Chongqing - Menyusuri kehidupan malam di megakota yang tumbuh pesat di Cina | DW Dokumenter
6Wbg9mY7-Wk • 2025-02-08
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Kota ini... bukan buat mereka yang lemah. Inilah kota yang tak akan kamu lupakan. Kota pegunungan ini juga bukan buat mereka yang berkaki lemah, takut ketinggian, atau gampang mual. Saat mengunjungi Chongqing di Cina barat daya, kamu akan merasakan malam penuh petualangan di megakota yang terus berkembang pesat dalam 30 tahun terakhir. 32 juta orang tinggal di kota besar yang hampir seukuran Austria ini. Kota ini adalah salah satu kota terbesar di dunia, dan masih terus bertumbuh. Namun, hampir tak pernah ada orang di luar wilayah ini yang pernah dengar tentang Chongqing. Banyak yang menganggap namanya sangat terdengar Cina. Chongqing, Chongqing. Banyak orang yang belum tahu di mana itu. Berikut sekilas pandang tentang kota yang siap tampil di panggung dunia. Nantinya, orang asing juga akan mengenal Chongqing, bukan hanya Beijing atau Shanghai. Chongqing sangat fotogenik dengan hiruk-pikuknya. Di Cina, Chongqing menjadi magnet wisata. Kota ini tidak hanya berkembang, tapi juga tumbuh vertikal dan horizontal. Dan terkenal dengan kehidupan malamnya. Di sini, sangat biasa keluar semalaman sampai semua tutup. Kami ingin merasakan megahnya malam di kota ini. Sekilas, Chongqing yang jauh dari ibu kota, tampak lebih santai, lebih bebas. Anak-anak muda di sini ingin menjalani kehidupan berbeda dari orang tua mereka. Mereka menunjukkan bagaimana caranya hidup dan bertahan di megakota ini. Bagi para turis, kehidupan malam Chongqing dimulai saat lampu-lampu menyala. Hongyadong dulunya adalah lokasi gerbang kota tua. Namun kini, tak ada yang benar-benar tua di sini. Tempat ini telah dibangun ulang menjadi surga wisata, lengkap dengan toko suvenir dan restoran. Itu sebabnya, Jili menyebut area ini kota tua yang baru. Sebagai pemandu wisata, ia merekomendasikan kota unik di Cina barat daya ini. Seperti alun-alun kota ini. Menurutnya, alun-alun ini berbeda karena bentuknya yang tidak biasa. Alun-alun ini adalah atap sebuah bangunan. Atap? Ya, ada banyak lantai di bawahnya. Itu sebabnya disebut jalan atas. Ayo kita jalan lagi, lalu lihat ke bawah. Itu ujungnya!? Ya, apa kamu takut? Kita berjalan dari jalan atas ini sampai ke ujung alun-alun. Lalu, kamu bisa naik lift turun 22 lantai. Saat pintu lift terbuka, kita tiba di jalan lain. Jadi, kita berpindah dari satu jalan ke jalan lain menggunakan lift. Ini adalah hal biasa di kota pegunungan ini. Chongqing, kota pegunungan, adalah kota bertingkat, kota tiga dimensi. Bahkan ada pom bensin di berbagai tingkat di sini. Pemandu seperti Jili sangat dibutuhkan karena sulitnya menemukan arah. Dan aplikasi peta biasa hanya menunjukkan lokasi, tetapi tidak tingkatnya. Jili, yang lahir di sini, pernah beberapa tahun tinggal di Augsburg. Kini ia berbagi cerita dengan pengunjung tentang bagaimana Chongqing berubah dari desa besar menjadi megakota. Gedung pencakar langit dibangun sangat cepat, hanya dalam tujuh atau delapan tahun. Kota ini menjadi hutan beton. Sebagai penduduk lokal, seharusnya saya mengenal kota ini. Tapi sulit mengenalnya dengan 32 juta penduduk, berikut jalan dan gedung baru yang terus bertambah. Yang tersisa hanya anak tangga, nadi utama dari Kota Chongqing. Jili menyebut anak tangga ini sebagai studio kebugaran. Tangga ini bukan hanya atraksi turis, penduduk setempat menggunakannya sebagai jalan pintas melalui labirin pusat kota. Li Zicheng, juga melewati anak tangga ini untuk mencari nafkah. Ini adalah sebuah pertigaan. Dia bekerja sebagai pengantar makanan selama beberapa tahun dan hafal semua gang kecil, persimpangan, dan jalan rahasia. Ada kanopi hujan dan kaca, saya bisa turun lewat sana. Begitu? Oke. Akhirnya pesanannya sampai. Nomor 7-3. Selamat menikmati! Li adalah generasi yang ingin hidup agak berbeda dari orang tua mereka. Sedikit tekanan, sedikit bekerja, lebih menikmati hidup. Tapi pekerjaannya tetap penuh tekanan, apalagi di Chongqing. Saya pernah bekerja sebagai pengantar makanan di tempat lain yang jalannya datar dan lebih mudah menemukan alamat. Di sini, jika lantai pertama berada di sebelah jalan, tapi kamu tidak tahu di mana pintu masuknya, kamu mungkin perlu naik tangga ke lantai enam, dan di situlah lantai pertamanya. Kedengarannya membingungkan. Dan jalan di Chongqing memang membingungkan, dengan rumah-rumah yang dimulai dari tingkat yang berbeda di satu sisi dengan lainnya. Li Zicheng terus mencari jalan demi mata pencariannya. Dia masuk lebih jauh ke labirin kota, dan kami akan mencoba bertemu lagi nanti. Martin berhasil membangun sesuatu untuk diri sendiri. Dia menyebut kegiatannya ini sebagai "playing the panda". Inilah cara dia menarik pelanggan ke restorannya. Tiga orang? Di luar atau dalam? Bagi orang seperti Martin, kota ini punya banyak potensi, dan di sini dia spesial. Pertama, dia orang asing. Kedua, warga lokal terkejut dengan kelancarannya berbahasa Mandarin. Chongqing adalah kota dengan 30 juta orang, dan mungkin hanya ada 30 orang Jerman... Dipikir-pikir, ini adalah kota dengan 30 juta penduduk, dan hanya ada 30 atau 40 orang Jerman. Jadi, wajar kalau ada yang lihat orang asing dan berkata, “Wah! Saya belum pernah bertemu orang asing.” Jadi sewaktu anak-anak melihat saya di jalan, mereka sering bilang, “Wah, Laowai!” Orang asing! Di tengah megapolitan ini, “Laowai” menjual makanan khas Jerman. Kini, mereka punya enam restoran di kota ini. Ide ini dibangun bersama Wang Sien, mitra bisnisnya di Gebrüder Wurst, atau Sausage Brothers. Saya dari Jerman. Bukan dari ibu yang sama, tapi kami seperti saudara. Dia juga menyebut saya istri kedua. Semoga istrinya tak cemburu. Wang sebelumnya bekerja di sebuah restoran Jerman di Singapura. Di sana, ia tertarik dengan budaya Jerman. Di sini ada Minggu Schnitzel, saat banyak orang Jerman datang ke restoran dan minum bir di pagi hari. Sebagai orang Cina, saya pikir, “Gila, minum bir pagi-pagi.” Dia lalu bertemu Martin di Chongqing. Dan cinta membawa Martin ke kota ini, mengikuti istrinya ke kota kelahirannya. Saat bertemu istri, saya belum pernah mendengar Chongqing. Namanya terdengar sangat Cina. Ketika tiba di sini, saya langsung terpesona. Seperti ada di antah-berantah, di sebuah kota yang belum pernah saya dengar. Kota dengan garis cakrawala luar biasa dan begitu banyak orang. Saya melihat peluang besar untuk berbisnis di sini. Namun, dia sempat gagal beberapa kali karena harus lebih dahulu mengenal tempat ini. Dia menceritakan perbedaan antara <i>currywurst </i> Jerman dan Cina. Perbedaan besarnya adalah di sini, kami membuatnya dengan rasa pedas. Karena Chongqing adalah ibu kota makanan pedas. Itu sebabnya selalu ada bumbu ekstra di tiap meja. Jika kota ini terlalu pedas, berarti kamu yang terlalu lemah. Saya ingin tahu, kenapa rasa pedas begitu penting bagi orang-orang sini. Pemandu kami, Jili, menunjukkan tingkat kepedasan di Chongqing. Dengan <i>hotpot</i>, yang konon berasal dari sini. Dulu, ada beberapa toko besar menjual daging di tepi Sungai Yangtze. Daging yang dijual laku keras, tapi agak sulit menjual jeroannya. Karena harganya murah, mereka memasaknya dalam kuah panas. Dari dulu begitu. Untungnya, juga ada sayuran dan tahu. Aroma pedas menyengat di restoran, menusuk hidung dan tenggorokan. Jili punya solusinya. Ini minyak wijen untuk menetralkan rasa pedas. Kelihatannya seperti kaleng bir, tapi bukan, ini minyak wijen. Tapi, itu tidak banyak membantu. Di Chongqing, <i>hotpot</i> dapat ditemukan di setiap sudut. Sebelum mencicip <i>hotpot</i>, Martin sang penjual sosis, mengundang kami ke rumahnya. Dia berasal dari sebuah kota kecil dekat Aachen dan tinggal di sini selama sepuluh tahun. Ide pertamanya adalah mengimpor bir Jerman. Tapi gagal, karena bir Kölsch Jerman terlalu mahal dan rasanya hampir mirip dengan bir Cina. Lalu dia berpikiran untuk menjual sosis. Sebelum membuka restoran, kami menjual sosis seperti <i>currywurst</i> di pasar dan festival musik. Kami mencoba melihat reaksi pasar. Rasanya nyaris bikin trauma. Banyak sekali sosis, setiap hari selama 12 jam. Saat itu saya biasa mengenakan celana pendek, enggak begitu terlihat di sini. Kami menggoreng sosis banyak sekali. Minyak bercipratan ke kaki saya dan membuat kaki penuh lepuhan. Mereka membuka restoran cepat saji. Tapi konsep makan makanan Jerman sambil berdiri tidak bisa diterapkan di Cina. Mereka lebih suka duduk. Mereka pikir, jika saya makan makanan Barat, itu harus mewah, duduk di kursi dengan meja. Saya bisa bersantai dan menikmatinya. Tapi waktu itu kami: Cepat, cepat. Sosisnya matang dalam dua menit. Ambil. Cepat bawa! Bahkan setelah bertahun-tahun, Martin masih dibuat terkagum dengan kampung halaman barunya ini. Lonceng itu berasal dari gereja Katolik di bawah sana, yang berusia 100 tahun. Mendengar lonceng gereja terasa seperti pulang ke rumah. Chongqing ingin menjadi kota besar internasional dengan citra yang bisa dibanggakan. Garis cakrawala sungguh luar biasa, kota mana yang punya pemandangan seperti itu? Bagi penduduk di sini, melihat orang asing fasih berbahasa Mandarin dan memperkenalkan budaya atau produk Jerman adalah pengalaman yang unik. Saya rasa itulah tujuan saya di sini. Dia juga melakukan ini di internet. <i>Livestreaming</i> adalah tren saat ini, dan kita dapat melihatnya di setiap sudut jalan di Chongqing. Orang-orang memegang ponsel, menjual produk atau menghibur jutaan penonton secara langsung dengan sangat baik, sehingga mereka menerima hadiah uang <i>online.</i> Ini adalah bisnis bernilai triliunan rupiah di Cina, dibiarkan oleh pemerintah, bahkan didukung sebagai sektor ekonomi. Selama tetap berada dalam batasan ketat yang diizinkan oleh sensor negara. Seperti banyak hal di Cina, semua diawasi dengan ketat. Martin menjual <i>voucher</i> untuk restorannya. Dia juga memperkenalkan produk Jerman lainnya ke pasar dan mendapat komisi setiap penjualan. Martin menghabiskan empat hingga enam jam per hari di depan ponsel. Namun, kami tak bisa berlama-lama dan berjanji bertemu lagi nanti. Malam di Chongqing adalah waktu yang tepat untuk bertemu perempuan yang berjuang untuk mengubah hidupnya. Escape the Sunset adalah nama bandnya. Xiao Xian belum tahu apa dia bisa meninggalkan kehidupan lamanya, tetapi kini dia merasa jadi diri sendiri dan mau menunjukkannya kepada kami. Bagaimana kami bertemu? Beberapa anggota band sudah berteman, ada yang pernah bermusik bersama dan sebagian bertemu <i>online.</i> Kami semua pecinta musik yang aktif di dunia maya. Perempuan 24 tahun ini tampak gugup. Ini kali pertama para musisi ini berbicara dengan orang asing. Apalagi, keberadaan orang asing sangat jarang di megakota ini. Xiao Xian mengajak berkeliling. Dia membeli mobil untuk mendukung kehidupan barunya. Ia ingin fokus bermusik selama setahun, berharap bisa mandiri finansial pada akhir tahun. Kini, hampir seluruh hidupnya terjadi di malam hari. Hari ini, kami punya jadwal yang padat. Saya tidak bekerja di siang hari, itu waktu untuk istirahat. Dan sekarang, ketika semua menikmati kehidupan malam, itulah saat saya paling aktif. Mobil listrik yang praktis dan terjangkau dari produsen Cina semakin menggantikan merek Jerman di jalan-jalan Cina. Bagi Xiao Xian, mobilnya adalah simbol kebebasan baru. Bagi Yang Ping, simbol kebebasan adalah motornya. Dia lebih suka berkendara di malam hari guna menghindari keramaian megakota. Dia sudah lama tinggal di sini. Sebagian besar waktunya dihabiskan mengendarai motor. Kota ini adalah tempat ideal bagi pria 38 tahun ini. Kota lain bermedan datar, dan kamu bisa memakai skuter. Tapi di sini tidak mungkin. Di sini, kamu perlu motor. Dan Chongqing adalah ibu kota motor, ada banyak produsen motor di kota ini. Sewaktu remaja, dia sering mencuri motor ayahnya. Hari ini, dia mengelola sebuah toko motor. Mobil mengangkut tubuh, sepeda motor membawa jiwa. Inilah tempat kecintaan Chongqing terhadap <i>hotpot </i>mencapai puncaknya. Seluruh bukit ini adalah restoran raksasa, yang mencatat rekor sebagai restoran terbesar di dunia. Dengan kemampuan menampung hampir 6.000 tamu, restoran ini menyajikan hotpot yang tentu saja super pedas. Tidak pedas, tidak puas. Tiga hari tanpa <i>hotpot</i>, kami pasti tidak baik-baik saja. Gao Yu menyiapkan <i>hotpot</i> di dapur. 1.000 porsi setiap malam, bahkan lebih banyak saat hari libur. Sebelum wawancara, bosnya mengingatkan agar ia mengenakan kaos. Kamu tidak bisa hidup tanpa <i>hotpot</i> seperti kamu tidak bisa hidup tanpa istri. Tanpanya, kamu akan merasa rindu. Kalau belum makan <i>hotpot,</i> artinya belum pernah ke Chongqing. Letak Chongqing di antara dua sungai menjadikannya tempat bagi beragam orang yang datang dengan perahu. Ini salah satu alasan mengapa kota ini punya atmosfer yang sangat istimewa. Orang-orangnya ramah dan suka membantu. Entah penduduk lokal atau pengunjung, semua baik. Ini kota yang layak untuk dihuni. Layak dihuni, tapi penuh tekanan. Yang Ping punya solusi untuk itu. Mengendarai motor bisa meredakan stres. Hidup saat ini berjalan begitu cepat, penuh kesibukan di pekerjaan maupun kehidupan. Saat di atas motor, saya merasa rileks. Saya tidak memikirkan hal lain, hanya fokus berkendara. Sementara itu, penyanyi Xiao Xian tengah menuju panggung berikutnya. Ketika perusahaan film tempatnya bekerja bangkrut, dia melihatnya sebagai peluang mengejar mimpi, menjadi musisi sekaligus memberontak terhadap orang tuanya. Mereka menganggap ini pemborosan. Dan ingin saya belajar bahasa Inggris atau matematika, yang menurut mereka berguna. Karena itu, sangat penting baginya untuk bisa mandiri finansial. Mimpi saya adalah mencapai sesuatu lewat musik. Agar orang tahu bahwa ada seorang gadis seperti saya yang menciptakan musik... setidaknya di Chongqing. Kalau karya saya bisa membuat perbedaan di dunia, itu sudah cukup berharga. Meski sesaat, kehidupan malam Chongqing yang permisif kadang membuat kita lupa akan sistem politik di Cina. Kota ini terkenal dengan pertunjukkan LGBTQ-nya. Tapi otoritas Cina melarang kami merekamnya. Wawancara kami dengan seorang <i>drag queen</i> dibatalkan setelah pemerintah setempat turun tangan. Kembali ke turis Cina. Hal terpenting adalah membawa pulang foto yang bagus dari liburan mereka. Chongqing ibarat surga, penuh dengan tempat yang sangat <i>instagrammable.</i> Meski Instagram dilarang oleh sensor negara, namun platform lokal seperti Douyin memungkinkan mereka berbagi foto dan video. Salah satu atraksi utama adalah kereta yang melintas melalui lantai delapan gedung pencakar langit, yang telah berhasil menarik ribuan turis setiap hari ke Chongqing. Awalnya, orang-orang berdiri di jalan, kepala mendongak sambil memegang ponsel, dua tangan ke atas seperti ini. Lalu pemerintah membangun area khusus untuk wisatawan, karena memotret dari jalan dianggap terlalu berbahaya. Di sinilah, video-video terbaik diedit untuk di<i>posting</i> di platform seperti Douyin, induk aplikasi TikTok. Douyin menjadi bagian penting kehidupan di sini, sebagai media komunikasi, platform belanja, hiburan, dan panduan wisata. Kota ini dulunya tidak terlalu penuh turis. Sekarang, berkat Douyin, ribuan orang datang setiap hari. Saya rasa sekitar 3.000 hingga 4.000 orang. Semua orang ingin berfoto. Dulu, tamu asing jarang menginap di sini, mereka hanya singgah saat berlayar. Chongqing terletak di antara Sungai Jialing dan Yangtze yang merupakan jalur air terpenting di Cina. Tempat Bendungan Tiga Ngarai yang kontroversial menahan aliran sungai Yangtze hingga 600 kilometer. Chongqing adalah megakota yang dirancang negara, menggabungkan beberapa kota menjadi zona ekonomi khusus. Foto-foto Chongqing masa lalu nyaris tidak dikenali lagi. Begitu banyak perubahan besar terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kereta gantung adalah salah satu peninggalan yang bertahan. Dibangun pada tahun 1987 untuk penduduk lokal. Dulunya biaya menyeberang hanya sekitar 20 sen. Sekarang, panjangnya antrean turis membuat penduduk lokal lebih memilih menggunakan jembatan baru yang lebih cepat. Satu hal yang tidak berubah: Kehadiran <i>bangbang.</i> Saat turis tiba di Chongqing dengan perahu, mereka akan melihat kuli angkut tradisional ini. Jili menjelaskan asal nama mereka. Tongkat bambu ini adalah simbol. <i>Bangbang</i> berarti tongkat dalam bahasa Mandarin. Jika ada yang butuh, cukup berteriak <i>bangbang</i>, lalu kuli angkut datang. Harga yang disepakati tergantung beratnya beban dan jarak yang ditempuh. Fan Tuyi telah menjadi <i>bangbang</i> selama 30 tahun. Ia mulai bekerja sejak pukul lima pagi. Hari ini saya sudah naik-turun tangga lebih dari sepuluh kali. Setiap hari naik-turun, dari pagi sampai malam. Bagi Fan Tuyi, tiap langkah adalah perjuangan bertahan hidup. Butuh <i>bangbang</i>? Bisa saya bantu? Kami tidak butuh. Hidup memang keras, katanya. Selama bisa dapat sekitar Rp500 ribu per hari, ia cukup puas. Anak-anaknya yang bekerja di pabrik ingin dia berhenti dari pekerjaan berat itu. Tapi Fan Tuyi ingin terus bekerja. Dengan tongkat bambunya, otot-ototnya, serta pengalamannya. Selama tangga ini masih ada, saya akan terus bekerja. Sekarang hanya orang tua yang bekerja seperti ini. Tidak ada anak muda lagi. Yang berusia 30 atau 40 tahun pun tidak ada. Anak muda tidak mau melakukan ini. Profesi ini kian punah. Para<i> bangbang</i> telah jadi bagian Chongqing jauh sebelum adanya gedung pencakar langit atau teknologi seperti taksi tanpa pengemudi. Bukit-bukit, gang sempit, dan tangga-tangga, inilah yang tetap ada meski Chongqing telah menjadi megakota. Pria berusia 69 tahun ini menjadi saksinya. Dulu di sini tidak ada jembatan. Juga tidak ada gedung-gedung tinggi. Semuanya telah berubah. Bahkan, waktu itu gedung Raffles juga belum ada. Fan Tuyi mengenang semenanjung lama tempat dua sungai itu bermuara. Semua telah berubah. Kini area itu didominasi kompleks bernama Raffles dengan delapan menara menjulang menyerupai layar kapal raksasa. Di dalamnya terdapat pusat perbelanjaan, kantor, hotel, dan apartemen, menjadikannya gedung hunian tertinggi di Cina. Penduduk Chongqing dengan bangga mengatakan gedung itu empat kali lebih tinggi dari Empire State Building di New York. Sebelum naik ke puncaknya, kami harus turun terlebih dahulu. Tidak ada ujungnya. Kami bertemu dengan Goh Huan Tong, pria di balik proyek ini. Saat bertemu kami, ia langsung berbicara. Ia mengakui tidak semua orang menyukai proyek ini. Salah satu isu utama adalah tembok kota tua yang hanya sedikit tersisa. Itu adalah kompromi. Lebih baik melibatkan masyarakat karena mereka mendukung pelestarian tembok. Jadi itulah yang kami lakukan. Dan kini tembok itu masih ada. Tapi Anda tampaknya tidak terlalu puas. Tidak, saya puas. Saya selalu melihat sisi baik di balik hal buruk. Goh dan perusahaan pembangun gedung ini berasal dari Singapura. Ia datang ke Chongqing sebelas tahun lalu untuk proyek ini, dengan harapan besar seperti banyak investor lainnya. Tentu saja, ini adalah megakota. Jumlah penduduk di pusat kota ini lebih banyak dibandingkan hanya delapan juta yang tinggal di negara asal saya, Singapura. Itu sebabnya kami ada di sini. Ia membawa kami ke apartemen termahal yang dijual di Raffles, harganya sekitar 217 miliar rupiah. Dari sini, kami bisa melihat pertemuan Sungai Yangtze dan Jialing. Kadang bisa terlihat dua warna: Satu sungai berwarna cokelat, satunya kehijauan. Seperti yuanyang, <i>hotpot</i> khas Chongqing. Lagi-lagi <i>hotpot.</i> Kami ingin melihat pemandangan dari tempat yang lebih tinggi, di Skywalk, di gedung pencakar langit setinggi 250 meter. Di sinilah kami bertemu dengan Paipai. Ini adalah magnet turis di Chongqing, orang datang untuk membuat video. Tempat ini populer. Turis tahu dari media sosial dan ingin melihat kota pegunungan ini. Kami berdiri di tengah pemandangan ini. Entah mana yang lebih menakjubkan: Ketinggian, pemandangan, atau antusiasme Paipai terhadap kota ini. Penduduk setempat sering berkata bahwa perempuan terbuat dari air, tapi perempuan Chongqing terbuat dari air mendidih. Paipai cocok dengan deskripsi itu. Sebagai pemandu wisata, dia mempromosikan betapa luar biasanya Chongqing. Saya masih muda dan ingin bersenang-senang. Chongqing kota yang menyenangkan. Saya ingin tinggal di sini sebentar, lalu pindah untuk belajar lebih banyak. Saya suka di sini, hidup di sini nyaman. Saat bangun pagi dan membuka jendela, sering kali hujan, dan udara segar menerpa wajah. Seru banget! Siang hari, turis menikmati kota gunung romantis, lalu malamnya penuh keseruan. Kota ini sulit dilupakan. 250 meter di bawahnya, Li Zicheng sedang mengantarkan pesanan lain. Kalau sedang ramai, bisa dapat 100 pesanan dalam 10 jam kerja. Normalnya, sekitar 40 hingga 60 pesanan. Di Cina, hampir semua bisa diantar, dari ceker ayam segar, hingga botol susu kemasan. Pesanan bisa dilakukan kapan pun lewat aplikasi, dan tiba dalam hitungan menit. Li Zicheng menerima kurang dari 16 ribu rupiah setiap pengantaran. Dia lebih suka dapat pesanan dari gedung dengan lift, meski terima juga tantangan pesanan yang sulit. Bagi saya, ini seperti olahraga, dan saya suka. Beristirahat di atas skuter sudah cukup bagi pria 28 tahun ini. Baginya, pekerjaan ini adalah kebebasan. Cukup nyalakan aplikasi jika ingin bekerja, matikan jika ingin libur. Berbeda dengan bekerja di kantor 12 jam sehari. Chongqing memang megakota, tetapi warganya tampak lebih santai dibandingkan kota seperti Beijing. Berjarak 2.000 kilometer dari ibu kota, Chongqing juga lebih bebas secara politik, setidaknya di permukaan. Di tengah distrik wisata, terdapat seni yang bisa dianggap kritik terhadap pengawasan negara. Li Zicheng memulai hidup di sini setelah beberapa tahun menjadi tentara. Dia sadar pekerjaan ini punya kekurangan dan hanya bisa dilakukan dengan ritme cepat ketika ia masih muda. Dibanding industri lain, tentu saya tidak dapat asuransi dari perusahaan, itu saya urus sendiri. Keuntungannya, saya lebih bebas. Kekurangannya, tidak ada prospek jangka panjang. Saya bisa menghasilkan uang tanpa batas, tapi masa depan saya terbatas. Saya tidak bisa selamanya jadi kurir. Dia ingin membangun perusahaan sendiri suatu hari nanti. Mengumpulkan modal usahanya dari tiap langkah di anak tangga ini. Kembali ke Martin sang penjual sosis. <i>Livestream</i> sudah selesai dan dia lapar. Ia tidak mungkin makan sosis atau <i>hotpot</i> setiap hari. Dia membawa kami ke warung mi khas Chongqing yang buka 24 jam. Di dapur, para ahli masak itu mulai berbincang. Apa ada aturan khusus mengaduk pasta? Bukannya ada pepatah? Bagaimana rasa mi tergantung caramu mencampurnya. Jadi, mi harus lebih dulu ditarik tinggi-tinggi dulu, lalu mencampurnya seperti ini. Tapi dialek Chongqing kamu bagus sekali, kamu pasti sudah tinggal di sini lama. Ini seperti spageti versi Cina, spageti dari Chongqing. Pedas dan terjangkau. Shen Xun makan mi ini beberapa kali seminggu. Kota ini terlalu cepat, dan harga-harga di sini cukup tinggi. Selain mi Chongqing, semua di sini mahal. Mobil yang dikendarai Shen Xun bukan miliknya. Itu sebabnya, dia memakai helm saat mengemudi. Pekerjaannya: Pengemudi panggilan profesional. Para lelaki dengan sepeda lipat kecil ini adalah kelompok pekerja di Cina yang bekerja berjam-jam tanpa penghasilan besar. Mereka memanfaatkan orang yang sedang berpesta malam ini. Dan di Chongqing, banyak orang yang berpesta. Jam dua atau tiga pagi bukanlah waktu yang larut di sini. Di Chongqing, kehidupan malam berlangsung sepanjang malam. Wajar untuk keluar sampai semua tempat tutup. Di Cina, ada larangan ketat terkait mengemudi dan mabuk: Nol persen alkohol. Siapa pun yang minum alkohol dapat memanggil pengemudi seperti Shen Xun untuk bisa pulang. Sejujurnya, saya tidak suka bekerja di malam hari. Membuat cepat tua dan menyebabkan masalah kulit. Tapi mengantar orang mabuk di malam hari itu menyenangkan. Saya bisa bertemu banyak orang. Kamu ingin merekamnya juga? Ponselnya berbunyi, ada pekerjaan. Pemuda 23 tahun ini menjemput pelanggan di tempat parkir dan mengantar mereka pulang dengan mobil mereka sendiri. Sepedanya dilipat dan dimasukkan ke bagasi untuk perjalanan pulang. Mobil yang dia kendarai di malam hari adalah model impiannya. Itu sebabnya, dia punya dua pekerjaan: Siang dia bekerja di restoran, dan menjadi pengemudi malam untuk orang mabuk selama beberapa bulan terakhir. Tentunya saya lelah. Siapa yang mau punya dua pekerjaan? Tapi demi hidup yang diinginkan, saya harus bekerja keras. Mengemudi untuk orang mabuk, itu cara dapat uang tambahan Saat menunggu pelanggan, ia memantau mobil impiannya. Meski bukan asli Chongqing, dia jatuh cinta pada kota ini sejak pertama berkunjung. Dia tidak suka mengunjungi keluarganya karena mereka hanya bertanya apa dia punya pacar atau apartemen. Itu terasa melelahkan. Saya berharap punya mobil dan motor supaya bisa keliling Asia. Orang-orang di Chongqing dikenal berapi-api, seperti <i>hotpot. </i> Yang kadang terdengar seperti orang berdebat di jalan, sebenarnya hanyalah sifat antusias mereka, kata penyanyi Xiao Xian. Ia sendiri belajar lebih vokal dan percaya diri di sini. Saya suka musik yang keras. Banyak yang mengatakan suara saya kecil dan hanya cocok untuk pop. Tapi saya suka rock’n’roll, saya suka berteriak. Meluapkan semuanya. Kami ingin menunjukkan musik rock-nya, tetapi kami tidak diizinkan merekam konsernya bersama band-nya. Otoritas lokal menganggap beberapa lagu mereka terlalu kritis untuk audiens asing. Xiao Xian tidak terpengaruh. Setelah pertunjukan terakhir, dia membawa kami ke tempat favoritnya. Sebuah kuil di atas bukit yang menghadap kota. Meski dia tidak begitu suka megakota, dia terbiasa dengan Chongqing karena ada tempat seperti ini, tempat ia bisa menjauh dari keramaian. Biaya hidup dan sewa rumah di sini lebih murah dibanding kota-kota seperti Shanghai atau Beijing. Itu salah satu alasan ia memutuskan mengejar mimpinya di sini. Dia bangga akhirnya punya keberanian untuk berdiri di depan orang banyak. Orang tua ingin saya jadi pegawai negeri, tetapi saya tidak suka gagasan memiliki pekerjaan seperti itu seumur hidup. Jadi, saya membuat tato untuk menegaskan bahwa saya tidak ingin pekerjaan seperti itu. Di Cina, tato dianggap tabu bagi pegawai negeri. Saat Xiao Xian pulang, kurir makanan Li Zicheng memutuskan mengakhiri harinya. Dia lelah, tapi lelah itu tak bertahan lama. Memang agak melelahkan. Tapi saat berkumpul dengan teman, rasa itu hilang. Apalagi setelah minum, kami lebih merasa rileks. Besoknya, kami langsung kembali bekerja dengan suasana hati yang baik. Dia bukan asli Chongqing, tapi merasa ini adalah kampung halamannya. Kehidupan malam di sini istimewa. Jalan kosong jarang ditemui di sini. Di Chongqing, kamu bisa bersenang-senang di bar, minum atau karaoke sampai jam 8 pagi, lalu makan mi. Tidak peduli siang atau malam. Selalu ada banyak orang. Saat kamu bekerja dan melihat banyak orang di jalan, kamu tidak akan pernah merasa kesepian. Itu karena megakota ini memberi ruang bagi impian generasi mudanya. Untuk kaum muda yang mau membentuk masa depan sesuai keinginan mereka, bukan seperti yang diharapkan orang tua mereka. Sementara pesta masih berlangsung di bar, malam berakhir di bukit penuh <i>hotpot </i>itu. Hanya piring kosong yang ditinggalkan oleh 6.000 tamu. Di rumah-rumah di kota pegunungan, kota pesta, dan kota panas ini, hari baru pun dimulai.
Resume
Categories