Mars Mission" akan segera dimulai. Di ruangan lain, profesor mereka sedang rapat online dengan Austrian Space Forum. Motivasi di Armenia luar biasa. Kami melihat respons luar biasa dari komunitas lokal, media, dan juga sisi politik. Saya sangat menantikannya. Ini sangat menarik. Dan bagaimana kabar Rover Charlie? 45 derajat ke kiri, dan maju 20 meter. Meja-meja dekat jendela menjadi pusat kendali. Apakah Charlie akan berhasil naik bukit salju? Dia bisa. Bukit berhasil ditaklukkan. 3.000 kilometer ke utara, dekat Lingkar Arktik di Swedia. Stefan dalam perjalanan ke Pusat Luar Angkasa Esrange. Di sini Rocket Factory menguji mesin roket dalam kondisi nyata. Sejak tiga tahun, kami melakukan uji coba di sini. Uji coba yang sekarang adalah yang terbesar dan paling berbahaya yang pernah dilakukan di lokasi ini. Hutan beku dan terpencil ini adalah stasiun luar angkasa pertama di daratan Eropa. Rocket Factory menyewa lokasi di sini untuk menguji mesin Helix, yang dikembangkan di Augsburg. Hari ini, mereka akan melakukan "<i>hot-fire test,</i>" yakni menyalakan mesin roket berbahan bakar kerosin, dalam simulasi peluncuran yang sesungguhnya. Saya ingin tahu apa saja yang sudah dikerjakan. Saya ingin melihat sendiri semua perubahan yang dilakukan untuk memastikan kami dapat melanjutkan uji coba ini dengan tenang. Semua sudah siap untuk uji coba. Kami hanya menjalankan beberapa tes lagi karena hari ini sangat dingin. Uji coba hari ini tidak boleh gagal, hasilnya harus positif. Yang kita lihat di sini adalah hasil kerja keras lima tahun. Kami punya mesin nomor dua dan tiga di sini, mesin ketiga di posisi depan. Kalau ada yang salah, jerih payah lima tahun akan sia-sia. Kalau hari ini gagal, saya akan lompat dari atas sana. Kelangsungan <i>startup</i> ini bergantung pada kepercayaan investor. Untuk mempertahankan pendanaan, mereka butuh hasil positif. Malam harinya, langit di atas Pusat Luar Angkasa Esrange ditutup untuk penerbangan. Keamanan ekstra diperketat. Mesin Helix berkekuatan setengah juta tenaga kuda, dan jika tak terkendali, bisa memicu peluncuran roket yang sesungguhnya. Sebelum menyalakan mesin roket, area ini dievakuasi. Melakukan ini di suhu -30° Celsius tengah malam adalah tantangan besar untuk semua orang. Beban fisik dan mentalnya akan membekas sampai seminggu ke depan, tidak hanya sampai besok. Sementara beberapa orang mulai meninggalkan area, pemeriksaan akhir masih berlangsung. Namun, terjadi sesuatu yang tak terduga. Kita tidak bisa teruskan. Salah satu regulator tidak cukup panas untuk mencapai tekanan yang diperlukan. Ini tahap terakhir sebelum peluncuran, dan hari ini adalah salah satu hari terdingin untuk pengujian. Kita harus hentikan, dan coba lagi besok. Penundaan adalah bagian dari bisnis ini. Namun, Eropa berambisi untuk mandiri dari SpaceX dan Starlink milik Elon Musk. Karena itu, ada desakan untuk mengembangkan peluncur satelit di Eropa, dengan tujuan membangun sistem internet satelit di orbit rendah Bumi. Meski orbit kini sudah terancam penuh dengan puing luar angkasa. Partikel seukuran milimeter saja dapat menghancurkan satelit. Saat ini, ada sekitar 9.000 ton puing luar angkasa di orbit Bumi. Meski hanya sebagian kecil berukuran lebih besar dari 10 cm, kumpulan serpihan kecil juga berbahaya. Puing luar angkasa adalah masalah serius. Masalah ini harus ditangani lebih proaktif karena ada risiko orbit rendah Bumi menjadi sangat tercemar dan kita kehilangan akses ke luar angkasa dalam jangka panjang. Semua negara yang terlibat dalam eksplorasi ruang angkasa seharusnya peduli dengan ini. Eropa bisa menjadi pionir di sini. Ruang angkasa memang luas, tapi orbit dekat Bumi yang vital bagi satelit sangat terbatas. Orbit ini begitu krusial untuk masa depan digital dan yang lebih hijau. Tanpa infrastruktur satelit yang berfungsi, banyak aspek kehidupan modern akan terganggu. Austrian Space Forum memahami hal ini dan tengah mengembangkan solusinya dengan dukungan investor. Kita sekarang akan masuk ke ruangan yang lebih sensitif. Di sini, kami membuat, menguji, dan mengembangkan perangkat keras yang benar-benar akan terbang ke luar angkasa. Ini bukan simulasi. Ini sungguhan. Kita akan memasuki ruangan yang agak sensitif. Kita akan melihat aktivitas sensor. Sensornya sedang mengorbit 500 kilometer di atas kita, mencari puing luar angkasa. Ini dirancang untuk mendeteksi partikel kecil yang bergerak cepat di orbit rendah Bumi. Dan kami berharap untuk tertabrak. Mereka mengembangkan papan sirkuit khusus yang bisa "mendengar" di luar angkasa seperti mikrofon. Jika teknologi ini berhasil, investor berencana mendirikan perusahaan yang mengumpulkan data puing luar angkasa dan menjualnya pada operator satelit. Ini struktur <i>sandwich</i> dengan komposit <i>fiberglass</i> dan elemen konduktif. Ini memungkinkan kami mendeteksi serpihan luar angkasa yang terkecil. Walaupun tidak menyebabkan kerusakan besar seperti yang seukuran kepalan tangan, kami bisa melacak jutaan partikel kecil ini. Awal 2023, mereka meluncurkan satelit penelitian kedua, Adler 2, dengan roket Amerika. Di akhir masa operasionalnya, Adler 2 akan terbakar di atmosfer Bumi seperti pendahulunya. Peluncurannya sangat menegangkan, seperti satelit sebelumnya dengan SpaceX dan Virgin Galactic yang naik mencapai 500 kilometer. Peluncuran kedua lebih lancar karena pengalaman dan kepercayaan tim. Kami menggunakan Falcon 9, yang meluncurkan beberapa satelit kecil, dan secara kebetulan, satelit kami terlepas dekat Armenia. Jadi kalau kami melakukan simulasi Mars di Armenia, kami bisa memanfaatkan satelit kami sendiri untuk menghasilkan gambar. Rasanya luar biasa, melihat dua proyek kami bisa tergabung seperti ini. Di kaki Gunung Ararat, dekat desa Armash di Armenia misi Mars Austrian Space Forum siap dimulai. Pos pendaftaran pengunjung telah didirikan. Dua pekerja Armenia berjaga, mencegah tamu yang tidak diinginkan. Gernot juga sudah berada di Armenia. Dengan kendaraan <i>off-road,</i> dia menuju area uji coba. Mengapa dia memilih Armenia? Kami tahu ada formasi geologi di sini yang pada dasarnya kembaran dari yang ada di Mars. Itu alasan kami ke sini. Setelah melewati pos pemeriksaan di desa, ada pos kedua. Ini pos pemeriksaan. Bagian dari sistem keamanan kami. Mereka ada di sini setiap waktu, menjaga akses ke lokasi uji coba. Kamera dipasang di semua puncak bukit di sekitar area untuk pengawasan 24 jam. Kawasan ini baru mengalami konflik di wilayah Nagorno-Karabakh. Tidak ada yang ingin mengambil risiko, jadi langkah-langkah keamanan diterapkan. Tapi meski perencanaannya matang, tidak semua berjalan lancar. Mitra di Armenia tidak menyelesaikan infrastrukturnya tepat waktu. Keterbatasan akses internet menyebabkan masalah. Tim mahasiswa dari Austria dan Jerman sedang mencari solusi. Kita perlu lebih banyak data, satu <i>gigabyte</i> mungkin? Satu <i>gigabyte</i> terlalu sedikit. Benar? Seharusnya sudah sampai... Kalau komunikasi di Bumi saja sudah sesulit ini, bagaimana dengan di luar angkasa? Namun, setidaknya Rover dari tim Austria mulai bergerak. Sampai ke Mars, jalannya masih masih panjang. Tapi universitas kami melakukan penelitian mendasar, jadi penting menguji setiap komponen satu-persatu. Teknologi Rover adalah motor inovasi di bidang robotik, sensor, dan komunikasi. Semua orang mendapatkan manfaat dari pendanaan nasional dan Eropa, seperti dana dari Badan Antariksa Eropa ESA, dan dari sumbangan pribadi. Tugas ini tak mudah. Kalau kami pergi ke Mars dengan pengetahuan dan kapasitas saat ini, itu sangat berbahaya, dan secara ilmiah tidak produktif. Karena itu, kami perlu belajar di lingkungan mirip Mars untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya. Ini momen yang sangat menarik. Namun, misi Mars ini tertunda. Bahkan tempat tinggal astronaut yang dinamakan habitat belum siap. Tim di Armenia, menghadapi tantangan. Alih-alih meneliti, mereka justru harus ikut menyiapkan tempatnya dulu. Gernot tidak ingin berbicara tentang awal misi yang penuh tantangan ini. Astronaut Analog Anika yang khusus mengambil cuti untuk penelitiannya, mengaku kecewa. Ini bikin stres. Memang selalu ada masalah di beberapa hari pertama sebelum semuanya resmi dimulai. Tapi, saya belum pernah mengalami yang seperti ini. Sementara beberapa orang kesulitan dengan situasi ini, yang lain tidak kehilangan semangat. Dua peserta misi Armenia sedang menyiapkan koneksi <i>Wi-Fi.</i> Saya tertarik dengan luar angkasa karena saya jurusan teknik, dan tujuan utama saya adalah berkontribusi di industri antariksa. Waktu kami masih kecil, kami selalu ingin jadi astronaut. Kami ingin mempelajari segala sesuatu, saya rasa itulah sebabnya kami sangat tertarik pada sains. Pria ini juga berambisi besar. Di era Soviet, Armenia berperan dalam pengembangan satelit pertama, Sputnik. Sekarang dia berharap, misi ini dapat mengembalikan peran Armenia dalam eksplorasi antariksa. Untuk impian yang baru, yang lebih besar. Di Ararat, Anda bisa lihat betapa besarnya itu. Jadi kita harus punya impian besar. Kalau tidak, saya tidak tahu untuk apa kita hidup. Tim universitas Austria secara resmi menyerahkan Rover kepada Space Forum. Mahasiswa Armenia kagum dengan kendaraan futuristik ini, dan berharap pada masa depan menjanjikan di industri luar angkasa. Di Swedia, suhu meningkat dengan cepat, dari -30° Celcius kemarin, hari ini hanya -15° Celcius. Cuaca dan suhu sudah lebih ramah. Stefan memeriksa regulator tekanan yang kemarin menyebabkan masalah bersama insinyur uji coba, Johnathon Ross. Biasanya ini berfungsi, kemarin tidak, tapi biasanya berfungsi sampai -15. Kita terlambat? Tidak. Kami berhasil mendapatkan kabel pemanas ini pagi tadi. Ini memastikan seluruh regulator tetap hangat. Sangat menyedihkan, kita kemarin tidak bisa tes semuanya. Stefan membawa sendiri regulator tekanan, kali ini dengan isolasi dingin yang lebih baik, untuk dipasang di bawah area mesin. Dia ingin memastikan semuanya terkendali. Kelihatannya oke. Siap dicoba. Siap untuk <i>hot fire</i> hari ini. Mesin roket menguji material hingga batas kemampuannya. Jika satu saja komponen gagal, semua bisa berakhir dalam ledakan besar. Bekerja dalam proyek seperti ini sungguh unik. Sangat sedikit pekerjaan yang mampu mengobarkan motivasi seperti sebuah peluncuran roket. Orang-orang di sini bekerja penuh semangat. Untuk mereka, tidak ada yang lebih penting. Instruksi terakhir di ruang kontrol. Tidak ada yang meninggalkan ruangan. Jangan ngobrol, jangan bertanya pada operator. Semua konsentrasi penuh. Hitung mundur dimulai. Tiba-tiba saja, mesin melambat. Ada masalah lain? Targetnya adalah uji coba 160 detik. Yang kelihatan dari kamera, tampaknya beberapa sensor terlepas karena hembusan dari pipa atau gas. Itu sebabnya beberapa sensor tidak berfungsi. Setelah 20 detik, uji coba dihentikan. Perjalanan ke luar angkasa begitu sulit. Semuanya berada di batas kapasitas, jadi tim insinyur harus menguji sesering mungkin untuk mencapai kapasitas puncak. Sistem keselamatan berfungsi. Mesin tidak kehilangan kendali. Tapi tujuan besarnya adalah operasi penuh 160 detik, dan itu belum tercapai. Sinar kutub Aurora terlihat di angkasa. Angkasa yang suatu hari ingin dicapai Stefan dengan roketnya. Di industri luar angkasa, kegagalan dan keberhasilan sangat erat kaitannya. Siapa pun yang bekerja di bidang ini harus mampu mengelola rasa frustrasi dengan baik. Bagi Stefan, tidak ada kata mundur. Semua teknologi terkait roket sangat, sangat sulit. Selalu bekerja sampai limit, sampai batas terakhir. Kita tahu bahwa kita sedang menguji hukum alam. Lalu kita sadar, bahwa meskipun hukum alam itu kekal, kita mampu melangkah lebih jauh dari yang kita sangka. Kembali ke misi Mars Austrian Space Forum. Meski habitat luar angkasa belum selesai, dua astronaut analog sedang dipersiapkan untuk kegiatan pertama. Nantinya, enam anggota kru akan tinggal terisolasi di habitat selama empat minggu. Hari ini kami hanya akan melakukan eksplorasi singkat di sekitar habitat, melihat kondisi tanah, mengambil foto, dan uji coba singkat dengan kendaraan <i>quad</i> untuk menilai kinerjanya. Jadi, ini hanya uji coba singkat. Mereka mungkin tidak akan pernah sampai ke luar angkasa, tetapi mereka menjadi bagian dari misi yang besar. Ketika ekspedisi Mars yang sebenarnya terjadi, saya mungkin sudah pensiun. Tapi saya bisa mengatakan, “Sayalah yang memasang sekrupnya!” Para kolega yang lebih muda mungkin sedang membangun jembatan emas ke masa depan. Bagi kami yang bekerja di bidang ini, terlibat dalam proyek semacam ini adalah sebuah kehormatan.