Transcript
DjZzbj6vHPo • Daging steak buatan - Mencicip makanan masa depan | DW Documentary
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0016_DjZzbj6vHPo.txt
Kind: captions
Language: id
Berburu...
untuk mendapatkan daging.
Ada semacam naluri berburu.
Kalau saya ke sini, ini tentang mencari makanan.
Tentang membunuh.
Pada akhirnya, ini soal membunuh.
Kita sering menutup mata pada fakta bahwa kita membunuh demi daging.
Begitu juga dengan perubahan iklim.
Di banyak negara, daging tersedia dalam jumlah besar.
Beberapa orang sangat bodoh,
makan daging tiga kali sehari
dan hanya duduk di kantor sepanjang hari.
Saya suka rasa daging.
Saya suka bau dan teksturnya.
Hanya satu yang tidak saya suka:
Cara pembuatannya.
Hal ini akan berubah.
Steik, bahkan salmon,
di masa depan akan berasal dari bioreaktor.
Kami punya misi untuk planet ini.
Sudah 35 tahun saya jadi tukang daging.
Kakek dan ayah saya dulu juga tukang daging.
Bagi kami, ini makanan.
Dagingnya?
Saya mencari dagingnya.
Saya tidak berburu untuk bergaya.
Saya makan dagingnya,
saya tembak, potong,
dan masak dengan kedua tangan saya sendiri.
Dengan membunuh?
Saya besar dengan itu.
Jadinya lebih mudah?
Saya tumbuh dengan gagasan,
saya akan mengerjakan itu.
Saya masih suka menyembelih sendiri.
Saya pergi ke peternakan,
membelai sapi jantan atau betina
dan bilang, “Ayo ikut saya,“
dan saya membunuhnya.
Tapi saya pastikan mereka disembelih
dengan cara terbaik.
Tanpa menderita?
Tanpa menderita dan semua bagiannya dimanfaatkan.
Semakin banyak orang yang suka makan hewan buruan,
karena bebas antibiotik
dan tidak melibatkan peternakan massal.
Tapi kegiatan berburu tetap kontroversial.
Ini tidak mudah.
Memberi kesan mendalam.
Tembakan tepat mengenai jantung anak rusa.
Dengan tembakan jantung,
rusa langsung tergeletak mati.
Berarti rusanya langsung mati,
tanpa merasakan sakit.
Kematian yang cepat.
Apakah ini motto baru
untuk konsumsi daging di masa depan?
Cara yang lebih baik untuk makan daging?
Dalam empat menit
kamu menonton film dokumenter ini saja,
lebih dari 500.000 ayam, hampir 10.000 babi,
dan lebih dari 2.300 ternak disembelih di seluruh dunia.
Banyak hal dilakukan untuk memuaskan
keinginan kita makan daging.
Peternakan bertanggung jawab atas 12 persen
gas rumah kaca global.
80 persen dari semua lahan subur
digunakan untuk hewan dan pakannya.
Hutan hujan ditebang, pestisida disemprotkan.
Produksi daging adalah ancaman terbesar
bagi keanekaragaman hayati.
Padahal, makanan hewani hanya
menyediakan 18 persen kalori.
Manusia dan hewan peliharaan membentuk 95 persen
biomassa dari seluruh mamalia.
Lima persen sisanya
adalah mamalia liar dan mamalia laut.
Inilah saatnya memikirkan
sistem produksi daging yang baru.
Saya suka makan daging,
tapi apakah serangga bisa menjadi alternatif?
Apa saya akan berhenti makan steik?
Di San Fransisco, tempat para investor
terus memutar uang dengan revolusi teknologi,
orang-orang ingin menciptakan daging baru.
Kota ini adalah rumah bagi dua perusahaan <i>start-up</i>
yang sudah mendapat lisensi
dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat
untuk daging yang ditumbuhkan di laboratorium.
Pendirinya, Josh Tetrik, telah mengumpulkan
267 juta dolar (sekitar Rp4,3 triliun) dari investor.
Saya besar di Birmingham, Alabama,
dengan <i>chicken wing</i>,
hamburger, dan barbekyu sebelum pertandingan sepak bola.
Saya suka rasa daging.
Di masa depan, kita bisa membuat daging
tanpa membunuh hewan, tanpa menebang pohon,
tanpa antibiotik, dan tanpa emisi karbon.
Saya rasa kita nanti akan mengingat masa sekarang
dan berpikir kita dulu gila.
Selama delapan tahun terakhir,
Josh mengembangkan daging ayam tanpa hewan.
Produk ini belum tersedia di pasar,
dan hanya boleh diuji coba di restoran di Singapura
atau di sini, di kantor pusat
perusahaan GOOD Meat.
Ini membuat kamu bangga, Josh?
Sangat bangga.
Ini versi kelima.
Ya, ayam kami sangat enak.
Saya penasaran.
Dulu saya juga gugup.
Tapi sekarang, saya menikmatinya.
Saya tidak khawatir kamu tidak suka.
Saya yakin kamu pasti suka.
Mungkin saya vegetarian.
Justru itu.
Oke, ini aman dimakan?
Kecuali ada alergi ayam.
Punya masalah makan ayam asli?
Tidak.
Artinya aman.
Ini lembut sekali,
lebih lembut dari yang saya kira.
Makanlah lagi. Terus makan.
Ini enak sekali.
Saya suka ini.
Boleh saya ikut makan?
Di pabrik rintisan ini, tidak ada suara ayam,
tidak ada bau kandang ayam.
Semuanya steril, hanya ada tangki baja tahan karat
tempat sel-sel otot diperbanyak.
Di sini, daging tidak ditumbuhkan,
tapi dirakit dari sel-sel individual.
Di dalamnya, ada ratusan juta sel.
Begitu banyak.
Lalu, untuk satu porsi ayam,
ada berapa banyak sel di sana?
Miliaran.
Banyak sekali, karena semuanya hanya sel.
Miliaran sel yang sama.
Gila.
Prosesnya dimulai dari satu sel induk dari ayam.
Ini sel abadi, hukum alam,
yang akan membelah diri terus menerus.
Mereka masih membelah,
yang ini mungkin sedang dalam proses pembelahan sel.
Ini hanya sel-sel dengan satu inti.
Ini fondasi ayamnya.
Pada dasarnya, ini seluruh produk ayam kami.
Kami tidak memodifikasi sel secara genetik.
Ini yang disebut abadi secara spontan.
Mereka bisa bertumbuh tanpa batas.
Ayam yang Anda pilih, itu ayam khusus
atau dari peternakan industri?
Yang ini? Tidak, ini bukan ayam khusus.
Kami sekarang sudah punya cara
untuk menemukan sel-sel abadi ini.
Jadi selanjutnya kami akan meneliti ayamnya.
Entah jenisnya, atau caranya dibesarkan,
mungkin usia ayam bisa memengaruhi rasa akhirnya.
Jadi, saya rasa sekarang kami ada dalam posisi
lebih baik untuk melakukan pilihan-pilihan itu.
Tentang daging, ini lebih dari sekadar rasanya saja.
Ini tentang identitas, cerita, resep,
bagaimana nenek saya dulu memasaknya.
Itu kesan-kesan yang kita miliki.
Dan itu agak berbeda dari memiliki mobil.
Lebih banyak dimensinya, lebih emosional,
lebih intens.
Daging bukan hanya daging saja,
ada sesuatu yang lebih dari itu.
Ada masalah yang lebih sulit dipecahkan.
Apakah orang akan menerima daging buatan?
Dan kalau ya, apakah daging ini
akan tersedia dalam waktu dekat?
Alternatif berbasis tanaman sekarang sudah ada.
Tapi orang Jerman hanya mengonsumsi
setengah kilogram alternatif vegan ini,
dibandingkan 50 kilogram daging per tahun.
Tapi memang veganisme sedang berkembang.
Perusahaan Swiss, Planted Foods,
punya produk mirip daging dari tanaman.
Mereka tidak memakai bahan tambahan
dari teknologi industri makanan.
Sekalipun berbasis tanaman,
produknya tetap dinamakan daging.
Saya yakin bahwa produk-produk
ini punya potensi pasar di masa depan.
Saat ini, masih ada tantangan besar dalam hal komunikasi
dan mempertahankan pelanggan.
Tapi kita harus mulai menawarkan, misalkan,
daging, tapi lebih baik,
atau seperti hewan, tapi berbeda.
Awal 2024, dia mulai membuat steik
dari protein kedelai,
minyak rapa, tepung kacang dan beras,
rempah-rempah, vitamin B12, dan bit.
Irisannya lembut sekali.
Wah, tampilannya seperti steik sungguhan.
Wow. Ini hebat.
Bagaimana membuatnya?
Masih belum 100 persen steik,
tapi sudah sangat mendekati.
Terima kasih.
Inilah keajaiban fermentasi,
yang mengangkat produk ini ke tingkatan baru.
Memang ada aroma yang tidak akan saya temukan
pada daging sapi.
Tapi, ada rasa umami dagingnya.
Kalian berhasil.
Teksturnya?
Jarang sekali ada steik sapi yang empuk begini.
Rasanya berasal dari marinasi dan rempah-rempah.
Fermentasi menghasilkan aroma
dan kesegaran tambahan.
Struktur berserat daging nabati ini
dibuat di ekstruder,
pengolah makanan tempat ampas nabati diuleni,
dipanaskan, dan didinginkan.
Detailnya adalah rahasia perusahaan.
Kita sudah salah langkah
dalam 50 atau 60 tahun terakhir.
Pada satu titik, kita mulai makan
dan beternak banyak hewan,
yang menurunkan harganya.
Banyak lobi, distorsi pasar oleh subsidi.
Saat ini, daging benar-benar murah
dan sangat terindustrialisasi.
Masalahnya ada pada 90... 95 persen daging
yang diproduksi massal berasal dari industri,
dan hanya lima sampai sepuluh persen
daging yang diternak dengan bijak.
Kami ingin menawarkan sesuatu,
yang membuat orang senang saat makan,
tapi tanpa aspek-aspek negatifnya.
Efek negatif konsumsi daging yang paling mencolok
ada di kandang dan rumah potong.
Sering kali, hewan yang harus menderita
karena kebiasaan makan kita.
Peternakan massal kebanyakan legal,
kadang-kadang ilegal,
tapi selalu kurang diawasi.
Peternakan pabrik ada memang bukan untuk itu.
Perusahaan tidak peduli soal lingkungan.
Bukan karena mereka tidak peduli dengan hewan.
Bukan karena mereka jahat.
Tapi karena itu cara paling efisien
menghasilkan miliaran kilo daging
dengan biaya serendah mungkin.
Saya pribadi tidak punya masalah etika soal itu.
Asal kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Apakah mereka menderita?
Apakah babi yang ekornya digigit tetangganya menderita atau tidak?
Kapan penderitaan dimulai?
Apakah tempat yang sempit berarti penderitaan,
itu subjektif.
Kandang dan rumah potong jarang terlihat,
memudahkan kita mengabaikan penderitaan hewan.
Kamu juga makan daging dari produksi industri?
Ya.
Saya tidak bisa menerangkan mengapa.
Dalam hal makanan,
banyak keputusan yang harus dibuat.
Dan kalau produknya tidak ada,
kita tidak akan mencari ke empat supermarket lain.
Ini juga soal distribusi.
Kita harus menemukan pendekatan yang mengakui
kalau kita memang
mahluk yang rumit dalam banyak hal.
Itu membuat kita keren,
tapi juga sekaligus menyebalkan.
Kita harus menerimanya.
Sementara itu, dalam 15 menit terakhir,
lebih dari dua juta ayam, hampir 40.000 babi,
dan hampir 10.000 ternak disembelih.
Sebagian besar di peternakan massal.
Di kawasan di Jerman bagian selatan ini,
beberapa orang mulai meninggalkan
model peternakan hewan tradisional.
Keluarga Meier tinggal di peternakan mereka
dengan 300 ekor sapi.
Mereka memberi makan
dan menyokong hewan-hewan itu semampunya.
Hewan-hewan nantinya tidak dibawa ke rumah potong.
Ada kejadian buruk tahun 1986,
ada sapi jantan
yang tidak mau masuk ke mobil pengangkut.
Dia sangat keras kepala,
kami bertiga tidak bisa menggerakkannya.
Padahal kami dikejar waktu.
Dia sudah harus dibawa ke rumah potong.
Kami berjuang keras selama dua jam.
Setelah itu kami menyerah dan bilang,
kita tidak bisa terus begini.
Yang kita lakukan ini adalah kekejaman terhadap hewan.
Kenapa kita harus menyiksa hewan ini?
Kenapa kita harus melakukan ini?
Jadi saya putuskan, hewan-hewan saya
tidak harus menderita seperti itu lagi.
Di sini, hewan-hewan memutuskan sendiri
mau tinggal di sebelah mana,
kapan mau punya anak,
dan anak-anak tetap bersama induknya,
tidak dipisahkan seperti di peternakan biasa.
Dari waktu ke waktu, ada sapi yang disembelih
untuk mencegah populasi sapi menjadi terlalu besar.
Tapi hewan-hewan di sini bisa hidup
dengan cara mereka sendiri.
Hewan-hewan ini punya kebutuhan sosial yang besar,
punya perilaku sosial yang nyata.
Dan itu yang tidak Anda lihat di peternakan biasa,
di mana hewan-hewan itu tidak benar-benar hidup,
karena mereka selalu dipisahkan menurut usia
dan jenis kelamin sesuai arah produksi.
Kawanan hewan seperti di sini unik di Eropa.
Keluarga Meier juga menolak penanda telinga yang ditetapkan Uni Eropa,
yang bisa melukai daun telinga.
Hewan-hewan ini memakai cip di bawah bulunya.
Karena penolakan itu, otoritas yang berwenang
menolak memberikan subsidi peternakan.
Kasusnya akhirnya dibawa ke pengadilan.
Yang mencolok dari kawanan ini
adalah mata mereka sangat hidup.
Anda harus perhatikan mata mereka,
penuh ekspresi.
Coba pergi ke peternakan sapi besar
dengan ribuan sapi.
Matanya kosong.
Mereka tidak bisa hidup bebas.
Situasinya sangat berbeda.
Mereka seperti bagian dari keluarga besar.
Hewan-hewan ini adalah tanggung jawab besar,
perlu banyak perhatian.
Hewan-hewan ini sehat, itu prioritas kami.
Untuk itu kami mengorbankan banyak hal,
melawan banyak rintangan,
dan akan terus melakukannya.
Kenapa ini penting untuk Anda?
Karena mereka teman kami.
Di Amerika Serikat,
kesejahteraan hewan jarang jadi topik.
Di sini daging bagian dari identitas budaya,
dengan tingkat konsumsi sekitar 120 kg
per orang per tahun, tertinggi di dunia.
Alison van Eenennaam memodifikasi
materi genetik hewan ternak
untuk mengoptimalkan produksi daging.
Itu salah satu keuntungan besar peternakan
dan pembiakan modern,
kita bisa membesarkan hewan sampai berat pasar
dalam 13, 14 bulan,
dibandingkan di padang rumput,
yang perlu 3 tahun lebih
dan emisi per kilogram daging sapinya lebih banyak.
Anda tidak mengkritik cara hewan-hewan ini dipelihara
di kandang-kandang besar untuk industri.
Selalu akan ada pro dan kontra.
Jadi, apa yang paling Anda hargai?
Apakah penderitaan hewan, atau
efisiensi lingkungan dalam memproduksi makanan?
Apa itu lebih penting untuk Anda?
Apakah menyediakan makanan yang terjangkau
untuk orang-orang, misalnya telur,
adalah makanan pokok bagi banyak orang berpenghasilan rendah?
Baik. Keputusan itu harus dibuat.
Tapi ada masalahnya.
Dagingnya jadi lebih mahal
dan cara ini lebih merusak lingkungan.
Alison ingin mengecoh alam
dengan bantuan rekayasa genetika.
Rencananya, sapi betina Reba
dimodifikasi secara genetika.
Reba sekarang sedang hamil tua.
Apa kita boleh melakukan itu?
Memodifikasi hewan menjadi mesin
yang makin efektif.
Apa lebih baik kalau mereka kurang efektif?
Dia sudah mengerjakan ini
selama beberapa dekade,
mengembangkan teknik memanipulasi sel,
memodifikasi genom sapi
agar keturunannya tidak bertanduk.
Dia memodifikasi gen domba dan kambing agar susu mereka menghasilkan zat obat.
Tapi baginya, pencapaian puncak adalah
jika berhasil menentukan jenis kelamin hewan
dengan manipulasi gen.
Sebelum dia menunjukkan detailnya,
dokter hewan menelepon.
Anak sapinya akan segera lahir.
Oh, itu sedang terjadi.
Anda mengharapkan ada perubahan lain?
Bagaimanapun, Anda kan memanipulasi genomnya?
Tidak.
Kami tahu pasti apa yang akan terjadi
dengan menambahkan sesuatu di kromosom 17.
Tujuan eksperimen ini adalah memastikan
bahwa hanya anak sapi jantan saja yang lahir.
Apa keuntungannya untuk industri daging?
Idealnya, untuk industri makanan
hanya sapi jantan yang masuk rantai pasokan,
karena mereka tumbuh lebih efisien,
mereka lebih efektif mengolah pakan.
Kalau mobil, ini seperti Prius
dibandingkan truk besar.
Jadi mereka lebih efisien
dalam mengubah pakan menjadi bobotnya.
Bukan itu saja.
Di negara-negara seperti India,
di mana populasi ternak dan kerbau lebih dari 300 juta,
hewan itu dianggap suci.
Mereka dilarang disembelih,
daging mereka tidak dimakan,
tapi mereka melepas banyak metana yang memicu perubahan iklim.
Dengan memastikan kelamin sapi yang lahir,
kita bisa mengurangi gas rumah kaca secara signifikan.
Untuk memahaminya, kita bisa mulai
dengan induk anak sapi: Cosmo.
Sapi jantan yang dimodifikasi ini, seperti pejantan lain,
punya kromosom X dan Y.
Pada kromosom Y ada yang dinamakan gen SRY,
yang memastikan janin berkembang menjadi sapi jantan.
Pada Cosmo, gen ini ditambahkan ke kromosom 17.
Dengan begitu, Cosmo mewariskan kode untuk keturunan jantan sebanyak dua kali dengan spermanya,
dan meningkatkan kemungkinan lahirnya sapi jantan.
Ini anak sapi istimewa. Akan jadi apa?
Kita lihat nanti.
Anda tidak yakin akan keluar sapi jantan atau betina?
Ya.
Idealnya akan lahir sapi jantan.
Tapi ini sains, jadi hasilnya bisa juga sebaliknya.
Kita tidak pernah tahu.
Kromosomnya XX?
XX, pasti.
Secara genetik, dia betina.
Benar.
Dokter hewan mengatakan,
anak sapi itu terlalu besar,
hal umum pada inseminasi buatan.
Jadi akan dilahirkan dengan operasi caesar.
Dia memerhatikan kita.
Ini hari penting untuknya.
Kadang-kadang biologi
mengabaikan manipulasi genetik.
Apakah Cosmonaut, nama untuk anak sapi itu,
benar-benar akan menjadi sapi jantan?
Dua puluh tiga menit berlalu sejak awal film ini,
dan jutaan hewan sudah disembelih di seluruh dunia.
Dalam kurun waktu ini,
di Jerman rata-rata satu ekor rusa ditembak.
Ini lambungnya.
Ini kandung kemihnya.
Secara tradisional, ini hak pemburu.
Hati, ginjal, jantung.
Ini milik saya sebagai pemburu.
Saya manfaatkan semuanya.
Jadi sosis hati rusa.
Atau dimakan ramai-ramai
dengan teman untuk makan malam,
dengan makanan khas di sini dari Apel.
Ini tenggorokan,
di belakangnya ada kerongkongan,
ini juga untuk pemburu.
Caranya kuno, tapi setidaknya dia menangani
hewan dengan tangannya sendiri.
Saya tidak memakai kepala rusa, sapi atau babi,
lain dengan kepala domba dan kambing.
Jadi kepalanya tidak dipakai.
Dulu kakek saya memakainya.
Jadi tidak semua dipakai dari hidung sampai ekor...
Kalau kepalanya, bisa juga untuk membuat sup otak.
Itu makanan spesial.
Saya rasa tidak semua orang suka.
Tapi itu enak.
Anak rusa ini beratnya sekitar sebelas kilo,
menghasilkan sekitar lima kilo daging.
Paha.
Bahu.
Daging cincang atau sosis.
Filet pinggang.
Pelana rusa.
Di dalam bioreaktor perusahaan GOOD Meat,
daging tidak tumbuh dengan jaringan, urat, dan lemak.
Semuanya berasal dari sel induk yang dikloning.
Setiap dua sampai tiga hari,
jumlahnya meningkat dua sampai lima kali lipat.
Bubur sel ini lalu dipindahkan ke tangki yang lebih besar.
Untuk tumbuh, mereka perlu semua
hal yang dibutuhkan tubuh:
Mineral, vitamin, lemak, protein, karbohidrat,
yang semuanya nabati.
Agar menjadi daging,
sel-sel ini harus dibentuk.
Mereka tumbuh dengan struktur nabati
dan mendapat tekstur daging.
Untuk produksi massal, ini sangat sulit.
Di laboratorium bisa dihasilkan hal yang sulit dipercaya.
Dan mungkin kamu bisa membuat
satu porsi steik yang sempurna,
dan banyak lembaga penelitian bisa menghasilkan itu,
tapi untuk produksi berskala komersial,
itu bagian yang masih benar-benar sulit.
Saya rasa kita semua kesulitan untuk sepenuhnya memahami,
bahwa segala hal dapat berubah secara fundamental.
Tapi hal itu sebenarnya selalu terjadi.
Setahun yang lalu, sulit membayangkan kita bisa mengetik pertanyaan di ChatGPT
dan mendapatkan esai lengkap.
Tapi sekarang kita frustrasi
kalau esai itu tidak sempurna,
tidak mendapat nilai sepuluh, tapi hanya sembilan.
Kita sulit memahami betapa cepatnya sesuatu berubah,
tapi itu sering kali terjadi.
Terbukti, ketika kami meninggalkan GOOD Meat.
Mobil otonom.
Sampai beberapa tahun lalu,
kelihatannya ini terlalu sulit secara teknis,
mustahil secara legal.
Tapi akhirnya kita sadar, tentu saja di masa depan
kita tidak perlu mengemudi sendiri.
Apakah kemajuan ini dapat diterapkan pada daging?
Akankah kita bisa menikmatinya
tanpa menyiksa hewan dan membebani planet ini?
Dan bukan hanya daging yang mengalami revolusi ini.
Satu perusahaan <i>start-up</i>
ingin menumbuhkan sel ikan di bioreaktor.
Dengan setumpuk uang dan visi,
seperti tren di California,
Aryé Elfenbein ingin menyelamatkan salmon
dengan perusahaannya, Wildtype.
Saya rasa banyak dari kita yang seperti lumpuh
saat melihat banyak kejadian menyedihkan di dunia.
Masa depan bisa tampak suram.
Bagi saya, ini kesempatan untuk merengkuhnya
sebagai tantangan yang sulit,
sebagai cara untuk memanfaatkannya
dan menemukan inspirasi,
ketika kita bangun setiap pagi
dan merasa punya tujuan.
Kami punya misi untuk planet ini.
Dia adalah ahli jantung
dan masih bekerja sebagai dokter di akhir pekan
untuk tetap membumi, akunya.
Di bekas tempat pembuatan bir ini,
beberapa tangki baja tahan karatnya masih ada di sana,
dia meneliti bagaimana sel salmon bisa dibudidayakan
dengan peralatan bekas dari eBay.
Pabrik pertamanya sudah beroperasi dengan 70 pekerja.
Dia berharap perusahannya
akan menjadi yang pertama di Amerika Serikat
yang menjual ikan buatan.
Dari San Fransisco ke Alaska adalah wilayah salmon.
Dan yang kita lihat selama beberapa dekade terakhir
adalah penurunan drastis populasinya.
Bahkan dekat sini, di San Fransisco
dan seluruh Teluk San Fransisco,
dulu ada banyak salmon yang kembali setiap tahun,
sekarang sampai di sungai-sungai kecilnya
sudah hampir tidak ada yang kembali.
Alasan kedua adalah bahwa peternakan ikan
tidak bisa lagi
memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Jadi, kita perlu sumber baru.
Konversi salmon sangat bagus sebagai makanan,
tapi masih ada 40 persen bagiannya yang dibuang,
seperti kepala, tulang, organ dalam.
Budidaya sel induk akan lebih efisien.
Tapi, seperti daging ayam, teknologi
untuk produksi massal masih belum ada.
Menurut Aryé, bahkan dengan semua tangki baja
tahan karat di seluruh dunia,
hanya 1 persen permintaan salmon
yang dapat dipenuhi.
Produksi media kulturnya saja
perlu sistem agrikulturnya sendiri.
Jadi tidak mudah mengembangkannya secara biologi.
Dengan ini Anda cuma menghilangkan bagian dari biologinya saja.
Tapi masih banyak bagian lainnya,
misalnya sistem kekebalan.
Di sini tidak ada sistem kekebalan.
Kami harus menjaganya tetap steril.
Satu mikroba saja di sini bisa merusak segalanya.
Dan bakteri misalnya, mereka tumbuh jauh lebih cepat
daripada sel salmon kami.
Salmon ini belum mendapat izin
dari otoritas kesehatan Amerika.
Jadi saya tidak boleh mencobanya,
setidaknya di depan kamera.
Boleh saya cium baunya?
Ya, tentu saja. Silakan.
Oke.
Saya banyak mencium bau saus yang manis dan segar.
Salmonnya juga tidak terasa seperti ikan.
Salmon tidak pernah sesteril dan bebas bakteri.
Ini juga keuntungannya
dibanding salmon perikanan atau tangkapan liar.
Sejak awal film ini, sudah lebih dari 5.600 ton ikan
diambil dari lautan di seluruh dunia.
Satu ton setiap tiga detik.
Setengah ton lain mati sebagai tangkapan sampingan.
Mungkin hampir tidak ada yang mendukung
bahwa hewan harus mati demi kesenangan kita,
tapi hampir semua orang masih menerima hal itu
dan makan ikan atau daging.
Hermann Meier juga hidup dengan dikotomi ini.
Meski bekerja sama dengan ternaknya,
pada akhirnya, dia membunuh mereka.
Untuk membebaskan hewan dari rasa stres dan takut
saat diangkut ke rumah potong,
Hermann Meier membuat kotak penyembelihan sendiri.
Setelah ditembak, sapi bisa ditinggalkan
mati kehabisan darah di padang rumput
di antara hewan-hewan lain.
Tapi, Anda harus menyiapkan diri untuk melakukan ini.
Itu sangat penting.
Saya tidak boleh membawa perasaan saya
di antara hewan-hewan.
Mereka akan merasakannya.
Biarkan hewan itu dibius di lingkungan yang familiar
tanpa mengganggunya,
lalu dengan tepat menembaknya
di kepala dari jarak dekat.
Tembakan dari jarak sangat dekat,
karena hewan-hewan ini sangat jinak.
Dan kami menembak hewan yang sedang berbaring.
Jadi hewan itu akan menggeletak di samping hewan
yang lain yang berbaring mengelilinginya.
Darah akan mengalir keluar dan hewan itu mati.
Setelah darahnya habis, kami tutup katupnya
dan pergi ke rumah potong untuk diproses seperti biasa.
Sejujurnya, ini bukan hal yang baik.
Tapi ini harus dilakukan.
Seseorang harus melakukannya
dan itu tanggung jawab kita.
Kita tidak bisa meninggalkan hewan itu
sendirian di saat-saat terakhirnya
dan kita harus melakukannya tanpa rasa takut dan stres.
Itu utang kita kepada hewan-hewan itu.
Di utara Finlandia, saya menemukan perusahaan
yang ingin memberi makan
populasi dunia yang terus bertambah
tanpa menimbulkan kematian,
penderitaan hewan, dan polusi lingkungan.
Caranya dengan bakteri.
Di Solar Foods, mereka mengembangkan
campuran nutrisi yang sempurna.
Mereka menyebutnya Solein.
Mengandung banyak mineral, serat, vitamin B, lemak,
dan yang paling penting, 2/3-nya adalah protein.
Tiga kali lebih banyak daripada daging.
Ini hadiah bagi dunia.
Ini adalah tambahan panen baru,
dengan bahan baru, dan spesies baru.
Ini teknologi untuk melompati proses fotosintesis
dan membawa efisiensi dalam sistem pangan.
Pada akhirnya, yang harus kita capai dalam keseimbangan antara produksi massal dan energi
adalah mengganti konsep
tentang apa yang kita sebut hewan.
Sekarang saya pakai minyak zaitun agar tetap vegan.
Solein seperti bahan pengental yang mencampur
anggur dan minyak zaitun sebagai saus.
Bahannya sendiri tidak punya rasa.
Tidak ada rasa apa-apa.
Hanya warna yang bagus.
Sudah bertahun-tahun, Pasi Vainikka meneliti
bagaimana sistem energi
dapat direstrukturisasi secara berkelanjutan.
Dia memakai pendekatan yang sama
untuk mengubah sistem pangan.
Uni Eropa mensubsidi pabrik rintisannya
sebesar 37 juta euro (sekitar Rp628 miliar).
Mikroba Xanthobacter yang awalnya
ditemukan Pasi di Laut Baltik
sekarang dibudidayakan di dalam tangki.
Yang istimewa, mikroba ini mendapatkan energi
dengan memecah hidrogen.
Lalu mereka perlu karbon dioksida, oksigen,
dan beberapa mineral
untuk berkembang biak dengan cepat.
Setengah ton Solein dapat dipanen
dari alat fermentasi ini setiap harinya.
Dengan teknologi ini, kita dapat peningkatan
yang sangat besar dalam efisiensi produksi makanan.
Anda berusaha menjadi
lebih baik dari tanaman dan alam?
Kami memberdayakan biologi dan alam
dengan cara yang belum pernah diterapkan sebelumnya.
Organisme kami sepenuhnya alami,
tapi berbeda dengan yang selama ini kita pahami.
Organismenya kami kembang biakkan di tangki ini.
Bakteri kami berasal dari alam.
Ukurannya hanya 2 mikrometer.
Ini jenis kehidupan dan makanan
yang belum pernah digunakan oleh manusia.
Manusia gua mengonsumsi kelinci atau buah,
karena bisa dilihat dan dirasakan.
Tapi sekarang, kita punya sel kecil
yang tidak perlu gula atau cahaya matahari
untuk berkembang.
Sejauh ini, hanya es krim dari Solein
yang mendapat izin komersial di Singapura.
Gagasan Solar Foods, pertama-tama
adalah menggantikan produk telur dan susu.
Lalu, mengganti daging hewan
dengan daging buatan dari Solein.
Fantastis.
Isiannya sangat kaya dan enak.
Adonannya juga.
Saya tidak melihat ada perbedaan.
Itu gagasannya.
Rencananya adalah membangun pabrik Solein di berbagai tempat,
di mana ada cukup air dan listrik hijau.
Karena dengan itu Solein dapat diproduksi
dari bakteri secara berkelanjutan.
Di kantor pusat perusahaan, CO2 diekstrak dari udara
dengan sistem penangkapan udara secara langsung.
Ini akan mewujudkan ekonomi sirkular
yang bisa memberi makan dunia secara berkelanjutan.
Dan tentu saja tidak boleh ada sisa, itu tujuannya.
Saya kira 15 sampai 20 menit.
Kita akan buat kue vegan.
Jadi di masa depan, tidak perlu telur lagi?
Saya pikir begitu. Ini mudah digunakan.
Kita lihat saja, 20 tahun lagi.
Baik.
Bagaimana dunia mencukupi pangan di masa depan?
Dengan bubuk bakteri
menggantikan telur, susu, dan daging?
Juga masih belum jelas, apakah nantinya
ternak hanya akan dilahirkan sesuai kebutuhan:
Pejantan untuk produksi daging atau betina untuk susu.
Untuk saat ini, eksperimen Alison belum berhasil.
Anak sapi yang baru lahir itu bukan pejantan,
melainkan betina.
Kadang gen yang disisipkan gagal.
Ini sangat mengecewakan?
Ini sains.
Saya senang anak sapi itu sehat,
saya selalu senang melihatnya.
Dia mirip ayahnya.
Ini sudah empat tahun sejak ayahnya lahir.
Jadi, ini saatnya saya mencoba lagi.
Di akhir perjalanan ini, saya tidak percaya
dunia bisa atau ingin hidup tanpa daging.
Selera dan kebiasaan kita, kekuatan lobi industri daging,
semua ini sulit diatasi.
Tapi planet kita tidak mampu memproduksi daging
untuk 10 miliar orang dengan cara konvensional.
Di masa depan, saya akan makan
lebih sedikit daging,
dan hanya daging dengan asal usul yang jelas
dan kesejahteraan hewan diperhatikan.
Beberapa orang sangat bodoh,
makan daging tiga kali sehari
dan hanya duduk di kursi kantor sepanjang hari.
Itu sangat buruk.
Manusia bisa hidup dengan makan lebih sedikit daging.
Tentu saja harganya harus lebih mahal.
Tapi itu lebih baik.
Jauh lebih baik.
Jadi, lebih dari 6 juta ayam,
115.000 babi, dan 27.000 ternak
tidak harus mati hanya
dalam waktu kurang dari tiga perempat jam.
Daging akan tetap ada.
Begitu pula kenikmatannya.
Tapi penderitaan hewan semoga nantinya tidak ada lagi.
Sangat empuk.
Seharusnya begitu.
Apa saya akan habiskan semua ini sendiri?