Transcript
TB1ES8FZOBQ • Varanasi - Menghadapi kematian tanpa rasa takut | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0015_TB1ES8FZOBQ.txt
Kind: captions Language: id Varanasi - Kota suci di India. Jutaan umat Hindu percaya, orang yang meninggal di sini akan diselamatkan. Bagi kami, kematian adalah perayaan. Di sini, saya bertemu orang-orang yang mencari penghidupan dari kematian. Saya punya mimpi bisa sekolah dan hidup lebih baik. Tanpa bekerja seperti ini. Di Varanasi, saya kadang sulit mengatasi dorongan emosi... ...tapi saya juga bertemu dengan orang-orang hebat... Saya tidak pernah takut. ...dan belajar bahwa kematian tidak harus menakutkan. Kita harus berdamai dengan kematian. Beberapa tahun lalu, saya kehilangan ibu saya. Perlu waktu lama untuk menerima kematiannya. Saya sering merasa sangat sedih. Katanya, di wisma perawatan di Varanasi ini, kematian didekati dengan cara berbeda. Tempat ini dikenal sebagai Mukti Bhawan, artinya 'Rumah Keselamatan'. Kalikant Dubey adalah pendeta di Mukti Bhawan. Dia memulai ritualnya pagi-pagi sekali... Biasanya, para pendeta melakukan ini secara pribadi. Saya diberi pengecualian untuk hadir saat dia mengoleskan abu suci ke batu. Dalam prosesnya, batu itu menjadi simbol dewa Hindu. Orang-orang yang datang kepada kami mencari keselamatan. Tamu kami percaya jika meninggal di Varanasi, mereka bisa lolos dari siklus reinkarnasi. Kami menemani mereka dengan menyanyikan lagu, memberi kemangi, dan air dari Sungai Gangga. Bisakah kamu menjelaskan apa aturan utama Mukti Bhawan, dan mengapa aturan ini ada? Orang-orang yang ke sini punya 15 hari untuk meninggal. Hanya orang yang mencari keselamatan yang boleh ke sini. Jadi tidak karena ada akomodasi gratis, atau tinggal berbulan-bulan. Satu-satunya tujuan di sini adalah keselamatan. Lima belas hari untuk meninggal. Bagi saya, kedengarannya seperti situasi stres, seperti ada jam berdetak untuk napas yang terakhir, tapi bagi umat Hindu yang taat itu sesuatu yang wajar. Apakah 10 kamarnya kadang penuh? Ya, tentu, kadang semua kamar terisi. Bulan September atau Oktober semua kamar biasanya penuh. Jadi, kamarnya begini? Ya. Ada dua tempat tidur. Satu untuk orang yang mencari keselamatan, dan satu untuk pendampingnya. Kadang lebih banyak anggota keluarga ikut datang, jadi kami menggelar kasur di lantai. Harga kamar ini hanya 20 sen per malam. Mengapa semurah itu? Pada dasarnya, orang-orang menginap gratis di sini. Ada biaya 20 sen, supaya orang hemat listrik. Harga murah itu juga mengingatkan bahwa mereka tidak boleh tinggal terlalu lama. Tujuan kamar itu benar-benar hanya untuk berangkat ke keselamatan. Untuk saya, tempat agak sepi, hampir steril. Tapi bagi banyak orang, meninggal di sini adalah yang terbaik. Dalam sebuah lingkungan yang sama sekali asing, tanpa kenyamanan apa pun. Di sini, saya akan bertemu seseorang, yang keinginan terakhirnya meninggal di Varanasi. Pertemuan itu sangat menyentuh saya. Bagi umat Hindu yang taat, Varanasi kota yang sangat istimewa. Salah satu dewa utama mereka, Siwa, dikatakan tinggal di sini. Tempat ini juga dilewati sungai terpanjang India, Sungai Gangga. Bagi banyak umat Hindu, sungai ini adalah manifestasi fisik Dewi Gangga. Mereka percaya mandi di Sungai Gangga bisa membantu menghapus semua dosa. Penyakit juga bisa sembuh hanya dengan satu teguk air suci ini. Ram Bali juga percaya pada khasiat sungai ini. Selama lebih 50 tahun, dia mendayung di Sungai Gangga. Halo, apa kabar? Sangat baik. Siapa nama Anda? Nama saya Ram Bali. Saya Oliver. Ram artinya dewa. Bali artinya dewa monyet. Ram dewa yang sangat berkuasa. Ram Bali berusia 73 tahun. Dia menghabiskan seluruh hidupnya di Varanasi. Dia bilang kalau dia mendapat semua energi dan kesehatannya dari Sungai Gangga. Apa Anda juga minum airnya? Tentu saja... Sampai sekarang... Sekarang dia minum airnya. Air Gangga. Air Suci. Penelitian menunjukkan betapa tercemarnya Sungai Gangga di Varanasi. Airnya sangat beracun sampai tidak ada ikan yang bertahan hidup. Tapi di sini, kepercayaan lebih penting daripada sains. Orang harus mandi di Sungai Gangga setidaknya tiga kali. Pertama, setelah lahir, kedua setelah menikah, ketiga, setelah mati. Kematian selalu hadir di Sungai Gangga. Terkadang ada mayat yang mengapung di air. Itu tidak mengganggu saya. Saya terus mendayung. Itu hanya tubuh, jiwanya sudah lama pergi. Setelah meninggal, yang tersisa hanya tubuh tanpa nyawa. Pemikiran yang mengejutkan bagi saya. Sulit rasanya memisahkan tubuh dari esensi orang yang sudah meninggal. Saya mengunjungi tempat di mana sebagian besar jenazah dikremasi: Manikarnika Ghat. Asap, bau, dan apa yang saya lihat, sangat mencekam. Kematian terlihat di mana-mana. Tidak ada upaya menyembunyikan tubuh, organ, atau bagian tubuh yang terbakar. Bagi pria ini, semua adalah bagian dari hidupnya sehari-hari. Mengkremasi jenazah adalah pekerjaan Pachkosi Chaudhary. Saya 33 tahun. Saya pertama kali ke sini pada usia 13 tahun, waktu itu saya membakar 4 atau 5 mayat setahun. Lalu semakin banyak. Saya juga memandikan orang meninggal di Sungai Gangga. Dulu, tempat ini berbeda. Saya selalu kerja sepanjang waktu. Kalau bukan saya, siapa lagi? Kami yang mengurus semuanya di sini, tidak ada orang lain. Itu kerja keras. Pachkosi adalah anggota kelompok kasta Dom, salah satu kasta terendah di India. Dia dapat sekitar 43 ribu rupiah per kremasi. Perlu sekitar tiga jam untuk membakar satu jenazah. Untuk kami, ini rutinitas. Jadi ini sudah normal? Iya, saya sudah terbiasa, tapi kami tetap perlakukan orang meninggal sebagai manusia dan bicara dengan mereka. Kata Pachkosi, orang meninggal harus dikubur dengan bermartabat. Saat istirahat, dia masuk ke Sungai Gangga, tempat abu mendiang ditebarkan. Dia mencari barang berharga di sana. Kadang dia beruntung, seperti sekarang, dia menemukan kalung. Di air yang keruh dan tercemar, dia sulit melihat ke mana dia melangkah. Saya bisa luka karena kaca ini. Lebih baik dibuang. Saya sulit memahami kondisi kerja Pachkosi, dan saya sangat salut dengan apa yang dia lakukan. Saya ingin tahu apa dia lebih suka profesi lain. Tentu saja saya mau punya profesi lain, tapi pekerjaan di sini sangat penting. Kalau Tuhan memberi saya kesempatan mendapat pekerjaan baru, pasti saya ambil. Kalau tidak, saya akan tetap di sini. Pachkosi punya 3 orang anak. Dia berharap nantinya mereka tidak harus bekerja di Manikarnika Ghat. Saya akan menemui dia beberapa hari lagi. Dia akan menceritakan rencananya membuat masa depan yang lebih baik untuk keluarganya. Jam 6 pagi, saya dapat pesan dari wisma perawatan. Mereka mau saya datang secepatnya. Kami baru menerima telepon dari pemilik Mukti Bhawan bahwa ada yang datang tadi malam. Dia mau meninggal di Varanasi. Mereka tanya apa kami mau datang dan bicara dengan keluarganya, jadi sekarang kami ke sana. Saya sangat menghargai kesempatan ini. Sekitar 20 anggota keluarga sedang mengerubungi pria tua yang sekarat. Tiba-tiba saja saya ragu, apakah benar kami harus ada di sini. Kami sedang membuat film tentang kematian di Varanasi. Apa kami bisa bicara dengan kalian dan melihat cara kalian menghadapi situasi ini? Apa kami boleh? Boleh, tidak ada masalah. Kami senang berbagi dengan orang yang mungkin tidak tahu banyak tentang agama kami, dan menunjukkan cara kami menghadapi situasi sulit ini. Pria tua yang sakit itu adalah ayah mertuanya. Namanya Shri Loknath Tiwari. Usianya 82 tahun, dan hanya bisa bernapas dengan bantuan ventilator. Dia tidak bisa melihat lagi. Semuanya gelap. Ini sulit. Kondisinya benar-benar kritis. Anda senang sekarang ada di Varanasi? Sangat senang! Sangat senang. Berkat Tuhan selalu beserta kami! Terima kasih mau bicara dengan kami di masa sulit ini. Oh, kalian yang menjenguk kami. Kalian sangat baik! Terima kasih banyak. Ini situasi paling ekstrem yang pernah kami rekam. Keluarga ini, yang tentu saja prihatin dengan anggota keluarga yang akan meninggal, menyambut kami, dan ingin menunjukkan tentang budaya mereka, bagaimana mereka menghadapi kematian. Saya bertanya pada salah satu putranya, Satyendra Tiwari, mengapa penting bagi keluarganya datang ke Varanasi. Saya ingin ayah meninggal dengan bahagia. Saya ingin seluruh keluarga juga hadir. Sampai saat ini, ayah terjebak dalam siklus reinkarnasi abadi. Dengan meninggal di Varanasi, dia akan memutus siklus itu. Saat ibu saya meninggal, saya merasa sangat sedih. Saya rasa kalian semua juga sedih, tapi juga bahagia, apa benar? Ya, kematian adalah perayaan bagi kami. Salah satu ritual terpenting seperti kelahiran dan pernikahan. Kami merayakan kematian. Karena banyak yang berlalu, misalnya rasa sakit. Dalam agama Hindu, kami yakin ada 8,4 juta bentuk kehidupan yang berbeda. Terlahir sebagai manusia berarti diberkati Tuhan. Hanya sebagai manusia kita bisa mendapat keselamatan. Kalau tidak, kami harus melewati seluruh siklusnya lagi. Waktu saya sedang bertanya bagaimana dia mengurus semuanya, tiba-tiba saja semua jadi gelap. Ada pemadaman listrik. Ini fatal, karena mesin ventilator untuk ayahnya juga berhenti berfungsi. Untuk pertama kalinya, ruangan dipenuhi kegelisahan. Sepertinya kematian kini menjadi makin nyata bagi keluarga. Saya merasa, keluarga saat ini ingin sendirian untuk sementara. Di tepi Sungai Gangga, saya bertemu penjual teh, Ram Yadav. Keluarganya sudah tinggal di Varanasi selama 7 generasi. Anda sangat dekat dengan Manikarnika Ghat, tempat banyak jenazah dibakar. Orang macam apa yang Anda temui? Apa mereka sedih? Apa mereka bahagia kerabat mereka mati di Varanasi? Kesan apa yang Anda dapat dari orang-orang di sini? Banyak orang yang baru saja kehilangan orang tercintai datang ke kedai teh saya. Sering kali mereka sedih atau menangis. Ada yang merasa susah kehilangan ayah, ibu, anak, atau anggota keluarga lain. Bagaimana Anda menghibur mereka? Apa Anda menghibur mereka lewat makanan, teh, atau percakapan? Bagaimana caranya? Saat mereka menceritakan masalah mereka, saya menjelaskan Tuhan memberi kita sejumlah hari tertentu. Orang selalu mencari uang atau kebahagiaan, tapi segalanya, dari kelahiran sampai kematian sudah ditakdirkan Tuhan. Saya bilang tidak ada alasan untuk menangis. Mereka bisa hidup bahagia dan damai. Semua pernah kehilangan orang tercinta. Tidak ada yang abadi, semua orang akan meninggal dunia pada saatnya. Sekali lagi, saya disadarkan bahwa kematian di sini tidak dianggap mengerikan. Saya tanya, apakah dia takut mati. Tidak. Saya tidak takut mati. Tidak ada alasan untuk khawatir atau takut. Pada akhirnya, saya juga akan mati. Lebih baik merangkul dan bersahabat dengan kematian. Menjelang malam di Varanasi. Setiap hari diadakan upacara untuk menghormati Sungai Gangga. Ribuan umat berkumpul di sini. Karena itu, ada juga banyak orang yang mencari nafkah di sini. Kajal berusia sembilan tahun. Setiap hari, ibunya merias dia sebagai dewa Hindu, Siwa. Keluarganya, termasuk saudara laki-lakinya yang berusia lima tahun, telah lama menjadi tunawisma. Saya tidak punya suami lagi, karena itu kami tinggal di tepi sungai ini. Kami ke sini terutama karena kondisi jantung saya, untuk mendapat sedikit uang. Ya, kami ingin punya rumah, tapi kami tidak mampu. Dari mana Anda dapat ide mendandani dia sebagai Dewa Siwa? Saran dari banyak orang. Mereka bilang, “Kamu tidak punya suami dan perlu operasi jantung. Anakmu bisa jalan-jalan sebagai Dewa Siwa.” Saya perlu 45 sampai 55 ribu rupee (sekitar 8-10 juta rupiah) untuk operasi, jadi kami mencoba mengumpulkan uang dengan cara ini. Kajal dapat sekitar 500 rupee sehari, sekitar 95 ribu rupiah. Saya merasa tidak enak, tapi saya tidak lihat cara lain. Begitu uangnya cukup untuk operasi, saya akan berhenti menyuruh dia keluar. Apa kata putri Anda? Sepertinya dia senang. Apa dia pernah mengeluh, dia mengerti enggak sama apa yang dilakukannya? Dia tidak pernah mengeluh. Dia sudah berbuat banyak. Dia selalu bilang, “Saya akan hidup kalau Ibu hidup.” Karena itu dia mengumpulkan uang untuk operasi saya. Setiap sore, rutinitasnya sama. Setelah merias wajah, Kajal berbaur dengan turis, dan berharap membawa pulang uang sebanyak mungkin. Kasih aku uang! Iya! 50 sen! Aku tidak punya sebanyak itu! Kasih sekarang! Hentikan! Foto mukanya! Ini cukup! Itu tidak cukup! Ini, 20 sen, ayo! Hari ini, Kajal dapat kurang dari 360 Rupee (sekitar 67 ribu rupiah). Cukup untuk sedikit makanan buat keluarganya, tapi tidak cukup untuk tabungan operasi. Aku tidak suka pekerjaan ini. Aku bikin ini untuk ibu. Ada yang sebut aku pengemis. Aku selalu bilang, “Bukan aku yang pengemis, tapi mereka.” Apa kamu pernah ada dalam situasi berbahaya, situasi yang tidak kamu suka? Aku tidak takut. Aku hanya takut kalau ibuku meninggal. Aku tidak mau ibu meninggal. Saya mengagumi kekuatan Kajal, dan saya sedih anak usia sembilan tahun ini harus berhadapan dengan kematian di usia semuda itu. Kematian dan kehidupan adalah tetangga dekat di Mukti Bhawan. Ada orang meninggal, dan di sampingnya, anak-anak bermain. Dengan mereka, ada 20 orang anggota keluarga yang perlu diurus. Itulah kehidupan. Orang-orang datang ke sini kalau dokter sudah menyerah. Keinginan terakhir mereka adalah mendekati Tuhan. Siapa pun yang meninggal di Varanasi dapat menganggap diri mereka beruntung. Tentu saja anak-anak belum paham semua ini, mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sekarang, mereka datang dengan seluruh keluarga, jadi orang bisa datang ke sini, berapa pun rombongannya? Setidaknya dua orang harus menemani yang sakit. Dalam kasus ini, ada 15 sampai 20. Kadang 10 atau 15 anggota keluarga yang datang. Kami tidak pernah menolak. Di sini, semua orang akan punya atap di atas kepalanya. Orang yang sekarat didoakan tiga kali sehari. Ini bagian dari ritualnya termasuk minum air suci dari Sungai Gangga. Keluarga ini lebih melihat sisi baiknya bagi kerabat mereka. Siapa pun yang ke sini tahu bahwa tidak ada lagi reinkarnasi bagi mereka. Dalam hidup, ada banyak rasa sakit. Ada pertemuan dan perpisahan. Ada penderitaan dan penyakit. Mati di Varanasi berarti bebas dari semua itu. Kebebasan yang hakiki. Seberapa besar tanggung jawab yang Anda rasakan sebagai putra mendiang dalam situasi ini? Menjadi ayah adalah tugas berat. Apa pun yang saya lakukan tidak akan cukup. Bahkan jika saya mengorbankan diri. Saya tidak akan bisa menggantikan peran ayah saya dan membalas perbuatannya. Kami mencoba menjelaskan ini kepada anak-anak. Di malam hari, kami berdoa dan berbicara. Kita hidup atau tidak, Tuhan selalu ada untuk semua orang. Saya melihat kesedihan keluarga yang akan kehilangan orang yang mereka cintai. Tapi secara bersamaan, mereka bahagia dan bersyukur karena keinginan terakhir mendiang terpenuhi, untuk meninggal di Varanasi. Di tepi Sungai Gangga, Pachkosi bekerja hingga larut malam. Jenazah dibakar di sini sepanjang waktu. Ini bukan cita-cita pria berusia 33 tahun ini. Saya punya mimpi untuk sekolah dan hidup lebih baik, tanpa bekerja seperti ini, tapi saya tidak dapat pendidikan yang layak. Saya punya banyak masalah. Saya mencoba berbagai pekerjaan. Tidak ada yang betul-betul berhasil. Dia ingin ketiga anaknya kelak tidak harus mempertaruhkan kesehatan mereka di tengah asap. Kalau anak-anak saya menyelesaikan pendidikan sebagai insinyur, misalnya, masa depan mereka akan sangat berbeda. Mereka bisa memilih profesi lain. Sakit rasanya melihat orang-orang yang harus bekerja di sini. Hanya yang beruntung yang bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik. Dia ingin anak-anaknya bisa mewujudkan impian mereka. Impian saya adalah mereka mendapat pendidikan. Menjadi orang yang lebih terpandang, membangun lingkaran pertemanan yang baik. Kalau saya bisa mendukung impian mereka, saya rela melakukan apa pun. Ini baru lewat pukul 5 pagi. Suasana di Mukti Bhawan sangat sepi. Pria tua itu baru saja meninggal. Saya merasa prihatin dengan keluarganya. Pada saat bersamaan, saya yakin keluarganya senang semua sudah berakhir dan semoga dia menemukan keselamatan di Varanasi. Saya ikut bahagia. Dia melakukan semua demi keluarganya, sampai saat terakhirnya. Sekarang keluarganya harus merelakan kepergiannya. Mereka membawanya ke Varanasi karena tahu ini stasiun terakhir dalam kehidupannya. Keluarganya akan mengurus semua keperluan untuk pembakaran jenazah. Lalu jenazahnya akan dibawa ke tepi Sungai Gangga. Di sana, jenazah akan dihias, lalu dibakar. Semuanya harus dilakukan dengan cepat. Jiwa harus dibebaskan dari jenazah. Sementara para lelaki memikul beban fisik, para perempuan tetap tinggal di belakang. Mereka tidak diizinkan ikut upacara pemakaman. Sekarang, mereka membawa jenazahnya melewati jalanan Varanasi untuk dilihat semua orang. Wajahnya tidak ditutupi. Bagi saya, ini sangat aneh. Bagi orang lain di sekitar kami, ini normal. Para kerabat membawa barang-barang milik mendiang. Barang-barangnya akan disumbangkan, menyimpan barang-barangnya di keluarga setelah kematian akan membawa nasib buruk. Tiba di tepi Sungai Gangga, tempat jenazah akan dibakar. Dalam masa duka, ritual-ritual memberikan dukungan. Sebelum pemakaman, rambut putra sulung keluarga ini akan dicukur habis, sebagai cara memberi penghormatan kepada ayahnya. Sementara itu, tumpukan kayu bakar untuk pemakaman perlu disiapkan, biayanya sekitar 9000 rupee (sekitar Rp1.700.000) untuk 400 kilogram kayu. Keluarga meletakkan sendiri kerabat mereka di atas kayu bakar itu. Kemudian api dinyalakan. Putra sulung menyentuh tengkorak ayahnya tiga kali. Gerakan simbolis pecahnya tengkorak untuk melepaskan jiwanya. Saatnya tiba untuk berpamitan. Saya memikirkan keluarga itu, apa yang mereka pikirkan selama kremasi. Bagi mereka, sekarang dimulai 13 hari masa berkabung. Saya sekarang sudah berada di Varanasi selama 3 minggu. Ini sesi syuting paling intens dalam karir saya. Masa di mana saya ikut sedih, merenung, dan sekaligus bahagia. Waktu tiba di sini, saya berpikir, ”Bagaimana mungkin ada yang mau meninggal di sini? Di tempat yang ramai dan bising ini, di mana bau jenazah yang terbakar tercium di mana-mana?” Sekarang saya bisa lebih memahaminya. Saya sekarang tahu mengapa orang punya pendekatan yang lebih positif pada kematian. Syuting ini juga telah mengubah saya. Rasa takut saya menghadapi kematian semakin berkurang. Kematian adalah bagian dari kehidupan. Sekarang saya menganggapnya sebagai pemikiran yang sangat indah dan menenangkan.